• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGARUH PERSEBARAN PASAR TRADISIONAL TE

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGARUH PERSEBARAN PASAR TRADISIONAL TE"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

1

PENGARUH PERSEBARAN PASAR TRADISIONAL TERHADAP

FLUKTUASI HARGA SEWA LAHAN PERKOTAAN

(Studi Kasus: Kota Surakarta)

Pratomo Aji K

Jurusan Perencanaan Wilayah, Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung

E-mail: [email protected]

I. PENDAHULUAN

Kota Surakarta merupakan salah satu kota di Jawa Tengah dengan perkembangan ekonomi yang cukup pesat. Sebagai kota skala sedang, Kota Surakarta ditopang oleh berbagai sektor perekonomian seperti perdagangan, industri, dan pariwisata. Pada dasarnya wisata Kota Surakarta terbagi menjadi wisata kuliner, wisata sejarah dan budaya, dan wisata belanja. Dalam hal ini penulis akan mengkaji perkembangan wisata belanja, khususnya pada pasar tradisional di Kota Surakarta. Destinasi wisata belanja Kota Surakarta dapat dibedakan menjadi dua, yaitu pasar tradisional dan pasar modern. Pasar tradisional Kota Surakarta adalah Pasar Gede, Pasar Kliwon, Pasar Triwindu, dan Pasar Depok. Untuk pasar modern Kota Surakarta didominasi oleh industri retail seper Solo Grand Mall, Solo Square, dan Paragon Mall.

Sejak tahun 2011 hingga 2016 keberadaan pasar tradisional merupakan pendukung perekonomian kota yang berbasis ekonomi kerakyatan yang dimana di dalamnya termasuk sumbangan ke pendapatan asli daerah1. Secara keseluruhan Kota Surakarta mempunyai 43 pasar tradisional. Besarnya retribusi pasar tradisional terhadap PAD Kota Surakarta menjadikan pasar tradisional menarik untuk dikaji. Hal ini mengingat banyaknya konflik sosial-ekonomi antara pedagang-konsumen-pemerintah yang terjadi di pasar tradisional yang pada dasarnya dipengaruhi oleh ketimpangan spasial2. Untuk meminimalisasi konflik dalam pasar tradisional, sehingga retribusi pasar tradisional menjadi lebih tinggi maka dirumuskan permasalah “Bagaimana pengaruh persebaran pasar tradisional terhadap fluktuasi harga lahan perkotaan Kota Surakarta?”.

Rumusan masalah dapat menggambarkan ketimpangan spasial yang terjadi di Kota Surakarta. Dengan demikian, maka diharapkan pemkot Surakarta dapat membuat berbagai kebijakan dan strategi yang berorientasi pada pemerataan pembangunan Kota Surakarta

1

Menurut Kepala Dinas Pengelolaan Pasar Kota Surakarta(Pak Subagiyo) menyebutkan bahwa sumbangan pasar tradisional terhadap PAD Kota Surakarta sudah mencapai 70 persen dari target 20,3 miliar. Sumber setoran pasar tradisional berasal dari retribusi para pedagang, penjualan kios, dan perpanjangan surat hak penempatan

2

(2)

2 II. TINJAUAN LITERATUR

Dalam kajian ini, untuk menjawab rumusan masalah dan mengetahui gambaran persebaran pasar tradisional serta pengaruhnya terhadap fluktuasi harga sewa lahan3 perkotaan maka penulis menggunakan tiga konsep dalam ekonomi spasial. Berikut adalah uraian dari ketiga konsep tersebut:

Konsep pertama adalah teori central place yang dikemukakan Walter Christaller pada tahun 1993. Teori ini menyatakan bahwa suatu lokasi dapat melayani berbagai kebutuhan yang terletak pada suatu tempat yang diasumsikan sebagai tempat sentral4. Melalui teori

central place penulis dapat mengetahui ketimpangan spasial yang beracuan pada prinsip luasan jangakauan pasar. Pada dasarnya teori central place mendasarkan tingkatan layanan pasar dan jangkauan pasar dimulai dari lokasi produksi hingga sampai pada konsumen. Jangkauan pasar merupakan bentuk radius pelayanan pasar, sehingga sangat mungkin terjadi irisan jangakauan pasar satu dengan yang lain. Adanya irisan tersebut maka akan ada bentuk jangkauan pasar yang seimbang atau equilibrium yang dimana jangkauan pasar secara skematis berbentuk heksagonal (Sjafrizal, 2012: 53-54).

