Puslitbang tekMIRA Jl. Jend. Sudirman No. 623 Bandung 40211 Telp : 022-6030483 Fax : 022-6003373 E-mail : [email protected]
LAPORAN 2016
Kelompok Pelaksana Litbang Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan BatubaraPENGEMBANGAN PEMBAKARAN BATUBARA MODEL
SIKLON UNTUK SUBTITUSI BAHAN BAKAR MINYAK DAN
BAHAN BAKAR GAS PADA BOILER
Oleh : Ikin Sodikin, Nining S. Ningrum, Sumaryono, Datin F. Umar, Gandhi K. Hudaya,M. Mujib, Tia Siti Syarifah, Aat, Sudirman, Jejen Supriatna, Amjah, Muhamad Dinar, Eko Yulianto, Sandy Ramdhani, Sukarya, Denni Eka, dan Dwi Riyanto
PUSLITBANG TEKNOLOGI MINERAL DAN BATUBARA - tekMIRA 2016
i
KATA PENGANTAR
Tulisan ini merupakan laporan hasil kegiatan penelitian dari Kelompok Program Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Batubara mengenai Pengembangan Pembakaran Batubara Model Siklon untuk Substitusi Bahan Bakar Minyak dan Bahan Bakar Gas pada Boiler PLTU sub judul Penerapan dan Pengembangan Pembakar Siklon di Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) dan Pondok Pesantren (Ponpes) Jawa Barat serta Kajian Tekno Ekonomi dan Logistik Teknologi Pembakar Siklon pada UMKM dan Ponpes di Pulau Jawa. Kegiatan ini merupakan aplikasi pembakar siklon batubara/batubara-biomasa untuk substitusi Bahan Bakar Minyak dan Gas (BBMG) pada UMKM. Lebih jauh lagi pembakar siklon diharapkan dapat menjadi tungku alternatif pengganti tungku berbahan bakar kayu dan liquid petroleum gas (LPG) di masyarakat industri.
Kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu sehingga kegiatan Tim Pengembangan dan Penerapan Pembakar Siklon Batubara di UMKM dan Ponpes dapat berjalan dengan baik. Mudah-mudahan laporan ini dapat bermanfaat dalam menunjang program pemanfaatan batubara untuk industri di masyarakat.
Bandung, Desember 2016
Kepala Puslitbang Teknologi Mineral dan Batubara
Ir. Dede Ida Suhendra, M.Sc. NIP. 19572612 198703 1001
ii SARI
Pemerintah melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian ESDM yaitu Puslitbang tekMIRA sejak tahun 2014 telah menerapkan teknologi pembakar siklon. Lokasi penerapan teknologi untuk tahun 2016 terpusat di 3 lokasi di Provinsi Jawa Barat, yakni di UMKM Keramik di Ciwastra, UMKM Jamur Tiram di Subang dan UMKM pencucian pakaian blue jeans di Soreang. Pembakar siklon yang diterapkan di UMKM ini berkapasitas 50 kg/jam dan 120 kg/jam, yang mampu membakar batubara dari peringkat rendah sampai tinggi dengan stabil, baik yang berkadar abu tinggi maupun sangat rendah. Ukuran butir batubara diperkecil sampai -0,5 mm atau -30 mesh. Pembakaran dapat dilakukan tanpa udara sekunder, karena di dalam ruang bakar sudah dicapai kondisi turbulensi yang tinggi. Tungku ini diharapkan menjadi alternatif pengganti liquid petroleum gas (LPG) atau kayu bakar di masyarakat. Pembakar siklon bertemperatur antara 1.200ºC sampai 1.350ºC dengan kandungan panas yang besar, karena dibuat dari refraktori yang tebal. Bahan bakar yang digunakan adalah batubara atau campuran batubara - biomassa (serbuk kayu), yang merupakan bahan bakar alternatif masa depan yang baik juga untuk bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), karena penambahan biomassa ke dalam bahan bakar batubara dapat mengurangi emisi belerang dan CO2. Tujuan penelitian ini adalah meningkatkan konsumsi batubara domestik dan
memaksimalkan teknologi pengolahan batubara dalam negeri melalui penerapan pembakar siklon di UMKM dan Ponpes Jawa Barat serta mengkaji tekno ekonomi dan logistik penerapan teknologi pembakar siklon di Pulau Jawa. Hasil ujicoba pembakar siklon berbahan bakar campuran batubara dan serbuk kayu memberi beberapa keuntungan dibandingkan dengan menggunakan tungku biasa berbahan gas LPG dan kayu bakar yakni pembakaran untuk mencapai suhu tertentu lebih cepat dan biayanya lebih murah. Begitu juga Emisi dari pembakar siklon masih di bawah baku mutu yang dipersyaratkan dalam Permen LH Nomor 7 Tahun 2007 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak. Hasil uji partikulat dibandingkan dengan baku mutunya untuk bahan bakar batubara menunjukkan nilai sekitar 81% dan untuk bahan bakar campuran batubara dan serbuk kayu sekitar 59%. Hasil uji karakteristik partikulat menunjukkan bahwa 18,415% SiO2 terkandung dalam partikulat hasil pembakaran yang menggunakan bahan
bakar batubara, SiO2 ini dapat berbahaya bila terendapkan pada manusia dalam jangka waktu
yang lama. Secara ekonomi, penggunaan pembakar siklon sangat menguntungkan bagi industri kecil dan menengah. Dalam skenario pesimis, bisnis pembakar siklon dapat menghasilkan IRR sebesar 39,21 % dengan pengembalian modal dalam waktu 2 tahun 1 bulan.
iii DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar ... i
Sari ... ii
Daftar Isi ... iii
Daftar Tabel ... v
Daftar Gambar ...vi
I. PENDAHULUAN ... 1 1.1 Dasar Hukum ... 1 1.2 Latar Belakang ... 1 1.3 Ruang Lingkup ... 4 1.4 Tujuan ... 4 1.5 Sasaran ... 5 1.6 Lokasi Kegiatan ... 5 1.7 Penerima manfaat ... 5
II. TINJAUAN PUSTAKA ... 6
III. PROGRAM KEGIATAN ... 10
3.1 Batubara ... 10
3.2 Persiapan ... 10
3.3 Konstruksi Pembakar Batubara di UMKM Jawa Barat ... 10
3.4 Uji Coba Kehandalan Pembakar Batubara Siklon di 3 UMKM di Jawa Barat ... 10
3.5 Kajian Tekno Ekonomi dan Logistik Penerapan Teknologi Pembakar Siklon di Pulau Jawa ... 10
3.6 Evaluasi dan Pembuatan Laporan ... 10
IV. METODOLOGI ... 11
4.1 Pembangunan Pembakar Siklon ... 11
4.1.1 Bahan ... 11
4.1.2 Metodologi Penelitian ... 11
4.1.3 Tahap Kegiatan yang Dilakukan ... 11
4.2 Uji Emisi ... 12
iv
4.2.2 Bahan ... 12
4.2.3 Tahap Kegiatan Uji Emisi ... 13
V. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 15
5.1 Karakteristik Bahan bakar ... 15
5.2 Survei lokasi untuk penerapan pembakar siklon di UMKM Jawa Barat dan Bengkulu ... 18
5.2.1 Koordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi (Disperindag) Jawa Barat ... 18
5.2.2 Survei di Bengkulu ... 19
5.2.3 Survei di Subang ... 20
5.2.4 Survei di Purwakarta ... 21
5.2.5 Survei di Bogor dan Sukabumi ... 22
5.2.6 Survei di Garut ... 23
5.2.7 Survei di Tasikmalaya ... 25
5.2.8 Survei di Indramayu dan Cirebon ... 26
5.2.9 Survei di Semarang ... 27
5.2.10 Survei di Kabupaten Bandung dan Bandung Barat ... 29
5.3 Penerapan pembakar siklon di Tiga UMKM Jawa Barat ... 30
5.4 Uji emisi pembakaran batubara menggunakan pembakar siklon di IKM Kecap ... 39
5.5 Kajian Tekno Ekonomi & Logistik Teknologi Pembakar Siklon Pada UMKM dan Ponpes di Pulau Jawa ... 49
VI. KESIMPULAN DAN SARAN ... 55
6.1 Kesimpulan ... 55
6.2 Saran ... 55
v DAFTAR TABEL
Tabel ... Halaman
2.1 Efisiensi Energi Pendidihan Air ... 7
4.1 Metode Pengukuran Emisi ... 13
4.2 Kondisi Pembakaran ... 14
5.1 Hasil Analisis Ultimat Proksimat Batubara, Serbuk Kayu dan Campuran Batubara dengan Serbuk Kayu ... 15
5.2 Hasil Analisis Komposisi Abu dan Unsur – Unsur Lainnya untuk Batubara dan Campuran Batubara Dengan Serbuk Kayu ... 15
5.3 Daftar IKM Terpilih untuk Penerapan Pembakar Siklon ... 30
5.4 Kandungan Material Anorganik dalam Bahan Bakar ... 40
5.5 Hasil Pengukuran Emisi dengan Menggunakan Bahan Bakar Batubara ... 41
5.6 Emisi Pembakaran Menggunakan Bahan Bakar Campuran Batubara dan Serbuk Kayu ... 42
5. 7 Karakteristik Partikulat ... 44
5.8 Tingkat Paparan SiO2 di Udara ... 45
5.9 Karakteristik Abu Pembakaran (bottom) ... 46
5.10 Karakteristik Terak ... 48
5.11 Aplikasi Pembakar Siklon di Industri ... 50
5.12 Investasi Pembakar Siklon ... 51
5.13 Perhitungan Arus Kas ... 52
vi
DAFTAR GAMBAR
Gambar ... Halaman 5.1 Pengarahan dari Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi
Mineral dan Batubara di depan para pengusaha UMKM ... 18
5.2 Koordinator Kelompok Pelaksana Litbang (KP3) Teknologi Pengolahan dan Pemanfaatan Batubara di depan para pengusaha UMKM Jawa Barat ... 19
5.3 Kegiatan Pembuatan Pembakar Siklon di UMKM Keramik Ciwastra ... 33
5.4 Perbandingan Pembakaran Keramik dengan Menggunakan LPG dan Pembakar Siklon ... 34
5.5 Kegiatan Pembuatan Pembakar Siklon di UMKM Jamur Tiram Subang ... 36
5.6 UMKM Pencucian Blue Jeans di Soreang ... 38
5.7 Foto Bahan Bakar yang digunakan dalam Pengukuran Emisi ... 40
5.8 Foto Partikulat dari Hasil Pembakaran dengan Menggunakan Kedua Jenis Bahan Bakar ... 43
5.9 Foto Abu Sisa Pembakaran Menggunakan Kedua Jenis Bahan Bakar ... 46
5.10 Foto Percontoh Terak Pembakaran ... 47
1
I. PENDAHULUAN
1.1 Dasar Hukum
Undang-Undang Republik Indonesia No. 30 Tahun 2007 tentang energi mengamanatkan penghapusan subsidi energi secara selektif. Pasal 7 ayat 1 berbunyi bahwa harga energi ditetapkan berdasarkan nilai keekonomian berkeadilan dan Pasal 7 ayat 2 undang-undang ini berbunyi pemerintah dan pemerintah daerah menyediakan dana subsidi untuk kelompok masyarakat tidak mampu. Dalam rangka implementasi Undang-Undang tersebut perlu ditawarkan alternatif energi dengan harga tanpa subsidi tetapi tetap relatif murah yaitu energi dari batubara. Target pengguna energi batubara ini adalah kelompok masyarakat seperti lembaga pemasyarakatan, pesantren, asrama, usaha kecil menengah dan sejenisnya yang tidak termasuk ke dalam kelompok masyarakat tidak mampu sehinga ada kemungkinan tidak mendapatkan Bahan Bakar Gas (BBG) bersubsidi bila undang-undang tersebut diterapkan.
