BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Pendidikan merupakan salah satu kebutuhan untuk meningkatkan potensi dalam diri manusia sehingga anak mempunyai bekal pengetahuan, keterampilan dan keahlian. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 1 Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Untuk mengembangkan potensi diri dalam peserta didik maka peserta didik membutuhkan motivasi belajar. Menurut Uno (2011:1-3) menyatakan bahwa motivasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku. Dorongan ini berada pada diri seseorang yang menggerakkan untuk melakukan sesuatu yang sesuai dengan dorongan dalam dirinya. Oleh karena itu, perbuatan seseorang yang didasarkan atas motivasi tertentu mengandung tema sesuai dengan motivasi yang mendasarinya.
Menurut Sardiman (2016:73) kata “motif” juga diartikan sebagai daya upaya yang mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Motif dapat dikatakan penggerak dari dalam dan didalam subjek untuk melakukan aktivitas-aktivitas tertentu demi mencapai suatu tujuan. Sedangkan Hero dan Sari (2018) menyatakan bahwa motivasi merupakan sebuah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan sesuai dengan tujuan tertentu.
Parnawi (2019:2) menyatakan bahwa belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang
menyangkut kognitif afektif, dan psikomotor. Jadi Menurut Rumbewas, dkk (2018) Motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak baik dari dalam diri maupun dari luar diri siswa. Sedangkan Anurraga dalam (Sardiman, 2011:75) menyatakan motivasi belajar adalah keseluruhan daya penggerak di dalam diri peserta didik yang menimbulkan kegiatan belajar, yang menjamin kelangsungan dari kegiatan belajar dan yang memberikan arah pada kegiatan belajar, sehingga tujuan yang dikehendaki oleh subjek belajar dapat tercapai.
Motivasi belajar pada usia sekolah dasar dapat dipengaruhi oleh beberapa factor tertentu. Adapun salah satu factor yang dapat mempengaruhi semangat belajar siswa usia sekolah dasar ialah keluarga. Siswa dapat belajar sesuai dengan prosedur belajar yang ideal dapat dipengaruhi oleh semangat belajar pada diri sendiri. Penanaman konsep pada diri siswa pertama didapatkan dilingkungan keluarga, lingkungan keluarga mempunyai peran utama dalam menunjang minat belajar siswa.
Parnawi (2019: 68-69) motivasi dapat dibedakan menjadi dua yaitu: 1) Motivasi dalam diri pribadi seseorang atau motivasi intrinsik dan, 2) Motivasi yang berasal dari luar diri seseorang atau motivasi ekstrinsik. Motivasi ekstrinsik bisa diperoleh salah satunya dari keluarga, terutama orangtua. Sedangkan Uno (2011: 23) mengemukakan bahwa hakikat motivasi belajar adalah dorongan internal pada siswa-siswa yang sedang belajar untuk mengadakan perubahan tingkah laku, pada umumnya dengan beberapa indikator atau unsur yang mendukung. Hal itu mempunyai peranan besar dalam keberhasilan seseorang dalam belajar. Indikator motivasi belajar dapat diklasifikasikan sebagai berikut: (1) adanya hasrat dan keinginan berhasil; (2) adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar; (3) adanya harapan dan cita-cita masa depan; (4) adanya penghargaan dalam belajar; (5) adanya kegiatan yang menarik dalam belajar; (6) adanya lingkungan belajar yang kondusif, sehingga memungkinkan seseorang siswa dapat belajar dengan baik.
Peran orang tua sangat besar pengaruhnya terhadap keberhasilan peserta didik dalam belajar. Tinggi rendahnya pendidikan orang tua, besar kecilnya penghasilannya, cukup atau kurang perhatian dan bimbingan orang tua, rukun atau tidaknya kedua orang tua, akrab atau tidaknya hubungan orang tua dengan anak-anak, tenang atau tidaknya situasi dalam rumah, semua itu dapat mempengaruhi pencapaian hasil belajar peserta didik.
Lestari (2012) menyatakan bahwa peran orang tua adalah cara-cara yang digunakan oleh orang tua mengenai tugas-tugas yang mesti dijalankan dalam mengasuh anak. Berdasarkan pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa cara orang tua yang digunakan terkait dengan perannya terhadap anak harus benar-benar dijalankan sesuai dengan tugas-tugas yang semestinya dilakukan oleh orang tua, karena cara yang dilakukan orang tua akan menjadi pegangan bagi anak tersebut.
Motivasi dari orang tua dapat mempengaruhi kebiasaan belajar siswa baik dirumah maupun di sekolah. Karena orang tua merupakan guru pertama dan utama bagi anak. Sebagai orang tua sudah seharusnya memberi bekal anaknya kelak untuk membentuk generasi masa depan yang berkuaitas. Seperti yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 7 ayat 2 menyatakan bahwa: “Orang tua dari anak usia wajib belajar, berkewajiban memberikan pendidikan dasar kepada anaknya”. Karena pendidikan anak pada hakikatnya adalah tanggung jawab orang tua. Menurut Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 pasal 13 ayat 1 menyatakan bahwa “jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal yang dapat saling melengkapi dan memperkaya”.
Pendidikan formal adalah jalur pendidikan sekolah. Pendidikan nonformal adalah jalur pendidikan lingkungan atau masyarakat. Dan pendidikan informal adalah pendidikan yang ada didalam keluarga.
Keberhasilan anak di sekolah harus didukung oleh perhat’ian orang tua. Karena orang tua merupakan factor eksternal yang mempunyai peranan utama dalam mendidik anak untuk mencapai prestasi belajar melalui
motivasi yang diberikan orang tua kepada anaknya. Menurut Komandoko (2006:12) “suasana keluarga sangat berpengaruh pada motivasi dan semangat belajar anak”. Karena orang tua yang kurang memperhatikan pendidikan anaknya, seperti tidak mendampingi anak ketika belajar, tidak mengetahui kesulitan-kesulitan yang dialami anak ketika belajar, dan lain-lain, itu semua dapat meneyebabkan anak tidak berhasil dalam belajarnya. Hal ini dapat terjadi pada anak yang mempunyai keluarga yang orang tuanya terlalu sibuk mengurus pekerjaan. Kurangnya perhatian orang tua akan sangat berpengaruh dalam prestasi belajar anak.
Berdasarkan hasil observasi yang telah dilaksanakan disekitar lingkungan peneliti, menunjukkan bahwa masih banyak orang tua yang belum sadar akan perannya dalam memberikan motivasi kepada anaknya. Masih banyak anak yang kurang termotivasi untuk belajar dan lebih senang menghabiskan waktu untuk bermain dan menonton TV jika berada didalam rumah, apalagi anak zaman sekarang sudah mempunyai HP sendiri-sendiri dan itu menyebabkan anak sangat kurang dalam belajar, anak lebih asik main game online, tik-tok, dan lain-lain, hal itu dibuktikan berdasarkan wawancara yang peneliti lakukan pada hari Senin, 26 Januari 2021 kepada Maulidiya Fadila Anggraeni salah satu siswa kelas IV Sekolah Dasar. Anggraeni mengatakan bahwa waktu belajar dirumah sangat singkat dan apabila belajar dirumah orang tuanya jarang dirumah. Putri teman anggraeni juga mengatakan bahwa waktu belajar hanya sekitar 20-30 menit. Putri adalah salah satu siswa kelas V lebih sering belajar jika mendapatkan tugas atau PR dari gurunya, ia juga mengatakan lebih sering menghabiskan waktunya dengan bermain HP dan menonton TV. Orang tua Putri selalu menegur ketika dia tidak belajar. Salwa adalah salah satu siswa kelas IV juga mengatakan bahwa orang tuanya selalu mengontrol waktu belajarnya dan sering bertanya mengenai kegiatan disekolah, salwa juga mengatakan bahwa apabila salwa tidak belajar orangtuanya selalu mendampingi salwa untuk belajar.