Implementasinya kepada kasus pasar tradisional di Kota Surakarta adalah melalui teori ini penulis menggambarkan adanya aglomerasi dan spesialisasi komoditi dalam pasar tradisional di Kota Surakarta. Untuk melihat hal tersebut maka penulis memakai teori central place dengan hierarki K=3. Hierarki ini pada dasarnya menjelaskan pusat pelayanan pasar optimum dimana tempat sentral selalu menyediakan kebutuhan barang-barang pasar untuk daerah sekitarnya. Dalam hal ini maka pasar tradisional Kota Surakarta akan selalu menyediakan barang-barang bagi konsumen atau warga masyrakat di sekitar pasar tersebut. Sesuai dengan teori central palace maka akan ada daerah yang tak terlayani oleh pasar-pasar tradisional yang telah ada di Kota Surakarta yang disebabkan karena adanya

treshold yang bertumpang tindih dari bentuk heksagon teori central place. Dengan fenomena tersebut maka konsumen atau masyarakat akan memilih pasar yang mempunyai jarak terdekat dengan tempat tinggalnya.

3

Lahan menurut KBBI adalah tanah yang terbuka. Pada teori bid-rent istilah tanah diasumsikan sama dengan lahan.

4

(3)

3

Fenomena pragmatis tersebut terjadi jika kita menerapkan teori central place terhadap realitas pasar tradisional, tapi nampaknya kondisi realitas tersebut berbeda. Hal ini terbukti adanya masyarakat yang berperilaku dengan menempuh jarak tertentu5 untuk mendapatkan komoditas tertentu yang hanya ada di pasar tradisional tersebut. Melalui fenomena ini, maka dapat kita tarik suatu hipotesa bahwa dengan adanya aglomerasi dan spesialisasi pedagang dan komoditi di pasar tradisional maka dapat mengubah perilaku konsumen dalam memenuhi kebutuhannya. Perlu diketahui bahwa adanya aglomerasi dan spesialisasi komoditas pasar tidak terlepas dari daya dukung sumber daya produksi di sekitar pasar tradisional namun juga secara historis juga terkait dengan perkembangan pengelompokkan permukiman sejak dari awal terbentuknya Kota Surakarta. Pada kasus ini, penulis mengasumsikan mengambil empat pasar tradisional sebagai sample dari 43 pasar tradisional di Kota Surakarta. Empat pasar ini adalah Pasar Gede, Pasar Kliwon, Pasar Triwindu, Pasar Depok.

Setelah menerapkan konsep christaller untuk melihat hierarki tingkat layanan pasar tradisional Kota Surakarta, kita mengetahui bahwa ada anomali perilaku konsumen atau masyarakat yang tidak selau memilih pasar yang terdekat karena adanya aglomerasi dan spesialisasi komoditi dalam pasar tradisional. Anomali ini selanjutnya dapat kita kembangkan untuk melihat latar belakang terjadinya aglomerasi dan spesialisasi pada masing-masing pasar tradisional dalam konteks ekonomi yang membawa kita pada konsep dan teori kedua yaitu teori kelas kreatif6. Dalam perspektif ekonomi, nammpaknya kebexradaan kelas kreatif dalam suatu kota menjadi penting dan kota wajib mempertahankan keberadaan mereka. Hal ini karena keberadaan kelas kreatif menghasilkan banyak pemikiran inovatif, dan kenyataannya inovasi7 merupakan faktor kunci untuk mempertahankan dan meningkatkan pertumbuhan suatu wilayah atau kota secara sosial-budaya dan ekonomis.

Implementasi teori kelas kreatif terhadap adanya aglomerasi dan spesialisasi komoditi yang akhirnya mempengaruhi pola perilaku konsumen yang akhirnya berdampak pada persebaran pasar tradisional Kota Surakarta adalah nampaknya dibalik adanya spesialisasi komoditi tersebut ada kelas kreatif yang mendorong terjadinya spesialisasi komoditi tersebut. Dengan menelusuri kelas kreatif yang mendorong adanya spesialisasi komoditi maka dalam hal ini kita dapat mengetahui dan mengidentifikasi komoditi setiap pasar

5

Jarak tertentu dalam kasus ini adalah pasar tradisional yang jaraknya lebih jauh, karena dalam pasar tradisional terjadi spesialisasi dan aglomerasi komoditas maupun pedagang yang ada.

6

Teori kelas kreatif adalah tenaga kerja yang menciptakan pengetahuan baru atau inovasi dan hal ini ditangkap secara spontan, informal, atau bahkan melalui intuisi saat mereka mengerjakan pekerjaan tertentu(non-formal). Dalam teori ini, Florida membagi kelas kreatif menjadi tiga golongan yaitu creative course; bohemian; profesional.

