• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di provinsi yang pernah melakukan program

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "IV. METODE PENELITIAN. Penelitian ini dilaksanakan di provinsi yang pernah melakukan program"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

4.1. Lokasi Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di provinsi yang pernah melakukan program pemberdayaan petani. Secara purposive dipilih satu provinsi di Jawa yaitu Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pemilihan lokasi ini berdasarkan data ratio jumlah rumahtangga petani gurem terhadap rumahtangga pertanian paling tinggi di pulau Jawa (80,14 persen). Dilihat dari topografinya, Provinsi DIY terbagi menjadi wilayah dataran tinggi dan dataran rendah. Kedua wilayah tersebut sangat berbeda kondisi biofisiknya, yang mengakibatkan berbeda aktivitas sosial dan ekonominya. Dengan kondisi berbeda, kedua wilayah tersebut akan menghadapi kendala yang berbeda, yang akhirnya berbeda pula infrastruktur yang dibutuhkan. Kondisi wilayah dataran tinggi yang lebih sulit dicapai dibanding wilayah dataran rendah, memiliki fasilitas infrastruktur lebih terbatas dibanding wilayah dataran rendah. Wilayah dataran tinggi dengan infrastruktur terbatas, yang kemudian disebut wilayah pegunungan. Wilayah dataran rendah dengan kondisi infrastruktur lebih baik dan lengkap, yang kemudian disebut wilayah pantai. Dalam penelitian wilayah pegunungan (dataran tinggi) diwakili oleh Kabupaten Kulon Progo dan wilayah pantai (dataran rendah) diwakili oleh Kabupaten Bantul. Terpilihnya kedua kabupaten tersebut sebagai wilayah penelitian diharapkan dapat mewakili karakteristik kabupaten yang ada di Provinsi DIY.

Dari kabupaten terpilih diambil dua kecamatan yang mempunyai ciri seperti kabupaten terpilih yaitu Kecamatan Kretek, Kecamatan Bantul (Kabupaten Bantul) dan Kecamatan Temon, Kecamatan Wates (Kabupaten Kulon Progo). Dari masing-masing kecamatan dipilih satu desa yang mempunyai luas

(2)

penguasaan lahan pertanian per rumahtangga yang paling besar, yaitu desa Tirtohargo (Kecamatan Kretek) dan desa Kebunrejo (Kecamatan Temon). Untuk dapat mewakili secara keseluruhan kabupaten yang telah diklasifikasi menurut kondisi fasilitas insfrastruktur wilayah, maka dipilih desa Bantul (Kecamatan Bantul) dan desa Giripeni (Kecamatan Wates). Kedua desa tersebut mewakili wilayah masing-masing kabupaten yang mempunyai kriteria kota kabupaten. Jadi empat desa yang menjadi lokasi penelitian adalah desa Bantul, desa Tirtohargo, desa Giripeni dan desa Kebunrejo.

4.2. Pengambilan Sampel

Dari tiap desa dipilih rumahtangga petani sampel secara acak terstratifikasi (stratified random sampling). Stratifikasi berdasarkan jenjang pendidikan formal dari kepala keluarga pada rumahtangga petani. Strata satu adalah kepala keluarga yang memiliki jenjang pendidikan formal sekolah dasar (SD), baik tamat maupun tidak tamat. Strata dua adalah jenjang pendidikan formal sekolah menengah pertama dan strata tiga adalah kepala keluarga yang memiliki jenjang pendidikan formal sekolah menengah lanjutan sampai perguruan tinggi. Stratifikasi ini dilakukan agar sampel yang dipilih dapat mewakili setiap strata pendidikan dan diambil secara acak.

Dengan memperhatikan kondisi wilayah penelitian yang beragam topografinya, maka pengambilan sampel pada masing-masing desa berbeda jumlahnya. Dari populasi sebesar 832 rumahtangga petani di desa Tirtohargo (klasifikasi desa wilayah pantai) diambil 270 sampel dan desa Kebunrejo (klasifikasi kota wilayah pegunungan) diambil 184 sampel dari populasi sejumlah 305 rumahtangga petani. Untuk melihat perilaku rumahtangga petani di desa

(3)

dengan klasifikasi kota untuk masing-masing wilayah, diambil 66 rumahtangga petani untuk desa Bantul Kecamatan Bantul dan 60 rumahtangga petani untuk desa Giripeni Kecamatan Wates. Jadi total sampel sebanyak 580 rumahtangga petani. Dalam pengumpulan data, yang diwawancara sebagai responden setiap rumahtangga adalah kepala keluarga dan anggota keluarga yang berumur ≥ 10 tahun.

4.3. Sumber, Jenis dan Cara Pengumpulan Data

Data penelitian ini bersumber dari data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh langsung dari responden terpilih melalui wawancara dengan dipandu daftar pertanyaan (kuesioner). Sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi dan lembaga terkait yaitu terdiri dari:

1. Jumlah rumahtangga petani dan rumahtangga petani gurem berdasar tingkat pendidikan formal.

2. Jumlah penduduk berdasarkan umur, tingkat pendidikan formal dan mata pencaharian.

3. Luas lahan pertanian berdasarkan penggunaannya.

4. Jumlah dan kegiatan lembaga sosial ekonomi seperti KUD, Puskesmas, Taman Gizi, Bank, PKK.

5. Program pemberdayaan petani yang telah dilakukan.

6. Rata-rata upah usahatani dan luar usahatani di wilayah penelitian.

Data dari tingkat rumahtangga petani terdiri dari :

1. Komposisi dan jumlah anggota keluarga berdasarkan usia, pendidikan formal, mata pencaharian pokok, pengalaman kepala keluarga dalam usahatani.

(4)

2. Total pemilikan lahan untuk usaha tanaman, peternakan dan perikanan.

3. Produksi yang dihasilkan dan biaya produksi usahatani yang dikeluarkan rumahtangga petani yaitu biaya input (bibit/benih, pupuk, obat), tenaga kerja yang digunakan dan peralatan yang dimiliki.

4. Penghasilan dari usahatani, luar usahatani dan dari sumber lainnya.

5. Pengeluaran rumahtangga seperti konsumsi pangan, konsumsi non pangan, investasi usahatani, investasi pendidikan, pelatihan dan kesehatan.