Rumbewas dkk (2018) telah melakukan penelitian tentang bagaimana peran orang tua dalam memotivasi siswa dalam belajar yaitu dengan Orang tua harus berperan aktif dalam memberikan semangat kepada peserta didik agar terus belajar dan dapat membagi waktu belajar peserta didik dengan baik dan juga Orang tua harus memberikan motivasi kepada peserta didik saat mengerjakan tugas dirumah karena pemberian motivasi penting bagi peserta didik supaya dapat belajar dengan baik. Sari (2017) juga melakukan penelitian tentang bagaimana peran orang tua dalam memotivasi anak dalam belajar yaitu dengan orang tua mempunyai tugas untuk menyayangi anak-anaknya, orang tua mempunyai tugas dalam menjaga ketentraman dan ketenangan lingkungan rumah serta menyiapkan ketenangan jiwa anak-anak dan saling menghormati antara orang tua dan anak dengan kata lain yaitu mengurangi kritik dan pembicaraan negative berkaitan dengan kepribadian dan perilaku mereka serta menciptakan iklim kasih sayang dan keakraban, dan pada waktu yang bersamaan kedua orang tua harus menjaga hak-hak hukum mereka terkait dengan diri mereka dan orang lain. Karena orang tua merupakan pendidik, pendorong dan fasilitator bagi anak. Penelitian juga sama dilakukan oleh Hero dan Sni (2018) dengan fokus penelitian untuk mengetahui peran orang tua dalam meningkatkan motivasi belajar anak yang mana menunjukkan hasil bahwa melalui peran orang seorang anak akan memiliki motivasi lebih dalam belajarnya.
Berdasarkan uraian tersebut peneliti akan melakukan penelitian mengenai analisis peran orang tua terhadap motivasi belajar dirumah. Peneliti memfokuskan penelitiannya pada bagaimana orang tua memotivasi anak untuk belajar dirumah sehingga pada penelitian ini berjudul “Analisis Peran Orang Tua Terhadap Motivasi Belajar Siswa Pada Kelas IV SDN 01 Kepohkencono”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas, maka rumusan msalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagaimana bentuk peran orang tua dalam pembelajaran anak di Desa Kepohkencono Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati?
2. Bagaimana upaya orang tua untuk meningkatkan motivasi belajar anak di Desa Kepohkencono Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati? 3. Apakah hambatan yang dialami orang tua dalam meningkatkan
motivasi belajar anak di Desa Kepohkencono Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati?
1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang dikemukakan diatas, maka tujuan dalam penelitian ini adalah sebagi berikut:
1. Untuk mengetahui peran orang tua dalam pembelajaran anak.
2. Untuk mengetahui upaya orang tua dalam meningkatkan motivasi belajar anak.
3. Untuk mengetahui hambatan yang dialami orang tua dalam meningkatkan motivasi belajar anak.
1.4 Manfaat Penelitian 1. Manfaat Teoritis
Berkaitan dengan manfaat teoritis, secara umum hasil penelitian pengaruh orang tua dalam memotivasi belajar anak ini dapat dijadikan rujukan bagi wali murid ataupun orang tua dalam memberikan pendampingan dan motivasi belajar anak sekolah dasar agar dalam hal ini anak bisa semangat belajarnya secara utuh.
2. Manfaat Praktis a. Bagi Siswa
Siswa dapat terbantu dalam motivasi belajar dan motivasi untuk memiliki prestasi, keterampilan dan selalu meningkatkan keaktifan belajar yang dapat digunakan untuk mempersiapkan diri dalam melanjutkan pendidikan di jenjang pendidikan yang lanjut.
b. Bagi Orang Tua
Orang tua dalam memotivasi belajar siswa yaitu dapat mengontrol waktu dan cara belajar, mengontrol perkembangan kepribadian dan moral siswa dan memantau afektifitas jam belajar sekolah, sehingga peran orang tua yang menjadi seorang pendidik dalam memotivasi belajar melalui bentuk peran sebagai orang tua dapat dilaksanakan dan tercapai secara maksimal.
c. Bagi Peneliti
Dengan adanya penelitian ini peneliti dapat menambah pengetahuan dan pengalaman, sekaligus bekal untuk menjadi pendidik dimasa yang akan datang.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA
2.1 Kajian Teori
Dalam kajian peneliti akan menguraikan mengenai, pengertian peran orang tua, peran orang tua dalam pendidikan, hakikat motivasi belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar, indikator motivasi belajar, fungsi motivasi dalam belajar, ciri-ciri motivasi belajar, jenis-jenis motivasi belajar, upaya meningkatkan motivasi belajar, peran guru dalam proses pembelajaran.
2.1.1 Peran Orang Tua
Pembahasan pada bagian ini akan membahas tentang pengertian peran orang tua, dan peran orang tua dalam pendidikan.
2.1.1.1 Pengertian Peran Orang Tua
Menurut Hamalik (2007:33) menyatakan peran adalah pola tingkah laku tertentu yang merupakan ciri-ciri khas yang dimiliki seseorang sebagai pekerjaan atau jabatan yang berkedudukan dimasyarakat.
Lestari (2012:153) menyatakan peran orang tua merupakan peran yang sangat penting untuk anak menuju masa dewasanya. Anak di didik agar dapat menemukan jati dirinya dan mampu menjadi dirinya sendiri. Jadi, anak diberikan kesempatan untuk memutuskan sendiri pilihan profesi yang ditekuni sesuai dengan keahlian anak. Dalam hal ini tugas orang tua adalah memberikan masukan, arahan dan pertimbangan atas pilihan yang telah di buat anak untuk menjadi orang sukses. Orang tua juga memfasilitaskan kebutuhan bagi anak untuk mencapai cita-citanya seperti memenuhi keperluan sekolah dan mengikut sertakan bimbingan belajar ketika hal itu dirasakan perlu bagi anak.
Sebelum membahas mengenai orang tua, terlebih dahulu akan dijelaskan mengenai keluarga karena orang tua merupakan bagian dari keluarga yang ada didalamnya. Menurut Lestari (2012:6) menyatakan keluarga adalah rumah tangga yang memiliki hubungan darah atau
perkawinan atau menyediakan terselnggaranya ungsi-fungsi instrumental mendasar dan ungsi-fungsi ekspresif keluarga bagi para anggotanya yang berada dalam suatu jaringan.
