PENGARUH FAKTOR
–
FAKTOR FUNDAMENTAL INTERNAL
TERHADAP HARGA SAHAM
(Studi kasus pada Industri Rokok yang
G
o
Public
di BEI (Bursa Efek Indonesia)
periode tahun 2009 -2013)
Anggun Kartika Wati Jurusan Manajemen
Fakultas Ekonomi Universitas Gunadarma
22 September 2014 ABSTRAKSI
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh variabel DER (Debt to Equity Ratio), EPS (Earning Per Share), NPM (Net Profit Margin), PBV (Price to Book Value), ROA (Return On Assets), dan ROE (Return On Equity) terhadap harga saham industri rokok yang go public di BEI (Bursa Efek Indonesia). Metode analisis yang di gunakan adalah metode analisis statistik yang menggunakan alat analisis regresi linier berganda, pengujian signifikan simultan dan pengujian signifikan parsial.
Penelitian dilakukan terhadap industri rokok yang go public di BEI (Bursa Efek Indonesia) dengan menggunakan data sekunder selama periode tahun 2009 - 2013. Perusahaan rokok merupakan salah satu industri yang berkembang cukup baik di Indonesia. Pergerakan harga saham industri rokok yang berfluktuasi yang dipengaruhi oleh beberapa faktor - faktor fundamental internal.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa serempak variabel DER (Debt to Equity Ratio), EPS (Earning Per Share), NPM (Net Profit Margin), PBV (Price to Book Value), ROA (Return On Assets), dan ROE (Return On Equity) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham. Secara parsial variabel EPS (Earning Per Share), NPM (Net Profit Margin), PBV (Price to Book Value), dan ROE (Return On Equity) memiliki pengaruh signifikan terhadap Harga Saham, sedangkan variabel DER (Debt to Equity Ratio), dan ROA (Return On Assets) tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap harga saham industri rokok di BEI (Bursa Efek Indonesia). Nilai koefisien determinasi (R2) adalah sebesar 91,6%.
Kata Kunci : DER (Debt to Equity Ratio), EPS (Earning Per Share), NPM (Net Profit Margin), PBV (Price to Book Value),ROA (Return On
PENDAHULUAN
Pasar modal memiliki peran penting dalam kegiatan ekonomi, terutama di negara yang menganut sistem ekonomi pasar. Pasar modal juga menjadi salah satu sumber kemajuan ekonomi karena dapat menjadi alternatif bagi perusahaan di samping bank. Perusahaan dapat dengan mudah untuk mendapatkan modal dengan biaya yang relatif murah dan juga sebagai tempat untuk investasi baik jangka pendek maupun jangka panjang. Investasi merupakan komitmen atas sejumlah dana atau sumber dana lainnya yang dilakukan pada saat ini dengan tujuan memperoleh sejumlah keuntungan dimasa yang akan datang. Pengambilan keputusan investasi memerlukan pertimbangan dan analisis yang mendalam untuk menjamin keamanan dana yang di investasikan serta keuntungan yang diharapkan. Untuk itu seorang investor akan melakukan analisis terhadap harga saham yang akan dibelinya dengan tujuan untuk mengetahui kualitas, prospek dan tingkat resiko saham-saham tersebut.
Industri rokok merupakan industri yang memiliki peranan penting dalam kegiatan perekonomian Negara Indonesia. Dalam salah satu laporan tahunan
perusahaan rokok yang terdaftar pada BEI (Bursa Efek Indonesia). Ada 4 perusahaan yang terdaftar di BEI yaitu PT. Gudang Garam, PT. HM Sampoerna, PT. Boentoeldan PT. Wismilak Inti Makmur. Karena keterbatasan data yang diperoleh penulis maka penulis meneliti 3 perusahaan yang terdaftar di BEI tersebut yaitu, PT. Gudang Garam, PT. HM Sampoerna, dan PT. Boentoel.
Belakangan ini sering sekali muncul gerakan kampanye anti rokok yang sering dilakukan oleh pemerintah dan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) karena rokok diyakinin memiliki pengaruh buruk terhadap kesehatan manusia. Sehingga memiliki pengaruh yang negatif terhadap perkembangan industry rokok. Gerakan kampanye tersebut membatasi dan menghambat pertumbuhan dan perkembangan perusahaan yang bersangkutan.
komoditi investasi tergolong beresiko tinggi. Karena sifatnya yang peka terhadap perubahan-perubahan yang terjadi, baik oleh pengaruh yang bersumber dari luar atau dalam negeri, perubahan dalam bidang politik, ekonomi moneter, Undang-Undang atau peraturan maupu nperubahan yang terjadi dalam industri dan perusahaan yang mengeluarkan saham itu sendiri.Sehingga investor dalam melakukan pembelian saham memerlukan permikiran berdasarkan data-data dari perusahaan yang bersangkutan.
