ANALISA BIAYA PRODUKSI BIBIT BERSERTIFIKAT:
Studi Kasus Di Persemaian ITTO, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat
Oleh : Subarudi1)
ABSTRAK
Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis bekerja sama dengan proyek ITTO telah membangun sebuah persemaian permanen dengan luas 2 ha yang berkapasitas 1,2-1,6 juta batang bibit per tahun. Dalam upaya menjaga kesinambungan pengelolaan persemaian pasca berakhirnya proyek ITTO, maka diperlukan data dan informasi mengenai biaya operasional persemaian tersebut. Oleh karena itu penelitian tentang analisis biaya produksi bibit bersertifikat sangat diperlukan. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi biaya-biaya yang dikeluarkan dalam operasional persemaian, (2) menghitung biaya produksi dan untuk masing-masing bibit bersertifikat, (3) mencari alternatif sumber pembiayaan dan sistem pengelolaan persemaiannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya penyusutan dan modal persemaian adalah sebesar Rp. 115.200.460 yang sebagian besar didominasi untuk kegiatan perencanaan dan pembangunan persemaian, pembangunan kantor, dan pembayaran upah dan gaji. Biaya variable diperlukan sebesar Rp. 292.614.350 yang didominasi oleh kegiatan pembelian pupuk, pembelian plastik polibag, dan upah pengisian media.Total biaya produksi 1,2 juta bibit adalah sebesar Rp. 407.854.810 atau rata-rata Rp. 340 per batang. (BEP) untuk masing-masing berkisar antara 115.000 bibit hingga 168.000 bibit. Sumber pendanaan alternatif bagi pengelolaan persemaian dapat diperoleh dari APBN melalui program Gerhan dan dari APBD Provinsi melalui program gerakan rehabilitasi lahan kritis. Pengelolaan persemaian sebaiknya dijadikan unit pelaksana teknis daerah (UPTD) Dinas Kehutanan Ciamis dengan organisasi yang miskin struktur tetapi kaya fungsi.
Kata kunci: Biaya produksi, persemaian, dan titik impas.
Proyek ITTO PD 271/04 Rev.3 (F) tentang Rehabilitasi Lahan Kritis dengan Melibatkan Masyarakat Setempat di Jawa Barat, Indonesia merupakan proyek pertama kali yang dikelola langsung oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis sebagai institusi yang bertanggung jawab langsung terhadap pelaksanaan kegiatan proyek tersebut.
Tujuan umum proyek ITTO adalah mempromosikan pengelolaan lahan kritis yang berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat. Sedangkan tujuan khususnya adalah: (i) melaksanakan rehabilitasi lahan kritis (RLK) melalui partisipasi masyarakat, dan (ii) melaksanakan penguatan institusi lokal dalam kegiatan RLK.Dalam kegiatan
break even point
Break Even Point species
I. PENDAHULUAN
1
tersebut telah dibangun sebuah persemaian permanen di lahan seluas 2 hektar dengan produksi bibit sebanyak 1,2-1,6 juta batang dari 6 jenis pohon terpilih. Saat ini persemaian tersebut sedang dalam ujicoba pengoperasiannya di lapangan.
Menyadari dan belajar dari pengalaman proyek-proyek bantuan luar negeri dimana pembangunan fasilitas persemaiannya terlantar setelah proyek berakhir, karenanya masalah keberlanjutan pengelolaan persemaian ITTO perlu dicarikan penyelesaiannya agar persemaian tersebut dapat beroperasi secara normal untuk waktu 10 tahun ke depan.
Salah satu upaya untuk menjaga keberlanjutan persemaian ITTO adalah melakukan kajian biaya produksi bibit per jenis tanaman agar diketahui kebutuhan dana yang akan digunakan dalam pengelolaan persemaian ITTO tersebut. Oleh karena itu kajian analisis biaya produksi bibit bersertifikat ini sangat diperlukan dengan memperhitungkan semua biaya-biaya yang dikeluarkan selama persemaian tersebut dibangun dan dioperasikan.
