i
PERSEPSI DAN PERILAKU SANTRI KOTA SALATIGA
TERHADAP PERBANKAN SYARIAH DENGAN SIKAP
SEBAGAI VARIABEL MODERATING
SKRIPSI
Diajukan untuk Memperoleh Gelar
Sarjana Ekonomi Syariah (SE. Sy)
Oleh
SRI MURDIANINGSIH
NIM 21310020
JURUSAN SYARIAH DAN EKONOMI ISLAM
PROGRAM STUDI S1 PERBANKAN SYARIAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
SALATIGA
ii
PERSETUJUAN PEMBIMBING
Setelah dikoreksi dan diperbaiki, maka skripsi saudara:
Nama : Sri Murdianingsih
NIM : 21310020
Jurusan : Syariah dan Ekonomi Islam
Program Studi : S1 PerbankanSyariah
Judul : PERSEPSI DAN PERILAKU SANTRI KOTA
SALATIGA TERHADAP PERBANKAN
SYARIAH DENGAN SIKAP SEBAGAI VARIABEL MODERATING
Telah disetujui untuk dimunaqosahkan.
Salatiga, 28Januari 2015
Pembimbing
Dr. Anton Bawono, MSi NIP.1974032020031210
iii
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah Swt yang telah melimpahkan segala rahmat dan hidayah-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul: “Analisa Persepsi dan Perilaku Santri Kota Salatiga Terhadap
Perbankan Syariah Dengan Sikap Sebagai Moderating ” dengan lancar tanpa kendala yang berarti. Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada nabi agung baginda Rasulullah saw, beserta keluarga dan para sahabatnya yang senantiasa membawa kita dari zaman jahiliyah kezaman yang penuh ilmu dan iman.
Skripsi ini diajukan guna memenuhi tugas dan syarat untuk memperoleh gelar sarjana strata satu (S1) dalam jurusan Syariah Program Studi Perbankan Syariah. Ucapan terimakasih sebesar-besarnya penulis ucapkan kepada semua pihak yang telah memberikan pengarahan, bimbingan dan bantuan dalam berbagai bentuk. Ucapan terimakasih terutama penulis sampaikan kepada:
1. Bapak Dr. Rahmat Hariyadi, M.Pd. selaku Ketua Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (Stain Salatiga)
2. Bapak Beny Ridwan, M.Hum selaku Ketua Jurusan Syariah Stain Salatiga 3. Ibu Fetria Eka Yudiana, M.Si. selaku Ketua Program Studi Perbankan
Syariah
4. Bapak . Dr. Anton Bawono, MSi selaku dosen pembimbing yang telah membimbing penulis dengan sabar dan ikhlas dalam menyelesaikan Skripsi ini. Semoga Allah SWT memberikan pahala kepada beliau.
5. Segenap Dosen Jurusan Syariah dan Program Studi Perbankan Syariah S1 yang telah memberikan bekal berbagai teori, ilmu pengetahuan dan
pengalaman yang sangat bermanfaat bagi penulis.
6. Seluruh Staf dan karyawan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga 7. Kedua Orang tuaku tercinta, yang telah memberikan dorongan do’a, moril
iv
PENGESAHAN KELULUSAN
Skripsi saudara dengan Nomor Induk Mahasiswa
Yang berjudul
Telah dimunaqosahkan dalam Sidang Panitia Ujian Jurusan
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Salatiga pada 2014
Dan telah diterima sebagai bagian dari syarat-syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Syariah.
Salatiga,
Panitia Ujian
Ketua Sidang Sekretaris Sidang
NIP. NIP.
Penguji I Penguji II
NIP. NIP.
Pembimbing
v
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN
Saya yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Wahyu Irawati
Nim : 21310011
Jurusan : Syariah
Program Studi : Perbankan Syariah
Menyatakan bahwa skripsi yang saya tulis ini benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan jiplakan dari karya tulis orang lain. Pendapat atau temuan orang lain yang terdapat dalam skripsi ini dikutip atau dirujuk berdasarkan kode etik ilmiah.
Salatiga, 28 Agustus 2014
vi
MOTO DAN PERSEMBAHAN
“ Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu yang mengubah apa-apa yang pada diri mereka “
(QS 13 : 11 Ar-Rad)
“Jangan patah semangat apapun yang terjadi, jika kita menyerah habislah sudah”
(Top Ittipat, Pengusaha)
Sekripsi ini saya persembahkan untuk :
Bapak, ibu,terimakasih untuk doakalian, dan saudara-saudaraku Siti Nurmilatul
Jannah terimakasih untuk leptopnya, dan M. Muhson Burhani terimakasih untuk
printernya dan adik Umi Nur Robiah untuk kopinya.
Teman-teman geng pondok dan tim hore-hore yang selalu menemani dalam keluh
kesah tak lupa adik-adik yang tergabung dalam CSMC (Isni, Indri,Peni Sisiska
dan kawan-kawanya yang selalu mendukung serta selalu menanti cerita tentang
kuliyah ku
Teman-teman pembaca yang dapat memberikan motivasi agar saya dapat
memberikan yang terbaik dalam karya ini walau belum sempurna.
Untuk seseorang dihati saya terimakasih untuk semua dukungan yang anda
vii
ABSTRAK
Murdianingsih Sri. 2015. Analisa Persepsi Sikap dan Perilaku Santri Pondok Pesantren di Kota Salatiga Terhadap Perbankan Syariah . Skripsi, Jurusan Syariah, Program Studi Perbankan Syariah, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Salatiga. Pembimbing : Dr. Anton Bawono, MSi. Kata Kunci : Persepsi (Ekspektasi dan Situasi Lingkungan), Sikap, dan Perilaku
Pertumbuhan kantor pelayanan Perbankan Syariah masih kecil dibandingkan dengan Perbankan Konvensional. Hal ini tidak sebanding dengan masyarakat Indonesia yang sebagian besar memeluk agama Islam. Seharusnya denga kondisi masyarakat tersebut Perbakan Syariah sangat diminati oleh masyarakat Indonesia terutama kaum santri yang merupakan masyarakat intlektual agama yang sebagian besar menentut ilmu diluar daerah asalnya sehingga membutuhkan jasa perbankan untuk jalur transfer uang sakunya. Suatu produk bisa tidak diminati karena adanya masalah dalam pemasaran. Pemasaran merupakan peperangan untuk membentuk persepsi konsumen. Sehingga penelitian ini mengkaji tentang analisa persepsi sikap dan perilaku santri terhadap Perbankan Syariah.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif karena bertujuan untuk mengkonfirmasi data yang didapatkan di lapangan dengan teori yang ada. Objek penelitian yang digunakan adalah santri ponok pesanren di Salatiga dengan jumlah sampel 98 santri dari tiga tipe pondok pesantren yang berbeda (Salafiyah, Asyriyah, dan Kombinasi). Teknik pengumpulan data dengan metode kuesioner, studi pustaka dan wawancara. Data diolah dengan mengunakan uji reliabilitas, validitas, uji asumsi klasik dan regresi berganda.
Dari hasil analisa data menunjukkan bahwa persepsi ekspektasi berpengaruh positif terhadap perilaku, dan persepsi situasi lingkungan perpengaruh negatif terhadap perilaku. Namun setelah dimoderasi dengan sikap situasi ligkungan berpengaruh terhadap perilaku.
