• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengawasan Mutu Incoming Raw Material Biskuit Roma Kelapa PT. Mayora Indah Divisi Biskuit Jayanti - Unika Repository

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "Pengawasan Mutu Incoming Raw Material Biskuit Roma Kelapa PT. Mayora Indah Divisi Biskuit Jayanti - Unika Repository"

Copied!
91
0
0

Teks penuh

(1)

PENGAWASAN MUTU INCOMING RAW

MATERIAL BISKUIT ROMA KELAPA

PT.MAYORA INDAH DIVISI BISKUIT

JAYANTI

LAPORAN KERJA PRAKTEK

Diajukan untuk memenuhi sebagian syarat-syarat guna memperoleh gelar

Sarjana Teknologi Pangan

Oleh :

Monica Ardelia Hartono 14.I1.0137

PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PANGAN

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN

UNIVERSITAS KATOLIK SOEGIJAPRANATA

SEMARANG

(2)
(3)

ii

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis haturkan kepada Tuhan Yang Maha Pengasih karena berkat

rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan Laporan Kerja Praktek yang berjudul ”Pengawasan

Mutu Incoming Raw Material Biskuit Roma Kelapa PT.MAYORA INDAH Divisi

Biskuit Jayanti”laporan ini disusun sebagai prasyarat untuk memenuhi kelengkapan

akademis guna memperoleh gelar Sarjana Teknologi Pertanian. Adapun kerja praktek

ini sangat bermanfaat bagi penulis, karena dapat menambah wawasan serta menambah

pengalaman kerja penulis.

Seluruh kelancaran dan keberhasilan ini pun tentunya tidak terlepas dari bantuan,

arahan, bimbingan, serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh sebab itu, Penulis ingin

mengucapkan terima kasih kepada :

1. Tuhan Yesus Kristus yang telah membimbing Penulis, sehingga dapat menyelesaikan laporan Kerja Praktek ini.

2. Kedua orang tua Penulis yang memberikan izin, mendukung, mendoakan serta selalu menjadi motivasi bagi Penulis dalam melaksanakan Kerja Praktek di

Tangerang.

3. Ibu Dr. V. Kristina Ananingsih, ST., MSc. selaku Dekan Fakultas Teknologi Pertanian, Unika Soegijapranata, Semarang.

4. Ibu Dea N. Hendryanti, STP. selaku Dosen Pembimbing Kerja Praktek yang bersedia meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan dengan sabar memberikan

pengarahan dan bimbingan selama Penulis melaksanakan serta menyelesaikan

laporan Kerja Praktek.

5. Ibu Euis Fujiarti selaku Manajer Quality Control Laboratorium dan Bapak Dwi Priyanto selaku Manager Produksi yang telah memberi kesempatan kepada Penulis

untuk melaksanakan Kerja Praktek di PT.MAYORA INDAH Divisi Biskuit Jayanti

serta telah membimbing, mengarahkan dan memberikan informasi kepada Penulis

selama melakukan Kerja Praktek.

(4)

7. Segenap karyawan PT.MAYORA INDAH Divisi Biskuit Jayanti yang tidak dapat Penulis sebutkan satu per satu, yang menerima Penulis dengan penuh rasa

kekeluargaan dan selalu memberikan keceriaan selama berlangsungnya Kerja

Praktek serta telah memberikan informasi-informasi tambahan selama pengerjaan

laporan Kerja Praktek.

8. Teman – teman seperjuangan Kerja Praktek di PT. PT.MAYORA INDAH, Tbk Divisi Biskuit Jayanti yaitu Klara Marpaung, Bonita Melinda Pangaribuan, Frans

Christoper Simanjuntak dan Eolia Kristiani yang senantiasa memberikan suka, tawa,

dan canda selama Kerja Praktek.

9. Kakak – kakak MDP PT.MAYORA INDAH Tbk yaitu Widya Silaen, Ade Putra, Gema Mahardhika serta kakak-kakak MDP dari divisi lainnya yang senantiasa

senantiasa memberikan suka, tawa, dan canda selama Keja Praktek.

10. Semua teman-teman Program Studi Teknologi Pertanian yang sudah mendukung Penulis selama menyelesaikan laporan Kerja Praktek.

11. Semua pihak yang telah membantu Penulis yang tidak dapat disebutkan satu per satu.

Penulis menyadari bahwa penulisan dan penyusunan laporan kerja praktek ini masih

jauh dari sempurna. Oleh karena itu, penulis memohon maaf bila selama Kerja Praktek

maupun dalam pembuatan laporan Kerja praktek masih terdapat banyak kesalahan dan

kekurangan. Untuk itu, penulis sangat mengharapkan kritik serta saran dari para

pembaca. Meski belum sempurna, tetapi Penulis berharap agar laporan Kerja Praktek

dapat bermanfaat bagi para pembaca dan dapat digunakan sebagaimana mestinya.

Terima Kasih.

Semarang, 3 Juni 2017

(5)

iv

DAFTAR ISI

LEMBARPENGESAHAN………...i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ...iv

DAFTAR TABEL ... vii

DAFTAR GAMBAR ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ...ix

1. PENDAHULUAN ... 1

1.1 Latar Belakang ... 1

1.2 Tujuan Kerja Praktek ... 2

1.3 Tempat dan Waktu Pelaksanaan ... 2

2. PROFIL PERUSAHAAN... 3

2.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan ... 3

2.2 Struktur Organisasi ... 5

2.1.1 Visi dan Misi ... 6

2.1.2 Kebijakan Mutu ... 6

2.1.3 5R ... 7

2.1.4 Etika Kerja ... 7

2.3 Pelaksanaan Kerja ... 7

2.3.1 Tenaga Kerja ... 7

2.3.2 Pembagian Jam Kerja ... 8

3. SPESIFIKASI PRODUK ... 9

4. PROSES PRODUKSI BISKUIT ROMA KELAPA ... 15

4.1 Bahan Baku ... 15

4.2 Proses Produksi ... 15

4.2.1 Preparasi Bahan ... 15

(6)

v

4.2.3 Tilting dan Moulding... 16

4.2.4 Pengovenan ... 17

4.2.5 Cooling ... 18

4.2.6 Packing ... 19

4.3 Sanitasi ... 19

5. PENGAWASAN MUTU BAHAN BAKU OLEH QUALITY CONTROL LABORATORIUM SECARA KIMIA ... 22

5.1 Uji Kadar Air... 22

7.1 Pengawasan Mutu Bahan Baku ... 31

7.1.1 Pengawasan Mutu Bahan Baku Oleh Quality Control Incoming... 31

7.1.2 Pengawasan Mutu Bahan Baku Oleh Quality Control Laboratorium Secara Kimia ... 32

7.2 Analisa Kesiapan Laboratorium PT.MAYORA INDAH Divisi Biskuit Jayanti dalam Audit ISO / IEC 17025 : 2005 ... 40

7.2.1 Personel ... 40

(7)

vi

7.2.3 Metode Pengujian ... 52

7.2.4 Peralatan ... 55

7.2.5 Pengambilan Sampel ... 57

7.2.6 Penanganan Barang yang Diuji dan Dikalibrasi... 59

7.2.7 Jaminan Mutu Hasil Pengujian... 63

8. KESIMPULAN DAN SARAN ... 65

8.1 Kesimpulan ... 65

8.2 Saran ... 65

9. DAFTAR PUSTAKA ... 66

(8)

vii

DAFTAR TABEL

Gambar 1. Struktur Organisasi ... 5

Gambar 2. Biskuit Roma Kelapa ... 14

Gambar 3. Horisontal Mixer Double Screw ... 16

Gambar 4. Mesin Rotary Moulder ... 17

Gambar 5. Mesin Oven ... 18

Gambar 6.Cooling Conveyor ... 18

Gambar 7. Mesin Packing Kemasan Primer ... 19

Gambar 8. Oven Memmert ... 23

Gambar 9. Moisture Analyzer ... 23

Gambar 10. pH Meter ... 24

Gambar 11. pH Universal ... 24

Gambar 12. Fasilitas Akses Kontrol dan Rak Sepatu Laboratorium ... 45

Gambar 13. Batas Letak Peralatan ... 45

Gambar 14. Safety Shower Laboratorium ... 48

Gambar 15. Luxmeter ... 48

Gambar 16. Air Conditioner Controler... 49

Gambar 17. Thermohygrometer ... 50

Gambar 18. Fasilitas Peralatan Listrik Laboratorium ... 51

Gambar 20. Jenis Alat Laboratorium ... 56

Gambar 21. Tabel Operasional Peralatan Laboratorium ... 56

Gambar 22. Sampling Raw Material ... 60

Gambar 23. Sampling Produk Jadi ... 61

Gambar 24.Label Sampel ... 62

Gambar 25. Rak Penyimpanan Sampel ... 62

(9)

viii

DAFTAR GAMBAR

Tabel 1. Distribusi Karyawan PT. MAYORA INDAH Tbk Divisi Biskuit Jayanti

Tangerang berdasarkan tingkat pendidikan. ... 7

Tabel 2. Pembagian Waktu Kerja Karyawan Non-Shift ... 8

Tabel 3. Pembagian Waktu Kerja Karyawan Shift ... 8

Tabel 4. Produk PT.MAYORA INDAH Tbk ... 9

Tabel 5. Penerapan Sanitasi Tempat Produksi dan Alat Produksi ... 20

Tabel 6. Hasil Analisis Moisture Content Tepung Terigu (Januari 2017) ... 33

Tabel 7. Hasil Analisis pH Sodium bikarbonat (Januari 2017) ... 34

Tabel 8. Hasil Analisis Kadar Wet Gluten dan Dry Gluten Tepung Terigu (Januari 2017) ... 36

Tabel 9. Hasil Analisis Kadar NH4CO3 (Januari 2017) ... 37

Tabel 10. Hasil Analisa FFA dan Berat Jenis RBD Palm Olein (Januari 2017) ... 39

Tabel 11. Kompetensi dan Program Studi Petugas Laboratorium ... 40

Tabel 12. Skill and competency matrix analis laboratorium ... 41

Tabel 13. Persyaratan Jabatan dan Analisa Kompetensi ... 42

Tabel 14. Peralatan Laboratorium Fisika Kimia dan Laboratorium Mikrobiologi ... 46

