• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab III - Page 1 of 54 - DOCRPIJM 1501517555BAB III

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Bab III - Page 1 of 54 - DOCRPIJM 1501517555BAB III"

Copied!
54
0
0

Teks penuh

(1)

Bab III - Page 1 of 54 BAB III

Arahan Kebijakan dan Rencana Strategis Infrastruktur Bidang Cipta Karya

3.1 Arahan Pembangunan Bidang Cipta Karya dan Arahan Penataan Ruang

3.1.1 Arahan Pembangunan Bidang Cipta Karya, berisikan arahan

pembangunan berdasarkan Perpres 2 Tahun 2015 tentang RPJMN 2015-2019 dan Renstra Ditjen Cipta Karya 2015-2015-2019.

(2)

Bab III - Page 2 of 54 Gambar 3.2 Visi & Misi Renstra 2015 - 2019

(3)

Bab III - Page 3 of 54 Arah Pengembangan Rencana tata ruang yang diakomodasikan dalam RTRW Kabupaten Minahasa Tenggara adalah untuk :

1. Mempersiapkan dukungan ruang bagi pertambahan penduduk dan

kegiatannya selama 20 (dua puluh) tahun ke depan.

Tujuan ini dapat diwujudkan melalui alokasi ruang dengan mempertimbangkan daya-dukung dan daya-tampung wilayah dan lingkungan, struktur dan pola kegiatan, distribusi demografi menurut ruang dan kegiatannya, serta kebijakan Nasional dan Provinsi yang perlu diakomodasikan di Kabupaten Minahasa Tenggara. Dukungan ruang untuk kegiatan yang dimaksud meliputi: ruang untuk kegiatan penunjang perumahan dan permukiman (sarana pendidikan, ibadah, kesehatan, perdagangan/niaga, pemerintahan); ruang untuk kegiatan industri; kegiatan pariwisata serta kegiatan pertanian dan budidaya lain.

2. Mempersiapkan dukungan ruang bagi infrastruktur (termasuk utilitas)

kawasan kabupaten untuk 20 (dua puluh) tahun ke depan. Tujuan ini dapat diwujudkan melalui pengembangan/peningkatan dan pemeliharaan dari infrastruktur kawasan yang meliputi : prasarana transportasi, sumberdaya air, telekomunikasi, dan energi.

3. Merencanakan struktur ruang dan pola ruang untuk mengurangi

disparitas perkembangan dan pertumbuhan antar bagian wilayah. Tujuan ini dapat diwujudkan melalui perkuatan setiap bagian wilayah sesuai potensi dan kendala perkembangan yang dihadapi, terutama antara kawasan pedalaman dan perdesaan dengan kawasan di pesisir Kabupaten Minahasa Tenggara. Pengurangan disparitas tidak dimaksudkan sebagai pencapaian perkembangan dengan tingkat yang sama di antara seluruh bagian wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara, namun ditujukan untuk memperkuat daya saing masing-masing bagian wilayah secara proporsional sesuai potensi sumberdaya alam dan posisi geografis yang dimilikinya. Dalam hal ini, ketersediaan prasarana dan sarana produksi dan distribusi bagi bagian wilayah dengan tingkat perkembangan rendah menjadi signifikan, dimana upaya penyediaannya menjadi tanggungjawab Pemerintah Pusat, Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara, dan Pemerintah Kabupaten Minahasa Tenggara.

4. Merencanakan pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan

kemampuan atau daya dukung setiap bagian wilayah.

(4)

Bab III - Page 4 of 54 pembangunan, namun tetap memperhatikan daya-dukung lingkungan sekitar.

5. Merencanakan pemanfaatan ruang dengan mempertimbangkan

kelestarian lingkungan.

Tujuan ini dapat diwujudkan melalui pengelolaan dan pelestarian kawasan berfungsi lindung dan pengendalian kegiatan budidaya di Kabupaten Minahasa Tenggara. Kebijakan pembangunan yang berkelanjutan di Kabupaten Minahasa Tenggara menjadi landasan utama bagi pelaksanaan pengelolaan lingkungan secara taat asas. Oleh karena kawasan berfungsi lindung merupakan determinan dalam pemanfaatan ruang wilayah, maka pengembangan dan pengalokasian ruang budidaya dilakukan secara komplementer terhadap delineasi kawasan berfungsi lindung yang disepakati oleh para pihak.

Tujuan, kebijakan, dan strategi penataan ruang wilayah

Tujuan

Bertolak dari arahan pengembangan di atas, maka tujuan penataan ruang Kabupaten Minahasa Tenggara adalah:

1. Ruang wilayah kabupaten yang aman, nyaman, produktif, dan berkelanjutan 2. Keharmonisan antara lingkungan alam dan lingkungan buatan;

3. Keterpaduan pemanfaatan ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi

4. Keterpaduan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah

5. Kseimbangan dan keserasian perkembangan antarwilayah kecamatan; 6. Keseimbangan dan keserasian kegiatan antarsektor

7. Keseimbangan dan keserasian perkembangan antara wilayah kota dan pedesaan

Kebijakan dan Strategi Dasar

Sesuai dengan kebijakan Nasional penataan ruang, serta visi, misi, dan tujuan pembangunan Kabupaten Minahasa Tenggara, maka kebijakan dasar penataan ruang wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara ditetapkan sebagai berikut :

(5)

Bab III - Page 5 of 54

b. Memprioritaskan pengembangan pusat-pusat kegiatan primer yang menyebarkan pengaruh kegiatan dibawahnya.

c. Mempertahankan kawasan lindung sesuai dengan Kepres No. 32 tahun 1990 tentang Pengelolaan Kawasan Lindung.

d. Mengembangkan kawasan budidaya sesuai dengan kebutuhan, potensi,dan kesesuaian lahan dengan memperhatikan Kepres No. 7 tahun 1989 tentang Pengelolaan Kawasan Budidaya.

e. Menetapkan kawasan penghasil komoditi unggulan. Potensi perekonomian wilayah dengan komoditi unggulan dikembangkan dalam konteks menjangkau peluang pasar yang lebih luas, terutama di kawasan Indonesia bagian Timur.

f. Membuka peluang bagi penyelesaian konflik kepentingan pemanfaatan ruang, baik antara kepentingan Provinsi dan Kabupaten; antar sektor; dan antara fungsi konservasi dengan fungsi budidaya.

g. Membatasi pemanfaatan ruang di daerah permukiman yang berada di kawasan lindung.

Strategi dasar penataan ruang wilayah di Kabupaten Minahasa Tenggara ditetapkan sebagai berikut :

1. Penetapan neraca lahan secara seimbang sesuai dengan amanat UU No. 26 tahun 2007 tentang penataan ruang dan demi kelestarian lingkungan hidup. 2. Pengalokasian ruang bagi kegiatan-kegiatan untuk memperkuat kinerja

Kecamatan Ratahan sebagai pusat utama/primer Kabupaten Minahasa Tenggara. Pusat utama Minahasa Tenggara akan didukung secara hirarkis oleh pusat-pusat lainnya pada ordinasi yang lebih rendah.

3. Pengalokasian ruang bagi pengembangan sektor-sektor unggulan.

4. Pengalokasian ruang berupa sentra-sentra produksi pangan bagi kegiatan-kegiatan untuk membangun ketahanan pangan di Kabupaten Minahasa Tenggara.

5. Pengalokasian ruang untuk infrastruktur kawasan.

Penetapan kawasan strategis kabupaten yang terdiri dari : kawasan strategis pemerintahan di Ratahan, kawasan strategis kelestarian lingkungan hidup di sekitar gunung soputan meliputi DAS Ranau Yapo.

Kebijakan dan Strategi Pengembangan Struktur Ruang Wilayah Kabupaten

(6)

Bab III - Page 6 of 54 a. Peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi

wilayah kabupaten yang merata dan berhierarki; dan

b. Peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan prasarana transportasi, telekomunikasi, energi, dan sumber daya air yang terpadu dan merata di seluruh wilayah kabupaten

2) Strategi untuk peningkatan akses pelayanan perkotaan dan pusat pertumbuhan ekonomi wilayah meliputi:

a. Menjaga keterkaitan antar kawasan kecamatan, antara kawasan perkotaan dan kawasan perdesaan, serta antara kawasan perkotaan dan wilayah di sekitarnya;

b. Mengembangkan pusat pertumbuhan baru di kawasan yang belum terlayani oleh pusat pertumbuhan;

c. Mengendalikan perkembangan kecamatan-kecamatan pantai; dan

d. Mendorong kawasan perkotaan dan pusat pertumbuhan agar lebih kompetitif dan lebih efektif dalam pengembangan wilayah kecamatan di sekitarnya. 3) Strategi untuk peningkatan kualitas dan jangkauan pelayanan jaringan

prasarana meliputi:

a. Meningkatkan kualitas jaringan prasarana dan mewujudkan keterpaduan pelayanan transportasi darat, laut, dan udara;

c. Meningkatkan jaringan energi untuk memanfaatkan energy terbarukan dan tak terbarukan secara optimal serta mewujudkan keterpaduan sistem penyediaan tenaga listrik; dan

d. Meningkatkan kualitas jaringan prasarana serta mewujudkan keterpaduan sistem jaringan sumber daya air.

