• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS PERGERAKAN BINTIK MATAHARI Dl DAERAH AKTIF NOAA 0375

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS PERGERAKAN BINTIK MATAHARI Dl DAERAH AKTIF NOAA 0375"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS PERGERAKAN BINTIK MATAHARI

Dl DAERAH AKTIF NOAA 0375

Oara Y. Yatint, E. Sunggfrtg Mumpunl Penelltt Puat Pemanfaatan Sains Mtiriksa, LAPAN

e m i t [email protected] ABSTRACT

The observation of the flaring s u n s p o t s group (active region) h a s been conducted to obtain the characteristic of spot's motion. In active region NOAA 0375 the motion i s divided i n two periods, 3 - 8 J u n e 2 0 0 5 , when the group was growing, and 10-12 J u n e 2 0 0 3 when it was decaying. By comparing the movement plots, we see that the strong flares were m o s t produced when the active region w a s in the decaying p h a s e .

ABSTRAK

P e n g a m a t a n t e r h a d a p gerak bintik dalam s u a t u grup bintik matahari (daerah aktif) y a n g menghasilkan flare dilakukan u n t u k mengetahui karakteristik pergerakan bintik-bintik yang a d a di d a l a m n y a . Pada d aer a h aktif NOAA 0 3 7 5 pergerakan bintik-bintik dalam d a e r a h tersebut p a d a tanggal 3 - 8 J u n i d a n 1 0 - 1 2 J u n i 2 0 0 3 memperlihatkan p e r t u m b u h a n dan peluruhan d a e r a h tersebut. Dari p e r u b a h a n luas g r u p tersebut dan dari d a t a

flare terlihat b a h w a flare k u a t y a n g dihasilkan p a d a s a a t g r u p ini meluruh

lebih banyak dibandingkan dengan p a d a s a a t d a e r a h ini berkembang. Kata kunci: Daerah aktif- bintik matahari - flare

1 PENDAHULUAN

Flare m e r u p a k a n fenomena energetik di atmosfer m a t a h a r i yang

melibatkan energi magnetik y a n g s e c a r a m e n d a d a k dikonversikan dalam energi b e n t u k lain. P a d a u m u m n y a persyaratan terjadinya flare adalah daerah aktif, sehingga s t u d i mengenai m e d a n magnetik di d a er a h aktif menjadi s a n g a t penting.

S a a t ini magnetic shear (sudut a n t a r a garis netral dengan garis-garis medan magnet transversal! dianggap sebagai kunci u n t u k memahami mekanisme p e n y i m p a n a n energi flare. Banyak flare terjadi di sekitar daerah yang konfigurasi magnetiknya mempunyai s u d u t [shear) y a n g besar (Zirin dan Tanaka, 1973; Kurokawa, 1987; Schmieder et. al., 1997). Akan tetapi banyak j u g a p e n g a m a t a n yang m e n u n j u k k a n bahwa magnetic shear tidaklah penting dalam k e m u n c u l a n flare (Chen et. al-, 1994; Fontenla et. al., 1995).

Tujuan dari p e n g a m a t a n t e r h a d a p d aer ah aktif ini adalah u n t u k memperoleh karakteristik dari d a er a h aktif y a n g m e m p u n y a i aktivitas flare

(2)

yang tinggi. Salah s a t u a s p e k y a n g a k a n dilihat di sini adalah evolusi dari grup bintiknya, t e r u t a m a pergerakan bintik m a t a h a r i dalam s u a t u grup, k a r e n a p e r g e r a k a n bintik ini berkaitan langsung d e n g a n mekanisme pelepasan energi magnetik. Hasil yang d i h a r a p k a n adalah p e n g e t a h u a n t e n t a n g b a g a i m a n a s e b u a h grup bintik m a t a h a r i b e r k e m b a n g d a n menghasilkan flare.

2 DATA DAN PENGOLAHANNYA

Daerah aktif y a n g dipilih u n t u k diteliti adalah d a e r a h aktif NOAA 0 3 7 5 . Daerah ini n a m p a k di piringan matahari sejak tanggal 2 J u n i d a n menghilang tanggal 14 J u n i 2 0 0 3 . Selama di piringan m a t a h a r i , d a e r a h ini m e m u n c u l k a n b a n y a k sekali flare sinar X (Tabel 2-1)

Tabel 2 - 1 : FREKUENSI FLARE SINAR X DENGAN KELAS LEBIH BESAR DARI KELAS C YANG DIHASILKAN OLEH NOAA 0 3 7 5 SELAMA KENAMPAKANNYA DI PIRINGAN MATAHARI. (SUMBER: SPACE

