Tugas Politik Internasional
PROSES DEMOKRATISASI DI NEGARA-NEGARA
BERKEMBANG
OLEH:
ARIANTO
E11112271
ILMU POLITIK
UNIVERSITAS HASANUDDIN
KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmatnya
kepada saya sehingga makalah yang berjudul PROSES DEMOKRATISASI DI
NEGARA-NEGARA BERKEMBANG dapat terselesaikan sebelum batas akhir waktu pengumpulan tugas
ini.
Penulis ucapkan banyak terima kasih kepada dosen kami Bapak Adi Suryadi Culla yang
telah membimbing kami dan memberi kami ilmu yang tak ternilai harganya, yang kemudian
kami gunakan sebagai bahan untuk membantu dalam penyelesaian makalah ini. Tak lupa pula
saya ucapkan terima kasih kepada kedua orang tua saya yang selalu memberikan motivasi dan
prasarana untuk penulis menyelesaikan tugas ini.dan juga untuk teman-teman seperjuanganku di
program studi Ilmu Politik saya ucapkan banyak terima kasih, tanpa kalian tugas ini tak akan
terselesaikan.
Penulis sadari bahwa makalah ini masih sangat jauh dari kata sempurna, jadi saya berharap
pembaca bias memberikan saran dan kritikan atas makalah ini. Terima Kasih.
Makassar, 7 Desember 2013
Demokratisasi di Negara-negara Berkembang
Ketika demokrasi dipahami sebagai sebuah keharusan, maka menjadi penting untuk memahami “cara” menuju demokrasi. Menurut Mochtar Mas’ud (1994), paling tidak ada tiga cara memahami transisi menuju demokrasi, sebagai berikut :
Fokus Perhatian Kondisi sosial dan ekonomi yang
Jadi, paling tidak ada tiga kelompok pemaham transformasi menuju demokrasi, yaitu mereka yang menilai bahwa demokrasi dikembangkan melalui modernisasi, ada yang percaya bahwa demokrasi dapat dikembangkan melalui transisi yang (lebih kurang) linier seperti yang dikemukakan Dunkward Rustow yang memperkenalkan jalan linier dari non-demokrasi menuju demokrasi dengan tahapan sebagai berikut:
1. Kondisi Latar Belakang : Persatuan Nasional
2. Tahapan Persiapan : pecahnya rezim non-demokratis
3. Tahapan Keputusan : Mulai membangun tatatertib demokrasi
4. Tahap Konsolidasi : pengembangan demokrasi lebih lanjut, demokrasi mendarah daging dalam budaya politik
“prasyarat khusus” yang harus dipenuhi –yang mengingatkan kita bahwa para penasihat demokrasi mirip para dukun yang selalu minta “sesaji” jika kehendak kita mau tercapai.
Strategi Apa Penentu Demokrasi? Apa Yang Harus Dilakukan?
Modernisasi Kondisi sosial ekonomi, terutama
Stuktural Perubahan struktur kelas dan
kekuasaan yang mendukung
Transisional Proses politik dan perilaku pemimpin (inisiatif, pilihan konstitusi) yang efektif dan bisa menciptakan legitimasi
Dari sini kita melihat bahwa “menuju demokrasi” bukanlah hal yang sederhana, tunggal, dan linier. Robert A. Dahl (Polyarchy: Participation and Opposition, 1971) memperkenalkan tiga dimensi politik yang sifatnya generik dari demokrasi, yaitu “kompetisi, partisipasi, dan kebebasan sipil dan politik” (konsep ini diadopsi oleh Georg Sorensen, Democracy & Democratization, 1993.)
Pemetaan ini membuktikan bahwa transisi demokrasi seringkali menuju ke “somewhere else” --atau justru “nowhere”, alias “nggak ke mana-mana”.