Kebijakan dan Strategi Pengembangan Pola Ruang Kabupaten a. Kebijakan dan strategi pengembangan kawasan lindung kabupaten; dan b. Kebijakan dan Strategi pengembangan kawasan budidaya kabupaten c. Kebijakan dan Strategi pengembangan kawasan strategis kabupaten

1) Kebijakan pengembangan kawasan lindung kabupaten meliputi :

a. Pemeliharaan dan perwujudan kelestarian fungsi lingkungan hidup; dan b. Pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan

kerusakan lingkungan hidup.

(7)

Bab III - Page 7 of 54 a. Menetapkan kawasan lindung di ruang darat, ruang laut, dan ruang udara,

termasuk ruang di dalam bumi;

b. Mewujudkan kawasan berfungsi lindung dalam satu wilayah kabupaten dengan luas paling sedikit 30% (tiga puluh persen) dari luas kabupaten sesuai dengan kondisi ekosistemnya; dan

c. Mengembalikan dan meningkatkan fungsi kawasan lindung yang telah menurun akibat pengembangan kegiatan budi daya, dalam rangka mewujudkan dan memelihara keseimbangan ekosistem wilayah.

3) Strategi untuk pencegahan dampak negatif kegiatan manusia yang dapat menimbulkan kerusakan lingkungan hidup meliputi:

a. Menyelenggarakan upaya terpadu untuk melestarikan fungsi lingkungan hidup;

b. Melindungi kemampuan lingkungan hidup dari tekanan perubahan dan/atau dampak negatif yang ditimbulkan oleh suatu kegiatan agar tetap mampu mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lainnya;

c. Melindungi kemampuan lingkungan hidup untuk menyerap zat, energi, dan/atau komponen lain yang dibuang ke dalamnya;

d. Mencegah terjadinya tindakan yang dapat secara langsung atau tidak langsung menimbulkan perubahan sifat fisik lingkungan yang mengakibatkan lingkungan hidup tidak berfungsi dalam menunjang pembangunan yang berkelanjutan;

e. Mengendalikan pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana untuk menjamin kepentingan generasi masa kini dan generasi masa depan;

f. Mengelola sumber daya alam tak terbarukan untuk menjamin pemanfaatannya secara bijaksana dan sumber daya alam yang terbarukan untuk menjamin kesinambungan ketersediaannya dengan tetap memelihara dan meningkatkan kualitas nilai serta keanekaragamannya; dan

g. Mengembangkan kegiatan budidaya yang mempunyai daya adaptasi bencana di kawasan rawan bencana.

(1) Kebijakan pengembangan kawasan budi daya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf b meliputi:

a. Perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan antarkegiatan budi daya; dan

(8)

Bab III - Page 8 of 54 (2) Strategi untuk perwujudan dan peningkatan keterpaduan dan keterkaitan

antarkegiatan budi daya meliputi:

a. Menetapkan kawasan budi daya yang memiliki nilai strategis kabupaten untuk pemanfaatan sumber daya alam di ruang darat, ruang laut, dan ruang udara, termasuk ruang di dalam bumi secara sinergis untuk mewujudkan keseimbangan pemanfaatan ruang wilayah kabupaten;

b. Mengembangkan kegiatan budi daya sektor unggulan khususnya di dalam kawasan pedesaan beserta prasarana secara sinergis dan berkelanjutan untuk mendorong pengembangan perekonomian kawasan dan wilayah sekitarnya; c. Mengembangkan kegiatan budi daya untuk menunjang aspek politik,

pertahanan dan keamanan, sosial budaya, serta ilmu pengetahuan dan teknologi;

d. Mengembangkan dan melestarikan kawasan budi daya pertanian pangan diwilayah pedesaan untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional; dan e. Mengembangkan pulau-pulau kecil dengan pendekatan gugus pulau untuk

meningkatkan daya saing dan mewujudkan skala ekonomi.

(3) Strategi untuk pengendalian perkembangan kegiatan budi daya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tamping lingkungan meliputi:

a. Membatasi perkembangan kegiatan budi daya terbangun di kawasan rawan bencana untuk meminimalkan potensi kejadian bencana dan potensi kerugian akibat bencana;

b. Pada kawasan yang telah ditetapkan sebagai kawasan bencana, maka diberlakukan kawasan penyangga selebar 100 m mengelilingi batas kawasan c. Mengembangkan ruang terbuka hijau dengan luas paling sedikit 30% (tiga

puluh persen) dari luas kawasan perkotaan; dan

d. Mengembangkan kegiatan budidaya yang dapat mempertahankan keberadaan pulau-pulau kecil.

Kebijakan pengembangan kawasan strategis kabupaten sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 huruf c meliputi:

a. Pelestarian dan peningkatan fungsi dan daya dukung lingkungan hidup untuk mempertahankan dan meningkatkan keseimbangan ekosistem, melestarikan keanekaragaman hayati, mempertahankan dan meningkatkan fungsi perlindungan kawasan, dan melestarikan keunikan bentang alam. b. Pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengembangan

perekonomian kabupaten yang produktif, efisien, dan mampu bersaing dalam perekonomian nasional;

(9)

Bab III - Page 9 of 54 a. Menetapkan kawasan strategis kabupaten berfungsi lindung;

b. Mencegah pemanfaatan ruang di kawasan strategis kabupaten yang berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan;

c. Membatasi pemanfaatan ruang di sekitar kawasan strategis kabupaten yang berpotensi mengurangi fungsi lindung kawasan;

d. Membatasi pengembangan prasarana dan sarana di dalam dan di sekitar kawasan strategis kabupaten yang dapat memicu perkembangan kegiatan budi daya;

e. Mengembangkan kegiatan budi daya tidak terbangun di sekitar kawasan strategis kabupaten yang berfungsi sebagai zona penyangga yang memisahkan kawasan lindung dengan kawasan budi daya terbangun; dan f. Merehabilitasi fungsi lindung kawasan yang menurun akibat dampak

pemanfaatan ruang yang berkembang di dalam dan di sekitar kawasan strategis kabupaten.

2) Strategi untuk pengembangan dan peningkatan fungsi kawasan dalam pengembangan perekonomian kabupaten meliputi:

a. Mengembangkan pusat pertumbuhan berbasis potensi sumber daya alam dan kegiatan budi daya unggulan sebagai penggerak utama pengembangan wilayah;

b. Menciptakan iklim investasi yang kondusif;

c. Mengelola pemanfaatan sumber daya alam agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung kawasan;

d. Mengelola dampak negatif kegiatan budi daya agar tidak menurunkan kualitas lingkungan hidup dan efisiensi kawasan;

e. Mengintensifkan promosi peluang investasi; dan

f. Meningkatkan pelayanan prasarana dan sarana penunjang kegiatan ekonomi.

Rencana Struktur Ruang (Sistem Jaringan Prasarana Bidang Cipta Karya).

(10)

Bab III - Page 10 of 54 pertumbuhan dan pusat kegiatan pelayanan di wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara. Beberapa pertimbangan rencana pengalokasian struktur tata ruang Kabupaten Minahasa Tenggara, diantaranya :

1. Kesesuaian dengan rencana struktur tata ruang yang lebih luas (makro). 2. Memacu pertumbuhan dan mewujudkan pemerataan pembangunan

keseluruh wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara melalui penyebaran pusat dan sub-pusat pelayanan secara berjenjang dan dihubungkan oleh suatu sistem jaringan transportasi, sehingga seluruh bagian wilayah dapat terlayani.

3. Mendayagunakan fasilitas pelayanan wilayah kabupaten dan kecamatan

yang penyebarannya dilakukan secara berjenjang sesuai kebutuhan dan tingkat pelayanan.

4. Menciptakan interaksi yang kuat antara pusat dan sub pusat pelayanan

kabupaten melalui pengaturan sistem jaringan transportasi.

