BAB IV
KONSEP PERANCANGAN
A. TATARAN LINGKUNGAN/KOMUNITASKeterhubungan hasil rancangan dengan lingkungan, yaitu pemilihan bahan baku bambu petung diolah menjadi bambu laminasi. Bambu laminasi merupakan bambu berupa papan yang diperoleh dari bilah bambu yang direkatkan secara mendatar maupun menyamping.
Bambu yang direkatkan secara mendatar memperlihatkan ruas-ruas penampang bambu yang khas, sedangkan secara menyamping menampilkan bilah bambu dari sisinya. Kedua cara tersebut menampilkan dan menghasilkan papan motif yang berbeda, tetapi tidak kalah indah dengan motif dari kayu pada umumnya. Dengan teknologi ini, bambu dapat diolah menjadi beragam banyak furniture maupun handmade setara dengan kayu serta menambah unsur kebaruan.
Bambu laminasi olahan yang berasal dari lapisan bambu petung yang disusun secara mendatar maupun menyamping dan dipress. Dengan penggunaan bahan baku yang sudah mengalami pengolahan dari bahan baku asalnya dan mampu mengurangi bahan baku yang sering dijumpai seperti kayu yang dapat digantikan oleh bahan baku yaitu bambu laminasi. Dengan kata lain, ikut serta dalam mengurangi penggunaan kayu yang pada umumnya sering digunakan untuk produk furniture maupun handmade, serta dapat menimbulkan unsur kebaruan di bidang furniture maupun handmade yang sering menggunakan bahan kayu.
Selain itu, hasil rancangan jam meja juga mempunyai keterhubungan dengan lingkungan non-fisik seperti estetika dan gaya hidup. Estetika yang dimaksud hasil rancangan dapat memberi keindahan pada ruangan baik itu diaplikasikan di ruang meja kantor maupun di ruangan rumah. Sedangkan, gaya hidup yang dimaksud adalah gaya hidup
Misalnya, dengan memiliki jam meja dengan tampilan dan bentuk hewan indoneisa, orang dapat mengenali dan mengetahui hewan yang merupakan berasal dari indonesia. Artinya, jam meja yang dirancang dapat mengubah gaya hidup penggunanya untuk mengingat akan waktu dan memperindah ruangan.
B. TATARAN SISTEM
Konsep jam meja yang dirancang yaitu menggunakan bahan bambu laminasi. Bambu Laminasi adalah bambu yang direkatkan secara mendatar memperlihatkan ruas-ruas penampang bambu yang khas, sedangkan secara menyamping menampilkan bilah bambu dari sisinya. Kedua cara tersebut menampilkan dan menghasilkan papan motif yang berbeda, tetapi tidak kalah indah dengan motif dari kayu pada umumnya. Dengan teknologi ini, bambu dapat diolah menjadi beragam banyak furniture maupun handmade setara dengan kayu serta menambah unsur kebaruan dan dapat mengurangi kayu sebagai bahan utama untuk
furniture maupun handmade.
Cara Pembuatan Bahan Baku Bambu Laminasi
Proses kerja dalam membuat bambu laminasi yaitu memilih bahan bambu yang digunakan yaitu bambu petung yang sudah berumur 4 sampai 5 tahun, lalu membelah bambu sesuai ukuran supaya terbentuk lebar dan panjang yang sama.
Gambar 12. Proses Membelah Bambu Sumber: Dhika Zukrup Hari Ramadhan, 2017
Setelah terbelah, bambu tadi dimasukan kedalam mesin untuk pembersihan kulit bambu.
Gambar 13. Proses Pembersihan Kulit bambu Sumber: Dhika Zukrup Hari Ramadhan, 2017
Tahap selanjutnya pengeringan bambu, bambu yang sudah dibersihkan dimasukkan kedalam oven yang dikhususkan untuk mengeringkan bambu tersebut.
Gambar 14. Proses Pengeringan Bambu Sumber: Dhika Zukrup Hari Ramadhan, 2017
Proses Pengeringan bambu dilakukan selama 5 s/d 7 hari lamanya agar bambu benar-benar kesring sempurna.
Selanjutnya bambu yang sudah di oven dicetak kedalam cetakan untuk membentuk sebuah papan, dengan alat bantu berupa lem kayu.
