• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ni Md. Chindy Aryani Wardani¹, Ign. Wayan Suwatra², Nyoman Wirya³

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Ni Md. Chindy Aryani Wardani¹, Ign. Wayan Suwatra², Nyoman Wirya³"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN

TEAM

ASSISTED INDIVIDUALIZATION

(TAI) TERHADAP HASIL BELAJAR MATA PELAJARAN IPA PADA SISWA

KELAS VII TAHUN AJARAN 2014/2015

DI SMP NEGERI 1 BANJAR

Ni Md. Chindy Aryani Wardani¹, Ign. Wayan Suwatra², Nyoman Wirya³

1,2,3

Jurusan Teknologi Pendidikan, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Pendidikan

Anak Usia Dini, FIP

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

Email : [email protected]¹,[email protected]²,

[email protected]

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran Team Assisted Individualization (TAI) dengan siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada kelas VII SMP Negeri I Banjar Tahun Ajaran 2014/2015.

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu dengan rancangan pretest-posttest dua kelompok (Noneqivalent Control Group Design). Populasi penelitian yaitu seluruh siswa kelas VII di SMP Negeri 1 Banjar yang berjumlah 511 orang, dari 511 orang tersebut didapat 30 orang untuk kelas eksperimen dan 30 orang kelas control. Penentuan sampel dilakukan menggunakan random sampling dengan teknik undian. Data yang dikumpulkan adalah hasil belajar IPA yang didapat dengan menggunakan metode tes jenis objektif pilihan ganda dengan jumlah 30 soal objektif. Data yang dikumpulkan dianalisis menggunakan statistik deskriptif dan statistik inferensial dengan menggunakan rumus uji-t.

Hasil penelitian pada siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran TAI, diperoleh rata-rata hasil belajar IPA sebesar 72,74, dengan hasil belajar yang termasuk kategori sangat baik sebesar 50% = 15 orang, kategori baik sebesar 30% = 9 orang, dan kategori cukup sebesar 20% = 6 orang. Rata-rata hasil belajar IPA siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional adalah 66,42, dengan hasil belajar yang termasuk kategori sangat baik sebesar 26,66% = 8 orang, kategori baik sebesar 50% = 15 orang, dan kategori cukup sebesar 23,33% = 7 orang. Berdasarkan hasil analisis uji-t diperoleh thitung = 2,34 pada taraf signifikansi 5% dan dk=58, dan ttabel(α=0,05;58)=2,000.

Ini berarti thitung>ttabel, maka H0 ditolak. Ini menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TAI

memberikan pengaruh positif terhadap hasil belajar IPA siswa, yang berarti bahwa hasil belajar IPA siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe TAI lebih tinggi dari hasil belajar IPA siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar IPA siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran TAI dengan siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada kelas VII SMP Negeri 1 Banjar tahun ajaran 2014/2015.

(2)

ABSTRACT

This study aims to determine significant differences between students' science learning outcomes that learned through learning model Team Assisted Individualization (TAI) with students that learned through conventional learning in class VII Junior High School I Banjar Academic Year 2014/2015.

This study was a quasi-experimental study with pretest -posttest two groups (Noneqivalent Control Group Design). The study population is the entire seventh grade students at SMP Negeri 1 Banjar, amounting to 511 people, of the 511 people come to class 30 experimental and 30 control class. The samples made using random sampling techniques lottery. The data collected is science learning outcomes obtained by using the method of multiple choice objective type test with a number of 30 objective questions. The data collected were analyzed using descriptive statistics and inferential statistics using t-test formula.

Results of research on students that learned through learning model of TAI, gained an average of 72.74 science learning outcomes, the learning outcomes that are categorized very good by 50 % = 15 people, both categories by 30 % = 9 people, and enough categories 20% = 6. The average results of learning science students that learned through conventional teaching is 66.42, the learning outcomes that include excellent category of 26.66 % = 8, both categories by 50 % = 15 people, and enough category of 23.33 % = 7. Based on the results of t-test analysis obtained t = 2.34 at a significance level of 5 % and df = 58, and TTable ( α = 0.05 ; 58 ) = 2.000. This means tcount > ttable , then H0 is rejected. It shows that the cooperative learning model of TAI a positive impact on students' science learning outcomes, which means that the results of learning science students that learned through cooperative learning model of TAI is higher than the results of learning science students that learned through conventional learning. So it can be concluded that there are significant differences between the results of learning science students that learned through TAI learning model with the students that learned through conventional learning in class VII SMP Negeri 1 Banjar academic year 2014/2015.

