• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dampak Krisis Ekonomi Global di Negara N

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Dampak Krisis Ekonomi Global di Negara N"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

UNIVERSITAS PADJADJARAN

UNG10.101

Dasar-Dasar Ilmu Sosial

Dampak Krisis Ekonomi di Negara-Negara Dunia Pertama terhadap Masyarakat di Indonesia

Ravio Patra Asri

170210110019

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK DEPARTEMEN HUBUNGAN INTERNASIONAL

(2)

1

Pada tahun 2008, Amerika Serikat dilanda resesi akibat ambruknya sektor

bisnis perumahan. Banyaknya masyarakat yang tidak mampu membayar

beban perumahan menyebabkan industri perumahan memiliki utang besar

terhadap bank sebagai pemberi kredit. Ratusan industri terpaksa berhenti

beroperasi; bahkan beberapa diantaranya adalah industri-industri besar

dengan sejarah panjang dalam dunia bisnis, seperti perusahaan sekuritas

terbesar keempat di Amerika Serikat, Lehmann Brothers, serta perusahaan

otomotif, Ford, meskipun saat ini sudah kembali beroperasi.

Krisis ekonomi ini kemudian diikuti oleh meletusnya kemarahan

penduduk negeri para dewa, Yunani, akibat ketidakmampuan pemerintah

mereka dalam menanggulangi keuangan negara; terutama utang luar negeri

yang menumpuk terlalu banyak. Krisis ini kemudian merambat ke berbagai

negara mapan, seperti Italia, Spanyol, dan Portugal. Jerman, sebagai pusat

keuangan Eropa, pun hingga saat ini masih berhasil menahan laju krisis

namun diperkirakan akan segera kolaps oleh para ahli.1

1

(3)

2

Indeks bursa saham Yunani, misalnya, sebagai negara yang paling parah

krisis ekonominya di Eropa, sudah jatuh hingga angka 49 persen dibanding

pada posisi awal 2011.Pun indeks bursa saham Asia tidak lebih baik. Indeks

bursa saham Hong Kong, India, dan Taiwan jatuh 18 persen. Di lain pihak,

Indonesia masih mencatat kinerja lumayan dengan kenaikan 3 persen

dibanding pada awal tahun. Hal ini boleh jadi karena investor saham melihat

pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berhasil tumbuh 6,5 persen di

tengah-tengah resesi.2

Gelombang krisis di negara-negara mapan sepanjang 2011 ini tentu saja

menimbulkan kekhawatiran di kalangan negara berkembang, tak terkecuali

Indonesia. Semenjak meletusnya reformasi pada 1998, ditandai dengan

keruntuhan rezim Orde Baru, pemerintah Indonesia telah berupaya

mengangkat perekonomian nasional Indonesia melalui berbagai perubahan

siginifikan. Meskipun masih diwarnai dengan berbagai aksi korupsi, kolusi,

dan nepotisme, terutama oleh para birokrat, pencapaian para pelaku politik

dan ekonomi nasional dalam memulihkan kondisi ekonomi nasional

pascareformasi dan krisis moneter 1998 patut diberi apresiasi.

Dengan kondisi perekonomian global yang tidak cerah menjelang

datangnya tahun 2012, Indonesia patut khawatir kalau saja krisis ekonomi di

dunia pertama ikut menghantam negara-negara Asia. Meskipun pemerintah

memiliki pengalaman cukup baik dalam menanggulangi krisis pada 1998,

bukan berarti pemerintah dapat duduk santai dan menyepelekan ancaman

datangnya krisis ekonomi ini.

Sekalipun skala ekonomi nasional Indonesia masih kecil, ambruknya

ekonomi Eropa tetap berpotensi mempengaruhi Indonesia; terutama melalui

mitra dagang bersama seperti Cina, Amerika Serikat, dan Jepang. Hingga

Oktober 2011, Cina merupakan negara tujuan ekspor Indonesia yang

terbesar, yaitu sekitar 13 persen dari total ekspor Januari-Oktober 2011,

disusul Jepang dengan 11 persen, dan Amerika Serikat dengan 10 persen.

2

(4)

3

Sementara itu, Cina, Amerika Serikat, dan Jepang mengirim 17 persen, 20

persen, dan 12 persen dari total ekspor mereka masing-masing ke Eropa.3

Dengan keadaan seperti ini, apabila permintaan pasar Eropa ke ketiga

negara tersebut menurun drastis, maka besar kemungkinan Indonesia akan

mengalami dampak cukup signifikan, baik secara langsung maupun tidak

langsung, akibat melemahnya perdagangan internasional.

