• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "II. TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
32
0
0

Teks penuh

(1)

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Risiko dan Ketidakpastian

Hampir setiap hari petani-petani dihadapkan pada kondisi usahatani dan hasil produksi yang tidak pasti. Kejadian ini memiliki dampak yang signifikan terhadap usahatani. Sebagai contoh : kondisi kurang hujan atau hujan terlalu besar, kondisi tanaman-tanaman terserang penyakit dan hama yang menyebabkan kerusakan, sehingga secara alami pertanian seringkali dianggap sebagai bagian dari alam. Kondisi pasar yang dihadapi oleh petani juga sering mengandung ketidakpastian. Ketika harga pasar tinggi petani tidak memiliki produk untuk dijual, sebaliknya ketika petani berada dalam fase panen mereka menghadapi harga pasar yang rendah. Harga dari komoditas pertanian sebagain besar tergantung pada kekuatan lain (di luar kontrol petani) yang tidak bisa dikendalikan oleh petani, sehingga pertanian dicirikan dengan kondisi yang penuh risiko dan ketidakpastian (Debertin 1986).

Risiko adalah suatu kejadian dimana hasil dari kejadian dan peluang terjadinya bisa diketahui (Debertin 1986). Menurut Ellis (1988) peluang berarti frekwensi yang diharapkan terjadi dari sebuah kejadian (jumlah seluruh kemungkinannya adalah satu), dengan demikian risiko merupakan suatu hal yang obyektif dengan asumsi informasi yang tersedia cukup. Dalam prakteknya informasi tidak semata-mata menunjuk pada pengetahuan atau keserbatahuan seseorang atas kejadian tertentu, melainkan lebih pada seberapa besar kepercayaan orang tersebut pada setiap peluang yang mungkin terjadi, hingga batas ini risiko bergeser dari sudut pandang obyektif menjadi subyektif. Beberapa

(2)

15

proposisi tentang risiko yaitu : (1) tidak terpenuhinya maksimisasi profit, (2) menyebabkan keengganan dan kelambanan petani untuk mengadopsi inovasi, (3) menjadi alasan bagi petani untuk melakukan tumpangsari yang terbukti mampu menekan efek ketidakpastian, (4) fenomena risiko lebih terasa bagi petani miskin dibandingkan dengan keluarga petani yang memiliki kesempatan melakukan off farm (setiap pekerjaan selain usahatani milik sendiri yang menghasilkan pendapatan termasuk bekerja sebagai buruh tani dan kegiatan non pertanian), dan (5) ketidakpastian ini direduksi dengan meningkatkan integrasi pasar berkenaan dengan informasi, komunikasi, dan outlet pasar.

Ketidakpastian merupakan suatu kejadian dimana hasil dan peluangnya tidak bisa ditentukan. Jadi ketidakpastian tidak berkaitan dengan peluang-peluang. Ketidakpastian merupakan diskripsi karakter dan lingkungan ekonomi yang dihadapi oleh petani, dimana lingkungan tersebut mengandung beragam ketidakpastian yang direspon oleh petani berdasarkan kepercayaan subyektif mereka (Ellis 1988).

Keputusan untuk mengalokasikan input dalam kegiatan usahatani sangat dipengaruhi oleh perilaku petani terhadap risiko yang harus dihadapi. Menurut Ellis (1988) perilaku risiko petani dikelompokkan menjadi tiga yaitu : (1) petani yang menghindari risiko (risk averse), (2) petani yang netral terhadap risiko (risk neutral), dan (3) petani yang menyukai risiko (risk taker). Satu dari beberapa persoalan yang berkaitan dengan risiko dan ketidakpastian adalah bahwa individu-individu termasuk petani sangat kelihatan tingkat kemauannya dalam mengambil risiko atau ketidakpastian. Secara normal tidak ada satu orangpun yang mau masuk ke lingkungan yang penuh dengan risiko tanpa mengharapkan perolehan

(3)

16

yang lebih besar dibandingkan dengan lingkungan yang tidak ada risiko atau ketidakpastiannya.

Just dan Pope (1979) menjelaskan bahwa dalam menganalisis sektor pertanian sangat penting untuk mempertimbangkan faktor risiko seperti risiko harga dan risiko produki yang terkait dengan kebijakan pemerintah untuk menerapkan inovasi baru. Sebagian besar analisis empiris terhadap produksi pertanian menggunakan fungsi produksi yang tidak memasukkan risiko kedalam fungsi tersebut, keterbatasan fungsi ini adalah dampak tambahan dari kenaikan penggunaan input akan selalu meningkatkan variabilitas output. Padahal dalam kenyataannya banyak ditemukan bahwa penambahan suatu input dapat menyebabkan penurunan variabilitas output atau sebaliknya yaitu pengurangan penggunaan suatu input akan meningkatkan variabilitas output. Konsekwensinya adalah akan diperoleh kesimpulan yang tidak benar.

Secara matematis keadaan di atas dapat dijelaskan sebagai berikut :

) 1 . 2 ...( ... ... ... ... ... ... ... ... 1 ε α e Xi A y i n i         =

=

dimana : y adalah output, Xi menunjukkan jenis input yang digunakan (Xi>0) dan ε adalah error term stokhastik dengan E(ε)=0 dan V(ε)>0.

Dampak tambahan penggunaan input terhadap variabilitas output (V) adalah :

( )

...(2.2) ) ( 1 2 2 α ε e V Xi A y V n i i       =

=

(4)

17

( )

( )

) 3 . 2 ....( ... ... ... ... ... 0 2 1 2 2 >       = ∂ ∂

= ε α α e V Xi Xi iA Xi y V n i i

Dengan mengasumsikan bahwa αi > 0 maka dampak kenaikan penggunaan input akan meningkatkan variabilitas output ketika αi > 0. Seharusnya dampak kenaikan input terhadap rata-rata output tidak digabung dengan dampak kenaikan input terhadap variabilitas output. Just dan Pope (1979) membuat model untuk mengatasi keterbatasan ini yaitu :

( )

X h1/2

( )

X ε...(2.4) f

y= +

Dengan asumsi E(ε) = 0 dan V(ε) =1 maka E(y) =f(X), dan V(y)=h(X) sehingga dampak perubahan input terhadap rata-rata output dan variabilitas output dapat dijelaskan secara berbeda. Dari persamaan 2.4 dapat dijelaskan dengan mudah, dampak perubahan input terhadap variabilitas ouput dan terhadap output rata-rata yaitu :

( )

...(2.5) ) ( X hi Xi y V = ∂ ∂

( )

1/2

( ) ( )

...(2.6) ' X h 1/2 X hi X ε f Xi y = + − ∂ ∂

Selanjutnya Kumbhakar (2002) menjelaskan bahwa Just dan Pope menitik beratkan pada risiko produksi, yang diukur dari varian output, dan menyarankan menggunakan spesifikasi fungsi produksi yang memenuhi beberapa properties yang dibutuhkan. Fokus utama dari spesifikasi Just dan Pope (JP) adalah alokasi input dapat menyebabkan kenaikan risiko atau penurunan risiko. Dari beberapa poin analisis kebijakan, informasi bahwa input tertentu itu dapat meningkatkan

(5)

