Analisis Karakteristik Sistem Informasi Akuntansi Terhadap Kinerja di Universitas Pembangunan Panca Budi Medan

24 

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori 2.1.1 Kinerja

Kinerja merupakan suatu kondisi yang harus diketahui dan

dikonfirmasikan kepada pihak tertentu untuk mengetahui tingkat pencapaian hasil

suatu instansi dihubungkan dengan visi yang diemban suatu organisasi atau

perusahaan serta mengetahui dampak positif dan negatif dari suatu kebijakan

operasional. Mink (1993 : 76) mengemukakan pendapatnya bahwa individu yang

memiliki kinerja yang tinggi memiliki beberapa karakteristik, yaitu diantaranya:

(a) berorientasi pada prestasi, (b) memiliki percaya diri, (c) berpengendalian diri,

(d) kompetensi.

Manfaat penerapan kinerja adalah sebagai berikut : pertama dapat melihat

kesesuaian antara strategi korporasi / institusional dengan strategi setiap satuan

kerja / unit bisnis yang tergambar dalam peta strategi (Strategy map), kedua dapat

memperlihatkan operasionalisasi strategi dalam sasaran-sasaran yang jelas yang

menjadi arahan untuk pencapaian target key performance indicator ( KPI ) sebagai ukuran yang akan dicapai dalam setiap satuan waktu ( triwulan, semester,

tahunan). ·

Faktor-faktor yang memengaruhi kinerja individu tenaga kerja, yaitu:

1.Kemampuan mereka, 2.Motivasi, 3.Dukungan yang diterima, 4.Keberadaan

(2)

Berdasarkaan pengertian di atas, penulis menarik kesimpulan bahwa kinerja

merupakan kualitas dan kuantitas dari suatu hasil kerja (output) individu maupun

kelompok dalam suatu aktivitas tertentu yang diakibatkan oleh kemampuan alami

atau kemampuan yang diperoleh dari proses belajar serta keinginan untuk

berprestasi. Mangkunegara (2000) menyatakan bahwa faktor yang mempengaruhi

kinerja antara lain : a. Faktor kemampuan, terdiri dari kemampuan potensi (IQ)

dan kemampuan realita (pendidikan). Oleh karena itu pegawai perlu dtempatkan

pada pekerjaan yang sesuai dengan keahlihannya. b. Faktor motivasi, terbentuk

dari sikap (attiude) seorang pegawai dalam menghadapi situasi (situasion) kerja.

Motivasi merupakan kondisi yang menggerakkan diri pegawai terarah untuk

mencapai tujuan kerja.

2.1.2 Kinerja Manajerial

Kinerja Manajerial merupakan kemampuan seorang pemimpin yang

diukur dari tercapainya tanggungjawab yang diembannya. Kinerja manajerial

merupakan hasil upaya yang dilakukan manajer dalam melakukan tugas dan

fungsinya dalam organisasi. Kinerja manajerial dalam penelitian ini diukur

dengan delapan dimensi kinerja yaitu: perencanaan, investigasi,

pengkoordinasian, evaluasi, pengawasan, pengaturan staf, negosiasi, dan

perwakilan/ representasi.

Pemimpin atau seorang manajer merupakan pribadi yang memiliki

kecakapan khusus dengan atau tanpa pengangkatan resmi dapat mempengaruhi

(3)

pencapaian sasaran-sasaran tertentu. Ada ilmuwan - ilmuwan yang cenderung

mengemukakan sederatan kualitas – kualitas unggul dan sifat – sifat utama yang

harus dimiliki oleh setiap pemimpin. Misalnya, dia harus memiliki intergritas

tinggi, mampu mengambil kebijaksanaan yang tepat, mempunyai rasa humor,

mampu memikul tanggung jawab, bisa bertindak adil dan jujur, memiliki

keterampilan teknis tinggi, kepribadian imbang.

Usaha – usaha yang sistematis membuahi teori yang disebut sebagai the

traitist theory of leadership (teori sifat/ kesifatan dari kepemimpinan). Diantara

para penganut teori ini dapat disebutkan Terry, (1990) menuliskan sepuluh sifat

pemimpin yang unggul, yaitu :

1. Kekuatan

Kekuatan badaniah dan rohaniah merupakan syaraf pokok bagi pemimpin

yang harus bekerja lama dan berat pada waktu - waktu yang lama serta tidak

teratur dan di tengah – tengah situasi – situasi yang sering tidak menentu.

