Vol. 17 No. 1 Februari 2021 ISSN : 1693-9549
33 | P a g e
PENGARUH KOMITE AUDIT DAN FRAUD TRIANGLE
TERHADAP KECURANGAN LAPORAN KEUANGAN
PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGES
Dwi Fitrianingsih1*
Email : [email protected] Heri Sapari Kahpi2
Email : [email protected] Abdurrohman3
Email : [email protected]
Dosen Program Studi Akuntansi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Banten Desti Purwaningsih 4
Program Studi Akuntansi Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Banten
ABSTRACT
This research was conducted to determine the effect of the Audit Committee and the Fraud Triangle on Fraud of Financial Statements at Food and Beverage Companies Listed on the IDX 2015-2018. This method uses a quantitative approach with purposive sampling technique. The sample used is 11 companies which are financial statements on food and beverage companies on the Indonesia Stock Exchange (BEI).
The analysis technique used is statistical test with multiple linear regression method. The results of the T test show that financial stability has a significant positive effect on fraudulent financial statements. The audit committee, External Pressure, Financial targets, Nature of Industry, Ineffective Monitoring, Organizational Structure, and Rationalization have no significant effect on fraudulent financial statements.
Keywords: Audite Commite, Fraud Triangle, Financial Report Fraud
ABSTRAK
Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui Pengaruh Komite Audit dan Fraud Triangle terhadap Kecurangan Laporan Keuangan Pada Perusahaan Makanan dan Minuman yang Terdaftar di BEI Tahun 2015-2018. Metode ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling. Sampel yang digunakan berjumlah 11 perusahaan yang merupakan Laporan Keuangan Pada Perusahaan Makanan dan Minuman di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Teknik Analisis yang digunakan adalah uji statistik dengan metode regresi liniear berganda. Dari hasil uji T menunjukkan bahwa Financial Stability berpengaruh positif signifikan terhadap kecurangan laporan keuangan. Komite audit, External Pressure, Financial targets, Nature of Industry, Ineffective
Monitoring, Organizational Structure, dan Rasionalisasi tidak berpengaruh secara signifikan terhadap
kecurangan laporan keuangan.
Kata Kunci: Komite Audit, Fraud Triangle, Kecurangan Laporan Keuangan
PENDAHULUAN Latar Belakang
Perusahaan industri manufaktur adalah suatu cabang industri yang mengaplikasikan mesin, peralatan dan tenaga kerja dan suatu
Vol. 17 No. 1 Februari 2021 ISSN : 1693-9549
34 | P a g e
medium proses untuk mengubah bahan menjadibarang jadi untuk dijual. Barang jadi yang dijual dalam hal ini adalah barang jadi yang dijual kepada pelanggan dalam jumlah yang besar. Dengan kegiatan yang dilakukan, industri manufaktur secara langsung berkontribusi pada pendapatan suatu negara. Sehingga akan lebih banyak timbulnya resiko kecurangan (fraud) (Bambang dan Kinanti, 2017).
Persaingan yang timbul membuat setiap perusahaan berusaha meningkatkan kinerja untuk mencapai tujuan seperti laba yang tinggi. Sehingga memungkinkan setiap perusahaan manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan manipulasi dalam laporan keuangan mereka.
Di Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berhasil mendeteksi beberapa perusahaan yang terlibat dalam skandal akuntansi. Contoh kasus yang berhasil dideteksi oleh OJK, antara lain PT Sari Husada Tbk, PT Great River Internasional Tbk, PT Agis Tbk dan Katarina Utama Tbk. Beberapa salah saji memang belum tentu berkaitan dengan kecurangan, namun faktor-faktor risiko yang berkaitan dengan kecurangan manajemen terbukti ada pada kasus-kasus ini. Sepanjang tahun 2014, terdapat 777 pelaku pasar modal yang dikenai sanksi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Atas pelanggaran itu, OJK menerapkan sanksi administratif berupa denda kepada emiten senilai Rp7,9 miliar. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Otoritas Jasa Keuangan, Nurhaida mengungkapkan, 777 sanksi itu terdiri dari 60 sanksi peringatan tertulis, 713 sanksi denda, 2 sanksi pencabutan izin, dan 2 sanksi pembekuan izin. Nurhaida merinci, sebanyak 665 sanksi administratif berupa denda karena keterlambatan penyampaian laporan berkala dan laporan insidental dengan total nilai denda Rp 6,5 miliar.
Kasus kecurangan laporan keuangan yang terjadi di Indonesia merupakan bagian dari kegagalan audit yang juga dilakukan oleh Kantor Akuntan Publik (KAP) di beberapa negara lainnya. Akuntan Publik di Amerika Serikat dalam hal ini AICPA (American Institute
Certified Public Accountant), memberikan solusi
untuk mengatasi praktik kecurangan laporan keuangan dalam bentuk Statement of Auditing
Standards (SAS). Sementara, International Federation of Accountants (IFAC), sebuah
organisasi di Jerman yang menetapkan standar akuntansi, auditing dan kode etik pada tingkat global, juga menerbitkan International Standards
on Auditing (ISA). Dalam standar tersebut,
terdapat ilustrasi faktor kecurangan, yaitu ISA no. 240 dan SAS no. 99 yang didasarkan pada teori segitiga kecurangan atau fraud triangle. Teori segitiga ini dikemukakan oleh Cressey (Wahyuni dan Gideon, 2017) yang mengkategorikan tiga kondisi kecurangan di perusahaan, yaitu tekanan (incentive/pressure), peluang (opportunity) dan rasionalisasi (rationalization).
Teori fraud triangle yang dicetuskan Cressey sampai saat ini dipakai oleh para praktisi sebagai pendekatan dalam mendeteksi suatu tindak kecurangan. Seperti penelitian yang dilakukan oleh Cohen et al. (Wahyuni dan Gideon, 2017). Penelitian yang dilakukan oleh Nguyen, Myers et al. dan Halim (Wahyuni dan Gideon, 2017) menyatakan bahwa kecurangan laporan keuangan berkaitan erat dengan tindakan manipulasi laba yang dilakukan oleh manajemen.
