I
SSN
2541-
5360
Office:
Tourism VocationalProgram,UniversitasIndonesia
4th floor,VA Building,UniversitasIndonesia Campus,Depok,16424
Vol
.
01,
no.
2.
Jul
-
Dec
2016
Jour
nal
of
I
ndones
i
an
T
our
i
s
m
Journal Description
This journal covered studies on tourism, leisure studies and policies related to its development in Indonesia. The expected essays shall also cover studies on Indonesian tourism which linking with issues of social, cultural, economic, politics, management, health, environmental, technology, policies, etc. The goal of Journal of Indonesian Tourism and Policies Studies, is to become portal and instrument to develop science-of-tourism in indonesia from various
aspects and perspectives. Hence, not only as paper-based-field-research, this journal shall
be the portal for applied studies on tourism and the related literature reviews. Published by:
Tourism Vocational Program (Program Studi Pariwisata Vokasi), Universitas Indonesia Chief Editor
Dr. Jajang Gunawijaya, MA. (Vocational Program, Universitas Indonesia) Managing Editor
Sofyan Ansori S.Sos., MM. (Vocational Program, Universitas Indonesia) Secretary
Mohammad Toha Santoso, A.Md. Editorial Board
Dr. Budiman Mahmud Mustofa (Vocational Program, Universitas Indonesia)
Joko Sudibyo, Ph.D (Trisakti University) Prof. Dr. I Gede Pitana (Universitas Udayana) Beth Lagarense, Ph. D (Sekolah Tinggi Pariwisata Manado)
Dr. Semiarto Aji Purwanto (Universitas Indonesia)
Diaz Pranita, MBA (Vocational Program, Universitas Indonesia)
Dr. Soemarsono, SH,MM (Perguruan Paramita) Edlin Dahniar Al-fath, MA (Universitas Brawijaya) Poeti Nazura Gulfira Akbar, S.T., M.Sc (Vocational Program, Univeritas Indonesia)
Paramita Budi Utami, MA (Universitas Indonesia) Technical Editor
Annisa Pratiwi, S.Hum., M.Par. (Tourism Vocational Program, Universitas Indonesia) Irfan Nugraha, S.Sos., M.Si. (Han) (Tourism Vocational Program, Universitas Indonesia) Febrian, S.Sos., M.Si.
Advisory Board
Deni Danial Kesa, S.Sos., MBA, Ph.D (Research Manager of Vocational Program, Universitas Indonesia) Prof. Dr. Ir. Sigit Pranowo Hadiwardoyo, DEA (Dean of Vocational Program, Universitas Indonesia)
Office:
Tourism Vocational Program, Universitas Indonesia
4th floor, VA Building, Universitas Indonesia Campus, Depok, 16424
Phone: (021) 29027481 Email: [email protected] Website: http://jitps.ui.ac.id
Journal of Indonesian Tourism and Policy Studies
ISSN 2541-5360Journal of Indonesian Tourism and Policy Studies
Vol 1. No. 2 Jul- Dec 2016
Pengembangan Potensi Desa Sebagai Destinasi Wisata Budaya Tinjauan Terhadap Desa Pasir Eurih Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Priyanto dan Romario Rizkiawan
Pariwisata dan Perubahan Persepsi atas Hutan di Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Andika Nur Perkasa
Dari Menanam Buah menjadi Menanam Rumah : Transformasi Sosial Ekonomi Masyarakat Kota Batu
Edlin Dahniar Al-fath
Community Participation In Rural Tourism Development: The Experience Of Wanayasa, Purwakarta
Jajang Gunawijaya, Poeti Nazura Gulfira Akbar, Annisa Pratiwi
“Experience Journey”;
Mendesain Rangkaian Aktivitas Perjalanan Wisata Budaya Ni Nyoman Sri Natih Sudhiastiningsih
53
62
74
84
97
Table of Content
ISSN 2541-5360Pengembangan Potensi Desa Sebagai Destinasi Wisata Budaya
Tinjauan Terhadap Desa Pasir Eurih Kecamatan Tamansari,
Kabupaten Bogor, Jawa Barat
Priyanto
Laboratorium Pariwisata Program Pendidikan Vokasi UI,
Romario Rizkiawan
Alumni Program Studi Pariwisata Program Vokasi UI
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menggali potensi Desa Pasir Eurih di Kecamatan Taman Sari Kabupaten Bogor Propinsi Jawa Barat sebagai destinasi wisata budaya dan menyajikan beberapa persoalan mendasar terkait keberadaan desa wisata budaya tersebut. Metodologi yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum potensi Desa Pasir Eurih sebagai destinasi wisata budaya cukup banyak dan beragam seperti keberadaan masyarakat desa yang masih memegang teguh budaya Sunda, pemandangan khas pedesaan dengan latar belakang Gunung Salak, lokasi desa yang dekat dengan destinasi wisata budaya Kampung Sindang Barang, kegiatan masyarakat desa seperti budidaya ikan hias, budidaya tanaman, kegiatan industri rumahan alas kaki (sandal dan sepatu), dan juga keberadaan situs sejarah tempat penampung air. Beberapa permasalahan yang ada seperti belum optimalnya kualitas sumber daya manusia, sarana dan prasarana, promosi. Hal tersebut dapat diatasi dengan peran serta aktif dari berbagai pihak terutama masyarakat desa wisata budaya setempat.
Kata Kunci: Desa Wisata, Daya Tarik Wisata, Wisata Budaya
Abstract
This study aims to explore the potential of the Pasir Eurih Village in Taman Sari subdistrict, Bogor regency, West Java province as a destination for cultural tourism and presents some fundamental problems related to the presence of the tourist village culture. The methodology used is qualitative research method with descriptive analysis. The results showed that the overall potential of the Pasir Eurih Village as a destination for cultural tourism are many and diverse as the existence of rural communities that still adhere to the Sundanese culture, the typical landscape of rural with a backdrop of Mount Salak, village location close to tourist destinations culture Kampung Sindang Barang, village community
activities such as ornamental fish farming, cultivation, activities cottage industry
of footwear (slippers and shoes), and also the existence of a historical site where the water reservoir. Some existing problems such as not optimal quality of human resources, facilities and infrastructure, promotion. This can be overcome with the active participation of various stakeholders especially the local cultural tourism village.
Keywords: Village Tourism, Atraction Tourism, Culture Tourims
ISSN 2541-5360 Journal of Indonesian Tourism and Policy Studies Vol. 1 No. 2
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Pariwisata adalah keseluruhan rangkaian kegiatan yang berhubungan dengan pergerakan manusia yang melakukan perjalanan atau persinggahan sementara dari tempat tinggalnya, ke suatu atau beberapa tempat tujuan di luar ligkungan tempat tinggalnya yang didorong oleh beberapa keperluan tanpa bermaksud mencari nafkah (Gunn, Clare A: 2002). Pariwisata merupakan salah satu sektor yang sangat penting karena merupakan salah satu sumber devisa negara dan mampu memberikan sumbangan yang cukup signifikan bagi pembangunan bangsa.
Saat ini trend pariwisata mengalami perubahan, dari yang sebelumnya yaitu pariwisata konvensional berubah menjadi pariwisata minat khusus. Pada pariwisata minat khusus wisatawan berkecederungan lebih menghargai lingkungan, alam, budaya dan atraksi secara special. Salah satu pariwisata minat khusus yang sedang berkembang di Indonesia adalah desa wisata berbasis budaya.
Beberapa daerah di Indonesia tidak luput juga mengembangkan jenis pariwisata desa wisata budaya. Sebut saja Desa Trunyan di Bali, Desa Sade dan Desa Senaru di Nusa Tenggara Barat, Desa Wisata Cinangneng di Bogor Jawa Barat, Desa Tapos di Taman Sari Bogor Barat dan juga salah satunya adalah Desa Pasir Eurih di Kecamatan Taman Sari, Kabupaten Bogor, Propinsi Jawa Barat.
Kegiatan berwisata ke desa wisata dapat dikategorikan sebagai special interest tourism
atau wisata minat khusus. Desa wisata tersebut menjadikan produk wisata akan lebih bernuansa natural sesuai dengan nilai-nilai kebudayaan, sehingga dapat mengembangkan pariwisata berdampingan dengan kebudayaan tanpa merusak kebudayaan yang ada. Disisi lain pranata social kepariwisataan dan pengelolaan juga menjadi sangat vital, dimana desa wisata diharapkan akan dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat dan menjadi agen perubahan bagi kemajuan kepariwisataan Indonesia.
Menarik kiranya untuk mencermati perkembangan desa wisata berbasis budaya, salah satunya adalah di Desa Pasir Eurih. Satu hal, fenomena tersebut sebagai alternatif solusi untuk menjawab trend dunia pariwisata masa kini yang sudah berubah dari wisata konvensional ke wisata minat khusus. Namun, di sisi yang lain timbul berbagai persoalan di antaranya kesiapan berbagai pihak terkait keberadaan desa wisata budaya, kemasan potensi daya tarik desa wisata budaya, permasalahan sarana dan prasarana, permasalahan sumber daya manusia, dan lain-lain.
Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka permasalahan yang akan di angkat dalam penelitian ini adalah apa sajakah potensi wisata budaya yang ada di Desa Pasir Eurih, permasalahan mendasar apa saja yang terkait dengan keberadaan desa wisata budaya dan bagaimanakah upaya-upaya sebagai alternative solusi dari permasalahan tersebut.
Tinjauan Pustaka
Pariwisata dapat diartikan suatu aktivitas yang dilakukan oleh wisatawan untuk bepergian ke suatu tempat tujuan wisata di luar keseharian dan lingkungan tempat tinggalnya untuk melakukan persinggahan yang sifatnya sementara waktu dari tempat tinggal, yang didorong beberapa keperluan tanpa untuk bermaksud mencari nafkah, namun didasarkan untuk mendapatkan kesenangan, disertai untuk menikmati berbagai hiburan yang dapat melepaskan lelah dan menghasilkan pengalaman perjalanan berwisata dan pelayanan keramah-tamahan (Inskeep, Edward, 1991)
Kegiatan berwisata berlangsung karena banyak faktor, salah satu di antaraya adalah faktor daya tarik wisata yang ada di destinasi wisata. Menurut Undang-Undan Kepariwisataan Nomor 10 Tahun 2009, daya tarik wisata adalah segala sesuatu yang memilik keunikan, keindahan, dan nilai yang berupa keanekaragaman kekayaan alam, budaya, dan hasil buatan manusia yang menjadi sasaran atau tujuan kunjungan wisatawan.
