SURAT KEPUTUSAN
PENGURUS DAERAH IKATAN APOTEKER INDONESIA JAWA BARAT
NOMOR : 001/SK-BPF/PD IAI JBR/I/2013
Tentang
PEDOMAN BIAYA PELAYANAN FARMASI (BPF) DI WILAYAH JAWA BARAT
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
PENGURUS DAERAH IKATAN APOTEKER INDONESIA JAWA BARAT
Menimbang : a. bahwa pelayanan kefarmasian merupakan bagian tak terpisahkan dari praktik kefarmasian yang harus dilaksanakan oleh tenaga kefarmasian sesuai ketentuan peraturan perundangan yang berlaku;
b. bahwa dalam pelaksanaan pelayanan kefarmasian menimbulkan biaya-biaya yang berasal dari komponen barang dan komponen jasa yang didasarkan pada hak dan kewenangan sesuai kompetensi tenaga farmasi yang bersangkutan;
c. bahwa kehadiran lembaga/badan penyelenggara jaminan kesehatan baik milik pemerintah maupun swasta harus diantisipasi dengan baik agar dalam pelaksanaannya tidak merugikan berkembangnya profesi apoteker, khususnya di Jawa Barat.
d. bahwa Ikatan Apoteker Indonesia Daerah Jawa Barat berkewajiban untuk secara nyata memperjuangkan dan melindungi anggota untuk memperoleh imbalan sebagaimana mestinya sesuai amanat UU36/2009 Pasal 27 ayat (1) dengan menerapkan Standar Profesi agar tercipta keseimbangan profesi sekaligus memperjelas hubungan antara hak dan kewajiban (interaksi
profesi) serta untuk memperkuat peran dan tanggungjawab profesi.
e. bahwa atas dasar hal tersebut diperlukan suatu Pedoman mengenai Biaya Pelayanan Farmasi dalam bentuk Surat Keputusan Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia Jawa Barat.
Mengingat : 1. UU No.36 Th 2009 tentang Kesehatan 2. UU No.35 Th 2009 tentang Narkotika 3. UU No.44 Th 2009 tentang Rumah Sakit 4. PP51 Th 2009 tentang Pekerjaan Kefarmasian 5. Permenkes 28 Th 2011 tentang Klinik
6. Permenkes 889 Th 2011 tentang Registrasi, Izin Praktik dan Izin Kerja Tenaga Kefarmasian
Memperhatikan : 1. Hasil-hasil Keputusan Rapat Kerja Daerah Ikatan Apoteker Indonesia Jawa Barat Tahun 2010.
2. Hasil-hasil Keputusan Rapat Kerja Daerah Ikatan Apoteker Indonesia Jawa Barat Tahun 2012.
3. Hasil Kesepakatan Cabang dalam Rapat Koordinasi Khusus Ikatan Apoteker Indonesia Jawa Barat Tahun 2013.
MEMUTUSKAN
Menetapkan : Surat Keputusan Pengurus Daerah Ikatan Apoteker Indonesia Jawa Barat tentang Pedoman Biaya Pelayanan Farmasi (BPF) di Jawa Barat.
A. KETENTUAN UMUM
Dalam Surat Keputusan ini, yang dimaksud dengan :
1. Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan langsung dan bertanggungjawab kepada pasien yang berkaitan dengan Sediaan Farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan mutu kehidupan pasien.
2. Biaya Pelayanan Farmasi (BPF) adalah seluruh biaya yang diperlukan untuk dapat menyelenggarakan pelayanan kefarmasian sebagaimana mestinya.
3. Harga Dasar Obat (HDO) adalah nilai nominal suatu obat/sediaan farmasi sesuai dengan harga faktur termasuk diskon (pengurangan harga) dan PPN atas barang tersebut (HNA) ditambah biaya risiko penyimpanannya.
4. Tarif Jasa Pelayanan Farmasi (Tarif JPF) adalah biaya yang harus dibayar oleh pasien/pengguna jasa akibat perlakuan/tindakan profesional apoteker terhadap sediaan farmasi dan/atau terhadap pasien/pengguna jasa sesuai Standar Profesi.