Oleh karena itu, investor harus mampu memperhatikan faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi fluktuasi harga saham dapat berasal dari faktor internal dan eksternal. Adapun faktor internalnya, antara lain adalah laba perusahaan, aktivitas tahunan, likuiditas, dan nilai kekayaan total. Semantara itu, faktor ekternalnya adalah kebijakan perusahaan dan dampaknya, pergerakan suku bunga, fluktuasi nilai tukar mata uang.
Return saham merupakan kelebihan harga jual saham diatas harga belinya. Semakin tinggi harga jual saham di atas harga belinya, maka semakin tinggi pula
return yang diperoleh investor.Apabila seorang investor menginginkan return yang
tinggi maka ia harus bersedia menanggung risiko lebih tinggi, demikian pula sebaliknya bila menginginkan return rendah maka risiko yang akan ditanggung juga rendah.
Debt to Equity Ratio (DER) ini menggambarkan mengenai struktur modal yang dimiliki oleh perusahaan, sehingga dapat dilihat tingkat risiko tidak dibayarkan suatu hutang. Semakin besar DER menandakan struktur permodalan lebih banyak memanfaatkan hutang-hutang terhadap ekuitas sehingga mencerminkan risiko perusahaan yang relative tinggi.
Earning Per Share (EPS) adalah satu rasio pasar yang merupakan hasil atau pendapatan yang akan diterima oleh para pemegang saham untuk setiap lembar saham yang dimiliknya atas keikut sertaan dalam perusahaan.
Net Profit Margin (NPM) merupakan
sehingga digunakan investor dalam mengambil keputusan apabila membeli saham emiten tersebut.
Rasio harga saham terhadap nilai buku perusahaan atau price book value (PBV), menunjukkan tingkat kemampuan perusahaan menciptakan nilai relatif terhadap jumlah modal yang diinvestasikan. PBV yang tinggi mencerminkan harga saham yang tinggi dibandingkan nilai buku perlembar saham. Semakin tinggi harga saham, semakin berhasil perusahaan menciptakan nilai bagi pemegang saham. Keberhasilan perusahaan menciptakan nilai tersebut tentunya memberikan harapan kepada pemegang saham berupa keuntungan yang lebih besar pula.
Return on Asset (ROA) adalah
merupakan suatu keberhasilan perusahan dalam memperoleh laba berdasarkan aktivanya maupun berdasarkan modal sendiri. Menjaga tingkat profitabilatas merupakan hal yang penting bagi perusahaan karena profitabilitas yang tinggi merupakan tujuan dari perusahaan. Jika dilihat dari perkembangan rasio profitabilitas menunjukkan suatu peningkatan ha ltersebut menunjukkan kinerja perusahaan yang efisien. Perusahaan selalu berupaya agar ROA dapat selalu
ditingkatkan. Hal ini disebabkan karena semakin tinggi ROA menunjukkan semakin efektif perusahaan memanfaatkan aktivanya untuk menghasilkan laba bersih setelah pajak, dengan semakin meningkatnya ROA maka profitabilitas perusahaan semakin baik.
Return on Equity (ROE)
menggambarkan kemampuan modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham, karena dalam ROE yang digunakan sebagai pengukur efisiensi adalah besarnya laba bersih dari jumlah modal yang digunakan perusahaan.
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis melakukan penelitian apakah ada pengaruh faktor-faktor fundamental internal dari variabel DER, EPS, PBV, NPM, ROA, dan ROE terhadap harga saham. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengambil judul “PENGARUH FAKTOR – FAKTOR
FUNDAMENTAL INTERNAL
TERHADAP HARGA SAHAM (Studi
kasus pada Industri Rokok yang Go Public
Batasan Masalah
Penelitian ini berfokus pada pembahasan mengenai pengaruh DER (Debt to Equity Ratio), EPS (Earning Per Share), NPM (Net Profit Margin), PBV (Price to Book Value), ROA (Return On Asset), dan ROE (Return On Equity) terhadap harga saham pada industri rokok yang go public di Bursa Efek Indonesia periode 2009 - 2013. Penelitian ini terbatas pada pengelolahan data-data tersebut berdasarkan landasan teori yang ada.