6. Jumlah tabungan dan nilai alat mekanisasi usahatani yang dimiliki rumahtangga petani.

7. Macam dan intensitas kegiatan anggota keluarga, partisipasi anggota keluarga dalam kegiatan seperti keterlibatan dalam organisasi, kehadiran petani dan keluarganya dalam penyuluhan dan kontak anggota rumahtangga petani dengan lembaga.

8. Alokasi waktu yang dicurahkan untuk bekerja di usahatani dan luar usahatani serta permintaan tenaga kerja yang berasal dari luar keluarga.

9. Kualitas sumberdaya manusia, motivasi petani dan pandangan anggota rumahtangga petani terhadap kegiatan pendidikan, pelatihan dan kesehatan.

4.4. Model Analisis

Model adalah penjelasan dari fenomena aktual sebagai proses yang sistematis, di dalam model dijelaskan hubungan antar variabel yang dapat dinyatakan dalam bentuk diagramatis maupun matematis (Koutsoyiannis, 1977).

Analisis secara deskriptif dengan cara tabulasi dilakukan untuk menjelaskan kondisi ekonomi rumahtangga petani dan upaya pengembangan sumberdaya manusia yang dilakukan rumahtangga petani. Sedangkan analisis

(5)

kuantitatif digunakan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keputusan rumahtangga petani untuk melakukan kegiatan pengembangan sumberdaya manusia dan perilaku ekonomi rumahtangga dalam pengembangan sumberdaya manusia serta kaitannya dengan alokasi sumberdaya produksi, alokasi pengeluaran konsumsi dan pendapatan rumahtangga petani wilayah pantai dan pegunungan.

4.4.1. Analisis Faktor-Faktor yang Berpengaruh tehadap Keputusan Rumahtangga Petani untuk Melakukan Pengembangan Sumberdaya Manusia

Dalam membangun model diawali dengan melakukan diskripsi tentang pengembangan sumberdaya manusia dalam rumahtangga petani. Hasil kajian secara deskriptif tersebut selanjutnya digunakan sebagai dasar untuk mengetahui faktor-faktor yang berpengaruh tehadap keputusan rumahtangga petani untuk melakukan kegiatan pengembangan sumberdaya manusia dalam rumahtangga sebagai investasi sumberdaya manusia seperti pendidikan, pelatihan dan kesehatan.

Dalam penelitian ini keputusan rumahtangga petani untuk melakukan pengembangan sumberdaya manusia dipengaruhi oleh berbagai faktor yaitu yang bersifat internal yang berasal dari diri petani dan yang bersifat eksternal yang berasal dari luar pribadi petani. Untuk mempertajam analisis digunakan model analisis regresi sebagai berikut :

Persamaan Investasi Pendidikan

Persamaan keputusan rumahtangga petani untuk melakukan investasi pendidikan dipengaruhi oleh motivasi petani, pendidikan formal petani, jumlah

(6)

anggota keluarga, pendapatan rumahtangga, tabungan rumahtangga, pandangan anggota rumahtangga terhadap pendidikan dan hubungan dengan instansi terkait. Investasi pendidikan dijelaskan dengan pendekatan tingkat pengeluaran rumahtangga yang digunakan untuk kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan dalam rumahtangga.

Motivasi merupakan proses pemberian motif (penggerak) bekerja pada manusia sedemikian rupa sehingga mereka bekerja dengan ikhlas demi tercapainya suatu tujuan. Semakin tinggi motivasi petani maka semakin tinggi pula upaya rumahtangga untuk melakukan kegiatan investasi pendidikan, semakin tinggi pengeluaran yang digunakan untuk pendidikan anggota rumahtangga.

Orang tua bertanggung jawab terhadap anggota keluarga seperti dikatakan Becker dan Tomes (1976) mengasumsikan bahwa orang tua akan berkonsentrasi membiayai anggota keluarganya (anak-anaknya). Perhatian keluarga difokuskan kepada pengembangan bagi anak-anaknya dan seluruh anggota keluarga. Semakin tinggi jumlah anggota keluarga, semakin tinggi kewajiban orang tua untuk memberikan pendidikan kepada anak-anaknya. Berkaitan dengan itu, maka pendapatan rumahtangga akan digunakan untuk konsumsi termasuk investasi pendidikan. Semakin tinggi pendapatan, pengeluaran untuk investasi semakin tinggi. Berbeda dengan faktor tabungan, adalah sisa pendapatan setelah digunakan untuk pengeluaran konsumsi. Dengan asumsi pendapatan tetap, maka semakin tinggi tabungan, maka alokasi untuk investasi pendidikan semakin menurun.

Dalam mengambil keputusan rumahtangga juga mempertimbangkan perilaku anggota rumahtangga seperti pandangan terhadap pendidikan dan bagaimana hubungan anggota keluarga dengan lembaga. Pandangan anggota

(7)

keluarga terhadap kegiatan pendidikan beragam tergantung kondisi sosial ekonomi rumahtangga. Apabila petani memiliki pemahaman bahwa pendidikan itu bermanfaat, maka rumahtanga akan memutuskan untuk melakukan investasi pendidikan dan sebaliknya.

Lembaga adalah suatu tempat berkumpulnya orang-orang yang mempunyai tujuan. Dengan aktif dalam suatu lembaga, maka akan banyak diperoleh informasi positif termasuk tentang kegiatan investasi sumberdaya manusia. Hal ini memberikan dampak positif terhadap rumahtangga untuk lebih memikirkan masa depan melalui kegiatan investasi pendidikan. Seperti dikatakan Sem (2006) dalam penelitiannya menemukan bahwa penyebab rendahnya investasi sumberdaya manusia adalah karena masih rendahnya pemahaman dari keluarga atau orang tua akan pentingnya investasi pendidikan. Rumahtangga lebih tertarik untuk keperluan lain dibanding untuk keperluan investasi pendidikan. Persamaan investasi pendidikan dalam bentuk struktural dan dapat dirumuskan sebagai berikut :

INVPEN = a0+a1CPPEN+a2CP2+a3JAK+a4PERT+a5FL2+a6PEND +a7ORG+a8SULUH+a9LEMB+U1...(1 8)

Parameter dugaan hipotesis : a1, a2, a3, a4, a6, a7 , a8, a9 > 0 ; a5 < 0 dimana :

INVPEN = Investasi pendidikan rumahtangga petani (rupiah/tahun) CPPEN = Motivasi petani untuk melakukan kegiatan pendidikan (skor) CP2 = Pendidikan formal petani (tahun)