5. Fasilitas pelayanan kefarmasian adalah sarana yang digunakan untuk menyelenggarakan pelayanan kefarmasian yaitu apotik, instalasi farmasi rumah sakit, puskesmas dan ruang farmasi klinik dan tempat praktik bersama apoteker.
6. Lembaga Asuransi adalah lembaga tertentu baik milik Pemerintah maupun Swasta yang berfungsi sebagai pelaksana/penyelenggaran Asuransi di bidang Kesehatan.
7. Standar Profesi adalah pedoman yang dikeluarkan oleh Organisasi Profesi untuk menjalankan praktik profesi kefarmasian secara baik sesuai Etika Profesi.
8. Tim Pemantau Jasa Pelayanan Farmasi (TPJPF) lembaga semi otonom yang dibentuk oleh Pengurus Cabang serta disahkan oleh Pengurus Daerah yang berfungsi untuk memberikan pandangan/pertimbangan dalam mekanisme pemberian Rekomendasi Khusus untuk suatu Kerjasama Asuransi serta untuk memantau pelaksanaan Jasa Pelayanan Farmasi sebagaimana mestinya.
9. Cabang adalah Pengurus Cabang Ikatan Apoteker Indonesia Kabupaten/Kota setempat di Provinsi Jawa Barat.
B. PENGATURAN BIAYA PELAYANAN FARMASI DI APOTEK
1. Pelayanan Kefarmasian harus dilaksanakan oleh Apoteker setelah pasien/pengguna jasa menyetujui dan menyelesaikan seluruh Biaya Pelayanan Farmasi (BPF).
2. Biaya Pelayanan Farmasi (BPF) terdiri dari : a) Komponen Harga Dasar Obat (HDO)
b) Komponen Tarif Jasa Pelayanan Farmasi (JPF) Total Biaya Pelayanan Farmasi dirumuskan sebagai :
BPF = HDO + Tarif JPF
3. Tarif Jasa Pelayanan Farmasi adalah bersifat addisional dan terpisah dari Harga Dasar Obat. 4. Dalam pelaksanaannya, Tarif Jasa Pelayanan Farmasi dibedakan menjadi 2 kelompok :
a. Tarif Jasa Pelayanan Farmasi Non Asuransi (Reguler); dan b. Tarif Jasa Pelayanan Farmasi dengan Asuransi (Reguler) Dengan perincian sebagai berikut :
NO PRAKTIK KEFARMASIAN JENIS TINDAKAN KEFARMASIAN TARIF JASA PELAYANAN FARMASI (Rp) 1. Pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi
Racikan sirup , salep, krim, lotion.
5.000 sd 10.000
Pengemasan kembali 1.000 sd 2.500/ kemasan Pulveres/racikan kapsul 250 sd 500/bks/ kaps 2. Pelayanan obat atas resep
dokter (R/)
Resep Minimal 10.000 per lembar resep 3. Konseling Farmasi Konseling Obat resep 20.000 /15 menit
Konseling Obat Bebas atau Swamedikasi
5.000 – 10.000/15 menit Visite/HomeCare/MESO 25.000,-/kunjungan Yang dimaksud dengan Pelayanan Resep adalah mencakup :
Skining/Validasi Resep, Rasionalisasi Obat/Pengobatan/DRP’s, Penetapan Dosis, Managemen Pengobatan, Komponding, Regimentasi ,
Penyerahan Obat atas Resep,
a. Jasa Pelayanan Farmasi Non Asuransi (Reguler)
Jasa Pelayanan Farmasi berlaku bagi seluruh pasien/pengguna jasa yang tidak menjadi peserta Lembaga Asuransi yang bekerjasama dengan Apoteker yang bersangkutan.
Pelayanan Kefarmasian yang dilaksanakan oleh Apoteker dengan atau tanpa bersama tenaga teknis kefarmasian setelah pasien/pengguna jasa menyetujui dan menyelesaikan Biaya Pelayanan Farmasi (BPF) sebagaimana mestinya.