18

atau menurunkan risiko merupakan hal yang cukup bermanfaat terutama dalam manajemen risiko. Tetapi kerangka pemikiran Just dan Pope (1979) menganggap bahwa error term dalam fungsi produksi adalah risiko, padahal menurut Aigner et al. (1977) error term itu dikategorikan menjadi dua yaitu : error yang berasal dari risiko dan error yang bersumber dari inefisiensi. Di samping itu model JP juga tidak memperhitungkan perilaku produsen dalam menghadapi risiko. Padahal perilaku produsen dalam menghadapi risiko sangat berpengaruh dalam membuat keputusan alokasi input dan menambah penawaran outputnya, karena dalam kenyataannya input-input maupun output-output adalah variabel pilihan sehingga sangat penting untuk membuat sebuah model yang tidak hanya mempertimbangkan risiko produksi tetapi juga mempertimbangkan perilaku produsen dan efisiensi teknis dalam menghadapi risiko. Kumbhakar (2002) memperdalam model yang telah dibuat oleh Just dan Pope, dan secara umum model yang dibuat diformulasikan sebagai berikut :

) 7 . 2 ...( ... ... ... ... ... ) , ( ) , ( ) , (X z g X z q X z u f y= + ε −

dimana : y adalah output rata-rata, x menunjukkan jenis input yang digunakan, z adalah input quasi fixed, f(X;α) menjelaskan fungsi output rata-rata, g(X;β) menunjukkan fungsi risiko produksi dan q(X;γ) adalah fungsi inefisiensi teknis, ε

(error term) menunjukkan ketidakpastian produksi yang diasumsikan identically and independently distributed (0,1)2

2.2. Konsep Efisiensi Produksi

dan u menunjukkan inefisiensi teknis yang lebih besar dari nol (u >0).

Kemampuan sektor pertanian untuk memberikan kontribusi secara langsung terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rumahtangga tani

(6)

19

tergantung pada tingkat pendapatan usahatani dan surplus yang dihasilkan oleh sektor itu sendiri. Dengan demikian, tingkat pendapatan usahatani, di samping merupakan penentu utama kesejahteraan rumah tangga petani, juga muncul sebagai salah satu faktor penting yang mengkondisikan pertumbuhan ekonomi. Tingkat pendapatan usahatani ini sangat ditentukan oleh efisiensi petani untuk mengalokasikan sumberdaya yang dimilikinya kedalam berbagai alternatif aktivitas produksi. Jika petani tidak menggunakan sumberdaya tersebut secara efisien, maka akan terdapat potensi yang belum tereksploitasi untuk meningkatkan pendapatan usahatani dan menciptakan surplus. Sebaliknya jika petani bertindak sangat efisien dalam mengalokasikan sumberdayanya, maka tambahan kontribusi sektor pertanian hanya dapat diperoleh melalui usaha pengembangan berorientasi pertumbuhan (growth-oriented development) dari sektor bersangkutan. Dengan demikian, identifikasi efisiensi penggunaan sumberdaya merupakan isu penting yang menentukan eksistensi berbagai peluang di sektor pertanian berkaitan dengan potensi kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kesejahteraan rumah tangga tani (Weersink et al., 1990).

Dalam teori dasar mikroekonomi, teknologi produksi dinyatakan sebagai fungsi produksi yang mendefinisikan pencapaian output maksimal dari berbagai kombinasi input. Dengan demikian, fungsi transformasi tersebut menggambarkan suatu batas atau frontier produksi. Jika frontier produksi diketahui, maka inefisiensi teknis dari suatu usahatani dapat diestimasi melalui perbandingan posisi usahatani tersebut, relatif terhadap frontiernya (Lass dan Gempesaw, 1992). Menurut Adiyoga (1999), Isu inefisiensi pada dasarnya timbul dari

(7)

20

anggapan bahwa petani dan usahatani berperilaku memaksimalkan keuntungan. Inefisiensi dapat diinterpretasikan sebagai suatu titik atau tahapan dimana tujuan dari pelaku ekonomi belum secara penuh dimaksimalkan. Kemungkinan seorang pelaku tidak dapat mencapai tujuan maksimalnya adalah sesuatu yang bersifat umum. Dengan kata lain, inefisiensi sebenarnya merupakan bagian yang tidak terlepaskan dari kehidupan. Dalam mengelola usahataninya, petani mungkin saja melakukan penyimpangan-penyimpangan yang menimbulkan konsekuensi-konsekuensi. Dinamika sektor pertanian yang ditandai oleh adanya perubahan lingkungan teknis dan ekonomis secara terus menerus, akan menyulitkan petani dalam menyesuaikan keputusan-keputusan alokatifnya agar tetap respon terhadap perubahan lingkungan produksi serta tetap menjaga efisiensi alokasi penggunaan sumberdayanya.

Terdapat beberapa konsep yang dapat digunakan untuk pendekatan pengukuran efisiensi yaitu :

1. Frontir Non Parametrik Deterministik

Suatu ukuran efisiensi yang tidak mencerminkan masalah angka indeks diperkenalkan oleh Farrell (1957). Ukuran ini mencantumkan semua faktor produksi yang relevan dalam proses transformasi. Metode pendekatan tersebut menghasilkan suatu fungsi produksi frontier non-parametric deterministic.

Konsep efisiensi ini dapat dijelaskan dalam Gambar 1. Misalnya suatu usahatani menggunakan dua jenis input X1 dan X2 untuk memproduksi output tunggal Y. Dengan asumsi constant returns to scale, maka fungsi frontir dapat dicirikan oleh suatu unit isokuan yang efisien. Berdasarkan kombinasi input (X1, X2) untuk memproduksi Y, Farrell mendefinisikan efisiensi teknis sebagai rasio

(8)

21

OB/OA. Rasio ini mengukur proporsi aktual (X1,X2) yang dibutuhkan untuk memproduksi y. Sementara itu, inefisiensi teknis, 1 - OB/OA, merupakan ukuran: (1) proporsi (X1, X2) yang dapat dikurangi tanpa menurunkan output, dengan anggapan rasio input X1 , X2 tetap, (2) kemungkinan pengurangan biaya dalam memproduksi y, dengan anggapan rasio input X1, X2 tetap, dan (3) proporsi output yang dapat ditingkatkan dengan anggapan rasio input X1 , X2 tetap, karena adanya asumsi constant returns to scale.

Sumber : Coelli et al., 1998.

Gambar 1. Konsep Efisiensi Farrell

Andaikan PP' merupakan rasio harga input atau garis isobiaya, maka C adalah titik biaya minimal untuk memproduksi Y. Perlu diperhatikan bahwa biaya pada titik D sama dengan biaya pada titik C, sehingga efisiensi alokatif

dapat didefinisikan sebagai rasio OD/OB. Sedangkan inefisiensi alokatif adalah 1 - OD/OB, yang mengukur kemungkinan pengurangan biaya sebagai akibat dari

penggunaan input dalam proporsi yang tepat. Sementara itu, efisiensi total dapat didefinisikan sebagai rasio OD/OA. Dengan demikian inefisiensi total adalah

(9)

22

1 - OD/OA, yang mengukur kemungkinan penurunan biaya akibat pergerakan dari titik A (titik yang diamati) ke titik C (titik biaya minimal).

Secara umum, keunggulan pendekatan Farrell adalah tidak diperlukannya bentuk fungsional tertentu untuk menganalisis data yang tersedia. Sedangkan kelemahan pendekatan ini adalah: (1) mengandung asumsi constant returns to scale yang sangat mengikat/membatasi, sementara itu pengembangannya untuk teknologi non-constant returns to scale ternyata sangat kompleks, dan (2) pendekatan ini mengkomputasi frontir dari subset pengamatan (dari contoh), sehingga sangat rentan terhadap pengamatan ekstrim dan kesalahan pengukuran.