Tindakan kecurangan laporan keuangan masih terus terjadi. Dan pengembangan faktor
fraud triangel terus dilakukan oleh berbagai
penelitian, terutama pengembangan terhadap proksi yang digunakan. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang melihat data perusahaan LQ 45, Sedangkan penelitian ini melihat dari sektor industri Food & Beverages. Penelitian ini diharapkan sebagai sumber pengetahuan secara luas dan dapat memberikan bukti secara empiris mengenai pengaruh komite audit dan fraud tringle terhadap kecurangan laporan keuangan perusahaan Food & Beverages. Berdasarkan latar belakang diatas, maka penulis melakukan penelitian yang berjudul “Pengaruh Komite Audit dan Fraud Triangel Terhadap Kecurangan Laporan Keuangan Pada Perusahaan Makanan dan Minuman Yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia Periode 2015-2018”.
Rumusan Masalah
1. Bagaimana pengaruh komite audit terhadap kecurangan laporan keuangan?
2. Bagaimana pengaruh financial stability terhadap kecurangan laporan keuangan? 3. Bagaimana pengaruh external pressure
terhadap kecurangan laporan keuangan? 4. Bagaimana pengaruh financial targets
terhadap kecurangan laporan keuangan? 5. Bagaimana pengaruh nature of industry
terhadap kecurangan laporan keuangan? 6. Bagaimana pengaruh ineffective monitoring
terhadap kecurangan laporan keuangan? 7. Bagaimana pengaruh organizational
Vol. 17 No. 1 Februari 2021 ISSN : 1693-9549
35 | P a g e
keuangan?8. Bagaimana pengaruh rasionalisasi terhadap kecurangan laporan keuangan?
9. Seberapa besar pengaruh komite audit dan
fraud triangle terhadap kecurangan laporan
keuangan secara simultan?
TINJAUAN PUSTAKA
Kecurangan Laporan Keuangan
Kecurangan pelaporan keuangan didefinisikan sebagai tindakan penyimpangan secara sengaja terhadap arsip perusahaan seperti kesalahan penerapan prinsip akuntansi, yang menghasilkan laporan keuangan menyesatkan secara material (Komisi Treadway, dalam Rachmawati, 2014). Definisi kecurangan laporan keuangan adalah “Kecurangan yang dilakukan oleh manajemen dalam bentuk salah satu material laporan keuangan yang merugikan investor dan kreditor. Kecurangan ini dapat bersifat finansial dan non finansial” (Association of Certified Fraud
Examiners, 1998). Definisi kecurangan laporan
keuangan menurut Australian Auditing Standards (AAS) yakni “Suatu kelalaian maupun penyalah sajian yang disengaja dalam jumlah tertentu atau pengungkapan dalam pelaporan keuangan untuk menipu para pengguna laporan keuangan.” Indikator Kecurangan Laporan Keuangan
Diukur menggunakan manajemen laba melalui discretionary accrual. Total akrual diklasifikasikan menjadi komponen discretionary
dan nondiscretionary dengan tahapan
(Sulistyanto, 2018):
a.
Mengukur total accruals dengan menggunakan model Jones yang dimodifikasi.
b.
Menghitung nilai accruals yang diestimasi dengan persamaan regresi OLS (OrdinaryLeast Square) ( ) ( )
c.
Menghitung nondiscretionary accruals model (NDA) adalah sebagai berikut;
d.
Menghitung Discretionary Accrual( ) ( ) Pengertian Komite Audit
Menurut Kep. 29/PM/2004, komite audit merupakan suatu komite yang dibentuk oleh dewan komisaris dalam melakukan pengawasan kegiatan pengelolaan suatu perusahaan. Tugas komite audit membantu dewan komisaris untuk memonitor proses pelaporan keuangan oleh manajemen dalam upaya meningkatkan kredibilitas laporan keuangan. Komite audit mempunyai tanggung jawab utama yang berhubungan dengan kebijakan akuntansi yang diterapkan perusahaan, pengawasan internal, menelaah sistem pelaporan keuangan, dan kepatuhan terhadap peraturan.
Indikator Komite Audit Fraud Triangle
Cressey mencetuskan konsep segitiga kecurangan yang dikenal dengan istilah fraud
triangle sebagai suatu ilustrasi yang menggambarkan faktor risiko kecurangan yang terjadi. Di dalam fraud triangle disebutkan bahwa ada tiga kondisi umum yang menyebabkan kecurangan laporan keuangan, yaitu tekanan (pressure), kesempatan (opportunity), dan rasionalisasi (rationalization).
Ada tiga kondisi yang menyebabkan kecurangan. Ketiga kondisi itu disebut dengan konsep fraud triangle. Ketiga kondisi tersebut terdiri dari tekanan (pressure), kesempatan (opportunity) dan rasionalisasi (rationalization).
Tekanan (Pressure)
Tekanan menyebabkan seseorang melakukan kecurangan. Tekanan dapat berupa macam-macam termasuk gaya hidup, tuntutan ekonomi, dan lain-lain. Tekanan paling sering datang dari adanya tekanan kebutuhan keuangan. Kebutuhan ini seringkali dianggap kebutuhan yang tidak dapat dibagi dengan orang lain untuk bersama-sama menyelesaikannya sehingga harus disesuaikan secara tersembunyi dan pada akhirnya menyebabkan terjadinya kecurangan.
Menurut SAS No. 99, terdapat empat kondisi yang umum terjadi pada tekanan yang mengakibatkan kecurangan. Kondisi tersebut adalah financial stability, external pressure,
Vol. 17 No. 1 Februari 2021 ISSN : 1693-9549
36 | P a g e
Variabel fraud triangle yang diukur dari:1. Tekanan Financial stability
Financial stability diproksikan dengan ACHANGE yang merupakan rasio perubahan aset
selama dua tahun. ACHANGE dapat dihitung dengan rumus:
External pressure
Leverage (LEV) digunakan sebagai proksi
tekanan eksternal dimana leverage yang tinggi akan menimbulkan tekanan pada manajemen sehingga terjadi hubungan positif terhadap kecurangan laporan keuangan. Leverage diartikan sebagai seberapa jauh perusahaan menggunakan pendanaan melalui hutang. LEV arau rasio
leverage dapat dihitung dengan rumus:
Financial targets
ROA sering digunakan dalam menilai kinerja manajer, menentukan bonus, kenaikan upah dan lain-lain. Oleh karena itu, ROA digunakan sebagai proksi Financial Targets. ROA dapat dihitung dengan rumus:
2. Opportunity
Nature of industry
Nature of industry merupakan salah satu
variabel dari pilar fraud triangle yaitu peluang. Variabel ini dapat diukur dengan proksi persediaan (inventory). Persediaan merupakan variabel yang rentan terhadap kecurangan laporan keuangan karena merupakan akun lancar dan akun yang dapat ditentukan nilainya secara subjektif.