Hirarki pusat-pusat pelayanan yang akan dikembangkan di Kabupaten Minahasa Tenggara didasarkan atas jumlah penduduk yang harus dilayani oleh masing-masing pusat pelayanan, sehingga orientasi kegiatan penduduk tidak terpusat (terkonsentrasi) di pusat kabupaten saja, tetapi menyebar ke pusat-pusat pelananan yang dikembangkan di masing-masing lingkungan. Pengembangan pusat-pusat kegiatan ini dihubungkan oleh sistem jaringan jalan yang berhirarki melalui pengembangan sistem transportasi, sehingga membentuk satu kesatuan yang saling terintegrasi dan mudah dijangkau dari seluruh bagian wilayahnya. Untuk mewujudkan hal tersebut, maka dilakukan beberapa strategi pengembangan struktur tata ruang kawasan sebagai berikut :

1. Pengembangan pusat-pusat kegiatan pelayanan perkotaan harus dapat menunjang pertumbuhan wilayah belakang yang dilayani, dengan memperhatikan kecenderungan perkembangan di Kabupaten Minahasa Tenggara secara keseluruhan;

2. Meningkatkan fungsi dan peran Kabupaten Minahasa Tenggara sebagai pusat kawasan ekonomi khusus melalui pengembangan kegiatan industri, perdagangan dan jasa, dan penataan lokasi simpul-simpul kegiatan transportasi wilayah;

3. Mengalokasikan berbagai fasilitas dan sarana kegiatan pelayanan kabupaten dan kota ke seluruh wilayah secara terstruktur;

(11)

Bab III - Page 11 of 54

Rencana Sistem Permukiman

1. Hirarkhi Pusat Pelayanan Wilayah

Penataan ruang Kabupaten Minahasa Tenggara perlu mempertimbangkan prinsip hirarki atau tata jenjang pusat pelayanan. Ini disebabkan karena terdapat beberapa fungsi pelayanan yang memiliki sifat pelayanan yang berjenjang, sehingga lebih efisien apabila ditata tersebar mengikuti pola penyebaran konsumennya secara hirarkis. Untuk itu, strategi pengembangan sistem pusat-pusat pelayanan Kabupaten Minahasa Tenggara adalah untuk mengarahkan penataan ruang kabupaten dengan menciptakan efisiensi dan efektivitas pelayanan.

Perumusan rencana struktur ruang bagi Kabupaten Minahasa Tenggara dilakukan dengan bertolak dari PP 26/2008 tentang RTRWN. PP 26/2008 telah menetapkan PKN, PKW, dan PKSN. Dengan kondisi yang demikian maka bagi Kabupaten Minahasa Tenggara dibutuhkan adanya kota di dalam wilayah kabupaten tersebut untuk dapat berperan sebagai PKL. Untuk itu diusulkan agar Kecamatan Ratahan dapat menjadi PKL bagi Kabupaten Minahasa Tenggara.

Di samping PKL, bagi Kabupaten Minahasa Tenggara juga dibutuhkan adanya kota yang akan berperan sebagai PKL 1 yakni hirarkhi kota di bawah PKL, dan PKL 2 yakni hirarkhi kota di bawah PKL 1. Dengan demikian terdapat 3 hirarkhi kota : PKL, PKL 1 dan PKL 2.

Kebutuhan akan PKL, PKL 1 dan PKL 2 dalam kerangka penataan ruang wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara tersebut dibangun berdasarkan : a. kinerja pemanfaatan ruang;

b. perkembangan dan perubahan yang berlangsung dalam dasawarsa terakhir; serta

(12)

Bab III - Page 12 of 54

2. Sistem PusatPusat Perkotaan

Berdasarkan kriteria tersebut maka hirarki pusat-pusat permukiman perkotaan di Kabupaten Minahasa Tenggara dapat ditentukan. Hirarki kota di Kabupaten Minahasa Tenggara dapat dilihat pada Tabel dan Gambar. Perkiraan jumlah penduduk maksimum untuk masing-masing hirarki pusat-pusat permukiman perkotaan di Kabupaten Minahasa Tenggara sampai tahun 2029 dapat dilihat pada Tabel dan Gambar

Arahan Pengembangan Kawasan Perdesaan, Kawasan perdesaan adalah kawasan di wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara yang tidak ditetapkan

(13)

Bab III - Page 13 of 54 sebagai kawasan perkotaan, sehingga kawasan perdesaan ini sifatnya menyebar di hampir seluruh wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara. Penggunaan ruang kawasan perdesaan biasanya berupa pertanian lahan basah, lahan kering, tanaman tahunan, perkebunan, hutan produksi dan bahan galian.

Gambar 3. 4 Model Struktur Ruang Kabupaten Minahasa Tenggara

Tabel 3.2 Perkiraan Jumlah Penduduk Maksimum Masing-Masing Hirarki Pusat Permukiman di Kabupaten Minahasa Tenggara Sampai Tahun 2029

Fungsi Kota Kota

Penduduk Maksimum

Sampai Tahun

2029 (Jiwa)

PKN Kawasan

Perkotaan Manado - Bitung

-

PKW Tondano -

PKL

PKL 1

Tombatu Touluaan

Ratatotok

Belang Ratahan

Posumaen

Batas Kabupaten

(14)

Bab III - Page 14 of 54

Fungsi Kota Kota

Penduduk Maksimum

Sampai Tahun

2029 (Jiwa) PKL (dengan fungsi Pusat

Pelayanan primer dan Pusat pemerintahan)

Kecamatan Ratahan

30,592

PKL 1 (dengan fungsi Pusat Pelayanan sekunder dan Pusat Perdagangan dan Jasa)

1. Kecamatan Tombatu

30,666

PKL 1 (dengan fungsi Pusat Pelayanan sekunder dan Pusat Industri)

2. Kecamatan Belang

18,745

PKL 2 dengan fungsi Pusat Pelayanan tersier

1. Kecamatan Ratatotok

16,221

2. Kecamatan Pusomaen

11,621

3. Kecamatan Toulaan

(15)

Bab III - Page 15 of 54 Gambar 3.4 Peta Hirarki Sistem Pusat–Pusat Perkotaan di Kabupaten Minahasa Tenggara

Rencana Sistem Prasarana Pengelolaan Lingkungan

- Rencana Sistem Pembuangan Sampah

Sistem pembuangan sampah di wilayah perencanaan pada saat sekarang belum dikelola khusus oleh suatu badan baik pemerintah maupun swasta. Sampai saat ini pelayanan dan pengelolaan sampah belum menjangkau ke seluruh wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara mengingat kondisi permukiman yang menyebar. Pembuangan sampah masyarakat secara umum masih dikelola sendiri oleh masyarakat dengan dibakar, ditimbun atau dibuang di sekitar pemukiman.

(16)

Bab III - Page 16 of 54 Proyeksi timbulan sampah dihitung berdasarkan asumsi kemampuan pengelolaan sampah wilayah yang sanggup menangani 70 % dari total sampah domestik dan non domestik. Dengan asumsi timbulan sampah adalah 2,5 liter/orang/hari maka timbulan sampah dapat dihitung. Dari hasil perhitungan prediksi timbulan sampah dapat disimpulkan bahwa bila dibandingkan dengan kondisi eksisting akan terjadi peningkatan volume timbulan sampah seiring dengan pertambahan penduduk. De-ngan demikian diperlukan prasarana dan sarana pembuangan sampah yang memadai sampai akhir tahun perencanaan (2028). Mengingat besarnya volume timbulan sampah yang akan terjadi, maka pengem-bangan dan peningkatan sistem pengelolaan persampahan merupakan sesuatu yang tidak dapat diabaikan lagi, baik itu sumber daya manusianya (manajemen) maupun utilitas atau peralatan persampah-annya. Diharapkan hingga akhir tahun 2009 tingkat pelayanan direnca-nakan mencapai 50 % dan pada akhir tahun rencana diharapkan sudah dapat mencapai 80 %. Perkiraan kebutuhan peralatan yang meliputi : Gerobak Sampah 1 m3, TPS kontainer besi 10 m3, Truk terbuka 7 m3, Dump-truck 6 m3, dan Arm-roll truck 10 m3 untuk tiap kecamatan di Kabupaten Minahasa Tenggara sampai akhir tahun perencanaan dapat dilihat pada tabel di bawah ini.

Tabel 3. 3 Proyeksi Kebutuhan Persampahan Kabupaten Minahasa Tenggara

No. Uraian Satuan Kebutuhan Fasilitas

(17)

Bab III - Page 17 of 54

No. Uraian Satuan Kebutuhan Fasilitas

(18)

Bab III - Page 18 of 54

No. Uraian Satuan Kebutuhan Fasilitas

2008 2009 2014 2019 2024 2029

43 6) Posumaen buah - - - -

Dasar yang digunakan dalam rencana pengelolaan sistem jaringan persampahan di Kabupaten Minahasa Tenggara adalah :

1) Perkembangan sosial, ekonomi dan perilaku masyarakat Kabupaten Minahasa Tenggara berbanding lurus dengan peningkatan sampah yang dihasilkan oleh masyarakat.

