• Tidak ada hasil yang ditemukan

Buku Pelajaran Balaghah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Buku Pelajaran Balaghah"

Copied!
150
0
0

Teks penuh

(1)

1

Kata pengantar

Bahasa Arab pertama sekali dikenal sebagai bahasa-bahasa orang-orang dizajirah Semenanjung Arabia, kemudian setelah datangnya agama Islam dikenal pula sebagai bahasa Al-Quran sebagai pedoman hidup kaum muslimin itu dituliskan dalam bahasa Arab yang sangat indah susunannya dan jaringan kalimatnya.

Bahasa Arab dikenal juga sebagai bahasa Ilmu Pengetahuan sebab begitu banyak ilmu pengetahuan dimasa perkembangan Islam yang dituliskan dalam bahasa ini, lalu ditahapan perkembangan selanjutnya bahasa Arab telah menjadi bahasa Dunia, karena tidak hanya digunakan oleh sekelompok masyarakat Arab atau pemeluk Islam saja, tetapi telah diakui sebagai bahasa kumunikasi di PBB (Perserikatan Bangsa Bangsa).

Dilihat dari segi penggunaannya maka bahasa Arab ini terbagi dua yaitu: Bahasa Ammiyah (bahasa yang dipakai untuk berkomunikasi sehari hari), berasal dari bahasa daerah di Jazirah Arabiya tidak terikat pada tata bahasa.

Kedua bahasa fushah yaitu bahasa Resmi, misalnya bahasa Al-Quran dan Hadist, untuk karangan ilmiah kitab-kitab, surat-menyurat dan komunikasi resmi lainnya. Bahasa fushah (resmi) ini memiliki tingkat kesulitan tersendiri karena terikat erat dengan peraturan kebahasaan diantaranya ilmu nahwu (Qawaid) dan Ilmu Balaghah Semantik1 Arab.

1

semantik adalah istilah yang digunakan dalam bidang linguistik yang mempelajari makna atau arti dalam bahasa

(2)

2

Ilmu Balaghah tetap dianggap sebagai ilmu yang tersulit untuk dicerna, sebab ilmu ini akan menterkaitkan antara komponen-komponen ilmu bahasa Arab yang fushah (resmi),. Namun jika dipelajari dengan penghayatan yang tinggi serta dihubungkan pula kepada kegunaannya dari sisi ilmu-ilmu agama jelas akan mendatangkan kenikmatan tersendiri dan dapat memperkaya dan mempertajam mata bathin manusia, sehingga menimbulkan dampak kehidupan yang baik serta dapat mengusir kejenuhan untuk mempelajarinya.

I Pendahuluan

A. Latar belakang munculnya ilmu balaghah

Arab Jahiliyah (Pra Islam) sudah mengenal dunia sastra jauh sebelumnya. Mereka dikenal sebagai pujangga-pujangga ) ءبـِجُا ) yang memiliki kecakapan dalam menyusun dan merangkai kata-kata sehingga indah didengar dan bagus diucapkan yang kemudian menghasilkan karya sastra. Hal itu bukan diperolehnya melalui lembaga-lembaga pendidikan formal atau dengan mempelajari kaidah-kaidah ilmu tertentu, tetapi terbentuk melalui fitrah dan insting bahasa yang sudah ada dalam diri mereka.

Sejarah berhasil mengabadikan sejumlah nama sastrawan Arab pra jahiliah yang telah memberikan kontribusi besar dalam dunia sastra, di antaranya: An-Nābighah2

, Hasan bin Tsābit3, al Khansā‟, Umru‟

2

Penyair ini memiliki nama asli An-Nabighah Az-Zibyani Abu Umamah Ziyad bin Muawiyah. Namun, ia lebih dikenal dengan panggilan an-Nabighah, yang berarti seorang yang pandai

(3)

3

Qais, Zuhair bin Abī Salmā, Tharfah bin al „Abd,

„Antarah bin Asy-Syaddād, „Amr bin Kultsum, Lubaid

bin Rabī„ah.

Salah seorang penguasa Arab saat itu an-Nābighah az-Zibyānī sengaja membangun pasar bernama „Ukāzh, yaitu pasar tahunan tempat bertemu dan berkumpulnya para sastrawan (ءبثكلأا) dan penyair (ءاوؼشُا) dari seluruh penjuru Arab untuk melantunkan bait-bait syairnya. Semua gubahan syair-syair terbaru dan kemunculan penyair-penyair terkemuka tidak terlepas dari peran pasar „Ukāzh dalam memperkenalkannya. Secara alamiah semua itu mengalami proses penyeleksian yang ketat melalui metode kritik sastra yang dikenal luas saat itu. Semua transaksi jual beli syair berlaku di tempat ini. Selain „Ukāzh ada beberapa pasar yang menjadi tempat berkumpulnya para sastrawan. Yang terpenting adalah Majinnah dan Dzul Majāz. Semuanya terletak dekat Ka‟bah.

berpuisi, karena memang sejak muda ia pandai berpuisi. An-Nabighah merupakan salah seorang tokoh penyair terkemuka Arab Jahiliyyah dan juga menjabat sebagai dewan hakim dalam perlombaan puisi yang diadakan di pasar Ukadz. Ia memiliki Diwan (antologi) puisi yang dikomentari oleh Batholius (Ibnu Sayyid al-Batholius) yang telah berulang-ulang dicetak, meskipun antologi puisinya itu tidak menghimpun seluruh puisinya.

3

Hasan bin Tsabit bin Mundir berasal dari suku Khazraj kabilah Khotoniah di Jasrib sekarang Madinah Ayahnya bernama Mundir, ia adalah sorang tokoh berpengaruh dan dihormati oleh kabilahnya. Begitu juga dengan Ibunya yang bernama Faria'h binti Kholid bin Qais Al-Khazraj. Ia penyair yang gigih membela Islam dan Rasululah dari kecaman para kaum musrikin dan kafirin, terutama para penyair pada masa itu

(4)

4

Syair-syair terbaik yang muncul dari pasar-pasar itu mendapat penghargaan berupa hak paten untuk diletakkan dan dipajang di dinding ka‟bah sehingga semua orang bisa melihatnya. Suatu apresiasi terhadap nilai sastra dan seni yang sangat tinggi, karena Ka‟bah adalah tempat paling sakral dan menjadi prestise Arab. Karya-karya terbaik itu dikenal dengan nama

al-Mu„allaqāt. Sebagian riwayat menyebutkan terdapat 7

buah syair, sementara yang lainnya menyatakan 10 buah syair yang pernah dipajang di dinding Ka‟bah.

Penyair-penyair yang tampil dalam kesempatan itu merupakan utusan kebanggaan suku. Seorang penyair profesional menempati kedudukan terhormat di dalam masyarakat. Derajat suku akan terangkat karena kefasihan lidah penyair yang dimilikinya bahkan perang dan damai yang hampir selalu berlatar belakang fanatisme kesukuan dapat diciptakan oleh bangsa arab karena kefasihan lidah para penyairnya.

Setelah itu agama Islam muncul Muhammad saw. lahir sebagai Nabi pembawa risalah, dan al-Quran merupakan mukjizatnya yang terbesar Kemukjizatan al-Quran terkandung pada aspek bahasa dan isinya Dari aspek bahasa, Alquran mempunyai tingka fashâhah dan balâghah yang tinggi. Sedangkan dari aspek isi, pesan dan kandungan maknanya melampaui batas-batas kemampuan manusia. Ketika Alquran muncul, banyak di dalamnya terkandung hal-hal yang tidak bisa ditangkap oleh orang-orang pada zamannya, akan tetapi kebenarannya baru bisa dibuktikan oleh orang-orang pada abad modern sekarang ini.

Kata-kata dan isinya dibaca, ditela‟ah, dijadikan rujukan dan merupakan sumber inspirasi, muncul dan

(5)

5

berkembangnya berbagai ide dan karya jutaan umat manusia. Kitab ini dijadikan pedoman dan karenanya amat dicintai oleh seluruh kaum muslimin. Karena kecintaannya pada Alquran, kaum muslimin membacadan menelaahnya baik dengan tujuan ibadah maupun untuk memperoleh pengetahuan darinya. Dengan dorongan Alquran pula para ulama dan ilmuwan mengarang dan menterjemahkan bermacam-macam buku ilmu pengetahuan, baik yang berkaitan dengan keislaman seperti bahasa Arab, syariat, filsafat dan akhlak, maupun yang yang bersifat umum seperti sejarah, kesenian dan perekonomian. Hanya dalam tempo satu abad, inspirasi yang dibawa Alquran telah membuat penuh berbagai perpustakan di kota-kota besar Islam pada masa itu seperti Mesir,Baghdad dan Cordova4.

Fenomena ini muncul karena ayat-ayat Alquran mendorong kaum muslimin untuk menjadi masyarakat literat. Ayat yang mula-mula turun kepada Nabi Muhammad ialah yang berhubungan dengan keharusan membaca. Hal ini dapat kita lihat pada surah al-„Alaq 1-5

                         4

Rinaharat Dauzi, Takmilah al Mu‟ajam al „Arabiyah, (Iraq, Dar ar Rasyid, 1980), 15

(6)

6

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah, Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar manusia dengan perantaraan kalâm , Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Pada saat turunnya Alquran, bahasa Arab merupakan bahasa yang murni dan bermutu. Bahasa Arab belum terkontaminasi dengan bahasa asing lainnya. Namun seiring dengan peningkatan peran agama, sosial dan politik yang diembannya, bahasa Arab mulai berasimilasi dengan bahasa lain di dunia,seperti Persia, Yunani, India dan bahasa-bahasa lainnya5.

