Lihat Catatan atas Laporan Keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan. A S E T
ASET LANCAR
Kas dan bank 2d,2e,2o,5 2.522.232.952 1.311.568.530
Piutang usaha 2d,2f,2o,6
Pihak berelasi 2c,8 24.747.825.676
-Pihak ketiga 57.654.170.376 61.049.231.610
Piutang lain-lain – Pihak ketiga 2d,2f,7 70.917.308 2.339.734.264
Persediaan 2g,9 84.423.352.222 149.931.252.295
Uang muka pembelian 10 2.946.074.129 1.529.355.556
Biaya dibayar di muka 2h,11 365.576.225 1.999.042.241
Pajak dibayar di muka 15a - 687.144.697
Jumlah Aset Lancar 172.730.148.888 218.847.329.193
ASET TIDAK LANCAR Aset tetap – setelah dikurangi
akumulasi penyusutan sebesar
Rp 1.652.352.930.421 pada tahun 2011 dan dan Rp 1.579.863.941.143 pada tahun 2010 serta penyisihan penurunan nilai sebesar
Rp 122.909.442.501 2i,2j,12 1.903.116.648.314 1.975.605.637.592
Taksiran tagihan pajak penghasilan 15e 4.559.284.928 5.879.760.864
Bank yang dibatasi penggunaannya 2d,13 12.037.961.372 10.248.314.211
Uang jaminan 2d 1.120.000.000 1.120.000.000
Jumlah Aset Tidak Lancar 1.920.833.894.614 1.992.853.712.667
Lihat Catatan atas Laporan Keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan.
Hutang usaha 2d,14
Pihak ketiga 25.892.182.199 56.716.791.535
Pihak berelasi 2c,8 55.680.561 19.109.340
Hutang pajak 15b 2.772.412.771 134.573.198
Beban masih harus dibayar 2d,16 13.170.498.786 18.184.479.207
Bagian liabilitas jangka panjang yang jatuh
tempo dalam waktu satu tahun: 2d
Liabilitas jangka panjang 2k,17a - 107.892.000.000
Kewajiban bunga ditangguhkan 17b - 64.888.727.978
Hutang lain-lain 18 7.196.394.108 18.217.738.625
Jumlah Liabilitas Jangka Pendek 49.087.168.425 266.053.419.883
LIABILITAS JANGKA PANJANG
Liabilitas jangka panjang – setelah dikurangi bagian yang jatuh tempo dalam waktu
satu tahun: 2d
Liabilitas jangka panjang 2k,17a 297.775.941.195 1.912.234.217.793
Kewajiban bunga ditangguhkan 17b 65.172.964.388 249.068.068.275
Hutang lain-lain 18 - 444.016.145.759
Liabilitas pajak tangguhan - bersih 2m,15d 176.015.965.489 172.756.403.821
Liabilitas diestimasi atas imbalan kerja
karyawan 2l,19 10.931.168.450 11.792.465.212
Hutang kepada pihak berelasi 2c,2d,8 26.469.000.000 26.973.000.000
Jumlah Liabilitas Jangka Panjang 576.365.039.522 2.816.840.300.860
JUMLAH LIABILITAS 625.452.207.947 3.082.893.720.743
DEFISIENSI MODAL
Modal saham - nilai nominal Seri A Rp 1.000 per saham dan Seri B Rp 395 per saham
Modal dasar - 4.753.140.000 saham Seri A dan 3.156.607.595 saham Seri B Modal ditempatkan dan disetor penuh
-2.352.966.466 saham Seri A dan
3.156.607.595 saham Seri B 20 3.599.826.466.025 1.540.860.000.025
Porsi ekuitas pinjaman konversi 2k,4,17a 2.820.839.831 2.820.839.831
Defisit (2.134.535.470.301) (2.414.873.518.739)
Jumlah DEFISIENSI MODAL 1.468.111.835.555 (871.192.678.883)
JUMLAH LIABILITAS SETELAH
Lihat Catatan atas Laporan Keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan.
30 September 2011 30 September 2010 Catatan (Sembilan Bulan) (Sembilan Bulan)
PENJUALAN BERSIH 2c,2n,8,21 252.383.156.234 298.772.700.194
BEBAN POKOK PENJUALAN 2c,2n,8,22 256.049.041.461 293.195.911.135
LABA (RUGI) KOTOR (3.665.885.227) 5.576.789.059
BEBAN USAHA 2n,23
Penjualan dan distribusi 3.579.687.314 5.568.903.803
Umum dan administrasi 61.972.066.013 37.138.164.628
Jumlah Beban Usaha 65.551.753.327 42.707.068.431
RUGI USAHA (69.217.638.554) (37.130.279.372)
PENGHASILAN (BEBAN) LAIN-LAIN 2n
Laba selisih kurs – bersih 2o 129.894.396.107 152.300.492.170
Beban keuangan 2d,2k,24 (12.298.247.853)
-Laba penjualan aset tetap 12 - 50.000.000
Penghasilan bunga 200.931.945 11.307.131
Beban bunga (12.047.611 ) (53.797.576)
Beban pajak – bersih (20.672.685 ) (750.888.128)
Rugi klaim asuransi 9 - (337.172.576)
Untung penghapusan bunga ditangguhkan 235.043.202.245
-Lain-lain – bersih 7.686.513 287.911.775
Jumlah Penghasilan Lain-lain - Bersih 352.815.248.661 151.507.852.796
LABA SEBELUM BEBAN PAJAK
PENGHASILAN TANGGUHAN 283.597.610.107 114.377.573.424
BEBAN PAJAK PENGHASILAN
TANGGUHAN 2m,15d 3.259.561.669 46.195.357.771
LABA BERSIH - PERIODE BERJALAN 280.338.048.438 68.182.215.653
PENGHASILAN (BEBAN) KOMPREHENSIF LAINNYA -
-JUMLAH PENGHASILAN KOMPREHENSIF
- PERIODE BERJALAN 280.338.048.438 68.182.215.653
Lihat Catatan atas Laporan Keuangan yang merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan.
4 Tahun 2010
Saldo 1 Januari 2010 1.540.860.000.025 - (2.351.800.549.009) (810.940.548.984)
Penyesuaian sehubungan dengan:
Dampak atas penerapan awal PSAK No. 50 dan 55
(Revisi 2006) (lihat Catatan 2d dan 4) - - 17.191.269.050 17.191.269.050
Pengakuan porsi ekuitas dari pinjaman konversi
(lihat Catatan 2k dan 4) - 2.820.839.831 - 2.820.839.831
Saldo 1 Januari 2010 – Setelah Penyesuaian 1.540.860.000.025 2.820.839.831 (2.334.609.279.959) (790.928.440.103)
Penghasilan komprehensif – periode berjalan
(sembilan bulan) - - 68.182.215.653 68.182.215.653
Saldo 30 September 2010 1.540.860.000.025 2.820.839.831 (2.266.427.064.306) (722.746.224.450)
Tahun 2011
Saldo 1 Januari 2011 1.540.860.000.025 2.820.839.831 (2.414.873.518.739) (871.192.678.883)
Modal ditempatkan & disetor dari restrukturisasi hutang II 2.058.966.466.000 - - 2.058.966.466.000
Penghasilan komprehensif - periode berjalan
(sembilan bulan) - - 280.338.048.438 280.338.048.438
Catatan (Sembilan Bulan) (Sembilan Bulan)
ARUS KAS DARI AKTIVITAS OPERASI
Penerimaan kas dari pelanggan 6,21 194.064.558.962 311.625.016.716
Pembayaran kas kepada pemasok, pegawai 2o,9,10
dan untuk beban operasi lainnya 14,15b,22,23 (198.085.934.367 ) (302.587.386.449) Pembayaran: Pajak 15 (905.305.620 ) (3.321.566.269) Bunga (12.047.611 ) (53.797.576) Penerimaan: Pajak 15 2.205.108.870 6.365.859.328 Penghasilan bunga 200.931.945 11.307.131
Klaim asuransi dan lain-lain 7,23 1.045.762.754 2.307.097.725
Kas Bersih Diperoleh Dari (Untuk) Aktivitas Operasi (1.486.925.067 ) 14.346.530.606
ARUS KAS DARI AKTIVITAS INVESTASI
Hasil penjualan aset tetap 12 - 50.000.000
Perolehan aset tetap 12 - (977.105.625)
Kas Bersih Digunakan Untuk Aktivitas Investasi - (927.105.625)
ARUS KAS UNTUK AKTIVITAS PENDANAAN
Penerimaan (Pembayaran) hutang jangka pendek 18,2o 4.593.121.865 (15.674.584.391) Pembayaran untuk bank yang dibatasi
penggunaannya 13,2o (1.895.532.376 )
-Kas Bersih Diperoleh Dari (Untuk) Aktivitas Pendanaan 2.697.589.489 (15.674.584.391)
KENAIKAN (PENURUNAN) BERSIH KAS DAN BANK 1.210.664.422 (2.255.159.410)
KAS DAN BANK AWAL PERIODE 1.311.568.530 2.793.242.440
KAS DAN BANK AKHIR PERIODE 2.522.232.952 538.083.030
Informasi tambahan arus kas
Aktivitas yang tidak mempengaruhi arus kas:
Konversi Liabilitas Jangka Panjang menjadi Modal Disetor 1.630.567.000.000
-Konversi Hutang Lain-Lain menjadi Modal Disetor 428.399.466.000
-Penghapusan sebagian Kewajiban Bunga Ditangguhkan 235.043.202.245
-Selisih kurs yang belum terealisasi 7.460.494.088
-Reklasifikasi piutang lain-lain ke persediaan 1.500.000.000
-Beban keuangan karena dampak penerapan
PSAK No.50 & 55 (revisi 2006) (12.298.247.853 )
-Reklasifikasi uang muka peralatan ke aset tetap - 3.751.877.552
a. Pendirian Perusahaan
PT Surabaya Agung Industri Pulp & Kertas Tbk (Perusahaan) didirikan pada tanggal 31 Agustus 1973 dalam lingkup Undang-undang Penanaman Modal Dalam Negeri No. 6 Tahun 1968 serta berdasarkan Akta Notaris Harsono Sutedjo, S.H., No. 35 yang kemudian diubah dengan Akta No. 1 tanggal 6 Januari 1975 dari Notaris yang sama. Akta Pendirian tersebut telah disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. YA-5/26/21 tanggal 27 Januari 1975, dan diumumkan dalam Berita Negara No. 45, Tambahan No. 420 tanggal 4 Juni 1976. Anggaran Dasar Perusahaan selanjutnya telah mengalami beberapa kali perubahan, terakhir dengan Akta Notaris Wachid Hasyim, S.H., No. 96 tanggal 27 Juni 2008 untuk menyesuaikan Anggaran Dasar Perusahaan dengan Undang-Undang No. 40 Tahun 2007 tentang Perseroan Terbatas. Perubahan tersebut telah mendapat persetujuan dari Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. AHU-59231.AH.01.02. Tahun 2008 tanggal 5 September 2008.