Gambar 15. Proses Pengeleman Bambu Sumber: Dhika Zukrup Hari Ramadhan, 2017
Setelah dicetak menjadi papan bambu, papan bambu diberikan cairan kimia yaitu amoniak dan H2O fungsinya untuk menghilangkan serabut-serabut yang terdapat pada papan bambu. Setalah diberi
cairan kimia, dilakukan pengamplasan dan pemeberian cairan kimia, fungsinya agar serat hitam atau lubang kecil hilang serta papan bambu menjadi halus, tahap ini dilakukan sampai berulang kali agar papan bambu benar- benar halus. Setelah halus papan bambu di berikan varnis dan dijemur kurang lebih 2 jam dengan sinar matahari dan proses pembuatan bambu laminasi selesai.
Gambar 16. Bambu Laminasi
Sumber: Dhika Zukrup Hari Ramadhan, 2017
Berikut contoh bagan pembuatan bambu laminasi:
Bagan 2. Skema Proses Pembuatan Bambu Laminasi Sumber: Dhika Zukrup HR, 2017
Cara Kerja Produk
Gambar 17. Cara Kerja Produk
Sumber: Dhika Zukrup Hari Ramadhan, 2017
Maka, dapat dilihat cara kerja produk jam meja sebagai benda aksesoris meja yang dikhususkan untuk ruangan meja kantor maupun di ruangan rumah.
Dalam cara penyebaran atau pemasaran produk, yaitu dengan mengikuti acara-acara atau pameran yang berkaitan dengan produk dan
Handmade Indonesia skala kecil maupun besar. Agar produk ini dapat
dikenal secara nasional maupun manca negara. Sedangkan pemanfaatan produknya untuk pengguna yang membutuhkan handmade (jam meja) yang mempunyai estetika dan unsur kebaruan di bidang furniture maupun handmade yang sering menggunakan bahan kayu.
C. TATARAN PRODUK
Konsep jam meja yang dirancang adalah jam meja yang berbentuk hewan endemik indonesia dengan material bahan bambu laminasi yang dibuat untuk memberikan inovasi dan unsur kebaruan terhadap material produk jam meja sebagai aksesoris meja yang dikhususkan untuk ruangan meja kantor maupun di ruangan rumah. Tujuannya untuk memberikan sebuah produk handmade, memberikan unsur kebaruan pada bahan
baku yang digunakan pada pembuatan jam meja, unik dengan bentuk hewan endemik indonesia serta dapat mengenali hewan tersebut dan pendekatan estetik dari tampilan bentuk dan warna asli dari bahan.
Proses kerja dalam merancang produk jam meja ini melalui beberapa tahap, yaitu mengemukakan permasalahan, mencari data-data analisis, sketsa desain, pembuatan gambar kerja, pembuatan gambar digital, sampai proses produksi di workshop.
1. Sketsa Desain
Melalui sketsa desain, terpilih beberapa objek hewan endemik indonesia sebagai objek utama perancangan bentuk jam meja.
Gambar 18. Sketsa Desain
Sumber: Dhika Zukrup Hari Ramadhan, 2017
2. Pembuatan Gambar Kerja
Tahap selanjutnya, pembuatan gambar kerja gambar kerja berfungsi sebagai gambar acuan yang digunakan untuk merealisasikan antara ide ke dalam wujud fisik. Gambar kerja harus dapat dipahami dengan baik oleh pelaku industri sehingga memudahkan dalam proses
produksi produk handmade jam meja. Baik ukuran/dimensi maupun bentuk disesuaikan dengan skala 1:1.
Gambar 19. Proses Pembuatan Gambar Kerja Sumber: Dhika Zukrup Hari Ramadhan, 2017
Gambar 20. Proses Pembuatan Gambar Kerja Sumber: Dhika Zukrup Hari Ramadhan, 2017
3. Pembuatan Gambar Digital
Pada tahap ini gambar digital berfungsi sebagai gambar acuan yang digunakan untuk merealisasikan antara ide ke dalam wujud fisik dan sebagai acuan bentuk, ukuran dan tampilan pada hasil jadi produk.
Gambar 21. Pembuatan Gambar Digital Sumber: Dhika Zukrup Hari Ramadhan, 2017
4. Proses Produksi
Setelah proses desain selesai, selanjutnya masuk ke dalam proses produksi di workshop. Pada tahap ini tidak hanya sekedar menyerahkan desain saja, tetapi tetap terkontrol di bawah pengawasan. Berikut adalah langkah-langkah yang ditempuh dalam proses produksi di workshop:
Gambar 22. Proses Pemindahan Gambar Digital Sumber: Dhika Zukrup Hari Ramadhan, 2017
Langkah pertama dalam proses produksi di workshop adalah proses pemindahan gambar digital ke software Art Cam Pro yang khusus diprogramkan ke mesin CNC Router.