Keywords : TAI Learning Model, Model Conventional Learning, Learning Outcomes, and Science.

PENDAHULUAN

Pendidikan dalam lingkup nasional adalah untuk mengembangkan kemampuan atau kualitas peserta didik baik kemampuan didalam bidang akademik maupun non akademik, dengan kemampuan atau kualitas peserta didik yang semakin berkembang dapat meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) terutama dalam bidang pendidikan.

Salah satu pembelajaran yang wajib diperoleh peserta didik di sekolah adalah Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) secara umum di tingkat pendidikan jenjang SMP/MTs meliputi mata pelajaran fisika, kimia dan biologi yang membantu siswa memahami fenomena dan gejala alam. Perolehan keutuhan belajar IPA tentang kehidupan dunia nyata dan fenomena alam dapat direfleksikan melalui pembelajaran IPA terpadu (BSNP, 2006).

Demi memaksimalkan proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sesuai dengan tuntutan kurikulum,

maka sekolah harus mempunyai tenaga pendidik yang berkompetensi khususnya dibidang mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Guru sebagai tenaga pendidik harus mampu menciptakan suasana pembelajaran yang efektif. Untuk mampu menciptakan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang efektif diperlukan sarana dan prasarana yang memadai, misalnya tempat belajar yang nyaman untuk para peserta didik, alat-alat peraga, maupun buku-buku pelajaran.

Sarana dan prasarana saja belum menjamin tercapainya tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) karena semua itu tergantung pada kualitas pembelajaran yang terjadi didalam kelas. Dalam hal ini, model pembelajaran memegang peranan penting dalam mencapai tujuan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA).

Berdasarkan pada kenyataannya, proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) belum berjalan secara efektif. Hasil observasi yang dilakukan di sekolah SMP Negeri I Banjar menunjukkan proses

(3)

pembelajaran yang kurang aktif, yang berdampak pada rendahnya hasil belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) siswa. Guru cenderung menggunakan metode konvensional atau ceramah dalam menyampaikan materi pelajaran, materi yang diberikan hanya berpatokan pada satu buku saja dan pembelajaran juga masih bersifat hapalan sehingga siswa mudah bosan dan materi pelajaran yang diberikan oleh guru cepat dilupakan. Tidak dapat dipungkiri kemampuan masing-masing individu dalam menerima pelajaran dalam kelas berbeda-beda. Siswa yang memiliki kemampuan lebih akan cenderung malas mengikuti proses pembelajaran sedangkan siswa yang berkemampuan lambat dalam menerima pelajaran akan semakin mengalami kemunduran.

Untuk itu, penelitian ini bermaksud melakukan inovasi dalam proses pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran Team Assisted

Individualization (TAI). Model

Pembelajaran Team Assisted

Individualization (TAI) merupakan model

pembelajaran yang dimana bertujuan untuk menyatukan pembelajaran individual dan pembelajaran kelompok. Model ini merangkul siswa untuk bekerja dalam sebuah tim yang bersifat campuran atau heterogen yaitu siswa yang memiliki prestasi belajar yang rendah, sedang, dan tinggi berada didalam satu kelopok atau satu tim (Suyitno, 2002:10).