Adapun tujuan dari kajian ini adalah: (1) mengidentifikasi biaya-biaya yang dikeluarkan selama pengoperasian persemaian ITTO, (2) menghitung biaya produksi bibit per batang dan per jenis tanaman, dan (3) mencari alternatif sumber-sumber pembiayaan dan pengelolaan persemaian tersebut.
Kegiatan penelitian ini dilakukan di Persemaian ITTO PD 271/04 Rev. 3 (F) yang berlokasi di Dusun Cijoho, Desa Muktisari, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat pada bulan Nopember 2006-Pebruari 2007.
Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan kontraktor pembangunan persemaian ITTO dan pihak-pihak terkait. Sedangkan data sekunder dikumpulkan dari pengelola proyek ITTO dan Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis serta literature/publikasi yang relevan dengan topik penelitian ini.
Biaya penyusutan dan bunga modal dihitung menggunakan cara (bunga berbunga) dengan rumus:
BP = BPP x (i (1+ i) )/((1+i) -1) ……… (1)
Dimana BP = Biaya penyusutan dan bunga modal BPP = Biaya investasi awal persemaian i = Suku bunga per tahun
n = Jangka waktu pemakaian break even point
anuitet
(12 %) II. METODE PENELITIAN
A. Waktu dan Tempat
B. Pengumpulan Data
C. Analisa Data
Finansial analisis dilakukan dengan membagi biaya produksi bibit ke dalam biaya tetap dan biaya variable , sehingga biaya produksi bibit
dapat dihitung dengan rumus:
TC = FC + VC ……….(2)
Dimana TC = Biaya total produksi bibit (Rp/batang) FC = Biaya tetap produksi bibit (Rp/batang) VC = Biaya variabel (Rp/batang)
(BEP) digunakan untuk menentukan tingkat produksi minimal yang harus dicapai dan merupakan titik produksi pulang pokok (impas) yang dihitung dengan rumus
BEP = (FC/ (H-VC)) x TSP ……… (3)
Dimana BEP = (jumlah tingkat produksi bibit minimal yang harus dicapai)
FC = Biaya tetap produksi bibit (Rp/batang) H = Harga jual bibit (Rp/batang)
VC = Biaya variabel (Rp/batang)
TSP = Tingkat produksi bibit per tahun (batang/tahun)
Gambaran umum persemaian ITTO dapat dilihat dari luas dan kondisi lahannya, fasilitas persemaian yang dimilikinya, dan proses serta jumlah produksi bibit yang dihasilkannya untuk masing-masing jenis pohon.
Luas persemaian ITTO sekitar 2 hektar yang terletak di desa Mekarsari, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis. Kondisi lahan persemaian ITTO berbeda dengan kondisi persemaian yang biasanya ada dalam bentang lahan yang relatif datar dengan kemiringan 0-5 %. Kondisi persemaian ITTO berada dalam lahan dengan kelerengan yang relatif curam (diatas 40 %), dimana beda tinggi antara badan jalan dengan lokasi teratas persemaian sekitar 5 meter sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 1.
(fixed cost) (variable cost) (total cost)
Break Even Point
Break even point
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Luas dan Kondisi Lahan Persemaian
Gambar 1. Lokasi Persemaian ITTO di Desa Mekarsari, Kecamatan Cipaku
Adapun fasilitas yang dimiliki persemaian ITTO adalah gudang (penyimpan benih, alat dan bahan), rumah kaca, ruang penaburan benih, bedeng sapih dengan atau tanpa naungan sebagaimana tercantum dalam Tabel 1.
Tabel 1. Fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh persemaian ITTO 2. Fasilitas Persemaian
(shading area)
No. Jenis fasilitas Jumlah
(unit)
Kapasitas Peruntukkan
1. Gudang 1 24 m2 Penyimpanan benih, alat
dan bahan
2. Kantor
persemaian
1 40 m2 Pengelolaan dan
administrasi persemaian
3. Green House 1 100 m2 Pembuatan stek pucuk
dan penaburan benih
4. Germination
house
1 80 m2 Perlakuan dan penaburan
benih
5. Washing base 1 4 m2 Untuk membersihkan alat
kerja persemaian
6. Shading area 1 3500 m2 Naungan bibit dari panas
matahari di bedeng sapih
7. Instalasi air 1 200 liter Penyiraman bibit di
bedeng sapih
8. Bedeng sapih 1750 1 x 5 m Untuk menampung dan
membesarkan bibit
9. Workshop 1 36 m2 Untuk kegiatan
pencampuran media
Tabel 1 menujukkan bahwa tingkat produksi bibit di persemaian ITTO dapat diukur dari banyaknya unit bedeng sapih. Jumlah bedeng sapih yang telah dibuat sekitar 1.750 unit dengan ukuran yang berbeda-beda dengan daya tampung bibit sekitar 1, 2-1,4 juta batang bibit.
