ISOLASI DAN IDENTIFIKASI GLIKOSIDA SAPONIN PADA HERBA KROKOT ( Portulaca oleracea L. )
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Gelar Sarjana Farmasi (S.Farm.)
Program Studi Ilmu Farmasi
Oleh :
Puspita Ayu Kristianti 028114075
FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA YOGYAKARTA
HALAMAN PERSEMBAHAN
Tuhanku. . .
Bicaralah padaku bila aku kesepian
Bisikkanlah dukungan-Mu bila aku dirudung kecemasan Dengarkanlah suaraku bila aku jatuh
Sudilah menjadi bagiku penghiburan dalam perjalanan Tempat bernaung diwaktu panas
Tempat berteduh di kala hujan Tongkat penuntun dalam kelelahan Dan penolong dalam bahaya
Semoga aku berhasil mencapai tujuanku Sekarang, dan juga nanti pada akhir hidupku
Karya ini kupersembahkan untuk
ALLAH SWT
Bapak dan Ibuku tercinta,
ungkapan rasa hormat dan baktiKu
Kakakku Andika
Almamaterku
Aku sudah belajar bahwa prestasi terbesar tidak selalu berupa penghargaan atau hadiah.
Prestasi terbesarku tidak berupa materi, melainkan pelajaran berharga
tentang semangat manusia. Penghargaan bisa memudar, hadiah bisa kehilangan kilaunya, tapi pelajaran yang kita peroleh akan tinggal untuk selamanya (Leslie Herrel).
. PRAKATA
Bismillahirrahmanirrahim. Assalammualaikum wr.wb.
Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah Swt yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi dengan
judul “ Isolasi dan Identifikasi Glikosida Saponin pada Herba Krokot ( Portulaca
oleracea L. ) “ sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Farmasi.
Penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari bantuan dan dukungan dari
berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis menyampaikan terima kasih kepada :
1. Allah Swt, baik buruk yang Dia berikan adalah yang terbaik, tergantung dari
kita yang memilih untuk belajar atau tidak.
2. Ibu Rita Suhadi, M.Si, Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi Universitas
Sanata Dharma Yogyakarta.
3. Bapak Yohanes Dwiatmaka, M.Si., selaku dosen pembimbing yang telah
memberikan bimbingan, saran, pengarahan, pengetahuan dan kesabaran dalam
membimbing selama penelitian dan penulisan skripsi ini.
4. Ibu Erna Tri Wulandari, M.Si, Apt., selaku dosen penguji yang telah bersedia
menguji, memberikan saran dan masukan yang sangat berguna dalam
penyelesaian skripsi ini.
5. Ibu Christine Patramurti, M.Si, Apt., selaku dosen penguji yang telah bersedia
menguji, memberikan saran dan masukan yang sangat berguna dalam
6. Bapak dan Ibu ku, atas doa, dukungan, pengorbanan dan kasih sayangnya.
Terima kasih sudah mau menjadi kedua sayapku selama ini, tanpa kalian aku
tidak mungkin bisa terbang sejauh ini.
7. Sahabat-sahabatku, Lena, Ulin, Elly, Puri, Asti, Leni, terima kasih sudah mau
berbagi tawa dan air mata denganku. Terima kasih juga karena selama ini
sudah berjalan bersamaku menapaki jalan yang sama.
8. Shinta dan Prima, atas kerjasama dan semangatnya selama penyelesaian
skripsi ini. Terima kasih juga karena sudah mau berjuang bersamaku.
Akhirnya kita bisa melewati semua ini.
9. Semua teman yang melakukan penelitian di Lab.FF, Christin, Yuni, Titien,
Rosa, Wira, Vivi. Terima kasih atas kebersamaan, kerjasama dan informasi
yang diberikan selama penelitian di Lab.
10.Teman-teman satu angkatan (2002), terutama kelompok C, Meta, Ina, Asti,
Lia, Riasa, Ricka, Maria, Tepe, Yiyin, Haryu, Elly, Puri, Wenny, Peter,
Shinta, Nowo, Rika, Ulin, Prima, Leni. Terima kasih sudah menjadi pelangi
dalam hidupku selama masa kuliah.
11.Sarah, Beni, Devi, Didit, Ardian, Yiyin, Vita, atas bantuan dan dukungannya
selama penyelesaian skripsi ini.
12.Mas Wagiran, mas Sigit, mas Sarwanto, mas Andre dan Pak Mukmim, terima
kasih atas semua bantuan dan informasi yang diberikan selama penelitian.
13.Mas Minto, mas Jianto dan mas Purwanto, terima kasih atas bantuannya
14.Sahabatku eks-SMUDA, Vida dan Setyo, terima kasih atas dukungan,
semangat, dan persahabatan yang diberikan sejak SMA.
15.Semua orang-orang yang kutemui baik secara sengaja atau tidak, yang telah
banyak memberikan pelajaran hidup yang berharga.
16.Semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu yang telah banyak
memberikan bantuan, dukungan, dan doanya selama ini.
Semoga Allah Swt membalas semua kebaikan, kasih, dan ketulusan yang
selama ini telah dirasakan penulis.
Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari
sempurna dan masih banyak kekurangan yang harus diperbaiki. Hal tersebut
dikarenakan keterbatasan kemampuan dan pengalaman yang penulis miliki. Maka
dari itu, penulis menerima segala saran maupun kritik yang bersifat membangun,
dan yang dapat membantu dan mendukung skripsi ini agar dapat menjadi lebih
sempurna. Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi masyarakat luas dan bagi
perkembangan ilmu pengetahuan terutama di bidang kefarmasian.
Wassalammualaikum wr.wb
Yogyakarta, 10 Februari 2007
INTISARI
Krokot (Portulaca oleracea L.) dapat dikonsumsi sebagai sayuran, dan dapat juga digunakan sebagai tanaman obat karena memiliki kandungan kimia yang cukup bermanfaat. Salah satu golongan senyawa kimia metabolit sekunder yang terkandung di dalam herba krokot adalah glikosida saponin. Saponin merupakan senyawa kimia yang mempunyai aktivitas hemolisis, mempunyai sifat antimikroba, antibakteri, antiinflamasi dan lain-lain. Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh isolat dan identitas golongan glikosida saponin herba krokot dalam isolat secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Spektrofotometri UV.
Melalui penelitian non eksperimental ini diharapkan diperoleh informasi mengenai golongan saponin yang terkandung di dalam herba krokot. Sebagai langkah awal dilakukan determinasi tumbuhan krokot, pengumpulan bahan, uji pendahuluan glikosida saponin, penyarian glikosida saponin herba krokot dengan pelarut etanol 70%, pemeriksaan KLT ekstrak etanol dan identifikasi glikosida saponin, isolasi glikosida saponin dengan metode KLT Preparatif, pemeriksaan kemurnian isolat dengan KLT multi eluen, identifikasi isolat dengan spektrofotometri UV.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa herba krokot mengandung glikosida saponin golongan triterpenoida. Pada uji KLT pendahuluan ada dua bercak yang diprediksi sebagai glikosida saponin. Sehingga dari dua bercak tersebut diisolasi dan diuji kemurniannya. Isolat 1 dan isolat 2 hasil isolasi menunjukkan 1 macam bercak pada kromatogram KLT multi eluen, sehingga kedua macam isolat tersebut dapat dipastikan kemurniannya. Hasil pengukuran pada spektrofotometer diketahui bahwa isolat 1 memiliki λ (panjang gelombang) maksimum 224nm, sedangkan isolat 2 memiliki λ maksimum 221nm. Hasil identifikasi isolat tersebut menunjukkan bahwa isolat 1 dengan λ maksimum 224 nm memiliki bentuk spektra yang hampir sama dengan isolat 2 (λ maksimum 221 nm), sehingga keduanya merupakan jenis senyawa yang sama yaitu senyawa glikosida saponin golongan triterpenoid
ABSTRACT
Krokot (Portulaca oleracea L) can consumed as vegetable, and can be use for medicine (plant drug) because containing chemical compound that very usefull. One of the chemical compound from secondary metabolit group that contained in krokot herb is saponin glycoside. Saponin is a chemical compound which has hemolisis activity, has characteristic as antimikroba, antibacteri, antiinflamation, etc. This research to get isolate and identify the group saponin glycoside krokot herb in isolate by using Thin Layer Chromatography (TLC) and Spectrofotometri ultra violet (UV).
Trough non eksperimental research, it is hoped to get information about the kind of saponin which is contained in krokot herb. There are many steps to do this research. First, doing determination of krokot plant, gathering material, introduction test including saponin with simple test, extracting saponin glycoside krokot herb with etanol 70%, after that checking TLC extract etanol and identifying compound, isolate saponin glycoside using TLC Preparative method. At least cheeking the purity of isolate with TLC multi eluen and identify isolate with spectrofotometri UV.
