KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkat limpahan rahmat dan karunia-Nya sehingga penyusunan Rencana Manajemen Perubahan Kementerian Kehutanan untuk menuju pemerintahan yang baik dapat kami selesaikan. Rencana Manajemen Perubahan Kementerian Kehutanan ini disusun mengacu kepada Road Map Reformasi Birokrasi Kementerian Kehutanan dan berpedoman kepada Peraturan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 10 Tahun 2011 tentang Pedoman Pelaksanaan Program Manajemen Perubahan.
Penyusunan rencana manajemen perubahan ini bertujuan untuk memberikan arah pelaksanaan setiap rangkaian proses reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Kehutanan agar dapat mencapai kinerja yang diharapkan, mengelola struktur, proses, sumberdaya manusia, pola pikir, dan budaya kerja dalam rangka mencapai sasaran reformasi birokrasi, serta sebagai panduan bagi seluruh unit kerja di lingkungan Kementerian Kehutanan dalam mengelola perubahan yang terjadi akibat dari reformasi birokrasi .
Kami menyadari bahwa Rencana Manajemen Perubahan ini masih banyak kekurangannya. Untuk itu kami menghargai semua masukan untuk menyempurnakannya di masa yang akan datang. Akhir kata, semoga rencana manajemen perubahan ini dapat bermanfaat sebagai upaya percepatan reformasi birokrasi pada Kementerian Kehutanan.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... i
DAFTAR ISI ... ii
DAFTAR TABEL ... iv
DAFTAR GAMBAR ……… v BAB I. RENCANA MANAJEMEN PERUBAHAN
I. PENDAHULUAN ... A. Latar Belakang ... B. Maksud dan Tujuan ...
C. Ruang Lingkup ……….
1 1 2 2 II. RENCANA MANAJEMEN PERUBAHAN ……...
A. Pemetaan Stakeholders ... B. Identifikasi Tingkat Resistensi ... C. Mengenali Besarnya Perubahan ... C.1. Kompleksitas Perubahan ………... C.2. Kemampuan Memprediksi Solusi Perubahan ………... C.3. Kemampuan Kementerian Kehutanan Melakukan Perubahan ….. C.4. Urgensi Perubahan Yang dilakukan ……… D. Kesiapan Perubahan Organisasi … ... E. Pengembangan Strategi Perubahan ………. F. Pengembangan Strategi Komunikasi ……….. F.1. Strategi Komunikasi ………... F.2. Pendekatan Dalam Manajemen Perubahan ……… G. Perumusan Struktur Baru ……….. H. Pengembangan Strategi Pelatihan ………
5 5 13 16 16 42 44 44 45 46 47 48 50 53 54 BAB II. PENGELOLAAN PERUBAHAN
I. PENDAHULUAN ... A. Latar Belakang ... B. Maksud dan Tujuan ...
C. Ruang Lingkup ……….
56 56 58 58
II. FOKUS PERUBAHAN ……….. 59 III. MENGINTEGRASIKAN ROADMAP DENGAN STRATEGI PERUBAHAN
DAN STRATEGI KOMUNIKASI ………. 62
IV. MENGELOLA RESISTENSI ……….. 73
BAB III. TAHAPAN PENGUATAN
DAFTAR TABEL BAB I. RENCANA MANAJEMEN PERUBAHAN
1. Identifikasi Pemangku Kepentingan di Lingkungan Kementerian
Kehutanan ………... 6
2. Pengaruh Pemangku Kepentingan Terhadap Perubahan ... 9
3. Tingkat Resistensi Pemangku Kepentingan Terhadap Program Reformasi Birokrasi di Lingkungan Kementerian Kehutanan …………. ... 13
4. Kompleksitas Perubahan di Lingkungan Kementerian Kehutanan ... 16
5. Kemampuan Memprediksi Solusi Perubahan ………... 42
6. Strategi Perubahan Yang Dikembangkan Kementerian Kehutanan ... 46
7. Strategi Komunikasi Reformasi Birokrasi Kementerian Kehutanan ………... 51
8. Strategi Pelatihan Reformasi Birokrasi Kementerian Kehutanan ……… 54
BAB II. PENGELOLAAN PERUBAHAN 1. Area Perubahan, Sasaran, Kriteria, dan Indikator 8 Area Perubahan ……… 59
2. Integrasi Area Perubahan mind set dan culture set dengan strategi perubahan dan strategi komunikasi ……… 63
3. Integrasi Area Organisasi dan Tata Laksana dengan Strategi Perubahan dan Strategi Komunikasi ………... 65
4. Integrasi Area Peraturan Perundang-undangan dengan Strategi Perubahan dan Strategi Komunikasi ……… 67
5. Integrasi Area Pelayanan Publik dengan Strategi Perubahan dan Strategi Komunikasi ………. 70
6. Taktik Mengatasi Resistensi Dalam Melakukan Perubahan ……… 73
BAB III. TAHAPAN PENGUATAN 1. Langkah-langkah Penguatan Hasil Perubahan ………. 76
DAFTAR GAMBAR
1. Ruang Lingkup Manajemen Perubahan Berdasarkan Tahapannya ... 3 2. Pendekatan Dalam Rangka Pengelolaan Perubahan ……... 51
RENCANA MANAJEMEN
PERUBAHAN
BAB I. RENCANA MANAJEMEN PERUBAHAN I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Reformasi Birokrasi di Lingkungan Kementerian Kehutanan mulai dilakukan semenjak awal tahun 2000, namun secara sistematik dan terencana baru dilaksanakan mulai tahun 2011. Rencana kegiatan Reformasi Birokrasi Kementerian Kehutanan periode 2011 sampai dengan 2025 terdistribusi kedalam empat tahapan kegiatan, yaitu :
1. Tahapan percepatan (quick wins) dari September 2011 – September 2012 meliputi : (a) penataan sistem informasi pemberian izin pemanfaatan hasil hutan kayu hutan alam; (b) penataan sistem informasi izin pemanfaatan hasil hutan kayu hutan tanaman; (c) penataan sistem informasi izin pinjam pakai kawasan hutan dengan kompensasi membayar PNBP penggunaan kawasan hutan, dan; (d) penataan sistem informasi pelepasan kawasan hutan untuk budidaya perkebunan.
2. Tahapan jangka pendek (short term) dari September 2011 – September 2013 meliputi : (a) percepatan proses sertifikasi mutu sumber benih dan bibit tanaman hutan; (b) percepatan penetapan areal kerja hutan kemasyarakatan; (c) percepatan penetapan areal kerja hutan desa; (d) penyederhanaan izin usaha industri primer hasil hutan; (e) penyempurnaan pencadangan areal hutan tanaman rakyat; (f) penataan izin usaha penyediaan jasa dan sarana wisata alam di hutan lindung; (g) penataan izin usaha penyediaan jasa dan sarana wisata alamdi KSA dan KPA; (h) penataan izin usaha pemanfaatan jasa lingkungan air di KSA dan KPA; (i) pengaturan sistem peminjaman jenis satwa liar dilindungi ke luar negeri untuk kepentingan konservasi
(conservation loan); (j) penyederhanaan sistem peragaan tumbuhan dan satwa
liar dilindungi; (k) penyempurnaan pengaturan lembaga konservasi, dan; (l) penyederhanaan sistem pertukaran jenis tumbuhan atau satwa dilindungi dengan lembaga konservasi di luar negeri.
3. Tahapan jangka menengah (medium term) dari September 2011 – September 2014 meliputi : (a) penyederhanaan izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan kemasyarakatan; (b) penyederhanaan izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan desa; (c) penataan izin usaha pemanfaatan jasa dan lingkungan geotermal di KSA dan KPA; (d) percepatan perizinan pengambilan atau penangkapan serta peredaran tumbuhan dan satwa liar; (e) penyusunan mekanisme tata cara perizinan perolehan TSL dilindungi dan atau termasuk Appendix I CITES yang bersumber dari lembaga konservasi, dan; (f) penyempurnaan sistem penilaian kinerja pegawai.
4. Tahapan jangka panjang (long term) dari September 2011 – September 2025 meliputi kegiatan-kegiatan yang berkaitan peningkatan kualitas pelaksanaan reformasi birokrasi yang dilaksanakan pada ketiga tahapan sebelumnya, dan melakukan perluasan kegiatan reformasi birokrasi ke seluruh organ di lingkungan Kementerian Kehutanan.
