BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. TEKANAN DARAH
1. Pengertian Tekanan Darah
Menurut Ethel (2004) menyatakan bahwa tekanan darah adalah daya dorong ke semua arah pada seluruh permukaan yang tertutup pada
dinding bagian dalam jantung dan pembuluh darah.
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi medis
menunjukan peningkatan tekanan darah secara kronis (dalam jangka waktu yang lama). Pemeriksaan tekanan darah akan didapat dua angka, angka yang lebih tinggi diperoleh pada saat jantung berkontraksi atau
sistolik, angka yang lebih rendah diperoleh pada saat jantung berelaksasi atau diastolik. Tekanan darah kurang dari 120/80 mmHg didefinisikan
sebagai kondisi yang normal. Tekanan darah tinggi biasanya terjadi kenaikan tekanan sistolik dan diastolik. Hipertensi biasanya terjadi pada tekanan darah 140/90 mmHg atau lebih, diukur dikedua lengan tiga kali
dalam jangka waktu beberapa minggu (Guyton dan Hall, 2001).
Menurut James (2011) bahwa tekanan darah adalah tekanan yang
dihasilkan oleh darah dari sistem sirkulasi atau sistem vaskuler terhadap dinding pembuluh darah. Hipotensi (Hypotension) atau tekanan darah rendah merupakan suatu keadaan dimana tekanan darah seseorang turun
Adapun nilai normal tekanan darah seseorang secara umum adalah 120/80 mmHG. Namun beberapa orang mungkin memiliki nilai tekanan
darah (tensi) berkisar 110/90 mmHg atau bahkan 100/80 mmHg, tapi mereka tidak/belum atau jarang menampakkan beberapa keluhan berarti,
sehingga hal itu dirasakan biasa saja dalam aktivitas kesehariannya (Evelyn, 2000).
Tekanan darah merujuk kepada tekanan yang dialami darah pada
pembuluh arteri darah ketika darah di pompa oleh jantung ke seluruh anggota tubuh manusia. Tekanan darah dibuat dengan mengambil dua
ukuran dan biasanya diukur seperti berikut - 120 /80 mmHg. Nomor atas (120) menunjukkan tekanan ke atas pembuluh arteri akibat denyutan jantung, dan disebut tekanan sistole. Nomor bawah (80) menunjukkan
tekanan saat jantung beristirahat di antara pemompaan, dan disebut tekanan diastole. Saat yang paling baik untuk mengukur tekanan darah
adalah saat tenaga kerja istirahat dan dalam keadaan duduk atau berbaring. Bila tekanan darah diketahui lebih tinggi dari biasanya secara berkelanjutan, orang itu dikatakan mengalami masalah darah tinggi.
Penderita darah tinggi mesti sekurang-kurangnya mempunyai tiga bacaan tekanan darah yang melebihi 140/90 mmHg saat istirahat.
2. Pengaturan Tekanan Darah
Pengaturan saraf pusat vasomotorik pada medulla otak mengatur tekanan darah. Pusat kardioakselerator dan kardioinhibitor mengatur curah
tingkat rendah yang terus menerus pada serabut otot polos dinding pembuluh. Ada sejumlah zat kimia yang secara langsung atau tidak
langsung mempengaruhi tekanan darah. Zat tersebut meliputi:
a) Hormon medulla adrenal (norepineprin termasuk vasokonstriktor) epinefrin dapat berperan sebagai sebagai suatu vasokonstriktor atau vasodilator, bergantung pada jenis reseptor otot polos pada pembuluh darah organ.
b) Hormon antidiuretik (vasopresin) dan oksitosin yang disekresi dari kelenjar hipofisis posterior termasuk vasokonstriktor.
c) Angiostensin adalah sejenis peptida darah yang dalam bentuk aktifnya termasuk salah satu vasokonstriktor kuat.
d) Prostaglandin adalah agen seperti hormon yang diproduksi secara
lokal dan mampu bertindak sebagai vasodilator atau vasokonstriktor (Ethel, 2004).