Selain itu, guncangan di berbagai negara dunia pertama ini juga dapat

masuk ke Indonesia melalui jalur finansial, seperti yang terjadi pada tahun

2008-2009, ketika akses pemerintah pada sumber pembiayaan internasional

dan tekanan terhadap kurs rupiah menjadi-jadi. Kemungkinan lain juga

datang dari adanya potensi penipisan likuiditas jarena informasi tentang

risiko krisis atau resesi menimbulkan perilaku latah yang menyebabkan

orang-orang mengalihkan asetnya ke tempat yang dipandang lebih aman,

walau dengan imbalan lebih rendah (self haven).4

Meskipun masih menunjukkan tren yang positif, perekonomian

nasional Indonesia dapat dibilang sangat kontras apabila dibandingkan

dengan negara-negara industri yang sedang dililit masalah. Contohnya, rasio

utang terhadap produk dmestik bruto Indonesia saat ini berada di bawah 30

persen, jauh dibanding Yunani yang mencapai angka 110 persen, Jepang

dengan 200 persen, atau Jerman dengan 80 persen; pun halnya dengan

defisit publik Indonesia berada di bawah 3 persen, cukup jauh dibandingkan

Yunani dengan lebih dari 10persen pada periode 2010.5

Meskipun hingga saat ini Indonesia mampu bertahan dari gangguan

eksternal serta didukung oleh pasar domestik yang besar, bukan berarti

Indonesia harus berfokus sepenuhnya terhadap pasar dalam negeri dan

mengabaikan pasar internasional. Apabila hal ini terjadi, maka daya saing

Indonesia dapat dibilang berada pada kondisi cukup mengkhawatirkan.

3

Aria to A. Patu ru, Eropa, Kita, da , Tempo, Edisi 12-18 Desember 2011, h. 120-121. 4

Ibid. 5

(5)

4

Salah satu faktor lain yang mesti menjadi prioritas pemerintah adalah

menjaga perkembangan ekonomi di daerah sebagai penopang utama

kesejateraan masyarakat umum. Dengan angka pertumbuhan ekonomi yang

tinggi, sudah semestinya pemerintah mengerahkan segenap tenaga dan

sumber daya untuk mengurangi kesenjangan pendapatan dan pembangunan

antardaerah. Namun, saat ini, yang terjadi malah berbanding terbalik;

pemerintah gagal mengurangi kesenjangan dan begitu pula dalam

penyediaan jaminan sosial yang terkoordinasi bagi rakyat. Program-program

pemerintah begitu banyak yang bernilai semu; terlihat atau terkesan bagus di

permukaan namun nyatanya gagal membuat perubahan apapun.

Program beras gratis untuk rakyat miskin tidak dilirik oleh rakyat

karena kualitas dan pelaksanaan program yang mengecewakan. Pun halnya

dengan program Bantuan Langsung Tunai sebagai bentuk kompensasi atas

kenaikan berbagai bahan pokok, dianggap para pengamat dan ahli sama

sekali tidak bermanfaat dan inefisien karena jumlah bantuan yang diberikan

sama sekali tidak mampu meringankan beban masyarakat miskin. Sementara

subsidi langsung juga tak jelas arahnya karena pendataan tunggal penduduk

yang belum tuntas.

Ancaman krisis di masa depan memang mengkhawatirkan; bukan

hanya bagi pemerintah, juga bagi masyarakat di berbagai lapisan. Bagi para

pebisnis dan eksekutif, fluktuasi pasar akan memberikan kondisi dan situasi

yang merugikan. Sementara bagi masyarakat kelas menengah ke bawah,

apabila kondisi ekonomi di tingkat makro tidak jelas, sudah barang tentu

akan memberikan efek negatif terhadap pertumbuhan ekonomi di tingkat

mikro.

Menghadapi ancaman krisis ekonomi yang di depan mata, pemerintah

Indonesia haram hukumnya untuk tinggal diam dan menunggu tanpa ada

kebijakan serta tindakan pasti. Indonesia jelas-jelas membutuhkan adanya

kepercayaan modal asing untuk masuk melalui investasi yang dampaknya

(6)

5

pekerjaan rumah utama bagi pemerintahan Presiden Yudhoyono adalah

untuk menjaga tingkat harga secara nasional untuk tetap di titik yang stabil.

