BAB 4 KONSEP DESAIN
4.1 Landasan Teori
4.1.1 Teori Iklan Layanan Masyarakat
Iklan PSA tidak memiliki definisi pasti, tetapi intinya, PSA mengiklankan sesuatu yang melayani kebutuhan atau isu masyarakat. Menurut Ad Council USA, tujuan PSA adalah mendidik dan menyadarkan mengenai sebuah isu sosial supaya sikap dan perilaku publik berubah dan menstimuli perubahan positif dalam kehidupan sosial (Advertising by Design).
4.1.2 Teori Warna
4.1.2.1 Warna dan Nilainya (Design Elements: Color Fundamentals)
Value pada warna adalah tingkat gelap-terangnya suatu warna dan alat yang penting untuk menambah tekanan dan menimbulkan hirarki visual pada suatu komposisi. Contohnya, warna abu-abu terlihat setingkat dengan beberapa bentuk yang warnanya sama, namun menambahkan warna pada salah satu bentuk akan membuatnya lebih menonjol dibanding yang lain.
Efek value pada komposisi adalah relatif dan ditentukan oleh gelap terangnya obyek-obyek dalam seluruh komposisi. Jadi, semakin besar perbedaan value objek utama dibanding objek sekunder dan background, semakin besar kekontrasan yang terlihat. Maka value adalah cara terbaik untuk mencapai kekontrasan dalam desain.
4.1.2.2 Teori Warna untuk Infografik (Design Elements: Color Fundamentals)
Konsep yang bergantung pada data dan ide yang majemuk sering diuntungkan oleh desain visual. Grafik informasi mengkomunikasikan informasi yang sulit menggunakan teks dan gambar. Infografik yang sukses bekerja sebagai jalan pintas untuk menampilkan isi dan bercerita. Mereka termasuk diagram, grafik, ikon, dan ilustrasi. Warna membuat infografik lebih menarik, dan seringkali membantu memberi hirarki
visual di mana ada beberapa obyek visual dalam satu komposisi. Warna juga membantu membedakan antara komponen-komponen dan ide-ide.
Penting untuk menyeimbangkan antara warna yang dipakai untuk menarik perhatian dengan warna yang dipakai untuk membedakan ide dan menjelaskan konten. Kebanyakan, setiap grafik maupun diagram akan membutuhkan palet warnanya sendiri. Ikon dan ilustrasi sederhana sering dipakai di peta, diagram, dan bagan. Kadang-kadang, elemen-elemen tersebut akan diuntungkan oleh tambahan warna, namun di saat-saat tertentu, mereka bergantung pada bentuk dan warna tidak dibutuhkan.
Tips dalam menggunakan warna di infografik:
1.Pertimbangkan peran warna tersebut dalam penyampaian pesan.
2.Tetapkan lokasi di mana grafik kelak akan ditempatkan. Apakah ada warna dan tekstur lingkungan yang bertentangan dengan grafik atau tidak.
3.Bangun palet warna yang memperkuat teks dan/atau visual, membantu mengekspos informasi, dan membedakan tiap bagian atau ide.
4.1.3 Fakta-fakta pendukung homeschooling
Pengajar dan pakar pendidikan, John Holt, mengemukakan bahwa murid-murid gagal di sekolah karena takut, bingung, dan bosan. Sistem pendidikan Amerika saat itu (1961) menerapkan strategi mengajar yang didasari rasa takut, dan menghilangkan keinginan alami anak-anak untuk belajar.
Buku “Warna-warni Homeschooling” memuat beberapa alasan orangtua tidak memasukkan anaknya di sekolah. Antara lain jadwal yang terlalu ketat bagi anak usia 10 tahun, kurikulum belajar tidak sesuai anak, dan memberi anaknya waktu untuk mengeksplorasi bakat dan minat.
Homeschooling masuk dalam jalur pendidikan informal. Keberadaan homeschooling telah diatur dalam UU no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 27 ayat (1), yang berisi sebagai berikut : Kegiatan pendidikan informal yang dilakukan oleh keluarga dan lingkungan berbentuk kegiatan belajar secara mandiri. Homeschooling menjadi bagiannya karena pendidikan dilakukan di rumah atau dalam keluarga. Kemudian pasal 27 ayat (2) mengatur tentang penilaian pendidikan informal yang mengatakan bahwa hasil pendidikan informal dihargai setara dengan hasil pendidikan formal dan nonformal setelah melalui proses penyetaraan.
Penyetaraan tersebut mengacu pada standar pendidikan nasional dan dilakukan oleh lembaga yang ditunjuk pemerintah. Proses penyetaraan pendidikan informal sering disebut
dengan ujian nasional kesetaraan. Ujian nasional pendidikan kesetaraan ini dilakukan per paket, yaitu Paket A untuk peserta dengan tingkatan pendidikan setara Sekolah Dasar, ujian Paket B untuk peserta didik dengan tingkatan pendidikan setara SMP, dan Paket C untuk peserta didik dengan tingkatan pendidikan setara SMU.