Jalan angkut untuk membawa bibit rencananya akan dibangun pada tahun anggaran 2007 dengan dana pendamping dari APBD Dinas Kehutanan Ciamis sebesar Rp. 120 Juta sebagai upaya membangun infrastruktur untuk pengelolaan persemaian di masa yang akan datang.
Bibit yang dikembangan dan dihasilkan oleh persemaian ITTO adalah bibit yang bersertifikat karena benih-benih yang dipakai adalah benih bersertifikat. Pada umumnya sertifikat benih tanaman kehutanan di wilayah Jawa Barat (Rayon I) diberikan oleh Balai Perbenihan dan Tanaman Hutan (BPTH) Jawa Bali yang berkedudukan di Sumedang.
Produksi bibit yang direncanakan sekitar 1,2-1,6 juta batang. Namun dalam rangka uji coba digunakan produksi bibit sebanyak 1,2 juta batang yang komposisi masing-masing jenis data dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Produksi dan jenis bibit bersertifikat yang dihasilkan oleh persemaian ITTO 3. Proses Produksi Bibit
No. Jenis Bibit Jumlah
(batang)
300.000 9000 39 500.0001)
2. Suren(TBS) 100.000 80.000 1,5 600.0002)
3. Jati (APB) 300.000 1.500 234 300.0003)
4. Mahoni
(APB)
100.000 2.250 52 175.0003)
5. Sengon(APB) 300.000 40.000 8,8 3.000.0001)
6. Pulai (TBT) 100.000 200.000 0,6 3.000.0004)
Total 1.200.000 - 335,9
Sumber: 1) Nota pembelian dari CV. Calakan, Ciawi Tasikmalaya; 2) Nota pembelian dari Kelompok Tani Makmur Sumedang; 3) Surat edaran Direktur Utama Perhutani; dan 4) Informasi dari PT Xylo, Palembang.
Tabel 2 (kolom 2) menjelaskan tentang asal usul benih bersertifikat yang terdiri dari TBT, TBS dan APB. TBT (tegakan benih teridentifikasi) adalah suatu tegakan alam atau tanaman dengan kualitas rata-rata (pohon lurus dan percabangan ringan) digunakan untuk menghasilkan benih. APB (areal produksi benih) adalah suatu wilayah tegakan benih terseleksi yang kemudian ditingkatkan kualitasnya melalui penebangan pohon-pohon interior. (Anonimous, 2005).
Tabel 2 juga menunjukkan bahwa perhitungan jumlah benih yang diperlukan merupakan hasil perkalian antara jumlah bibit yang dihasilkan dibagi dengan daya kecambah benih dan daya survival bibit dari benih tersebut di bedeng sapih. Berdasarkan pengalaman yang diperoleh dari pengada bibit CV. Calakan untuk benih bersertifikat daya kecambah rata-rata sekitar 95 % dan persentase bibit yang mati di bedeng sapih sekitar 5-10 % (90 %).
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa total biaya pembelian benih yang diperlukan untuk menghasilkan bibit sebanyak 1,2 juta batang dari 6 jenis pohon tersebut sekitar Rp. 1.570.000 atau sekitar Rp. 75/benih. Biaya benih ini terkesan terlalu mahal, padahal untuk jenis-jenis tertentu, misalnya sengon, harga bibit bersertifikatnya jauh lebih mahal (Rp. 3 juta/kg) dibandingkan dengan harga bibit tidak bersertifikat yang hanya dijual sekitar Rp. 200.000/kg.