2) Perlunya ada peningkatan peran serta masyarakat dalam sistem pengolahan sampah, karena keterbatasan kemampuan pemerintah dalam mengelola sistem persampahan.

3) Partisipasi masyarakat dapat diwujudkan melalui kelompok – kelompok swadaya yang ada di masyarakat seperti RT/ RW/ LKMD, misalnya melalui penimbunan sampah – sampah organic atau pembakaran sampah – sampah non organic.

Dengan dasar pengelolaan seperti diatas, maka sistem pengangkutan dan pengolahan sampah dibedakan menurut karakteristik aktifitas tiap–tiap daerah, yaitu :

1) Penanganan untuk permukiman daerah permukiman kepadatan rendah diharapkan masyarakat dapat secara mandiri mengelola sampahnya, melalui penimbunan bagi sampah – sampah organic dan pembakaran untuk sampah – sampah non organic. Langkah ini selain dapat meringankan beban pemerintah juga merupakan langkah untuk meningkatkan kesuburan tanah.

2) Untuk sampah dari permukiman dengan kepadatan sedang dan tinggi dapat dilakukan melalui pengumpulan sampah pada lokasi – lokasi tertentu untuk kemudian dapat diampil oleh petugas untuk dibuang ke TPA.

(19)
(20)

Bab III - Page 20 of 54 Pengelolaan Limbah Cair dan Padat

Sistem pembuangan limbah cair dan limbah udara di wilayah peren-canaan pada saat sekarang belum dikelola khusus oleh suatu badan baik pemerintah maupun swasta. Masalah limbah cair dan limbah udara belum merupakan suatu masalah yang harus ditanggulangi secara cepat. Untuk limbah cair hal ini disebabkan penduduk masih dapat menanggulangi sendiri yaitu dengan cara membuangnya ke saluran drainase. Sedangkan limbah udara, belum timbul.

Untuk limbah padat jenis limbah padat yang perlu lebih diperhatikan penanganannya adalah limbah tinja dan limbah industri kecil. Hal ini terutama berkaitan erat dengan penyediaan prasarana sanitasi lingkungan dan upaya peningkatan kesehatan masyarakat. Penanganan limbah padat pelaksanaannya perlu diusahakan sejak dini agar tidak menyebabkan pencemaran lingkungan dan mengganggu kesehatan masyarakat. Pemenuhan kebutuhan jamban keluarga maupun jamban komunal serta MCK bagi masyarakat kurang mampu perlu lebih diperhatikan dengan menggunakan sistem sanitasi terpadu IPLT. Selain itu beraangsur – angsur perencanaan penanganan limbah sudah harus dapat dikelola Instalasi Pengolahan Limbah Terpadu 100 %. Artinya perlahan – lahan terutama di wilayah – wilayah dengan kepadatan tinggi sudah dapat mengelola

limbahnya dalam “satu atap” dengan sistem IPLT (Instalasi Pengolahan Limbah Terpadu).

Sistem pengelolaan air limbah ini erat hubungannya dengan sanitasi atau kesehatan lingkungan, sehingga pengelolaan air limbah ini harus benar-benar direncanakan dengan sebaik mungkin untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan yang berhubungan dengan sanitasi lingkungan masyarakatnya. Dalam kaitannya dengan hal tersebut, arahan rencana pengelolaan air limbah akan tetap dilakukan dengan menggunakan sistem pengolahan setempat (on site system sanitation), yaitu dengan mengembangkan sistem penggunaan tangki septik yang ada di tiap-tiap rumah dengan lebih meningkatkan kuantitas dan kualitasnya, serta sebaiknya melengkapinya dengan bidang resapan. Mengingat penyediaan WC yang dilengkapi tangki septik ini tidak semua golongan masyarakat mampu menyediakannya karena harus tersedia lahan yang cukup, maka dalam pengadaannya dibutuhkan batuan Pemerintah Daerah yang berupa penyediaan WC atau MCK umum.

(21)

Bab III - Page 21 of 54 mengharuskan pihak swasta pengelola kegiatan industri tersebut untuk menyediakan pengolahan limbah cair industri yang dihasilkannya, baik secara individu maupun secara komunal. Pengolahan limbah cair industri yang dikelola secara individu dapat dilakukan dengan mengharuskan pihak swasta pemilik kegiatan industri untuk membuat sistem pengolahan limbah cair industrinya sesuai ambang batas yang sudah ditentukan, sebelum limbah cair tersebut dibuang ke sungai atau ke laut agar tidak mencemari lingkungan sekitarnya. Sedangkan pengolahan limbah cair industri yang dikelola secara komunal dapat dilakukan oleh beberapa industri sejenis yang ada atau oleh pengelola kawasan industri, yang menyediakan sistem pengelolaan limbah cair industri guna melayani kegiatan industri yang ada di kawasan tersebut.

Rencana Pola Ruang Wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara

Rencana pola ruang wilayah kabupaten memuat rencana pola ruang yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan rencana tata ruang wilayah provinsi yang terkait dengan wilayah kabupaten yang bersangkutan.

Rencana penggunaan lahan di Kabupaten Minahasa Tenggara bertujuan agar setiap bagian wilayahnya dapat dikembangkan, sehingga memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Pola penggunaan lahan di Kabupaten Minahasa Tenggara ini didasarkan pada pengembangan kegiatan-kegiatan yang dapat memicu pertumbuhan ekonomi wilayahnya. Dengan dikembangkannya kegiatan tersebut diharapkan dapat memberi pengaruh dan merangsang pertumbuhan kegiatan ikutan lainnya di wilayah sekitarnya. Kegiatan utama yang akan dikembangkan untuk memicu perkembangan Kabupaten Minahasa Tenggara adalah; kehutanan berupa hutan produksi, pertanian lahan basah dan lahan kering, perkebunan, industri pengolahan hasil pertanian (agroindustri), pariwisata, perdagangan dan jasa. Kegiatan utama ini dilengkapi pula dengan kegiatan penunjang lainnya, diantaranya adalah kegiatan perkotaan lain, seperti kegiatan perumahan, hotel, restoran dan jasa pelayanan, perkantoran, kegiatan olahraga dan rekreasi serta kegiatan lainnya, guna untuk memenuhi kebutuhan penduduk Kabupaten Minahasa Tenggara yang diperkirakan cenderung terus berkembang di masa mendatang.

(22)

Bab III - Page 22 of 54 ditujukan untuk menempatkan kegiatan-kegiatan sesuai dengan karakteristik, sifat dan fungsi kawasan. Penetapan dan pengaturan kedua kawasan ini selanjutnya dijelaskan pada bagian berikut.

Arahan Pengelolaan Kawasan Perumahan / Permukiman

Menurut UU RI No.4 tahun 1992, Permukiman adalah merupakan suatu kawasan perumahan dengan luas wilayah dan jumlah penduduk tertentu, yang dilengkapi oleh sistem prasarana, sarana lingkungan, dan tempat kerja terbatas dan dengan penataan ruang yang terencana dan teratur sehingga memungkinkan pelayanan dan pengelolaan yang optimal. Selain itu permukiman dapat didefinisikan sebagai bagian dari lingkungan hidup di luar kawasan lindung, baik yang berupa kawasan perkotaan maupun perdesaan yang berfungsi sebagai lingkungan tempat tinggal atau lingkungan hunian dan tempat kegiatan yang mendukung kehidupan dan penghidupan. Dalam suatu permukiman, setiap hunian yang ada merupakan bagian yang tidak dapat dilihat sebagai hasil fisik yang selesai melainkan, merupakan proses yang berkembang dan berkaitan dengan proses mobilitas penghuninya dalam kurun waktu tertentu. Pembangunan perumahan dan permukiman merupakan bagian integral dari kehidupan seseorang atau keluarga yang dapat berkembang dan meningkat sesuai kondisi sumber daya serta pandangan atas kebutuhan sesuai persepsinya.

Berdasarkan peningkatan jumlah penduduk maka perlu diperkirakan kebutuha lahan untuk kawasan permukiman. Dengan asumsi satu rumah dihuni 5 jiwa maka jumlah rumah yang dibutuhkan dapat diperkirakan. Dengan asumsi perbandingan ideal yang dibutuhkan dalam suatu pemukiman yaitu 1 : 3 : 6 maka besar kebutuhan fasilitas perumahan dapat diperkirakan untuk :

a. Tipe besar dengan luas Kapling tanah 600 m2. b. Tipe sedang dengan luas Kapling tanah 300 m2. c. Tipe kecil dengan luas kapling tanah 100 m2.