ENVIRONMENT CENTER)

Data y a n g d i p e r g u n a k a n p a d a penelitian ini, adalah d a t a aktivitas matahari yang diperoleh satelit TRACE {Transition Region and Coronal Explorer,

http:// vestige.lmsal.com/TRACEj. Data yang dipilih adalah d a t a dari tanggal

3 - 1 2 J u n i 2 0 0 3 . Citra yang diambil dari d a t a TRACE adalah b e r u p a d a e r a h aktif yang diamati dalam rentang cahaya tampak {white light). Pada umumnya d a t a yang dipilih m e m p u n y a i r e n t a n g waktu 1 j a m . Akan tetapi k a r e n a a d a b e b e r a p a r e n t a n g w a k t u y a n g tidak a d a datanya, m a k a dalam r e n t a n g waktu yang dipilih t e r s e b u t d a p a t d i k u m p u l k a n 93 d a t a citra m a t a h a r i dalam rentang c a h a y a t a m p a k . Data TRACE yang diperoleh m e m p u n y a i 3 m a c a m

(3)

ukuran, yaitu 512 x 512 piksel, 768 x 768 piksel, dan 1024 x 1024 piksel,

dengan 1 piksel mewakili 0.5 arcsec atau sekitar 360 km.

Contoh dari data TRACE yang telah diperoleh diperlihatkan pada

Gambar 2-1. Rangkaian data seperti ini, yang terdiri dari 93 data akan

dianalisa. Analisa dititikberatkan pada perkembangan grup bintik itu sendiri

dan bagaimana pergerakan bintik-bintik matahari yang ada dalam grup

tersebut. Seperti pada Gambar 2-1 terlihat jelas bagaimana grup ini

ber-kembang dengan cepat. Dari penelusuran ini diharapkan dapat diketahui

perkembangan grup bintik yang sangat aktif. Akan tetapi terdapat data yang

kosong, yaitu pada tanggal 9 Juni 2003. Perubahan daerah aktif yang cepat

dari tanggal 8 ke 10 Juni menyebabkan adanya bintik yang tidak dapat

ditelusuri, sehingga untuk menghindari kesalahan identifikasi bintik, maka

penelusuran pergerakan bintik dibagi menjadi 2 bagian, yaitu yang pertama

dimulai dari tanggal 3 sampai dengan 8 Juni dan yang kedua dari tanggal 10

sampai dengan 12 Juni 2003.

Analisis pergerakan bintik dalam grup dilakukan dengan menghitung

pergerakannya relatif terhadap satu bintik yang akan dijadikan acuan.

Sebagai langkah awal adalah menentukan posisi bintik pada masing-masing

gambar untuk memperoleh besarnya pergeseran. Untuk itu yang akan

dianalisa adalah gambar daerah aktif yang diperoleh dari TRACE. Karena

TRACE tidak merekam citra seluruh permukaan matahari, maka harus

diambil satu titik acuan sebagai titik nol relatif dari seluruh bintik yang

dihitung. Dengan melihat keseluruhan perkembangan daerah aktif, maka

diambil satu bintik yang stabil dan cukup jelas terlihat sebagai titik

acuannya. Setelah titik acuannya ditentukan, maka masing-masing bintik

yang akan diketahui dilihat dahulu posisinya dalam gambar dan dihitung

pergeserannya terhadap bintik acuan ini. Dalam perhitungan ini sebagai

acuan adalah bintik nomor satu seperti pada Gambar 2-2.

Besarnya pergeseran ini kemudian akan dikoreksi terhadap posisi

daerah aktif pada saat itu. Faktor koreksi ini diperlukan untuk mengetahui

pergeseran yang sesungguhnya, karena pengamatan akan dipengaruhi oleh

foreshortening, yaitu makin ke tepi matahari, daerah aktif akan terlihat makin

kecil. Besarnya pergeseran yang telah dikoreksi dihitung dengan persamaan:

(2-2)

3

(2-1)

(4)

Gambar 2-l:Beberapa contoh dari data dalam cahaya tampak (white lightj

TRACE yang akan dianalisa.Gambar atas: citra daerah aktif

0375 pada tanggal 3 Juni (kiri) dan 6 Juni (kanan). Gambar

bawah: tanggal 8 J u n i (kiri) dan 11 J u n i 2003 (kanan).

