• Tidak ada hasil yang ditemukan

Rancang Bangun Antena Mikrostrip Patch Segiempat Dengan Teknik Planar Array untuk Aplikasi Wireless-LAN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Rancang Bangun Antena Mikrostrip Patch Segiempat Dengan Teknik Planar Array untuk Aplikasi Wireless-LAN"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II DASAR TEORI

2.1 Antena

Suatu antena dapat diartikan sebagai suatu tranduser antara saluran

transmisi atau pandu gelombang dalam suatu saluran transmisi dan suatu medium

yang tak terikat (zona bebas) tempat suatu gelombang elektromagnetik

berpropagasi (biasanya udara), ataupun sebaliknya. Dalam aplikasinya, suatu

antena dapat berfungsi selain sebagai media pemancar gelombang

elektromagnetik, juga sebagai penerima gelombang elektromagnetik secara efisien

dan berpolarisasi sesuai dengan struktur yang dimilikinya. Selain itu, untuk

meminimalkan refleksi gelombang pada titik antara saluran transmisi dan titik

catu antena, maka suatu antena harus mempunyai kesesuaian (matched) dengan

saluran transmisi yang digunakan. Saluran transmisi adalah alat yang berfungsi

sebagai penghantar atau penyalur energi gelombang elektromagnetik. Suatu

sumber yang dihubungkan dengan saluran transmisi yang tak berhingga

panjangnya menimbulkan gelombang berjalan yang uniform sepanjang saluran

itu. Jika saluran ini dihubung singkat maka akan muncul gelombang berdiri yang

disebabkan oleh interferensi gelombang datang dengan gelombang yang

dipantulkan. Jika gelombang datang sama besar dengan gelombang yang

dipantulkan akan dihasilkan gelombang berdiri murni. Konsentrasi-konsentrasi

energi pada gelombang berdiri ini berosilasi dari energi listrik seluruhnya ke

energi magnet total dua kali setiap periode gelombang itu.

Beberapa contoh antena dalam berbagai bentuk dapat dilihat pada Gambar

2.1. Dan aplikasinya, antena banyak digunakan pada penyiaran radio dan televisi,

(2)

anti tabrakan, dan masih banyak fungsi-fungsi yang lain.

Gambar 2.1 Contoh berbagai macam bentuk antena

2.2 Antena Mikrostrip

Antena mikrostrip merupakan salah satu antena yang saat ini banyak

digunakan karena antena mikrostrip berukuran kecil dan ringan. Hal tersebut

merupakan salah satu pertimbangan dalam merancang antena saat ini [1].

Antena mikrostrip terdiri dari 3 bagian, yaitu [1]μ

1. Patch, merupakan bagian dari antena mikrostrip yang berfungsi untuk

meradiasikan gelombang elektromagnetik ke ruang bebas. Patch ini

memiliki ketebalan yang bervariasi dan biasanya terbuat dari bahan

tembaga.

2. Substrate dielektrik, merupakan bagian dari antena mikrostrip yang

berfungsi untuk menyalurkan gelombang elektromagnetik yang berasal

dari patch. Bahan substrate dielektrik beragam, diantaranya plastik,

(3)

3. Groundplane, merupakan bagian dari antena mikrostrip yang berfungsi

untuk memisahkan antara substrate dielektrik dengan benda lain yang

dapat mengganggu radiasi sinyal.

Gambaran umum bentuk antena mikrostrip ini dapat dilihat pada Gambar 2.1.

Gambar 2.2 Struktur antena mikrostrip

Antena mikrostrip adalah antena yang terbuat dari suatu konduktor metal

yang menempel di atas groundplane. Peralatan telekomunikasi khususnya antena,

saat ini mengacu pada antena yang murah dalam pembuatan, memiliki massa yang

ringan, mudah dalam proses integrasi dengan peralatan telekomunikasi lainnya.

Namun disamping kelebihan yang dimiliki, antena mikrostrip juga memiliki

beberapa kelemahan, diantaranya memiliki bandwidth yang kecil, efisiensi yang

rendah, gain yang kecil dan daya yang kecil. Adapun jenis-jenis antena mikrostrip

(4)

Gambar 2.3 Bentuk patch antena mikrostrip

2.3 Model Cavity

Untuk dapat menganalisis sebuah antena mikrostrip, maka diperlukan

sebuah pemodelan yang dapat menggambarkan kondisi antena ke dalam sebuah

kondisi persamaan yang dapat dianalisis secara akurat. Berbagai pemodelan untuk

antena mikrostrip tersebut telah banyak dikembangkan dan satu diantaranya yang

populer adalah model cavity. Pada model cavity, daerah interior yaitu ruang antara

patch dan bidang pentanahan diasumsikan sebagai sebuah ruang (cavity) yang

dilingkari oleh suatu dinding magnetik sepanjang tepinya, dan diapit oleh dinding

elektrik dari atas dan bawah. εodel cavity dari sebuah antena mikrostrip

diperlihatkan pada Gambar 2.4. Beberapa asumsi model cavity berdasarkan

observasi dari substrate tipis ( h<< 0)[ 2][4]]μ

a. εedan di daerah interior tidak bervariasi dengan z (/z0)karena

substrate sangat tipis (h<< 0).

b. εedan elektrik hanya muncul dalam arah z, Ez saja, dan medan magnetis

(5)

oleh patch dan ground plane. Observasi ini juga memperhatikan dinding

elektris atas bawah.

c. Patch arus listrik tidak mempunyai komponen normal pada ujung metal,

yang termasuk komponen tangensial dari , sepanjang sisi diabaikan.

