LAPORAN
PRAKTIKUM FARMASI KOMUNITAS KLINIS
PELAYANAN KEFARMASIAN PADA PENYAKIT INFEKSI
NAMA : ADITYAS ARUM DINANTI NIM : 200101061
PROGRAM STUDI SARJANA FARMASI
SEKOLAH TINGGI ILMU FARMASI BHAKTI PERTIWI PALEMBANG
2022
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Pelayanan Kefarmasian adalah suatu pelayanan yang langsung dan bertanggung jawab kepada pasien yang berkaitan dengan sediaan farmasi dengan maksud mencapai hasil yang pasti untuk meningkatkan kualitas hidup pasien. Maka dari itu, pelayanan kefarmasian dibuat suatu standarisasi yang bertujuan untuk meningkatkan mutu pelayanan kefarmasian; menjamin kepastian hukum bagi tenaga kefarmasian; melindungi pasien dan masyarakat dari penggunaan obat yang tidak rasional dalam rangka keselamatan pasien
Infeksi adalah suatu proses masuknya dan multiplikasi agen infeksius dalam tubuh inang dimana agen tersebut merupakan mikroorganisme patogen seperti bakteri, virus, parasit atau jamur (Carroll et al, 2016). Menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2011), penyakit infeksi termasuk dalam 10 penyakit terbesar yang menyebabkan kematian. Penyakit infeksi juga merupakan penyebab kematian terbesar di dunia dengan presentase sebesar 23% (Surana & Kasper, 2015).
Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis dan termasuk penyakit zonosis karena bisa ditularkan oleh hewan ke manusia. TB ditularkan dengan kuman dalam titik air yang sangat kecil yang dapat dihirup saat orang yang mengidap TB aktif batuk, bersin, tertawa atau berbicara. Gejala terus-menerus seperti batuk yang lamanya lebih dari dua tiga minggu, begitu pula dahak bernoda darah, sering merupakan ciri khas TB.
Gastroenteritis akut didefinisikan sebagai penyakit diare dengan onset cepat, dengan atau tanpa mual, muntah, demam, atau nyeri perut. Penyakit diare adalah penyebab utama kelima darikematian pada anak-anak di seluruh dunia, terhitung sekitar 2,5 juta kematian. Di Amerika Serikat, gastroenteritis akut adalah bukan penyebab utama kematian tetapi menyebabkan morbiditas yang signifikan, terutama pada anak-anak di bawah lima tahun, akuntansi untuk 1,5 juta kunjungan
kantor, 200.000 rawat inap, dan 300 kematian pada anak-anak setiap tahun (Hartman, dkk., 2019).
B. Tujuan Praktikum
1. Mahasiswa mampu menganalisis permasalahan terkait penggunaan obat 2. Mahasiswa mampu menjelaskan alternative rekomendasi terapi dan
monitoring terapi menggunakan EBM, pedoman terapi dan/atau kajian farmakoekonomi
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
(Pharmaceutical Care) adalah pelayanan kefarmasian yang berorientasi kepada pasien. Meliputi semua aktifitas apoteker yang diperlukan untuk menyelesaikan masalah terapi pasien terkait dengan obat. Praktek kefarmasian ini memerlukan interaksi langsung apoteker dengan pasien, yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup pasien Peran apoteker dalam asuhan kefarmasian di awal proses terapi adalah menilai kebutuhan pasien. Di tengah proses terapi, memeriksa kembali semua informasi dan memilih solusi terbaik untuk DRP (Drug Related Problem) pasien. Di akhir proses terapi, menilai hasil intervensi sehingga didapatkan hasil optimal dan kualitas hidup meningkat serta hasilnya memuaskan (keberhasilan terapi).
Berdasarkan KepMenkes No. 1027/Menkes/sk/IX/2004, standar pelayanan kefarmasian di apotek meliputi :
1. Pelayanan resep
a. Persyaratan administratif b. Kesesuaian farmasetik.
c. Pertimbangan klinis 2. Penyiapan obat.
a. Peracikan b. Etiket
c. Kemasan obat yang diserahkan d. Penyerahan obat
e. Informasi obat f. Konseling
g. Monitoring penggunaan obat h. Promosi dan edukasi
SOAP adalah singkatan dari Subjective, Objective, Assessment, dan Plan.
Ini adalah pendekatan struktural dalam pencatatan medis yang diperkenalkan oleh ( Dr. Lawrence Weed pada tahun 1960-an) adalah sebuah metode pencatatan yang digunakan oleh tenaga medis untuk mendokumentasikan informasi pasien secara sistematis. Pencatatan SOAP memungkinkan para profesional medis untuk mengorganisir dan menganalisis data pasien dengan lebih efektif.
subyektif adalah gejala yang dikeluhkan oleh pasien. Contoh : pusing, mual, nyeri, sesak nafas. Obyektif adalah tanda/gejala yang terukur oleh tenaga kesehatan.
Tanda-tanda obyektif mencakup tanda vital (tekanan darah, suhu tubuh, denyut nadi, kecepatan pernafasan), hasil pemeriksaan laboratorium dan diagnostik.