(5)

6 JUNI2003 04:12:29 UT 8 JUNI2003 04:28:58 UT

Gambar 2-2: Contoh perkembangan grup sunspot dalam beberapa gambar

pada tanggal 3 - 8 Juni 2003

Bila latitude (lintang) dinyatakan dengan sudut a, dan longitude (bujur)

dengan sudut p, dan jarak grup bintik dari ekuator matahari adalah A, maka

skemanya menjadi seperti pada Gambar 2-3.

N

Gambar 2 - 3 : S k e m a posisi bintik di m a t a h a r i d i n y a t a k a n dalam posisi lintang d a n bujur di m a t a h a r i

(6)

Koreksi posisi harian (cos 9 pada persamaan 2-2) pada besarnya

pergeseran ditunjukkan pada Tabel 2-2. Dengan demikian besarnya pergeseran

masing-masing bintik dikoreksi dengan faktor ini.

(7)

3 HASIL

3.1 Pergerakan Blntik Matahari di NOAA 0 3 7 5 pada Tanggal 3 - 8 Juni 2 0 0 3

Daerah aktif NOAA 0 3 7 5 mulai t a m p a k hemisfer m a t a h a r i p a d a tanggal 2 J u n i 2 0 0 3 dan kembali menghilang di tepi b a r a t p a d a tanggal 13 J u n i 2 0 0 3 . Selama periode ini d a t a y a n g d i k u m p u l k a n adalah dari tanggal 3 - 12 J u n i , kecuali u n t u k tanggal 9 J u n i tidak diperoleh d a t a da er ah aktif ini. Daerah ini berkembang dengan sangat cepat, seperti terlihat pada Gambar 2-2, dan menghasilkan b a n y a k flare (Tabel 2-1).

Bintik-bintik m a t a h a r i yang a d a di dae r ah aktif ini j u g a berkembang cepat, d a n menjadi sangat banyak. Secara garis b e s a r h a n y a diambil beberapa bintik y a n g a k a n dihitung pergerakannya, yaitu bintik-bintik y a n g bernomor seperti p a d a Gambar 2-2. Gerakannya adalah seperti p a d a Gambar 3-1 dan 3-2. Salah s a t u contoh saat terjadinya flare ditunjukkan dengan tanda p a n a h . P a d a saat ini flare yang terjadi adalah kelas M1.0 y a n g terjadi pada tanggal 6 J u n i 2 0 0 3 j a m 2 3 : 3 3 UT.

Pada plot j a r a k bintik t e r h a d a p a c u a n n y a ini t e r d a p a t beberapa data yang kosong, sehingga pergerakan bintik tidak lengkap. Akan tetapi dari

trend (kecenderungan) y a n g diperoleh, bintik yang terletak di sebelah kiri

(sebelah Timur) bintik a c u a n bergerak ke a r a h kiri (timur), s e d a n g k a n bintik yang terletak di sebelah k a n a n (Barat)nya t a m p a k bergerak ke a r a h k a n a n (Barat) a t a u setiap bintik t a m p a k menjauhi bintik a c u a n n y a . Kecepatan bintik-bintik p a d a a r a h ini berkisar a n t a r a 0 - 0.201 k m / d e t i k t e r h a d a p acuannya. Akibatnya l u a s g r u p makin besar. B e r t a m b a h n y a l u a s g r u p ini bisa disebabkan k a r e n a pergerakan fluks magnetik y a n g bergerak ke a t a s (naik), sehingga j a r a k a n t a r a bintik makin besar, b i s a j u g a sebagai akibat dari rotasi diferensial m a t a h a r i yang menyebabkan bintik y a n g terletak lebih dekat ke e k u a t o r bergerak lebih cepat dari p a d a bintik y a n g lebih j a u h dari ekuator m a t a h a r i . Sedangkan u n t u k arah Y (latitudinal) tidak terlihat perubahan j a r a k y a n g berarti dari masing-masing bintik t e r h a d a p a c u a n n y a .

Kecepatan t e r h a d a p bintik a c u a n n y a a n t a r a 0 - 0.068 k m / d e t i k .

3.2 Pergerakan Bintik Matahari di NOAA 0 3 7 5 pada tanggal 10 - 12 Juni 2 0 0 3

Pergerakan bintik m a t a h a r i mulai tanggal 10 J u n i dihitung dengan acuan bintik no. 1 (Gambar 3-3), dcmikian juga dengan penomoran binuknya. Sedangkan hasil p e n g u k u r a n n y a ditunjukkan p a d a G a m b a r 3-4 d a n 3-5.