Tabel 15. Instruksi Kerja Pengoperasian Alat Laboratorium ... 53

Tabel 16. Instruksi Kerja Analisa Kimia dan Mikrobiologi ... 54

(10)

ix

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1. Analisa Raw Material Biskuit Roma secara Kimia ... 68

Lampiran 2. Uraian Pekerjaan ... 69

Lampiran 3. Tugas Analis Laboratorium ... 71

Lampiran 4. Layout Laboratorium Kimia Fisika ... 72

Lampiran 5. Layout Laboratorium Mikrobiologi ... 72

Lampiran 6. Jadwal Cleaning Laboratorium ... 73

Lampiran 7. Instruksi Kerja Analisa Kimia dan Mikrobiologi ... 74

Lampiran 8. Jadwal Kalibrasi Alat laboratorium ... 75

Lampiran 9. Form Incoming Raw Material ... 76

Lampiran 10. Checklist Monitoring Kendaraan ... 76

Lampiran 11. Form Penolakan ... 77

(11)

1

1. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

PT.MAYORA INDAH Tbk merupakan perusahaan besar di Indonesia yang bergerak di

industri pangan yang berdiri sejak tahun 1948. Pada awal terbentuknya, PT.MAYORA

INDAH Tbk berasal berawal dari home industry yang memproduksi biskuit Marie pada

didapur rumah daerah Kampung Bali, Tanah Abang. Namun berkat kerja keras dan

keuletan pengelola perusahaan beserta karyawan, PT.MAYORA INDAH Tbk berhasil

memproduksi 8 divisi produk pangan pada beberapa pabrik yang tersebar di Indonesia

maupun luar negeri. Hasil produksi dibagi menjadi 8 divisi yakni biskuit, kembang gula,

coklat, wafer, kopi, minuman, instant food dan sereal. Produk yang dihasilkan

PT.MAYORA INDAH Tbk sebagian besar diekspor ke berbagai negara di dunia.

PT.MAYORA INDAH Divisi Biskuit Jayanti adalah salah satu pabrik milik

PT.MAYORA INDAH Tbk yang bergerak pada produksi biskuit. Biskuit yang

diproduksi oleh pabrik ini yaitu Malkist Creakers, Malkist Abon, Malkist Seaweed,

Cream Crackers, Roma Kelapa, Royal Choice, dan Danisa. Pabrik ini merupakan pabrik

biskuit terbaru di Indonesia dengan proses produksi yang telah menggunakan mesin

otomatis. Selain proses produksi yang sangat baik, pabrik ini juga menerapkan sistem

manajemen mutu untuk menghasilkan produk yang berkualitas. Manajemen mutu

mencakup penggunaan bahan baku yang berkualitas, higienitas proses produksi biskuit,

dan kualitas produk biskuit yang dihasilkan.

PT.MAYORA INDAH Divisi Biskuit Jayanti telah mempersiapkan laboratorium untuk

audit ISO/IEC 17025:2005. ISO/IEC 17025:2005 berfokus pada persyaratan teknis

laboratorium dalam menerapkan Good Laboratorium Practice. Persyaratan teknis

dalam manajemen mutu laboratorium mencakup personel laboratorium, kondisi

lingkungan laboratorium, peralatan laboratorium, teknik pengambilan sampel,

(12)

1.2 Tujuan Kerja Praktek

Pelaksanaan Kerja Praktek diPT. MAYORA INDAHDivisi Biskuit Jayanti Tangerang

bertujuan untuk:

1. Menambah wawasan dan memberikan gambaran nyata aplikasi ilmu yang telah

diperoleh selama perkuliahan;

2. Mengetahui proses produksi biskuit roma kelapa diPT. MAYORA INDAH Tbk.

Divisi Biskuit Jayanti Tangerang;

3. Mengetahui proses pengawasan mutu laboratorium raw material biskuit roma

kelapa di PT. MAYORA INDAH Tbk. Divisi Biskuit Jayanti Tangerang.

4. Mengetahui gap antara laboratorium Qualiy Control di PT. MAYORA INDAH

Tbk. Divisi Biskuit Jayanti Tangerang dengan ISO/IEC 17025.

1.3 Tempat dan Waktu Pelaksanaan

Kerja Praktek dilaksanakan di PT. MAYORA INDAH Tbk. Divisi Biskuit Jayanti yang

terletak di Jalan Raya Serang KM 31, Desa Sumurbandung Kec.Jayanti Kab.Tangerang

15610. Waktu pelaksanaan adalah 30 hari masa kerja dimulai dari tanggal 9 Januari

2017 hingga 9 Februari 2017. Kegiatan Kerja Praktek dilakukan setiap hari kerja, yaitu

hari Senin sampai dengan hari Sabtu. Senin hingga Jumat pada pukul 08.00-16.00 WIB

(13)

3

2. PROFIL PERUSAHAAN

2.1 Sejarah dan Perkembangan Perusahaan

PT. MAYORA INDAH Tbk didirikan secara resmi pada 17 Februari 1977 oleh Jogi

Hendra Atmadja dengan pabrik pertamanya di Jatake, Tangerang. Mayora bermula dari

pembuatan biskuit Marie pada tahun 1948 di dapur rumah daerah Kampung Bali, Tanah

Abang. Produk yang diproduksi awalnya yaitu biskuit marie yang dijual dengan label

“Roma” (Roti Marie). Tahun 1972, terdapat produk baru yaitu Roma Coconut Biscuit

serta dilakukannya pembelian oven listrik pertama.

Produk pertama yang dihasilkan pada pabrik pertama di Jatake yaitu “Roma Malkist”

dengan dua varian rasa yaitu Sweet Caramelized and Cream. Pada tahun 1980, mayora

mulai memproduksi permen. PT MAYORA INDAH Tbk melakukan ekspansi distribusi

ke Jawa dan Sumatera pada tahun 1982. Terdaftarnya PT MAYORA INDAH Tbk

sebagai public company di Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya (Bursa Efek

Indonesia) yaitu pada tahun 1990.

Mayora pada tahun 1982 memproduksi permen kopi pertama yang diberi nama

“Kopiko”, selain itu juga memproduksi “Astor” yang terbuat dari gulungan wafer. Pada

tahun tersebut, mayora juga mulai melakukan ekspor untuk pertama kalinya. Produk

yang selanjutnya dikeluarkan oleh Mayora pada tahun 1984 yaitu “Beng-Beng”, dimana

produk ini merupakan produk snack coklat combo pertama. Tahun selanjutnya, Mayora

mengeluarkan produk “Choki-Choki” yang merupakan snack full coklat dalam bentuk

stick.

Mayora mendirikan pabrik Torabika Eka Semesta di Cikupa pada tahun 1991 yang

khusus memproduksi kopi. Namun pada tahun 1990, Mayora telah memproduksi

“Torabika” dan menjadi pelopor produk kopi instant yang telah dikombinasikan dengan

gula. Produk ”Energen” diproduksi tahun 1992, produk ini merupakan awal mula

Mayora dalam memproduksi minuman bernutrisi sebagai solusi sarapan pagi.

(14)

Pada tahun 1994, Mayora membangun kantor pusat di Tomang, Jakarta Barat. Kantor

pusat tersebut sebagai layanan pusat komunikasi untuk seluruh operasi pabrik dan

memastikan kelancaran pabrik yang tersebar diseluruh Indonesia. Mayora juga

memproduksi instant noodle dengan nama “Mie Gelas” pada tahun 1995 dan menjadi

instant noodle pertama di Indonesia tanpa campuran MSG, bahan pengawet, dan bahan

pewarna.

Selain pabrik Torabika, Mayora mendirikan pabrik baru juga pada tahun 1996 didaerah

industri MM2100 Cibitung, Indonesia. Pabrik ini didirikan untuk memenuhi permintaan

pasar. Tahun 2000, Mayora memenuhi persyaratan untuk menerapkan sistem ISO,

Halal, GMP, HACCP. Produk biskuit “Sari Gandum” mulai diproduksi tahun 2002,

dimana produk ini mengandung serat, protein, dan vitamin B kompleks.

Setelah menghasilkan banyak produk, Mayora mulai melebarkan sayap dan mulai

masuk ke pasar minuman di Pekayon tahun 2005. Kemudian Mayora membangun

pabrik minuman tersebut di Ciawi dan pabrik Pekayon dipindahkan ke Ciawi. Produk

“Teh Pucuk” diproduksi tahun 2011 sebagai pelopor pertama non-cup Jasmine RTD tea

brand di Indonesia. Mayora Distribution Center (MDC) dibangun di Balaraja dan India

pada tahu 2012. Selain MDC, tahun 2013 Mayora juga membangun pabrik biskuit

dengan teknologi pembakaran yang terletak disatu area dengan MDC. Tahun 2015,

Mayora memulai produk beverage di Thailand dan memproduksi “Bakmi Mewah”.

Produk “Bakmi Mewah” merupakan instant noodle dengan ayam dan jamur serta tanpa

(15)

5

2.2 Struktur Organisasi

Gambar 1. Struktur Organisasi

Struktur Organisasi Manufacturing PT. MAYORA INDAH Tbk Divisi Biskuit Jayanti

Tangerang dapat dilihat pada Gambar 2.1dipimpin oleh seorang Factory Manager yang

bertanggung jawab terhadap kelangsungan produksi dan kualitas produk serta sarana

pendukung dan dibantu oleh departemen head, section head, unit head, dan operator.

Mayora memiliki departemen seperti production, quality control, production planning

inventori control, dan human resource. Departemen Quality Control dibagi menjadi dua

yaitu Quality Control Laboratorium dan Quality ControlField. Pembagian jam kerja

pada departemen ini dibagi juga menjadi dua yaitu shift dan non-shift.