Assessment Dilakukan berdasarkan data subyektif dan obyektif dilakukan analisis untuk menilai keberhasilan terapi, meminimalkan efek yang tidak dikehendaki dan kemungkinan adanya masalah baru terkait obat.
Setelah dilakukan SOA maka langkah berikutnya adalah menyusun rencana atau Plan yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah.
Rekomendasi yang dapat diberikan:
• Memberikan alternatif terapi, menghentikan pemberian obat, memodifikasi dosis atau interval pemberian, merubah rute pemberian.
• Mengedukasi pasien.
• Pemeriksaan laboratorium.
• Perubahan pola makan atau penggunaan nutrisi parenteral/enteral.
• Pemeriksaan parameter klinis lebih sering.
Drug Related Problem (DRP’S) adalah suatu kejadian atau situasi yang melibatkan terapi secara actual atau potensial mengganggu hasil terapi yang optimal untuk pasien tertentu. DRPs terdiri dari Untreated Indication, Improper drug selection, Subtherapeutic dosage, Failure to receive medication, Overdosage, Adverse Drug Reaction, Drug interaction, Drus use without indication, dan Treatment
BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan 1. Buku/referensi 2. Laptop
3. In focus
B. Prosedur Kerja
1. Kerjakan kasus menggunakan format isian yang telah disediakan. Scan dan simpan dalam format pdf
2. Berdasarkan keluhan pasien dan obat yang diresepkan dokter, lakukan pengerjaan resep berikut:
a. Lakukan skrining resep (skrining, administratif, farmasetis dan klinis), dengan mengisi form yang telah disediakan
b. Lakukan analisa resep dengan menggunakan format SOAP (Subjective, Objective, Assesment, dan Plan)
1) S (Subyektif) = data yang bersumber dari pasienatau keluarga yang tidak dapat di konfirmasikan secara independent.
2) O (Obyektif) = data yang bersumber dari hasil observasi, pengukuran yang dilakukan oleh profesi Kesehatan lain.
3) A (Assesment) = Assemen terhadap masalah medic berdasarkan informasi subyektif dan obyektif serta data terapi dihubungkan dengan prinsip farmakoterapi, guideline/ pedomanterapi dan EBM. Problem medik yang ditemui diklasifikasikan sesuai kategori DRPs dan dipikirkan peluang untuk meningkatkan dan atau menjamin keamanan, efektivitas terapi serta obat serta peluang menminimalkan DRPs.
4) P (Plan) = Memformulasikan rencana pelayanan kefarmasian sesuai dengan DRPs yang ditemukan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Resep 1 Keluhan:
Seorang pasien dengan batuk berdahak dan sesekali batuk berdarah, lambung perih dan mual. Pasien terseebut telah menjalani pengobatan TB kategori 1 namun pada akhir pengobatan hasil pemeriksaan dahak positif. Pasien diminta memeriksakandiri 2 bulan kemudian.
Diagnosa: TB Kategori II
dr. Sakura
Jl. Ariodillah 77 telp. 746544 SIP: 1456/PTSP/2016
Palembang, 10 Februari 2022 Iter 1x
R/ Pro TB 4 No. LX S 1 d d tab 2 R/ Imunos No. XX
S 1 d d tab 1
R/ Antasida tab No. XX S t d d tab 1
Pro : Ahsan
Umur : 40 tahun/ 66 kg Jenis Kelamin : Laki- laki Alamat : Talang Ratu
Pertimbangan Klinis Perhitungan Dosis:
No Nama Obat Dosis Pakai Dosis Lazim Perhitungan dosis Keterangan
1 Pro TB 4 Komposisi : Rifampisin 150mg Isoniazid 75mg Pyrazinamide 400mg Ethambutol 275mg
Rifampisin DP 1x = 150mg x 2 = 300 mg 1H = 300 mg Isoniazid DP 1x = 75mg x 2 = 150 mg 1H = 150 mg Pyrazinamide DP 1x = 400mg x 2 = 800 mg 1H = 800 mg Ethambutol DP 1x = 275mg x 2 = 550 mg 1H = 550 mg
DAT KDT/FDC BB 55-70kg Harian (R/H/Z/E) (150/75/400/275)
1 kali sehari 4 tab (PPK)
Rifampisin DL 1x = 150mg x 4 tab = 600 mg 1H = 600 mg Isoniazid
DL 1x = 75mg x 4 tab = 300 mg 1H = 300 mg Pyrazinamide DL 1x = 400mg x 4 tab = 1600 mg 1H = 1600 mg Ethambutol DL 1x = 275mg x 4 tab = 1100 mg 1H = 1100 mg
Under dose (PPK)
2 Imunos
Tiap kaplet mengandung : Echinacea 500mg Zinc picolinate 10mg Selenium 15 mcg Ascorbic acid 50 mg
Echinacea DP 1x = 500 mg 1H = 500 mg Zinc picolinate DP 1x = 10 mg 1H = 10 mg Selenium DP 1x = 15 mcg 1H = 15 mcg Ascorbic acid DP 1x = 50 mg 1H = 50 mg
1 x sehari, 1 kaplet
Echinacea DP 1x = 500 mg 1H = 500 mg Zinc picolinate DP 1x = 10 mg 1H = 10 mg Selenium DP 1x = 15 mcg 1H = 15 mcg Ascorbic acid DP 1x = 50 mg 1H = 50 mg
Sesuai
3 Antasida tab
Tiap tablet mengandung : Aluminium Hydroxide 200mg Magnesium Hydroxide 200mg
Aluminium Hydroxide DP 1x = 200 mg 1H = 200mg x 3 = 600 mg Magnesium Hydroxide DP 1x = 200 mg 1H = 200mg x 3 = 600 mg
1-2 tablet dikunyah 4 kali sehari dan sebelum tidur atau bila diperlukan (PIONAS)
Aluminium Hydroxide DL 1x = 200 mg 1H = 200 mg x 4 = 800 mg Magnesium Hydroxide DL 1x = 200 mg 1H = 200 mg x 4 = 800 mg
Under dose (PIONAS)
SOAP Assesment
Problem medik Subjektif & Objektif Terapi Analisis DRP TB Kategori II
Dosis Pro TB tidak bermakna Pasien batuk berdahak
(indikasi tanpa obat)
Subjektif :
Batuk berdahak dan sesekali batuk berdarah, lambung perih dan mual
Pernah diberi pengobatan TB kategori 1
Objektif :
Pasien telah menjalani pengobatan TB Kategori I.