P a d a r e n t a n g waktu ini a d a beberapa flare b e s a r yang muncul, diantaranya 2 flare k e l a s X, y ai tu X1.7 p a d a tanggal 10 J u n i 2 0 0 3 j a m 21:31 UT dan X1.6 p a d a tanggal 11 J u n i 2 0 0 3 j a m 20:01 UT. Selain dua flare klas X ini a d a b a n y a k flare kelas M y a n g m u n c u l (Tabel 2-1)

(8)

Gambar 3-2: Pergerakan bintik-bintik matahari dalam daerah aktif NOAA

0375 pada tanggal 3 - 8 Juni 2003 pada arah y (arah lintang

matahari). Pergerakan dihitung relatif terhadap bintik no 1

(9)

Gambar 3-4: Pergerakan bintik-bintik matahari dalam daerah aktif NOAA

0375 pada tanggal 10 - 12 Juni 2003 pada arah x (arah bujur

matahari). Pergerakan dihitung relatif terhadap bintik no 1

(10)

Gambar 3-5: Pergerakan bintik-bintik m a t a h a r i dalam d a e r a h aktif NOAA 0 3 7 5 p a d a tanggal 1 0 - 1 2 J u n i 2 0 0 3 p a d a a r a h y (arah lintang matahari). Pergerakan dihitung relatif t e r h a d a p bintik no 1

Pada Gambar 3-4 d a n 3-5 terlihat bahwa j a r a k a n t a r bintik berkurang, yang ditunjukkan dengan gerak ke k a n a n (barat) u n t u k bintik-bintik yang terletak di sebelah kiri bintik a c u a n , d a n gerak ke kiri (timur) u n t u k yang terletak di sebelah k a n a n bintik a c u a n . Kecepatan t e r h a d a p bintik a c u a n n y a p a d a a r a h x (longitudinal) berkisar a n t a r a 0 - 0 . 0 9 k m / d e t i k , d a n p a d a a r a h y (latitudinal) antara 0 - 0.07 km/detik. Dengan demikian luas grup bintik makin mengecil. P e n g u r a n g a n l u a s bintik ini m e n u n j u k k a n b a h w a d a e r a h aktif tersebut s u d a h mulai m e l u r u h . Akan tetapi ternyata p a d a s a a t m e l u r u h ini j u s t r u m u n c u l flare b e s a r kelas X.

4 PEMBAHASAN

Dari pergerakan bintik dari tanggal 3 - 8 J u n i , k e m u d i a n dilanjutkan dengan tanggal 1 0 - 1 2 J u n i 2 0 0 3 , terlihat a d a n y a p e r b e d a a n yang jelas p a d a pergerakan bintik, t e r u t a m a u n t u k a r a h longitudinal (bujur). Pada saat d a e r a h aktif ini b e r k e m b a n g j a r a k masing-masing bintik t e r h a d a p a c u a n n y a makin besar. Selain k a r e n a akibat rotasi diferensial m a t a h a r i , bisa jadi fluks magnetik y a n g m e n g h u b u n g k a n bintik bipolar makin naik, sehingga bintik makin menjauh. P a d a r e n t a n g waktu ini banyak flare y a n g dihasilkan, a k a n tetapi u m u m n y a adalah flare kelas C dengan kelas terbesar adalah flare kelas M1.0.

(11)

Pada tanggal 1 0 - 1 2 J u n i 2 0 0 3 , grup ini mulai meluruh, yang ditandai dengan pergerakan bintik yang makin m e n d e k a t t e r h a d a p a c u a n n y a (jarak terhadap a c u a n makin kecil), yang mengakibatkan l u a s n y a makin kecil. Akan telapi pada s a a t m e l u r u h ini j u s l r u b a n y a k _/Zare bcsar yang dihasilkan, yaitu sebanyak 20 flare kelas M dan 2 flare X (Tabel 2-1).

Pada s a a t d a e r a h aktif mencapai m a k s i m u m , f l u k s b a r u y a n g m u n c u l akan menyesuaikan dengan fluks lama y a n g s u d a h ada, d a n m e m b e n t u k struktur magnetik yang b a r u . Karena garis-garis m e d a n p a d a d ae r ah ini sudah sulit u n t u k b e r u b a h , fluks baru ini a k a n t e r u s m e n d e s a k ke a t a s sampai terjadinya kondisi yang lebih stabil. Apabila terjadi p e r u b a h a n m a k a rekoneksi a k a n terjadi dan timbullah flare. Hal inilah yang menyebabkan terjadinya flare y a n g c u k u p besar p a d a saat da er ah aktif mulai meluruh.