The result of this research show that krokot herb contains saponin glycoside with triterpenoid group. In the first TLC test, there are two spot which predicted the saponin glycoside. And then, the two of spot had been isolated and cheeked the purity of isolate. Isolate 1 and isolate 2 showed one spot on TLC multi eluen chromatogram, so that both of isolate have certainly for those purity. The result in spectrophotometer UV known that, isolate 1 has λ (wave length) maximum 224 nm, and the isolate 2 has λ (wave length) maximum 221 nm. The result of the isolate identification shows that isolate 1 with λ maximum 224 nm has same spectra with isolate 2 which has λ maximum 221 nm, so both of them is a same compound that including a saponin glycoside with triterpenoid group.
Keyword : Krokot, Saponin glycoside, TLC, Spectofotometri UV
DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL ... ii
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING... iii
HALAMAN PENGESAHAN... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
PRAKATA ... vi
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA... ix
INTISARI ... x
ABSTRACT... xi
DAFTAR ISI ... xii
DAFTAR TABEL... xv
DAFTAR GAMBAR ... xvi
DAFTAR LAMPIRAN ... xvii
BAB I . PENGANTAR... 1
A. Latar Belakang... 1
1. Permasalahan... 3
2. Keaslian penelitian... 3
3. Manfaat penelitian... 4
B. Tujuan Penelitian... 4
BAB II PENELAAHAN PUSTAKA... 5
A. Tumbuhan Krokot... 5
1. Keterangan botani... 5
3. Ekologi... 6
4. Khasiat dan kegunaan... 6
5. Kandungan kimia... 6
B. Glikosida Saponin... 6
C. Penyarian... 12
D. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)... 15
E. Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP)... 18
F. Spektrofotometri Ultraviolet... 20
G. Keterangan Empiris... 24
BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 25
A. Jenis dan Rancangan Penelitian... 25
B. Definisi Operasional... 25
C. Bahan dan Alat penelitian... 25
D. Tahapan Penelitian... 26
1. Determinasi tanaman krokot... 26
2. Persiapan bahan... 26
3. Pemeriksaan organoleptik dan makroskopik... 27
4. Uji pendahuluan... 27
5. Penyarian glikosida saponin dari herba krokot dan dari buah lerak yang digunakan sebagai pembanding... 28
7. Isolasi glikosida saponin herba krokot
dengan metode KLTP... 29
8. Pemeriksaan kemurnian dengan KLT multi eluen... 30
9. Spektrofotometri ultraviolet... 30
E. Tata Cara Analisis Hasil... 31
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN... 32
A. Determinasi... 32
B. Persiapan Bahan... 32
C. Hasil Pemeriksaan Organoleptik dan Makroskopik... 33
D. Uji Pendahuluan... 33
E. Penyarian Senyawa Glikosida Saponin... 38
F. Pemeriksaan Glikosida Saponin dengan KLT... 39
G. Isolasi Glikosida Saponin Herba Krokot dengan KLTP... 45
H. Pemeriksaan Kemurnian dengan Metode KLT multi eluen... 48
I. Spektrofotometri Ultraviolet (UV)... 55
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN... 61
A. Kesimpulan... 61
B. Saran... 61
DAFTAR PUSTAKA... 62
LAMPIRAN... 64
DAFTAR TABEL
Tabel I . Hasil kromatogram KLT pendahuluan... 40
Tabel II . Hasil kromatogram KLTP ... 46
Tabel III . Hasil isolat yang diperoleh dari KLTP ... 47
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1 . Struktur kimia dua macam golongan glikosida saponin .... 10
Gambar 2. Mekanisme terbentuknya buih ... 34
Gambar 3 Adsorpsi molekul-molekul saponin pada batas antar permukaan air-udara ... 35
Gambar 4. Reaksi Liebermann-Burchard... 36
Gambar 5. Reaksi Salkowski... 37
Gambar 6 . Hasil kromatogram KLT pendahuluan ... 41
Gambar 7. Reaksi antara saponin triterpenoid dengan deteksi Anisaldehida-asam sulfat ... 43
Gambar 8 . Hasil kromatogram KLTP sampel (ekstrak etanol herba krokot)... 46
Gambar 9 . Hasil kromatogram KLTmulti eluen isolat 1 ... 50
Gambar 10 . Hasil kromatogram KLT multi eluen isolat 1 ... 51
Gambar 11 . Hasil kromatogram KLTmulti eluen isolat 2 ... 52
Gambar 12 . Hasil kromatogram KLTmulti eluen isolat 2 ... 53
Gambar 13. Hasil spektra isolat 1... 58
Gambar 14. Hasil spektra isolat 2... 59
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 . Surat determinasi... 64
Lampiran 2 . Foto herba krokot... 65
Lampiran 3 . Foto hasil uji pendahuluan glikosida saponin... 66
Lampiran 4 . Foto hasil kromatogram KLT pendahuluan... 67
Lampiran 5 . Foto hasil kromatogram KLT multi eluen pada isolat 1 dengan fase gerak etil asetat, metanol, air (100:16,5:13,5 v/v) ... 68
Lampiran 6 . Foto hasil kromatogram KLT multi eluen pada isolat 1 dengan fase gerak kloroform, metanol (95 : 5 v/v)... 70
Lampiran 7 . Foto hasil kromatogram KLT multi eluen pada isolat 1 dengan fase gerak kloroform, metanol, air ( 70 : 30 : 4 v/v ) ... 72
Lampiran 8 . Foto hasil kromatogram KLT multi eluen pada isolat 2 dengan fase gerak etil asetat, metanol, air ( 100 : 16,5 : 13,5 v/v )... 74
Lampiran 10 . Foto hasil kromatogram KLT multi eluen pada isolat 2
dengan fase gerak kloroform, metanol, air
( 70 : 30 : 4 v/v ) ... 78
BAB I PENGANTAR
A. Latar Belakang
Manusia sering memanfaatkan berbagai macam tanaman untuk kelangsungan
hidupnya. Dalam hal ini, bukan saja tanaman pangan tetapi juga tanaman obat
yang mengandung metabolit sekunder yang cukup bermanfaat dalam pengobatan.
Berbagai jenis senyawa kimia yang terkandung dalam tumbuhan memiliki khasiat
dan manfaat yang spesifik. Tanaman obat merupakan tanaman yang dapat
digunakan dalam pengobatan baik sebagai pemeliharaan kesehatan maupun untuk
penyembuhan penyakit. Hal ini telah dikenal sejak jaman dahulu dan digunakan
berdasarkan pengalaman secara turun temurun. Salah satu jenis tanaman obat
yang belum begitu dikenal oleh masyarakat adalah krokot (Portulaca oleracea
L.). Selama ini masyarakat mengenal krokot sebagai sayuran atau gulma bukan
sebagai tanaman obat.
Krokot merupakan tanaman gulma yang pada daerah tertentu sering
dikonsumsi sebagai sayuran. Tanaman ini merupakan gulma pada tanaman
semusim, palawija, sayuran, maupun tanaman perkebunan (Djauhariya,2004).
Selain dikonsumsi sebagai sayuran, ternyata krokot juga dapat digunakan untuk
pengobatan pada beberapa penyakit, seperti disentri, radang usus buntu, sakit
perut, radang gusi, demam, digigit binatang berbisa, eczema, jantung berdebar,
kencing darah dan bisul. Cara penggunaanya bisa dengan di makan langsung
Tanaman krokot diperkirakan memiliki kandungan kimia berupa KCl, K2SO4,
KNO3, asam nikotinat, tanin, saponin, vitamin A, vitamin B, vitamin C,
1-Noradrenalin, noradrenalin, dopamine, dan dopa (Djauhariya,2004).
Berdasarkan hal tersebut, krokot memiliki dua fungsi yaitu selain dikonsumsi
sebagai sayuran ternyata dapat juga digunakan sebagai tanaman obat karena
memiliki kandungan kimia yang cukup bermanfaat. Biasanya masyarakat
mengenal tanaman obat sebagai jamu yang memiliki rasa yang tidak enak,
sehingga membuat mereka malas untuk menggunakannya. Tetapi lain halnya jika
tanaman obat tersebut dapat dimakan sebagai sayuran sekaligus dapat mengobati
penyakit seperti yang telah disebutkan diatas, tentu masyarakat akan merasa lebih
diuntungkan.
Dalam setiap bagian tanaman pasti terdapat metabolit sekunder. Metabolit
sekunder ini biasanya mempunyai efek fisiologis yang dapat dimanfaatkan untuk
pengobatan. Salah satu senyawa kimia yang termasuk dalam golongan metabolit
sekunder yang terkandung di dalam herba krokot adalah glikosida saponin.
Glikosida saponin adalah glikosida yang terdiri dari gugus gula yang berikatan
dengan aglikon berupa sapogenin. Menurut struktur aglikonnya, saponin dapat
dibedakan menjadi dua macam tipe yaitu tipe steroida dan triterpenoida
(Evans,2002). Saponin steroid dapat digunakan untuk pengobatan pada penyakit
syphilis, reumatik, penyakit kulit, psoriasis, eczema, pada anemia, diabetes,
gastritis, dan impotensi (Evans, 1989). Sedangkan saponin triterpenoid dapat
digunakan sebagai emulsifying agent, sebagai stimulant expectoran pada
Seperti yang telah disebutkan diatas, krokot dapat digunakan untuk
pengobatan penyakit disentri. Hal ini mungkin dikarenakan adanya glikosida
saponin yang memiliki aktivitas sebagai antimikroba dan antibakteri. Demikian
juga dengan digunakannya krokot sebagai obat untuk bisul, radang gusi, radang
usus buntu. Karena saponin memiliki sifat sebagai antiinflamasi, antieksudatif dan
antibakteri (Brotosisworo,1979; Djauhariya,2004).