Kenapa seperti itu? Proses demokratisasi pada prakteknya tidaklah dihela oleh “kelompok menengah” atau civil society, melainkan oleh elit yang “terdorong” atau “terpaksa” mengalah kepada desakan demokratisasi. Bahkan dinamika demokratisasi di negara-negara berkembang lebih banyak diakibatkan oleh dinamika eksternal (desakan global) daripada dinamika internal (kebutuhan domestik). Sebagaimana dikatakan Adam Przeworski (“Democracy as Contingent Outcome”, 1988)bahwa
“kelompok elit akan mendukung demokrasi jika mereka merasa yakin bahwa kepentingan mereka akan tercapai dalam kondisi yang lebih demokratis”. Jadi, seperti kata Sorensen, dukungan elit pada
demokratisasi seringkali didasarkan kepada kepentingan pribadi.
Teori Pzeworski yang diambil setelah melakukan penelitian di Brasil pada tahun 1982, di mana elit mempergunakan instrumen demokrasi untuk mengamankan pemilihan presiden, merupakan teori yang banyak berlaku di negara berkembang, tidak terkecuali negara-negara Asia Tenggara, seperti Indonesia, Filipina, Malaysia, dan Singapura. Biasanya, mereka menganut teori bahwa demokratisasi dilakukan melalui “modernisasi”, termasuk di antaranya pengembangan lembaga-lembaga politik demokrasi – institution’s building. Konsep ini sebenarnya berasal dari pemikiran Samuel Huntington di tahun 1965, Political Development and Political Decay yang mengemukakan bahwa “tanpa kesiapan kelembagaan politik, maka partisipsi di dalam demokrasi hanya akan menghasilkan pembusukan politik”. Tesis ini yang dibawanya ketika memberikan nasihat yang kemudian –sengaja atau tidak—diikuti oleh negara-negara berkembang, yaitu “membangun kelembagaan dulu, partisipasi kemudian” –lihat dalam Political Order in the Changing Societies, 1971.
Pemahaman teoritisnya sangat sederhana: pertama, kekang partisipasi, biarkan kekuasaan yang otoritarian berjalan dengan tujuan “menyiapkan lembaga politik demokratis” dan “menyiapkan masyarakat”; kedua, lepas perlahan-lahan; dan, ketiga, demokrasi akan berjalan dengan sendirinya. Kesiapan kelembagaan dicerminkan dari kesiapan untuk melakukan proses demokrasi, mulai dari input-pengolahan-output; kesiapan masyarakat dicerminkan dari kesiapan masyarakat untuk mampu berperan positif dalam demokrasi karena sudah tercapai tingkat pendidikan yang memadai (agar tidak bisa “ditipu”, termasuk oleh “manipulasi berita” melalui media massa) dan kesejahteraan yang juga memadai (agar tidak mudah “disuap”, terutama oleh “serangan fajar”). Tetapi, pada kenyataannya, transisi yang
Rezim Otoriter
Transisi Demokrasi
Rezim Demokrasi
Rezim Otoriter
Oligarki
Transisi Demokrasi
Mobokrasi
elitis tersebut tidak pernah berjalan sampai ke tujuan. Proses transisi berhenti karena demokrasi akan merugikan kekuasaan yang otoriter, sampai akhirnya ada “sebuah peristiwa”, khususnya yang “merusak prestasi pembangunan”, yang akhirnya meruntuhkan rejim otoritarian, dan “diharapkan” akan menuju kepada demokrasi.