Departemen Quality Control (QC) bertugas melakukan pengujian terhadap seluruh

biskuit yang diproduksi darimesindan biskuit yang telah dikemas dari bagian

packinguntuk kemudian dilaporkan apakah produk tersebut layak dilanjutkan ke proses

selanjutnya. Quality ControlFieldbertugas merencanakan, mengkoordinasikan, dan

mengendalikan proses analisis dan pengawasan mutu bahan baku, kemasan, supporting

material, serta komposisi biskuit telah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

SedangkanQuality ControlLaboratoriumbertugas mengevaluasi pengawasan mutu

bahan baku, produk akhir dan retained produk jadi sesuai dengan standar yang

(16)

2.1.1 Visi dan Misi

Struktur Organisasi Manufacturing PT. MAYORA INDAH Tbk Divisi Biskuit Jayanti

Tangerang dapat dilihat pada Gambar 2.1dipimpin oleh seorang Factory Manager yang

bertanggung jawab terhadap kelangsungan produksi dan kualitas produk serta sarana

pendukung dan dibantu oleh departemen head, section head, unit head, dan operator.

Mayora memiliki departemen seperti production, quality control, production planning

inventori control, dan human resource. Departemen Quality Control dibagi menjad dua

yaitu Quality Control Laboratorium dan Quality ControlField. Pembagian jam kerja

pada departemen ini dibagi juga menjadi dua yaitu shift dan non-shift.

Departemen Quality Control (QC) bertugas melakukan pengujian terhadap seluruh

biskuit yang diproduksi darimesindan biskuit yang telah dikemas dari bagian

packinguntuk kemudian dilaporkan apakah produk tersebut layak dilanjutkan ke proses

selanjutnya. Quality ControlFieldbertugas merencanakan, mengkoordinasikan, dan

mengendalikan proses analisis dan pengawasan mutu bahan baku, kemasan, supporting

material, serta komposisi biskuit telah sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

SedangkanQuality ControlLaboratoriumbertugas mengevaluasi pengawasan mutu

bahan baku, produk akhir dan retained produk jadi sesuai dengan standar yang

ditetapkan.

2.1.2 Kebijakan Mutu

PT. MAYORA INDAH Divisi Biskuit Jayanti, bertekad menerapkan sistem manajemen

mutu, keamanan pangan dan halal untuk menghasilkan produk yang :

M = Memenuhi persyaratan, peraturan, dan undang-undang yang berlaku.

A = Aman dikonsumsi, berkualitas, dan halal.

Y = Yakin bahwa semua pihak terlibat dengan pendekatan proses dan pendekatan sistem.

O = Optimis dalam mencapai tujuan organisasi dan sasaran mutu.

R = Respon yang cepat dan fokus pada pelanggan melalui peningkatan berkesinambungan.

(17)

7

2.1.3 5R

PT. MAYORA INDAH Tbk Divisi Biskuit Jayanti memiliki motto 5R, yaitu : • Ringkas : Memilah-milah yang perlu dan tidak perlu.

• Rapi : Menempatkan semua hal pada tempatnya. • Resik : Bebas dari debu, kotoran, dan bau.

• Rawat : Mempertahankan sesuatu yang lebih baik. • Rajin : Hal yang baik dijadikan kebiasaan dan budaya

2.1.4 Etika Kerja

Karyawan harus selalu berpedoman pada prinsip-prinsip dasar sebagai berikut:

• Bertindak jujur dan sesuai aturan yang berlaku.

• Menghindari perilaku yang dapat merusak atau punya potensi merugikan Mayora

dan reputasinya.

• Menempatkan kepentingan perusahaan diatas kepentingan pribadi atau

kepentingan lainnya.

2.3 Pelaksanaan Kerja

2.3.1 Tenaga Kerja

PT. MAYORA INDAH Tbk Divisi Biskuit Jayanti Tangerang memiliki 2780 orang

karyawan. Distribusi karyawan PT PT. MAYORA INDAH Tbk Divisi Biskuit Jayanti

Tangerang berdasarkan jenis kelamin yaitu 1313 laki-laki dan 1557 perempuan. Dapat

dilihat bahwa karyawan yang bekerja 47,23% laki-laki dan 52,76% perempuan.

Sedangkan distribusi karyawan PT. MAYORA INDAH Tbk Divisi Biskuit Jayanti

Tangerang berdasarkan tingkat pendidikan dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Distribusi Karyawan PT. MAYORA INDAH Tbk Divisi Biskuit Jayanti Tangerang berdasarkan tingkat pendidikan.

Pendidikan Jumlah

S1 3%

D3 1%

SMA/SMK 96%

(18)

PT. MAYORA INDAH Tbk Divisi Biskuit Jayanti Tangerang memiliki karyawan

sebanyak 2780 orang , dengan pendidikan S1, D3, SMA, dan SMK. Karyawan S1

sebesar 3% dari total karyawan yang bekerja dan 1% dari total karyawan berpendidikan

D3. Sedangkan 96% dari total karyawan yang bekerja adalah lulusan SMA dan SMK.

2.3.2 Pembagian Jam Kerja

Pembagian kerja PT. MAYORA INDAH Tbk Divisi Biskuit Jayanti Tangerang dibagi

menjadi dua yaitu shift dan non-shift. Karyawan yang tergabung dengan karyawan

non-shift bekerja selama 6 hari. Pada hari Senin hingga Jumat, karyawan bekerja selama 8

jam dan waktu istirahat selama 1 jam. Pada hari Sabtu, karyawan bekerja selama 8 jam

tanpa adanya waktu istirahat. Pembagian waktu kerja karyawan non-shift dapat dilihat

pada Tabel 2.

Tabel 2. Pembagian Waktu Kerja Karyawan Non-Shift

Hari Waktu kerja Jam istirahat

Senin – Jumat 08.00 – 16.00 12.00 – 13.00

Sabtu 08.00 – 13.00

-Karyawan yang tergabung dengan karyawan shift bekerja selama 6 hari dengan jam

bekerja hari Senin hingga Jumat selama 8 jam dan waktu istirahat selama 1 jam. Pada

hari Sabtu, karyawan bekerja selama 5 jam tanpa adanya waktu istirahat. Pembagian

waktu kerja karyawan shift dapat dilihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Pembagian Waktu Kerja Karyawan Shift

Hari Waktu kerja Jam istirahat

Senin - Jumat 07.00 – 15.00 09.00 – 15.00

15.00 – 23.00 17.00 – 23.00

23.00 – 07.00 01.00 – 07.00

Sabtu 07.00 – 13.00 Tidak Ada

15.00 – 21.00 23.00 – 05.00 Keterangan :

(19)

9

3. SPESIFIKASI PRODUK

PT. MAYORA INDAH Tbk berawal dari memproduksi “Roti Marie” yang kemudian

dikembangkan ke berbagai jenis produk pangan. Produk yang dihasilkan ditujukan

untuk semua kalangan masyarakat. Kategori produk PT. MAYORA INDAH Tbk dibagi

menjadi 8 produk seperti biscuit, permen, wafer, cokelat, beverage, instant food, sereal

dan coffee. Penjelasan produk-produk tersebut dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Produk PT.MAYORA INDAH Tbk

Kategori Brand Logo Spesifikasi Produk Pemasaran

Biskuit: Butter Cookies

52 negara: China, Vietnam, Saudi Arabia,

dll

Indonesia

Biskuit: Crackers

(20)

Indonesia

Biskuit: Coffee Biscuit

35 negara: Vietnam, Lebanon, South Korea,

dll

Biskuit: Sandwich

Cookies

8 Negara: China, Malaysia, Thailand, dll

14 Negara: Malaysia, Timor Leste, dll

Indonesia, Vietnam, Thailand

12 Negara: China, Thailand, Maldives, dll

(21)

11

Permen

ASEAN, Timur Tengah, India, Eropa,

USA, Brazil, Japan

Indonesia, Malaysia, Vietnam, Nigeria,

Philippines

Indonesia, India, Nigeria

Indonesia, Vietnam, USA, Timur Tengah

Wafer

Indonesia, Thailand, Malaysia, Philippines,

Japan

Indonesia, Malaysia

ASEAN kecuali Filipina

Coklat ASEAN, Afrika, Timur

Tengah

Cereal Indonesia, Filipina,

(22)

Instant Food

Indonesia

India

Indonesia

Indonesia

Indonesia

(23)

13

26 Negara: Philippines, Malaysia, Thailand,

China, dll.

Beverage

Indonesia

Indonesia, Thailand

Indonesia

Indonesia

Indonesia

Pada kerja praktek ini, produk yang menjadi perhatian utama adalah Biscuit Roma

Kelapa yang diproduksi oleh PT. MAYORA INDAH Divisi Biscuit Jayanti. Biscuit ini

(24)

ini ditujukan untuk semua kalangan masyarakat mulai dari anak-anak hingga orang

dewasa. Biscuit Roma Kelapa menjadi salah satu camilan yang dapat ditemukan di

Indonesia maupun luar negeri. Produk Biscuit Roma Kelapa produksi PT. MAYORA

INDAH Divisi Biscuit Jayanti. dapat dilihat pada Gambar 2.

(25)

15

4. PROSES PRODUKSI BISKUIT ROMA KELAPA

4.1 Bahan Baku

Bahan baku yang digunakan untuk pengolahan produksi biscuit Roma Kelapa sangat

menentukan kualitas produk akhir yang dihasilkan. Pemilihan baku yang tepat sangat

diperlukan dalam proses produksi, dimana untuk memperoleh produk akhir yang

berkualitas baik diperlukan bahan baku yang memiliki mutu yang sesuai dengan

standart yang telah ditetapkan SNI. Pengawasan mutu bahan baku yang digunakan

sangat diperlukan untuk menganalisa kualitas bahan baku berkualitas buruk atau baik.

Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan Roma Kelapa adalah tepung terigu

(52,12), gula, minyak nabati, tepung tapioka, whey bubuk, sirup glukosa, tepung kelapa,

CaCO3

4.2 Proses Produksi

, garam, pengemulsi lectin kedelai, pengembang, pengatur keasaman, perisa

identik alami, premix vit (B1, B2, B6, B12), dan vitamin E.

4.2.1 Preparasi Bahan

Proses produksi biskuit Roma Kelapa diawali dengan mempersiapkan bahan baku

terlebih dahulu. Proses produksi biskuit yang dilakukan PT. MAYORA INDAH Divisi

Biskuit Jayanti dibagi menjadi 3 shift, dimana bahan baku yang digunakan dikirim oleh

penyimpanan bahan bakusetiap hari. Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan

Roma Kelapa adalah tepung terigu (52,12), gula, minyak nabati, tepung tapioka, whey

bubuk, sirup glukosa, tepung kelapa, CaCO3

Pada tahap preparasi bahan untuk proses produksi, beberapa bahan bakudiberi

penanganan khusus. Penanganan tersebut yakni melarutkan bahan baku dengan air

didalam tanki khusus. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk menghomogenkan bahan

baku tersebut sehingga akan mempermudah tahap mixing. Selain itu, bahan baku seperti , garam, pengemulsi lectin kedelai,

pengembang, pengatur keasaman, perisa identik alami, premix vit (B1, B2, B6, B12),

dan vitamin E. Preparasi bahan dilakukan dengan menimbang bahan baku yang

(26)

minyak nabati diletakkan dalam tanki untuk penyimpanan dan pengiriman ke area

central kitchen.

4.2.2 Mixing

Proses pencampuran bahan baku untuk proses produksi biskuit Roma Kelapa

membutuhkan bantuan alat mixer. Pencampuran dilakukan untuk menghomogenkan

bahan baku hingga diperoleh adonan yang kalis. Homogenitas adonan biskuit sangat

mempengaruhi produk akhir biskuit. Mixer yang digunakan dalam pencampuran bahan

yakni horisontal double screw mixer. Horisontal double screw yang digunakan dalam

proses produksi biskuit Roma Kelapa dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Horisontal Mixer Double Screw

Sumber : www.strattonsales.com

4.2.3 Tilting dan Moulding

Tilting merupakan tahap dimana adonan biskuit yang berasal dari mixer dituangkan ke

area mesin moulder. Proses penuangan adonan biskuit dituangkan ke dalam feeder dan

dibatasi dengan star dough yang akan membagi adonan menjadi beberapa bagian.

Adonan yang telah melewati star dough akan memiliki bentuk persegi panjang dan

berjalan dengan conveyor. Conveyor tersebut dilengkapi dengan 2 rotary cutter yang

akan membagi adonan menjadi 4 bagian dan 8 bagian. Selain itu, conveyor dilengkapi

(27)

17

pada adonan tersebut. Setelah adonan melewati rotary cutter, adonan tersebut akan

memasuki hooper mesin moulding.

Pada pencetakan biskuit, mesin pencetakan yang digunakan pada proses pembuatan

biskuit Roma Kelapa yaitu rotary moulder. Moulding merupakan tahap untuk mencetak

adonan menjadi biskuit basah yang siap memasuki area oven. Adonan biskuit yang

memasuki mesin rotary moulder akan dipipihkan dan dicetak sesuai dengan bentuk

yang telah ditentukan. Pencetakan biskuit Roma Kelapa berbentuk lingkaran yang sama

dengan tulisan “Roma” pada bagian atasnya. Mesin rotary moulder yang digunakan

dalam proses produksi biskuit Roma Kelapa dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4.Mesin Rotary Moulder

Sumber : https://indonesian.alibaba.com/

4.2.4 Pengovenan

Adonan biskuit yang telah melewati mesin moulder selanjutnya akan melalui tahap

pengovenan. Pengovenan merupakan tahap pemasakan biskuit untuk memperoleh

biskuit yang matang dengan kualitas yang baik. Tahap ini dibutuhan suhu yang sesuai

untuk memperoleh biskuit dengan rasa, warna, dan bau yang diinginkan. Mesin oven

(28)

Gambar 5. Mesin Oven

Sumber : https://indonesian.alibaba.com/

4.2.5 Cooling

Biskuit yang telah dioven akan memiliki suhu yang sangat tinggi sehingga penurunan

suhu diperlukan sebelum biskuit tersebut dikemas. Pendinginan biskuit dilakukan

dengan belt conveyor dan kipas angin. Suhu biskuit diturunkan hingga mencapai suhu

ruang untuk mencegah pengembunan ketika biskuit dipacking. Pengembunan yang

terjadi dalam kemasan biskuit dapat menyebabkan kerusakan tekstur biskuit dan

tumbuhnya jamur. Cooling conveyor yang digunakan dalam proses produksi dapat

dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6.Cooling Conveyor

(29)

19

4.2.6 Packing

Biskuit yang telah mencapai suhu ruang, akan dikemas menggunakan kemasan sesuai

dengan standart PT. MAYORA INDAH Divisi Biskuit Jayanti. Pengemasan biskuit

Roma Kelapa menggunakan kemasan primer, kemasan sekunder, dan kemasan tersier.

Biskuit yang berasal dari belt conveyor cooling akan masuk kedalam conveyor pembagi

dengan tujuan untuk menata biskuit sebelum dibungkus dengan kemasan primer “cello”.

Pengemasan primer ini dilakukan menggunakan mesin packing yang dapat dilihat pada

Gambar 7.

Gambar 7.Mesin Packing Kemasan Primer

Sumber :

Biskuit yang telah dikemas dengan menggunakan kemasan primer kemudian akan

dikemas dengan kemasan sekunder dan kemasan tersier. Pengemasan sekunder dan

tersier dilakukan secara manual oleh pekerja packing. Kemasan sekunder menggunakan

plastik yang diisi dengan 6 pack biskuit Roma Kelapa dan ditutup dengan isolasi.

Sedangkan untuk pengemasan tersier, pengemasan dilakukan untuk 4 plastik kemasan

sekunder dengan menggunakan partisi dan karton. Sebelum karton diisolasi, karton

ditimbang beratnya untuk mengetahui berat dalam karton sesuai dengan standar atau

tidak.

4.3 Sanitasi

Kontaminasi akan menyebabkan penurunan kualitas dan kerusakan produk, dimana hal

(30)

PT MAYORA INDAH Divisi Biscuit Jayanti menerapkan sanitasi pekerja, tempat

produksi, dan proses produksi. Penerapan sanitasi pekerja diberlakukan untuk semua

karyawan yang akan memasuki area produksi. Seluruh karyawan yang masuk ke area

produksi wajib menggunakan wearing, pakaian khusus area produksi, sepatu tertutup

dan masker. Penggunaan pakaian khusus area produksi dilakukan pada ruang ganti dan

toilet yang telah disediakan. Karyawan juga tidak diperbolehkan memiliki kuku yang

panjang, membawa aksesoris atau benda-benda yang tidak berhubungan dengan proses

produksi serta tidak boleh menggunakan parfum. Ketika memasuki area produksi,

tangan pekerja juga harus dicuci menggunakan sabun, dikeringkan dan disemprot

dengan alkohol. Kesehatan pekerja yang memasuki proses produksi juga sangat

diperhatikan, dimana pekerja yang sedang sakit menular tidak diperbolehkan memasuki

ruang produksi. Hal tersebut dilakukan dengan tujuan untuk mencegah adanya

kemungkinan kontaminasi yang berasal dari pekerja.

Selain penerapan sanitasi pekerja, PT MAYORA INDAH Divisi Biscuit Jayanti juga

menerapkan sanitasi pada tempat produksi dan alat produksi. Penerapan sanitasi

tersebut diatur oleh IRGA. Penerapan sanitasi tempat produksi dan alat produksi dapat

dilihat pada Tabel 5.

Tabel 5. Penerapan Sanitasi Tempat Produksi dan Alat Produksi

No Area Treatment Frekuensi

1 Produksi Pembersihan lantai dan dinding Harian

. Packing

Pembersihan dinding, pintu, lantai denan

vacuum cleaner, lobby duster

Mingguan Dinding dan pintu di lap dengan kain lembab

yang dibasahi air bersih

Pel lantai dengan air

Mixing

Bersihkan plavon, dinding, pintu, dan lantai

dengan vacuum cleaner, lobby duster

Lap plavon, dinding, pintu, dan lantai dengan

kain lembab

(31)

21

Pada pelaksanaan sanitasi area produksi, waktu pembersihan dilakukan secara

berbeda-beda. Sanitasi yang dilakukan diverifikasi kebersihannya setelah dilaksanakan. Pada

area produksi terdapat beberapa monitoring station untuk masing-masing jenis hama

seperti tikus, cicak dan serangga. Monitoring station diletakkan pada area dekat pintu

masuk area produksi. Selasar produksi

Bersihkan plavon, dinding, pintu, dan lantai

dengan vacuum cleaner, lobby duster

Lap plavon, dinding, pintu, dan lantai dengan

kain lembab

Recycle

Bersihkan plavon, dinding, pintu, dan lantai

dengan vacuum cleaner, lobby duster

Lap plavon, dinding, pintu, dan lantai dengan

kain lembab

Air Shower Semprot seluruh permukaan dengan

menggunakan angin

Setiap shift Lap seluruh permukaan dinding, atap, dan

lantai menggunakan air bersih dan sanitasi

dengan alkohol

2 Mesin Mixer

Mixer dibersihkan menggunakan vacuum

cleaner Mingguan

Permukaan dibilas dengan kain lap yang

dibasahi alkohol Setiap akhir

shift Body dan cover mixer dibersihkan dengan

(32)

22

5. PENGAWASAN MUTU BAHAN BAKU OLEH QUALITY CONTROL LABORATORIUM SECARA KIMIA

Bahan baku yang digunakan dalam pembuatan biskuit oleh PT. MAYORA INDAH

Divisi Biskuit Jayanti selalu dikontrol kualitasnya oleh divisi Quality Management

Department. Pengendalian mutu bahan baku dilakukan melalui analisa secara fisik serta

analisa secara kimia dan mikrobiologi. Analisa fisik bahan baku dilakukan oleh

analystQuality Control Incoming, sedangkan analisa kimia dan mikrobiologi dilakukan

oleh analyst Quality Control Laboratorium. Analisa yang dilakukan oleh analystQuality

Control Incoming didasarkan pada form incoming bahan baku dan checklist monitoring

kendaraan. Selain itu, analyst Quality Control Incoming bertugas untuk mengambil

sampel dimana pengambilan sampel tersebut dilakukan sebelum bahan baku

dimasukkan ke tempat penyimpanan. Pengambilan sampel dilakukan dengan

menggunakan metode acceptance sampling berdasarkan ketetapan AQL dari

perusahaan. Selanjutnya sampel tersebut dikirim ke laboratorium untuk di analisa secara

kimia dan mikrobiologi oleh Quality Control Laboratorium.