Kegiatan ini juga sejalan dengan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 79 Tahun 2014 yang disusun oleh Dewan Energi Nasional (DEN) mengamanatkan peningkatan peran batubara dalam bauran energi nasional sampai 30% pada tahun 2025. Peningkatan peran batubara dalam bauran energi nasional sangat penting karena defisit perdagangan oleh adanya impor minyak semakin besar. Defisit ini telah menyebabkan menurunnya nilai tukar rupiah baru-baru ini. Pada kegiatan ini akan dilakukan penelitian substitusi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan BBG dengan batubara. Substitusi bahan bakar ini disamping meningkatkan peran batubara sebagai sumber energi juga dapat mengurangi biaya operasi pada industri secara signifikan dan peningkatan mutu proses sehingga dihasilkan komoditas yang lebih berkualitas.
1.2 Latar Belakang
Berdasarkan data terbaru dari Badan Geologi KESDM (2014), Indonesia memiliki sumber daya batubara pada permukaan sebanyak 124,796 miliar ton dan cadangan 32.28 milyar ton yang dapat ditambang secara konvensional hingga mencapai kedalaman ± 300 m. Kandungan sumber daya dan cadangan batubara yang cukup besar ini diharapkan mampu memberikan manfaat yang maksimal kepada perekonomian Indonesia untuk menggantikan minyak bumi dan gas alam (migas) yang cadangannya semakin menipis. Sayangnya, peningkatan produksi batubara Indonesia dari tahun ke tahun kurang memberikan efek terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini karena peningkatan produksi ini tidak diimbangi dengan penggunaan di dalam negeri. Sebaliknya, produksi meningkat ditujukan untuk memenuhi kebutuhan luar negeri atau ekspor. Dengan demikian nilai tambah batubara justru dinikmati oleh bangsa lain.
Terbitnya UU No. 4/2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara, merupakan amanat rakyat agar pemerintah dapat mengubah paradigma bahwa batubara Indonesia hanya sebagai komoditas yang menghasilkan nilai ketika diekspor. Sesuai pasal 95 huruf c dan pasal 102 UU No. 4/2009, setiap pemegang Izin Usaha Produksi (IUP) dan IUP Khusus (IUPK) wajib meningkatkan nilai tambah sumber daya mineral dan/atau batubara di dalam negeri. Selanjutnya pasal 94 dan pasal 95 Peraturan Pemerintah (PP) No.23/2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, antara lain mengamanatkan bahwa pemegang IUP
2
Operasi Produksi dan IUPK Operasi Produksi batubara wajib melakukan pengolahan untuk meningkatkan nilai tambah batubara yang diproduksi, baik secara langsung maupun kerja sama dengan perusahaan pemegang IUP dan IUPK lainnya. Upaya meningkatkan nilai tambah batubara itu sendiri, pada dasarnya ditujukan untuk meningkatkan dan mengoptimalkan nilai tambang, tersedianya bahan baku, penyerapan tenaga kerja, dan peningkatan penerimaan negara (penjelasan pasal 95 ayat (2) PP No.23/2010). Kemudian terbitnya PP No. 79 tahun 2014 tentang Kebijakan Energi Nasional juga semakin menekankan pentingnya pemanfaatan batubara di dalam negeri. Bahkan dalam rangka semakin mendorong pemanfaatan tersebut maka pemerintah juga semakin intensif mengkaji upaya pengendalian jumlah batubara yang diproduksi dan atau diekspor.
Pemerintah melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Energi dan Sumber Daya Mineral, Kementerian ESDM, Puslitbang Teknologi Mineral Dan Batubara telah memulai penerapan teknologi pembakar siklon. Rencana semula tahun anggaran 2016 ini akan dilakukan kegiatan pengembangan pembakaran batubara model siklon untuk substitusi bahan bakar minyak dan bahan bakar gas pada boiler PLTU, yang terdiri atas:
1. persiapan,
2. konstruksi dan uji coba pembakar siklon,
3. rancang bangun fasilitas simulasi pembakar siklon, 4. uji coba co-firing dengan pembakar siklon, dan
5. penerapan dan pengembangan pembakar siklon di UMKM dan ponpes Jabar serta kajian tekno ekonomi & logistik teknologi pembakar siklon pada UMKM dan ponpes di pulau Jawa.
Mitra kerja yang telah dirancang untuk kegiatan ini adalah industri kertas di Leces, Probolinggo, Jawa timur. Penjajagan dan perjanjian kerja sama telah dibuat, namun tahap pelaksanaan kegiatan tidak dapat dilaksanakan karena mitra kerja (industri kertas Leces) dinyatakan pailit. Jadi kegiatan 1 sampai dengan 4 tidak ada. Kegiatan yang dilaksanakan adalah kegiatan nomor 5, yakni penerapan dan pengembangan pembakar siklon di UMKM dan ponpes Jabar serta kajian tekno ekonomi & logistik teknologi pembakar siklon pada UMKM dan ponpes di pulau Jawa. Lokasi penerapan teknologi tersebut terpusat pada Provinsi Jawa Barat, karena berdasarkan data tahun 2012, jumlah UMKM Jawa Barat sebanyak 203.419 unit (Sumaryono, dkk., 2013). Pembakar siklon yang diterapkan di UMKM di Jawa Barat berkapasitas 50 kg/jam sampai 120 kg/jam, yang mampu membakar batubara dari peringkat rendah sampai tinggi dengan stabil, baik yang berkadar abu tinggi maupun sangat rendah. Ukuran butir batubara diperkecil sampai -0,5 mm atau -30 mesh. Pembakaran dapat dilakukan tanpa udara sekunder, karena di dalam ruang bakar sudah dicapai kondisi turbulensi yang tinggi. Tungku ini diharapkan menjadi alternatif pengganti tungku yang menggunakan liquid petroleum gas (LPG) atau kayu bakar di masyarakat. Unjuk kerja pembakar siklon, batubara ditiupkan bersama dengan udara pembakar secara tangensial, menggunakan peniup udara dan debitnya diatur dengan screw feeder yang dilengkapi
3
dengan inverter, sehingga nyala api hampir sama dengan yang dihasilkan dari penggunaan minyak dan gas, bubuk batubara berputar dan terbakar dalam ruang siklon secara intensif sebab tingkat turbulensi yang tinggi tercipta dalam ruang bakar siklon (Ningrum, dkk., 2014). Batubara dibakar setelah dipusarkan di dalam silinder pembakar bersama dengan udara pembakar. Karena adanya gaya sentrifugal dari pusaran, maka sisa-sisa pembakaran yang berupa partikulat abu batubara atau karbon dan bahan lainnya akan terkumpulkan di daerah radius paling luar dari pusaran ini. Berdasarkan karakteristik ini, di dalam pembakar siklon dapat dirancang suatu sistem pengumpul partikulat yang dapat memisahkan dan mengeluarkan partikulat tersebut, sehingga dapat mengurangi emisi partikulat ke dalam sistem boiler atau fasilitas industri lainnya
Menurut Sumaryono (2012), ada beberapa cara dalam pembakaran batubara bubuk. Untuk mendapatkan api yang pendek perlu diciptakan turbulensi yang tinggi, sedang untuk nyala yang panjang aliran udara dan batubara sejajar (stream line). Metode pembakarannya bisa dilakukan dengan menyemprotkan bubuk batubara secara vertikal mendatar atau tangensial. Dengan teknik tangensial ini dihasilkan turbulensi yang tinggi, sehingga intensitas nyalanya lebih tinggi.
Pembakar siklon bertemperatur antara 1.200 sampai 1.350ºC dengan kandungan panas yang besar, karena dibuat dari refraktori yang tebal (Sodikin, 2013). Pembakar siklon lebih banyak digunakan untuk mensubstitusi pembakar (burner) bahan bakar minyak (BBM) di berbagai fasilitas industri, seperti boiler, oil heater, rotary dryer/kiln, smelter reverberatory furnace, asphalt mixing plant, autoclave, ketel galvanisasi, oven annealing, pengering dan lain-lain.