Salah satu jenis pariwisata di antaranya adalah pariwisata budaya yaitu kegiatan berwisata yang memanfaatkan perkembangan potensi hasil budaya manusia sebagai objek daya tariknya. Jenis wisata ini dapat memberikan manfaat dalam bidang sosial budaya karena dapat membantu melestarikan warisan budaya sebagai jati diri masyarakat lokal yang memiliki kebudayaan tersebut. Pendit, (1990) menyebutkan wisata budaya adalah perjalanan yang dilakukan atas dasar keinginan untuk memperluas pandangan hidup seseorang dengan jalan mengadakan kunjungan ke tempat lain atau ke luar negeri, mempelajari keadaan rakyat, kebiasaan dan adat istiadat mereka, cara hidup mereka, kebudayaan dan seni mereka. Dewasa ini, pariwisata budaya berkembang dengan cepat karena adanya tren baru di kalangan wisatawan yaitu kecenderungan untuk mencari sesuatu yang unik dan autentik dari suatu kebudayaan.
Bentuk kegiatan wisata budaya salah satunya adalah dengan mengunjungi desa wisata. Pemahaman istilah desa wisata cukup beragam. Nuryanti Wiendu (1993) menyebutkan bahwa Desa wisata didefinisikan sebagai bentuk integrasi antara atraksi, akomodasi, dan fasilitas pendukung yang disajikan dalam suatu struktur kehidupan masyarakat yang menyatu dengan tata cara tradisi yang berlaku. Penetepannya harus memenuhi persyaratan di antaranya:
1. Aksesibilitasnya baik, sehingga mudah dikunjungi wisatawan dengan menggunakan berbagai jenis alat transportasi.
2. Memiliki obyek-obyek menarik berupa alam, seni budaya, legenda, makanan lokal, dan sebagainya untuk dikembangkan sebagai obyek wisata.
3. Masyarakat dan aparat desanya menerima dan memberikan dukungan yang tinggi terhadap desa wisata serta para wisatawan yang datang ke desanya.
4. Keamanan di desa tersebut terjamin.
5. Tersedia akomodasi, telekomunikasi, dan tenaga kerja yang memadai. 6. Beriklim sejuk atau dingin.
Tidak hanya itu, untuk memperkaya obyek dan daya tarik wisata di sebuah desa wisata, beberapa fasilitas dan kegiatan dapat dibangun mulai dari :
1. Eco-lodge : Renovasi homestay agar memenuhi persyaratan akomodasi wisatawan, atau membangun guest house berupa, bamboo house, traditional house, log house, dan lain sebagainya.
2. Eco-recreation : Kegiatan pertanian, pertunjukan kesenian lokal, memancing ikan di kolam, jalan-jalan di desa (hiking), biking di desa dan lain sebagainya.
3. Eco-education: Mendidik wisatawan mengenai pendidikan lingkungan dan mengenalkan flora dan fauna yang ada di desa yang bersangkutan.
4. Eco-research : Meneliti flora dan fauna yang ada di desa, dan mengembangkan produk yang dihasilkan di desa, serta meneliti keadaan sosial ekonomi dan budaya masyarakat di desa tersebut, dan sebagainya.
5. Eco-energy : Membangun sumber energi tenaga surya atau tenaga air untuk Eco-lodge. 6. Eco-development : Menanam jenis-jenis pohon yang buahnya untuk makanan burung
atau binatang liar, tanaman hias, tanaman obat, agar bertambah populasinya.
7. Eco-promotion : Promosi lewat media cetak atau elektronik, dengan mengundang media massa.
METODE
Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dan memiliki sifat deskriptif. Data penelitian terdiri atas data primer yang berasal dari informan yang telah ditetapkan secara bertujuan (purposive) dan melalui pengamatan lapangan. Data sekunder diperoleh dari dokumen penelitian yang sudah ada, studi kepustakaan dari buku-buku terkait dan dan juga berbagai. sumber di internet. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan beberapa metode seperti pengamatan lapangan, wawancara, dan diskusi dengan key informant dan stakeholder terpilih untuk menjawab tema dari penelitian.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Desa Wisata Pasir Eurih terletak di daerah tujuan wisata kaki Gunung Salak yang lokasinya berada di sebelah selatan Bogor. Desa tersebut memiliki luas areal 285,394 ha dan sebagian besar merupakan wilayah perbukitan. Kontur alam yang dimiliki desa tersebut sangat menarik seperti keberadaan persawahan padi, perkebunan pala dan durian.
Jumlah penduduk Desa Pasir Eurih mencapai 11.204 jiwa. Sebelum dikukuhkan menjadi kawasan desa wisata, sebagian besar masyarakat Desa Pasir Eurih bermata pencaharian sebagai petani, pengrajin sandal dan sepatu, mengelola perkebunan, dan budidaya ikan mas. Kondisi perekonomian penduduk yang ada masih bervariasi. Hal ini dapat dilihat dengan sudah terdistribusinya warung-warung yang menyediakan kebutuhan pokok, dan penduduk selalu bertransaksi dari hasil pertaniannya ditempat da ada juga yang dijual ke Bogor. Namun dukungan sarana dan prasarana perekonomian seperti pasar, lembaga perbankan dan lembaga ekonomi lainnya masih belum lengkap, kondisi saat ini masih berorientasi ke Kota Bogor.
Desa Pasir Eurih termasuk dalam zona pengembangan wisata Tamansari yang meliputi Kampung Budaya Sindang Barang, Pura Parahyangan Agung Jagatkharta, Air Terjun Curug Nangka, Bumi Perkemahan Sukamantri, Agrowisata Ulat Sutera, Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak. Selain itu zona ini juga menyajikan keunikan budaya pada masa Padjajaran, pusat kerajinan alas kaki dan kesenian tradisional.
Mengacu pada persyaratan desa wisata budaya (Nuryanti Wiendu, 1993), di bawah ini diuraikan mengenai keberadaan Desa Pasir Eurih sebagai desa wisata budaya.
Aksesibilitas
Desa Pasir Eurih berjarak 5 Km dari Kota Bogor atau 60 Km dari Kota Jakarta, berada pada ketinggian 350-500 mdpl. Dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan baik kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Prasarana jalan dan jembatan yang menuju ke Desa Pasir Eurih pada dasarnya cukup baik yakni sudah diaspal. Lebar jalam masih merupakan jalan desa dan di kanan dan di kiri jalan desa terdapat banyak rumah-rumah penduduk dan juga warung-warung.
Memiliki obyek-obyek menarik
Desa Pasir Eurih mempunyai obyek-obyek wisata menarik di antaranya obyek wisata alam dan budaya. Wisata alam desa terlihat dari keberadaan pemandangan khas pedesaan, hamparan persawahan, perkebunan dan perbukitan dengan latar belakang keindahan pemandangan yaitu keberadaan Gunung Salak.
Obyek wisata budaya Desa Pasir Eurih terlihat dari kehidapan masyarakat desa yang masih menjunjung tinggi adat istiadat budaya Sunda. Seni budaya adat Sunda yang masih ada yaitu tarian tradisional Jaipong dan Pencak Silat.
Kegiatan masyarakat Desa Pasir Eurih yang juga menjadi obyek wisata menarik adalah kegiatan membudidayakan tanaman hias dan jamur. Tanaman hias yang dibudidayakan biasanya dipakai untuk mempercantik taman dan tanaman yang biasanya digunakan di ruang tamu untuk mempercantik ruangan. Wisatawan dapat melakukan kegiatan belajar membudidayakan tanaman hias mulai dari menyemai biji tanaman dan merawat tanaman agar dapat tumbuh subur.
Kegiatan lainnya masyarakat Desa Pasir Eurih adalah membudidayakan ikan hias. Wisatawan juga dapat melakukan kegiatan belajar membudidayakan ikan hias.
Desa Pasir Eurih sebagai destinasi wisata budaya, menawarkan berbagai ragam kegiatan dan paket wisata desa seperti 1). Kegiatan tracking mengelilingi situs-situs peninggalan Kerajaan Padjajaram, 2). Melihat dan mengelilingi Pura Jagatkhara, 3). Melakukan kunjungan dan atau belajar membuat sandal dan sepatu pada pengrajin sandal dan sepatu, 4). Bercocok taman dan membajak sawah dengan kerbau, 5). Mempelajari tarian tradisional Jaipong dan Pencak Silat, 6). Belajar memainkan angklung, 7). Menangkap ikan di kolam, 8). Memainkan permainan tradisional seperti enggrang, bakiak, sumpit, 9). Melakukan kegiatan belajar memasak makanan tradisional sunda seperti memasak nasi, pepes, dan juga kue-kue, 10). Melakukan kunjungan ke pengrajin makanan. Harga paket yang ditawarkan berkisar antara Rp 50.000 – Rp. 150.000 per Pax.
Masyarakat dan aparat desa
Masyarakat Desa Pasir Eurih menerima dan memberikan dukungan yang tinggi terhadap keberadaan desa wisata serta para wisatawan yang datang ke desa. Dukungan masyarakat Desa Pasir Eurih terlihat dari munculnya kelompok-kelompok sadar wisata yang terdiri dari 3 kelompok dengan jumlah tenaga kerja mencapai 27 orang. Kelompok pemandu wisata terdiri dari 2 kelompok dengan jumlah tenaga kerja 10 orang. Kelompok Sanggar Kerajinan terdiri dari 6 kelompok dengan jumlah tenaga kerja mencapai 24 orang. Kelompok Seni Budaya terdiri dari 3 kelompok dengan jumlah tenaga kerja mencapai 30 orang. Kelompok makanan khas terdiri dari 5 kelompok dengan jumlah tenaga kerja 15 orang. Kelompok Homstay terdiri dari 4 kelompok dengan jumlah tenaga kerja 24 orang. Kelompok jasa fotografi terdiri dari 2 kelompok dengan jumlah tenaga kerja 4 orang. Kelompok sarana pendukung wisata lainnya seperti pertanian, peternakan dan perikanan terdiri atas 3 kelompok dengan jumlah tenaga kerja 15 orang.