Salah satu proses “perusakan” tersebut adalah krisis ekonomi yang melanda negara-negara berkembang. Dan, sayangnya, seperti dikatakan oleh Sorensen, bahwa:
“Krisis ekonomi di negara-negara berkembang tidak mempunyai akar masalah yang benar-benar domestik sifatnya. Kenaikan tajam harga minyak bumi untuk kedua kalinya telah menghantam negara-negara Amerika Latin dengan sangat keras. Karenanya salah satu cara untuk mengimbangi meningkatnya pengeluaran adalah dengan cara meminjam lebih banyak uang dari luar negeri. Ketika suku bunga riil dari pinjaman-pinjaman
Dari sini kemudian berkembang proposisi bahwa pada tahun 1990an terjadi transisi dari
demokrasi yang –menurut istilah Sorensen—“terbatas”, yaitu di mana sistem politiknya memiliki elemen-elemn demokrasi namun memiliki keterbatasan pada kompetisi, partisipasi, dan kebebasan, menuju demokrasi yang lebih liberal. Transisi yang terdekat dapat dilihat adalah kasus Indonesia. Setelah Soekarno memproklamirkan Demokrasi Terpimpin dan kemudian menjadikan dirinya sebagai “Presiden Seumur Hidup”, maka menurut kriteria demokrasi, Indonesia bergerak menjadi negara yang
non-demokratis (atau otoritarian). Transisi dari Soekarno ke Soeharto adalah transisi dari otoritarianisme ke demokrasi melalui jalan modernisasi (pembangunan). Pada era Soeharto instrumen-instrumen demokrasi dibentuk dan dijalankan dengan pola yang tetap, misalnya pemilihan umum mulai dapat dilakukan secara rutin lima tahunan. Lembaga legislatif, yudikatif, eksekutif dikembangkan. Partai politik berkembang. Media massa tumbuh. Namun, semua dalam koridor yang cukup sempit, terutama dalam tiga hal yang dijadikan kriteria demokrasi oleh Sorensen –kompetisi (karena negara memonopoli), partisipasi (cenderung mobilisasi), dan kebebasan (informasi berjalan relatif satu arah: negara ke rakyat).
Demokrasi “terbatas” menemui jalan buntu ketika pembangunan berhadapan dengan kegagalan. Pembangunan yang ditunjukkan oleh pertumbuhan ekonomi yang tinggi memang menjadi penyeimbang bagi rejim demoriter (bentuk demokratis, tetapi isinya otoriter); dengan jaminan kesejahteraan yang diberikan, maka rakyat tidak mempermasalahkan apakah negara itu menjadi demokratis atau tidak. Singapura, Malaysia, dan RRC barangkali dapat dijadikan contohnya. Suksesi yang “sangat diatur” di Singapura dari Lee ke Goh dan kemudian ke Lee junior dapat dikatakan hampir tanpa kritik domestik sama-sekali. Gesekan terjadi di Malaysia, ketika Mahathir menggeser Anwar Ibrahim (ke penjara) dan kemudian ia “memilih” Abdullah Badawi, yang sebelumnya Wakil PM, menjadi PM. Di China, pergantian kepemimpinan puncak praktis tidak tersentuh oleh rakyat. Dan pada ketiga negara tersebut rakyat relatif tidak mempermasalahkan demokratis atau tidak demokratis.
Kontribusi Demokrasi
Mengapa demokrasi dipilih? Mengapa menjadi the only game in town? Teori pertama
mengatakan bahwa demokrasi menyebarkan perdamaian. Imanuel Kant dalam “Perpetual Peace” (1795) mengatakan bahwa:
1. Pada republik federal terdapat kecenderungan pemimpin politik mendorong dukungan masyarakat kepada negara sehingga membuat negara lebih kuat dalam menghadapi ancaman. 2. Pada negara demokrasi pemerintah dikontrol oleh masyarakat, sehingga untuk memutuskan
perang diperlukan persetujuan masyarakat. Keputusan perang menjadi tidak mudah. Jadi, bukan demokrasi menghapuskan peperangan, namun terdapatnya mekanisme konstitusional dalam demokrasi
3. Selain terdapat komitmen moral untuk tidak saling berperang, terbentuk pula spirit of
commerce di antara negara-negara demokratis –yang disebutnya sebagai “uni pasifik”. Kondisi ini menguat ketika ada saling ketergantungan ekonomi antar negara1.