Bahan bakar yang digunakan adalah campuran batubara dan serbuk kayu, yang merupakan bahan bakar alternatif masa depan yang baik untuk bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU), karena penambahan biomassa ke dalam bahan bakar batubara dapat mengurangi emisi belerang (Valliappan, dkk., 2016). Daya tarik dari pembakar siklon dengan sistem co-firing ini adalah pemanasannya lebih terfokus, sehingga selain efisiensi energinya lebih besar, juga proses pemanasan jauh lebih cepat, efisiensi ekonominya lebih besar, lingkungan pabrik menjadi lebih bersih, ruang pabrik yang lebih dingin dan tidak berasap dibanding dengan penggunaan kayu bakar. Sistem pembakar siklon dengan co-firing mempunyai beberapa keunggulan khusus yang tidak diperoleh dengan sistem kayu bakar seperti: kestabilan, input energi konsisten, dapat dikendalikan sesuai keperluan proses dan suhu 1.100 – 1.200°C, sehingga dapat mengurangi
slagging, emisi NOx. Gas CO2 sendiri sebetulnya bukan merupakan polutan berbahaya yang
langsung mengganggu kesehatan karena gas ini juga terbentuk pada pernapasan manusia. Pengaruh gas CO2 terhadap lingkungan adalah bersifat global dan sebagai unsur utama
pembentuk efek rumah kaca (greenhouse effect). Sistem co-firing ini tujuan utama nya adalah mengurangi CO2 sebagai gas rumah kaca ke zero emission.
untuk industri rumahan (mikro) dan kecil, kebanyakan proporsi biaya energinya kecil kurang dari 5% dari total biaya produksi, sehingga keunggulan efisiensi energi dan ekonomi tidak mempunyai daya tarik yang besar untuk sistem pembakar siklon co-firing. Daya tariknya terletak pada kualitas proses dan produk, seperti di jamur dapat menghasilkan baglog yang lebih steril dalam jumlah lebih besar dan waktu yang lebih singkat, di industri keramik dapat mencapai suhu 1.000°C dengan lebih cepat sehingga mutu keramik lebih baik dan di washing blue jeans dapat dilakukan pencelupan, setrika dan pengeringan yang lebih cepat dan produk meningkat karena dihasilkan
4
uap yang lebih kering dari penggunaan kayu bakar karena batubara belum tersedia di setiap kota, maka perlu perintisan terlebih dahulu untuk pengembangannya, sedangkan kayu bakar tersedia di setiap kampung.
Tujuan penelitian ini adalah menghasilkan teknologi pembakaran batubara yang sesuai untuk UMKM dalam penggunaan energi dengan sistem co-firing (batubara-serbuk kayu) yang murah dan bersih yang dapat beroperasi kontinu dengan kondisi ruang kerja yang sesuai ambang batas, yaitu SO2<262,5 ppm, NO2<413,9 ppm dan partikulat 150 mg/nm3 sesuai dengan Peraturan
Menteri Negara Lingkungan Hidup No 21 Tahun 2008 tentang Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak bagi Usaha dan/atau Kegiatan Pembangkit Tenaga Listrik Termal.
Komersialisasi keseluruhan teknologi yang telah dikembangkan dan diimplementasikan oleh Puslitbang Teknologi Mineral Dan Batubara ini diharapkan dapat memasyarakat dan Pulau Jawa sebagai tempat percontohan. Pada akhirnya nanti, konsumsi batubara di dalam negeri meningkat dan perekonomian meningkat. Oleh karena itulah kajian tekno ekonomi dan logistik ini dilakukan untuk memberikan gambaran potensi ekonomi dari implementasi teknologi pembakar siklon di masyarakat dan bukti kepada masyarakat khususnya calon-calon investor yang tertarik untuk mengimplementasikan teknologi pemanfaatan batubara ini dalam rangka meningkatkan nilai tambah bagi industri yang dimilikinya.
1.3 Ruang Lingkup
Ruang lingkup pekerjaan Tahun Anggaran 2016, meliputi :
Uji coba pembakar siklon kapasitas 6 ton/jam terintegrasi dengan belt conveyor, hammer mill dan FD-Fan serta konstruksi dan commisioning Pembakar Siklon Kapasitas 12 ton/jam pada boiler PLTU di PT. Kertas Leces, Probolinggo, Jawa Timur;
Rancang Bangun Fasilitas Simulasi Pembakar Siklon untuk Boiler di Palimanan, Cirebon;
Uji coba pembakar siklon (kecil) dengan menggunakan batubara-biomasa di Palimanan, Cirebon;
Penerapan dan pengembangan pembakar siklon pada UMKM dan Ponpes di Jawa Barat serta kajian tekno ekonomi dan logistik teknologi pembakar siklon pada UMKM di Pulau Jawa.
1.4 Tujuan
Mendukung peningkatan konsumsi batubara domestik dan memaksimalkan teknologi pengolahan dan pemanfaatan batubara dalam negeri melalui penerapan pembakar siklon skala kecil di UMKM Jawa Barat dan mengkaji tekno ekonomi dan logistik penerapan teknologi pembakar siklon di Pulau Jawa.
5 1.5 Sasaran
Terimplementasikannya 3 pembakar siklon di UMKM Jamur, Washing Blue Jeans, dan Keramik yang ada di Jawa Barat, menggunakan bahan bakar batubara dan campuran batubara-serbuk kayu yang dapat beroperasi 100% dengan aman dan biaya murah.
1.6 Lokasi Kegiatan
Kegiatan aplikasi pembakar siklon dilakukan pada 3 lokasi UMKM di beberapa daerah di Jawa Barat yaitu di Kota Bandung, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Subang. Pengukuran emisi dilakukan pada UMKM di Jawa Barat. Kajian tekno ekonomi dan logistik di Pulau Jawa.
1.7 Penerima Manfaat
Manfaat secara umum diperoleh oleh pemerintah dan UMKM, dengan adanya bahan bakar alternatif pengganti kayu bakar dan LPG ataupun BBM, sedangkan secara khusus akan dinikmati masyarakat pengguna dengan turunnya biaya bahan bakar.
6
II. TINJAUAN PUSTAKA Energi co-firing
Saat ini potensi serbuk kayu mulai melimpah, khususnya di daerah padat penduduk mulai dari Lampung, Jawa, Bali dan Nusa Tenggara Barat, seiring dengan surutnya pasokan kayu dari Kalimantan. Setelah kayu Kalimantan menjadi mahal, masyarakat beralih ke kayu albasia, sehingga budi daya kayu albasia menjamur, yang mengakibatkan industri pengkayuan kayu dan produk sampingnya yang berupa serbuk kayu meningkat. Untuk memanfaatkan limbah serbuk kayu tersebut, dilakukan pencampuran dengan tepung batubara. Diharapkan campuran tepung batubara dan serbuk kayu tersebut dapat dibakar dengan efektif dan efisien.
Dengan mengembangkan bahan bakar campuran batubara dan serbuk kayu, maka program pemerintah yaitu menggalakkan energi terbarukan (biomassa) dan meningkatkan peran batubara dalam bauran energi nasional sesuai PP No. 79 tahun 2014 menjadi 30% pada tahun 2025 diharapkan akan tercapai. Teknik co-firing ini dapat digunakan di dapur komunal dan IKM. Selain itu sistem co-firing ini dapat juga dikembangkan untuk industri-industri di perkotaan, yang saat ini masih banyak menggunakan gas LPG bersubsidi.
Biomassa yang umum digunakan sebagai sumber energi adalah kayu bakar yang berasal dari pembabatan hutan, baik hutan alam maupun hutan tanaman industri yang dianggap sudah tidak produktif dan penebangan kebun-kebun rakyat serta taman kota yang berupa pohon-pohon tua. Selain itu juga limbah industri kayu berupa potongan-potongan kayu. Kayu bakar ini dapat juga berasal dari penanaman pohon energi, yaitu jenis pohon yang cepat tumbuh dengan kualitas sebagai sumber energi yang baik. Jenis biomassa yang berupa limbah diantaranya sekam padi, serbuk kayu, potongan-potongan kayu sisa industri, limbah cangkang sawit dan kemiri serta ampas tebu.
Limbah dari padi atau sekam di Indonesia relatif banyak. Di pabrik semen selain dimanfaatkan energinya juga sisa abunya yang sangat tinggi dapat dimanfaatkan. Di masyarakat sekam digunakan untuk membakar bata atau keperluan lain. Serbuk kayu bernilai kalori tinggi dan kadar abu rendah, tetapi untuk penggunaan skala besar sulit untuk mendapatkannya. Limbah potongan kayu sisa industri saat ini menurun jumlahnya seiring dengan menurunnya aktivitas industri kayu lapis. Sebaliknya, di Jawa meningkat karena meningkatnya jumlah pengkayuan kayu lokal. Limbah cangkang sawit dan kemiri bernilai kalori tinggi, pada saat ini dimanfaatkan oleh industri minyak sawit. Limbah tempurung kelapa mempunyai nilai tambah yang tinggi sehingga tidak hanya digunakan untuk sumber energi biasa tetapi dapat juga digunakan sebagai bahan baku pembuatan karbon aktif. Ampas tebu selain untuk sumber energi di pabrik gula, limbah ini juga mempunyai nilai yang tinggi untuk bahan baku pabrik kertas. Untuk memanfaatkan limbah biomassa yang saat ini relatif banyak dengan efisiensi energi yang tinggi > 60% dan mudah diimplementasikan di industri maka dilakukan penelitian pemanfaatan campuran biomassa dan batubara sebagai sumber energi yang bersih (Sumaryono, 2012).