Keberadaan kelompok-kelompok sadar wisata di Desa Pasir Eurih sangat membantu para wisatawan dalam menikmati wisata budaya di desa tersebut. Berdasarkan sumber dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor tahun 2015, jumlah kunjungan wisatawan yang datang ke Desa Parir Eurih sepanjang tahun 2014 mencapai 936 wisatawan.
Tingkat kunjungan wisatawan sebagaimana tersebut di atas tidak lepas dari kegiatan promosi. Kegiatan promosi Desa Pasir Eurih dilakukan dengan membuat brosur dan juga melakukan kerja sama dengan Bogor Promotion Pameran, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor dan juga bekerja sama dengan Perguruan Tinggi.
Keamanan di desa
Keamanan di Desa Pasir Eurih sebagai desa wisata cukup kondusif. Masyarakat desa yang masih berpegang teguh pada adat istiadat sunda yang selalu menjungjung tinggi nilai-nilai kejujuran membuat para wisatawan merasa nyaman dalam beraktifiitas.
Tersedia akomodasi, telekomunikasi, dan tenaga kerja yang memadai.
Kegiatan wisata budaya di Desa Pasir Eurih telah dilengkapi dengan sarana akomodasi seperti Homestay berupa rumah-rumah penduduk. Homestay yang tersedia cukup nyaman, rapid an bersih dengan harga terjangkau. Wisatawan akan mendapatkan pengalaman yang berbeda yakni berinteraksi dengan tuan rumah dan keseharian aktifitas pedesaan. Penduduk Desa Pasir Eurih masih menggunakan peralatan memasak tradisional seperti menggunakan tungku dengan bahan bakar kayu bakar.
Tenaga kerja yang ada di Desa Pasir Eurih sangat terbantu dengan keberadaan kelompok-kelompok sadar wisata. Secara berkala tenaga kerja tersebut mendapatkan berbagai pelatihan-pelatihan agar dapat memberikan pelayanan yang memadai kepada para wisatawan.
BERHUBUNGAN DENGAN OBYEK WISATA LAIN
Bogor merupakan gugus depan kepariwisataan Propinsi Jawa Barat yang letaknya strategis dan iklimnya yang sejuk dengan curah hujan yang tinggi membuat Bogor disebut juga kota hujan. Hal ini menjadikan Bogor sebagai salah satu primadona kepariwisataan Jawa Barat. Tentu saja hal ini sangat menguntungkan kegiatan wisata di Desa Pasir Eurih karena termasuk salah satu wilayah Kabupaten Bogor yang sudah cukup termasyur.
Jika mengacu pada persyaratan desa wisata budaya (Nuryanti Wiendu, 1993), beberapa aspek telah terpenuhi seperti aksesibiltas yang baik, memiliki obyek yang menarik, dukungan masyarakat, keamanan, ketersediaan akomodasi, beriklim sejuk dan dingin, berhubungan dengan obyek lain yang sudah dikenal. Namun disisi yang lain terdapat berbagai permasalahan diantaranya:
Kualitas Sumber Daya Manusia yang belum optimal
Wisatawan yang mengunjungi ke desa wisata budaya itu berharap akan dapat menikmati alam pedesaan yang masih bersih dan merasakan hidup disuasana desa dengan sejumlah adat istiadatnya. Wisatawan tinggal bersama penduduk, tidur dikamar yang sederhana tapi bersih dan sehat, makanan tradisional merupakan hidangan utama yang hendak disajikan selama di desa wisata, wisatawan merasakan adanya kepuasan karena adanya penyambutan, dan pelayanan dari penduduk desa tersebut.
Menurut sumber Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Bogor, selama hampir 6 tahun sejak pertama kali diarahkan menjadi desa wisata, kendala yang dihadapi adalah muncul dari masyarakat. Kerap kali masyarakat belum yakin dan paham akan dampak positif dari keberadaan desa wisata. Seperti diketahui bahwa manfaat pengembangan desa wisata diantaranya 1). Semua kegiatan dikelola oleh masyarakat, dalam hal ini oleh lembaga desa, dan masyarakat tentunya mendapatkan manfaat dari kegiatan ini, 2). Masyarakat menjadi lebih mandiri, 3). Masyarakat mendapatkan tambahan pendapatan, 4). Program Sadar Wisata dapat tercapai.
Permasalahan lainnya adalah tingkat kesadaran masyarakat yang belum optimal dalam berperan menunjang revitalisasi budaya Sunda, pelestarian situs sejarah dan sadar wisata di sekitar obyek wisata.
Sebagian masyarakat desa belum memiliki pengetahuan dan keterampilan yang memadai dalam mengelola desa wisata budaya. Hal ini menjadi penting, sehingga pembekalan peningkatan pengetahuan tentang pengelolaan desa wisata merupakan suatu keterampilan yang sebenarnya dibutuhkan oleh masyarakat desa wisata yang sudah ada ataupun bagi masyarakat yang ingin mengembangkan desanya menjadi sebuah desa wisata.
Harapan tersebut akan terwujud jika semua menyadari pentingnya peningkatan kualitas sumber daya manusia terkait dengan penyelenggaraan desa wisata budaya. Dibutuhkan peran pemerintah, kalangan perguruan tinggi, dan lembaga swadaya masyarakat untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dengan cara memberikan pelatihan, menambah wawasan tentang kepariwisataan agar masyarakat dapat merasakan secara langsung dampak dari penyelenggaraan desa wisata budaya.
Selain itu diperlukan juga peningkatan kualitas sumber daya manusia di bidang bahasa yaitu melalui pembelajaran bahasa asing untuk mengantisipasi kedatangan wisatawan-wisatawan manca negara yang akhir-akhir ini mengalami pengingkatan yang cukup signifikan. Pembelajaran bagaimana membuat paket-paket wisata terkait dengan desa wisata, karena melalui paket-paket wisata inilah wisatawan akan mengetahui dan merasakan pengalaman perjalanan dan keunikan seperti apa yang akan dinikmati selama perjalanan. Demikian juga pelatihan-pelatihan di bidang guiding teknik untuk melayani wisatawan selama kegiatan wisata.
Kendala Sarana dan Pra Sarana Desa Wisata Budaya
Sebagian Desa Wisata budaya dalam perkembangannya terkendala karena belum optimalnya aksesibilitas (kemudahan dalam mencapai tempat tujuan desa wisata budaya). Ketersediaan infrastruktur seperti jalan raya yang layak untuk kegiatan pariwisata menuju desa wisata dan juga menyediakan rute perjalanan yang mengelilingi kawasan desa wisata yang dapat memperlihatkan kegiatan sehari-hari masyarakat sudah barang tentu menjadi kebutuhan. Demikian juga dengan ketersedian transportasi khusus menuju ke obyek wisata yang belu dapat dijangkau oleh wisatawan dan juga kondisi jalan ya baik untuk kenyamanan perjalanan wisatawan menuju ke obyek wisata budaya.
Terkait dengan ketersediaan infrastruktur yang layak, pemerintah juga telah mencangkan tahun 2016 sebagai tahun infrastruktur pariwisata.
Belum semua desa wisata budaya optimal dalam menyediakan fasilitas penginapan yang memadai. Penginapan yang dibutuhkan wisatawan yang menginap di desa wisata tidaklah harus penginapan yang mahal dan mewah, tapi minimal bersih, sehat dan harganya terjangkau.
Diperlukan juga penyediaan rumah makan yang memberikan suasana pedesaan, terjaga kebersihannya dan menyajikan menu beecita rasa khas desa wisata budaya setempat.
Tidak kalah pentingnya adalah ketersediaan toko souvenir yang menjual hasi-hasil bumi ciri khas desa setempat, hasil cindermata yang berciri khas desa wisata setempat sehingga dapat menjadi kenangan untuk wisatawan yang pernah berkunjung sehingga dapat dikenal oleh masyarakat luar.
Kendala Promosi
Desa wisata budaya di Desa Pasir Eurih Kecamatan Taman Sari Kabupaten Bogor merupakan wilayah yang kaya akan ragam keunikan di desa berupa wisata alam, seni budaya, legenda, makanan lokal, dan sebagainya untuk dikembangkan sebagai obyek wisata budaya. Sangat disayangkan, masyarakat maupun pengelola destinasi belum optimal dalam mempromosikan desa wisata tersebut. Oleh karena itu diperlukan media-media promosi dengan cara seperti membuat web tentang desa wisata budaya Pasir Eurih, melalui social media facebook, brosur, radio, televise dan juga bekerja sama dengan media-media promosi yang ada lainnya dengan lebih kratif lagi.
PENUTUP
Berbagai potensi desa wisata budaya Pasir Eurih di Kecamatan Taman Sari Kabupaten Bogor cukup banyak dan telah terindentifikasi. Beberapa persoalanpun muncul terkait dengan pengelolaan desa wisata seperti belum optimalnya kualitas sumber daya manusia, belum optimalnya sarana dan prasarana penunjang, dan kendala dalam promosi. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan kerja sama dari berbagai pihak, tidak hanya peran pemerintah, perguruan tinggi dan lembaga swadaya masyarakat namun juga yang lebih penting adalah peran serta aktif dari masyarakat desa wisata budaya setempat.
DAFTAR PUSTAKA
Buku:Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Bogor, 2015.
Gunn, Clare A. Tourism Planning. New York City : Taylor and Francis, 2002. Hermantoro, Henky. Creative-Based Tourism: Dari Wisata Rekreatif, 2011.