Menurut kamus besar bahasa Indonesia (2008) dari sumber jurnal EduMatSains, 2 (2) januari 2008,201-212 orang tua merupakan ayah dan ibu kandung. Orang tua adalah komponen keluarga yang terdiri dari ayah, dan ibu, dan merupakan hasil dari sebuah ikatan perkawinan yang sah yang membentuk sebuah keluarga.
Berdasarkan teori para ahli diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa orang tua adalah ayah dan ibu yang merupakan hasil dari pekawinan yang sah dan membentuk satu keluarga.
2.1.1.2 Peran Orang Tua Dalam Pendidikan
Peran orang tua dalam pendidikan akan menentukan keberhasilan bagi pendidikan anakanaknya. Menurut Hero dan Sari (2018) peran orang tua dalam pendidikan adalah sebagai berikut:
a. Pendidik (edukator)
Pendidik dalam Islam yang pertama dan utama adalah orang tua yang bertanggung jawab terhadap anak didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi anak didik, baik potensi afektif, potensi kognitif dan potensi psikomotor.
b. Pendorong (motivator)
Motivasi adalah daya penggerak atau pendorong untuk melakukan sesuatu pekerjaan. Motivasi bisa berasal dari dalam diri (intrinsik) yaitu dorongan yang datang dari hati sanubari, umumnya karena kesadaran akan pentingnya sesuatu. Dan motivasi yang berasal dari luar (ekstrinsik) yaitu dorongan yang datang dari luar diri (lingkungan), misalnya dari orang tua, guru, teman-teman dan anggota masyarakat.
c. Fasilitator
Anak yang sedang belajar selain harus terpenuhi kebutuhan pokoknya, juga membutuhkan fasilitas belajar seperti ruang belajar, meja, kursi, penerangan, alat tulis menulis, buku dan lain-lain. Jadi orang tua berkewajiban memenuhi fasilitas belajar agar proses belajar berjalan dengan lancer.
d. Pembimbing
Sebagai orang tua tidak hanya berkewajiban memberikan fasilitas dan biaya sekolah saja. Tetapi anak juga membutuhkan bimbingan dari orang tuanya.
Sekolah merupakan kegiatan yang berat dalam proses belajar banyak dijumpai kesulitan, kadang-kadang anak mengalami lemah semangat. Maka dari itu orang tua wajib memberikan pengertian dan mendorongnya membantu sedapat mungkin kesulitan yang dialami anak di sekolah. Oleh sebab itu orang tua harus mempunyai waktu dalam mendampingi anak-anaknya. Pada saat itulah anak diberi pengarahan dan nasehat agar lebih giat dalam belajar.
2.1.2 Motivasi Belajar
Pembahasan pada motivasi belajar ini akan membahas tentang hakikat motivasi belajar, faktor-faktor yang mempengaruhi motivasi belajar, indikator motivasi belajar, fungsi motivasi dalam belajar, ciri-ciri motivasi belajar, jenis-jenis motivasi belajar dan upaya meningkatkan motivasi belajar
2.1.2.1 Hakikat Motivasi Belajar
Menurut Sardiman (2016:73) motivasi belajar berawal dari kata “motif”’ yang dapat diartikan sebagai daya penggerak yang telah menjadi aktif. Motif menjadi akti pada saat-saat tertentu, terutama bila kebutuhan untuk mencapai tujuan sangat dirasakan /mendesak. Sedangkan Hero dan Sari (2018) menyatakan bahwa motivasi merupakan sebuah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan sesuai dengan tujuan tertentu.
Uno (2011:23) mengemukakan bahwa motivasi belajar merupakan dua hal yang saling mempengaruhi. Belajar adalah perubahan tingkah laku secara relative permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktik atau penguatan untuk mencapai tijuan tertentu, sedangkan motifasi adalah dorongan dasar yang menggerakkan seseorang bertingkah laku.
Bahriah daan Abadi, (2016: 87) juga mendefinisikan motivasi belajar merupakan bentuk dorongan dari dalam diri siswa yang ditampilkan dalam bentuk partisipasi siswa untuk melakukan serangkaian kegiatan.
Berdasarkan uraian dari beberapa ahli mengenai motivasi maka peneliti akan menyimpulkan bahwa motivasi belajar adalah dorongan dari dalam maupun dari luar diri seseorang untuk tetap belajar sehingga seseorang atau khususnya siswa sekolah dasar dapat memperoleh hasil yang maksimal berkat dorongan semangat atau motivasi belajar yang tinggi.
2.1.2.2 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Motivasi Belajar
Dalam aktivitas belajar, sorang individu membutuhkan suatu dorongan atau motivasi sehingga sesuatu yang diinginkan dapat tercapai, dalam hal ini ada beberapa faktor yang mempengaruhi belajar antara lain:
Menurut Komandoko (2006:12-39) menyatakan faktor yang mempengaruhi motivasi belajar yaitu:
1. Faktor internal, misalnya suasana keluarga, suasana keluarga sangat berpengaruh pada motivasi belajar anak. Inilah faktor yang paling dekat dengan kehidupan anak, yang akan secara langsung mempengaruhi motivasi dan semangat belajarnya. Suasana keluarga yang berantakan yang sehari-hari dijumpai anak , akan menyebabkan motivasi dan semangat belajar anak menjadi berantakan juga.
2. Faktor eksternal, faktor eksternal sangat berpengaruh bagi bangkitnya motivasi dan semangat belajar anak. Meskipun anak tidak bermasalah ketika didalam rumah, namun karena ia harus tetap menghadapi berbagai hal diluar rumah, kondisi diluar rumah yang tidak sehat akan berdampak besar pada motivasi belajar anak. Sedangkan menurut Sukadi (dalam Suprihatin, 2015: 78) yang berpendapat bahwa motivasi belajar dipengaruhi oleh beberapa factor berikut ini:
1. Lingkungan tempat proses pembelajaran berlangsung. 2. Peniruan tingkah laku.
3. Harapan orangtua terhadap anaknya.
Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa adanya faktor tersebut dapat memberikan suatu penjelasan mengenai proses belajar yang dipahami oleh siswa. Maka dari itu, didalam memberikan dan melaksanakan proses belajar, mengajar harus memperhatikan faktor tersebut, baik dari psikologis, maupun lingkungan.
2.1.2.3 Indikator Motivasi Belajar
Berdasarkan pendapat Sardiman (2016:83) motivasi yang terdapat dalam diri siswa tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1) Tekun menghadapi tugas, yaitu dapat bekerja terus-menerus dalam waktu yang lama, tidak pernah berhenti sebelum selesai.
2) Ulet menghadapi kesulitan, yaitu tidak mudah putus asa dalam mengerjakan suatu tugas dan tidak memerlukan dorongan dari luar untuk untuk berprestasi sebaik mungkin.
3) Menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah, misalnya kritis terhadap masalah pembangunan agama, politik, ekonomi, penentangan terhadap setiap tindak kriminal, dan lain-lain.
4) Lebih senang bekerja mandiri, lebih menyukai mengerjakan tugas secara mandiri tanpa melihat jawaban orang lain atau menyontek. 5) Cepat bosan pada tugas-tugas yang diberikan secara rutin, hal-hal
yang bersifat berulang-ulang tidak bisa meningkatkan kreatifitas. 6) Dapat mempertahankan pendapatnya.
