• Tidak ada hasil yang ditemukan

FORDA - Jurnal

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "FORDA - Jurnal"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISA BIAYA PRODUKSI BIBIT BERSERTIFIKAT:

Studi Kasus Di Persemaian ITTO, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat

Oleh : Subarudi1)

ABSTRAK

Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis bekerja sama dengan proyek ITTO telah membangun sebuah persemaian permanen dengan luas 2 ha yang berkapasitas 1,2-1,6 juta batang bibit per tahun. Dalam upaya menjaga kesinambungan pengelolaan persemaian pasca berakhirnya proyek ITTO, maka diperlukan data dan informasi mengenai biaya operasional persemaian tersebut. Oleh karena itu penelitian tentang analisis biaya produksi bibit bersertifikat sangat diperlukan. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi biaya-biaya yang dikeluarkan dalam operasional persemaian, (2) menghitung biaya produksi dan untuk masing-masing bibit bersertifikat, (3) mencari alternatif sumber pembiayaan dan sistem pengelolaan persemaiannya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya penyusutan dan modal persemaian adalah sebesar Rp. 115.200.460 yang sebagian besar didominasi untuk kegiatan perencanaan dan pembangunan persemaian, pembangunan kantor, dan pembayaran upah dan gaji. Biaya variable diperlukan sebesar Rp. 292.614.350 yang didominasi oleh kegiatan pembelian pupuk, pembelian plastik polibag, dan upah pengisian media.Total biaya produksi 1,2 juta bibit adalah sebesar Rp. 407.854.810 atau rata-rata Rp. 340 per batang. (BEP) untuk masing-masing berkisar antara 115.000 bibit hingga 168.000 bibit. Sumber pendanaan alternatif bagi pengelolaan persemaian dapat diperoleh dari APBN melalui program Gerhan dan dari APBD Provinsi melalui program gerakan rehabilitasi lahan kritis. Pengelolaan persemaian sebaiknya dijadikan unit pelaksana teknis daerah (UPTD) Dinas Kehutanan Ciamis dengan organisasi yang miskin struktur tetapi kaya fungsi.

Kata kunci: Biaya produksi, persemaian, dan titik impas.

Proyek ITTO PD 271/04 Rev.3 (F) tentang Rehabilitasi Lahan Kritis dengan Melibatkan Masyarakat Setempat di Jawa Barat, Indonesia merupakan proyek pertama kali yang dikelola langsung oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis sebagai institusi yang bertanggung jawab langsung terhadap pelaksanaan kegiatan proyek tersebut.

Tujuan umum proyek ITTO adalah mempromosikan pengelolaan lahan kritis yang berkelanjutan dengan melibatkan masyarakat. Sedangkan tujuan khususnya adalah: (i) melaksanakan rehabilitasi lahan kritis (RLK) melalui partisipasi masyarakat, dan (ii) melaksanakan penguatan institusi lokal dalam kegiatan RLK.Dalam kegiatan

break even point

Break Even Point species

I. PENDAHULUAN

1

(2)

tersebut telah dibangun sebuah persemaian permanen di lahan seluas 2 hektar dengan produksi bibit sebanyak 1,2-1,6 juta batang dari 6 jenis pohon terpilih. Saat ini persemaian tersebut sedang dalam ujicoba pengoperasiannya di lapangan.

Menyadari dan belajar dari pengalaman proyek-proyek bantuan luar negeri dimana pembangunan fasilitas persemaiannya terlantar setelah proyek berakhir, karenanya masalah keberlanjutan pengelolaan persemaian ITTO perlu dicarikan penyelesaiannya agar persemaian tersebut dapat beroperasi secara normal untuk waktu 10 tahun ke depan.

Salah satu upaya untuk menjaga keberlanjutan persemaian ITTO adalah melakukan kajian biaya produksi bibit per jenis tanaman agar diketahui kebutuhan dana yang akan digunakan dalam pengelolaan persemaian ITTO tersebut. Oleh karena itu kajian analisis biaya produksi bibit bersertifikat ini sangat diperlukan dengan memperhitungkan semua biaya-biaya yang dikeluarkan selama persemaian tersebut dibangun dan dioperasikan.

Adapun tujuan dari kajian ini adalah: (1) mengidentifikasi biaya-biaya yang dikeluarkan selama pengoperasian persemaian ITTO, (2) menghitung biaya produksi bibit per batang dan per jenis tanaman, dan (3) mencari alternatif sumber-sumber pembiayaan dan pengelolaan persemaian tersebut.

Kegiatan penelitian ini dilakukan di Persemaian ITTO PD 271/04 Rev. 3 (F) yang berlokasi di Dusun Cijoho, Desa Muktisari, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat pada bulan Nopember 2006-Pebruari 2007.