εodel cavity ini menggunakan persamaan εaxwell [2][θ]. Adapun

persamaan εaxwell untuk daerah dibawah Patch adalah sebagai berikutμ

� × � = −���0 H (2.1)

� × � = ���� + � (2.2)

�. � = �/� (2.3)

�. � = � (2.4)

Dimana adalah permitivitas dari substrat, 0 adalah permeabilitas ruang hampa,

dan J adalah rapat arus.

Gambar 2.4 Distribusi muatan dan densitas arus yang terbentuk pada

patch mikrostrip [θ]

Ketika suatu patch (elemen peradiasi) diberikan daya, maka akan terjadi

distribusi muatan seperti yang terlihat pada bagian atas dan bawah dari permukaan

elemen peradiasi dan pada bagian bidang pentanahan (Gambar 2.4). Distribusi

muatan ini diatur dengan dua mekanisme yaitu mekanisme tarik-menarik dan

(6)

yang berlawanan yaitu antara muatan yang terdapat pada bagian bawah dari

elemen peradiasi dengan muatan yang terdapat pada bidang pentanahan. Hal

tersebut akan membantu menjaga agar konsentrasi muatan tetap ada pada bagian

bawah elemen peradiasi. εekanisme tolak-menolak terjadi antar muatan yang

terdapat pada bagian bawah elemen peradiasi. Hal tersebut akan meyebabkan

beberapa muatan terdorong dari bagian bawah patch ke bagian atas dari patch.

Pergerakan muatan ini akan meyebabkan arus mengalir pada bagian bawah dan

atas dari elemen peradiasi [3].

εodel analisis cavity mengasumsikan bahwa perbandingan ketebalan

dengan lebar (ketebalan substrate dan lebar elemen peradiasi) sangat kecil dan

akibatnya, mekanisme tarik-menarik antar muatan akan mendominasi dan

meyebabkan sebagian besar konsentrasi muatan dan arus akan terjadi pada bagian

bawah dari permukaan patch. Ketika perbandingan height to width semakin

menurun, arus yang berada pada bagian atas permukaan elemen peradiasi akan

mendekati nol, sehingga tidak akan terbentuk komponen tangensial medan

magnetik pada tepi elemen peradiasi. Empat dinding sisi antena dapat dimodelkan

sebagai permukaan konduktor magnetik yang sempurna. Hal tersebut meyebabkan

distribusi medan magnet dan medan listrik yang terdapat pada elemen peradiasi

tidak terganggu. Akan tetapi pada tataran praktis, komponen tangensial dari

medan magnetik tidak akan sama dengan nol tetapi memiliki nilai yang sangat

kecil dan dinding sisi antena bukan merupakan konduktor magnetik yang

sempurna. Karena dinding cavity (dalam hal ini merupakan material substrat)

lossless, cavity tidak akan beradiasi dan sifat dari impendansi masukannya akan

(7)

2.4 Parameter Umum Antena Mikrostrip

Unjuk kerja (performance) dari suatu antena mikrostrip dapat diamati dari

parameternya. Beberapa parameter utama dari sebuah antena mikrostrip akan

dijelaskan sebagai berikutμ

2.4.1 Bandwidth

Bandwidth suatu antena didefinisikan sebagai rentang frekuensi di mana

kinerja antena yang berhubungan dengan beberapa karakteristik (seperti

impedansi masukan, pola, beamwidth, polarisasi, gain, efisiensi, VSWR, return

loss, axial ratio) memenuhi spesifikasi standar. Pada Gambar 2.η terlihat rentang

frekeunsi yang menjadi bandwith [3].

Return loss

bandwith

-10dB

Gambar 2.η Rentang frekuensi yang menjadi bandwith

Bandwith dapat dicari dengan menggunakan rumus berikut ini μ

BW= f2- f1

fc x100% (2.η)

(8)

Ada beberapa jenis bandwidth di antaranya [3]μ

 Impedance bandwidth, yaitu rentang frekuensi di mana patch antena berada pada keadaan matching dengan saluran pencatu. Hal ini terjadi

karena impedansi dari elemen antena bervariasi nilainya tergantung dari

nilai frekuensi. Nilai matching ini dapat dilihat dari return loss dan

VSWR. Pada umumnya nilai return loss dan VSWR yang masih dianggap

baik masing-masing adalah kurang dari -λ,η4 dBi dan 2.

 Pattern bandwidth, yaitu rentang frekuensi di mana beamwidth, sidelobe, atau gain, yang bervariasi menurut frekuensi memenuhi nilai tertentu.

Nilai tersebut harus ditentukan pada awal perancangan antena agar nilai

bandwidth dapat dicari.

 Polarization atau axial ratio bandwidth adalah rentang frekuensi di manapolarisasi (linier atau melingkar) masih terjadi. Nilai axial ratio untuk

polarisasi melingkar adalah kurang dari 3 dBi.