7

(4)

4

tradisional, ukuran luas lahan masing-masing pasar tradisional, dan daya tampung pedagang pada tiap pasar tradisional.

Pada tahap selanjutnya setelah mengetahui peran dan keterlibatan kelas kreatif dalam terbentuknya spesialisasi komoditas suatu pasar tradisional, maka dapat kita asumsikan bahwa dalam suatu pasar tradisional merupakan sebuah titik CBD8 yang baru dalam suatu kawasan(skala kecamatan9). Dalam hal ini maka dapat kita asumsikan bahwa pasar tradisional dalam setiap kecamatan di Kota Surakarta merupakan sebuah CBD baru dalam skala kecamatan tersebut(mikro), sehingga hal ini akan dapat kita kembangkan dengan mengkajinya melalui teori bid-rent untuk mengetahui pengaruh pasar tradisional sebagai kawasan CBD skala kecamatan maupun skala makro(kota) terhadap flukuasi harga sewa lahan perkotaan Kota Surakarta.

Melihat adanya pengembangan untuk mengetahui fluktuasi harga sewa lahan perkotaan, maka konsep dan teori ketiga adalah teori bid-rent10 .Melalui teori ini, penulis dapat menggambarkan tentang lokasi optimal perdagangan dalam skala mikro(kecamatan) maupun skala makro(kota), sehingga pada akhirnya dapat diketahui utility function maksimal dari suatu lokasi pasar tradisional. Ketika lokasi pasar tradisional dalam konteks skala kecamatan ataupun kota mempunyai utility function maksimal maka dapat diasumsikan bahwa pasar tersebut sudah memiliki lokasi yang tepat.

Pada dasarnya, fluktuasi sewa tanah ditentukan oleh jumlah permintaan dan penawaran. Sewa tanah juga bervariasi menurut ketersediaan prasarana jalan, kondisi aksesbilitasnya, topografis suatu daerah. Dalam hal ini, secara teoritis maka sewa tanah adalah balas jasa terhadap penggunaan sebidang lahan dan biasanya harga sewa tanah akan semakin tinggi apabila berlokasi dekat dengan pusat CBD. Melihat teori sewa lahan yang sedemikian rupa, maka jika pasar tradisional adalah CBD dalam skala kecamatan maupun Kota Surakarta, maka dapat kita simpulkan bahwa semakin dekat suatu lahan berlokasi dengan pasar tradisional sebagai CBD maka harga sewanya akan semakin mahal. Hal ini akan berdampak pada pola penggunaan lahan sekitar pasar tradisional yang banyak berubah atau alih fungsi lahan. Intinya, fluktuasi sewa lahan perkotaan akan selalu berbanding lurus dengan hukum permintaan dan penawaran11 yang berlaku secara umum dalam pasar barang dan jasa.

8

CBD atau daerah pusat kegiatan adalah bagian kecil dari kota yang merupakan pusat dari segala kegiatan politik, sosial-budaya,ekonomi, dan teknologi. Biasanya CBD merupakan zona dengan derajat aksesibilitas tinggi.

9

Kota Surakarta mempunyai lima kecamatan yaitu Kec. Banjarsari; Kec. Jebres; kec. Laweyan; Kec. Pasar Kliwon; Kec. Serengan.

10

Teori bid-rent atau teori penawaran sewa adalah teori tentang kemampuan seseorang pengusaha atau petani untuk membayar sewa tanah yang digunakannya baik untuk kegiatan pertanian, pendirian rumah maupun untuk industri.

11

(5)

5

III. DESKRIPSI

Menurut Peraturan Presiden nomor 112 tahun 2007 pasar tradisional adalah pasar yang dibangun dan dikelola oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Swasta, BUMN dan BUMD, termasuk kerjasama dengan swasta yang dimana toko, kios, tenda dimiliki atau dikelola oleh pedagang kecil-menengah dengan usaha dan modal skala kecil dan proses jual beli barang dagangan melalui tawar menawar. Pasar tradisional merupakan subjek penelitian dari penulisan ini, terlebih khusus mengenai permasalahan ekonomi yang kompleks dan penentuan lokasi pasar tradisional yang mempengaruhi harga sewa lahan sekitar pasar tersebut. Sementara objek dari penelitian ini adalah pola perilaku timbal balik pasar tradisional dan masyarakat Kota Surakarta dalam konteks ekonomi.