Untuk lebih mendalami dan mengetahui golongan glikosida saponin yang
terkandung di dalam herba krokot, maka akan dilakukan penelitian ini.
1. Permasalahan
Apakah glikosida saponin herba krokot dapat diisolasi kemudian
selanjutnya diidentifikasi untuk mengetahui golongan glikosida saponinnya
dengan menggunakan Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dan Spektrofotometri
ultraviolet ?
2. Keaslian penelitian
Isolasi dan identifikasi aglikon saponin herba lerak (Sapindus rarak D.C)
pernah dilakukan oleh Yanuarsih (2001). Perbedaan dari penelitian ini adalah
tanaman yang digunakan. Penelitian tentang isolasi dan identifikasi glikosida
3. Manfaat penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan baru bagi
perkembangan ilmu kefarmasian, kedokteran, maupun kesehatan pada umumnya.
Hal tersebut dapat berupa manfaat teoritis dan manfaat praktis.
a. Manfaat secara teoritis
Untuk melengkapi informasi mengenai golongan glikosida saponin yang
terkandung dalam herba krokot dan juga dapat memberikan pengetahuan dalam
bidang fitofarmaka.
b. Manfaat secara praktis
Untuk melengkapi informasi tentang penggunaan herba krokot berdasarkan
dari efektivitas golongan glikosida saponin yang terkandung dalam herba krokot.
B. Tujuan Penelitian
Tujuan dilakukannya penelitian tentang isolasi dan identifikasi glikosida
saponin herba krokot ada dua yaitu :
1. Umum : Untuk lebih mendalami pengetahuan tentang herba krokot dalam
hal fitokimia.
2. Khusus : Untuk memperoleh isolat dan identitas golongan glikosida saponin
herba krokot dalam isolat secara Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
BAB II
PENELAAHAN PUSTAKA
A. Tumbuhan Krokot 1. Keterangan botani
Krokot memiliki nama ilmiah Portulaca oleracea L. , termasuk dalam suku
Portulacaceae. Tanaman krokot juga dikenal dengan berbagai nama daerah seperti
Krokot (Jawa), Gelang (Sunda), Re-serejan (Madura), Gelang (Sumatera),
Jalu-jalu kiki (Ternate) (Anonim,1995).
2. Deskripsi
Krokot memiliki daun tunggal, tersebar atau berhadapan, umumnya rontok,
dalam keadaan segar berdaging dan berwarna hijau. Helaian daun berbentuk
bundar telur atau bundar telur terbalik, ujung dan pangkal membundar atau
tumpul, panjang tiap helaian sampai 10 mm dan lebar sampai 4 mm
(Anonim,1995). Ujung daun melekuk ke dalam. Pangkal daun meruncing, tepi
daun rata, panjang 1-4 cm. Permukaan atas daun warna hijau tua sedangkan
bagian bawah merah tua. Bunga berkelompok, keluar dari ujung-ujung cabang,
mahkota bunga kecil, berjumlah 5, warna kuning. Bunga mekar dari jam 8-10
pagi, layu menjelang sore. Buah berkotak, biji banyak, kecil. Buah yang sudah
matang bijinya warna hitam. Tumbuhan ini berkembang biak dengan biji. Krokot
merupakan tumbuhan berumur setahun, batang merebah, bentuk bulat, lunak dan
berair, tidak berkayu, kulit batang warna coklat keunguan, panjang batang 10-50
3. Ekologi
Krokot tumbuh liar di tempat terbuka, tempat agak terlindung, dan pada tanah
agak lembab seperti di pekarangan, pinggiran kampung, pinggir selokan, dan
pinggir jalan (Djauhariya, 2004).
4. Khasiat dan kegunaan
Krokot berkhasiat sebagai obat disentri, radang usus buntu, sakit perut, radang
gusi, demam, digigit binatang berbisa, eksim, jantung berdebar, kencing darah,
dan bisul (Djauhariya,2004). Dalam MMI, disebutkan bahwa krokot dapat
digunakan sebagai obat gatal dan memperbaiki pencernaan.
5. Kandungan kimia
Diperkirakan krokot mempunyai kandungan kimia berupa KCl, K2SO4,
KNO3, asam nikotinat, tannin, saponin, vitamin A, vitamin B, vitamin C,
1-noradrenalin, noradrenalin, dopamine, dan dopa (Djauhariya, 2004).
B. Glikosida Saponin
Saponin adalah senyawa aktif permukaan yang kuat yang menimbulkan busa
jika dikocok dalam air dan pada konsentrasi yang rendah sering menyebabkan
hemolisis sel darah merah. Dalam larutan yang sangat encer saponin sangat
beracun untuk ikan, dan tumbuhan yang mengandung saponin telah digunakan
sebagai racun ikan selama beratus-ratus tahun. Beberapa saponin bekerja sebagai
antimikroba (Robinson,1995).
Saponin adalah glikosida, yaitu metabolit sekunder yang banyak terdapat di
Sifat-sifat saponin : berasa pahit, berbusa dalam air, mempunyai sifat deterjen
yang baik, beracun bagi binatang berdarah dingin, mempunyai aktivitas
haemolisis, merusak sel darah merah, tidak beracun bagi binatang berdarah panas,
mempunyai sifat antieksudatif, mempunyai sifat antiinflamasi.
Beberapa daya kerja dan pemakaian dari saponin adalah sebagai berikut:
1. Semua saponin menyebabkan hemolisa, karena itu beracun untuk semua
organisme bila diberikan secara parenteral setengah sampai beberapa mg per
kg berat badan ,dapat mematikan pada pemberian intravena.
2. Pengaruh terhadap alat pernafasan dapat dibuktikan dengan kenyataan dengan
digunakannya obat yang mengandung saponin untuk mencari ikan oleh rakyat
yang primitif. Kadar saponin yang sangat kecil melumpuhkan fungsi
pernafasan dari insang.
3. Kegunaan saponin dalam pengobatan nampaknya terutama oleh sifatnya yang
berpengaruh terhadap absorbsi zat aktif secara farmakologi. Beberapa contoh
untuk menggambarkan sifat tersebut antara lain: Penggunaan secara simultan
digitoksin dan saponin digitonin, meningkatkan efek digitoksin sampai kurang
lebih 50 kali bila diberikan secara oral terhadap katak.
4. Saponin juga menaikkan permeabilitas kertas saring. Filter dengan pori yang
cukup kecil untuk menahan partikel yang berukuran tertentu akan dapat
meloloskan partikel tersebut karena adanya saponin.
5. Secara teknik saponin digunakan sebagai emulsifier.
6. Saponin menimbulkan iritasi berbagai tingkat terhadap selaput lendir mulut,
7. Saponin merangsang keluarnya secret dari bronchial, hal ini diterangkan
dengan begitu banyak penggunaan obat semacam senega dan Liquiritse
sebagai ekspektoran dan bahan sekretolitik dalam pengobatan penyakit alat
pernafasan.
8. Saponin juga meningkatkan absorbsi zat diuretika (garam-garam) dan
nampaknya juga merangsang ginjal untuk lebih aktif. Hal ini mungkin
menerangkan kenyataan mengapa obat saponin sangat sering digunakan untuk
rematik dalam pengobatan rakyat.
9. Dalam industri, saponin digunakan dalam jumlah besar sebagai emulsifier
terutama dalam pemadam kebakaran, pekerjaan pencucian, dan lain-lain
(Brotosisworo,1979).
Adanya saponin dalam tanaman juga dapat ditunjukkan dengan beberapa
cara antara lain:
a . Indeks buih (foam index)
Indeks buih menunjukkan angka pengenceran dari zat atau obat yang diperiksa
yang akan memberikan suatu lapisan buih yang tingginya 1 cm sampai 10 cm, bila
larutan digojok dalam gelas ukur selama 15 detik dan selanjutnya dibiarkan dulu
selama 10 menit sebelum dilakukan pembacaan (Anonim,1995).
b. Haemolisa
Campur bahan yang akan diperiksa dengan larutan dapar fosfat pH 7,4 ,
panaskan,dinginkan, saring. Ambil filtrat campur dengan suspensi darah.
Diamkan selama 30 menit, terjadi haemolisa total berarti menunjukkan adanya
c. Reaksi warna
Reaksi warna dapat digunakan untuk menggolongkan saponin (sapogenin)
yang digunakan untuk membuktikan identitas dari suatu obat, dan jika perlu untuk
memonitor pada waktu pemisahan. Tidak ada reaksi warna yang secara spesifik
untuk tiap jenis saponin. Reaksi berikut ini dapat digunakan yaitu:
1) Dengan menggunakan asam asetat anhidrat dan asam sulfat ( disebut reaksi
Liebermannn-Burchard). Hasilnya ditunjukkan dengan adanya perubahan
warna yang bergantung dari aglikonnya yaitu, merah muda sampai merah
berarti termasuk golongan triterpenoid. Sedangkan jika warnanya biru hijau
maka menunjukkan adanya senyawa golongan steroid (Bruneton,1999).