JAK = Jumlah anggota keluarga (orang)

PERT = Pendapatan rumahtangga petani (rupiah/tahun) FL2 = Jumlah tabungan rumahtangga petani (rupiah)

(8)

PEND = Pandangan rumahtangga petani terhadap pendidikan (skor) ORG = Keterlibatan dalam organisasi (skor)

SULUH = Kehadiran dalam penyuluhan (skor) LEMB = Jumlah lembaga yang dihubungi (skor) U1 = Error term

Persamaan Investasi Pelatihan

Motivasi dan pendidikan formal kepala keluarga berpengaruh positif terhadap keputusan rumahtangga untuk melakukan kegiatan pelatihan. Pengaruh hubungan dengan lembaga terkait bisa berpengaruh positif terhadap keputusan petani, apabila diasumsikan bahwa hubungan tersebut memberikan dampak positif. Jumlah anggota keluarga akan berpengaruh positif terhadap pengeluaran rumahtangga untuk kegiatan pelatihan. Anggota keluarga yang sudah dewasa akan membutuhkan keterampilan tambahan. Seperti dikatakan Huffman (1999) bahwa pelatihan sangat diperlukan untuk menunjang pendidikan formal yang sudah dimiliki petani dan keluarganya, karena pendidikan tersebut belum cukup untuk meningkatkan keterampilan petani guna kelancaran dalam melakukan pekerjaannya. Artinya belum dapat diaplikasikan dalam kehidupan kerja. Persamaan investasi pelatihan dalam bentuk struktural dan dapat dirumuskan sebagai berikut :

INVPEL = b0+b1CPPEL+b2CP2+b3JAK+b4PERT+b5FL2+b6PEL +b7ORG

+b8SULUH+b9LEMB+U2...(19) Parameter dugaan hipotesis : b1, b2, b3, b4, b6, b7, b8 , b9> 0 ; b5 < 0 dimana :

INVPEL = Investasi pelatihan rumahtangga petani (rupiah/tahun) CPPEL = Motivasi petani untuk melakukan kegiatan pelatihan (skor)

(9)

CP2 = Pendidikan formal petani (tahun) JAK = Jumlah anggota keluarga (orang)

PERT = Pendapatan rumahtangga petani (rupiah/tahun) FL2 = Jumlah tabungan rumahtangga petani (rupiah)

PEL = Pandangan rumahtangga petani terhadap pelatihan (skor) ORG = Keterlibatan dalam organisasi (skor)

SULUH = Kehadiran dalam penyuluhan (skor) LEMB = Jumlah lembaga yang dihubungi (skor) U2 = Error term

Persamaan Investasi Kesehatan

Persamaan investasi kesehatan menjelaskan keputusan rumahtangga petani untuk melakukan kegiatan kesehatan preventif yaitu kegiatan menjaga kondisi kesehatan di saat sedang sehat (tidak sakit). Investasi kesehatan ini didekati dengan jumlah pengeluaran rumahtangga yang digunakan untuk kegiatan menjaga kondisi kesehatan yang dipengaruhi oleh motivasi petani, pendidikan formal, jumlah anggota keluarga, pendapatan rumahtangga, pandangan terhadap kegiatan menjaga kesehatan dan hubungan dengan lembaga. Diasumsikan bahwa petani dan keluarganya memahami manfaat kesehatan diperoleh dari seringnya berkomunikasi dalam suatu lembaga, maka faktor yang berpengaruh diharapkan bertanda positif. Menurut Bryant (1990) walaupun memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, tetapi apabila mengesampingkan kesehatan, maka akan berpengaruh terhadap kondisi kesehatan dan terhadap jumlah waktu untuk bekerja. Persamaan investasi kesehatan dalam bentuk struktural dan dapat dirumuskan sebagai berikut.

(10)

+c7ORG+c8SULUH+c9LEMB+U3...( 20)

Parameter dugaan hipotesis : c1, c2, c3, c4, c6 , c7 , c8, c9 > 0 ; c5 < 0 dimana :

INVKES = Investasi kesehatan rumahtangga petani (rupiah/tahun) CPKES = Motivasi petani untuk melakukan kegiatan kesehatan (skor) CP2 = Pendidikan formal petani (tahun)

JAK = Jumlah anggota keluarga (orang)

PERT = Pendapatan rumahtangga petani (rupiah/tahun) FL2 = Jumlah tabungan rumahtangga petani (rupiah)

KES = Pandangan rumahtangga petani terhadap kesehatan (skor) ORG = Keterlibatan dalam organisasi (skor)

SULUH = Kehadiran dalam penyuluhan (skor) LEMB = Jumlah lembaga yang dihubungi (skor) U3

4.4.2. Analisis Perilaku Ekonomi Rumahtangga dalam Pengembangan Sumberdaya Manusia serta Kaitannya Dengan Alokasi Sumberdaya Produksi, Alokasi Pengeluaran Konsumsi dan Pendapatan Rumahtangga Petani

= Error term

Model ekonomi yang dibangun dalam penelitian ini adalah model ekonomi rumahtangga yang menggunakan sistem persamaan simultan. Sistem persamaan simultan dipilih karena dianggap dapat menggambarkan kompleksitas keterkaitan antar variabel ekonomi rumahtangga petani. Secara teoritik jumlah variabel yang menggambarkan perilaku ekonomi rumahtangga petani tidak terbatas, tetapi karena keterbataasan data, maka model dibangun disesuaikan dengan tujuan penelitian dan ketersediaan data yang relevan. Model yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari beberapa persaman struktural dan persamaan identitas, yang terbagi dalam lima blok yaitu persamaan investasi sumberdaya manusia, persamaan produksi dan penggunaan input, persamaan

(11)

curahan waktu kerja, persamaan pendapatan dan persamaan pengeluaran konsumsi.

a. Persamaan Investasi Sumberdaya Manusia : Investasi Sumberdaya Manusia

Investasi sumberdaya manusia merupakan penjumlahan investasi pendidikan, investasi pelatihan dan investasi kesehatan. Persamaan investasi sumberdaya manusia dalam bentuk identitas dan dapat dirumuskan sebagai berikut :

INVSDM = INVPEN+INVPEL+INVKES ...(21) dimana :

INVSDM = Investasi sumberdaya manusia rumahtangga petani (rupiah/tahun)

INVPEN = Investasi pendidikan rumahtangga petani (rupiah/tahun) INVPEL = Investasi pelatihan rumahtangga petani (rupiah/tahun) INVKES = Investasi kesehatan rumahtangga petani (rupiah/tahun)

Kualitas Sumberdaya Manusia

Kualitas adalah totalitas fitur dan ciri-ciri suatu produk atau jasa yang mengandalkan pada kemampuannya untuk memuaskan kebutuhan. Menurut Meier (1995) dan Mangkuprawira (2007) sumberdaya manusia dikatakan berkualitas apabila memiliki sikap semangat dalam bekerja, selalu terlibat dalam kegiatan sosial, semangat dalam merespon masalah yang dihadapi, memiliki keterampilan yang bisa digunakan untuk modal kerja dan fisik dalam kondisi sehat.