Data yang dikumpulkan meliputi data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh melalui wawancara langsung dengan kontraktor pembangunan persemaian ITTO dan pihak-pihak terkait. Sedangkan data sekunder dikumpulkan dari pengelola proyek ITTO dan Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis serta literature/publikasi yang relevan dengan topik penelitian ini.

Biaya penyusutan dan bunga modal dihitung menggunakan cara (bunga berbunga) dengan rumus:

BP = BPP x (i (1+ i) )/((1+i) -1) ……… (1)

Dimana BP = Biaya penyusutan dan bunga modal BPP = Biaya investasi awal persemaian i = Suku bunga per tahun

n = Jangka waktu pemakaian break even point

anuitet

(12 %) II. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat

B. Pengumpulan Data

C. Analisa Data

(3)

Finansial analisis dilakukan dengan membagi biaya produksi bibit ke dalam biaya tetap dan biaya variable , sehingga biaya produksi bibit

dapat dihitung dengan rumus:

TC = FC + VC ……….(2)

Dimana TC = Biaya total produksi bibit (Rp/batang) FC = Biaya tetap produksi bibit (Rp/batang) VC = Biaya variabel (Rp/batang)

(BEP) digunakan untuk menentukan tingkat produksi minimal yang harus dicapai dan merupakan titik produksi pulang pokok (impas) yang dihitung dengan rumus

BEP = (FC/ (H-VC)) x TSP ……… (3)

Dimana BEP = (jumlah tingkat produksi bibit minimal yang harus dicapai)

FC = Biaya tetap produksi bibit (Rp/batang) H = Harga jual bibit (Rp/batang)

VC = Biaya variabel (Rp/batang)

TSP = Tingkat produksi bibit per tahun (batang/tahun)

Gambaran umum persemaian ITTO dapat dilihat dari luas dan kondisi lahannya, fasilitas persemaian yang dimilikinya, dan proses serta jumlah produksi bibit yang dihasilkannya untuk masing-masing jenis pohon.

Luas persemaian ITTO sekitar 2 hektar yang terletak di desa Mekarsari, Kecamatan Cipaku, Kabupaten Ciamis. Kondisi lahan persemaian ITTO berbeda dengan kondisi persemaian yang biasanya ada dalam bentang lahan yang relatif datar dengan kemiringan 0-5 %. Kondisi persemaian ITTO berada dalam lahan dengan kelerengan yang relatif curam (diatas 40 %), dimana beda tinggi antara badan jalan dengan lokasi teratas persemaian sekitar 5 meter sebagaimana dapat dilihat pada Gambar 1.

(fixed cost) (variable cost) (total cost)

Break Even Point

Break even point

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

1. Luas dan Kondisi Lahan Persemaian

(4)

Gambar 1. Lokasi Persemaian ITTO di Desa Mekarsari, Kecamatan Cipaku

Adapun fasilitas yang dimiliki persemaian ITTO adalah gudang (penyimpan benih, alat dan bahan), rumah kaca, ruang penaburan benih, bedeng sapih dengan atau tanpa naungan sebagaimana tercantum dalam Tabel 1.

Tabel 1. Fasilitas-fasilitas yang dimiliki oleh persemaian ITTO 2. Fasilitas Persemaian

(shading area)

No. Jenis fasilitas Jumlah

(unit)

Kapasitas Peruntukkan

1. Gudang 1 24 m2 Penyimpanan benih, alat

dan bahan

2. Kantor

persemaian

1 40 m2 Pengelolaan dan

administrasi persemaian

3. Green House 1 100 m2 Pembuatan stek pucuk

dan penaburan benih

4. Germination

house

1 80 m2 Perlakuan dan penaburan

benih

5. Washing base 1 4 m2 Untuk membersihkan alat

kerja persemaian

6. Shading area 1 3500 m2 Naungan bibit dari panas

matahari di bedeng sapih

7. Instalasi air 1 200 liter Penyiraman bibit di

bedeng sapih

8. Bedeng sapih 1750 1 x 5 m Untuk menampung dan

membesarkan bibit

9. Workshop 1 36 m2 Untuk kegiatan

pencampuran media

(5)

Tabel 1 menujukkan bahwa tingkat produksi bibit di persemaian ITTO dapat diukur dari banyaknya unit bedeng sapih. Jumlah bedeng sapih yang telah dibuat sekitar 1.750 unit dengan ukuran yang berbeda-beda dengan daya tampung bibit sekitar 1, 2-1,4 juta batang bibit.

Jalan angkut untuk membawa bibit rencananya akan dibangun pada tahun anggaran 2007 dengan dana pendamping dari APBD Dinas Kehutanan Ciamis sebesar Rp. 120 Juta sebagai upaya membangun infrastruktur untuk pengelolaan persemaian di masa yang akan datang.

Bibit yang dikembangan dan dihasilkan oleh persemaian ITTO adalah bibit yang bersertifikat karena benih-benih yang dipakai adalah benih bersertifikat. Pada umumnya sertifikat benih tanaman kehutanan di wilayah Jawa Barat (Rayon I) diberikan oleh Balai Perbenihan dan Tanaman Hutan (BPTH) Jawa Bali yang berkedudukan di Sumedang.