2.4.2 Return δoss

Return Loss adalah perbandingan antara amplitudo dari gelombang yang

direfleksikan terhadap amplitudo gelombang yang dikirimkan [4]. Return Loss

digambarkan sebagai peningkatan amplitudo dari gelombang yang direfleksikan

(V0-) dibanding dengan gelombang yang dikirim (V0 +). Return Loss dapat

terjadi akibat adanya diskontinuitas diantara saluran transmisi dengan impedansi

masukan beban (antena). Pada rangkaian gelombang mikro yang memiliki

diskontinuitas (mismatched), besarnya return loss bervariasi tergantung pada

frekuensi [4].

(9)

Γ=V0

-VSWR adalah perbandingan antara amplitudo gelombang berdiri

(standing wave) maksimum (|V|max) dengan minimum (|V|min). Pada saluran

transmisi ada dua komponen gelombang tegangan, yaitu tegangan yang

dikirimkan (V0+) dan tegangan yang direfleksikan (V0-). Perbandingan antara

tegangan yang direfleksikan dengan tegangan yang dikirimkan disebut sebagai

koefisien refleksi tegangan (Γ ) [4]μ

Γ= V0

-merepresentasikan besarnya magnitudo dan fasa dari refleksi. Untuk beberapa

kasus yang sederhana, ketika bagian imajiner dari Γ adalah nol, maka μ

μ refleksi negatif maksimum, ketika saluran terhubung singkat

μ tidak ada refleksi, ketika saluran dalam keadaan matched

sempurna

μ refleksi positif maksimum, ketika saluran dalam rangkaian

terbuka

Sedangkan rumus untuk mencari nilai VSWR adalah [4]μ

VSWR= ||Ṽ|Ṽ|maxmin= 1+ 1 |Γ|

-|Γ| (2.λ)

Kondisi yang paling baik adalah ketika VSWR bernilai 1 (VSWR =1)

(10)

Namun kondisi ini pada praktiknya sulit untuk didapatkan. Pada umumnya nilai

VSWR yang dianggap masih baik adalah VSWR ≤ 2.

2.4.4 Polarisasi

Polarisasi antena adalah polarisasi dari gelombang yang ditransmisikan

oleh antenna. Jika arah tidak ditentukan maka polarisasi merupakan polarisasi

pada arah gain maksimum. Pada praktiknya, polarisasi dari energi yang teradiasi

bervariasi dengan arah dari tengah antena, sehingga bagian lain dari pola radiasi

mempunyai polarisasi yang berbeda [3].

Polarisasi dari gelombang yang teradiasi didefinisikan sebagai suatu

keadaan gelombang elektromagnet yang menggambarkan arah dan magnitude

vektor medan elektrik yang bervariasi menurut waktu. Selain itu, polarisasi juga

dapat didefinisikan sebagai gelombang yang diradiasikan dan diterima oleh antena

pada suatu arah tertentu [3].

Polarisasi dapat diklasifikasikan sebagai linier (linier), circular

(melingkar), atau elliptical (elips). Polarisasi linier (Gambar 2.θ) terjadi jika suatu

gelombang yang berubah menurut waktu pada suatu titik di ruang memiliki vektor

medan elektrik (atau magnet) pada titik tersebut selalu berorientasi pada garis

lurus yang sama pada setiap waktu. Hal ini dapat terjadi jika vektor (elektrik

maupun magnet) memenuhi [3] μ

a. hanya ada satu komponen, atau

b. 2 komponen yang saling tegak lurus secara linier yang berada pada

(11)

Gambar 2.θ Polarisasi linier

Polarisasi melingkar (Gambar 2.7) terjadi jika suatu gelombang yang

berubah menurut waktu pada suatu titik memiliki vektor medan elektrik (atau

magnet) pada titik tersebut berada pada jalur lingkaran sebagai fungsi waktu.

Kondisi yang harus dipenuhi untuk mencapai jenis polarisasi ini adalah μ

a. εedan harus mempunyai 2 komponen yang saling tegak lurus linier

b. Kedua komponen tersebut harus mempunyai magnitudo yang sama

c. Kedua komponen tersebut harus memiliki perbedaan fasa waktu pada

kelipatan ganjil λ00.

Polarisasi melingkar dibagi menjadi dua, yaitu δeft Hand Circular

Polarization (δHCP) dan Right Hand Circular Polarization (RHCP). δHCP terjadi

(12)

Gambar 2.7 Polarisasi melingkar

Polarisasi elips (Gambar 2.8) terjadi ketika gelombang yang berubah

menurut waktu memiliki vektor medan (elektrik atau magnet) berada pada jalur

kedudukan elips pada ruang. Kondisi yang harus dipenuhi untuk mendapatkan

polarisasi ini adalah [3] μ

a. medan harus mempunyai dua komponen linier ortogonal

b. Kedua komponen tersebut harus berada pada magnitudo yang sama atau

berbeda

c. Jika kedua komponen tersebut tidak berada pada magnitudo yang sama,

perbedaan fasa waktu antara kedua komponen tersebut harus tidak

bernilai 00 atau kelipatan 180 (karena akan menjadi linier). Jika kedua

komponen berada pada magnitudo yang sama maka perbedaan fasa di

antara kedua komponen tersebut harus tidak merupakan kelipatan ganjil

(13)

Gambar 2.8 Polarisasi elips

2.4.5 Keterarahan (Directivity)

Keterarahan dari sebuah antena didefinisikan sebagai perbandingan (rasio)

intensitas radiasi sebuah antena pada arah tertentu dengan intensitas radiasi rata

-rata pada semua arah [θ]. Intensitas radiasi -rata-rata sama dengan jumlah daya

yang diradiasikan oleh antena dibagi dengan. Jika arah tidak ditentukan, arah

intensitas radiasi maksimum merupakan arah yang dimaksud. Keterarahan ini

dapat dihitung dengan menggunakan Persamaan 2.10[3].