Dengan demikian keluarga yang memilih homeschooling tetap mendapat pengakuan dari masyarakat ataupun pemerintah dalam melakukan pendidikan di masing-masing kelompok, selain itu pemerintah juga dapat memantau mutu pendidikan yang dilakukan secara informal.
Untuk melengkapi hasil proses belajar yang sesungguhnya seperti yang dilakukan di sekolah maka peserta homeschooling harus mengumpulkan beberapa bentuk hasil kegiatan belajar seperti penilaian mandiri dengan mengerjakan berbagai latihan yang terintegrasi dalam setiap modul, penilaian formatif oleh tutor melalui pengamatan, diskusi, penugasan, ulangan, proyek, dan portofolio, dalam proses tutorial, penilaian semester, dan Ujian Nasional oleh Pusat Penilaian Pendidikan, Badan Penelitian dan Pengembangan, Departemen Pendidikan Nasional yang dilakukan per paket tersebut.
Adapun mata pelajaran yang diujikan dalam Ujian Nasional Pendidikan Kesetaraan adalah sebagai berikut:
1) Paket A: PPKN, Matematika, IPS, Bahasa Indonesia, IPA;
2) Paket B: PPKn, Matematika, IPS, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, dan IPA;
3) Paket C IPS: PPKn, Bahasa Inggris, Sosiologi, Tatanegara, Bahasa dan Sastra Indonesia, dan Ekonomi;
4) Paket C IPA: PPKn, Bahasa Inggris, Biologi, Bahasa dan Sastra Indonesia, Fisika, dan Matematika;
5) Paket C Bahasa: PPKn, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Sejarah Budaya, Sastra Indonesia, dan Bahasa Asing Pilihan.
Dengan mengikuti penilaian yang ditetapkan pemerintah maka peserta homeschooling tetap dapat diakui keberadaannya sesuai dengan standar pendidikan nasional dan dapat melanjutkan ke pendidikan formal.
Pengakuan adanya homeschooling di Indonesia semakin dipertegas dengan dikeluarkannya kesepakatan pada tanggal 7 Januari 2007, oleh Dirjen Pendidikan Luar Sekolah Depdiknas (PLS Depdiknas) dengan Asosiasi Sekolah Rumah dan Pendidikan Alternatif (ASAHPENA). Kesepakatan tersebut ditandatangani oleh Ace Suryadi, Ph. D (Dirjen PLS Depdiknas) dan Dr. Seto Mulyadi (Ketua Umum ASAHPENA). Adapun kerjasama yang dilakukan pemerintah dengan ASAHPENA berkaitan dengan pendataan dan pengadministrasian, sosialisasi program Komunitas Sekolahrumah sebagai satuan Pendidikan
Kesetaraan, penyiapan dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia pendukung program Sekolahrumah, penyiapan dan pengembangan kurikulum, bahan ajar, dan penilaian hasil belajar program Sekolahrumah, memberikan bimbingan teknis, pemantauan, evaluasi, dan pelaporan pelaksanaan program Sekolahrumah.
4.1.4 Keduabelas Prinsip Dasar Animasi
Prinsip-prinsip dasar animasi ini dikutip dari buku The Animator’s Survival Kit yang ditulis oleh Richard Williams. Terdiri dari anticipation, appeal, archs, exaggerating, followthrough, straight ahead dan pose-to-pose, slow-in slow-out, solid drawing, squash-stretch, staging, secondary action, timing dan spacing.
Anticipation adalah gerakan yang memberi gambaran pada audiens akan apa yang hendak dilakukan karakter animasi, misalnya ancang-ancang akan melompat atau melempar sesuatu.
Appeal maksudnya daya tarik bagi penonton. Daya tarik yang dimaksud adalah bentuk atau warna karakter yang harmonis, atau sifat yang menarik minat.
Archs atau lengkungan membantu gerakan agar terlihat natural atau organik.
Exaggerating adalah melebih-lebihkan. Maksudnya gerakan karakter animasi tidak selalu realistik; terkadang dilebih-lebihkan agar gerak karakter tidak kaku.
Followthrough adalah gerakan benda-benda yang terpasang longgar pada karakter, misalnya jubah, ekor, atau rambut.
Straight-ahead dan pose-to-pose adalah metode penggambaran animasi, apakah urut misalnya dari frame pertama hingga akhir, disebut straight-ahead, atau menggunakan keyframe, disebut pose-to-pose.
Slow-in slow-out adalah simulasi percepatan dan perlambatan dalam animasi, karena pada realitasnya, tak ada benda yang berhenti mendadak atau langsung mencapai kecepatan tertinggi.