Pada akhir pengobatan hasil pemeriksaan dahak positif.
1. Pro TB 4 2. Antasida tab
-Dosis Pro TB terlalu rendah untuk pasien yang mempunyai BB 66 kg. untuk pemakaian 1 kali sehari 4 tablet -Karena merupakan TB Kategori II maka ditambahkan suntikan Streptomisin
-Menurut pionas dosis antasida tab 1-2 tablet di kunyah 4 kali sehari, maka dosis pakai masih rendah
Subtherapeutic dosage
Dosis pemakaian Pro TB 4 dan Antasida tab terlalu rendah (under dose)
Treatment failures
Pasien TB Kategori I namun pada akhir pengobatan hasil pemeriksaan dahak positif
Untreated indication
-Pasien didiagnosa TB Kategori II namun tidak mendapatkan pengobatan suntikan streptomisin.
-Pasien mengalami batuk berdahak tetapi tidak mendapatkan obat untuk indikasi tersebut.
Plan
No Nama Obat Bentuk dan Kekuatan Sediaan
Jumlah Signa & aturan minum (ac, dc, pc) Monitoring 1 Pro TB 4 Tablet
Rifampisin 150 mg Isoniazid 75 mg Pyrazinamide 400 mg Ethambutol 275 mg
60 Tablet 1 kali sehari 4 tablet (diminum sebelum makan, baru bangun tidur pagi hari)
-Disarankan penambahan vit B6 karena Isoniazid memiliki efek samping neuropati perifer (PIONAS) -Efek samping yang ditimbulkan dari pemakaian obat Pro TB 4 yaitu urin akan menjadi warna merah -Untuk meningkatkan kepatuhan pasien dalam minum obat, maka diberikan konseling aturan pakai minum obat seperti obat antasida tablet diminum sebelum makan dan dikunyah terlebih dahulu jangan langsung ditelan
-Disarankan pasien TB menggunakan masker agar percikan droplet atau cairan yang keluar dari mulut tidak mengenai orang lain
-Disarankan penambahan suntikan streptomycin untuk pasien TB kategori 2. (PPK hal 20)
-Disarankan pasien TB menghindari penggunaan suplemen karena dapat meningkatkan daya tahan tubuh yang dapat menyebabkan reaksi pertahanan tubuh yang berlebih sehingga memperparah kondisi klinis namun tidak memperparah kondisi infeksi.
(Echinacea purpurea Farmakologi, Fitokimia, dan Metode Analisis.
2 Piridoksin Tablet
Vitamin B6 10 mg
15 Kaplet 1 kali sehari 1 tablet diminum sesudah makan
3 Antasida tab Tablet
Aluminium Hydroxide 200 mg
Magnesium Hydroxide 200 mg
20 Tablet 4 kali sehari 1 tablet dikunyah, diminum sebelum makan
4 Streptomisin Streptomisin injeksi 1000 mg (1 gram)
30 Vial Injeksi intramuscular 15mg/kgBB (12-18mg/kgBB) per hari (maksimal 1 gram) selama 5 hari dalam seminggu atau 25- 30mg/kgBB 2 kali seminggu 5 Ambroxol Tablet
Ambroxol 30 mg
10 Tablet 1 tablet (30mg) 2-3 kali sehari sesudah makan
PEMBAHASAN Patofisiologi
Seseorang yang menghirup bakteri M. tuberculosis yang terhirup akan menyebabkan bakteri tersebut masuk ke alveoli melalui jalan nafas, alveoli adalah tempat bakteri berkumpul dan berkembang biak. M. tuberculosis juga dapat masuk ke bagian tubuh lain seperti ginjal, tulang, dan korteks serebri dan area lain dari paru-paru (lobus atas) melalui sistem limfa dan cairan tubuh. Sistem imun dan sistem kekebalan tubuh akan merespon dengan cara melakukan reaksi inflamasi.