Model pembelajaran kooperatif

Team Assisted Individualization (TAI)

dapat dipilih sebagai alternatif model pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) di SMP khususnya di sekolah SMP Negeri I Banjar. Jika dilihat dari kelebihan model Team Assisted Individualization

(TAI) ini terdapat beberapa alasan yang mendukung yaitu, dapat meningkatkan kerjasama maupun partisipasi siswa karena setiap anggota memiliki tanggung jawab dan tugas terhadap kelompoknya. Selain itu juga, siswa tidak hanya menunggu bantuan dari guru, melainkan siswa dapat meminta bantuan maupun berdiskusi kepada temannya yang lain. Sehingga, siswa yang memiliki keapuan lebih akan mendapatkan kesempatan

untuk meningkatkan kemampuannya akademiknya dengan menjadi tutor sebaya bagi siswa yang memiliki kemampuan kurang dalam pembelajaran, sedangkan siswa yang lemah akan menjadi terbantu sehingga terjadi interaksi yang aktif dan mendorong partisipasi setiap anggota kelompok dalam belajar.

Penelitian ini didukung oleh penelitian sebelumnya yang telah dilakukan oleh Pande Putra (2014) yang menyatakan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe TAI berbantuan Media

Powerpoint berpengaruh signifikan

terhadap hasil belajar PKn SD. Selain itu, penelitian lainnya juga dilakukan oleh Purnamayanti (2013) yang menyatakan bahwa model pembelajaran TAI berbantuan kartu bilangan berpengaruh terhadap hasil belajar PKn siswa kelas V SD Gugus 8 Mengwi.

Berdasarkan pemikiran tersebut, maka dilakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Model Pembelajaran Team

Assisted Individualization (TAI) Terhadap

Hasil Belajar Mata Pelajaran IPA Pada Siswa Kelas VII Di SMP Negeri I Banjar Tahun Ajaran 2014/2015”.

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan, maka terdapat beberapa rumusan masalah dalam penelitian ini, antara lain: 1) Bagaimanakah hasil belajar IPA siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran Team Assisted

Individualization (TAI) pada kelas VII SMP

Negeri I Banjar Tahun Ajaran 2014/2015?; 2) Bagaimanakah hasil belajar IPA siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada kelas VII SMP Negeri I Banjar Tahun Ajaran 2014/2015?; 3) Apakah terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran Team Assisted

Individualization (TAI) dengan siswa yang

dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada kelas VII SMP Negeri I Banjar Tahun Ajaran 2014/2015?

Dari permasalahan yang telah dipaparkan diatas, maka tujuan dari penelitian ini adalah: 1) Untuk mengetahui hasil belajar IPA siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran Team

Assisted Individualization (TAI) pada kelas

(4)

2014/2015; 2) Untuk mengetahui hasil belajar IPA siswa yang dibelajarakan melalui pembelajaran konvensional pada kelas VII SMP Negeri I Banjar Tahun Ajaran 2014/2015; 3) Untuk mengetahui perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran Team

Assisted Individualization (TAI) dengan

siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada kelas VII SMP Negeri I Banjar Tahun Ajaran 2014/2015.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen semu (quasi

experiment) karena tidak semua variabel

yang muncul dalam kondisi eksperimen dapat diatur dan dikontrol secara ketat. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Non equivalent

Control Group. Desain ini dipilih untuk

memudahkan guru dalam membagi kelompok siswa secara heterogen melalui

pre-test.Penelitian ini hanya

menggunakan dua kelompok, yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Prosedur penelitian dalam penelitian ini terdiri dari tiga tahapan, yaitu tahap persiapan, pelaksanaan, dan tahap akhir penelitian. Dalam penelitian ini terdapat populasi dan sampel penelitian. Populasi adalah keseluruhan objek dalam suatu penelitian (Agung, 2012:47). Populasi penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Negeri 1 Banjar yang berjumlah 511 orang. Sampel adalah sebagian dari populasi yang diambil, yang dianggap mewakili seluruh populasi dan diambil dengan menggunakan teknik tertentu (Agung, 2012:47). Untuk menentukan sampel yang diteliti digunakan teknik simple random

sampling. Teknik ini dilakukan dengan

mengundi secara random semua kelas VII di SMP Negeri I Banjar untuk memperoleh sampel. Dari hasil pengundian, terpilih kelas VII G SMP Negeri 1 Banjar dan VII C SMP Negeri 1 Banjar sebagai sampel penelitian. Untuk mengetahui apakah sampel benar-benar setara, sampel yang terpilih diberikan pre-test lalu diuji kesetaraannya dengan menggunakan teknik matching.