Inskeep, Edward. Tourism Planning: An Integrated Sustainable Development, 1991. Nuryanti, Wiendu. Concept, Perspectiv and Challenges. Yogyakarta: Gajah Mada
University Press, 1993.
Pitana, Gde. Pengantar Ilmu Pariwisata. Yogyakarta: Andi Offset, 2009.
Susyanti, Dewi Winarni. Potensi Desa Melalui Pariwisata Pedesaan. Jurnal Ekonomi
dan Bisnis, Vol.12, No. 1, Juni 2013: 33-36.
Undang-Undan No. 10 Tahun 2009 Tentang Kepariwisataan.
ISSN 2541-5360
Pariwisata dan Perubahan Persepsi atas Hutan di Kawasan
Taman Nasional Bromo Tengger Semeru
Andika Nur Perkasa
Program Studi Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya,
Malang, Indonesia
Abstrak
Tulisan ini membahas implikasi pertumbuhan minat wisatawan pada jenis wisata alam di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) bagi masyarakat
Tengger Ranu Pani yang tinggal dalam wilayah enclave TNBTS. Studi ini menitik beratkan pada persepsi masyarakat atas hutan yang menjadi daya tarik utama para wisatawan untuk berkunjung. Dwelling perspective digunakan untuk menjabarkan proses pembentukan persepsi tersebut dari berbagai aktor berserta tindakan terkait. Proses pembentukan persepsi akan hutan juga tidak terlepas dari sejarah pembentukan ruang tersebut oleh pemerintah, baik fungsi hingga kepemilikan. Studi ini kemudian menggunakan analisis deret waktu yang menitik beratkan pada aspek keruangan. Hasil dari studi ini menujukkan adanya pergeseran persepsi atas hutan bagi masyarakat disebabkan kecenderungan pemerintah untuk menjadikan pariwisata sebagai sumber pemasukan berkelanjutan bukan untuk tujuan konservasi.
Kata kunci: dwelling perspective, masyarakat enclave, persepsi hutan, Tengger, dan wisata alam.
Abstract
This paper examines the implication on growing interest of tourist on kind of travel nature in Bromo Tengger Semeru National Park (TNBTS) for the Tenggernese who live in enclave area TNBTS. This study is prioritized on public perception of forests as the main attraction to tourist to visit. Dwelling perspective used to announce process establishing a perception of forest from the various actors and related actions. The establishing process of forest perception cannot be separated from space forest history formation by the government, either its function or ownership. This study then using conjuncture analysist prioritized on the life space aspect. The result of this study indicates a shift in perception of forest for the community due to the tendency of government to make tourism as a source of sustainable income not for conservation purposes.
Keywords: dwelling perspective, enclave community, perception of forest, Tenggernese, travel nature.
PENDAHULUAN
Desa Ranu Pani merupakan salah satu wilayah enclave yang masuk pada kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Orang Tengger yang bermukim di desa ini memiliki mata pencaharian sebagai petani. Baik yang memiliki lahan ataupun yang tidak (buruh tani). Lahan pertanian ladang masyarakat seperti yang dikatakan Hefner (1999, hal. 25, 81) masuk pada kategori pertanian lahan kering (tegalan) yang sangat rawan degradasi. Komoditas utama ladang masyarakat disini adalah tanaman sayur seperti kubis dan kentang. Ladang yang dimiliki ladang masyarakat berjarak tidak jauh dari rumah tempat mereka tinggal dan bermukim. Ladang yang tidak sampai ke dalam hutan menjadikan penduduk Ranu Pani memiliki intensitas yang relatif kecil untuk eksploitasi hutan. Hanya sebatas pengambilan kayu untuk keperluan memasak dan juga penghangat sebagai kayu bakar. Dengan kontur ketinggian yang mencapai 2000-2200 meter diatas permukaan laut (mdpl), tidak memungkinkan untuk tanaman kayu komersil tumbuh baik di wilayah ini (Radecki, 2006, hal. 41-42).
Tidak adanya potensi eksploitasi hutan untuk kebutuhan komersil membuat masyarakat tidak pernah menggantungkan diri atau sekedar berharap akan kemungkinan mendapatkan hasil dari ruang ini. Beberapa catatan yang disunting oleh Tania Murray Li (2002) terlihat proses perubahan yang terjadi di kawasan dataran tinggi –dan pedalaman, terjadi justru akibat dari konsumsi orang-orang yang berada di dataran rendah yang menjadi pusat-pusat pemerintahan. Salah satu pemicu adanya perubahan di kawasan Ranu Pani ini adalah tersebar luasnya berita-berita mengenai keindahan alam dan juga daya tarik untuk mendaki gunung tertinggi di Pulau Jawa, yaitu Gunung Semeru. Pencitraan atas kawasan ini tersebar melalui berbagai media, mulai cerita dari seorang senior kelompok pecinta alam, biografi seorang aktivis di tahun 1960-an, novel fiksi, hingga film layar lebar. Memasuki era sosial media semakin massif pencitraan atas kawasan ini dan menjadikannya semakin populer bahkan wajib untuk dikunjungi para wisatawan.
Berangkat dari latar belakang tersebut tulisan ini bertumpu pada dua pertanyaan penelitian, (1) apa implikasi dari tingginya pertumbuhan pariwisata di sekitar kawasan Ranu Pani? dan, (2) bagaimana proses terjadinya implikasi tersebut?
Dalam melihat terjadinya proses hingga menghasilkan implikasi tertentu, studi ini menggunakan kerangka dwelling perspective yang diajukan oleh Tim Ingold (2000). Ingold berpandangan bahwa hubungan yang ada didalam lingkungan berlangsung sangat dialektis. Proses adaptasi yang ada kemudian akan diartikan bukan sebagai sebuah proses penundukan dan menjadikan manusia sebagai mahluk yang adidaya, melainkan sebagai sebuah proses saling melengkapi antar unsur yang membentuk kehidupan. Proses tersebut menghasilkan
landscape sebagai citra visual dari kenampakan di sebuah tempat.
Kehidupan kemudian dibangun atas dasar hubungan antar manusia dimana lingkungan menjadi obyek yang dinegosiasikan, diolah, dan diubah dengan dasar pertukaran persepsi dan aksi dari manusia itu sendiri. Dalam memahami integrasi antara manusia dan lingkungan, relasi antar organisme yang ada dalam cakupan lingkungan mengantar pada persepsi dan aksi pada bentuk lainnya. Relasi timbal balik yang terjadi dengan dua pola tersebut akan menunjukkan dinamika kehidupan masyarakat. Adanya relasi yang bersifat dialektis tersebut mengakibatkan persepsi dan aksi manusia terhadap lingkungan tidak pernah selesai.
Lingkungan seperti layaknya struktur bangunan “... are never complete but continually under-construction... ” (Ingold, 2000, hal. 154).
Setelah diketahui dalam kehidupan manusia berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya selalu membutuhkan referensi yang selalu berulang dan tarik menarik antara sesama manusia ataupun non-manusia, maka ada tindakan nyata sehingga tidak hanya tersimpan sebagai memori. Ini yang kemudian disebut sebagai landscape oleh Ingold sebagai hasil hubungan tarik-menarik tersebut. Kunci dari konsepsi ini berada pada indera penglihatan. Bentuk dan makna dari pikiran manusia yang selalu berubah menuntut pembangunan ini tidak pernah sempurna. Penekanan landscape berada pada hasil dari konstruksi relasi manusia dengan lingkungan. Hasil yang membentuk kenampakan tersebut akan dilihat sebuah “... painted representation ...in particular cultural context.” (Hirsch, 1995, hal. 3). Dalam melihat tindakan satu kelompok masyarakat dengan latar belakang tertentu pada suatu ruang kolektif, maka akan terlihat kompleksitas secara historis antara tarik ulur persepsi hingga berimplikasi pada perlakuan yang terus berulang. Pengaruh yang terkuat adalah antara manusia dan non-manusia mana yang memiliki “jaringan” lebih luas hingga mempengaruhi persepsi.
Koneksi antara manusia yang lebih cepat dalam melakukan pergerakan ketimbang non-manusia membuat persepsi atas ruang dibawah kuasa non-manusia. Munculnya berbagai ide
fantasi hijau (Darmanto & Setyowati, 2012, hal. 194) kemudian didukung menjamurnya kelompok-kelompok pecinta alam (Tsing, 2005, hal. 121) di kota-kota besar yang dengan segera bergerak ke tempat yang mereka sebut hutan rimba. Mulai dari dekade 1980-an hingga saat ini, ide fantasi hijau dan kelompok-kelompok pecinta alam ini memainkan peran penting atas penciptaan persepsi atas ruang yang dinamakan hutan. Atas dasar-dasar kejenuhan hidup di kota dan menjadikan hutan sebagai ruang yang dibayangkan penuh ketenangan, “...
enjoying wild and free nature” (Tsing, 2005, hal. 125). Semakin tingginya kebutuhan untuk melakukan perjalanan wisata, hutan di sekitar Ranu Pani tidak pernah sepi setiap harinya.
Kegiatan wisata dalam kacamata posmodern merupakan (dan menjadikan) segala aktivitas berlawanan dengan kehidupan sehari-hari (Urry dalam Burns, 2005, hal. 28). Hal ini tidak terbatas hanya pada aktivitas. Tempat tidak luput dari pembalikkan logika dalam wisata ini. Seperti layaknya domino, masyarakat sekitar yang lebih dekat dengan tujuan-tujuan wisata ini juga terpengaruh atas pembalikkan logika ini. Perpsektif historis dalam tulisan ini akan menjabarkan keterkaitan-keterkaitan berbagai aktor dalam adanya implikasi pariwisata di Ranu Pani yang masuk dalam kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS).