viii
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii
KATA PENGANTAR ... iii
PENGESAHAN KELULUSAN ... iv
PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN... v
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi
ABSTRAK ... vii
DAFTAR ISI ... viii
DAFTAR TABEL ... xii
DAFTAR GAMBAR ... xiii
BAB I : PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1
B. Rumusan Masalah ... 7
C. Tujuan Penelitian ... 8
D. Manfaat Penelitian ... 9
E. Sistematika Penulisan... 9
BAB II : LANDASAN TEORI A. Telaah Pustaka ... 11
B. Persepsi ... 14
1. Pengertian ... 14
2. Proses Terbentuknya Persepsi ... 14
3. Faktor-Faktor Persepsi ... 16
ix
b. Faktor Eksternal ... 19
C. Sikap ... 23
1. Pengertian ... 23
2. Konsep Sikap ... 24
3. Model Sikap ... 24
4. Cara Mengukur Sikap ... 25
D. Hubungan Persepsi dengan Sikap ... 26
E. Perilaku ... 27
F. Hubungan Persepsi dengan Perilaku ... 28
G. Hubungan Sikap dengan Perilaku ... 28
H. Hubungan Persepsi Sikap dan Perilaku... 29
I. Hubungan Perilaku dengan Keputusan ... 29
J. Gambaran Umum Pondok Pesantren ... 30
1. Pengertian Pesantren ... 30
2. Tipe Pesantren ... 31
K. Perbankan Syariah ... 32
1. Pengertian Perbankan Syariah... 32
2. Sejarah ... 33
3. Dasar Hukum ... 34
4. Prinsip Perbankan Syariah ... 34
L. Kerangka Pemikiran Teoritik ... 39
M. Hipotesa... 40
BAB III : METODOLOGI PENELITIAN A. Jenis Penelitian ... 41
B. Lokasi dan Waktu Penelitian ... 41
C. Populasi dan Sampel ... 41
D. Teknik Pengumpulan Data ... 44
E. Skala Pengukuran ... 46
F. Definisi Konsep dan Operasional ... 47
x
H. Uji Instrumen Penelitian ... 53
1. Uji Validitas ... 53
2. Uji Reliabilitas ... 54
3. Uji Statistik ... 54
a. Uji Parsial ... 54
b. Uji Simultan ... 55
c. Uji Koefisien Determinasi ... 55
4. Uji Asumsi Klasik ... 56
a. Uji Multicolinearity ... 56
b. Uji Heteroscedasticity ... 56
5. Uji Normality ... 57
6. Uji Linieritas ... 57
I. Analisa Regresi ... 58
J. Alat Analisa ... 59
BAB IV : ANALISA DATA A. Diskripsi Objek Penelitan ... 60
1. Pondok Pesantren Al-Hasan ... 60
2. Pondok Pesantren Al-Falah ... 61
3. Pondok Pesantren Al-Azhar ... 63
B. Analisa Diskriptif ... 64
1. Tipe Pesantren ... 64
2. Pendidikan ... 65
3. Pesantren ... 66
C. Analisis Data ... 67
1. Uji Validitas ... 67
2. Uji Reliabilitas ... 68
3. UjiStatistik... 69
a. Uji Parsial (t) ... 69
b. Uji Simultan (F) ... 73
xi
4. Uji AsumsiKlasik ... 75
a. Uji Multikolinearitas ... 75
b. Uji Heteroscedasticity ... 76
5. Uji Normalitas ... 77
6. Uji Linearitas ... 78
D. Pembahasan Hasil Penelitian ... 79
BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan ... 85
B. Saran ... 87
DAFTAR PUSTAKA
xii
DAFTAR TABEL
Tabel 1.1 : Perkembangan Lembaga Bank Syariah ... 2
Tabel 2.1 : Penemuan Research Gap Penelitian ... 13
Tabel 3.1 : Tipe Pesantren ... 42
Tabel 3.2 : Variabel dan Indikator ... 52
Tabel4.1 : Kurikulum Pembelajaran Pondok Pesantren Al-Falah ... 62
Tabel 4.2 : Tipe Pesantren ... 65
Tabel 4.3 : Pendidikan... 65
Tabel 4.4 : Pesantren ... 66
Tabel 4.5 : Uji Validitas ... 67
Tabel 4.6 : Uji Reliabilitas ... 68
Tabel 4.7 : Uji T ... 70
Tabel 4.8 : Uji T.Y ... 72
Tabel 4.9 : Uji F.Y ... 73
Tabel 4.10 : Uji R.Y ... 74
Tabel 4.11 : Uji Multikolinearitas ... 75
Tabel 4.12 : Uji Hetroscedasticity ... 76
Tabel 4.13 : Uji Linieritas ... 79
xiii
DAFTAR GAMBAR
1
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Manusia selalu berusaha memenuhi kebutuhan di dalam kehidupanya. Hal ini merupakan fitrah yang diberikan tuhan kepada manusia agar manusia berusaha dan fitrah itu tidak bisa dihilangkan dalam kehidupan manusia. Dalam usaha memenuhi kebutuhanya itu manusia membutuhkan bantuan manusia lainya. Maka timbulah interkasi dan pembagian tugas yang diwujudkan bidang-bidang usaha dalam masyarakat. Interaksi dalam masyarakat tersebut diatur oleh kesepakatan yang tercermin norma-norma kemasyarakatan (Wibowo & Widodo, 2005:2). Dalam interaksi tersebut manusia dilibatkan dengan kegiatan tukar menukar atau sering disebut jual beli. Pada awalnya manusia melakukanya dengan tukar menukar barang yang sering kita ketahui dengan nama sistem barter. Kemudian diduga sistem tersebut tidak bisa memenuhi kebutuhan penukaran maka manusia mengembangkan alat tukar yang sering disebut dengan uang.
2
lembaga Perbankan. Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana masyarakat dalam bentuk simpanan dan menyalurkan dana dalam bentuk kredit dan atau bentuk-bentuk lainya dalam rangka meningkatkan taraf hidup rakyat banyak (UU Perbankan No. 10/1998).
Kesadaran masyarakat untuk mengunakan jasa perbankan saat ini semakin meningkat, tidak terkecuali kesadaran masyarakat mengunakan layanan jasa keungan syariah. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya perbankan konvensional yang mendirikan unit syariah. Dengan asumsi perbankan akan diminati oleh nasabah, dan asumsi nasabah yang mengunkan layanan secara syariah akan lebih tenang karena mengutamakan kemaslahatan. Untuk lebih jelasnya perkembangan perbankan syariah bisa dilihat pada Tabel.1 mengenai perkembangan perbankan syariah yang dirilis dari OJK dalam kurun waktu tujuh tahun.
Tabel 1.1
Pertumbuhan Jaringan Kantor Perbankan Syariah
3
Jumla kantor 202 225 286 364 401 402 429 Sumber : Data Statistik OJK 2014 yang diolah
Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa perkembangan perbankan syariah semakin meningkat dalam kurun waktu tujuh tahun. Namun menurut Kepala Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Edy Setiadi mengatakan, meski tumbuh tinggi, namun jumlah rekening tabungan dan pembiayaan syariah baru mencapai 16 juta. Oleh karena itu, perbankan syariah di Indonesia masih memiliki potensi sangat besar. Penetrasi rekening tabungan ada 12,7 juta, itu tumbuh 17% dari 10,8 juta. Sedang rekening pembiayaan 3 jutaan, naik 40%, jadi total 16 juta. Tapi tetap nominal tersebut kecil (www.liputan6news.com.06 Mar 2014).
4
faktor-faktor yang mempengaruhi prilaku yang menunjukkan adanya faktor yang terkait dengan persepsi dari sudut (budaya, sosial, dan pribadi). Ia menyimpulkan bahawa persepsi masayarakat santri di Jawa Timur baik yang merupakan nasabah maupun non nasabah adalah positif. Yang memebedakanya adalah sikap mereka karena didapatkan adanya rasa ketidak percayaan atau keyakinan dari masyarakat santri yang tidak menjadi nasabah pada Bank Syariah. Karena menurut mereka walau secara konsep bank syariah sudah baik, akan tetapi dalam praktiknya Perbankan Sayriah masih menunjukkan ketidak sesuaian dengan konsep syariah yang ada. Dalam penelitian ini Hamidi mendapatkan bahwa persepsi santri terhadap Perbankan Syariah tidak mempengaruhi sikapnya.
5
perasaan seseorang terhadap suatu objek, apakah objek tersebut diinginkan atau disukai. 3) Behavioral component: merefleksikan kecenderungan dan perilaku aktual terhadap suatu objek, yang mana komponen ini menunjukkan kecenderungan melakukan suatu tindakan. Menurut Loudan dan Delabitta (2004) dalam Sasongko (2012:16) komponen kognitif merupakan kepercayaan terhadap merek, komponen afektif merupakan evaluasi merek dan komponen konatif menyangkut maksud atau niatan untuk membeli. Sedangkan faktor eksternal datangnya dari luar khususnya dari produsen dalam upayanya memberikan rangsangan kepada konsumen untuk memakai barang atau jasa yang mereka tawarkan.
Fungsi sikap adalah Utilitarian melalui instrument ini suka dan tidak suka, sikap memungkinkan seseorang memilih produk yang memberikan hasil positif atau kepuasan, Prasetijo dan Ihalau (2005:111). Disinilah peran faktor-faktor prefensi sangat menentukan sikap nasabah positif atau negatif terhadap Perbankan Syariah. Sikap dapat mendorong orang untuk berperilaku secara konsisten terhadap objek yang dinamis, Larasati
(2013:25). Schiffman dan Kanuk (2008:222) juga mengatakan bahwa
sikap akan mepunyai dampak yang demikian meresap pada perilaku
konsumen. Namun teori lain mengatakan sikap yang positif terhadap iklan
atau stimulus tidak selalu membawa pada peningkatan pembelian suatu
merk, Peter dan Olson (2000:196). Dari pemaparan diatas dapat
6
hubungan sikap dengan perilaku. Yang menjadi landasan permasalahan
penelitian kurang diminatinya perbankan syariah oleh masyarakat.