Persediaan merupakan aktiva lancar yang rentan dengan pencurian dan kecurangan karena persediaan dalam suatu perusahaan biasanya dalam jumlah yang besar serta mempunyai pengaruh yang besar terhadap neraca dan perhitungan laba rugi. Selain itu persediaan merupakan akun liquid yang mudah untuk diuangkan.
Ineffective monitoring
Ineffective monitoring diproksikan dengan
IND yang merupakan rasio dewan komisaris independen yang dapat dihitung dengan rumus:
Organizational structure
Organizational Structure diproksikan
dengan CEO dimana pengukuran CEO atas pertimbangan variabel Dummy:
*
Kode 1 jika ketua dewan direksi secara bersamaan menjabat posisi sebagai CEO.*
Kode 0 jika ketua dewan direksi tidaksecara bersamaan menjabat posisi sebagai
CEO.
Rasionalisasi dari pelaku.
Rasionalisasi merupakan pilar ketiga dari
fraud triangle yang sulit untuk mengukurnya.
Variabel ini dapat diproksikan dengan total akrual. Total akrual merupakan salah satu variabel untuk menilai probabilitas manipulasi (Beneish dkk, 2005). Penelitian lain juga menunjukkan bahwa total akrual tidak berpengaruh terhadap
financial statement fraud (Skousen et al, 2009).
Kerangka Pemikiran
Sumber: Merissa & Isti (2017), Susmita & Nanik (2015), Kurnia & Marsono (2015)
Hipotesis
H1: Komite audit berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan
H2: Financial stability berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan
H3: External pressure berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan
Vol. 17 No. 1 Februari 2021 ISSN : 1693-9549
37 | P a g e
kecurangan laporan keuanganH5: Nature of industry berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan
H6: Ineffective monitoring berpengaruh
terhadap kecurangan laporan keuangan H7: Organizational structure berpengaruh
terhadap kecurangan laporan keuangan H8: Rasionalisasi berpengaruh terhadap
kecurangan laporan keuangan
H9 : Komite audit dan fraud triangle
berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan secara simultan
METODOLOGI PENELITIAN
Jenis penelitian ini menggunakan jenis kategori penelitian kuantitatif yang didasarkan pada jenis data yaitu berupa angka. Penelitian ini juga menggunakan penelitian kausalitas, karena tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh hubungan antara dua variabel atau lebih dimana hubungan yang dimaksud berupa hubungan sebab – akibat yang digambarkan melalui ada tidaknya pengaruh variabel independen sebagai penyebab terhadap variabel dependen sebagai akibat.
Populasi dan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan nya (Sugiyono, 2007:61). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan subsektor makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode tahun 2015-2018.
Sedangkan sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang di miliki oleh populasi tersebut. Metode pengambilan sampel yang diambil dalam penelitian ini menggunakan metode Purposive Sampling.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Metode Analisis Data
Teknik analisa data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analisis Statistik Deskriptif, Analisis Uji Asumsi Klasik (Uji Normalitas Data, Multikolonieritas Data, Autokorelasi Data, Heterokedatisitas Data) dan Pengujian Hipotesis (Analisis persamaan regresi linier berganda, Koefesien Determinasi (R2), Pengujian Parsial (Uji t), dan Pengujian signifikan simultan (Uji F)). Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan SPSS versi 25.0.
HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Uji Statistik Deskriptif
Komite Audit
Berdasarkan Pengolahan data statistik dapat diketahui bahwa jumlah nilai N pada perusahaan makanan & minuman sebesar 44, nilai rata-rata komite audit sebesar 2,82, nilai tertinggi komite audit sebesar 3 dan nilai terendah komite audit sebesar 2 serta untuk standar deviasi komite audit sebesar 0,390. Sementara itu nilai range disini merupakan nilai selisih nilai maksimum dan nilai minimum yaitu sebesar 1 Financial Stability
Berdasarkan Pengolahan data statistik dapat diketahui bahwa jumlah nilai N pada perusahaan makanan & minuman sebesar 44, nilai rata-rata financial stability sebesar 0,083, nilai tertinggi financial stability sebesar 0,38 dan nilai terendah financial stability sebesar -0,35 serta untuk standar deviasi financial stability sebesar 0,12459. Sementara itu nilai range disini merupakan nilai selisih nilai maksimum dan nilai minimum yaitu sebesar 0,73.
External Pressure
Berdasarkan Pengolahan data statistik dapat diketahui bahwa jumlah nilai N pada perusahaan makanan & minuman sebesar 44, nilai rata-rata External Pressure sebesar 0,4180, nilai tertinggi External Pressure sebesar 0,64 dan nilai terendah External Pressure sebesar 0,15 serta untuk standar deviasi External Pressure sebesar 0,15134. Sementara itu nilai range disini merupakan nilai selisih nilai maksimum dan nilai minimum yaitu sebesar 0,49.
Vol. 17 No. 1 Februari 2021 ISSN : 1693-9549
38 | P a g e
Financial TargetsBerdasarkan Pengolahan data statistik dapat diketahui bahwa jumlah nilai N pada perusahaan makanan & minuman sebesar 44, nilai rata-rata financial targets sebesar 0,1641, nilai tertinggi financial targets sebesar 0,71 dan nilai terendah financial targets sebesar 0,03 serta untuk standar deviasi financial targets sebesar 0,14644. Sementara itu nilai range disini merupakan nilai selisih nilai maksimum dan nilai minimum yaitu sebesar 0,68.
Nature of Industry
Berdasarkan Pengolahan data statistik dapat diketahui bahwa jumlah nilai N pada perusahaan makanan & minuman sebesar 44, nilai rata-rata nature of industry sebesar 5185,70, nilai tertinggi nature of industry sebesar 15484 dan nilai terendah nature of industry sebesar 1086 serta untuk standar deviasi nature of industry sebesar 3468,826. Sementara itu nilai range disini merupakan nilai selisih nilai maksimum dan nilai minimum yaitu sebesar 14398.