Landasan Teori
Pengertian Pasar Modal
Dalam arti sempit pengertian pasar merupakan tempat para penjual dan pembeli bertemu untuk melakukan transaksi. Artinya pembeli dan penjual langsung bertemu untuk melakukan transaksi dalam suatu lokasi tertentu. Lokasi atau tempat pertemuan tersebut disebut pasar. Namun, dalam arti luas pengertian pasar merupakan tempat melakukan transaksi antara pembeli dan penjual, di mana pembeli dan penjual tidak harus bertemu dalam suatu tempat atau bertemu langsung, tetapi dapat dilakukan melalui sarana informasi yang ada seperti sarana elektronika.
Pengertian pasar modal secara umum merupakan suatu tempat bertemunya para penjual dan pembeli untuk melakukan transaksi dalam rangka memperoleh modal. Penjual dalam pasar modal merupakan perusahaan yang membutuhkan modal (emiten), sehingga mereka berusaha untuk menjual efek-efek di pasar modal. Sedangkan pembeli (investor) adalah pihak yang ingin membeli modal di perusahaan yang menurut mereka menguntungkan. Pasar modal dikenal dengan nama bursa efek dan di Indonesia dewasa ini ada dua buah bursa efek, yaitu bursa efek Jakarta, dan bursa efek Surabaya.
Instrumen Pasar Modal
Pengertian Saham
Saham adalah tanda bukti pengambilan bagian atau peserta dalam suatu PT. (Perseroan Terbatas) bagi perusahaan yang bersangkutan, yang diterima dari hasil
penjualan sahamnya “akan tetap tertanam”
di dalam perusahaan tersebut selama hidupnya, meskipun bagi pemegang saham sendiri itu bukanlah merupakan penanaman yang permanen, karena setiap waktu pemegang saham dapat menjual sahamnya. (Bambang Riyanto, 2010)
Jenis-jenis Saham
Dalam pasar modal ada dua jenis saham yang paling umum dikenal oleh public yaitu saham biasa (common stock) dan saham istimewa (preferen stock). Dimana kedua jenis saham ini memiliki arti dan aturannya masing-masing, yaitu:
a. Common Stock (Saham Biasa)
Menurut Irham Fahmi (2012), common stock (saham biasa) adalah suatu surat berharga yang dijual oleh suatu perusahaan yang menjelaskan nilai nominal (rupiah, dolar, yen, dan sebagainya) dimana pemegangnya diberi hak untuk mengikuti RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) dan RUPSLB
(Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa) serta hak untuk menentukan membeli right issue
(penjualan saham terbatas) atau tidak, yang selanjutnya di akhir tahun akan memperoleh keuntungan dalam bentuk deviden.
b. Preferen Stock (Saham Istimewa)
Menurut Irham Fahmi (2012), saham istimewa adalah surat berharga yang dijual oleh suatu perusahaan yang menjelaskan nilai nominal (rupiah, dolar, yen, dan segainya) dimana pemegangnya kan memperoleh pendapatan tetap dalam bentuk deviden yang akan diterima setiap kuartal (tiga bulanan).
Menurut Bambang Riyanto (2010), saham istimewa adalah
1. Pembagian deviden. 2. Pembagian kekayaan.
Risiko Investasi
diterapkan agara ia tetap memperoleh return
yang diharapkan.
Harga Saham
Menurut Sunariyah (2011), harga saham adalah harga selemabar saham yang berlaku dalam pasar saat ini di Bursa Efek. Menurut Jogiyanto (2011), harga saham adalah harga yang terjadi di pasar Bursa Efek pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar dan ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan dipasar modal.
Macam-macam Harga Saham
Menurut Widoatmojo (2005), harga saham dapat dibedakan menjadi tiga yaitu:
a. Harga Nominal
Harga Nominal adalah harga yang tercantum dalam sertifikat saham yang ditetapkan oleh emiten untuk menilai setiap lembar saham yang dikeluarkan.
b. Harga Perdana
Harga Perdana adalah harga yang didapatkan pada waktu harga saham tersebut dicatat di bursa efek.
c. Harga Pasar
Harga Pasar adalah harga jual dari investor yang satu dengan investor yang lain.