Dari pemetaan diperoleh jumlah sampel seluruhnya adalah 60 orang siswa dengan 30 orang siswa dari kelas VII G SMP Negeri 1 Banjar dan 30 orang siswa dari kelas VII C SMP Negeri 1 Banjar. Setelah diundi, ditentukan bahwa kelas VII G sebagai kelompok eksperimen yang dibelajarkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe TAI, dan kelas VII C sebagai kelompok kontrol yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional. Penelitian ini melibatkan dua variabel yaitu variabel bebas yang merupakan model pembelajaran yang digunakan yaitu model pembelajaran TAI dan variabel terikatnya adalah hasil belajar IPA siswa kelas VII.

Penelitian ini menggunakan tes hasil belajar dalam bentuk soal obyektif. Dalam soal obyektif setiap butir soal yang dijawab benar diberi skor 1 (satu), sedangkan untuk setiap jawaban salah diberi skor 0 (nol). Jenis ini dalam ilmu statistik dikenal dengan nama data diskret murni atau data dikotomi. Berdasarkan penghitungan, dari 60 butir tes yang dilakukan di beberapa kelas di SMP Negeri 1 Banjar pada siswa kelas VIII dengan jumlah siswa yang dites sebanyak 80 orang pada taraf signifikansi 5% didapat rtabel = 0,22. Sehingga didapatkan 32 butir soal yang dinyatakan valid dan 28 butir soal dinyatakan tidak valid.

Setelah melakukan tes uji valid, dilanjutkan uji reliabilitas. Uji reliabilitas ini hanya digunakan pada butir soal yang telah dinyatakan valid saja. Dalam pemberian interpretasi terhadap koefisien reliabilitas tes (r11) pada umumnya digunakan patokan yaitu (1) apabila r11 sama dengan atau lebih besar daripada 0,70 berarti tes hasil belajar yang sedang diuji reliabilitasnya dinyatakan telah memiliki reliabilitas yang tinggi (reliable); (2) apabila r11 lebih kecil daripada 0,70 berarti bahwa tes hasil belajar yang sedang diuji reliabilitasnya dinyatakan belum memiliki reliabilitas yang tinggi ( un-reliable). Hasil perhitungan uji reliabilitas tes hasil belajar IPA, diperoleh nilai r11 = 0.85. Sehingga r11 = 0.85 >rtabel = 0,70. Dengan demikian tes hasil belajar IPA tergolong reliabel. Setelah uji reliabilitas dilakukan uji daya beda menggunakan

(5)

rumus . Berdasarkan atas hasil uji coba butir tes yang jumlahnya 32 butir soal yang telah valid, diperoleh 2 butir soal yang masuk dalam kriteria daya beda jelek, 2 butir soal yang masuk dalam kriteria daya beda cukup, 27 butir soal masuk dalam kriteria daya beda baik, serta 1 butir soal masuk dalam kriteria daya beda sangat baik.

Soal yang masuk kedalam kriteria jenis soal dengan daya beda jelek dibuang, sehingga hanya digunakan 30 butir soal saja. Kemudian terakhir dilakukan uji tingkat kesukaran menggunakan rumus . Maka diperoleh hasil dari 30 butir tes yang telah dinyatakan valid dalam uji validitas dan uji daya beda didapat 5 butir soal yang termasuk dalam kriteria tingkat kesukaran sukar, 22 butir soal yang termasuk dalam kriteria tingkat kesukaran sedang, dan 3 butir soal yang termasuk dalam kriteria tingkat kesukaran mudah.