Fagosit menekan bakteri, dan limfosit spesifik tuberkulosis menghancurkan (melisiskan) bakteri dan jaringan normal. Reaksi tersebut menimbulkan penumpukan eksudat di dalam alveoli yang bisa mengakibatkan bronchopneumonia. Infeksi awal biasanya timbul dalam waktu 2-10 minggu setelah terpapar bakteri (Kenedyanti & Sulistyorini, 2017). Interaksi antara M. tuberculosis dengan sistem kekebalan tubuh pada masa awal infeksi membentuk granuloma.
Granuloma terdiri atas gumpalan basil hidup dan mati yang dikelilingi oleh makrofag. Granulomas diubah menjadi massa jaringan jaringan fibrosa, Bagian sentral dari massa tersebut disebut ghon tuberculosis dan menjadi nekrotik membentuk massa seperti keju. Hal ini akan menjadi klasifikasi dan akhirnya membentuk jaringan kolagen kemudian bakteri menjadi dorman. Setelah infeksi awal, seseorang dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan atau respon yang inadekuat dari respon sistem imun. Penyakit dapat juga aktif dengan infeksi ulang dan aktivasi bakteri dorman dimana bakteri yang sebelumnya tidak aktif kembali menjadi aktif. Pada kasus ini, ghon tubrcle memecah sehingga menghasilkan necrotizing caseosa di dalam bronkhus. Bakteri kemudian menjadi tersebar di udara, mengakibatkan penyebaran penyakit lebih jauh. Tuberkel yang menyerah menyembuh membentuk jaringan parut. Paru yang terinfeksi menjadi lebih membengkak, menyebabkan terjadinya bronkopneumonia lebih lanjut (Sigalingging et al., 2019).
Faktor resiko TB
Resiko penyakit tuberkulosis dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya sebagai berikut:
a. Umur menjadi faktor utama resiko terkena penyakit tuberkulosis karena kasus tertinggi penyakit ini terjadi pada usia muda hingga dewasa. Indonesia sendiri di perkirakan 75% penderita berasal dari kelompok usia produktif (15-49 tahun).
b. Jenis kelamin: penyakit ini lebih banyak menyerang laki-laki daripada wanita, karena sebagian besar laki laki mempunyai kebiasaan merokok.
c. Kebiasaan merokok dapat menurunkan daya tahan tubuh, sehingga mudah untuk terserang penyakit terutama pada laki-laki yang mempunyai kebiasaan merokok dan meminum alkohol.
d. Pekerjaan, hal ini karena pekerjaan dapat menjadi faktor risiko kontak langsung dengan penderita. Risiko penularan tuberkulosis pada suatu pekerjaan adalah seorang tenaga kesehatan yang secara kontak langsung dengan pasien walaupun masih ada beberapa pekerjaan yang dapat menjadi faktor risiko yaitu seorang tenaga pabrik.
Gejala :
Gejala umum TB Paru adalah batuk produktif lebih dari 2 minggu, yang disertai:
1. Gejala pernapasan (nyeri dada, sesak napas, hemoptisis) dan/atau
2. Gejala sistemik (demam, tidak nafsu makan, penurunan berat badan, keringat malam dan mudah lelah).
Prinsip pengobatan : Prinsip-prinsip terapi:
1. Obat Anti Tuberkulosis (OAT) harus diberikan dalam bentuk kombinasi dari beberapa jenis obat, dalam jumlah cukup dan dosis tepat sesuai dengan kategori pengobatan. Hindari penggunaan monoterapi.
2. -18- 2) Pemakaian OAT-Kombinasi Dosis Tepat (KDT) / Fixed Dose Combination (FDC) akan lebih menguntungkan dan dianjurkan.
3. Obat ditelan sekaligus (single dose) dalam keadaan perut kosong.
4. Setiap praktisi yang mengobati pasien tuberkulosis mengemban tanggung jawab kesehatan masyarakat.
5. Semua pasien (termasuk mereka yang terinfeksi HIV) yang belum pernah diobati harus diberi paduan obat lini pertama.
6. Untuk menjamin kepatuhan pasien berobat hingga selesai, diperlukan suatu pendekatan yang berpihak kepada pasien (patient centered approach) dan dilakukan dengan pengawasan langsung (DOT= Directly Observed Treatment) oleh seorang pengawas menelan obat.
7. Semua pasien harus dimonitor respons pengobatannya. Indikator penilaian terbaik adalah pemeriksaan dahak berkala yaitu pada akhir tahap awal, bulan ke-5 dan akhir pengobatan.
8. Rekaman tertulis tentang pengobatan, respons bakteriologis dan efek samping harus tercatat dan tersimpan.
Diagnosis :
Standar Diagnosis
1.