Produksi bibit yang direncanakan sekitar 1,2-1,6 juta batang. Namun dalam rangka uji coba digunakan produksi bibit sebanyak 1,2 juta batang yang komposisi masing-masing jenis data dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Produksi dan jenis bibit bersertifikat yang dihasilkan oleh persemaian ITTO 3. Proses Produksi Bibit

No. Jenis Bibit Jumlah

(batang)

300.000 9000 39 500.0001)

2. Suren(TBS) 100.000 80.000 1,5 600.0002)

3. Jati (APB) 300.000 1.500 234 300.0003)

4. Mahoni

(APB)

100.000 2.250 52 175.0003)

5. Sengon(APB) 300.000 40.000 8,8 3.000.0001)

6. Pulai (TBT) 100.000 200.000 0,6 3.000.0004)

Total 1.200.000 - 335,9

Sumber: 1) Nota pembelian dari CV. Calakan, Ciawi Tasikmalaya; 2) Nota pembelian dari Kelompok Tani Makmur Sumedang; 3) Surat edaran Direktur Utama Perhutani; dan 4) Informasi dari PT Xylo, Palembang.

Tabel 2 (kolom 2) menjelaskan tentang asal usul benih bersertifikat yang terdiri dari TBT, TBS dan APB. TBT (tegakan benih teridentifikasi) adalah suatu tegakan alam atau tanaman dengan kualitas rata-rata (pohon lurus dan percabangan ringan) digunakan untuk menghasilkan benih. APB (areal produksi benih) adalah suatu wilayah tegakan benih terseleksi yang kemudian ditingkatkan kualitasnya melalui penebangan pohon-pohon interior. (Anonimous, 2005).

(6)

Tabel 2 juga menunjukkan bahwa perhitungan jumlah benih yang diperlukan merupakan hasil perkalian antara jumlah bibit yang dihasilkan dibagi dengan daya kecambah benih dan daya survival bibit dari benih tersebut di bedeng sapih. Berdasarkan pengalaman yang diperoleh dari pengada bibit CV. Calakan untuk benih bersertifikat daya kecambah rata-rata sekitar 95 % dan persentase bibit yang mati di bedeng sapih sekitar 5-10 % (90 %).

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa total biaya pembelian benih yang diperlukan untuk menghasilkan bibit sebanyak 1,2 juta batang dari 6 jenis pohon tersebut sekitar Rp. 1.570.000 atau sekitar Rp. 75/benih. Biaya benih ini terkesan terlalu mahal, padahal untuk jenis-jenis tertentu, misalnya sengon, harga bibit bersertifikatnya jauh lebih mahal (Rp. 3 juta/kg) dibandingkan dengan harga bibit tidak bersertifikat yang hanya dijual sekitar Rp. 200.000/kg.

Biaya-biaya yang diperlukan untuk memproduksi bibit di persemaian ITTO meliputi biaya tetap dan biaya variable yang dibedakan atas pengeluaran biaya yang berkaitan langsung atau tidak langsung dengan kegiatan produksi bibit.

Biaya tetap adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh unit persemaian dan biaya ini biasanya tidak tergantung kepada tingkat produksi yang dihasilkan. Biaya tetap tersebut meliputi biaya pembangunan persemaian, pengadaan peralatan kantor dan pemeliharaan fasilitas kantor dan persemaian serta pembayaran karyawan tetap sebagaimana tercantum dalam Tabel 3.

Tabel 3. Biaya tetap per tahun pada produksi bibit di persemaian ITTO B. Identifikasi Komponen Biaya Produksi Bibit

1. Biaya Tetap

(Rp /tahun) Umur Pakai

No. Biaya Tetap Biaya

(Rp) (tahun)

5. P enyusutan biaya pem-belian alat kantor (kom-puter dan meja kerja)

8.000.000 5 2.216.000

6. P e nyus uta n bia ya

pembelian alat dan perlengkapan persemaian

4.000.000 5 1.108.000

7. Biaya gaji pengelola persemaian

3.500.000/bln 1 42.000.000

Total 115.200.460

(7)

Tabel 3 menunjukkan bahwa biaya-biaya penyusutan dan bunga modal yang tertinggi berada pada kegiatan perancangan dan pembangunan fisik persemaian (41,2 %), pembayaran gaji personal (36,5 %), dan pembangunan kantor (12,3 %). Sedangkan biaya penyusutan terendah digunakan untuk pembelian alat dan perlengkapan persemaian, dan pembelian komputer serta meja kerja.

Sedangkan biaya variable adalah biaya yang harus dikeluarkan oleh unit persemaian yang besarnya sangat tergantung kepada /produktivitas/volume produksi yang dihasilkannya. Biaya variable ini termasuk biaya pembelian plastik polibag, biaya pembelian pupuk, upah pencampuran media dan pengisian kantong plastik sebagaimana tercantum dalam Tabel 4.