Alternatif pendekatan lain adalah menggunakan ukuran non parametrik yang diperkenalkan oleh Farrell (1957) dan dikenal dengan istilah DEA (data envelopment analysis). Analisis ini menggunakan metode linier programming untuk mencari frontir dari data yang tersedia. Analisis ini memasukkan multi input dan multi output, dan tidak membutuhkan bentuk fungsional dari frontir. Kelemahan dari sistem ini adalah bersifat deterministik dan mengatributkan sebuah penyimpangan atau deviasi frontier sebagai inefisiensi, perumusan seperti ini dapat menyebabkan estimator efisiensi bias.

2. Frontir Parametrik Deterministik

Menurut Daryanto (2000), pada pendekatan parametrik dibutuhkan bentuk fungsional yang akan diestimasi dengan menggunakan OLS atau MLE. Keunggulan dari pendekatan parametrik adalah : (1) sudah mempertimbangkan gangguan stokastik atau penyimpangan dari frontir yang dibagi menjadi dua yaitu penyimpangan yang disebabkan karena inefisiensi aktual atau sistemik dan penyimpangan karena inefisiensi operator, dan (2) dapat dilakukan pengujian

(10)

23

hipotesa dan tingkat inefisiensi secara statistik. Sedangkan kelemahannya adalah sulit diterapkan jika output yang dihasilkan lebih dari satu.

Kelompok frontir ini deterministik karena output dibatasi dari atas oleh fungsi produksi yang tidak stochastik. Ini berbeda dengan pendekatan non parametrik karena keberadaan teknologi dijelaskan dengan bentuk fungsional yang spesifik. Aigner dan Chu (1968) mengembangkan pendekatan ini melalui spesifikasi fungsi produksi frontir homogen Cobb-Douglas yang mensyaratkan semua observasi berada pada atau di bawah frontir. Model tersebut dapat dituliskan sebagai berikut :

Ln y = Ln f(xi

= ≥ − + = n i i i x U U a a 1 0 ln , 0 ) – U ……….(2.19)

dimana : one-sided error term akan memaksa y < f (xi ) ... , , (a0 a1 an a=

). Elemen vektor parameter diperoleh dengan menggunakan program linier atau kuadratik.

Pendekatan ini dikembangkan lebih lanjut antara lain oleh Forsund dan Hjalmarsson (1979) yang mencoba melonggarkan batasan asumsi spesifikasi Cobb-Douglas yang homogen. Keuntungan utama dari penggunaan pendekatan ini adalah kemampuannya untuk mengkarakterisasi teknologi frontir dalam bentuk matematis atau fungsional sederhana serta kemampuannya untuk mengakomodasi non-constant returns to scale. Namun demikian, dua kelemahan utamanya adalah : (1) bersifat deterministik sehingga tidak memungkinkan adanya noise dan dugaan yang dihasilkan tidak memiliki properti statistika, dan (2) hanya bisa diterapkan pada usahatani satu komoditas atau sukar diterapkan untuk usahatani yang outputnya lebih dari satu.

(11)

24

3. Frontir Statistik Deterministik

Teknik ini pada awalnya dirancang oleh Afriat (1972) dan selanjutnya dikembangkan oleh Richmond (1974) dan Greene (1980). Tidak seperti dua pendekatan sebelumnya, metode ini menggunakan teknik statistika untuk mengestimasi frontir statistik deterministik.

Sumber : Coelli et al., 1998.

Gambar 2. Kurva Fungsi Produksi Frontier Statistik Deterministik

Konsep fungsi produksi frontir statistik deterministik diilustrasikan melalui grafik fungsi produksi pada Gambar 2. Garis OF merupakan batas produksi (production frontier) yang menunjukkan output maksimal yang bisa dicapai dari satu set input yang digunakan pada tingkat teknologi yang ada pada saat tersebut. Petani hanya dapat berusaha pada garis batas produksi atau di bawah garis batas produksi. Bila petani dapat berusaha pada garis batas produksi (titik B atau C), maka secara teknis dia telah berproduksi secara efisien. Namun jika petani hanya

(12)

25

dapat berusaha di bawah garis batas produksi (titik A), maka secara teknis petani tersebut belum berproduksi secara efisien.

Model pendekatan tersebut dapat dituliskan sebagai berikut :

(

A c

)

b x

(

U c

)

yi j k j ij j − − + − =

=1 ………...…...(2.20)

yang memiliki simpangan dengan rata-rata tengah nol dan memenuhi kondisi yang diperlukan oleh OLS, yaitu konsisten. Efisiensi teknis untuk setiap observasi dapat dikomputasi secara langsung dari vektor residual, sebab U mewakili inefisiensi teknis. Cara termudah untuk mengestimasi frontir adalah dengan menggunakan corrected ordinary least squares (COLS). Pertama-tama, bentuk fungsional diestimasi dengan menggunakan OLS, kemudian konstanta dikoreksi dengan menggesernya ke atas sampai tidak ada residual yang bernilai positif dan paling sedikit ada satu residual yang bernilai nol. Namun demikian, distribusi asimtotik dari konstanta yang terkoreksi tidak diketahui, sehingga tidak memungkinkan untuk membuat pernyataan probabilistik berkenaan dengan ukuran efisiensi meskipun secara asimtotik.

Cara lain yang dapat digunakan untuk mengestimasi frontir adalah dengan teknik maximum likelihood. Dua kesulitan dalam penggunaan teknik ini adalah : (1) parameter yang diestimasi tergantung pada distribusi tertentu yang diasumsikan untuk simpangan, dan (2) tidak sembarang distribusi untuk simpangan tersebut dapat digunakan. Green (1980) menemukan kondisi kecukupan untuk distribusi u dalam pendugaan maximum likelihood dan menunjukkan bahwa gamma density dapat memenuhi kondisi yang diperlukan. Namun demikian, pendekatan ini juga agak janggal karena secara implisit

(13)

26

menunjukkan bahwa distribusi dari inefisiensi teknis ditentukan semata-mata oleh kecocokan statistik (pemenuhan persyaratan statistik).

Keuntungan dari penggunaan pendekatan frontir statistik deterministik adalah hasil analisis dapat diuji kelayakan statistiknya. Sementara itu, kelemahan pendekatan ini terletak pada diperlukannya bentuk fungsional tertentu dan semua penyimpangan dari frontir dikategorikan sebagai inefisiensi teknis.

4. Frontir statistik stokastik.

Pendekatan frontir deterministik yang telah diuraikan terdahulu, ternyata tidak mempertimbangkan kemungkinan-kemungkinan bahwa keragaan usahatani dapat juga dipengaruhi oleh faktor-faktor yang di luar kontrol pengelola. Dalam model frontir stokastik, output diasumsikan dibatasi (bounded) dari atas oleh suatu fungsi produksi stokastik. Pada kasus Cobb-Douglas, model tersebut dapat dituliskan sebagai berikut

(

vi ui

)

x a A yi j ij j + − + =

………..………..(2.21)

dimana : simpangan (vi - ui) terdiri dari dua bagian, yaitu: (1) komponen error simetrik yang memungkinkan keragaman acak dari frontir antar pengamatan dan menangkap pengaruh kesalahan pengukuran, kejutan acak, dan (2) komponen error satu-sisi (one-sided) dari simpangan yang menangkap pengaruh inefisiensi. Model ini diperkenalkan oleh Aigner et al. (1977) , Meeusen dan Broeck (1977), kemudian dikembangkan antara lain oleh Schmidt dan Lovell (1980) dan Jondrow et al. (1982).