3. Cara Mengukur Tekanan Darah
Tekanan darah arteri sistolik dan diastolik diukur secara tidak langsung melalui metode auskultasi dengan menggunakan
spigmomanometer. Peralatannya terdiri dari sebuah manset lengan untuk menghentikan aliran darah arteri brakial, sebuah manometer raksa untuk
membaca tekanan, sebuah bulb pemompa manset untuk menghentikan aliran darah arteri brakial, dan sebuah katup untuk mengeluarkan udara dari manset. Sebuah stetoskop dipakai untuk mendeteksi awal dan akhir
pembuluh yang tertutup. Bunyi dan pembacaan angka pada kolom raksa secara bersamaan merupakan cara untuk menentukan tekanan sistolik dan
diastolik (Priharjo, 2006).
Tekanan darah rata-rata pada pria dewasa muda adalah sistolik 120
mmHg dan diastolik 80 mmHg, biasanya ditulis 120/80. Tekanan darah pada wanita dewasa muda, baik sistolik maupun diastolik biasanya lebih kecil 10 mmHg dari tekanan darah laki-laki dewasa muda (Ethel, 2004).
Tabel 2.1 Standar Tekanan Darah Normal
No Usia DIastole Sistole
1. Pada masa bayi 50 70-90
2. Pada masa anak 60 80-100
3. Masa remaja 60 90-110
4. Dewasa muda 60-70 110-125
5. Umur lebih tua 80-90 130-135
(Evelyn, 1999)
Kategori Tekanan darah
diastolik (mmHg)
Tekanan darah sistolik (mmHg)
Normal < 80 < 120
Prehypertension 80-89 120-130
Stage 1 Hypertension 90-99 140-159
Stage 2 Hypertension 100 160
Klasifikasi hipertensi menurut National Institutes of Health (2003).
4. Faktor yang Mempengaruhi Tekanan Darah
Tekanan darah normal seseorang sangat bervariasi tergantung pada:
a. Aktivitas fisik
Aktivitas fisik dan kegiatan sehari-hari sangat mempengaruhi tekanan
b. Emosi
Perasaan takut, cemas, cenderung membuat tekanan darah meningkat
(Vita, 2004). c. Stres
Keadaan pikiran juga berpengaruh terhadap tekanan darah sewaktu mengalami pengukuran (Vita, 2004).
d. Umur
Susalit (2001) menyatakan bahwa sebagian besar hipertensi esensial terjadi pada usia 24-45 tahun dan hanya 20% terjadi dibawah usia 20
tahun.
e. Jenis Kelamin
Tekanan darah pada perempuan sebelum menopause adalah 5-10
mmHg lebih rendah dari pria seumurnya, Tetapi setelah menopause tekanan darahnya lebih meningkat (Pearce, 1997).
f. Status Gizi (Obesitas).
Bila mempunyai ukuran tubuh termasuk obesitas memungkinkan terjadinya peningkatan tekanan darah. Indeks Massa Tubuh yang
kurang dari 18,5 termasuk dalam kategori kurus, untuk IMT antara 18,5 - 22,9 termasuk dalam kategori normal, untuk IMT 23,0 - 27,4
g. Minum alkohol
Minuman alkohol secara berlebihan dapat meningkatkan tekanan
darah dan menyebabkan resistensi terhadap obat anti hipertensi (Vita, 2004).
h. Merokok
Merokok dapat meningkatkan tekanan darah, meskipun pada beberapa penelitian didapatkan kelompok perokok dengan tekanan
darah lebih rendah dibandingkan dengan kelompok yang tidak merokok (Susalit, 2001).
Sedangkan menurut Ganong (1998) mengungkapkan bahwa tekanan darah dipengaruhi oleh kekuatan dan volume darah dari jantung, kontraksi otot dalam dinding arteri. Dengan adanya penurunan fungsi
fisiologis terutama penurunan denyut jantung yang berfungsi memompa darah ke aorta, selanjutnya keseluruhan tubuh akan mengalami
penurunan. Selain itu dengan penurunan kapasitas fisik atau otot, maka kekuatan kontraksi otot, maka kekuatan arteri juga akan mengalami penurunan. Sehingga darah yang akan kembali ke jantung berkurang dan
pembagian darah ke jantung juga berkurang, yang pada akhirnya terjadi penurunan tekanan darah. Anis dan Fauzi (2009) dalam penelitianya
menyatakan bahwa ada perbedaan yang signifikan rata-rata tekanan darah pada perawat yang bekerja di sift pagi, siang dan malam. Darliah (2007) menambahkan dalam penelitiaanya menyebutkan bahwa stres
terhadap suatu pekerjaan akan terpapar stres yang dapat meningkatkan tekanan darah sepintas dan hipertensi dini cenderung reaktif.