D=

UU

0

=

4πU

Prad (2.10)

Dan jika arah tidak ditentukan, keterahan terjadi pada intensitas radiasi maksimum

yang dapat dihitungan dengan menggunakan Persamaan 2.11[4].

D

max

=

D

0

=

UUmax0

=

4πUPradmax (2.11)

Dimana μ

D = keterarahan

D0 = keterarahan maksimum

U = intensitas radiasi maksimum

Umax = intensitas radiasi maksimum

U0 = intensitas radiasi pada sumber isotropic

(14)

Adapun cara lain untuk menghitung directivity single slot dapat dicari

dengan menggunakan Persamaan 2.12.

D=4W2π2

02I1 (2.12)

Dimana nilai � dapat dihitungan dengan menggunakan Persamaan 2.13.

I1=√120W 2π2

λ0 02 (2.13)

Setelah nilai directivity didapat maka nilai directivity susunnya dapat

dicari dengan menggunakan Persamaan 2.14.

Dsusun=2D (2.14

Setelah directivity ditentukan maka didapatlah nilai directivity total untuk

menghitung besarnya directivity total dapat dicari dengan menggunakan

Persamaan 2.1η.

Dtotal=Dsusun× Delemen (2.1η)

Keteranganμ

� = banyak elemen yang akan dirancang

2.4.6 Penguatan (Gain)

Ada dua jenis parameter penguatan (gain) yaitu absolute gain dan relative

gain. Absolute gain pada sebuah antena didefinisikan sebagai perbandingan antara

intensitas pada arah tertentu dengan intensitas radiasi yang diperoleh jika daya

yang diterima oleh antena teradiasi secara isotropik. Intensitas radiasi yang

berhubungan dengan daya yang diradiasikan secara isotropik sama dengan daya

yang diterima oleh antena (Pin) dibagi dengan. Absolute gain ini dapat dihitung

(15)

gain

=

U( ,P ∅)

in (2.1θ)

Selain absolute gain juga ada relative gain. Relative gain didefinisikan

sebagai perbandingan antara perolehan daya pada sebuah arah dengan perolehan

daya pada antena referensi pada arah yang direferensikan juga. Daya masukan

harus sama di antara kedua antena itu.

Adapun cara lain untuk menghitung gain antena yaitu dengan

menggunakan bantuan perangkat lunak tertentu. Perhitungan ini dilakukan

berdasarkan pembacaan level penerimaan sinyal. Persamaan yang digunakan

untuk menghitung gain dapat dilihat pada Persamaan 2.17.

Ga dB =Pa dBm -Ps dBm +Gs dB ( 2.17)

Selanjutnya gain dapat juga dihitungan dengan menggunakan oleh

Persamaan 2.18.

G= ×Dtotal (2.18

Adapun besar efisiensi (�) antena mikrostrip yang digunakan biasanya

berkisar θ0% sampai 70%.

2.4.7 Frekuensi Resonansi

Frekuensi resonansi sebuah antena dapat diartikan sebagai frekuensi kerja

antena di mana pada frekuensi tersebut seluruh daya dipancarkan secara

maksimal. Pada umumnya frekuensi resonansi menjadi acuan menjadi frekuensi

(16)
(17)
(18)

W= c

Sedangkan untuk menentukan panjang patch (δ) diperlukan parameter ∆δ

yang merupakan pertambahan panjang dari δ akibat adanya fringing effect.

Pertambahan panjang dari δ (∆δ) tersebut dapat dihitungan menggunakan

Persamaan 2.20[θ]μ

adalah konstanta dielektrik relatif yang dapat dihitung menggunakan Persamaan 2.21.

Dengan panjang patch (δ) dapat dihitung menggunakan Persamaan 2.22.

δ=δeff-2∆δ (2.22)

Dimana � merupakan panjang patch efektif yang dapat hitung menggunakan

(19)

δeff=2focreff (2.2 )

Setelah mengetahui ukuran dimensi patch antena mikrostrip secara keseluruhan

maka dari ukuran tersebut dapat diperoleh juga impedansi antena mikrostrip

secara keseluruhan. Untuk mencari nilai impedansi beban dapat dihitungan

menggunakan Persamaan 2.24[θ][8].

Zδ=Zin = Y1

in (2.24)

Admintansi beban( � didapat dicari dengan menggunakan Persamaan 2.2η.

Yin=2×YS (2.2η)

Selanjutnya untuk mencari besarnya nilai admintansi lebar patch dapat dicari

(20)

2.6 Teknik Array

Antena mikrostrip memiliki beberapa kelebihan seperti memiliki bentuk

yang sederhana, efisien, ekonomis, dan mudah pembuatannya. Namun demikian

antena mikrostrip ini juga memiliki kelemahan yang sangat mendasar, yaitu

bandwidth yang sempit, keterbatasan gain, dan daya yang rendah. Hal ini dapat

diatasi dengan menambah patch secara array.