Asimilasi dengan bahasa Persia lebih banyak dibanding dengan bahasa-bahasa lainnya. Asimilasi ini muncul karena bangsa Arab banyak yang melakukan pernikahan dengan bangsa Persia, sehingga sedikit banyak bahasa Arab terwarnai dengan bahasa tersebut. Selain itu pula banyak keturunan Persia yang menempati posisi penting baik dibidang politik, militer, ilmu pengetahuan, dan keagamaan. Dominasi kuturunan Persia terjadi pada masa kekhalifahan daulat Bani Abbasiyah. Dengan berasimilasinya orang-orang Persia ke dalam masyarakat Arab dan Islam, mulailah bahasa Arab mengalami kemunduran. Apalagi pemimpin-pemimpin yang berkuasa bukan orang Arab, sehingga timbullah satu bahasa pasar6 yang telah jauh menyimpang dari bahasa aslinya. Kondisi ini terjadi pada beberapa wilayah Islam seperti Mesir, Baghdad dan

5 Ibid, 13

(7)

7

Damaskus. Kemunduran penggunaan bahasa Arab yang paling hebat terjadi di Persia7.

Adanya kemunduran-kemunduran pada bahasanya, membuat orang-orang Arab merasa prihatin dan mulailah mereka berfikir untuk mengembalikan bahasa Arab pada kemurniannya. Mereka mulai menyusun ilmu nahwu, sharaf dan balâghah.

Para pakar bahasa Arab mulai menyusun ilmu balâghah yang mencakup ilmu bayân, ma‟âni dan badî‟. Ilmu-ilmu ini disusun untuk menjelaskan keistimewaan dan keindahan susunan bahasa Alquran dari segi kemukjizatannya.Ilmu itu disusun setelah muncul dan berkembangnya ilmu nahwu dan sharaf.

B. Tokoh-tokoh dan Karya-karyanya

Pada awalnya struktur ilmu balâghah belumlah lengkap seperti yang kitakenal sekarang ini. Setelah mengalami berbagai fase perkembangan dan penyempurnaan akhirnya disepakati bahwa ilmu ini membahas tiga kajian utama,yaitu ilmu bayân, ma‟âni dan badî‟. Ilmu bayân membahas prosedur pengungkapan suatu ide fikiran atau perasaan ke dalam ungkapan yang bervariasi.Ilmu ma‟âni membahas bagaimana kita mengungkapkan sesuatu ide fikiran atau perasaan ke dalam bahasa yang sesuai dengan konteksnya. Sedangkan badî‟ membahas bagaimana menghaluskan, memperindah dan meninggikan suatu ungkapan.

Tokoh pertama yang mengarang buku dalam bidang ilmu bayân adalah Abû Ubaidah Ma‟mar ibn al Mutsanna (wafat, 208 H) dengan kitabnya Majâz Alquran8 Beliau adalah murid

7

Rinaharat Dauzi, Takmilah... 16

8 Sayid Ahmad al Hasyimi, Jawahir al Balaghah, (Bairut, Maktabah al „Ashriyah, 1999), 9

(8)

8

al-Khalil.Dalam bidang ilmu ma‟âni, kitab I‟jâz

Alquran yang dikarang oleh al-Jâhizh9 merupakan kitab pertama yang membahas masalah ini. Sedangkan kitab pertama dalam ilmu badî‟ adalah karangan Ibn al-Mu‟taz dan Qudâmah bin Ja‟far10.

Pada fase berikutnya, munculah seorang ahli balâghah yang termashur,beliau adalah Abd al-Qâhir al-Jurjâni yang mengarang kitab Dalâil I„jâz dalam ilmu ma‟âni dan Asrâr

al-Balâghah dalam ilmu bayân11. Setelah itu muncullah Abu Ya‟qub Yusuf Sakkâki yang mengarang kitab Miftah

al-Ulûm yang mencakup segala masalah dalam ilmu balâghah12.

Selain tokoh-tokoh yang disebutkan di atas, masih banyak lagi tokoh yang mempunyai andil dalam pengembangan ilmu balâghah, yaitu:

1. Hasan bin Tsabit13, beliau seorang penyair Rasullullah saw. Orang Arab sepakat bahwa ia adalah seorang tokoh penyair

9

Nama lengkapnya Abu „Utsman „Amar ibn Bahr ibn Mahbub al Kinani beliau seorang tokoh mu‟tazilah lahir dan wafat di bashrah (164-255H/780-869M)

10 Pengarang buku naqad asy-Syi‟ri, nama lengkapnya Qudamah ibn Ja‟far ibn Qudamah ibn Ziyad Baghdadi, Abu al-Faraj, penulis buku (balaghah, mantiq, filsafat, dll)

11

Abdul Muta‟ali as Sha‟idi, Bughyah al idlah, (Maktabah al Adab, tt), 3

12 Ibid, 4 13

Nama lengkapanya Hassan bin Tsabit bin Mundzir al-Hazrojy al-Anshory. Nama panggilannya Abul Walid, di antara syi‟rnya yg memuji Nabi:

َٝ # ٢ِْ٘٤َػ َّػَه َوَر َُْْ َيِْ٘ٓ َََْٖؽَأ َٝ ُءَبَُِ٘ا ِلَِِر َُْْ َيِْ٘ٓ َََْٔعَأ

Yang lebih baik darimu tak pernah kulihat,yang lebih elok darimu tak pernah terlahirkan

(9)

9

dari kampung. Suatu pendapat menyatakan bahwa ia hidup selama 120 tahun; 60 tahun dalam masa Jahiliyah dan 60 tahun dalam masa keislaman. Ia meninggal pada tahun 54 H

2 Abu-Thayyib, beliau adalah Muhammad bin al-Husain seorang penyair kondang. Ia mendalami kata-kata bahasa Arab yang aneh. Syi‟irnya sangat indah dan memiliki keistimewaan, bercorak filosofis, banyak kata-kata kiasannya dan beliau mampu menguraikan rahasia jiwa. Ia dilahirkan di Kufah, tepatnya di sebuah tempat bernama Kindah pada tahun 303 H, dan wafat tahun 354 H.

3 . Umru‟ al-Qais14, ia tokoh penyair Jahiliyah yang merintis pembagian bab-bab dan macam-macam syi‟ir. Ia dilahirkan pada tahun 130 sebelum Hijriyah. Nenek moyangnya adalah para raja dan bangsawan Kindah. Ia wafat pada tahun 80 sebelum Hijriyah. Syi‟ir-syi‟irnya yang pernah tergantung di Ka‟bah sangat masyhur.

4 . Abu Tammam (Habib bin Aus Ath-Tha‟i), ia seorang penyair yang masyhur,satu-satunya orang yang mendalam pengetahuannya tentang maâni, fashahatal-syâir dan banyak hafalannya. Ia wafat di Mosul pada tahun 231 Hijriyah.

5. Jarir bin Athiyah al-Tamimi, ia seorang di antara tiga penyair terkemuka pada masa pemerintahan Bani Umayah. Mereka adalah al-Akhthal, Jarir,

Kau lahir tanpa sedikitpun cacat,seolah kau tercipta seperti yang kau inginka

14

(10)

10

dan al-Farazdaq. Dalam beberapa segi ia melebihi kedua rekannya. Dia wafat pada tahun 110 H.

6. Al-Buhturi, ia seorang penyair Bani Abasiyah yang profesional. Ketika Abu al-„A‟la al-Ma‟arri ditanya tentang al-Buhtury dia berkata, “Siapakah yang ahlisyi‟ir di antara tiga orang ini, Abu Tammam, al-Buhturi, ataukah al-Mutanabbi?” Ia menjawab, “Abu Tamam dan al-Mutanabbi keduanya adalah para pilosof; sedangkan yang penyair adalah al-Buhturi”. Dia lahir di Manbaj dan wafat di sana pada tahun 284 H.”

7. Saif al-Daulah, ia adalah Abu al-Hasan Ali bin Abdullah bin Hamdan, raja Halab yang sangat cinta syi‟ir. Lahir tahun 303, wafat tahun 356.

8. Ibnu Waki‟, ia seorang penyair ulung dari Baghdad. Lahir di Mesir dan wafat disana pada tahun 393 H.

9. Ibn Khayyath, ia seorang penyair dari Damaskus. Ia telah menjelajahi beberapa negara dan banyak mendapatkan pujian dari masyarakat yang mengenalnya. Ia sangat masyhur, karena karya-karyanya khususnya pada buku-buku syi‟ir yang sangat populer. Ia wafat pada tahun 517 H.

10. Al-Ma‟arri, ia adalah Abu al-„Ala‟ al-Ma‟arri. Dia seorang sastrawan, pilosof dan penyair masyhur, lahir di Ma‟arrah (kota kecil di Syam). Matanya buta karena sakit cacar ketika berusia empat tahun. Dia meninggal di Ma‟arrah pada tahun 449 H.

11. Ibn Ta‟awidzi, ia adalah penyair dan sastrawan Sibth bin at-Ta‟awidzi. Wafat di Baghdad pada tahun 584 H, dan sebelumnya buta selama lima tahun.