Pada setiap model frontir, simpangan yang mewakili gangguan statistik (statistical noise) diasumsikan independen dan identik dengan distribusi normal. Distribusi yang paling sering diasumsikan adalah setengah-normal (half-normal).

(14)

27

Jika dua simpangan diasumsikan independen satu sama lain serta independen terhadap input, dan dipasang asumsi distribusi spesifik (normal dan setengah-normal secara berturut-turut), maka fungsi likelihood dapat didefinisikan dan penduga maximum likelihood (maximum likelihood estimators) dapat dihitung. Cara lain yang dapat digunakan adalah melalui estimasi model dengan OLS dan mengkoreksi konstanta dengan menambahkan suatu penduga konsisten dari E (ui) berdasarkan momen yang lebih tinggi (dalam kasus setengah-normal, digunakan momen kedua dan ketiga) dari residual kuadratik terkecil. Setelah model diestimasi, nilai-nilai (vi-ui) juga dapat diperoleh. Pada pengukuran efisiensi, penduga untuk uj juga diperlukan. Sesuai saran Jondrow et al.(1982), kemungkinan yang paling relevan adalah E(ui|vi-uj) yang dievaluasi berdasarkan nilai-nilai (vi-ui) dan parameter-parameternya. Dalam makalah Jondrow et al. juga dikemukakan formula E(u|v -u) untuk kasus normal dan setengah normal. Struktur dasar model frontier statistik stokastik pada persamaan (2.21) dijabarkan dalam Gambar 3.

Keunggulan pendekatan frontier stokastik adalah dilibatkannya disturbance term yang mewakili gangguan, kesalahan pengukuran dan kejutan eksogen yang berada di luar kontrol unit produksi. Sementara itu, beberapa kelemahan dari pendekatan ini adalah : (1) teknologi yang dianalisis harus digambarkan oleh struktur yang cukup rumit/besar, (2) distribusi dari simpangan satu-sisi harus dispesifikasi sebelum mengestimasi model, (3) struktur tambahan harus dikenakan terhadap distribusi inefisiensi teknis, dan (4) sulit diterapkan untuk usahatani yang memiliki lebih dari satu output.

(15)

28

Sumber : Coelli et al., 1998.

Gambar 3. Fungsi Produksi Frontier Statistik Stokastik

Komponen yang pasti dari model batas yaitu f(xi;β) digambarkan dengan

asumsi memiliki karakteristik skala pengembalian yang menurun. Aktivitas produksi dari dua petani diwakili dengan simbol i dan j. Petani i menggunakan input sebesar xi dan memperoleh output sebesar yi. Output batas petani i adalah

yi*, melampaui nilai bagian yang pasti dari fungsi produksi yaitu f(xi;β). Hal ini bisa terjadi karena aktivitas produksinya dipengaruhi oleh kondisi yang menguntungkan yaitu variabel vi bernilai positif. Sementara itu petani j menggunakan input sebesar xj dan memperoleh hasil sebesar yj, akan tetapi hasil batas petani j adalah yj* yang berada di bawah bagian yang pasti dari fungsi produksi. Kondisi ini bisa terjadi karena aktivitas produksinya dipengaruhi oleh kondisi yang tidak menguntungkan yaitu vi bernilai negatif. Hasil batas yang tidak dapat diobservasi ini berada disekitar bagian yang pasti dari fungsi produksi yaitu

(16)

29

f(xi;β). Pada kedua kasus tersebut, hasil produksi petani berada di bawah fungsi produksi f(xi

2.3. Konsep Kemitraan ;β).

Berdasarkan Undang-Undang (UU) No. 9 tahun 1995 kemitraan usaha adalah kerjasama antara usaha kecil dengan usaha menengah atau usaha besar yang disertai pembinaan dan pengembangan yang berkelanjutan oleh usaha menengah atau usaha besar dengan memperhatikan prinsip saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan. Selanjutnya Suwandi (1995) menyatakan bahwa kemitraan usaha agribisnis adalah hubungan bisnis usaha pertanian yang melibatkan satu atau sekelompok orang atau badan hukum dengan satu atau kelompok orang atau badan hukum dimana masing-masing pihak memperoleh penghasilan dari usaha bisnis yang sama atau saling berkaitan dengan tujuan menjamin terciptanya keseimbangan, keselarasan, dan keterpaduan yang dilandasi rasa saling menguntungkan, memerlukan, dan saling melaksanakan etika bisnis. Dengan demikian tujuan kemitraan agribisnis adalah peningkatan nilai tambah ekonomis yang merupakan sumber pertumbuhan ekonomi maupun sosial yang merupakan alat pemerataan kesempatan kerja dan peluang usaha (Daryanto dan Saptana, 2009).

Menurut Sinaga (1987) lahirnya konsep kemitraan di Indonesia didasarkan atas dua alasan yaitu : pertama, adanya perbedaaan atas penguasaan sumberdaya antara masyarakat industri di perkotaan dengan masyarakat pertanian di pedesaan. Orang kota memiliki modal dan pengetahuan, namun kurang dalam sumberdaya lahan dan tenaga kerja, sedangkan di sisi lain orang desa dikategorikan mempunyai lahan dan tenaga kerja namun kurang modal dan kemampuan. Kedua,

(17)

30

adanya perbedaan sifat hubungan biaya persatuan output dengan skala usaha pada masing-masing subsistem dari sistem agribisnis. Di dalam subsistem usahatani, skala kecil lebih efisien atau sama efisiennya dengan skala usaha besar, karena sifat hubungan biaya persatuan output dengan skala usaha bersifat tetap (constant cost to scale). Dalam subsistem pengolahan, pemasaran, dan pengadaan saprodi, skala usaha besar lebih efisien dibandingkan dengan skala kecil, karena sifat hubungan biaya per satuan output dengan skala usaha bersifat menurun (decreasing cost to scale). Dari uraian tersebut memberikan gambaran pentingnya memadukan pertumbuhan yang tinggi pada subsistem non pertanian (penanganan pasca panen, pengolahan, dan pemasaran) dan pemerataan kesempatan kerja dan berusaha pada kegiatan budidaya pertanian.

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia No. 44 tahun 1997 tentang kemitraan, secara prinsip kemitraan usaha tetap diarahkan dapat berlangsung atas dasar norma-norma ekonomi yang berlaku dalam keterkaitan usaha yang saling memerlukan, saling memperkuat, dan saling menguntungkan. Kemudian ditindaklanjuti melalui SK Mentan No. 940/Kpts/OT. 210/10/1997 tentang pedoman usaha kemitraan pertanian, dikatakan bahwa tujuan kemitraan adalah meningkatkan pendapatan, kesinambungan usaha, meningkatkan kualitas sumberdaya petani mitra, peningkatan skala usaha, serta dalam rangka menumbuhkan dan meningkatkan kemampuan usaha kelompok mitra yang mandiri. Dalam SK Mentan tersebut juga dikemukakan tentang pola-pola kemitraan usaha yang dapat dilaksanakan, antara lain pola inti-plasma, sub-kontrak, dagang umum, keagenan, atau bentuk-bentuk lain seperti Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA).