Perolehan data dalam penulisan ini dilakukan melalui studi pustaka dan literatur yang berkaitan tentang pasar tradisional, perekonomian, dan pertumbuhan Kota Surakarta.Seperti yang telah dijelaskan diatas, untuk melihat tingkat layanan pasar tradisional berdasarkan teori central place maka diperlukan data keletakan pasar tradisional Kota Surakarta.

Peta Keletakan Pasar Tradisional Kota Surakarta Sumber: Bappeda Kota Surakarta

(6)

6

Melalui deskripsi komparatif tentang asumsi dasar teori central place terhadap realitas pola perilaku konsumen masyarakat Kota Surakarta yang sangat berbeda mendorong penulis untuk menarik hipotesa bahwa ada aglomerasi dan spesialisasi komoditi pada masing-masing pasar tradisional Kota Surakarta. Hipotesis tersebut dikembangkan lebih lanjut dengan membandingkan dengan teori dan konsep kelas kreatif Richard Florida. Data untuk deskripsi komparatif antara hipotesis penulis dengan konsep kelas kreatif Richard Florida didapatkan melalui studi literatur dari jurnal Muhammad Wahyuddin yang berjudul Analisis Spasial Ekonomi Kreatif Beroientasi Ekspor Kota Surakarta.

Penjelasan jurnal tersebut pada intinya dapat membantu penulis dalam mengetahui gambaran deskripsi komparatif antara konsep kelas kreatif terhadap kondisi pasar tradisional Kota Surakarta. Adanya anomali yang tidak relevan dengan teori central place

ternyata dapat dijelaskan melalui konsep kelas kreatif dimana latar belakang terjadinya aglomerasi dan spesialisasi komoditi adalah adanya golongan masyarakat kelas kreatif pada masing-masing daerah di Kota Surakarta. Melalui studi literatur dan pustaka, ternyata adanya perbedaan golongan kelas kreatif pada masing-masing daerah di Kota Surakarta secara kronologi-historis terjadi akibat pengaturan permukiman dari pihak Keraton Kasunanan dan Pemerintah Kolonial Belanda.

Secara detail, dengan mengetahui perbedaan kelas kreatif pada masing-masing daerah Kota Surakarta yang berdampak pada adanya spesialisasi dan aglomerasi komoditi dan pedagang di pasar tradisionalnya, lebih jauh penulis dapat mengetahui profil setiap pasar tradisional12. Dengan mengetahui data profil setiap pasar tradisional, maka otomatis dapat diketahui pula karakteristik pasar tersebut. Dalam hal ini penulis mengkaitkan karakteristik pasar tradisional yang telah ditentukan terhadap harga sewa lahan dan relevansinya dengan teori bid-rent yang telah dipelajari. Hal ini berangkat dengan adanya asumsi penulis bahwa pasar tradisional merupakan CBD bagi skala mikro atau kecamatan13.

Perolehan data dalam deskripsi komparatif pasar tradisional sebagai CBD terhadap teori

bid-rent dilakukan melalui studi pustaka. Dengan dasar teori tersebut, maka seharusnya semakin dekat dengan pasar tradisional maka harga sewa lahan akan semakin mahal, sehingga dapat dikatakan teori bid-rent berlaku dalam realitas fenomena pengaruh keberadaan pasar tradisional terhadap harga sewa lahan di Kota Surakarta. Deskripsi komparatif antara realitas dan ketiga konsep tersebut diperjelas pada bagian diskusi.

12

Profil pasar meliputi ukuran pasar, luas pasar, daya tampung pasar, identifikasi komoditas, spesialisasi komoditas.

13

(7)

7

IV. DISKUSI

Pada tulisan ini, penulis mencoba mengkaitkan lokasi empat pasar tradisional terhadap teori Christaller yang menggambarkan tingkat layanan suatu pasar. Pasar merupakan salah satu bentuk keramaian dan interaksi antara manusia dimana sebagai salah satu tempat dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia, serta terdapat aktivitas perdagangan. Pasar yang menjadi pokok kajian dalam penulisan ini adalah Pasar Gede di Kecamatan Jebres; Pasar Kliwon di Kecamatan Pasar Kliwon; Pasar Triwindu dan Pasar Depok di Kecamatan Banjarsari. Pada konsep dan teori central place terhadap kajian keempat pasar tradisional adalah memperlihatkan bagaimana tingkat layanan antar pasar tersebut memicu ketimpangan spasial yang didorong karena adanya spesialisasi dan aglomerasi komoditi.

