••
• • •
••
•
•
· .
.
'
.
•
••
••
•
•
•••••••
•
•
••
••
BAB V : KAJIAN TEORI
•
•
BABV :
KAJIAN TEORI
"When I lost my vision, the first thing 1 had
to learn was non
-visual coping skills. Rehabilitation teaches you about things like how to travel on mass transit, but there was no training on how to be a blind architect. But why not? After all, Beethoven wrote some of his best music after going deaf. We're not shut out of architecture. "- Chris Downey, Architect ( Seorang Arsitek yang Mengalami Kebutaan)
5.1 KAJIAN TEORI PENEKANAN DESAIN 5.1.1 Pen e k a nan Des a I n
" Pemanfaatan Elemen Arsitektur Sebagai Penanda Untuk Tuna Netra "
TUNANETRA
.aaaaDaaaaaaDDQDaDDDaDDaaaDDaDDaGaDDaDDaDDaDDDDaDaa~
.
.
.
.
: Bangunan Bangunan:
_ . . -~. Pendidikan dan Hunian Bersama : Pelatihan L - -_ _ _ _ _ - - - - ' : • ~aaaDDDaDaaDaaDaaaaaDaD.aaDDDDaDDDDaaDDaDaaaaaDDaa~
PANTIKARYA UNTUKTUNA
NETRA
D[l DO I3GlGlO Kurangnya Sistem Penandaan
I
:
Keselamatan bagiTuna Netra
~ ____________________ ~ D Desain Ruang Yang Tidak Ergonomis Bagi Tuna Netra
Gambar 46 : Kerangka Berpikir Sumber : Analisa dan Dokumen
Pribadi
B
" Pemanfaatan Elemen Arsitektur Sebagai Penanda
Tuna netra dan low vision adalah orang berkebutuhan khusus yang memiliki masalah dalam indera penglihatan. Tetapi mereka memiliki kepekaan yang lebih pada indera - indra yang lain seperti indera peraba, indera penciuman, dan indera pendengaran. Untuk beberapa kasus kebutaan tertentu, mereka masih dapat membedakan kontras luminance warna pada level - level tertentu.
Penekanan desain melalui pemanfaatan elemen arsitektural yang mengaktifkan keempat panca indera pada tuna netra inilah yang akan dipelajari. T eori - teori desain yang digunakan adalah teori yang dapat mengaktifkan keempat panca indera ini. Berikut dibawah ini adalah ilustrasi penggambaran hubungan tuna netra, panca indera, dan teori yang digunakan.
TUNANETRA PENUH{BLlND) INDERA PENDENGARAN INDERA PERABA INDERA PENGLIHATAN o DO INDERA PENCIUMAN o OJ 0
I
Gambar 47 : Pendekatan Desain dengan Indera Manusia
Sumber : Analisa dan Dokumen Pribadi
LOW VISION
Berikut akan dijelaskan teori arsitektur yang berhubungan dengan indera -indera pada pelaku khusus yaitu tuna netra.
A. INDERA PENDENGARAN
Seorang tuna netra memiliki kemampuan mendengar yang cukup baik dan mereka lebih focus. Rangsangan suara ke otak dapat membantu mereka mengetahui keberadaan mereka saat ini. Hal ini dapat diimpementasikan pada desain. Dimana penggunaan suara dapat membantu orientasi ruang mereka. Seperti suara gemericik air, suara ketukan sepatu dan suara pantulan dalam ruang.
Seoarang arsitek tuna netra bernama Chris Downey mendesain bangunan untuk tuna netra dengan menggunakan permainan lantai, plafond, dan dinding untuk memunculkan efek - efek suara sehingga membantu tuna netra dalam orientasi arah. Berdasarkan kalimat tersebut, efek akutik dapat digunakan sebagai orientasi tuna netra. Untuk dapat memanfaatkan akustik sebagai orientasi tuna netra, yang digunakan adalah cacat akustik pada ruangan dan material bahan yang digunakan. Baik itu bahan material yang menyerap bunyi maupun memantulkan bunyi. Berikut ini adalah teori akustik dan cacat akutik yang akan dipelajari untuk implementasi desain. Didalam bunyi ada 3 elemen yang tidak harus diperhatikan yaitu sumber bunyi baik yang diinginkan atau tidak diinginkan, jejak, untuk perambatan bunyi, dan penerima, yang ingin atau tak ingin mendengar bunyi tersebut. Sensasi bunyi tercipta jika tekanan gelombang bunyi yang berubah mencapai telinga luar, getaran yang diterima gendang telinga diperbesar oleh tulang - tulang kecil di telinga tengah dan diteruskan lewat cairan ke ujung - ujung saraf yang berada ditelinga dalam. Saraf akhirnya meneruskan impuls ini ke otak, dimana proses mendengar tahap terakhir terjadi, jadi sensasi bunyi tercipta. Tingkat kemampuan bunyi minimum yang mampu
membangkitkan sensasi pendengarandi telinga pengamat disebut ambang kemampuan mendengar.1
VI?
a. Pematulan Bunyi
_
I
L... _T_U_NA_N_E_T_RA_-, Gambar 48: Teori BunyiSurnber : Analisa dan Dokumen Pribadi
PEMANTULAN BUNYI BISING
RESONANSI RUANG
Bunyi memiliki sifat dapat dipantulkan yaitu bunyi datang dan pantul terletak
dalam bidang datar sarna dan sudut gelombang bunyi datang sarna dengan sudut gelombang bunyi pantul ( hukun pemantulan ). Penggunaan material dan permukaan yang keras, tegar dan rata seperti beton, bata, plester, atau kaca. Permukaan pemantul cembung cenderung menyebarkan gelombang bunyi dan permukaan cekung cenderung mengumpulkan gelombang bunyi pantul dalam ruang.
b. Bising
Semua bunyi yang mengalihkan perhatian, mengganggu, atau berbahaya bagi kegiatan sehari - hari ( kerja, istirahat, hiburan, atau belajar ) dianggap sebagai bising. Kebisingan dapat menjadi wajar dan dapat diabaikan bila kebisingan tersebut
seperti angin, air hujan, atau air terjun. Pengaruh bising cukup mengganggu manusia, tetapi kekuatan tubuh manusia untuk secara efektif menyesuaikan dengan lingkungan yang bising sangat mengagumkan, terutama bila bisingnya kontinu, tidak terlampau keras, dan tidak membawa informasi yang berarti, yaitu pembicaraan yang jelas (intelligible) atau music! bunyi yang dapat dikenal (identifiable).