Responden penelitian ini lebih difokuskan pada responden santri.
Karena Santri di pondok pesantren merupakan masyarakat berpendidikan yang aktif dalam lembaga pendidikan yang agamis. Sudah tidak asing lagi bagi mereka mengenal syariah karena dalam pendidikan Keislaman terdapat ilmu-ilmu Fiqih dan Ahlaq sebagai dasar prinsip Perbankan Syariah. Para santri juga tidak asing dengan perbankan kemungkinan santri adalah orang yang menuntut ilmu yang jauh dari tempat tinggalnya sehingga untuk biaya kehidupanya mereka mengandalkan kiriman dari orang tuanya. Dan perbankan adalah salah satu akses yang digunakan untuk ternsfer uang guna memenuhi kebutuhan santri. Dengan adanya perbankan syariah bagaimana persepsi, dan sikap santri terhadap perbankan syariah. Dan apakah mereka berniat untuk melaksanakan syariah secara kaffah.
7
prilaku mengetahui bagaimana tindakan yang akan diputuskan oleh nasabah dengan dimensi penggukuran tahapan prilaku.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat rumuskan masalah agar pembahasan terfokus, diantaranya adalah sebagai berikut:
1. Sejauh mana pengaruh persepsi ekspektasi santri Kota Salatiga secara sendiri-sendiri mempengaruhi keputusanya untuk menjadi nasabah di Perbankan Syariah?
2. Sejauh mana pengaruh persepsi situasi lingkungan santri Kota Salatiga secara sendiri-sendiri mempengaruhi keputusanya untuk menjadi nasabah di Perbankan Syariah?
3. Sejauh mana sikap akan memoderasi persepsi ekspektasi dan situasi lingkungan terhadap keputusan santri untuk menjasi nasabah di Perbankan Syariah?
4. Sejauh mana pengaruh persepsi ekspektasi, persepsi situasi lingkungan secara bersama-sama mempengaruhi keputusan santri untuk menjadi nasabah di Perbankan Syariah?
8
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latarbelakang masalah dan rumusan masalah tersebut maka tujuan penelitian yang dikehendaki sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui pengaruh persepsi espektasi santri Kota Salatiga secara sendiri-sendiri mempengaruhi keputusanya untuk menjadi nasabah di Perbankan Syariah.
2. Untuk mengetahui pengaruh persepsi situasi lingkungan santri Kota Salatiga secara sendiri-sendiri mempengaruhi keputusanya untuk menjadi nasabah di Perbankan Syariah.
3. Untuk mengetahui sikap akan memoderasi persepsi ekspektasi dan situasi lingkungan terhadap keputusan santri untuk menjadi nasabah di Perbankan Syariah.
4. Untuk mengetahui pengaruh persepsi ekspektasi, persepsi situasi lingkungan secara bersama-sama mempengaruhi keputusan santri untuk menjadi nasabah di Perbankan Syariah.
5. Untuk mengetahui apakah ekspektasi lebih dominan mempengaruhi keputusan santri untuk menjadi nasabah di Perbankan Syariah.
D. Kegunaan Penelitian
9
1. Kegunaan Secara Teoritis
a. Melalui penelitian ini, peneliti mencoba menggali konsep teoritis menegenai persepsi, sikap, perilaku terhadap Perbankan Syariah.
b. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi refensi dan memberikan sumbangan konseptual bagi peneliti sejenis maupun sivitas akademika lainya dalam rangka mengembangkan ilmu pengetahuan untuk kemajuan ilmu pendidikan.
2. Kegunaan Secara Praktis
Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pihak-pihak yang bersangkutan. Khususnya bagi penyusun umumnya bagi lembaga-lembaga yang berkecimpung dalam ekonomi dan bisnis syariah.
E. Sistematika Penelitian
Sistematika penulisan skripsi ini dibagi menjadi lima bab, yaitu:
BAB I. PENDAHULUAN
Pendahuluan berisi uraian mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan dan manfaat penelitian, dan sistematika penulisan.
BAB II. LANDASAN TEORI
10
kerangka teori dan hipotesa yang memuat jawaban sementara atas masalah.
BAB III. METODE PENELITIAN
Metodologi penelitian, berisi tentang jenis dan sumber data, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data, variabel penelitian dan pengukuran, teknik analisis data.
BAB IV. ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
Analisis data berisi hasil penelitian berupa gambaran umum objek penelitian, deskripsi data penelitian dan responden, uji validitas dan reliabilitas, analisis data penelitian dan pembahasan.
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN
11
BAB II
LANDASAN TEORI
A. Telaah Pustaka
Beberapa penelitian tentang Persepsi, Sikap dan Perilaku antara lain adalah, penelitian Panca (2012:83) dalam penelitiannya menyatakan perepsi berpengaruh positif terhadap sikap Dosen Fakultas Syariah IAIN Wali Songo Semarang. Dan penggujian sikap juga berpangaruh terhadap perilaku Dosen Fakultas Syariah IAIN Wali Songo Semarang terhadap perbankan syariah. Hasil tersebut juga diperkuat oleh penelitian Suparno (2009:10) dimana persepsi positif mahasiswa fakultas Ekonomi Universitas Syiah Kuala terhadap perbankan syariah sebagai lembaga keuangan syariah. Selain itu penelitian lain dari Nurlela (2013:107) mengenai analisa perilaku berdasarkan regresi linier berganda, dihasilkan adanya pengaruh positif dan signifikan dalam proses pengambilan keputusan nasabah adalah variabel pisikologi dan pelayanan (dalam dimensi persepsi).
12
dan yang tidak menjadi nasabah adalah pada sikap atau pilihan mereka memilih atau tidak memilih Bank Syariah. Faktor-faktor pendorong dan penyebab masyarakat santri dalam memilih dan tidak memilih Bank Syariah guna menjawab adanya gap antara persepsi positif dan variasi pilihan dari sikap masyarakat santri untuk menggunakan Bank Syariah. Melalui indepth interview diperoleh pula jawaban bahwa walau secara konsep Bank Syariah sudah baik, akan tetapi dalam peraktek perbankan syariah saat ini masih menunjukkan ketidak sesuaian dengan konsep yang ada, sehingga hal ini perlu mendapat perhatian. Dapat disimpulkan dari penelitian Hamidi bahwa persepsi yang positif tidak berpengaruh terhadap sikap Santri di Jawa Timur.
Penelitian lain dari Rahadi (2008:14) tentang Sikap Nasabah Terhadap Produk Bank Syariah Sumatra Selatan. Menyimpulkan nasabah berdasarkan karakteristik (jenis kelamin, umur, pekerjaan, pendidikan terakhir, penghasilan perbulan) tidak semua sikap nasabah sama terhadap atribut produk Bank Syariah. Khusus untuk nasabah berdasarkan karakteristik penghasilan perbulan tidak mempunyai perbedaan sikap terhadap semua atribut produk Bank Syariah.
13
nasabah didasarkan pada analisa kuantitatif dimana t hitung (0,484) lebih kecil dari t tabel dalam indikator kelompok acuan.
Pada penelitian Purwoko (2008:13) ada pengaruh keluarga sebagai kelompok acuan terhadap keputusan mengunakan produk perbankan di BRI cabang Sidoarjo. Dihasilkan uji t sebesar 2,621 dengan nilai sig. 0,010 lebih kecil dari 0,050. Penelitian mengenai variabel ekspektasi dalam penelitian Sugiyanto (2001:6) dihasilkan ada hubungan persepsi nasabah dalam memutuskan pilihanya sesuai ekspektasi terhadap keputusanya untuk menabung di Bank X.
Adanya perbedaan penelitian tersebut disajikan dalam tabel berikut: Tabel 2. 1
Penemuan Research Gap Penelitian
Isu Penulis Hasil Variabel
Hamidi (2000) Persepsi positif
14
(keputusan). penghasilan per
bulan)
Pengaruh persepsi terhadap perilaku
Purwoko (2001) ada pengaruh
keluarga sebagai
Sugiyanto (2001) dihasilkan ada
hubungan persepsi
Maysaroh (2014) diahsilkan tidak
terdapat pengaruh
Sumber : Kumpulan berbagai jurnal dan skripsi yang diolah
B. Persepsi
1. Pengertian
15
dipilih, kemudian diatur dan akhirnya diinterprestasikan. Untuk memahami definisi tersebut Ristiyati dan Jhn J.O.L mendefinisikan maksud sensasi adalah sensasi datang melalui panca indra atau sistem sensorik berupa input sensorik yang sering disebut stimulus.