Pemanfaatan ruang kawasan permukiman dikembangkan dalam rangka mencapai tujuan :

(23)

Bab III - Page 23 of 54 b. Menyediakan permukiman untuk memenuhi kebutuhan penduduk dan

perkembangannya.

c. Menciptakan aktivitas sosial ekonomi yang harmonis dengan seluruh komponen pengembangan wilayah seperti dengan aktifitas perdagangan dan jasa, industri, pertanian, dan lain-lain.

Rencana pola pemanfaatan ruang untuk kawasan permukiman perkotaan dikembangkan dengan pola linier dan mengelompok mengikuti jaringan jalan utama. Pengembangan kawasan permukiman perkotaan dilakukan pada wilayah-wilayah dengan konsentrasi penduduk tinggi dan memiliki lokasi yang strategis. Untuk kawasan permukiman pedesaan dikembangkan dengan pola mengelompok. Wilayah yang dikembangkan menjadi kawasan permukiman pedesaan adalah di seluruh kecamatan dengan lebih memperhatikan pengelompokan eksisting dan ketersediaan lahan untuk pertanian sebagai mata pencaharian serta tidak berada pada wilayah-wilayah rawan bencana.

Tujuan pembangunan permukiman yaitu untuk memenuhi kebutuhan rumah sebagai salah satu kebutuhan dasar manusia, dalam rangka peningkatan dan pemerataan kesejahteraan rakyat; mewujudkan perumahan dan permukiman yang layak dalam lingkungan yang sehat, aman, serasi dan teratur; memberi arah pada pertumbuhan wilayah dan persebaran penduduk yang rasional; menunjang pembangunan di sektor ekonomi, sosial dan budaya.

Terbukanya peluang di sektor pembangunan perumahan dan permukiman telah mendorong usaha pembangunan permukiman berskala besar baik oleh pemerintah (Perumnas) maupun oleh swasta (Real Estate),dengan tujuan dapat meningkatkan supply perumahan untuk memenuhi peningkatan demand akan perumahan, diharapkan dapat mengurangi beban pelayanan kota besar, memperkecil mobilitas penduduk di dalam kota besar maupun dengan wilayah sekitarnya, selain itu pengembangan permukiman berskala besar di bagian luar kota dapat menekan harga pembangunan dari segi infrastruktur dan daya dukung lingkungan. Pengembangan permukiman berskala besar di bagian luar kota dapat menekan harga pembangunan dari segi infra struktur dan daya dukung lingkungan. Pengembangan permukiman di bagian pinggiran atau luar kota besar akan memungkinkan untuk dapat menata lingkungan kehidupan yang lebih nyaman dan asri daripada di pusat kota (Sujarto, 1993).

(24)

Bab III - Page 24 of 54 a. Mengembangkan fungsi perkotaan berdasarkan arahan yang ditetapkan

dalam hirarki pusat-pusat permukiman.

b. Mengembangkan sarana dan prasarana permukiman perkotaan dan perdesaan untuk memacu percepatan pembangunan wilayah sekitar.

c. Meningkatkan interaksi ruang antara perkotaan dengan perdesaan yang selaras dan optimal.

d. Mengembangkan kawasan perumahan pada zona aman bencana.

e. Membuat arahan dan mekanisme pengendalian pembangunan untuk menjamin perumahan dibangun pada kawasan aman bencana.

f. Memperhatikan proyeksi pertambahan penduduk dengan ketersediaan lahan permukiman perlu atau tidaknya untuk pengembangan vertikal.

g. Meningkatkan sumber-sumber air memperluas pelayanan air bersih sampai ke tingkat desa-desa;

h. Meningkatkan kualitas lingkungan pemukiman yang sehat dan bersih; i. Meningkatkan kualitas dan penyediaan fasilitas dan utilitas lingkungan/

pemukiman;

j. Kebijakan pembangunan pada daerah pesisir/perumahan nelayan; k. Akses fisik ke kota/PKL terdekat.

3.1.3 Arahan Wilayah Pengembangan StrategisDasar Penetapan Dasar penetapan kawasan strategis adalah sebagai berikut :

a. Pengembangan sektor di wilayah tersebut mempunyai dampak yang luas, baik secara regional maupun nasional.

b. Pengembangan sektor di wilayah tersebut membutuhkan ruang kegiatan dalam skala luas.

c. Pengembangan sektor yang akan dikembangkan di atasnya mempunyai strategis tinggi dalam lingkup regional maupun nasional.

d. Kawasan yang mempunyai prospek ekonomi yang tinggi sehingga membutuhkan penanganan yang mendesak.

e. Kawasan kritis yang diperkirakan akan segera membawa dampak negatif, karenanya perlu dikendalikan dengan segera.

f. Kawasan dengan fungsi khusus.

Sektor Strategis

Berdasarkan hasil analisis, untuk Kabupaten Minahasa Tenggara Timur diidentifikasi ke dalam beberapa sektor strategis, yaitu :

(25)

Bab III - Page 25 of 54 1) Sektor pertanian merupakan penyumbang terbesar dalam pembentukan nilai

PDRB Nusa Tenggara Timur dan dalam penyerapan tenaga kerja;

2) Mempunyai lahan pertanian potensial dalam arti luas terutama untuk mendukung pengembangan peternakan, perkebunan, dan kehutanan yang pemanfaatan lahan pada saat sekarang masih belum optimal;

b. Sektor pariwisata yang telah memberikan kontribusi bagi devisa negara dan pendapatan masyarakat :

1) Potensi wisata yang ada di wilayah Kabupaten Minahasa Tenggara Timur cukup beragam, berprospek cerah terdapat di seluruh Kabupaten;

2) Prasarana dan sarana serta akomodasi (termasuk atraksi wisata) yang tersedia di lokasi wisata masih terbatas dan tergantung pada kebijaksanaan pengembangnya.

c. Sektor industri :

1) Secara nasional telah ditetapkan sebagai tulang punggung struktur ekonomi di samping sektor pertanian;

2) Sektor ini meskipun kurang begitu pesat perkembangan maupun sumbangan terhadap pembentukan PDRB, tetapi prospek dimasa akan datang akan jauh lebih baik dengan penekanan pada industri pengolahan yang berkaitan erat dengan pengembangan sektor pertanian dan subsektornya;

d. Sektor Kelautan dan Perikanan :

1) Potensi sumber daya alam kelautan sampai saat sekarang belum dieksploitasi secara optimal;

2) Masih banyaknya petani nelayan yang menggunakan alat penangkapan ikan dengan peralatan tradisional, hal ini menyebabkan hasil tangkapannya kurang optimal, dan hasilnya hanya untuk memenuhi kebutuhan untuk dikonsumsi;

3) Disetiap wilayah Kabupaten/Kota perlu dibuatkan rencana tata ruang kawasan perikanan terpadu.

e. Sektor Perhubungan :

1) Meskipun masih kecil konstribusinya namun di tahun yang akan datang sektor ini sangat berperan menunjang berkembangnya sektor-sektor tersebut di atas;

(26)

Bab III - Page 26 of 54 Delineasi

(27)

Bab III - Page 27 of 54 Tabel 3. 4 Kawasan Strategis Kabupaten Minahasa Tenggara

Jenis Kawasan Strategis Peran

1. Kawasan Strategis Pusat Pemerintahan Ratahan

Mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kabupaten terhadap ekonomi, sosial, dan budaya.

2. Kawasan Strategis Pusat Industri Belang

Mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup kabupaten terhadap ekonomi.

3. Kawasan Strategis

Perdagangan dan Jasa Tombatu

Mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup pengembangan kabupaten dari aspek percepatan pertumbuhan ekonomi

4. Kawasan Strategis Rawan Letusan Gunung Berapi Soputan

Mempunyai pengaruh sangat penting dalam lingkup pengembangan kabupaten dari aspek percepatan pertumbuhan ekonomi.