2. Stabilitas Emosi

Pemimpin yang baik memiliki emosi yang stabil. Artinya dia tidak mudah

marah, tersinggung perasaan dan tidak meledak – ledak secara emosional. Ia

menghormati martabat orang lain, toleran terhadap kelemahan orang lain, dan bisa

memaafkan kesalahan – kesalahan yang tidak terlalu prinsipiil. Semua dilakukan

untuk mencapai lingkungan sosial yang rukun damai, harmonis dan

(4)

3. Pengetahuan tentang relasi insani

Salah satu tugas pokok pemimpin ialah memajukan dan mengembangkan

semua bakat serta potensi anak buah, untuk bisa bersama – sama maju dan

mengecap kesejahteraan. Karena itu pemimpin diharapkan memiliki pengetahuaan

tentang sifat, watak dan perilaku anggota kelompoknya.

4. Kejujuran

Pemimpin yang baik harus memiliki kejujuran yang tinggi yaitu jujur pada

diri sendiri dan pada orang lain (terutama bawahannya). Dia selalu menepati janji,

dapat dipercaya dan berlaku adil pada semua pegawainya.

5. Obyektif

Pertimbangan pemimpin harus berdasarkan hati nurani yang bersih, supaya

obyektif (tidak subyektif, dan berprasangka buruk). Dia akan selalu mencari bukti

– bukti nyata dan sebab musibah setiap kejadian dan memberikan alasan yang

rasional atas penolakannya.

6. Dorongan Pribadi

Keinginan dan kesediaan untuk menjadi pemimpin itu harus muncul dari

dalam hati sendiri. Dukungan dari luar akan memperkuat hasyrat sendiri untuk

memberikan pelayanan dan pengabdian diri kepada kepentingan orang banyak.

7. Keterampilan berkomunikasi

Pemimpin diharapkan mahir menulis dan berbicara, mudah menangkap

maksud orang lain serta mudah memahami maksud para anggotanya. Juga pandai

(5)

mengintegrasikan berbagai opini serta aliran yang berbeda – beda untuk mencapai

kerukunan dan keseimbangan.

8 Kemampuan mengajar

Pemimpin yang baik diharapkan menjadi guru yang baik. Mengajar itu

adalah membawa siswa (orang yang belajar) secara sistematis dan intensional

pada sasaran – sasaran tertentu, guna mengembangkan pengetahuan ketrampilan/

kemahiran teknis tertentu dan menambah pengalaman, yang dituju ialah agar para

pengikutnya bisa mandiri, mau memberikan loyalitas dan partisipasinya.

9. Keterampilan sosial

Pemimpin juga diharapkan memiliki kemampuan untuk mengelola

manusia, agar mereka dapat mengembangkan bakat dan potensinya. Pemimpin

dapat mengenali segi – segi kelemahan dan kekuatan setiap anggtannya, agar

dapat ditempatkan pada tugas - tugas yang cocok dengan pembawaanya masing –

masing.

10. Kecakapan teknis atau kecakapan manajerial

Pemimpin harus superior dalam satu atau beberapa kemahiran teknis

tertentu. Juga memiliki kemahiran manajerial untuk membuat rencana, mengelola,

menganalisa keadaan, membuat keputusan, mengarahkan, mengontrol dan

memperbaiki situasi yang tidak mapan. Tujuannya adalah tercapainya efektivitas

kerja, keuntungan masksimal dan kebahagian – kesejahteraan anggota sebanyak –

(6)

2.1.3. Syarat-syarat Indikator Ideal

Indikator kinerja bisa berbeda untuk setiap organisasi, namun setidaknya

ada persyaratan umum untuk terwujudnya suatu indikator yang ideal. Menurut

Palmer (1995), syarat-syarat indikator yang ideal adalah sebagai berikut:

1. Consitency. Berbagai definisi yang digunakan untuk merumuskan indikator kinerja harus konsisten, baik antara periode waktu maupun antar unit-unit

organisasi.

2. Comparibility. Indikator kinerja harus mempunyai daya banding secara layak.

3. Clarity. Indikator kinerja harus sederhana, didefinisikan secara jelas dan

mudah dipahami.