7
Biomassa merupakan salah satu bahan bakar yang relatif cocok untuk co-firing dengan batubara, karena baik biomassa maupun batubara merupakan bahan bakar padat, meskipun ada perbedaan dalam karakteristik kimianya. Pada umumnya biomassa mempunyai fraksi hidrogen dan oksigen yang tinggi berturut-turut 6,1% dan 43% sedangkan unsur karbonnya rendah, yaitu 50%. Sedangkan batubara bituminus kandungan hidrogen berkisar antara 4 sampai 6% dan kandungan oksigen berkisar antara 3 sampai 8%. Akibatnya biomassa cenderung menghasilkan energi yang lebih rendah dari batubara. Biomassa mempunyai fraksi zat terbang yang tinggi yang menyebabkan biomassa mempunyai sifat mudah terbakar sehingga lebih mudah mengatur aliran udara pembakaran. Biomassa mempunyai kandungan abu yang lebih rendah dari batubara, tetapi abu biomassa ini mudah membentuk endapan dalam pembakar yang disebut slagging dan
fouling, karena abu biomassa mengandung senyawa garam reaktif terutama K2O (Ciolkosz, 2010
dan Tilman, 2000). Berdasarkan karakteristik tersebut di atas co-firing biomassa merupakan bahan bakar alternatif masa depan yang baik untuk bahan bakar PLTU karena penambahan biomassa ke dalam bahan bakar batubara dapat mengurangi emisi belerang (Bain, et al., 2003 dan Miller, et al., 2008) .
Untuk melihat efisiensi energi bahan bakar campuran batubara dan serbuk kayu telah dilakukan percobaan terhadap berbagai komposisi bahan bakar untuk mendidihkan air dengan pembakar siklon, dibandingkan dengan pendidihan air dengan tungku IKM. Bahan bakar yang digunakan adalah batubara dan biomassa campuran batubara (20%) – serbuk kayu (80%); batubara (50%) – serbuk kayu (50%). Hasil pengamatan dapat dilihat pada Tabel 2.1.
Tabel 2.1. Efisiensi Energi Pendidihan Air
Komposisi bahan bakar (kg) Efisiensi energi (%)
Batubara (100%) pembakar siklon 55
Batubara (20%) – serbuk kayu (80%), pembakar siklon 65
Batubara (50%) – serbuk kayu (50%), pembakar siklon 50
Batubara bongkah (100%), tungku IKM 32
Kayu bakar (100%), tungku IKM 15 - 20
Dengan menggunakan teknik pembakaran bersama dalam pembakar siklon mini, ternyata efisiensi campuran batubara dan serbuk kayu cenderung naik dibanding pembakaran batubara secara individu. Dari Tabel 2.1 terlihat efisiensi energi campuran batubara (20%) – serbuk kayu (80%) paling tinggi, yakni 65%, sedangkan campuran batubara (50%) – serbuk kayu (50%) lebih kecil dibanding dengan batubara secara individu 50%. Untuk pendidihan air dengan batubara bongkah 100% menggunakan tungku IKM efisiensi energinya cenderung rendah, hanya 32%. Peningkatan efisiensi energi dalam sistem pembakaran bersama batubara-biomassa ini cenderung disebabkan adanya radikal-radikal OH dari air yang mempercepat proses pembakaran karbon
8
yang sebagian berasal dari pemecahan hidrokarbon dari batubara, sehingga dapat menaikkan temperatur dalam unggun pembakaran dan menghasilkan pembakaran yang bersih tidak berasap. Menurut Baxter (2004), pada saat campuran biomassa dengan batubara digunakan sebagai bahan bakar, biomassa memberikan andil yang relatif kecil dalam pembentukan gas NOx dan SOx. Jadi, tidak memberikan dampak negatif terhadap lingkungan. Sistem pembakaran bersama ini lebih efektif, jika digunakan batubara berperingkat lebih tinggi.
Berdasarkan kapasitasnya, pembakar siklon dapat diklasifikasikan menjadi: 1) Pembakar siklon kecil, input bahan bakar <180 kg/jam
2) Pembakar siklon menengah, input bahan bakar <3 ton/jam 3) Pembakar siklon besar, input bahan bakar >3 ton/jam
Keunggulan-keunggulan pembakar siklon dibandingkan dengan pembakar konvensional: 1) Api dari pembakar siklon tetap stabil sekalipun untuk ruang ruang dingin
2) Tidak ada emisi asap, dan bahan dapat terbakar (combustible) 3) Dapat diterapkan dalam kota penduduk padat
4) Tidak perlu scrubber, dust collector
5) Lining quartz dalam ruang bakar tahan 1.725°C, mengandung sensible heat besar 6) Dapat langsung menyala tanpa pilot burner,cukup dengan menyulut kayu bakar 7) Fire tube bersih; tidak ada akumulasi partikel padat dalam boiler
Bahan bakar yang digunakan untuk pembakar siklon bisa batubara tepung atau campuran batubara tepung dan serbuk kayu (co-firing). Ukuran partikel dari campuran batubara tepung dan serbuk kayu sangat mempengaruhi kinerja dari pembakar siklon (Forbes, dkk., 2014). Kriteria batubara untuk pembakar siklon:
1) Ukuran: - 30 mesh 2) Air lembab: - 25% adb 3) Nilai kalor: ≥ 4200 GAR 4) Abu: ≤ 15 adb
5) AFT: ≥ 1300 (peringkat rendah) atau ≥ 1150 untuk campuran batubara tepung dan serbuk kayu
Tungku pembakar batubara
Terdapat 4 macam tungku pembakar batubara yang dikenal, yaitu pulverized coal furnaces,
tungku siklon, spreader stokers, dan fluidized bed combustors. Tungku siklon merupakan salah satu jenis tungku yang telah banyak diaplikasikan terutama untuk keperluan utiliti dan industri (Eastern Research Group, 2001). Tungku pembakar siklon mempunyai kelebihan dibandingkan dengan jenis pembakar lainnya karena bahan bakar dan udara akan bereaksi dalam waktu yang relatif lebih lama (Zarzycki et al., 2016). Selain konsumsi bahan bakar yang lebih hemat, emisi
9
dari tungku siklon pun lebih kecil 40% (Shishkin, 2015). Emisi dari tungku merupakan hasil dari pembakaran yang biasanya dikeluarkan melalui cerobong. Menurut Eastern Research Group
(2001), polutan utama dari tungku pemanas ini adalah partikulat, sulfur oksida, dan nitrogen oksida. Kebanyakan karbon dari bahan bakar fosil diemisikan sebagai CO2 selama pembakaran.
Hal ini dapat menyebabkan terjadinya rumah kaca. Trace metal seperti arsen dan kadmium biasanya diemisikan pula sebagai hasil dari pembakaran batubara dan minyak.
Metode pemantauan emisi dapat dilakukan dengan berbagai cara, yaitu sistem pemantauan emisi secara kontinu (continuous emission monitoring system (CEMS)), prediksi (predictive emission monitoring (PEM)), pemercontohan pada cerobong (stack sampling), analisis bahan bakar, dan penentuan faktor emisi. Metode-metode tersebut mempunyai kelebihan dan kekurangannya sehingga untuk parameter-parameter tertentu dianjurkan dilakukan dengan metode tertentu pula. Misalnya untuk parameter partikulat, metode terbaiknya adalah pemercontohan pada cerobong. Sedangkan untuk SOx, NOx, CO dan CO2 metode terbaiknya adalah CEMS atau PEM. Untuk
parameter logam berat metode yang terbaik adalah dengan menganalisis bahan bakar yang digunakan (Eastern Research Group, 2001).
10 III. PROGRAM KEGIATAN
3.1 Batubara
Kegiatan rancang bangun terdiri atas rangkaian proses mulai dari penggerusan batubara, karakteristik batubara. Untuk tahun 2016 batubara yang digunakan berasal dari Sumatera Selatan.
3.2 Persiapan
Survei lokasi untuk penerapan pembakar siklon di UMKM Jawa Barat dan Bengkulu. 3.3 Konstruksi Pembakar Batubara di UMKM di Jawa Barat
Penerapan pembakar siklon di 3 UMKM Kota Bandung, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Subang, Jawa Barat.
3.4 Uji Coba Kehandalan Pembakar Batubara Siklon pada 3 UMKM di Jawa Barat - Penggunaan pembakar siklon pada 3 UMKM.
- Uji emisi saat start up, shut down dan saat running.
- Perhitungan efisiensi.
3.5 Kajian Tekno Ekonomi dan Logistik Penerapan Teknologi Pembakar Siklon di Pulau Jawa - Kunjungan Lapangan ke Propinsi Jawa Tengah, Jawa Timur dan Banten untuk mengumpulkan
data UMKM pengguna energi padat, data Pesantren, pemasok batubara. - Analisis keekonomian Studi kasus PT. BAPI Cakung.
-
3.6 Evaluasi dan Pembuatan Laporan Evaluasi data dan penulisan laporan.
11 IV. METODOLOGI
4.1 Pembangunan Pembakar Siklon 4.1.1 Bahan
Bahan bakar yang digunakan adalah campuran batubara dan biomassa. Batubara yang dicampur dengan biomassa berasal dari Sumatera Selatan dan biomassa yang digunakan adalah serbuk kayu yang dibeli dari industri pengolahan kayu di Jawa Barat. Bahan-bahan untuk pembuatan pembakar siklon berupa antara lain semen api, batu kuarsa, pasir kuarsa, bata tahan api,
castabel, pipa besi, serta peralatan blower dan feeder.
4.1.2 Metodologi Penelitian
Metoda penelitian yang digunakan di bagi dalam 3 bagian. Pertama adalah pengkajian proses yang sasarannya adalah untuk mengetahui data kalori yang diperlukan; durasi, kontinyuitas dan irama proses pemanasan; distribusi kalor yang dibutuhkan serta untuk mengetahui kondisi yang diperlukan oleh komoditas yang diproduksi. Selanjutnya kajian teknik pembakaran diperlukan untuk mengetahui kapasitas pembakar siklon, komposisi bahan bakar sistem co-firing dan pembakaran langsung/tidak langsung dengan penukar panas/uap. Bagian ke-tiga adalah evaluasi penerapan pembakar siklon yang sasarannya adalah untuk mengetahui kualitas produk komoditas yang dihasilkan, efektifitas dalam menunjang rangkaian proses produksi, efisiensi energi dan ekonomi serta mengetahui emisi yang dikeluarkan dari pembakar siklon. Bagian terakhir pengkajian tekno ekonomi dan logistik penerapan teknologi pembakar siklon di Pulau Jawa.