Sehingga dapat disimpulkan persepsi merupakan pandangan seseorang mengenai objek stimulus baik berupa iklan, peristiwa, maupun benda yang ia hadapi.
2. Proses Terbentuknya Persepsi
Stimulus yang ditrima seseorang sangat kompleks stimulus masuk dalam otak (melalui syaraf sensorik motorik) kemudian diartikan, ditafsirkan melalui proses yang rumit kemudian dihasilkan persepsi (Atkinson, 1999) dalam (Krisdawati, 2012:32).
Lebih jelasnya Solomon (1999) mengambarkan proses persepsi sebagai berikut:
Gambar: 2.1 Diadaptasi dari ( Solomon, 1999 )
Stimuli Penerimaan Indra interprestasi
Tangapan
16
3. Faktor-Faktor Persepsi
Ada faktor yang mempengaruhi pembentukan persepsi orang menurut Ristiyati dan Jhn J.O.L faktor-faktor tersebut adalah:
a. Faktor Internal
1) Kebutuhan Saat itu (Motif)
Adalah dorongan untuk memenuhi kebutuhan. Kebutuhan akan menyebabkan seseorang menginterprestasikan stimulus secara berbeda. Semakin kuat kebutuhan itu, semakin besar kecenderungan untuk mengabaikan stimuli yang tidak ada hubunganya di lingkunganya.
Menurut Abraham Maslow dalam Sasongko (2012:46) mengklasifiasikan kebutuhan secara sistematik kedalam lima kategori sebagai berikut:
a. Kebutuhan yang paling pokok, seperti sandang, pangan, dan papan.
b. Kebutuhan Rasa Aman, Jika kebutuhan fisiologis terpenuhi maka kebutuhan rasa aman muncul menggantikannya. Hal ini menjadi kebutuhan yang berusaha dipenuhi. Oleh sebab itu, kebutuhan ini akan memotivasi seseorang seperti jaminan keamanan. c. Kebutuhan Sosial, jika kebutuhan fisiologis dan rasa
17
memotivasi perilaku. Selanjutnya, kebutuhan sosial yang menjadi motivasi aktif perilaku seperti afiliasi, memberi dan menerima kasih sayang serta persahabatan.
d. Kebutuhan Ego, Kebutuhan yang berkaitan dengan kehormatan diri, reputasi seseorang seperti pengakuan, dan penghormatan.
e. Kebutuhan Perwujudan Diri, Kebutuhan yang hanya mulai mendominasi perilaku seseorang jika semua kebutuhan pada tingkat yang lebih rendah terpenuhi. Keutuhan tersebut, merupakan kebutuhan yang dimiliki semua.
2) Nilai-Nilai yang Dianutnya
Perilaku konsumen biasa dipengaruhi secara langsung oleh agama dalam produk yang secara simbolis atau ritualistic,
18
Meski aspek subjektif manusia yang berbeda-beda, namun dalam melihat suatu objek (berpersepsi) terbangun dari sebuah konsep pemikiran yang dianut oleh konsumen. Menurut Muflih (2006:93) selain konsep Utilitiy yang diartikan sebagai konsep kepuasan konsumen ada konsep maslahah yang hadir dalam konsep ekonomi Islam. Konsep maslahah diartikan sebagai konsep pemetaan perilaku konsumen berdasarkan asas kebutuhan dan perioritas. Ada porposi persepsi dalam Islam, Muflih (2006:97) yaitu:
a. Maslahah bertujuan melahirkan manfaat, persepsi yang ditentukanya ialah konsumsi sesuai dengan kebutuhan. b. Konsep maslahah tidak selaras dengan kemahdhoratan,
itulah sebabnya menciptakan persepsi yang menolak
kemahdhoratan seperti menolak hal-hal yang haram maupun yang syubhad.
c. Konsep maslahah memanifestasikan persepsi individu tentang upaya setiap pergerakan amalnya mardhatilah.
3) Ekspektasi atau Harapan
19
belakang pendidikan pembicara, bahkan produk diberi kemasan dengan bahan, warna dan gambar tertentu. Semua itu merupakan suatu yang mengkondisikan prospek untuk membentuk ekspektasi
b. Faktor Eksternal
1. Sifat-Sifat Stimulus
Faktor stimulus yang penting dan dapat mempengaruhi persepsi konumen antara lain:
a) Kontras
Pada umumnya sifat stimulus yang kontras merupakan salah satu sifat stimulus yang paling menarik perhatian. Sedang sifat stimulus pada Perbankan Syariah memiliki sifat yang kontras dengan perbankan konvensional. Baik dari pelayanan operasionalnya dan sistem yang dianut.
b) Proximity
20
iklanya atau oprasionalnya identik dengan budaya-budaya agama Islam.
2. Situasi Lingkungan Sosial
Lingkungan adalah semua karakteristik fisik dan sosial dari dunia eksternal konsumen. Sedang lingkungan sosial adalah semua interaksi sosial antara dan di antara masyarakat, Peter dan Olson (1999:5). Konsumen dapat berinteraksi dengan orang lain baik secara langsung maupun tidak langsung (menjadi pendengar). Manusia adalah mahluk sosial, hubungan sosial ini didorong oleh harapan bahwa hubungan itu akan dapat memebantu mereka dalam usaha memenuhi kebutuhanya, Prasetijo dan Ihalauw (2005:147). Menurut Peter dan Olson (2000:23) ada beberapa elemen yang termasuk dalam lingkungan sosisal yaitu:
a) Efek Budaya
21
yang sama akan terjadi pada nasabah pada Perbankan Syariah.
b) Sub budaya
Sub budaya adalah sekelompok orang tertentu dalam sebuah masyarakat yang sama-sama memiliki makna untuk tanggapan reaksi emosi, kepercayaan, nilai, dan sasaran. Menurut Schiffman dan Kanuk (2008:382) sub budaya merupakan kelompok budaya yang berbeda yang ada sebagai segmen yang dapat dikenali dalam masyarakat tertentu lebih luas dan lebih kompleks. Yang termasuk sub budaya adalah seperti mahasiswa perguruan tinggi, santri di pondok pesantren, pakar lingkungan, dan pensiunan kenyataanya setiap kelompok yang mempunyai kepercayaan dan kebiasaan yang sama dapat digolongkan sebagai sub budaya.
c) Kelas Sosial
22
(2008:329). Indeks variabel kelas sosial menurut Schifman dan Kanuk:
a) Pekerjaan b).Pendidikan c) Penghasilan
Dalam penelitian ini peneliti hanya menggunkan variabel pendidikan karena responden merupakan santri di pondok pesantren yang belum memilki pekerjaan. Namun, memiliki kelas yang berbeda dalam segi pendapatan (uang saku) dan pendidikan (SMP, SMA, S1).
d) Kelompok Refensi
23
Menurut Wahid (2001:18) kedudukan seorang Kiai adalah kedudukan ganda sebagai pengasuh dan pemilik pesantren. Ia dianggap memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh orang lain. Kiai juga menjadi pembimbing para santri dalam segala hal. Fungsi ini menghasilkan peranan Kiai sebagai peneliti, penyaring, dan akhirnya menjadi assimilator aspek-aspek kebudayaan dari luar yang masuk ke dalam pesantren. Dalam penelitian kelompok refensi yang diambil adalah kelompok ustad atau kiai yang dianggap dapat memberikan refensi dalam pembentukan sudut pandang mengenai Perbankan Syariah
C. Sikap
1. Pengertian Sikap
Sikap menurut Prasetijo dan Ihalauw (2005:114) adalah merupakan perasaan positif atau negatif terhadap sesuatu. Definisi dari sikap
24
2. Konsep Sikap
Prasetijo dan Ihalauw (2005:104) menyimpulkan bahwa dari pengertian sikap disetujui adanya konsep-konsep sikap sebagai berikut:
a. Dalam bersikap ada objek yang disikapi.
b. Suatu Predisposisi atau kecenderungan umum yang dipelajari atau dibentuk dan karena itu sikap memiliki kualitas motivasional yang dapat mendorong konsumen kepada suatu perilaku tertentu. c. Sikap itu Konsisten
d. Sikap Terjadi dalam Suatu situasi
e. Sikap terarah dan mempunyai intensitas tertentu, karena sikap menyebabkan orang mempunyai pandangan negatif terhadap objek sikap. Seberapa besar ketidak sukaanya atau sukanya terhadap objek sikap dinyatakan oleh intensitas itu.