4. Controllability. Pengukuran kinerja terhadap seorang manajer publik harus

berdasarkan pada area yang dapat dikendalikannya.

5. Contingency. Perumusan indikator kinerja bukan variabel yang independen dari lingkungan internal dan eksternal. Struktur organisasi, gaya manajemen,

ketidakpastian dan kompleksitas lingkungan eksternal harus dipertimbangkan

dalam perumusan indikator kinerja.

6. Comprehensiveness. Indikator kinerja harus merefleksikan semua aspek perilaku yang cukup penting untuk pembuatan keputusan manajerial.

7. Boundedness. Indikator kinerja harus difokuskan pada faktor-faktor utama

yang merupakan keberhasilan organisasi.

8. Relevance. Berbagai penerapan membutuhkan indicator spesifik sehingga

(7)

9. Feasibility. Target-target yang digunakan sebagai dasar perumusan indikator

kinerja harus merupakan harapan yang realistik dan dapat dicapai.

2.2. Konsep Pelayanan

Istilah pelayanan berasal dari kata “layan” yang artinya menolong

menyediakan segala apa yang diperlukan oleh orang lain untuk perbuatan

melayani. Pada dasarnya setiap manusia membutuhkan pelayanan, bahkan secara

ekstrim dapat dikatakan bahwa pelayanan tidak dapat dipisahkan dengan

kehidupan manusia (Sinambela, 2010:3). Pelayanan adalah proses pemenuhan

kebutuhan melalui aktivitas orang lain yang langsung (Moenir, 2006:16-17).

Membicarakan pelayanan berarti membicarakan suatu proses kegiatan yang

konotasinya lebih kepada hal yang abstrak (Intangible). Pelayanan adalah

merupakan suatu proses, proses tersebut menghasilkan suatu produk yang berupa

pelayanan, yang kemudian diberikan kepada pelanggan.

Beberapa pakar yang memberikan pengertian mengenai pelayanan

diantaranya adalah Moenir (Harbani Pasolong, 2007:128). Harbani Pasolong

(2007:4), pelayanan pada dasarnya dapat didefinisikan sebagai aktivitas

seseorang, sekelompok dan/atau organisasi baik langsung maupun tidak langsung

untuk memenuhi kebutuhan Hasibuan mendefinisikan pelayanan sebagai kegiatan

pemberian jasa dari satu pihak ke pihak lain, dimana pelayanan yang baik adalah

pelayanan yang dilakukan secara ramah tamah dan dengan etika yang baik

sehingga memenuhi kebutuhan dan kepuasan bagi yang menerima. Menurut

(8)

Pelayanan adalah setiap kegiatan yang menguntungkan dalam suatu

kumpulan atau kesatuan, dan menawarkan kepuasan meskipun hasilnya tidak

terikat pada suatu produk secara fisik. Selanjutnya Sampara Lukman (2000:5)

pelayanan merupakan suatu kegiatan yang terjadi dalam interaksi langsung antara

seseorang dengan orang lain atau mesin secara fisik, dan menyediakan kepuasaan

pelanggan. Sedangkan definisi yang lebih rinci diberikan oleh Gronroos dalam

Ratminto (2005:2) yaitu pelayanan adalah suatu aktivitas atau serangkaian

aktivitas yang bersifat tidak kasat mata yang terjadi akibat adanya interaksi antara

konsumen dengan karyawan atau hal-hak lain yang disediakan oleh perusahaan

pemberi pelayanan yang dimaksudkan untuk memecahkan permasalahan

konsumen/pelanggan. Menurut Ahmad Batinggi (1998:21) terdapat tiga jenis

layanan yang bisa dilakukan oleh siapapun, yaitu :

1. Layanan dengan lisan

Layanan dengan lisan dilakukan oleh petugas -petugas di bidang

Hubungan Masyarakat ( HUMAS ), bidang layanan Informasi, dan bidangbidang

lain yang tugasnya memberikan penjelasan atau keterangan kepada siapapun yang

memerlukan. Agar supaya layanan lisan berhasil sesuai dengan yang diharapkan,

ada syarat - syarat yang harus dipenuhi oleh pelaku layanan yaitu:

a. Memahami masalah -masalah yang termasuk ke dalam bidang

tugasnya.

b. Mampu memberikan penjelasan apa yang diperlukan, dengan

lancar,singkat tetapi cukup jelas sehingga memuaskan bagi mereka

(9)

c. Bertingkah laku sopan dan ramah

2. Layanan dengan tulisan

Layanan melalui tulisan merupakan bentuk layanan yang paling menonjol

dalam melaksanakan tugas. Sistem layanan pada abad Informasi ini menggunakan

sistem layanan jarak jauh dalam bentuk tulisan.