5 KESIMPULAN

Daerah aktif NOAA 0 3 7 5 m e r u p a k a n d a e r a h y a n g s a n g a t aktif, y a n g melontarkan b a n y a k sekali flare selama k u r u n waktu p e n a m p a k a n n y a di piringan matahari. Pergerakan bintik di daerah aktif NOAA 0375 menunjukkan bahwa l u a s bintik d a p a t berkembang (makin luas) d a n p a d a saat tertentu setelah mencapai m a k s i m u m , l u a s n y a a k a n berkurang. Flare-flare y a n g dilontarkannya bervariasi dari kelas B sampai dengan X. P a d a saat perkembangannya, lebih b a n y a k flare kelas C yang dilontarkan, s e d a n g k a n pada saat p e l u r u h a n n y a j u s t r u kelas flare yang k u a t lebih banyak dihasilkan.

Dari karakteristik d a er a h ini diketahui b a h w a flare y a n g besar dilontarkan p a d a s a a t d a e r a h aktif (grup sunspotj mulai m e l u r u h , b u k a n pada saat p e r k e m b a n g a n n y a . Pada s a a t m a k s i m u m fluks y a n g baru a k a n terus m e n d e s a k garis-garis m e d a n magnetik y a n g telah terbentuk sebelumnya sehingga diperoleh keadaan y a n g lebih stabil. Proses ini a k a n mengakibatkan terjadinya rekoneksi sehingga k e a d a a n ini mungkin yang mengakibatkan m u n c u l n y a flare-flare yang besar p a d a s a a t d ae ra h aktif mulai meluruh.

DAFTAR RUJUKAN

Chen, J . , Wang, H., Zirin, H„ Ai, G., 1994. Solar Phys. 154, 2 6 1 .

Fontenla, J. M., Ambastha, A., Kalman, B., Csepura, G., 1995. Astrophys. J., 4 4 0 , 894.

Kurokawa, H-, 1 9 8 7 . Solar Phys. 113, 2 5 9 .

Schmieder, B., Aulanier, G., Demoulin, P., van-Driel Gesztelyi, L., Roudier, T., Nitta, N., Cauzzi G., 1997. Astron & Astrophys. 3 2 5 , 1213.

Transition Region a n d Coronal Explorer, http:/ / vestiae.lmsalcom/TRACE/. Zirin, H., Tanaka, K., 1973. Solar Phys. 32, 173.

Gambar

Tabel  2 - 1 : FREKUENSI FLARE SINAR X DENGAN KELAS LEBIH BESAR DARI  KELAS C YANG DIHASILKAN OLEH NOAA  0 3 7 5 SELAMA  KENAMPAKANNYA DI PIRINGAN MATAHARI
Gambar 2-l:Beberapa contoh dari data dalam cahaya tampak (white lightj  TRACE yang akan dianalisa.Gambar atas: citra daerah aktif  0375 pada tanggal 3 Juni (kiri) dan 6 Juni (kanan)
Gambar 2-2: Contoh perkembangan grup sunspot dalam beberapa gambar  pada tanggal  3 - 8 Juni 2003
Tabel 2-2: FAKTOR KOREKSI (COS 9) HARIAN UNTUK NOAA 0375
+4

Referensi

Dokumen terkait

Upaya menemukan hambatan-hambatan yang dialami oleh penduduk migran yang berasal dari luar Madura terkait proses adaptasi mereka dengan nilai-nilai sosial budaya penduduk

bulu disekitar punggung tikus putih dicukur dan dibersihkan dengan alkohol 70%, kemudian dilakukan sayatan dengan scalpel sepanjang 1,5 cm sampai subkutan, dan

Membahas mengenai teknik pengumpulan data, karena metode dan pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif, maka pengumpulan data akan

Keuntungan dari perlakuan in vitro adalah bahan untuk perbanyakan tanaman dapat menggunakan bagian tanaman generatif maupun bagian tanaman vegetatif, cepat

Pada tahap analisis dipaparkan tentang kebutuhan fungsional aplikasi yang digunakan untuk menganalis spektrum kaca dengan komposisi 55TeO2-2Bi2O3-(43-x)ZnO-xEr2O3 (TZB:Er)

Menurut Mardiasmo (2002, h.241) menjelaskan bahwa pengawasan aset daerah diperlukan untuk menghindari penyimpangan perencanaan maupun pengelolaan aset yang dimiliki

Undang-Undang Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang diamandemen tentang tanggung jawab pendidikan dirumuskan dalam Pasal 31 ayat (1) menyatakan setiap warga negara berhak

Dengan semakin berkurangnya tingkat ketergantungan Pemerintah Daerah terhadap Pemerintah Pusat, Daerah dituntut mampu meningkatkan profesionalisme aparatur Pemerintah