Pelaksanaan reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Kehutanan yang tahapannya sebagaimana tertuang dalam road map, sudah barang tentu akan menimbulkan konsekuensi terjadinya perubahan. Perubahan yang diharapkan adalah perubahan secara sistematis dan konsisten dari sistem dan mekanisme kerja organisasi, serta pola pikir dan budaya kerja individu dalam organisasi, agar menjadi lebih baik sesuai dengan tujuan dan sasaran reformasi birokrasi.
Perubahan yang diamanatkan Reformasi Birokrasi Kementerian Kehutanansangat kompleks dan mendasar. Pada saat ini lebih dari 59 jenis perizinan yang diberikan oleh Kementerian Kehutanan, sehingga perbaikan birokrasi melalui peningkatan kualitas pelayanan publik akan menimbulkan perubahan organisasi yang cukup signifikan. Perubahan organisasi tersebut meliputi perubahan struktur, proses, mekanisme kerja, pola pikir, budaya kerja baik individu maupun organisasi di lingkungan Kementerian Kehutanan.
Perubahan berpeluang menimbulkan resistensi pada individu maupun kelompok dalam organisasi. Proses perubahan tidak selalu mendapat respon positif karena selalu terdapat beberapa orang yang menyukai dan juga yang tidak menyukai perubahan. Beberapa penyebab respon negatif terhadap perubahan antara lain rasa takut berkurang/hilangnya kekuasaan, kehilangan keterampilan, kegagalan kerja, ketidakmampuan menghadapi masalah baru, dan bahkan kehilangan pekerjaan. Untuk keperluan tersebut disusun program manajemen perubahan untuk mengelola sumberdaya dalam rangka mencapai sasaran reformasi birokrasi. Sumber daya meliputi struktur, proses, sumberdaya manusia, pola pikir, dan budaya kerja. Perubahan dalam reformasi birokrasi berpeluang menimbulkan resistensi dari individu didalam organisasi. Untuk mengurangi resistensi tersebut diperlukan transparansi dalam proses, terdapat komunikasi, dan adanya keterlibatan semua pihak. Pelaksanaan program manajemen perubahan disusun dengan berpedoman kepada Peraturan Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 10 Tahun 2011.
B. Maksud dan Tujuan
Maksud rencana manajemen perubahan adalah untuk mengarahkan agar setiap rangkaian proses reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Kehutanan mencapai kinerja yang diharapkan.
Tujuan rencana manajemen perubahan adalah sebagai panduan bagi seluruh unit kerja di lingkungan Kementerian Kehutanan dalam mengelola perubahan yang terjadi akibat dari reformasi birokrasi.
C. Ruang Lingkup
Ruang lingkup manajemen perubahan berdasarkan tahapan kegiatannya, adalah sebagai berikut :
1. Rencana Manajemen Perubahan 2. Pengelolaan Perubahan
3. Penguatan Hasil Perubahan
Secara garis besar Ruang Lingkup kegiatan Manajemen Perubahan digambarkan sebagai berikut : Tahap - 2 Tahap - 3 Tahap - 1 MERUMUSKAN RENCANA MANAJEMEN PERUBAHAN MEMPERKUAT HASIL PERUBAHAN MENGELOLA / MELAKSANAKA N PERUBAHAN 1.Mengintegrasikan strategi manajemen perubahan dan strategi komunikasi dengan program reformasi birokrasi lainnya 2.Mengimplementasika n rencana manajemen perubahan 3.Membuat rencana pelatihan dan mengimplementasika n 4.Mengelola resistensi 5.Mengukur tingkat keberhasilan 1. Membuat rencana pelatihan dan
1. Mengumpulkan umpan balik dan menganalisanya 2. Melaksanakan tindakan perbaikan 3. Memberikan penghargaan atas keberhasilan 4. Mengukur tingkat keberhasilandaka n perbaikan 5.Memberikan penghargaan atas keberhasilan 6 Mengukur tingkat 1.Melakukan asesmen kesiapan organisasi utk berubah 2.Merumuskan strategi manajemen perubahan 3.Merumuskan strategi komunikasi 4.Memperkuat manajemen perubahan 5.Menyusun ukuran keberhasilan
Gambar 1. Ruang Lingkup Manajemen Perubahan Berdasarkan Tahapannya Fokus pengelolaan perubahan adalah 8 (delapan) area perubahan, yaitu :
1. Organisasidiarahkan untuk meningkatkan efektivitas dan efisiensi pelaksanaan tugas dan fungsi, dan terhindarkannya duplikasi tugas dan fungsi, sehingga dapat mendorong percepatan reformasi birokrasi. Indikator kinerja kegiatan adalah tersedianya peta tugas dan fungsi unit kerja yang tepat fungsi dan tepat ukuran (right sizing), dan terbentuknya unit organisasi yang menangani pelayanan perizinan secara on line.
2. Tata Laksana diarahkan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas penyelenggaraan negara melalui standarisasi proses penyelenggaraan negara. Indikator kinerja dari kegiatan ini adalah tersedianya dokumen Standard Operating Procedure penyelenggaraan tugas dan fungsi yang disahkan, serta tersedianya e-government untuk kegiatan pengelolaan peraturan perundang-undangan.
3. Penataan peraturan perundang-undangan, diarahkan untuk mewujudkan terimplementasinya peraturan perundang-undangan yang harmonis dan sinkron satu sama lain, serta pelaksanaannya yang efektif dan efisien.
Indikator kinerja pencapaiannya diukur dari 3 (tiga) unsur, yaitu : (1) teridentifikasinya semua peraturan perundang-undangan; (2) teridentifikasinya peraturan perundang-undangan yang tidak harmonis; (3) teridentifikasinya peraturan perundang-undangan yang dapat diimplementasikan.
4. Sumberdaya Manusia Aparatur diarahkan untuk meningkatkan profesionalisme aparatur. Indikator kinerja dari kegiatan ini adalah : (1) Terbangunnya sistem rekrutmen yang terbuka, transparan, akuntabel dan berbasis kompetensi; (2) Tersedianya uraian dan peringkat jabatan; (3) Tersedianya dokumen standar kompetensi jabatan; (4) Tersedianya peta profil kompetensi individu; (5) Tersedianya data pegawai yang mutakhir dan akurat.
5. Pengawasan diarahkan untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien dan efektif serta taat pada peraturan dan berjalannya pengelolaan keuangan negara yang andal dan terpercaya.
6. Akuntabilitas diarahkan agar sistem akuntabilitas kinerja organisasi dapat berjalan secara efektif. Indikator kinerja dari kegiatan ini adalah : (1) peningkatan kualitas laporan akuntabilitas kinerja; (2) terbangunnya sistem yang mampu mendorong tercapainya kinerja organisasi yang terukur; (3) Tersusunnya Indikator Kinerja Utama (IKU).
7. Pelayanan Publik diarahkan agar pelayanan publik dapat terselenggara dengan lebih baik, lebih cepat, lebih aman, dan lebih terjangkau. Indikator kinerja kegiatan ini adalah : (1) terimplementasinya penggunaan standar pelayanan publik; (2) terimplementasinya penggunaan SPM; (3) peningkatan partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan publik.
8. Monitoring, Evaluasi dan Pelaporan diarahkan untuk menjamin kualitas terbaik dari pelaksanaan reformasi birokrasi (quality assurance). Indikator Kinerja kegiatan ini adalah : (1) Tersedianya laporan monitoring tahunan; (2) tersedianya laporan evaluasi tahunan; (3) tersedianya laporan lima tahunan.
II. RENCANA MANAJEMEN PERUBAHAN
Manajemen Perubahan atau change management merupakan pengelolaan sumber daya dalam rangka mencapai tujuan organisasi dengan kinerja yang lebih baik. Perubahan merupakan pergeseran organisasi dari keadaan sekarang menuju keadaan yang diinginkan. Dalam organisasi, perubahan tersebut meliputi struktur, proses, orang, pola pikir dan budaya kerja.
Reformasi birokrasi merupakan tuntutan yang mau tidak mau harus dilaksanakan oleh seluruh organ di lingkungan Kementerian Kehutanan untuk menerapkan tata kelola pemerintahan yang baik (good governance), yang prosesnya dilakukan secara bertahap dan berkelanjutan. Untuk mencapai hasil yang maksimal, seluruh unsur organisasi di lingkungan Kementerian Kehutanan wajib melakukan perubahan di unit organisasi masing-masing.