Ineffective Monitoring
Berdasarkan Pengolahan data statistik dapat diketahui bahwa jumlah nilai N pada perusahaan makanan & minuman sebesar 44, nilai rata-rata ineffective monitoring sebesar 0,4059, nilai tertinggi ineffective monitoring sebesar 0,67 dan nilai terendah ineffective
monitoring sebesar 0,33 serta untuk standar
deviasi ineffective monitoring sebesar 0,10135. Sementara itu nilai range disini merupakan nilai selisih nilai maksimum dan nilai minimum yaitu sebesar 0,34.
Organizational Structure
Berdasarkan Pengolahan data statistik dapat diketahui bahwa jumlah nilai N pada perusahaan makanan & minuman sebesar 44, nilai rata-rata organizational structure sebesar 2,82, nilai tertinggi organizational structure sebesar 1 dan nilai terendah organizational
structure sebesar 0 serta untuk standar deviasi organizational structure sebesar 0,487. Sementara
itu nilai range disini merupakan nilai selisih nilai maksimum dan nilai minimum yaitu sebesar 1. Rasionalisasi
Berdasarkan Pengolahan data statistik dapat diketahui bahwa jumlah nilai N pada perusahaan makanan & minuman sebesar 44, nilai rata-rata rasionalisasi sebesar - 5103,23,
nilai tertinggi rasionalisasi sebesar 12454 dan nilai terendah rasionalisasi sebesar -85215 serta untuk standar deviasi rasionalisasi sebesar 14343,57. Sementara itu nilai range disini merupakan nilai selisih nilai maksimum dan nilai minimum yaitu sebesar 97669.
Kecurangan Laporan Keuangan
Berdasarkan Pengolahan data statistik dapat diketahui bahwa jumlah nilai N pada perusahaan makanan & minuman sebesar 44, nilai rata-rata kecurangan keuangan (discretionary accrual) sebesar 19,3284, nilai tertinggi kecurangan keuangan (discretionary
accrual) sebesar 106 dan nilai terendah
kecurangan keuangan (discretionary accrual) sebesar -83 serta untuk standar deviasi kecurangan keuangan (discretionary accrual) sebesar 41,63199. Sementara itu nilai range disini merupakan nilai selisih nilai maksimum dan nilai minimum yaitu sebesar 189.
Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas
Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah data kontinu berdistribusi normal atau tidak. Sehingga apabila data kontinu telah berdistribusi normal maka bisa dilanjutkan ke tahap berikutnya yaitu uji validitas, uji-t, korelasi dan regresi dapat dilaksanakan. Untuk menguji apakah data bersifat normal atau tidak maka peneliti menggunakan analisa
Kolmogorov-Smirnov dan P-P Plot . Dari tabel One Sample Kolmogrof-Smirnov Test diperoleh angka probabilitas atau Asymp. Sig (2-tailed) sebesar 0,200 lebih besar dari 0,05 (0,200 > 0,05). Maka sesuai dengan pengambilan keputusan dalam uji normalitas menggunakan Kormogorov-Smirnov diatas, dapat disimpulkan bahwa data berdistribusi normal. Dengan demikian, asumsi atau persyaratan normalitas dalam model regresi sudah terpenuhi.
Uji Multikolinearitas
Uji multikoliniearitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terdapat korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi diantara variabel bebas. Deteksi multikolonieritas dapat dilakukan dengan menganalisis besaran matriks korelasi antar variabel independen dan dengan melihat nilai tolerance dan lawannya VI seperti sebagai berikut :
Vol. 17 No. 1 Februari 2021 ISSN : 1693-9549
39 | P a g e
1. Jika nilai tolerance > 0.10 dan VIF < 10maka diartikan bahwa tidak terjadi multikolonieritas.
2. Jika nilai tolerance < 0.10 dan VIF > 10 maka diartikan bahwa terjadi multikolonieritas (Sulistyowati, 2017). Berdasarkan pengolahan data dapat disimpulkan, bahwa dalam hasil analisis uji multikolonieritas variabel adalah nilai VIF untuk variabel Komite Audit (X1) dan Fraud Tringale (X2-X8) adalah 1,945 ; 1,266 ; 1,688 ; 2,007 ; 1,620 ; 1,946 ; 3,095 ; 2,041 kurang dari 10,00 (< 10,00), kemudian nilai tolerance untuk variabel Komite Audit dan Fraud Triangle adalah 0,514 ; 0,79 ; 0,592 ; 0,498 ; 0,617 ; 0,514 ; 0,323 ; 0,490 lebih besar dari 0,10 (> 0,10). Jika dilihat dari kriteria pengambilan keputusan dalam uji multikolonieritas maka dapat disimpulkan bahwa antar variabel independen tidak terjadi gejala multikolinearitas dalam model regresi.
Uji Heteroskedastisitas
Uji ini bertujuan untuk melihat apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variabel dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain. Jika varian dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka disebut homoskedastisitas dan jika berbeda disebut heteroskedastisitas. Model regresi yang baik adalah yang tidak terdapat heterokedastisitas. Pengaruh adanya heteroskedastisitas dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik pengujian heteroskedastisitas. (Sulistyowati, 2017). Untuk mendeteksi adanya gejala heteroskedastisitas dalam model persamaan regresi dapat menggunakan gambar/chart model scatterplot dengan program SPSS. Dasar pengambilan keputusan yaitu :
1.
Jika pola tertentu seperti titik – titik yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar, kemudian menyempit) maka telah terjadi heteroskedastisitas.2.
Jika tidak ada pola yang jelas, serta titik – titik menyebar diatas dan dibawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.Berdasarkan Hasil Pengolahan, dapat diketahui bahwa tidak ada pola yang jelas serta titik-titik menyebar secara acak diatas dan dibawah angka nol pada sumbu Y. Sehingga sesuai pengambilan keputusan dalam uji heterekedastisitas dapat disimpulkan bahwa
regresi yang dihasilkan tidak terjadi heterokedastisitas.
Uji Autokorelasi
Pengujian ada atau tidaknya autokorelasi dilakukan dengan menggunakan metode
Durbin-Watson.
Berdasarkan Hasil Pengolahan diperoleh nilai DW dari model regresi adalah 1,780 dengan jumlah variabel bebas (K) = 8 dan jumlah sampel (N) = 44, berdasarkan tabel Durbin Watson diperoleh dL = 1,1252 dan dU = 1,9646. Maka nilai DW sebesar 1,780 lebih besar dari dL dan lebih kecil dari dU yakni sebesar 1,9646. Sesuai dengan pengambilan keputusan uji autokorelasi nilai 1,1252 < d (1,780) < dl (1,9646) sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi autokorelasi positif.