4.1.3 Tahap Kegiatan yang dilakukan Tahap kegiatan yang dilakukan adalah: 1. Koordinasi
Koordinasi dilakukan dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Jawa Barat. Tujuan koordinasi ini adalah untuk menjalin kerjasama pengembangan, mengetahui karakteristik penggunaan dan penerapan hasil rancangan.
2. Persiapan kegiatan
• Survei lokasi untuk menentukan parameter rancangan dan pembangunan pembakar siklon di UMKM
• Penyediaan batubara dan serbuk kayu, analisis batubara dan penggerusan batubara -30 mesh.
3. Rancang bangun dan prosedur kerja
Rancang bangun, fabrikasi dan setting pembakar siklon serta fasilitas penunjangnya di UMKM,
12
Persiapan peralatan (blower; adaptor AC-DC; motor pengaduk; pengumpan batubara)
Bakar kayu kering dalam tungku
Setelah kayu terbakar dengan api besar dan stabil, tiupkan bubuk batubara dengan cara:
Hidupkan blower dengan tiupan kecil dengan cara membuka sedikit tutup udara sampingnya
Masukkan batubara dengan cara:
o Buka sedikit lubang pengumpan batubara, hidupkan adaptor dan motor pengaduk (peringatan: sebelum menghidupkan adaptor, kawat pengaduk harus dilepas dulu dengan sedikit membuka keran batubara sehingga kawat tidak terjepit )
o Perbesar bukaan keran batubara dan perbesar pula tiupan blower dengan berangsur-angsur membuka tutup udaranya
o Berangsur-angsur bukaan diperbesar sampai api bagus sesuai keperluan
Prosedur mematikan kompor :
o Matikan adaptor dan motor pengaduk, tutup bukaan batubara o Matikan blower dan biarkan tungku menjadi dingin
4.2 Uji Emisi
4.2.1 Alat
Peralatan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah: a. APEX Instrument,
b. Kromatografi ion tipe 930 Compact IC Flex, Methrom,
c. Kromatografi plasma gandeng induktif tipe ICAP 7000 series, Thermo Scientific, d. Spektrometer serapan atom dan kelengkapan penguapan tipe Spectra 220FS, Varian, e. XRF tipe S1 Titan, Bruker, dan
d. Pengukur opasitas skala Ringelmann. 4.2.2 Bahan
Bahan-bahan yang digunakan dalam kegiatan ini adalah: a. NaOH p.a.,
b. H2O2 p.a,
c. KMnO4 p.a.,
d. H2SO4 p.a.,
e. H3BO3 p.a.,
f. ZnSO4 7 H2O p.a., dan
13 4.2.3 Tahapan Kegiatan Uji Emisi
Kegiatan pengukuran emisi ini dilakukan melalui 2 (dua) tahap kerja yaitu pemercontohan emisi dan pengukuran percontoh di laboratorium. Metode pengukuran percontoh di laboratorium dilakukan dengan mengembangkan Standar Nasional Indonesia (SNI) yang telah ada. Pengukuran parameter polutan udara pada SNI biasanya dilakukan secara spektrofotometri. Kelemahan dari metode ini adalah dibutuhkannya bahan kimia yang relatif banyak. Oleh karena itu pada pengukuran ini digunakan metode kromatografi, baik kromatografi ion maupun kromatografi plasma gandeng induktif. Dengan melakukan pengembangan metode uji di laboratorium ini, tidak diperlukan lagi bahan kimia yang banyak. Selain itu batas deteksinya pun semakin kecil jika dibandingkan dengan spektrofotometri. Berbagai metode pemercontohan emisi dan pengukuran di laboratorium disajikan pada tabel 4.1 berikut:
Tabel 4.1. Metode Pengukuran Emisi.
Parameter Metode
Pengambilan conto Pengujian di laboratorium
Partikulat SNI 19-7117.12.2005 Gravimetri
Sulfur dioksida, (SO2) SNI 19-7117.3.1-2005 Kromatografi ion
Nitrogen dioksida, (NO2) SNI 19-7117.5-2005 Kromatografi ion
Hidrogen klorida, (HCl) SNI 19-7117.8-2005 Kromatografi ion
Gas klorin, (Cl2) USEPA 26A Kromatografi ion
Opasitas SNI 19-7117.11-2005 -
Total sulfur tereduksi, (H2S) SNI 19-7117.7-2005 Kromatografi plasma gandeng induktif
Air raksa, (Hg) USEPA 0060 Spektrofotometer serapan atom dan
VGA
Arsen, (As) USEPA 0060 Kromatografi plasma gandeng induktif
Antimony, (Sb) USEPA 0060 Kromatografi plasma gandeng induktif
Cadmium, (Cd) USEPA 0060 Kromatografi plasma gandeng induktif
Seng, (Zn) USEPA 0060 Kromatografi plasma gandeng induktif
14
Pengukuran emisi dari cerobong dilakukan terhadap dua jenis bahan bakar yang digunakan, yaitu batubara dan campuran dari batubara dengan serbuk kayu dengan perbandingan berat 1:2,5. Kondisi pembakaran dilakukan sesuai dengan kondisi optimum penelitian terdahulu (Tabel 4.2).
Tabel 4.2. Kondisi Pembakaran.
Bahan bakar Batubara Campuran batubara dan serbuk kayu
(1:2,5)
Aliran udara (blower) 10,64 m/dt ≈ 0,99 m3/dt 10,64 m/dt ≈ 0,99 m3/dt
15 V. HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1 Karakteristik Bahan Bakar
Untuk mengetahui karakteristik bahan bakar yang digunakan dalam kegiatan ini maka dilakukan analisa ultimat, nilai kalor dan komposisi abu serta unsur lainnya. Hasil analisa proksimat dan nilai kalor batubara, serbuk kayu dan campuran batubara tepung dengan serbuk kayu tertera pada Table 5.1 dan analisis komposisi abu serta unsur-unsur lainnya tertera pada Tabel 5.2.
Tabel 5.1 Hasil Analisis Ultimat dan Nilai Kalor Batubara, Serbuk Kayu dan Campuran Batubara dengan Serbuk Kayu
Jenis bahan bakar Batubara Serbuk kayu Campuran batubara
dengan Serbuk Kayu
Karbon, % 55,31 44,90 52,10
Hidrogen, % 5,79 6,34 5,90
Nitrogen, % 0,98 0,19 0,72
Sulfur, % 0,48 0,08 0,37
Nilai kalor, kkal/kg 5148 4213 4864
Berdasarkan hasil analisis ultimat dan nilai kalor yang ada dalam Tabel 5.1 dapat dilihat perbedaan antara batubara, serbuk kayu dan campuran batubara dengan serbuk kayu.
Kandungan karbon, nitrogen dan sulfur dalam batubara menurun setelah jadi campuran batubara dan serbuk kayu kecuali kandungan hidrogen. Nilai kalor batubara yang semula 5148 kkal/kg menurun menjadi 4864 kkal/kg setelah menjadi campuran batubara dengan serbuk kayu.
Tabel 5.2 Hasil Analisis Komposisi Abu dan Unsur-unsur lainnya untuk Batubara dan Campuran Batubara dengan Serbuk Kayu
Bahan bakar Batubara Campuran batubara
dengan Serbuk Kayu
Satuan % %
Bi <LOD <LOD
16 Al2O3 0,902 0,378 SiO2 0,948 <LOD P2O5 <LOD 0,112 S 1,841 1,112 Cl <LOD 0,044 K2O 0,036 0,321 CaO 1,203 1,589 TiO2 0,213 0,178 V <LOD <LOD Cr <LOD <LOD MnO 0,029 0,016 Fe2O3 1,478 0,999 Co <LOD <LOD Ni 0,008 <LOD Cu takada 0,004 Zn <LOD <LOD As <LOD <LOD Rb <LOD <LOD Sr 0,035 0,018 Zr <LOD - Nb <LOD <LOD Mo <LOD <LOD Pd 0,061 <LOD Ag <LOD <LOD
17 Cd <LOD <LOD Sn <LOD <LOD Sb <LOD <LOD Ba <LOD <LOD La <LOD <LOD Ce <LOD <LOD Hf <LOD <LOD Ta <LOD <LOD W <LOD <LOD Pt <LOD <LOD Hg <LOD <LOD Pb <LOD <LOD Th <LOD <LOD U <LOD <LOD
Catatan: LOD = limited of ditection
Dilihat dari Tabel 5.2, perbedaan yang signifikan adalah hanya pada kandungan Al2O3 dan SiO2.
Kandungan Al2O3 batubara 0,902% setelah menjadi campuran batubara dengan serbuk kayu
kandungan Al2O3 menurun menjadi 0,378%. Kandungan SiO2 batubara 0,948%, kandungan
yang sama dalam campuran batubara dengan serbuk kayu tidak terditeksi. Kandungan Fe2O3
juga mengalami penurunan setelah menjadi campuran batubara dengan serbuk kayu yakni 1,478% (batubara) menjadi 0,999% (campuran batubara dengan serbuk kayu). Sebaliknya kandungan K2O dan CaO dalam batubara 0,036 dan 1,203% setelah menjadi campuran
batubara dengan serbuk kayu meningkat menjadi 0,321 dan 1,589%. Unsur-unsur lainnya terutama unsur-unsur runutan beracun seperti As, Cd, Sn, S, Hg, Pb dan U baik dalam batubara maupun dalam campuran batubara dengan serbuk kayu tidak terditeksi. Hal ini membuktikan bahwa batubara itu bahan bakar yang bebas unsur-unsur beracun.
18
5.2 Survei Lokasi untuk Penerapan Pembakar Siklon di UMKM Jawa Barat dan Bengkulu
Sebelum membangun pembakar siklon di UMKM dilakukan survei di beberapa UMKM yang ada di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Bengkulu dengan maksud menentukan lokasi yang cocok untuk pembangunan pembakar siklon.