Data yang diperoleh dari hasil belajar IPA dikumpulkan dengan instrumen berupa tes objektif berjumlah 30 butir soal yang telah divalidasi. Teknik yang digunakan untuk menganalisis hasil belajar IPA adalah dengan menggunakan analisis statistik yaitu uji-t. Sebelum dilakukan uji-t terlebih dahulu dilakukan uji prasyarat yang meliputi uji normalitas sebaran data dan uji homogenitas varians. Uji Normalitas dilakukan untuk mengetahui sebaran data skor hasil belajar IPA siswa masing-masing kelompok apakah berdistribusi normal atau tidak. Uji Normalitas sebaran data dalam penelitian menggunakan

Chi-square. Kriteria pengujian adalah jika

< , maka H0 diterima (gagal ditolak) yang berarti data berdistribusi normal. Pada taraf signifikansinya 5% dan derajat kebebasanya (db) = (b-1). Uji homogenitas data dilakukan dengan

Anava Havley (Uji F). Kriteria pengujian homogenitas, data mempunyai varians

yang homogen bila . Analisis statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis penelitian ini adalah uji beda mean (uji t). Rumus uji-t dengan rumus

polled varians digunakan karena jumlah

anggota sampel sama n1=n2 dan varians homogens. Dengan kriteria, jika thitung < ttabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak, sebaliknya jika thitung ≥ ttabel maka Ho ditolak dan Ha diterima. Pada taraf signifikan 5% dengan db = n1+n2-2.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan hasil perhitungan post-test, kelompok eksperimen (kelas VII G) yang dibelajarkan melalui model pembelajaran TAI memperoleh = 72,74, Me= 108,3, Mo = 70, S² = 111,86, dan S = 10,57. Kemudian pada kelompok kontrol atau konvensional memperoleh = 66,42, Me = 60, Mo=60, S² = 106,38, S = 10,31. Pada uji normalitas kelas eksperimen dengan taraf signifikansi 5% (ɑ = 0,05) dan dk=6-1 = 5 diperoleh = 11,07 dan tabel kerja

diperoleh = 4,15, dan

karena maka ho diterima yang berarti sebaran data nilai post-test IPA kelas VII G SMP Negeri 1 Banjar berdistribusi normal. Uji normalitas pada kelas kontrol pada taraf signifikansi 5% (ɑ = 0,05) dan dk = 6-1= 5 diperoleh = 11,07,

table kerja diperoleh =

2,59 karena maka h0

diterima. Maka sebaran data nilai post-test IPA kelas VII C SMP Negeri 1 Banjar berdistribusi normal.

Kemudian pada hasil uji homogenitas varians didapatkan hasil analisis F hitung = 1,05 dan F tabel = 1,85. Karena F hit< F tabel maka data hasil belajar IPA kelompok eksperimen dan kelompok kontrol dinyatakan memiliki varians yang homogen. Untuk uji hipotesis dilakukan dengan menggunakan analisis uji –t dengan rumus polled varians

rumus ini digunakan karena jumlah sampel yang sama dan varians homogen. Dengan kriteria pengujian apabila thitung<ttabel, maka Ho diterima dan Ha ditolak. Dengan db = n1+n2-2 dan taraf

(6)

signifikansi 5% (α=0,05) atau taraf kepercayaan 95%. Hasil uji-t dapat

Dari hasil analisis diperoleh nilai thitung=2,34, sedangkan ttabel (α=0,05)=2,00. Dengan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa Hoditolak dan Ha diterima. Rata-rata hasil belajar IPA yang diperoleh antara siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran TAI =72,74> =66,42 siswa yang dibelajarkan dengan pembelajaran konvensional. Maka dapat ditarik kesimpulan hasil analisis bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar IPA siswa kelompok eksperimen dengan kelompok siswa kontrol pada kelas VII SMP Negeri 1 Banjar Tahun Ajaran 2014/2015.

PENUTUP

Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat dikemukakan simpulan sebagai berikut. Nilai rata-rata hasil belajar IPA siswa kelas VII G SMP Negeri 1 Banjar yang dibelajarkan melalui model pembelajaran kooperatif tipe TAI sebesar 72,74, dengan hasil belajar yang termasuk kategori sangat baik sebesar 50%, termasuk kategori baik sebesar 30%, dan termasuk kategori cukup sebesar 20%. Nilai rata-rata hasil belajar IPA siswa kelas VII C SMP Negeri 1 Banjar yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional sebesar 66,42, dengan hasil belajar yang termasuk kategori sangat baik sebesar 26,66%, termasuk kategori baik sebesar 50%, dan termasuk kategori cukup sebesar 23,33%. Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang dilakukan oleh peneliti, diperoleh thit = 2,34 pada taraf signifikansi 5% dan dk = 58, diperoleh ttabel = 2,000. Dengan membandingkan hasil thitung dan ttabel yaitu (2,34 > 2,000) dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak. Berdasarkan hasil perhitungan uji-t menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar IPA antara siswa yang dibelajarkan

dilihat pada tabel 1.

melalui model pembelajaran kooperatif tipe TAI, dengan siswa yang dibelajarkan melalui pembelajaran konvensional pada siswa kelas VII SMP Negeri 1 Banjar Tahun Ajaran 2014/2015.