Faktor yang Mempengaruhi Harga
Saham
Investor melakukan investasi untuk mendapatkan keuntungan baik itu berupa capital gain atau deviden. Oleh karena itu, investor sangat membutuhkan untuk mengetahui harga pasar saham yang diinvestasikannya. Adapun harga saham dipengaruhi oleh 2 faktor yaitu :
a. Faktor Internal
Faktor internal adalah faktor – faktor yang mempengaruhi harga pasar saham yang berdampak secara langsung pada perusahaan itu sendiri, faktor – faktor internal antara lain adalah :
1. Pengumuman tentang pemasaran, produksi, penjualan seperti pengiklanan, rincian kontrak, produk baru, perubahan harga, penarikan produk baru, laporan produksi, laporan keamanan produk, dan laporan penjualan. 2. Pengumuman pendanaan, seperti
dan kesepakatan kredit, pemecahan saham, pembelian saham, join t venture, dan lainnya.
3. Pengumuman badan direksi manajemen, seperti perubahan dan penggatian direktur, manajemen, dan struktur organisasi.
4. Pengumuman penggabungan pengambilalihan disversifikasi, seperti laporan merger, investasi ekuitas, laporan take over oleh pengakuisisi dan diakuisisi, laporan divestasi dan lainya. 5. Pengumuman investasi, seperti
melakukan ekpansi pabrik. Pengembangan riset dan pengembangan, penutupan usaha, dan lainnya.
6. Pengumuman ketengakerjaan, seperti negoisasi baru, kontrak baru, pemongkkan, dan lainnya. 7. Pengumuman laporan keuangan
perusahaan, seperti peramalan laba sebelum akhir tahun fiscal dan setelah akhir tahun fiscal b. Faktor Eksternal
Faktor ekternal adalah faktor – faktor yang mempengaruhi harga pasar
saham berupa ekonomi secara keseluruhan antara lain :
1. Pengumuman dari pemerintah, seperti perubahan suku bunga tabungan dan deposito, kurs valuta asing, inflasi serta berbagai regulasi dan deregulasi ekonomi yang dikeluarkan pemerintah.
2. Pengumuman hukum, seperti tuntutan karyawan terhadap perusahaan atau manajernya dan tuntutan perusahaan terhadap manajernya.
3. Pengumuman industri sekuritas, seperti laporan pertemuan tahunan, volume atau harga saham perdagangan, pembatasan atau penundaan trading.
Faktor fundamental dalam suatu perusahaan dapat mempengaruhi harga saham. Ada beberapa faktor fundamental internal yang mempengaruhi harga saham namun penelitian hanya memfokuskan pada DER, EPS, NPM, PBV, ROA, dan ROE. Pengertian masing – masing rasio sebagai berikut :
1. Debt to Equity Ratio (DER)
Semakin tinggi rasio ini berarti semakin buruk kondisi solvency-nya.
Solvency adalah membandingkan
utang dengan equity, (Toto Prihadi, 2010).
DER dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Total Hutang DER = Ekuitas pemegang saham
Keterangan:
DER = Total
hutang terhadap modal
Total Hutang = Total Liabilities
Ekuitas pemegang saham = Total Ekuitas
2. Earning Per Share (EPS)
Menurut Irham Fahmi (2012), Earnig Per Share atau pendapatan per lembar saham adalah bentuk pemberian keuntungan yang diberikan kepada para pemegang saham dari setiap lembar saham yang dimiliki. Earning per share (EPS) yaitu merupakan rasio yang mengukur berapa besar laba bersih yang dihasilkan perusahaan untuk tiap-tiap lembar saham yang beredar dan merupakan salah satu indikator
keberhasilan suatu perusahaan, (Fakhruddin, 2006).
Laba per saham adalah alat yang lebih baik untuk mengukur kemampulabaan perusahaan daripada laba abslout. Laba per saham (earning per share/EPS), diperoleh dengan membagi laba bersih dengan jumlah saham beredar, (Abi Hurairah dan Haryajid Ramelan, 2010).
Menurut Toto Prihadi (2010), laba per lembar saham (earning per share, EPS) adalah jumlah laba yang merupakan hak dari pemegang saham biasa.