Sedangkan implemantasinya pada desain untuk tuna netra adalah memanfaatkan bising ini untuk orientasi seperti penggunaa pipa - pipa logam yang jika digerakkan dapat berbunyi (Ionceng angin ).
c.
Difus; Buny; atau Penyebaran BunyiDifusi bunyi dapat diciptakan dengan beberapa cara
- pemakaian permukaan dan elemen penyebar yang tak teratur dalam jumlah yang banyak sekali, seperti pilaster, pier, balok - balok telanjang, Jangit -langit yang terkotak - kotak, pagar balkok yang dipahat dan dinding -dinding yang bergerigi.
Penggunaan lapisan permukaan pemantul bunyi dan penyerap bunyi secara bergantian
- Distribusi lapisan penyerap bunyi yang berbeda secara teratur dan acak.2
B. INDERA PERABA
~ - - .
Teori ini mempelajari kinerja ruang - ruang dalam agar komunikatif dan dapat memfasilitasi setiap kegiatan bagi tuna netra menggunakan sistem peraba dapat membantu orientasi dan mobilitas bagi tuna netra.
1. Teori untuk Bentuk, Ruang, dan Tatanan
Menurut Vison Australia,ruang yang digunakan untuk tuna netra maupun low vision memiliki aturanrannya sendiri. Seperti berikut ini, :
• Tata Ruang Yang Fungsional
a. 8anyak orang yang buta atau low vision mengandalkan memori mereka untuk bergerak di dalam bangunan. Membuat desain ruang yang fungsional dan sederhana dapat membuat mereka bergerak lebih mudah. Sebagai contoh, letak toilet yang berdekatan dengan ruang makan, letak wastafel bersebelahan dengan ruang makan.
b. Orang yang low vision dapat mengorientasikan diri lebih mudah dan bergerak didalam sebuah bangunan dengan menggunakan sistem desain siku-siku . Diagonal atau elemen melengkung harus dihindari.
c. Orang yang memiliki low vision dapat be~alan dari satu tempat ke tempat yang lain dengan adanya penanda yang jelas dan sebisa mungkin tanpa adanya penghalang didalam ruang.
d. Ruang yang besar harus dipecah menjadi bagian-bagian yang lebih keci\.
Orang yang mempunyai visi rendah merasa kurang am an jika mereka semakin jauh dari "landmark" seperti dinding dan mebel. Daerah terbuka besar dapat dibuat lebih
mudah dilalui oleh tuna netra dengan menggunakan partisi dan furniture untuk
orang menjaga arah mereka. misalnya. sebuah "karpet merah" adalah jalur yang mengarah langsung ke meja resepsionis atau vinill jalur keramik di area karpet besar.
e. Area fungsi penting seperti tangga, lift, we dan ruang tunggu harus
ditempatkan di tengah ruangan ini untuk memudahkan pengawasan bagi tuna netra
oleh petugas.3
• Tangga dan Ramp
Terdapat berbagai maeam fasilitas yang dapat membantu sirkulasi vertikal dalam bangunan, antara lain :
- Tangga
Tangga sebaiknya tidak memiliki tonjolan sehingga orang yang memiliki masalah keseimbangan tidak akan tersandung saat menaiki tangga. Pegangan tangga sebaiknya oval atau bulat dan terletak di kedua sisi tangga dan harus lebih panjang dari tangga itu sendiri. Untuk perlindungan, pegangan tangga juga diletakan di bagian yang rendah. Tangga dan pegangannya tidak boleh terbuat dari bahan yang liein.4
Design of stair treads.
correct Incorrect 3 4 Harkness. 1976. Hal 20-21 Gambar49 : Tangga sebaiknya tidak memiliki tonjolan yang dapat mengganggu, dan
~
L
sebaiknya memilikihandrail pada kedua sisi
.----~ Sumber: Accesible Architecture
Ramp
Kebanyakan "ambulant disable" lebih mudah menaiki tangga daripada ramp.
Jika ramp digunakan sebagai jalan utama, maka kemiringan maksimum adalah 1: 12 (8.33%). Permukaan yang keras dan tidak licin sangat penting. Untuk pengguna kursi roda kemiringan yang diijinkan sebaiknya tidak melebihi 1:20(5%).
Jarak ramp tergantung pada total tinggi tangga dan kemiringan ramp. Railing sebaiknya ada di sepanjang ramp untuk menghindari pengguna jatuh dari ramp.
Setidaknya tiap ramp memiliki pegangan setinggi 30-32 inch.