Biaya-biaya yang diperlukan untuk memproduksi bibit di persemaian ITTO meliputi biaya tetap dan biaya variable yang dibedakan atas pengeluaran biaya yang berkaitan langsung atau tidak langsung dengan kegiatan produksi bibit.
Biaya tetap adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh unit persemaian dan biaya ini biasanya tidak tergantung kepada tingkat produksi yang dihasilkan. Biaya tetap tersebut meliputi biaya pembangunan persemaian, pengadaan peralatan kantor dan pemeliharaan fasilitas kantor dan persemaian serta pembayaran karyawan tetap sebagaimana tercantum dalam Tabel 3.
Tabel 3. Biaya tetap per tahun pada produksi bibit di persemaian ITTO B. Identifikasi Komponen Biaya Produksi Bibit
1. Biaya Tetap
(Rp /tahun) Umur Pakai
No. Biaya Tetap Biaya
(Rp) (tahun)
5. P enyusutan biaya pem-belian alat kantor (kom-puter dan meja kerja)
8.000.000 5 2.216.000
6. P e nyus uta n bia ya
pembelian alat dan perlengkapan persemaian
4.000.000 5 1.108.000
7. Biaya gaji pengelola persemaian
3.500.000/bln 1 42.000.000
Total 115.200.460
Tabel 3 menunjukkan bahwa biaya-biaya penyusutan dan bunga modal yang tertinggi berada pada kegiatan perancangan dan pembangunan fisik persemaian (41,2 %), pembayaran gaji personal (36,5 %), dan pembangunan kantor (12,3 %). Sedangkan biaya penyusutan terendah digunakan untuk pembelian alat dan perlengkapan persemaian, dan pembelian komputer serta meja kerja.
Sedangkan biaya variable adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh unit persemaian yang besarnya sangat tergantung kepada /produktivitas/volume produksi yang dihasilkannya. Biaya variable ini termasuk biaya pembelian plastik polibag, biaya pembelian pupuk, upah pencampuran media dan pengisian kantong plastik sebagaimana tercantum dalam Tabel 4.
Tabel 4. Biaya variabel produksi bibit (Rp/tahun) di persemaian ITTO
2. Biaya Variabel
output
No. Perincian Biaya
Variabel
Kebutuhan (unit)
Biaya satuan (Rp/unit)
Biaya total (Rp/tahun)
1. Peng isian polibag 1.403.510 30/polibag 42.105.300
2. Pembelian bibit 335,9 Kg - 127.900.000
3. Penyapihan 1.403.510 2000 btg/HOK 7.017.550
4. Pemeliharaan bibit 7 bulan 3.750.000/bln 26.250.000
5. Pupuk NPK 75 kg 5000/kg 3.750.000
6. Plastik polibag 1.651 kg 16500/kg 27.241.500
7. Media kompos 75 ton 700/kg 52.500.000
8. Pestisida 37,5 liter 60.000/ltr 2.250.000
9. Biaya tagihan listrik 12 bulan 300.000/bln 3.600.000
Total 292.614.350
Sumber : Proyek ITTO (2007).
Tabel 4 menunjukkan bahwa biaya varibel terbesar (76 %) dalam produksi bibit digunakan untuk pembelian bibit (43,7 %), pembelian media kompos (17,9 %), dan pembelian plastik polibag (14,4 %). Sedangkan biaya variabel terkecil digunakan untuk pembelian pestisida dan pupuk kimia (NPK).
Berdasarkan data dari Tabel 3 dan 4, kemudian dilakukan perhitungan biaya total produksi bibit dan biaya produksi bibit per batang untuk masing-masing jenis sebagaimana tercantum Tabel 5.
No. Jenis Bibit yang
77.972.710 298 1138 115.085
2. Suren (Toona sureni) 10.526.320 242 878 157.337
3. Jati (Tectona grandis) 280.701.760 467 1170 144.180
4. Mahoni(Swietenia mahagony)
109.161.795 324 1170 122.293
5. Sengon (Paraserienthes falcataria)
105.263.160 321 910 167.930
6. Pulai(Alstonia scholaris)
21.000.000 250 878 159.336
Keterangan: *) Harga jual dihitung berdasarkan harga standar bibit di Rayon I (Permenhut No. P. 34/Menhut-V/2005) dikurangi biaya kehilangan bibit akibat distribusi sekitar 15 % dan biaya transportasi bibit sekitar 20 %.