12. Abu Fath Kusyajin, ia seorang penyair profesional dan terbilang sebagai pakar sastra. Ia cukup lama menetap

(11)

11

di Mesir dan berhasil mengharumkan negeri itu. Dia wafat pada tahun 330 H.

13. Ibn Khafajah, ia seorang penyair dari Andalus. Ia tidak mengharapkan kemurahan para raja sekalipun mereka menyukai sastra dan para sastrawan. Iawafat pada tahun 533 H.

14. Muslim bin Walid, ia dijuluki dengan Shari‟ al-Ghawani. Ia seorang penyair profesional dari dinasti Abbasiyah. Ia adalah orang yang pertama kali menggantungkan syi‟irnya kepada Badî‟. Dia wafat pada tahun 208 H.

15. Abu „Atahiyah, ia adalah Ishaq bin Ismail bin al-Qasim, lahir di Kufah pada tahun 130 H. Syi‟irnya mudah di pahami, padat dan tidak banyak mengada-ada. Kebanyakan syi‟irnya tentang zuhud dan peribahasa. Dia wafat pada tahun 211 H

16. Ibn Nabih, ia seorang penyair dan penulis dari Mesir. Ia memuji Ayyubiyyin dan menangani sebuah karya sastra berbentuk prosa buat Raja al-Asyraf Musa. Ia pindah ke Mishshibin dan wafat di sana pada tahun 619 H. 17. Basysyar bin Burd, ia seorang penyair masyhur. Para

periwayat menilainya sebagai seorang penyair yang modern lagi indah. Ia penyair dua zaman, Bani Umayah dan Bani Abasiyah. Dia wafat pada tahun 167 H.

18. Al-Nabighah Al-Dzubyani, ia adalah seorang penyair Jahiliyah. Ia dinamai Nabighah karena kejeniusannya dalam bidang syi‟ir. Ia dinilai oleh Abd al-Malik bin Marwan sebagai seorang Arab yang paling mahir bersyi‟ir. Ia adalah penyair khusus Raja Nu‟man Ibn al-Mundzir. Di zaman Jahiliyah, ia mempunyai kemah merah khusus untuknya di pasar tahunan Ukash. Para penyair lain berdatangan kepadanya, lalu mereka

(12)

12

mendendangkan syi‟ir-syi‟irnya untuk ia nilai. Ia wafat sebelum kerasulan Muhammad saw. 19. Abu al-Hasan al-Anbari, ia seorang penyair kondang yang

hidup di Baghdad. Ia wafat pada tahun 328 H. Ia terkenal dengan ratapannya kepada Abu Thahirbin Baqiyah, patih „Izz al-Daulah, ketika ia dihukum mati dan tubuhnya disalib. Maratsinya (ratapannya) itu merupakan maratsi yang paling jarang mengenai orang yang mati disalib. Karena ketinggiannya, Izzud Daulah sendiri memerintahkan agar dia disalib. Dan seandainya ia sendiri yang disalib, lalu dibuatkan maratsi tersebut untuknya.

20. Syarif Ridha15, ia adalah Abu al-Hasan Muhammad yang nasabnya sampai kepada Husain bin Ali RA. Ia seorang yang berwibawa dan menjaga kesucian dirinya. Ia disebut sebagai tokoh syi‟ir Quraisy karena orang yang pintar diantara mereka tidak banyak karyanya, dan orang yang banyak karyanya tidak pintar, sedangkan ia menguasai keduanya. Ia lahir di Baghdad dan wafat disana (359H-406H)

21. Said bin Hasyim al-Khalidi, ia seorang penyair keturunan Abdul Qais. Kekuatan hafalannya sangat mengagumkan. Ia banyak menulis buku-buku sastra dan syi‟ir. Ia wafat pada tahun 400 H

22. Antarah, ia adalah seorang penyair periode pertama. Ibunya berkebangsaan Ethiopia. Ia terkenal berani dan

15 Pengarang kitab talkhish al-bayan fi majazatil-quran, nama lengkapnya Muhammad ibn al-Husain ibn Musa, Abu al-Hasan, ar-Ridlo al-„Alawi Husaini Musawi (Mabahits

(13)

13

menonjol. Ia wafat tujuh tahun sebelum kerasulan Muhammad.

23. Ibnu Syuhaid Andalusi, ia dari keturunan Syahid al-Asyja‟i. Ia seorang pemuka Andalus dalam ilmu sastra. Ia dapat bersyi‟ir dengan indah dan karya tulisnya bagus. Ia wafat di Kordova, tempat kelahirannya pada tahun 426 H.

24. Al-Abyuwardi, ia adalah seorang penyair yang fasîh, ahli riwayat, dan ahli nasab. Karya-karyanya dalam bidang bahasa tiada duanya. Ia wafat di Ishbahan pada tahun 558 H. Abiyuwardi adalah nama kota kecil di Khurasan.

25. Ibnu Sinan al-Kahfaji16 (423 H-466 H/1032 M-1073 M), ia adalah seorang penyair dan sastrawan yang berpendirian syi‟ah. Ia diangkat menjadi wali pada salah satu benteng di Halab oleh Raja Mahmud bin Saleh, tetapi ia memberontak terhadap raja.Akhirnya ia mati diracun

26. Ibnu Nubatah Al-Sa‟di, ia adalah Abu Nashr Abd al-Aziz, seorang penyair ulung yang sangat lihai dalam merangkai dan memilih kata. Ia wafat pada tahun 405 H.

C. Pengertian Balâghah

Balâghah secara etimologi berasal d ari kata dasar

ؾِث

yang memiliki arti sama dengan kata

َصٝ

yaitu “sampai”. Makna ini dapat kita lihat pada firman Allah surah al Ahqaf ayat 15:

16 Pengarang kitab Sirr al-Fashahah, nama lengkapnya „Abdullah ibn Muhammad ibn Sa‟id, ibn Sinan, Abu Muhammad al-Khafaji al-Halabi, ia belajar satra dari Abi al-„Ala‟ (Mabahits

(14)

14        

Sehingga apabila ia telah sampai dewasa dan umurnya sudah sampai empat puluh tahun…

Dalam bahasa keseharian kita juga menemukan ungkapan,

ؾِث

ٕ لاك

ا ٙ ك اوٓ

١

ئ

م

ٝ ا

َص

ئ

ٚ٤ُ

Fulan telah sampai pada tujuanya.

Pada intinya, balâghah mendatangkan makna yang agung dan jelas, dengan ungkapan yang benar dan fasih, memberi bekas yang efisien di lubuk hati, dan sesuai dengan situasi, kondisi dan orang-orang yang diajak bicara.

Secara ilmiah, balaghah merupakan suatu disiplin ilmu yang berlandaskan pada kejernihan jiwa dan ketelitian menangkap keindahan dan kejelasan perbedaan yang samar diantara macam-macam uslub (ungkapan). Kebiasaan mempelajari balaghah merupakan modal pokok dalam membentuk tabiat kesastraan dan menggiatkan kembali beberapa bakat yang terpendam.

Unsur-unsur balaghah adalah kalimat, makna dan susunan kalimat yang memberikan kekuatan, pengaruh dalam jiwa, dan keindahan. Juga kejelian dalam memilih kata-kata dan uslub sesuai dengan tempat bicaranya, waktu, tema, kondisi para pendengar dan emosional yang dapat mempengaruhi dan menguasai mereka. Pada waktu yang lalu para sastrawan tidak

(15)

15

menyenangi penggunaan kata 'aidlan'. Mereka menganggap kata tersebut monopoli para ilmuwan. Oleh karena itu, mereka tidak mau menulisnya dalam syair maupun tulisan prosa mereka.

Suatu hal yang perlu diperhatikan dengan serius oleh seorang ahli balaghah adalah mempertimbangkan beberapa ide yang bergejolak dalam jiwanya. Ide yang dikemukakan itu harus benar, berbobot dan menarik sehingga mempengaruhi sebagai hasil kreasi seseorang yang berwawasan utuh dan bersifat lembut dalam merangkai dan menyusun ide. Setelah hal itu selesai, kemudian memilih kata-kata yang jelas, meyakinkan, dan sesuai. Lalu menyusunnya dengan urutan yang indah dan menarik. Jadi, balaghah itu tidak terletak pada kata per kata, juga tidak pada makna saja, melainkan balaghah adalah efek yang timbul dari keutuhan paduan keduanya dan kompatibilitas susunannya.

Dalam kajian sastra, Balâghah ini menjadi sifat dari kalâm dan mutakallim sehingga lahirlah sebutan

ؾ٤ِث ّلاً

dan

ؾ٤ِث ٌِْزٓ

Menurut Abd al-Qadir Husein (1984) Balâghah dalam kalâm adalah

٠عزؤُ ٚزوثبطٓ

ٖٓ ٍبؽ

غٍٔ

ٚزؽبصك غٓ

dalam arti bahwa kalâm itu sesuai dengan situasi dan kondisi para pendengar.Perubahan situasi dan kondisi para pendengar menuntut perubahan susunan kalâm Situasi dan kondisi yang menuntut kalâm ithnâb tentu berbeda

(16)

16

dengan situasi dan kondisi yang menuntut kalâm îjâz

Berbicara kepada orang cerdas tentu berbeda dengan berbicara kepada orang dungu. Demikian juga dengan tuntutan fashâl

meninggalkan khithâb washâl, tuntutan taqdîm tidak sesuai dengan ta‟khîr dan seterusnya bahwa untuk setiap situasi dan kondisi ada kalâm yang sesuai dengannya (

ٍ بوٓ ّبوٓ ٌَُ

)

Nilai Balâghah setiapkalâm bergantung kepada sejauh mana kalâm itu dapat memenuhi tuntutan situasi dan kondisi, setelah memperhatikan fashâhah-nya.