Ramp tepi jalan merupakan unsur yang biasanya disyaratkan pada sebagian besar tapak. Oleh karena itu apabila mensyaratkan pemakaian tepi jalan yang konvensional, maka perancang harus menyadari pertimbangan-pertimbangan sebagaiberikut:
Pembuatan tepi tidak boleh menghasilkan penyangga yang tidak perlu terhadap cacat fisik
Pembuatan tepi tidak boleh tinggi lebih dari tinggi maksimum satu anak tangga atau 6 % inci
- Tepi yang berundak menyulitkan bagi para cacat fisik untuk menjalaninya dan ketika gelap akan membahayakan semua pejalan kaki
Ramp dan ramp berundak memungkinkan bahaya terpeleset seperti halnya tangga. Karena itu maka permukaannya harus diberi bahan anti-slip, baik alamiah maupun buatan. Rancangan untuk ramp dan ramp berundak harus memenuhi persyaratan berikut :
Kemiringan ramp antara 7-15 derajat dan maksimum 20 derajat. Untuk ramp
berundak maksimum 1 derajat
Ketinggian naik pada ramp berundak 5 inci
Lebar bagian datar minimum 15 inci
Panjang ramp berundak setidaknya 3 atau 6 kaki
Kemiringan keseluruhan pada ramp berundak adalah 15 derajat (27 persen)
atau serendah 10 derajat (17,7 persen) dengan bagian naik 4 inci dan bagian
datar 1 persen.5
1
r---l~1
;~'-""""'-i i . : I -t;---150 "-j,::'"I-- - - ---600 - -- -.----':-~~-,150-.:__-.. --- -30Ramp: Elevation and layou!
Gambar 50 : Contoh kemiringan ramp yang tidak lebih
dari 1/12 (8,33%)
5 Chiara. 1990. Hal 278,285
I
'.:' ':' -lSO---:, 30
1. R:.unp Diped\W
3. Ramp DiperpanPng 4.It;.rnp st:J:.j;u
Gambar 51 : Jenis-jenis ramp
tepi jalanitrotoar beserta standar
ukurannya menurut Chiara
2. Teori Signange I Penanda
C.""b.J""1 IklnttulRimp {~""U.ulRc:pbrrun~"_
!1>0 .... ~~I'o.;.,r ... ~·btrb,.,.u.
Gambar 52: Contoh ramp berundak yang memiliki kemiringan yang relatif datar
Penggunaan signage atau penanda untuk orang buta dan low vision juga
meupakan salah satu hal penting yang harus diperhatikan. Berikut ini adalah hal -hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan signage atau sistem penandaan
a. Lokasi tanda-tanda harus menjadi bagian dari proses perencanaan
bangunan. Mereka harus jelas diidentifikasi dan harus ditempatkan di daerah-daerah yang dapat dicapai oleh tuna netra secara mandiri.
b. Tanda harus ditempatkan sedemikian rupa sehingga mereka tidak
menyebabkan silau. Tanda sulit diidentifikasi dan dibaca jika diposisikan dengan
latar belakang pencahayaan yang rendah.Kecuali menggunakan kontras luminance yang kontras.
kontras dengan papan.
d. Penempatan sistem penanadaan harus menyesuaikan dengan level ketinggian mata.
e. T anda-tanda harus sederhana, pendek, konsisten dan mudah dipahami menggunakan tipografi yang ditentukan, wama dan perangkat grafis.
f. Orang - orang dengan low vision dapat membaca dengan huruf wama yang kontras dan Jatar beJakang yang gelap.
g. Untuk meminimalkan silau, hindari kaca reflektif dan memastikan bahwa tanda memiliki permukaan matte.
h. Simbol harus digunakan untuk melengkapi tanda-tanda tertulis.
i. Tanda Taktil (seperti huruf timbul, pictograms dan arah panah) hanya boleh
digunakan di mana mereka dapat dengan mudah dicapai (1100mm - 1500mm dari lantai).
j.. Peta taktual bisa menjadi alat navigasi yang berguna ketika mereka
dirancang dengan baik dan direncanakan dengan konsultasi bersama orang-orang
yang buta atau low vision.
k. Harap diperhatikan bahwa signage Braille tidak boleh mengganti taktill
signage teks terangkat (huruf timbul), karena banyak orang yang buta atau low vision tidak menggunakan Braille sebagai bentuk utama komunikasi mereka. Dalam arti
penggunaan huruf timbul tetap dilakukan dan dikombunikasikan dengan huruf Braille.
I. Signage Ekstemal dan pintu masuk harus jelas terlihat pada malam hari jika bangunan digunakan pada waktu malam hari.
, taktill teks timbul dan signage cetak besar yang telah disusun oleh Building Code
of Australia - 2007 (Bagian 03.6), Australia Standar AS1428.1 - 2001 dan AS1428.2
- 1992, Amerika Cacat Undang-Undang Aksesibilitas Pedoman dan Pedoman
Aksesibilitas ADA: Ketentuan untuk Orang dengan Gangguan Visi diterbitkan oJeh
The Lighthouse Inc, New York, 1994.
Braille standar Dimensi * Dot diameter: 1.5mm
* Interdot spacing: 2mm
* Horizontal jarak antara 6.12mm sel
* Vertikal pemisahan antara 10mm sel
* Oiangkat dari ketinggian perrnukaan 1 - 1.5mm
* Kelas 1 Braille harus digunakan.