Besarnya Tarif Jasa Pelayanan Farmasi bagi pasien non asuransi (reguler) adalah sesuai dengan Tabel.
b. Jasa Pelayanan Farmasi Kerjasama dengan Asuransi
Jasa Pelayanan Farmasi yang dilakukan melalui kerjasama dengan Lembaga Asuransi secara borongan dengan memilih satu dari 2 (dua) pilihan Sistem sebagai berikut :
1) Sistem Kapitasi
Sistem Kapitasi dilakukan secara PraUpaya. Artinya, asuransi telah menyelesaikan seluruh kewajiban (pembayaran) Tarif Kapitasi kepada Apoteker terhadap seluruh peserta yang diasuransikan sebelum pelayanan farmasi diberikan. Obat yang diberikan menggunakan Pedoman Daftar dan Harga Obat yang yang berlaku (disepakati) di Penyelenggara Asuransi yang bersangkutan.
Penentuan Tarif Kapitasi mengikuti Formula sebagai berikut :
Tarif Kapitasi = Jumlah HDO per satu lembar Resep sesuai Farmakoterapi dan satuan Tarif JPF dikalikan Prosen Morbiditas
Contoh :
Jenis Penyakit : semua
Rata-rata Morbiditas : 15%
HDO rata-rata per satu lembar resep : Rp 15.000,- (dihitung secara cermat)
Tarif JPF : Rp 20.000,- (Standar)
Maka besarnya Tarif Kapitasi DM = (Rp15.000,- + Rp 20.000,-) x 15% = Rp
5.250,-Jumlah minimal peserta Asuransi yang dikapitasi = 10.000 jiwa. 2) Sistem Fee/Claimed For Service
Pembayaran Biaya Pelayanan Farmasi dilakukan oleh Lembaga Asuransi secara PascaUpaya. Artinya, asuransi harus menyelesaikan seluruh kewajiban (pembayaran) kepada Apoteker sesuai dengan jumlah peserta asuransi yang terlayani setelah klaim diajukan lengkap. Obat yang diberikan adalah menggunakan Pedoman Daftar dan Harga Obat yang yang berlaku (disepakati) di Penyelenggara Asuransi yang bersangkutan.
Formula sebagai berikut :
Besar Klaim = HDO + JPF
Contoh :
Jumlah Terlayani : 100 lembar
HDO yang telah dilayankan : Rp 25 juta
Tarif JPF : Rp 20.000,-/lembar resep (Standar) Maka Klaim yang harus dibayar = (Rp25 juta + (100 orang x Rp 20.000,-)
= Rp 25 juta + Rp 2 juta = Rp 27 juta
Untuk mencegah terjadinya permasalahan dalam pembayaran oleh pihak Asuransi, maka Lembaga Asuransi harus memberikan “Uang Jaminan” sekurang-kurangnya sebesar 2X (dua kali) dari perkiraan klaim yang diperkirakan oleh kedua belah pihak. Berdasarkan hal tersebut, maka Asuransi harus memberi Jaminan kepada Provider (Apoteker) sebesar Rp 55 juta di depan. Uang Jaminan ini tetap disimpan dan dijaga oleh Apoteker dan akan dikembalikan apabila Hubungan Kerjasama berakhir.
C. PENGATURAN BIAYA PELAYANAN FARMASI DI RUANG FARMASI KLINIK DAN PUSKESMAS
Apoteker yang berada di Ruang Farmasi Klinik adalah Apoteker yang menjalankan praktik kefarmasian dengan mempergunakan sarana dan perbekalan farmasi milik klinik yang bersangkutan. Oleh karena itu, ketentuan managemen umum yang berlaku di klinik berlaku juga bagi Apoteker, tetapi tidak termasuk ketentuan dan tatacara pelayanan kefarmasian. Dalam hal pelaksanaan ketentuan dan tatacara pelayanan kefarmasian harus dibuat Peraturan Internal Ruang Farmasi yang dibuat oleh Apoteker Penanggungjawab berdasarkan Standar Pelayanan, Standar Profesi dan Etika Profesi.
Ketentuan Jasa Pelayanan Kefarmasian di Klinik/Puskesmas, diatur sebagai berikut :
Yang dimaksud dengan Pelayanan Resep adalah mencakup : Skining/Validasi Resep, Rasionalisasi Obat/Pengobatan/DRP’s, Penetapan Dosis, Managemen Pengobatan, Komponding, Regimentasi ,
Penyerahan Obat atas Resep,
Besarnya Jasa Tindakan Kefarmasian tidak bergantung serta tidak dapat dihubungkan dengan Harga Obat.