Antena mikrostrip array merupakan gabungan dari beberapa elemen

peradiasi yang membentuk suatu jaringan. Antena mikrostrip array dapat

berbentuk seri, paralel, atau gabungan keduanya. Dalam antena mikrostrip patch,

yang disusun secara array adalah bagian patch. εedan total dari antena array

ditentukan oleh penjumlahan vektor dari medan yang diradiasikan oleh elemen

tunggal. Untuk membentuk pola yang memiliki keterarahan tertentu, diperlukan

medan dari setiap elemen array berinterferensi secara konstruktif pada arah yang

diinginkan dan berinterferensi secara destruktif pada arah lain.

Ada beberapa macam konfigurasi antena array, diantaranya linear, planar,

dan circular. εasing masing konfigurasi memiliki keuntungan, misalnya linear

array memiliki kelebihan dalam perhitungan yang tidak terlalu rumit, sedangkan

planar array memiliki kelebihan dalam pengaturan dan pengendalian arah pola

radiasi.

Antena mikrostrip bentuk array memiliki beberapa kelebihan dibanding

dengan antena mikrostrip konvensional. Kelebihannya yaitu memiliki bandwidth

dan gain yang lebih besar. Disamping memiliki kelebihan, antena jenis ini juga

memiliki kelemahan, yaitu membutuhkan suatu jalur transmisi / pencatu antara

(21)

Pada antena array terdapat Array Factor (AF) yang merupakan pengali

dari medan elektrik dari elemen tunggal. Array Factor inilah yang menentukan

bagaimana pola radiasi dan seberapa besar tingkat daya yang diradiasikan oleh

antena tersebut. Gambar 2.11 menunjukkan antena mikrostrip dengan teknik

array.

Teknik planar

Teknik linear

Teknik circular

Gambar 2.11 Antena mikrostrip dengan teknik array

2.7 Teknik Pencatuan

Pada dasarnya saluran pencatu untuk antena mikrostrip dapat dibagi

menjadi 2, yaitu pencatuan secara langsung (direct coupling) dan pencatuan

secara tidak langsung (electromagnetic coupling). Pada awalnya pencatuan secara

langsung banyak digunakan karena mempunyai kelebihan, yaitu sangat sederhana

dalam pencatuan. Tetapi disamping kelebihan tersebut ada beberapa kekurangan

yang terdapat pada pencatuan ini, seperti sangat sulit jika antena mikrostrip akan

disusun secara array dan antena mikrostrip akan menghasilkan pita frekuensi atau

bandwidth yang sempit sekitar 2%-η% [η][θ].

Dengan kekurangan ini maka dalam perkembangan selanjutnya

(22)

coupling. Keuntungan dari teknik pencatuan ini adalah dapat memperlebar

bandwidth dan dapat mengurangi proses penyolderan[η].

Dengan teknik pencatuan secara tidak langsung (electromagnetic

coupling) tidak ada kontak langsung antara saluran transmisi dengan elemen

peradiasinya. Ada dua teknik teknik pengkopelan yang biasanya digunakan pada

pencatuan ini, yaitu proximity coupling yang diperkenalkan oleh Oltman dan

Huebner pada tahun 1λ81 dan aperture coupling yang diperkenalkan oleh Pozar,

Grunoa dan Wolf pada tahun 1λ8θ[η].

Untuk rancang bangun antena mikrostrip ini digunakan teknik pencatuan

proximity coupling. Pada teknik pencatuan ini saluran transmisi (feed line)

diletakan pada posisi yang lebih rendah dari patch, lebih tepatnya dibawah patch,

mekanisme penggadengan yang akan timbul akan, terlihat seperti pada Gambar

2.12. Pendekatan ini digunakan dua buah substrate, dimana patch pada substrate

bagian atas dengan bidang pentanahannya dihilangkan seluruhnya dan substrate

yang berada pada bagian bawah merupakan saluran transmisinya(feed line)[η].

(23)

2.8 Impedance εatching

Impedance matching merupakan cara atau teknik yang dipakai untuk

menyesuaikan dua impedansi yang tidak sama, yaitu impedansi karakteristik

saluran (Zo) dan impedansi beban . Beban dapat berupa antena atau rangkaian

lain yang mempunyai impedansi ekivalen. Impedance matching mempunyai

peranan yang sangat penting untuk memaksimalkan transfer daya dari sumber

sinyal ke beban. Kondisi yang sesuai (match) antara impedansi karakteristik

saluran dengan beban akan menghasilkan transfer daya yang maksimal, karena

redaman yang disebabkan daya pantul akan diminimalkan. Pada prinsipnya, untuk

menyesuaikan impedansi saluran dengan impedansi beban dilakukan dengan

menyisipkan suatu “transformator impedansi” yang berfungsi mengubah

impedansi beban sama dengan impedansi karakteristik saluran. Ada beberapa

bentuk atau model teknik penyesuaian impedansi ini, diantaranya adalah,

transformator /4 , single stub tuner, double stub tuner, dan lumped circuit[3].

Transformator /4 adalah suatu teknik impedance matching dengan cara

memberikan saluran transmisi dengan impedansi ZT di antara dua saluran

transmisi yang tidak match. Panjang saluran transformator ini /4 adalah sebesar

l=1/4 g dimana g merupakan panjang gelombang pada bahan dielektrik yang

besarnya dapat dihitung dengan Persamaan 2.30[3].