5.2.1 Koordinasi dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi (Disperindag) Jawa Barat Dalam rangka implementasi 30 pembakar siklon untuk UMKM yang di Jawa Barat serta dalam rangka menjaring UMKM yang akan dipilih untuk penempatan pembakar siklon tersebut telah dilakukan sosialisasi pembakar siklon dengan para pengusaha UMKM bekerja sama dengan Disperindag Jawa Barat. Sosialisasi dilakukan di gedung pertemuan Disperindag Jalan Asia Afrika pada tanggal 18 Maret 2016 jam 13.00 dengan mengundang para pengusaha UMKM di Jawa Barat.
Hasil sosialisasi implementasi pembakar siklon dengan pengusaha UMKM sebagai berikut:
- Peserta sosialisasi terdiri atas 35 para pengusaha UMKM dan 4 wakil dari Disperindag Kabupaten di Jawa Barat serta para pejabat di Disperindag Provinsi Jabar
- Seluruh peserta mengharapkan bahan baku batubara mudah diperoleh sehingga setelah teknologi pembakar siklon diterapkan, UMKM tidak akan kembali pada bahan bakar sebelumnya dikarenakan sulitnya mendapat batubara.
- Usaha yang akan dilakukan untuk penyediaan batubara direncanakan dilakukan pemetaan untuk lokasi pengguna batubara sehingga bisa dibuat depo–depo yang akan menjual batubara dalam skala kecil.
- Serah terima/sistematika serah terima hibah akan di didiskusikan mengingat UMKM yang ada di Jabar mayoritas tidak berbadan hukum. Sedangkan untuk pemberian hibah hanya dapat dilakukan pemerintah daerah kepada usaha yang telah berbadan hukum.
- Hasil sosialisasi ini segera harus ditindak lanjuti dengan mengadakan survei langsung ke tempat/lokasi UMKM.
Gambar 5.1. Pengarahan dari Kepala Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Mineral dan Batubara di depan para pengusaha UMKM
19
Gambar 5.2. Koordinator Kegiatan Penelitian dan Pengembangan Batubara (KP3) sedang mempresentasikan pembakar siklon di depan pengusaha UMKM
5.2.2 Survei di Bengkulu
Berdasarkan hasil pertemuan antara Balitbang ESDM dan Komisi VII DPR, 2 unit pembakar siklon direncanakan dibangun di Bengkulu. Hasil koordinasi dengan pihak DPR komisi VII, khususnya Ibu Dewi Coryati, untuk melakukan pengembangan dan penerapan pembakaran siklon di Bengkulu, telah dilakukan survei UMKM yang potensial menggunakan pembakar siklon di Bengkulu.
Survei dilakukan di Pabrik Sawit, PT Bio Nusantara Teknologi, Bengkulu Tengah dan Pabrik Tepung Mocaf, Kelompok Tani Sungai Suci, Desa Pasar Sedati, Kecamatan Pondok Kelapa, Bengkulu. Hasil survei di beberapa pabrik di Bengkulu sebagai berikut:
Hasil survei di PT. Bio Nusantara Teknologi diketahui bahwa:
PT. Bio Nusantara Teknologi mempunyai boiler yang kondisinya saat ini masih efisien. Digunakan untuk menghasilkan steam 30 ton per jam.
Di PT. Bio Nusantara Teknologi terdapat unit produksi pupuk majemuk untuk mensuplai kebutuhan pupuk di perkebunan sawit, proses produksi pupuk majemuk nantinya akan menggunakan Rotary Dryer
Pembakar siklon berpotensi untuk digunakan sebagai sumber panas di Rotary Dryer.
Apabila pembakar siklon dihubungkan dengan boiler, harus ada modifikasi yang cukup besar sehingga akan menghambat proses produksi. Limbah sawit yang digunakan sebagai bahan bakar boiler sudah berlebih sehingga apabila diganti dengan batubara akan menimbulkan masalah limbah sawit yang tidak terkontrol.
Modifikasi hanya disarankan untuk boiler baru dengan sasaran untuk menaikkan efisiensi. Pembakar siklon berpotensi diterapkan di unit produksi pupuk majemuk yang menggunakan
20 Hasil survei di PT. Tepung Mocaf diketahui bahwa:
Pabrik Tepung Mocaf merupakan pabrik baru dengan tingkat produksi dan konsumen yang masih kecil
Di Pabrik Tepung Mocaf terdapat proses pengeringan.
Proses pengeringan masih dilakukan secara tradisional yaitu penjemuran di bawah sinar matahari.
Apabila sedang berada dalam musim penghujan, proses pengeringan dilakukan dengan menggunakan oven.
Pembakar siklon berpotensi untuk digunakan sebagai sumber panas di oven.
Apabila pembakar siklon yang berpotensi digunakan sebagai sumber panas oven memiliki beberapa kelemahan sebagai berikut:
Oven pengering hanya digunakan pada musim penghujan.
Penggunaan oven dan pembakar siklon perlu pembimbingan jangka panjang (2 tahun) Penyedia tepung batubara sebagai bahan bakar pembakar siklon belum ada.
Beberapa isu pokok dilihat dari hasil survei adalah 1. Populasi dan jarak
Jumlah pabrik yang masih sedikit serta jaraknya yang masih tersebar berpengaruh dalam suplai batubara.
2. Suplai batubara
Konsumen batubara yang sedikit akan memberatkan pengusaha batubara sehingga penerapan pembakar siklon akan sulit berkembang.
3. Bahan bakar kayu
Harga kayu yang relatif murah dengan kualitas tinggi dan kuantitas banyak akan menyebabkan batubara sulit bersaing.
4. Biaya energi
Dengan rencana penggantian bahan bakar kayu ke batubara serta ditinjau dari biaya energi yang kecil dibanding total biaya produksi, penghematan energi akan menjadi kurang menarik bagi para pemilik pabrik.
Masyarakat Bengkulu yang masih merupakan masyarakat agraris, hendak akan memulai mengarah ke masyarakat industri akan menyulitkan penerapan pembakar siklon untuk berkembang. Selain itu, penyedia batubara yang belum ada ikut menjadi permasalahan yang perlu diperhitungkan secara cermat.
5.2.3 Survei di Subang
Kegiatan dimulai dengan koordinasi dengan Kepala Bidang Industri di Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Subang yang mengarahkan kepada Kepala Seksi Bidang Usaha dan Sarana beserta staf pelaksana bidang industri untuk membantu tim survei selama di Subang. Dari hasil koordinasi dan diskusi dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pengelolaan Pasar Kabupaten Subang diperoleh informasi bahwa di Kabupaten Subang terdapat banyak potensi industri kecil diantaranya budi daya jamur tiram Alam Sari.
21
Di budi daya jamur tiram terdapat proses sterilisasi media tanam yang menggunakan steam. Media tanam yang digunakan untuk jamur tiram terdiri atas beberapa bahan yang dikombinasikan menjadi satu yakni serbuk kayu kayu, bekatul, dan kapur semua bahan-bahan tersebut aduk sampai merata. Media tanam yang telah difermentasi dapat dimasukkan ke dalam kantong plastik jenis polipropilen. Media tersebut kemudian dipadatkan hingga berbentuk seperti botol (baglog). Selanjutnya, pada bagian atas plastik (leher kantong plastik) dipasang ring, disumbat menggunakan kapas, dan dipasang penutup baglog agar air tidak masuk ke dalam kantong pada saat pengukuran.
UMKM Alam Sari mengelola budidaya jamur tiram, olahan jus jambu, kerupuk nanas, manisan nanas dan sirup nanas. Terdapat sekitar 20 tempat budi daya jamur pada kelompok UMKM Alam Sari. UMKM Alam Sari memiliki organisasi koperasi sehingga memungkinkan untuk pengadaan batubara dan dapat dikelola oleh koperasi tersebut. Berdasarkan hasil survei, apabila pembakar siklon diterapkan maka perlu adanya modifikasi peralatan. Modifikasi tersebut meliputi pembuatan tungku pembakar siklon dengan kapasitas minimal 100kg/jam beserta boiler untuk menghasilkan steam. Telah tersedia lahan seluas 6x12 meter untuk rencana penempatan pembakar siklon. UMKM Alam Sari sudah berbadan hukum sehingga dapat memudahkan pelaksanaan pemberian hibah oleh Pemerintah Daerah. Selain itu, UMKM Alam Sari sudah memiliki pengalaman bekerjasama dengan LIPI dalam hal formulasi recipe produk, sehingga dapat diasumsikan bahwa UMKM Alam Sari telah memahami tentang peraturan dan pemeliharaan bantuan hasil hibah.
Kabupaten Subang mempunyai potensi yang besar sebagai percontohan penerapan pembakar siklon karena kegiatan UMKM sudah banyak dan tidak menyebar. Jenis dari UMKM tersebut juga seragam membuat pemilihan lokasi menjadi lebih mudah dan lebih banyak pilihan. Walaupun sekarang belum tersedia jasa penyedia tepung batubara, namun di daerah sekitar Kabupaten Purwakarta sudah menjadi konsumen batubara yang berasal dari Cirebon. Hal ini nantinya dapat mempermudah Kabupaten Subang dalam menarik minat dari pengusaha penyedia batubara untuk dapat menyalurkan batubaranya ke daerah Kabupaten Subang.
5.2.4 Survei di Purwakarta
Koordinasi dimulai di Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Purwakarta yang mengarahkan kepada Kepala Bidang Perindustrian beserta staf pelaksana bidang industri untuk membantu tim survei selama di Purwakarta. Dari hasil koordinasi dan diskusi diperoleh informasi bahwa di Kabupaten Purwakarta terdapat banyak potensi industri kecil diantaranya sentra pengrajin keramik Plered dan pengolahan tahu.