Dibesarkan Teks dan Simbol Pictorial
* Font Sans Serif (misalnya Arial, Helvetica)
* Kasus Atas dan Bawah
* Karakter ketinggian 17,5 - 50mm
* Diangkat dari ketinggian perrnukaan 1 - 1.5mm
* Minimum surat jarak 2mm
* Minimum kata jarak 10mm
* Surat ketebalan 2 stroke - 7mm
* Pictogram ketinggian minimum 152mm
Cetak Teks Besar
* Font jelas dan terbaca. Sans serif atau berkait sederhana
* Karakter Lebar proporsional dengan rasio tinggi 3:05-1 :01
* Stroke lebar terhadap tinggi 1:05-1:10
* Karakter tinggi Cocok untuk melihat jarak yang dimaksudkan. Semakin besar ukuran, semakin besar keterbacaan untuk semua orang
* Luminance kontras Semakin besar kontras antara karakter dan latar belakang, semakin besar keterbacaan untuk semua orang. (Hitam dan putih menawarkan 100 kontras%)
* Papan Daftar (Iatar belakang) juga harus kontras secara signifikan dengan permukaan dinding sekitarnya. \
Indikator Taktil Permukaan Ground (TGSls) - AS I NZS 1.428,4
a. Ada dua jenis TGSls: peringatan dan arah. Peringatan TGSls menunjukkan bahwa ada bahaya di depan. Directional TGSls membantu dalam wayfinding dengan mengarahkan orang sepanjang jalan yang aman dan langsung perjalanan dari titik A ke titik B.
b. Dalam semua bangunan umum, TGSls peringatan harus dipasang di tangga, landai, eskalator landai tepi jalan, dan setiap kendala yang terletak pada ketinggian kepala (bawah 2000mm).
C. Dalam Usia Fasilitas Care, TGSls tidak diperlukan jika kubah taktil (diameter
12-15mm dan 4-5mm tinggi) diinstal di bagian atas pegangan 150 + /-10mm dari ujung pegangan masing-masing.
, Hearing Loop Toilet
;.. ... ':''' 1:-:-;'
Gambar 52 : PictoBrailie untuk Penandaan bagi Tuna Netra (Sumber;
http://www.pictobraille.com.aulab
TEORI HURUF BRAILLE
Huruf Braille diciptakan oleh Louise Braille dan digunakan pertama kali oleh Hellen Keller. Huruf Braille juga digunakan dalam sistem penandaan dalam arti membantu tuna netra menuju ruang yang mereka inginkan.Penandaan dapat menggunakan jenis huruf Braille sebagai tekstur pada dinding. Berikut ini akan ditunjukkan jenis dari Huruf Braille: Basic letters
•
•
•
••
••
•
•
•
••
•
••
••
••
•
•
•
••
••
••
••
••
•
a b c d e f 9 h i j k I m••
•
•
•
••
•
••
••
••
•
•
•
••
•
•
•
•
••
•
••
••
•
•
••
•
•
•
•
•
•
••
••
•
••
••
••
n 0 p q r s t u v w )( y z Accented letters•
•
•
•
••
•
••
•
••
••
•
•
••
•
•
••
•
•
••
••
•
•
•
•
a
a
ala:!e
e
e
e I i••
•
••
•
•
•
•
••
••
•
••
•
•
•
•
••
••
•
•
••
•
•
••
I 0 0 aImu
u
ii ~Words and abreviations
• • • •• •• • • • •• • •• •• •• • •• •
..
• • •• •• • • • ••
a but can do every from go have jllst knowledge like more not
••
••
•
• • • • • ••••
•
•••
•• ••
••
•••
•
••
•
•
•••
• • •
..
• •• •• • •• •• •• •• ••people quite rather so thai us very wi!! it you as and for
•
•
• • • •• •• • •• •• ••
••
•
••
• • • •••
•••
••• ••
...
• • • • • • • • • •of the ~iIh childfch gh shaUish thisAh ~h ed er outJou 0'1>1 bb
• • •
••
••
• •..
•• •• ••
0.0
••
, Punctuation
•
•
•
••
·
• •·
Numerals•
•
•
••
1 2 3 Special signs•
•
•
letter capital sign signe
·
•
.
.
'..
•
•
•
•
••
numeral sign••
e••
•
••
••
I()
·
••
•
••
••
•
4 5 6•
•
•
•
•
numerical literal italic index index sign sign
•
•
••
•
• •• ••
•• ••
•
••
•
•
•
•
? ••••
••
7•
•
=I:•
••
8•
• •
•
.. '.
•• ••
•
••
"•
0 9 0••
,
-•
••
0•
•
•
• •
•
•
• •
•
••
••••••••••••
•
•
••
•
•••
T erjemahan " Be Kind of Others"
r---~
Gambar 53 : Huruf Braille dari Tuna Netra (Sumber;
http://www.pictobraille.com.au/aboutpict obraille.html
C. INDERA PENGLIHATAN
Teori ini dipelajari karena kebutaan pad a tuna netra bermacam - macam. Ada
beberapa jenis tuna netra yang dapat memahami warna - warna kontras dan
luminasi tinggi salah satunya adalah warna kuning. Dan juga keberadaan panti karya
Teori Pencahayaan dan Warna
Untuk low vision maupun tuna netra, mereka peka terhadap cahaya dengan
kontras luminance tertentu. Oleh karena itu permainan ini dapat digunakan untuk
desain arstitektural ruangan. Berikut ini akan dibahas, hal - hal yang harus
• Pencahayaan
a. Kebanyakan orang yang buta memiliki sisa penglihatan dan dapat melihat beberapa tingkat cahaya. Pada umumnya, orang-orang yang buta atau low vision
memerlukan dua sampai tiga kali jurnlah cahaya yang dibutuhkan oleh mata normal.
b. Sangat penting untuk rnerniliki pencahayaan lebih terang di pintu rnasuk ke
sebuah gedung, agar mata mereka dapat beradaptasi dari sinar matahari yang silau
ke dalam ruangan. Untuk sistem ini dibantu dengan pencahayaan buatan.
c. Kualitas pencahayaan sarna pentingnya dengan kuantitas. Umumnya
pencahayaan ruangan harus merata dan terbebas dari silau. Pencahayaan yang
berlebihan harus tersembunyi sedemikian rupa sehingga sumber cahaya tidak
terlihat. Semua alat kelengkapan cahaya harus ditutupi oleh diffusers.
d. Fiting lampu spektrum dengan tingkat rendering warna yang tinggi sifatnya
menguntungkan orang-orang low vision karena warna-warna tampak lebih alami.