Tabel 4. Biaya variabel produksi bibit (Rp/tahun) di persemaian ITTO

2. Biaya Variabel

output

No. Perincian Biaya

Variabel

Kebutuhan (unit)

Biaya satuan (Rp/unit)

Biaya total (Rp/tahun)

1. Peng isian polibag 1.403.510 30/polibag 42.105.300

2. Pembelian bibit 335,9 Kg - 127.900.000

3. Penyapihan 1.403.510 2000 btg/HOK 7.017.550

4. Pemeliharaan bibit 7 bulan 3.750.000/bln 26.250.000

5. Pupuk NPK 75 kg 5000/kg 3.750.000

6. Plastik polibag 1.651 kg 16500/kg 27.241.500

7. Media kompos 75 ton 700/kg 52.500.000

8. Pestisida 37,5 liter 60.000/ltr 2.250.000

9. Biaya tagihan listrik 12 bulan 300.000/bln 3.600.000

Total 292.614.350

Sumber : Proyek ITTO (2007).

Tabel 4 menunjukkan bahwa biaya varibel terbesar (76 %) dalam produksi bibit digunakan untuk pembelian bibit (43,7 %), pembelian media kompos (17,9 %), dan pembelian plastik polibag (14,4 %). Sedangkan biaya variabel terkecil digunakan untuk pembelian pestisida dan pupuk kimia (NPK).

Berdasarkan data dari Tabel 3 dan 4, kemudian dilakukan perhitungan biaya total produksi bibit dan biaya produksi bibit per batang untuk masing-masing jenis sebagaimana tercantum Tabel 5.

(8)

No. Jenis Bibit yang

77.972.710 298 1138 115.085

2. Suren (Toona sureni) 10.526.320 242 878 157.337

3. Jati (Tectona grandis) 280.701.760 467 1170 144.180

4. Mahoni(Swietenia mahagony)

109.161.795 324 1170 122.293

5. Sengon (Paraserienthes falcataria)

105.263.160 321 910 167.930

6. Pulai(Alstonia scholaris)

21.000.000 250 878 159.336

Keterangan: *) Harga jual dihitung berdasarkan harga standar bibit di Rayon I (Permenhut No. P. 34/Menhut-V/2005) dikurangi biaya kehilangan bibit akibat distribusi sekitar 15 % dan biaya transportasi bibit sekitar 20 %.

Tabel 5 menunjukkan bahwa biaya produksi bibit per batang diperoleh dari hasil pergantian biaya variable produksi bibit untuk 6 jenis pohon bersertifikat dengan biaya variable pembelian benih untuk setiap jenisnya (kolom 3).

Berdasarkan hasil perhitungan, biaya produksi bibit sebanyak 1,2 juta batang dari 6 jenis pohon adalah sebesar Rp. 407.854.810 atau rata-rata sebesar Rp. 340/batang. Biaya pembuatan bibit manglid per batang di persemaian ITTO sebesar Rp. 298. Biaya ini masih lebih besar daripada biaya produksi bibit manglid yang diproduksi oleh CV Calakan, yaitu sebesar Rp. 240 per batang (Yamin, 2007). Hal ini disebabkan CV. Calakan menggunakan fasilitas persemaian sementara yang mana biaya tetap untuk produksi bibit dapat dikatakan tidak ada karena relatif kecil.

BEP diperoleh dengan menggunakan rumus bakunya dan diperoleh nilai untuk masing-masing bibit berkisar antar 115.000 bibit hingga 168.000 bibit dengan jumlah produksi bibit terendah dicapai oleh bibit manglid dan jumlah produksi tertinggi dihasilkan dari bibit sengon.

Harga bibit ditetapkan berdasarkan surat edaran tentang harga bibit untuk kegiatan gerakan nasional rehabilitasi hutan dan lahan (Gerhan) yang dikeluarkan oleh SK Menteri Kehutanan Nomor: 71/Kpts-II/2005 tentang standar biaya pengadaan bibit Gerhan, dimana harga sengon, manglid, suren, jati, mahoni, dan pulai (Rp. 1.600/batang).