Arrow (1996) mengemukakan bahwa investasi sumberdaya manusia akan meningkatkan kualitas manusia agar mempunyai keterampilan dan kemampuan,

(12)

sehingga produktivitasnya meningkat. Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap kualitas sumberdaya manusia adalah investasi pendidikan, investasi pelatihan, investasi kesehatan, pendidikan formal petani dan pendidikan anggota keluarga. Semua faktor diharapkan bertanda positif. Persamaan kualitas sumberdaya manusia dalam bentuk struktural dan dapat dirumuskan sebagai berikut :

KSDM = e0+e1INVPEN+e2INVPEL+e3INVKES+e4CP2+e5PAK

+U5...(22 )

Parameter dugaan hipotesis : e1, e2, e3, e4, e5 > 0 dimana :

KSDM = Kualitas sumberdaya manusia (skor)

INVPEN = Investasi pendidikan rumahtangga petani (rupiah/tahun) INVPEL = Investasi pelatihan rumahtangga petani (rupiah/tahun) INVKES = Investasi kesehatan rumahtangga petani (rupiah/tahun) CP2 = Pendidikan formal petani (tahun)

PAK = Pendidikan anggota keluarga (skor) U5

Produksi Usahatani

Produksi tanaman pokok padi yang dihasilkan rumahtangga tergantung pada kualitas sumberdaya manusia, pengalaman, luas lahan, biaya input, jumlah tenaga kerja yang digunakan dan nilai alat mekanisasi yang dimiliki. Semua faktor tersebut merupakan faktor produksi yang menentukan produksi, sehingga diharapkan tandanya positif.

= Error term

(13)

Pengalaman berusahatani akan berpengaruh pada produksi, semakin berpengalaman petani akan lebih respon menghadapi permasalahan yang ada dan berusaha untuk mencari penyelesaian yang tepat. Pengaruh kualitas sumberdaya manusia dan pengalaman diharapkan bertanda positif. Persamaan produksi dalam bentuk struktural dan dapat dirumuskan sebagai berikut :

PROD = f0+f1KSDM+f2PENGL+f3LL+f4INPUT+f5TK+f6MEK +U6 ...(23) Parameter dugaan hipotesis : f1, f2, f3, f4, f5, f6 > 0

dimana :

PROD = Produksi usahatani tanaman pokok padi (rupiah/tahun) KSDM = Kualitas sumberdaya manusia (skor)

PENGL = Pengalaman petani berusahatani (tahun) LL = Luas lahan (m2)

INPUT = Biaya penggunaan bibit, pupuk, obat (rupiah/tahun) TK = Jumlah tenaga kerja (HOK/tahun)

MEK = Nilai alat mekanisasi usahatani (rupiah) U6

Biaya usahatani tanaman pokok padi dipengaruhi oleh kualitas sumberdaya manusia, produksi dan upah usahatani. Faktor produksi dan upah usahatani merupakan biaya yang harus dikeluarkan oleh rumahtangga dalam proses produksi. Semakin tinggi produksi dan upah usahatani, semakin tinggi pula biaya usahatani. Kedua faktor tersebut diharapkan bertanda positif. Pengaruh kualitas sumberdaya manusia terhadap biaya usahatani diharapkan bertanda negatif. Dengan semakin meningkat kualitas sumberdaya manusia, rumahtangga

= Error term

(14)

dapat mengoptimalkan pengelolaan usahatani dengan menggunakan input yang efektif dan efisien. Persamaan biaya usahatani dalam bentuk struktural dan dapat dirumuskan sebagai berikut :

BUT =

g0+g1KSDM+g2PROD+g3UPAHUT+U7…….…………...(24) Parameter dugaan hipotesis : g2, g3 > 0 ; g1 < 0

dimana :

BUT = Biaya usahatani tanaman pokok padi (rupiah/tahun) KSDM = Kualitas sumberdaya manusia (skor)

PROD = Produksi usahatani tanaman pokok padi (rupiah/tahun) UPAHUT = Upah usahatani (rupiah/HOK)

U7

Dalam rangka mencari penghasilan, rumahtangga dihadapkan pada pilihan. Apabila jumlah waktu kerja pada usahatani lebih besar, maka permintaan

= Error term

Permintaan Tenaga Kerja Luar Keluarga

Permintaan tenaga kerja luar keluarga dinyatakan dalam hari orang kerja per tahun, yang besarnya dipengaruhi oleh faktor kualitas sumberdaya manusia, produksi dan upah usahatani. Secara teori permintaan berhubungan dengan harga, permintaan tenaga kerja (upahan) akan semakin kecil apabila upah yang berlaku semakin tinggi, sehingga tanda yang diharapkan negatif. Rumahtangga akan memilih mengelola usahatani sendiri dibandingkan mempekerjakan tenaga kerja luar keluarga untuk menghemat biaya upah tenaga kerja. Untuk meningkatkan produksi memerlukan tambahan input termasuk tenaga kerja, sehingga produksi berhubungan positif dengan permintaan tenaga kerja luar keluarga.