Di antara sekian banyak masalah yang berpotensi menimbulkan

gelombang krisis ekonomi, inflasi dan pengangguran dapat dikatakan sebagai

yang paling mengkhawatirkan. Pada krisis moneter 1998, misalnya, tingkat

inflasi yang bahkan sempat mencapai angka 97 persen menimbulkan

kekacauan (chaos) yang begitu masif. Inflasi sendiri, pada prinsipnya,

diakibatkan oleh adanya tekanan dari sisi supply (cost push inflation), sisi

permintaan (demand pull inflation), dan ekspektasi inflasi. Faktor-faktor

terjadinya cost push inflation dapat disebabkan oleh depresiasi nilai tukar;

dampak inflasi luar negeri, terutama negara-negara rekan dagang;

peningkatan harga-harga komoditi yang diatur pemerintah (administered

price); serta negative supply shocks akibat bencana alam dan gangguan

distribusi.

Faktor penyebab terjadi demand pull inflation adalah tingginya

permintaan barang dan jasa relatif terhadap ketersediaannya. Dalam konteks

makroekonomi, kondisi ini digambarkan oleh output riil yang

melebihi output potensial atau permintaan total (agregate demand) lebih

besar dari pada kapasitas perekonomian. Sementara itu, faktor ekspektasi

inflasi dipengaruhi oleh perilaku masyarakat dan pelaku ekonomi dalam

menggunakan ekspektasi angka inflasi dalam keputusan kegiatan

ekonominya. Ekspektasi inflasi tersebut apakah lebih cenderung bersifat

adaptif atau forward looking.

Kestabilan inflasi merupakan prasyarat bagi pertumbuhan ekonomi

yang berkesinambungan yang pada akhirnya memberikan manfaat bagi

peningkatan kesejahteraan masyarakat. Pentingnya pengendalian inflasi

didasarkan pada pertimbangan bahwa inflasi yang tinggi dan tidak stabil

memberikan dampak negatif kepada kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Inflasi yang tinggi akan menyebabkan pendapatan riil masyarakat akan

(7)

6

menjadikan semua orang, terutama orang miskin, bertambah miskin.

Padahal, kemiskinan adalah masalah yang bahkan tanpa adanya krisis

ekonomi pun belum mampu diatasi oleh pemerintah Indonesia hingga saat

ini. Meskipun menurut sejarah keadaan kaya dan miskin secara

berdampingan dalam suatu masyarakat bukanlah masalah sosial, namun

dengan pesatnya perkembangan perdagangan serta timbulnya nilai-nilai

sosial baru, terutama dengan taraf hidup yang selalu berubah-ubah,

kemiskinan dapat menjadi masalah yang sangat rumit.6

Pada masyarakat yang bersahaja susunan dan organisasinya, mungkin

kemiskinan bukanlah suatu masalah sosial. Namun, dengan kondisi

masyarakat yang tidak stabil, maka kemiskinan dapat memicu timbulnya

masalah-masalah baru dengan kerumitan lain. Salah satu diantaranya adalah

peningkatan kasus kejahatan di tengah-tengah masyarakat. Kejahatan yang

potensial timbul pun beragam, mulai dari kriminalitas jalanan hingga

kriminalitas kerah putih atau white-collar crime, seperti korupsi, penyuapan,

penyalahgunaan anggaran negara, dan sebagainya.

Inflasi yang tidak stabil juga dapat menciptakan ketidakpastian

(uncertainty) bagi pelaku ekonomi dalam mengambil keputusan. Pengalaman

empiris menunjukkan bahwa inflasi yang tidak stabil akan menyulitkan

keputusan masyarakat dalam melakukan konsumsi, investasi, dan produksi,

yang pada akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Tingkat inflasi domestik yang lebih tinggi dibanding dengan tingkat

inflasi di negara tetangga menjadikan tingkat bunga domestik riil menjadi

tidak kompetitif sehingga dapat memberikan tekanan pada nilai rupiah.

Pada akhirnya, apakah Indonesia akan terbawa arus krisis ekonomi

global atau tidak tergantung pada tindakan dan kebijakan yang diambil oleh

pemerintah. Dengan adanya kebijakan bersifat preventif, tidak tertutup

kemungkinan bagi pemerintah untuk mencegah serangan resesi ekonomi

6

(8)

7

lebih dini sebelum Indonesia mengalami masalah seperti yang dialami oleh

negara-negara dunia pertama.