5. Kawasan Strategis Pelestarian Lingkungan (di Sekitar Gunung Berapi Soputan).

Mempunyai pengaruh sangat penting dalam mewujudkan tata ruang wilayah kabupaten yang aman dan nyaman dengan melaksanakan mitigasi bencana

6. Kawasan Strategis Rawan Longsor Gunung Berapi Soputan.

Mempunyai pengaruh sangat penting dalam mewujudkan tata ruang wilayah kabupaten yang aman dan nyaman dengan melaksanakan mitigasi bencana

7. Kawasan Strategis Rawan Banjir dan Tsunami Pantai Minahasa Tenggara.

Mempunyai pengaruh sangat penting dalam mewujudkan tata ruang wilayah kabupaten yang aman dan nyaman dengan melaksanakan mitigasi bencana

8. Kawasan Strategis Pariwisata Minahasa Tenggara.

(28)

Bab III - Page 28 of 54

Jenis Kawasan Strategis Peran

9. Kawasan Strategis Aliran Lava/Lahar Gunung Berapi Soputan.

Mempunyai pengaruh sangat penting dalam mewujudkan tata ruang wilayah kabupaten yang aman dan nyaman dengan melaksanakan mitigasi bencana

10. Kawasan Strategis Sesar/Patahan Minahasa Tenggara.

Mempunyai pengaruh sangat penting dalam mewujudkan tata ruang wilayah kabupaten yang aman dan nyaman dengan melaksanakan mitigasi bencana

Kawasan-kawasan strategis perlu didukung oleh rencana penataan ruang agar dapat mengakomodasikan perkembangan sektor strategis yang diharapkan dapat memacu perkembangan wilayah yang lebih luas. Dari segi legal aspek maka kawasan strategis ini harus ditetapkan melalui Surat Keputusan (SK) Bupati. Dalam SK tersebut harus dipetakan dengan jelas deliniasi/batas dari kawasan yang dimaksud dengan skala minimal 1:5.000. Sebagai informasi, indikasi lokasi dari kawasan strategis ini dapat dilihat pada Gambar

❖ Kebijakan Pengembangan Kawasan Strategis 1. Kawasan Strategis Pusat Pemerintahan Ratahan

Kawasan ini terletak di Kecamatan Belang dengan akses tertinggi terhadap Manado (PKN),dan Tondano (PKW). Pengembangannya sebagai suatu pusat pemerintahan akan bertumpu pada fungsi Ratahan sebagai ibukota Kabupaten Minahasa Tenggara. Arahan pemanfaatan pengembangan yang perlu dilakukan :

1. Menyusun Rencana Induk Sistem Prasarana untuk memadukan program dalam kawasan dengan pusat-pusat permukiman.

2. Mengembangkan sistem transportasi yang sinergis dengan sistem permukiman dan pengembangan kegiatan usaha.

3. Pembangunan kota yang mendukung jasa-jasa berskala regional.

4. Mendorong peran serta swasta dalam pengembangan ekonomi perkotaan dan investasi prasarana.

5. Membangun sarana dan prasarana telekomunikasi yang mendukung kegiatan kota.

(29)
(30)

Bab III - Page 30 of 54

Kawasan Strategis Pusat Industri Belang

Kawasan ini terletak di Kecamatan Belang dengan akses tertinggi terhadap Pelabuhan Belang. Pengembangannya sebagai suatu zona industri akan bertumpu pada pengolahan hasil pertanian (agro industri), baik yang berasal dari perkebunan, kehutanan dan peternakan. Ditinjau lokasinya yang sangat dekat dengan Pelabuhan Belang dan memiliki wilayah hinterland dengan akses ke Ratahan/Belang yang cukup tinggi, dapat menjadi alternatif lokasi pemanfaatan kegiatan industri.

Pengembangan kawasan strategis pusat industri ini nantinya akan dikelompokkan sesuai jenis dan luas industrinya dalam satu lokasi. Kegiatan industri di Kabupaten Minahasa Tenggara diarahkan pada jenis kegiatan industri yang tidak menghasilkan polusi (clean industry) dan mendukung kegiatan sektor pertanian, perkebunan, kehutanan. Pengembangan sentra industri ini pengelolaannya diprioritaskan kepada penduduk bermodal kecil menengah, baik melalui pemodalan sendiri atau melakukan kemitraan dengan industri hulu dan industri antara penghasil bahan baku atau dengan pihak lainnya yang berkaitan. Sedangkan kegiatan aneka industri, baik industri ringan maupun industri menengah (light and medium industry) diarahkan pengalokasiannya pada zona industri yang sudah berkembang saat ini.

Arahan pemanfaatan pengembangan yang perlu dilakukan :

1. Studi teknis bagi pengembangan kawasan industri, dapat perupa perencanaan tata ruang detail zona serta studi kelayakan jenis-jenis industri yang akan dikembangkan;

(31)
(32)

Bab III - Page 32 of 54

Kawasan Strategis Perdagangan dan Jasa Tombatu

Kawasan ini terletak di Kecamatan Tombatu. Perannya adalah sebagai penangkap produk pertanian untuk kemudian diangkut ke PKW dan PKN, serta titik penyebaran masukan saprotan, di samping juga penyediaan keperluan lokal. Di kawasan strategis perdagangan dan jasa, perlu dilengkapi dengan fasilitas pelayanan umum dan jaringan utilitas beserta sistem transportasi dan kemudahan aksessibilitas. Sedangkan untuk menghindari terjadinya kemacetan arus lalu lintas di sekitar lokasi pusat perdagangan dan jasa ini diupayakan penyediaan shelter-shelter tempat pemberhentian angkutan kota dan angkutan umum lainnya, penyediaan lahan parkir yang mencukupi serta pelarangan penggunaan badan jalan sebagai tempat berjualan pedagang kaki lima dan parkir kendaraan.

Kawasan Strategis Rawan Letusan Gunung Berapi Soputan

(33)
(34)
(35)

Bab III - Page 35 of 54

Kawasan Strategis Rawan Longsor Gunung Berapi Soputan

Kawasan strategis rawan longsor adalah kawasan yang berdasarkan kondisi geologi dan geografi dinyatakan rawan longsor atau kawasan yang mengalami kejadian longsor dengan frekuensi cukup tinggi. Perlindungan terhadap kawasan rawan longsor dilakukan untuk mengatur kegiatan manusia pada kawasan rawan longsor untuk menghindari terjadinya bencana akibat perbuatan manusia. Kawasan ini terletak di utara Kecamatan Ratahan, yang berbatasan langsung dengan Gunung Berapi Soputan. Arahan pemanfaatan pengembangan yang perlu dilakukan adalah sama dengan kawasan strategis rawan letusan gunung berapi di atas. Pengembangan kawasan in perlu dilakukan dengan berpedoman kepada UU 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 21 /Prt/M/2007 Tentang Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan Letusan Gunung Berapi dan Kawasan Rawan Gempa Bumi.

Kawasan Strategis Aliran Lava/Lahar Gunung Berapi Soputan

(36)
(37)

Bab III - Page 37 of 54

Kawasan Strategis Rawan Banjir dan Tsunami Pantai Minahasa Tenggara

Kawasan rawan banjir dan tsunami adalah kawasan yang diidentifikasikan sering dan berpotensi tinggi terjadi banjir dan tsunami. Gempa tektonik yeng terjadi di sekitar zona subduksi atau penunjaman lempeng adakalanya menyebabkan terjadinya tsunami. Gelombang tsunami terjadi karena adanya gaya impulsif yang bersifat transient.

Perlindungan terhadap kawasan rawan banjir dan tsunami dilakukan untuk mengatur kegiatan manusia pada kawasan rawan banjir dan tsunami untuk menghindari terjadinya bencana akibat perbuatan manusia dan gejalan alam. Kawasan ini terletak di sepanjang pantai Kabupaten Minahasa Tenggara. Khusus untuk tsunami, arahan pemanfaatan pengembangan yang perlu dilakukan dengan penyusunan rencana tata ruang yang memperhitungkan arah datangnya tsunami, serta kebutuhan jalur evakuasi.

Kawasan Strategis Pariwisata Minahasa Tenggara

(38)
(39)
(40)

Bab III - Page 40 of 54

Kawasan Strategis Pelestarian Lingkungan (di Sekitar Gunung Berapi Soputan)

Kawasan strategis pelestarian lingkungan di sekitar gunung berapi merupakan kawasan yang diidentifikasikan memiliki kondisi fisik dan lingkungan hidup yang membutuhkan pelestarian, mengingat kondisinya yang khas serta dampaknya yang dapat meluas dan jauh. Sebagai contoh, kawasan ini menjadi daerah resapan air, yang kemudian digunakan oleh permukiman di bagian hilir Kabupaten Minahasa Tenggara. Kawasan ini terletak di utara Kecamatan Ratahan, yang berbatasan langsung dengan Gunung Berapi Soputan. Arahan pemanfaatan pengembangan yang perlu dilakukan : pengedalian pemanfaatan lahan budidaya di kawasan secara ketat. Khusus pada daerah-daerah resapan air yang telah berkembang menjadi kawasan budidaya, upaya perlindungan dapat dilakukan dengan menyesuaikan kawasan sempadan waduk pada daerah yang belum terbangun. Sedangkan daerah yang sudah terbangun dan memiliki ijin tetap diijinkan berdiri hingga habis masa ijinnya dan diberi kewajiban untuk ikut menjaga sempadan waduk yang ada disekitarnya, atau dengan mengembalikan fungsi kawasan sempadan waduk pada daerah terbangun yang tidak memiliki ijin untuk difungsikan kembali sebagai hutan lindung. Pengembangan kawasan in perlu dilakukan dengan berpedoman kepada UU 24/2007 tentang Penanggulangan Bencana dan Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor : 21 /Prt/M/2007 Tentang Pedoman Penataan Ruang Kawasan Rawan Letusan Gunung Berapi dan Kawasan Rawan Gempa Bumi.