EPS dapat dirumuskan sebagai berikut:
Earning after tax
EPS = ∑ lembar saham yang beredar
Keterangan:
EPS = Earning Per Share
EAT = Earing after tax atau pendapatan setelah pajang
3. Net Profit Margin (NPM)
Net Profit Margin (NPM)
merupakan salah satu rasio profitabilitas yang digunakan untuk mengukur laba bersih dibandingkan dengan penjualan. Net Profit Margin
(NPM) atau sering juga disebut laba yang bisa dihasilkan dengan penjualan yang dimiliki perusahaan. Apabila rasio NPM perusahaan lebih besar maka menunjukan bahwa perusahaan berkinerja dengan baik, karena dapat menghasilkan laba bersih yang besar melalui aktifitas penjualannya, sehingga digunakan
investor dalam mengambil keputusan apabila membeli saham emiten tersebut. Net Profit Margin (NPM) dapat dirumuskan sebagai berikut:
Laba Bersih NPM = Penjualan Keterangan:
NPM = Net Profit Margin
Laba Bersih = Net Income
Penjualan = Sales
4. Price Book Value (PBV)
Rasio harga saham terhadap nilai buku perusahaan atau price book value (PBV), menunjukkan
tingkat kemampuan perusahaan menciptakan nilai relatif terhadap jumlah modal yang diinvestasikan. PBV yang tinggi mencerminkan harga saham yang tinggi dibandingkan nilai buku perlembar saham. Semakin tinggi harga saham, semakin berhasil perusahaan menciptakan nilai bagi pemegang saham. Keberhasilan perusahaan menciptakan nilai tersebut tentunya memberikan harapan kepada pemegang saham berupa keuntungan yang lebih besar pula.
Secara sederhana menyatakan bahwa price to book value (PBV) merupakan rasio pasar (market ratio) yang digunakan untuk mengukur kinerja harga pasar saham terhadap nilai bukunya. Rasio ini dihitung dengan formula sebagai berikut :
Ps PBV = BVS Keterangan:
PBV = Price Book Value
Ps = Harga Pasar Saham
BVS = Nilai buku per lembar saham
5. Return On Asset (ROA)
yang digunakan dalam menghasilkan laba tersebut, (Toto Prihadi, 2010).
Return on asset (ROA) adalah
konsep umum untuk mengukur tingkat efisien perusahaan dalam memanfaatkan asset, (Abi Hurairah dan Haryajid Ramelan, 2010).
ROA dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Net Income
ROA = Total Asset Keterangan:
ROA = Return On Asset
atau tingkat laba yang dihasilkan
Net Income = Total Pendapatan
Netto
Total Asset = Total Aktiva
6. Return On Equity (ROE)
Return On Equity (ROE)
adalah jumlah laba perusahaan jika dibandingkan dengan jumlah dana pemegang saham, (Abi Hurairah dan Haryajid, 2010).
ROE adalah laba atas modal sendiri, ekuitas. Yang dimaksud dengan ekuitas adalah seluruh ekuitas. Ekuitas kadang-kadang disebut juga dengan net asset, (Toto Prihadi, 2010).
Dari pengertian diatas ROE dapat disimpulkan, untuk menggukur kemampuan modal sendiri untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham, karena dalam ROE yang digunakan sebagai pengukur efisiensi adalah besarnya laba bersih dari jumlah modal yang digunakan perusahaan.
ROE dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Net Income
ROE = Total Equty
Keterangan:
ROE = Jumlah laba bersih atas jumlah modal yang digunakan
perusahaan
Net income = Total Pendapatan
Netto
Total Equity = Total Modal
Faktor – faktor eksternal yang mempengaruhi Harga Saham yaitu: 1. Kebijakan pemerintah
2. Tingkat suku bunga 3. Volume transaksi saham 4. Nilai tukar mata uang 5. Harga emas
7. Tingkat inflasi
Berdasarkan penelitian sebelumnya menjadi acuan empiris dalam pemilihan variable bebas yang digunakan. Gadis (2012), melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Variabel Fundamental Internal Terhadap Harga Saham (Studi kasus pada saham LQ-45 yang listing di BEI periode tahun 2009-2011)”. Menunjukkan hasil DER tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham.
Nuraeni (2012), melakukan penelitian mengenai “Perangaruh EPS, ROE, dan Struktur Institusional Saham Terhadap Harga Saham (Studi kasus pada perusahaan rokok yang listing di BEI tahun 2005-2011)”. Menunjukkan hasil EPS memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham.
Leodardo (2009), melakukan penelitian mengenai “Pengaruh PER, ROE, dan NPM Terhadap Harga Saham Pada Industri Rokok Di Bursa Efek Indonesia. Menunjukkan hasil NPM memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham.
Putu (2013), melakukan penelitian mengenai “Pengaruh EPS, ROE, dan PBV Terhadap Harga Saham”. Menunjukkan
hasil PBV memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham.
Dyah (2012), melakukan penelitian mengenai “Ananlisis Pengaruh ROA, NPM, EPS, dan PER Terhadap
Return Saham”. Menunjukkan hasil ROA
tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap return saham.