7) Tidak mudah melepaskan hal-hal yang diyakininya. 8) Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal.
Berdasarkan uraian diatas, jika seseorang memiliki ciri-ciri tersebut dapat dikatakan bahwa siswa tersebut memiliki motivasi belajar yang cukup tinggi. Siswa yang memiliki motivasi belajar yang kuat akan mendorong dirinya untuk belajar dengan penuh semangat.
2.1.2.4 Fungsi Motivasi dalam Belajar
Baik motivasi intrinsik maupun motivasi ekstrinsik semua berfungsi sebagai pendorong, penggerak dan penyeleksi perbuatan ketiganya menyatu dalam sikap terimplikasi dalam perbuatan. Dorongan adalah fenomena pskilogis dari dalam yang melahirkan hasrat untuk bergerak dalam menyeleksi perbuatan yang akan dilakukan. Karena itulah baik dorongan atau penggerak maupun penyeleksi merupakan kata kunci dari motivasi dalam setiap perbuatan dalam belajar.
Oleh karena itu menurut Parnawi (2019:70-71) fungsi motivasi dalam belajar yaitu sebagai berikut.
1. Motivasi sebagai pendorong perbuatan
Pada mulanya anak didik tidak ada hasrat untuk belajar, tetapi karena ada sesuatu yang dicari maka muncullah niatnya untuk belajar. Sesuatu yang akan dicari itu dalam rangka memuaskan rasa ingin tahunya dari sesuatu yang dipelajari anak tersebut. 2. Motivasi sebagai penggerak perbuatan
Dorongan psikologis yang melahirkan sikap terhadap anak didik itu merupakan suatu kekuatan yang tak terbendung, yang kemudian terjelma dalam bentuk gerakan psikofisik. Disini anak didik sudah melakukan aktivitas belajar dengan menggunakan jiwa dan raga. Akal pikiran berproses dengan sikap raga yang cenderung mengikuti pembelajaran.
3. Motivasi sebagai pengarah perbuatan
Anak didik yang mempunyai motivasi dapat menyeleksi mana perbuatan yang harus dilakukan dan mana perbuatan yang harus diabaikan. Seorang anak didik yang ingin mendapatkan sesuatu dari satu mata pelajaran tertentu, tidak mungkin dipaksakan untuk mempelajari pelajaran yang lain. Pasti anak didik akan mempelajari mata pelajaran yang mana tersimpan sesuatu yang akan dicari. Sesuatu yang akan dicari anak didik merupakan tujuan belajar yang akan dicapainya. Tujuan belajar itulah
sebagai pengarah yang memberikan motivasi kepada anak didik dalam belajar.
2.1.2.5 Ciri-Ciri Motivasi Belajar
seseorang termotivasi dapat dilihat dari ciri-ciri yang ada dalam diri seseorang tersebut. Berikut ini beberapa ciri-ciri motivasi belajar menurut para ahli:
Sardiman (2016:83) mengemukakanciri-ciri motifasi pada setiap orang adalah:
1. Tekun menghadapi tugas 2. Ulet menghadapi kesulitan
3. Menunjukkan minat terhdap bermacam-macam masalah 4. Senang mencari dan memecahkan masalah soal-soal 5. Dapat mempertahankan pendapaatnya
6. Tidak mudah melepaskan hal yang diyakininya 7. Lebih senang bekerja mandiri
8. Cepet bosan pada tugas-tugas rutin.
Ciri-ciri motivasi belajar menurut Uno (2011:23) dapat diklasifikasikan sebagai berikut:
1. Adanya hasrat dan keinginan untuk berhasil 2. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar 3. Adanya harapan dan cita-cita masa depan 4. Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar 5. Adanya penghargaan dalam belajar
6. Adanya lingkungan belajar yang kondusif
Sedangkan menurut Daniel (dalam Wibowo Agus, 2016: 38) juga menjelaskan ciri-ciri motivasi belajar yaitu:
1. Memiliki tanggung jawab pribadi yang tinggi
2. Melakukan kegiatan yang berarti dan menghasilkan hasil yang memuaskan
3. Mempunyai keinginan menjadi orang terkemuka yang menguasai bidang tertentu
4. Memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan
Dari ciri-ciri motivasi belajar menurut para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa adanya motivasi yang baik dalam belajar akan mendapatkan hasil yang baik. Maka dari itu dengan adanya usaha yang tekun, menunjukkan ketertarikan, senang mengikuti pelajaran, maka pembelajaran akan berhasil dan seseorang tersebut akan mendapatkan apa yang diinginkan dan mendapatkan prestasi yang baik.
2.1.2.6 Jenis-Jenis Motivasi Belajar
Jenis-jenis motivasi belajaar menurut Parnawi (2019:68-69) terdapat dua jenis motivasi yaitu motivasi intrinsik dan motivasi ekstrinsik, berikut penjelasannya:
1) Motivasi Intrinsik
Yang dimaksud motivasi intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau fungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu. Bila seseorang telah memiliki motivasi intrinsik dalam dirinya, maka ia secara sadar akan melakukan suatu kegiatan yang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya. Dalam aktivitas belajar, motivasi intrinsik sangat diperlukan, terutama belajar sendiri.
2) Motivasi Ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah kebalikan dari motivasi intrinsik. Motivasi ekstrinsik adalah motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar.
2.1.2.7 Upaya Meningkatkan Motivasi Belajar
Ada beberapa siswa yang tidak termotivasi untuk belajar atau tidak terlibat secara aktif dalam kegiatan pengajaran dikelas. Sebagian besar siswa aktif belajar bersama dan sebagian kecil siswa dengan berbagai sikap dan perilaku yang terlepas dari kegiatan belajar dikelas. Kedua kegiatan anak didik yang bertentangan ini sebagai gambaran suasana kelas yang kurang kondusif. Guru tidak harus tinggal diam biala ada anak didik yang tidak
terlibat langsung dalam belajar bersama. Perhatian harus lebih diarahkan kepada mereka.
Menurut Parnawi (2019:75-76) mengemukakan beberapa upaya untuk meningkatkan motivasi belajar peserta didik, antara lain sebagai berikut:
1. Menggairahkan anak didik
Guru harus berusaha menghindaari hal-hal yang monoton dan membosankan. Ia harus selalu memberikan kepada anak didik cukup banyak hal-hal yang perlu dipikirkan dan dilakukan. Guru harus memelihara minat anak didik dalam belajar, yaitu dengan memberikan anak didik kebebasan untuk berpindah dari satu aspek pelajaran ke aspek yang lain dalam situasi belajar.
2. Memberikan harapan Realistis
Guru harus memelihara harapan-harapan anak didik yang realistis dan memodifikasikan harapan-harapan yang kurang realistis atau tidak realistis. Untuk itu guru harus mempunyai pengetahuan yang cukup mengenai keberhasilan atau kegagalan akademis setiap anak didik dimasa lalu.
3. Memberikan insentif
Guru diharapkan memberikan hadiah kepada peserta didiknya misalnya berupa pujian, angka yang baik, dan lain sebagainya atas keberhasilan siswa tersebut. Sehingga peserta didik dapat terdorong atau termotivasi melakukan usaha yang lebih dari sebelumnya.