3. Model Sikap
25
a. Komponen Kognitif
Berkenaan dengan kesadaran (awareness) dan pengetahuan
(knowledge) konsumen pada suatu produk. kesadaran dan pengetahuan ini mencakup harga, feature, dan atribut produk.
b. Komponen Afektif
Adalah emosi atau perasaan terhadap suatu produk atau merek tertentu. Perasaan konsumen memiliki hakikat evaluatif yaitu apakah konsumen suka atau tidak terhadap produk tertentu. Menyangkut masalah emosional subjektif seseorang terhadap suatu objek sikap. Secara umum komponen ini disamakan dengan perasaan yang dimiliki objek tertentu.
c. Komponen Koanatif
Yaitu kecenderungan konsumen untuk melaksanakan tindakan dan perilaku dengan cara tertentu terhadap suatu objek sikap. Dalam pemasaran komponen koanatif ini lebih ditekan pada ekspresi konsumen untuk membeli atau menolak suatu produk.
4. Cara Menggukur Sikap
26
memihak pada objek sikap. Pernyataan ini disebut dengan pernyataan yang favorable. Sebaliknya pernyataan sikap mungkin pula berisi hal-hal negatif mengenai objek sikap yang bersifat tidak mendukung maupun kontra terhadap objek sikap. Pernyataan seperti ini disebut dengan pernyataan yang tidak favorable.
Suatu skala sikap dapat diusahakan agar terdiri atas pernyataan
favorable dan tidak favorable dalam jumlah yang seimbang. Dengan demikian pernyataan yang disajikan tidak semua positif dan tidak semua negatif yang seolah-olah isi skala memihak atau tidak mendukung sama sekali objek sikap (Azwar, 2000) dalam Sasongko (2012:42).
D. Hubungan Persepsi dengan Sikap
27
terlebih dahulu. Selain itu faktor sumber refensi atau tokoh panutan yang merupakan faktor persepsi juga sangat berpengaruh terhadap sikap. Seperti halnya kehidupan pesantren yang diwarnai oleh asetisme, dikombinasikan dengan kesediaan melakukan segenap perintah Kiai guna memperoleh berkahnya, tentu saja memberikan bekas mendalam pada jiwa seorang santri. Dan bekas tersebut akan akan membentuk sikap dalam hidup santri, Abdurahman Wahid (2001:22).
Sedang menurut Sciffman dan Kanuk (2008:136) Individu bertindak dan bereaksi (sikap) berdasarkan persepsi mereka tidak berdasarkan pada realitas objektif.
E. Perilaku
28
Prasetijo dan Ihalauw (2005:5) menyimpulkan bahwa perilaku konsumen merupakan suatu proses yang terdiri dari beberapa tahapan:
1. Tahapan perolehan (acquisition): mencari (searching) dan membeli (purchasing).
2. Tahap konsumsi (consumption): menggunakan (using) dan mengevaluasi (evaluating).
3. Tahap tindakan pasca beli (disposition): apa yang dilakukan konsumen setelah produk itu digunakan atau dikonsumsi.
F. Hubungan Persepsi dengan Perilaku
Persepsi merupakan pandangan seseorang terhadap stimulus yang dihadapi. Persepsi berupa persepsi positif dan persepsi negatif, jika persepsi yang dihasilkan positif maka keputusan yang didapatkan adalah positif karena Persepsi merupakan faktor internal individu yang mempengaruhi perilaku, Prasetijo dan Ihalauw (2005:14).
G. Hubungan Sikap dengan Perilaku
29
H. Hubungan Persepsi Sikap dan Perilaku
Persepsi, sikap, prasangka, dan perilaku saling berinteraksi dan saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Prasangka adalah sikap yang terbentuk dan berawal dari persepsi. Jadi, prasangka sangat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu objek. Yang selanjutnya akan mempengaruhi seseorang dalam bersikap dan berperilaku terhadap sesuatu yang ada di lingkungannya. Normalnya semakin positif persepsi yang ditangkap oleh seseorang akan menimbulkan sikap yang positif dan kemudian berpengaruh terhadap perilaku atau keputusan yang positif http://definisipengertian.com/2011/pengertian-sifat/.
Namun dalam teori Peter dan Olson (2000:196) menyatakan sikap yang positif terhadap iklan atau stimulus tidak selalu membawa pada peningkatan pembelian suatu merk. Yang artinya seseorang yang menangapi positif suatu stimulus belum tentu memutuskan untuk mengunakan barang yang ditawarkan oleh produsen.
I. Hubungan Perilaku dengan Keputusan
30
Sedangkan konsumen organisasional terdiri atas organisasi, pemakai industri, pedagang dan lembaga non-profit, tujuan pembeliannya adalah untuk keperluan bisnis atau meningkatkan kesejahteraan anggotanya.
Perilaku konsumen dalam proses pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian akan diwarnai oleh ciri kepribadiannya, usia, pendapatan dan gaya hidupnya. Proses keputusan pembelian menurut Setiadi (2003) dalam Sasongko (2012:64) terdiri lima tahap yaitu pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, evaluasi alternatif, keputusan pembelian, paska pembelian. Keputusan pembelian menunjuk arti kesimpulan terbaik konsumen untuk melakukan pembelian. Konsumen melakukan kegiatan-kegiatan dalam mencapai kesimpulannya. Kualitas setiap kegiatan membentuk totalitas kesimpulan terbaik sesuai dengan kebutuhan dan keinginannya.
J. Gambaran Umum Pondok Pesantren
1. Pengertian Pesantren
Pesantren adalah lembaga pendidikan Islam tradisional di Indonesia yang sudah tumbuh dan berkembang beberapa abad yang lalu. Kata pesantren berasal dari kata “santri”, yang diberi awalan “pe”
31
sesudah Isak sehingga mewajibkan santrinya untuk bermukim hingga selesai tujuanya.
2. Tipe Pesantren
Setiap pesantren memiliki ciri khusus akibat perbedaan selera Kiai dan keadaan sosial budaya maupun sosial geografis yang mengelilinginya. Dari berbagai tingkat konsistensi dengan sistem lama dan keterpengaruhan oleh sistem modern, secara garis besar pondok pesantren dapat dikatagorikan kedalam tiga tipe Departemen Agama (2003:31) yaitu:
a. Pondok Pesantren Salafiyah
Salaf artinya “lama”, ”dahulu”, atau “tradisional”. Pondok
pesantren salafiyah adalah pondok pesantren yang menyelenggarakan pembelajaran dengan pendekatan tradisional, sebagaimana yang berlangsung sejak awal pertumbuhannya. Pembelajaran agama Islam dilakukan secara individual atau kelompok dengan konsentrasi pada kitab-kitab klasik, berbahasa Arab.
b. Pondok Pesantren Kholafiyah (Asyriyah)
Khalaf artinya “kemudian” atau “belakangan”, sedangkan
“ashri” artinya “sekarang” atau “modern”. Pondok pesantren
32
MAK), maupun sekolah (SD, SMP, SMA dan SMK) atau nama lainnya.
c. Pondok Pesantren Kombinasi
Pondok pesantren salafiyah dan khalafiyah sebagaimana penjelasan di atas. Sebagian besar yang ada sekarang adalah pondok pesantren yang berada di antara rentangan dua pengertian di atas. Sebagian besar pondok pesantren yang mengaku dan menamakan diri pesantren salafiyah, pada umumnya juga menyelenggarakan pendidikan secara klasikal dan berjenjang.
K. Perbankan Syariah
1. Pengertian Perbankan Syariah
Bank adalah suatu lembaga yang mendapat izin untuk mengerahkan dana masyarakat berupa pinjaman sehingga sebagai perantara nasabah penyimpan dana dan pemakai akhir. Bank secara etomologis berasal dari bahasa Italia, yaitu kara banca yang berarti bangku atau tempat duduk. Bank adalah suatu lembaga, badan usaha, atau organisasi yang menyelengarakan jasa dalam lalulintas uang. Sedang menurut Undang-Undang Perbankan Bank No. 10/1998 yaitu “Bank adalah badan usaha yang menghimpun dana masyarakat dalam
33
Sedang pengertian Bank Syariah adalah bank yang dalam peroperasianya itu mengikuti ketentuan-ketentuan syariah Islam, khususnya yang menyangkut tata-cara bermuamalah secara Islami. Dalam tata cara bermuamalat itu dijauhi praktik-praktik yang dikhwatirkan mengandung unsur-unsur riba, untuk diisi dengan kegiatan-kegiatan investasi atas dasar bagi hasil dan pembiayaan perdagangan atau praktik-praktik usaha yang dilakukan di zaman Rosullah atau bentuk-bentuk usaha yang telah ada sebelumnya, tetapi tidak dilarang oleh beliau , Wibowo dan Widodo (2006:23).