B. Irama Sirkardian
1. Pengertian
Irama sirkadian adalah siklus biologi tubuh selama 24 jam uang mengerjakan funsi-fungsi fisiologis, secara alami, tubuh hendaknya beraktivitas di siang hari dan beristirahat di malam hari jika pekerjaan
mengharuskan bekerja di malam hari, perhatikan irama tubuh anda sebisa mungkin berikan keseimbangan kerja dan istirahat (Nindita, 2010).
Ritme sirkadian adalah cara tubuh kita mengantisipasi perubahan lingkungan dan beradaptasi sepanjang hari. Gangguan irama sirkadian kita dapat menyebabkan penyakit seperti diabetes, obesitas dan tekanan
darah tinggi (Saputra, 2014).
Irama sirkadian adalah jam alami dalam tubuh manusia. Dalam 24
jam tubuh akan mengalami fluktuasi berupa temperatur, kemampuan untuk bangun, aktivitas lambung, denyut jantung, tekanan darah dan kadar hormon, dikenal sebagai irama sirkadian (Folkard dan Monk dalam
Firdaus, 2005).
Menurut Kuswadji (1997) masing-masing orang mempunyai jam
biologis sendiri-sendiri, kehidupan mereka diatur menjadi sama dan seragam dalam daur hidup 24 jam sehari. Pengaturan itu dilakukan oleh penangguh waktu yang ada di luar tubuh seperti: Perubahan antara gelap
Bagian-bagian yang berfungsi dalam pengaturan sirkadian antara lain temperatur badan, plasma darah, urine, fungsi ginjal dan psikologi.
Dalam keadan normal fungsi irama sirkadian mengatur siklus biologi irama tidur bangun, dimana sepertiga waktu untuk tidur dan dua pertiga
untuk bangun/aktivitas. Siklus irama sirkadian ini dapat mengalami gangguan, apabila irama tersebut mengalami peregseran. Menurut beberapa penelitian terjadi pergeseran irama sirkadian antara onset waktu
tidur reguler dengan waktu tidur yang irreguler (bringing irama sirkadian) (Japardi, 2002).
2. Macam-macam gangguan tidur sirkardian
Menurut Japardi (2002) bahwa macam-macam gangguan tidur gangguan irama sirkadian adalah sebagai berikut:
a. Tipe fase tidur terlambat (delayed sleep phase type) yaitu ditandai oleh waktu tidur dan terjaga lebih lambat yang diinginkan. Gangguan ini
sering ditemukan dewasa muda, anak sekolah atau pekerja sosial. Orang-orang tersebut sering tertidur (kesulitan jatuh tidur) dan mengantuk pada siang hari (insomnia sekunder).
b. Tipe Jet lag ialah menangantuk dan terjaga pada waktu yang tidak tepat menurut jam setempat, hal ini terjadi setelah berpergian melewati
lebih dari satu zone waktu. Gambaran tidur menunjukkan sleep latensnya panjang dengan tidur yang terputus-putus.
akan mempengaruhi jadwal tidur. Gejala ini sering timbul bersama-sama dengan gangguan somatik seperti ulkus peptikum. Gambarannya
berupa pola irreguler atau mungkin pola tidur normal dengan onset tidur fase REM.
d. Tipe fase terlalu cepat tidur (advanced sleep phase syndrome). Tipe ini sangat jarang, lebih sering ditemukan pada pasien usia lanjut, dimana onset tidur pada pukul 6-8 malam dan terbangun antara pukul 1-3 pagi.
Walaupun pasien ini merasa cukup untuk waktu tidurnya. Gambaran tidur tampak normal tetapi penempatan jadwal irama tidur sirkadian
yang tidak sesuai.
e. Tipe bangun-tidur beraturan
f. Tipe tidak tidur-bangun dalam 24 jam.