2) Dengan menggunakan vanillin, anisaldehid, dan aldehid aromatik lainnya
yang ditambah dengan asam mineral kuat. Senyawa yang mengandung
saponin akan berwarna kuat, yang kemungkinan hasil reaksi antara aldehid
dan aglikon (Bruneton,1999).
Dikenal dua jenis saponin yaitu, glikosida triterpenoid alkohol dan glikosida
struktur steroid tertentu yang mempunyai rantai samping spiroketal. Kedua jenis
saponin ini larut dalam air dan etanol tetapi tidak larut dalam eter
(Robinson,1995).
Menurut struktur aglikon atau sapogenin, saponin dapat dibedakan menjadi
dua macam tipe yaitu tipe steroida dan triterpenoida. Kedua macam senyawa
tersebut mempunyai hubungan glikosidal pada C-3 dan mempunyai asal-usul
biogenetika yang sama melalui asam mevalonat dan satuan isoprenoid.
OH H
Gambar 1. Struktur kimia dua macam golongan glikosida saponin
Sterol adalah triterpena yang kerangka dasarnya sistem cincin siklopentana
perhidrofenantrena. Dahulu sterol terutama dianggap sebagai senyawa satwa
(sebagai hormon kelamin, asam empedu, dan lain-lain), tetapi pada tahun-tahun
tumbuhan (Harborne, 1987). Nama sterol digunakan khusus untuk steroid alkohol,
tetapi karena ternyata semua steroid tumbuhan adalah alkohol dengan sebuah
hidroksi group pada C-3, maka steroid tumbuhan sering disebut sterol.
Triterpenoida adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari enam
satuan isoprene dan secara biosintetis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik,
yaitu skualena. Senyawa ini berstruktur siklik yang nisbi rumit, kebanyakan
berupa senyawa tidak berwarna, berbentuk kristal, seringkali titik leleh tinggi dan
aktif optik, yang umumnya sukar dicirikan karena tidak ada kereaktifan kimianya
(Harborne, 1987). Saponin triterpenoida dapat dibedakan dalam tiga golongan
yang diwakili oleh α–amirin, β -amirin, dan lupeol.
Saponin steroid kebanyakan ditemukan di dalam famili monokotil, terutama
Liliaceae (Allium, Smilax, Asparagus), Agavaceae (Agave, Yucca) dan
Dioscoreaceae (Dioscorea). Selain itu juga ditemukan dalam Fabaceae (fenugrek),
Solanaceae (tobacco), atau Scrophulariaceae (foxgloves). Berbeda dengan steroid,
saponin triterpenoid jarang terdapat pada monokotil. Sebagian besar terdapat
dalam famili dikotil seperti Araliaceae, Caryophyllaceae, Cucurbitaceae, Fabales,
Primulaceae, Ranunculaceae, Rosaceae dan Sapindaceae (Bruneton,1999).
Saponin steroid mempunyai peran penting pada bidang pharmaceutical karena
hubungannya dengan beberapa senyawa seperti hormon sex, kortison, diuretic
steroid, vitamin D dan glikosida jantung. Beberapa saponin digunakan sebagai
starting material pada sintesis senyawa tersebut. Selain itu kandungan saponin
steroid dalam akar Sarsaparilla dapat digunakan untuk pengobatan pada penyakit
akar Ginseng sering digunakan untuk pengobatan pada anemia, diabetes, gastritis,
dan impotensi (Evans, 1989). Saponin triterpenoid pada kulit kayu Quillaia dapat
digunakan sebagai emulsifying agent. Sedangkan pada akar Senega dan akar
Primula digunakan sebagai stimulant expectoran pada bronkhitis kronik. Selain itu
saponin triterpenoid juga digunakan sebagai antiinflamasi, antifungi, antibakteri
(Evans, 1989).
C. Penyarian
Penyarian adalah kegiatan pengambilan zat yang dapat larut dari bahan yang
tidak dapat larut dengan pelarut cair. Simplisia yang disari ,mengandung zat aktif
yang dapat larut dan zat yang tidak larut seperti serat, karbohidrat, protein dan
lain-lain.
Beberapa golongan zat aktif yang terdapat dalam simplisia adalah alkaloida,
glikosida dan flavonoid. Stuktur kimia yang berbeda-beda akan mempengaruhi
kelarutan serta stabilitas senyawa-senyawa terhadap pemanasan, logam berat,
udara, cahaya, dan derajat keasaman. Jika zat aktif yang dikandung simplisia
diketahui maka akan lebih mudah dalam pemilihan cairan penyari dan cara
penyariannya.
Penyarian disamping memperhatikan sifat-sifat fisik simplisia dan sifat zat
aktifnya, harus juga memperhatikan zat-zat yang sering terdapat dalam simplisia
Penyarian dipengaruhi oleh:
1. Derajat kehalusan serbuk
Simplisia yang terlalu halus akan mempersulit pada proses penyarian. Hal ini
karena jika serbuknya terlalu halus maka ruang antar selnya akan berkurang.
Padahal ruang antar sel ini merupakan jalan yang mudah ditembus oleh cairan.
Serbuk yang terlalu halus dapat membentuk suspensi yang sulit dipisahkan
dengan hasil penyarian. Dengan demikian hasil penyarian tidak murni lagi
tetapi bercampur dengan partikel-partikel halus tadi. Jadi untuk
masing-masing simplisia perlu ditetapkan derajat halus yang paling tepat untuk
memperoleh hasil penyarian yang baik.
2. Perbedaan konsentrasi yang terdapat mulai dari pusat butir serbuk simplisia
sampai ke permukaannya, maupun pada perbedaan konsentrasi yang terdapat
lapisan batas, sehingga suatu titik akan dicapai, oleh zat-zat yang tersari jika
ada daya dorong yang cukup untuk melanjutkan pemindahan massa. Makin
besar perbedaan konsentrasi, makin besar daya dorong tersebut hingga makin
cepat penyarian.
Cairan penyari yang baik harus memenuhi kriteria berikut ini: murah dan
mudah diperoleh, stabil secara fisika dan kimia, bereaksi netral, tidak mudah
menguap dan tidak mudah terbakar, selektif yaitu hanya menarik zat berkhasiat
yang dikehendaki, tidak mempengaruhi zat berkhasiat, diperbolehkan oleh
Cara penyarian dapat dibedakan menjadi beberapa macam yaitu:
a. Infudasi
Infus adalah sediaan cair yang dibuat dengan menyari simplisia dengan air
pada suhu 900C selama 15 menit (Anonim,1986). Infudasi adalah proses
penyarian yang biasanya digunakan untuk menyari kandungan zat aktif yang larut
dalam air dari bahan-bahan nabati. Penyarian dengan cara ini menghasilkan sari
yang tidak stabil dan mudah tercemar oleh kuman dan kapang. Maka dari itu, sari
yang diperoleh tidak boleh disimpan lebih dari 24 jam.
b. Maserasi
Maserasi dilakukan dengan cara merendam serbuk simplisia dalam cairan
penyari. Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga
sel yang mengandung zat aktif, zat aktif akan larut dan karena adanya perbedaan
konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dengan yang di luar sel, maka
larutan yang terpekat didesak keluar. Peristiwa tersebut berulang sehingga terjadi
keseimbangan konsentrasi antara larutan diluar sel dan di dalam sel
(Anonim,1986). Maserasi digunakan untuk penyarian simplisia yang mengandung
zat aktif yang mudah larut dalam cairan penyari, tidak mengandung zat yang
mudah mengembang dalam cairan penyari, tidak mengandung benzoin, stirak dan
lain-lain.
c. Perkolasi
Perkolasi adalah penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari
simplisia ditempatkan dalam suatu bejana silinder, yang bagian bawahnya diberi
sekat berpori (Anonim,1986). Cairan penyari dialirkan dari atas ke bawah melalui
serbuk tersebut, cairan penyari akan melarutkan zat aktif sel-sel yang dilalui
sampai mencapai keadaan jenuh. Gerak ke bawah disebabkan oleh kekuatan gaya
berat sendiri dan cairan diatasnya, dikurangi dengan daya kapiler yang cenderung
untuk menahan.
d. Penyarian berkesinambungan
Penyarian berkesinambungan menggabungkan antara proses menghasilkan
ekstrak cair dan proses penguapan. Penyarian berkesinambungan dapat dilakukan
dalam skala laboratorium dan skala besar tergantung dari keperluannya dan alat
yang digunakan. Intinya cairan penyari dipanaskan hingga mendidih, uap penyari
akan naik keatas melalui serbuk simplisia. Uap penyari mengembun karena
didinginkan oleh pendingin balik. Embun turun melalui serbuk simplisia sambil
melarutkan zat aktifnya dan kembali ke labu. Cairan akan menguap kembali dan
prosesnya akan berulang (Anonim,1986) .
D. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Kromatografi adalah suatu teknik pemisahan tertentu. Pada dasarnya semua
cara kromatografi menggunakan dua fasa yaitu fasa tetap (stationary) dan fasa
bergerak (mobile). KLT dapat digunakan untuk keperluan yang luas dalam
pemisahan-pemisahan senyawa yang berwarna maupun tidak berwarna. Selain itu
juga memberikan hasil pemisahan yang lebih baik dan juga membutuhkan waktu
Secara garis besar KLT dapat dilakukan dengan cara membuat lempeng
kromatografi, yaitu untuk membentangkan penjerap dalam lapis tipis yang
berkelakuan sebagai penyokong yang inert. Penjerap padat yang berbentuk
bubukan halus biasanya dibuat menjadi bubur (slurry) dengan air dan
dibentangkan di atas plat gelas. Pembuatan lapis tipis di atas kaca ada beberapa
cara yaitu dengan jalan penyemprotan atau pencelupan, disamping dikerjakan
dengan tangan dapat juga dengan mesin. Plat yang telah dilapisi dipanaskan atau
diaktifkan dengan jalan memanaskannya pada suhu kira-kira 1000C selama waktu
tertentu. Campuran yang akan dikromatografi harus dilarutkan di dalam pelarut
yang agak nonpolar untuk ditotolkan pada lempang KLT. Pada umumnya, dipakai
larutan 0,1-1%. Hampir segala macam pelarut dapat dipakai, tetapi yang terbaik
yang bertitik didih antara 500-1000C. Pelarut yang demikian mudah ditangani dan
mudah menguap dari lempeng. Larutan cuplikan dalam pelarut yang akan
diidentifikasi ditotolkan dengan menggunakan pipet kapiler atau pipet mikro.
Bila bercak hasil penotolan telah kering plat diletakkan secara vertikal dalam
bejana yang sesuai dengan tepi yang dibawah dicelupkan dalam fase bergerak
yang dipilih, maka pemisahan kromatografi akan diperoleh. Pada akhir
pengembangan, pelarut dibiarkan menguap dari plat dan bercak yang terpisah
dilokalisir dan diidentifikasi dengan cara-cara fisika dan kimia (Sastrohamidjojo,
2002).
Penjerap yang dipakai untuk KLT ialah silika gel, alumina, kiselgur, dan
selulosa. Silika gel merupakan penjerap yang paling banyak dipakai dalam KLT
bersifat sedikit asam, maka asam sering agak mudah dipisahkan. Jadi
meminimumkan reaksi asam-basa antara penjerap dan senyawa yang dipisahkan.
Alumina, berbeda dengan silika gel alumina bersifat sedikit basa dan sering
dipakai untuk pemisahan basa. Cara ini juga meminimumkan reaksi asam-basa.
Kiselgur dan selulosa merupakan bahan penyangga lapisan zat cair yang dipakai
dalam sistem Kromatografi Cair-cair (KCC). Kromatografi jenis ini selalu dipakai
untuk pemisahan senyawa polar seperti asam amino, karbohidrat, nukleotida, dan
berbagai senyawa hidrofil alam lainnya (Gritter, 1985).
Lapisan penjerap dapat terikat dan melekat pada pelat kaca karena adanya
berbagai pengikat. Pengikat yang paling umum digunakan adalah kalsium sulfat
(CaSO4) yang ditambahkan ke dalam penjerap sampai 10-15%. Maka nama dari
penjerap biasanya diberi tanda G, misal silica gel G (Redja, 1980). Lapisan
penjerap sering mengandung indikator fluoresensi yang ditambahkan untuk
membantu penampakan bercak tidak berwarna pada lapisan yang telah
dikembangkan. Indikator fluoresensi adalah senyawa yang memancarkan sinar
tampak jika disinari dengan sinar berpanjang gelombang lain, biasanya sinar
ultraviolet. Dan biasanya penjerap yang dicampur dengan indikator fluoresensi
diberi tanda F, misalnya silica gel GF. Jika senyawa pada bercak yang
ditampakkan mengandung ikatan rangkap terkonjugasi atau cincin aromatis, maka
sinar UV yang mengeksitasi tidak dapat mencapai indikator fluoresensi sehingga
tidak ada cahaya yang dipancarkan. Dengan demikian hasilnya ialah bercak gelap
dengan latar belakang yang bersinar. Cara ini sangat peka dan tidak merusak
adalah sulfida anorganik, yang dapat memancarkan cahaya jika disinari pada 254
nm (Gritter, 1985).
Identifikasi dari senyawa-senyawa yang terpisah pada KLT lebih baik
dikerjakan dengan pereaksi kimia dan reaksi-reaksi warna. Tetapi dapat juga
menggunakan harga Rf, hal ini dapat didefinisikan sebagai berikut :
Jarak titik pusat bercak dari titik awal penotolan Harga Rf =
Jarak pengembangan
Harga-harga Rf untuk senyawa-senyawa murni dapat dibandingkan dengan harga
Rf standar.
Faktor-faktor yang mempengaruhi gerakan bercak dalam KLT yang juga
mempengaruhi harga Rf adalah struktur kimia dari senyawa yang sedang
dipisahkan, sifat dari penjerap dan derajat aktifitasnya, tebal dan kerataan dari
lapisan penjerap, pelarut (dan derajat kemurnian) fasa bergerak, derajat kejenuhan
dari uap dalam bejana pengembangan yang digunakan, teknik percobaan, jumlah
cuplikan yang digunakan, suhu, kesetimbangan antara atmosfer dalam bejana
jenuh dengan uap pelarut (Sastrohamidjojo, 2002).
E. Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP)
KLTP adalah salah satu metode yang paling mudah dan murah yang
digunakan untuk isolasi komponen suatu senyawa. Tetapi membutuhkan kerja
yang lebih intensif dan tiap-tiap fraksi yang diperoleh hanya dalam jumlah kecil.
Sebenarnya prinsip dasar KLTP sama dengan KLT pada umumnya. Tetapi ada
metode penotolannya. Pada KLTP, cuplikan yang akan dipisahkan ditotolkan
berupa garis lurus mendatar pada salah satu sisi pelat lapisan besar dan
dikembangkan secara tegak lurus pada garis cuplikan sehingga campuran akan
terpisah menjadi beberapa pita. Pita akan nampak dengan cara yang tidak merusak
jika senyawa itu berwarna. Setelah itu penjerap yang mengandung pita dikerok
dari pelat kaca. Kemudian cuplikan dielusi dari penjerap dengan pelarut polar
(Gritter, 1985).
Ukuran ketebalan penjerap pada pelat KLTP yang paling sering dipakai adalah
0,5-2 mm. Sedangkan ukuran pelat yang sering digunakan biasanya 20 x 20 cm
atau 20 x 40 cm (Hostettmann, 1995). Adanya pembatasan ketebalan lapisan dan
ukuran pelat tentu saja akan mengurangi jumlah bahan yang dapat dipisahkan
dengan KLTP. Penjerap yang paling umum dipakai ialah silica gel dan dipakai
untuk pemisahan campuran senyawa lipofil maupun campuran senyawa hidrofil.
Untuk pembuatan lapisan tanpa retak dianjurkan memakai penjerap niaga yang
tersedia.
Penotolan cuplikan pada pelat KLTP dapat dilakukan dengan tangan
menggunakan pipa kapiler atau pipet mikroliter, tetapi lebih baik jika
menggunakan penotol otomatis. Pada KLTP kita harus menyebarkan larutan
cuplikan yang volumnya agak besar (sampai 2ml) berbentuk pita seragam yang
tipis (lebar 1-5 mm) tanpa mengganggu permukaan lapisan (Gritter,1985). Pelarut
apa saja yang mempunyai titik didih antara 500C dan 900C cocok untuk pelarut
berupa pita yang harus sesempit mungkin karena pemisahan bergantung pada
lebar pita.
Pada umumnya penjerap pada KLTP mengandung indikator fluoresensi yang
membantu mendeteksi kedudukan pita yang terpisah, asalkan senyawa yang akan
dipisahkan menyerap sinar UV. Pita penjerap yang diperkirakan mengandung
komponen campuran murni, kemudian dari pelat kaca dengan spatula, silet, atau
pengaduk karet pipih dan selanjutnya hasi kerokan ditampung. Penjerap
diletakkan di dalam corong kaca memakai kertas saring lalu diekstraksi (di elusi)
beberapa kali dengan pelarut yang cocok. Pelarut yang digunakan harus cukup
polar untuk mengekstraksi cuplikan (Gritter, 1985).
F. Spektrofotometri Ultraviolet
Di bidang farmasi, analisa spektrofotometri cahaya tampak dan ultraviolet
telah dikenal sebagai metode utama baik untuk identifikasi, karakterisasi,
pemeriksaan kemurnian maupun penetapan kadar obat. Metode ini disamping
dapat dipakai untuk analisis zat dalam jumlah atau kadar kecil, cepat, sederhana,
spesifik, sensitif dan non destruktif. Selain itu dalam batas-batas tertentu dapat
juga dilakukan analisa zat campuran (Redja, 1980).