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa biaya produksi bibit per batang berkisar antara Rp. 242 - Rp. 467 per batang tergantung jenis pohonnya. Jadi apabila Dinas Kehutanan Ciamis akan memproduksi bibit sebanyak 2 juta batang, maka dana yang harus disiapkan sekitar Rp 484 juta-934 juta per tahun. Biaya tersebut sebenarnya tidak terlalu besar dan masih menguntungkan apabila bibit tersebut dijual untuk keperluan proyek Gerakan Nasional Rehabilitasi Hutan dan Lahan (Gerhan) dan Gerakan Rehabilitasi Lahan Kritis (GRLK) yang biasanya diterima oleh Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis karena dana rata-rata kedua proyek tersebut diterima D. Alternatif Sumber Pendanaan dan Pengelola Persemaian

(9)

Program kegiatan

Sumber dana

Jumlah Dana (x Rp. Juta) untuk tahun Rata-Rata

2004 2005 2006

3.106,37 3.162,29 6.167,93 4.145,53

GRLK APBD

Provinsi

30,04 1,000,00 900,00 643,33

Gerhan APBN 4.859,71 2.266,63 2.232,74 3.119,69

Jumlah 7.996,13 6.428,92 9.300,67 7.908,55

Sumber : Dishut Ciamis (2005; 2006a; 2006b).

Dinas Kehutanan setiap tahun adalah Rp 3,76 milyar sebagaimana tercantum dalam Tabel 6.

Tabel 6. Jumlah dan Sumber Dana Kegiatan Pembangunan Kehutanan di Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis

Tabel 6 menunjukkan bahwa rata-rata anggaran Dishut Ciamis sebesar Rp. 7,908 milyar per tahun yang berasal dari APBD Kabupaten (52,4 %), APBN (39,5 %), dan APBD Provinsi (8,2 %). Dengan demikian biaya operasional persemaian ITTO setelah proyek selesai dapat didanai dan dikelola langsung oleh Dinas Kehutanan Ciamis dengan membentuk UPTD Persemaian dan Pembibitan. UPTD persemaian ini lebih diarahkan sebagai unit organisasi bisnis mandiri yang diberikan kewenangan untuk mengelola persemaian secara profesional dan menguntungkan

namun tetap dibawah pembinaan dan pengendalian Dinas Kehutanan Ciamis. Dalam rangka kesinambungan pengelolaan persemaian ITTO,

telah merancang organisasi pengelola persemaian (Gambar 2) yang mempunyai tiga tugas pokok utama, yaitu (1) memproduksi bibit sebanyak 1,2 juta batang dari 6 jenis pohon, (2) menata fisik dan administrasi pengelolaan persemaian secara efektif dan efisien, dan (3) menyiapkan segala persyaratan pengelolaan agar siap untuk sewaktu-waktu dijadikan unit UPTD Dinas Kehutanan Ciamis.

(profitable),

(10)

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

B. Saran

1. Perhitungan biaya operasional persemaian sangat diperlukan sebagai bahan masukan bagi Dinas Kehutanan Ciamis dalam menentukan pola pengelolaan persemaian pasca berakhirnya proyek ITTO tersebut.

2. Biaya penyusutan dan modal persemaian adalah sebesar Rp. 115.200.460 yang sebagian besar didominasi untuk kegiatan perencanaan dan pembangunan persemaian (41,2 %), pembangunan kantor (12,3 %), dan pembayaran upah dan gaji (36,5 %).

3. Biaya variable untuk produksi bibit diperlukan sebesar Rp. 292.614.350 yang didominasi oleh kegiatan pembelian bibit (43,7%), pembelian media kompos (17,9%), dan upah pengisian media (14,4%). Total biaya produksi 1,2 juta bibit adalah sebesar Rp. 407.854.810 atau rata-rata Rp. 340 per batang.

4. (BEP) untuk masing-masing bibit berkisar antara 115.000 bibit hingga 168.000 bibit dengan jumlah produksi bibit terendah dicapai oleh bibit manglid dan jumlah produksi tertinggi dihasilkan dari bibit Sengon.

5. Sumber alternatif pendanaan bagi pengelolaan persemaian adalah APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) melalui program Gerhan dan APBD (Anggaran Pendapan dan Belanja Daerah) Provinsi melalui program gerakan rehabilitasi lahan kritis.

6. Sistem pengelolaan persemaian ITTO yang tepat adalah UPTD dan untuk menyiapkan diri menjadi UPTD, Dinas Kehutanan Ciamis telah membentuk Tim Operasional persemaian dengan 3 tugas pokok utama yaitu: (1) memproduksi bibit sebanyak 1,2 juta batang dari 6 jenis pohon, (2) menata fisik dan administrasi pengelolaan persemaian secara efektif dan efisien, dan (3) menyiapkan segala persyaratan pengelolaan agar siap untuk dijadikan unit UPTD bisnis mandiri dari Dinas Kehutanan Ciamis.

Pengelolaan persemaian sebaiknya dijadikan unit pelaksana teknis daerah (UPTD) bisnis mandiri dari Dinas Kehutanan Ciamis dengan struktur organisasi yang miskin struktur tetapi kaya fungsi dimana dalam pola operasionalnya harus banyak melibatkan masyarakat setempat sebagai upaya pemberdayaan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat di sekitar lokasi persemaian.

Biaya produksi bibit per batang masih dapat ditekan atau dikurangi oleh pihak pengelola persemaian dengan memperhatikan besaran biaya variable yang paling besar, diantaranya pembelian media kompos, dan biaya pengisian media di plastik polibag.