C. SIFT KERJA MALAM
1. Pengertian
Menurut Suma’mur (1994) menjelaskan bahwa shift kerja
merupakan pola waktu kerja yang diberikan pada tenaga kerja untuk
mengerjakan sesuatu oleh perusahaan dan biasanya dibagi atas kerja pagi,
sore dan malam. Proporsi pekerja shift semakin meningkat dari tahun ke
tahun, ini disebabkan oleh investasi yang dikeluarkan untuk pembelian
mesin-mesin yang mengharuskan penggunaannya secara terus menerus
siang dan malam untuk memperoleh hasil yang lebih baik. Sebagai
akibatnya pekerja juga harus bekerja siang dan malam. Hal ini menimbulkan
banyak masalah terutama bagi tenaga kerja yang tidak atau kurang dapat
Sistem shift merupakan suatu sistem pengaturan kerja yang memberi peluang untuk memanfaatkan keseluruhan waktu yang tersedia
untuk mengoperasikan pekerjaan (Muchinsky,1997). Shift kerja sebagai suatu jadwal kerja untuk karyawan secara bergantian datang ke tempat
kerja agar kegiatan operasional tetap berjalan. Pelaksanaan dari shift itu sendiri adalah dengan cara bergantian, yakni karyawan pada periode tertentu bergantian dengan karyawan pada periode berikutnya untuk
melakukan pekerjaan yang sama. Karyawan yang bekerja pada waktu normal digunakan istilah diurnal, yaitu individu atau karyawan yang
selalu aktif pada waktu siang hari atau setiap hari. Sedangkan karyawan yang bekerja pada waktu malam hari digunakan istilah nocturnal, yaitu individu atau karyawan yang bekerja atau aktif pada malam hari dan
istirahat pada siang hari (Riggio, 1990).
Menurut Ulum (2012) dalam penelitianya menyatakan bahwa
seluruh pekerja yang bekerja pada shift siang mengalami kelelahan dengan tingkatan yang ringan, sedangkan pekerja yang bekerja pada shift
malam mengalami kelelahan yang bervariasi dari mulai tingkatan ringan,
sedang, dan berat.
2. Pembagian Shift Kerja
dibagi menjadi tiga shift masing-masing selama delapan jam (Muchinsky, 1997), yaitu :
1) Shift pagi pukul 07.00 – 15.00 2) Shift siang pukul 15.00 – 23.00 3) Shift malam pukul 23.00 – 07.00
Sedangkan untuk di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata sendiri untuk pembagian waktu sift kerjanya yaitu
1) Shift pagi pukul 07.00-14.00 2) Shift siang pukul 14.00-21.00
3) Shift malam pukul 21.00-07.00 3. Efek sift kerja
Kerja shift memang menimbulkan efek-efek tertentu bagi karyawan, tetapi seberapa jauh efek tersebut muncul ditentukan oleh beberapa faktor (Aamodt, 1991), yaitu :
1) Waktu shift, yaitu shift karyawan dalam bekerja, apakah pada shift
pagi, siang atau malam. Masing-masing shift mempunyai karakteristik tersendiri yang relatif berbeda satu sama lain.
Karakteristik tiap shift yang berbeda ini akan membawa efek yang berbeda pula pada karyawan.
3) Keluarga, pembagian waktu untuk anggota keluarga, Karyawan mampu menyesuaikan waktu yang dimilikinya dengan waktu yang
dimiliki anggota keluarga yang lain.
4) Kemampuan adaptasi ritme tubuh; kemampuan tubuh untuk
menyesuaikan atau beradaptasi dengan jadwal kerja shift tersebut. Jika tubuh tidak dapat beradaptasi dengan cepat maka dapat timbul masalah kesehatan pada karyawan.
5) Keunikan kerja shift atau kesempatan untuk bersosialisasi; efek sosial dari kerja shift sebetulnya dapat dikurangi jika suatu daerah banyak organisasi atau perusahaan yang juga memberlakukan kerja shift. Semakin banyak yang menggunakan jadwal kerja shift akan semakin banyak rumah makan, toko-toko, pabrik yang buka pada malam hari,
sehingga makin banyak pula individu-individu yang dapat diajak untuk bersosialisasi.