Analisa sampel bahan baku di laboratorium dilaksanakan oleh analyst Quality Control

Laboratorium. Bahan baku yang dianalisa harus memenuhi standar yang telah

ditetapkan oleh perusahaan. Sampel bahan baku yang telah memenuhi standar

diverifikasikan ke bagian gudang dan selanjutnya barang tersebut akan dimasukkan ke

dalam tempat penyimpanan untuk bahan baku. Adapun hasil analisa yang tidak

memenuhi standar dibutuhkan analisa ulang untuk memverifikasi hasil. Apabila hasil

analisa ulang tetap tidak memenuhi standar yang telah ditetapkan tersebut, maka

penerimaan atau penolakan bahan baku ditentukan oleh manager Quality Control.

Analisa Kimia bahan baku biskuit Roma Kelapa dapat dilihat pada Lampiran 1.

5.1 Uji Kadar Air

Analisa kadar air raw material biskuit Roma Kelapa PT. MAYORA INDAH Divisi

Biscuit Jayanti dilakukan pada sampel tepung terigu, tepung tapioka, tepung kelapa,

whey powder, glucose, garam, gula pasir, sodium carbonate, bubuk biskuit, dll.

(33)

23

Gambar 8.Selain analisa dengan oven, analisa kadar air juga dilakukan dengan

menggunakan Moisture Analyzer Gambar 9.

Gambar 8. Oven Memmert

Gambar 9. Moisture Analyzer

Analisa kadar air dengan menggunakan moisture analyzer diawali dengan meletakkan

cawan alumunium pada tempatnya dan tekan tombol “TARE”. Sampel dimasukkan

hingga 1 gram, namun untuk sampel seperti glukosa, garam, minyak, dan gula

dimasukkan hingga 10 gram. Penutup alat ditutup dan tekan start untuk memulai

pengukuran kadar air. Angka yang tertera pada monitor selanjutnya dibaca dan dicatat

sebagai hasil. Setelah itu, alat dibersihkan dan dimatikan.

5.2 Uji pH

Analisa pH raw material biscuit Roma Kelapa PT. MAYORA INDAH Divisi Biscuit

Jayanti dilakukan pada sampel tepung terigu, tepung tapioka, tepung kelapa, whey

(34)

Analisa pH raw material dilakukan dengan alat pH meter seperti pada Gambar 10.dan

pH universal seperti pada Gambar 11.

Gambar 10. pH Meter

Gambar 11. pH Universal

Analisa pH untuk raw material diawali dengan preparasi sampel yaitu menimbang 3

gram sampel lalu ditambahkan aquades hingga 27 gram. Magnetic stirrer dimasukkan

dan larutan dihomogenkan menggunakan stirring hot plate dengan kecepatan

perputaran 250 1/menit. pH sampel yang telah homogen diukur menggunakan pH

meter. Elektroda yang berada pada larutan KCL 3 mol diangkat, serta elektroda dicuci

dengan aquades dan dibersihkan dengan tissue. Selanjutnya, elektroda pH meter

dicelupkan pada larutan sampel dan tekan “ENTER”. Layar monitor pH meter akan

menunjukkan angka dengan tulisan “READY” dan angka tersebut dicatat sebagai pH

sampel tersebut. Selanjutnya elektroda diangkat, dicuci dengan aquades, dan

dibersihkan menggunakan tissue. Hal diatas dilakukan juga untuk sampel-sampel

selanjutnya. Setelah selesai digunakan, elektroda pH meter dicelupkan dalam larutan

(35)

25

5.3 Uji Gluten

Gluten merupakan salah satu bagian yang terkandung dalam tepung terigu yang

memiliki sifat elastis dan kenyal serta tidak larut dalam garam. Pada laboratorium PT.

MAYORA INDAH Divisi Biscuit Jayanti, dilakukan analisa kadar gluten yang

terkandung dalam tepung terigu dengan menggunakan oven dan waffle toaster. Analisa

kadar gluten diawali dengan menimbang 20 gram sampel dan dimasukkan dalam

lumpang porselin. Selanjutnya sampel ditambah dengan 10 ml NaCl 2% dan dilumatkan

hingga kalis dan didiamkan selama 30 menit. Setelah didiamkan selama 30 menit,

sampel dicuci dengan air mengalir hingga diperoleh air cucian terigu menjadi jernih dan

akan diperoleh gluten basah. Gluten yang diperoleh selanjutnya ditimbang dengan

menggunakan timbangan analitik dan hasilnya dicatat. Cawan alumunium kering

ditimbang dan gluten basah ditempatkan pada cawan tersebut. Cawan dimasukkan ke

dalam oven 105o

Wb = bobot cawan + gluten kering

Wc = bobot cawan kosong

W1 = bobot sampel

W2 = bobot gluten basah

W3 = bobot gluten kering.

C selama 24 jam atau waffle toaster selama 15- 20 menit. Selanjutnya

sampel dikeluarkan dan didinginkan dalam desikator. Sampel yang telah dingin

ditimbang berat konstannya. Adapun rumus untuk menghitung bobot gluten dapat

dilihat sebagai berikut :

W2 = Wa – Wc W3 = Wb – Wc

5.4 Uji Kadar NH4CO

Ammonium karbonat merupakan zat yang digunakan untuk pengembangan dalam

pembuatan roti. Analisa yang dilakukan bertujuan untuk menentukan kadar NH

3

(36)

dimana kadar tersebut harus mencapai standar minimal 98%. Analisa diawali dengan

menimbang sampel sebanyak 5 gram dan dimasukkan dalam labu takar 100 ml. Dalam

labu takar, aquades ditambahkan sedikit dan dikocok hingga larut. Selanjutnya,

tambahkan aquades hingga tanda tera dan dihomogenkan. Larutan selanjutnya diambil

10 ml menggunakan pipet dan dimasukkan ke dalam erlenmeyer. Indikator methyl red

1% ditambahkan sebanyak 1 hingga 2 tetes dan dihomogenkan kembali. Selanjutnya

dilakukan titrasi dengan menggunakan larutan standar HCl 0,1 N hingga larutan

mengalami perubahan warna dari merah orange menjadi merah jingga yang

menandakan titik akhir titrasi. Kadar NH4CO3

% kadar NH

dihitung dengan rumus:

4CO3 =

(𝐕𝐕𝐕𝐕𝐍𝐍)𝐕𝐕𝐱𝐱𝐱𝐱𝐕𝐕𝐱𝐱𝐱𝐱

𝐱𝐱 x 100%

Keterangan =

V = volume larutan standar HCl 0,1N (ml)

N = Normalitas larutan HCl 0,1N

Fp = faktor pengenceran

B = bobot sampel (mg)

BE = berat equivalen - NH4CO3

5.5 Uji Asam Lemak Bebas

Analisa asam lemak bebas oleh laboratorium PT. MAYORA INDAH Divisi Biscuit

Jayanti dilakukan pada raw material seperti RBD Palm Olein. Analisa diawali dengan

menimbang sampel sebanyak 56,4 gram di dalam erlenmeyer. Kemudian ethanol

sebanyak 50 ml yang sudah dipanaskan ditambahkan ke dalam sampel yang akan

dianalisa. Selanjutnya sampel tersebut ditambah dengan 2 hingga 3 tetes indikator PP

1% dan dititrasi menggunakan larutan NaOH 0,1 N yang sebelumnya telah

distandarisasi. Titrasi dilakukan hingga warna merah muda tercapai dan tidak hilang

selama 30 menit. NaOH 0,1 N yang digunakan untuk titrasi dicatat jumlahnya dan FFA

(37)

27

% FFA = (𝐕𝐕𝐕𝐕𝐍𝐍)𝐕𝐕𝐱𝐱𝐱𝐱𝐱𝐱𝐱𝐱𝐱𝐱𝐱𝐱𝐱𝐱𝐱𝐱𝐱𝐱𝐱𝐱𝐱𝐱

𝐖𝐖

Keterangan:

V = ml larutan NaOH yang digunakan untuk titrasi

N = Normalitas larutan NaOH

W = berat sampel ( gr)

BM Asam Lemak :

Asam palmitat = 25,6

Asam linoleat = 27,8

Asam butirat = 28,8

Asam laurat = 20,0

Asam oleat = 28,2

(38)

28

6. ISO / IEC 17025 : 2005

ISO/ IEC 17025 : 2005 “Persyaratan Umum Kompetensi Laboratorium Pengujian dan

Laboratorium Kalibrasi” merupakan standar international yang berisi mengenai

persyaratan untuk laboratorium pengujian dan laboratorium kalibrasi. Persyaratan yang

terdapat pada ISO/IEC 17025/IEC meliputi persyaratan manajemen dan persyaratan

teknis. Laboratorium pengujian yang akan menerapkan sistem manajemen mutu

sebaiknya memenuhi persyaratan-persyaratan tersebut (Badan Standardisasi Nasional,

2005).