Layanan tulisan ini terdiri dari 2 (dua) golongan yaitu, berupa petunjuk

Informasi dan yang sejenis ditujukan kepada orang - orang yang berkepentingan,

agar memudahkan mereka dalam berurusan dengan instansi atau lembaga

pemerintah. Kedua, layanan berupa reaksi tertulis atau permohonan laporan,

pemberian/ penyerahan, pemberitahuan dan sebagainya. Adapun kegunaannya

yaitu :

a. Memudahkan bagi semua pihak yang berkepentingan.

b. Menghindari orang yang banyak bertanya kepada petugas

c. Mamperlancar urusan dan menghemat waktu bagi kedua pihak, baik

petugas maupun pihak yang memerlukan pelayanan.

d. Menuntun orang ke arah yang tepat

2.3. Sistem Informasi

Sistem informasi pada dasarnya adalah sekelompok unsur, yang, saling

terkait satu dengan yang lainnya, sehingga dapat memproses data transaksi yang

di butuhkan yang berfungsi bersama untuk mencapai suatu tujuan. Demikian pula

dengan SI, merupakan gabungan dari dua unsur kata yaitu sistem dan informasi,

(10)

tersebut memiliki maknanya sendiri, sebagaimana yang akan diuraikan sebagai

berikut ini :

2.3.1 Sistem

Sistem merupakan serangkaian bagian yang saling tergantung dan bekerja

sama untuk mencapai tujuan tertentu. Sedangkan sistem informasi adalah sistem

yang bertujuan untuk mengumpulkan dan memproses data serta melaporkan

informasi. (Diana dan Setiawati, 2011). Adapun komponen sistem informasi

dimulai dari input, proses sampai output.

Menurut Baridwan (2001:1) sistem adalah suatu kerangka dari

prosedur-prosedur yang saling berhubungan yang disusun sesuai dengan suatu skema yang

menyeluruh untuk melaksanakan suatu kegiatan atau fungsi utama dari

perusahaan. Sedangkan menurut Mulyadi (2001:5) sistem merupakan suatu

organisasi formulir, catatan dan laporan yang dikoordinasikan sedemikian rupa

untuk menyediakan informasi keuangan yang dibutuhkan manajemen guna

memudahkan pengelolaan perusahaan. Sedangkan menurut Widjajanto (2001:1)

sistem adalah sesuatu yang memiliki bagian-bagian yang saling berinteraksi untuk

mencapai tujuan tertentu melalui tiga tahap yaitu input, proses dan output.

Sedangkan menurut Hall (2007:6) sistem adalah kelompok dari dua atau lebih

komponen atau subsistem yang saling berhubungan yang berfungsi dengan tujuan

yang sama. Dari beberapa pendapat tersebut diatas, maka dapat diikhtisarkan

bahwa pada dasarnya sistem terdiri dari tiga unsur, yaitu : masukan ( input),

(11)

menjadi output. Sedangkan output berarti yang menjadi tujuan, sasaran, atau

target pengorganisasian suatu sistem.

2.3.2. Informasi

Informasi merupakan komoditas yang sangat penting bagi perusahaan,

karena dengan adanya informasi akan membantu dalam operasi dan pengambilan

keputusan sehari-hari. Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang istilah

data dan informasi dalam hubungannya dengan proses penyediaan informasi,

berikut ini diberikan pengertian untuk masing-masing istilah tersebut. Data dapat

diartikan sebagai fakta atau jumlah yang merupakan masukan (input) bagi suatu

sistem informasi. Biasanya data ini dapat digunakan sebagai dasar dalam

pengambilan keputusan oleh manajemen. Menurut Bodnar dan Hopwood (2000:1)

informasi adalah data yang berguna yang diolah sehingga dapat dijadikan dasar

untuk pengambilan keputusan yang tepat.