(11)

DAFTAR PUSTAKA

Dishut Ciamis. 2004. Perda Kabupaten Ciamis Nomor 19 Tahun 2004 tentang Dishut Ciamis. 2005. Laporan Akuntabilitas Kinerja Tahun 2004. Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis.

Dishut Ciamis. 2006a. Laporan Akuntabilitas Kinerja Tahun 2005. Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis.

Dishut Ciamis. 2006b. Daftar Isian Penggunanan Anggaran (DIPA) Tahun 2006. Dinas Kehutanan Kabupaten Ciamis. Produksi dan Peredaran Kayu Rakyat.

Proyek ITTO. 2007. Second Progress Report of ITTO PD 271/4 Rev. 3 (F) (Periode: September 01, 2006-February 28, 2007). Proyek ITTO PD 271/04 Rev. 3 (F), Ciamis.

PT Purba Margana. 2006. Laporan Akhir Design Pembuatan Persemaian ITTO PD 271/04 Rev.3 (F). di Kabupaten Ciamis. CV Purba Margana, Jakarta.

Gambar

Gambar�1.��Lokasi�Persemaian�ITTO�di�Desa�Mekarsari,�Kecamatan�Cipaku
Tabel 2. Produksidan jenisbibit bersertifikatyang dihasilkan oleh persemaianITTO
Tabel 3. Biayatetappertahun pada produksibibit di persemaianITTO
Tabel 4. Biayavariabel produksibibit (Rp/tahun)di persemaianITTO
+3

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

(1) Kepala UPTD Pengelolaan Sampah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 3 ayat (1) huruf a mempunyai tugas pokok melaksanakan sebagian tugas teknis operasional dan/atau teknis