Pada dasarnya, sertifikasi ISO/IEC 17025 : 2005 sesuai dengan ISO 9001:2000. Namun

evaluasi kemampuan teknis laboratorium dalam menyajikan hasil yang secara teknis

absah tidak tercantum dalam ISO 9001:2000. Laboratorium yang telah menerapkan

sistem manajemen mutu laboratorium ISO/IEC 17025:2005 dapat dipastikan memiliki

kemampuan teknis dalam menghasilkan data pengujian yang akurat dan handal. Kriteria

yang terdapat pada ISO/IEC 17025 yakni meliputi:

1. Ruang Lingkup

2. Acuan Normatif

3. Istilah dan Definisi

4. Persyaratan Manajemen

4.1.Organisasi

4.2.Sistem manajemen

4.3.Pengendalian Dokumen

4.3.1. Umum

4.3.2. Pengesahan dan Penerbitan Dokumen

4.3.3. Perubahan Dokumen

4.4.Kaji Ulang Permintaan, Tender, dan Kontrak

4.5.Subkontrak Pengujian dan Kalibrasi

4.6.Pembelian Jasa dan Perbekalan

4.7.Pelayanan kepada Customer

4.8.Pengaduan

4.9.Pengendalian Pekerjaan Pengujian dan/atau Kalibrasi yang Tidak Sesuai

(39)

29

4.11. Tindakan Perbaikan

4.11.1.Umum

4.11.2.Analisis Penyebab

4.11.3.Pemilihan dan Pelaksanaan Tingkat Perbaikan

4.11.4.Pemantauan Tindakan Perbaikan

4.11.5.Audit Tambahan

4.15. Kaji Ulang Manajemen

5. Persyaratan Teknis

5.1.Umum

5.2.Personel

5.3.Kondisi akomodasi dan kondisi lingkungan

5.4.Metode pengujian, metode kalibrasi, dan validasi metode

5.4.1. Umum

5.4.2. Pemilihan metode

5.4.3. Metode yang dikembangkan oeh laboratorium

5.4.4. Metode tidak baku

5.4.5. Validasi metode

5.4.6. Estimasi ketidakpastian pengukuran

5.4.7. Pengendalian data

5.5.Peralatan

5.6.Ketelusuran pengukuran

5.6.1. Umum

5.6.2. Persyaratan khusus

5.6.3. Standar acuan dan bahan acuan

5.7.Pengambilan contoh (sampel)

5.8.Penanganan barang yang diuji dan dikalibrasi

(40)

5.10. Pelaporan hasil

5.10.1.Umum

5.10.2.Laporan pengujian dan sertifikat kalibrasi

5.10.3.Laporan pengujian

5.10.4.Sertifikat kalibrasi

5.10.5.Opini dan interpretasi

5.10.6.Hasil pengujian dan hasil kalibrasi dari subkontraktor

5.10.7.Pengiriman hasil secara elektronik

5.10.8.Format laporan dan sertifikat

5.10.9.Amandemen laporan pengujian dan sertifikat kalibrasi

Dalam menerapkan sistem manajemen mutu laboratorium ISO/IEC 17025 :2005

terdapat beberapa keuntungan seperti:

• Penerapan persyaratan dapat meningkatkan kepercayaan dan kemampuan

laboratorium pengujian dan laboratorium kalibrasi. • Keuntungan dalam bidang pemasaran.

• Perbandingan kemampuan laboratorium.

(41)

31

7. PEMBAHASAN

Pengawasan mutu dalam proses produksi biskuit Roma Kelapa sangatlah penting.

Pengawasan mutu merupakan suatu langkah yang dilakukan oleh perusahaan dengan

tujuan untuk menjamin kualitas produk biskuit Roma Kelapa yang dihasilkan.

Pelaksanaan pengawasan mutu dilaksanakan oleh Quality Control Departement sesuai

dengan standar SNI atau spesifikasi yang ditetapkan oleh perusahaan. Aspek

pendekatan untuk melaksanakan pengawasan mutu terhadap biskuit Roma Kelapa,

yakni:

Pengawasan mutu bahan baku (Incoming Raw Material Quality Control)

Pengawasan mutu proses produksi (Process Quality Control)

Pengawasan mutu produk biskuit (Finish Good Quality Control)

7.1 Pengawasan Mutu Bahan Baku

Kualitas raw material yang digunakan dalam pembuatan biskuit oleh PT. MAYORA

INDAH Divisi Biskuit Jayanti selalu diawasi oleh departemen Quality Control (QC).

Pengawasan mutu raw material dilaksanakan dengan analisa bahan baku secara fisik

dan analisa organoleptik secara laboratorium. Analisa bahan baku secara fisik

dilaksanakan oleh analis Quality Control Incoming Raw Material, sedangkan analisa

kimia dan mikrobiologi dilaksanakan oleh analis Quality Control Laboratorium.

7.1.1 Pengawasan Mutu Bahan Baku Oleh Quality Control Incoming

Pengawasan mutu raw material dilakukan saat proses penerimaan bahan baku dan

pengendalian bahan baku. Pada proses penerimaan bahan baku yang digunakan dalam

proses produksi biskuit Roma Kelapa, bahan baku tersebut haruslah memenuhi

beberapa persyaratan. Bahan baku yang datang pertama-tama harus diinformasikan oleh

analis gudang raw material kepada analis Quality Control Incoming sehingga analis

tersebut melakukan pemeriksaan. Pemeriksaan awal yang dilakukan meliputi kondisi

kendaraan pengangkut, status kehalalan bahan baku, kelengkapan dokumen (CoA bahan

baku), serta kualitas bahan baku secara fisik dan organoleptik.

Bahan baku yang telah memenuhi standar fisik oleh analis Quality Control Incoming

(42)

sampel yang dilakukan disesuaikan dengan prosedur yang telah ada dan tabel AQL.

Selanjutnya sampel tersebut dibawa oleh Quality Control Incoming ke laboratorium

untuk dilakukan analisa kimia dan mikrobiologi. Sampel yang telah diuji dan memenuhi

standar diinformasikan ke bagian gudang untuk pemindahan barang dari kendaraan

pengangkut ke gudang penyimpanan bahan baku. Sedangkan bahan baku sisa dari

pengambilan sampel digunakan terlebih dahulu untuk proses produksi yang

berlangsung. Selain itu, Quality Control Incoming akan memberikan identitas pada

pallet bahan baku yang diterima. Apabila sampel tidak memenuhi standar maka bahan

baku ditolak dan diinformasikan ke bagian gudang penyimpanan bahan baku dengan

pencatatan pada form penolakan raw material.

Bahan baku yang telah diterima selanjutnya dikendalikan dengan melakukan inspeksi

dan membuat laporan mengenai masa kadaluarsa bahan yang terdapat pada gudang

penyimpanan bahan baku oleh Quality Control Laboratorium. Laporan yang telah

dibuat didistribusikan ke bagian-bagian yang terkait. Beberapa bahan baku yang akan

digunakan disampling ulang sebelum bahan baku tersebut dikirim ke bagian produksi.

Hasil analisa bahan baku yang memenuhi standar maka bahan baku tersebut akan

dikirimkan ke bagian produksi, sedangkan bahan baku yang tidak memenuhi

persyaratan standar yang telah ditetapkan akan diberi identitas hold. Selanjutnya Quality

Control Incoming menginfomasikan ke bagian terkait mengenai terdapatnya bahan baku

yang tidak memenuhi standar tersebut. Apabila bahan baku tetap tidak OK, bahan baku

diberi identitas “Tolak” dan dilakukan pengembalian bahan baku ke supplier atau

pemusnahan bahan baku. Adapun pengembalian bahan baku atau pemusnahan baku

tersebut harus disertai form retur bahan baku atau membuat BA pemusnahan barang.

7.1.2 Pengawasan Mutu Bahan Baku Oleh Quality Control Laboratorium Secara Kimia

7.1.2.1 Uji Kadar Air

Kadar air merupakan persentase jumlah air yang terdapat dalam bahan pangan. Kadar

air merupakan faktor yang sangat penting dalam bahan pangan, dimana keberadaannya

akan sangat mempengaruhi mutu dan umur simpan bahan pangan tersebut. Tepung

(43)

33

terigu protein rendah. Tepung terigu ini berasal dari gandum soft wheat yang memiliki

daya serap air rendah. Morris & James (2000) menyatakan bahwa kadar air yang

terdapat pada tepung terigu dipengaruhi oleh jenis gandum yang digunakan karena

adanya perbedaan jumlah air yang digunakan pada proses tempering.

Analisa kadar air bertujuan untuk mengetahui kandungan air yang terdapat dalam bahan

pangan yang dinyatakan dalam wet basis dan dry basis. Analisa tepung terigu dan gula

pasir pada laboratorium dilakukan menggunakan alat Moisture Analyzer. Moisture

analyzer merupakan salah satu alat untuk menentukan kadar air dengan prinsip

pemanasan suhu tinggi menggunakan sinar infrared (Kothari & Kausik, 2010). Hasil

pengujian kadar air pada tepung terigu dan gula pasir dapat dlihat pada Tabel 6.

Tabel 6. Hasil Analisis Moisture Content Tepung Terigu (Januari 2017)

Sampel Moisture Content Tepung terigu (%)

1 12,60

2 12,47

3 12,63

4 12,58

Rata-rata 12,57

Pada Tabel 6., dapat dilihat bahwa hasil analisis kadar air yang dilakukan pada setiap

sampel raw material tepung terigu memiliki nilai yang tidak berbeda jauh. Pada

pengujian terhadap 4 sampel tepung terigu yaitu sebesar 12,57%. Berdasarkan hasil

tersebut, dapat diketahui bahwa hasil analisa kadar air telah memenuhi standart mutu

yang telah ditetapkan oleh SNI 01-3751-2009. Standar kadar air pada raw material

tepung terigu dan gula pasir yang digunakan dalam pembuatan biskuit Roma Kelapa

yakni tepung sebesar 14,5%.