Kalâm fashîh adalah kalâm yang secara nahwu tidak

dianggap menyalahi aturan yang mengakibatkan dlo‟fut- ta‟lif ( lemah susunan ) dan ta‟qîd (rumit). Dari aspek bahasa terbebas dari gharâbah (asing) dalam kata-katanya. Dan dari aspek sharaf terbebas dari menyalahi qiyâs seperti tidak menggunakan kata

ََِ ْعَلأا

, karenamenurut qiyâs adalah

ََعَلأا

. Sedangkan secara dzauq terbebas dari tanâfur (berat pengucapannya) baik dalam satu kata, seperti kata داَهِيْشَزَُْٓ atau dalam beberapa kata sekalipun satuan kata-katanya tidak tanâfur

D. Aspek-aspek Balâghah

Nilai ketinggian suatu ungkapan (kalâm balîgh) ada pada dua aspek, yaitu :

1. Kalâm balîgh yaitu kalâm yang sesuai dengan tuntutan keadaan serta terdiridari kata-kata yang fasîh contoh:

ٝ ٖ٤ٌُٗٞا ل٤ٍ لٔؾٓ

ِوضُا

٤

ٖ

ةوػ ٖٓ ٖ٤و٣ولُاٝ

ْغػ ٖٓٝ

Muhammad itu junjungan dunia dan akhirat, manusia dan jin serta junjungan dua golongan Arab dan Ajam

(17)

17

Tujuan syi‟ir tersebut, yaitu untuk menerangkan bahwa Muhammad adalahorang mulia.

2 Mutakalim balîgh, yaitu kepiawaian yang ada pada diri seseorang dalam menyusun kata-kata balîgh (indah dan tepat), sesuai dengan keadaan waktu dan tempat.

Kemampuan balâghah yang ada pada seseorang berupa kemampuannya menghadirkan makna yang agung dan jelas dengan ungkapan yang benar-benar fasîh, memberi bekas yang berkesan di lubuk hati, sesuai dengan situasi dankondisi serta sesuai dengan kondisi orang-orang yang diajak bicara.

Secara ilmiah, ilmu Balâghah merupakan suatu disiplin ilmu yang mengarahkan pembelajarnya untuk bisa mengungkapkan ide fikiran dan perasaannya berlandaskan kepada kejernihan jiwa dan ketelitian menangkap keindahan dan kejelasan perbedaan yang sama di antara macam-macam uslub (ungkapan). Dengan kemampuan menguasai konsep-konsep balâghah, bisadiketahui rahasia-rahasia bahasa Arab dan seluk beluknya serta akan terbuka rahasia-rahasia kemukjizatan Alquran dan al-Hadits.

E. Uslub

uslub adalah makna yang terkandung pada kata-kata yang terangkai sedemikian rupa sehingga lebih cepat mencapai sasaran kalimat yang diinginkan dan lebih menyentuh jiwa pendengar. Uslub juga dikenal dengan gaya bahasa.Tiga macam uslub di dalam menyusun kalimat:

1) Uslub Ilmiah: uslub ini adalah uslub yang paling mendasar dan paling banyak membutuhkan logika

(18)

18

yang sehat dan pemikiran yang lurus dan jauh dari khayalan syair.Karena uslub ini berhadapan dengan akal dan berdialog dengan pikiran serta menguraikan hakikat ilmu yang penuh ketersembunyian dan kesamaran. Kelebihan yang paling menonjol dari uslub ini adalah kejelasannya. Dalam uslub ini harus jelas faktor kekuatan dan keindahannya. Kekuatannya terletak pada pancaran kejelasannya dan ketepatan argumentasinya. Sedangkan keindahannya terletak pada fasilitas ungkapannya, kejernihan kebiasaan dalam memilih kata-katanya, dan bagusnya penetapan makna dari berbagai segi kalimat yang cepat dipahami. Untuk uslub ini sebaiknya dihindari pemakaian kata atau kalimat majaz dan badi 'yang dibagus-baguskan kecuali bila tidak diprioritaskan dan tidak sampai menyentuh salah satu prinsip atau kekhasan uslub ini. Biasanya uslub ini digunakan dalam buku-buku berwacana ilmiah, buku kuliah, sekolah dan pendidikan. 2) Uslub Sastra: Dalam uslub jenis ini keindahan

adalah salah satu sifat dan kekhasannya yang paling menonjol. Sumber keindahannya adalah khayalan yang indah, imajinasi yang tajam, persentuhan beberapa titik keserupaan yang jauh di antara beberapa hal dan pemakaian kata benda atau kata kerja yang kongret sebagai pengganti kata

(19)

19

benda atau kata kerja yang abstrak. Secara garis besar uslub ini harus indah, menarik inspirasinya dan jelas serta tegas. Orang-orang yang baru terjun ke dalam dunia sastra banyak yang beranggapan bahwa uslub itu akan semakin baik bila banyak memakai kata-kata majaz, tasybih (penyerupaan) dan jauh imajinasinya. Anggapan ini sangat keliru, sebab hilangnya keindahan uslub ini kebanyakan justru karena dibuat-buat dan diada-adakan dan tidak ada yang merusak keindahannya yang lebih jelek dari pada kesengajaan menyusunnya. Kami yakin bahwa syair berikut ini tidak menarik perhatian kita:

ذوٍٝ ٌعوٗ ٖٓ اُٞإُ دوطٓأك

#

ةب٘ؼُا ٠ِػ ذعػٝ اكهٝ

كوجُابث

( Air matanya yang bagaikan butir-butir mutiara bunga narjis turun membasahi pipinya yang putih kemerah-merahan bagaikan bunga mawar dan jari jemari tangannya yang lentik itu digigitkan ke giginya yang putih bagaikan salju ).

3) Uslub Khithabi: Dalam uslub ini sangat menonjol ketegasan makna dan redaksi, ketegasan argumentasi dan data dan luas wawasan. Dalam uslub ini seorang pembicara dituntut dapat membangkitkan semangat dan mengetuk hati para pendengarnya.Keindahan dan kejelasan uslub ini memiliki peran yang besar dalam mempengaruhi

(20)

20

dan menyentuh hati. Di antara yang memperbesar peran uslub ini adalah status si pembicara dalam pandangan para pendengarnya, penampilannya, keunggulan argumentasinya, volume dan kemerduan suaranya, kebagusan penyampaiannya dan ketepatan sasarannya. Di antara yang menentukan kelebihan uslub ini yang menonjol adalah pengulangan kata atau kalimat tertentu, pemakaian sinonim, pemberian contoh masalah, pemilihan kata-kata yang tegas. Baik sekali uslub ini bila diakhiri dengan pergantian gaya bahasa dari kalimat berita menjadi kalimat tanya, kalimat berita yang menyatakan kekaguman, atau kalimat berita yang menyatakan keingkaran.

F. Balâghah dalam konteks Linguistik Modern Istilah linguistik berasal dari bahasa Latin lingua Dalam bahasa Perancis berpadanan dengan kata langue dan

langage Sedangkan dalam bahasa Italiaberpadanan

dengan kata lingua dan dalam bahasa Spanyol bepadanan dengan kata lengua Secara leksikal kata tersebut bermakna bahasa.

Sedangkan secara terminologis linguistik mempunyai pengertian seperti berikut ini:

1. Menurut kamus pringgodigdo dan Hassan Shadily (1977: 633-634), linguistic adalah penelaahan bahasa secara ilmiah.

(21)

21

2. Chaedar Alwasilah17 mengungkapkan, linguistik adalah ilmu pengetahuan yang mempunyai obyek forma bahasa lisan dan tulisan yang mempunyai ciri-ciri pemerlain.

3. Al-Khully mengungkapkan, linguistik adalah ilmu yang mempelajari bahasa

17

Nama Lengkapnya Prof. Dr. A. Chaedar Alwasilah, M, penulis kreatif, hasil karya penelitian yang publikasikan lima tahun terakhir :

1. Developing Theories of Teaching Academic Indonesian to Non-Language Majors. Indonesian JELT. (2005)

2. Jaminan Mutu Perguruan tinggi. Pikiran Rakyat. (2005) 3. Baca Tulis Masyarakat Madani. Pikiran Rakyat. (2005)

4. Membangun Mesin Reproduksi Pengetahuan. Pikiran Rakyat. (2005)

5. Tujuh Ayat Pembinaan Mahasiswa. Pikiran Rakyat. (2005) 6. Tujuh Ayat Demokarasi Kampus. Pikiran Rakyat. (2005) 7. Mendamba Lahirnya Kritikus Mumpuni. Pikiran Rakyat. (2006) 8. Menaksir Buku Ajar. Pikiran Rakyat. (2005)

9. Dakwah “Bilqalam” Sunda. Pikiran Rakyat. (2006) 10. Redefinisi Profesi Dosen. Pikiran Rakyat. (2006) 11. Bangsa Indonesia Telat Mikir? Pikiran Rakyat. (2005) 12. Kurikulum Berbasis Literasi. Pikiran Rakyat. (2005) 13. Pokoknya Menulis. (2005)

14. Pokoknya budaya Sunda. (2006) 15. Filsafat Bahasa dan Pendidikan. (2008)

16. Jejak Langkah Orang Sunda. (2008)

Pokoknya BHMN: Ayat-ayat Pendidikan Tinggi. (2008) 17. Pengantar Penelitian Linguistik Terapan. Pusat Bahasa

Depdiknas. (2005)

18. TEFLIN Journal Vol. 16 No. 1, Februari (2005)

19. Situational Analysis on Education for International understanding in South-East Asia (Indonesia). APCEIU. (2007) 20. Pendidikan di Indonesia -Masalah dan Solusi-. Kedeputian Bid.