� = �0

√� (2.30)

dimana 0 adalah panjang gelombang pada ruang bebas. Nilai impedansi dapat

dihitung dengan menggunakan Persamaan 2.31[3].

(24)

2.9 Power Divider

Salah satu teknik yang dapat mendukung impedance matching pada

saluran transmisi khususnya untuk antena mikrostrip array adalah power divider

(combiner). Dalam hal ini, metoda Wilkinson merupakan teknik yang umum

digunakan. Gambar 2.13 memperlihatkan power divider metoda Wilkinson [3].

Gambar 2.13 N-way wilkinson combiner

Pada metoda Wilkinson, nilai impedansi Z diberikan dengan Persamaan 2.32 berikut [3].

= √�

(2.32)

dimana N adalah jumlah titik pencabangan.

2.10 T-Junction 50 Ohm

T-junction merupakan sebuah teknik power divider yang umum digunakan

pada konfigurasi antena array. Terdapat dua jenis T-junction η0 Ohm yang dapat

digunakan sebagai power divider seperti ditunjukkan pada Gambar 2.14 [3].

(25)

2.11 Wireless δocal Area Network (WLAN)

Wireless Local Area Network (WδAN) merupakan salah satu aplikasi

pengembangan dari wireless yang digunakan untuk komunikasi data. Sesuai

dengan namanya, wireless yang artinya tanpa kabel, WδAN adalah jaringan lokal

yang meliputi daerah satu gedung, satu kantor, satu wilayah, dan sebagainya, yang

tidak menggunakan kabel.

Sistem koneksi WδAN adalah dengan menggunakan gelombang

elektromagnetik untuk mengirim dan menerima data lewat media udara. Dengan

komunikasi jaringan yang menggunakan media tanpa kabel, maka diharapkan

WδAN dapat meminimalisasikan kebutuhan untuk komunikasi menggunakan

kabel, walaupun penggunaan kabel masih tetap ada dalam mendukung aplikasi

WδAN.

Penggunaan WδAN tidak akan mengurangi keuntungan yang telah

diperoleh dari aplikasi yang lebih tradisional yaitu δAN dengan menggunakan

kabel. Hanya saja pada WδAN ini, cara melihat suatu jaringan δAN harus

didefinisikan kembali. Konektivitas antar para pengguna tidak lagi mempengaruhi

(26)

Dengan adanya WδAN ini, maka biaya pengeluaran yang digunakan untuk

membuat suatu infrastruktur jaringan dapat ditekan menjadi lebih rendah dan

mendukung suatu aplikasi jaringan mobile yang menawarkan berbagai

keuntungan dalam hal efisiensi proses, akurasi, dan biaya pengeluaran[2].

2.11.1 Topologi Jaringan WLAN

Topologi adalah istilah yang digunakan untuk menguraikan cara

bagaimana komputer terhubung dalam suatu jaringan. Topologi ini biasanya

dibedakan dari dua sisi, yaitu topologi fisik dan topologi logika. Topologi fisik

menguraikan layout perangkat keras jaringan sedangkan topologi logika

menguraikan perilaku komputer jaringan dari sudut pandang operator. Ada tiga

jenis topologi yang biasa digunakan pada WδAN yaitu bus, cincin (ring), bintang

(star), dan pohon (tree)[2].

2.11.2 Standar WLAN 802.11

Seiring dengan perkembangan yang semakin pesat, beberapa pabrikan RF

wireless mempunyai metode berbeda dalam mengembangkan frekuensi, skema

encoding, jenis antena, dan protokol jaringan wireless. Banyaknya variasi jenis

tentu saja tidak menguntungkan bagi para pengguna. Untuk itu pada jaringan

wireless ditetapkan standarisasi peralatan wireless yang disebut standarisasi IEEE

802.11. Dengan berkembangnya waktu, implementasi dari standar ini semakin

populer dan meluas. Penambahan ekstensi di belakang 802.11 dipergunakan untuk

mengenali beberapa perbaikan dan tambahan fitur dari standar yang telah

ditentukan oleh 802.11. Dari sekian banyak standar, ada empat jenis standar yang

sering digunakan dan paling dikenal yaitu standar awal 802.11, 802.11a, 802.11b,

(27)

Tabel 2.1 Standar – standar WδAN 802.11[8]

802.11 Standar dasar WδAN yang mendukung transmisi data 1 εbps

hingga 2 εbps

802.11a Standar High Speed WδAN untuk η GHz band yang mendukung

hingga η4 εbps

802.11b Standar WδAN untuk 2,4 GHz band yang mendukung hingga 11

εbps atau disebut Wi-Fi

802.11e Perbaikan dari QoS (Quality of Service) pada semua interface

radio IEEE WδAN

802.11f

εendefinisikan komunikasi inter-access point untuk

memfasilitasi beberapa vendor yang mendistribusikan WδAN

802.11g εenetapkan teknik modulasi tambahan untuk 2,4 GHz band,

yang dimasukkan untuk menyediakan kecepatan hingga η4 εbps

802.11h εendefinisikan pengaturan spektrum η GHz band yang

digunakan di Eropa dan Asia Pasifik

802.11i

εenyediakan keamanan yang lebih baik. Penentuan alamat dimana terdapat kelemahan keamanan pada protokol Autentifikasi dan Enkripsi

802.11j Penambahan pengalamatan pada kanal 4,λ GHz hingga η GHz

untuk standar 802.11a di Jepang

2.11.3 Standar Awal 802.11

Standar ini merupakan standar awal untuk WδAN yang diperkenalkan

pada tahun 1λλ7 oleh IEEE. Standar ini beroperasi pada layer fisik yang

menggunakan teknologi penyebaran spektrum Frequency Hopping Spread

Spectrum (FHSS) dan Direct Sequence Spread Spectrum (DSSS) yang beroperasi

pada pita 2,4 GHz dan data rate hingga 2 εbps. Karena versi ini hanya

mempunyai data rate maksimum 2 εbps, versi ini tidak banyal dipergunakan

pada WδAN indoor [2].