Untuk memastikan diagnosis lebih awal, petugas kesehatan harus waspada terhadap individu dan grup dengan faktor risiko TB dengan melakukan evaluasi klinis dan pemeriksaaan diagnostik yang tepat pada mereka dengan gejala TB.2.
Semua pasien dengan batuk produktif yang berlangsung selama ≥ 2 minggu yang tidak jelas penyebabnya, harus dievaluasi untuk TB.3.
Semua pasien yang diduga menderita TB dan mampu mengeluarkan dahak, harus diperiksa mikroskopis spesimen apusan sputum/dahak minimal 2 kali atau 1 spesimen sputum untuk pemeriksaan Xpert MTB/RIF*, yang diperiksa di laboratorium yang kualitasnya terjamin, salah satu diantaranya adalah spesimen pagi. Pasien dengan risiko resistensi obat, risiko HIV atau sakit parah sebaiknya melakukan pemeriksan Xpert MTB/RIF* sebagai uji diagnostik awal. Uji serologi darah dan interferon-gamma release assay sebaiknya tidak digunakan untuk mendiagnosis TB aktif.4.
Semua pasien yang diduga tuberkulosis ekstra paru, spesimen dari organ yang terlibat harus diperiksa secara mikrobiologis dan histologis. Uji Xpert MTB/RIF direkomendasikan sebagai pilihan uji mikrobiologis untuk pasien terduga meningitis karena membutuhkan penegakan diagnosis yang cepat.5.
Pasien terduga TB dengan apusan dahak negatif, sebaiknya dilakukan pemeriksaan Xpert MTB/RIF dan/atau kultur dahak. Jika apusan dan uji Xpert MTB/RIF* negatif pada pasien dengan gejala klinis yang mendukung TB, sebaiknya segera diberikan pengobatan antituberkulosis setelah pemeriksaan kultur.Interaksi Obat : (Sumber : Medscape)
1. Aluminium hidroksida + Rifampin Aluminium hidroksida akan menurunkan kadar atau efek rifampisin oleh Lainnya (lihat komentar). Gunakan Perhatian/Monitor. Pemberian antasida secara bersamaan dapat mengurangi penyerapan rifampisin; dosis harian rifampisin harus diberikan setidaknya 1 jam sebelum menelan antasida
2. Aluminium hidroksida + Isoniazid Aluminium hidroksida menurunkan kadar isoniazid dengan menghambat penyerapan Gl. Berlaku hanya untuk bentuk oral dari kedua agen. Perhatian/Monitor. Terpisah 2 jam
PENGETAHUAN TENTANG OBAT Mekanisme kerja
1. Rifampisin
Mekanisme kerja : Menghambat RNA polimerase yang bergantung pada DNA dengan mengikat subunit beta, yang pada gilirannya memblokir transkripsi RNA;
Absorpsi : PO penginduksi enzim yang kuat diserap dengan baik; makanan dapat menunda atau sedikit mengurangi waktu puncak puncak plasma: PO, 2-4 jam Distribusi : Sangat lipofilik; melintasi penghalang darah-otak dengan baik, dan difusi relatif dari darah ke CSF cukup memadai, dengan atau tanpa peradangan (melebihi MICS biasa) Pengikatan protein: 80%
Metabolisme : Dimetabolisme oleh hati; menjalani resirkulasi enterohepatik Penghapusan Waktu paruh: 3-4 jam (berkepanjangan pada gangguan hati); pada penyakit ginjal stadium akhir, 1,8-11 jam.
Ekskresi: Feses (60-65%) dan urin (~30%) sebagai obat yang tidak berubah.
Dosis : 10 mg/kg/hari PO atau 10 mg/kg PO dua kali seminggu (terapi yang diamati langsung [DOT]); tidak melebihi 600 mg/hari
Efek samping : Hepatotoksisitas termasuk kelainan sementara pada tes fungsi hati (misalnya, peningkatan serum bilirubin, alkaline phosphatase, serum transaminase, gamma-glutamyl transferase) Hepatitis, sindrom mirip syok dengan keterlibatan hati dan tes fungsi hati yang abnormal, serta kolestasis.
Kontra indikasi : Hipersensitif terhadap rifamycin atau eksipien. Penggunaan bersamaan dengan atazanavir, darunavir, fosamprenavir, ritonavir/saquinavir, sazuinavir, atau tipranavir
2. Isoniazid
Mekanisme aksi : Tidak diketahui: kemungkinan. menghambat biosintesis dinding sel dengan mengganggu sintesis lipid dan DNA (bakterisidal)
Absorpsi : Cepat dan lengkap; laju dapat diperlambat dengan makanan Waktu Puncak Plasma: 1-2 jam
Distribusi : Semua jaringan dan cairan tubuh termasuk CSF; melintasi plasenta;
memasuki ASI Ikatan Protein: 10-15%
Metabolisme : Hati dengan tingkat peluruhan ditentukan secara genetik oleh fenotipe asetilasi
Eliminasi : Penghapusan waktu paruh: asetilator cepat: 30-100 mnt; asetilator lambat: 2-5 jam; dapat diperpanjang dengan gangguan hati atau ginjal berat Ekskresi: Urin (75-95%); kotoran
Dosis : Penyakit Tuberkulosis Aktif
5 mg/kg PO/IM qDay, tidak melebihi 300 mg qDay
15 mg/kg PO/IM ke atas; tidak melebihi 900 mg 1-3 kali/minggu
Efek samping : Kerusakan hati progresif (meningkat seiring bertambahnya usia;
2,3% pada poin > 50 tahun), Neuropati perifer (insiden terkait dosis, insiden 10- 20% dengan 10 mg/kg/hari).