Jadi, mengikuti teori positif dari Kant, sekali ditegakkan, maka demokrasi akan membawa kecenderungan damai. Joseph Schumpetter mengemukakan dalam bahasa yang berbeda bahwa perang hanya menguntungkan kaum minoritas produsen senjata dan militer, dan “tidak ada demokrasi yang hanya memenuhi kepentingan minoritas dan mentoleransi besarnya pegorbanan akibat imperialisme” Karenanya, hanya perdamaian yang ada di dalam demokrasi. Sorensen pun menambahkan bahwa budaya demokrasi mempunyai norma-nomra tentang resolusi konflik secara damai dan hak-hak orang lain untuk melakukan determinasi diri3.
Dalam konteks hubungan internasional, Kant mengembangkan empat proposisi dari kontribusi demokrasi yang mendorong kerjasama damai antar negara, yaitu:
1. Prinsip perimbangan kekuatan, yang disebut sebagai pratek anti-hegemonialisme yang sistematis, dengan ide dasar setiap negara dicegah untuk tidak menjadi terlalu kuat bagi negara lainnya untuk menggesernya dari aliansi, sehingga menghindari dominasi.
2. Prinsip kodifikasi terjadinya serangkaian interaksi antar negara dalam rangka membentuk badan hukum internasional.
3. Prinsip penggunaan konggres (atau perwakilan rakyat) untuk mengatasi masalah antar negara. 4. Prinsip dialog diplomatik. Kant melihat Eropa di abad 18 sebagai sebuah “persemakmuran
diplomatik” yang terdiri dari sejumlah negara yang independen yang mirip satu sama lain dalam perilaku, pengembangan agama, dan derajad kemajuan sosial –atau dalam kerangka budaya yang sama.4
Dengan demikian, dalam konsep Kant, perdamaian sebagai hasil demokrasi terbentuk dari tiga pilar: eksistensi negara-negara demokratis dengan budaya resolusi konflik secara damai; ikatan moral yang ditempa di antara negara-negara demokratis berdasarkan persamaan landasan moral; dan kerjasama ekonomi yang saling menguntungkan di antara negara-negara tersebut.
Penjelasan positif tersebut berhadapan dengan kenyataan hari ini bahwa salah satu kondisi dasar dalam menjadikan demokrasi sebagai pembawa perdamaian tidak dipenuhi, yaitu “prinsip perimbangan kekuatan”. Sejak Perang Dunia II, sebagai negara yang tidak terkena perang, Amerika Serikat menjadi satu-satunya negara adidaya (dan adikuasa). Perimbangan kekuatan sempat terjadi, namun itu pun tidak di antara negara-negara demokratis, melainkan di antara negara demokratis (liberal) dengan negara sosialis (otoritarian) –AS dan Uni Sovet.
melakukan intervensi militer ke negara-negara yang dinilai “membahayakan AS” dengan dasar doktrik pre-emptive-nya –dan bukan semata-mata membahayakan demokrasi. Dalam konteks ini kadang menjadi relevan untuk mengganti istilah Juan Linz dari democracy is the only game in town menjadi AS is the only game in town.
Demokrasi menjadi salah satu komponen dari perkembangan globalisasi yang digerakkan oleh liberalisasi perdagangan, kapitalisme global, yang berjalan seiring dengan bangkitnya kembali libertarianisme dan kebangkitan ekomomi klasik. Fukuyama (The End of History and the Last Man,1992) mengatakan bahwa akhir dari peradaban adalah kapitalisme, Lesther Thurow (The Future of Capitalism, 1996) menambahkan bahwa persaingan kini bukanlah kapitalis dengan sosialis, namun kapitalis dengan kapitalis, dan Heilbrowner (Vison of the Future, 1995) dengan tegas mengatakan bahwa kapitalisme akan menjadi ideologi peradaban abad 21 dan bahkan ke depan, karena belum ada konsep pengganti yang lebih baik dan lebih menarik. Sementara itu Friedman (The Lexus and TheOlive Three: Understanding Globalization, 2000) bahwa bangsa yang paling cocok untuk tatanan global hanyalah Amerika (Serikat), jadi tidak aneh jika globalisasi identik dengan Amerikanisasi, dan Amerika identik dengan kapitalisme-libertarianisme-demokrasi (liberal). Seperti kata Boaz (Libertarianisme, A Primer, 1996) bahwa liberatarianisme bangkit lagi karena fasisme, komunisme, sosialisme, dan negara kesejahteraan telah terbukti gagal.