Tabel 5 menunjukkan bahwa biaya produksi bibit per batang diperoleh dari hasil pergantian biaya variable produksi bibit untuk 6 jenis pohon bersertifikat dengan biaya variable pembelian benih untuk setiap jenisnya (kolom 3).
Berdasarkan hasil perhitungan, biaya produksi bibit sebanyak 1,2 juta batang dari 6 jenis pohon adalah sebesar Rp. 407.854.810 atau rata-rata sebesar Rp. 340/batang. Biaya pembuatan bibit manglid per batang di persemaian ITTO sebesar Rp. 298. Biaya ini masih lebih besar daripada biaya produksi bibit manglid yang diproduksi oleh CV Calakan, yaitu sebesar Rp. 240 per batang (Yamin, 2007). Hal ini disebabkan CV. Calakan menggunakan fasilitas persemaian sementara yang mana biaya tetap untuk produksi bibit dapat dikatakan tidak ada karena relatif kecil.
BEP diperoleh dengan menggunakan rumus bakunya dan diperoleh nilai untuk masing-masing bibit berkisar antar 115.000 bibit hingga 168.000 bibit dengan jumlah produksi bibit terendah dicapai oleh bibit manglid dan jumlah produksi tertinggi dihasilkan dari bibit sengon.
Harga bibit ditetapkan berdasarkan surat edaran tentang harga bibit untuk kegiatan gerakan nasional rehabilitasi hutan dan lahan (Gerhan) yang dikeluarkan oleh SK Menteri Kehutanan Nomor: 71/Kpts-II/2005 tentang standar biaya pengadaan bibit Gerhan, dimana harga sengon, manglid, suren, jati, mahoni, dan pulai (Rp. 1.600/batang).
Hasil perhitungan menunjukkan bahwa biaya produksi bibit per batang berkisar antara Rp. 242 - Rp. 467 per batang tergantung jenis pohonnya. Jadi apabila Dinas Kehutanan Ciamis akan memproduksi bibit sebanyak 2 juta batang, maka dana yang harus disiapkan sekitar Rp 484 juta-934 juta per tahun. Biaya tersebut sebenarnya tidak terlalu besar dan masih menguntungkan apabila bibit tersebut dijual untuk keperluan proyek Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan) dan Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis (GRLK) yang biasanya diterima oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis karena dana rata-rata kedua proyek tersebut diterima D. Alternatif Sumber Pendanaan dan Pengelola Persemaian
Program kegiatan
Sumber dana
Jumlah Dana (x Rp. Juta) untuk tahun Rata-Rata
2004 2005 2006
3.106,37 3.162,29 6.167,93 4.145,53
GRLK APBD
Provinsi
30,04 1,000,00 900,00 643,33
Gerhan APBN 4.859,71 2.266,63 2.232,74 3.119,69
Jumlah 7.996,13 6.428,92 9.300,67 7.908,55
Sumber : Dishut Ciamis (2005; 2006a; 2006b).
Dinas Kehutanan setiap tahun adalah Rp 3,76 milyar sebagaimana tercantum dalam Tabel 6.
Tabel 6. Jumlah dan Sumber Dana Kegiatan Pembangunan Kehutanan di Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis
Tabel 6 menunjukkan bahwa rata-rata anggaran Dishut Ciamis sebesar Rp. 7,908 milyar per tahun yang berasal dari APBD Kabupaten (52,4 %), APBN (39,5 %), dan APBD Provinsi (8,2 %). Dengan demikian biaya operasional persemaian ITTO setelah proyek selesai dapat didanai dan dikelola langsung oleh Dinas Kehutanan Ciamis dengan membentuk UPTD Persemaian dan Pembibitan. UPTD persemaian ini lebih diarahkan sebagai unit organisasi bisnis mandiri yang diberikan kewenangan untuk mengelola persemaian secara profesional dan menguntungkan
namun tetap dibawah pembinaan dan pengendalian Dinas Kehutanan Ciamis. Dalam rangka kesinambungan pengelolaan persemaian ITTO,
telah merancang organisasi pengelola persemaian (Gambar 2) yang mempunyai tiga tugas pokok utama, yaitu (1) memproduksi bibit sebanyak 1,2 juta batang dari 6 jenis pohon, (2) menata fisik dan administrasi pengelolaan persemaian secara efektif dan efisien, dan (3) menyiapkan segala persyaratan pengelolaan agar siap untuk sewaktu-waktu dijadikan unit UPTD Dinas Kehutanan Ciamis.