(22)

22

Dalam Bukunya Asâlîb Tadrîs Lughah

al-'Arabiyah, al-Khuli18,mengemukakan tentang cabang-cabang linguistik ('Ilmu al-Lughah) sbb:

1) 'Ilmu al-Lughah al-Nazhari (Linguistik Teoritis), Bidang kajian ilmu inimencakup;

a) Ilmu ashwat (fonetik); Ilmu yang membahas proses terjadinya,penyampaian dan penerimaan bunyi bahasa, seperti fonetik artikulasi (pengucapan bunyi), fonetik akustis (perpindahan bunyi), dan fonetikauditoris (pengurutan bunyi).

b) Ilmu Funimat (fonemik); ilmu ini membahas fungsi-fungsi bunyi dan prosesnya menjadi fonem-fonem, serta pembagiannya yang didasarkan pada penggunaan praktis suatu bahasa.

c) Sejarah Linguistik; ilmu ini membahas perkembangan bahasa dalam bentukwaktunya, serta hal-hal yang terjadi pada rentang waktu tersebut sepertiasimilasi, perubahan-perubahan pengaruhnya terhadap bahasa lain atausebaliknya.

18

Amin al-Khuli adalah salah satu pemikir penting dari Mesir yang dikenal karena usahanya untuk mengenalkan pendekatan baru dalam tafsir Qur'an. Dia dianggap sebagai salah satu tokoh pembaharu, " mujaddid ". Dia juga salah satu murid Muhammad Abduh dan mewarisi gagasan-gagasan pembaharuan yang ia kenalkan selama ini. Salah satu kontribusi penting Amin al-Khuli adalah dalam bidang metode tafsir Qur'an. Dia, antara lain, dikenal karena metode literer ( al-manhaj al-adabi ) dalam penafsiran Qur'an yang kemudian diterapkan oleh sejumlah sarjana seperti A'ishah bint al-Shathi ', istrinya sendiri, dan Muhammad Ahmad Khalafullah yang menulis disertasi tentang kisah -kisah dalam Qur'an yang kemudian dicekal oleh pihak Al-Azhar itu.

(23)

23

d) Ilmu Sharf (Morfologi); ilmu ini membahas tentang morfem danpembagiannya.

e) Ilmu Nahw (Sintaksis); ilmu ini membahas urutan kata-kata pada suatukalimat.

f) Ilmu Ma‟âni (semantik)

2) Ilmu al-Lughah al-Tathbîqî (Linguistik terapan); bidang kajian ini mencakuppengajaran bahasa asing, terjemah, psiko linguistik dan sosiolinguistik.

Dengan melihat penjelasan dari al-Khuli tersebut kita bisa mengetahui bahwa dalam bidang Linguistik ilmu balâghah termasuk pada bidang linguistik teoritik. Posisi ilmu balâghah dalam bidang garapan linguistik dapat kita lihat pada bagan berikut ini

G. Balâghah dan Semantik

Sebelum menguraikan kedudukan ilmu balâghah dan hubungannya dengansemantik secara lebih jelas, perlu

خـُِا ِْػ

خـُِا ِْػ

ٟوظُ٘ا

خـُِا ِْػ

٠و٤جطزُا

لػاٞوُا

خؿلاجُا

ٞؾُ٘ا

فوصُا

(24)

24

diketahui bahwa setiap bahasa mempunyaikesamaan dan perbedaan dengan bahasa lainnya pada beberapa karakteristiknya.Dengan melihat pembagian lingustik dari al-Khuli serta bagan di atas, posisi ilmubalâghah dalam kajian linguistik ini menempati kajian teoretik.

Balâghah merupakan salah satu cabang ilmu bahasa Arab yang menguraikan bentuk-bentuk pengungkapan dilihat dari tujuannya. Sebagian wilayah kajian ilmu ini terkait dengan makna, sehingga selalu bersinggungan dengan semantic .Menurut Prof. Mansoer Pateda19, semantik berarti teori makna atau teori arti. Ilmu ini merupakan cabang sistematik bahasa yang menyelidiki makna atau arti.

Semantik mempunyai objek berupa hubungan antara benda (obyek) dan simbul linguistik, selain itu juga ilmu ini membahas sejarah perubahan makna-makna kata. Semantik sebagai ilmu untuk mengungkapkan makna mempunyai beberapa teori:

1. Conceptual Theory

Teori ini berpendapat bahwa makna adalah mental

image si pembicara dari subyek yang dia bicarakan.

2. Reference atau correspondence theory

Teori ini berpendapat bahwa makna adalah hubungan langsung antara maknadengan symbol-simbol acuannya. 3. Field Theory

19

penyusun kamus Bahasa Gorontalo, sekaligus guru besar di Universitas Negeri Gorontalo (UNG) sepanjang karir akademiknya, menelurkan 30 karya buku yang diterbitkan secara nasional, di antaranya yang terkenal adalah Kamus Bahasa Gorontalo-Indonesia, Suwawa-Indonesia, bahasa Atinggola-Indonesia, Karya terakhirnya adalah terjemahan Al Qur`an dalam bahasa Gorontalo.

(25)

25

Teori ini menafsirkan kaitan makna antara kata atau beberapa kata dalam kesatuan bidang semantic tertentu.

Selain itu pula semantik mengkaji kata dan makna, denotasi dan konotasi, pola struktur leksikal dan tata urut taksonomi. Hal ini selaras dengan bidang garapanilmu balâghah. Pada skema gambar di atas ilmu balâghah adalah bidang kajian qawâ'id (linguistik terotits) yang mengkaji tentang isi atau makna dari kalimat.Terlepas dari kesamaan balâghah dan semantik, ada satu hal yang tidak dibahas semantik dalam ilmunya, yaitu ilmu badî‟. Ilmu ini mempelajari tata cara membaguskan atau memperindah kalimat. Hal ini tidak menjadi objek kajian emantik.

H. Balâghah dalam Alquran

Alquran merupakan firman Allah yang di dalamnya terdapat petunjuk dan hidayah bagi ummat manusia. Kitab ini menggunakan bahasa Arab sebagai bahasa pengantarnya. Selain karena nabi yang membawa kitab ini berbahasa Arab, bahasa Arab juga diakui mempunyai tingkat balâghah yang tinggi, sensitifitas dalam hermeneutiknya, mempunyai ragam gaya bahasa dan mempunyai kosa kata yang sangat kaya.

Alquran mempunyai kemukjizatan yang sangat tinggi, baik pada tataran isi maupun bahasa yang digunakannya. Ketinggian bahasa Alquran dapat kita lihat pada aspek pemilihan fonem, pemilihan kata-kata, pilihan kalimat dan efek yang ditimbulkannya, serta adanya deviasi.

(26)

26

Pada aspek pemilihan fonem-fonem, Zarqani20 berkata, “Yang dimaksud dengan keserasian dalam tata bunyi Alquran adalah keserasian dalam pengaturan harkat (tanda baca yang menimbulkan bunyi a, i dan u), sukun (tanda baca mati), mad (tanda baca yang menimbulkan bunyi panjang), dan ghunnah (nasal) sehingga enak untuk didengar dan diresapkan”.

Adanya keserasian dalam pemilihan fonem-fonem yang dipilih Alquran dapat kita lihat dan kita rasakan ketika mendengar bacaan ayat Alquran yang dibaca dengan baik dan benar. Huruf-hurufnya seolah menyatu, perpindahan dari satu nada ke nada berikutnya sangat bervariasi, sehingga terasa adanya variasi yang menarik. Hal ini muncul sebagai akibat permainan huruf konsonan dan vocal yang dilengkapi dengan pengaturan harakat, sukun, mad , dan ghunnah Untuk contoh ini kita bisa lihat surah al-Kahfi ayat 9-16. Pada akhir ayat-ayat tersebut diakhiri dengan bunyi „a‟ namun diiringi dengan konsonan yang bervariasi, sehingga menimbulkan hembusan suara yang berbeda, yaitu ba, da, ta, dan qa

Keserasian bunyi pada akhir ayat Alquran dapat dikelompokkan kepada tiga kategori, yaitu:

1. Pengulangan bunyi huruf yang sama, seperti pengulangan huruf ra dan ha pada surah Qamar (54:33-41), al-Insan (76:1-13), „Abasa (80:17-23), dan al-Syams (91:11-15).