(15)

tenaga kerja luar keluarga akan menurun, sehingga tanda yang diharapkan adalah negatif. Apabila kualitas anggota rumahtangga semakin tinggi, maka akan mempunyai banyak kesempatan untuk bekerja di luar usahatani, dengan penghasilan yang lebih tinggi. Persamaan permintaan tenaga kerja luar keluarga dalam bentuk struktural dan dapat dirumuskan sebagai berikut :

TKLK = h0+h1KSDM+h2PROD+h3CUT+h4UPAHUT +U8...(25)

Parameter dugaan hipotesis : h1, h2 > 0 ; h3, h4 < 0 dimana :

TKLK = Permintaan tenaga kerja luar keluarga dalam ustan tanaman pokok padi (HOK/tahun)

KSDM = Kualitas sumberdaya manusia (skor)

PROD = Produksi usahatani tanaman pokok padi (rupiah/tahun) CUT = Curahan waktu kerja usahatani (jam/minggu)

UPAHUT = Upah usahatani (rupiah/HOK) U8

Curahan waktu kerja usahatani dapat dianggap sebagai penawaran tenaga kerja keluarga pada usahatani dengan tingkat upah usahatani yang berlaku. Secara teori penawaran tenaga kerja akan berhubungan positif dengan upah. Semakin tinggi upah usahatani semakin tinggi curahan waktu kerja pada usahatani, dengan demikian pendapatan usahatani akan meningkat. Begitu juga dengan upah tenaga kerja (luar usahatani) yang berlaku akan berpengaruh berbeda dengan upah usahatani terhadap curahan waktu pada usahatani, sehingga tanda yang

= Error term

c. Persamaan Curahan Waktu Kerja : Curahan Waktu Kerja Usahatani

(16)

diharapkan adalah negatif. Curahan waktu kerja ke luar usahatani merupakan substitusi curahan waktu kerja pada usahatani. Waktu akan dicurahkan lebih banyak pada kegiatan yang memberikan imbalan yang lebih tinggi.

Perilaku petani juga dipengaruhi oleh karakteristik usahatani dan karakteristik individu. Kualitas sumberdaya manusia, pengalaman dan umur mencerminkan kemampuan fisik dalam bekerja. Semakin tinggi usia semakin kecil curahan waktu kerja. Sedangkan semakin tinggi pengalaman semakin tinggi curahan waktu kerjanya. Demikian pula kualitas sumberdaya manusia, semakin petani berkualitas akan lebih banyak kesempatan untuk bekerja di luar usahatani, tanda yang diharapkan adalah negatif. Seperti penelitian yang dilakukan Lockheed (1980), pendidikan formal berdampak positif pada kegiatan luar usahatani dan mampu menggeser sumberdaya tenaga kerja dari usaha tani ke luar usahatani. Persamaan curahan waktu kerja usahatani dalam bentuk truktural dan dapat dirumuskan sebagai berikut :

CUT = j0+j1KSDM+j2UM+j3PENGL+j4UPAHTK+j5UPAHUT +U9...(26)

Parameter dugaan hipotesis : j3, j5 > 0 ; j1, j2,j4 < 0 dimana :

CUT = Curahan waktu kerja usahatani (jam/minggu) KSDM = Kualitas sumberdaya manusia (skor)

UM = Umur petani (tahun) PENGL = Pengalaman petani (tahun) UPAHUT = Upah usahatani (rupiah/HOK) UPAHTK = Upah tenaga kerja (rupiah/HOK) U9 = Error term

(17)

Curahan Waktu Kerja Luar Usahatani

Seperti halnya curahan waktu kerja usahatani, faktor curahan waktu kerja luar usahatani juga dianggap sebagai penawaran tenaga kerja yang dipengaruhi oleh kualitas sumberdaya manusia, umur petani, upah tenaga kerja, penerimaan usahatani, pendapatan luar usahatani dan total pengeluaran. Faktor upah diharapkan berpengaruh secara positif terhadap curahan waktu kerja luar usahatani. Apabila penerimaan usahatani belum dapat memenuhi kebutuhan rumahtangga, maka petani dan keluarganya akan mencari tambahan penghasilan ke luar usahatani, tanda yang diharapkan adalah negatif. Curahan waktu kerja luar usahatani juga dipengaruhi oleh kompensasi lain yaitu pendapatan luar usahatani. Penelitian Lockheed (1980) mengatakan pendidikan formal berdampak positif pada kegiatan luar usahatani dan mampu menggeser sumberdaya tenaga kerja dari usaha tani ke luar usahatani. Petani yang bekerja di luar usahatani mencari tambahan pendapatan untuk mencakup kebutuhan rumahtangga. Semakin tinggi total pengeluaran rumahtangga petani akan semakin tinggi pula curahan waktu kerja luar usahatani.

Curahan waktu kerja luar usahatani ditentukan juga oleh kualitas sumberdaya manusia, tanda yang diharapkan adalah positif. Sedangkan umur akan berpengaruh negatif, semakin tunggi usia petani, kemampuan kerja akan semakin menurun. Persamaan curahan waktu kerja luar usahatani dalam bentuk struktural dan dapat dirumuskan sebagai berikut :

(18)

+k6TOPENG+U10...(2 7)

Parameter dugaan hipotesis : k1, k3, k5, k6 > 0 ; k2, k4

CNUT = Curahan waktu kerja luar usahatani (jam/minggu) KSDM = Kualitas sumberdaya manusia (skor)

UM = Umur petani (tahun)

UPAHTK = Upah tenaga kerja (rupiah/HOK) PNRUT = Penerimaan usahatani (rupiah/tahun) PENUT = Pendapatan luar usahatani (rupiah/tahun) TOPENG = Total pengeluaran (rupiah/tahun)

U

< 0 dimana :

10

Semakin tinggi upah dan waktu yag dicurahkan pada kegiatan usahatani, semakin tinggi pendapatan usahatani. Begitu juga produksi dengan asumsi harga output tetap, semakin tinggi produksi maka pendapatan usahatani akan meningkat. Semua faktor yang berpengaruh diharapkan bertanda positif. Persamaan

= Error term

c. Persamaan Pendapatan : Pendapatan Usahatani

Pendapatan usahatani adalah gabungan dari pendapatan usahatani keluarga dan luar keluarga. Pendapatan usahatani dipengaruhi oleh kualitas sumberdaya manusia, curahan waktu kerja usahatani, produksi dan upah usahatani. Teori human capital membuktikan bahwa peningkatan kemampuan atau skill seorang pekerja berkorelasi positif dengan kenaikan tingkat pendapatan (Simanjuntak, 1985).