Dengan adanya sistem yang baik diharapkan dapat menghasilkan suatu

informasi yang berkualitas tinggi. Informasi yang baik tersebut mempunyai

kriteria sebagai berikut, relevan, akurat, tepat waktu, ringkas, jelas, dapat diukur,

dan konsisten. Untuk lebih jelasnya masing-masing kriteria akan dijelaskan

sebagai berikut:

1.Relevan

Informasi yang relevan berkaitan dengan sejauh mana informasi tersebut

dapat membuat perbedaan untuk Alternatif pengambilan keputusan.

2.Akurat

(12)

informasi tersebut sehingga informasi yang akurat, berarti bebas dari kesalahan

dan tidak menyesatkan bagi pemakai informasi.

3. Tepat Waktu

Ketepatan waktu sebuah informasi sangat penting, karna informasi

tersebut harus tersedia pada saat dibutuhkan karma berhubungan dengan

pengambilan keputusan atau kebijakan.

4. Ringkas

Keringkasan sebuah informasi berarti informasi tersebut sudah

digolongkan dan disajikan dalam format yang tidak terlalu detail sehingga tidak

membingungkan para pemakai informasi.

5. Jelas

Informasi yang jelas menunjukan tingkat kemampuan informasi tersebut

sudah digolongkan dan disajikan dalam format yang tidak terlau detail.

6. Dapat di ukur

Berhubungan dengan konsep pengukuran informasi, Informasi yang dapat

diukur akan menambah nilai informasi tersebut.

7. Konsisten

Sebuah informasi berhubungan dengan kemampuan untuk dapat di

bandingkan dengan informasi sejenis dari fungsi yang berbeda atau informasi

yang sejenis dengan waktu yang berbeda.

Jadi sesuai dengan pengertian diatas bahwa informasi merupakan keluaran

(13)

dengan baik dan mempunyai arti bagi penerimanya, sehingga dapat digunakan

sebagai dasar untuk mengambil keputusan oleh manajemen.

2.4. Sistem Informasi Akuntansi

Pada awalnya sebelum kita membahas tentang Karakteristik Sistem

Informasi Akuntansi, alangkah baiknya kita tahu apa definisi dari Sistem

Informasi Akuntasi, yaitu : Wilkinson (1991) Sistem informasi akuntansi (SIA)

merupakan suatu kerangka pengkordinasian sumber daya (data, meterials,

equipment, suppliers, personal, and funds) untuk mengkonversi input berupa data

ekonomik menjadi keluaran berupa informasi keuangan yang digunakan untuk

melaksanakan kegiatan suatu entitas dan menyediakan informasi akuntansi bagi

pihak-pihak yang berkepentingan.

Sedangkan menurut Gelinas, Orams, dan Wiggins (1997) Sistem

informasi akuntansi (SIA) sebagai subsistem khusus dari sistem informasi

manajemen yang tujuannya adalah menghimpun, memproses dan melaporkan

informsi yang berkaitan dengan transaksi keuangan. Setelah mengetahui

pengertian dari Sistem Informasi Akuntansi (SIA), langkah selanjutnya adalah

mengetahui karakteristik dari Sistem Informasi Akuntansi (SIA) itu sendiri.

Adapun karakteristik dari Sistem Informasi Akuntansi (SIA) adalah sebagai

berikut :

1. Pengumpul dan penyimpan data dari semua aktivitas dan transaksi perusahaan

(14)

3. Memanajemen data-data yang ada kedalam kelompok-kelompok yang sudah

ditetapkan oleh perusahaan.

4. Mengendalikan kontrol data yang cukup sehingga aset dari suatu organisasi

atau perusahaan terjaga.

Anthony (1965) mengakui pentingnya karakteristik SIA yang berkaitan dengan

pekerjaan. Karakteristik SIA dibedakan dari beberapa dimensi, yaitu :

1. Informasi yang diarahkan pada informasi keuangan atau non keuangan,

2. Informasi untuk kepentingan internal atau external.

3. Informasi Masa Lalu ( histories ) atau Masa Depan ( Future ).

Disamping itu, terdapat pula ukuran-ukuran penting dalam desain Sistem

Informasi Akuntansi, yakni:

1. Broad Scope

2. Timelines

3. Agregasi

4. Dan Informasi yang terintegrasi (Chenhall & Morris, 1986; Bowens &

Abernethy, 2000).