Solid drawing adalah kemampuan untuk menggambar objek dalam bentuk atau kesan tiga dimensi. Animator perlu mengetahui bentuk 3D karakternya supaya bentuknya stabil. Kadang untuk membantu ini, dibuatlah patung karakter tersebut.
Squash-stretch membantu membuat gerakan karakter lebih fluid atau dinamis. Staging adalah tata panggung atau sinematografi animasi.
Secondary action misalnya gerakan tangan dan tubuh saat berjalan, yang mengimbangi gerakan kaki.
Timing adalah pengetahuan akan jumlah frame yang diperlukan untuk melakukan suatu gerakan pada karakter animasi. Timing yang baik membuat gerakan karakter realistik, jika
sebaliknya, gerakan akan terlihat terlalu cepat atau lambat.
4.1.5 Artikel “Micro Trends: Graphic Design Aesthetics”, oleh Franklin Till, 13 Februari 2012, computerarts.co.uk
Autofokus das Lokal, oleh Peak21
BAUHAUS
BAUHAUS
BAUHAUS
BAUHAUS
“Sederhana, kuat, dan grafik berpola adalah ciri khas dari arahan Bauhaus, diinspirasi oleh kemurnian estetika Bauhaus dan penekanannya pada garis lurus dan bentuk-bentuknya yang bersudut maupun halus.
...pilihan warnanya bersih dan sederhana di mana hitam menjadi warna aksen yang memantulkan warna-warna terang lainnya seperti merah primer, biru, dan kuning, membuat kombinasinya cocok untuk orang muda.” Contoh berjudul Autofokus das Lokal, oleh Peak21.
4.1.6 Referensi lainnya
ASDA Brand oleh weareseventeen dan Elmwood Leeds (London)
Proyek ASDA Brand berupa animasi edukasi yang akan dipakai secara internal oleh merk ASDA untuk mendidik karyawan-karyawan mereka. Nilai-nilai dan filosofi yang dianut perusahaan supermarket tersebut ditulis oleh Elmwood; weareseventeen memvisualisasikan nilai-nilai inti tersebut dengan ‘jelas’ dan ‘bersahabat’.
Iklan saya akan menyampaikan pesan dengan cara dan BG putih menyerupai iklan ASDA Brand, namun elemen visualnya menggunakan warna yang berbeda.
Sementara warna yang akan dipakai untuk elemen visual adalah biru dan merah muda, seperti berikut.
Versi Pertama Versi Kedua
4.2 Strategi Kreatif
Iklan PSA mengiklankan sesuatu yang melayani kebutuhan atau isu masyarakat. Menurut Ad Council USA, tujuan PSA adalah mendidik dan menyadarkan mengenai sebuah isu sosial supaya sikap dan perilaku publik berubah dan menstimuli perubahan positif dalam kehidupan sosial (Advertising by Design).
4.2.1 Target Audiens
Sasaran iklan adalah para orangtua, khususnya ibu-ibu muda kelas ekonomi menengah atas yang bekerja sebagai ibu rumah tangga. Range usia adalah 28-40 tahun. Mereka mengenyam pendidikan hingga minimal sarjana. Kehidupan mereka terkoneksi oleh jejaring sosial (BBM, Facebook, Twitter, dll.), dan dalam kesehariannya, selain mengurus rumah tangga,
mereka juga mengantar anak-anak dari maupun ke sekolah. Ciri-ciri konsumen menengah ke atas ini antara lain:
1.) Daya beli tinggi, sehingga pola konsumsi mulai berubah dari memenuhi kebutuhan menjadi memenuhi keinginan, misalnya keinginan akan hiburan, wisata, pendidikan, dan kesehatan,
2.) Melek pengetahuan karena setiap hari mengakses internet,
3.) Pembeli yang cerdas. Mereka sangat perhitungan soal perbandingan antara harga dan kualitas barang,
4.) Peduli pada peningkatan kualitas kepribadian, maka kursus kepribadian dan seminar motivasi mulai menjamur,
5.) Mengidolakan label-label internasional,
6.) Memprotes risiko dan revolusi, namun protes mereka hanya dilampiaskan di jejaring sosial. (Sumber: Tempo edisi 20-26 Februari 2012)
4.2.2 Tagline dan Sinopsis
Tagline: “Berhenti Mencambuk, Mulailah Menyemangati”
Sinopsis: Berdasarkan hasil observasi John Holt dan Bill Hull, tekanan belajar tidak efektif, tidak membuat anak belajar. Sebaliknya, jika dibiarkan menekuni pelajaran atau kegiatan yang anak sukai, ia akan belajar lebih banyak.