(18)

31

2.4. Penelitian Terdahulu

2.4.1. Penelitian tentang Komoditas Tembakau

Penelitian terhadap Tembakau Besuki telah dilakukan oleh Candrawati (1994) dengan tujuan menganalisis faktor yang mempengaruhi produksi Tembakau, efisiensi usahatani, keunggulan komparatif usahatani besnota (Tembakau besuki tanam awal) dan besno (Tembakau besuki yang ditanam pada bulan Agustus), dan dayasaing finansial. Salah satu hasil analisisnya menunjukkan bahwa alokasi penggunaan input di tingkat produksi belum optimal, sehingga perlu dilakukan realokasi input untuk meningkatkan efisiensinya.

Mamat (2006), dalam disertasinya menganalisis mutu, produktivitas, keberlanjutan dan arahan pengembangan usahatani Tembakau di Kabupaten Temanggung, Jawa Tangah. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisa ditemukan beberapa hal yaitu : (1) mutu tanaman Tembakau Temanggung sangat beragam disebabkan beragamnya kemiringan areal tanam. (2) arah kemiringan lahan berpengaruh terhadap produktivitas tanaman Tembakau lahan yang miring ke timur menghasilkan produktivitas Tembakau yang tinggi dibandingkan dengan lahan yang arah kemiringannya ke timur laut dan utara, dan (3) berdasarkan metode Multi Atribut Non Parametric keberlanjutan usahatani Tembakau dimasukkan dalam kategori cukup. Sedangkan peubah yang berpengaruhi terhadap keberlanjutan usahatani Tembakau adalah : (1) aspek ekologi meliputi ketersediaan bahan organik, kemiringan, dan penutup lahan, (2) aspek ekonomi terdiri dari kontribusi terhadap PAD, ketersediaan lembaga pemasaran dan

(19)

32

kontribusi tehadap pendapatan petani, dan (3) aspek sosial yaitu mencakup intensitas penyuluhan, pelatihan, dan eksistensi kelompok tani.

Penelitian tentang pemasaran Tembakau Madura telah dilakukan oleh Isdojoso et al. (1999), dengan menggunakan metode diskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harga tembakau ditetapkan secara sepihak oleh pembeli karena standar mutu yang menilai adalah pembeli. Di Kabupaten Pamekasan terdapat dua sistem perdagangan tembakau yaitu : (1) sistem perdagangan tembakau pasaran yaitu penjualan tembakau pada waktu dan tempat yang telah ditentukan (hari pasaran), petani menjual tembakaunya di pasar tersebut, dan (2) sistem perdagangan tembakau melalui juragan (orang yang mendapat kepercayaan dari pabrik tembakau untuk membelinya) dan bandol (asisten dari juragan dalam usaha untuk mendapatkan tembakau dari petani). Sistem ini mendominasi perdagangan tembakau di Kabupaten Pamekasan. Menurut para juragan yang menjadi kepanjangan pabrik rokok di Madura, bekerjasama dengan para bandol lebih menguntungkan, karena bisa memperlancar perdagangan. Apabila harus berhubungan langsung dengan para petani, maka juragan membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menyortir tembakau, karena terlampau banyak tembakau yang tidak sesuai dengan kebutuhan.

2.4.2. Penelitian tentang Risiko

Just dan Pope (1979) telah mengkritisi fungsi produksi tradisional yang memiliki kelemahan dalam melihat pengaruh perubahan penggunaan input terhadap produk rata-rata dan variabilitas output. Berdasarkan restriksi ini Just dan Pope membuat model dari fungsi produksi yang terdiri dari dua komponen yaitu komponen pertama menjelaskan dampak input terhadap output yang

(20)

33

diharapkan dan yang kedua menjelaskan dampak input terhadap variabilitas output. Dengan menggunakan data panel mereka menunjukkan bahwa pupuk nitrogen memiliki dampak meningkatkan varian produktivitas artinya bahwa pemberian pupuk ini dapat meningkatkan risiko produksi.

Penelitian tentang perilaku petani beras dalam menghadapi risiko di daerah Jawa Barat telah dilakukan oleh Budiman (1987). Risiko secara eksplisit dicerminkan dalam keragaman produksi yang dihasilkan oleh petani. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk mengevaluasi dampak penggunaan masukan terhadap risiko produksi. Dengan menggunakan model Just dan Pope di peroleh hasil bahwa sebagian besar petani bersifat penghindar risiko (risk averter) dalam penggunaan pupuk nitrogen dan tenaga kerja manusia. Selanjutnya ditunjukkan bahwa faktor produksi benih, pupuk nitrogen, pospat, dan luas areal lahan bersifat sebagai pembangkit risiko (risk inducing) sedangkan tenaga kerja manusia bersifat sebagai pengurang risiko (risk reducing).

Model Just dan Pope juga telah digunakan oleh Eggert dan Tveteras (2004) untuk menganalisis pilihan risiko pada penggunaan Gear oleh Nelayan Komersial di Swedish. Fungsi penerimaan stokhastik diestimasi dan digunakan untuk memprediksi rata-rata dan standart deviasi dari penerimaan untuk setiap perjalanan melaut. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan data panel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar nelayan bersifat penghindar risiko, hal ini bisa dilihat dari respon nelayan terhadap rata-rata nilai output yang dihasilkan setelah sandar bersifat positif dan bersifat negatif terhadap variabilitasnya.

(21)

34

Kumbhakar (2002) telah mengembangkan model Just dan Pope dengan mengkaitkan antara risiko produksi, pilihan risiko dan efisiensi produksi. Penelitiannya menggunakan data cross section dari budidaya Salmon di Norwegia. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sebagian besar nelayan bersifat penghindar risiko. Pakan ikan memiliki potensi untuk meningkatkan risiko produksi sedangkan tenaga kerja manusia dapat menurunkan risiko produksi. Sementara itu bila dilihat dari sisi efisiensi teknis ditemukan bahwa pakan meningkatkan inefisiensi teknis sedangkan tenaga kerja menurunkan tingkat inefisiensi teknis.

Model yang dibuat oleh Kumbhakar telah digunakan oleh Bokusheva dan Hockmann (2005) untuk menganalisis dampak risiko produksi dan inefisiensi teknis dari produsen pertanian di Rusia. Hasil analisis terhadap data panel sebanyak 443 menunjukkan bahwa inefisiensi teknis menjadi penyebab variabilitas produksi pertanian di Rusia, selain itu risiko produksi juga memberikan kontribusi terhadap ketidakstabilan output pertanian di Rusia. Pada semua usahatani variabilitas output dapat dijelaskan oleh risiko produksi. Sehingga dengan mengabaikan risiko bisa menyebabkan estimasi efisiensi teknis menjadi tidak benar. Oleh karena itu risiko produksi memainkan peranan yang penting dalam pembangunan produksi pertanian. Usahatani harus mencari alternatif untuk memperbaiki respon mereka terhadap risiko produksi. Diantaranya dengan memperkenalkan teknologi produksi yang modern dan praktek-praktek yang dapat menurunkan ketidakstabilan produksi dan memfasilitasi penggunaan faktor yang lebih fleksibel.