Adnan (2008) mengemukakan bahwa sistem shift kerja terdapat dampak positif dan dampak negatif. Dampak positifnya adalah memaksimalkan sumber daya yang ada, memberikan lingkungan kerja
yang sepi khususnya shift malam dan memberikan waktu libur yang banyak. Dampak negatifnya adalah penurunan kinerja, keselamatan kerja
dan masalah kesehatan.
Prameswari (2013) dalam penelitianya menyatakan bahwa terdapat perbedaan tekanan darah sistolik dan diastolik antara sesudah gilir jaga
tekanan darah sistolik dan diastolik tersebut sebesar 5,25 mmHg dan 3,625 mmHg. Shu-Fen, (2011) menambahkan bahwa ketika pekerja shift
malam tidur di siang hari, siklus tidur mereka berkurang, dan kualitas tidur yang buruk, karena konsentrasi kortisol tinggi dan tingkat melatonin
yang rendah.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan Ihsan (2012) diperoleh persentase responden yang mengalami kelelahan kerja ringan secara
berurutan antara shift I (Pagi) dan 4 shift II (malam) sebesar 40%; 26,67%. Responden yang mengalami kelelahan kerja sedang pada shift I dan shift II adalah 60%, dan73,33%. Shift kerja memberikan pengaruh terhadap tingkatan kelelahan pekerja. pekerja sift malam lebih tinggi tingkat kelelahannya dibandingkan shift kerja pagi.
D. TINGKAT STRES
2. Pengertian Stres
Sarafino (2008) mengartikan stres adalah kondisi yang disebabkan oleh interaksi antara individu dengan lingkungan, menimbulkan persepsi jarak antara tuntutan-tuntutan yang berasal dari
situasi yang bersumber pada sistem biologis, psikologis dan sosial dari seseorang. Santrock (2003) mendefinisikan stres adalah respon individu
Robbins (2002) menyatakan bahwa stress merupakan kondisi dinamis seorang individu dihadapkan dalam kesempatan, keterbatasan,
atau tuntutan sesuai dengan harapan dan hasil yang ingin dicapai dalam kondisi penting dan tidak menentu. Pada dasarnya stress tidak selalu
berdampak buruk bagi individu, hal tersebut berarti bahwa pada situasi atau kondisi tertentu stress yang dialami seorang individu akan memberikan akibat positif yang mengharuskan individu tersebut
melakukan tugas lebih baik. Akan tetapi pada tingkat stress yang lebih tinggi atau stress ringan yang berkepanjangan akan menyebabkan
menurunnya kinerja karyawan.
Stres kerja dikonseptualisasi dari beberapa titik pandang, yaitu stress sebagai stimulus, stress sebagai respon dan stress sebagai stimulus-respon. Stress sebagai stimulus merupakan pendekatan yang menitikberatkan pada lingkungan. Defenisi stimulus memandang stress
sebagai suatu kekuatan yang menekan individu untuk memberikan tanggapan terhadap stressor. Pendekatan ini memandang stress sebagai konsekuensi dari interaksi antara stimulus lingkungan dengan respon
individu. Stress dipandang tidak sekedar sebuah stimulus atau respon, melainkan stress merupakan hasil interaksi unik antara kondisi stimulus
lingkungan dan kecendrungan individu untuk memberikan tanggapan (Gibson, 2003).
Ananta (2012) dalam penelitianya menyatakan bahwa
gejala stres kerja tersebut membantu karyawan untuk mengerahkan segala sumber daya dalam memenuhi berbagai persyaratan atau
kebutuhan pekerjaan. Stres terhadap produktivitas dapat berperan positif. Gaffar (2012) menambahkan dalam penelitianya bahwa stres seorang
pekerja memiliki pengaruh terhadap kinerja seorang pekerja. 3. Dampak dan gejala yang ditimbulkan stres
Sarafino (2008) menjabarkan tentang 2 aspek utama dari dampak yang
ditimbulkan akibat stres yang terjadi pada manusia, yaitu : 1). Aspek Biologis
Beberapa gejala fisik yang dirasakan ketika seseorang sedang mengalami stres, diantaranya adalah sakit kepala yang berlebihan, tidur menjadi tidak nyenyak, gangguan pencernaan, hilangnya nafsu
makan, gangguan kulit, dan produksi keringat yang berlebihan di seluruh tubuh.