Kontraindikasi : Isoniazid dikontraindikasikan pada pasien yang mengalami reaksi hipersensitivitas parah, termasuk hepatitis akibat obat; cedera hati terkait isoniazid sebelumnya; reaksi merugikan yang parah terhadap isoniazid seperti demam obat, menggigil, radang sendi; dan penyakit hati akut dari setiap etiologi
3. Pyrazinamid
Mekanisme aksi : tidak dikenal : bakteriostatik atau sidal untuk mycobacterium Absorpsi : diserap dengan baik
Distribusi: secara luas ke jaringan tubuh dan cairan termasuk hati, paru-paru, dan CSF. Difusi relatif dari darah ke CSF: cukup dengan tanpa peradangan (melebihi MIC biasa) atau CSF: rasio tingkat darah: meninges yang meradang: 100%
Pengikatan protein: 50%
Metabolisme: hati Eliminasi :
waktu paruh: 9-10 jam
Waktu puncak, serum: dalam 2 jam
Ekskresi: urin (4% sebagai obat tidak berubah) Dosis :
Terapi harian
15-30 mg/kg PO qHari; tidak melebihi 2 g/hari
Terapi dua kali seminggu
50 mg/kg PO dua kali seminggu; tidak melebihi 2 g/dosis Pengobatan Tuberkulosis Untuk Terpapar/Terinfeksi HIV 20-40 mg/kg/dosis PO qDay; tidak melebihi 2 g/hari
Efek samping : Rasa tidak enak, Mual, Muntah, Anoreksia, Arthralgia, Mialgia.
Kontraindikasi : Kerusakan hati yang parah, gout akut, hipersensitivitas
4. Ethambutol
Mekanisme aksi : Mengganggu produksi metabolit di Mycobacterium Absorpsi :
Ketersediaan hayati: ~80%
Waktu Plasma Puncak: 2-4 jam
Distribusi : Secara luas di seluruh tubuh; terkonsentrasi di ginjal, paru-paru, air liur, dan sel darah merah Difusi relatif dari darah ke CSF: Cukup dengan atau tanpa peradangan (melebihi MIC biasa) CSF: rasio tingkat darah: 0% (meninges normal);
25% (meninges yang meradang) Pengikatan protein: 20-30%
Metabolisme : Hati (20%) menjadi metabolit tidak aktif Eliminasi Eliminasi waktu paruh: 2,5-3,6 jam; 7-15 jam (penyakit ginjal stadium akhir) Ekskresi: ~50% urin;
~20% feses tidak berubah obat Dosis :
Pengobatan TB awal: 15 mg/kg PO qDay
Pengobatan TB sebelumnya: 25 mg/kg PO qDay; setelah 60 hari, turunkan menjadi 15 mg/kg PO qDay
Efek samping : Gout akut atau hiperurisemia, Sakit perut, Anafilaksis, Anoreksia, Kebingungan, disorientasi, Demam, Sakit kepala, kelainan LFT, Rasa tidak enak, Mual Neuritis optik; gejala mungkin termasuk penurunan ketajaman, buta warna atau cacat visual (biasanya reversibel dengan penghentian, meskipun kebutaan ireversibel telah dilaporkan), Neuritis perifer, Gatal, Ruam, Muntah.
Kontraindikasi : Hipersensitivitas, Dikenal neuritis optik (kecuali penilaian klinis menentukan bahwa itu dapat digunakan) Pasien tidak dapat menghargai dan
melaporkan efek samping visual atau perubahan penglihatan (misalnya, anak kecil, pasien tidak sadar)
5. Streptomicin
Mekanisme aksi : Mengganggu sintesis protein bakteri normal dengan mengikat subunit ribosom 30S
Absorpsi : IM: diserap dengan baik; tidak diserap dari usus
Distribusi: ke cairan ekstraseluler termasuk serum, abses, asites, perikardial, pleura, sinovial, limfatik, & cairan peritoneal; melintasi plasenta; sejumlah kecil masuk ke ASI
Ikatan Protein: 34%
Eliminasi : waktu paruh: bayi baru lahir: 4-10 jam; dewasa: 2-4,7 jam, berkepanjangan dengan gangguan ginjal
Waktu Plasma Puncak: dalam 1 jam
Ekskresi : urin (90% sebagai obat tidak berubah); feses, ludah, keringat, & air mata (<1%)
Dosis :
Terapi harian: 15 mg/kg IM qDay; tidak lebih dari 1 g/hari
Terapi dua kali seminggu: 25-30 mg/kg IM 2 kali/minggu; tidak lebih dari 1,5 g/hari
Efek samping : Hipotensi, Neurotoksisitas, Mengantuk, Sakit kepala, Demam obat, Parestesi, Ruam kulit, Mual, Muntah, Eosinofilia, Anemia, Artralgia, Kelemahan Getaran Ototoksisitas (pendengaran), Ototoksisitas (vestibular), Nefrotoksisitas, Kesulitan bernapas
Kontraindikasi : Hipersensitivitas terhadap streptomisin, aminoglikosida lain, atau eksipien
PPK
B. Resep 2
Keluhan :
An. Farhan usia 8 tahun BB 15 kg datang ke PKM dengan keluhan BAB cair 8 kali sehari, perut nyeri dan kembung, tenesmus dan muntah demam.