Warna hangat dapat bermanfaat di suasana santai sedangkan temperatur warna
dingin lebih mirip siang hari.
e. Penggunaan cahaya alami direkomendasikan selama itu menyebar dan tidak
menimbulkan silau langsung atau tidak langsung. Misalnya penggunaan vertical
blind, tirai, teritisan.
f. Skylight jika digunakan, harus dilengkapi dengan perangkat diffuser yang
sifatnya efektif dan tidak membuat jalan cahaya. Karena ini dapat mengganggu
orientasi arah bagi tuna netra.
g. Umum pencahayaan ruangan dapat dilengkapi dengan pencahayaan spot di daerah tertentu seperti di telepon umum, meja makan, membaca area atau cermin di
h. Hindari menempatkan fiting lampu pad a atau di bawah tingkat mata karena mereka menghadirkan sumber cahaya langsung yang menghambat visi.
Penempatan sumber cahaya tidak dibawah mata, karena akan mengganggu visi. i. Eksternal lampu sorot tidak boleh menyilaukan pejalan kaki. Peralatan ini harus diposisikan sehingga semua penerangan mereka diarahkan kearea yang perlu untuk disorot.
Gambar 54: Ruang Kelas dengan Pencahayaan Diffuser (Sumber:
http://www.skypanels.co.ukl)
• Teori Warna
Gambar 55: Penandaan Ruang dengan Signage huruf Braille
(Sumber:
http://www.apt.gc.caJap13202b.asp
Kebutaan dan low vision bukan berarti mereka tidak mengenal sarna sekaJi tentang warna. Tuna netra dan low vision memiliki kepekaan terhadap
rangsangan warna tertentu. Terutama warna - warna yang memiliki luminansi dan kontras yang cukup tinggi.
Lingkaran warna memiliki 3 warna primer atau warna dasar yaitu merah, kuning dan biru. Sir Isaac Newton mengembangkan diagram lingkaran warna
pad a tahun 1666. Sejak itu para ilmuwan, praktisi desain dan juga arsitek
menggunanakannya. 6
Gambar 56 : Lingkaran Warna oleh Isaac Newton
Gambar 57 : Lingkaran Warna Primer
Gambar 58: Lingkaran Warna Sekunder Sumber: http://www.colourtheory.Com
Wama yang digunakan dalam proyek ini adalah wama - wama yang kontras
dan luminasi tinggi. Wama kontras didapat dari wama yang saling berhadapan
di lingkaran wama, contohnya wama biru kontras terhadap wama orange.
Sedangkan wama dengan luminansi tinggi, dapat menggunakan ilustrasi
seperti berikut ini
Gambar 59 : Contoh Kontras Warna Yang Digunakan
Sumber : http://w\vw.colourtheory.Com
Wama merah terlihat lebih cerah dengan diberikan latar belakang wama
hitam.Sedangkan dengan latar belakang putih, wama merah terlihat sedikit
terkesan mati. Dengan latar belakang warna biru dan hijau, warna merah terlihat cemerlang.
Prinsip ini diterapkan untuk memberi tanda entrance pada ruangan, atau
dapat juga untuk memberi perbedaan ruang yang satu dengan ruang yang lain.
• Penggunaan Kontras
a. Kontras luminasi lebih disukai daripada warna kontras yang menyala secara jelas. Luminance kontras adalah perbedaan terang dan gelap sifat dari dua
permukaan yang berdekatan bukan hanya warna mereka. Ini adalah kontras pencahayaan yang penting untuk meningkatkan visi, dan bukan kontras warna, karena menawarkan terang I gelap perbedaan yang dapat diambillebih mudah oleh orang yang memiliki low vision.
b. Penggunaan kontras luminance sangat membantu dalam membantu orang
dengan low vision untuk mencari aspek penting bangunan seperti pintu, tanda,
pegangan tangan, tempat sampah dan benda-benda yang menarik. Kontras juga
dapat digunakan untuk menyoroti bahaya potensial seperti tepi tangga, tepi jaJan atau tiang di area bermain.
c. Tekstur kontras juga dapat membantu seperti pada lantai tekstur (tactile floor) bahwa orang dapat mengidentifikasi melalui perasaan. Indikator yang permukaannya menggunakan lantai bertekstur sering terlihat di tangga dan ramp. Contoh lain
adalah penggunaan karpet dan vnyl pad a ruangan serta tombol berkubah pada pegangan tangan untuk menunjukkan akhir tangga atau ramp.
Gambar 60 : Penandaan Ruang dengan Signage Warna Kontras (Sumber:
http://www.apt.gc.calap13202b.asp
D. INDERA PENCIUMAN
Indera penciuman juga dapat membantu tuna netra dalam orientasi arah dan
ruangan. T etapi indera penciuman memiliki kelemahan karena ini mengandalkan bau
yang berasal dari vegetasi sehingga jika vegetasi bermasalah, maka akan cukup
mengganggu tuna netra dalam menentukan orientasi ruang. Oleh karena itu
penggunaan elemen penciuman hanya sebagai pelengkap terhadap indera - indera
yang lain.
T anaman yang digunakan selain mempunyai bau yang kuat juga dapat
dimanfaatkan. Salah satunya adalah tanaman dari jenis apotik hidup dan pohon
-pohon bertajuk lebar yang mempunyai kegunaan. Seperti serai wangi, jeruk purut,
jahe, kemangi, pandan, pohon mangga, pohon jambu.