Demokrasi menjadi tuntutan dari globalisasi, sebagaimana demokrasi diperlukan untuk
mendukung mekanisme pasar bebas –laissez faire. Demokrasi bergerak ke satu arah: demokrasi liberal, karena hanya demokrasi dalam pola ini yang paling cocok untuk liberalisasi perdagangan dunia; karena hanya demokrasi ini yang paling cocok dengan demokrasi Amerika. Tentu saja, gerakan menuju ke demokrasi seperti ini ditopang oleh berbagai pendekatan yang mutakhir, salah satunya adalah good governance, yang dijadikan sebagai software dari demokrasi modern.
Good Govenance sebagai isu demokrasi
Apakah good governance? Kita belum menemukannya dalam kamus standar bahasa Indonesia, demikian pula pada kamus standar Inggris Indonesia. Istilah ini berasal dari induk bahasa Eropa, yaitu Latin, yaitu gubernare yang diserap oleh bahasa Inggris menjadi govern, yang berarti steer (menyetir, mengendalikan), direct (mengarahkan), atau rule (memerintah). Penggunaan utama istilah ini dalam bahasa Inggris adalah to rule with authority, atau memerintah dengan kewenangan. Tentu saja, terdapat terjemahan lain sesuai dengan perkembangan jaman, mulai dari to attend to (1680), to work or manage (1697) hingga to control the working of; to regulate (1807).5 Kata sifat dari govern adalah governance yang diartikan sebagai the action of manner of governing atau tindakan (melaksanakan) tata cara
pengendalian. Di samping itu, ada juga arti lain sesuai perkembangan waktu, yaitu mode of living (1600) dan method of management, system of regulations (1660). Komisi Global Governance mendefinisikan governance sebagai the sum of many ways that individuals and institutions, public and private, manage their common affairs. Penjumlahan dari cara-cara di mana individu-individu dan institusi –baik privat maupun publik—mengelola urusan-urusan bersamanya.6
Governance sesungguhnya adalah konsep yang masih samar. Pada awalnya Bank Dunia mendefinisikan governance sebagai the exercise of polical power to manage a nation’s affair (Davis & Keating, 2000, 3), kemudian diperjelas menjadi the way state power is used in managing economic and social resources for development of society (LAN, 2000, 5). World Bank juga menambahkan karakteristik normatif good governance, yaitu:
representative legislature; respect for law and human rights at all levels of government; a pluralistic institutional structure; and free press
Sementara itu UNDP (PBB) mendefinisikan GG sebagai the exercise of political, economic, and administrative authority to manage the nation’s affair at all levels. Lembaga Administrasi Negara (2000, 5) menilai bahwa definisi UNDP ini menyiratkan terdapat tiga jenis GG, yaitu economic governance yang mempunyai implikasi-implikasi terhadap equity, poverty, quality of life; political
governance yang menyangkut proses pembuatan kebijakan; dan administrative governance yang berkenaan dengan implementasi kebijakan.
Sementara itu, OECD dan Bank Dunia juga mensinonimkan GG dengan penyelenggaraan manajemen pembangunan yang solid dan bertanggungjawab sejalan dengan demokrasi dan pasar yang efisien, penghindaran salah alokasi dana investasi yang langka, dan pencegahan korupsi baik secara politik maupun administratif, menjalankan disiplin anggaran serta penciptaan legal and political framework bagi tumbuhnya aktivitas kewiraswastaan. Selanjutnya UNDP juga mensinonimkan GG sebagai hubungan sinergis dan konstruktif di antara negara, sektor swasta, dan masyarakat (LAN, 2000, 7). Atas dasar ini, maka disusun sembilan karakteristik GG, yaitu:
1. Participation. Setiap warga negara mempunyai suara dalam pembuatan keputusan, baik secara langsung maupun melalui intermediasi institusi legitimasi yang mewakili kepentingannya. Partisipasi seperti ini dibangun atas dasar kebebasan berasosiasi dan berbicara serta berpartisipasi secara konstruktif.