Temperature 39⁰c. pasien sering kali jajan disekolah dengan hygiene yang tidak baik, mata cekung, dan turgor kulit lambat.
Diagnose : Gastroenteritis
Dr. akrom
Jln. Ariodillah 77 telp 746544 SIP : 1456/PTSP/2016
Palembang ………
R/ Metronidazole 200 mg m. f. pulv dtd no x s t dd p 1
R/ Zinc Dispersible no VII S 1 dd tab 1
R/ Parasetamol syr 1 S t dd cth 11 Pro : Farhan Umur : 8 tahun BB : 25 kg
Jenis kelamin : laki-laki
Alamat : -
Pertimbangan Klinis Perhitungan Dosis:
No Nama obat Dosis pakai Dosis lazim Perhitunga n dosis Keterangan 1 Metronidazole DP 1x = 200 mg
DP 1hr = 200 mg x 3=600 mg
7-10 tahun, 200- 400 mg tiap 8 jam.
(Pionas)
DL 1x =200 MG
DL 1hr = 200 mg x 3 = 600 mg
Dosis sesuai
2 Zinc
dispersible
DP 1x dan DP 1 hr 20 mg
- - -
3 Parasetamol syr DP 1x = 120mg/5 ml x 10 ml= 240 mg
DP 1hr = 240 mgx 3= 720 mg
6-12 thn:250-500 mg dosis ini dapat di ulangi setiap 4- 6 jam jika diperlukan (max 4 kali dosis dalam 24 jam)
DL 1x = 250-500 mg DL 1hr =
1000-1500 mg 2000-3000 mg
Under dose
SOAP Assesment
Problem medik
Subjektif dan objektif
Terapi Analisis DRP
Gastroenteritis Subjektif BAB cair, perut nyeri dan kembung, tenesmus, mual dan muntah,
demam, mata cekung dan turgor kulit lambat
Objektif Temperatur 39°C
1. Metronidazole 2. Zinc dispersibel 3. Parasetamol syr
Metronidazole merupakan antibakteri, metronidazole tidak boleh digerus karena adapat menurunkan efektivitas obat, sehingga disarankan untuk diganti dengan metronidazole suspensi 125mg/5ml
Ditambahkan sediaan cairan elektrolit
Pasien belum mendapatkan obat antiemetik
Importer drug selection Metronidazole tidak bisa digerus, sehinggantidak bisa dibuat dalam sediaan serbuk
Untreated indication Pasien mengalami mata cekung dan turgor kulit lambat tetapi tidak mendapatkan obat untuk indikasi tersebut
Plan
No Nama obat Bentuk dan KS Jumlah Signa dan aturan minum Rencana/monitoring 1 metronidazole Suspensi
125mg/5ml
1 botol S t dd cp 1 pc Disarankan Metronidazole dihabiskan obatnya karena obat antibiotik
2 Zinc diespersible Tablet 20 mg
7 tablet S 1 dd tab 1 pc Monitoring frekuensi BAB berkurang atau tidak
Disarankan Zinc harus dihabiskan 3 Ondansentron Tablet
8 mg Disarankan penambahan ondansentron
sebagai obat antiemetic atau meredakan mual dan muntah
4 Parasetamol syr Sirup 120mg/5ml
1 botol S t dd cth II pc Monitoring temperatur tubuh pasien
5 Oralit Serbuk
Tiap kantong 200 ml :
NaCl 0,52 g KCl 0,3 g
Trisodium sitrat dihidrat 0,58 g Glukosa anhidrat 2,7 g
20 sachet
3 jam pertama 6 gelas (1,2L) selanjtnya tiap kali BAB 1 ½ gelas (300 ml) 1 sachet oralit = 1 gelas
Air matang (200 ml)
Disarankan edukasi pendamping pasien mengenai makanan yang dikonsumsi
PEMBAHASAN
Patofisiologi penyakit Gastroenteritis
Penyebab gastroenteritis antara lain infeksi, malabsorbsi, keracunan atau alergi makanan dan psikologis penderita. Infeksi yang menyebabkan GE akibat Entamoeba histolytica disebut disentri, bila disebabkan oleh Giardia lamblia disebut giardiasis, sedangkan bila disebabkan oleh Vibrio cholera disebut kolera.