UMKM Keramik Hias
Terdapat sekitar 300 pengrajin keramik yang produktif di Sentra Keramik Plered Purwakarta. Berdasarkan hasil survei, apabila pembakar siklon diterapkan maka perlu adanya modifikasi peralatan. Modifikasi tersebut meliputi pembuatan tungku pembakar siklon untuk jenis tungku
22
pembakar keramik yakni tungku botol dan tungku api balik. Sementara direncanakan implementasi pembakar siklon untuk tungku botol sebagai pengenalan awal sistem pengapian pada teknologi pembakar sikon. Selanjutkan pengembangan modifikasi untuk implementasi pembakar siklon pada tungku api balik. Selain itu perlu adanya formulasi komposisi campuran batubara dengan sekam padi, mengingat proses pembakaran keramik yang harus dilakukan secara bertahap dari suhu rendah sampai suhu tinggi. UMKM sentra keramik Plered memiliki koperasi yang sudah berbadan hukum sehingga dapat memudahkan pelaksanaan pemberian hibah oleh pemerintah daerah dan pengadaan batubara dapat dikelola oleh koperasi tersebut. UMKM Tahu Sari Gurih
UMKM tahu sari gurih tergabung dalam koperasi AIQMA yang sudah berbadan hukum sehingga dapat memudahkan pelaksanaan pemberian hibah oleh pemerintah daerah. Serta memungkinkan untuk pengadaan batubara dapat dikelola oleh koperasi. Berdasarkan hasil survei, apabila pembakar siklon diterapkan maka pembakar siklon langsung dapat diinstal tanpa di UMKM tahu sari gurih perlu adanya modifikasi. Instalasi peralatan meliputi pemasangan feeder tepung batubara-serbuk kayu, blower, serta bata tahan api untuk menutup tungku. Perlu diperhatikan untuk tetap menjaga cita rasa produk apabila digunakan batubara sebagai bahan bakar
5.2.5 Survei di Bogor dan Sukabumi
Koordinasi dimulai dengan Dinas Koperasi, UMKM, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Bogor yang diwakili oleh Kepala Bidang Perindustrian Diskoperindag Kabupaten Bogor pada tanggal 13 April 2016 yang mengarahkan stafnya untuk memandu tim survei Puslitbang tekMIRA selama di Kabupaten Bogor. Dari hasil koordinasi dan diskusi dengan Diskoperindag Kabupaten Bogor diperoleh informasi bahwa di Kabupaten Bogor terdapat beberapa UMKM yang berpotensi untuk menggunakan pembakar siklon antara lain UMKM tahu, pengrajin logam, tempe, dan jamur.
Survei dilanjutkan ke Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Sukabumi yang diwakili oleh Bidang Perindustrian yang kemudian dibantu oleh staff Bidang Perindustrian untuk survei lokasi UMKM di Kabupaten Sukabumi. Dari informasi yang diperoleh, UMKM di Kabupaten Sukabumi yang kemungkinan berpotensi untuk menerapkan pembakar siklon antara lain UMKM tahu, pengrajin logam, pengrajin genteng, bata dan gula.
UMKM Tahu H. Komar Bogor
Pembakar siklon yang dapat diterapkan di UMKM ini adalah pembakar siklon kapasitas 90 kg/jam jam dengan modifikasi. Modifikasi diperlukan karena tungku pembakaran yang ada menyatu dengan boiler sehingga apabila tidak dilakukan modifikasi maka akan menggangu proses produksi. Modifikasi yang perlu dilakukan yaitu pembuatan ruang bakar untuk pembakar siklon dilengkapi dengan roda dan relnya sehingga dapat dipasang serta dilepas dengan mudah. Dengan cara ini, proses pembakaran dapat dilakukan bergantian baik dengan cara pembakar menggunakan kayu atau menggunakan pembakar siklon. UMKM ini berpotensi besar dan cocok
23
untuk penerapan pembakar siklon karena proses pembakarannya yang lama dan kuantitas besar sehingga penghematan energi dapat dirasakan oleh UMKM tersebut.
UMKM Pengrajin Logam Bogor
Pembakar siklon yang dapat diterapkan di UMKM ini adalah pembakar siklon kapasitas 20 kg/jam dengan modifikasi. Modifikasi diperlukan karena belum adanya tungku pembakaran untuk pembakar siklon. Modifikasi yang perlu dilakukan yaitu pembuatan ruang bakar untuk pembakar siklon yang terintegrasi dengan tempat penempaan logam. UMKM ini kurang berpotensi dan kurang cocok untuk penerapan pembakar siklon karena saat ini proses pemanggangan masih efektif dan efisien serta proses pembakaran yang tidak lama. Hal ini akan membuat penghematan energi kurang dapat dirasakan oleh UMKM tersebut.
UMKM Tahu Tiga Putri Sukabumi
Pembakar siklon yang dapat diterapkan di UMKM ini adalah pembakar siklon kapasitas 20 atau 50 kg/jam dengan modifikasi. Modifikasi diperlukan karena belum adanya tungku pembakaran untuk pembakar siklon. Modifikasi yang perlu dilakukan yaitu pembuatan ruang bakar untuk pembakar siklon yang terintegrasi dengan tempat penggorengan. UMKM ini berpotensi besar dan cocok untuk penerapan pembakar siklon karena proses pembakarannya yang lama dan kuantitas besar sehingga penghematan energi dapat dirasakan oleh UMKM tersebut.
UMKM Gula Aren Sukabumi
Pembakar siklon yang dapat diterapkan di UMKM ini adalah pembakar siklon kapasitas 20 kg/jam dengan modifikasi. Modifikasi diperlukan karena belum adanya tungku pembakaran. Modifikasi yang perlu dilakukan yaitu pembuatan ruang bakar yang cukup untuk pembakar siklon kapasitas 20 kg/jam. UMKM ini berpotensi dan cocok untuk penerapan pembakar siklon karena proses pembakarannya yang cukup lama dan jumlah UMKMnya yang tersentra serta banyak sehingga penghematan energi dapat dirasakan dan menjadi contoh bagi UMKM di daerah tersebut.
5.2.6 Survei di Garut
Koordinasi dimulai dengan Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pengelolaan Pasar (Disperindag) Kabupaten Garut yang diwakili oleh Kepala Bidang Perindustrian Disperindag Kabupaten Garut pada tanggal 27 April 2016 yang mengarahkan Kepala Seksi dan stafnya untuk memandu tim survei Puslitbang tekMIRA selama di Kabupaten Garut. Dari hasil koordinasi dan diskusi dengan Disperindag Kabupaten Garut diperoleh informasi bahwa di Kabupaten Garut terdapat beberapa UMKM yang berpotensi untuk menggunakan pembakar siklon antara lain UMKM tahu, dodol, gulali, kerupuk, dan akar wangi.
24 UMKM Dodol
Pembakar siklon yang dapat diterapkan di UMKM ini adalah pembakar siklon kapasitas 50 kg/jam dengan modifikasi. Modifikasi yang perlu dilakukan yaitu penutup ruang bakar dan pengintegrasian feeder dengan ruang bakar untuk pembakar siklon. Jumlah tungku pembakaran yang banyak bisa memudahkan penerapan pembakar siklon, namun lokasi tempat tungku berada yang cukup sempit perlu menjadi pertimbangan. UMKM ini berpotensi besar dan cocok untuk penerapan pembakar siklon karena proses pembakarannya yang lama dan kuantitas besar sehingga penghematan energi dapat dirasakan oleh UMKM tersebut.
UMKM Gulali
Pembakar siklon yang dapat diterapkan di UMKM ini adalah pembakar siklon kapasitas 50 kg/jam dengan modifikasi. Modifikasi yang perlu dilakukan yaitu penutup ruang bakar dan pengintegrasian feeder dengan ruang bakar untuk pembakar siklon. Walaupun tungku pembakaran cuma 2, lokasi tempat tungku berada yang cukup luas memungkinkan untuk dilakukan penerapan pembakar siklon. UMKM ini berpotensi besar dan cocok untuk penerapan pembakar siklon karena proses pembakarannya yang lama dan kuantitas besar sehingga penghematan energi dapat dirasakan oleh UMKM tersebut.
UMKM Akar Wangi
Pembakar siklon yang dapat diterapkan di UMKM ini adalah pembakar siklon kapasitas 50 atau 90 kg/jam dengan modifikasi. Modifikasi yang perlu dilakukan yaitu penutup ruang bakar dan pengintegrasian feeder dengan ruang bakar untuk pembakar siklon. Walaupun tungku pembakaran hanya 2, lokasi tempat tungku berada yang cukup luas memungkinkan untuk dilakukan penerapan pembakar siklon. UMKM ini berpotensi besar dan cocok untuk penerapan pembakar siklon karena proses pembakarannya yang lama dan kuantitas besar sehingga penghematan energi dapat dirasakan oleh UMKM tersebut.
UMKM Kerupuk
Pembakar siklon yang dapat diterapkan di UMKM ini adalah pembakar siklon kapasitas 20 atau 50 kg/jam dengan modifikasi. Modifikasi yang perlu dilakukan yaitu penutup ruang bakar dan pengintegrasian feeder dengan ruang bakar untuk pembakar siklon. Jumlah tungku pembakaran yang hanya 2 dan lokasi tempat tungku berada yang cukup sempit perlu menjadi pertimbangan saat penerapan pembakar siklon dilakukan. UMKM ini berpotensi besar dan cocok untuk penerapan pembakar siklon karena proses pembakarannya yang lama dan kuantitas besar sehingga penghematan energi dapat dirasakan oleh UMKM tersebut.
UMKM Tahu
Pembakar siklon yang dapat diterapkan di UMKM ini adalah pembakar siklon kapasitas 50 kg/jam dengan modifikasi. Modifikasi yang perlu dilakukan yaitu penutup ruang bakar dan pengintegrasian feeder dengan ruang bakar untuk pembakar siklon. Walaupun tungku pembakaran hanya 1, lokasi tempat tungku berada yang cukup luas memungkinkan untuk dilakukan penerapan pembakar siklon. UMKM ini berpotensi besar dan cocok untuk penerapan pembakar siklon karena proses pembakarannya yang lama dan kuantitas besar sehingga penghematan energi dapat dirasakan oleh UMKM tersebut.