Konsep Karakteristik Informasi ini dapat membantu para pengambil

keputusan untuk menentukan berapa yang harus dia bayar untuk sebuah informasi

yang berhubungan dengan keputusan yang akan di ambil. Dalam hubungannya

dengan suatu organisasi , maka perlu diperhatikan bahwa informasi yang

digunakan didalam suatu system informasi pada umumnya digunakan untuk

beberapa keperluan, sehingga sulit untuk menghubungkan suatu bagian informasi

(15)

memperolehnya, karena sebagian besar informasi tidak hanya digunakan oleh satu

pihak dalam organisasi perusahaan tersebut. Dan sebagian besar informasi tidak

dapat ditaksir keuntungannya dalam nilai unag secara tepat, tetapi mungkin hanya

dapat ditaksir dalam bentuk nilai efektivitasnya. Sebagai Contoh, Keputusan

Investasi biasanya analisisnya dihubungkan dengan analisis cost effectiveness

atau cost benefit

Menurut Hall (2007:27) karakteristik kualitas informasi akuntansi terdiri dari :

“1. Relevan 2. Tepat Waktu

3. Akurat 4. Lengkap

5. Rangkuman (ringkasan)”.

Adapun penjelasan Kriteria-kriteria di atas adalah :

2.4.1 Relevan

Informasi yang relevan merupakan informasi yang perlu diketahui untuk

memberikan pemahaman yang baru. Laporan yang hanya bersifat sementara, dan

selanjutnya tidak relevan harus dihentikan pembuatannya.

2.4.2 Tepat Waktu

Umur informasi merupakan faktor yang kritikal dalam menentukan kegunaannya.

Informasi harus tidak lebih tua dari periode waktu tindakan yang didukungnya.

2.4.3 Akurat

Informasi harus bebas dari kesalahan yang sifatnya material. Kesalahan-kesalahan

(16)

melakukan keputusan yang buruk atau gagal melakukan keputusan yang

diperlukan.

2.4.2 Lengkap

Tidak ada bagian informasi yang esensial bagi pengambilan keputusan atau

pelaksanaan tugas yang hilang. Informasi yang tidak lengkap bisa menimbulkan

kesulitan, karena informasi yang tidak disertakan itu akan menjadi unsur

ketidakpastian yang besar.

2.4.5 Rangkuman (ringkasan)

Informasi harus diagregasi agar sesuai dengan kebutuhan pemakai. Informasi

yang ringkas dan mengikhtisarkan data relevan yang menunjukan bidang-bidang

penyimpangan terhadap tingkat normal, standar, atau yang direncanakan

merupakan bentuk informasi yang banyak diperlukan oleh para pemakai

informasi.

2.5. Tinjauan Penelitian Terdahulu 1. Johanna Mudjiati (2008)

Studi kualitatif berjudul ’Studi Pengaruh Penggunaan Sistem Informasi

Terhadap Kinerja Karyawan Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro

Semarang’, bertujuan untuk mengetahui bagaimana pengaruh penggunaan sistem

informasi terhadap kinerja karyawan Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro,

untuk mengetahui sejauh mana kinerja karyawan Fakultas Ekonomi UNDIP

sebelum dan sesudah penggunaan sistem informasi, serta bagaimana pelayanan

(17)

Penelitian dilakukan dengan melakukan survei terhadap penggunaan

sistem informasi akademik yang berbasis internet (SIMAWEB) dan pengaruhnya

terhadap kinerja karyawan dengan metode observasi maupun wawancara secara

mendalam untuk memperoleh informasi sebanyak-banyaknya dari semua

responden/informan. Jumlah informan adalah 17 orang terbagi dalam kelompok

manajemen fakultas, dosen, staf administrasi/karyawan dan mahasiswa yang

memiliki pengalaman di bidang tugasnya masing-masing, mengetahui secara

mendalam dan banyak berperan dalam proses penggunaan sistem informasi.