(22)

35

Penelitian tentang efisiensi teknis dan risiko produksi pada usahatani beras di wilayah Luzon Philipina telah dilakukan oleh Villano dan Fleming (2006). Mereka menggunakan model fungsi produksi frontier stokastik dengan menambahkan struktur error yang heteroskedastic yang telah dibangun oleh Kumbhakar. Dengan menggunakan data panel selama delapan tahun dari 46 petani beras, disimpulkan bahwa rata-rata efisiensi teknisnya sebesar 0.79 persen ini menunjukkan bahwa terdapat variabilitas yang cukup tinggi dan dapat diartikan bahwa kondisi usahatani di dataran rendah dan pada saat musim hujan tidak stabil. Hasil yang lain menunjukkan bahwa luas lahan, tenaga kerja dan jumlah pupuk yang digunakan berpengaruh terhadap rata-rata output yang dihasilkan dan ditemukan bahwa input-input tersebut dapat meningkatkan risiko produksi sementara herbisida yang digunakan memiliki kemampuan untuk menurunkan risiko.

Liu (2009) menganalisis faktor-faktor yang menentukan penggunaan pestisida pada usahatani kapas di China. Hasil analisisnya menunjukkan bahwa semakin takut petani terhadap risiko atau semakin risk averse, maka semakin banyak pestisida yang digunakan. Petani-petani yang tidak begitu takut risiko produksi, mereka menggunakan pestisida yang lebih sedikit. Ketika petani memutuskan untuk menggunakan seberapa banyak pestisida yang harus digunakan, memaksimumkan keuntungan tidak lagi menjadi tujuan utama. Petani-petani itu juga tidak memperhatikan kondisi kesehatannya dan kemungkinan keracunan pestisida. Hasil analisis ini memiliki implikasi kebijakan yang penting diantaranya : (1) memberikan jaminan atas kegagalan usahatani sangat diperlukan untuk mengurangi ketakutan petani dalam menghadapi risiko, (2) memberikan

(23)

36

pelatihan-pelatihan untuk adopsi teknologi baru yang lebih menguntungkan dan dapat menurunkan penggunaan pestisida, dan (3) membuat aturan tentang pemasaran benih supaya dipasar tidak ada benih yang berkualitas rendah.

Penelitian tentang perilaku risiko produksi juga telah dilakukan oleh Roger dan Engler (2008) menurut hasil penelitian mereka keputusan-keputusan petani sebagain besar dipengaruhi oleh risiko dan pilihan risiko. Petani-petani kecil pada usahatani Rasberry termasuk dalam kategori petani yang takut terhadap risiko (risk Averse), sedangkan faktor-faktor yang menentukan produktivitas adalah pengalaman produsen, ukuran usahatani dan dosis pemupukan.

Binici et al.,(2003) menyatakan bahwa menganalisis perilaku petani menghadapi risiko sangat penting untuk memahami keputusan managerial mereka. Semua petani masuk dalam kategori risk averse. Petani-petani membuat keputusan managerial lebih didasarkan pada tujuan untuk menurunkan risiko walaupun pendapatannya lebih rendah. Implikasinya adalah bahwa petani-petani itu harus diberikan jaminan / asuransi pada usahataninya. Strategi manajerial yang dapat ditempuh oleh petani diantaranya: (1) diversifikasi komoditas yang dihasilkan, (2) adopsi teknologi yang memiliki potensi untuk menurunkan risiko kegagalan, (3) pendapatan off farm, dan (4) akumulasi tabungan dalam bentuk kas daripada menginvestasikan dalam perbaikan kapital.

Perilaku petani di Kwara Nigeria lebih bervariasi. Menurut Ayinde et al., (2008) Perilaku petani di Kwara State berbeda-beda ada petani yang menyukai risiko, netral terhadap risiko dan takut terhadap risiko. Petani yang skala usahataninya kecil, tidak semuanya takut terhadap risiko. Implikasi kebijakannya adalah perlu dibentuk kelompok tani, ini akan menjadi fasilitas untuk saling

(24)

37

berinteraksi dan berbagi pengalaman yang dapat menurunkan ketakutan terhadap risiko produksi, di samping itu kelompok tani juga dapat digunakan untuk memperkuat posisi tawar mereka. Crop insurance juga dibutuhkan untuk sharing risiko. Strategi manejeman risiko yang paling banyak dilakukan oleh petani di wilayah ini adalah dengan diversifikasi tanam.

Hasil penelitian Ayinde didukung oleh hasil penelitian Aye dan Oji (2004) yang menyatakan bahwa Pertanian di Nigeria dicirikan dengan produktivitas yang rendah, pendapatan usahatani yang rendah, adopsi teknolog rendah, dan penggunaan teknik produksi yang inefisien. Kemiskinan petani di Nigeria berkaitan dengan perilaku petani dalam menghadapi risiko terhadap adopsi teknologi yang baru, risiko produksi, dan lingkungan sosial ekonomi. Sebagian besar petani (71.7 persen) masuk dalam kategori risk averse. Berdasarkan analisis regresi berganda ditunjukkan bahwa umur, ukuran rumahtangga, tingkat pendidikan, intensitas pertemuan dengan sesama, serta keanggotaan dalam kelompok tani merupakan faktor yang mempengaruhi perilaku risiko.

Hartoyo (2004) menggunakan metode fungsi utilitas kuadratik untuk menganalisis risiko harga output pada usahatani di Cisarua dan Kemang Jawa Barat. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa petani beras di Cisarua bertendensi menjadi petani yang bersifat penghindar risiko dalam harga output sedangkan di Kemang petani bersifat netral terhadap risiko harga, karena sebagian besar produksi padi digunakan untuk konsumsi rumahtangga.

Penelitian tentang risiko harga juga telah dilakukan oleh Farianti (2009) pada usahatani kentang dan kubis di Kabupaten Bandung. Dilihat dari besarnya risiko, pemasaran kubis mempunyai risiko harga yang lebih tinggi dibandingkan

(25)

38

kentang. Karakteristik komoditas, kondisi permintaan dan penawaran komoditas di pasar menjadikan faktor risiko harga kubis lebih tinggi dibandingkan dengan kentang.

2.4.3. Penelitian tentang Efisiensi

Efisiensi merupakan permasalahan utama dalam proses produksi, yang sering menjadi sorotan peneliti sehingga banyak dilakukan penelitian yang menunjukkan tingkat efisiensi dari suatu produksi. Salah satu model yang banyak dimanfaatkan untuk menganalisa efisiensi adalah model fungsi produksi frontir stokastik. Model ini banyak dimanfaatkan untuk meneliti tingkat efisiensi pada berbagai sektor diantaranya pada sektor pertanian, peternakan, dan perikanan.

Kurkalova et al. (2000) meneliti efisiensi teknis pada produksi padi di Ukraine. Mereka memanfaatkan model produksi frontier stochastic .Hasil studi menyatakan bahwa Efisiensi teknis menurun dari tahun 1989 sampai 1992, selain itu manajer yang lebih berpengalaman bekerja lebih produktif, ditemukan juga bahwa penambahan infrastruktur produksi berhubungan erat dengan efisiensi, dan penelitian ini juga mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa disorganisasi menyebabkan penurunan output dalam perekonomian yang masih dalam tahap transisi.