Perusahaan memulai aktivitas operasinya secara komersial pada tahun 1976 setelah memperoleh izin usaha industri dari Badan Koordinasi Penanaman Modal sebagaimana dinyatakan di dalam Surat Persetujuan tanggal 8 November 1973 yang kemudian diperbaharui dengan Surat Keputusan tanggal 16 Agustus 1995.
Sesuai dengan Pasal 3 dari Anggaran Dasar, ruang lingkup kegiatan Perusahaan adalah dalam bidang industri kertas serta industri yang terkait dengan bidang tersebut. Perusahaan berkedudukan di Jalan Kedungdoro No. 60, Surabaya, dengan lokasi pabrik di Driyorejo, Gresik, Jawa Timur.
b. Penawaran Umum Saham Perusahaan
Pada tanggal 23 Maret 1993, Perusahaan telah melakukan penawaran umum perdana saham Perusahaan kepada masyarakat sejumlah 20.000.000 saham melalui bursa efek di Indonesia dengan nilai nominal Rp 1.000 per saham dan pada harga penawaran Rp 3.500 per saham.
Pada tahun 1994, Perusahaan membagikan saham bonus yang berasal dari agio saham sebesar Rp 50 miliar dan saldo laba sebesar Rp 6 miliar. Jumlah saham baru yang diterbitkan tersebut adalah sejumlah 56.000.000 saham.
Pada tahun 1996, Perusahaan melaksanakan Penawaran Umum Terbatas I sejumlah 126.000.000 saham dengan nilai nominal Rp 1.000 per saham, di mana setiap pemegang saham yang memiliki 4 (empat) saham lama berhak untuk membeli 3 (tiga) saham baru dengan harga penawaran Rp 3.000 per saham dan akan mendapatkan 1 (satu) waran yang diberikan secara cuma-cuma atau keseluruhan berjumlah 42.000.000 waran. Setiap 1 (satu) waran dapat dikonversi menjadi 1 (satu) saham baru dengan nilai nominal Rp 1.000 per saham. Konversi waran Perusahaan menjadi saham dapat dilakukan sejak tanggal 16 September 1996 dan akan berakhir pada tanggal 14 Maret 2001. Sampai dengan tanggal 14 Maret 2001, tidak ada waran yang dikonversikan menjadi saham.
Pada tanggal 31 Desember 2000, Perusahaan telah mencatatkan seluruh sahamnya pada Bursa Efek Indonesia (dahulu meliputi Bursa Efek Jakarta dan Bursa Efek Surabaya).
Efektif 1 Mei 2001, Perusahaan telah secara sukarela mengundurkan diri dari pencatatan di Bursa Efek Surabaya (voluntary delisting).
1. INFORMASI UMUM (lanjutan)
c. Dewan Komisaris dan Direksi, Komite Audit, Corporate Secretarydan Karyawan
Susunan Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan pada tanggal laporan posisi keuangan adalah sebagai berikut:
Dewan Komisaris
Presiden Komisaris : Zhang Hui Han Sindu
Komisaris : Cruz Herminigildo Jr Javier
Komisaris Independen : Bing Hartono Poernomosidi
Direksi
Presiden Direktur : YM. Kenny Wailanduw
Direktur : Any Indrawati
Imanuel Robert Najoan Antok Handoko Andre Pramono Effendy Wijaya
Jumlah keseluruhan gaji dan tunjangan yang diberikan kepada Dewan Komisaris dan Direksi Perusahaan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal-tanggal 30 September 2011 dan 2010 masing-masing adalah sebesar Rp 2.317.500.000 dan Rp 2.220.000.000.
Susunan Komite Audit pada tanggal laporan posisi keuangan terdiri dari:
Ketua : Bing Hartono Purnomosidi
Anggota : Johan Tedjo Sujanto
: Lawrence Januar
Corporate Secretary Perusahaan pada tanggal laporan posisi keuangan dijabat oleh Antok Handoko.
Pada tanggal laporan posisi keuangan, Perusahaan memiliki masing-masing 1.139 orang karyawan tetap (tidak diaudit).
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI a. Dasar Penyusunan Laporan Keuangan
Laporan keuangan disusun berdasarkan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia yang meliputi antara lain Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) dan Interpretasi Standar Akuntansi Keuangan (ISAK) yang diterbitkan oleh Dewan Standar Akuntansi Keuangan (DSAK) serta peraturan terkait yang diterbitkan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (BAPEPAM & LK) sepanjang tidak bertentangan dengan PSAK ataupun ISAK.
Laporan keuangan, kecuali untuk laporan arus kas, disusun atas dasar akrual. Dasar pengukuran yang digunakan di dalam laporan keuangan adalah biaya historis (historical cost basis), kecuali untuk beberapa akun tertentu yang diukur berdasarkan pengukuran lainnya sebagaimana diuraikan dalam kebijakan akuntansi masing-masing akun tersebut.
Laporan arus kas disusun dengan menggunakan metode langsung (direct method) dengan mengelompokkan arus kas ke dalam aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.
b. Penerapan atas Revisi dan Penerbitan Standar Akuntansi Keuangan Baru
Kebijakan akuntansi periode berjalan diterapkan secara konsisten dengan periode sebelumnya, kecuali untuk beberapa hal yang terkait dengan revisi dan terbitan baru dari PSAK dan ISAK yang telah disahkan oleh DSAK dan berlaku efektif untuk periode tahun buku yang dimulai pada atau setelah tanggal 1 Januari 2011. Beberapa dari PSAK dan ISAK tersebut, yang teridentifikasi terkait erat dengan pelaporan posisi dan kinerja keuangan Perusahaan, adalah:
i. PSAK No. 1 (Revisi 2009) tentang “Penyajian Laporan Keuangan” yang memperkenalkan konsep penghasilan komprehensif dan laporan laba rugi komprehensif. Berdasarkan PSAK ini, Perusahaan memiliki opsi untuk menyajikan laporan laba rugi komprehensif dan komponennya dalam satu atau dua laporan hasil usaha di mana Perusahaan telah memilih untuk menyajikan laporan laba rugi komprehensif dalam satu laporan.
ii. PSAK No. 2 (Revisi 2009) tentang “Laporan Arus Kas” yang memberikan tambahan panduan untuk mengklasifikasikan transaksi tertentu ke dalam bagian arus kas dari aktivitas operasi, investasi dan pendanaan.
iii. PSAK No. 3 (Revisi 2010) tentang “Laporan Keuangan Interim” yang mewajibkan perusahaan untuk menyajikan laporan posisi keuangan komparatif per akhir tahun buku terakhir. Sebelumnya, laporan posisi keuangan komparatif yang disajikan adalah laporan posisi keuangan periode interim yang sama.
iv. PSAK No. 5 (Revisi 2009) tentang “Segmen Operasi” yang mewajibkan adanya transparansi yang lebih besar dalam penyajian informasi segmen dengan lebih menekankan pada informasi segmen yang digunakan oleh manajemen (yaitu informasi yang dilaporkan kepada pengambil keputusan operasional). Dalam PSAK sebelumnya entitas harus menentukan segmen primer dan sekunder (baik segmen usaha maupun geografis) berdasarkan karakteristik dan sumber utama risiko dan imbalan Perusahaan.
v. PSAK No. 7 (Revisi 2010) tentang “Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi” yang memberikan definisi yang lebih luas mengenai pihak yang berelasi dan pengungkapan yang diwajibkan dalam transaksi antar pihak yang berelasi.
vi. PSAK No. 8 (Revisi 2010) tentang “Peristiwa Setelah Akhir Periode Pelaporan” yang memberikan panduan kapan Perusahaan menyesuaikan laporan keuangan untuk peristiwa setelah periode pelaporan dan pengungkapan yang dibuat terkait dengan peristiwa tersebut.
vii. PSAK No. 19 (Revisi 2010) tentang “Aset Tak-berwujud” yang mewajibkan Perusahaan untuk mengestimasi apakah umur manfaat suatu aset tak-berwujud terbatas atau tidak terbatas. Jika terbatas, Perusahaan harus mengestimasi jangka waktu umur jumlah produksi atau unit serupa yang dihasilkan selama umur manfaat. Aset tak-berwujud dengan umur manfaat terbatas diamortisasi sedangkan aset tak-berwujud dengan umur manfaat tidak terbatas tidak diamortisasi, namun diwajibkan untuk diestimasi apakah terdapat indikasi penurunan nilai setiap periodenya. Sebelumnya, aset tak-berwujud tidak boleh melebihi 20 tahun.
viii. PSAK No. 23 (Revisi 2010) tentang “Pendapatan” yang mengatur secara lebih luas perlakuan akuntansi atas pendapatan yang timbul dari transaksi dan kejadian tertentu.
ix. PSAK No. 25 (Revisi 2009) tentang “Kebijakan Akuntansi, Perubahan Estimasi Akuntansi, dan Kesalahan” yang menentukan kriteria dalam pemilihan dan perubahan kebijakan akuntansi, berikut dengan perlakuan akuntansi dan pengungkapan atas perubahan kebijakan akuntansi, perubahan estimasi akuntansi dan koreksi kesalahan. PSAK ini dimaksudkan untuk meningkatkan relevansi, keandalan, dan daya banding laporan keuangan.