Gambar 64 : Kemangi, Serai Wangi, Akar Wangi
(Sumber: http://www. vegetasi/10-tanaman-yang-tidak-di-sukai-.comnyamuk.html
5.1.2 Stu diP res e den
A. Institut for The Blind di Regensburg Jerman ( George Scheel Wetzel)
Institut untuk orang buta, Regensburg, Germany, adalah sekolah untuk orang
buta ataupun orang dengan lemah penglihatan baik anak-anak maupun remaja.
Tujuan dari sekolah ini adalah mengajarkan mereka bagaimana untuk mandiri dan
mendukung mereka untuk mengembangkan bakat masing-masing individu, dan
mengoptimalkan persiapan hidup mereka sebelum dewasa.
Sekolah ini membantu siswanya dalam pelatihan berorientasi dengan
menggunakan sistem penerangan yang bervariasi di tiap ruang, akustik dalam ruang,
perbedaan kontras warna dan tingkatannya, tanpa harus bergantung pada garis panduan yang biasanya dibutuhkan oleh orang lemah penglihatan. Konsep ini merupakan ide genius dari arsitek Georg Scheel Wetzel.
Gambar 62 : Institut untuk Orang
Buta di Regensburg, German Gambar 63 : Situasi Blinden Institut Regensburg
Dengan luas lahan 12000 meter persegi, institut ini terletak di pinggiran kota Regensburg dekat biara PrOfening. Tapak pad a bangunan ini merupakan daerah perbukitan yang dirancang menyatu dengan alam. Bata wama gelap diaplikasikan pad a fasad bag ian depan yang menghadap ke kota, sedangkan kayu dan kaea diaplikasikan di bag ian belakang bangunan yang menghadap pedesaan.
Bangunan ini memiliki bentuk seperti sisir. Dengan 5 bangunan parallel yang memiliki ketinggian lantai berbeda antara 50-60 em dan tergabung menjadi satu oleh bangunan utama. Ramp pada luar dan dalam bangunan membuat siswa dapat mengakses bangunan ini tanpa halangan. Tinggi bangunan disini untuk mengkategorikan kelas-kelas yang ada di sekolah ini, tk, sd, smp, sma dan tingkat
seni industry. Lantai 2 bangunan merupakan tempat administrasi dan fasilitas terapi
sedangkan pada lantai 1 terdapat ruang pengenalan dasar, fasilitas seni industry, ruang musik dan ritme, pembelajaran dalam dapur yang semuanya dapat diakses dengan kursi roda. Kolam terapi dan ruang olahraga terletak terpisah dari bangunan utama.
L
======---~
"
.
;'
\
1:1000 " ' \ ". ••. r~
-
~
;;;:,
lullhwJ '0 5 10Gbr .. Kanan Atas: Batu bata warna gelap yang mendominasi fasade depan bangunan
Gbr .. Bawah : Tampak samping bangunan yang terlihat natural dengan aplikasi
dinding kayu dan kaca. Memiliki ketinggian lantai yang berbeda antar sayap
dengan 50-60cm. Oi sebelahnya diberi taman buah-buahan yang bervariasi sesuai tingkatan untuk melatih indera penciuman.
Gbr. Kanan Atas : Kolam terapi untuk siswa
Gbr. Bawah : Semua fasilitas sanitasi dilengkapi dengan wastafel yang bisa
diganti ketinggiannya sesuai dengan kebutuhan pengguna
Setiap grup terdiri dari 5-6 anak dengan kebutuhan yang sarna. Tiap grup memiliki kelas sendiri dan juga ruang penitipan yang dihubungkan dengan pintu geser yang besar. T erdapat ruang untuk mengajar yang memiliki dinding berwarna hitam dengan satu sisi yang berwarna putih kontras berguna untuk melatih siswa berkonsentrasi penuh terhadap suatu obyek yang dipelajari. Di ruangan ini, slide ditampilkan, untuk melatih tingkatan penglihatan mereka. Sekitar 90% siswa ada lemah penglihatan, yang berarti mereka dapat menyadari kontras ygn cukup kuat
dan warna gelap. Keseluruhan kompleks bangunan ini, termasuk fasilitas
warna mereka.
Tiap kelas dihubungkan ke ruangan penitipan dan fasilitas kebersihan yang
tergabung menjadi 1 unit. Sebagai tambahan, tiap tingkatan kelas memiliki pintu keluar ke lapangan. Tempat bermain disini menciptakan suasana rekreasi alam yang menyatu dengan elemen lingkungan di sekitarnya. Jenis-jenis tanaman buah yang berbeda ditanam tapak yang berundak untuk menandai suatu area tersebut
Semua sayap bangunan memiliki susunan yang identik sehingga membantu siswa yang naik tingkat menjadi mudah memahami sekitarnya dengan cepat. Orientasi yang mudah, baik penglihatan, akustik dan tactile di dalam bang un an sangat penting untuk desain bangunan ini. Koridor utama, lebih Ie bar dan dibuat lebih tinggi untuk membuat perbedaan akustik dalam ruang dengan ruangan koridor-koridor pada sayap bangunan. Sebagai hasilnya suara tiap ruang memantul dengan ciri khas masing-masing. Zona berbahaya terdiri dari lantai yang mengindikasikan
halangan-halangan seperti anak tangga dan elevator. Permainan cahaya juga digunakan. koridor diterangi dengan tabung neon yang panjang. persimpangan, pintu masuk dan ruang penitipan ditandai dengan lampu yang disusun grid.
~-==-. - _._
-;.. .~
\
~
~
v
~
~y'
-~1
0';
~,/
Gbr.. Kiri : Koridor di sayap sekolah dengan tingkat eksposur yang berbeda
dari pintu masuk ke ruang kelas dan ruang keluarga. Dengan susunan lampu grid untuk penanda.
Gbr. Tengah: Pintu geser yang lebar yang menghubungkan antar ruang.