Berdasarkan hasil pembahasan dan kesimpulan, dapat diajukan beberapa saran, antara lain. Hasil penelitian ini dapat memberikan masukan kepada guru untuk merancang pembelajaran IPA yang efektif melalui inovasi pembelajaran dan memberikan pengetahuan serta pengalaman yang konkret untuk mengimplementasikan model pembelajaran kooperatif tipe TAI, masukan bagi kepala sekolah untuk meningkatkan mutu pendidikan di sekolah melalui perbaikan proses pembelajaran khususnya dalam pembelajaran IPA. Kepada Peneliti Lainnya diharapkan penelitian ini dapat menjadi acuan dan memberikan informasi dalam mengembangkan model pembelajaran kooperatif tipe TAI sebagai kegiatan penelitian.

DAFTAR RUJUKAN

Agung, A.A. 2012. Metodologi Penelitian

Pendidikan. Singaraja:Universitas

Pendidikan Ganesha.

Anni, Catharina Tri. 2004. Psikologi

Belajar. Semarang: Unnes Press.

Arikunto. 1987. Prosedur Penelitian Suatu

Pendekatan Praktek. Jakarta:

Rineka Cipta.

---. 2009. Manajemen Penelitian. Jakarta: Rineka Cipta.

---. 2010. Prosedur Penelitian

Pendekatan Praktek. Jakarta:

Rineka Cipta.

Tabel 1. Analisis Uji-t

Kelas Mean Varian N ttabel thitung Kesimpulan Eksperimen 72,74 111,86 30

Kontrol 66,42 106,38 30

(7)

BSNP. 2006. Standar Isi Untuk Satuan

Pendidikan Dasar dan

Menengah. Standar Kompetensi

(KD) dan Kompetensi Dasar

(KD). Jakarta: BSNP.

Darmadi, Hamid. 2011. Metode Penelitian

Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Depdiknas. 2004. Pengembangan

Pembelajaran IPA Terpadu,

SMP. Jakarta: Balai Pustaka. ---. 2006. Standar Isi Mata Pelajaran

IPA. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional.

Hamdani. 2011. Strategi Belajar

Mengajar. Bandung: Pustaka

Setia.

Huda, Miftahul. 2013. Model-Model Pengajaran dan Pembelajaran.

Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Isjoni. 2011. Cooperative Learning

Efektifitas Pembelajaran

Kelompok. Bandung: Alfabeta.

Juliantara, Ketut. 2009. Pendekatan

Pembelajaran Konvensional.

Tersedia pada:

http://kompasiana.com/post/4cd6 acec8ead0eb112ed0200

(diakses tanggal 13 Desember 2013).

Koyan, Wayan. 2004. Statistika Terapan. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha.

---. 2011. Asesmen dalam Pendidikan. Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha Press.

Mariani. 2009. Manajemen Teori dan

Belajar. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar.

Purnamayanti, Ni Luh Putu Deni. 2013.

Model Pembelajaran TAI

Berbantuan Kartu Bilangan

Berpengaruh Terhadap Hasil

Belajar Matematika Siswa Kelas

V SD Gugus 8 Mengwi. Tersedia

pada: http://ejournal. undiksha.ac.id/index

.php/JJPGSD/article/view/1923

(diakses tanggal 10 Oktober 2013).

Putra, Pande. 2014. Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TAI(Tea Assisted Individually) Berbantuan Media

PowerPoint Terhadap Hasil

Belajar PKn Siswa Kelas V SD Gugus 1 Kecamatan Petang

Badung. Tersedia pada:

http://ejournal. undiksha.ac.id/index .php/JJPGSD/article/view/

(diakses tanggal 15 Oktober 2014).