2). Aspek Psikologis
Terdapat 3 gejala psikologis yang dirasakan ketika seseorang sedang mengalami stres. Ketika gejala tersebut adalah gejala kognisi, gejala
emosi, dan gejala tingkah laku. a) Gejala kognisi
Gangguan daya ingat (menurunnya daya ingat, mudah lupa dengan suatu hal), perhatian dan konsentrasi yang berkurang sehingga seseorang tidak fokus dalam melakukan suatu hal, merupakan
b) Gejala emosi
Mudah marah, kecemasan yang berlebihan terhadap segala sesuatu,
merasa sedih dan depresi merupakan gejala-gejala yang muncul pada aspek gejala emosi.
c) Gejala tingkah laku
Tingkah laku negatif yang muncul ketika seseorang mengalami stres pada aspek gejala tingkah laku adalah mudah menyalahkan
orang lain dan mencari kesalahan orang lain, suka melanggar norma karena dia tidak bisa mengontrol perbuatannya dan bersikap
tak acuh pada lingkungan, dan suka melakukan penundaan pekerjaan.
Menurut Hardjana (1994) mengenai gejala-gejala stres
digolongkan menjadi beberapa kelompok berikut:
a. Gejala fisik: sakit kepala, pusing, pening, tidak tidur teratur, susah
tidur, bangun terlalu awal, sakit pinggang, terutama di bagian bawah, diare, radang usus besar, sulit buang air besar, sembelit, gatal-gatal pada kulit, urat tegang-tegang terutama pada leher dan bahu,
terganggu pencernaannya, tekanan darah tinggi, serangan jantung, keringat berlebihan, berubah selera makan, lelah atau kehilangan daya
energi, dan bertambah banyak melakukan kekeliruan atau kesalahan dalam bekerja dan hidup.
b. Gejala emosional: gelisah, cemas, sedih, depresi, mudah menangis,
tidak aman atau rasa harga diri rendah, mudah tersinggung, gampang menyerang, dan bermusuhan.
c. Gejala intelektual: susah konsentrasi, sulit membuat keputusan, mudah lupa, pikiran kacau, daya ingat menurun, melamun secara
berlebihan, pikiran dipenuhi oleh satu pikiran saja, kehilangan rasa humor yang sehat, produktivitas atau prestasi kerja menurun, mutu kerja rendah, dan dalam kerja bertambah jumlah kekeliruan yang
dibuat.
d. Gejala interpersonal: kehilangan kepercayaan kepada orang lain,
mudah mempersalahkan orang lain, mudah membatalkan janji atau tidak memenuhi janji, suka mencari-cari kesalahan orang lain, menyerang orang dengan kata-kata, mengambil sikap terlalu
membentengi atau mempertahankan diri, dan mendiamkan orang lain. 4. Klasifikasi Tingkat Stres
Sarafino (2008) mengklasifikasikan 3 tingkatan stres, yaitu:
1) Stres tingkat rendah, terjadi ketika seseorang dengan kemampuan lebih dari cukup untuk menghadapi situasi yang sulit, maka
seseorang akan merasakan sedikit stres dan merasa tidak memiliki tantangan
dengan tingkatan menengah atau sedang. Pada tahap ini, seseorang masih bisa beradaptasi terhadap stresor yang dihadapi.
3) Stres tingkat tinggi, terjadi ketika seseorang merasakan bahwa kemampuannya mungkin tidak akan mencukupi pada saat berurusan
dengan stresor dari dalam diri dan lingkungannya, maka akibatnya seseorang akan mengalami perasaan stres yang besar.