2.2 Penelitian yang Relevan
Penelitian relevan merupakan hasil penelitian orang lain yang digunakan sebagai acuan penelitian yang dilakukan oleh peneliti. Beberapa penelitian relevan yang akan dilakukan peneliti adalah sebagai berikut:
1. Penelitian yang dilakukan oleh: Hero dan Sni (2018) pada penelitian tersebut menunjukkan bahwa melalui peran orang tua dalam belajar dapat meningkatkan motivasi siswa dalam belajar. Orang tua mempunyai peran
serta dalam menentukan inisiatif, aktifitas terstruktur dirumah untuk menunjang pendidikan anak.
2. Penelitian yang dilakukan oleh: Sari (2017) pada penelitian ini menjelaskan bahwa orang tua mempunyai tugas untuk menyayangi anak-anaknya, orang tua mempunyai tugas dalam menjaga ketentraman dan ketenangan lingkungan rumah serta menyiapkan ketenangan jiwa anak-anak dan saling menghormati antara orang tua dan anak-anak dengan kata lain yaitu mengurangi kritik dan pembicaraan negative berkaitan dengan kepribadian dan perilaku mereka serta menciptakan iklim kasih sayang dan keakraban, dan pada waktu yang bersamaan kedua orang tua harus menjaga hak-hak hukum mereka terkait dengan diri mereka dan orang lain. Karena orang tua merupakan pendidik, pendorong dan fasilitator bagi anak
3. Penelitian yang dilakukan oleh: Rumbewas dkk (2018) pada penelitian ini menjelaskan tentang bagaimana peran orang tua dalam memotivasi siswa dalam belajar yaitu dengan Orang tua harus berperan aktif dalam memberikan semangat kepada peserta didik agar terus belajar dan dapat membagi waktu belajar peserta didik dengan baik dan juga Orang tua harus memberikan motivasi kepada peserta didik saat mengerjakan tugas dirumah karena pemberian motivasi penting bagi peserta didik supaya dapat belajar dengan baik
4. Penelitian yang dilakukan oleh: Aisyatinnaba dan Sutoyo (2016) pada penelitian ini menjelaskan tentang subyek satu memiliki motivasi belajar yang tinggi, peran orang tua tinggi dalam memotivasi anak. Subyek dua memiliki motivasi belajar rendah, peran orang tua rendah dalam memotivasi belajar siswa. Subyek tiga memiliki motivasi belajar sedang, peran orang tua sedang dalam memotivasi belajar siswa. Subyek ke empat memiliki motivasi belajar tinggi dan peran orang tua tinggi dalam memotivasi belajar anak. Dan subyek ke lima memiliki motivasi belajar rendah dan peran orang tua juga rendah dalam memotivasi belajar anak.
5. Penelitian yang dilakukan oleh: Artifasari dan Irawati (2017) pada penelitian ini menjelaskaan tentang pengalaman informan dalam menciptakan rasa percaya diri kepada anaknya adalah dengan cara memberikan pujian, mengucapkan terima kasih, dan Ketika berhasil melakukan sesuatu memberikan hadiah. Membuat kesepakatan bersama orang tua dan anak, menciptakan kedisiplinan, menegakkan kedisiplinan dan ketegasan. Motivasi orang tua dapat menciptakan rasa percaya diri, membuat kesepakatan antara orang tua dan anak, dan menciptakan kedisiplinan, ketegasan dan komunikasi yang efektif.
6. Penelitian yang dilakukan oleh: Hasgimianti dkk (2017) pada penelitian ini menjelaskan tentang perhatian orang tua terhadap latar belakang budaya melayu masuk dalam kategori baik, orang tua memperhatikan latar belakang budaya jawa berada dalam kategori baik, motivasi latar belakang budaya melayu termasuk dalam kategori tinggi, motivasi belajar siswa dengan latar belakang budaya jawa termasuk dalam kategori sngat tinggi, dan tidak ada perbedaan yang signifikan antara orang tua dengan latar belakang budaya melayu dan jawa, sementara ada perbedaan motivasi belajar yang signifikan.
7. Penelitian yang dilakukan oleh: Karidawati (2020) pada penelitian ini menjelaskan tentang peran orang tua dalam pendidikan adalah pertama, mendukung penuntasan wajib belajar dengan cara memasukkan anaknya ke madrasah mulai dari tingkat dasar, menengah sampai selanjutnya. Kedua, berperan aktif dalam badan pembantu penyelenggaraan pendidikan. Ketiga, dengan memberikan motivasi belajar anak di rumah. Sedangkan masyarakat berperan sebagai pemerintah dan penyelenggaraan pendidikan.
Table 2.1 Persamaan dan Perbedaan Penelitian Relevan No Peneliti Judul Penelitian Persamaa n Perbedaan Originalitas 1 Hermus Hero dan Maria Ermalinda Peran orang tua dalam meningkatka n motivasi Persamaan pada penelitian ini dengan Perbedaan terletak pada tempatnya yakni di Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti
Sni (2018) belajar siswa kelas v di sekolah dasar inpres iligetang penelitian yang akan peneliti lakukan yakni sama-sama membahas tentang peran orang tua dan motivasi belajar sekolah dasar inpres iligetang dan di Desa Kepohkencon o pada penelitian yang akan dilaksanakan memfokuska n pada peran orang tua dalam meningkatka n motivasi belajar anak dan hambatan yang dilami orang tua dalam meningkatka n motivasi anak 2 Diana sari (2017) Peran orang tua dalam memotivasi belajar siswa Sama-sama membahas tentang peran orang tua dan motivasi belajar. Perbedaan terletak pada tempatnya yakni di sekolah SMP Negeri 3 Palembang dan di Desa kepohkencono pada penelitian yang akan dilaksanakan Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti memfokuska n pada peran orang tua dalam meningkatka n motivasi belajar anak dan hambatan yang dilami orang tua dalam meningkatka n motivasi anak 3 Selfia S. Rumbewas, Beatus M. Laka, Naftali Meokbun (2018) Peran Orang Tua Dalam Miningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik di Sd Negeri Saribi Persamaan pada penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan yakni sama-sama membahas tentang peran orang tua dan Perbedaan terletak pada tempatnya yakni di sekolah Sd Negeri Saribi Palembang dan di Desa kepohkencono pada penelitian yang akan dilaksanakan Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti memfokuska n pada peran orang tua dalam meningkatka n motivasi belajar anak dan hambatan yang dilami orang tua
motivasi belajar dalam meningkatka n motivasi anak 4 Nur Aisyatinnab a dan Anwar Sutoyo (2016) Peran orang tua dalam memotivasi belajar anak Persamaan pada penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan yakni sama-sama membahas tentang peran orang tua dan motivasi belajar Perbedaan terletak pada tempatnya yakni di SMP Negeri 3 Losari Brebes dan di Desa kepohkencono pada penelitian yang akan dilaksanakan Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti akan memfokuska n pada peran orang tua dalam meningkatka n motivasi belajar anak dan hambatan yang dialami orang tua dalam meningkatka n motivasi belajar anak 5 A.Artifasari dan Irawati (2017) Peran pola asuh orang tua dalam memotivasi belajar anak usia 6-12 tahun di kelurahan biru watampone kab.bone tahun 2017 Persamaan pada penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan yakni sama-sama membahas tentang peran orang tua dan motivasi belajar Perbedaan pada penelitian ini terletak pada pola asuh orang tua dan pada kelurahan watampone sedangkan pada penelitian yang akan peneliti lakukan tentang peran orang tua dan terletak di Desa Kepohkencon o Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti memfokuska n pada peran orang tua dalam meningkatka n motivasi belajar anak dan hambatan yang dilami orang tua dalam meningkatka n motivasi anak 6 Hasgimianti, Herman Perhatian orang tua dan