NO PRAKTIK
KEFARMASIAN
JENIS TINDAKAN
KEFARMASIAN TARIF JASA (Rp)
1. Pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi
Racikan sediaan cair, solid dan semi solid.
5000 sd 10.000 Pengemasan kembali 1000 sd 2500/ kemasan Pulveres/racikan kapsul 250 sd 500/bks/ kaps 2. Pelayanan obat atas resep
dokter (R/)
Resep Minimal 10.000 per lembar resep
3. Konseling Farmasi Konseling Obat resep 20.000 /15 menit Konseling Obat Bebas atau
Swamedikasi
5.000 – 10.000/15 menit Visite/HomeCare/MESO 25.000,-/kunjungan
Pendapatan pokok Apoteker diatur sebagai berikut : 1) Honorarium Apoteker : Rp 2.500.000,-/bulan, dan
2) Jasa Profesi Apoteker : 10% Perolehan Jasa Tindakan Kefarmasian Dimana :
1. Besarnya Biaya/harga Obat dan Biaya Administrasi Kefarmasian ditentukan bersama antara Apoteker Penanggungjawab dengan Managemen Klinik.
2. Ketentuan mengenai prosedur pemberian Honorarium dan Jasa Tindakan Kefarmasian oleh Apoteker dituangkan dalam bentuk Perjanjian Kerjasama antara pihak Apoteker Penanggungjawab dengan pihak Managemen Klinik dimana Perjanjian tersebut tidak boleh mengurangi dan/atau membatasi Apoteker dalam menjalankan Praktik Kefarmasian sesuai kaidah-kaidah :
Standar Pelayanan, Standar Profesi,
Standar Prosedur Operasional dan Etika Profesi
D. PENGATURAN BIAYA PELAYANAN FARMASI DI INSTALASI FARMASI RS
Apoteker yang berada di Instalasi Farmasi RS adalah Apoteker yang menjalankan praktik kefarmasian dengan mempergunakan sarana dan perbekalan farmasi milik RS yang bersangkutan. Oleh karena itu, ketentuan managemen umum (mengenai Gajih dan lain-lain) yang berlaku di Rumah Sakit berlaku juga bagi Apoteker, tetapi tidak termasuk Ketentuan dan Tatacara Pelayanan Kefarmasian di dalam Instalasi tersebut. Dalam hal pelaksanaan Ketentuan dan Tatacara Pelayanan Kefarmasian harus dibuat Peraturan Internal di Instalasi Farmasi yang dibuat oleh Apoteker Penanggungjawab berdasarkan Standar Pelayanan, Standar Profesi dan Etika Profesi.
Ketentuan Pelaksanaan Jasa Pelayanan Kefarmasian di IFRS diatur sebagai berikut : 1. Pasien Umum (Non Asuransi)
Berlaku juga bagi pasien peserta Asuransi yang materinya tidak dicover (di luar jangkauan/cakupan Asuransi)
NO PRAKTIK
KEFARMASIAN
JENIS TINDAKAN
KEFARMASIAN TARIF JASA (Rp)
1. Pembuatan termasuk pengendalian mutu sediaan farmasi
Racikan sirup , salep, krim, lotion.