Dasar untuk memahami central place theory sesungguhnya berasal dari konsep aglomerasi ekonomi14(Iwan Nugroho, 2004: 30). Berhubung kajian dalam penulisan ini adalah pasar tradisional, maka dalam teori CPT penulis menggunakan hierarki tempat sentral tiga(k=3)15. Teori inti dan implikasinya pada penetapan lokasi pasar secara pragmatis adalah sekurang-kurangnya pembangunan atau lokasi pasar harus berada di kawasan yang dapat melayani dan berpengaruh pada 1/3 penduduk dari enam kawasan yang ada di sekitarnya. Secara teoritis, maka lokasi pasar tradisional harus memperhatikan; jalan dan sarana angkutan(aksesbilitas), tempat parkir, dan barang yang diperjual-belikan(komoditi). Kesimpulan teori CPT dengan hierarki k=3 ini adalah adanya komoditi yang jangkauan pemasarannya cukup luas, sedang, dan kecil. Fenomena tumpang tindih dalam hierarki k=3 hanya terjadi pada komoditi yang dipasarkan pada daerah yang berbeda, sehingga Christaller mengatakan bahwa berbagai jenis barang pada orde yang sama cenderung bergabung pada pusat dari wilayahnya sehingga pusat itu menjadi lokasi konsentrasi kota.

Dengan pernyataan Christaller tersebut, maka dapat diasumsikan bahwa pasar akan selalu membentuk CBD dan hal ini dikarenakan teori CPT yang berangkat dari orientasi pasar(market oriented) sehingga lokasi dan bentuk pasar akan sangat efisien dalam hal jangkauan pasar dan tingkat layanannya sehingga teori CPT hierarki k=3 dikenal dengan sebutan “kasus pasar optimal”. Kenyataannya perilaku pasar dan masyarakat Kota Surakarta sebagai konsumen sangatlah jauh dari paparan teoritis CPT hierarki k=3. Hal ini dapat dikarenakan perbedaan budaya dan karakteristik geografis di Indonesia(Kota Surakarta) dengan Jerman(tempat dimana Christaller mencetuskan teori CPT).

14

Aglomerasi ekonomi adalah perolehan keuntungan ekonomi akibat dua atau lebih produsen(kegiatan, pabrik, tempat usaha) bergabung dan berdekatan secara spasial. Contoh: bergabungnya jasa parkiran dengan perkantoran, pertokoan,dll.

15

(8)

8

Secara implementatif, tidak relevannya teori CPT terhadap kondisi pasar tradisional Kota Surakarta dapat diuraikan sebagai berikut. Pasar tradisional Kota Surakarta secara historis-kronologis ada beberapa pasar yang terbentuk terlebih dahulu, barulah kemudian menjadi kawasan CBD. Fenomena inilah yang menarik untuk dikaji lebih lanjut, karena awal mula terbentuknya pasar akan berpengaruh pada pola perilaku pasar dan konsumen yang dimana dalam teori CPT dikatakan bahwa konsumen akan selalu memilih pasar dengan jarak minimum. Pemilihan pasar dengan jarak minimum oleh masyarakat Surakarta sebagai konsumen nyatanya tidak relevan dengan realita, hal ini terlihat dengan adanya spesialisasi dan aglomerasi pada beberapa pasar tradisional Kota Surakarta yang menjual komoditas tertentu(homogen) dengan jarak tertentu(lebih jauh). Hal inilah yang pada akhirnya memicu masyarakat Kota Surakarta rela menempuh jarak tertentu(lebih jauh) untuk mendapatkan suatu barang komoditi tertentu.

Pada dasarnya, dari empat pasar tradisional yang menjadi fokus kajian, Pasar Gedhe16 dan Pasar Triwindu(Windujenar)17 secara historis merupakan pasar telah terbentuk sebelum kawasan pasar tersebut menjadi CBD. Peran Pasar Gedhe adalah sebagai pasar induk yang melayani grosir dan eceran dengan komoditas yang heterogen18, dan pasar ini mampu melayani kebutuhan seluruh masyarakat Kota Surakarta dan daerah sekitarnya(Soloraya). Sedangkan untuk Pasar Kliwon dan Pasar Depok secara historis merupakan pasar baru yang dibangun oleh pemkot Surakarta, sehingga terletak di kawasan CBD pada daerahnya. Inti dari tidak relevannya teori CPT dalam pasar tradisional Surakarta adalah adanya komoditi yang homogen, dalam hal ini adalah Pasar Triwindu dengan komoditas barang antik dan Pasar Depok dengan komoditas fauna yang memicu pola perilaku masyarakat yang berbeda dengan teori CPT.