Spektrofotometri ultraviolet merupakan tehnik analisis spektroskopik yang
memakai sumber radiasi elektromagnetik ultraviolet dekat 190-380 nm. Satuan
yang akan digunakan untuk memberikan panjang gelombang ini adalah nanometer
Spektrum ultraviolet adalah suatu gambar antara panjang gelombang atau
frekuensi serapan lawan intensitas serapan (transmitasi atau absorbansi).
Kromofor merupakan gugus yang bertanggung jawab atas peresapan cahaya pada
daerah UV-Vis. Sedangkan auksokrom merupakan gugus dengan ikatan jenuh
yang bila terikat pada sebuah kromofor akan merubah baik panjang gelombang
maupun intensitas serapan maksimum (Redja, 1980).
Panjang gelombang di mana terjadi eksitasi elektronik yang memberikan
absorban maksimum disebut panjang gelombang maksimum. Penentuan panjang
gelombang maksimum dapat digunakan untuk mengidentifikasi molekul (Mulja &
Suharman, 1995). Panjang gelombang maksimum sangat berkaitan dengan puncak
absorbsi. Pada panjang gelombang maksimum, perubahan absorbansi persatuan
konsentrasi paling besar sehingga diperoleh sensitivitas yang maksimum (Skoog,
Holler & Noeman, 1998).
Spektrum serapan kandungan tumbuhan dapat diukur dalam larutan yang
sangat encer dengan pembanding blangko pelarut serta menggunakan
spektrofotometer yang merekam otomatis. Senyawa tak berwarna diukur pada
panjang gelombang 200-400 nm, senyawa berwarna pada panjang gelombang
200-700 nm. Panjang gelombang serapan maksimum dan minimum pada
spektrum serapan yang diperoleh direkam (dalam nm), demikian juga kekuatan
absorbansi. Bahan yang diperlukan hanya sedikit saja karena sel spektrofotometri
baku (1 x 1 cm) hanya dapat diisi 3 ml larutan. Pengukuran spektrum yang
eluat dari kolom kromatografi sewaktu pemurnian dan untuk mendeteksi
golongan senyawa tertentu (Harborne, 1987).
Karakteristik serapan suatu zat dalam pelarut tertentu, yaitu panjang
gelombang pada serapan maksimum dan daya serapnya dapat dipakai untuk
identifikasi atau penetapan kemurniannya. Tetapi cara ini tidak mutlak dapat
dijadikan kesimpulan akhir untuk menetapkan identitas suatu zat, karena zat yang
berbeda dapat menunjukkan serapan maksimum pada panjang gelombang yang
sama. Jadi uji yang lain, seperti uji kimia dan fisika juga harus dilakukan untuk
memastikannya (Redja, 1980).
Pelarut yang banyak digunakan untuk spekstroskopi UV adalah etanol 95%.
Karena kebanyakan golongan senyawa larut dalam pelarut tersebut. Dan
sebaiknya alkohol mutlak niaga harus dihindari karena mengandung benzena yang
menyerap di daerah UV pendek (Harborne, 1987).
Komponen-komponen pokok dari spektrofotometer meliputi : (1) sumber
tenaga radiasi yang stabil, (2) sistem yang terdiri atas lensa-lensa, cermin,
celah-celah, dan lain-lain, (3) monokromator untuk mengubah radiasi menjadi
komponen-komponen panjang gelombang tunggal, (4) tempat cuplikan yang
transparan, dan (5) detektor radiasi yang dihubungkan dengan sistem meter atau
pencatat (Sastrohamidjojo, 2001).
Dari spektrum serapan maka identifikasi suatu senyawa dapat dilakukan
1. Membandingkan panjang gelombang (λ) maksimum.
Panjang gelombang pada serapan maksimum dari zat yang diperiksa
dibandingkan dengan data yang dimuat di literatur, atau zat pembanding.
2. Membandingkan serapan.
Serapan atau turunannya yang dinyatakan dengan daya serap, daya serap
molar, atau serapan jenis E (1%,1cm) dari larutan zat yang diperiksa
dibandingkan dengan data literatur atau zat pembanding.
3. Membandingkan harga resapan relatif.
Disamping menetapkan panjang gelombang serapan maksimum, dihitung
juga harga resapan relatif yaitu perbandingan serapan dari dua panjang
gelombang serapan maksimum.
4. Membandingkan spektrun serapan.
Spektrum serapan zat yang diperiksa dibandingkan dengan zat
pembanding (Redja, 1980).
Spektrokopi UV digunakan terbatas pada sistem-sistem terkonjugasi.
Keuntungan yang selektif dari serapan UV yaitu gugus-gugus yang karakteristik
dapat dikenal didalam molekul-molekul yang sangat kompleks. Glikosida saponin
dapat diidentifikasi dengan menggunakan spektrofotometer UV karena dilihat dari
strukturnya mempunyai ikatan rangkap terkonjugasi, sehingga glikosida saponin
mempunyai pita serapan didaerah UV. Selain itu glikosida saponin juga memiliki
kromofor sederhana yaitu gugus tidak jenuh kovalen yang dapat menyerap sinar
digunakan pada sistem yang menyebabkan terjadinya warna pada suatu senyawa
(Sastrohamidjojo, 2001 ).
G. Keterangan empirik yang diharapkan
Melalui penelitian ini, diharapkan dapat diketahui golongan glikosida
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
A. Jenis dan Rancangan Penelitian
Penelitian ini termasuk dalam penelitian non eksperimental, karena di dalam
penelitian ini tidak dilakukan manipulasi atau intervensi terhadap subjek uji.
B. Definisi Operasional
1. Tanaman krokot yang digunakan untuk penelitian ini adalah krokot yang
mempunyai batang berwarna merah yang diperoleh dari sawah di Jampirejo,
Temanggung, Jawa Tengah.
2. Uji saponin secara sederhana adalah uji untuk memastikan adanya glikosida
saponin dengan menggunakan uji indeks buih, reaksi Lieberman-Burchard dan
reaksi Salkowski.
3. Isolasi glikosida saponin adalah pengambilan glikosida saponin pada herba
krokot dengan menggunakan metode KLTP.
4. Identifikasi glikosida saponin secara kualitatif dilakukan dengan
menggunakan metode KLT dan Spektrofotometri UV.
C. Bahan dan Alat Penelitian
Bahan dan alat yang digunakan selama penelitian adalah sebagai berikut :
1. Bahan utama penelitian yaitu tumbuhan krokot yang segar diperoleh dari
dengan derajat pro analisis, produksi MERCK yaitu anisaldehida, asam sulfat,
asam asetat anhidrida, etil asetat, kloroform, metanol, etanol, dan silika gel
GF254. Bahan pembanding sekunder glikosida saponin yaitu buah lerak
(Sapindi rarak Fructus).
2. Alat penelitian
Alat-alat gelas (Pyrex), neraca analitik (Metler Toledo), oven, seperangkat alat
refluks, Rotary vacuum evaporator ( Janke & Kunkel RV 05-ST), sintered
glass, waterbath, pipet mikroliter, seperangkat alat KLT dan KLTP,
seperangkat alat spektrofotometer ultra violet (Genesis TM 6), alat fotografi.
D. Tahapan Penelitian
Penelitian dilakukan dengan tahap-tahap sebagai berikut:
1. Determinasi tanaman krokot.
Determinasi dilakukan menggunakan buku acuan determinasi menurut Van
Stennis (1992).
2. Persiapan bahan
Persiapan yang dilakukan meliputi, pengumpulan herba, pencucian, dan
perajangan. Pengumpulan herba krokot dilakukan dan diambil dari sawah di
Jampirejo, Temanggung pada bulan Febuari 2006. Pada penelitian ini semua
bagian tanaman dapat digunakan mulai dari akar, batang, daun dan bunga.
Sebelum dilakukan penelitian, terlebih dahulu dilakukan sortasi awal yaitu
memisahkan herba dari bahan asing seperti kotoran hewan, tanah, kerikil, rumput,
pengumpulan herba krokot, dan juga bahan pengotor lain yang akan mengacaukan
penelitian dan mempengaruhi hasil penelitian. Setelah itu herba krokot dicuci
dengan air mengalir agar kotoran yang sudah lepas dari herba tidak menempel
kembali sehingga herba yang akan digunakan benar-benar bersih. Herba yang
sudah dicuci dengan air mengalir dirajang halus untuk memperoleh ukuran herba
yang lebih kecil.
3. Pemeriksaan organoleptik dan makroskopik
Pemeriksaan organoleptik dan makroskopik dilakukan berdasarkan
pengamatan terhadap rasa, warna, bau, dan bentuk herba krokot. Pemeriksaan ini
diharapkan dapat memberikan informasi mengenai ciri khas yang dapat digunakan
untuk pengenalan terhadap tanaman krokot.