Hasil Uji Hipotesis
Pengujian hipotesis pada penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda. Analisis ini digunakan untuk mengetahui pengaruh beberapa variabel independen (X) terhadap variabel dependen (Y). Analisis linier berganda dilakukan dengan uji koefisien determinasi, uji-t dan uji-F.
Analisis Linier Berganda
Penelitian ini menggunakan metode analisis regresi linear berganda yang bertujuan untuk mengukur kekuatan asosiasi (hubungan) linear antara dua variabel atau lebih. Metode ini digunakan untuk mengetahui seberapa besar pengaruh komite audit dan fraud triangle terhadap kecurangan laporan keuangan (DACCt). Adapun model yang digunakan dari regresi linear berganda yaitu:
Y = a + b1 X1 + b2 X2 + b3 X3 + b4 X4 + b5 X5 + b6 X6 + b7 X7 + b8 X8+ e
Dari hasil regresi diatas dapat disimpulkan sebagai berikut : Y= a + b1X1 + b2X2 + b2X2 + b3X3 + b4X4+ b5X5 + b6X6 + b7X7 + b8X8+ e Y= -65.837 + 28.420 X1 + 163.021 X2 + 46.383 X3 + 7.222 X4 - 0.002 X5 - 35.340 X6 - 3.517 X7 + 0.001 X8+ e
Persamaan regresi diatas dapat diinterpretasikan sebagai berikut:
1. Nilai konstanta sebesar -65.837, artinya jika Komite Audit (X1) dan Fraud Triangle (X2-X8) nilainya adalah 0, maka Kecurangan Laporan Keuangan (Y) nilainya sebesar -65.837.
Vol. 17 No. 1 Februari 2021 ISSN : 1693-9549
40 | P a g e
2. Koefesien regresi variabel Komite Audit (X1)sebesar 28.420, artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan Komite Audit mengalami kenaikan 1%, maka Kecurangan Laporan Keuangan (Y) akan mengalami kenaikan sebesar 28.420 atau 2842% (2842%). Koefesien bernilai positif artinya terjadi pengaruh positif antara independen dengan variabel dependen semakin naik Komite Audit maka Kecurangan Laporan Keuangan akan semakin naik pula, begitupun sebaliknya.
3. Koefesien regresi variabel Financial Stability (X2) sebesar 163.021, artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan Financial
Stability mengalami kenaikan 1%, maka akan
meningkatkan Kecurangan Laporan Keuangan (Y) sebesar 163.021 atau 16302%.
4. Koefesien regresi variabel External Pressure (X3) sebesar 46.383, artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan Financial
Stability mengalami kenaikan 1%, maka akan
meningkatkan Kecurangan Laporan Keuangan (Y) sebesar 46,383 atau 4638,3%.
5. Koefesien regresi variabel Financial Targets (X4) sebesar 7,222, artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan Financial
Stability mengalami kenaikan 1%, maka akan
meningkatkan Kecurangan Laporan Keuangan (Y) sebesar 7,222 atau 722,2%.
6. Koefesien regresi variabel Nature of Industry (X5) sebesar -0.002, artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan Financial
Stability mengalami kenaikan 1%, maka akan
meningkatkan Kecurangan Laporan Keuangan (Y) sebesar -0.002 atau -0,2%.
7. Koefesien regresi variabel Ineffective Monitoring (X6) sebesar -35,340, artinya jika
variabel independen lain nilainya tetap dan
Financial Stability mengalami kenaikan 1%,
maka akan meningkatkan Kecurangan Laporan Keuangan (Y) sebesar 35,340 atau -3534%.
8. Koefesien regresi variabel Organizational
Structure (X7) sebesar -3,517, artinya jika
variabel independen lain nilainya tetap dan
Organizational Structure mengalami kenaikan
1%, maka akan meningkatkan Kecurangan Laporan Keuangan (Y) sebesar 3,517 atau -351,7%.
9. Koefesien regresi variabel Rasionalisasi (X8) sebesar 0.001, artinya jika variabel independen lain nilainya tetap dan Rasionalisasi mengalami kenaikan 1%, maka
akan meningkatkan Kecurangan Laporan Keuangan (Y) sebesar 0.001 atau 0.1%.
Uji Koefisien Determinasi (R2)
Nilai koefisien determinasi Adjusted R
Square sebesar 0,242 atau 24,2% hal ini berarti
bahwa variabel Komite Audit (X1) dan variabel
Fraud Triangle (X2-X8) secara simultan berpengaruh terhadap variabel Kecurangan Laporan Keuangan (Y) sebesar 24,2% dan sisanya sebesar 75,8% dipengaruhi oleh faktor
lain di luar penelitian ini. Maka sesuai pengambilan keputusan koefesien determinasi penelitian ini memiliki pengaruh yang cukup berarti Uji Hipotesis
Hipotesis adalah asumsi atau dugaan mengenai suatu hal yang dibuat untuk menjelaskan suatu hal yang sering dituntut untuk melakukan pengecekan nya. Uji signifikasi pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara parsial menggunakan uji t dan secara simultan menggunakan uji F. Untuk mengetahui terdapat pengaruh Komite Audit dan
Fraud Triangle terhadap Kecurangan Laporan
Keuangan.
Uji Statistik T (Parsial)
Hasil dari uji statistik t (parsial) adalah sebagai berikut:
Berdasarkan nilai signifkansi (Sig.):
1. Berdasarkan Hasil Pengolahan memperlihatkan hasil pengujian secara parsial antara variabel Komite Audit terhadap Kecurangan Laporan Keuangan. Dari tabel tersebut diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,159. Karena nilai Sig. 0,159 > probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak, artinya variabel Komisaris Komite Audit (X1) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel Kecurangan Laporan Keuangan (Y).
2. Berdasarkan Hasil Pengolahan memperlihatkan hasil pengujian secara parsial antara variabel Financial Stability terhadap Kecurangan Laporan Keuangan. Dari tabel tersebut diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,002. Karena nilai Sig. 0,002 < probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 diterima, artinya variabel Financial
Stability (X2) berpengaruh signifikan terhadap
variabel Kecurangan Laporan Keuangan (Y). 3. Berdasarkan Hasil Pengolahan
Vol. 17 No. 1 Februari 2021 ISSN : 1693-9549
41 | P a g e
memperlihatkan hasil pengujian secara parsialantara variabel External Pressure terhadap Kecurangan Laporan Keuangan. Dari tabel tersebut diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,335. Karena nilai Sig. 0,335 > probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak, artinya variabel External
Pressure (X3) tidak berpengaruh signifikan
terhadap variabel Kecurangan Laporan Keuangan (Y).