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan metode etnografi. Hasil data yang disajikan berbentuk kualitatif dengan uraian deskriptif. Lama waktu penelitian ini mengikuti izin yang diterbitkan oleh Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS) adalah 6 bulan terhitung dari tanggal 7 Juli 2015 sampai dengan 7 Desember 2015. Pengumpulan sumber data primer dengan cara tinggal menetap di Ranu Pani selama 45 hari penuh disertai dengan kunjungan singkat selama satu hari yang dilakukan kurang lebih selama 14 hari dengan interval 2 hari sekali. Sisa waktu dari penerbitan izin tersebut digunakan untuk mengumpulkan sumber data sekunder berupa jurnal, buku, ataupun sumber lain yang relevan.
Sumber data primer didapatkan lewat informan yang telah ditentukan kriterianya dengan mengelompokkan kedalam beberapak kategori sosial. Penentuan informan hanya dengan
kategori tetapi tidak langsung merujuk pada spesifik nama. Dalam proses penggalian data, informan diajukan pertanyaan terbuka sehingga membiarkan informan bertutur tentang apa yang menjadi minat atau kepentingannya berkaitan dengan ide pokok pertanyaan tersebut. Seperti pada penelitian etnografi pada umunya aspek utama yang hendak dicari merupakan domain (Spradley, 2007, hal. 151-157) yang didapatkan lewat wawancara mendalam (in depth interview), dokumentasi, dan observasi patisipasi (participant observation).
Cakupan dari informan yang memiliki beragam mata pencaharian, usia, agama, dan tentunya orientasi politik dirasa sangat memperkaya penelitian ini. Pada penelitian yang menempatkan peneliti pada suatu wilayah secara intensif, berbagi imajinasi dan pengetahuan adalah suatu hal yang mutlak terjadi (Crang & Cook, 2007, hal. 12). Untuk mendukung proses pertukaran tersebut, dokumentasi lewat cuplikan foto akan memperkuat memperkaya hasil penelitian ini. Selain itu ada data sekunder yang digunakan berupa peta, jurnal, literatur terkait, serta karya-karya populer seperti novel, film, dan lagu. Secara keseluruhan penelitian ini menggunakan kerangka metode etnografi dan dengan demikian diharapkan menjadi satu kesatuan sebagai sumber heterogenitas analitis dan menjanjikan (Tsing, 1998, hal. 423-424).
MEMANDANG HUTAN LEWAT NEGARA
Mencermati sejarah berdirinya kawasan hutan yang dilindungi negara saat ini tidak lepas dari peraturan masa kolonial Belanda. Sejarah ide dan gerakan konservasi pada era kolonial Belanda lebih dilandasi tujuan melindungi kehidupan orang-orang Belanda di Indonesia. Peter Boomgard mencatat adanya korelasi antara jumlah kawasan yang didirikan sebagai
nature and wildlife reserve area dengan kepadatan orang-orang Belanda pada suatu pulau di Indonesia (Boomgaard, 1999, hal. 258). Sebagai contoh di Jawa dengan kepadatan penduduk dari golongan orang Belanda 316 orang/km² ditetapkan 70 area konservasi, sedangkan di Kalimantan dengan kepadatan 4 orang/km² hanya ditetapkan 7 area konservasi (Boomgaard, 1999, hal. 258, 275) padahal Kalimantan memiliki kawasan hutan lebih luas dibanding Jawa. Ide dan gerakan konservasi pada masa kolonial Belanda dimulai sekitar tahun 1890-an. Pemerintah pada masa itu lewat Forestry Service menetapkan banyak kawasan hutan pada masa awal tindak lanjut masalah konservasi. Banyak prediksi mengenai alasan kawasan hutan yang menjadi target awal kawasan yang dilindungi, salah satunya adalah mengatasi masalah-masalah hidrologi seperti pengendalian banjir (Boomgaard, 1999, hal. 262). Hal itu pula yang mendorong pemerintah kolonial Belanda menutup kawasan hutan untuk pembukaan ladang baru pada tahun 1910 di kawasan Pegunungan Tengger (Hefner, 1999, hal. 95). Kawasan Pegunungan Tengger yang terdiri dari lembah-lembah dengan kemiringan curam membuat kota-kota disekitarnya merasa cukup terancam bahaya tanah longsor ataupun banjir.
Setelah era kolonial Belanda tidak lagi berkuasa di Indonesia, pemerintah mendirikan Perum Perhutani sebagai pengelola kawasan hutan. Pasca merdeka, kawasan hutan dibuat zonasi sesuai tujuan dan fungsi yang dirasa dapat dimanfaatkan, seperti hutan produksi, suaka margasatwa, cagar alam, hutan lindung, dan sebagainya. Kawasan Pegunungan Tengger mendapat jatah sebagai wilayah dengan Hutan Lindung, Hutan Produksi, Taman Wisata, dan juga Cagar Alam. Ada 2 Cagar Alam dan 2 Taman Wisata di kawasan ini yaitu Cagar Alam Lautan Pasir dan Ranu Kumbolo serta Taman Wisata Ranu Pani dan Ranu Darungan.
Peta 1.1 Peta Sejarah Kawasan Taman Nasiona Bromo Tengger Semeru. (Sumber: BBTNBTS dengan penyesuaian)
Pandangan negara atas hutan pada masa ini tetap berdasarkan atas peninggalan Belanda. Hanya sedikit perbedaan di kawasan hutan di sekitar Ranu Pani pada dekade 1960-an pernah dilakukan pembukaan lahan untuk tujuan tumpangsari. Model pertanian ini tidak mengharuskan adanya pengalih fungsian lahan secara keseluruhan dari hutan menjadi ladang, hanya memperbolehkan para petani dengan minim atau tanpa akses pada lahan untuk menanam tanaman pangan bukan komersil.
Dapat dikatakan hutan di kawasan Ranu Pani tidak populer dan strategis. Kemiringan tanah yang curam, berada di wilayah yang cukup tinggi, dan cuaca yang cenderung dingin (Fath, 2013, hal. 48) membuat tidak ada perkebunan selain sayuran tumbuh disini. Tidak seperti wilayah dibawahnya yang dapat ditanami buah-buahan (Suryanata, 1999), wilayah Ranu Pani cenderung sulit untuk menumbuhkan perekonomian lewat sektor pertanian atau perkebunan intensif.
Acuan dalam tata batas yang digunakan pemerintah republik atas kawasan Pegunungan Tengger tetap berdasar pemerintah kolonial Belanda. Kawasan ini dikatakan menjadi salah satu wilayah perlindungan alam terluas yang pernah dibuat pemerintah kolonial Belanda dan menjadikan pengawasannya cukup lemah karena jumlah petugas tidak memadai (Boomgaard, 1999, hal. 274). Model tumpangsari yang dilakukan pada kawasan hutan mudah dijumpai (Peluso, 2006) pada masa sebelum adanya Taman Nasional di Indonesia.
Pengawasan dan pengaturan yang buruk terhadap kawasan hutan ditambah minimnya kepentingan pengelolaan berlandaskan konservasi membuat area perlindungan alam kurang terpelihara dan cenderung rentan eksploitasi (Wessing, 1995, hal. 194). Walaupun pada masa pengelolaan Perhutani sudah dinobatkan sebagai Taman Wisata, namun jagawana1
yang bertugas masa itu tidak memungut tarif bagi wisatawan kecuali menggunakan jasa
porter atau guide dari masyarakat setempat.
Hutan yang cenderung tidak menghasilkan ini kemudian dialihkan dari Perhutani kepada Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS). Pengalihan tersebut memang didasarkan atas keputusan pemerintah dan karena Taman Nasional adalah konsep yang baru saja muncul di Indonesia. Pada dekade 1980-an, pemerintah Indonesia atas desakan dari pihak luar dan juga dalam negeri memutuskan untuk mengeluarkan peraturan mengenai keaneka ragaman hayati. Desakan ini datang dari berbagai pihak seperti lembaga internasional, pendonor, NGO, kaum konservasionis, dan lintas komunitas dengan ide fantasi hijau yang melekat pada keaneka ragaman hayati Indonesia (Darmanto & Setyowati, 2012, hal. 194; Li, 2012, hal. 239; Miles & Permana, 2013, hal. 107). Pemerintah menanggapi desakan tersebut dengan membuat undang-undang. Secara resmi UU Konservasi Alam Tahun 1990 dikeluarkan oleh pemerintah (Darmanto & Setyowati, 2012, hal. 195) sebagai jalan untuk mengatur ulang wilayah hutan dan tentunya klaim untuk kepentingan jangka panjang. Bersamaan dengan itu, Taman Nasional dibentuk untuk merepresentasikan pandangan negara atas hutan. Tujuan konservasi yang harus didukung oleh kemandirian finansial Taman Nasional membuat pada tahun 1992 komersialisasi dimulai dengan cara membuat standarisasi tarif masuk kawasan konservasi diseluruh Taman Nasional (Cochrane, 1997).
1 Jagawana merupakan istilah petugas penjaga kawasan hutan yang dipekerjakan oleh Perhutani. Pasca Perhutani tidak lagi mengelola Pegunungan Tengger maka jagawana ini tidak lagi memiliki hak dan kewa-jiban sebagai penjaga hutan dan digantikan oleh petugas dari Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BB TNBTS).
Tabel 1.1 Tabel periode waktu pandangan serta tindakan "pemilik hutan" atas kawasan hutan di Ranu Pani
Periode Waktu Pandangan dan Tindakan atas Hutan
Kolonial (1889 – 1940-an)
Tidak produktif.
Salah satu sumber ancaman bencana bagi orang-orang Belanda yang tinggal di kawasan lebih rendah. Tertutup. Tidak dikomersilkan dengan untuk kepentingan pencegahan bencana.
Perhutani (1949 – 1980-an)
Tidak produktif.
Tumpangsari. Dibuka hanya untuk penduduk dengan palawija sebagai tanaman yang boleh ditanam.
Taman Nasional (1980-an – sekarang)
Semi produktif.
Konservasi yang lebih efektif disamping juga dapat memberikan pemasukan bagi negara untuk menunjang tujuan konservasi.
Dikelola dengan sistem zonasi. Komersialisasi hutan pada kawasan jalur pendakian Gunung Semeru lewat pariwisata.