4. Uji pendahuluan a. Uji indeks buih
Sebanyak 500 mg herba segar yang akan diperiksa, dihancurkan, kemudian
dimasukkan dalam tabung reaksi, ditambahkan air kemudian dikocok kuat-kuat
selama 10 detik. Terbentuk buih yang mantap selama tidak kurang dari 10 menit
(Anonim,1995).
b. Reaksi Lieberman- Burchard
Diambil sebanyak 3 mg bahan (herba segar yang sudah dihancurkan), dipanasi
dengan 1 ml asam asetat anhidrida lalu ditetesi dengan asam sulfat pekat 2 tetes,
jika terbentuk warna hijau biru menandakan adanya senyawa steroid dan jika
terbentuk warna merah muda sampai merah menandakan adanya senyawa
c. Reaksi Salkowski
Sebanyak 3 mg krokot yang sudah dihancurkan, ditambah kloroform,
kemudian ditambahkan 2 ml asam sulfat pekat. Apabila terbentuk warna kuning
yang lama-kelamaan berubah menjadi merah tua membuktikan adanya senyawa
triterpenoid (Paech and Tracey,1955).
5. Penyarian glikosida saponin dari herba krokot dan buah lerak (Sapindi
rarak Fructus) yang digunakan sebagai pembanding.
Sebanyak 20 gram herba krokot diekstraksi menggunakan pemanasan
dengan refluks selama 10 menit dengan 50ml etanol 70%. Kemudian filtrat yang
didapat diuapkan. Lalu 25-40 μl dari fraksi etanol tersebut digunakan untuk
Kromatografi Lapis Tipis (Wagner, 1984).
Sebanyak 2 gram buah lerak diekstraksi menggunakan pemanasan dengan
refluks selama 10 menit dengan 10ml etanol 70%. Kemudian filtrat yang didapat
diuapkan. Lalu 25-40 μl dari fraksi etanol tersebut digunakan sebagai pembanding
pada uji Kromatografi Lapis Tipis (Wagner, 1984).
6. Pemeriksaan pendahuluan glikosida saponin dengan KLT
Pemisahan dengan metode KLT ini menggunakan fase diam silika gel GF254
dan fase gerak etil asetat, metanol, air (100:16,5:13,5 v/v). Pada titik pertama
lempeng ditotolkan ekstrak etanol buah lerak (pembanding) sebanyak 25 μl dan
pada titik kedua ditotolkan ekstrak etanol herba krokot dengan jumlah yang sama.
Jarak penotolan 1,5 cm dari tepi bawah lempeng dengan jarak pengembangan 10
cm. Setelah elusi mencapai batas tersebut, lempeng diangkat dan dikeringkan di
udara selama 10 menit, lalu diamati dengan sinar tampak, dibawah lampu UV 254
LP, dipanaskan pada suhu 1100C selama 5-10 menit lalu diamati dengan sinar
tampak.
7. Isolasi glikosida saponin herba krokot dengan metode KLT Preparatif Isolasi atau pemisahan glikosida saponin dari senyawa-senyawa lain
dilakukan dengan metode Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP). Tebal
penjerap yang digunakan adalah 0,6 mm dengan ukuran pelat kaca 15 x 10 cm.
Metode ini menggunakan fase diam silika gel GF254 dan fase geraknya adalah etil
asetat, metanol, air (100:16,5:13,5 v/v).
Ekstrak etanol dari herba krokot ditotolkan berupa pita atau garis di pelat
KLTP dengan menggunakan pipet mikroliter 5µl. Jumlah totolan pada satu baris
ada 10 totolan. Jumlah cuplikan yang ditotolkan adalah 25µl tiap totolan. Karena
jika jumlah cuplikan yang ditotolkan terlalu sedikit dikhawatirkan bercak yang
timbul sulit diidentifikasi karena kurang tebal. Setelah dikembangkan dengan
menggunakan fase geraknya, dilihat pada sinar UV 254nm dan 365nm. Pita
penjerap yang diperkirakan mengandung glikosida saponin dikerok. Hasil
kerokannya dikumpulkan untuk kemudian dilarutkan dengan etanol Pa dan
disaring dengan sintered glass. Hasil yang diperoleh diuapkan sampai kering.
Kemudian dihitung bobot keringnya. Filtrat yang diperoleh itu diperkirakan isolat
glikosida saponin. Filtrat yang merupakan isolat glikosida saponin herba krokot
kemudian diuji kemurniannya dengan KLT multi eluen dan diidentifikasi dengan
8. Pemeriksaan kemurnian dengan metode KLT multi eluen
Uji kemurnian dengan metode KLT multi eluen pada penelitian ini
menggunakan silika gel GF254 sebagai fase diam dan menggunakan 3 fase gerak
yang berbeda. Ketiga fase gerak yang digunakan adalah :
1. etil asetat, metanol, air dengan perbandingan volume 100:16,5:13,5 v/v.
2. kloroform, metanol dengan perbandingan volume 95 : 5 v/v.
3. kloroform, metanol, air dengan perbandingan volume 70: 30: 4 v/v
Pada lempeng ditotolkan isolat glikosida saponin yang sebelumnya telah
dilarutkan dengan etanol. Cuplikan ditotolkan sebanyak 50 µl dengan jarak 1,5
cm dari tepi bawah lempeng. Selanjutnya ketiga lempeng dielusi dengan ketiga
fase gerak tersebut dalam bejana yang sudah dijenuhkan dengan batas elusi 10
cm. Setelah elusi mencapai batas tersebut, lempeng diangkat dan dikeringkan di
udara selama 10 menit, lalu diamati dengan sinar tampak, dibawah lampu UV 254
nm dan 365 nm. Selanjutnya disemprot dengan pereaksi anisaldehida-asam sulfat
LP, dipanaskan pada suhu 1100 C selama 5-10 menit lalu diamati dengan sinar
tampak.
9 Spektrofotometri Ultra Violet (UV)
Isolat yang berisi glikosida saponin herba krokot diencerkan dengan etanol
sesuai dengan kadar pengenceran yang di butuhkan, larutan ini kemudian dibaca
E. Tata Cara Analisis Hasil
Data yang telah diperoleh berupa data kualitatif dan akan dipaparkan secara
eksploratif deskriptif.
Analisis kandungan kimia herba krokot, dalam hal ini untuk mengetahui
golongan glikosida saponin dilakukan dengan cara uji pendahuluan yang berupa
uji indeks buih dan reaksi warna (reaksi Liebermann-Burchard dan reaksi
Salkowski). Selain itu untuk analisis golongan glikosida saponin pada herba
krokot dilakukan juga KLT, dengan cara membandingkan warna bercak dan hRf
dari ekstrak herba krokot dan ekstrak buah lerak (yang digunakan sebagai
pembanding ) secara kualitatif.
Isolasi glikosida saponin herba krokot dilakukan dengan metode KLT
preparatif, sedangkan uji kemurnian isolat dengan menggunakan metode KLT
multi eluen. Analisis hasil KLT multieluen dilihat dari kromatogramnya yang
hanya menghasilkan satu macam bercak. Untuk menambah data dilakukan juga
analisis secara kualitatif dengan menggunakan spektrofotometri UV untuk melihat
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Determinasi
Tanaman krokot yang akan digunakan dalam penelitian ini dideterminasi
terlebih dahulu. Determinasi tanaman dilakukan untuk memastikan bahwa
tanaman yang diteliti sesuai dengan yang dimaksud sehingga tidak terjadi
kekeliruan pada jenis tanaman yang digunakan dalam penelitian ini. Determinasi
dilakukan menggunakan buku acuan determinasi menurut Van Stennis (1992).
Berdasarkan hasil determinasi dapat disimpulkan bahwa tanaman yang
digunakan dalam penelitian ini benar yaitu Portulaca oleracea L. (krokot)
(lampiran 1).
B. Persiapan bahan
Tanaman krokot yang digunakan sebagai bahan penelitian diambil di
daerah sawah karena tanaman krokot merupakan tanaman liar berupa gulma yang
biasanya banyak tumbuh di daerah sawah (lampiran 2). Herba yang digunakan
pada penelitian ini digunakan herba segar, dengan alasan bahwa herba krokot sulit
untuk dikeringkan karena mengandung banyak air. Jika dipaksakan dikeringkan
maka herba tersebut justru akan busuk. Untuk itu lebih dipilih menggunakan
herba segar untuk penelitian ini, walaupun bahan yang digunakan menjadi
Herba krokot dirajang halus dimaksudkan untuk memperkecil ukuran
diameter herba, agar luas permukaan herba yang kontak dengan pelarut semakin
besar sehingga zat aktif atau senyawa aktif yang terlarut dalam pelarut lebih
banyak.
C. Hasil Pemeriksaan Organoleptik dan Makroskopik
Pemeriksaan organoleptik dan makroskopik herba krokot dilakukan
berdasarkan pengamatan terhadap bentuk, rasa, warna, dan bau dari herba
tersebut. Dari hasil pemeriksaan didapat hasil:
Rasa : asam agak sepet
Warna : akar berwarna coklat ; batang berwarna coklat ungu kemerahan
; daun berwarna hijau tua bunga berwarna kuning.