(28)

εbps hingga 2 εbps. 802.11a merupakan standar High Speed WδAN untuk η

GHz band yang mendukung hingga η4 εbps. 802.11b merupakan standar WδAN

untuk 2,4 GHz band yang mendukung hingga 11 εbps atau disebut Wi-Fi.

802.11e merupakan perbaikan dari QoS (Quality of Service) pada semua interface

radio IEEE WδAN. 802.11f mendefinisikan komunikasi inter-access point untuk

memfasilitasi beberapa vendor yang mendistribusikan WδAN. 802.11g

menetapkan teknik modulasi tambahan untuk 2,4 GHz band, yang dimaksudkan

untuk menyediakan kecepatan hingga η4 εbps. 802.11h mendefinisikan

pengaturan spektrum η GHz band yang digunakan di Eropa dan Asia Pasifik.

802.11i menyediakan keamanan yang lebih baik. Penentuan alamat dimana

terdapat kelemahan keamanan pada protokol autentifikasi dan enkripsi. 802.11j

merupakan penambahan pengalamatan pada channel 4,λ GHz hingga η GHz

untuk standar 802.11a di Jepang[2].

2.11.4 Standar 802.11a

Pada tahun 1λλλ, IEEE mengeluarkan standar 802.11a yang beroperasi

pada pita η GHz. Standar ini menggunakan skema modulasi yang disebut

Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDε) dengan kecepatan

transmisi data mencapai η4 εbps. Keuntungan utama dari standar ini adalah

kapasitasnya yang cukup tinggi yang menjadikan standar ini sebagai pilihan yang

tepat untuk mendukung aplikasi yang membutuhkan performa tinggi, seperti

streaming video. Kekurangan dari standar ini adalah terbatasnya cakupan area

pancarnya karena menggunakan pita frekuensi η GHz. Pita ini hanya dapat

mencakup area tidak lebih dari η0 meter pada berbagai fasilitas. Akibatnya

(29)

2.11.5 Standar 802.11b

Pada tahun yang sama ketika IEEE mengeluarkan standar 802.11a, IEEE

juga mengeluarkan standar 802.11b, tepatnya pada bulan Juli 1λλλ. Standar ini

beroperasi pada frekuensi radio dengan bandwidth λ7 εHz (frekuensi 2,4 GHz

-2,4λ7 GHz). Standar ini menggunakan metode modulasi DSSS dengan kecepatan

transmisi datanya mencapai 11 εbps. Keuntungan utama dari standar 802.11b

adalah range yang relatif panjang hingga 100 meter pada fasilitas di dalam

gedung. Range ini sangat efektif dipergunakan untuk mengembangkan δAN

secara wireless dibandingkan dengan standar sebelumnya[2].

Kerugian dari standar ini adalah terbatasnya penggunaan kanal pada pita

frekuensi 2,4 GHz. Standar ini hanya menggunakan tiga buah kanal bila

dibandingkan dengan standar 802.11 yang menggunakan 11 kanal untuk

melakukan konfigurasi AP. Pembatasan ini membuat dukungan standar 802.11b

terhadap performa aplikasi menengah seperti e-mail atau web surfing menjadi

lebih baik. Kerugian lain dari standar ini adalah terdapatnya kemungkinan

interferensi RF dengan peralatan radio yang lain yang dapat mengurangi performa

dari standar[2].

2.11.6 Standar 802.11g

Standar 802.11g dikeluarkan oleh IEEE pada bulan Juni 2003. Standar ini

beroperasi pada frekuensi yang sama seperti pada standar 802.11b yaitu pada pita

2,4 GHz hingga 2,4λ7 GHz. Tetapi standar ini menggunakan teknik modulasi

OFDε yang digunakan pada standar 802.11a. Kombinasi dari fitur ini

menghasilkan infrastruktur yang lebih cepat, lebih murah, serta koneksi yang

lebih luas[2].

(30)

standar 802.11b, dimana kita hanya perlu meng-upgrade AP pada jaringan

802.11b ke standar 802.11g. Tetapi peralatan pada standar 802.11b tidak

memahami transmisi pada peralatan 802.11g karena perbedaan teknik modulasi

pada kedua standar. Sehingga saat peralatan jaringan 802.11b digunakan pada

lingkungan standar 802.11g terdapat berbagai keterbatasan. Kerugian lainnya dari

standar ini adalah adanya interferensi RF karena standar ini menggunakan

frekuensi 2,4 GHz yang sarat dengan interferensi stasiun yang dapat menyebabkan

seluruh jaringan terganggu. Hal ini dapat diatasi dengan menggunakan cincin

(ring) ganda dengan salah satu cincin back-up seperti yang dipakai pada jaringan

ring berteknologi FDDI[2].