Tepung terigu dengan kadar air yang tinggi akan mempengaruhi biskuit yang

dihasilkan. Menurut Matz &Matz (1978), tepung terigu merupakan bahan utama yang

digunakan dalam pembuatan biskuit. Tepung terigu yang digunakan akan menentukan

tekstur adonan yang terbentuk selama proses mixing, serta digunakan untuk mengikat

(44)

terigu terlalu tinggi, maka adonan yang terbentuk akan menjadi lebih lunak karena

kandungan kadar air yang lebih tinggi. Kadar air yang tinggi pada adonan akan

mempengaruhi produk akhir sehingga tekstur yang terbentuk memiliki kadar air tinggi

dan teksturnya tidak renyah. Selain itu, kadar air yang terdapat pada tepung terigu akan

mempengaruhi umur simpannya. Sudarmadji (2003) menambahkan bahwa kadar air

yang terlalu tinggi akan menurunkan umur simpan dan dapat menjadi media yang

sangat baik untuk pertumbuhan mikroorganisme.

7.1.2.2 Uji pH

pH merupakan jumlah konsentrasi ion Hidrogen (H) yang terdeteksi dalam suatu larutan

untuk menyatakan tingkat keasamannya. pH normal memiliki nilai 7, nilai < 7

menunjukkan pH asam, sedangkan nilai > 7 menunjukkan pH basa. Analisa pH raw

material bertujuan untuk menentukan tingkat keasaman atau kebasaan bahan baku yang

digunakan pada pembuatan biskuit.

Pada laboratorium, analisa pH raw material sodium bikarbonat PT. MAYORA INDAH

Div Biskuit Jayanti dilakukan dengan menggunakan alat pH meter. pH meter

merupakan alat yang digunakan untuk menentukan tingkat keasaman dari suatu larutan.

Prinsip kerja pH meter yakni potensial elektro kimia yang terjadi antara larutan yang

terdapat di dalam elektroda gelas yang telah diketahui dengan larutan yang terdapat di

luar elektroda gelas yang tidak diketahui (Beran, 1996).

Tabel 7. Hasil Analisis pH Sodium bikarbonat (Januari 2017)

Hasil pengujian pH pada tepung

terigu dan gula pasir dapat dlihat pada Tabel 7.

Sampel pH Sodium bikarbonat

1 8,00

2 8,15

3 8,10

4 8,05

Rata-rata 8,075

Pada Tabel 7., dapat dilihat bahwa hasil analisis pH yang dilakukan pada setiap sampel

(45)

35

terhadap 4 sampel, rata-rata pH sodium bikarbonat sebesar 8,075. Berdasarkan hasil

tersebut, dapat diketahui bahwa hasil analisa pH telah memenuhi standart mutu yang

telah ditetapkan oleh PT. MAYORA INDAH Div Biskuit Jayanti. Standart pH pada raw

material sodium bikarbonat yang digunakan dalam pembuatan biskuit Roma Kelapa

yakni sebesar 7,9 - 8,6 (basa).

Sodium bikarbonat yang digunakan dalam pembuatan biskuit Roma Kelapa haruslah

memenuhi persyaratan mutu yang dimiliki PT.MAYORA INDAH Div Biskuit Jayanti.

Menurut Winarno (1988), sodium bikarbonat merupakan salah satu bahan pengembang

yang banyak digunakan karena sifatnya yang mudah larut dalam air dan adonan

sehingga akan memudahkan saat pencampuran. Sodium bikarbonat berbentuk kristal,

berwarna putih, dan berasa alkali. Pada awal penggunaan sodium bikarbonat sebagai

bahan pengembang diperlukan uji formulasi sehingga jumlah yang digunakan telah

sesuai dan akan meningkatkan kerenyahan serta kenampakan biskuit. Hui (1992)

menambahkan bahwa peningkatan jumlah sodium bikarbonat pada adonan akan

menyebabkan terjadinya peningkatan pH adonan biskuit. pH adonan biskuit juga

dipengaruhi oleh pH sodium bikarbonat tersebut. pH sodium bikarbonat yang terlalu

tinggi akan menyebabkan peningkatan pH adonan dan pengembangan produk

berlebihan begitu juga sebaliknya.

7.1.2.3 Uji Gluten

Tepung terigu protein rendah diperoleh dari biji gandum lunak (soft wheat) yang

mengandung gluten sebanyak 8% hingga 9%. Gluten yang terdapat pada tepung terigu

sangat istimewa karena protein ini tidak dapat ditemukan pada tepung jenis lainnya atau

hanya terdapat pada hasil olahan yang berasal dari serealia. Protein ini mengandung

komponen yang bernama peptida serta bersifat tidak larut pada air dan lentur (Kompas,

2010).

Analisa gluten bertujuan untuk mengetahui kadar gluten yang terdapat pada tepung

terigu. Pada uji laboratorium, analisa gluten dilakukan dengan menggunakan oven dan

waffle toaster. Namun untuk mempersingkat waktu, analisa dilakukan hanya dengan

(46)

larutan NaCl dan mencucinya dengan air mengalir. Pencucian dilakukan dengan air

mengalir yang bertujuan untuk menghilangkan pati sehingga nantinya diperoleh gluten.

Hasil pengujian gluten pada tepung terigu dapat dlihat pada Tabel 8.

Tabel 8. Hasil Analisis Kadar Wet Gluten dan Dry Gluten Tepung Terigu (Januari 2017)

Sampel Tepung terigu

Wet Gluten(%) Dry Gluten(%)

1 26,11 9,79

2 27,49 10,56

3 28,16 10,60

4 27,61 10,66

Rata-rata 27,23 10,4025

Pada Tabel 8., dapat dilihat bahwa hasil analisis gluten 4 sampel tepung terigu memiliki

nilai wet basis dan dry basis yang berbeda-beda. Pada pengujian terhadap 4 sampel,

rata-rata wet gluten sebesar 27,23% dan dry gluten sebesar 10,4025%. Berdasarkan hasil

tersebut, dapat diketahui bahwa hasil analisa gluten telah memenuhi standar mutu yang

telah ditetapkan oleh PT. MAYORA INDAH Div Biskuit Jayanti. Standar wet gluten

dan dry gluten pada raw material tepung terigu yang digunakan dalam pembuatan

biskuit Roma Kelapa yakni dry basis minimal 8 dan wet basis minimal 21.

Pada proses produksi biskuit Roma Kelapa, tepung terigu yang digunakan yakni tepung

terigu protein rendah. Menurut Kompas (2010), gluten yang terdapat pada tepung terigu

protein rendah berkisar 8% hingga 9%. Menurut U.S. Wheat Associates (1983)

pengolahan adonan biskuit saat pencampuran tepung terigu dengan air garam akan

membentuk gluten sehingga terbentuk struktur dan menstabilkan kekokohan gluten.

Struktur yang terbentuk seperti kisi – kisi berfungsi untuk memerangkap udara untuk

meningkatkan volume adonan biskuit. Fance (1964) menambahkan bahwa kualitas

adonan ditentukan oleh gluten karena gluten memiliki peran sebagai penahan gas

sehingga produk dapat mengembang. Pengembangan yang dibutuhkan biskuit tidaklah

(47)

37

yang menyatakan bahwa tepung terigu protein rendah akan menghasilkan

pengembangan yang tidak berlebihan.

Selain itu, kandungan gluten juga akan mempengaruhi produk biskuit yang dihasilkan.

Menurut Lewis (1987), protein gluten yang terdapat pada tepung terigu menjadi salah

satu faktor penting yang akan menentukan kekerasan produk biskuit tersebut. Apabila

kandungan gluten tidak memenuhi standar maka produk yang dihasilkan memiliki

tekstur yang tidak sesuai dengan standar yang telah ditentukan PT.MAYORA INDAH

Div Biskuit Jayanti. Faridah (2008) menambahkan bahwa penggunaan tepung terigu

dengan kadar gluten produk akhir yang dihasilkan akan kering secara rata dan rapuh.

7.1.2.4 Uji Kadar NH4CO3

Ammonium bikarbonat merupakan salah satu alternatif bahan pengembang yang banyak

digunakan dalam pembuatan biskuit. Penggunaan ammonium karbonat harus

memperhatikan beberapa hal. Senyawa ini bila digunakan secara berlebihan akan

menimbulkan pembentukan gas terlalu tinggi sehingga terjadi kerusakan struktur gluten,

pengembangan yang berlebih dan timbulnya rasa pahit. Biskuit yang dihasilkan juga

akan mengalami kerapuhan dari segi struktur. Analisa kadar NH4CO3 bertujuan untuk

mengetahui kadar NH4CO3 yang terdapat pada bahan baku ammonium karbonat.

Prinsip analisa ini adalah penentuan konsentrasi dimana larutan yang bersifat basa akan

dinetralkan dengan senyawa asam HCl dan jumlah HCl yang digunakan berbanding

lurus dengan kadar basa tersebut, yaitu semakin besar jumlah HCl yang digunakan

maka larutan bersifat semakin basa. Hasil pengujian kadar NH4CO3

Tabel 9. Hasil Analisis Kadar NH

pada ammonium

bikarbonat dapat dlihat pada Tabel 9.

(48)

Pada Tabel 9., dapat dilihat bahwa hasil analisis kadar NH4CO3 yang dilakukan pada 4

sampel Ammonium bikarbonat memiliki nilai berkisar 98% hingga 99%. Pada

pengujian terhadap 4 sampel, rata-rata kadar NH4CO3 yakni sebesar 98,86%.

Berdasarkan hasil tersebut, dapat diketahui bahwa hasil analisis kadar NH4CO3 telah

memenuhi standar mutu yang ditetapkan oleh PT. MAYORA INDAH Div Biskuit

Jayanti. Standar kadar NH4CO3 pada ammonium bikarbonat yang digunakan dalam

pembuatan biskuit Roma Kelapa yakni sebesar minimal 98%.