Gbr. Kiri : Setiap tangga diberi pegangan tangan ganda dan di ujungnya dibuat tumpul untuk keamanan dan pada awal dan akhir tangga diberi tactile blister
sebagai penanda adanya tangga sedangkan pada tepi anak tangga diberi tactile hazard
Gbr .. Kanan: Akses Tangga ke Lantai 1 yang terletak di sebelah IitLPermukaan
lantai tangga terbuat dari tactile untuk mengarahkan pengguna.
Koridor dirancang dengan kesan seramah mungkin. Dindingnya diplester dengan warna ringan, sementara plafon, kolom dan dinding fasad terbuat dari beton.
Pintu dengan material cherry wood tampil kontras, dapat dikenali oleh banyak orang yang lemah penglihatan. Koridor dan area-area umum lainnya dirancang dengan permukaan lantai dari shell limestone, sedangkan pada ruang kelas lantainya terbuat dari linoleum yang hangat dan lembut. Tiap sayap bangunan ditandai dengan warna
lantai yang berbeda, membuat siswa menyadari dengan cepat ada dimana mereka.
Wama lantai ini juga dipasang dari terang ke gelap sesuai dengan tingkatan
bangunan. Arsitek memilih 5 wama linoleum untuk masing-masing sayap bangunan yaitu warna krem, oranye, merah, merah tua, dan hijau tua.
DODD
Gambar65 : Wama Krem, Oranye, Merah, Merah Tua, dan HijauSumber : Dokumen Pribadi
Gbr.. Kiri : Koridor akses utama sepanjang atrium lebih luas dan lebih tinggi
dari koridor di sayap sekolah.
B. Regional Library for The Blind and Physically Handicapped di Illinois ( Tigerman) / / ... J-j.
/1
.
I' ,.I ;
..
.
J / y; .:.
'
. './"" . { If ,I 'I
.' .' .. .fIGambar 66 : Denah Regional Library for The Blind
Lokasi museum ini berada di Chiago dekat dengan Universitas Illinois. Tigerman mendesain bangunan ini dengan bentuk kurva, dan dapat bekerja secara dinamis, fungsional, dan dapat digunakan oleh semua penyandang tuna netra baik yang menggunakan kursi roda maupun yang normal.
Bangunan ini didesain dengan warna - warni yang cukup mencolok baik interior maupun eksterior.Panel metal eksterior dicat dengan warne Merah Bata,
sistem struktur diberi warna kuning, dan bag ian atap diberi warna biru. Warna
-warna ini diberikan begitu kontras dan mencolok oleh Tigerman, karena penggunanya yang tuna netra ada bermacam - macam jenis kebutaanya. Sehingga
warna - warna yang mencolok dan terang dapat membantun mereka menentukan arah. Hal ini dilakukan dengan bijak dan dinamis mengingat penggunanya adalah tuna netra.
-struktur. Pemberian kaca - kaca dengan ukuran cukup lebar untuk memudahkan pengawasan dari petugas terhadap pelaku tuna netra ini. Penggunaan tactile pada
bentuk - bentuk kurva ini memudahkan pelaku dalam orientasi dan mobilitas
didalam bangunan. Sang arsitek mendesain sudut - sudut berputar tanpa adanya
kejutan mengingat pelakunya adaJah tuna netra yang membutuhkan arah yang terkontrol.
Gambar 67 : Interior Regional Library for The Blind
5.2 KAJIAN TEORI PERMASALAHAN DOMINAN 5.2.1 Per mas a I a han D 0 min ant
" Keselamatan Tuna Netra "
~DDaaDaDaaaaaaDaaDDDaDaa.DDDaaaaaQa.DaaaaDaDa.Daaa,
.
.
.
.
: Bangunan Bangunan :
TUNANETRA ~ .... -IIIIIj!. Pendidikan dan Hunian Bersama :
•
Pelatihan L...-_ _ _ _ _ - - - ' : •
~aaaaaaaDaDDaaDaaDttaaaaaaaQDCaaaaDaaaaDaDDDaDaaaDD~
PANTI KARYA
UNTUKTUNA
NETRA
Desain Ruang Yang Tidak
Ergonomis Bagi Tuna Netra
Suasana Lingkungan Yang
Tidak Aman dan Sehat bagi
Tuna Netra
Penataan tata layout ruang
yang tidak tepat dan optimal
MASALAH DESAIN
Keselamatan bagi
Tuna
Netra
Gambar 68 : Kerangka Berpikir
Permasalahan Dominan
Sumber : Analisa Pribadi
o KECELAKAAN DIIDALAM BANGUNAN SALAH DAlAM MENENTUKAN RUANGAN TIDAK NYAMAN, STRES dan PENYAKIT 0 0 0 0 0 0 0 0 MENYEBABKAN g 0 !:l 0 EJ I!!I El 0 EI
Tunanetra menurut Kaufman & Hallahan adalah individu yang memiliki lemah penglihatan atau akurasi penglihatan kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki penglihatan. Karena tunanetra memiliki keterbatasan dalam indra penglihatan maka proses pembelajaran menekankan pada alat indra yang lain yaitu
indra peraba dan indra pendengaran. Oleh karena itu prinsip yang harus diperhatikan
dalam memberikan pengajaran kepada individu tunanetra adalah media yang digunakan harus bersifat taktual dan bersuara, contohnya adalah penggunaan tulisan braille, gambar timbul, benda model dan benda nyata. sedangkan media yang bersuara adalah taperecorder dan peranti lunak JAWS. Untuk membantu tunanetra
beraktivitas di sekolah luar biasa mereka belajar mengenai Orientasi dan Mobilitas.