Penelitian tentang perbaikan produkivitas beras di Korea telah dilakukan oleh Lee and Kwon (2004). Produktivitas dianalisis secara parametrik dengan model efisiensi time variant dan non parametrik dengan menggunakan indikator Luenberger dan indikator Malmquist. Berdasarkan hasil analisis dengan tehnik perhitungan yang berbeda diperoleh nilai-nilai produktivitas yang berbeda. Namun demikian kedua pengukuran tersebut menyatakan bahwa sumber utama

(26)

39

dari pertumbuhan usahatani beras di korea adalah perubahan teknologi dan perbaikan produktivitas pada daerah-daerah yang nilai produktivitasnya rendah.

Pengaruh perbaikan teknologi terhadap efisiensi produksi diteliti oleh Theingi dan Thanda (2005) dalam sebuah konferensi penelitian pertanian internasional untuk pembangunan. Mereka mempresentasikan hasil penelitian yang berjudul Analisis Efisiensi Teknis Sistem Produksi Beras Beririgasi di Myanmar. Studi ini bertujuan menguji efisiensi teknis dari produksi beras yang menggunakan sistem irigasi. Masalah yang dihadapi oleh petani pada saat studi dilakukan adalah : harga pupuk yang tinggi, kekurangan air irigasi, keterbatasan investasi, minimnya pengetahuan tentang proteksi tanaman dan sulitnya mendapatkan benih yang produktivitasnya tinggi. Berdasarkan hasil estimasi fungsi produksi frontier stochastik, keberadaan tenaga kerja keluarga dan penggunaan pupuk secara signifikant berpengaruh terhadap peningkatan produktivitas pada usahatani kecil. Selain itu ditemukan bahwa tingkat pendidikan petani yang skala usahanya menengah berpengaruh negatif terhadap inefisiensi teknis. Petani skala besar memiliki efisiensi teknis yang tertinggi yaitu sebesar 0.77 di atas petani yang skalanya menengah dan kecil. Oleh karena itu pemerintah seharusnya melanjutkan dukungannya dalam investasi publik dan teknologi agar diperoleh efisiensi teknis yang lebih tinggi. Dengan kata lain kenaikan tingkat produksi dan efisiensi dapat dicapai dengan cara meningkatkan penggunaan pupuk urea, menambah jumlah tenaga kerja dan meningkatkan pendidikan petani.

Pengukuran efisiensi dengan membandingkan usahatani yang telah menggunakan mekanisasi dengan yang belum, dilakukan oleh Ajao et al. (2005). Studi yang dilakukan bertujuan untuk membandingkan efisiensi teknis usahatani

(27)

40

jagung yang memakai mesin dengan usahatani yang tidak memakai mesin di Oyo State Nigeria, dengan menggunakan pendekatan frontir stokastik. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata efisiensi teknis petani sebesar 0.72 untuk usahatani mekanis dan 0.62 untuk usahatani non mekanis. Berdasarkan observasi, pendapatan yang diperoleh akan lebih baik jika sumberdaya, digunakan secara efisien dengan menggunakan teknologi yang ada. Sehingga dalam jangka pendek ada potensi sebesar 28 persen untuk menaikkan produksi jagung dengan mengadopsi teknologi yang ada (yang sudah menggunakan teknologi mesin), sementara ada potensi sebesar 38 persen untuk menaikkan produksi jagung pada usahatani yang tidak menggunakan mesin. Dari keseluruhan variabel yang dimasukkan dalam model efisiensi, hanya variabel pupuk yang berpengaruh positif baik pada usahatani yang menggunakan mesin maupun pada usahatani yang tidak menggunakan mesin. Ini berimplikasi bahwa penggunaan pupuk dalam usahatani jagung tidak bisa diabaikan. Hasil penemuan lainnya adalah variabel tenaga kerja dan biaya lain berpengaruh secara signifikan terhadap usahatani jagung yang menggunakan mesin.

Linh (2005) juga mengukur efisiensi rumahtangga usahatani beras di Vietnam. Studi ini mengestimasi efisiensi teknis yang diperoleh dengan dua pendekatan yaitu : (1) DEA (Data Envelopment Analysis), dan (2) model frontier stochastic dengan menggunakan data survey rumatangga usahatani beras di vietnam. Efisiensi teknis dibuat sebagai fungsi rumahtangga dan faktor-faktor produksi. Hasil yang diperoleh dengan menggunakan pendekatan deterministik, semi parametrik dan parametrik menunjukkan bahwa, efisiensi teknis sangat dipengaruhi oleh pendidikan dasar dan faktor regional.

(28)

41

Di sektor perkebunan penelitian tentang efisiensi telah dilakukan oleh Msuya et al. (2005) . Mereka mengkaji tingkat efisiensi pada perkebunan gula di Tanzania . Secara khusus studi ini membandingkan efisiensi petani outgrower (petani swadaya) dan petani non outgrower (petani yang tergabung dalam sistem perkebunan). Mereka menguji hubungan antara tingkat efisiensi dengan berbagai faktor yang spesifik. Dalam penelitian ini diambil 140 petani sampel outgrower dan non outgrower. Untuk mengestimasi tingkat efisiensi teknis digunakan software frontir 4.1 yang dibuat oleh Coelli. Efisiensi teknis diestimasi dengan menggunakan fungsi poduksi frontier Cobb Douglas, yang diasumsikan memiliki distribusi normal. Hasil estimasi menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif antara umur, pendidikan, pengalaman dengan efisiensi teknis.

Dibidang peternakan, Tauer (2001) menganalisis efisiensi dan kemampuan bersaing usahaternak kecil di New York. Selama ini banyak yang beranggapan bahwa usaha peternakan kecil sulit bertahan karena biaya produksi susu per cwt yang dikeluarkan oleh peternak kecil jauh lebih besar daripada biaya produksi susu per cwt yang dikeluarkan oleh peternak skala besar. Catatan bisnis di New York dengan konsisten menyebutkan bahwa biaya produksi peternak kecil selalu lebih besar. Pada tahun 1999 diambil sampel sebanyak 314. Dengan menggunakan model biaya produksi frontir ditemukan bahwa efisiensi usaha peternakan kecil dapat diperbandingkan dengan efisiensi usaha peternakan besar. Berdasarkan hasil perhitungan biaya produksi 50 sapi untuk peternak kecil sebesar $ 0.299/Kg , hanya lebih besar empat persen dari biaya yang dikeluarkan oleh peternak besar untuk 500 sapi yaitu sekitar $ 0.287/Kg. Implikasinya adalah efisiensi peternak kecil dapat dikompetisikan dengan efisiensi peternak besar.

(29)

42

Zeni et al. (2002) mengaplikasikan fungsi produksi frontir dalam bidang perikanan. Mereka mengkaji efisiensi teknis pada perikanan Drifnet dan Payang di Sumatra Barat. Penelitian yang dilakukan bertujuan untuk menguji struktur produksi perikanan dari berbagai alat tangkap dan spesies di Sumatra Barat. Sebagian besar nelayan di daerah ini masih hidup di bawah garis kemiskinan. Kondisi ini dicirikan dengan rendahnya produktivitas dan penggunaan input yang tidak efisien. Dua alat tangkap penting yang digunakan oleh nelayan yang menjadi responden adalah drifnet dan payang seine. Dengan menggunakan fungsi produksi frontier stochastic translog, ditemukan bahwa sekitar 70 sampai 100 persen unit penangkapan dengan drifnet dan payang telah rata-rata efisiensi teknis diatas 0.9. Ini berimplikasi bahwa ekstensi produksi ikan dengan alat tangkap drifnet masih mungkin untuk dilakukan dengan cara mengadopsi teknologi dari nelayan yang sudah berpengalaman atau dari nelayan yang sudah terlatih, dan melalui alokasi sumberdaya yang optimal. Meskipun penangkapan dengan payang sudah mencapai kondisi yang optimal, kebijakan untuk meningkatkan penangkapan ikan seharusnya difokuskan kepada penangkapan dengan menggunakan drifnet, disisi lain upaya penangkapan dengan cara payang seharusnya mulai dikurangi.