Gambar 23. Proses Pembentukkan ke Mesin CNC Router Sumber: Dhika Zukrup Hari Ramadhan, 2017
Setelah semua gambar digital dipindahkan ke software Art Cam Pro sesuai bentuk dan ukuran rancangan, kemudian masuk ke dalam proses pembentukkan ke Mesin CNC Router. Dalam proses ini, menggunakan baut, papan bekas yang berfungsi untuk menahan bahan bambu laminasi tidak goyang saat proses pembentukkan di mesin CNC Router serta vacum cleaner yang berfungsi untuk membersihkan serbuk yang dihasilkan dari bambu laminasi tersebut
Gambar 24. Proses Pendempulan Sumber: Dhika Zukrup Hari Ramadhan, 2017
Langkah selanjutnya, yaitu pengaplikasian dempul untuk meratakan permukaan pada produk agar mempermudah proses pekerjaan finishing.
d. Proses Pengamplasan
Gambar 25. Proses Pengamplasan Sumber: Dhika Zukrup Hari Ramdhan, 2017
Setelah seluruh bagian produk sudah diaplikasikan dempul, selanjutnya masuk ke dalam proses pengamplasan. Proses ini
dilakukan untuk menghaluskan semua bagian permukaan produk dan mempermudah proses finishing.
e. Proses Pengaplikasian Plitur
Sebelum masuk ke dalam pekerjaan finishing, terlebih dahulu produk diaplikasikan plitur, dalam pengaplikasikan plitur pada produk jam meja, pengaplikasikan plitur ini harus berulang kali dilakukan agar menguatkan ciri khas tekstur dari bambu tersebut.
Gambar 26. Proses Pengaplikasian Plitur Sumber: Dhika Zukrup Hari Ramadhan, 2017
Gambar 27. Finishing Produk
Sumber: Dhika Zukrup Hari Ramadhan, 2017
Setelah melewati beberapa langkah proses produksi, selanjutnya masuk ke dalam proses akhir (finishing). Proses
finishing yang dilakukan adalah pengamplasan lagi agar halus dan
tidak menghilangkan tekstur bambu, pemasangan badan jam dan jarum jam pada seluruh produk. Setelah itu, pemasangan aksesoris pada produk seperti cutting sticker.
D. TATARAN ELEMEN
1. Bentuk
Bentuk yang dipilih pada jam meja adalah bentuk hewan endemik indonesia yang dikenal langka. Dari beberapa hewan endemik indonesia di antaranya adalah rusa bawean, komodo, badak jawa (badak bercula satu), orang hutan, kanguru pohon dan kakatua raja.
Tabel 2. Bentuk Hewan dan Bentuk Produk Bentuk Hewan Bentuk Produk
Terinspirasi dari bentuk hewan Rusa Bawean
Terinspirasi dari bentuk hewan Komodo
Terinspirasi dari bentuk Primata Orang Utan
Terisnpirasi dari bentuk Burung Kakatua Raja Hitam
Terinspirasi dari bentuk hewan Badak Jawa
Terinspirasi dari bentuk hewan Kangguru Pohon
Dari bentuk hewan endemik indonesia kemudian dikembangkan menjadi bentuk yang lebih inovatif dengan setiap bagian hewan memiliki corak yang berbeda dengan proses stilasi.
2. Warna
Warna yang digunakan pada produk adalah warna turunan dari bahan bambu laminasi dengan cara memplitur agar warna dan tekstur terlihat mencolok.
3. Material
Bambu laminasi adalah bambu berupa papan yang diperoleh dari bilah bambu yang direkatkan secara mendatar maupun menyamping.
Bambu yang direkatkan secara mendatar memperlihatkan ruas-ruas penampang bambu yang khas, sedangkan secara menyamping menampilkan bilah bambu dari sisinya. Kedua cara tersebut menampilkan menghasilkan papan motif yang berbeda, tetapi tidak kalah indah dengan motif dari kayu pada ummnya. Dengan teknologi ini, bambu dapat diolah menjadi beragam banyak furniture maupun handmade setara dengan kayu.