2. Pengulangan bunyi lapal, seperti pengulangan lapal

al-thâriq, kaidâ, dakkâ,soffâ, ahad , dan „ aqabah pada

20

Abdul Baqi bin Yusuf bin Ahmad Az Zarqoni Al Maliki meniggal tahun 1099

(27)

27

surah al-Thâriq (86:1-2, 15-16), al-Fajr (89:21-22, 25-26), dan al-Balad (90:11-12)

3. Pengulangan bunyi lapal yang berhampiran, seperti pengulangan bunyi tumisat furijat, nusifat, uqqitat,

ujjilat, gharqâ, nasytâ, sabhâ, sabqâ, amrâ, râjifah,râdifah, wâjifah, khâsyi‟ah, hârifah, suyyirat, uttilat, sujjirat,dan zuwwijat pada surah

al-Nâzi‟ât (79:1-5, 6-10), al-Takwîr (81: 3-12). Selain tampaknya keindahan bunyi, pemilihan fonem-fonem tertentu pada ayat Alquran juga memiliki kaitan atau efek terhadap maknanya. Mahmud Ahmad Najlah21 dalam bukunya Lughah Alquran al-Karîm fi Juz „Amma mengkaji huruf sin pada surah al-Nâs terutama pada ayat 5 dan 6. Huruf sin termasuk konsonan frikatif. Konsonan ini diucapkan dengan cara mulut terbuka,namun harus dengan menempelkan gigi atas dengan gigi bawah pada ujung lidah.Huruf ini dipilih dengan tujuan untuk memberi kesan bisikan seperti makna yangterdapat pada kedua ayat tersebut. Dalam sejarah ada seorang yang bernama Musailimah al-Kadzdzâb. Dia mencoba menyusun Alquran tandingan dengan membuat ayat-ayat yang huruf akhirnya mirif. Akan tetapi dia hanya meniru bunyi dan irama Alquran, dia tidak mampu meniru efek bunyi-bunyi tersebut terhadap maknanya

I. Bidang Kajian Balâghah

Ilmu Balâghah merupakan sebuah disiplin ilmu yang berkaitan denganmasalah kalimat, yaitu mengenai maknanya,

21

Mahmud Ahmad Najla adalah seorang Palestina yang lahir dan dibesarkan di pengasingan. Ia telah menjadi seorang aktivis dan ia mendapat gelar Sarjana Sosiologi dari Universitas Birzeit

(28)

28

susunannya, pengaruh jiwaterhadapnya, serta keindahan dan kejelian pemilihan kata yang sesuai dengantuntutan. Untuk sampai pada sasaran tersebut ada tiga sub ilmu yaitu: 1. Ilmu Bayân: suatu ilmu untuk mengungkapkan suatu

makna dengan berbagaiuslub. Ilmu ini objek pembahasannya berupa uslub-uslub yang berbeda untukmengungkapkan suatu ide yang sama. Ilmu Bayân berfungsi untuk mengetahuimacam-macam kaidah pengungkapan, sebagai ilmu seni untuk meneliti setiap uslub dan sebagai alat penjelas rahasia balâghah. Kajiannya mencakup tasybîh, majâz dan kinâyah 2. Ilmu Ma‟âni: Ilmu ini mempelajari bagaimana kita

mengungkapkan suatu ideatau perasaan ke dalam sebuah kalimat yang sesuai dengan tuntutan keadaan.Bidang kajian ilmu ini meliputi: kalâm dan jenis-jenisnya, tujuan-tujuan kalâm, washl dan

fashl, qashr, dzikr dan hadzf, îjâz, musâwâh dan ithnâb

3. Ilmu Badî‟: Ilmu ini membahas tata cara memperindah suatu ungkapan, baikpada aspek lafazh maupun pada aspek makna. Ilmu ini membahas dua bidangutama, yaitu muhassinât lafzhîyyah dan

muhassinât ma‟nawiyyah Muhassinât lafzhîyyah

meliputi: jinâs, iqtibâs, dan saja‟ Sedangkan

Muhassinât ma‟nawiyyah meliputi: tauriyyah, tibâq, muqâbalah, husn ta‟lîl, ta‟kîd Madh bimâ yusybih Dzammm dan uslûb al-hakîm

RANGKUMAN

1) Meningkatnya peran sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan bahasa Arab memunculnya asimilasi dengan budaya-budaya sekitarnya serta tidak dapat

(29)

29

dielakkan adanya kontaminasi terhadap bahasa Arab murni. Kondisi inilah yang mendorong para ulama untuk mengembangkan ilmu-ilmu kebahasaaraban termasuk balâghah;

2) Tokoh pertama yang mengembangkan ilmu bayân adalahAbu Ubaidah, ilmu ma‟âni oleh al-Jâhizh, dan ilmu badî‟ oleh Ibn al-Mu‟taz;

3) Balâghah secara leksikal bermakna sampai. Sedangkan secara terminologis balâghah adalah kesesuaian suatu kalâm dengan situasi dan kondisi disertai kefasihan yang tinggi serta terbebas dari

dha‟fu ta‟lîf dan tidak ta‟qîd maknawiwa al-lafzhi

4) Fasâhah al-balâghah tergantung pada dua aspek, yaitu

balâghahal-kalâm dan balâghah al-mutakallim

5) Dalam linguistik modern balâghahsangat erat kaitannya dengan semantic dan sosio linguistik; 6) Alquran adalah kitab suci yang mempunyai

tingkat balâghah yang tinggi. Salah satu kemukjizatan Alquran adalah pada aspek bahasa;

7) Ilmu balâghah mempunyai tiga bidang kajian, yaitu ilmu bayân, ilmu ma‟âni, dan ilmu badî‟.

LATIHAN

Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan tepat!

1. Jelaskan proses pengembangan peran dan fungsi bahasa Arab dalam kehidupansosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan!

(30)

30

2. Bagaimana implikasi peningkatan peran tersebut bagi kemurnian bahasa Arab? Berikan contoh konkritnya!

3. Jelaskan pengertian balâghah secara leksikal dan terminologis!

4. Apa yang anda ketahui tentang kalâm fashîh dan balîgh 5. Jelaskan secara singkat bahwa Alquran merupakan

kitab suci yang mempunyaikemukjizatan tinggi dalam bahasany

II

Fashâhah dan Balâghah

Sebelum sampai kepada pembahasan bidang-bidang kajian ilmu balâghah terlebih dahulu akan dikemukakan konsep tentang fashâhah dan balâghah kedua istilah ini sangat terkait dan merupakan bagian yang tidak bisa dipisahkan dari ilmu balâghah

A. Definisi Fashāhah

1. Fashāhah Menurut Etimologi

Menurut etimologi fashāhah berarti jelas, terang dan gamblang. Sebagaimana firman Allah swt. dalam al-Qur‟an yang mengisahkan pernyataan nabi Musa tentang nabi Harun:

     

"Dan saudaraku Harun, dia lebih jelas perkataannya dibandingkan aku….” (QS. al-Qashash [28]: 34)

(31)

31

Kata " ُؼَصْكَأ " pada ayat di atas berarti "lebih jelas cara berfikir dan bertutur kata". Makna tersebut juga diungkapkan Rasulullah dalam sabdanya:

ِكبَّعُبِث َنَطَٗ َْٖٓ ُؼَصْكَأ بََٗأ

"Saya orang yang paling fasih (jelas/terang) berbahasa Arab.”

Dalam ungkapan berbahasa Arab, terdapat beragam penggunaan kata fashāhah, di antaranya:

َِِٚٓلاًَ ْ٢ِك ٢ِجَّصُا َؼَص َْ ْف َََأ

Anak itu sudah fasih berbicara. (Jika bicaranya jelas

dan terang).

ُؼْج صُا َؼَصْكَأ

Waktu Shubuh sudah fasih. (Jika cahayanya sudah

terang dan jelas).

ُٕبََُِِّا َؼَصْكَأ

Lidah itu sudah fasih. (Jika ia mampu mengungkapkan

maksudnya secara benar).

2. Fashāhah Menurut Terminologi

Secara terminologi fashāhah berarti lafaz yang jelas, terang maknanya, mudah dipahami dan sering dipergunakan para penyair dan penulis. Ia bernilai indah dan bagus ketika dibaca dan didengar. Standar untuk menilai baik atau buruk, lancar atau tidak lancarnya pengucapan suatu kata adalah adz-dzauq

as-salīm (taste of language) para penyair dan penulis. Hal

itu terbentuk berkat keseringan mendengar, menulis dan merangkai kata-kata.

(32)

32

Dengan menguasai berbagai kecakapan tersebut dapat dibedakan kalimat-kalimat yang memenuhi kriteria-kriteria fashāhah. Oleh karenanya, fashāhah menjadi sifat dari خٌُِٔا (kata), ّلاٌُا (kalimat) dan ٌِْزُٔا (pembicara) adalah menurut dari sisi mana seseorang menilainya.

Fashâhah terbagi pada tiga macam, yaitu

a. Kalimah fashîhah atau Fashāhah al-Kalimah (kata fasih)

Fashāhah al-Kalimah ( خٌُِٔا خؽبصك ) yaitu kata

atau lafaz yang memenuhi unsur-unsur

fashāhah. Agar suatu kata bernilai fashāhah ada

beberapa kriteria yang harus terpenuhi, sebagaimana disebutkan para ulama balaghah, di antaranya harus terhindar dari hal-hal berikut: 1) Tanâfur al-hurûf , yakni kata-kata yang sukar

diucapkan.Contoh :

غقؼُٜا ٠ػور بٜزًور

"aku membiarkannya makan rumput"

Pada ungkapan di atas terdapat kata hu‟hu‟Kata ini terdiri dari dua huruf yaitu ha dan „ain yang dibaca secara berulang-ulang. Kata yang terdiri dari huruf-huruf seperti ini biasanya sulit diucapkan. Kata-kata yang terdiri dari huruf-huruf yang sulit diucapkan dinamakan tanâfurul hurûf

Contoh lain Seperti lafaz: ش ظُِا (tempat

(33)

33

داَهِيْشَزَُْٓ (tinggi kepang rambutnya), dan ح َََنَ٘وَُْ٘ا (suara kodok)22

.