Kawasan Strategis Sesar/Patahan Minahasa Tenggara

(41)
(42)
(43)

Bab III - Page 43 of 54 3.1.4 Arahan Rencana Pembangunan Daerah

Visi dan Misi Kabupaten MINAHASA TENGGARA

❖ Visi Kabupaten MINAHASA TENGGARA

‘MINAHASA TENGGARA YANG AMAN, MAJU, BERDAYA

SAING (MEMILIKI BERBAGAI UNGGULAN) DAN

SEJAHTERA

Dalam hal ini masing-masing kata yang terkandung dalam visi dapat diperjelas seperti berikut ini:

Aman: Gambaran kehidupan masyarakat yang aman dalam menjalankan aktivitas

budaya, sosial, spiritual, dan ekonomi dengan budaya kebersamaan (mapalus), penuk kasih dan kedamaian, tidak ada pertikaian dan kerusuhan. Kehidupan masyarakat yang rukun dan saling menghargai. Dalam keadaan seperti ini investor akan datang di Kabupaten Minahasa Tenggara, lapangan kerja terbuka, perekonomian meningkat dan kesanalah Tuhan akan memerintahkan Berkat. Maju: Kehidupan masyarakat yang berkeinginan kuat untuk maju berdasarkan profesi masing-masing dengan tumbuhnya sikap enterpreneur. Berdiri sejajar dengan daerah-daerah lain, bahkan bangsa-bangsa maju di dunia.

Berdaya saing: Gambaran sikap perilaku masyarakat, terwujudnya berdaya juang tinggi, mampu memberikan hasil yang terbaik, serta mampu berkompetensi guna kepentingan daerah. Berkemampuan mengolah dan mengelolah sumber daya yang tersedia, yang diberikan Tuhan di Kabupaten Minahasa Tenggara.

Sejahtera: Kehidupan masyarakat yang makin sejahtera berdasarkan tingkat kemajuan masing-masing anggota masyarakat atau masing-masing rumah tangga. Bebas dari segala khawatir di segala bidang, baik ekonomi, politik dan seluruh aspek kehidupan.

❖ Misi Kabupaten MINAHASA TENGGARA

Selanjutnya untuk bisa membawa MINAHASA TENGGARA menjadi aman, maju, berdaya saing dan sejahtera ada beberapa misi yang perlu diemban oleh pemerintah daerah bersama-sama dengan seluruh lapisan masyarakat, yaitu

(44)

Bab III - Page 44 of 54 2. Mewujudkan Minahasa Tenggara yang demokratis dalam prinsip moral dan etika

yang memprioritaskan supremasi dan kepastian hukum.

3. Mewujudkan Minahasa Tenggara sebagai percontohan pemerintahan yang baik dan bersih (Good and Clean Governance).

4. Maksimalisasi program dibidang pendidikan melalui sistem wajib belajar 9 tahun, pendidikan murah / bea siswa di setiap jenjang pendidikan dan prioritas peningkatan mutu sumber daya manusia serta peningkatan kesejahteraan para guru / pendidik serta pembangunan infrastruktur pendidikan (gedung sekolah). 5. Mewujudkan program kesehatan murah dan keringanan biaya kesehatan bagi

yang kurang mampu melalui kegiatan pos-pos pelayanan kesehatan terpadu dan tepat sasaran. Termasuk penyiapan sarana pelayanan kesehatan yang representative (Puskesmas di setiap desa dan Rumah Sakit Daerah).

6. Menyiapkan / membangun infrastruktur fisik berupa jalan, jembatan, irigasi, air bersih, telekomunikasi, dan lain-lain dalam rangka membuka akses bagi masyarakat pedalaman yang terisolir selama ini akibat kondisi jalan yang ada. 7. Mempercepat pertumbuhan ekonomi dalam rangka pengentasan kemiskinan,

dengan sistem ekonomi yang berbasis agraris serta ekonomi kerakyatan melalui penggalakkan pengelolaan potensi Sumber Daya Alam dibidang Pertanian, Perkebunan, Perikanan dan Kelautan.

8. Mendorong investasi dengan kebijakan berupa sistem regulasi yang tidak berbelit-belit, kemudahan proses administrasi perizinan dan jaminan hukum yang pasti khususnya di sektor Pertambangan dan Industrialisasi guna penciptaan lapangan kerja yang lebih besar.

9. Maksimalisasi pemeliharaan lingkungan hidup dan ketahanan ekosistem hayati guna keamanan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam.

10. Pengupayaan pengembalian jati diri masyarakat melalui peningkatan sense of belonging atas nilai-nilai budaya / tradisi lokal yang selama ini berkembang di tengah-tengah masyarakat Minahasa Tenggara.

11. Pemberian penghargaan kepada hamba Tuhan / alim lama melalui alokasi dana bantuan rutin yang tertata pada pos-pos bantuan yang legal atau sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku.

(45)

Bab III - Page 45 of 54

3.2 Rencana Strategis Infrastruktur Bidang Cipta Karya

3.2.1 Rencana Kawasan Permukiman (RKP), berisikan: i. Visi dan misi pengembangan kawasan permukiman

ii.Rencana pembangunan dan pengembangan kawasan permukiman kabupaten/kota

iii. Penetapan kawasan permukiman prioritas

Strategi Pengembangan Permukiman dan Infrastruktur Perkotaan merupakan suatu dokumen strategi operasional dalam pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan yang sinergin dengan arah pengembangan kota, sehingga dapat menjadi acuan yang jelas bagi penerapan program-program pembangunan infrastruktur Cipta Karya. SPPIP memuat arahan kebijakan dan strategi pembangunan infrastruktur permukiman makro pada skala kabupaten/kota yang berbasis pada rencana tata ruang (RTRW) dan rencana pembangunan (RPJMD). SPPIP memiliki beberapa fungsi, yaitu:

A. sebagai acuan bagi implementasi program-program pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan, sehingga dapat terintegrasi dengan program-program pembangunan lainnya yang telah ada;

B. Sebagai dokumen induk dari semua dokumen perencanaan program sektoral bidang Cipta Karya di daerah;

C. Sebagai salah satu acuan bagi penyusunan RPIJM;

D. Sebagai sarana untuk integrasi semua kebijakan dan strategi pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan yang tertuang di berbagai dokumen; dan

E. Sebagai dokumen acuan bagi penyusunan kebijakan yang terkait dengan pembangunan permukiman dan infrastruktur perkotaan.

(46)

Bab III - Page 46 of 54 3.2.2 Rencana Induk Penyediaan Air Minum (RISPAM), berisikan:

i.Rencana sistem pelayanan ii.Rencana Pengembangan SPAM

iii.Rencana penurunan kebocoran air minum

Berdasarkan Permen PU No. 18 Tahun 2007, Rencana Induk Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum adalah suatu rencana jangka panjang (15-20 tahun) yang merupakan bagian atau tahap awal dari perencanaan air minum jaringan perpipaan dan bukan jaringan perpipaan berdasarkan proyeksi kebutuhan air minum pada satu periode yang dibagi dalam beberapa tahapan dan memuat komponen utama sistem beserta dimensi-dimensinya. RI-SPAM dapat berupa RI-SPAM dalam satu wilayah administrasi maupun lintas kabupaten/kota/provinsi. Penyusunan rencana induk pengembangan SPAM memperhatikan aspek keterpaduan dengan prasarana dan sarana sanitasi sejak dari sumber air hingga unit pelayanan dalam rangka perlindungan dan pelestarian air.

3.2.3 Strategi Sanitasi Kota (SSK), berisikan: i. Kerangka kerja pembangunan sanitasi ii. Tujuan, sasaran dan strategi sanitasi

Visi dan Misi Sanitasi

Visi Sanitasi Kabupaten Minahasa Tenggara

Terwujudnya Kabupaten Minahasa Tenggara yang bersih dan sehat melalui pembangunan dan peningkatan layanan sanitasi yang ramah lingkungan tahun 2014

Misi Sanitasi Kabupaten a. Misi Air Limbah Domestik:

▪ Meningkatkan akses masyarakat terhadap pelayanan pengelolaan air limbah dengan sistem setempat (onsite)

▪ Mencegah dan menanggulangi pencemaran dan atau kerusakan lingkungan hidup yang diakibatkan oleh air limbah permukiman.

b. Misi Persampahan

▪ Mengurangi timbunan sampah dalam rangka pengelolaan persampahan yang berkelanjutan.