Astri (2011), melakukan
penelitian mengenai “Pengaruh NPM, ROA,
dan ROE Terhadap Harga Saham yang Terdaftar Dalam Indeks Emiten LQ-45 Tahun 2008-2010”. Menunjukan hasil ROE memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham.
Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah seluruh saham dari Perusahaan Rokok yang telah go public yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini adalah penelitian kuantitatif. Penelitian ini akan menguji Hipotesis mengenao pengaruh rasio keuangan meliputi Debt to Equity Ratio
(PBV), Return on Assets (ROA), dan
Return on Equity (ROE) terhadap harga saham pada perusahaan Rokok, baik secara parsial maupun simultan.
Populasi dan Sampel Penelitian
Populasi Penelitian
Populasi adalah keseluruhan subyek penelitian. Adapun populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Perusahaan Rokok yang telah go public
yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), sebanyak 3 perusahaan.
Sampel Penelitian
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang sedang diteliti. Dalam penelitian ini sampel diambil secara
purposive sampling yaitu pengambilan sampel yang berdasarkan pertimbangan subyektif penelitian yang disesuaikan dengan tujuan penelitian. Sampel yang diambil untuk penelitian ini adalah Perusahaan Rokok yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebanyak 3 perusahaan.
Variabel penelitian dan Definisi
Operasional
Variabel Penelitian
Variabel adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian.
Dalam penelitian ini variabel yang digunakan adalah variabel bebas (independent) yaitu rasio keuangan dalam variabel terikat (dependent) yaitu harga saham. Variabel bebas dalah penelitian ini terdiri dari:
1. Debt to Equity Ratio (X1)
2. Earning Per Share (X2)
3. Price Book Value (X3)
4. Net Profit Margin (X4)
5. Return on Assets (X5)
6. Return on Equity (X6)
Definisi Operasional
PEMBAHASAN
Uji Hipotesis
Uji Statistik t (Uji Parsial)
Pengujian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh satu-persatu variabel bebas (independen) terhadap variabel terikat. Sebelum dilakukan pengujian, terlebih dahulu diketahui ttabel dengan signifikansinya untuk dibandingkan dengan thitung yang berasal dari
pengujian t. Dalam ttabel, tingkat signifikansi yang digunakan adalah sebesar 0,05 atau
5%. Berikut hasil pengujian regresi linear berganda untuk uji t : Tabel 4.7
Hasil Uji Statistik t (Uji Parsial)
Coefficientsa
Model Unstandardized
Coefficients
Standardized
Coefficients
T Sig. Collinearity Statistics
B Std. Error Beta Tolerance VIF
1 (Constant) -29741.993 12512.962 -2.377 .045
LN_DER -4139.044 7885.559 -.119 -.525 .614 .116 8.654
LN_EPS 9897.256 3610.306 1.080 2.741 .025 .038 25.995
LN_PBV 35717.194 5124.395 1.281 6.970 .000 .177 5.658
LN_NPM 40430.744 7994.500 1.960 5.057 .001 .040 25.152
LN_ROA 4779.537 20840.590 .266 .229 .824 .004 224.502
LN_ROE -53201.042 20560.811 -3.226 -2.587 .032 .004 260.379
a. Dependent Variable: HargaSaham
Sumber : Hasil olah SPSS 20.0
1. Berdasarkan pengujian secara parsial dengan menggunakan uji t, hal ini dapat dilihat dari nilai thitung sebesar
-0,525 > dari nilai ttabel sebesar -2,306
maka Ho diterima, artinya artinya
secara parsial tidak ada pengaruh signifikan antara DER dengan harga saham. Berarti kesimpulan pada sampel tidak berlaku pada populasi.
2. Berdasarkan pengujian secara parsial dengan menggunakan uji t, hal ini dapat dilihat dari nilai thitung sebesar
2,741 > dari nilai ttabel sebesar 2,306
maka Ho ditolak, artinya secara
parsial ada pengaruh signifikan antara EPS dengan harga saham. 3. Berdasarkan pengujian secara parsial
6,970 > dari nilai ttabel sebesar 2,306
maka Ho ditolak, artinya secara
parsial ada pengaruh signifikan antara PBV dengan harga saham. 4. Berdasarkan pengujian secara parsial
dengan menggunakan uji t, hal ini dapat dilihat dari nilai thitung sebesar
5,057 > dari nilai ttabel sebesar 2, 306
maka Ho ditolak, artinya secara
parsial ada pengaruh signifikan antara NPM dengan harga saham. 5. Berdasarkan pengujian secara
parsial dengan menggunakan uji t, hal ini dapat dilihat dari thitung sebesar
0,229 dari nilai ttabel sebesar 2,306
maka Ho diterima, artinya secara
parsial tidak ada pengaruh signifikan antara ROA dengan harga saham. Berarti kesimpulan pada sampel tidal berlaku pada populasi.