Persamaan pada Pada penelitian ini Penelitian yang akan
Nirwana, Daharnis (2017) motivasi belajar siswa yang berlatar belakang melayu dan jawa penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan yakni sama-sama membahas tentang peran orang tua dan motivasi belajar membahas tentang perhatian orang btua yang berlatar belakang melayu dan jawa sedangkan pada penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti membahas tentang peran orang tua dilakukan oleh peneliti memfokuska n pada peran orang tua dalam meningkatka n motivasi belajar anak dan hambatan yang dilami orang tua dalam meningkatka n motivasi anak 7 Karidawati (2020) Peran serta orang tua dalam memberikan motivasi belajar siswa di madrasah tsanawiah negeri tanjung jabung timur Persamaan pada penelitian ini dengan penelitian yang akan peneliti lakukan yakni sama-sama membahas tentang peran orang tua dan motivasi belajar Pada penelitian Karidawati berlokasi di madrasah tsanawiah negeri tanjung jabung timur sedangkan pada penelitian yang akan dilaksanakan di Desa Kepohkencon o Penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti memfokuska n pada peran orang tua dalam meningkatka n motivasi belajar anak dan hambatan yang dilami orang tua dalam meningkatka n motivasi anak 2.3 Kerangka Teoritik
Kerangka teori merupakan keterkaitan antar teori yang digunakan sebagai dasar penelitian. Adapun kerangka teori disajikan sebagai berikut:
Gambar 2.1 Kerangka Teoritik
2.4 Kerangka Berpikir
Salah satu peran orang tua yaitu berkewajiban melaksanakan pendidikan anak dilingkungan rumah, anak tersebut perlu diberikan motivasi belajar agar bersemangat dalam melakukan belajar sehingga anak memiliki prestasi dalam belajarnya. Anak sekolah dasar walaupun sudah mendapatkan motivasi belajar oleh guru saat berada disekolah, orang tua juga sangat berperan penting dalam prestasi anak yaitu dengan memotivasi belajar anak saat berada di rumah.
Motivasi yang baik adalah motivasi yang datang dalam diri anak itu sendiri untuk proses belajar baik belajar di rumah maupun di sekolah.
Anak
Menurut Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.
Belajar
Belajar adalah serangkaian kegiatan jiwa raga untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku sebagai hasil dari pengalaman individu dalam interaksi dengan lingkungannya yang menyangkut kognitif afektif, dan psikomotor. (Parnawi, 2019:2)
Motivasi
Motivasi merupakan sebuah dorongan yang timbul pada diri seseorang secara sadar atau tidak sadar untuk melakukan suatu tindakan sesuai dengan tujuan tertentu. (Hero dan Sari, 2018)
Peran orang tua
Peran orang tua adalah cara-cara yang digunakan oleh orang tua mengenai tugas-tugas yang mesti dijalankan dalam mengasuh anak. (Lestari, 2012)
Peran Orang Tua Terhadap Motivasi Belajar Anak Kelas 4 SDN Kepohkencono 01
Motivasi yang diberikan orang tua hanya sebagai pendukung anak agar anak lebih bersemangat dan giat dalam belajar.
Motivasi belajar tersebut terkait dengan peran orang tua, peran orang tua sangat memberikan dampak yang besar dalam proses belajar anak. Namun banyak orang tua yang tidak menyadari hal tersebut, orang tua hanya tau kalau mereka hanya bertanggung jawab dengan menyekolahkan anaknya dan mengabaikan pendidikan anak mereka sendiri, termasuk memberikan semangat, dorongan dan motivasi belajar kepada anak.Orang tua hanya sibuk dengan kesibukan mereka masing-masing dan menganggap bahwa tugas pendidikan diserahkan kepada guru sepenuhnya yang ada disekolahan. Padahal pendidikan pertama yang dikenal anak adalah dari orang tua dan keluarga yang berperan sangat penting.
Gambar 2.2 kerangka Berpikir Peran orang tua dalam meningkatkan
motivasi belajar anak
Orang tua sibuk bekerja
Motivasi belajar anak rendah
Orang tua tidak memahami kesulitan belajar
Peran orang tua dalam meningkatkan motivasi belajar siswa kelas 4 di Sd N kepohkencocno 01
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Tempat dan Waktu Penelitian 3.1.1 Tempat Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan di Desa Kepohkencono Kecamatan Pucakwangi Kabupaten Pati. Dimana di dalam penelitian ini akan memperdalam peran orang tua yang diterapkan kepada siswa SDN Kepohkencono 01.
3.1.2 Waktu Penelitian
Penelitian ini akan dilaksanakan selama 5 bulan yaitu bulan Januari 2021 hingga Mei 2021
3.2. Pendekatan dan Jenis Penelitian
Pendekatan yang digunakan pada penelitian ini adalah pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif dilaksanakan tidak mengutamakan angka, tetapi mengutamakan keadaan penghayatan konsep yang dapat dikaji secara empiris dan pada pengumpulan data dilakukan dengan deskriptif. Atau dengan dokumentasi yang diperoleh dengan kegiatan observasi. Data yang diperoleh berupa transkip-transkip wawancara, dokumen pribadi, catatan data lapangan, gambar atau foto dan lain sebagainya. Ciri utama dalam penelitian kualitatif terletak pada fokus penelitian yakni berupa kajian intensif tentang suatu keadaan tertentu atau suatu fenomena. Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bersifat deskriptif dan cenderung menggunakan analisis dalam menjabarkannya. Menurut Sugiono (2015:9) menyatakan bahwa metode penelitian kualitatif adalah metode penelitian yang berlandasan pada filsafat postpositivisme, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci, teknik pengumpulan data dilakukan secara gabungan, analisis data bersifat kualitatif, dan hasil penelitian kuslitatif lebih menekankan makna dari pada generalisasi. Sedangkan menurut Denzin dan Lincoln (dalam Anggito dan Setiawan,
2018:7) menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian deskriptif. Penelitian deskriptif yaitu penelitian yang menggambarkan atau mendeskripsikan suatu fenomena atau sebuah keadaan yang diobservasi dengan objektif. Penelitian ini focus untuk mengetahui masalah tentang peran orang tua dalam meningkatkan motivasi belajar anak kelas 4 di SDN Keohkencono 01.