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)
b. Penerapan atas Revisi dan Penerbitan Standar Akuntansi Keuangan Baru (lanjutan)
x. PSAK No. 48 (Revisi 2009) tentang “Penurunan Nilai Aset” yang memberikan tambahan panduan untuk mengidentifikasi unit penghasil kas, penentuan nilai pakai, penentuan kerugian penurunan nilai dari aset yang telah direvaluasi, perhitungan goodwill dan alokasi biaya penurunan nilai. Di samping itu, berdasarkan standar revisi ini, tidak dimungkinkan adanya pembalikan penurunan nilai goodwill.
xi. PSAK No. 57 (Revisi 2009) tentang “Provisi, Liabilitas Kontinjensi, dan Aset Kontinjensi” yang menghilangkan panduan terkait dengan provisi dan kontinjensi untuk instrumen keuangan yang diukur pada nilai wajar.
xii. PSAK No. 58 (Revisi 2009) tentang “Aset Tidak Lancar yang Dimiliki untuk Dijual dan Operasi yang Dihentikan” yang mengatur tentang akuntansi untuk aset yang dimiliki untuk dijual serta penyajian dan pengungkapan operasi yang dihentikan.
xiii. ISAK No. 9 tentang “Perubahan atas Liabilitas Purna Operasi, Liabilitas Restorasi, dan Liabilitas Serupa” yang diterapkan atas setiap perubahan pengukuran terhadap liabilitas purna operasi, liabilitas restorasi dan liabilitas serupa yang merupakan hasil perubahan waktu estimasi atau jumlah arus keluar sumber daya yang mengandung manfaat ekonomi yang disyaratkan untuk menyelesaikan kewajiban atau perubahan tingkat diskonto.
xiv. ISAK No. 10 tentang “Program Loyalitas Pelanggan” yang memberikan interpretasi terhadap perlakuan akuntansi ketika entitas memberikan poin penghargaan kepada pelanggan.
Penerapan PSAK dan ISAK di atas tidak memiliki dampak yang signifikan terhadap penyajian laporan keuangan Perusahaan.
c. Transaksi dengan Pihak-pihak yang Berelasi
Perusahaan melakukan transaksi dengan pihak-pihak tertentu, baik orang ataupun entitas, yang merupakan pihak berelasi sebagaimana didefinisikan di dalam PSAK No. 7 (Revisi 2010) tentang “Pengungkapan Pihak-pihak Berelasi”. Berdasarkan PSAK tersebut,
(1) Orang atau anggota keluarga terdekatnya dikatakan mempunyai relasi dengan Perusahaan jika orang tersebut:
(i) memiliki pengendalian ataupun pengendalian bersama terhadap Perusahaan; (ii) memiliki pengaruh signifikan terhadap Perusahaan; atau
(iii) merupakan personil manajemen kunci dari Perusahaan ataupun induk Perusahaan.
(2) Suatu entitas memiliki relasi dengan Perusahaan jika memenuhi salah satu dari hal berikut ini: (i) entitas tersebut dan Perusahaan adalah anggota dari kelompok usaha yang sama; (ii) merupakan entitas asosiasi atau ventura bersama dari Perusahaan (atau entitas asosiasi
atau ventura bersama tersebut merupakan anggota suatu kelompok usaha di mana Perusahaan adalah anggota dari kelompok usaha tersebut);
(iii) entitas tersebut dan Perusahaan adalah ventura bersama dari pihak ketiga yang sama; (iv) satu entitas merupakan ventura bersama dari Perusahaan dan entitas lain merupakan
entitas asosiasi dari Perusahaan;
(v) entitas merupakan suatu program imbalan pasca kerja untuk imbalan kerja dari Perusahaan atau entitas yang terkait dengan Perusahaan, jika Perusahaan adalah penyelenggara program tersebut, maka entitas sponsor juga berelasi dengan Perusahaan;
c. Transaksi dengan Pihak-pihak yang Berelasi (lanjutan)
(vi) entitas dikendalikan atau dikendalikan bersama oleh orang yang diidentifikasi dalam angka (1) di atas;
(vii) orang yang diidentifikasi dalam angka (1)(i) memiliki pengaruh signifikan terhadap entitas atau personil manajemen kunci dari entitas tersebut (atau entitas induk dari entitas).
Seluruh transaksi yang signifikan dengan pihak-pihak berelasi telah diungkapkan di dalam Catatan atas Laporan Keuangan.
d. Instrumen Keuangan
Efektif 1 Januari 2010, Perusahaan telah menerapkan secara prospektif PSAK No. 50 (Revisi 2006) tentang ”Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan” dan PSAK No. 55 (Revisi 2006) tentang “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran“. Dampak penyesuaian signifikan yang timbul dari penerapan pertama kali PSAK tersebut dibebankan pada saldo laba (defisit) 1 Januari 2010 dan akun porsi ekuitas pinjaman konversi (lihat Catatan 2k dan 4). Pada tanggal yang sama, sesuai dengan Pernyataan Pencabutan Standar Akuntansi Keuangan (PPSAK) No. 3, Perusahaan tidak lagi menerapkan PSAK No. 54 tentang ”Akuntansi Restrukturisasi Utang Piutang Bermasalah”.
Aset Keuangan
Sesuai dengan PSAK No. 50 dan 55 (Revisi 2006), aset keuangan diakui apabila Perusahaan memiliki hak kontraktual untuk menerima kas atau aset keuangan lainnya dari entitas lain.
Pada saat pengakuan awal, dalam hal aset keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (fair value through profit and loss) (FVTPL), aset keuangan diukur pada nilai wajar ditambah biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung. Biaya transaksi antara lain meliputi fee dan komisi yang dibayarkan kepada para agen, konsultan, pungutan wajib dari pihak regulator/bursa efek serta pajak dan bea yang dikenakan.
Setelah pengakuan awal, aset keuangan dapat dikelompokan ke dalam 4 kategori berikut:
(i). Aset keuangan yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (FVTPL) di mana aset tersebut diklasifikasikan sebagai kelompok diperdagangkan atau pada saat pengakuan awal ditetapkan oleh manajemen (apabila memenuhi kriteria-kriteria tertentu) untuk diukur pada kelompok ini.
Aset keuangan dalam kelompok ini diukur pada nilai wajarnya dan seluruh keuntungan atau kerugian yang timbul dari perubahan nilai wajar tersebut, termasuk bunga dan dividen, diakui pada laporan laba rugi komprehensif.
(ii). Pinjaman yang diberikan dan piutang (loan and receivable)di mana merupakan aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan tidak memiliki kuotasi di pasar aktif. Kelompok aset keuangan ini diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif dikurangi penurunan nilai. Keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi komprehensif ketika aset keuangan ini dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai, dan melalui proses amortisasi.
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) d. Instrumen Keuangan (lanjutan)
Aset Keuangan (lanjutan)
(iii). Aset keuangan yang dimiliki hingga jatuh tempo (held to maturity)yaitu aset keuangan non-derivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan serta Perusahaan mempunyai intensi positif dan kemampuan untuk memiliki aset keuangan tersebut hingga jatuh tempo. Kelompok aset ini diukur pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif dikurangi penurunan nilai. Keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi komprehensif ketika aset keuangan ini dihentikan pengakuannya atau mengalami penurunan nilai, dan melalui proses amortisasi.
(iv). Aset keuangan yang tersedia untuk dijual (available for sale) adalah aset keuangan non-derivatif yang tidak dikelompokan ke dalam tiga kategori di atas. Keuntungan atau kerugian dari perubahan nilai wajar aset keuangan ini diakui secara langsung dalam ekuitas (kecuali untuk kerugian akibat penurunan nilai dan keuntungan atau kerugian akibat perubahan nilai tukar) sampai aset keuangan tersebut dihentikan pengakuannya. Pada saat penghentian pengakuan, keuntungan atau kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui dalam ekuitas harus direklasifikasi dan diakui pada laporan laba rugi komprehensif.
Seluruh pembelian atau penjualan aset keuangan secara reguler diakui dengan menggunakan akuntansi tanggal perdagangan yaitu tanggal di mana Perusahaan berketetapan untuk membeli atau menjual suatu aset keuangan.
Pengakuan aset keuangan dihentikan, jika dan hanya jika, hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut telah berakhir atau Perusahaan telah, secara substansial, mengalihkan aset keuangan tersebut berikut dengan seluruh risiko dan manfaat yang terkait kepada entitas lain.
Liabilitas Keuangan
Perusahaan mengakui liabilitas keuangan pada saat timbulnya liabilitas kontraktual untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lainnya kepada entitas lain. Pada saat pengakuan awal, dalam hal liabilitas keuangan tidak diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (FVTPL), liabilitas keuangan diukur pada nilai wajar dikurangi biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung.
Setelah pengakuan awal, Perusahaan mengukur seluruh akun liabilitas keuangan pada biaya perolehan diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. Keuntungan atau kerugian diakui pada laporan laba rugi komprehensif ketika liabilitas keuangan dihentikan pengakuannya dan melalui proses amortisasi.
Perusahaan menghentikan pengakuan liabilitas keuangan, jika dan hanya jika, liabilitas kontraktual telah dilepaskan atau dibatalkan atau kadaluwarsa.
Instrumen Ekuitas
Instrumen ekuitas adalah setiap kontrak yang memberikan hak residual atas aset suatu entitas setelah dikurangi dengan seluruh liabilitasnya.
Instrumen keuangan merupakan instrumen ekuitas, jika dan hanya jika, tidak terdapat liabilitas kontraktual untuk menyerahkan kas atau aset keuangan lainnya kepada entitas lain.
Biaya transaksi yang timbul dari transaksi ekuitas, sepanjang dapat diatribusikan secara langsung dengan transaksi ekuitas tersebut, dicatat sebagai pengurang ekuitas (setelah dikurangi dengan manfaat pajak penghasilan yang terkait).
d. Instrumen Keuangan (lanjutan)
Saling Hapus Antar Aset dan Liabilitas Keuangan
Aset dan liabilitas keuangan dapat saling hapus dan nilai bersihnya disajikan dalam laporan posisi keuangan, jika dan hanya jika, 1) Perusahaan saat ini memiliki hak yang berkekuatan hukum untuk melakukan saling hapus atas jumlah yang telah diakui tersebut dan 2) berniat untuk menyelesaikan secara neto atau untuk merealisasikan aset dan menyelesaikan liabilitasnya secara simultan.