6. Berdasarkan pengujian secara parsial dengan menggunakan uji t, hal ini dapat dilihat dari thitung sebesar
-2,587 < dari nilai ttabel sebesar -2,306
maka Ho ditolak, artinya secara
parsial ada pengaruh signifikan antara ROE dengan harga saham.
Uji Statistik F (Uji Simultan)
Uji statistik F digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen secara simultan atau bersama-sama terhadap variabel dependen.
Tabel 4.8
Hasil Uji Anova (Uji Statistik F)
ANOVAa
Model Sum of Squares Df Mean Square F Sig.
1 Regression 8099144951.936 6 1349857491.989 26.582 .000b
Residual 406250741.398 8 50781342.675
Total 8505395693.333 14
a. Dependent Variable: HargaSaham
b. Predictors: (Constant), LN_ROE, LN_DER, LN_EPS, LN_PBV, LN_NPM, LN_ROA Sumber : Hasil olah SPSS 20.0
Secara simultan terhadap pengaruh positif, hal ini dapat dilihat dari fhitung > f tabel
(26,582 > 2,790), maka Ho ditolak, artinya
ada pengaruh secara signifikan antara Debt
to Equity Ratio, Earning Per Share, Price
to BookValue, Net Profit Margin, Return on
Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan mengenai pengaruh DER (Debt to Equity Ratio), EPS (Earning Per Share), NPM (Net Profit Margin), PBV (Price to Book Value), ROA (Return On Assets), ROE (Return On Equity) terhadap harga saham pada perusahaan rokok yang go public di BEI (Bursa Efek Indonesia), maka dapat disimpulkan bahwa:
1. Berdasarkan pengujian secara parsial dengan menggunakan uji t, hal ini dapat dilihat dari nilai thitung sebesar -0,525 >
dari nilai ttabel sebesar -2,306 maka Ho
diterima, artinya artinya secara parsial tidak ada pengaruh signifikan antara DER dengan harga saham. Berarti kesimpulan pada sampel tidak berlaku pada populasi.
2. Berdasarkan pengujian secara parsial dengan menggunakan uji t, hal ini dapat dilihat dari nilai thitung sebesar 2,741 >
dari nilai ttabel sebesar 2,306 maka Ho
ditolak, artinya secara parsial ada pengaruh signifikan antara EPS dengan harga saham.
3. Berdasarkan pengujian secara parsial dengan menggunakan uji t, hal ini dapat dilihat dari nilai thitung sebesar 6,970 >
dari nilai ttabel sebesar 2,306 maka Ho
ditolak, artinya secara parsial ada pengaruh signifikan antara PBV dengan harga saham.
4. Berdasarkan pengujian secara parsial dengan menggunakan uji t, hal ini dapat dilihat dari nilai thitung sebesar 5,057 >
dari nilai ttabel sebesar 2, 306 maka Ho
ditolak, artinya secara parsial ada pengaruh signifikan antara NPM dengan harga saham.
5. Berdasarkan pengujian secara parsial dengan menggunakan uji t, hal ini dapat dilihat dari thitung sebesar 0,229 dari
nilai ttabel sebesar 2,306 maka Ho
diterima, artinya secara parsial tidak ada pengaruh signifikan antara ROA dengan harga saham. Berarti kesimpulan pada sampel tidal berlaku pada populasi. 6. Berdasarkan pengujian secara parsial
dengan menggunakan uji t, hal ini dapat dilihat dari thitung sebesar -2,587 < dari
nilai ttabel sebesar -2,306 maka Ho
ditolak, artinya secara parsial ada pengaruh signifikan antara ROE dengan harga saham.
Saran
Value), ROA (Return On Assets), dan ROE (Return On Equity) diharapkan investor juga dapat memperhatikan faktor – faktor lain sebagai pertimbangan dalam mengambil keputusan untuk berinvestasi. Selain kinerja keuangan para investor juga memerhatikan faktor – faktor lain yang mempengaruhi harga saham, seperti tingkat suku bunga, kebijakan moneter dan fiscal, situasi perekonomian, keadaan politik nasional, dan situasi bisnis internasiaonal, faktor teknis, sosial, ekonomi, politik, perkembangan kurs dan lain – lain.