3.3. Peranan Peneliti
Pada penelitian ini peneliti memiliki peran yang penting untuk terwujudnya keberhasilan dalam penelitian. Peran yang dilakukan oleh peneliti yaitu dari tahap observasi terhadap permasalahan yang ada di lapangan hingga menyimpulkan hasil penelitian yang telah diperoleh peneliti. Peneliti adalah orang yang bertanggung jawab pada penelitian yang dilakukan mulai dari tahap perencanaan penelitian, pengumpulan dan penelitian, menganalisis data hingga pada akhirnya menyimpulkan data yang telah diperoleh dari penelitian tersebut. Oleh sebab itu peneliti memiliki peran penting dalam melakukan sebuah penelitian. Selain sebagai orang yang murni dalam mengumpulkan data, peneliti juga berperan sebagai pendamping dari objek yang akan diteliti.
Berhubungan dengan pendidikan anak usia sekolah dasar, peneliti berusaha mencari tahu peran orang tua dalam meningkatkan motivasi belajar anak sehingga peneliti dapat memperoleh informasi yang dibekaitn dengan peran orang tua dalam meningkaykan motivasi belajar anak. Selanjutnya peneliti memberikan solusi berkaitan dengan masalah penelitian, sehingga hasil penelitian dapat bermanfaatdan berguna untuk kepentingan pendidikan.
3.4. Data dan Sumber Data 3.4.1 Data
Data dalam penelitian pada dasarnya terdiri dari semua informasi atau bahan yang disediakan alam yang harus dicari, dikumpulkan dan dipilih oleh peneliti. Menurut Subroto (dalam Nugrahani, 2014:107) data bias terdapat pada segala sesuatu apapun yang menjadi bidang dan sasaran penelitian.
Data informasi yang dikumpulkan pada penelitian ini yaitu data kualitatif adalah data yang berbentuk gambar, kata, atau kalimat. Dalam penelitian ini diperoleh data berupa lisan dan tulisan. Data lisan diperoleh dari hasil wawancara mendalam yaitu orang tua yang memiliki anak usia sekolah dasar dan anak usia sekolah dasar sebagai narasumber. Data tulisan diperoleh dari hasil teori atau pendapat pendukung yang berkaitan dengan peran orang tua dalam meningkatkan motivasi belajar anak. 3.4.2 Sumber Data
Menurut Sugiono (2015:308) sumber data dibagi menjadi dua jenis yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder. Sumber data primer adalah sumber data yang langsung memberikan data kepada pengumpul data, dan sumber data sekunder adalah sumber data yang tidak langsung memberikan data kepada pengumpul data, misalnya lewat orang lain atau lewat dokumen.
Penelitian ini memiliki dua sumber data yaitu sumber data primer dan sumber data sekunder sebagai berikut:
1) Sumber data primer yang meliputi: a. Orang tua
Dalam penelitian ini, peneliti akan mengambil empat orang tua untuk dijadikan informan berdasarkan kategori latar belakang pendidikan dan profesi. Perbedaan ini diharapkan dapat memberikan informasi yang dibutuhkan oleh peneliti.
b. Anak
Dalam penelitian ini, peneliti akan mengambil empat orang anak untuk dijadikan informan berdasarkan karakter anak.
Berikut data empat keluarga yang akan dijadikan sebagai informan. Table 3.1 Sumber Data
No Nama Anak Kelas Jenis Kelamin Nama Orang Tua Pekerjaan Tingkat Pendidikan
1 MFA 4 P Ibu : H Ibu : Petani Ibu : SD 2 KPA 4 P Bapak : M Bapak :
Perangkat Desa
Bapak : SMA
3 SDWN 4 P Ibu : Y Ibu : IRT Ibu : MA
4 RJJ 4 L Ibu : A Ibu :
Penjahit
Ibu : SMK
2) Sumber data sekunder, sumber data sekunder diperoleh dari dokumentasi penelitian, catatan penelitian, dan data pendukung lainnya yang dapat digunakan untuk data pendukung penelitian tersebut.
3.5. Pengumpulan Data
Pengumpulan data merupakan hal yang penting dalam sebuahpenelitian. Pengumpulan data digunakan sebagai langkah awal yang digunakan dalam sebuah penelitian agar memperoleh data dengan tepat. Teknik pengumpulan data yang akan digunakan adalah sebagai berikut.
3.5.1 Studi Pustaka
Studi pustaka pada penelitian ini untuk memperkuat keakuratan penelitian serta wawasan terhadap objek yang diteliti. Pada penelitian ini studi pustaka diperoleh dari berbagai sumber yaitu dari artiker, journal,
media cetak, buku reverensi, karya tulis lain. Hal tersebut dilakukan untuk memperoleh data sebanyak mungkin agar penelitian memperoleh hasil yang akurat.
3.5.2 Observasi
Sugiono (2015:145) observasi sebagai teknik pengumpulan data mempunyai ciri yang spesifik bila dibandingkandengan teknik yang lain. Pendapat Hadi (dalam Sugiono, 2015:145) menjelaskan bahwa observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari berbagai prose biologis dan psikhologis,
Observasi yang dilakukan oleh peneliti dalam penelitian ini yaitu menggunakan bentuk observasi partisipan karena peneliti melakukan observasi dengan ikut serta langsung dalam kegiatan. Penelitian ini melakukan observasi terhadap beberapa hal yang berkaitan dengan peran orang tua melalui pengamatan secara langsung dengan bertujuan data yang diperlukan bisa diperoleh secara akurat.
3.5.3 Wawancara
Wawancara adalah kegiatan Tanya jawab antara satu orang dengan orang lain dengan cara tatap muka atau langsung, Sugiono (2015:138) menyatakan bahwa wawancara dapat dilakukan secara terstruktur maupun tidak terstruktur, dan dapat dilakukan melalui tatap muka (face to face) maupun dengan menggunakan telepon. Wawancara terstruktur merupakan teknik wawancara yang sudah terencana dengan baik, sedangkan wawancara tidak terstruktur yaitu wawancara yang dilakukan dengan spontan tanpa perencanaan.
Pada penelitian ini menggunakan teknik wawancara terdtruktur yaitu dengan mewawancarai orang tua anak usia sekolah dasar. Wawancara ini digunakan untuk bertujuan mengetahui hambatan yang dialami orang tua dalam meningkatkan motivasi belajar anak.
3.5.4 Perekaman
Perekaman pada penelitian ini di gunakan untuk menyimpan data karena data pada penelitian ini berupa audio sebagai data yang dijadikan sebagai landasan penelitian.
Perekaman dilakukan pada saat informan menuturkan jawaban wawancara. Perekaman pada penelitian ini berupa audio. Perekaman tersebut dilakukan untuk mengetahui data asli. Selain berupa rekaman juga sebagai dokumentasi.
3.5.5 Pencatatan
Pencatatan adalah proses mencatat hal-hal penting yang berkaitan dengan data yang dibutuhkan oleh peneliti. Penelitian akan mencatat dengan menggunakan buku catatan sederhana, kertas, handphone, dan lembar pedoman observasi. Mulai dari hal-hal kecil hingga penting akan dicatat sesuai dengan kebutuhan data yang diperoleh.