Rusman. 2010. Model-Model Pembelajaran : Mengembangkan

Profesionalisme Guru. Jakarta:

Rajawali Pers.

Rusyan, Tabrani. 2001. Proses Belajar Mengajar yang Efektif Tingkat

Pendidikan Dasar. Bandung:

Bina Budaya.

Sanjaya, Wina. 2008. Strategi

Pembelajaran. Jakarta: Kencana

Prenada Media Group.

---, 2009. Strategi Pembelajaran

Berorientasi Standar Pendidikan.

Jakarta: Kencana Prenada Media Group.

Slavin, R.E. 2008. Cooperative Learning:

Teori, Riset, and Praktik.

Terjemahan Nurulita. Nusa Media, Bandung.

---, 2010. Cooperative Learning: Teori,

Riset, and Praktik. Terjemahan

Nurulita. Bandung: Nusa Media. Sudjana, Nana. 2005. Penilaian Hasil

Proses Belajar Mengajar.

Bandung: Remaja Rosdakarya. ---, 2012. Penilaian Hasil Proses

Belajar Mengajar. Bandung:

Remaja Rosdakarya.

Sudijono, Anas. 2011. Pengantar Evaluasi

Pendidikan. Jakarta: Rajawali

(8)

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian

Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sulistyorini, Sri. 2007. Model

Pembelajaran IPA. Semarang:

Penerbit Kanisius.

Suprijono, Agus. 2010. Cooperative

Learning Teori dan Aplikasi

Paikem. Yogyakarta: Pustaka

Pelajar.

Suyatno. 2009. Menjelajah Pembelajaran

Inovatif. Jawa Timur: Masmedia

Buana Pustaka.

Suyitno, Amin. 2002. Pemilihan

Model-Model Pembelajaran dan

Penerapannya di Sekolah.

Jakarta: Bumi Aksara.

Trianto. 2007. Model Pembelajaran

Terpadu Dalam Teori dan

Praktek. Jakarta: Prestasi

Pustaka.

---. 2010. Mendesain Model

Pembelajaran Inovatif-Progresif.

Jakarta : Kencana.

Winarsunu. 2010. Statistik Dalam

Penelitian Psikologi dan

Pendidikan. Malang: Universitas

Negeri Malang.

Yamin, Martinis. 2011. Paradigma Baru

Pembelajaran. Jakarta: Gaung

Persada Press.

---, 2013. Strategi dan Metode

dalam Model Pembelajaran.

Referensi

Dokumen terkait

Sifat bobot buah segar, panjang buah, lebar buah, tebal kulit buah, jumlah biji per buah, bobot basah biji per buah, dan bobot kering per biji mempunyai pengaruh

 Berkenaan dengan bahasan ini, terdapat kata-kata deiksis, yaitu kata yang acuannya tidak menetap pada suatu maujud, melainkan dapat berpindah dari maujud yang satu

Gerabah atau kereweng (pecahan gerabah) sering kali ditemukan di anatara benda-benda lain pada situs arkeologi. Untuk keperluan studi arkeologi temuan ini sangat

institusi hukum dan profesi hukum, Pembangunan yang komprehensif harus memperhatikan hak-hak azasi manusia, keduanya tidak dalam posisi yang berlawanan, dan dengan

Penelitian ini menunjukan dari 3 sampel yang positif terdapat bakteri Streptococcus agalactiae dan resisten terhadap tetrasiklin terdapat 2 sampel yang positif menunjukan

Dari semua faktor yang diteliti baik jenis kelamin, umur, pendidikan formal, status pekerjaan, pengalaman gula darah rendah, kepemilikan alat pengukur gula darah,

Menurut PIC ESAP, seiring berjalannya waktu pada program ESAP, timbul berbagai permasalahan seperti peningkatan kemampuan dari para peserta berkemampuan lebih tinggi dan

variable, karena variabel ini tergantung dari Jenis Sekolah. Misal untuk jenis sekolah SMA, data 31 tidak dapat dimasukkan, karena data tersebut masuk pada jenis se- kolah SMK.