Tahapan perumusan rencana manajemen perubahan adalah sebagai berikut :
1. Melakukan asesmen terhadap para pemangku kepentingan, khususnya tingkat partisipasi dan keterlibatan mereka terhadap perubahan
2. Melakukan asesmen terhadap organisasi yang mencakup kesiapan organisasi untuk berubah, peran, struktur, tugas, dan fungsi organisasi untuk mendukung perubahan
3. Melakukan asesmen terhadap kemampuan dan kompetensi pegawai untuk mengelola perubahan
4. Mendesain rencana manajemen perubahan, komunikasi dan pelatihan
5. Merumusan manfaat yang akan diperoleh para pemangku kepentingan terhadap perubahan yang akan dilakukan.
A. Pemetaan Stakeholders
Secara keseluruhan bahwa pemangku kepentingan di lingkungan Kementerian Kehutanan terdiri atas unsur-unsur pemerintah, pemerintah daerah, perguruan tinggi, asosiasi pengusaha di bidang kehutanan, lembaga swadaya masyarakat (civil
society organization), petani/pengusaha hutan, serta masyarakat. Pemangku
kepentingan memiliki kekuatan, posisi penting, dan pengaruh terhadap isu yang berkaitan dengan perubahan. Oleh karena itu, di dalam reformasi birokrasi yang mengusung sejumlah perubahan yang signifikan, sangat penting bagi Kementerian Kehutanan.
Pemangku kepentingan di lingkungan Kementerian terdiri atas :
1. Pemangku kepentingan utama adalah pihak yang memiliki kaitan kepentingan secara langsung dengan suatu kebijakan, program, dan proyek. Mereka harus ditempatkan sebagai penentu utama dalam proses pengambilan keputusan.
2. Pemangku kepentingan pendukung adalah pihak yang tidak memiliki kaitan kepentingan secara langsung terhadap suatu kebijakan, program, dan proyek, tetapi memiliki kepedulian dan keprihatinan sehingga mereka turut
bersuara dan berpengaruh terhadap sikap masyarakat dan keputusan pemerintah.
3. Pemangku kepentingan kunci adalah pihak yang memiliki kewenangan secara resmi dalam hal pengambilan keputusan. Pemangku kepentingan kunci yang dimaksud adalah pengambil keputusan di Kementerian Kehutanan.
Proses identifikasi dilakukan melakukan inventarisasi pemangku kepentingan
(stakeholders), yang saat ini tercatat sejumlah 35 pemangku kepentingan yang terkait
dengan program reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Kehutanan. Selanjutnya dilakukan analisis dengan pertanyaan sebagai berikut :
a. Siapa yang memiliki kewenangan dalam pengambilan keputusan b. Siapa yang mengendalikan perubahan
c. Siapa yang menjadi pendorong perubahan di masa lalu d. Siapa yang memperoleh manfaat langsung dari perubahan e. Siapa yang tidak akan mendapat manfaat dari perubahan f. Siapa yang mengendalikan sumberdaya dalam perubahan g. Siapa yang mempengaruhi pemangku kepentingan lainnya h. Siapa yang membantu suksesnya perubahan
Hasil identifikasi terhadap pemangku kepentingan di lingkungan Kementerian Kehutanan, adalah tertuang dalam Tabel 1 sebagai berikut :
Tabel 1. Identifikasi Pemangku Kepentingan di Lingkungan Kementerian Kehutanan
No. Kepentingan Pemangku
Kaitan Kepentingan Pengambilan Keputusan Kewenangan Dalam
Langsung Langsung Tidak Resmi Tidak Resmi
(1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. Lembaga Sosial Masyarakat X X 2. Perguruan Tinggi (Akademisi) X X 3. Lembaga Donor X X 4. Masyarakat Sekitar Hutan X X 5. Penyuluh Kehutanan Swadaya X X 6. Dewan Kehutanan Nasional X X
Kewenangan Dalam
Kaitan Kepentingan Pengambilan Keputusan
Pemangku No.
Kepentingan Tidak
Langsung Resmi Tidak Resmi
Langsung
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
7. Masyarakat
Perhutanan Indonesia X X
8. Asosiasi Panel Kayu
Indonesia X X 9. Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia X X 10. Asosiasi Pengusaha
Kayu Gergajian dan Kayu Olahan Indonesia X X 11. Asosiasi Industri Formalin dan Thermosetting Adhesive X X 12. Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia X X 13. Asosiasi Pengawet Kayu Indonesia X X 14. Himpunan Perusahaan Konsultan Indonesia X X 15. Himpunan Asosiasi Pengusaha Flora Fauna Indonesia X X
16. Asosiasi Pulp and
Kertas Indonesia X X 17. Asosiasi Kontraktor Pelaksana Kegiatan Kehutanan Indonesia X X 18. Petani Hutan Kemasyarakatan X X 19. Petani Hutan Tanaman Rakyat X X 20. Penangkar/Pengada Benih/bibit Tanaman Hutan X X
No. Pemangku Kepentingan
Kaitan Kepentingan Pengambilan Keputusan Kewenangan Dalam
Langsung Tidak
Langsung Resmi Tidak Resmi
(1) (2) (3) (4) (5) (6)
21. Petani Hutan Desa X X
22. Pelaku Usaha Jasa
Lingkungan Hutan X X 23. Asosiasi Pengusaha Tambang X X 24. Asosiasi Pengusaha Perkebunan X X
25. Pengada Barang dan
Jasa X X 26. Konsultan X X 27. Dinas Kehutanan Provinsi X X 28. Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota X X 29. Menteri Kehutanan X X 30. Pejabat Eselon I X X 31. Pejabat Eselon II X X
32. Pejabat Eselon III X X
33. Pejabat Eselon IV X X
34. Pejabat kunci X X
35. Pejabat non struktual X X
Berdasarkan hasil identifikasi ternyata terdapat sekitar 35 pemangku kepentingan yang memiliki kepentingan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan perubahan di lingkungan Kementerian Kehutanan.
Analisis pemangku kepentingan berdasarkan kewenangan terhadap program reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Kehutanan, tercantum dalam Tabel 2 dibawah ini. Secara keseluruhan bahwa pemangku kepentingan reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Kehutanan terbagi atas : (a) 4 pemangku kepentingan yang bersifat pendukung; (b) 24 pemangku kepentingan bersifat utama; (c) 7 pemangku kepentingan kunci.
Tabel 2. Pengaruh Pemangku Kepentingan Terhadap Perubahan
No. Kepentingan Pemangku
Pengaruh Perubahan Mengambil
keputusan perubahan Kendali Pendorong perubahan
Penerima manfaat langsung Penerima manfaat tak langsung Mengontrol sumberdaya perubahan Mempengaruhi stakeholders lainnya Membantu suksesnya perubahan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) A. Pendukung
1. Lembaga Swadaya Masyarakat X X
2. Akademisi X X
3. Lembaga Donor X X X
B. Utama 4. Pengusaha
pemanfaatan hutan X
5. Pengusaha industri hasil hutan X
6. Pengusaha tambang X
7. Pengusaha perkebunan X
8. Pengada benih/bibit tanaman hutan X
Pengaruh Perubahan
No. Kepentingan Pemangku Mengambil Kendali Pendorong Penerima Penerima manfaat Mengontrol Mempengaruhi Membantu keputusan perubahan perubahan langsung manfaat tak
langsung
sumberdaya
perubahan stakeholders lainnya perubahan suksesnya
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
alam
10. Pengusaha flora fauna X
11. Pemanfaat hutan
kemasyarakatan X
12 Pengelola hutan desa X
13. Pelaku usaha hutan
tanaman rakyat X
14. Masyarakat Perhutanan Indonesia X X
15. Asosiasi Panel Kayu Indonesia X X
16. Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia X X
17.
Asosiasi Pengusaha Kayu Gergajian dan Kayu Olahan Indonesia
X X
18. Asosiasi Industri Formalin dan
Pengaruh Perubahan
No. Kepentingan Pemangku Mengambil Kendali Pendorong Penerima Penerima manfaat Mengontrol Mempengaruhi Membantu keputusan perubahan perubahan langsung manfaat tak
langsung
sumberdaya
perubahan stakeholders lainnya perubahan suksesnya
(1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10)
19.