Tiga hal yang dapat dilakukan orangtua untuk mendukung pembelajaran anaknya: menghargai pertanyaan anak, mendalami bakat dan minat anak, serta menggunakan kata-kata baik yang menyemangati anak dan meningkatkan harga dirinya.
4.2.3 Mood dan Perkiraan Tampilan Visual
Tujuan iklan adalah mempublikasikan homeschooling dengan menampilkan nilai-nilai inti yang dianut homeschooling dan filosofinya. Untuk itu elemen visual yang dipergunakan
adalah ikon-ikon sederhana dan tipografi. Dalam satu frame jumlah ikon dibatasi, yakni di bawah sepuluh, (bintik-bintik pada tekstur tidak dihitung) agar audiens tidak kehilangan arah.
Iklan harus memiliki tampilan bersih, terpercaya, namun tetap feminin agar menarik bagi targetnya.
Elemen visual: ASDA Brand, oleh weareseventeen dan Elmwood Leeds (London)
4.2.4 Palet Warna
Versi Pertama Versi Kedua
4.2.5 Komunikasi antara Masalah dan Strategi
Masalah pendidikan berakar dari tekanan belajar yang berlebihan dan rasa takut anak terhadap proses belajar. Maka orangtua perlu diarahkan untuk mendukung anak dalam menghadapi tekanan belajar dari sekolah. Antara lain dengan menjadikan rumah tempat yang nyaman bagi kegiatan belajar anak.
4.2.6 Tujuan Komunikasi Proyek
Setelah menonton iklan ini, diharapkan pandangan masyarakat akan berubah mengenai tekanan belajar dan mendukung anak mengembangkan bakat sedalam-dalamnya. Rumah adalah tempat terbaik untuk belajar, dan orangtua dapat berperan serta membantu anak mencintai proses belajarnya.
4.2.7 Profil Target Audiens 4.2.7.1 Target Primer
4.2.7.1.1 Geografis
Domisili: Kota besar
Wilayah: DKI Jakarta dan sekitarnya Iklim: Tropis
4.2.7.1.2 Demografis
Profesi: Ibu rumah tangga Usia : 30-40 tahun Jenis Kelamin: Wanita Agama: Semua agama Pendidikan: SMA, Sarjana
Tingkat Ekonomi: Menengah ke atas Kebangsaan: Indonesia
4.2.7.1.3 Psikografis
Kepribadian: Suka infotainment, perhitungan saat belanja, teliti, berpengetahuan, dan outgoing.
Gaya hidup: mengantar anak pulang sekolah, mengantar anak ke tempat les, rata-rata memiliki BlackBerry, dan mudah mengakses internet.
4.2.7.2 Target Sekunder 4.2.7.2.1 Geografis
Domisili: Kota besar
Wilayah: DKI Jakarta dan sekitarnya Iklim: Tropis
4.2.7.2.2 Demografis
Profesi: Mahasiswi / pelajar Usia : 15-25 tahun
Jenis Kelamin: Wanita Agama: Semua agama
Pendidikan: SD, SMP, SMA, Sarjana
Tingkat Ekonomi: Menengah dan menengah ke bawah Kebangsaan: Indonesia
4.2.7.2.3 Psikografis
Kepribadian: Outgoing, aktif, berpengetahuan, mudah bersosialisasi, dan suka berkelompok.
Gaya hidup: secara finansial bergantung pada orangtua, terkoneksi lewat jejaring sosial, aktif mengakses internet, memiliki BlackBerry, dan setiap akhir minggu berada di pusat perbelanjaan.
4.2.8 Keyword a. homeschool b. orangtua c. anak d. pendidikan e. alternatif f. iklan 4.2.9 Premis
Tekanan belajar tidak bermanfaat.
4.2.10 Penetapan Judul Proyek
Animasi Iklan Layanan Masyarakat Homeschooling
Berhenti mencambuk, mulailah menyemangati.
4.2.12 Positioning
Animasi iklan layanan masyarakat Homeschooling menempatkan diri sebagai animasi dua dimensi yang menjelaskan bahwa tekanan belajar tidak efektif. Target audiens adalah ibu-ibu rumah tangga. Diharapkan setelah menyaksikan iklan tersebut, ibu-ibu dapat membantu anaknya menangani tekanan belajar yang diberikan sekolah dengan cara menjadikan rumah lingkungan yang nyaman bagi belajar anak. Contohnya dengan mengijinkan anak mendalami bakat, menyambut pertanyaan anak dengan baik, dan terus mendukung anak dengan kata-kata penuh semangat.
4.2.13 Ringkasan
Tekanan belajar tidak membuat anak belajar dan dapat dikurangi dengan tiga tips berikut: menyambut pertanyaan anak dengan baik, mendukung anak mendalami bakat, dan mendukung anak dengan kata-kata yang baik.