Estimasi Nilai Wajar
Nilai wajar untuk instrumen keuangan yang diperdagangkan di pasar aktif ditentukan berdasarkan harga kuotasi di pasar aktif yang berlaku pada tanggal laporan posisi keuangan.
Apabila pasar untuk suatu instrumen keuangan tidak aktif, Perusahaan dapat menetapkan nilai wajar dengan menggunakan teknik penilaian yang meliputi penggunaan transaksi pasar wajar terkini antar pihak-pihak yang mengerti, referensi atas nilai wajar terkini dari instrumen yang secara substansial sama, analisis arus kas yang didiskonto dan model penetapan harga opsi.
e. Kas dan Setara Kas
Kas dan setara kas terdiri dari kas, bank dan deposito berjangka yang akan jatuh tempo dalam waktu 3 (tiga) bulan atau kurang sejak tanggal penempatannya serta tidak dijadikan sebagai jaminan atas liabilitas dan pinjaman lainnya serta tidak dibatasi penggunaannya.
f. Penurunan Nilai dan Tidak Tertagihnya Aset Keuangan
Sesuai dengan PSAK No. 55 (Revisi 2006) (lihat Catatan 2d), seluruh aset keuangan, kecuali yang diukur pada nilai wajar melalui laporan laba rugi (FVTPL), dievaluasi terhadap kemungkinan penurunan nilai. Dalam kaitannya dengan itu, pada setiap tanggal laporan posisi keuangan manajemen mengevaluasi apakah terdapat bukti yang objektif bahwa aset keuangan atau kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai. Penurunan nilai dan kerugian penurunan nilai diakui, jika dan hanya jika, terdapat bukti yang objektif mengenai penurunan nilai di mana:
i. Untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan yang diamortisasi, kerugian diukur sebagai selisih antara nilai tercatat aset dengan nilai kini estimasi arus kas masa depan yang didiskonto menggunakan suku bunga efektif awal dari aset tersebut. Nilai tercatat aset keuangan tersebut disajikan setelah dikurangi penurunan nilai baik secara langsung maupun menggunakan pos penyisihan. Kerugian yang terjadi diakui pada laporan laba rugi komprehensif.
Manajemen pertama kali akan menentukan bukti objektif penurunan nilai individual atas aset keuangan yang signifikan secara individual. Jika tidak terdapat bukti objektif mengenai penurunan nilai aset keuangan individual, maka aset tersebut dimasukkan ke dalam kelompok aset keuangan dengan risiko kredit yang serupa dan menentukan penurunan nilai secara kolektif.
ii. Untuk aset keuangan yang dicatat pada biaya perolehan (termasuk investasi dalam instrumen ekuitas yang tidak memiliki kuotasi harga di pasar aktif dan nilai wajarnya tidak dapat diukur secara handal), kerugian penurunan nilai diukur berdasarkan selisih antara nilai tercatat aset keuangan dengan nilai kini dari estimasi arus kas masa depan yang didiskontokan dengan tingkat pengembalian yang berlaku di pasar untuk aset keuangan serupa. Kerugian penurunan tersebut tidak dapat dipulihkan.
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan)
f. Penurunan Nilai dan Tidak Tertagihnya Aset Keuangan (lanjutan)
iii. Untuk aset keuangan yang tersedia untuk dijual, kerugian kumulatif yang sebelumnya diakui secara langsung dalam ekuitas harus dikeluarkan dari ekuitas dan diakui pada laporan laba rugi meskipun aset keuangan tersebut belum dihentikan pengakuannya. Jumlah kerugian kumulatif tersebut adalah selisih antara biaya perolehan (setelah dikurangi pelunasan pokok dan amortisasi) dengan nilai wajar kini, dikurangi kerugian penurunan nilai aset keuangan yang sebelumnya telah diakui pada laporan keuangan laba rugi komprehensif.
g. Persediaan
Sesuai dengan PSAK No. 14 (Revisi 2008) tentang ”Persediaan“, persediaan diukur berdasarkan biaya perolehan atau nilai realisasi neto (the lower of cost or net realizable value). Biaya persediaan, yang meliputi seluruh pengeluaran yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini, dihitung dengan menggunakan metode rata-rata tertimbang ( weighted-average method).
Penyisihan atas keusangan dan penurunan nilai persediaan ditetapkan berdasarkan hasil penelaahan terhadap keadaan masing-masing persediaan pada akhir periode untuk mengurangi nilai tercatat persediaan menjadi nilai realisasi neto.
Nilai realisasi neto adalah estimasi harga jual dalam kegiatan usaha normal dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan biaya yang diperlukan untuk melaksanakan penjualan.
h. Biaya Dibayar di Muka
Biaya dibayar di muka diamortisasi selama masa manfaat masing-masing biaya dengan menggunakan metode garis lurus.
i. Aset Tetap
Perusahaan menerapkan PSAK No. 16 (Revisi 2007) tentang “Aset Tetap” dan menggunakan model biaya sebagai kebijakan akuntansi untuk pengukuran aset tetapnya.
Aset tetap, kecuali hak atas tanah yang tidak disusutkan, dinyatakan sebesar biaya perolehan setelah dikurangi akumulasi penyusutan dan penyisihan penurunan nilai (lihat Catatan 2j). Biaya perolehan termasuk biaya penggantian bagian aset tetap saat biaya tersebut terjadi, jika memenuhi kriteria pengakuan. Biaya perolehan aset setara dengan nilai tunainya dan jika pembayaran untuk perolehan tersebut ditangguhkan melampaui jangka waktu kredit normal maka perbedaan antara nilai tunai dengan jumlah pembayarannya diakui sebagai beban bunga selama periode kredit.
Penyusutan dimulai sejak aset tersebut siap untuk digunakan dengan menggunakan metode garis lurus (straight-line method) berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis aset tetap yang bersangkutan dengan rincian sebagai berikut:
Tahun
Bangunan dan prasarana 20
Mesin dan peralatan 20 - 30
Peralatan dan perabot kantor 5
Alat pengangkutan 5
Nilai residu, masa manfaat dan metode penyusutan aset tetap ditelaah pada setiap akhir periode laporan keuangan dan dilakukan penyesuaian secara prospektif, jika perlu
i. Aset Tetap (lanjutan)
Sesuai dengan PSAK No. 47 tentang “Akuntansi Tanah”, hak atas tanah dinyatakan sebesar biaya perolehan dan tidak diamortisasi. Biaya-biaya tertentu yang berhubungan dengan perolehan atau perpanjangan hak atas tanah, ditangguhkan dan diamortisasi sepanjang periode hak atas tanah atau taksiran masa manfaat ekonomis tanah, mana yang lebih pendek.
Aset dalam penyelesaian meliputi akumulasi biaya pembelian aset tetap dan biaya-biaya lainnya yang terkait. Akumulasi biaya tersebut akan dipindahkan ke akun masing-masing aset tetap yang bersangkutan pada saat aset tersebut secara substansial selesai dikerjakan dan siap untuk digunakan.
Seluruh biaya pemeliharaan dan perbaikan yang tidak memenuhi kriteria pengakuan diakui dalam laporan laba rugi komprehensif pada saat terjadinya. Aset tetap dihentikan pengakuannya pada saat pelepasan atau tidak ada manfaat ekonomis di masa datang yang diharapkan dari penggunaan atau pelepasannya. Laba atau rugi yang muncul dari penghentian pengakuan aset tetap (diperhitungkan sebagai selisih antara nilai tercatat aset dan hasil penjualan bersih) dimasukkan pada laporan laba rugi komprehensif periode berjalan.
j. Penurunan Nilai Aset Non-Keuangan
PSAK No. 48 (Revisi 2009) tentang “Penurunan Nilai Aset” mensyaratkan manajemen Perusahaan untuk menilai apakah terdapat indikasi aset non-keuangan mengalami penurunan nilai. Jika terdapat indikasi tersebut, maka Perusahaan harus mengestimasikan jumlah terpulihkan (estimated recoverable amount) atas aset non-keuangan tersebut.
Bila jumlah tercatat suatu aset non-keuangan (atau unit penghasil kas) melebihi estimasi jumlah yang terpulihkan maka jumlah tersebut diturunkan ke jumlah yang terpulihkan tersebut, yang ditentukan sebagai nilai tertinggi antara nilai wajar aset (atau unit penghasil kas) dikurangi biaya untuk menjual atau nilai pakai. Penurunan tersebut diakui sebagai rugi penurunan nilai dan diakui dalam laporan laba rugi komprehensif.
k. Pinjaman Konversi
Sesuai dengan PSAK No. 50 (Revisi 2006) (lihat Catatan 2d), pinjaman konversi yang diterbitkan oleh Perusahaan merupakan instrumen keuangan majemuk (compound financial instrument) di mana instrumen tersebut mengandung komponen liabilitas dan ekuitas yang harus diklasifikasikan secara terpisah. Komponen liabilitas menimbulkan liabilitas keuangan bagi Perusahaan dan komponen ekuitas memberikan hak selama jangka waktu tertentu kepada pemegang instrumen, dalam bentuk opsi, untuk mengkonversi instrumen keuangan tersebut menjadi saham Perusahaan dengan jumlah yang telah ditetapkan.
Pada saat penerbitan, Perusahaan akan terlebih dahulu menentukan nilai tercatat komponen liabilitas dengan mengukur nilai wajar liabilitas serupa yang tidak memiliki komponen ekuitas. Nilai wajar tersebut adalah nilai kini dari serangkaian arus kas di masa datang yang telah ditetapkan di dalam kontrak yang didiskonto pada suku bunga pasar pada saat itu atas instrumen-instrumen yang memiliki status kredit setara, menghasilkan arus kas yang secara substansial sama dan persyaratan yang sama, namun tidak memiliki opsi konversi.
Selanjutnya nilai tercatat komponen ekuitas (opsi konversi) ditetapkan dengan cara mengurangkan nilai wajar liabilitas keuangan dari nilai wajar instrumen keuangan tersebut secara keseluruhan.