Secara lebih jauh, untuk memahami alasan adanya aglomerasi pedagang dan komoditas pasar yang homogen pada beberapa pasar tradisional maka penulis mencoba mengkaitkannya dengan teori kelas kreatif Richard Florida. Inti dari teori ini adalah pentingnya mempertahankan golongan masyarakat kelas kreatif dalam suatu kota, hal ini dikarenakan kelas kreatif mempunyai inovasi yang mampu menggerakkan dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi wilayah suatu kota(PDRB). Implementasi dari teori ini adalah adanya golongan masyarakat kelas kreatif berupa kelompok perajin, seniman, pengusaha dan abdi dalem keraton yang bermukim mengelompok pada daerah tertentu di wilayah Kota Surakarta.

16

Pasar Gedhe didirikan oleh Pakubuwana X pada tahun 1923 dengan luas 10.421 hektare.

17

Pasar Windujenar didirikan oleh Mangkunegaran VII pada tahun 1939.

18

(9)

9

Pada dasarnya, teori Kelas Kreatif menyatakan bahwa pola konsumsi dan pekerjaan masyarakat kelas kreatif akan cenderung berkomunal ke kota yang lebih besar yang dimana kota tersebut memiliki layanan konsumsi budaya dan fasilitas infrastruktur perkotaannya lebih maju dan komprehensif sehingga dapat menunjang dan mewadahi pemikiran kreatif para anggota kelas kreatif. Teori kelas kreatif dalam penerapannya kepada fenomena perilaku konsumen dan pasar tradisional Kota Surakarta sangatlah relevan, terutama dalam hal mengetahui adanya aglomerasi komoditi dalam pasar. Relevansi teori kelas kreatif ini terhadap kondisi masyarakat Kota Surakarta wajar terjadi karena objek dari teori kelas kreatif merupakan masyarakat yang mempunyai profesi pekerjaan yang bersifat universal19.

Pada dasarnya teori kelas kreatif menekankan pada peran pentingnya inovasi dan ketersediaan infrastruktur sebuah kota. Dalam hal ini, menurut pengamatan dan studi literatur historis, penulis sebagai bagian warga masyarakat Kota Surakarta mengasumsikan bahwa adanya kebijakan Keraton Kasunanan, Pura Mangkunegaran, dan Pemerintah Kolonial Hindia-Belanda pada awal mula pembentukan Kota Surakarta tentang pengelompokkan permukiman20 telah berdampak pada pola perilaku masyarakat dalam menimbulkan masyarakat kelas kreatif yang berbeda-beda pada masing-masing daerah. Adanya pengelompokkan permukiman berbasis etnis pada masa kolonial, dan berkembang setelah masa kemerdekaan menjadi pengelompokkan permukiman berdasarkan tingkat pendapatan pada nantinya akan berkaitan dengan teori bid-rent.

Secara historis, adanya kelas kreatif di Kota Surakarta tidak terlepas dari adanya kebijakan pengelompokkan permukiman pada masa kolonial yang secara tidak langsung membentuk kearifan lokal sehingga muncullah masyarakat kelas kreatif pada masing-masing daerah tersebut. Secara ekonomi, kemunculan kelas kreatif ini memicu terjadinya pasar dengan komoditi homogen, karena masing-masing daerah mempunyai komoditi unggulan yang berbeda21. Keunggulan komoditi yang berbeda memicu adanya spesialisasi pasar dan aglomerasi pedagang, dan secara makro hal ini berdampak pada fluktuasi nilai ekspor Kota Surakarta. Dengan adanya tabel komoditi unggulan dan realisasi ekspor dapat menjadi bukti bahwa pertumbuhan ekonomi Kota Surakarta dipengaruhi oleh aktivitas perdagangan yang dimana dalam aktivitas tersebut ada peran penting masyarakat kelas kreatif dalam membentuk komoditas unggulan pada masing-masing daerah Kota Surakarta. Berikut adalah gambar komoditi unggulan ekspor Kota Surakarta dan relaisasi ekspor Kota Surakarta menurut komoditi tahun 2015.

19

Pekerjaan dan profesi kelas kreatif bersifat universal dalam hal ini adalah seniman, dokter, insinyur, musisi, pelukis, dll yang hampir terdapat disetiap wilayah kota di seluruh kota di dunia.

20

Pada masa kolonialisme, penduduk eropa berada di pusat kota dan sepanjang jalan slamet riyadi; penduduk cina,arab bermukim di timur benteng Vastenburg, dan penduduk pribumi tersebar ke area pedalaman kota.(Sajid, R.M., 1984. Babad Sala).