(profitable),
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
B. Saran
1. Perhitungan biaya operasional persemaian sangat diperlukan sebagai bahan masukan bagi Dinas Kehutanan Ciamis dalam menentukan pola pengelolaan persemaian pasca berakhirnya proyek ITTO tersebut.
2. Biaya penyusutan dan modal persemaian adalah sebesar Rp. 115.200.460 yang sebagian besar didominasi untuk kegiatan perencanaan dan pembangunan persemaian (41,2 %), pembangunan kantor (12,3 %), dan pembayaran upah dan gaji (36,5 %).
3. Biaya variable untuk produksi bibit diperlukan sebesar Rp. 292.614.350 yang didominasi oleh kegiatan pembelian bibit (43,7%), pembelian media kompos (17,9%), dan upah pengisian media (14,4%). Total biaya produksi 1,2 juta bibit adalah sebesar Rp. 407.854.810 atau rata-rata Rp. 340 per batang.
4. (BEP) untuk masing-masing bibit berkisar antara 115.000 bibit hingga 168.000 bibit dengan jumlah produksi bibit terendah dicapai oleh bibit manglid dan jumlah produksi tertinggi dihasilkan dari bibit Sengon.
5. Sumber alternatif pendanaan bagi pengelolaan persemaian adalah APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) melalui program Gerhan dan APBD (Anggaran Pendapan dan Belanja Daerah) Provinsi melalui program gerakan rehabilitasi lahan kritis.
6. Sistem pengelolaan persemaian ITTO yang tepat adalah UPTD dan untuk menyiapkan diri menjadi UPTD, Dinas Kehutanan Ciamis telah membentuk Tim Operasional persemaian dengan 3 tugas pokok utama yaitu: (1) memproduksi bibit sebanyak 1,2 juta batang dari 6 jenis pohon, (2) menata fisik dan administrasi pengelolaan persemaian secara efektif dan efisien, dan (3) menyiapkan segala persyaratan pengelolaan agar siap untuk dijadikan unit UPTD bisnis mandiri dari Dinas Kehutanan Ciamis.
Pengelolaan persemaian sebaiknya dijadikan unit pelaksana teknis daerah (UPTD) bisnis mandiri dari Dinas Kehutanan Ciamis dengan struktur organisasi yang miskin struktur tetapi kaya fungsi dimana dalam pola operasionalnya harus banyak melibatkan masyarakat setempat sebagai upaya pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar lokasi persemaian.
Biaya produksi bibit per batang masih dapat ditekan atau dikurangi oleh pihak pengelola persemaian dengan memperhatikan besaran biaya variable yang paling besar, diantaranya pembelian media kompos, dan biaya pengisian media di plastik polibag.
DAFTAR PUSTAKA
Dishut Ciamis. 2004. Perda Kabupaten Ciamis Nomor 19 Tahun 2004 tentang Dishut Ciamis. 2005. Laporan Akuntabilitas Kinerja Tahun 2004. Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis.
Dishut Ciamis. 2006a. Laporan Akuntabilitas Kinerja Tahun 2005. Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis.
Dishut Ciamis. 2006b. Daftar Isian Penggunanan Anggaran (DIPA) Tahun 2006. Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis. Produksi dan Peredaran Kayu Rakyat.
Proyek ITTO. 2007. Second Progress Report of ITTO PD 271/4 Rev. 3 (F) (Periode: September 01, 2006-February 28, 2007). Proyek ITTO PD 271/04 Rev. 3 (F), Ciamis.
PT Purba Margana. 2006. Laporan Akhir Design Pembuatan Persemaian ITTO PD 271/04 Rev.3 (F). di Kabupaten Ciamis. CV Purba Margana, Jakarta.