2. IKHTISAR KEBIJAKAN AKUNTANSI (lanjutan) l. Liabilitas Diestimasi atas Imbalan Kerja Karyawan
Sesuai dengan PSAK No. 24 (Revisi 2004) tentang “Imbalan Kerja”, Perusahaan mengakui liabilitas imbalan pasti pasca kerja untuk karyawan yang dihitung berdasarkan Undang-undang Ketenagakerjaan No. 13 Tahun 2003.
Perhitungan imbalan pasca kerja dilakukan dengan menggunakan metode aktuarial Projected Unit Credit. Akumulasi keuntungan dan kerugian aktuarial bersih yang belum diakui yang melebihi 10% dari nilai kini liabilitas imbalan pasti diakui dengan metode garis lurus selama rata-rata sisa masa kerja yang diprakirakan dari para pekerja dalam program tersebut. Biaya jasa lalu dibebankan langsung apabila imbalan tersebut menjadi hak atau akan diakui sebagai beban dengan metode garis lurus selama periode rata-rata sampai imbalan tersebut menjadi hak.
Jumlah yang diakui sebagai liabilitas imbalan pasti pada laporan posisi keuangan merupakan nilai kini liabilitas imbalan pasti disesuaikan dengan keuntungan atau kerugian aktuarial yang belum diakui, dan biaya jasa lalu yang belum diakui.
m. Pajak Penghasilan
Perusahaan menerapkan metode penangguhan pajak (deferred tax method) untuk menentukan taksiran pajak penghasilan sesuai dengan PSAK No. 46 mengenai “Akuntansi Pajak Penghasilan”. PSAK tersebut mensyaratkan pengakuan aset dan liabilitas pajak tangguhan atas pengaruh pajak di masa datang yang berasal dari perbedaan temporer (beda waktu) antara dasar pajak dan dasar pelaporan komersial dari aset dan liabilitas serta atas rugi fiskal kumulatif.
Aset dan liabilitas pajak tangguhan diukur pada tarif pajak yang diharapkan akan digunakan pada periode ketika aset direalisasi atau ketika liabilitas dilunasi berdasarkan tarif pajak (dan peraturan perpajakan) yang berlaku atau secara substansial telah diberlakukan pada tanggal laporan posisi keuangan.
n. Pengakuan Pendapatan dan Beban
Pendapatan dari penjualan lokal diakui pada saat penyerahan barang kepada pelanggan dan untuk penjualan ekspor pada saat barang dikapalkan di mana pada saat itu seluruh kondisi sebagaimana disebutkan di dalam PSAK No. 23 (Revisi 2010) tentang ”Pendapatan” telah terpenuhi (di antaranya Perusahaan telah memindahkan seluruh risiko dan manfaat kepemilikan barang secara signifikan kepada pihak pelanggan).
Beban diakui pada saat terjadinya (basis akrual).
o. Transaksi dan Saldo dalam Mata Uang Asing
Transaksi dalam mata uang asing dicatat dalam nilai Rupiah berdasarkan kurs yang berlaku pada saat transaksi dilakukan. Pada tanggal laporan posisi keungan, aset dan liabilitas moneter dalam mata uang asing dijabarkan untuk mencerminkan kurs yang berlaku pada tanggal tersebut, yang diterbitkan oleh Bank Indonesia. Laba atau rugi selisih kurs yang terjadi, dikreditkan atau dibebankan pada usaha periode berjalan.
Pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010, kurs yang digunakan berdasarkan perhitungan rata-rata kurs beli dan jual uang kertas dan/atau kurs transaksi Bank Indonesia adalah sebagai berikut:
o. Transaksi dan Saldo dalam Mata Uang Asing (lanjutan)
30 September 2011 31 Desember 2010
Dolar Amerika Serikat 8.823 8.991
Dolar Singapura 6.796 6.981
Euro 11.956 11.956
Yen (100) 11.524 11.029
p. Laba Per Saham
Laba bersih per saham dihitung dengan membagi laba bersih selama periode berjalan dengan jumlah rata-rata tertimbang saham yang ditempatkan dan disetor penuh selama periode yang bersangkutan.
Jumlah rata-rata tertimbang saham yang beredar yang digunakan untuk perhitungan laba bersih per saham adalah masing 5.509.574.061 saham dan 3.450.607.595 saham untuk masing-masing periode yang berakhir pada tanggal 30 September 2011 dan 2010.
q. Informasi Segmen
Perusahaan menerapkan PSAK No. 5 (Revisi 2009) tentang “Segmen Operasi” untuk melaporkan informasi mengenai segmen operasi. Informasi mengenai segmen disusun dan dikelompokan sesuai dengan kebutuhan analisis manajemen yaitu berdasarkan tipe produk.
3. PERTIMBANGAN DAN ESTIMASI AKUNTANSI YANG PENTING
Penyusunan laporan keuangan Perusahaan mengharuskan manajemen untuk membuat pertimbangan, estimasi dan asumsi yang akan mempengaruhi jumlah-jumlah pendapatan, beban, aset dan liabilitas yang dilaporkan serta pengungkapan liabilitas kontinjensi pada tiap-tiap akhir periode laporan keuangan. Pertimbangan dan estimasi yang digunakan dalam mempersiapkan laporan keuangan ditelaah secara berkala berdasarkan pengalaman historis dan faktor-faktor lainnya, termasuk ekspektasi dari kejadian-kejadian di masa depan yang mungkin terjadi. Namun, hasil aktual dapat berbeda dengan jumlah yang diestimasi. Ketidakpastian atas asumsi serta estimasi tersebut dapat menimbulkan hasil yang memerlukan penyesuaian material terhadap jumlah tercatat aset atau liabilitas yang terpengaruh di masa depan.
Pertimbangan dan estimasi akuntansi yang memiliki pengaruh signifikan terhadap jumlah tercatat aset dan liabilitas adalah:
Taksiran Masa Manfaat dan Penyisihan Penurunan Nilai atas Aset Tetap
Nilai tercatat aset tetap pada tanggal 30 September 2011, yang dinyatakan sebesar biaya perolehan setelah dikurangi dengan akumulasi penyusutan dan penyisihan penurunan nilai, adalah sebesar Rp 1.903.116.648.314 di mana sebagian besar meliputi kelompok mesin dan peralatan sebesar Rp 1.439.287.027.466 serta kelompok aset dalam penyelesaian sebesar Rp 415.803.180.000 (lihat Catatan 12). Kelompok mesin dan peralatan tersebut disusutkan dengan menggunakan metode garis lurus berdasarkan taksiran masa manfaat ekonomis antara 20 hingga 30 tahun (lihat Catatan 2i). Manajemen meyakini bahwa kisaran taksiran tersebut telah mencerminkan pola konsumsi manfaat ekonomis aset di masa depan. Adapun kelompok aset dalam penyelesaian termasuk dalam kategori aset tetap yang tidak disusutkan.
3. PERTIMBANGAN DAN ESTIMASI AKUNTANSI YANG PENTING (lanjutan)
Nilai residu, taksiran masa manfaat dan metode penyusutan dari seluruh aset tetap ditelaah pada setiap akhir periode laporan keuangan di mana seluruh perubahan tersebut (jika ada) akan mempengaruhi nilai tercatat aset dan besaran beban penyusutan pada masa depan.
Manakala terdapat indikasi bahwa nilai tercatat dari aset tetap tidak dapat terpulihkan dan kemudian terbukti demikian maka nilai tercatat akan diturunkan ke jumlah yang dapat terpulihkan tersebut dan rugi penurunan nilai diakui di dalam laporan laba rugi komprehensif pada periode yang bersangkutan. Nilai yang dapat terpulihkan merupakan nilai tertinggi antara nilai pakai aset atau nilai wajar aset setelah dikurangi dengan biaya untuk menjual aset tersebut (lihat Catatan 2j). Nilai pakai aset dihitung dengan cara mendiskontokan taksiran arus kas yang diharapkan dari aset, sedangkan nilai wajar aset ditetapkan berdasarkan hasil penilaian pihak independen.
Nilai Wajar Instrumen Keuangan
Instrumen keuangan meliputi aset dan liabilitas keuangan. Ketika nilai wajar dari instrumen keuangan tersebut tidak dapat diperoleh dari pasar yang aktif, maka manajemen dapat menggunakan teknik-teknik penilaian, termasuk model diskonto atas arus kas (discounted cash flows model). Data masukan dalam menerapkan model ini diperoleh dari data pasar sepanjang dapat diobervasi (observable parameters) dan pertimbangan-pertimbangan lain seperti kinerja keuangan masa depan, profil risiko dan asumsi makroekonomi. Perubahan dalam pertimbangan dan asumsi-asumsi tersebut akan mempengaruhi nilai tercatat dari instrumen keuangan. Penilaian terhadap instrumen keuangan Perusahaan pada tanggal 30 September 2011 telah diungkapkan di dalam Catatan 25 atas laporan keuangan.
4. DAMPAK TRANSISI PENERAPAN AWAL PSAK NO. 50 DAN 55 (REVISI 2006) Efektif 1 Januari 2010, Perusahaan telah menerapkan secara prospektif:
a. PSAK No. 50 (Revisi 2006) tentang “Instrumen Keuangan: Penyajian dan Pengungkapan” yang berisi tentang persyaratan penyajian dari instrumen keuangan dan pengidentifikasian informasi yang harus diungkapkan.
b. PSAK No. 55 (Revisi 2006) tentang “Instrumen Keuangan: Pengakuan dan Pengukuran” yang mengatur prinsip-prinsip dasar pengakuan dan pengukuran aset keuangan, liabilitas keuangan serta kontrak pembelian dan penjualan item keuangan.