5000 sd 10.000 Pengemasan kembali 1000 sd 2500/ kemasan Pulvers/racikan kapsul 250 sd 500/bks/ kaps
2. Pengamanan pengadaan Tandatangan Surat Pesanan (SP) Narkotika dan Psikotropika
25.000 per faktur
Tandatangan Surat Pesanan (SP) Psikotropika non tunggal dan obat-obat prekursor
Rp. 15.000 sd 20.000/faktur
Tandatangan Surat Pesanan (SP) Obat Non Narkotika, Psikotropika dan Prekursor
3. Distribusi dan pelayanan obat atas resep dokter (R/)
Resep 25.000 per lembar resep 10.000 per KIO
4. Konseling Farmasi Konseling Obat resep 20.000/15 menit Konseling Obat
bebas/swamedikasi
5000 – 10.000/15 menit
Visite/HomeCare/MESO 25.000,-/kunjungan 2. Pasien Peserta Asuransi
NO PRAKTIK
KEFARMASIAN
JENIS TINDAKAN
KEFARMASIAN TARIF JASA (Rp)
1. Pengamanan pengadaan Tandatangan Surat Pesanan (SP) Narkotika dan Psikotropika
25.000 per faktur
Tandatangan Surat Pesanan (SP) Psikotropika non tunggal dan obat-obat prekursor
15000 sd 20.000/faktur
Tandatangan Surat Pesanan (SP) Obat Non Narkotika, Psikotropika dan Prekursor
1% dari nilai nominal faktur
2. Distribusi dan pelayanan obat atas resep dokter (R/)
Resep Pasien RawatJjalan 5.000 s/d 10.000/ kunjungan pasien
Pasien Rawat Tinggal 13,5 % dari tarif paket yang telah dikurangi biaya obat dan Barang Medis Habis Pakai (BMHP)
3. Konseling Farmasi Obat resep 20.000/15 menit Obat bebas/swamedikasi 5000 – 10.000/15 menit
Visite/HomeCare/MESO 25.000,-/kunjungan
1. Besarnya Biaya/harga Obat dan Biaya Administrasi Kefarmasian ditentukan bersama antara Apoteker Penanggungjawab dengan Managemen Rumah Sakit.
2. Ketentuan mengenai prosedur pemberian Honorarium dan Jasa Tindakan Kefarmasian oleh Apoteker dituangkan dalam bentuk Perjanjian Kerjasama antara pihak Apoteker dengan pihak Managemen Rumah Sakit dimana Perjanjian tersebut tidak boleh mengurangi dan/atau membatasi Apoteker dalam menjalankan Praktik Kefarmasian sesuai kaidah-kaidah :
Standar Pelayanan, Standar Profesi,
Standar Prosedur Operasional dan Etika Profesi
E. STANDAR PROFESI DALAM PEMBERIAN JASA PELAYANAN FARMASI Standar Profesi dalam pemberian Jasa Pelayanan Kefarmasian adalah sebagai berikut :
1. Jasa Swamedikasi/Penyerahan Obat Emergency ke Tenakes lain Standar Profesi :
a. Memberikan solusi paling rasional dan paling berisiko rendah bagi pasien dengan tetap mengacu pada Catatan Pengobatan Pasien (PMR).
b. Sebagai bahan untuk tindak lanjut kepada dokter yang sesuai.
c. Mencegah terjadinya penyalahgunaan/penggunasalahan obat oleh pasien akibat informasi yang terbatas.
2. Jasa Skrining/Validasi Resep atau Permintaan Obat dan Asesmen Pendahuluan Standar Profesi :
a. Memastikan terpenuhinya persyaratan hukum dan administrasi resep (validitas dan keabsahan resep/permintaan obat)
b. Mencegah terjadinya persoalan hukum terkait resep yang tidak sah/tidak valid
c. Sebagai upaya preventif mencegah terjadinya penyalahgunaan obat serta menekan inefisiensi farmasi.
d. Pemeriksaan ulang dan penyesuaian PMR atas pasien yang bersangkutan e. Memastikan status/ketepatan pasien (verified) Asesmen Pendahuluan f. Sebagai legitimasi untuk dapat melakukan proses pelayanan selanjutnya.
Catatan : Setiap Apoteker berkewajiban untuk menolak resep yang tidak valid/tidak sah (SIP
Dokter Kadaluwarsa)
3. Jasa Rasionalisasi Resep/Obat Standar Profesi :
a. Melakukan penilaian secara komprehensif atas permintaan obat dalam resep dengan mengikuti kaidah-kaidah standar profesi.