Asosiasi Industri Permebelan dan
Kerajinan Indonesia X X
20. Asosiasi Pengawet Kayu Indonesia X X
21. Himpunan Perusahaan Konsultan Indonesia X X 22. Himpunan Asosiasi Pengusaha Flora Fauna Indonesia X X
23. Asosiasi Kertas Indonesia Pulp and X X
24. Asosiasi Kontraktor Pelaksana Kegiatan Kehutanan Indonesia X X 25. Pemerintah provinsi X X X 26. Pemerintah kabupaten/kota X X X
No. Kepentingan Pemangku
Pengaruh Perubahan Mengambil
keputusan perubahan Kendali Pendorong perubahan
Penerima manfaat langsung Penerima manfaat tak langsung Mengontrol sumberdaya perubahan Mempengaruhi stakeholders lainnya Membantu suksesnya perubahan (1) (2) (3) (4) (5) (6) (7) (8) (9) (10) C. Kunci 28. Menteri X X X X X X X 29. Pejabat Eselon I X X X X X X X 30. Pejabat Eselon II X X X X X X
31. Pejabat Eselon III X X X X X X
32. Kepala UPT X X X X X X
33. Eselon IV X X X X X
34. Staf Kunci X X X
B. Identifikasi Tingkat Resistensi
Berdasarkan hasil identifikasi terdapat 35 pemangku kepentingan yang berkaitan dengan perubahan di lingkungan Kementerian Kehutanan. Selanjutnya terhadap pemangku kepentingan tersebut dianalisis berdasarkan sifat dan pelakunya.
Sifat penolakan, secara umum dikelompokkan sebagai berikut :
1. Penolakan secara aktif atau terbuka. Sifat penolakan seperti ini biasanya orang akan menyatakan secara terbuka mengenai keberatan atau ketidaksetujuannya terhadap perubahan.
2. Penolakan secara pasif. Sifat penolakannya dalam bentuk gejala-gejala
(symptom) seperti sering tidak hadir dalam rapat, tidak berpartisipasi, tidak
memenuhi komitmen, dan produktivitas menurun.
Penolakan terhadap perubahan berdasarkan pelakunya dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Individual. Pejabat struktural maupun pejabat non struktural yang terkait secara langsung dengan perubahan dan yang berkaitan dengan perubahan sistem pemberian perizinan.
2. Kolektif. Penolakan yang dilakukan secara bersama (kolektif).
Berdasarkan hasil analisis terhadap sifat penolakannya terhadap perubahan, selanjutnya pemangku kepentingan tersebut dikelompokkan kedalam 3 (tiga) kelompok, yaitu :
1. Champion, yaitu pemangku kepentingan yang sangat mendukung perubahan
dan tingkat resistensinya sangat rendah.
2. Floating Voter, yaitu pemangku kepentingan yang mendukung perubahan
dan tingkat resistensinya sama tingginya, tidak konsisten.
3. Blocker, yaitu pemangku kepentingan yang tidak mendukung perubahan dan
berpotensi mengganggu terhadap perubahan yang sedang dilakukan.
Tabel 3. Tingkat Resistensi Pemangku Kepentingan Terhadap Program Reformasi Birokrasi di Lingkungan Kementerian Kehutanan.
No. Kepentingan Pemangku
Resistensi Berdasarkan
Sifatnya Resistensinya Berdasarkan Pelakunya Aktif Pasif Individual Kolektif
(1) (2) (3) (4) (5) (6) 1. Lembaga Sosial Masyarakat X X 2. Perguruan Tinggi (Akademisi) X X 3. Lembaga Donor X X
No. Kepentingan Pemangku
Resistensi Berdasarkan Resistensinya Berdasarkan
Sifatnya Pelakunya
Aktif Pasif Individual Kolektif
(3) (4) (5) (6) (1) (2) 4. Masyarakat Sekitar Hutan X X 5. Penyuluh Kehutanan Swadaya X X 6. Dewan Kehutanan Nasional X X 7. Masyarakat Perhutanan Indonesia X X
8. Asosiasi Panel Kayu
Indonesia X X
9. Asosiasi Pengusaha
Hutan Indonesia X X
10. Asosiasi Pengusaha
Kayu Gergajian dan Kayu Olahan Indonesia X X 11. Asosiasi Industri Formalin dan Thermosetting Adhesive X X 12. Asosiasi Industri Permebelan dan Kerajinan Indonesia X X 13. Asosiasi Pengawet Kayu Indonesia X X 14. Himpunan Perusahaan Konsultan Indonesia X X 15. Himpunan Asosiasi Pengusaha Flora Fauna Indonesia X X
16. Asosiasi Pulp and
Kertas Indonesia X X 17. Asosiasi Kontraktor Pelaksana Kegiatan Kehutanan Indonesia X X
No. Kepentingan Pemangku
Resistensi Berdasarkan Resistensinya Berdasarkan
Sifatnya Pelakunya
Aktif Pasif Individual Kolektif
(3) (4) (5) (6) (1) (2) 18. Petani Hutan Kemasyarakatan X X 19. Petani Hutan Tanaman Rakyat X X 20. Penangkar/Pengada Benih/bibit Tanaman Hutan X X
21. Petani Hutan Desa X X
22. Pelaku Usaha Jasa
Lingkungan Hutan X X
23. Asosiasi Pengusaha
Tambang X X
24. Asosiasi Pengusaha
Perkebunan X X
25. Pengada Barang dan
Jasa X X 26. Konsultan X X 27. Dinas Kehutanan Provinsi X X 28. Dinas Kehutanan Kabupaten/Kota X X 29. Menteri 30. Pejabat Eselon I 31. Pejabat Eselon II X X
32. Pejabat Eselon III X X
33. Pejabat Eselon IV X X
34. Pejabat kunci X X
35. Pejabat non
struktual X X
Berdasarkan hasil identifikasi terdapat sekitar 35 pemangku kepentingan yang dikelompokkan sebagai 2 Champion, 33 pemangku kepentingan yang sifatnya
C. Mengenali Besarnya Perubahan
Besaran perubahan sebagai akibat reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Kehutanan perlu diketahui. Oleh karenanya perlu diukur besarannya dengan kriteria sebagai berikut :
1. Kompleksitas perubahan yang akan dilakukan, dengan parameter: • Jumlah unit organisasi yang terlibat
• Jumlah pegawai yang terkena dampak termasuk level organisasi yang terkena
• Besaran resiko yang harus dikelola
2. Kemudahan memprediksi solusi dari perubahan, dengan parameter:
• Kejelasan dan konsistensi pemahaman kondisi birokrasi yang diinginkan • Peran pihak luar terhadap perubahan
• Tingkat resistensi terhadap perubahan
3. Kemampuan Kementerian Kehutanan melaksanakan perubahan: • Dukungan pimpinan
• Kompetensi dan kemampuan pimpinan untuk mengelola perubahan • Pengalaman sukses mengelola perubahan
4. Urgensi perubahan yang dilakukan • Batas waktu melakukan perubahan
• Waktu yang diharapkan untuk memperoleh manfaat perubahan
Untuk mengetahui besaran perubahan dilakukan dengan metode studi literatur atau focus group discussion.
C.1. Kompleksitas Perubahan
Perubahan sebagai akibat reformasi birokrasi di lingkungan Kementerian Kehutanan ternyata tinggi kompleksitasnya, hal ini terlihat dari jumlah unit organisasi yang terlibat sebagai berikut :
Tabel 4. Kompleksitas Perubahan di Lingkungan Kementerian Kehutanan
No. Jenis Perubahan
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jumlah Unit
Organisasi Nama Organisasi
Jumlah Personil A. QUICK WINS 1. Penataan sistem informasi perizinan pemanfaatan hasil hutan hutan alam
36 1. Direktorat Jenderal Bina
Usaha Kehutanan (BUK)
2. Sekretariat DITJEN BUK
3. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN BUK
4. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN BUK
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
5. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN BUK
6. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN BUK
7. Direktorat Bina Usaha
Hutan Alam (BUHA)