4. Berdasarkan Hasil Pengolahan memperlihatkan hasil pengujian secara parsial antara variabel Financial Targets terhadap Kecurangan Laporan Keuangan. Dari tabel tersebut diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,893. 0,893 > probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak, artinya variabel Financial Targets (X4) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel Kecurangan Laporan Keuangan (Y).
5. Berdasarkan Hasil Pengolahan memperlihatkan hasil pengujian secara parsial antara variabel Nature of Industry terhadap Kecurangan Laporan Keuangan. Dari tabel tersebut diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,368. Karena nilai Sig. 0,368 > probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak, artinya variabel Nature of
Industry (X5) tidak berpengaruh signifikan
terhadap variabel Kecurangan Laporan Keuangan (Y).
6. Berdasarkan Hasil Pengolahan memperlihatkan hasil pengujian secara parsial antara variabel Ineffective Monitoring terhadap Kecurangan Laporan Keuangan. Dari tabel tersebut diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,645. Karena nilai Sig. 0,645 > probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak, artinya variabel Ineffective
Monitoring (X6) tidak berpengaruh signifikan
terhadap variabel Kecurangan Laporan Keuangan (Y).
7. Berdasarkan Hasil Pengolahan memperlihatkan hasil pengujian secara parsial antara variabel Organizational Structure
terhadap Kecurangan Laporan Keuangan. Dari tabel tersebut diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,861. Karena nilai Sig. 0, 861 > probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak, artinya variabel
Organizational Structure (X7) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel Kecurangan Laporan Keuangan (Y).
8. Berdasarkan Hasil Pengolahan
memperlihatkan hasil pengujian secara parsial antara variabel Rasionalisasi terhadap Kecurangan Laporan Keuangan. diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,318. Karena nilai Sig. 0,318 > probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak, artinya variabel Rasionalisasi (X8) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel Kecurangan Laporan Keuangan (Y).
Uji F (Simultan)
Berdasarkan Hasil Pengolahan memperlihatkan hasil pengujian secara simultan antara variabel Komite Audit (X1) dan Fraud
Triangle (X2-X8) terhadap Kecurangan Laporan
Keuangan (Y). Dari tabel tersebut diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,019. Karena nilai Sig. 0,019 < probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H8 diterima, artinya variabel Komite Audit (X1) dan Fraud Triangle (X2-X8) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel Kecurangan Laporan Keuangan (Y). PEMBAHASAN
Pengaruh Komite Audit Terhadap
Kecurangan Laporan Keuangan
Berdasarkan hasil uji secara parsial yang sudah dilakukan diketahui bahwa nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,159. Karena nilai Sig. 0,159 > probabilitas 0,05, dan juga berdasarkan perbandingan t hitung dan t tabel, dapat diketahui nilai t hitung variabel Komite Audit (X1) sebesar 1,439 dan t tabel sebesar 2,973. Karena nilai t hitung 1,439 < t tabel 2,028, maka dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak, artinya variabel Komite Audit (X1) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel Kecurangan Laporan Keuangan (Y).
Pengaruh Financial Stability Terhadap Kecurangan Laporan Keuangan
Berdasarkan hasil uji secara parsial yang sudah dilakukan diketahui bahwa nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,002. Karena nilai Sig. 0,002 < probabilitas 0,05, dan juga berdasarkan perbandingan t hitung dan t tabel, dapat diketahui nilai t hitung variabel Financial Stability (X2) sebesar 3,266 dan t tabel sebesar 2,973. Karena nilai t hitung 3,266 < t tabel 2,973, maka dapat disimpulkan bahwa H1 diterima, artinya variabel
Financial Stability (X2) berpengaruh signifikan
terhadap variabel Kecurangan Laporan Keuangan (Y).
Vol. 17 No. 1 Februari 2021 ISSN : 1693-9549
42 | P a g e
Pengaruh External Pressure TerhadapKecurangan Laporan Keuangan
Berdasarkan hasil uji secara parsial yang sudah dilakukan diketahui bahwa nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,002. Karena nilai Sig. 0,002 < probabilitas 0,05, dan juga berdasarkan perbandingan t hitung dan t tabel, dapat diketahui nilai t hitung variabel external pressure (X2) sebesar 3,266 dan t tabel sebesar 2,973. Karena nilai t hitung 3,266 < t tabel 2,973, maka dapat disimpulkan bahwa H1 diterima, artinya variabel
external pressure (X2) berpengaruh signifikan
terhadap variabel Kecurangan Laporan Keuangan (Y).
Pengaruh Financial Targets Terhadap Kecurangan Laporan Keuangan
Berdasarkan hasil uji secara parsial memperlihatkan hasil pengujian secara parsial antara variabel Financial Targets terhadap Kecurangan Laporan Keuangan. Dari tabel tersebut diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,893 0,893 > probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak, artinya variabel Financial Targets (X4) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel Kecurangan Laporan Keuangan (Y).
Pengaruh Nature of Industry Terhadap Kecurangan Laporan Keuangan
Berdasarkan hasil uji secara parsial memperlihatkan hasil pengujian secara parsial antara variabel Nature of Industry terhadap Kecurangan Laporan Keuangan. Dari tabel tersebut diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,368. Karena nilai Sig. 0,368 > probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak, artinya variabel Nature of Industry (X5) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel Kecurangan Laporan Keuangan (Y).
Pengaruh Ineffective Monitoring Terhadap Kecurangan Laporan Keuangan
Berdasarkan hasil uji secara parsial memperlihatkan hasil pengujian secara parsial antara variabel Ineffective Monitoring terhadap Kecurangan Laporan Keuangan. Dari tabel tersebut diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,645. Karena nilai Sig. 0,645 > probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak, artinya variabel Ineffective Monitoring (X6) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel Kecurangan Laporan Keuangan (Y).