2.11.7 Teknik Transmisi WLAN

WδAN umumnya dikategorikan menurut teknik – teknik transmisi yang

digunakan. Produk δAN yang ada pada saat ini memiliki teknik transmisi yang

termasuk ke dalam salah satu kategori berikut ini[2].

2.11.7.1 LAN Infrared (IR)

δAN infrared menggunakan sinyal infrared untuk mengirimkan data.

Teknologi ini sama seperti yang digunakan pada produk remote control untuk

televisi dan VCR. δAN infrared dapat diatur menggunakan konfigurasi point-to

-point. Keuntungan δAN infrared adalah mampu membawa bandwidth yang

tinggi. Akan tetapi kelemahannya ialah tidak dapat melewati benda padat[2].

2.11.7.2 LAN Spread Spectrum

Spread spectrum adalah teknik transmisi yang paling sering digunakan

untuk teknologi WδAN. Perkembangan spread spectrum diawali dari tipe pertama

yaitu frequency hopping spread spectrum (FHSS), dimana lewat teknik ini paket

(31)

beda. Satu pecahan bersisian dengan lainnya, sehingga seluruh data dikirimkan

dan diterima oleh komputer yang dituju. Kecepatan sinyal frekuensi ini sangat

tinggi. Dengan pemecahan paket data, sistem ini memberikan keamanan yang

dibutuhkan dalam satu jaringan.

Tipe selanjutnya dari spread spectrum disebut direct sequence spread

spectrum (DSSS). Sebuah metode dimana sebuah frekuensi radio dibagi menjadi

tiga bagian yang sama dan menyebarkan seluruh paket melalui salah satu bagian

frekuensi ini. εetode ini paling banyak digunakan.

Frequency hopping spread spectrum (FHSS) menggunakan daya yang

lebih rendah daripada direct sequence spread spectrum (DSSS) dan biayanya pun

lebih murah[2]

2.11.7.3 Wireless Channel

Jaringan wireless menggunakan konsep yang sama dengan stasiun radio,

dimana saat ini terdapat dua alokasi frekuensi yang digunakan yaitu 2,4 GHz dan

η GHz yang bisa dianalogikan sebagai frekuensi radio Aε dan Fε. Frekuensi 2,4

GHz yang digunakan oleh 802.11b/g juga dibagi menjadi channelchannel

seperti pembagian frekuensi untuk stasiun radio[2].

Organisasi internasional ITU (International Telecomunication Union) yang

bermarkas di Genewa membaginya menjadi 14 channel namun setiap negara

mempunyai kebijakan tertentu terhadap channel ini. Amerika hanya mengijinkan

penggunakan channel 1-11, Eropa hanya menggunakan 1-13, sedangkan di Jepang

diperbolehkan menggunakan semua channel yang tersedia yaitu 1-14. Frekuensi

(32)

Tabel 2.2 WiFi Channel[2]

2.12 Ansoft High Frequency Structure Simulator v10

Banyak perangkat lunak (Software) simulasi yang digunakan dalam

menganalisis karakteristik antena mikrostrip. Salah satunya adalah Ansoft High

Frequency Structure Simulator v10(HFSS). Dalam Tugas Akhir penulis

menggunakan Ansoft HFSS v10 untuk menganalisis karakteristik antena

mikrostrip yang penulis buat dalam tugas akhir ini.

Ansoft HFSS v10 juga merupakan dasar dari perancangan desain yang

menyarankan pemakai untuk mendesain model dan mensimulasikan secara

analog, RF, aplikasi mixed-signal, membentuk papan sirkuit, dan

memperformasikan sinyak tersebut. Dalam software ini terbentuk-bentuk

skematik dengan berbagai macam layout, dan mempunyai bermacam bentuk

Gambar

Gambar 2.1 Contoh berbagai macam bentuk antena
Gambar 2.2  Struktur antena mikrostrip
Gambar 2.3 Bentuk patch antena mikrostrip
Gambar 2.4 Distribusi muatan dan densitas arus yang terbentuk pada                        patch mikrostrip [θ]
+7

Referensi

Dokumen terkait

Metode penelitian dengan eksperimen. Variabel penelitian ini yaitu metode latihan el rondo dan circle passing drill sebagai variabel bebas dan ketepatan passing

 Getting a common reference system to assess the deviation of the photogrammetric recovery regarding to the scanned recovery: by measuring with the laser total station not only GRP’s

The International Archives of the Photogrammetry, Remote Sensing and Spatial Information Sciences, Volume XLI-B5, 2016 XXIII ISPRS Congress, 12–19 July 2016, Prague, Czech

[r]

The International Archives of the Photogrammetry, Remote Sensing and Spatial Information Sciences, Volume XLI-B5, 2016 XXIII ISPRS Congress, 12–19 July 2016, Prague, Czech

PLN pusat, yang nantinya diharapkan dapat memberikan kemudahan komunikasi antara user dengan teknisi. Dalam pembuatan aplikasi berbasis web ini akan digunakan bahasa

Haryanto (Pengantar Pendidikan Luar Biasa Dan Asesmen Anak Berkebutuhan Khusus) menyatakan ABK adalah anak yang dalam proses tumbuh kembang secara signifikan mengalami kelainan

Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan model PBL dapat meningkat kan hasil belajar pada mata pelajaran Matematika kelas SD Negeri Gendongan 02