8. Sub Direktorat Penyiapan
Pemanfaatan Hutan Alam, Dit. BUHA
9. Subbagian Tata Usaha, Dit.
BUHA
10. Seksi Penyiapan Wilayah I,
Dit BUHA
11. Seksi Penyiapan Wilayah II,
Dit BUHA
12. Direktorat Planologi
13. Sekretariat Planologi
14. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN Planologi
15. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN Planologi
16. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN Planologi
17. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN Planologi
18. Direktorat Wilayah
Pengelolaan dan Penyiapan Areal Pemanfaatan
Kawasan Hutan
19. Subbagian Tata Usaha
20. Sub Direktorat Penyiapan
Areal Pemanfaatan Hutan Wilayah I
21. Seksi Penyiapan Areal
pemanfaatan Hutan Alam Wilayah I
22. Sub Direktorat Penyiapan
Areal Pemanfaatan Hutan Wilayah II
23. Seksi Penyiapan Areal
pemanfaatan Hutan Alam Wilayah II
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
24. Sekretariat Jenderal
25. Biro Hukum dan Organisasi
26. Bagian Penelaahan Hukum
27. Subbagian Penelaahan Hukum I 28. Bagian Peraturan Perundang-Undangan 29. Subbagian Peraturan Perundang-undangan I
30. Kepala Subbagian Tata
Usaha
31. Biro Umum
32. Bagian Tata Usaha
Kementerian
33. Subbagian Persuratan
34. Bagian Tata Usaha
Pimpinan
35. Subbagian Tata Usaha
Menteri
36. Subbagian Tata Usaha
SEKJEN 2. Penataan sistem informasi perizinan pemanfaatan hasil hutan tanaman
36 1. Direktorat Jenderal Bina
Usaha Kehutanan (BUK)
2. Sekretariat DITJEN BUK
3. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN BUK
4. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN BUK
5. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN BUK
6. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN BUK
7. Direktorat Bina Usaha
Hutan Tanaman (BUHT)
8. Sub Direktorat Hutan
Tanaman Industri, Dit. BUHT
9. Subbagian Tata Usaha, Dit.
BUHT
10. Seksi Hutan Tanaman
Industri Wilayah I, Dit BUHT
11. Seksi Hutan Tanaman
Industri Wilayah I, Dit
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
BUHT
12. Direktorat Planologi
13. Sekretariat Planologi
14. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN Planologi
15. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN Planologi
16. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN Planologi
17. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN Planologi
18. Direktorat Wilayah
Pengelolaan dan Penyiapan Areal Pemanfaatan
Kawasan Hutan
19. Subbagian Tata Usaha
20. Sub Direktorat Penyiapan
Areal Pemanfaatan Hutan Wilayah I
21. Seksi Penyiapan Areal
pemanfaatan Hutan Tanaman Wilayah I
22. Sub Direktorat Penyiapan
Areal Pemanfaatan Hutan Wilayah II
23. Seksi Penyiapan Areal
pemanfaatan Hutan Tanaman Wilayah II
24. Sekretariat Jenderal
25. Biro Hukum dan Organisasi
26. Bagian Penelaahan Hukum
27. Subbagian Penelaahan Hukum I 28. Bagian Peraturan Perundang-Undangan 29. Subbagian Peraturan Perundang-undangan I
30. Kepala Subbagian Tata
Usaha
31. Biro Umum
32. Bagian Tata Usaha
Kementerian
33. Subbagian Persuratan
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
Pimpinan
35. Subbagian Tata Usaha
Menteri
36. Subbagian Tata Usaha
SEKJEN 3 Penataan sistem informasi izin pinjam pakai kawasan hutan dengan kompensasi membayar PNBP penggunaan kawasan hutan 49 1. Direktorat Planologi
2. Sekretariat Ditjen Planologi
3. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN Planologi
4. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN Planologi
5. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN Planologi
6. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN Planologi
7. Direktorat Penggunaan
Kawasan Hutan
8. Subbagian Tata Usaha
9. Sub Direktorat Penggunaan
Kawasan Hutan Wilayah I
10. Seksi Penggunaan Untuk
Pertambangan Wilayah I
11. Seksi Penggunaan Untuk
Non Pertambangan Wilayah I
12. Sub Direktorat Penggunaan
Kawasan Hutan Wilayah II
13. Seksi Penggunaan Untuk
Pertambangan Wilayah II
14. Seksi Penggunaan Untuk
Non Pertambangan Wilayah II
15. Direktorat Jenderal Bina
Usaha Kehutanan (BUK)
16. Sekretariat DITJEN BUK
17. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN BUK
18. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN BUK
19. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN BUK
20. Subbagian Pertimbangan
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN BUK
21. Direktorat Bina Rencana
Pemanfaatan dan Usaha Kawasan
22. Sub Direktorat Pemolaan
Pemanfaatan Kawasan Hutan
23. Subbagian Tata Usaha
24. Seksi Pemanfaatan
Kawasan Hutan Wilayah I
25. Seksi Pemanfaatan
Kawasan Hutan Wilayah II
26. Direktorat Jenderal
Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA)
27. Sekretariat DITJEN PHKA
28. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN PHKA
29. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN PHKA
30. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN PHKA
31. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN PHKA
32. Direktorat Kawasan
Konservasi dan Bina Hutan Lindung
33. Sub Direktorat Pemolaan
34. Subbagian Tata Usaha
35. Seksi Pemolaan
36. Seksi Pengembangan dan
Perpetaan
37. Sekretariat Jenderal
38. Biro Hukum dan Organisasi
39. Bagian Penelaahan Hukum
40. Subbagian Penelaahan Hukum II 41. Bagian Peraturan Perundang-Undangan 42. Subbagian Peraturan Perundang-undangan II
43. Kepala Subbagian Tata
Usaha
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
45. Bagian Tata Usaha
Kementerian
46. Subbagian Persuratan
47. Bagian Tata Usaha
Pimpinan
48. Subbagian Tata Usaha
Menteri
49. Subbagian Tata Usaha
SEKJEN 4. Penataan sistem informasi pelepasan kawasan hutan untuk budidaya perkebunan 36 1. Direktorat Planologi 2. Sekretariat Planologi
3. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN Planologi
4. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN Planologi
5. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN Planologi
6. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN Planologi
7. Direktorat Pengukuhan dan
Penatagunaan Kawasan Hutan
8. Subbagian Tata Usaha
9. Sub Direktorat Perubahan
Fungsi dan Peruntukan Kawasan Hutan Wilayah I
10. Seksi Pelepasan dan Tukar
Menukar Kawasan Hutan Wilayah I
11. Sub Direktorat Perubahan
Fungsi dan Peruntukan Kawasan Hutan Wilayah II
12. Seksi Pelepasan dan Tukar
Menukar Kawasan Hutan Wilayah II
13. Direktorat Jenderal Bina
Usaha Kehutanan (BUK)
14. Sekretariat DITJEN BUK
15. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN BUK
16. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN BUK
17. Bagian Hukum dan
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
Kerjasama Teknik, SETDITJEN BUK
18. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN BUK
19. Direktorat Bina Rencana
Pemanfaatan dan Usaha Kawasan
20. Sub Direktorat Pemolaan
Pemanfaatan Kawasan Hutan
21. Subbagian Tata Usaha
22. Seksi Pemanfaatan
Kawasan Hutan Wilayah I
23. Seksi Pemanfaatan
Kawasan Hutan Wilayah II
24. Sekretariat Jenderal
25. Biro Hukum dan Organisasi
26. Bagian Penelaahan Hukum
27. Subbagian Penelaahan Hukum II 28. Bagian Peraturan Perundang-Undangan 29. Subbagian Peraturan Perundang-undangan II
30. Kepala Subbagian Tata
Usaha
31. Biro Umum
32. Bagian Tata Usaha
Kementerian
33. Subbagian Persuratan
34. Bagian Tata Usaha
Pimpinan
35. Subbagian Tata Usaha
Menteri
36. Subbagian Tata Usaha
SEKJEN
B. JANGKA PENDEK
1. Percepatan
proses sertifikasi mutu sumber benih dan bibit tanaman hutan
3 1. Balai Perbenihan Tanaman
Hutan
2. Seksi Peredaran benih
3. Subbagian Tata Usaha
6
2. Penyempurnaan
penetapan areal kerja hutan
43 1. Direktorat BPDAS & PS
2. Sekretariat Ditjen BPDAS &
PS
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
kemasyarakatan 3. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN BPDAS & PS
4. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN BPDAS & PS
5. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN BPDAS & PS
6. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN BPDAS & PS
7. Direktorat Bina Perhutanan
Sosial
8. Sub Direktorat Pemolaan
Perhutanan Sosial
9. Subbagian Tata Usaha
10. Sub Direktorat Pengembangan Hutan Kemasyarakatan 11. Seksi Penyiapan Pengembangan Hutan Kemasyarakatan
12. Seksi Bimbingan Teknis
Hutan Kemasyarakatan
13. Direktorat Planologi
14. Sekretariat Ditjen Planologi
15. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN Planologi
16. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN Planologi
17. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN Planologi
18. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN Planologi
19. Direktorat Penggunaan
Kawasan Hutan
20. Subbagian Tata Usaha
21. Sub Direktorat Penggunaan
Kawasan Hutan Wilayah I
22. Seksi Penggunaan Untuk
Non Pertambangan Wilayah I
23. Sub Direktorat Penggunaan
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
24. Seksi Penggunaan Untuk
Non Pertambangan Wilayah II
25. Direktorat Pengukuhan dan
Penatagunaan Kawasan Hutan
26. Subbagian Tata Usaha
27. Sub Direktorat Perubahan
Fungsi dan Peruntukan Kawasan Hutan Wilayah I
28. Seksi Pelepasan dan Tukar
Menukar Kawasan Hutan Wilayah I
29. Sub Direktorat Perubahan
Fungsi dan Peruntukan Kawasan Hutan Wilayah II
30. Seksi Pelepasan dan Tukar
Menukar Kawasan Hutan Wilayah II
31. Sekretariat Jenderal
32. Biro Hukum dan Organisasi
33. Bagian Penelaahan Hukum
34. Subbagian Penelaahan Hukum I 35. Bagian Peraturan Perundang-Undangan 36. Subbagian Peraturan Perundang-undangan I
37. Kepala Subbagian Tata
Usaha
38. Biro Umum
39. Bagian Tata Usaha
Kementerian
40. Subbagian Persuratan
41. Bagian Tata Usaha
Pimpinan
42. Subbagian Tata Usaha
Menteri
43. Subbagian Tata Usaha
SEKJEN
3. Percepatan
penetapan areal kerja hutan desa
43 1. Direktorat BPDAS & PS
2. Sekretariat Ditjen BPDAS &
PS
3. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN BPDAS & PS
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
4. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN BPDAS & PS
5. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN BPDAS & PS
6. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN BPDAS & PS
7. Direktorat Bina Perhutanan
Sosial
8. Sub Direktorat Pemolaan
Perhutanan Sosial
9. Subbagian Tata Usaha
10. Sub Direktorat Pengembangan Hutan Kemasyarakatan 11. Seksi Penyiapan Pengembangan Hutan Kemasyarakatan
12. Seksi Bimbingan Teknis
Hutan Kemasyarakatan
13. Direktorat Planologi
14. Sekretariat Ditjen Planologi
15. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN Planologi
16. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN Planologi
17. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN Planologi
18. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN Planologi
19. Direktorat Penggunaan
Kawasan Hutan
20. Subbagian Tata Usaha
21. Sub Direktorat Penggunaan
Kawasan Hutan Wilayah I
22. Seksi Penggunaan Untuk
Non Pertambangan Wilayah I
23. Sub Direktorat Penggunaan
Kawasan Hutan Wilayah II
24. Seksi Penggunaan Untuk
Non Pertambangan Wilayah II
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
25. Direktorat Pengukuhan dan
Penatagunaan Kawasan Hutan
26. Subbagian Tata Usaha
27. Sub Direktorat Perubahan
Fungsi dan Peruntukan Kawasan Hutan Wilayah I
28. Seksi Pelepasan dan Tukar
Menukar Kawasan Hutan Wilayah I
29. Sub Direktorat Perubahan
Fungsi dan Peruntukan Kawasan Hutan Wilayah II
30. Seksi Pelepasan dan Tukar
Menukar Kawasan Hutan Wilayah II
31. Sekretariat Jenderal
32. Biro Hukum dan Organisasi
33. Bagian Penelaahan Hukum
34. Subbagian Penelaahan Hukum I 35. Bagian Peraturan Perundang-Undangan 36. Subbagian Peraturan Perundang-undangan I
37. Kepala Subbagian Tata
Usaha
38. Biro Umum
39. Bagian Tata Usaha
Kementerian
40. Subbagian Persuratan
41. Bagian Tata Usaha
Pimpinan
42. Subbagian Tata Usaha
Menteri
43. Subbagian Tata Usaha
SEKJEN
4. Penyederhanaan
izin usaha industri primer hasil hutan
27 1. Direktorat Jenderal Bina
Usaha Kehutanan (BUK)
2. Sekretariat DITJEN BUK
3. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN BUK
4. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN BUK
5. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik,
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
SETDITJEN BUK
6. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN BUK
7. Direktorat Bina Pengolahan
dan Pemasaran Hasil Hutan
8. Sub Direktorat Pemolaan
Pengolahan Hasil Hutan
9. Subbagian Tata Usaha
10. Seksi Penyiapan
Pengolahan Industri Primer
11. Seksi Pengolahan Industri
Primer
12. Sub Direktorat
Pengendalian Bahan Baku dan Industri Primer
13. Seksi Pengendalian Bahan
Baku
14. Seksi Produksi Industri
Primer
15. Sekretariat Jenderal
16. Biro Hukum dan Organisasi
17. Bagian Penelaahan Hukum
18. Subbagian Penelaahan Hukum I 19. Bagian Peraturan Perundang-Undangan 20. Subbagian Peraturan Perundang-undangan I
21. Kepala Subbagian Tata
Usaha
22. Biro Umum
23. Bagian Tata Usaha
Kementerian
24. Subbagian Persuratan
25. Bagian Tata Usaha
Pimpinan
26. Subbagian Tata Usaha
Menteri
27. Subbagian Tata Usaha
SEKJEN
5. Penyempurnaan
pencadangan areal hutan tanaman rakyat
36 1. Direktorat Jenderal Bina
Usaha Kehutanan (BUK)
2. Sekretariat DITJEN BUK
3. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN BUK
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
4. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN BUK
5. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN BUK
6. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN BUK
7. Direktorat Bina Usaha
Hutan Tanaman (BUHT)
8. Subbagian Tata Usaha
9. Sub Direktorat Hutan
Tanaman Rakyat
10. Seksi Hutan Tanaman
Rakyat Wilayah I
11. Seksi Hutan Tanaman
Rakyat Wilayah II
12. Direktorat Planologi
13. Sekretariat Ditjen Planologi
14. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN Planologi
15. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN Planologi
16. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN Planologi
17. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum
18. Direktorat Wilayah
Pengelolaan dan Penyiapan Areal Pemanfaatan
Kawasan Hutan
19. Sub Direktorat Penyiapan
Areal Pemanfaatan Hutan Wilayah I
20. Subbagian Tata Usaha
21. Seksi Penyiapan Areal
Pemanfaatan Hutan Tanaman Wilayah I
22. Sub Direktorat Penyiapan
Areal Pemanfaatan Hutan Wilayah II
23. Seksi Penyiapan Areal
Pemanfaatan Hutan Tanaman Wilayah II
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
25. Biro Hukum dan Organisasi
26. Bagian Penelaahan Hukum
27. Subbagian Penelaahan Hukum I 28. Bagian Peraturan Perundang-Undangan 29. Subbagian Peraturan Perundang-undangan I
30. Kepala Subbagian Tata
Usaha
31. Biro Umum
32. Bagian Tata Usaha
Kementerian
33. Subbagian Persuratan
34. Bagian Tata Usaha
Pimpinan
35. Subbagian Tata Usaha
Menteri
36. Subbagian Tata Usaha
SEKJEN 6. Penataan izin usaha penyediaan jasa dan sarana wisata alam di hutan lindung 23 1. Direktorat Jenderal
Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA)
2. Sekretariat DITJEN PHKA
3. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN PHKA
4. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN PHKA
5. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN PHKA
6. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN PHKA
7. Direktrorat Pemanfaatan
Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung
8. Sub Direktorat
Pemanfaatan Wisata Alam
9. Subbagian Tata Usaha
10. Seksi Pemanfaatan Wisata
Alam Non Taman Nasional dan Hutan Lindung
11. Sekretariat Jenderal
12. Biro Hukum dan Organisasi