b. Memastikan kebenaran komposisi obat dalam resep terhadap kondisi klinis pasien dan kaidah medis-kefarmasian
c. Memastikan tidak terjadi kasus DRP’s (Drug Related Problems) d. Mencegah terjadinya kasus polifarmasi
4. Jasa Penetapan Obat Standar Profesi :
a. Menetapkan jenis obat secara tepat dan benar terkait keadaan klinis dan kesesuaian farmasetis
b. Menetapkan dosis/potensi dan bentuk sediaan obat sesuai kondisi biologis pasien c. Menetapkan jumlah/satuan obat untuk rencana kontrol/monitoring
5. Jasa Peracikan/Penyiapan Bentuk Sediaan Standar Profesi :
a. Menetapkan cara penyiapan/pembuatan/peracikan obat dengan benar sesuai SOP b. Penyiapan/pembuatan/peracikan obat dengan benar sesuai SOP
c. Menetapkan rencana dispensing dan regimentasi
6. Jasa Regimentasi (Penentuan Jadwal dan Cara Pemakaian Obat) Standar Profesi :
a. Mengarahkan capaian efektifitas pengobatan selama waktu tertentu. b. Menetapkan rencana kontrol/monitoring penggunaan obat
c. Menetapkan Jadwal Pemberian Obat sesuai kondisi biologis dan klinis pasien
d. Menetapkan Cara Pemakaian Obat secara benar menurut kaidah medis dan farmasetis 7. Jasa Konseling dan Penyerahan Obat
Standar Profesi :
a. Mengetahui dan memastikan pasien memahami tujuan pengobatan b. Memastikan pasien mengetahui risiko dan manfaat penggunaan obat c. Memastikan pasien dapat menggunakan obat secara benar
d. Memastikan pasien mentaati nasehat-nasehat Apoteker
e. Merencanakan Visite/Home Care dan Monitoring jika perlu atas persetujuan pasien. 8. Jasa Dokumentasi (PMR dll)
Standar Profesi :
a. Mencatat status klinis pasien dan obat-obat yang diberikan.
b. Sebagai bahan untuk penyusunan riwayat penggunaan obat terkait penyakit
c. Membantu dalam penyiapan inventori dan rencana tindak lanjut penanganan pasien. 9. Jasa Monitoring (Efek Samping, DRP’s)
Standar Profesi :
a. Menindaklanjuti perencanaan yang telah disusun sebelumnya.
b. Melakukan pemantauan efek samping pengobatan yang (mungkin/telah) muncul c. Menetapkan dan memberi rekomendasi untuk tindakan medis/pengobatan berikutnya. 10. Jasa Home Care/Visite Apoteker
Standar Profesi :
a. Menindaklanjuti perencanaan yang telah disusun sebelumnya.
b. Melihat sejauhmana pengaruh penggunaan (efektifitas) obat pada pasien selama waktu tertentu.
c. Menggali data-data yang relevan terkait penggunaan obat-obat tertentu.
d. Menetapkan dan memberi rekomendasi untuk tindakan medis/pengobatan berikutnya. F. PENGATURAN DAN PENGORGANISASIAN
1. Setiap Cabang harus segera mensosialisasikan dan mengkoordinasikan pelaksanaan Ketentuan ini kepada seluruh Anggota sesuai klaster fasilitas pelayanan kefarmasian.
2. SK Pengurus Daerah ini berlaku umum serta seragam di seluruh wilayah kerja PD IAI JABAR.
3. Pelaksanaan Biaya Pelayanan Farmasi dalam praktik kefarmasian harus dijalankan oleh Apoteker di tempat praktik yang bersangkutan tanpa bergantung dengan ada atau tidak adanya Lembaga Asuransi.
4. Dalam hal penetapan Jasa Pelayanan Farmasi akibat Kerjasama dengan Setiap Lembaga Asuransi, didasarkan pada SK Pengurus Daerah ini.
mekanisme Pemberian Rekomendasi Khusus yang diterbitkan oleh Pengurus Cabang berdasarkan Verifikasi dari Tim Pemantau Jasa Pelayanan Farmasi (TPJPF).
6. Rekomendasi Khusus sebagaimana dimaksud adalah mengikuti format yang diberikan oleh PD IAI JABAR
7. Tugas dan tatakerja Tim Pemantau Jasa Pelayanan Farmasi berpedoman pada Petunjuk yang diterbitkan oleh Pengurus Daerah.
8. Pengurus Cabang harus segera melaporkan pemberian Rekomendasi Khusus sebagaimana dimaksud kepada Pengurus Daerah selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak Rekomendasi Khusus diterbitkan.