Pengaruh Organizational Structure Terhadap Kecurangan Laporan Keuangan
Berdasarkan hasil uji secara parsial memperlihatkan hasil pengujian secara parsial antara variabel Organizational Structure terhadap Kecurangan Laporan Keuangan. Dari tabel tersebut diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,861. Karena nilai Sig. 0, 861 > probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak, artinya variabel Organizational Structure (X7) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel Kecurangan Laporan Keuangan (Y). Pengaruh Rasionalisasi Terhadap Kecurangan Laporan Keuangan
Berdasarkan hasil uji secara parsial diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,318. Karena nilai Sig. 0,318 > probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak, artinya variabel Rasionalisasi (X8) tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel Kecurangan Laporan Keuangan (Y).
Pengaruh Rasionalisasi Terhadap Kecurangan Laporan Keuangan
Berdasarkan hasil uji secara Simultan memperlihatkan hasil pengujian secara simultan antara variabel Komite Audit (X1) dan Fraud
Triangle (X2-X8) terhadap Kecurangan Laporan
Keuangan (Y). Dari tabel tersebut diketahui nilai signifikansi (Sig.) sebesar 0,019. Karena nilai Sig. 0,019 < probabilitas 0,05, sehingga dapat disimpulkan bahwa H8 diterima, artinya variabel Komite Audit (X1) dan Fraud Triangle (X2-X8) secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel Kecurangan Laporan Keuangan (Y).
PENUTUP Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan yang telah dikemukakan sebelumnya maka dapat diambil kesimpulan dari penelitian mengenai pengaruh Komite Audit dan Fraud
Triangle terhadap Kecurangan Laporan
Keuangan pada perusahaan Makanan dan Minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2018. Penelitian ini menggunakan alat uji analisis regresi linier berganda, yaitu software SPSS versi 25. Hasil analisis memperoleh kesimpulan sebagai berikut:
Vol. 17 No. 1 Februari 2021 ISSN : 1693-9549
43 | P a g e
pada 11 perusahaan sektor Makanan danMinuman yang terdaftar di BEI periode 2015-2018, maka dapat disimpulkan bahwa Komite Audit tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap Kecurangan laporan Keuangan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 11 perusahaan sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI periode 2015-2018, dan dari 7 variabel pembentuk Fraud
Triangle hanya variabel financial stability yang
memiliki pengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tinggi atau rendahnya nilai financial stability dari tahun ke tahun yang dimiliki 11 perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di BEI periode 2015-2018 berpengaruh terhadap kecurangan laporan keuangan. Nilai rasio
financial stability dapat menjamin dan dijadikan
indikator terjadinya kecurangan laporan keuangan. Semakin besar nilai rasio financial
stability maka semakin besar pula kecurangan
laporan keuangan yang terjadi di perusahaan tersebut. Sedangkan variabel lain pembentuk
fraud triangle seperti external pressure, financial targets, nature of industry, ineffective monitoring, organizational structure dan rasionalisasi menunjukkan tidak adanya pengaruh yang signifikan terhadap kecurangan laporan keuangan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan pada 11 perusahaan sektor makanan dan minuman yang terdaftar di BEI periode 2015-2018, maka dapat disimpulkan bahwa Komite Audit dan Fraud Triangle secara simultan memiliki pengaruh positif signifikan terhadap Kecurangan Laporan Keuangan.
Saran
Berdasarkan hasil-hasil penelitian diatas, berikut ini beberapa saran yang berkaitan dengan hasil penelitian yang diperoleh antara lain:
1.
Penelitian ini hanya mengukur Komite Auditdan Fraud Triangle dengan menggunakan indikator proxy yang seperti biasa, maka disarankan peneliti selanjutnya untuk menggunakan proxy lain secara lengkap untuk mengetahui pengaruhnya.
2.
Penelitian ini hanya mengambil sampel perusahaan makanan dan minuman, disarankan peneliti selanjutnya dapat menggunakan ruang lingkup penelitian yang lebih luas dengan mengambil sampel perusahaan sektor lain untuk memperoleh hasil pengaruhnya.3.
Penelitian ini hanya mengukur financialstability, external pressure, financial targets, nature of industry, ineffective monitoring, organizational structure, dan rasionalisasi,
disarankan peneliti selanjutnya agar dapat mengukur fraud triangle dengan menggunakan rasio lain seperti Quality of External Audit (CPA), Change in Auditor (AUD), Frequent
Number of CEO’s Pictures (CEO) dan masih
banyak lagi.
4.
Penelitian ini dapat digunakan sebagai salah satu bahan pertimbangan untuk berinvestasi, disarankan bagi investor dalam melakukan investasi sebaiknya memperhatikan informasi dalam laporan keuangan, khususnya fraudtriangle yang diukur dengan rasio-rasio
sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan investasi dan untuk mengetahui ada tidaknya kecurangan dalam pelaporan keuangan
DAFTAR PUSTAKA
Ansar & Masaong. (2011). Manajemen Berbasis Sekolah. Gorontalo: Sentra Media.
Assosiation of Certified Fraud Examiners
(ACFE). (1998). Report on the Nation
on Occupational Fraud Abuse.
http://www.cfenet.com/acfefraud.2010.pdf/
(Diakses 16 Februari 2020)
Bapepam. (2004). Peraturan IX.I.5. Pembentukan
dan Pedoman Pelaksanaan Kerja Komite
Audit. Jakarta: Badan Pengawas Pasar Modal
Beneish, D.M, Nichols, C.D. (2005). “Earning
Quality and Future Returns: The Relation between Accruals and the Probability of Earnings Manipulation”
Chtourou et al. (2001). Corporate Governance and Earnings Management. Working Paper. Universite Laval, Quebec City,
Canada.
Cressey, D. (1953). Other people’s money, dalam: “Detecting and Predicting
Financial Statement Fraud: The
Effectiveness of The Fraud Triangle and
SAS No. 99
Diaz Priantara. (2013). Fraud Auditing &
Investigation, Mitra Wacana Media, Jakarta
Edi, Elis Victoria. (2018). Pembuktian Fraud
Triangle Theory Pada Financial Report Quality. Jurnal Benefitas. 3(3): 380-395.
Vol. 17 No. 1 Februari 2021 ISSN : 1693-9549
44 | P a g e
Earl K. Stice, James D. Stice dan K. Fred Skousen.(2004). Akuntansi Intermediate, Jakarta: Salemba Empat.