Di Hutan Ada Uang dan Tenang
Laporan yang ditulis pada tahun 1997 oleh salah seorang peneliti Inggris menunjukkan kawasan Bromo Tengger Semeru menjadi destinasi wisata paling banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun internasional (Cochrane, 1997). Korelasi yang dapat ditarik setelah laporan tersebut ditulis bahwa dalam jangka waktu hampir 20 tahun kawasan Bromo Tengger Semeru tetap populer sebagai tujuan destinasi pariwisata. Selain kawah Gunung Bromo, pendakian Gunung Semeru menjadi daya tarik pariwisata yang tidak pernah sepi pengunjung.
Setidaknya ada 4 elemen penting dalam pariwisata, yaitu “... (i) travel demand, (ii) tourism intermediaries, (iii) destination influences, (and) all of which lead to (iv) range of impacts...” (Burns, 2005, hal. 23). Dalam kegiatan pendakian Gunung Semeru hubungan dari tiap elemen tersebut minim kontribusi dari masyarakat setempat. Masyarakat hanya mendapat jatah pada elemen akhir yaitu pengaruh dan tidak mempengaruhi elemen-elemen lain. Model wisata pendakian gunung tidak menempatkan desa sebagai destinasi. Para wisatawan menginap di jalur pendakian. Cerita mengenai pos sepanjang jalur pendakian lebih (dibuat) menarik dari pada wilayah desa. Kontribusi masyarakat terbatas hanya menjadi porter bagi para pendaki gunung.
Peluang tidak hadir begitu saja. Kembali pada laporan seorang peneliti yang dibuat tahun 1997, tujuan dari TNBTS adalah membuat sebuah kawasan hasil sinergi dari konservasi dan rekreasi (Cochrane, 1997). Ada banyak citra rekreasi yang lebih besar dibangun ketimbang konservasi, khususnya pada kawasan Gunung Semeru. Setidaknya ada banyak karya populer yang mengacu pada Gunung Semeru sebagai sumber inspirasi. Biografi dan film layar lebar seorang aktivis juga pendiri MAPALA UI “GIE” yang menceritakan bagaimana hubungan antara sang aktivis dengan Gunung Semeru (Gie, 1983). Puncak Gunung Semeru, yang biasa disebut Mahameru, menjadi tempat yang dianggap cukup bermakna karena dipercaya sang aktivis meninggal dunia disana. Kemudian lagu dari grup band Dewa 19 yang berjudul “Mahameru”. Gunung Semeru kemudian direpresentasikan oleh pencipta dan dinyanyikan grup band tersebut kemudian diperdengarkan pada khalayak luas. Kemudian paling akhir adalah novel dan film layar lebar berjudul “5cm” dimana setting cerita dan pengambilan gambar berada di Gunung Semeru, lengkap dengan cerita pengalaman pendakian ketika 17 Agustus.
Citra rekreasi yang menjadi daya tarik wisatawan tidak lepas dari aktivitas yang berlawanan dari kehidupan sehari-hari. Wisatawan yang datang sebagian besar berasal dari kota besar, Jakarta, Bandung, Surabaya, dan lainnya. Para wisatawan datang berkelompok dengan membawa identitas sebagai “pecinta alam”. Hal ini didukung oleh regulasi TNBTS yang tidak memperbolehkan kegiatan pendakian gunung dilakukan oleh satu orang. Dalam perspektif ini wisatawan masuk pada kategori pecinta alam karena kegiatan yang dilakukan mencakup perspesi kaum urban akan sesuatu yang tidak mereka temukan di wilayah perkotaan. Apa yang dilakukan kelompok ini selayaknya melepaskan diri dari rutinitas sehari-hari dan merayakan kebebasan di “luar ruang” (Tsing, 2005, hal. 122). Persepsi kontras mengenai “alam” yang “bebas” dan “tenang” dengan tempat rutinitas sehari-hari mereka membuat kriteria ruang yang saling berlawanan.
Karya populer setidaknya dapat menstimulus para wisatawan untuk berkunjung. Ketika tahun 2014 TNBTS sampai harus memberlakukan pembatasan jumlah pendaki setiap harinya hanya 500 orang. Bahkan dalam momentum seperti tahun baru atau 17 Agustus jumlah pendaki mencapi 1000-1500 orang. Hampir setiap hari selalu ada rombongan pendaki yang mendaftar. Tidak terkecuali ketika hari raya idul fitri dimana para pendaki sudah datang ke pos perijinan Ranu Pani sejak semalam sebelumnya dan pagi harinya padahal loket masih tutup hingga pukul 11.00. Dengan tarif masuk kawasan yang cukup mahal, TNBTS menjadi salah satu Taman Nasional dan destinasi wisata alam yang dikatakan cukup sukses dengan jumlah kunjungan paling tinggi dari wisatawan domestik maupun mancanegara (Cochrane, 1997) (Hakim, 2011, hal. 71).
Tingginya jumlah wisatawan yang dikenakan tarif setiap kali berkunjung baru terjadi pada era Taman Nasional. Sebelumnya bagi siapapun yang datang ke Ranu Pani untuk mendaki gunung ataupun sekedar ke desa tidak dipungut biaya. Hal inilah yang menjadi pemicu utama adanya pandangan penduduk bahwa hutan menyediakan sumber pendapatan uang. Sebelumnya hutan bagi masyarakat tidak pernah dibayangkan sebagai sumber pendapatan berupa uang. Hutan dimanfaatkan dengan dikumpulkan hasilnya untuk kebutuhan sehari-hari, seperti kayu bakar, kulup (sayur-sayuran liar) dan kemlandingan (sejenis petai gunung biasa digunakan untuk sambal). Masyarakat mengandalkan ladang sebagai satu-satunya sumber mendapatkan uang. Semakin sempit ladang yang mereka miliki hari ini, memicu masyarakat untuk mencari sumber pendapatan lain yang cukup menjanjikan.
Keterbatasan lain yang dialami masyarakat adalah luas lahan. Taman Nasional memiliki aturan kuat dalam hal pengelolaan batas. Penggunaan patok (tapal batas) menjadi penanda kuat batas antara milik Taman Nasional dengan masyarakat. Batas tersebut tidak akan diubah dalam jangka waktu yang lama, namun penduduk di Ranu Pani terus bertambah. Ladang yang sudah ada harus dibagi-bagi sebagi warisan ke generasi selanjutnya, jelas jumlahnya semakin sedikit. Masyarakat harus mencari cara untuk mendapatkan peluang menambah penghasilan, salah satunya dengan menjadi porter ketika musim pendakian.
Hutan yang menjadi ramai oleh lalu-lalang pendaki gunung menjadikan persepsi yang kontras juga bagi masyarakat. Masyarakat tidak lagi masuk hutan hanya untuk sekedar mencari kayu bakar ataupun tumbuh-tumbuhan. Kini masyarakat masuk hutan dengan tujuan mencari uang dengan menjadi porter. Hutan menjadi ruang yang komersil tidak hanya sebagai sampingan. Setidaknya masyarakat yang menjadi porter adalah mereka yang berusia muda dan berjenis kelamin laki-laki. Banyak dari masyarakat mengharapkan pariwisata sebagai sumber pendapatan mereka di waktu yang akan datang karena ladang tidak mungkin bertambah luas.
Kawasan hutan di Ranu Pani tidak pernah diakui oleh masyarakat sebagai “milik” mereka. Bagi masyarakat, kawasan hutan sudah sejak awal mereka tinggal, pada era pasca kemerdekaan, adalah milik negara. Kawasan ini dimiliki oleh negara yang dapat dimanfaatkan tapi tidak dapat dimiliki dan dibuat menjadi ladang. Sejak masa awal pembukaan ladang, sudah ada area yang tidak dapat dijadikan ladang. Area Danau Ranu Pani dan Ranu Regulo dapat dikatakan sebagai kawasan “hutan”. Penduduk tidak dapat mengintensifkan kawasan ini seperti halnya ladang. Mereka harus memiliki ijin resmi dari pengelola kawasan “hutan” ini untuk memanfaatkan area tersebut. Segala aktivitas penduduk yang dilakukan pada kawasan “hutan” akan diawasi oleh petugas terkait dengan aturan yang berlaku. Jika aturan tersebut dilanggar, maka penduduk akan mendapatkan sanksi berupa teguran atau bahkan jalur hukum ketika mengulangi kesalahan sama. Sanksi ini sudah disepakati oleh pemerintah desa yang menaungi penduduk secara institusional.
KESIMPULAN
Persepsi atas hutan bagi masyarakat Ranu Pani terbangun dari berbagai pandangan. Adanya hubungan yang saling terkait antar aktor dengan berbagai pandangan menjadikan ruang tidak lagi memiliki persepsi statis. Hutan tidak lain adalah tempat, tidak sekedar ruang yang abstrak. Namun hutan menjadi tempat yang menggambarkan sepotong kompleksitas hubungan antara manusia dengan tempat itu sendiri (Retsikas, 2007, hal. 982). Persepsi hadir tidak hanya dalam bentuk potongan-potongan imajinasi.
Persepsi menjadi sebuah bentuk nyata yang terus berhubungan dengan pandangan. Hubungan antara manusia dengan non-manusia disekitarnya terkait dalam hubungan saling membentuk (Ingold, 2000). Pandangan atas hutan di Ranu Pani oleh masyarakat yang berubah tidak berdasar dari faktor bersifat satu arah. Titik penting dalam perubahan persepsi ini berasal dari faktor internal yang diperkuat faktor eksternal. Kepemilikan hutan yang ada pada TNBTS dan regulasinya, semakin terbatasnya ladang, dan juga peran aktif wisatawan dalam membentuk hutan merupakan kompleksitas pembentukan kawasan hutan di Ranu Pani hari ini.