2. Sejarah Perbankan Syariah
Perbankan Syariah ditingkat intrernasional dipelopori oleh Islamic Development Bank (IDB). Didirikan oleh 22 negara anggota Organisasi Konferensi Islam pada tanggal 20 Oktober 1975. Kesempatan untuk mendirikan Bank Syariah di Indonesia sebenarnya mulai terbuka sejak tahun 1988 dengan adanya pakto 1988 (Oktober 1988), yaitu dengan adanya ketentuan bahwa bank boleh beroprasi dengan mengenakan bunga sebesar 0%.
34
Bank Syariah maupun Islami Bank yang memiliki cakupan lebih luas dari pada pengertian bagi hasil.
PT Bank Muamalat Indonesia (BMI) didirikan pada bulan Mei 1992, yang gagasan pendirianya muncul dalam loka karya bank tanpa bunga yang diprakasai oleh Majlis Ulama Indonesia. BMI ini lah yang menjadi Bank Syariah pertama di Indonesia.
3. Dasar Hukum Perbankan Syariah
Akomodasi peraturan perundang-undangan Indonesia terhdap ruang gerak Perbankan Syariah terdapat pada beberapa peraturan perundang-undangan berikut ini:
a. UU No. 10 Tahun 1998 tentang Perubahan atas UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan.
b. UU No. 23 Tahun 1999 tentang Bank Sentral. UU ini memberi peluang bagi BI untuk menerapkan kebijakan moneter berdasarkan prinsip-prinsip syariah.
4. Perinsip Perbankan Syariah
Berikut ini prinsip perbankan syariah menurut
http://www.mozaikislam.com/194/produk-produk-bank-syariah.htm) :
a. Al Mudharabah
35
pemilik usaha, kecuali jika ditemukan adanya kelalaian atau kesalahan oleh pengelola dana, seperti penyelewengan, kecurangan dan penyalahgunaan dana.
b. Al Musyarakah
Musyarakah adalah akad kerjasama atau pencampuran antara dua pihak atau lebih untuk melakukan suatu usaha tertentu yang halal dan produktif dengan kesepakatan bahwa keuntungan akan dibagikan sesuai dengan nisab yang disepakati dan resiko akan ditanggung sesuai dengan porsi kerjasama.
c. Al-Wadiah
Wadi’ah adalah titipan murni dari satu pihak kepada pihak
lain, baik individu maupun hukum yang harus dijaga dan dikembalikan kepada si penitip kapan saja si penitip menghendaki.
d. Al Murabahah
Murabahah adalah bagian dari jenis bai’, yaitu jual beli ditambah dengan sejumlah keuntungan yang disepakati oleh kedua belah pihak pembeli dan penjual. Pada transaksi
36 e. Salam
Salam adalah transaksi jual beli suatu barang tertentu antara pihak penjual dan pembeli yang harga jualnya terdiri dari harga pokok barang dan keuntungan yang ditambahkannya yang telah saling disepakati, dimana waktu penyerahan barangnya dilakukan kemudian hari, sementara pembayaranya dilakukan dimuka (secara tunai). Dalam praktek perbankan, ketika barang telah diserahkan kepada bank, maka bank akan menjualnya kepada rekanan nasabah atau kepada nasabah itu sendiri secara tunai atau secara angsuran. Harga jual yang ditetapkan oleh bank adalah harga beli bank dari nasabah ditambah dengan keuntungan. Dalam hal ini bank menjualnya secara tunai biasanya disebut pembiayaan talangan, sedangkan jika bank menjualnya secara angsuran, maka kedua belah pihak harus menyepakati harga jual dan jangka waktu pembayaran.
f. Istishna’
Istishna’ adalah transaksi jual beli seperti prinsip salam, yaitu
37
perubahan harga setelah kontrak ditandatangani, maka seluruh biaya tambahan tetap ditanggung oleh nasabah.
g. Al Ijarah
Ijarah adalah akad pemindahan hak guna atas barang atau jasa,melalui pembayaran upah sewa, tanpa diikuti dengan pemindahan kepemilikan (ownership/milkiyah) atas barang sendiri. Transaksi ijarah dilandasi adanya perpindahan manfaat, jadi pada dasarnya prinsip ijarah sama dengan prinsip jual-beli. Perbedaannya terletak pada objek transaksinya, bila pada jual-beli transaksinya barang maka pada ijarah transaksinya adalah jasa. Dengan kata lain, ijarah adalah perjanjian sewa menyewa antara bank dan nasabah. Setelah kontrak berakhir, penyewa mengembalikan barang tersebut kepada pemilik. Pada akhir masa sewa, bank dapat menjual barang yang disewakannya kepada nasabah, karena dalam perbankan syariah dikenal
ijarah muntahhiyah bittamllik (sewa yang diikuti dengan perpindahan kepemilikan).
h. Al Qordhul Hasan
38 i. Rahn
Menahan salah satu harta pemilik/peminjaman sebagai jaminan (collateral) atas pinjaman yang diterimanya. Tujuannya untuk memberikan jaminan pembayaran kembali kepada bank dalam memberikan pembiayaan. Atas izin bank, nasabah dapat menggunakan barang tertentu yang digadaikan dengan tidak mengurangi nilai dan merusak barang yang dijadikan sebagai jaminan, apabila barang rusak atau cacat, maka nasabah harus bertanggung jawab. Selain itu, bank dapat melakukan penjualan barang jaminan tersebut atas keputusan hakim. Nasabah mempunyai hukum untuk menjual barang tersebut dengan seizin bank, apabila hasil penjualan melebihi kewajibannya, maka kelebihan tersebut menjadi milik nasabah, dan bila hasil penjualan tersebut lebih kecil dari kewajibannya, maka nasabah menutupi kekurangannya.
j. Al Hawalah
Hawalah adalah pengalihan utang dari orang yang berutang kepada orang lain yang wajib menanggungnya. Tujuan
39
dengan yang berutang. Hal tersebut dilakukan untuk risiko kerugian yang akan timbul.
k. Al Wakalah
Transaksi wakalah timbul karena salah satu pihak memberikan suatu objek perikatan yang berbentuk jasa atau dapat juga disebut sebagai meminjamkan dirinya untuk melakukan sesuatu atas nama dari pihak lain. Wakalah adalah penyerahan, pendelegasian atau pemberian mandat. Orang yang diberikan amanat oleh orang lain maka orang yang diberi amanat akan melakukan apa yang diamanatkan kepada dirinya atas nama orang yang memberikan amanat (kuasa tersebut). Transaksi wakalah ini dapat dijumpai pada perbankan, seperti transaksi penagihan, pembayaran, agensi dan lain-lain.
L. Kerangka Pemikiran Teoritik
Kerangka pemikiran teoritik dituangkan dalam gambar sebagai berikut:
Gambar : 2.2 Kerangka Pemikiran Sikap
Persepsi : 1. Ekspektas
i 2. Situatsi
lingkunga
40
M.Hipotesa
Hipotesis dalam penelitian ini dapat diuraikan sebagai berikut: Hipotesa 1 ( ): persepsi ekspektasi secara sendiri-sendiri
mempengaruhi keputusan santri Kota Salatiga terhadap Perbankan Syariah.
Hipotesa 2 ( ): persepsi situasi lingkungan secara sendiri-sendiri mempengaruhi keputusan santri Kota Salatiga terhadap Perbankan Syariah.
Hipotesa 3 ( ): persepsi ekspektasi dan persepsi situasi lingkungan secaara signifikan akan mempengaruhi keputusan santri Kota Salatiga denagn dimoderasi sikap terhadap Perbankan Syariah.
Hipotesa 4 ( ): persepsi ekspektasi dan persepsi situasi lingkungan secara bersama-sama mempengaruhi keputusan santri Kota Salatiga terhadap Perbankan Syariah. Hipotesa 5 ( ): persepsi ekspektasi lebih dominan mempengaruhi
41
BAB III
METODELOGI PENELITIAN
A. Jenis Penelitian
Metode Penelitian adalah cara yang digunakan peneliti untuk mengumpulkan data penelitiannya. Dalam penelitian ini bersifat deskriptif kuantitatif sebagai prosedur pemecahan masalah yang diselidiki dengan menggambarkan atau melukiskan keadaan, subjek atau objek penelitian yang diteliti yaitu penelitian yang mendasarkan pada perhitungan angka-angka atau statistik dari suatu variabel untuk dikaji secara terpisah-pisah kemudian dihubungkan dengan menggunakan rumus regresi.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian adalah Pondok Pesantren di Kota Salatiga dengan objek penelitian para Santri di Pondok Pesantren. Penelitian dilakukan pada bulan Oktober hingga November 2014.
C. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan objek penelitian (Arikunto, 2002:108). Sedangkan menurut Bawono (2006:28) diberi definisi sebagai keseluruhan wilayah objek dan subjek penelitian yang ditetapkan untuk dianalisis dan ditarik kesimpulan oleh peneliti.
42
2. Sampel
Sampel Penelitian adalah bagian dari populasi yang dijadikan subjek penelitian sebagai “wakil“ dari para anggota populasi (Supardi 2005:103). Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini mengunkan teknik Stratifid Random Sampling yaitu suatu teknik pengambilan sempel penelitian dengan menetapkan pengelompokan dalam kelompok tingkatan karena keadaan populasi bersifat hidrogen dan dapat dipilih agar menjadi homiogen.
Pengelompokan terbagi dalam tiga tipe pesantren yaitu Tipe
Ashiriyah, Tipe Salafiyah, Tipe Kombinasi. Total jumlah pesantren Sekota Salatiga penulis rangkum dalam tabel
Tabel. 3.1. Tipe Pesantren
Tipe Pesantren Jumlah Pesantren Jumlah Santri
Ashiriyah, 6 653
Salafiyah, 16 1126
Kombinasi 8 992
Total 30 2771
Sumber :http://wiki.aswajanu.com
Untuk menentukan jumlah sampel dapat menggunakan rumus sebagai berikut :
43 Dimana: S : Sampel
P : Populasi
e : Error atau tingkat kesalahan yang diyakini Sehingga dapat ditetukan sampel sebagi berikut:
P : 2771 e : 10 %
s =
( ) s = 96,51
Sehingga sampel dari 2771 populasi adalah 96,51 kemudian dibulatkan menjadi 97. Kemudian untuk menentukan poporsi agar semua tipe pesantren mendapatkan kesempatan untuk menjadi objek maka digunakan metode proposional, maka masing-masing strata ditentkan jumlah sempel sebgai berikut:
1. Strata Ashiriyah =
x 97 = 22,8 2. Strata Salafiyah =
x 97 = 39,41
3. Strata Kombinasi =
x 97 = 34,7
Dari perhitungan tersebut akan dibulatkan mejenjadi 1, sehingga didapatkan porposi sampel sebagai berikut:
1. Strata Ashiriyah =23 orang santri
2. Strata Salafiyah = 40 orang santri
44
Sedangkan untuk individu yang ditetapkan atau terpilih sempel penelitian dapat digunakan teknik aksidental.Yaitu pengambilan sampel dengan teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan, artinya siapa saja yang secara kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itu cocok sebagai sumber data (Sugiyono 2006:60).
D. Teknik Pengumpulan Data
1. Pengertian Data
Data adalah merupakan alat bagi pengambil keputusan sebagai dasar pembuatan keputusan-keputusan atau pemecahan persoalan atau masalah, Supranto (2003:13). Data dapat berwujud sebagai suatu keadaan, gambar, suara, huruf, angka, ataupun simbol lainnya yang bisa digunakan sebagai bahan untuk melihat lingkungan, kejadian maupun sebuah konsep.
2. Sumber dan Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder:
a. Data Primer
45
b. Data Sekunder
Yaitu data yang diperoleh secara tidak langsung atau penelitian arsip yang memuat peristiwa masa lalu. Data sekunder dapat diperoleh dari jurnal, majalah, buku, data statisitik maupun dari internet, Bawono (2006:30).
3. Teknik Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini
adalah:
a. Dokumentasi
Metode dokumentasi digunakan untuk memperoleh
data-data seperti jumlah nasabah jumlah santri dan pondok pesantren di
Kota Salatiga. Data statistik dari OJK sebagai bahan latar belakang.
b. Koesioner atau Angket
Metode kuesioner atau angket digunakan untuk
mengumpulkan data-data dari responden atau santri secara
langsung. Data-data tersebut akan menghasilkan data mengenai
persepsi santri, sikap santri dan prilaku santri terhadap Perbankan
Syariah. Kuesioner yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup karena alternatif jawaban telah disediakan.
c. Wawancara
Metode wawancara digunakan untuk memperoleh data
mengenai gambaran umum pesantren di Kota Salatiga yang
46
d. Metode Studi Kepustkaan
Merupakan metode yang dilakukan oleh peneliti untuk mengumpulkan informasi yang relevan dengan topik atau masalah yang sedang diteliti dan informasi dapat diperoleh melalui laporan penelitian, karangan ilmiah, tesis, dan lain sebagainya.
E. Skala Pengukuran
Pengukuran ialah pemberian angka atau nilai pada atribut suatu elemen. Elemen ialah sesuatu yang menjadi objek penelitian, sedangkan atribut atau karaktristik adalah ciri, sifat atau hal-hal yang dimiliki elemen (semua keterangan mengenai elemen)
Sekala pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini adalah sekla interval. Yaitu sekala yang digunakan jika jawaban untuk berbagai hal atau atau atribut yang bisa diangap oleh 5 butir (7 butir atau 10 butir) dan dapat dirata-ratakan untuk seluruh hal atribut, Supranto (2000:128)
Skala 0-10 dipilih dengan pertimbangan memudahkan responden dalam menentukan kategori sangat tidak setuju sampai dengan sangat setuju. Responden yang akan dipilih dalam penelitian ini terbiasa dengan penilaian interval angka 0 sebagai kategori rendah dan 10 sebagai kategori paling tinggi. Skala penilaian sampai dengan 10 lazim digunakan oleh responden dalam menilai baik atau tidaknya sesuatu.
Berikut adalah rentang penilaian daam skala interval:
47
F. Definisi Konsep dan Oprasional
1. Variabel Bebas (Independen) Persepsi (X)
Pemasaran suatu produk adalah upaya produsen untuk membentuk persepsi positif terhadap produk yang ditawarkan. Persepsi konsumen atau nasabah dibentuk dari dua faktor utama yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Menurut Prasetiojo dan Ihalauw faktor internal terbentuk dari faktor Pengalaman yang didapatkan oleh nasabah, kebutuhan (motivasi), nilai-nilai yang dianut oleh nasabah, harapan atau ekpektasi nasabah terhadap Perbankan Syariah.
Sedang faktor eksternal terbentuk dari faktor sifat stimulus yang dihadirkan produsen kepada calon konsumen. Selain itu faktor situasi lingkungan sosial konsumen atau nasabah juga akan mempengaruhi persepsi nasabah. Faktor-faktor tersebut sangat penting diperhatikan dalam pemasaran agar produsen dapat memutuskan strategi yang harus dilakukan.
Persepsi dapat diartikan sebagai pandangan konsumen mengenai suatu objek produk, yang dipengaruhi faktor internal dan eksternal. Sehingga semakin banyak kecocokan faktor yang dimiliki konsumen terhadap objek produk maka semakin positif persepsi yang terbentuk dalam benak konsumen.
2. Variabel Moderating Sikap (Z)
48
independen dengan dependen (Ghozali 2007:174). Variabel ini juga disebut juga variabel kedua yaitu sikap (Z) karena pembentukan sikap dapat memperkuat ataupun memperlemah suatu perilaku, Panca (2012:47).
Sikap adalah pola perasaan, keyakinan dan kecenderungan perilaku terhadap suatu objek. Definisi yang dikemukakan oleh Allport dalam Sasongko (2012:37) makna sikap adalah mempelajari kecenderungan memberikan tanggapan terhadap suatu objek baik disenangi ataupun tidak disenangi secara konsisten.
Untuk mengetahui sikap konsumen positif atau tidak terhadap suatu objek dapat digunakan tiga komponen sikap. Perhatian dari model ini terfokus pada penentuan secara tepat kombinasi sikap, Prasetijo dan Ihalauw (2005:106). Menurut model ini sikap terdiri dari
49
3. Variabel Terikat (Dependen) Perilaku (Y)
Perilaku konsumen dimaknai sebagai proses yang dilalui oleh seseorang. Perilaku positif konsumen terhadap produk dapat dinilai dari tahapan-tahapan yang dilakukan konsumen. Yaitu dengan cara meneliti tahapan perolehan konsumen untuk memperoleh produk yang ditawarkan. Kemudian menilai tahapan proses konsumsi apakah konsumen puas terhadap produk. Kemudian memperhatikan tindakan pasca beli konsumen atau pasca menggunakan produk, dengan indikator apakah ada pengunaan kembali produk atau merk tersebut, dan apakah konsumen akan merekomendasikan pada orang lain.