Bila terjadinya diare didahului oleh makan atau minum dari sumber yang kurang higienenya, GE dapat disebabkan oleh infeksi. Riwayat bepergian ke daerah dengan wabah diare, riwayat intoleransi laktosa (terutama pada bayi), konsumsi makanan iritatif, minum jamu, diet cola, atau makan obat-obatan seperti laksatif, magnesium hidroklorida, magnesium sitrat, obat jantung quinidine, obat gout (kolkisin), diuretika (furosemid, tiazid), toksin (arsenik, organofosfat), insektisida, kafein, metil xantine, agen endokrin (preparat pengantian tiroid), misoprostol, mesalamin, antikolinesterase dan obat-obat diet perlu diketahui.
Gejala :
Pada pasien anak ditanyakan secara jelas gejala diare:
1. Perjalanan penyakit diare yaitu lamanya diare berlangsung, kapan diare muncul (saat neonatus, bayi, atau anak-anak) untuk mengetahui, apakah termasuk diare kongenital atau didapat, frekuensi BAB, konsistensi dari feses, ada tidaknya darah dalam tinja
2. Mencari faktor-faktor risiko penyebab diare
3. Gejala penyerta: sakit perut, kembung, banyak gas, gagal tumbuh.
4. Riwayat bepergian, tinggal di tempat penitipan anak merupakan risiko untukdiare infeksi.
Prinsip pengobatan
1. Rehidrasi menggunakan Oralit osmolalitas rendah
Untuk mencegah terjadinya dehidrasi dapat dilakukan mulai dari rumah tangga dengan memberikan oralit osmolaritas rendah, dan bila tidak tersedia berikan cairan rumah tangga seperti larutan air garam. Oralit saat ini yang beredar di pasaran sudah oralit yang baru dengan osmolaritas yang rendah, yang dapat mengurangi rasa mual dan muntah. Oralit merupakan cairan yang terbaik bagi penderita diare untuk mengganti cairan yang hilang. Bila penderita tidak bisa minum harus segera di bawa ke sarana kesehatan untuk mendapat pertolongan cairan melalui infus. Pemberian oralit didasarkan pada derajat dehidrasi (Kemenkes RI, 2011).
a. Diare tanpa dehidrasi
Umur < 1 tahun: ¼-½ gelas setiap
kali anak mencret (50–100 ml)
Umur 1-4 tahun: ½-1 gelas setiap kali anak mencret (100–200 ml)
Umur diatas 5 Tahun: 1–1½ gelas setiap kali anak mencret (200– 300 ml)
b. Diare dengan dehidrasi ringan sedang Dosis oralit yang diberikan dalam 3 jam pertama 75 ml/ kg bb dan selanjutnya diteruskan dengan pemberian oralit seperti diare tanpa dehidrasi.
c. Diare dengan dehidrasi berat
Penderita diare yang tidak dapat minum harus segera dirujuk ke Puskesmas untuk diinfus.
Tabel 3.6 Kebutuhan Oralit per Kelompok Umur Umur Jumlah oralit yang diberikan tiap BAB
Jumlah oralit yang disediakan di rumah
< 12 bulan 50-100 ml 400 ml/hari (2 bungkus)
1-4 tahun 100-200ml 600-800 ml/hari (3-4 bungkus)
> 5 tahun 200-300 ml 800-1000 ml/hari (4-5 bungkus)
Dewasa 300-400 ml 1200-2800 ml/hari
1. Zinc diberikan selama 10 hari berturut-turut Dosis pemberian Zinc pada balita:
- Umur < 6 bulan : ½ tablet (10 mg) per hari selama 10 hari.
- Umur > 6 bulan : 1 tablet (20 mg) per hari selama 10 hari.
Zinc tetap diberikan selama 10 hari walaupun diare sudah berhenti.
2. Teruskan pemberian ASI dan Makanan
Pemberian makanan selama diare bertujuan untuk memberikan gizi pada penderita terutama pada anak agar tetap kuat dan tumbuh serta mencegah berkurangnya berat badan.
3. Antibiotik Selektif
4. Nasihat kepada orang tua/pengasuh (PPK 2017) DIAGNOSIS
1. Diagnosis Klinis
Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis (BAB cair lebih dari 3 kali sehari) dan pemeriksaan fisik (ditemukan tanda-tanda hipovolemik dan pemeriksaan
konsistensi BAB). Untuk diagnosis defenitif dilakukan pemeriksaan penunjang.
2. Diagnosis Banding
Demam tifoid, Kriptosporidia (pada penderita HIV), Kolitis pseudomembran.
BAB V KESIMPULAN
SOAP adalah sarana yang digunakan oleh para tenaga medis untuk merekam informasi mengenai pasien. SOAP merupakan singkatan dari Subjective (Subjektif), Objective (Objektif), Assesment (Penilaian), dan Plan (Perencanaan).
SOAP bertujuan agar lebih terorganisir, juga sebagai salah satu sarana bagi tenaga medis untuk mencatat diagnosis terhadap keadaan pasien.