Sedangkan menurut P0tter & Perry dalam Rasimun (2004),
membagi hubungan tingkat stres yaitu:
a. Stres ringan biasanya tidak merusak aspek fisiologis, sebaiknya stres sedang dan berat mempunyai resiko terjadinya penyakit, stres ringan umumnya dapat dirasakan oleh semua orang. Misalnya lupa ketiduran, kemacetan, dikritik. Berakhir beberapa menit atau beberapa jam
situasi seperti ini nampaknya tidak akan menimbulkan penyakit kecuali jika dihadapi terus menerus.
b. Stres sedang terjadi lebih lama beberapa jam sampai beberapa hari. Contohnya kesepakatan yang belum selesai, beban kerja yang berlebih, mengharapkan pekerjaan baru, anggoata keluarga pergi
dalam kurun waktu yang cukup lama, situasi seperti ini dapat bermakna bagi individu yang mempunyai faktor predisposisi suatu
penyakit koroner.
c. Stres berat adalah stres kronis yang terjadi beberapa minggu sampai beberapa tahun, misalnya hubungan suami istri yang tidak harmonis,
5. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Stres Kerja
Robbins (2002) mengungkapkan ada beberapa faktor penyebab
stress kerja, antara lain: konflik antar pribadi dengan pimpinan, beban kerja yang sulit dan berlebihan, terbatasnya waktu untuk menyelesaikan
pekerjaan, tekanan dan sikap kepemimpinan yang kurang adil dan tidak wajar.
a) Konflik Kerja
Konflik kerja adalah ketidaksetujuan antara dua atau lebih anggota atau kelompok dalam organisasi yang timbul karena harus
menggunakan sumber daya secara bersama-sama atau menjalankan kegiatan bersama-sama, atau karena mempunyai status, tujuan, nilai-nilai dan persepsi yang berbeda. Konflik kerja juga merupakan
kondisi yang dipersepsikan ada antara pihak-pihak yang merasakan adanya ketidaksesuaian tujuan dan peluang untuk mencampuri usaha
pencapaian tujuan pihak lain
b) Beban Kerja
Beban kerja adalah keadaan dimana karyawan dihadapkan pada
sejumlah pekerjaan dan tidak mempunyai cukup waktu untuk menyelesaikan pekerjaannya. Karyawan juga merasa tidak memiliki
kemampuan untuk menyelesaikan pekerjaan tersebut karena standar pekerjaan terlalu tinggi.
Karyawan selalu dituntut untuk segera menyelesaikan tugas pekerja sesuai dengan yang telah ditentukan. Dalam melakukan pekerjaannya
karyawan merasa dikejar oleh waktu untuk mencapai target kerja.
d) Sikap Pimpinan
Dalam setiap organisasi kedudukan pemimpin sangat penting, seorang pemimpin melalui pengaruhnya dapat memberikan dampak yang sangat berarti terhadap aktifitas kerja karyawan. Dalam
pekerjaan yang bersifat stressfull, para karyawan bekerja lebih baik jika pimpinannya mengambil tanggung jawab lebih besar dalam
E. KERANGKA TEORI
Keterangan :
: Variabel yang tidak diteliti : Variabel yang diteliti
Gambar 2.1 Kerangka Teori
Sumber: Darliah (2007), Fauzi, Handoyo dan Anis (2009), Vita (2006) dan
Ethel (2004)
Perubahan Tekanan Darah Perawat
Gangguan Irama Sirkardian Aktifitas fisik
-Jenis aktifitas
-Frekuensi aktifitas (Seperti sift kerja)
Emosi
-Jenis emosi
-Intensitas emosi
Stres
-Tekanan yang muncul dari luar
Jenis kelamin -Laki-laki -Perempuan Usia -Bertambahnya usia seseorang Status Gizi - IMT Kebiasaan minuman alkohol
-Intensitas minum -Jumlah
Merokok
- Intensitas merokok - Jumlah yang dirokok
Pengukuran tekanan darah:
-Pria dewasa muda adalah sistolik 120/80 mmHg -Wanita dewasa
F. KERANGKA KONSEP
Gambar 2.2 Kerangka Konsep
G. HIPOTESIS
Hipotesis penelitian adalah asumsi atau dugaan mengenai sesuatu hal yang dibuat untuk menjelaskan hal tersebut yang sering dituntut untuk
melakukan pengecekannya (Riwidikdo, 2007). Hipotesisi dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
“Ada pengaruh shift kerja dan stres kerja terhadap perubahan tekanan darah pada perawat ruangan rawat inap di RSUD dr. R. Goeteng
Taroenadibrata”.
Sift Kerja
Perubahan Tekanan Darah Perawat