Selain itu terlihat bahwa pandangan atas hutan memiliki sifat yang kontras antara masyarakat dengan wisatawan (pecinta alam) namun saling berhubungan. Peran yang kemudian dimainkan oleh TNBTS dalam persepsinya atas hutan cenderung sulit menjangkau langsung wisatawan dan masyarakat. Hal ini menjadikan tujuan konservasi dan rekreasi dapat mendukung satu sama lain cenderung ambisus bagi Taman Nasional. Adanya pembatasan yang dilakukan oleh Taman Nasional atas hutan dan ladangkemudian mendapat respon dari masyarakat untuk membuka batas tersebut (Vandergeest & Peluso, 1995) dengan cara menjadikan hutan sebagai tempat mencari uang. Akhirnya kedua tujuan tersebut lebih banyak menunjukkan sifat kontradiktif dibanding melengkapi antara konservasi dan rekreasi.
REFERENSI
Boomgaard, P. (1999, October). Oriental Nature, its Friends and its Enemies: Conservation of Nature in Late-Colonial Indonesia, 1880-1949. Environment and History, Vol. 5, No. 3 , 257-292.
Burns, P. (2005). An Introduction to Tourism and Anthropology. New York: Routledge.
Cochrane, J. (1997). Tourism and conservation in Bromo Tengger Semeru national park. University of Hull, UK.
Crang, M., & Cook, I. (2007). Doing Ethnographies. London: SAGE Publication Ltd. Darmanto, & Setyowati, A. B. (2012). Berebut Hutan Siberut: Orang Mentawai, Kekuasaan, dan Politik Ekologi. Jakarta: KPG.
Fath, R. A. (2013). Persepsi Petani Terhadap Pendagkalan Danau dan Hubungannya Terhadap Produktivitas Lahan Pertanian (Studi Kasus Pendangkalan Danau Ranupani, Desa Ranu Pani, Kecamatan Senduro, Kabupaten Lumajang). Malang: Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Fakultas Pertanian, Universitas Brawijaya.
Gie, S. H. (1983). Catatan Seorang Demonstran. Jakarta: LP3ES Indonesia.
Hakim, L. (2011). Cultural Landscapes of the Tengger Highland, East Java. Dalam
S.-K. Hong, J. Wu, J.-E. Kim, & N. Nakagoshi, Landscape Ecology an Asian Cultures (hal.
69-82). Tokyo: Springer.
Hefner, R. W. (1999). Geger Tengger: Perubahan Sosial dan Perkelahian Politik.
Yogyakarta: LKiS.
Hirsch, E. (1995). Landscape: Between Place and Space. Dalam E. Hirsch, & M.
O'Hanlon, The Anthropology of Landscape: Perspective on Plcae and Space (hal.
1-30). New York: Oxford University Press, Inc.
Ingold, T. (2000). The Perception of the Environment: Essays on Livelihood, Dwelling, and Skill. London and New York: Routledge.
Li, T. M. (2002). Proses Transformasi Daerah Pedalaman di Indonesia (terj.). Jakarta:
Yayasan Obor Indonesia.
Peluso, N. L. (2006). Hutan Kaya, Rakyat Melarat: Penguasaan sumberdaya dan perlawanan di Jawa. Jakarta: Konphalindo.
Radecki, J. M. (2006). Konflik Penggunaan Lahan di Kawasan Nasional: Studi Kasus;
Desa Ranu Pani, Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Malang: Fakultas Ilmu
Sosial dan ilmu Politik, Universitas Muhamadiyah Malang.
Retsikas, K. (2007). Being and Place: Movement, Ancestors, and Personhood in
East Java, Indonesia. The Journal of Royal Anthropological Institute, Vol. 13 No. 4, 13, 969-986.
Suryanata, K. (1999). From Home Garden to Fruit Gardens: Resource Stabilisation and Rural Differentiation in Upland Java. Dalam T. M. Li, Transforming the Indonesia Upland: Marginality, Power, and Production (hal. 257-280). Amsterdam: Harwood
Academic Publishers.
Tsing, A. L. (1998). Dibawah Bayang-Bayang Ratu Intan: Proses Marjinalisasi Pada Masyarakat Terasing (terj.). Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Tsing, A. L. (2005). Friction: An Ethnography of Global Connection. Princeton and
Oxford: Princeton University Press.
Urry, J. (1990). The Tourist Gaze. London: SAGE Publication Ltd.
Vandergeest, P., & Peluso, N. L. (1995). Teritorialization and state power in Thailand. Theory and Society 24 , 385-426.
Wessing, R. (1995). The Last Tiger in East Java: Symbolic Continuity in Ecological
Change. Asian Folklore Studies , 191-218. Film
Mantovani, Rizal (Sutradara). 2012. 5cm. Soraya Intercine Films. Riza, Riri (Sutradara). 2005. Gie. SinemArt Pictures.
Lagu
Dewa 19. 1994. Mahameru. Jakarta. Aquarius Musikindo. Peta
Dari Menanam Buah menjadi Menanam Rumah : Transformasi
Sosial Ekonomi Masyarakat Kota Batu
Edlin Dahniar Al-fath
Program Studi Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Brawijaya,
Malang, Indonesia
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan transformasi Desa Oro-oro Ombo dari pertanian menjadi kawasan pariwisata modern. Oro-oro Ombo adalah salah satu desa di Kota Batu yang sedang mengalami perkembangan pariwisata secara pesat karena lokasinya yang berdekatan dengan berbagai taman wisata buatan.
Penelitian ini ingin melihat Desa Oro-oro Ombo setelah tahun 2008, dimana pada
tahun tersebut Batu Night Spectacular mulai dibangun di atas Tanah Kas Desa (TKD) Oro-oro Ombo. Sebelumnya, Oro-oro Ombo adalah kawasan pertanian sebagai penghasil padi, jagung, dan buah-buahan. Pada masa itu Oro-oro Ombo adalah daerah yang sepi dengan jalan raya yang minim penerangan. Namun, sejak dibangunnya Batu Night Spectacular, kawasan ini berubah drastis menjadi daerah yang sangat ramai. Dibangunnya Batu Night Spectacular di Desa Oro-oro Ombo memancing masyarakat untuk memanfaatkan keramaian perkembangan pariwisata dengan membangun usaha pariwisata. Utamanya adalah usaha penginapan dan warung makan. Dalam kurun waktu 6 tahun, 2 hotel dan 93 homestay telah berdiri di desa ini. Jumlah ini belum meliputi warung makan, toko usaha dagang, dan restaurant. Sebagian besar usaha masyarakat dalam rangka merespon perkembangan pariwisata ini dibangun di atas lahan pertanian. Perkembangan pariwisata pada akhirnya mengubah mata pencaharian masyarakat, dari yang semula pertanian menjadi pengusaha pariwisata. Dari skala desa,
penelitian ini diharapkan dapat menjadi refleksi atas transformasi yang terjadi
di Kota Batu yaitu dari kota pertanian menjadi kota wisata. Penelitian dilakukan
selama 6 bulan dari Juli sampai Desember 2015, dengan metode pengumpulan
data berupa observasi, wawancara, dan studi literatur.
Kata Kunci: Batu Night Spectacular, Pariwisata, Pertanian
Abstract
This research aims to describe the transformation of the village of Oro-oro Ombo from agriculture into modern tourism area. Oro-oro Ombo is one of the villages in Batu City which is undergoing rapid growth in tourism due to its accessibility
to the various artificial parks. This study wants to understand the Oro-oro Ombo village after 2008, the year when the Batu Night Spectacular Began to be built
on the communal land of Oro-oro Ombo. Previously, Oro-oro Ombo is an area of agriculture with the production of rice, corn, and fruits. At that time, Oro-oro Ombo is a quiet area with minimal highway lighting. However, since the construction of Batu Night Spectacular, this area changed drastically into a very crowded area. The crowd of Batu Night Spectacular encouraged the community of Oro-oro Ombo to construct tourism-based business, like lodge and food stall. In a period of 6 years, two hotels and 93 homestays have been established in the village. This amount does not include food stalls, shops trading business, and a restaurant. Most of the businesses owned by the community, to respond to the development of tourism, is built on agricultural land. In the end, the development of tourism changes people's livelihood from agriculture become tourism entrepreneurs. Even though start from
ISSN 2541-5360 Journal of Indonesian Tourism and Policy Studies Vol. 1 No. 2
a village scale, this study is expected to be a reflection of transformation all around
Batu City from an agricultural town into a city of tourism. The study was conducted
for six months in July until December 2015. The data collection methods for this
research are observation, interview, and literature study.
Kata Kunci: Agrculture, Batu Night Spectacular, Tourism
PENDAHULUAN
Tulisan ini membahas bagaimana proses transformasi Kota Batu yang semula sebagai kawasan perkebunan dan pertanian telah berubah menjadi kota pariwisata. Penelitian ini dilakukan di Desa Oro-oro Ombo sebagai salah satu desa yang mengalami perubahan sangat pesat dalam hal pariwisata. Oro-oro Ombo menunjukkan bagaimana dibangunnya satu destinasi wisata buatan, dalam hal ini adalah Batu Night Spectacular, memicu masyarakat sekitarnya untuk membangun usaha wisata berupa toko, warung makan, dan penginapan dengan meninggalkan usaha pertanian dan peternakan. Dari skala desa, penelitian ini dapat berkontribusi untuk mengetahui bagaimana pola dan proses transformasi Kota Batu dari agropolitan menjadi Kota Pariwisata, mengingat Kota Batu telah dikenal sebagai kota wisata dengan Objek dan Daya Tarik Wisata buatan (Attar, Hakim, & Yanuwiadi, 2013).
Kota Batu merupakan daerah otonom di Jawa Timur yang mengandalkan sektor pariwisata untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Berjarak 15 Km dari Kota Malang dan 90 Km dari Surabaya, Kota Batu terletak di atas ketinggian 700-1.700 mdpl yang menjadikan Kota Batu memiliki suhu udara rata-rata 12-19 derajat Celsius. Meskipun telah menjadi kawasan wisata sejak era kolonial, Kota Batu semakin menampakkan diri sebagai kota wisata sejak tahun 2001 setelah terpisah dari Kabupaten Malang dan berdiri sebagai kota otonom.