2. Industri rokok merupakan industri yang berkembang dengan baik, kemampuan dalam menghasilkan laba sangat mempengaruhi terhadapat peningkatan harga sahamnya, dengan demikian laba sangat penting diperhatikan oleh para investor dalam mempertimbangkan pengambilan keputusan membeli saham di industri rokok.
3. Bagi para konsumen rokok, selain merokok dapat mempengaruhi kesehatan, peningkatan konsumsi rokok juga dapat meningkatkan
penjualan para industri rokok yang akhirnya meningkatkan laba perusahaan dan pengaruh terhadap kenaikan harga saham.
4. Bagi para penelitian yang akan melakukan penelitian sejenis, disarankan sebaiknya menambahkan faktor lain dan menambahkan penggunaan periode laporan keuangan sehingga hasil yang didapat akan lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Arista, Desy. 2012. “Analisis Faktor-faktor
yang Mempengaruhi Return Saham (Kasus Pada Perusahaan Manufaktur yang Go Public di BEI Periode 2005-2009)”. Jurnal Ilmu Manajemen dan Akuntansi Terapan. Vol. 3, No. 1, pp 1-15.
Ashabi, Choirani Gadis. 2012. “Pengaruh Variabel Fundamental Internal Terhadap Harga Saham (Studi Pada Saham LQ-45 yang Listing Di BEI Periode Tahun 2009-2011)”. Skripsi. Universitas Brawijaya.
Food and Beverager Periode 2007-2010)”. Skripsi. Fakultas Ekonomika dan Bisnis. Universitas Diponegoro. Semarang.
Budialim, Giovani. 2013. “Pengaruh Kinerja Keuangan dan Resiko Terhadap Return Saham Perusahaan Sektor
Consumer Goods di Bursa Efek
Indonesia Periode 2007-2011”. Jurnal Ilmiah Mahasiswa Universitas Surabaya. Vol. 2, No. 1, pp 1-23. Dina, Aristya Dewi Putu, dan Suaryana,
I.G.N.A. 2013. “Pengaruh EPS, DER,dan PBV Terhadap Harga Saham. E-Jurnal Akuntansi. Universitas Udayana 4.1. pp 215-229. ISSN 2302-8556.
Fahmi, Irham. 2012. ”Pengantar Pasar Modal”. Alfa Beta. Bandung.
Farkhan, dan Ika. 2012. “ Pengaaruh Rasio Keuangan Terhadap Return Saham Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia (Studi Kasus Pada Perusahaan Manufaktur Sektor Food
and Beverage)”. Jurnal Undimus
Value Added. Vol. 9, No. 1, pp 1-18. Ghozali, Imam. 2011. “ Aplikasi Analisis
Multivariate dengan Program SPSS”.
Edisi 5. Badan Penerbit Undip Semarang.
Hurairah, Moechdie Abi. 2010. “Profesional Pasar Modal”. Edisi 1. PT. Mitra Lintas Media.
Kasmir. 2012. “Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya”. Edisi Revisi. Raja Grafindo Persada.
Priyanto, Duwi. 2008. “Mandiri Belajar SPSS”. MediaKom Yogyakarta.
Riyanto, Bambang. 2010. “Dasar-dasar
Pembelanjaan Perusahaan”. Edisi 4. BPFE Yogyakarta.
Sakti, Tutus Alun Asoka. 2010. “ Pengaruh Return On Asset dan Debt To Equity Ratio Terhadap Return Saham Pada Perusahaan yang Terdaftar di Bursa Efek Indonesia (Kasus Pada Sektor Manufaktur Periode Tahun 2003-3007)”. Jurnal Ilmu Manajemen dan Akuntansi Terapan. Vol. 1, No. 1, pp 1-12.
Sunariyah, S.E., Msi. Pengantar Pengetahuan Pasar Modal. Edisi 6, UPP-STIM YKPN Yogyakarta.
Susilowati, Yeye dan Turyanto, Tri. 2011. “ Reaksi Signal Ratio Profitabilitas dan Rasio Solvabilitas Terhadap Return
Saham Perusahaan”. Dinamika
Keuangan dan Perbankan. Vol. 3, No. 1, pp 17-37 ISSN : 1979-4878.
Stella. 2009. “Pengaruh Price to Earnigs
Ratio, Debt to Equity Ratio, Return On
Asset, dan Price to Book Value
Terhadap harga Pasar Saham”. Jurnal Bisnis dan Akuntansi. Vol. 11, No. 2, pp 97-106.
Van Horne James. 2012. “Prinsip-prinsip
Manajemen Keuangan”. Edisi 13. Buku 1. Salemba Empat.