(19)

pendapatan usahatani dalam bentuk struktural dan dapat dirumuskan sebagai berikut :

PEUT =

l0+l1KSDM+l2CUT+l3PROD+l4UPAHUT+U11….. ...(28)

Parameter dugaan hipotesis : l1, l2 ,l3 , l4 > 0 dimana :

PEUT = Pendapatan usahatani (rupiah/tahun) KSDM = Kualitas sumberdaya manusia (skor)

CUT = Curahan waktu kerja usahatani (jam/minggu)

PROD = Produksi usahatani tanaman pokok padi rupiah/tahun) UPAHUT = Upah usahatani (rupiah/HOK)

U11

Pendapatan luar usahatani berhubungan dengan upah tenaga kerja. Semakin tinggi upah semakin tinggi pula pendapatan luar usahatani yang diperoleh rumahtangga petani. Faktor lain yang berpengaruh terhadap pendapatan luar usahatani adalah kualitas sumberdaya manusia dan curahan waktu kerja luar usahatani. Apabila waktu kerja luar usahatani lebih besar dibanding waktu kerja kegiatan usahatani dan waktu kegiatan sehari-hari dalam rumah dengan asumsi upah tenaga kerja tetap, maka pendapatan luar usahatani semakin tinggi. Tanda yang diharapkan adalah positif. Semakin tinggi kualitas sumberdaya manusia, maka anggota rumahtangga akan lebih banyak mencurahkan waktunya ke luar usahatani. Tanda yang diharapkan adalah positif. Persamaan pendapatan luar usahatani dalam bentuk struktural dan dapat dirumuskan sebagai berikut :

= Error term

(20)

PENUT =

o0+o1KSDM+o2CNUT+o3UPAHTK+U12...(29) Parameter dugaan hipotesis : o1, o2, o3 > 0

dimana :

PENUT = Pendapatan luar usahatani (rupiah/tahun) KSDM = Kualitas sumberdaya manusia (skor)

CNUT = Curahan waktu kerja luar usahatani (jam/minggu) UPAHTK = Upah tenaga kerja (rupiah/HOK)

U12 = Error term

Pendapatan Rumahtangga Petani

Pendapatan rumahtangga petani merupakan penjumlahan pendapatan usahatani, luar usahatani dan pendapatan lain-lain yaitu pemberian dari anggota keluarga yang sudah bekerja dan bantuan dana dari pemerintah yang diperhitungkan dalam rupiah. Persamaan pendapatan rumahtangga petani dalam bentuk identitas dan dapat dirumuskan sebagai berikut :

PERT = PEUT+PENUT+LAIN………..….………(30) dimana :

PERT = Pendapatan rumahtangga petani (rupiah/tahun) PEUT = Pendapatan usahatani (rupiah/tahun)

PENUT = Pendapatan luar usahatani (rupiah/tahun) LAIN = Pendapatan dari sumber lainnya (rupiah/tahun)

d. Persamaan Pengeluaran Konsumsi : Pengeluaran Konsumsi Pangan

(21)

Pengeluaran konsumsi pangan adalah gabungan dari permintaan rumahtangga terhadap pangan yang dibeli dari pasar dan dari produksi usaha sendiri. Produksi usaha keluarga sebagian dijual ke pasar sebagian dikonsumsi sendiri, sehingga produksi yang dijual diharapkan bertanda negatif. Jumlah anggota keluarga dan pendapatan yang semakin tinggi akan meningkatkan konsumsi pangan seperti dinyatakan Suhardjo (1996) dalam Pranadji, et al. (2001). Semakin berkualitas rumahtangga akan bisa mengatur jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi. Di lihat dari sisi alokasi pengeluaran konsumsi, maka semakin tinggi kualitas sumberdaya manusia, konsumsi pangan akan menurun (Sumarwan, 1993). Persamaan pengeluaran konsumsi pangan dalam bentuk struktural dan dapat dirumuskan sebagai berikut :

KOP = p0+p1KSDM+p2PRODD+ p3JAK+

p4PERT+U13...(31)

Parameter dugaan hipotesis : p3 , p4 > 0 ; p1 , p2 < 0 dimana :

KOP = Pengeluaran konsumsi pangan (rupiah/tahun) KSDM = Kualitas sumberdaya manusia (skor)

PRODD = Produksi yang dijual (rupiah/tahun) JAK = Jumlah anggota keluarga (orang)

PERT = Pendapatan rumahtangga petani (rupiah/tahun) U13

Pengeluaran konsumsi bukan pangan merupakan permintaan rumahtangga terhadap produk bukan pangan. Diduga dipengaruhi oleh kualitas sumberdaya manusia, jumlah anggota keluarga dan pendapatan. Jumlah anggota keluarga

= Error term

(22)

diduga akan berpengaruh positif terhadap pengeluaran konsumsi bukan pangan. Semakin besar jumlah anggota keluarga, akan semakin tinggi pengeluaran konsumsi bukan pangan. Begitu juga semakin tinggi pendapatan rumahtangga, maka akan semakin tinggi pengeluaran konsumsi bukan pangan. Seperti dikatakan Harianto (2007) dengan meningkatnya pendapatan dan kesejahteraan petani maka dapat meningkatkan permintaan barang bukan pangan. Dengan semakin tinggi kualitas sumberdaya manusia, maka akan semakin tinggi kebutuhan konsumsi bukan pangan. Ketiga faktor tersebut diharapkan bertanda positif. Persamaan pengeluaran konsumsi bukan pangan dalam bentuk struktural dan dapat dirumuskan sebagai berikut :

KONP = q0+q1KSDM+q2JAK+q3PERT+ U14...(32)

Parameter dugaan hipotesis : q1, q2, q3 > 0 dimana :

KONP = Pengeluaran konsumsi bukan pangan (rupiah/tahun) KSDM = Kualitas sumberdaya manusia (skor)

JAK = Jumlah anggota keluarga (orang)

PERT = Pendapatan rumahtangga petani (rupiah/tahun) U14

TOPENG = INVSDM +KOP+KONP+PLAIN...(33) = Error term

Total Pengeluaran

Total pengeluaran merupakan penjumlahan dari pengeluaran konsumsi pangan, konsumsi bukan pangan, pengeluaran lain-lain dan investasi sumberdaya manusia. Persamaan total pengeluaran dalam bentuk identitas dan dapat dirumuskan sebagai berikut :

(23)

dimana :

TOPENG = Total pengeluaran (rupiah/tahun)

INVSDM = Investasi sumberdaya manusia (rupiah/tahun) KOP = Pengeluaran konsumsi pangan (rupiah/tahun) KONP = Pengeluaran konsumsi bukan pangan (rupiah/tahun) PLAIN = Pengeluaran lain-lain (rupiah/tahun)

4.4.3. Identifikasi dan Metode Estimasi Model

Sebelum melakukan pendugaan model, terlebih dahulu dilakukan identifikasi model guna mengetahui metode pendugaan model yang tepat (Koutsoyiannis, 1977). Model yang dirumuskan dalam penelitian ini adalah model ekonomi rumahtangga petani yang terdiri dari sepuluh persamaan struktural dan tiga persamaan identitas. Identifikasi terhadap model tersebut dilakukan dengan order condition seperti berikut ini :

Over identified : (K – M) > (G – 1) Exactly identified : (K – M) = (G – 1) Under identified : (K – M) < (G – 1) dimana :

K = jumlah variabel dalam model, yaitu variabel endogen dan predeterminan.