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
13. Bagian Penelaahan Hukum
14. Subbagian Penelaahan Hukum III 15. Bagian Peraturan Perundang-Undangan 16. Subbagian Peraturan Perundang-undangan III
17. Kepala Subbagian Tata
Usaha
18. Biro Umum
19. Bagian Tata Usaha
Kementerian
20. Subbagian Persuratan
21. Bagian Tata Usaha
Pimpinan
22. Subbagian Tata Usaha
Menteri
23. Subbagian Tata Usaha
SEKJEN 7. Penataan Izin Usaha Penyediaan Jasa dan Sarana Wisata Alam di KSA dan KPA
24 1. Direktorat Jenderal
Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA)
2. Sekretariat DITJEN PHKA
3. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN PHKA
4. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN PHKA
5. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN PHKA
6. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN PHKA
7. Direktrorat Pemanfaatan
Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung
8. Sub Direktorat
Pemanfaatan Wisata Alam
9. Subbagian Tata Usaha
10. Seksi Pemanfaatan Wisata
Alam Taman Nasional
11. Seksi Pemanfaatan Wisata
Alam Non Taman Nasional dan Hutan Lindung
12. Sekretariat Jenderal
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
13. Biro Hukum dan Organisasi
14. Bagian Penelaahan Hukum
15. Subbagian Penelaahan Hukum III 16. Bagian Peraturan Perundang-Undangan 17. Subbagian Peraturan Perundang-undangan III
18. Kepala Subbagian Tata
Usaha
19. Biro Umum
20. Bagian Tata Usaha
Kementerian
21. Subbagian Persuratan
22. Bagian Tata Usaha
Pimpinan
23. Subbagian Tata Usaha
Menteri
24. Subbagian Tata Usaha
SEKJEN
8. Penataan izin
usaha
pemanfaatan jasa lingkungan air di KSA dan KPA
24 1. Direktorat Jenderal
Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA)
2. Sekretariat DITJEN PHKA
3. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN PHKA
4. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN PHKA
5. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN PHKA
6. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN PHKA
7. Direktrorat Pemanfaatan
Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung
8. Sub Direktorat
Pemanfaatan Wisata Alam
9. Subbagian Tata Usaha
10. Seksi Pemanfaatan Wisata
Alam Taman Nasional
11. Seksi Pemanfaatan Wisata
Alam Non Taman Nasional dan Hutan Lindung
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
12. Sekretariat Jenderal
13. Biro Hukum dan Organisasi
14. Bagian Penelaahan Hukum
15. Subbagian Penelaahan Hukum III 16. Bagian Peraturan Perundang-Undangan 17. Subbagian Peraturan Perundang-undangan III
18. Kepala Subbagian Tata
Usaha
19. Biro Umum
20. Bagian Tata Usaha
Kementerian
21. Subbagian Persuratan
22. Bagian Tata Usaha
Pimpinan
23. Subbagian Tata Usaha
Menteri
24. Subbagian Tata Usaha
SEKJEN
9. Pengaturan
sistem peminjaman jenis satwa liar dilindungi ke luar negeri untuk kepentingan konservasi (conservation loan)
21 1. Direktorat Jenderal
Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA)
2. Sekretariat DITJEN PHKA
3. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN PHKA
4. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN PHKA
5. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN PHKA
6. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN PHKA
7. Direktorat Konservasi
Keanekaragaman Hayati
8. Sub Direktorat Tertib
Peredaran
9. Subbagian Tata Usaha
10. Seksi Peredaran Luar
Negeri
11. Sekretariat Jenderal
12. Biro Hukum dan Organisasi
13. Bagian Penelaahan Hukum
14. Subbagian Penelaahan
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
Hukum III
15. Kepala Subbagian Tata
Usaha
16. Biro Umum
17. Bagian Tata Usaha
Kementerian
18. Subbagian Persuratan
19. Bagian Tata Usaha
Pimpinan
20. Subbagian Tata Usaha
Menteri
21. Subbagian Tata Usaha
SEKJEN 10. Penyederhanaan sistem peragaan tumbuhan dan satwa liar dilindungi 10 1. Direktorat Jenderal
Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA)
2. Sekretariat DITJEN PHKA
3. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN PHKA
4. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN PHKA
5. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN PHKA
6. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN PHKA
7. Direktrorat Konservasi
Keanekaragaman Hayati
8. Sub Direktorat Lembaga
Konservasi dan Perburuan
9. Subbagian Tata Usaha
10. Seksi Lembaga Konservasi
25 11. Penyempurnaan pengaturan lembaga konservasi 23 1. Direktorat Jenderal
Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA)
2. Sekretariat DITJEN PHKA
3. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN PHKA
4. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN PHKA
5. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN PHKA
6. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum,
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
SETDITJEN PHKA
7. Direktrorat Konservasi
Keanekaragaman Hayati
8. Sub Direktorat Lembaga
Konservasi dan Perburuan
9. Subbagian Tata Usaha
10. Seksi Lembaga Konservasi
11. Sekretariat Jenderal
12. Biro Hukum dan Organisasi
13. Bagian Penelaahan Hukum
14. Subbagian Penelaahan Hukum III 15. Bagian Peraturan Perundang-undangan 16. Subbagian Peraturan Perundang-undangan III
17. Kepala Subbagian Tata
Usaha
18. Biro Umum
19. Bagian Tata Usaha
Kementerian
20. Subbagian Persuratan
21. Bagian Tata Usaha
Pimpinan
22. Subbagian Tata Usaha
Menteri
23. Subbagian Tata Usaha
SEKJEN 12. Penyederhanaan sistem pertukaran jenis tumbuhan atau satwa dilindungi dengan lembaga konservasi di luar negeri 12 1. Direktorat Jenderal
Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA)
2. Sekretariat DITJEN PHKA
3. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN PHKA
4. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN PHKA
5. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN PHKA
6. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN PHKA
7. Direktrorat Konservasi
Keanekaragaman Hayati
8. Sub Direktorat Lembaga
Konservasi dan Perburuan
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
9. Subbagian Tata Usaha
10. Seksi Lembaga Konservasi
11. Sub Direktorat Tertib
Peredaran
12. Seksi Peredaran Luar
Negeri
C. JANGKA MENENGAH
1. Penyederhanaan
izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan kemasyarakatan
36 1. Direktorat BPDAS & PS
2. Sekretariat Ditjen BPDAS &
PS
3. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN BPDAS & PS
4. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN BPDAS & PS
5. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN BPDAS & PS
6. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN BPDAS & PS
7. Direktorat Bina Perhutanan
Sosial
8. Sub Direktorat Pemolaan
Perhutanan Sosial
9. Subbagian Tata Usaha
10. Sub Direktorat Pengembangan Hutan Kemasyarakatan 11. Seksi Penyiapan Pengembangan Hutan Kemasyarakatan
12. Seksi Bimbingan Teknis
Hutan Kemasyarakatan
13. Direktorat Bina Usaha
Kehutanan (BUK)
14. Sekretariat Ditjen BUK
15. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN BUK
16. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN BUK
17. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN BUK
18. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum,
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
SETDITJEN BUK
19. Direktorat Bina Usaha
Hutan Alam
20. Subbagian Tata Usaha
21. Sub Direktorat Penyiapan
Pemanfaatan Hutan Alam
22. Seksi Penyiapan Wilayah I
23. Seksi Penyiapan Wilayah II
24. Sekretariat Jenderal
25. Biro Hukum dan Organisasi
26. Bagian Penelaahan Hukum
27. Subbagian Penelaahan Hukum I 28. Bagian Peraturan Perundang-Undangan 29. Subbagian Peraturan Perundang-undangan I
30. Kepala Subbagian Tata
Usaha
31. Biro Umum
32. Bagian Tata Usaha
Kementerian
33. Subbagian Persuratan
34. Bagian Tata Usaha