Orientasi dan Mobilitas diantaranya mempelajari bagaimana tunanetra mengetahui tempat dan arah serta bagaimana menggunakan tongkat putih (tongkat khusus tunanetra yang terbuat dari alumunium)7
Keterbatasan inilah yang sering dipandang sebelah mata oleh masyarakat maupun perancang ruang serta bangunan. Aksesbilitas untuk orang buta sering tidak dipikirkan da/am merancang bangunan. Sehingga sering menyebabkan kecelakaan
-kecelakaan seperti terpleset ataupun terantuk. Hal ini dapat diamati pada desain bangunan untuk panti karya untuk tuna netra milik Dinas Sosial Jawa T engah di T emanggung dan Kudus. Perencanaan dan perancangan yang tidak tepat dapat berbahaya bagi penghuni didalamnya. Selain itu harus terdapat pembedaan perilaku khusus antara tuna netra dan pelaku manusia normal. Sehingga desain yang dihasilkan tepat dan optimal.
Gambar 69: Desain Bangunan Yang Salah dan Sering Dijumpai pada Bangunan Publik
Gambar 70 : Desain Tangga Yang Benar untuk Tuna Netra
Gambar 71 : Desain Tangga yang Salah untuk Tuna Netra
Sumber : (Chris Downey Architecture for the Blind _ The Architects' Take.htm
Karena keterbatasan pad a indera penglihatan, maka perancangan bangunan dan
desain lebih ke arah mengaktifkan indera - indera yang lain pada tuna netra seperti indera peraba, pendengaran, dan penciuman. Sedangkan untuk indera penglihatan,
diaktifkan pada level - level pencahayaan tertentu.
Chris Downey, seorang arsitek yang juga mengalami kebutaan menyatakan
bahwa keselamatan bagi orang yang mengalami kebutaan atau keterbasan pada penglihatan kurang diperhatikan dalam proses desain. Dia menyatakan, arsitektur
bukan hanya media visual tetapi lebih kepada intelektual sedangkan media visual
hanya membantu dalam proses desain. Banyak orang yang beranggapan bahwa
desain untuk tuna netra adalah desain yang sederhana dan terkesan kuno atau monoton karena terlalu menekankan pada keselamatan dan keamanan pada tuna netra.8
5.2.2 Stu diP res e den Per mas a I a han D 0 min ant
Studi preseden ini untuk melihat permasalahan dominan yang terjadi pada
proyek dan digunakan untuk analisa sehingga penekanan desain yang digunakan
dapat tepat dan optimal. Permasalahan dominan yang diangkat dalam proyek ini
proyek Panti Karya Untuk Tuna Netra ini. Keselamatan yang harus diperhatikan tidak hanya dari dalam bangunan tetapi juga dari luar bangunan.
Penggunaan studi preseden untuk permasalahan dominan adalah proyek
yang dapat memperkuat dan mendukung bahwa Keselamatan Untuk Tuna Netra
adalah hal yang harus diperhatikan dengan baik.
A. Learning and Training Center di /ngo/stadt, Germany. Arsitek Diezinger &
Kramer
Lebenshilfe Ingolstadt adalah organisasi untuk melatih orang cacat dengan
mengadakan workshop - workshop sehingga nantinya orang cacat tersebut dapat
lebih mandiri. Lokasinya terletak didaerah pinggir kota selain memudahkan
pencapaian juga untuk faktor keamanan bagi penghuni didalamnya. Bangunan ini
mempunyai 2 massa selain itu didesain untuk dapat digunakan secara maksimum
dengan luas yang terbatas ( form follow function). Atap didesain cukup menonjol
untuk memberikan arti bahwa semua orang beke~a dibawah satu atap.
Ruang workshop, ruang belajar, kantor, cafeteria ditempatkan dengan satu
struktur daripada menyebar. Dan rute pada area yang berbeda pada bangunan
didesain untuk akses yang cepat dan mudah oleh semua pengguna. Landscape juga
didesain untuk menarik perhatian walalupun berada didaerah yang cukup ramai.
Entrance yang menarik digunakan untuk menghubungkan organisasi dengan
public. Adanya lounge didalam bangunan dan berada ditengah taman agar terjadi
interaksi antara petugas dengan peserta training. Sedangkan ruang kelas mengililingi
taman. Permainan warna juga diterapkan dalam desain sehingga membantu orang
Gambar 72 : Exterior Bangunan Permainan massa solid dan transparent. Massa Transparant sebagai mass a Entrance.
Sumber : (Chris Downey Architecture for the Blind The Architects'
Take.htm
Gambar 73 : Koridor didalam bangunan.Permainan Plafond dan Railing Tangga Bertekstur sebagai keamanan bagi tuna netra
Sumber : (Chris Downey Architecture for the Blind The Architects'
Take.htm
Gambar74: Taman di dalam bangunan untuk memberikan suasana yang nyaman
Sumber : (Chris Downey Architecture for the Blind The Architects'
DESAIN KHUSUS DI KORIDOR RUANGAN DAN PENEMPATAN SIGNAGE dari
ADA Americans With Disabilities Act, US Architectural and Transportation
Barries Compliance Board
4 _
100
clear UlldUt any amount
: •• _ _ ... .,.---1
:
i
i Gambar 75 : Penempatan
i I Signage
I
! Sumber : Americans Withi ~:: Disabilities Act, US
f
Architectural and: =r
Transportation Barries~ Compliance Board
~~~i~~~~~
~
________________~
DESAIN KHUSUS RAMP dan RAILING TANGGA
~
~
= 1
..l7WJ:
IlIPInlJ wItII •• tended plaUo,",v,
I
Fig. 17
Examples of Edge Protection and Handrail Extensions
Gambar76 :
Penempatan Railing Sumber: Americans With Disabilities Act,
US Architectural and
Transportation Barries Compliance Board