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,

perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user86.Sawi Monumen Sawi monumen tubuhnya amat tegak dan berdaun kompak. Penampilan sawi jenis ini sekilas mirip dengan petsai. Tangkai daun berwarna putih berukuran agak lebar dengan tulang daun yang juga berwarna putih. Daunnya sendiri berwarna hijau segar. Jenis sawi ini tegolong terbesar dan terberat di antara jenis sawi lainnya. D.Syarat Tumbuh Tanaman Sawi Syarat tumbuh tanaman sawi dalam budidaya tanaman sawi adalah sebagai berikut : 1.Iklim Tanaman sawi tidak cocok dengan hawa panas, yang dikehendaki ialah hawa yang dingin dengan suhu antara 150 C - 200 C. Pada suhu di bawah 150 C cepat berbunga, sedangkan pada suhu di atas 200 C tidak akan berbunga. 2.Ketinggian Tempat Di daerah pegunungan yang tingginya lebih dari 1000 m dpl tanaman sawi bisa bertelur, tetapi di daerah rendah tak bisa bertelur. 3.Tanah Tanaman sawi tumbuh dengan baik pada tanah lempung yang subur dan cukup menahan air. (AAK, 1992). Syarat-syarat penting untuk bertanam sawi ialah tanahnya gembur, banyak mengandung humus (subur), dan keadaan pembuangan airnya (drainase) baik. Derajat keasaman tanah (pH) antara 6–7 (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user9E.Teknik Budidaya Tanaman Sawi 1.Pengadaan benih Benih merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan usaha tani. Kebutuhan benih sawi untuk setiap hektar lahan tanam sebesar 750 gram. Benih sawi berbentuk bulat, kecil-kecil. Permukaannya licin mengkilap dan agak keras. Warna kulit benih coklat kehitaman. Benih yang akan kita gunakan harus mempunyai kualitas yang baik, seandainya beli harus kita perhatikan lama penyimpanan, varietas, kadar air, suhu dan tempat menyimpannya. Selain itu juga harus memperhatikan kemasan benih harus utuh. kemasan yang baik adalah dengan alumunium foil. Apabila benih yang kita gunakan dari hasil pananaman kita harus memperhatikan kualitas benih itu, misalnya tanaman yang akan diambil sebagai benih harus berumur lebih dari 70 hari. Penanaman sawi memperhatikan proses yang akan dilakukan misalnya dengan dianginkan, disimpan di tempat penyimpanan dan diharapkan lama penyimpanan benih tidak lebih dari 3 tahun.( Eko Margiyanto, 2007) Pengadaan benih dapat dilakukan dengan cara membuat sendiri atau membeli benih yang telah siap tanam. Pengadaan benih dengan cara membeli akan lebih praktis, petani tinggal menggunakan tanpa jerih payah. Sedangkan pengadaan benih dengan cara membuat sendiri cukup rumit. Di samping itu, mutunya belum tentu terjamin baik (Cahyono, 2003). Sawi diperbanyak dengan benih. Benih yang akan diusahakan harus dipilih yang berdaya tumbuh baik. Benih sawi sudah banyak dijual di toko-toko pertanian. Sebelum ditanam di lapang, sebaiknya benih sawi disemaikan terlebih dahulu. Persemaian dapat dilakukan di bedengan atau di kotak persemaian (Anonim, 2007). 2.Pengolahan tanah Sebelum menanam sawi hendaknya tanah digarap lebih dahulu, supaya tanah-tanah yang padat bisa menjadi longgar, sehingga pertukaran perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user10udara di dalam tanah menjadi baik, gas-gas oksigen dapat masuk ke dalam tanah, gas-gas yang meracuni akar tanaman dapat teroksidasi, dan asam-asam dapat keluar dari tanah. Selain itu, dengan longgarnya tanah maka akar tanaman dapat bergerak dengan bebas meyerap zat-zat makanan di dalamnya (AAK, 1992). Untuk tanaman sayuran dibutuhkan tanah yang mempunyai syarat-syarat di bawah ini : a.Tanah harus gembur sampai cukup dalam. b.Di dalam tanah tidak boleh banyak batu. c.Air dalam tanah mudah meresap ke bawah. Ini berarti tanah tersebut tidak boleh mudah menjadi padat. d.Dalam musim hujan, air harus mudah meresap ke dalam tanah. Ini berarti pembuangan air harus cukup baik. Tujuan pembuatan bedengan dalam budidaya tanaman sayuran adalah : a.Memudahkan pembuangan air hujan, melalui selokan. b.Memudahkan meresapnya air hujan maupun air penyiraman ke dalam tanah. c.Memudahkan pemeliharaan, karena kita dapat berjalan antar bedengan dengan bedengan. d.Menghindarkan terinjak-injaknya tanah antara tanaman hingga menjadi padat. ( Rismunandar, 1983 ). 3.Penanaman Pada penanaman yang benihnya langsung disebarkan di tempat penanaman, yang perlu dijalankan adalah : a.Supaya keadaan tanah tetap lembab dan untuk mempercepat berkecambahnya benih, sehari sebelum tanam, tanah harus diairi terlebih dahulu. perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user11b.Tanah diaduk (dihaluskan), rumput-rumput dihilangkan, kemudian benih disebarkan menurut deretan secara merata. c.Setelah disebarkan, benih tersebut ditutup dengan tanah, pasir, atau pupuk kandang yang halus. d.Kemudian disiram sampai merata, dan waktu yang baik dalam meyebarkan benih adalah pagi atau sore hari. (AAK, 1992). Penanaman dapat dilakukan setelah tanaman sawi berumur 3 - 4 Minggu sejak benih disemaikan. Jarak tanam yang digunakan umumnya 20 x 20 cm. Kegiatan penanaman ini sebaiknya dilakukan pada sore hari agar air siraman tidak menguap dan tanah menjadi lembab (Anonim, 2007). Waktu bertanam yang baik adalah pada akhir musim hujan (Maret). Walaupun demikian dapat pula ditanam pada musim kemarau, asalkan diberi air secukupnya (Sunaryono dan Rismunandar, 1984). 