Penelitian tentang efisiensi teknis, alokatif dan ekonomis terhadap 60 petani yang memiliki skala usaha kecil di wilayah Dajabon Republik Dominican telah dilakukan oleh Bravo dan Pinheiro (1997). Teknik Maximum Likelihood digunakan untuk mengestimasi fungsi produksi frontir Cobb Douglas, dan kemudian dimanfaatkan untuk menurunkan fungsi dualnya. Kedua frontir tersebut kemudian digunakan sebagai dasar pengukuran tingkat efisiensi. Berdasarkan

(30)

43

hasil analisis didapat rata-rata tingkat efisiensi teknis, alokatif dan ekonomis masing-masing sebesar 70 persen, 44 persen, dan 31 persen. Implikasi dari hasil ini adalah penurunan biaya atau peningkatan input masih dapat dicapai dengan memaksimumkan penggunaan teknologi yang ada. Analisis yang kedua dilakukan untuk mengetahui sumber-sumber inefisiensi teknis, alokatif dan ekonomis. Hasil analisisnya menunjukkan bahwa petani yang usianya lebih muda dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi dapat meningkatkan efisiensi teknis. Sedangkan petani yang memiliki kontrak dengan perusahaan agribisnis, usahatani yang berukuran sedang dan reformasi status agraria berpengaruh dalam meningkatkan efisiensi alokatif dan ekonomis. Berdasarkan analisis direkomendasikan beberapa kebijakan yang dapat dilakukan untuk meningkatkan efisiensi yang pada akhirnya dapat meningkatkan pendapatan petani : (1) pemerintah memfasilitasi hubungan kerjasama antara petani dengan perusahaan agribisnis, (2) pemerintah membantu perkembangan skala usahatani supaya petani yang skala usahanya kecil menjadi petani yang skala usahanya menengah, dan (3) pemerintah harus membantu petani dalam mengakses informasi tentang usahatani yang baik. Penelitian ini belum memasukkan faktor-fakor lain yang diperkirakan juga mempengaruhi efisiensi diantaranya : risiko, ketidaksempurnaan pasar, terbatasnya dana tunai, dan status sosial.

Fan (1999) dalam studinya yang berjudul Perubahan teknologi, efisiensi teknis dan efisiansi alokatif pada kegiatan pertanian di negara China : kasus produksi beras di Jhiangsu, menggunakan pendekatan fungsi biaya bayangan frontir untuk mengestimasi dampak perubahan teknologi secara empiris, perbaikan efisiensi teknis dan alokatif pada sektor pertanian di China selama

(31)

44

periode reformasi (1984–1993). Hasilnya menunjukkan bahwa reformasi pedesaan fase pertama (1979-1984) yang difokuskan pada desentralisasi sistem produksi memiliki dampak yang signifikan terhadap efisiensi teknis tetapi tidak pada efisiensi alokatif. Selama reformasi fase kedua yang didukung dengan adanya liberalisasi pasar pedesaan, perbaikan efisiensi teknis hanya sedikit sekali tetapi efisiensi alokatif meningkat tajam.

Pengukuran efisiensi ekonomis yang merupakan perkalian dari efisiensi teknis dan alokatif dilakukan oleh Ogundari dan Ojo (2006). Mereka secara empiris menguji efisiensi produksi usahatani cassava di Osun State Nigeria dengan menggunakan data ditingkat usahatani. Fungsi produksi stokastik dan Model fungsi biaya digunakan untuk memprediksi tingkat efisiensi teknis dan efisiensi ekonomis. Hasil estimasi menunjukkan bahwa di area penelitian menunjukkan skala pengembalian yang menurun, dengan nilai return to scale sebesar 0.84 . Ini berarti bahwa petani-petani cassava efisien dalam mengalokasikan sumberdaya mereka. Selain itu, juga diukur efisiensi produksi yang terdiri dari efisiensi teknis, efisiensi alokatif , dan efisiensi ekonomis . Dari hasil analisis diperoleh nilai rata-rata efisiensi teknis, efisiensi alokatif, dan efisiensi ekonomis untuk masing-masing sebesar 0.903, 0.807 dan 0.89. Implikasi kebijakannya adalah bahwa usahatani cassava di area studi, rata-rata sudah efisien dalam mengalokasikan sumberdaya mereka dengan mempertimbangkan skop operasi mereka dan keterbatasan sumberdaya.

Penelitian tentang dampak kebijakan makroekonomi terhadap efisiensi ekonomi petani beras di Indonesia telah dilakukan oleh Fabiosa et al. (2004). Fungsi produksi dan biaya Cobb Douglas frontier stokastik dimanfaatkan untuk

(32)

45

menganalisis efisiensi teknis, alokatif dan ekonomis. Studi ini membandingka n kondisi petani beras Indonesia sebelum, selama dan setela krisis ekonomi makro. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa efisiensi produksi menurun sebesar 7-22 persen selama masa krisis. Faktor-faktor yang mempengaruhi peningkatan efisiensi yang lebih tinggi adalah skala usahatani yang lebih besar dan tingkat pendidikan yang lebih tinggi.

Gambar

Gambar 1.  Konsep Efisiensi Farrell
Gambar 2. Kurva Fungsi Produksi Frontier Statistik Deterministik
Gambar 3. Fungsi Produksi  Frontier Statistik Stokastik

Referensi

Dokumen terkait

Adapun masalah yang dikaji pada penelitian ini adalah aus yang dialami oleh pahat Karbida Berlapis ( Coated Cemented Carbide ) dengan menggunakan proses permesinan kering pada

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN CADANGAN 5.0 Pengenalan 5.1 Kesimpulan 5.1.1 Perkaitan di antara umur, pendidikan, pengetahuan dan sikap terhadap penggunaan lestari dengan amalan

I. Guru kekurangan pengetahuan dan kemahiran mengajar. Ini disebabkan mereka tidak bersedia atau tidak dilatih dengan sebaik-baiknya. Matlamat dan konsep inovasi

Dengan menerapkan dimensi jaminan (assurance) bertujuan agar pelanggan atau penumpang mempunyai rasa kepercayaan terhadap perusahaan, apabila penumpang telah percaya apa

EFEKTIFITAS PEMBELAJARAN METODA DEMONSTRASI INITIAL ASSESMENT TERHADAP PENINGKATAN KOGNITIF DAN.. PSIKOMOTOR IDENTIFIKASI

Hasil pencocokan template item jawaban dengan citra dapat menghasilkan lebih dari satu hasil jika lembar jawab diisi lebih satu bulatan yang dihitamkan, atau

dengan Suruhanjaya Syarikat Malaysia di bawah akta pendaftaran perniagaan 1956, yang menjalankan kerja-kerja pembinaan am, pengubahsuaian bangunan, memasang mozek,

(2) Sasaran dalam penetapan struktur dan besarnya tarip retribusi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) adalah untuk pelayanan rawat jalan rawat inap, rawat darurat,