Bau : baunya seperti sayuran pada umumnya
Bentuk : daun berbentuk bundar telur ; bunga berkelompok, keluar dari
ujung-ujung cabang ; mahkota bunga kecil, berjumlah 5 ;
batang merebah, bentuk bulat, lunak dan berair, tidak berkayu.
D. Uji pendahuluan 1. Uji indeks buih
Dari uji tersebut dihasilkan data bahwa setelah dibiarkan lebih kurang 10
menit buih mencapai tinggi lebih kurang 5 cm. Hal tersebut menunjukkan bahwa
herba krokot mengandung saponin. Hasil uji yang diperoleh tersebut sudah sesuai
terbentuknya buih yang mantap selama tidak kurang dari 10 menit. Dapat
terbentuk buih dikarenakan oleh sifat saponin yang dapat menurunkan tegangan
permukaan air. Seperti sabun atau detergen, saponin mempunyai molekul besar
yang mengandung gugus hidrofilik dan lipofilik (hidrofobik). Dalam air, molekul
saponin mensejajarkan atau meluruskan diri secara vertikal pada permukaannya,
dengan gugus lipofilik (hidrofobik) menjauhi air (gambar 2 ).
OH
Gambar 2. Mekanisme terbentuknya buih
Dengan adanya air, gugus hidrofil akan berikatan dengan air sedangkan
gugus hidrofob akan menjauhi air atau mengarah ke atas (udara). Bagian polar
(hidrofil) dapat bergabung dengan molekul air, tetapi bagian nonpolar (hidrofob)
ditolak karena gaya adhesif yang dapat terjadi dengan air lebih kecil dibandingkan
dengan gaya kohesif antara molekul-molekul air. Akibatnya zat tersebut
Gambar 3. Adsorpsi molekul-molekul saponin pada batas antar permukaan air-udara.
Adsorpsi molekul saponin pada permukaan air dapat mengakibatkan
penurunan tegangan permukaan air yang dapat menimbulkan buih. Buih
merupakan suatu struktur yang relatif stabil yang terdiri dari kantong-kantong
udara terbungkus dalam lapisan tipis cairan, dispersi gas dalam cairan yang
distabilkan oleh suatu zat penurun tegangan permukaan. Dengan adanya alasan ini
saponin diklasifikasikan sebagai zat penurun tegangan permukaan (Mills,2000).
2. Reaksi Liebermann-Burchard
Uji reaksi ini dilakukan untuk membuktikan ada tidaknya senyawa
triterpenoid atau steroid dalam herba krokot. Karena reaksi ini positif dengan
kebanyakan triterpenoid dan steroid. Hasil dari uji reaksi ini menunjukkan bahwa
herba krokot mengandung senyawa triterpenoid, karena setelah dipanasi dengan
asam asetat anhidrat sebagai pereaksi menghasilkan warna kuning kecoklatan
yang berubah menjadi merah keunguan setelah ditetesi dengan asam sulfat yang
OH
( Warna merah keunguan )
Gambar 4. Reaksi Liebermann-Burchard
Dimana R1 dan R2 , merupakan rantai samping dari struktur saponin
triterpenoid yang biasanya berbeda satu sama lain tergantung jenisnya. Misalnya
Hederagenin : R1 = H , R2 = CH2OH
Gypsogenin : R1 = H , R2 = CHO
3. Reaksi Salkowski
Reaksi warna lain yang digunakan adalah reaksi Salkowski. Reaksi ini
untuk menentukan atau mempertegas bahwa senyawa yang terdapat dalam herba
krokot adalah triterpenoid. Hal tersebut dapat dilihat dari hasil positif adanya
warna kuning kecoklatan yang lama-kelamaan berubah menjadi merah tua setelah
ditambah dengan asam sulfat pekat. Kloroform digunakan sebagai pelarut, karena
aglikon yang terdapat dalam herba krokot larut dalam kloroform. Sedangkan asam
sulfat pekat yang ditambahkan digunakan sebagai katalis dalam reaksi tersebut.
Dari warna yang terbentuk herba krokot mengandung saponin golongan
triterpenoid (gambar 5).
Dari hasil uji pendahuluan ini dapat disimpulkan bahwa senyawa ini
merupakan saponin jenis triterpenoid (lampiran 3).
E. Penyarian Senyawa Glikosida Saponin
Pelarut polar yang digunakan pada proses penyarian ini adalah etanol
70%. Digunakan pelarut etanol karena kedua jenis saponin (triterpenoid dan
steroid) larut dalam air dan etanol (Robinson,1995).
Penyarian glikosida saponin dalam penelitian ini menggunakan cara
penyarian digesti. Digesti merupakan cara maserasi yang dimodifikasi, yaitu
dengan menggunakan pemanasan. Cara ini hanya dapat dilakukan untuk simplisia
yang zat aktifnya tahan terhadap pemanasan (Anonim,1986). Prinsip dasar dari
penyarian yang dilakukan yaitu pemanasan pada bahan herba segar krokot di
dalam pelarut etanol 70% selama 10 menit setelah suhu pemanasan dicapai yaitu
sekitar 78 0 C. Digunakan pemanasan dalam penyarian ini, karena sifat saponin
yang tahan terhadap pemanasan. Dilihat dari strukturnya yang rigid dan planar
maka saponin bersifat sangat stabil dalam keadaan apapun.
Herba krokot yang digunakan untuk penyarian ini sebanyak 20 gram di
dalam cairan penyari (etanol 70%) sebanyak 50 ml. Ekstrak yang diperoleh dari
proses penyarian disaring dan dikumpulkan, kemudian diuapkan di atas waterbath
untuk memperoleh ekstrak etanol herba krokot yang lebih pekat sebanyak 5 ml
F. Pemeriksaan Pendahuluan Glikosida Saponin dengan KLT
Pemeriksaan glikosida saponin pada herba krokot dilakukan untuk
mengetahui saponin jenis apa yang terkandung di dalam ekstrak etanol herba
krokot. Hal tersebut dapat ditentukan berdasarkan harga hRf dan warna bercak
yang ditimbulkan dibandingkan dengan pembanding yang digunakan.
Pembanding sekunder yang digunakan disini adalah buah lerak, digunakan
pembanding tersebut karena sesuai dengan penelitian yang lalu bahwa buah lerak
mengandung saponin triterpenoid golongan β-amirin (Yanuarsih, 2001). Hal
tersebut diperkuat dengan adanya jurnal yang menyebutkan bahwa buah lerak
mengandung sekitar 12% saponin triterpenoid (Siti,1998).
Fase diam yang digunakan adalah silika gel GF254 dan fase gerak yang
digunakan dalam penelitian ini adalah etil asetat, metanol, air (100:16,5:13,5 v/v)
yang bersifat non polar. Sehingga KLT pada penelitian ini termasuk kromatografi
fase normal, karena fase diam bersifat polar dan fase gerak bersifat non polar
Tabel I . Hasil kromatogram KLT pendahuluan dengan menggunakan fase diam silika gel GF245 dan fase gerak etil asetat, metanol, air
(100:16,5:13,5 v/v)
Warna bercak Nama bercak No
Gambar 6. Hasil kromatogram KLT pendahuluan dengan menggunakan fase diam silika gel GF245 dan fase gerak etil asetat, metanol, air
(100:16,5:13,5 v/v), dengan deteksi pereaksi anisaldehid-asam sulfat dipanaskan pada suhu 1100C selama 5 – 10 menit
Dari hasil kromarogram dapat dilihat bahwa terdapat 5 bercak yang
berasal dari cuplikan pembanding (ekstrak buah lerak) dan 4 bercak dari cuplikan
sampel (ekstrak herba krokot). Dari bercak tersebut terdapat 2 bercak yang
mempunyai harga hRf dan warna bercak yang hampir sama. Bercak tersebut
adalah bercak A4 dan B3, begitu juga dengan kedua bercak dari A5 dan B4. Dari
tabel dapat dilihat untuk bercak A4 dan B3, mempunyai hRf 55 dan 51 dengan
warna bercak setelah disemprot dengan pereaksi anisaldehid-asam sulfat dan
dipanaskan 1100C selama 5-10 menit, keduanya menghasilkan warna hijau.
Begitu juga dengan bercak A5 dan B4, mempunyai hRf 89 dengan warna bercak
setelah disemprot dengan pereaksi anisaldehid-asam sulfat dan dipanaskan 1100C
selama 5-10 menit, keduanya menghasilkan warna hijau keunguan.
Warna tampak meredam pada sinar UV 254 yang berarti bahwa terdapat
gugus kromofor dan ikatan rangkap terkonjugasi atau cincin aromatik jenis apa
saja pada senyawa tersebut. Sebenarnya tidak ada saponin yang dapat dideteksi
atau diamati secara spesifik dengan menggunakan sinar lampu UV 254 dan 365
nm, kecuali asam glycyrrhetic (Wagner, 1984). Jadi untuk memperjelas
identifikasi saponin harus menggunakan pereaksi semprot seperti
anisaldehid-asam sulfat. Digunakan pereaksi tersebut karena berdasarkan dari hasil orientasi
OH
Saponin triterpenoid anisaldehid