M = jumlah variabel endogen dan eksogen dalam setiap persamaan tertentu dalam model.

G = jumlah persamaan dalam model atau jumlah variabel endogen dalam model.

Sesuai dengan permasalahan penelitian, maka analisis data yang dilakukan dibagi menjadi dua bagian. Analisis perilaku ekonomi rumahtangga dalam pengembangan sumberdaya manusia serta kaitannya dengan alokasi sumberdaya

(24)

produksi, alokasi pengeluaran konsumsi dan pendapatan rumahtangga petani dilakukan dengan model persamaan simultan dan metoda pendugaan 2 SLS (Two-Stage Least Squares). Dalam penelitian ini pengolahan data dilakukan dengan menggunakan program SAS/ETS dengan prosedur SYSLIN. Sedangkan analisis faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keputusan rumahtangga petani untuk melakukan kegiatan pengembangan sumberdaya manusia dilakukan dengan menggunakan model persamaan tunggal dan metoda pendugaan OLS (Ordinary Least Squares). Faktor-faktor yang berpengaruh dianalisis dengan tingkat signifikan sampai tingkat α ≤ 10 persen, artinya penelitian ini dapat menerima kesalahan sampai 10 persen. Alasan yang digunakan karena analisis rumahtangga sangat bervariasi dan data yang digunakan merupakan data cross section. Tingkat signifikan (uji-t) yang dihasilkan komputer merupakan pengujian dua arah (two-theil), sedangkan penelitian ini hanya menginginkan pengujian satu arah (one-theil). Dengan demikian hasil dari komputer akan dibagi dua sehingga diperoleh tingkat signifikan yang satu arah.

4.5. Definisi Variabel dan Satuan Pengukuran

Pada analisis empirik perilaku ekonomi rumahtangga dalam pengembangan sumberdaya manusia diperlukan uraian beberapa konsep variabel yang digunakan dan satuan pengukurannya sebagai berikut :

1. Investasi pendidikan adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia melalui pendidikan. Investasi pendidikan diukur dengan jumlah pengeluaran dana yang dialokasikan untuk kegiatan pendidikan (pendidikan formal) bagi anggota rumahtangga yang

(25)

berumur ≥ 10 tahun, baik dana yang berasal dari rumahtangga maupun dana yang berasal dari luar (subsidi), yang diukur dalam rupiah per tahun.

2. Investasi pelatihan adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia melalui pelatihan. Investasi pelatihan diukur dengan jumlah pengeluaran dana yang dialokasikan untuk kegiatan pelatihan anggota rumahtangga yang sudah dewasa (≥ 10 tahun), baik dana yang berasal dari rumahtangga maupun dana yang berasal dari luar (subsidi), yang diukur dalam rupiah per tahun.

3. Investasi kesehatan adalah suatu kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumberdaya manusia melalui kegiatan untuk menjaga kesehatan. Investasi kesehatan ini diukur dengan jumlah pengeluaran dana yang dialokasikan untuk kegiatan yang berhubungan dengan kesehatan, menjaga kesehatan di saat kondisi sehat (preventif) bagi anggota rumahtangga yang berumur ≥ 10 tahun, baik dana yang berasal dari rumahtangga maupun dana yang berasal dari luar (subsidi/Askes), yang diukur dalam rupiah per tahun. 4. Produksi usahatani adalah seluruh produksi yang dihasilkan dari usahatani

sendiri yang terdiri dari tanaman pokok padi, baik di lahan milik sendiri maupun sewa, yang diukur dalam rupiah per tahun. Produksi usahatani ini ada yang dijual, ada yang dikonsumsi sendiri dan sebagian dijadikan benih untuk masa tanam berikutnya.

5. Luas lahan adalah lahan yang ditanami petani dengan tanaman pokok padi, yang diukur dengan meter persegi (m2).

(26)

6. Input usahatani adalah seluruh biaya yang digunakan petani untuk keperluan benih, pupuk, obat untuk tanaman pokok padi (serta input usahatani lainnya), yang diukur dalam rupiah per tahun.

7. Mekanisasi usahatani adalah peralatan usahatani yang dimiliki petani dan yang digunakan sehari-hari oleh petani, yang diukur dalam rupiah.

8. Upah usahatani dan upah di luar usahatani, yang dimaksud adalah rata-rata upah yang berlaku pada kegiatan usahatani dan rata-rata upah yang berlaku pada kegiatan di luar usahatani, yang diukur dalam rupiah per HOK.

9. Curahan waktu kerja usahatani adalah seluruh waktu anggota keluarga yang dicurahkan untuk usahatani, baik usahatani keluarga maupun luar keluarga, yang diukur dalam jam per minggu. Curahan waktu ini merupakan gabungan dari curahan waktu yang dipergunakan untuk kegiatan usahatani milik keluarga baik tanaman, peternakan, perikanan dan kegiatan usahatani luar keluarga.

10. Curahan waktu kerja luar usahatani adalah seluruh waktu anggota keluarga yang dicurahkan untuk kegiatan luar usahatani, baik usaha keluarga maupun luar keluarga, yang diukur dalam jam per minggu.

11. Penerimaan usahatani adalah seluruh produksi yang dihasilkan dari kegiatan usahatani keluarga (tanaman, peternakan dan perikanan), yang diukur dalam rupiah per tahun.

12. Pendapatan usahatani adalah pendapatan yang diperoleh rumahtangga petani dari usahatani, baik dari usahatani keluarga sendiri, maupun usaha tani luar keluarga, yang diukur dalam rupiah per tahun.