4.Pemeliharaan tanaman Pemeliharaan dalam budidaya tanaman sawi meliputi tahapan penjarangan tanaman, penyiangan dan pembumbunan, serta pemupukan susulan. a.Penjarangan tanaman Penanaman sawi tanpa melalui tahap pembibitan biasanya tumbuh kurang teratur. Di sana-sini sering terlihat tanaman-tanaman yang terlalu pendek/dekat. Jika hal ini dibiarkan akan menyebabkan pertumbuhan tanaman tersebut kurang begitu baik. Jarak yang terlalu rapat menyebabkan adanya persaingan dalam menyerap unsur-unsur hara di dalam tanah. Dalam hal ini penjarangan dilakukan untuk mendapatkan kualitas hasil yang baik. Penjarangan umumnya dilakukan 2 minggu setelah penanaman. Caranya dengan mencabut tanaman yang tumbuh terlalu rapat. Sisakan tanaman yang tumbuh baik dengan jarak antar tanaman yang teratur (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user12b.Penyiangan dan pembumbunan Biasanya setelah turun hujan, tanah di sekitar tanaman menjadi padat sehingga perlu digemburkan. Sambil menggemburkan tanah, kita juga dapat melakukan pencabutan rumput-rumput liar yang tumbuh. Penggemburan tanah ini jangan sampai merusak perakaran tanaman. Kegiatan ini biasanya dilakukan 2 minggu sekali (Anonim, 2007). Untuk membersihkan tanaman liar berupa rerumputan seperti alang-alang hampir sama dengan tanaman perdu, mula-mula rumput dicabut kemudian tanah dikorek dengan gancu. Akar-akar yang terangkat diambil, dikumpulkan, lalu dikeringkan di bawah sinar matahari, setelah kering, rumput kemudian dibakar (Duljapar dan Khoirudin, 2000). Ketika tanaman berumur satu bulan perlu dilakukan penyiangan dan pembumbunan. Tujuannya agar tanaman tidak terganggu oleh gulma dan menjaga agar akar tanaman tidak terkena sinar matahari secara langsung (Tim Penulis PS, 1995 ). c.Pemupukan Setelah tanaman tumbuh baik, kira-kira 10 hari setelah tanam, pemupukan perlu dilakukan. Oleh karena yang akan dikonsumsi adalah daunnya yang tentunya diinginkan penampilan daun yang baik, maka pupuk yang diberikan sebaiknya mengandung Nitrogen (Anonim, 2007). Pemberian Urea sebagai pupuk tambahan bisa dilakukan dengan cara penaburan dalam larikan yang lantas ditutupi tanah kembali. Dapat juga dengan melarutkan dalam air, lalu disiramkan pada bedeng penanaman. Satu sendok urea, sekitar 25 g, dilarutkan dalam 25 l air dapat disiramkan untuk 5 m bedengan. Pada saat penyiraman, tanah dalam bedengan sebaiknya tidak dalam keadaan kering. Waktu penyiraman pupuk tambahan dapat dilakukan pagi atau sore hari (Haryanto et al., 1995). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user13Jenis-jenis unsur yag diperlukan tanaman sudah kita ketahui bersama. Kini kita beralih membicarakan pupuk atau rabuk, yang merupakan kunci dari kesuburan tanah kita. Karena pupuk tak lain dari zat yang berisisi satu unsur atau lebih yang dimaksudkan untuk menggantikan unsur yang habis diserap tanaman dari tanah. Jadi kalau kita memupuk berarti menambah unsur hara bagi tanah (pupuk akar) dan tanaman (pupuk daun). Sama dengan unsur hara tanah yang mengenal unsur hara makro dan mikro, pupuk juga demikian. Jadi meskipun jumlah pupuk belakangan cenderung makin beragam dengan merek yang bermacam-macam, kita tidak akan terkecoh. Sebab pupuk apapun namanya, entah itu buatan manca negara, dari segi unsur yang dikandungnya ia tak lain dari pupuk makro atau pupuk mikro. Jadi patokan kita dalam membeli pupuk adalah unsur yang dikandungnya (Lingga, 1997). Pemupukan membantu tanaman memperoleh hara yang dibutuhkanya. Unsur hara yang pokok dibutuhkan tanaman adalah unsur Nitrogen (N), Fosfor (P), dan Kalium (K). Itulah sebabnya ketiga unsur ini (NPK) merupakan pupuk utama yang dibutuhkan oleh tanaman. Pupuk organik juga dibutuhkan oleh tanaman, memang kandungan haranya jauh dibawah pupuk kimia, tetapi pupuk organik memiliki kelebihan membantu menggemburkan tanah dan menyatu secara alami menambah unsur hara dan memperbaiki struktur tanah (Nazarudin, 1998). 5.Pengendalian hama dan penyakit Hama yang sering menyerang tanaman sawi adalah ulat daun. Apabila tanaman telah diserangnya, maka tanaman perlu disemprot dengan insektisida. Yang perlu diperhatikan adalah waktu penyemprotannya. Untuk tanaman sayur-sayuran, penyemprotan dilakukan minimal 20 hari sebelum dipanen agar keracunan pada konsumen dapat terhindar (Anonim, 2007). perpustakaan.uns.ac.iddigilib.uns.ac.idcommit to user14OPT yang menyerang pada tanaman sawi yaitu kumbang daun (Phyllotreta vitata), ulat daun (Plutella xylostella), ulat titik tumbuh (Crocidolomia binotalis), dan lalat pengerek daun (Lyriomiza sp.). Berdasarkan tingkat populasi dan kerusakan tanaman yang ditimbulkan, maka peringkat OPT yang menyerang tanaman sawi berturut-turut adalah P. vitata, Lyriomiza sp., P. xylostella, dan C. binotalis. Hama P. vitatamerupakan hama utama, dan hama P. xylostella serta Lyriomiza sp. merupakan hama potensial pada tanaman sawi, sedangkan hamaC. binotalis perlu diwaspadai keberadaanya (Mukasan et al., 2005). Beberapa jenis penyakit yang diketahui menyerang tanaman sawi antara lain: penyakit akar pekuk/akar gada, bercak daun altermaria, busuk basah, embun tepung, rebah semai, busuk daun, busuk Rhizoctonia, bercak daun, dan virus mosaik (Haryanto et al., 1995). 6.Pemanenan Tanaman sawi dapat dipetik hasilnya setelah berumur 2 bulan. Banyak cara yang dilakukan untuk memanen sawi, yaitu: ada yang mencabut seluruh tanaman, ada yang memotong bagian batangnya tepat di atas permukaan tanah, dan ada juga yang memetik daunnya satu per satu. Cara yang terakhir ini dimaksudkan agar tanaman bisa tahan lama (Edy margiyanto,