Ghozali, I. (2016). Aplikasi Analisis Multivariete (8 ed.). Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Handoko, Bambang Leo, Kinanti Ashari Ramadhani. (2017). Pengaruh Karakteristik Komite Audit, Keahlian
Keuangan dan Ukuran Perusahaan
Terhadap Kemungkinan Kecurangan
Laporan Keuangan. Derema Jurnal
Manajemen. 12(1): 86-113
Haniffa, R. & Hudaib M. (2006). Exploring the
ethical identity of Islamic banks via communication in annual reports. Journal of Business Ethics, 76(1), 97- 116.
Jensen, M. C., & Meckling, W. H. (1976). Theory
of the Firm: Managerial Behavior, Agency Costs and Ownership Structure. Journal of Financial Economics, V. 3, No. 4,
305-360.
Prasmaulida, S. (2016). Financial Statement
Fraud Detection Using Perspective of Fraud Triangle Adopted by SAS No. 99. Asia Pacific Fraud Journal, 1(2), 317.
Pratiya, Mutiara Ayu Mindita, Budi Susetyo dan Abdulloh Mubarok. (2018). Pengaruh
Stabilitas Keuangan, Target Keuangan, Tingkat Kinerja, Rasio Perputaran Aset, Keahlian Keuangan Komite Audit, dan Profitabilitas Terhadap Fraudulent Financial Statement. Permana. 10(1):
116-131
Priswita, Feby, Salma Taqwa. (2019). Pengaruh
Corporate Governance Terhadap
Kecurangan Laporan Keuangan. Jurnal
Eksplorasi Akuntansi. 1(4): 1705- 1722 Rahayu S. (2009). Pengembangan Model Sistem
Informasi Rumah Sakit Pada Instalasi Radiologi Rawat Jalan Untuk Mendukung Evaluasi Pelayanan Di RS Paru DR. Ario Wirawan Salatiga. Tesis. Semarang: Fakultas Kesehatan Masyarakat UNDIP. Rachmawati, K.K. (2014). Pengaruh
Faktor-faktor dalam Perspektif Fraud Triangle Terhadap Fraudulent Financial Reporting.
Skripsi Programs Sarjana Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Diponegoro Semarang, 1-56
Ratmono, Dwi, Yuvita Avrie Diany, Agus Puswanto. (2017). Dapatkah Teori Fraud
Triangle Menjelaskan Kecurangan Dalam Laporan Keuangan. Jurnal Akuntansi dan
Auditing. 14(2): 100-117
Reskino, Muhammad Fakhri Anshori. (2016).
Model Pendeteksian Kecurangan Laporan
Keuangan Dengan Analisis Fraud
Triangle. Jurnal Akuntansi
Multiparadigma. 7(2): 256-269
Setiawan, Ilham, Yeasy Darmayanti, Ethika. (2019). Determinan Financial Statement
Fraud dengan Menggunakan Pendekatan Fraud Triangle. Jurnal Penelitian dan
Pengembangan Akuntansi. 13(1): 1-18. Skousen et al. (2009). Journal of Corporate
Governance and Firm Performance. Vol.
13h.53-81
Skousen, C.J., K.R. Smith, dan C.J. Wright. 2009.
Detecting and Predicting Financial Statement Fraud: The Effectiveness of The Fraud Triangle and SAS no. 99. “Journal of Corporate Governance and Firm Performances, Vol 13, h. 53-81
Spathis, C. T. (2012). Detecting false financial
statements using published data: some evidence from Greece. Managerial Auditing Journal, 17(4), 179- 191.
Sugiyono. (2016). Metode penelitian Pendidikan
Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: CV Alfabeta.
Suhaya, Dessy Ariska, Fahmi Rizani. (2017).
Determinan Financial Statement Fraud
dengan Analisis Fraud Triangle Terdaftar
Di Bursa Efek Indonesia Periode 2013-2015. Simposium Nasional Akunansi. 20:
1-26
Sulistyanto, H. Sri. (2018). Manajemen Laba, Teori dan Model Empiris. Jakarta: Grasindo.
Suliyanto (2018). Metode Penelitian Bisnis, Skripsi, Tesis, dan Disertasi. Penerbit Andi: Yogyakarta
Manurung, D.T.H. and N. Hadian. (2013). “Detection Fraud of Financial Statement
with Fraud Triangle”. Proceedings of 23rd
International Business Research
Conference. Marriott Hotel: Melbourne,
Australia.
Mulford.Charles.W, dan Eugene. E. Comiskey. (2010). Deteksi Kecurangan Akuntansi The
Final Number Game Penerjemah Aurolla
Saparini. Jakarta: PPM. Manajemen
Utama, I Gusti Putu Oka Surya; I. Wayan Ramantha, I. Dewa Nyoman Badera. 2018.
Analisis Faktor-faktor Dalam Perspektif Fraud Triangle Sebagai Prediktor Fraudulent Financial Reporting. E-Jurnal
Vol. 17 No. 1 Februari 2021 ISSN : 1693-9549
45 | P a g e
Ekonomi dan Bisnis Universitas Udayana,Vol. 7, No. 1: 251-278.
Wahyuni, & Budiwitjaksono, G. S. (2017). Fraud
Triangle Sebagai Pendeteksi Kecurangan Laporan Keuangan. Jurnal Akuntansi, XXI
(01), 47–61.
Wicaksono, S., G. (2015). Mekanisme corporate
governance dan kemungkinan kecurangan dalam pelaporan keuangan (Studi Empiris pada Perusahaan Non keuangan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia).
Semarang. Universitas Diponegoro
Wicaksono, Gregorius Satrio dan Anis Chariri, (2015). “Mekanisme Corporate
Governance dan Kemungkinan
Kecurangan dalam Pelaporan Keuangan” Diponegoro Journal of Accounting, 4(4),
1-12
Widarti. (2015). Pengaruh Fraud Triangle
terhadap Deteksi Kecurangan Laporan Keuangan Pada Perusahaan Manufaktur yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI). Jurnal Manajemen dan Bisnis
Sriwijaya, Vol. 13 No. 2, 229-244.
Widyastuti, T. (2009). Pengaruh struktur
kepemilikan dan kinerja keuangan terhadap manajemen laba: studi pada perusahaan manufaktur di BEJ. Jurnal
Maksi 9 (1): 30–41
Yesiariani, Merissa, Isti Rahayu. (2017). Deteksi
Financial Statement Fraud: Pengujian Dengan Fraud Diamond. Jurnal Akuntansi