Pimpinan
35. Subbagian Tata Usaha
Menteri
36. Subbagian Tata Usaha
SEKJEN
2. Penyederhanaan
izin usaha pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan desa
36 1. Direktorat BPDAS & PS
2. Sekretariat Ditjen BPDAS &
PS
3. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN BPDAS & PS
4. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN BPDAS & PS
5. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN BPDAS & PS
6. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN BPDAS & PS
7. Direktorat Bina Perhutanan
Sosial
8. Sub Direktorat Pemolaan
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
Perhutanan Sosial
9. Subbagian Tata Usaha
10. Sub Direktorat
Pengembangan Hutan Desa
11. Seksi Penyiapan
Pengembangan Hutan Desa
12. Seksi Bimbingan Teknis
Hutan Desa
13. Direktorat Bina Usaha
Kehutanan (BUK)
14. Sekretariat Ditjen BUK
15. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN BUK
16. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN BUK
17. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN BUK
18. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN BUK
19. Direktorat Bina Usaha
Hutan Alam
20. Subbagian Tata Usaha
21. Sub Direktorat Penyiapan
Pemanfaatan Hutan Alam
22. Seksi Penyiapan Wilayah I
23. Seksi Penyiapan Wilayah II
24. Sekretariat Jenderal
25. Biro Hukum dan Organisasi
26. Bagian Penelaahan Hukum
27. Subbagian Penelaahan Hukum I 28. Bagian Peraturan Perundang-Undangan 29. Subbagian Peraturan Perundang-undangan I
30. Kepala Subbagian Tata
Usaha
31. Biro Umum
32. Bagian Tata Usaha
Kementerian
33. Subbagian Persuratan
34. Bagian Tata Usaha
Pimpinan
35. Subbagian Tata Usaha
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
36. Subbagian Tata Usaha
SEKJEN 3. Penataan Izin Usaha Pemanfaatan Jasa dan Lingkungan Geotermal di KSA dan KPA
24 1. Direktorat Jenderal
Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA)
2. Sekretariat DITJEN PHKA
3. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN PHKA
4. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN PHKA
5. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN PHKA
6. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN PHKA
7. Direktrorat Pemanfaatan
Jasa Lingkungan Kawasan Konservasi dan Hutan Lindung
8. Sub Direktorat
Pemanfaatan Jasa Lingkungan
9. Subbagian Tata Usaha
10. Seksi Pemanfaatan Jasa
Lingkungan Taman Nasional
11. Seksi Pemanfaatan Jasa
Lingkungan Non Taman Nasional dan Hutan Lindung
12. Sekretariat Jenderal
13. Biro Hukum dan Organisasi
14. Bagian Penelaahan Hukum
15. Subbagian Penelaahan Hukum III 16. Bagian Peraturan Perundang-Undangan 17. Subbagian Peraturan Perundang-undangan III
18. Kepala Subbagian Tata
Usaha
19. Biro Umum
20. Bagian Tata Usaha
Kementerian
21. Subbagian Persuratan
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
22. Bagian Tata Usaha
Pimpinan
23. Subbagian Tata Usaha
Menteri
24. Subbagian Tata Usaha
SEKJEN 4. Percepatan Perizinan Pengambilan atau Penangkapan serta Peredaran Tumbuhan dan Satwa Liar 26 1. Direktorat Jenderal
Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA)
2. Sekretariat DITJEN PHKA
3. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN PHKA
4. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN PHKA
5. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN PHKA
6. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN PHKA
7. Direktorat Konservasi
Keanekaragaman Hayati
8. Sub Direktorat Pengawetan
dan Pemanfaatan Jenis
9. Seksi Pembinaan Populasi
dan Habitat
10. Subdirektorat Lembaga
Konservasi dan Perburuan
11. Seksi Perburuan
12. Sub Direktorat Tertib
Peredaran
13. Subbagian Tata Usaha
14. Seksi Peredaran Luar
Negeri
15. Seksi Peredaran Dalam
Negeri
16. Sekretariat Jenderal
17. Biro Hukum dan Organisasi
18. Bagian Penelaahan Hukum
19. Subbagian Penelaahan
Hukum III
20. Kepala Subbagian Tata
Usaha
21. Biro Umum
22. Bagian Tata Usaha
Kementerian
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
23. Subbagian Persuratan
24. Bagian Tata Usaha
Pimpinan
25. Subbagian Tata Usaha
Menteri
26. Subbagian Tata Usaha
SEKJEN 5. Penyusunan mekanisme tata cara perizinan perolehan TSL dilindungi dan atau termasuk Appendix I CITES yang bersumber dari Lembaga Konservasi 23 1. Direktorat Jenderal
Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA)
2. Sekretariat DITJEN PHKA
3. Bagian Keuangan dan
Umum, SETDITJEN PHKA
4. Subbagian Tata Usaha,
SETDITJEN PHKA
5. Bagian Hukum dan
Kerjasama Teknik, SETDITJEN PHKA
6. Subbagian Pertimbangan
dan Bantuan Hukum, SETDITJEN PHKA
7. Direktorat Konservasi
Keanekaragaman Hayati
8. Sub Direktorat Pengawetan
dan Pemanfaatan Jenis
9. Seksi Pembinaan Populasi
dan Habitat
10. Subdirektorat Lembaga
Konservasi dan Perburuan
11. Seksi Lembaga Konservasi
12. Subbagian Tata Usaha
13. Sekretariat Jenderal
14. Biro Hukum dan Organisasi
15. Bagian Penelaahan Hukum
16. Subbagian Penelaahan
Hukum III
17. Kepala Subbagian Tata
Usaha
18. Biro Umum
19. Bagian Tata Usaha
Kementerian
20. Subbagian Persuratan
21. Bagian Tata Usaha
Pimpinan
22. Subbagian Tata Usaha
Menteri
No.
Organisasi dan Personil yang Terkena Perubahan Jenis Perubahan Jumlah Unit
Organisasi
Jumlah
Nama Organisasi Personil
23. Subbagian Tata Usaha
SEKJEN 6. Penyempurnaan sistem penilaian kinerja pegawai 12 1. Sekretariat Jenderal 2. Biro Kepegawaian
3. Bagian Perencanaan dan
Pengembangan Kepegawaian
4. Subbagian Tata Usaha
5. Subbagian Rencana Karier
6. Subbagian Pengembangan
Kepegawaian
7. Bagian Mutasi
Kepegawaian
8. Subbagian Kepangkatan
9. Bagian Tata Usaha
Kepegawaian
10. Subbagian Disiplin dan
Kesejahteraan Pegawai
11. Bagian Administrasi
Jabatan Fungsional
12. Subbagian Administrasi
Penilaian Angka Kredit
23
Besaran resiko yang harus dikelola sangat besar mengingat berkaitan dengan alokasi perizinan yang akan dilaksanakan oleh pihak ketiga. Dampak ketidakberhasilan perubahan ini akan menimbulkan ketidakpastian hukum dan ketidakpastian usaha.
C.2. Kemampuan Memprediksi Solusi Perubahan
Kemampuan memprediksi solusi perubahan diukur dari 3 (tiga) parameter, yaitu besarnya konsistensi pemahaman terhadap perubahan, partisipasi pihak luar terhadap perubahan, dan tingkat resistensi terhadap perubahan.
Tabel 5. Kemampuan Memprediksi Solusi Perubahan
No. Pemangku Kepentingan
Kemampuan Memprediksi Solusi Konsistensi Pemahaman Partisipasi Pihak Luar Tingkat Resistensi (1) (2) (3) (4) (5) A. Pemangku Kepentingan Utama
No.
Kemampuan Memprediksi Solusi
Pemangku Kepentingan Konsistensi
Pemahaman
Tingkat Partisipasi
Resistensi Pihak Luar
2. Pengusaha industri hasil hutan Konsisten Ada Rendah
3. Pengusaha tambang Konsisten Ada Rendah
4. Pengusaha perkebunan Konsisten Ada Rendah
5. Pengada benih/bibit tanaman hutan Konsisten Ada Rendah
6. Pengusaha jasa wisata alam Konsisten Ada Rendah
7. Pengusaha flora fauna Konsisten Ada Rendah
8. Pemanfaat hutan kemasyarakatan Konsisten Ada Tinggi
9. Pengelola hutan desa Konsisten Ada Tinggi
10. Pelaku usaha hutan tanaman rakyat Konsisten Ada Tinggi
11. Masyarakat Perhutanan
Indonesia Konsisten Ada Rendah
12. Asosiasi Panel Kayu Indonesia Konsisten Ada Rendah
13. Asosiasi Pengusaha Hutan Indonesia Konsisten Ada Rendah
14.
Asosiasi Pengusaha Kayu Gergajian dan Kayu
Olahan Indonesia Konsisten
Ada Rendah
15. Asosiasi Industri Formalin dan
Thermosetting Adhesive Konsisten Ada
Rendah 16.
Asosiasi Industri Permebelan dan
Kerajinan Indonesia Konsisten Ada
Rendah
17. Asosiasi Pengawet Kayu Indonesia Konsisten Ada Rendah
18. Himpunan Konsultan Kehutanan Indonesia Konsisten Ada Rendah
19.
Himpunan Asosiasi Pengusaha Flora Fauna
Indonesia Konsisten Ada
Rendah
20. Asosiasi Indonesia Pulp and Kertas Konsisten Ada Rendah
B. Pemangku
Kepentingan Pendukung