2. Rule of law. Kerangka hukum harus adil dan dilaksanakan tanpa pandang bulu , terutama hukum untuk hak azazi manusia.
3. Transpararency. Transparansi dibangun atas dasar kebebasan arus informasi. Proses-proses, lembaga-lembaga dan informasi secara langsung dapat diterima oleh mereka yang membutuhkan. Informasi harus dapat dipahami dan dapat dimonitor.
4. Responsiveness. Lembaga-lembaga dan proses-proses harus mencoba untuk melayani setiap stakeholders.
5. Consensus orientation. Good governance menjadi perantara kepentingan yang berbeda untuk memperoleh pilihan terbaik bagi kepentingan yang lebih luas baik dalam hal kebijakan-kebijakan maupun prosedur-prosedur.
6. Equity. Semua warga negara, baik laki-laki maupun perempuan, mempunyai kesempatan untuk meningkatkan atau menjaga kesejahteraan mereka.
7. Effectiveness and efficiency. Proses-proses dan lembaga-lembaga menghasilkan sesuai dengan apa yang telah digariskan dengan menggunakan sumber-sumber yang tersedia sebaik mungkin.
8. Accountability. Para pembuat keputusan dalam pemerintahan, sektor swasta dan masyarakat (civil society) bertanggungjawab kepada publik dan lembaga-lembaga stakeholders. Akuntabilitas ini tergantung pada organisasi dan sifat keputusan yang dibuat, apakah keputusan tersebut untuk kepentingan internal atau eksternal organisasi.
9. Strategic vision. Para pemimpin dan publik harus mempunyai perspektif good governance dan pengembangan manusia yang luas dan jauh ke depan sejalan dengan apa yang diperlukan untuk pembangunan semacam ini.
program structural adjustment di tahun 1980an pengaruh dari kebangkitan teori neo-classical, runtuhnya komunisme dan impak dari pro-democracy movement.
pemahaman govenance terpilah menjadi dua, yaitu pemahaman yang melihat governance sebagai “politik” sehingga governance identik dengan demokrasi. Para penganjurnya antara lain adalah UNDP, dengan melihat governance pada sembilan nilai yang kesemuanya mencerminkan demokrasi. Pemahaman yang lain adalah pemahaman governance sebagai praktik, di mana governance dilihat dari sisi sempit, dengan fokus kepada akuntabilitas, transparansi, efisiensi, dan efektivitas. Penganjurnya adalah Bank Dunia.
Pada perkembangan lanjutnya, diperkenalkan istilah democatic governance. Istilah ini
dipopulerkan antara lain oleh March dan Olsen (Democratic Governance,1995); bahwa demokrasi perlu difahami sebagai sebuah budaya, keyakinan, dan etos yang dikembangkan melalui interpretrasi dan praktik. Demokrasi modern fokus kepada governance, sebuah pilihan di mana demokrasi berhadapan dengan keterbatasan dirinya dan ketidakpastian dari lingkungannya. Democratic governance pertama-tama dikenal sebagai sebuah mekanisme pengelolaan small city-states dan berkembang berabad-abad sebagai model pengelolaan negara-negara yang berukuran relatif kecil dan dengan populasi yang kecil. Mengikuti definisi dari The Center for Democratic Governance, sebuah lembaga yang didukung oleh International IDEA (Institution for Democracy and Electoral Assistance), the United Nations
Development Programme (UNDP), dan Kementerian Luar Negeri Finlandia,7 yang antara lain menyatakan :