Kedua standar tersebut masing-masing menggantikan PSAK No. 50 “Akuntansi Investasi Efek Tertentu” dan PSAK No. 55 “Akuntansi Instrumen Derivatif dan Aktivitas Lindung Nilai”.
c. Pernyataan Pencabutan Standar Akuntansi Keuangan (PPSAK) No. 3 tentang “Pencabutan PSAK No. 54: Akuntansi Restrukturisasi Utang-Piutang Bermasalah”. PSAK No. 54 merupakan standar akuntansi keuangan dan pelaporan atas restrukturisasi utang-piutang bermasalah, baik dari sisi debitur maupun kreditur. Sehubungan dengan pencabutan PSAK No. 54 tersebut, Perusahaan telah menghitung kembali nilai kini dari arus kas masa depan dan hutang terkait dengan menggunakan tingkat bunga inkremental pada tanggal efektif PPSAK ini.
Dalam penerapan standar baru di atas, Perusahaan telah mengidentifikasi sejumlah penyesuaian transisi sesuai dengan Buletin Teknis No. 4 mengenai “Ketentuan Transisi Penerapan Awal PSAK No. 50 (Revisi 2006) dan PSAK No. 55 (Revisi 2006)“ yang diterbitkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia pada tahun 2009 serta ketentuan transisi di dalam PSAK dan PPSAK tersebut.
Dampak transisi PSAK No. 50 (Revisi 2006) dan PSAK No. 55 (Revisi 2006) terhadap laporan keuangan pada tanggal 1 Januari 2010 diikhtisarkan sebagai berikut:
Nilai tercatat Penyesuaian Setelah Disesuaikan
1 Januari 2010 Transisi 1 Januari 2010
Liabilitas
Liabilitas Tidak Lancar Pinjaman jangka panjang
Tranche B – Obligasi konversi (lihat
Catatan 17a) 93.281.340.000 (3.761.119.775) 89.520.220.225
Hutang jangka panjang lainlain -Alison Invesment Limited (lihat
Catatan 18) 502.714.395.000 (17.191.269.050) 485.523.125.950
Liabilitas pajak tangguhan
-bersih 169.318.646.479 940.279.944 170.258.926.423
Jumlah 765.314.381.479 (20.012.108.881) 745.302.272.598
Ekuitas
Porsi ekuitas pinjam an
konversi - 2.820.839.831 2.820.839.831
Defisit (2.351.800.549.009) 17.191.269.050 (2.334.609.279.959)
Jumlah (2.351.800.549.009) 20.012.108.881 (2.331.788.440.128)
Penyesuaian transisi atas akun “Hutang Jangka Panjang Lain-lain“ berasal dari selisih nilai tercatat dengan estimasi nilai wajarnya. Sedangkan penyesuaian transisi atas akun “Obligasi Konversi“ merupakan dampak pemisahan komponen liabilitas dan ekuitas atas pinjaman konversi (yang mencerminkan nilai wajar dari opsi konversi yang melekat pada liabilitas) ke dalam ekuitas (lihat Catatan 2k).
5. KAS DAN BANK Akun ini terdiri dari:
30 September 2011 31 Desember 2010 Kas
Rupiah 209.080.078 168.931.325
Dolar Amerika Serikat
($AS 3.351 pada tanggal 30 September 2011 dan $AS 5.598 pada tanggal
31 Desember 2010) 29.567.902 50.335.394
Lain-lain 2.753.753 3.613.599
Bank Rupiah
PT Bank CIMB Niaga Tbk 43.100.251 42.859.890
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk 178.966.888 505.218.253
PT Bank Chinatrust Indonesia 2.993.824 3.397.803
PT Bank Artha Graha Internasional Tbk 1.000.000
-Dolar Amerika Serikat
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
($AS 227.981 pada tanggal 30 September 2011 dan $AS 2.566 pada tanggal
5. KAS DAN BANK (lanjutan)
30 September 2011 31 Desember 2010
PT Bank Chinatrust Indonesia
($AS 1.316 pada tanggal 30 September 2011 dan $AS 52.998 pada tanggal
31 Desember 2010) 11.614.774 476.503.220
PT Bank CIMB Niaga Tbk ($AS 1.502 pada tanggal
31 Desember 2010) - 13.503.852
PT Bank Resona Perdania
($AS 660 pada tanggal 30 September 2011 dan $AS 686 pada tanggal
31 Desember 2010) 5.823.709 6.168.365
PT Bank Permata Tbk
($AS 284 pada tanggal 30 September 2011dan $AS 335 pada tanggal
31 Desember 2010) 2.501.585 3.009.467
PT Bank Artha Graha Internasional Tbk ($AS 1.000 pada tanggal
30 September 2011) 8.823.000
-Euro
PT Bank Mandiri (Persero) Tbk
(€ 1.216 pada tanggal 30 September 2011 dan € 1.251 pada tanggal
31 Desember 2010) 14.535.148 14.953.489
Jumlah 2.522.232.952 1.311.568.530
Pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010 tidak terdapat saldo bank yang ditempatkan pada pihak-pihak berelasi ataupun dalam bentuk deposito berjangka.
6. PIUTANG USAHA Akun ini terdiri dari:
30 September 2011 31 Desember 2010 Pihak berelasi (lihat Catatan 8)
CV Dirgahayu Manufacturing Co.
($AS 2.348.051 dan Rp 3.230.338.229
pada tanggal 30 September 2011) 23.947.190.437
-PT. Andover E-Pulppaper Indonesia 800.635.239
-24.747.825.676
-Pihak ketiga Lokal
($AS 76.102 dan Rp 55.104.528.157 pada tanggal 30 September 2011 dan Rp 59.471.892.995 pada tanggal
30 September 2011 31 Desember 2010
Ekspor
($AS 212.875 pada tanggal 30 September 2011 serta $AS 125.404 dan € 37.624
pada tanggal 31 Desember 2010) 1.878.198.684 1.577.338.615
57.654.170.376 61.049.231.610
Jumlah piutang usaha 82.401.996.052 61.049.231.610
Rincian analisis umur dari piutang usaha adalah sebagai berikut:
30 September 2011 31 Desember 2010 Pihak berelasi
Belum jatuh tempo 2.524.190.774
-Telah jatuh tempo
1 - 30 hari 5.587.979.174
-31 - 60 hari 3.350.189.668
-Di atas 60 hari 13.285.466.060
-Jumlah 24.747.825.676
-Pihak ketiga
Belum jatuh tempo 2.429.663.535 15.053.752.842
Telah jatuh tempo
1 - 30 hari 2.500.968.782 10.985.773.944
31 - 60 hari 26.559.658.752 28.773.818.412
Di atas 60 hari 26.163.879.307 6.235.886.412
Jumlah 57.654.170.376 61.049.231.610
Rincian piutang usaha berdasarkan mata uang adalah sebagai berikut:
30 September 2011 31 Desember 2010
Rupiah 59.135.501.625 59.471.892.995
Dolar Amerika Serikat ($AS 2.637.028 pada tanggal 30 September 2011 dan $AS 125.404
pada tanggal 31 Desember 2010) 23.266.494.427 1.127.504.397
Euro (€ 37.624 pada tanggal 31 Desember 2010) - 449.834.218
Jumlah 82.401.996.052 61.049.231.610
Pada tanggal 30 September 2011 terima reklasifikasi dari uang muka pelanggan ekspor sebesar Rp 20.688.260.761 (lihat Catatan 18).
Pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010, seluruh saldo piutang usaha dijadikan sebagai jaminan atas pinjaman jangka panjang (lihat Catatan 17).
Manajemen Perusahaan berkeyakinan bahwa tidak terdapat bukti obyektif penurunan nilai atas piutang usaha dan seluruh saldo piutang usaha tersebut dapat tertagih sehingga dengan demikian tidak diperlukan penyisihan penurunan nilai.
7. PIUTANG LAIN-LAIN – PIHAK KETIGA Akun ini terdiri dari:
30 September 2011 31 Desember 2010
Klaim asuransi (lihat Catatan 9) - 2.306.783.844
Lain-lain 70.917.308 32.950.420
Jumlah 70.917.308 2.339.734.264
Manajemen Perusahaan berkeyakinan bahwa tidak terdapat bukti obyektif penurunan nilai atas piutang lain-lain dan seluruh saldo piutang lain-lain tersebut dapat tertagih sehingga dengan demikian tidak diperlukan penyisihan penurunan nilai.
8. SALDO DAN TRANSAKSI DENGAN PIHAK-PIHAK BERELASI
Perusahaan dalam kegiatan usahanya melakukan transaksi usaha dan keuangan dengan pihak-pihak berelasi yang meliputi transaksi penjualan, pembelian dan perolehan pinjaman.
Beberapa transaksi usaha dengan pihak-pihak berelasi adalah sebagai berikut:
a. Perusahaan melakukan penjualan kepada pihak-pihak berelasi dengan rincian berdasarkan nama, jumlah dan persentase terhadap jumlah penjualan bersih sebagai berikut:
30 September 2011 30 September 2010 (Sembilan Bulan) (Sembilan Bulan)
CV Dirgahayu Manufacturing Co. 33.852.457.183 14.462.927.588
PT Andover E-Pulppaper Indonesia 727.189.136 23.390.814.773
Jumlah 34.579.646.319 37.853.742.361
% terhadap jumlah penjualan bersih 14% 12,7%
Seluruh saldo piutang yang timbul dari transaksi tersebut disajikan sebagai bagian dari akun ”Piutang Usaha - Pihak Berelasi” pada laporan posisi keuangan (lihat Catatan 6).
b. Perusahaan melakukan pembelian bahan pembantu tertentu dari CV Dirgahayu Manufacturing Co. dengan nilai pembelian sebesar Rp 34.992.000 dan Rp 65.610.000, masing-masing untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal-tanggal 30 September 2011 dan 2010. Nilai tersebut adalah sekitar 2,1% dan 1,85% masing-masing dari jumlah pembelian sejenis selama periode yang bersangkutan.
c. Perusahaan juga melakukan pembelian bahan pembantu tertentu dari PT Intan Ustrix dengan nilai pembelian sebesar Rp 66.850.857 dan Rp 88.737.120 untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal-tanggal 30 September 2011 dan 2010. Nilai tersebut adalah sekitar 4,0% dan 2,51% dari jumlah pembelian sejenis selama periode yang bersangkutan.
d. Presiden Direktur, beberapa direktur, pemegang saham Perusahaan dan beberapa pihak berelasi lainnya telah memberikan jaminan dan jaminan pribadi untuk menjamin pinjaman jangka panjang Perusahaan (lihat Catatan 17).