Berdasarkan hasil penelitian, memperlihatkan bahwa dengan penggunaan

sistem informasi/Simaweb di Fakultas Ekonomi yang merupakan salah satu

fasilitas guna kelancaran kegiatan proses belajar mengajar, terbukti memberikan

kemudahan,banyak keuntungan dan manfaatnya yang sangat menunjang

tugas-tugas karyawan dalam melayani dosen, mahasiswa dan pihak luar yang

membutuhkan. Hal tersebut berarti mempunyai segi positif bagi semua pihak

sehingga berpengaruh terhadap kinerja karyawa dan dapat memberikan kualitas

pelayanan kepada dosen, mahasiswa dan pihak luar yang membutuhkan.

2. Juli Ratnawati (2011)

“Karakteristik Sistem Informasi Akuntansi Manajemen Dan Desentralisasi

Serta Pengaruhnya Terhadap Kinerja Organisasi”. karakteristik SIAM yang

meliputi broadscope, aggregation, integration dan timeliness berpengaruh

terhadap kinerja organisasi akan tetapi desentralisasi tidak memoderasi pengaruh

antara karakteristik sistem informasi akuntansi manajemen terhadap kinerja

(18)

3. Irmaya Briliantien (2005)

“Faktor-faktor yang mempengaruhi kinerja sistem informasi akuntansi

pada Bank Umum Pemerintah di Wilayah Surabaya dan Sidoarjo.” Faktor –

faktor tersebut seperti faktor keterlibatan pemakai dalam proses pengembangan

sistem, kemampuan teknik personal sistem informasi, ukuran organisasi,

dukungan manajemen puncak, formalisasi pengembangan sistem informasi,

program pelatihan dan pendidikan pemakai, keberadaan dewan pengarah sistem

informasi, serta lokasi dari departemen sistem informasi. Dalam penelitian ini

penulis ingin mengetahui pengaruh faktor – faktor tersebut pada PT PLN Cabang

Depok karena PT PLN dalam melayani masyarakat sangat membutuhkan

informasi yang akurat, cepat dan tepat serta berpengaruh terhadap pengambilan

keputusan manajemen.

Dari hasil penelitian hipotesis yang menggunakan Uji Kendall’s Tau

diperoleh hanya faktor keterlibatan pengguna dalam pengembangan sistem dan

formalisasi pengembangan sistem informasi yang mempengaruhi kinerja SIM

dengan nilai signifikan 0,032 dan 0,049. Pada uji beda yang menggunakan

Mann-Whitney Test yaitu untuk mengetahui terdapat tidaknya perbedaan sampel bila

dipergunakan. Pada faktor program pelatihan dan pendidikan tidak dapat diolah

karena responden menjawab pertanyaan diperusahaan mereka terdapat pelatihan

dan pendidikan begitu juga pada dewan pengarah tidak dapat diolah, sedangkan

pada lokasi dari departemen sistem informasi terdapat perbedaan antara kinerja

SIM dari organisasi yang lokasi departemen sistem informasi terpisah dan berdiri

(19)

departemen lainnya. Dalam menganalisa penelitian tersebut penulis menggunakan

SPSS versi 17.

4. Dewaar Mahesa (2010)

“Analisis pengaruh motivasi dan kepuasan kerja terhadap kinerja

karyawan dengan lama kerja sebagai variabel moderating (studi pada PT. Coca

Cola amatil indonesia (central java) )”. Kepuasan kerja dan motivasi kerja sangat

berkaitan langsung dengan kinerja karyawan. Kepuasan kerja dan motivasi kerja

yang dirasakan oleh karyawan dapat menurunkan kinerja ataupun meningkatkan

kinerja karyawan. Karyawan yang merasa puas dengan pekerjaan yang diperoleh

akan termotivasi untuk meningkatkan kinerja sehingga akan berdampak pada

meningkatnya kinerja perusahaan secara keseluruhan. Penelitian ini dilakukan

pada PT. Coca Cola Amatil Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui

pengaruh kepuasan kerja dan motivasi kerja yang dimoderasi lama bekerja

terhadap kinerja karyawan. Jumlah sampel yang ditetapkan sebanyak 64

responden dengan menggunakan metode purposive sampling. Sebagai variabel

independen, yaitu kepuasan kerja dan motivasi kerja, dan variabel moderating

adalah lama bekerja, sedangkan variabel dependennya adalah kinerja karyawan.

Analisis yang digunakan meliputi uji validitas, uji reliabilitas, uji asumsi klasik,

Moderated Regresion Analysis (MRA) dan pengujian hipotesis.