3.5.6 Pemotretan
Pemotretan pada penelitian ini digunakan untuk memperoleh data langsung untuk melengkapi data dari tempat penelitian. Pemotretan ini dimaksud untuk melengkapi data dari studi pustaka, observasi, wawancara, perekaman, dan pencatatan. Pemotretan merupakan sumber data yang stabil dimana menunjukkan suatu fakta yang telah berlangsung. Agar dapat memperjelas dimana informasi didapatkan. Peneliti mengabadikan dalam bentuk foto-foto dan data relevan dengan penelitian. Adapun pemotretan yang dimaksud yaitu melakukan pemotretan pada pihak yang memberi informasi dan lokasi dimana peneliti mendapat informasi.
Pada penelitian ini, peneliti akan menyimpulkan data dengan teknik pemotretan yaitu peneliti melakukan pencarian dan pengambilan informasi yang berupa foto dan menguraikan dengan arah penelitian.
3.6. Keabsahan Data
Keabsahan data merupakan yang diperoleh peneliti dari objek penelitian sesungguhnya sehingga data yang disajikan dapat dipertanggungjawabkan. Sugiono (2015:270) berpendapat bahwa Uji keabsahan data dalam penelitian kualitatif meliputi uji credibility, transferability, dependability, dan confirmability.
1. Credibility (kepercayaan)
Uji kredibilitas atau uji kepercayaan terhadap penelitian yang disajikan oleh peneliti agar hasil penelitian yang dilakukan tidak meragukan sebuah karya ilmiah Sugiono (2015:270).
2. Transferability (keteralihan)
Transferbilitas merupakan validitas eksternal dalam penelitian kuantitatif. Validitas eksternal menunjukkan derajat ketetapan atau dapat diterapkan hasil penelitian ke populasi dimana sampel tersebut diambil Sugiono (2015:276).
3. Dependability (kebergantungan)
Reliabilitas atau penelitian dapat dipercaya, dengan kata lain beberapa percobaan yang dilakukan selaku mendapatkan hasil yang sama. Penelitian yang dependability apabila penelitian yang dilakukan oleh orang lain dengan proses penelitian yang sama akan memperoleh hasil yang sama pula Sugiono (2015:277).
4. Konfirmabilitas (kepastian)
Konfirmabilitas yakni menguji hasil penelitian, bila hasil penelitian merupakan fungsi dari proses penelitian yang dilakukan maka penelitian tersebut telah memenuhi standar konfirmabilitas Sugiono (2015: 277). Pada tahap ini peneliti akan memastikan bahwa data yang didapat melalui observasi, wawancara mendalam, dokumentasi dan pencatatan secara langsung dari lapangan, sehingga data yang diperoleh harus benar-benar objektif.
3.7. Analisis Data
Analisis data dalam penelitian sangat penting yaitu akan lebih mudah dipahami dan bermanfaat jika dianalisis. Menurut Sugiono (2015:244:) analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil dari wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah difahami, dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain.
Sedangkan Miles dan Huberman (dalam Sugiono, 2015:244) menyatakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya sudah jenuh. Dalam menganalisis data pada penelitian kualitatif ada tiga tahapan sebagai berikut:
1. Reduksi Data
Reduksi data merupakan proses berpikir sensitive yang memerlukan kecerdasan dan keluasan kedalaman wawasan yang tinggi. Dalam mereduksi data peneliti akan dipandu pada tujuan yang dicapai. Tujuan utama pada penelitian kualitatif adalah pada temuan. 2. Penyajian Data (data display)
Setelah data direduksi maka langkah selanjutnya adalah menyajikan data, yang paling sering digunakan dalam penelitian kualitatif adalah dengan teks yang bersifat naratif. Melalui penyajian data tersebut maka data terorganisasikan, tersusun dalam pola hubungan sehingga akan mudah difahami.
3. Verifikasi atau Penyimpulan (conclusion drawing)
Langkah ketiga menurut miles dan huberman dalam penelitian kualitatif adalah melakukan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan dalam penelitian kualitatif diharapkan merupakan temuan baru yang sebelumnya belum pernah ada.
DAFTAR PUSTAKA
Aisyatinnaba, Nur dan Anwar Sutoyo. 2016. “Peran Orang Tua dalam Memotivasi Belajar Siswa”. Indonesian Journal of Guidance dan Counseling, 5 (4), 52-57
Anggito, Albi dan Johan Setiawan. 2018. Metodologi Penelitian Kualitatif. Jawa Barat: CV Jejak
Artifasari, A dan Irawati. 2017. “Peran Pola Asuh Orang Tua dalam Memotivasi Belajar Anak Usia 6-12 Tahun di Kelurahan Biru Watampone Kab.Bone Tahun 2017”. Jurnal Ilmiah Kesehatan Diagnosis, 11 (1), 51-56
Bahriah Evi Sapnatul dan Sella Marselyana Abadi. 2016. Motivasi Belajar Siswa Pada Materi Ikatan Kimia Melalui Metode Praktikum. Jurnal Kimia dan Pendidikan. 1 (1). 86-97
Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama
Hasgimianti, et.al. 2017. “Perhatian Orang Tua dan Motivasi Belajar Siswa yang Berlatar Belakang Melayu dan Jawa”. Jurnal Bimbingan dan Konseling, 6 (2), 130-134
Hero, Hermus, dan Maria Ermalinda Sni. 2018. Peran Orang Tua Dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa Kelas V Di Sekolah Dasar Inpres Iligetang. Jurnal Riset Pendidikan Dasar. 01 (2), Oktober 2018, 129-139. Indonesia. Undang-Undang SISDIKNAS (Sistem Pendidikan Nasional), UU RI
No. 20 Th. 2003. Jakarta: Redaksi Sinar Grafika
Karidawati, 2020. “Peran Serta Orang Tua dalam memberikan Motivasi Belajar Siswa si Madrasah Tsanawiyah Negeri 4 Tanjung Jabung Timur”. Jurnal Literasiologi, 3 (4), 66-73
Komandoko, Gamal. 2006. 20 Kiat Membangkitkan Motivasi Belajar Anak. Yogyakarta: Cakrawala
Lestari, Sri. 2012. Psikologi Keluarga: Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga. Jakarta: Kencana
Nugrahani, Farida. 2014. Metode Penelitian Kualitatif. Solo: Cakra Books
Rumbewas, Selvia S, dkk. 2018. Peran Orang Tua Dalam Miningkatkan Motivasi Belajar Peserta Didik di Sd Negeri Saribi. Jurnal EduMatSains, 2 (2), Januari 2018, 201-212
Sardiman, A.M. 2016. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: Rajawali Pers
Sari, Diana. 2017. Peran Orang Tua Dalam Memotivasi Belajar Sisiwa. Jurnal Prosiding Seminar Nasional 20 Program Pascasarjana Universitas Pgri Palembang, 25 November 2017
Sugiono. 2015. Metode Penelitian Kualitatif, Kuantitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta
Suprihatin Siti. 2015. Upaya Guru dalam Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa. Jurnal Pendidikan Ekonomi. 3 (2). 73-82
Undang-Undang No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas UU Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan Anak
Uno, H B. 2011. Teori Motivasi dan Pengukurannya. Jakarta: PT Bumi Aksara
Wibowo Agus. 2016. Hubungan Lingkungan Kampus, Pola Asuh Orang Tua dan Motivasi Berprestasi Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Jakarta. Jurnal Humanika. 16 (1). 33-57