G. Instrument Penelitian
1. Persepsi
Dalam penelitian Hamidi (2000:16) faktor yang mempengaruhi persepsi santri terhadap perbankan syariah adalah:
a. Faktor Budaya b. Faktor sosial c. Faktor pribadi
Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi persepsi seseorang terhadap objek produk menurut Schiffman dan Kanuk (2008:137):
a. Motif
b. Nilai yang dianutnya c. Ekspektasi
50 e. Situasi lingkungan
Dalam penelitian ini akan diteliti hubungan persepsi dan terhadap perilaku dengan indikator:
a. Ekspektasi atau harapan b. Situasi lingkungan
Dari faktor-faktor tersebut akan dijadikan indikator penelitian, yang kemudian akan dikembangkan menjadi pertanyaan kuesioner penelitian agar mempermudah untuk memberikan penggukuran. Dari faktor tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut :
a. Ekpektasi
1. Sesuai dengan prinsip syariah sehingga dapat menjalankan syariah secara kaffah
2. Memberikan keuntunagan b. Situasi Lingkungan
1. Sesuai dengan budaya yang membentuk peribadi 2. Sesuai dengan subbudaya (jenis pesantern) 3. Sesuai dengan kelas sosial
4. Kelompok refensi (usdat atau kiai)
2. Sikap
Dalam penelitian Panca (2011:32) pengukuran variabel sikap menggunakan indikator:
51
Sedangkan dalam penelitian Sasongko (2012:55) pengukuran variabel sikap menggunakan indikator:
a. Merek produk
b. Pengetahan tentang produk
c. Perasaan seseorang terhadap peroduk
Dalam penelitian ini penggukuran variabel sikap penulis menggunakan indikator yang dikemukakan Sasongko karena memiliki kesamaan sifat dengan komponen sikap.
3. Perilaku
Penggukuran perilaku menggunakan tahapan perilaku konsumen menurut Prasetijo dan Ihalauw (2005:8) yaitu :
a. Tahap perolehan Dengan indikator:
1. Membuka rekening di bank syariah (membeli) 2. Menetukan Bank syariah (mencari)
b. Tahap mengkonsumsi
1. Seberapa sering melakukan transaksi dengan bank syariah (menggunakan)
2. Kenyamanan menjadi nasabah di bank syariah (evaluasi) c. Tindakan Pasca beli
52 c. Tidak mendapatkan
potongan administrasi yang membentuk pribadi b. Sesuai dengan subbudaya
(jenis pesantern)
c. Sesuai dengan kelas sosial d. Kelompok refensi (usdat
atau kiai)
Skala Interval
Sikap (Z) Kongitif Kepercayaan terhadap atribut produk
Sekala Interval Afektif Perasaan suka atau tidak
suka terhadap produk Koanatif Pengetahuan terhadap
produk
Perilaku (Y) Perolehan a. Membuka rekening di bank syariah (membeli) b. Menetukan Bank syariah
(mencari)
Sekala Interval
Konsumsi c. Seberapa sering melakukan transaksi dengan bank syariah (menggunakan) d. Kenyamanan menjadi
53 Pasca
konsumsi
e. Tidak akan menggunakan bank lain selain syariah (loyalitas)
f. Merekomendasikan kepada teman Sumber : dikembangkan untuk penelitian 2014
H. Uji Istrumen Penelitian
Analisis data yang dilakukan adalah analisis data kuantitatif, dilakukan dengan beberapa langkah antara lain :
1. Uji Validitas
Uji validitas digunakan untuk mengukur valid atau tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner tersebut mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Uji validitas dari penelitian ini digunakan untuk mengungkapkan apakah pertanyaan pada questioner
tersebut sahih atau tidak Bawono (2006:68). Perhitungan ini akan dilakukan dengan bantuan komputer program SPSS (Statistical Product and Service Solutio). Untuk menentukan nomor-nomor item yang valid dan yang gugur, maka digunakan metode korelasi antara skor butir pertanyaan dengan total skornya. Butir pertanyaan dikatakan signifikan jika kolom total butir pertanyaan menghasilkan tanda bintang dengan dua kemungkinan :
54
2. Jika berbintang dua (**) berarti korelasi signifikan pada level 10% untuk dua sisi.
2. Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas digunakan untuk mengukur suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel. Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap pertanyaan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Untuk megukur reliabilitas menggunakan uji statistik cronbach alpha. Suatu variabel dikatakan reliabel jika nilai cronbach alpha lebih besar dari 0,060.
3. Uji Statistik
Uji Statistik digunakan untuk melihat tingkat ketepatan atau keakuratan dari suatu fungsi atau persamaan untuk menaksir dari data yang dianalisis. Uji statistik dapat dilihat dari:
a. Uji Parsial
55
sebaliknya maka variabel independen secara individu tidak mempengaruhi variabel dependen, Bawono (2006 : 122).
b. Uji Simultan
Uji Simultan atau uji secara serempak dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui seberapa jauh variabel independen atau bebas secara bersama-sama dapat mempengaruhi variabel dependen atau terikat. Untuk mengetahui hasil dari uji ini dapat dilihat pada tabel anova dari persamaan regresi. Jika nilai sig < 0,050 maka signifikan, namun jika sebaliknya maka variabel independen secara serempak tidak mempengaruhi variabel dependen.
c. Uji Koefisien Determinasi
Koefisien determinasi (R2) menunjukan sejauh mana tingkat hubungan antara variabel dependen dengan variabel independen, atau sejauh mana kontribusi variabel mempengaruhi variabel dependen.
Ciri-ciri nilai R2 adalah:
a) Besarnya nilai koefisien determinasi terletak antara 0 sampai dengan 1, atau (0 ≤ R2≤ 1).
b) Nilai 0 menunjukan tidak adanya hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen.
56
4. Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik merupakan tahapan yang penting dalam analisis regresi. Melalui uji asumsi klaik ini, diharapkan model regresi yang tidak bias dan handal uji asumsi klasik terdiri dari:
a. Uji Multicolinearity
Uji Multicolinearity atau multikolinearitas digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya gejala
Multicolinearit. Gejala ini adalah dimana terjadi korelasi yang signifikan antar variabel independen. Teknik yang digunakan untuk mendeteksi multikolinearitas dalam model penelitian ini adalah metode auxilary. Yaitu meregeresikan variabel independen untuk mendapatkan kemudian
membandingkannya dengan dari persamaan utama. Jika nilai < utama maka tidak ada gejala multikolinearitas
jika > maka terjadi gejala multikolinearitas, Bawono (2006:122) .
b. Uji Heterocendasticity
Untuk mengetahui ada tidaknya gejala penyakit heteroskendastisitas digunakan metode Park. Yaitu dengan
menjadika sebagai fungsi dari variabel-variabel bebas yang dinyatakan sebagai berikut :
57
Persamaan diatas dijadikan pentuk persamaan log sehingga menjadi:
Ln
= α +
Ln
+
Karena umumnya tidak diketahui maka ini dapat
ditaksir menggunakan sebagai proksi sehingga:
Ln =
α +
Ln
+
Jika keofisien parameter dari persamaan regresi
tersebut signifikan secara statistik, hal ini menunjukkan ada gejala heteroscedesiticity dan sebaliknya jika tidak signifikan secara statistik maka tidak ada gejala
heteroscedesiticity, Bawono (2006 : 137).
5. Uji Normality
Uji ini digunakan untuk menguji apakah dalam model regresi, data variabel dependen dan independen yang digunakan memiliki distribusi normal atau tidak. Ada beberapa cara untuk mengujinya, salah satunya dengan analisa grafik. Dengan metode grafik kita dapat melihat data yang digunakan memberikan distribusi normal atau tidak dengan melihat histogram dan normal probability plot.
6. Uji Linieritas
58
spesifikasi model bentuk lain. Spesifikasi model dapat berupa linier, kuadratik atau kubik. Untuk melihat spesifikasi model yang tepat, salah satunya dengan uji Lagrange Multiplier. Yaitu bertujuan untuk mendapatkan nilai dengan cara mengalikan jumlah data observasi dikalikan dengan .
Kriteria analisis:
1. Jika x2 hitung > x2 tabel spesifikasi model persamaan regresi linier tidak benar
2. Jika x2 hitung <x2 tabel spesifikasi model persamaan regresi linier benar, Bawono (186:2006).
I. Analisa Regresi
Analisis Regresi digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh persepsi (X), sikap (Z), terhadap perilaku (Y). Persamaan regresi linear berganda dicari dengan rumus:
Y = + X1 + X2 + Z + X1.Z + X2.Z + e Keterangan:
Y = variabel perilaku = konstanta
- = koefisien
X1 = variabel ekspektasi
X2 = variabel situasi lingkungan Z = variabel sikap
59
J. Alat Analisa