21

(10)

10

Sumber:Disperindag Kota Surakarta

Mohammad Wahyuddin dalam jurnal penelitian berjudul Analisis Spasial Ekonomi Kreatif Berorientasi Ekspor Kota Surakarta telah meneliti berbagai industri kreatif dalam skala kecamatan, dan menyimpulkan bahwa setiap kecamatan mempunyai keunggulan tersendiri dalam menghasilkan produk ekonomi kreatif. Kesimpulan ini terlihat pada tabel diatas dimana setiap kecamatan memiliki perbedaan keunggulan komoditas. Hal ini berdampak pada pasar tradisional, contohnya adalah pasar depok sebagai pasar satwa dengan komoditas dominan satwa burung. Pasar depok yang terletak di Kecamatan Jebres, pada akhirnya berkontribusi besar pada realisasi nilai ekspor Kota Surakarta. Dalam hal ini dikarenakan perilaku warga masyarakat Kota Surakarta dan sekitarnya yang rela menempuh jarak lebih jauh dari tempat tinggalnya untuk mendapatkan burung yang akan dibelinya. Fenomena ini juga berlaku dalam pasar triwindu sebagai pasar barang antik di Kota Surakarta.

Perlu diketahui bahwa implementasi teori kelas kreatif tidak relevan jika diterapkan pada realita pola perilaku di Pasar Gedhe dan Pasar Kliwon. Hal ini dikarenakan komoditas kedua pasar tersebut berupa barang kebutuhan sehari-hari dan heterogen. Kedudukan Pasar Gedhe sebagai pasar induk dan Pasar Kliwon sebagai pasar lokal yang melayani Kecamatan Pasar Kliwon menjadikan peran kelas kreatif dalam pasar ini tidak terlalu penting, sehingga kelas kreatif(seniman, pengusaha) akan cenderung beraglomerasi memasarkan barang produksinya di pasar tertentu. Pada intinya, telah terbukti bahwa teori kelas kreatif relevan untuk melihat pola perilaku pasar dengan komoditas homogen atau khusus dalam suatu kota.

(11)

11

Berdasarkan asumsi tersebut, maka keberadaan setiap pasar tradisional dapat disimpulkan akan mempengaruhi harga sewa lahan pada daerah sekitarnya yang berdampak pula pada harga sewa lahan perkotaan Kota Surakarta secara keseluruhan. Dalam hal ini, penulis mencoba mengkaitkan fenomena tersebut dengan teori bid-rent.

Pada dasarnya teori bid-rent secara pragmatis mengatakan bahwa semakin mendekati pusat kota atau CBD maka harga sewa lahan akan semakin mahal. Secara teoritis, teori ini mengkaitkan perilaku perusahaan yang rela mengorbankan biaya sewa yang lebih mahal untuk berada dalam pusat kota dan untuk memaksimalkan keuntungannya mereka cenderung membangun secara vertikal berupa gedung bertingkat. Pada intinya, menurut pengamatan penulis teorii bid-rent sangat relevan dan berlaku untuk melihat pengaruh keberadaan pasar tradisional terhadap harga sewa lahan daerah sekitarnya dalam skala kecamatan(mikro). Tetapi dalam skala makro dengan konteks seluruh wilayah Kota Surakarta, teori ini tidaklah relevan. Hal ini dikarenakan harga sewa lahan Kota Surakarta ternyata mengikuti pola jalan raya, dimana semakin dekat suatu lahan dengan jalan utama maka harga sewa lahan tersebut semakin mahal. Berikut harga sewa lahan Kota Surakarta menurut Badan Pertanahan Nasional:

Pada akhirnya, fenomena fluktuasi harga sewa tanah Kota Surakarta yang beroientasi pada jalan utama kota dapat disimpulkan bahwa aksesbilitas22 merupakan faktor terpenting yang mempengaruhi pola perilaku dan aktivitas masyarakat Kota Surakarta. Dalam skala mikro(kecamatan) pola penggunaan lahan di sekitar pasar tradisional memang telah terjadi alih fungsi lahan menjadi kawasan pertokoan, bank, dan perkantoran. Pada intinya, implementasi teori bid-rent terhadap fluktuasi harga sewa lahan terlepas dalam skala makro-mikro akan selalu berbanding lurus dengan hukum permintaan dan penawaran yang berlaku secara umum dalam pasar barang dan jasa.