9. Rekomendasi Praktik Apoteker akan dicabut apabila Fasilitas dan/atau Apoteker yang bersangkutan :
a. tidak menjalankan Ketentuan mengenai Biaya Pelayanan Farmasi (BPF) dalam praktik kefarmasian yang dilakukan, atau
b. menerapkan Jasa Pelayanan Farmasi tetapi tidak melaksanakan Standar Profesi G. PENGATURAN TAMBAHAN
1. Dalam suatu Praktik Tunggal (Apotek dengan satu orang Apoteker), maka segala pengaturan, pemanfaatan dan pengelolaan Biaya Pelayanan Farmasi (BPF) dilaksanakan sepenuhnya oleh Apoteker yang bersangkutan.
2. Dalam suatu Klinik (dengan satu orang Apoteker), maka segala pengaturan, pemanfaatan dan pengelolaan Biaya Pelayanan Farmasi (BPF) dilaksanakan oleh Apoteker bersama Managemen Klinik
3. Dalam suatu Praktik Bersama (Apotek/Klinik), maka pengaturan Remunerasi Apoteker dilaksanakan berdasarkan pada peran dan tanggungjawab masing-masing, tingkat kompetensi (paralel dengan SKP Praktik), ketersediaan waktu nyata serta kriteria-kriteria lain yang mencerminkan keadilan. Ketentuan lebih lanjut mengenai hal ini diatur oleh Daerah bersama Cabang.
4. Untuk menjamin dan memonitor pelaksanaan Jasa Pelayanan Kefarmasian di Fasilitas Pelayanan Kefarmasian, Cabang membentuk Tim Pemantau Jasa Pelayanan Farmasi (TPJPF) di bawah supervisi Daerah.
5. Pembentukan Tim Pemantau Jasa Pelayanan Farmasi (TPJPF) harus dilegalkan oleh Cabang dalam bentuk Surat Keputusan untuk masa bakti 4 (empat) tahun serta mendapat pengesahan dari Daerah.
6. Dalam menjalankan tugasnya Tim Pemantau Jasa Pelayanan Farmasi (TPJPF) membuat laporan secara berkala setiap 6 (enam) bulan sekali kepada Pengurus Cabang dan ditembuskan kepada Pengurus Daerah.
H. KETENTUAN PENUTUP
1. Terhadap pelaksanaan praktik kefarmasian di fasilitas pelayanan kefarmasian yang masih menggunakan pola lama, harus segera menyesuaikan dengan Surat Keputusan ini selambat-lambatnya 6 (enam) bulan sejak Keputusan ini disahkan.
2. Ketetapan mengenai Biaya Pelayanan Farmasi ini akan disesuaikan kembali setiap 1 (satu) tahun sekali.
3. Surat Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan.
PENANDATANGANAN SK No.001/SK-BPF/PD IAI JBR/I/2013
Tentang
PEDOMAN BIAYA PELAYANAN FARMASI
DI WILAYAH JAWA BARAT
PENGURUS IKATAN APOTEKER INDONESIA
DAERAH JAWA BARAT
DTD
Drs. H. Made Pasek Narendra, MM., Apt Ketua
DTD
Ali Mashuda, S. Si., Apt Sekretaris Saksi :
Mengetahui Tanda Tangan Nama
1. Koordinator Wilayah I
(Bandung Kota, Bandung Kabupaten, Bandung Barat Kabupaten, Sumedang dan Cimahi)
DTD Drs. H. Akhmad Priyadi, MM., Apt 2. Koordinator Wilayah II
(Garut, Tasikmalaya Kota, Tasikmalaya Kabupaten, Kota Banjar dan Ciamis)
DTD Yanyan Hardian, S. Farm., Apt 3. Koordinator Wilayah III
(Cirebon Kota, Cirebon Kabupaten, Indramayu, Kuningan dan Majalengka)
DTD Drs. Suwarno, Apt
4. Koordinator Wilayah IV
(Purwakarta, Subang dan Karawang) DTD Indah Astuti, S. Si., Apt 5. Koordinator Wilayah V
(Sukabumi Kota, Sukabumi Kabupaten dan Cianjur)
DTD Hidayat, S. Si., Apt
6. Koordinator Wilayah VI
(Bekasi Kota, Bekasi Kabupaten) DTD Dra. Etty Kusraeti, Apt 7. Koordinator Wilayah VII
(Depok Kota, Bogor Kota dan Bogor Kabupaten)
DTD Dra. Fatimah Sekarningsih, Apt