Perkembangan Kota Batu sebagai kota wisata telah terbukti dengan terus meningkatnya jumlah pengunjung. Pada tahun 2015, jumlah wisatawan yang datang ke Kota Batu mencapai angka 3.580.000 pengunjung (JatimTimesNetwork, 2016). Seperti yang disampaikan Gray, 1974:395 dan McCloy, 1975:49; (dalam Nurhidayati; 2012) bahwa salah satu manfaat yang diharapkan dari pengembangan pariwisata di negara berkembang adalah penciptaan lapangan pekerjaan dan penyerapan tenaga kerja, maka perkembangan perkembangan pariwisata Kota Batu juga diharapkan semua pihak agar dapat meningkatkan kemakmuran melalui perkembangan komunikasi, transportasi, akomodasi, jasa pelayanan, bahkan pemerataan kesejahteraan bagi masyarakat sekitar.
Dalam kurun waktu 15 tahun, pemerintah terus berupaya memperkuat identitas Kota Batu sebagai kota wisata. Dalam hal ini, salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah penggunaan istilah Kota Wisata Batu (KWB) sebagai nama populer Kota Batu dan Shinning Batu sebagai slogan pariwisatanya. Pemerintah juga aktif melakukan promosi pariwisata hingga ke mancanegara dengan menganggarkan dana promosi “Go International” sebesar Rp 27,7 Miliar (Sukarelawati, 2015). Selain itu, pemerintah mendukung pengembangan pariwisata ini dengan membuka kesempatan bagi para investor untuk menanamkan modalnya di Kota Wisata Batu. Nilai investasi yang masuk ke Kota Batu telah mencapai Rp 9,7 triliun (Jawa Pos, 16 Februari 2015).
Kemajuan sektor pariwisata Kota Batu juga dibuktikan dengan meningkatnya jumlah pendapatan asli daerah (PAD). Data dari BPS Kota Batu menunjukkan angka RP 78 miliar
pada tahun 2014. Jumlah ini lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, yaitu Rp 59 miliar pada tahun 2013, Rp 38 miliar tahun 2012, Rp 30 miliar tahun 2011, dan Rp 17 miliar pada tahun 2010 (Badan Pusat Statistik Kota Batu, 2015). Dari data tersebut dapat dilihat bahwa Jumlah PAD meningkat dua kali lipat dalam jangka waktu 3 tahun dan dari kenaikan tersebut pariwisata menyumbang 65% (Media, 2016).
Tulisan ini akan membahas bagaimana perkembangan pariwisata di tengah-tengah masyarakat desa mampu mengubah pola ekonomi desa dari pertanian menjadi masyarakat pariwisata. Sebelumnya, perdebatan tentang studi dampak pariwisata tidak pernah selesai antara mereka yang mendukung pariwisata dengan menganggapnya sebagai agent of development (Dürr & Jaffe, 2012; Buckley, 2010; Nitzky, 2012; dll), dan mereka yang melihat pariwisata justru sebagai agent of exploitation and disruption (seperti Wang & Liu, 2013 ; Mavris, 2011; Rolfes, 2009; dll). Penelitian ini mengisi kekosongan diskusi akademis dengan tidak lagi mengikuti perdebatan antara dua pihak yang pro dan kontra terhadap pariwisata. Akan tetapi, melihat bahwa perkembangan pariwisata sebagai suatu keniscayaan yang tidak dapat dihindari. Pariwisata memberikan pilihan kepada masyarakat untuk bergabung di dalamnya atau tetap bertahan dalam kondisi semula dan tidak terpengaruh perkembangan pariwisata.
METODE PENELITIAN
Penelitian di Desa Oro-oro Ombo, Kecamatan Batu, Kota Batu. Desa Oro-oro Ombo merupakan lokasi wisata Batu Night Spectacular (BNS), sebuah wisata buatan yang dibangun pada tahun 2008. Sebelum BNS dibangun, Oro-oro Ombo merupakan desa pertanian dengan penghasilan utama buah-buahan, jagung, dan padi kering. Sejak BNS dibangun di atas tanah bengkok (tanah kas desa), sedikit demi sedikit masyarakat mulai mengubah fungsi lahan pertanian mereka menjadi penginapan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan metode pengumpulan data melalui observasi, wawancara mendalam, dan focus group discussion. Informan kunci dalam penelitian ini berjumlah 15 orang. Terdiri dari perangkat desa, pemilik homestay, petani, peternak, dan tokoh masyarakat. Penelitian ini dilakukan selama 6 Bulan, dari Bulan Juli – Desember 2015.
PEMBANGUNAN BATU NIGHT SPECTACULAR
Sejak lama, Kota Batu memang telah dikenal sebagai destinasi pariwisata. Hal ini sangat dikarenakan potensi yang dimiliki Kota Batu, yaitu keindahan alam pegunungan. Pada zaman Belanda, Batu mendapat julukan De Kleine Zwitserland atau Swiss kecil (Zaenuddin H. M., 2014).Batu menjadi tujuan wisata masyarakat Belanda, hingga akhirnya mereka membangun taman rekreasi Selekta pada awal 1900-an. Selekta ini juga menjadi tujuan wisata Presiden Soekarno dan masih ramai dikunjungi masyarakat hingga saat ini.
Sebelum populer menjadi destinasi wisata buatan, Kota Batu merupakan lebih dikenal sebagai kawasan agropolitan. Kota Batu memang telah diktahui publik sebagai pemasok apel terbesar di Indonesia, sehingga disebut sebagai kota apel. Empat jenis apel yang tumbuh di Kota Batu adalah manalagi, rome beauty, anna, dan wangling. Selain apel, Kota Batu juga menghasilkan berbagai tanaman buah lainnya, seperti stroberi dan jeruk. Batu juga merupakan pemasok sayur dan bunga-bungaan ke seluruh Indonesia. Sementara pada sektor peternakan, Kota Batu juga dikenal sebagai penghasil susu sapi segar dan kelinci. Kekayaan
hasil pertanian ini didukung oleh keindahan alam khas suasana pegunungan yang meliputi air terjun, pemandian air panas, dan sungai. Secara pariwisata, Kota Batu berkembang sebagai kawasan agrowisata dengan nilai jual utama pada wisata petik buah.
Perkembangan pariwisata Kota Batu dewasa ini dimulai sejak tahun 2000, yaitu ketika dibangunnya Jawa Timur Park I. Selanjutnya, Kota Batu menjadi Kota Wisata dengan banyak tempat wisata buatan yang menyediakan berbagai jenis wahana permainan modern. Jawa Timur Park I diresmikan sejak tahun 2001, Batu Night Spectacular pada tahun 2008, Jawa Timur Park II yang terdiri atas Secreet Zoo dan Museum Satwa pada tahun 2010, Ecogreen Park pada tahun 2012, Museum Angkut tahun 2014, Museum D’Topeng tahun 2014, dan Predator Fun Park tahun 2015.
Selama 15 tahun terakhir, Kota Batu terus membangun taman-taman wisata buatan. Taman-taman ini menjadi destinasi wisata baru yang bersifat modern dan meninggalkan karakter Kota Batu sebagai kawasan agropolitan. Dibangunnya taman-taman wisata buatan baru ini juga mengubah wajah Kota Batu. Sebelumnya kawasan wisata Kota Batu terpusat di daerah-daerah yang dekat dengan wisata alam. Namun, dengan dibangunnya banyak taman wisata di daerah yang baru, masyarakat mengalami keterkejutan dan berbondong-bondong memanfaatkan peluang dengan bekerja dalam sektor pariwisata.
Penelitian ini dilakukan di Desa Oro-oro Ombo yang terkena dampak perkembangan pariwisata Kota Batu. Di desa ini terdapat tempat pariwisata malam Batu Night Spectacular atau BNS yang didirikan sejak tahun 2008. Dimana pada awal pendiriannya, BNS ini banyak menimbulkan pro dan kontra dari masyarakat.
Penolakan masyarakat disampaikan oleh Forum Warga Oro-oro Ombo, seperti yang diberitakan Koran Tempo 21 Agustus 2008. Dalam berita disampaikan bahwa protes diajukan karena warga merasa tidak dilibatkan dalam proses pembangunan tersebut. Padahal, masyarakat merasa pembangunan BNS akan mempengaruhi kehidupan masyarakat yang tinggal di Desa Oro-oro Ombo. Apalagi BNS mengusung konsep wisata malam yang belum dipahami oleh masyarakat. Selain itu, Forum Warga Oro-oro Ombo mempertanyakan penggunaan tanah desa (tanah bengkok) yang disewakan kepada investor. Tanah tersebut disewakan oleh kepala desa kepada investor dengan kontrak perjanjian selama 15 tahun. Padahal, mengingat jabatan kepala desa hanyalah 6 tahun maka seharusnya kontrak investasi tersebut hanyalah sampai 6 tahun.
Menanggapi protes warga tersebut, Kepala Desa Oro-oro Ombo memberikan penyataan sebaliknya. Menurutnya, tidak benar jika warga tidak pernah diajak berdialog perihal pembangunan BNS ini. Kepala Desa (dalam Koran Tempo, 21 Agustus 2008), mengatakan bahwa pengurus badan perwakilan desa, lembaga pertahanan masyarakat desa, RW, dan RT, semua telah menyepakati pembangunan BNS. Dengan disewakan kepada investor, tanah bengkok akan menghasilkan Rp 100 juta per tahun, harga sewa akan naik menjadi Rp 137 juta pada tahun keenam dan kedelapan, dan BNS akan merekrut pekerja dari Desa Oro-oro Ombo minimal 60% dari keseluruhan jumlah pekerja BNS.
Pada kenyataannya, tidak lama setelah BNS resmi berdiri dan dibuka untuk publik, sejumlah pejabat Pemerintah Desa (Pemdes) Oro-oro Ombo justru harus berurusan dengan pihak Kejaksaan Negeri Kota Batu (SurabayaPost, 31 Januari 2011). Pemdes Oro-oro Ombo terseret kasus dugaan korupsi dan pelanggaran kesalahan proses izin pemanfaatan tanah kas desa untuk pembangunan BNS. Sejumlah pejabat menjalani pemeriksaan dengan inti