(27)

13. Pendapatan luar usahatani adalah pendapatan yang diperoleh rumahtangga petani dari kegiatan luar usahatani, baik dari kegiatan keluarga sendiri, maupun kegiatan luar keluarga, yang diukur dalam rupiah per tahun.

14. Pengeluaran konsumsi pangan adalah jumlah pengeluaran yang digunakan untuk keperluan konsumsi pangan, termasuk konsumsi dari hasil usahataninya sendiri, yang diukur dalam rupiah per tahun.

15. Pengeluaran konsumsi bukan pangan adalah jumlah pengeluaran yang digunakan untuk keperluan konsumsi bukan pangan, tidak termasuk yang digunakan untuk kegiatan yang bersifat investasi, yang diukur dalam rupiah per tahun.

16. Motivasi petani adalah dorongan yang mempengaruhi petani untuk melakukan investasi sumberdaya manusia diukur dengan skor sesuai teori motivasi. Nilai rendah sampai tinggi menunjukkan urutan bahwa yang nilai tinggi lebih baik dari nilai rendah. Petani yang tidak mempunyai keinginan untuk melakukan kegiatan investasi akan dinilai satu, petani melakukan kegiatan investasi untuk mendapatkan hasil yang dapat memenuhi kebutuhan dasar dinilai dua, nilai yang lebih tinggi lagi diberikan pada petani yang melakukan kegiatan investasi karena harga diri (nilai 3), karena petani bertujuan agar bisa mandiri dan berpengetahuan (nilai 4) dan mau melakukan kegiatan investasi karena melihat masa depan agar petani bisa hidup lebih sejahtera dinilai 5.

17. Pandangan rumahtangga petani terhadap kegiatan pengembangan sumberdaya manusia adalah pemahaman petani dan keluarganya terhadap kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan investasi sumberdaya manusia, diukur dengan skor dari rendah sampai tinggi. Nilai tinggi menunjukkan lebih baik

(28)

dari nilai yang lebih rendah. Apabila petani mengatakan kegiatan pengembangan sumberdaya manusia tidak ada manfaatnya dinilai satu, dinilai lebih tinggi lagi apabila melihat bahwa pengembangan sumberdaya manusia bermanfaat untuk masa depan.

18. Kualitas sumberdaya manusia adalah kualitas dari anggota rumahtangga, yang mencakup bagaimana sikap bekerja, rasa keterlibatan sosial, respon terhadap masalah yang dihadapi, kondisi kesehatan, keterampilan yang dimiliki yang diukur dengan skor.

a. Sikap bekerja adalah perilaku petani dan keluarganya dalam melakukan kegiatan guna memperoleh penghasilan. Anggota rumahtangga yang selalu bersemangat dalam bekerja mempunyai nilai lebih tinggi dibanding anggota rumahtangga yang kurang semangat. Semangat ditunjukkan dengan selalu mencari informasi yang berkaitan dengan pekerjaannya kepada pihak-pihak yang lebih mampu. Selalu mencari ide baru untuk meningkatkan produktivitas dan tidak mengenal lelah dalam bekerja. b. Rasa keterlibatan sosial yang dimaksud adalah bagaimana petani dan

keluarganya terlibat di dalam masyarakat, yang diukur dengan frekuensi keterlibatan petani dalam kegiatan sosial. Apabila dalam satu bulan melakukan beberapa kegiatan lebih dari 1, maka dinilai lebih tinggi dibanding mereka yang hanya kadang-kadang terlibat dalam kegiatan sosial.

c. Respon terhadap masalah yang dihadapi adalah bagaimana perilaku petani dan keluarganya dalam menghadapi masalah. Petani dan keluarganya yang ketika menghadapi masalah selalu berpikiran positif dan selalu berusaha

(29)

mencari pemecahannya dinilai lebih tinggi dibanding anggota rumahtangga yang tidak segera berusaha mencari pemecahannya apabila menghadapi masalah.

d. Kondisi kesehatan dapat menunjukkan bagaimana aktivitas sehari-hari rumahtangga. Petani dan keluarganya yang mempunyai kondisi kesehatan baik dan tidak memiliki penyakit serius dinilai lebih baik dibanding anggota rumahtangga yang kondisi kesehatannya tidak baik.

e. Keterampilan aggota rumahtangga adalah keterampilan di luar usaha tani yang dimiliki petani dan keluarganya, semakin banyak jumlah keterampilan yang dimiliki semakin mempunyai nilai yang tinggi.

Untuk variabel yang kualitatif digunakan pengukuran Skala Likert, cara penilaiannya dapat dilihat pada Lampiran 1.

Referensi

Dokumen terkait

Dari pengamatan terhadap realisasi pragmatik imperatif Kunjana Rahardi pada penulis rubrik “Surat Pembaca”, dapat disimpulkan (1) dalam surat pembaca tersebut

Teknik yang digunakan untuk membuat model jadwal yang kegiatannya direpresentasikan oleh node (titik) dan dalam grafiknya dihubungkan oleh satu atau lebih hubungan

Daging dapat didefinisikan sebagai kumpulan sejumlah otot yang berasal dari ternak yang sudah disembelih dan otot tersebut sudah mengalami perubahan biokimia dan biofisik

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan di SSB Kabupaten Kudus dapat disimpulkan bahwa: Pembinaan SSB di Kabupaten Kudus belum berkriteria baik

Pada hal ini pengumpulan data observasi lapangan ini dilakukan di wilayah Bandung Barat untuk menemukan data faktual terkait dengan kondisi kebutuhan akan tanaman

Jika kita mempunyai variabel A yang bertipe array yang berisi 5 elemen dari tipe int, maka untuk mengakses elemen-elemen array tersebut kita dapat juga menggunakan pointer (misalnya

132 Aditya Alhudri Pratama SMP Negeri 1 Tanjung Raja 306 Adrian Pratama SMP Negeri 1 Tanjung Raja 232 Agus Bayu Saputra SMP Negeri 2 Tanjung Raja 148 Agustian Hidaya Dwi Saputra

Sasaran perusahaan tersebut adalah pertumbuhan atau nilai yang berkelanjutan, dan keseimbangan dalam nilai &#34;stake ~older&#34; (pribadi dan sosial). Charles Kandy 'berkata