Selain itu, Perusahaan memperoleh pinjaman dari Tirtomulyadi Sulistyo yang merupakan setoran modal kerja sebesar $AS 3.000.000 terkait dengan bagian dari setoran kas pemegang saham sebagaimana ditentukan di dalam restrukturisasi pinjaman Tranche C - konversi hutang ke saham (lihat Catatan 17). Pinjaman tersebut tidak dikenai bunga, tanpa jaminan dan dapat dibayarkan sewaktu-waktu (repayable on demand). Saldo dari pinjaman tersebut pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010 yang seluruhnya disajikan sebagai akun “Hutang Kepada Pihak Berelasi” masing-masing adalah sebesar Rp 26.469.000.000 dan Rp 26.973.000.000 atau mencerminkan sekitar 4,23% dan 0,87% dari jumlah liabilitas.
Ikhtisar sifat hubungan antara Perusahan dengan pihak-pihak berelasi di atas adalah sebagai berikut:
Pihak Berelasi Sifat Hubungan
PT Andover E-Pulppaper Indonesia Berada di bawah pengendalian pemegang
saham dan/atau anggota keluarga dekat pemegang saham dan/atau manajemen kunci yang sama dengan Perusahaan.
CV Dirgahayu Manufacturing Co. PT Intan Ustrix
PT Bahana Buana Box PT Surya Indoalgas
Berada di bawah pengendalian pemegang saham dan/atau manajemen kunci yang sama dengan Perusahaan
Tirtomulyadi Sulistyo Rasmachahjana Sulistyo Zhang Hui Han Sindu
Manajemen kunci (lihat Catatan 1c)
PT Intan Teguh Sejati PT Pardika Anarawata PT Tirta Banyu Sangka
Pemegang saham Perusahaan
9. PERSEDIAAN
Akun persediaan terdiri dari:
30 September 2011 31 Desember 2010
Barang jadi 24.500.260.601 52.169.084.266
Bahan baku 17.812.734.430 54.239.570.055
Bahan pembantu 42.110.357.191 43.522.597.974
Jumlah 84.423.352.222 149.931.252.295
Pada tahun 2010, Perusahaan mengalami bencana kebanjiran yang mengakibatkan sebagian persediaan barang jadi mengalami kerusakan. Perusahaan telah mengajukan klaim asuransi kepada pihak PT Asuransi Wahana Tata terkait dengan hal ini dengan rincian sebagai berikut:
Kerugian menurut Perusahaan
Persediaan Rp 6.196.734.507
Prasarana 9.762.441
Jumlah 6.206.496.948
Kerugian yang tidak ditanggung oleh pihak asuransi (1.548.732.757)
9. PERSEDIAAN (lanjutan)
Persediaan dibeli kembali (1.270.000.000)
Klaim asuransi yang telah dibayar (1.080.980.347)
Piutang klaim asuransi pada tanggal 31 Desember 2010 (lihat Catatan 7) Rp 2.306.783.844
Persediaan dibeli kembali (1.500.000.000)
Klaim asuransi yang telah dibayar (806.783.844)
Piutang klaim asuransi pada tanggal 30 September 2011 (lihat Catatan 7) Rp
-Pada tahun 2010, perusahaan mengalami dua kali terjadi banjir di pabrik, yaitu pada bulan Maret dan Oktober 2010. Pada tanggal 30 Juni 2010, kerugian yang tidak ditanggung oleh pihak asuransi sebesar Rp 337.172.576 disajikan sebagai “Penghasilan (Beban) Lain-lain pada akun “Rugi klaim asuransi” pada laporan laba – rugi.
Berdasarkan hasil penelaahan terhadap keadaan masing-masing persediaan pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010, manajemen Perusahaan berkeyakinan bahwa tidak diperlukan penyisihan atas keusangan dan penurunan nilai persediaan.
Pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010, persediaan telah diasuransikan terhadap seluruh risiko yang menyebabkan kerusakan dengan nilai pertanggungan sebesar $AS 8.500.000. Manajemen Perusahaan berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutupi risiko kerugian yang mungkin timbul atas persediaan.
Pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010, seluruh persediaan digunakan sebagai jaminan atas pinjaman jangka panjang (lihat Catatan 17).
10. UANG MUKA PEMBELIAN
Pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010, akun ini merupakan uang muka pembelian bahan baku dan suku cadang yang telah dibayarkan kepada pihak ketiga dengan saldo masing-masing sebesar Rp 2.946.074.129 dan Rp 1.529.355.556.
11. BIAYA DIBAYAR DI MUKA
Pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010, akun ini seluruhnya merupakan asuransi dibayar di muka masing-masing dengan saldo sebesar Rp 365.576.225 dan Rp 1.999.042.241.
12. ASET TETAP
Mutasi dan rincian aset tetap adalah sebagai berikut:
30 September2011 (Sembilan Bulan)
Saldo Aw al Penambahan Pengurangan Saldo Akhir
Biaya Perolehan
Hak atas tanah 40.980.322.355 - - 40.980.322.355
Bangunan dan prasarana 39.913.529.745 - - 39.913.529.745
Mesin dan peralatan 3.049.151.519.156 - - 3.049.151.519.156
Perabot dan peralatan kantor 5.911.706.821 - - 5.911.706.821
Alat pengangkutan 3.709.320.658 - - 3.709.320.658
30 September2011 (Sembilan Bulan)
Saldo Aw al Penambahan Pengurangan Saldo Akhir
Aset dalam penyelesaian 538.712.622.501 - - 538.712.622.501
Jumlah Biaya Perolehan 3.678.379.021.236 - - 3.678.379.021.236
Akumulasi Penyusutan
Bangunan dan prasarana 32.930.947.779 544.658.674 - 33.475.606.453 Mesin dan peralatan 1.538.156.069.054 71.708.422.636 - 1.609.864.491.690 Perabot dan peralatan kantor 5.067.603.652 235.907.968 - 5.303.511.620
Alat pengangkutan 3.709.320.658 - - 3.709.320.658
Jumlah Akumulasi Penyusutan 1.579.863.941.143 72.488.989.278 - 1.652.352.930.421 Penyisihan Penurunan Nilai
Aset dalam penyelesaian 122.909.442.501 - - 122.909.442.501
Nilai Buku 1.975.605.637.592 1.903.116.648.314
31 Desember 2010 (Satu Tahun)
Saldo Aw al Penambahan Pengurangan Saldo Akhir
Biaya Perolehan
Hak atas tanah 40.980.322.355 - - 40.980.322.355
Bangunan dan prasarana 39.913.529.745 - - 39.913.529.745
Mesin dan peralatan 3.044.422.535.978 4.728.983.178 - 3.049.151.519.156 Perabot dan peralatan kantor 5.668.956.250 242.750.571 - 5.911.706.821
Alat pengangkutan 3.756.620.658 - 47.300.000 3.709.320.658
Sub-Jumlah 3.134.741.964.986 4.971.733.749 47.300.000 3.139.666.398.735
Aset dalam penyelesaian 538.712.622.501 - - 538.712.622.501
Jumlah Biaya Perolehan 3.673.454.587.487 4.971.733.749 47.300.000 3.678.379.021.236 Akumulasi Penyusutan
Bangunan dan prasarana 32.184.935.978 746.011.801 - 32.930.947.779 Mesin dan peralatan 1.442.626.987.499 95.529.081.555 - 1.538.156.069.054 Perabot dan peralatan kantor 4.780.585.429 287.018.223 - 5.067.603.652
Alat pengangkutan 3.756.620.658 - 47.300.000 3.709.320.658
Jumlah Akumulasi Penyusutan 1.483.349.129.564 96.562.111.579 47.300.000 1.579.863.941.143 Penyisihan Penurunan Nilai
Aset dalam penyelesaian - 122.909.442.501 - 122.909.442.501
Nilai Buku 2.190.105.457.923 1.975.605.637.592
Saldo aset dalam penyelesaian pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010, seluruhnya merupakan akumulasi biaya dalam rangka instalasi mesin kertas X (sepuluh). Aset dalam penyelesaian mencakup juga bangunan beserta prasarana terkait mesin kertas X tersebut, yang sampai dengan tanggal laporan posisi keuangan masih belum memiliki nilai tercatat karena pembangunannya belum dimulai.
12. ASET TETAP (lanjutan)
Sampai dengan tanggal 30 September 2011, persentase nilai tercatat mesin X tersebut terhadap keseluruhan nilai bila mesin tersebut dalam kondisi selesai dipasang adalah sekitar 83%, yang menurut pendapat manajemen, pada awalnya, diharapkan akan dapat diselesaikan pada tahun 2013. Sehubungan dengan dampak lanjutan dari krisis keuangan global pada tahun 2008-2009 yang berujung pada kebijakan pengetatan likuiditas dan arus kas dalam rangka memprioritaskan pada kebutuhan modal kerja, maka Perusahaan untuk sementara telah menghentikan pelaksanaan pekerjaan penyelesaian mesin tersebut.
Pada tahun 2010, Perusahaan telah melakukan penelaahan atas seluruh nilai aset tetapnya dengan menggunakan laporan penilai independen KJPP Hari Utomo & Rekan tanggal 3 Maret 2011. Berdasarkan hasil penilaian tersebut nilai wajar aset tetap Perusahaan telah melampaui nilai tercatatnya kecuali untuk aset dalam penyelesaian.
Ringkasan perbandingan penilaian untuk aset dalam penyelesaian tersebut adalah sebagai berikut: 2010
Nilai tercatat Rp 538.712.622.501
Nilai wajar Rp 415.803.180.000
Selisih Rp 122.909.442.501
Sehubungan dengan hal itu, manajemen telah menetapkan penyisihan untuk penurunan nilai atas aset dalam penyelesaian berdasarkan perbandingan nilai tersebut.
Beban penyusutan untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal-tanggal 30 September 2011 dan 30 September 2010 dibebankan pada operasi sebagai berikut:
30 September 2011 30 September 2010 (Sembilan Bulan) (Sembilan Bulan)
Beban pokok pabrikasi (lihat Catatan 22) 17.173.345.167 41.233.438.895
Beban usaha (lihat Catatan 23) 55.315.644.111 31.168.542.749
Jumlah 72.488.989.278 72.401.981.644
Untuk beban penyusutan mesin dan peralatan ke beban pokok produksi dialokasikan berdasarkan realisasi kuantitas produksi dibandingkan dengan kapasitas normal.
Pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010, aset tetap selain aset dalam penyelesaian digunakan sebagai jaminan atas pinjaman jangka panjang (lihat Catatan 17).
Pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010, sertifikat hak atas tanah adalah dalam bentuk Hak Guna Bangunan (HGB) yang akan berakhir pada berbagai tanggal antara tahun 2018 sampai dengan tahun 2030. Manajemen berkeyakinan bahwa sertifikat HGB tersebut dapat diperpanjang pada saat jatuh tempo.
Pengurangan aset tetap pada tahun 2010 berasal dari penjualan aset dengan rincian sebagai berikut:
Harga jual 50.000.000
Nilai tercatat
-Laba penjualan aset tetap 50.000.000
Pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010, aset tetap berupa bangunan dan mesin telah diasuransikan dengan nilai pertanggungan sebesar $AS 169.555.000. Manajemen berpendapat bahwa nilai pertanggungan tersebut cukup untuk menutupi kemungkinan kerugian atas aset tetap.
Berdasarkan penelaahan manajemen Perusahaan, tidak terdapat kejadian-kejadian atau perubahan-perubahan keadaan yang mengindikasikan adanya penurunan nilai aset tetap pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010, selain yang disebutkan di atas.
13. BANK YANG DIBATASI PENGGUNAANNYA
Pada tanggal 30 September 2011 dan 31 Desember 2010, akun ini merupakan saldo bank yang dibatasi penggunaannya yang ditempatkan pada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, pihak ketiga, terkait dengan jaminan pembayaran (bank garansi) atas tagihan dari PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. Fasilitas ini berlaku sejak tanggal 1 Juli 2010 sampai dengan 30 April 2012 dengan jumlah masing-masing sebesar Rp 4.500.000.000 dan $AS 854.354 serta Rp 3.780.000.000 dan $AS 719.421.
14. HUTANG USAHA
Akun ini terdiri dari hutang yang timbul dari transaksi pembelian bahan baku dan bahan pembantu, baik impor maupun lokal, dengan rincian sebagai berikut:
30 September 2011 31 Desember 2010 Pihak ketiga
Lokal 21.340.719.276 24.612.724.398
Impor 4.551.462.923 32.104.067.137
Sub-jumlah 25.892.182.199 56.716.791.535
Pihak berelasi (lihat Catatan 8)
PT Intan Ustrix 55.680.561 19.109.340
Jumlah 25.947.862.760 56.735.900.875
Analisis umur hutang usaha adalah sebagai berikut:
30 September 2011 31 Desember 2010
Belum jatuh tempo 9.496.895.962 19.190.159.313
Telah jatuh tempo
1 - 30 hari - 4.422.847.720
31 - 60 hari 1.841.686.859 4.672.521.759
Di atas 60 hari 14.609.279.939 28.450.372.083
Jumlah 25.947.862.760 56.735.900.875
Rincian hutang usaha berdasarkan mata uang adalah sebagai berikut:
30 September 2011 31 Desember 2010 Dolar Amerika Serikat
($AS 996.498 pada tanggal 30 September 2011 dan $AS 4.489.918 pada tanggal
31 Desember 2010) 8.792.101.412 40.368.850.490
14. HUTANG USAHA (lanjutan)
30 September 2011 31 Desember 2010
Yen (¥ 126.225 pada tanggal 31 Desember 2010) - 13.921.355
Euro (€ 4.400 pada tanggal 30 September 2011) 52.606.400
-Jumlah 25.947.862.760 56.735.900.875
Tidak ada jaminan kredit yang diberikan oleh Perusahaan sehubungan dengan saldo hutang usaha.
15. PERPAJAKAN
a. Pajak Dibayar di Muka
Pada tanggal 31 Desember 2010, akun ini merupakan saldo Pajak Pertambahan Nilai dibayar di muka yang dapat dikompensasikan ke masa pajak berikutnya.
b. Hutang Pajak Akun ini terdiri dari:
30 September 2011 31 Desember 2010 Pajak Penghasilan: Pasal 4 (2) 23.340.000 11.670.000 Pasal 21 109.772.863 108.953.328 Pasal 22 24.360.576 13.672.799 Pasal 23 6.359.470 277.071
Pajak Pertambahan Nilai 2.608.579.862
-Jumlah 2.772.412.771 134.573.198
c. Beban Pajak Penghasilan Badan
Rekonsiliasi antara laba sebelum beban pajak penghasilan tangguhan seperti disajikan dalam laporan laba rugi komprehensif untuk periode sembilan bulan yang berakhir pada tanggal-tanggal 30 September 2011 dan 30 September 2010 dengan taksiran rugi fiskal masing-masing adalah sebagai berikut:
30 September 2011 30 September 2010 (Sembilan Bulan) (Sembilan Bulan) Laba sebelum beban pajak
penghasilan tangguhan 283.597.610.107 114.377.573.424
Beda temporer
Penyusutan aset tetap 22.466.393.035 22.979.583.812
Beban keuangan (terkait dengan PSAK
No. 50 dan 55) 12.298.247.853
-Penyisihan atas imbalan kerja karyawan 519.555.036
-Pembayaran atas imbalan kerja karyawan (1.380.851.798)
-Rugi selisih kurs (terkait dengan PSAK
No. 50 dan 55) 492.903.892
-Beda permanen
Beban pajak 517.088.899 1.237.664.465
Kesejahteraan karyawan 296.315.331 231.664.868
c. Beban Pajak Penghasilan Badan (lanjutan)
30 September 2011 30 September 2010 (Sembilan Bulan) (Sembilan Bulan) Penghasilan bunga yang telah dikenakan
pajak final (200.931.945) (11.307.131)
Laba selisih kurs (119.809.536)
-Untung penghapusan bunga ditangguhkan (235.043.202.245)
-Taksiran laba fiskal – periode berjalan 83.472.193.629 138.854.137.638
Akumulasi rugi fiskal awal periode (304.073.824.437) (467.498.054.919)
Penyesuaian rugi fiskal (36.037.698.935) 68.906.877.260
Akumulasi rugi fiskal akhir periode (256.639.329.743) (259.737.040.021)
d. Aset (Liabilitas) Pajak Tangguhan
Rincian aset dan liabilitas pajak tangguhan terdiri dari:
30 September 2011 (Sembilan Bulan) Pajak
Tangguhan Pajak yang Dibebankan Tangguhan
Langsung yang Dibebankan Manfaat (Beban) Pada Ekuitas Langsung
Saldo Pajak Tangguhan Atas Pinjaman Pada Ekuitas Saldo 1 Januari 2011 Periode Berjalan Konversi di Saldo Defisit 30 Septem ber 2011 Aset pajak tangguhan
Akumulasi rugi fiskal 76.018.456.109 (11.858.623.673) - - 64.159.832.436 Liabilitas diestimasi atas
imbalan kerja karyawan 2.948.116.303 (215.324.190) - - 2.732.792.113 Penyisihan penurunan nilai
persediaan 720.577.972 - - - 720.577.972
Rugi penurunan nilai aset
dalam penyelesaian 30.727.360.625 - - - 30.727.360.625
Liabilitas pajak tangguhan
Nilai wajar instrumen keuangan (3.773.230.238) 3.197.787.935 - - (575.442.300) Aset tetap (279.397.684.594) 5.616.598.259 - - (273.781.086.335)
Liabilitas Pajak Tangguhan
15. PERPAJAKAN (lanjutan)
d. Aset (Liabilitas) Pajak Tangguhan
31 Desem ber 2010 (Satu Tahun) Pajak
Tangguhan Pajak yang Dikreditkan Tangguhan
(Dibebankan) yang Dikreditkan Langsung (Dibebankan)
Manfaat (Beban) Pada Ekuitas Langsung Saldo Saldo Pajak Tangguhan Atas Pinjaman Pada Ekuitas 31 Desember 1 Januari 2010 Tahun Berjalan Konversi di Saldo Defisit 2010 Aset pajak tangguhan
Akumulasi rugi fiskal 116.874.513.730 (40.856.057.621) - - 76.018.456.109 Liabilitas diestimasi atas
imbalan kerja karyawan 2.820.644.302 127.472.001 - - 2.948.116.303 Penyisihan penurunan nilai
persediaan 147.273.569 573.304.403 - - 720.577.972
Rugi penurunan nilai aset
dalam penyelesaian - 30.727.360.625 - - 30.727.360.625
Liabilitas pajak tangguhan
Nilai wajar instrumen keuangan - 1.464.866.969 (940.279.944) (4.297.817.263) (3.773.230.238) Aset tetap (289.161.078.080) 9.763.393.486 - - (279.397.684.594)
Liabilitas Pajak Tangguhan
- Bersih 169.318.646.479 1.800.339.863 (940.279.944) (4.297.817.263) 172.756.403.821
Rekonsiliasi antara laba sebelum beban pajak penghasilan tangguhan dikalikan dengan tarif pajak maksimum yang berlaku dan beban pajak penghasilan tangguhan adalah sebagai berikut:
30 September 2011 30 September 2010 (Sembilan Bulan) (Sembilan Bulan)
Laba sebelum beban pajak penghasilan 283.597.610.107 114.377.573.424
Tarif pajak maksimum 25% 70.899.402.527 28.594.393.356
Beda tetap - bersih (58.580.183.138) 377.071.883
Penghasilan yang pajaknya bersifat final (50.232.986) (2.826.783 )
Penyesuaian akumulasi rugi fiskal (9.009.424.734) 17.226.719.315
Beban pajak penghasilan tangguhan 3.259.561.669 46.195.357.771
e. Taksiran Tagihan Pajak Penghasilan
Rincian taksiran tagihan pajak penghasilan adalah sebagai berikut:
30 September 2011 31 Desember 2010
Tahun 2011 905.305.619
-Tahun 2010 3.653.979.309 3.653.979.309
Tahun 2009 - 2.225.781.555