2) Gharâbah yakni suatu ungkapan yang terdiri dari kata-kata yang asing, jarang dipakai, dan tidak diketahui oleh banyak orang.Contoh :

اٞؼوٗوكئ خّ٘ع ٟ م ٠ِػ ٌْئً أٌزً ّ٢ِػ ْر أً أٌر ٌُْ بٓ

Mengapa kalian berkumpul padaku seperti menonton orang gila? pergilah!

Kata yang sulit artinya disini adalah taka'ka'tum dan ifronqi‟û. Kedua kata tersebut dianggap gharabah, karena jarang digunakan sehingga sulit mengartikannya

3) Mukhâlafah al-qiyâs yakni kata-kata yang

menyalahi atau tidak

sesuaidengan kaidah umum sharaf. Contoh,

ْا َُّوْجُ٣ َلاَك ٌَُِبَؽ َُٞٛ ِٟنُّا ُوْٓ َلأ

ُوْٓ َلأْا ََُِ ْؾُ٣ َلاَٝ

َُّوْجُ٣ َُٞٛ ِٟنُّا

Sesuatu yang lentur akan sulit untuk ditegakkan, dan sesuatu yang kerasakan sulit untuk dilenturkan

Pada syi‟ir di atas terdapat dua kata, yaitu „

ٌَُِبَؽ

‟ dan „

ََُِ ْؾُ٣

Shîgah (bentuk) kedua kata tersebut tidak sesuai dengan kaidah-kaidah ilmu Sharf.Jika mengikuti kaidah kedua kata tersebut mestinya „

ٍبَؽ

‟ dan “

ََؾُ٣

Contoh lain:

َِّ ِلِل ُلَْٔؾَُْا

ُْا

ََِِ ْع َََلأا ِّ٢َِِؼ

ِك ْوَلُْا ِلِؽاَُٞا

ٍََِّٝلأْا ِْْ٣ِلَوُْا

22 Dr. Fiti Abd. Al-Qadir Farid, Funun al Balaghah Bain

(34)

34

"Segala puji bagi Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung # Yang Esa, Maha Kekal lagi Maha Permulaan."

susunan kata-kata yang dibentuk tidak mengikuti kaidah-kaidah baku ilmu Sharf pada contoh di atas adalah: ََِ ْعَلأا di mana bentuknya yang baku berdasarkan ilmu sharf adalah ََعَلأا.

Contoh lain adalah kata دبهٞث (terompet), di mana bentuknya yang baku berdasarkan ilmu sharf adalah ماٞثأ sebagaimana disebutkan dalam sebuah syair:

بًلْ٤ٍَ ًِبَُّ٘ا ُطْؼَث ُيَ٣ ِْٕاَك

ٍخَُْٝلُِ

َُّ٘ا ٢ِلَك

َهُٞث ًِب

ٌدب

َُ

َٜ

َٝ ب

ُْٞث َََغ

ٌٍ

"Jika sebagian manusia menjadi pedang negara # maka di antara mereka harus ada terompet dan genderang."

b. Kalâm fashih atau Fashāhah al-Kalām ( kalimat )

Fashāhah al-Kalām (ّلاٌُا خؽبصك) yaitu kalimat yang memenuhi unsur-unsur fashāhah. Hal ini terwujud apabila semua kata-kata yang membentuknya bernilai fashāhah juga. Untuk itu ada beberapa kriteria yang harus terpenuhi, di antaranya adalah harus terhindar dari hal-hal berikut:

1) Susunan kalimatnya tidak tanâfur yakni tidak tersusun dari kata-kata yang berat atau sukar diucapkan. Bisa jadi kata-katanya fasîh akan

(35)

35

tetapi susunannya sulit diucapkan, maka ia termasuk kepada tanafur al-kalimât ,contoh:

ٍة ْوَؽ ُوْجَهَٝ

ٍٕبٌََِٔث

ٌَْ٤َُ ٌوْلَه

َة ْوُه

ٍوْجَه

ٌة ْوَؽ

ٌوْجَه

Adapun kuburan musuh itu di tempat sunyi dan tiada kuburan lain dekat kuburan itu

Susunan kalimat dalam syi'ir di atas dianggap berat mengucapkannya, sebab berkumpul beberapa kata yang hampir bersamaan hurufnya yakni pada kalimat (

ٌوْجَه

ٌة ْوَؽ

ٍوْجَه

َة ْوُه

) terdapat tiga huruf qaf dan empat huruf ra, yang disebut secara berulang ulang23 . Dalam bahasa Jawa kita mengenal kalimat yang susah diucapkan karena faktor pengulangan huruf huruf yang sama, yaitu: laler

menclok nyang lore rel

2) Susunan kalimatnya tidak dha'fu al-ta'lîf yaitu susunan kalimat yang lemah sebab menyalahi kaidah ilmu nahwu atau sharaf, seperti

اًلْ٣َى َُُٚٓلاُؿ َةَوَظ

(seharusnya)

َةَوَظ

َُُٚٓلاُؿ اًلْ٣َى

Kecuali : ََُٚٓلاُؿ ٌلْ٣َى َةَوَظ atau

َةَوَظ

ٌلْ٣َى ََُٚٓلاُؿ

Kalimat ( jumlah) yang terakhir ini dibolehkan karena ada dhamîr munfashil yang kembali ke fa'il

3) Adanya ta‟qîd lafzhy (kerancuan pada kata-kata). Suatu kalimat termasuk kategori ta‟qîd

lafzhy apabila ungkapan kata-katanya tidak

23

Dr. Fiti Abd. Al-Qadir Farid, Funun al Balaghah Bain

(36)

36

menunjukkan tujuannya karena ada cacat dalam susunannya, seperti kata Farazdaq:

ًبٌَِِٓ َّلاِئ ًِ َبُ٘ا ٠ِك ُُِْٚضِٓ بَٓ

#

ُْٞث َأ ٢َؽ ُِِّٚٓأ ُْٞث َأ

ُُٚث ِهبَوُ٣ ُٙ

Susunan kalimat di atas asalnya

بَٓ

ُُِْٚضِٓ

٢َؽ ًِ َبُ٘ا ٠ِك

َّلاِئ ُُٚث ِهبَوُ٣

ُْٞث َأ ًبٌَِِٓ

ُٙ ُْٞث َأ ُِِّٚٓأ

Tiadalah seorangpun yang menyerupainya, kecuali raja yang bapak ibunya itu masih hidup, yaitu bapaknya (Ibrohim) yang menyerupai dia.

Maksudnya tiada di antara manusia yang masih hidup yang menyerupaidia, kecuali raja yang menyerupai bapak ibunya, yaitu Ibrahim.

4 ) Ta‟qîd ma‟nawi, seperti

ا ُْٞثُوْوزُِ ٌَُْْْ٘ػ هِاَّلُا َلْؼُث ُتُِْغَأٍَ

َ١بَْ٘٤َػ ُتٌََُْرَٝ

َع ُْٞٓ لُا اَلََّٔغَزُِ

Aku mencari tempat yang jauh dari kamu sekalian, agar kamu kelak menjadi dekat

denganku dan supaya kedua mataku

mengucurkan air mata,kemudian supaya menjadi keras

Maksudnya, sekarang aku lebih suka berpisah jauh denganmu untuksementara waktu meskipun sampai mengucurkan air mata karena prihatin.Untuk mengambil makna dari syi‟ir di atas sangat sulit, sehingga dinamakan

ta‟qîd maknawi

c. Fashāhah al-Mutakallim ( Pembicara )

Fashāhah al-Mutakallim ( ٌِْزُٔا خؽبصك ), yaitu malākah (kecakapan) seseorang dalam hal

(37)

37

fashīh dalam semua situasi dan kondisi, baik

ketika senang, sedih, kecewa, marah maupun kondisi lainnya. Semua bentuk perasaan itu mampu diungkapkan dengan kata-kata. Atau pembicara yang mampu merangkai kata-kata sehingga terbentuk ungkapan yang fashīh ketika menulis atau berbicara dengan orang lain.

B. Definisi Balāghah

1. Balāghah Menurut Etimologi

Menurut etimologi balāghah berarti ٍُ ُْٞصُُْٞا

(sampai) dan ُءبََٜزْٗلاا (berakhir). Dalam ungkapan

bahasa Arab disebutkan bahwa: َٙكاَوُٓ ٌٕلاُك َؾََِث

(Fulan sudah sampai keinginannya). Contoh lain:

خَْ٘٣ِلَُْٔا ُتًَُِْٞٔا َؾََِث (Rombongan itu sudah berakhir di

Madinah sebagai tempat tujuannya).

2. Balāghah Menurut Terminologi

Balāghah menurut terminologi yaitu kesesuaian

antara konteks pembicaraan dengan situasi dan kondisi audien (lawan bicara) disertai penggunaan bahasa yang fashāhah.

Balagah menjadi sifat dari ٌِْزُٔا (pembicara) dan ّلاٌُا (kalimat). Sementara خٌُِٔا (kata) tidak bisa disifati dengan balagah karena ia hanya terdiri dari hurup-hurup yang tidak bisa dipahami maknanya. Di samping itu ia sendiri tidak mampu menyampaikan si pembicara kepada suatu maksud dan tujuan.