Pada pembuatan biskuit Roma Kelapa, salah satu bahan pengembang yang digunakan

yaitu ammonium bikarbonat. Menurut Manthey (2002), ammonium bikarbonat hanya

perlu digunakan dalam jumlah yang sedikit karena ammonium bikarbonat akan

menimbulkan rasa pahit pada produk dan pengembangan 10% lebih besar dari sodium

bikarbonat. Kadar NH4CO3 pada ammonium bikarbonat dalam pembuatan biskuit

sangatlah perlu untuk diperhatikan. Hal ini disebabkan oleh kadar NH4CO3 pada

ammonium bikarbonat akan mempengaruhi pengembangan biskuit. Apabila kadar

NH4CO3

7.1.2.5 Uji Asam Lemak Bebas

Free Fatty Acid atau asam lemak bebas merupakan salah satu parameter dalam

menentukan mutu RBD Palm Olein yang digunakan dalam pembuatan biskuit Roma

Kelapa. Menurut Ketaren (1986), asam lemak bebas terbentuk melalui proses hidrolisis

enzim dan oksidasi yang terjadi selama penyimpanan. Kadar asam lemak bebas yang

tinggi dapat disebabkan oleh buah sawit dipanen tidak tepat waktu serta keterlambatan

dalam pengumpulan buah, pengangkutan buah dan penumpukan buah. Namun ada juga

faktor yang berasal dari proses hidrolisa yang dilakukan selama proses di pabrik.

tidak memenuhi spesifikasi PT. MAYORA INDAH Div Biskuit Jayanti akan

menyebabkan pengembangan produk yang dihasilkan menjadi tidak maksimal.

Analisa Free Fatty Acid bertujuan untuk menentukan kandungan asam lemak bebas

yang terdapat pada minyak. Pada uji laboratorium, analisa Free Fatty Acid dilakukan

dengan menggunakan metode acidimetri. Prinsip analisa Free Fatty Acid dengan

(49)

39

lemak bebasnya dalam alkohol netral (ethanol). Hasil pengujian gluten pada tepung

terigu dapat dilihat pada Tabel 10.

Tabel 10. Hasil Analisa FFA dan Berat Jenis RBD Palm Olein (Januari 2017)

Sampel FFA (%)

Pada Tabel 10., dapat dilihat bahwa hasil analisis Free Fatty Acid yang dilakukan pada

4 sampel RBD Palm Olein memiliki nilai yang tidak berbeda jauh. Pada pengujian

terhadap 4 sampel, rata-rata Free Fatty Acid yakni sebesar 0,0225%. Berdasarkan hasil

tersebut, dapat diketahui bahwa hasil analisa FFA RBD Palm Olein telah memenuhi

standar mutu yang telah ditetapkan oleh PT. MAYORA INDAH Div Biskuit Jayanti.

Standar Free Fatty Acid pada RBD Palm Olein yang digunakan dalam pembuatan

biskuit Roma Kelapa yakni sebesar maksimal 0,1%.

Dalam proses pembuatan biskuit, Ketaren (1986) mengatakan bahwa lemak yang

digunakan harus memiliki nilai shortening dan stabilitas yang tinggi. Minyak yang

digunakan dalam proses produksi yakni minyak tidak terhidrogenasi seperti minyak

kelapa sawit sehingga dapat disimpulkan bahwa penggunaan RBD Palm Olein telah

sesuai dengan teori yang ada. Selain itu, kualitas minyak yang digunakan dalam

pembuatan biskuit harus memenuhi standar yang ada. Menurut Sudarmadji et al. (1989),

semakin tinggi asam lemak bebas maka kualitas minyak tersebut akan semakin

menurun. Penurunan kualitas minyak ditandai dengan timbulnya bau tengik pada

minyak serta perubahan rasa dan warna minyak. Sehingga apabila dalam pembuatan

biskuit menggunakan RBD Palm Olein dengan kadar FFA yang tinggi maka akan dapat

menyebabkan timbulnya bau tengik yang berakibat pada perubahan rasa pada adonan

(50)

7.2 Analisa Kesiapan Laboratorium PT.MAYORA INDAH Divisi Biskuit Jayanti dalam Audit ISO / IEC 17025 : 2005

PT.MAYORA INDAH Divisi Biskuit Jayanti telah mempersiapkan laboratorium untuk

audit ISO/IEC 17025:2005. Sistem manajemen mutu laboratorium ini berfokus pada

persyaratan teknis laboratorium dalam menerapkan Good Laboratorium Practice, ISO

9001:2000 sebagai jaminan mutu, Organization for Economic Cooperation

Development. Persyaratan teknis yang terdapat pada ISO/IEC 17025;2005 meliputi:

 Personel yang memenuhi kualifikasi dan pengalaman

 Kondisi akomodasi dan lingkungan laboratorium pengujian

 Kalibrasi dan perawatan alat laboratorium pengujian yang sesuai

 Ketelusuran pengukuran dan sistem kalibrasi ke standar internasional atau

nasional

 Teknik pengambilan barang uji serta metode pengujian sampel yang telah

divalidasi

 Penanganan barang uji yang sesuai

 Sistem jaminan mutu hasil pengujian

 Sistem dokumentasi dan pelaporan hasil pengujian

7.2.1 Personel

Persyaratan teknis yang terdapat pada ISO/IEC 17025:2005 juga mencakup mengenai

personel yang melakukan pengujian dalam laboratorium. Personel yang terdapat pada

laboratorium dibagi menjadi 3 yakni 1 orang pengawas laboratorium, 3 orang analis

kimia, dan 1 orang analis mikrobiologi. Kompetensi dan program studi keahlian

pengawas serta analis laboratorium dapat dilihat pada Tabel 11.

Tabel 11. Kompetensi dan Program Studi Petugas Laboratorium

Nama Pekerjaan Kompetensi Keahlian Program Studi Keahlian

Laili Pengawas

laboratorium

D3 analis kimia D3 analis kimia

Mentari Analis

mikrobiologi

Teknologi pengolahan

hasil pertanian

(51)

41

Amalia Analis kimia Teknologi pengolahan

hasil pertanian

Agribisnis hasil pertanian

Ayun Analis kimia Analis kimia Analis kimia

Rani Analis kimia Teknologi pengolahan

hasil pertanian

Pengawasan mutu hasil

pertanian dan perikanan

Selain pendidikan, program pelatihan dibutuhkan untuk menambah dan melatih

kemampuan analis dalam melakukan pengujian. Program training internal yang akan

diberikan kepada analis haruslah mengikuti prosedur mengenai pelaksanaan training

internal. Pada analisa kompetensi pengawas laboratorium serta skill and competency

matrix analis laboratorium, dapat diketahui program pelatihan yang dibutuhkan.

Program pelatihan dilakukan sesuai dengan jadwal training yang disusun oleh training

officer.

Skill and competency matrix merupakan analisa mengenai daftar dari keterampilan

untuk setiap orang dalam tim atau organisasi. Pada laboratorium, skill yang dibutuhkan

oleh analis laboratorium yakni produk knowledge RM/PM; SOP,IK & ketentuan; GLP;

Implementasi GMP, Food Safety & SR; K3; ISO 22000 & 9001; Sistem jaminan halal.

Skill and competency matrix analis laboratorium dapat dilihat pada Tabel 12.

Tabel 12.Skill and competency matrix analis laboratorium

Nama Pelatihan Skill

Materi a b c d e f g

a = produk knowledge RM/PM; b = SOP,IK & ketentuan; c = GLP; d = Implementasi GMP, Food Safety

(52)

42 Angka :

1 = tidak mengerti; 2 = mengerti; 3 = mengerti dan mengimplementasikan; 4 = mengerti dan

mengimplementasikan dengan baik; 5 = mengerti, memahami dan mengimplementasikan

dengan sangat baik.

Berdasarkan skill and competency matrix yang dapat dilihat pada Tabel 12., dapat

dilihat bahwa produk knowledge RM/PM; SOP,IK & ketentuan; GLP memiliki standar

3, sedangkan Implementasi GMP, Food Safety & 5R; K3; ISO 22000 & 9001; Sistem

jaminan halal memiliki standar 2. Pada materi GLP, setiap analis memiliki pencapaian 2

tetapi standar yang harus terpenuhi 3. Terdapat gap nilai pada materi GLP

membutuhkan perbaikan dengan memberikan training GLP. Sedangkan pada materi

sistem jaminan halal, Maharani Ulfah dan Qurrota ‘Ayun memiliki nilai pencapaian 1

sehingga membutuhkan perbaikan dengan memberikan training sistem jaminan halal.

Dalam mencapai nilai standar kompetensi tersebut, training officer telah menjadwalkan

training untuk petugas laboratorium yang belum mencapai nilai standar tersebut.

Persyaratan jabatan dan analisa kompetensi merupakan analisa mengenai persyaratan

jabatan dan daftar dari keterampilan seorang karyawan, dimana hal ini harus dimiliki

oleh pengawas laboratorium. Kompetensi yang dinilai meliputi pendidikan, manajerial,

keterampilan dan sistem. Persyaratan jabatan dan analisa kompetensi milik Ibu Laili

dapat dilihat pada Tabel 13.

Tabel 13. Persyaratan Jabatan dan Analisa Kompetensi Kompetensi Standar

kompetensi

Standar skill Standar nilai

Nilai

Pendidikan Min D3 dengan pengalaman Min 2

tahun

3 3

Managerial Leadership skills Leading ither 3 3

(53)

43

Organizational management

Entrepreneurial drive 3 3

Market orientation 3 3

Analisa produk Analisa produk fisika pangan

Berdasarkan persyaratan jabatan dan analisa kompetensi yang dapat dilihat pada Tabel

13. dapat dilihat bahwa kompetensi pendidikan, manajerial, keterampilan dan sistem

memiliki standar nilai 3. Nilai parameter kompetensi dan Key behaviour seluruh

mencukupi kompetensi yang dimiliki mencukupi standar kecuali kompetensi dalam

Gambar

Gambar 1. Struktur Organisasi
Tabel 1. Distribusi Karyawan PT. MAYORA INDAH Tbk Divisi Biskuit Jayanti
Tabel 2. Pembagian Waktu Kerja Karyawan Non-Shift
Tabel 4. Produk PT.MAYORA INDAH Tbk
+7

Referensi

Dokumen terkait