▪ Meningkatkan jangkauan dan kualitas pelayanan sistem pengelolaan persampahan.

(47)

Bab III - Page 47 of 54 ▪ Meningkatkan penanganan sistem drainase permukiman yang berwawasan

lingkungan.

▪ Meningkatkan fungsi drainase permukiman untuk mengendalikan kelebihan air permukaan, sehingga tidak mengganggu masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi kegiatan kehidupan manusia.

d. Misi Perilaku Hidup Bersih Sehat

▪ Meningkatkan kesadaran dan pemahaman masyarakat untuk berperilaku sehat dan menciptakan lingkungan sehat di rumah tangga.

Tabel 3.5 Tujuan, Sasaran dan Strategi Pengembangan Air Limbah Domestik

Tujuan

1.Meningkatkan akses masyarakat terhadap prasarana dan sarana air limbah sistem setempat (on site) melalui sistem individual dan komunal. 2.Memfasilitasi pembentukan

dan perkuatan kelembagaan pengelola air limbah permukiman di tingkat masyarakat.

3.Merubah perilaku dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap pentingnya pengelolaan air limbah permukiman.

4.Pembiayaan bersama pemerintah pusat dan daerah dengan proporsi pembagian yang disepakati.

(48)

Bab III - Page 48 of 54 2. Menyusun perangkat

peraturan perundangan yang mendukung penyelenggaraan pengelolaan air limbah permukiman.

3. Menyebarluaskan informasi peraturan terkait penyelenggaraan pengelolaan air limbah permukiman. 4. Meningkatkan peran dan

fungsi SKPD dalam monitoring dan evaluasi. 5. Mendorong partisipasi dunia

(49)

Bab III - Page 49 of 54 Tabel 3.6 Tujuan, Sasaran dan Tahapan Pencapaian Pengembangan Persampahan

Tujuan

1.Peningkatan cakupan dan kualitas pelayanan investasi maupun biaya pengelolaan

persampahan.

3.Meningkatkan peran dan fungsi SKPD terkait dalam monev terkait pengelolaan

persampahan.

4.Mendorong partisipasi dunia usaha/swasta dalam pengelolaan dan pengolahan sampah

1.Peningkatan kegiatan 3R untuk skala sumber dan kawasan pada lokasi-lokasi prioritas dan memenuhi kriteria. 2.Penyempurnaan berbagai

produk hukum yang realistis dan aplikatif 3.Penerapan ketentuan

hukum terutama

(50)

Bab III - Page 50 of 54 pelanggaran secara bertahap.

4.Sosialisasi produk hukum kepada para stakeholders terutama masyarakat.

5.Meningkatkan

kesadaran dan

pengetahuan masyarakat dalam hal pengelolaan sampah yang sebenarnya bisa menjadi sumber usaha/bisnis.

6.Meningkatkan pemberdayaan

masyarakat dalam penyelenggaraan sistem pengelolaan dan pengolahan sistem persampahan di tingkat kelurahan/desa melalui sosialisasi, edukasi dan

uji coba dan

(51)

Bab III - Page 51 of 54 Tabel 3.7 Tujuan, Sasaran dan Tahapan Pencapaian Pengembangan Drainase

Tujuan 2.Tahun 2017 semua

sistem drainase berfungsi dengan baik dan menjamin bahwa banjir tidak boleh lebih dari 30 cm dan lama genangan tidak lebih dari dua jam.

1.Daerah

1.Menyusun rencana induk dranase skala kabupaten 2.Menetapkan peraturan daerah

kebijakan dan strategi kabupaten berdasarkan kebijakan nasional dan propnsi.

3.Menetapkan peraturan daerah NSPK drainase dan pemanfaatan genangan di

wilayah kabupaten

berdasarkan SPM yang disusun oleh pemerintah pusat dan propinsi.

4.Meningkatkan pemahaman secara berkesinambungan mengenai sistem drainase yang berwawasan lingkungan kepada pihak yang terlibat baik pelaksana maupun masyarakat.

5.Menyelenggarakan

pembangunan dan

pemeliharaan drainase

6.Pembiayaan bersama pemerintah pusat dan propinsi dengan proporsi pembagian yang disepakati.

(52)

Bab III - Page 52 of 54 dengan

peningkatan kelembagaa n,

pembiayaan serta

partisipasi masyarakat.

8.Mendorong partisipasi swasta dalam penyelenggaraan sistem drainase

9.Merubah perilaku dan meningkatkan pemahaman masyarakat terhadap fungsi drainase yaitu mengendalikan atau mengeringkan kelebihan air permukaan di daerah permukiman yang berasal dari hujan lokal, sehingga tidak mengganggu masyarakat dan dapat memberikan manfaat bagi kegiatan manusia.

10. Mengevaluasi

penyelenggaraan sistem drainase dan pengendali banjir di wilayah kabupaten.

11. Mengawasi dan

mengendalikan

(53)

Bab III - Page 53 of 54

1.Penyediaan sarana fisik untuk mendukung PHBS

2.Menetapkan peraturan daerah mengenai PHBS

3.Pembiayaan bersama pemerintah pusat dan propinsi 4.Memaksimalkan promosi

PHBS dan dikemas dengan lebih menarik.

5.Mendorong partisipasi dunia usaha/swasta untuk terlibat bersama pemerintah daerah dalam mewujudkan perilaku hidup bersih dan sehat.

6.Meningkatkan pemahaman masyarakat akan PHBS dan

dampak PHBS serta

mendorong masyarakat untuk terlibat bersama pemerintah dalam kampanye PHBS

(54)

Bab III - Page 54 of 54 3.2.4 Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan (RTBL), berisi:

i. Progam bangunan dan lingkungan ii. Rencana umum dan panduan rancangan iii. Rencana investasi

Berdasarkan Permen PU No. 6 Tahun 2007 tentang Pedoman Umum Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan, RTBL didefinisikan sebagai panduan rancang bangun suatu lingkungan/kawasan yang dimaksudkan untuk mengendalikan pemanfaatan ruang, penataan bangunan dan lingkungan, serta memuat materi pokok ketentuan program bangunan dan lingkungan, rencana umum dan panduan rancangan, rencana investasi, ketentuan pengendalian rencana, dan pedoman pengendalian pelaksanaan pengembangan lingkungan/kawasan.

Materi pokok dalam Rencana Tata Bangunan dan Lingkungan meliputi: a. Program Bangunan dan Lingkungan;

b. Rencana Umum dan Panduan Rancangan; c. Rencana Investasi;

Gambar

Tabel 3.1 Hirarki Sistem Pusat–Pusat Perkotaan di Kabupaten Minahasa
Tabel 3.2 Perkiraan Jumlah Penduduk Maksimum Masing-Masing Hirarki Pusat
Gambar 3.4 Peta Hirarki Sistem Pusat–Pusat Perkotaan di Kabupaten
Tabel 3. 3 Proyeksi Kebutuhan Persampahan Kabupaten Minahasa Tenggara
+7

Referensi

Dokumen terkait

Fungsi–fungsi manajemen ini telah diterapkan pada bimbingan manasik haji dan umrah yang diselenggarakan oleh Kelompok Bimbingan Ibadah Haji (KBIH) As-Shofa kota Blora

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pemahaman konsep matematika siswa menggunakan penerapan pendekatan brain based learning dengan metode pembelajaran

Dalam penelitian ini dilakukan pengaturan ulang tata letak dan perbaikan terhadap prosedur setup di gudang bahan baku untuk mengurangi waktu penyiapan komponen

 Untuk angkutan udara domestik, jumlah pesawat yang berangkat dari bandara Ngurah Rai pada bulan Januari 2016 sebanyak 3.303 unit penerbangan, atau turun 2,05 persen

Program sukarela – Dana Pensiun : Dari semua dana pensiun yang menyelenggarakan program yang manfaatnya pasti, rata-rata menjanjikan manfaat pensiun sebesar 1.5 x penghasilan

Euthanasia agresif, disebut juga eutanasia aktif, adalah suatu tindakan secara sengaja yang dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan lainnya untuk mempersingkat

Distribusi Frekuensi berdasarkan Skala nyeri disminore sesudah pemberian minuman kunir asam pada kelompok kontrol di Desa Mijen Kecamatan Kaliwungu Kabupaten

Analisis statistik menunjukkan nilai deteksi vaskularisasi dengan CEUS sesuai dengan ukuran tumor dan kedalaman tumor pada 118 nodul dengan densitas tinggi pada fase arterial fase