22

(12)

12

V. KESIMPULAN

Pada intinya dari semua penjelasan dan fenomena diatas yang telah diuraikan, penulis mencoba menghubungkan bagaimana konsep teori lokasi yang berupa central place theory

dan teori kelas kreatif akan mempengaruhi konsep teori bid-rent. Dalam kasus ini adalah keletakan pasar tradisional di Kota Surakarta yang dengan komoditi sedemikian rupa, serta keletakannya secara administrasi tersebar di beberapa kecamatan Kota Surakarta pada akhirnya akan mempengaruhi fluktuasi harga sewa lahan baik dalam skala kecamatan maupun pada skala perkotaan. Oleh karena itu maka secara mikro, kajian ini melihat bagaimana pengaruh teori central place terhadap pola perilaku pasar tradisional dalam menentukan lokasi pasar dan preference masyarakat dalam menentukan pilihan dimana mereka akan berbelanja.

Adanya anomali pola perilaku masyarakat yang menyebabkan tidak relevannya teoriCPT ternyata disebabkan oleh adanya aktivitas dan peran produksi dari golongan masyarakat kelas kreatif khususnya profesi seniman, pengrajin, dan pengusaha bermodal besar yang berperan terhadap keberadaan pasar dengan komoditas khusus(homogen). Pemkot Surakarta dalam hal ini perlu menyadari dan membangun infrastruktur dan suasana perkotaan yang nyaman dan aman untuk mempertahankan masyarakat kelas kreatif untuk tetap tinggal dan mampu berinovasi lebih lanjut di dalam Kota Surakarta. Perlunya penyediaan infrastruktur perkotaan tersebut mengingat pentingnya mempertahankan keberadaan masyarakat kelas kreatif, karena terlepas adanya komoditas pasar tradisional yang homogen dan heterogen secara keseluruhan semua pasar tradisional berkontribusi besar dalam PAD dan PDRB Kota Surakarta.

(13)

13

VI. REFRENSI

BPS Kota Surakarta. 2016. Kota Surakarta Dalam Angka 2016. Surakarta: Badan Pusat Statistik Kota Surakarta.

McCann Philip. 2013. Modern Urban and Regional Economics. United Kingdom: Oxford University Press.

O’Sullivan, Arthur. 2012. Urban Economics Eight Edition. United States of America: Mc Graw Hill.

Sigid, Aditya Nugraha. 2013. Analisis Pola Persebaran Pasar Tradisional Dan Pasar Modern Di Kota Surakarta Dengan Aplikasi Sistem Informasi Geografis(SIG). Surakarta: Universitas Muhamadiyah Surakarta.

(14)

13

I. LAMPIRAN

Lampiran 1. Peta Pasar Triwindu(Windujenar)

(15)

14 Lampiran 3. Peta Pasar Gedhe

(16)

15

Lampiran 5. Jumlah Pedagang Kota Surakarta Tahun 2011-2015

Referensi

Dokumen terkait

Penyusunan skripsi yang berjudul “Implementasi Program Revitalisasi Pasar Tradisional di Kota Surakarta (Studi Kasus Pasar Ngemplak Surakarta)” ini merupakan tugas akhir penulis

ke tata ruang dalam Pasar Seni Tradisional Modern di Kompleks Candi. Prambanan adalah skala pendek, skala menengah dan

Judul Skripsi : Kajian Persebaran Spasial Pasar Tradisional Di Kecamatan Karanganyar, Matesih dan Tawangmangu Kabupaten Karanganyar Tahun 2016 (Sebagai Bahan

Setelah melakukan survei di pasar tradisional Kecamatan Medan Baru Kota Medan, di kecamatan ini terdapat 3 pasar tradisional diantaranya yaitu Pasar Pringgan yang terdiri

Sedangkan kinerja Dinas Pengelolaan Pasar Kota Surakarta dalam mengelola sarana dan prasarana pasar tradisional adalah hasil dari seluruh rangkaian kegiatan maupun program

Sedangkan kinerja Dinas Pengelolaan Pasar Kota Surakarta dalam mengelola sarana dan prasarana pasar tradisional adalah hasil dari seluruh rangkaian kegiatan maupun program

Dalam merumuskan strategi pengembangan Pasar tradisional di Kota Surakarta hal yang harus diperhatikan adalah jenis barang dagangan yang menjadi kekhasan lokal

Hal ini memudahkan pemerintah daerah kecamatan dalam melakukan pengelolaan pasar tradisional yang ada di Kecamatan Bontolempangan, seperti yang disampaikan oleh kepala pasar bahwa,