Hasil analisis menggunakan moderated regresion analysis dapat diketahui

bahwa variabel kepuasan kerja dan motivasi kerja berpengaruh positif terhadap

(20)

kinerja karyawan, sedangkan variabel lama bekerja tidak berhasil memoderasi

motivasi kerja terhadap kinerja. Hasil analisis menggunakan koefisien determinasi

diketahui bahwa 22 persen variasi dari kinerja karyawan dapat dijelaskan oleh

variabel bebas dan variabel moderating yang diteliti dalam penelitian ini dan 78

persen dijelaskan oleh faktor-faktor lain di luar model.

5. Leli Siregar (2012)

“Pengaruh Motivasi Terhadap Kinerja Pegawai pada kantor Camat Medan

Selayang”. Salah satu asset penting yang dimiliki oleh organisasi tidak lepas dari

kinerja pegawai. Untuk memperoleh kinerja yang baik, maka perlu memperbaiki

motivasi kerja pegawai. Dalam mengembangkan organisasi, orang sering terfokus

pada bagaimana mengembangkan usaha, sedangkan tentang pengelolaan sumber

daya manusianya masih kurang diperhatikan. Seorang pimpinan yang baik

tentunya akan menciptakan lingkungan yang nyaman dan memotivasi pegawai

dengan tujuan agar semangat untuk bekerja dan memberikan kinerja yang

maksimal. Motivasi kerja merupakan faktor penting untuk memperoleh kinerja

yang baik. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana

motivasi dan kinerja para pegawai di kantor Camat Medan Selayang Kota Madya

Medan. Secara khusus untuk mengetahui pengaruh motivasi terhadap kinerja

pegawai di kantor Camat Medan Selayang.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis

kuantitatif dengan menggunakan rumus statistik untuk membantu menganalisa

(21)

menyebar kuesioner kepada 38 responden yang menjadi sampel. Diluar jumlah

sampel yang telah ditentukan, penulis mengambil informan tambahan yaitu

masyarakat 5 orang sebagai perbandingan. Kemudian diolah dengan

menggunakan rumus regresi linear, untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh

antara motivasi dan kinerja. Kemudian dilanjutkan dengan product moment, uji

“t” (signifkansi) dan koefisien determinasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

motivasi memiliki hubungan yang tinggi dengan kinerja. Hal ini terbukti dari hasil

perhitungan regresi linear Y= 1,649 + 0,848 dan nilai rxy sebesar 0,804%. Ini

menunjukkan adanya hubungan yang positif antara motivasi dan kinerja.

Selanjutnya koefisien determinan diperoleh sebesar 64,6%, sisanya sebesar 35,4%

dipengaruhi oleh faktor lain diluar dari kajian penelitian ini.

6. Sayyida (2013)

“Pengaruh Karakteristik Sistem Informasi Akuntansi Terhadap Kinerja

Perusahaan”. Variabel dependen kinerja perusahaan, variabel independen adalah

karakteristik SIA. Hasil penelitiannya adalah pada analisa secara simultan variabel

independen tidak signifikan berpengaruh terhadap variabel dependen. Sedangkan

analisa secara parsial hasilnya variatif, pada variabel dapat dipahami dan

keandalan tidak signifikan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan, variabel

keandalan memiliki koefisien konstanta negatif sehingga bertentangan dengan

(22)

Tabel 2.1. Daftar Tinjauan Peneliti Terdahulu informasi di Fakultas Ekonomi jelas sangat mempengaruhi

pada analisa secara simultan variabel

(23)
(24)

departemen SI Tidak kerja dan motivasi kerja berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan, dan variabel lama bekerja memoderasi kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan, sedangkan variabel lama bekerja

tidak berhasil memoderasi motivasi

kerja terhadap kerja dan motivasi kerja berpengaruh positif terhadap kinerja karyawan, dan variabel lama bekerja memoderasi kepuasan kerja terhadap kinerja karyawan, sedangkan variabel lama bekerja

tidak berhasil memoderasi motivasi

Figur

Tabel 2.1. Daftar Tinjauan Peneliti Terdahulu
Tabel 2 1 Daftar Tinjauan Peneliti Terdahulu . View in document p.22

Referensi

Memperbarui...