25 5.2.7 Survei di Tasikmalaya
UMKM Deden Batik
Pembakar siklon yang dapat diterapkan di UMKM ini adalah pembakar siklon kapasitas 50 kg/jam dengan sistem pembakaran langsung. Modifikasi yang perlu dilakukan yaitu penutup ruang bakar dan pengintegrasian feeder dengan ruang bakar untuk pembakar siklon. UMKM ini berpotensi besar dan cocok untuk penerapan pembakar siklon karena proses pembakarannya yang lama dan kuantitas besar sehingga penghematan energi dapat dirasakan oleh UMKM tersebut. Terdapat lahan yang cukup luas untuk pembangunan pondasi pembakar siklon. Jumlah UMKM nya yang tersentra serta banyak sehingga penghematan energi dapat dirasakan dan menjadi contoh bagi UMKM di daerah tersebut.
UMKM Tahu Entang
Pembakar siklon yang dapat diterapkan di UMKM ini adalah pembakar siklon kapasitas 50kg/jam jam dengan modifikasi. Modifikasi yang perlu dilakukan yaitu dapat dibuatkan boiler sehingga sistem pembuatan tahu dapat diinovasikan dengan pemanasan steam. Lokasi tempat tungku berada yang cukup luas memungkinkan untuk dilakukan penerapan pembakar siklon. UMKM ini berpotensi besar dan cocok untuk penerapan pembakar siklon karena proses pembakarannya yang lama dan kuantitas besar sehingga penghematan energi dapat dirasakan oleh UMKM tersebut. Jumlah UMKM nya yang tersentra serta banyak sehingga penghematan energi dapat dirasakan dan menjadi contoh bagi UMKM di daerah tersebut.
UMKM Tempe
Pembakar siklon yang dapat diterapkan di UMKM ini adalah pembakar siklon kapasitas 50kg/jam jam dengan modifikasi. Modifikasi yang perlu dilakukan yaitu pembuatan boiler untuk di sambungkan dengan pembakar siklon. Walaupun tungku pembakaran hanya 2, lokasi tempat tungku berada yang cukup luas memungkinkan untuk dilakukan penerapan pembakar siklon. Selain itu direncanakan akan dilakukan pengembangan produk baru yakni nata de coco sehingga proses pemanasan dapat didistribusikan lebih optimal. UMKM ini berpotensi besar dan cocok untuk penerapan pembakar siklon karena proses pembakarannya yang lama dan rencana pengembangan produk baru sehingga penghematan energi dapat dirasakan oleh UMKM tersebut. Jumlah UMKM nya yang tersentra serta banyak sehingga penghematan energi dapat dirasakan dan menjadi contoh bagi UMKM di daerah tersebut.
UMKM Kerupuk si Geboy
Pembakar siklon yang dapat diterapkan di UMKM ini adalah pembakar siklon kapasitas 50 atau 90 kg/jam dengan modifikasi. Modifikasi yang perlu dilakukan yaitu penyesuaian desain tungku yang akan dibuat dengan boiler yang dimiliki pengusaha dengan pembuatan rel pada tungku pembakar siklon. Lokasi tempat tungku berada yang cukup sempit perlu menjadi pertimbangan saat penerapan pembakar siklon dilakukan. UMKM ini berpotensi besar dan cocok untuk penerapan pembakar siklon karena biaya konsumsi bahan bakar yang tinggi dan kuantitas produksi besar sehingga penghematan energi dapat dirasakan oleh UMKM tersebut.
26 5.2.8 Survei di Indramayu dan Cirebon
Koordinasi dimulai dengan Kepala Seksi Argo dan Sandang di Dinas Koperasi UKM, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Indramayu pada tanggal 5 April 2016 yang mengarahkan stafnya untuk memandu tim survei Puslitbang tekMIRA selama di Indaramayu. Dari hasil koordinasi dan diskusi dengan Dinas Koperasi UKM, Perindustrian, dan Perdagangan Kabupaten Indramayu diperoleh informasi bahwa di Kabupaten Indramayu terdapat beberapa UMKM yang berpotensi untuk menggunakan pembakar siklon antara lain UMKM terasi, kerupuk, dan garam.
Pada tanggal 6 April 2016, koordinasi dilanjutkan dengan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Cirebon yang kemudian dibantu oleh staf dari Kepala Seksi Agro dan Kimia untuk survei lokasi UMKM di Cirebon. Dari informasi yang diperoleh, UMKM di Cirebon yang kemungkinan berpotensi untuk menerapkan pembakar siklon antara lain UMKM makanan ringan. UMKM Kerupuk Sri Tanjung Indramayu
UMKM Kerupuk Sri Tanjung terletak di Desa Dukuh, Kabupaten Indramayu. Ada sekitar 20 UMKM kerupuk di Desa Dukuh. Di UMKM ini terdapat proses pembuatan uap air yang menggunakan
boiler dengan bahan bakar kayu. Proses pembakaran berlangsung selama 9 jam. Bahan bakar yang digunakan bisa mencapai 1 truk kayu untuk 3 hari produksi. Uap air digunakan untuk mengukus kerupuk. Ada 4 lemari kukus yang digunakan secara bersamaan. Untuk proses pengeringan, sinar matahari masih menjadi pilihan utama apabila tidak ada kendala. Saat musim hujan, proses pengeringan bisa menggunakan oven yang media panasnya berasal dari uap air. Pembakar siklon yang dapat diterapkan di UMKM ini adalah pembakar siklon kapasitas 90 kg/jam dengan modifikasi. Modifikasi yang perlu dilakukan yaitu pembuatan ruang bakar untuk pembakar siklon dilengkapi dengan roda dan relnya sehingga dapat dipasang serta dilepas dengan mudah. Proses pembakaran dapat dilakukan bergantian baik dengan cara pembakar menggunakan kayu atau menggunakan pembakar siklon. UMKM ini berpotensi besar dan cocok untuk penerapan pembakar siklon karena proses pembakarannya yang lama dan kuantitas besar sehingga penghematan energi dapat dirasakan oleh UMKM tersebut.
UMKM Kerupuk Pasir Indramayu
UMKM Kerupuk Pasir terletak di Desa Dukuh, Kabupaten Indramayu. Hanya ada 1 UMKM kerupuk pasir di Desa Dukuh. Di UMKM ini terdapat proses pembakaran langsung yang menggunakan bahan bakar kayu. Proses pembakaran berlangsung selama 3-4 jam. Bahan bakar yang digunakan sekitar 1 kubik kayu per hari.
Pembakar siklon yang dapat diterapkan di UMKM ini adalah pembakar siklon kapasitas 20 kg/jam dengan modifikasi. Modifikasi diperlukan karena tungku pembakaran yang ada berukuran
27
kecil. Modifikasi yang perlu dilakukan yaitu pembuatan ruang bakar yang cukup untuk pembakar siklon. UMKM ini berpotensi dan cocok untuk penerapan pembakar siklon yang kecil.
UMKM Kue Apem
UMKM Kue apem terletak di Kecamatan Plumbon, Kabupaten Cirebon. Di UMKM ini terdapat proses pemanggangan menggunakan oven. Bahan bakar yang digunakan adalah tabung gas 12 kg dengan penggunaan mencapai 4 tabung per hari.
Pembakar siklon yang dapat diterapkan di UMKM ini adalah pembakar siklon kapasitas 20 atau 50 kg/jam dengan modifikasi. Modifikasi diperlukan karena belum adanya tungku pembakaran untuk pembakar siklon. Modifikasi yang perlu dilakukan yaitu pembuatan ruang bakar untuk pembakar siklon yang terintegrasi dengan oven. UMKM ini kurang berpotensi dan kurang cocok untuk penerapan pembakar siklon karena saat ini proses pemanggangan masih efektif dan efisien. Hal ini mengakibatkan penghematan energi kurang dapat dirasakan oleh UMKM tersebut.
UMKM Kue Keju
UMKM Kue keju terletak di Kabupaten Cirebon. Di UMKM ini terdapat proses pemanggangan menggunakan oven berbahan bakar solar. Dalam satu hari kebutuhan bahan bakar solar bisa mencapai 12 liter. Pembakar siklon yang dapat diterapkan di UMKM ini adalah pembakar siklon kapasitas 20 atau 50 kg/jam dengan modifikasi. Modifikasi diperlukan karena belum adanya tungku pembakaran untuk pembakar siklon. Modifikasi yang perlu dilakukan yaitu pembuatan ruang bakar untuk pembakar siklon yang terintegrasi dengan oven. UMKM ini kurang berpotensi dan kurang cocok untuk penerapan pembakar siklon karena saat ini proses pemanggangan masih efektif dan efisien serta kurangnya area untuk penempatan pembakar siklon. Hal ini akan mengganggu proses produksi serta penghematan energi kurang dapat dirasakan oleh UMKM tersebut.
5.2.9 Survei di Semarang
Koordinasi dimulai dengan Balitbang Provinsi Jawa Tengah yang diwakili oleh Kepala Sub Bagian Umum dan Kepegawaian Balitbang Propinsi Jateng 17 Mei 2016 yang kemudian memandu tim survei Puslitbang tekMIRA selama di Jawa Tengah. Dari hasil koordinasi dan diskusi dengan Balitbang Provinsi Jawa Tengah diperoleh informasi bahwa di Jawa Tengah terdapat beberapa UMKM yang berpotensi untuk menggunakan pembakar siklon antara lain UMKM ikan bandeng, minyak atsiri, dan pengecoran. UMKM tersebut telah berbentuk klaster-klaster atau sentra dan telah berbadan hukum.
Klaster Ikan Bandeng Presto
Klaster Ikan Bandeng Presto terletak di Kelurahan Krobokan, Kecamatan Semarang Barat, Semarang. Di Kecamatan Semarang Barat ada lebih dari 20 tempat pengolahan ikan bandeng presto. Bahan baku utama yang digunakan dalam usaha ini adalah ikan bandeng dengan