Salah satu hal yang mesti diwaspadai pemerintah saat ini adalah

penanggulangan utang negara yang jatuh tempo pada 2012 sebesar 135

triliun rupiah. Ketergantungan pemerintah pada pinjaman telah membuat

utang negara kian menumpuk. Meskipun begitu, pemerintah yakin bahwa

Indonesia masih mampu mengelola utang negara. Pemerintah yakin bahwa

Indonesia tidak akan bernasib sama dengan Yunani atau negara-negara

Eropa lain yang gagal menanggulangi utang negara dan menyebabkan krisis

dalam skala besar.

Selain utang negara, pemerintah juga harus secepatnya menanggulangi

masalah kemiskinan yang semakin menjadi-jadi dalam beberapa tahun

terakhir. Meskipun angka kemiskinan secara nasional terus menunjukkan

penurunan dari tahun ke tahun, pemerintah masih dianggap gagal karena

banyak pihak menganggap penurunan angka kemiskinan ini ditopang oleh

penipuan dalam bentuk statistik. Batas garis kemiskinan, misalnya, oleh

pemerintah Indonesia ditetapkan lebih rendah daripada standar

internasional, sehingga wajar memberi kesan adanya perbaikan dalam

perbaikan ekonomi.

Akan tetapi, terlepas dari banyaknya masalah yang berpotensi

ditimbulkan oleh krisis ekonomi global di dunia pertama terhadap kondisi

masyarakat Indonesia, optimisme pemerintah dalam menghadapi kondisi

yang kritis ini boleh dibilang sebagai angin segar yang cukup memberi

harapan. Namun, tentu rakyat bukan sekadar mengharapkan janji tanpa ada

tindakan serta kebijakan nyata yang terbukti membawa perubahan. Oleh

karena itu, mencegah efek krisis ekonomi global untuk merembet ke dalam

negeri Indonesia bukan saja menjadi tugas pemerintah, namun juga

(9)

8 REFERENSI

Abimanyu, Anggito. Ancaman Prospek Ekonomi Indonesia . Tempo, Edisi 12-18 Desember 2011, 90-91.

Adityaswara, Mirza. Ketahanan Sektor Keuangan pada . Tempo, Edisi 12-18 Desember 2011, 98-99.

Patunru, Arianto A. Eropa, Kita, dan . Tempo, Edisi 12-18 Desember 2011, 120-121.

Soekanto, Soerjono. Sosiologi: Suatu Pengantar. Jakarta: PT Raja Grafindo

Persada, 2002.

Supardan, Dadang. Pengantar Ilmu Sosial: Sebuah Kajian Pendekatan

Struktural. Jakarta: Bumi Aksara, 2009.

Tim Edisi Outlook Ekonomi Indonesia . Anatomi Krisis di Eropa.

Tempo, Edisi 12-18 Desember 2011, 64.

── Sedikit Mendung, Tetap Optimistis. Tempo, Edisi 12-18 Desember 2011, 60.

── Indonesia : Taman Surga dengan Sejumlah Syarat. Tempo, Edisi 12-18 Desember 2011, 62-63.

── Awas, Semakin Terperangkap Utang. Tempo, Edisi 12-18 Desember 2011, 69-72.

Referensi

Dokumen terkait

Tabel 28 Hasil Tabulasi Silang Rasio Student Enrollment Tertiary dengan Tipe Opini Audit 43 Tabel 29 Hasil Uji Pengaruh Budaya terhadap Praktik Akuntansi Perusahaan Multinasional

telah berhasil dipertahankan di hadapan Dewan Penguji dan diterima sebagai bagian persyaratan yang diperlukan untuk memperoleh gelar Sarjana Manajemen (S.M.) pada Program

Membentuk anak agar memiliki akhlāq atau karakter yang baik tidaklah semudah membalikkan telapak tangan, perlu adanya sebuah proses pendidikan. Pendidikan karakter harus

Investasi pada modal bank, entitas keuangan dan asuransi diluar cakupan konsolidasi secara ketentuan, net posisi short yang diperkenankan, dimana Bank tidak memiliki lebih dari

Mohon Anda menjawab dengan memberikan tanda silang (X) pada salah satu angka, guna menggambarkan Tingkat Informasi relevan yang ada di perusahaan Anda.. Mohon anda menjawab

Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan, dapat diketahui bahwa jenis industri kreatif yang saat ini berpotensi baik untuk dikembangkan dan mampu mengusung

Terdapat 2 jenis pompa yang dibutuhkan pada sistem kali ini, yaitu pompa yang digunakan untuk mendinginkan air menuju ke chiller , dan pompa yang digunakan

Kelanjutan dari reaksi ini adalah terputusnya rantai asam lemak menjadi senyawa aldehid yang memiliki daya perusak yang tinggi terhadap sel-sel tubuh antara lain