C. Unsur-unsur Balāghah

Dalam balaghah ada 2 unsur prinsipil yang harus diperhatikan:

(38)

38

1) Situasi dan kondisi ketika berbicara dengan orang

lain

Dalam bahasa Arab dinamakan ّبؤُا/ٍبؾُا yaitu keadaan yang menuntut pembicara mengungkapkan kata-katanya dengan uslūb (gaya bahasa) tertentu. 2) Bentuk tertentu yang dipergunakan dalam suatu

pengungkapan bahasa

Dalam bahasa Arab dinamakan ٠َعَزْؤُُا seperti uslūb

ithnāb (yaitu penggunaan kalimat yang panjang

tetapi maksudnya sedikit) dan biasa digunakan untuk pujian. Tetapi kalau audien (lawan bicara) adalah seorang yang cerdas, maka cukup menggunakan

uslūb ījāz (yaitu penggunaan kalimat yang ringkas

tetapi maksudnya sarat dan padat). Jadi memuji dan orang yang cerdas adalah ّبؤُاٝ ٍبؾُا (situasi dan kondisi), adapun ithnāb dan ījāz adalah ٠عزؤُا (tuntutan).

Mengungkapkan perkataan dalam bentuk ithnāb dan

ījāz adalah ٠عزؤُِ خوثبطٓ. Ringkasnya keadaan yang

menyebabkan pembicara menyampaikan perkataannya dengan bentuk tertentu dinamakan ٍبؾُا atau ّبؤُا. Adapun penyampaian perkataan sesuai dengan tuntutan dan kedaaan tertentu dinamakan ٠عزؤُا. Jadi, balāghah bukan menyampaikan kata-kata yang bermakna indah atau hanya memilih lafaz-lafaz yang jelas dan terang tetapi ia harus memperhatikan penggunaan kedua unsur tersebut yaitu lafaz dan makna secara bersamaan.

(39)

39

Terdapat perbedaan antara fashāhah ( خؽبصلُا ) dengan balāghah ( خؿلاجُا ), di antaranya dalam hal berikut:

1) Obyek kajian fashāhah khusus berkaitan dengan lafaz. Adapun balāghah obyek kajiannya di samping berkaitan dengan lafaz juga berkaitan dengan makna.

2) Fashāhah adalah sifat dari خٌُِٔا (kata), ّلاٌُا (kalimat) dan ٌِْزُٔا (pembicara). Adapun balāghah adalah sifat dari ّلاٌُا (kalimat) dan ٌِْزُٔا (pembicara).

3) Salah satu syarat suatu ungkapan bernilai balagah adalah ّلاٌُا (kalimat) yang gunakan untuk mengungkapkannya harus memenuhi kriteria

fashāhah sehingga muncul kaidah:

بًـْ٤َِِث ٍؼْ٤ِصَك ًَُ ٌَْ٤ََُٝ ،ٌؼْ٤ِصَك ٍؾْ٤ِث ٍّ َلاًَ ًَُ

.

"Semua kalimat yang bernilai balāghah itu pasti memenuhi unsur fashāhah, tetapi tidak semua kalimat yang bernilai fashāhah itu memenuhi unsur balāghah."

III

ILMU MA’ÂNI TUJUAN

Setelah mengikuti proses pembelajaran ini diharapkan peserta didik mengetahui: 1) Pengertian ma‟âni; 2) Objek kajian ilmu ma‟âni; dan 3) Manfaat mempelajariilmu ma‟âni.

(40)

40 A. Pengertian

Kata (

٠ِٗبَؼَٓ

) merupakan bentuk jamak dari (٠َْ٘ؼَٓ). Secara leksikal katatersebut berati maksud, arti atau makna. Para ahli ilmu Bayân mendefinisikannyasebagai pengungkapan melalui ucapan tentang sesuatu yang ada dalam pikiranatau disebut juga sebagai gambaran dari pikiran

Sedangkan menurut istilah: Ilmu Ma‟âni adalah ilmu untuk mengetahuihal-ihwal lafazh bahasa Arab yang sesuai dengan tuntutan situasi dan kondisi

ِْػ

فوؼ٣

ٚث

ٍاٞؽأ

علُِا

٢ثوؼُا

٠زُا

بٜث

نثبط٣

ٍبؾُا ٠عزوٓ

Yaitu ilmu yang mempelajari kesesuaian antara konteks pembicaraan dengan situasi dan kondisi sehingga maksud dan tujuan bisa tersampaikan secara jelas dan gamblang.

Yang dimaksud dengan hal ihwal lafazh bahasa Arab adalah model-model susunan kalimat dalam bahasa Arab, seperti penggunaan taqdîm atau ta‟khîr, penggunaan ma‟rifat atau nakirah, disebut (dzikr ) atau dibuang (hadzf ),dan sebagainya. Sedangkan yang dimaksud dengan situasi dan kondisi adalah situasi dan kondisi

mukhâthab, seperti keadaan kosong dari informasi itu,

atauragu-ragu, atau malah mengingkari informasi tersebut. Ilmu ma‟âni pertama kalidikembangkan oleh Abd al-Qâhir al-Jurzâni.

Objek kajian ilmu bayân adalah kalimat-kalimat berbahasa Arab.Ditemukannya ilmu ini bertujuan untuk mengungkap kemukjizatan Alquran,hadits dan rahasia-rahasia kefasihan kalimat-kalimat bahasa Arab, baik puisimaupun prosa. Dengan melalui ilmu ini kita bisa

(41)

41

membedakan kalimat-kalimat yang sesuai dengan situasi dan kondisinya mengetahui kalimat-kalimat yang tersusun rapi, dan dapat membedakan antara kalimat yang baik dan jelek.

Berdasarkan keterangan di atas, dalam ilmu

Ma„ānī terdapat dua unsur yang perlu diperhatikan,

yaitu kondisi audien (pendengar) dan obyek (topik pembicaraan).

1. Kondisi Audien (pendengar)

Pembicaraan harus disesuaikan dengan kapasitas intelektual audien. Bahasa yang digunakan ketika berbicara dengan orang yang tingkat intelektualnya tinggi, tentu berbeda dengan orang yang tingkat intelektualnya rendah. Misalnya penggunaan cara berbahasa dengan seorang mahasiswa di perguruan tinggi berbeda dengan seorang murid Sekolah Dasar atau orang yang pernah mengenyam pendidikan dengan orang yang tidak pernah mengenyam pendidikan.

Kalau berbicara dengan orang terdidik kita cukup menggunakan kalimat yang singkat dan padat bukan bertele-tele. Dengan cara itu mereka sudah bisa memahami dan menangkap maksud dan tujuan sang pembicara, tetapi sebaliknya kalau kita berbicara di hadapan orang yang tidak terdidik maka dibutuhkan penggunaan kata-kata yang panjang dan bertele-tele sekalipun maksud dan tujuan yang ingin disampaikan hanya sedikit.

(42)

42

Obyek pembicaraan memegang peranan penting dan substansial dalam ilmu ma‟ani. Obyek pembicaraan juga harus disesuaikan dengan kadar intelektual audien. Karena ada obyek pembicaraan yang bisa dijangkau oleh audien dan sebaliknya ada obyek-obyek pembicaraan yang tidak bisa terjangkau oleh akal dan kadar keilmuannya. Kemampuan menganalisa dan problem solving (memecahkan masalah) tentu tidak akan mampu dilakukan oleh anak-anak yang masih belajar di bangku sekolah tingkat dasar.

B. Objek Kajian Ilmu Ma’âni

Sebagaimana didefinisikan oleh para ulama balâghah bahwa ilmu ma‟ân bertujuan membantu agar seseorang dapat berbicara sesuai dengan muqtadhal hal.Agar seseorang dapat berbicara sesuai dengan muqtadhahl hal maka ia harusmengetahui bentuk-bentuk kalimat dalam bahasa Arab. Kapan seseorang harusmengungkapkan dalam bentuk taqdîm ta‟khîr,

washl, fashl, dzikr, hadzf , dan bentuk-bentuk lainnya.

Objek kajian ilmu ma‟âni hampir sama dengan ilmu nahwu. Kaidah-kaidah yang berlaku dan digunakan dalam ilmu nahwu berlaku dan digunakanpula dalam ilmu ma‟âni. Dalam ilmu nahwu dibahas masalah taqdîm dan ta‟khîr, hadzf, dan dzikr. Hal-hal tersebut juga merupakan objek kajian dari ilmu ma‟âni. Perbedaan antara keduanya terletak pada wilayahnya. Ilmu nahwu lebih bersifat mufrad (berdiri sendiri), tanpa terpengaruh oleh faktor lain seperti keadaan kalimat-kalimat di sekitarnya. Sedangkan ilmu ma‟âni lebih bersifat tarkîbi (tergantung kepada factor lain). Hasan

(43)

43

Tamam menjelaskan bahwa tugas ahli nahwu hanya sebatas mengotak-ngatik kalimat dalam suatu jumlah, tidaksampai melangkah kepada jumlah yang lain.

Kajian dalam ilmu ma‟âni adalah keadaan kalimat dan bagiannya. Kajian yang membahas bagian-bagian berupa msunad-musnad ilaih dan fi‟il

muta‟allaq. Sedangkan objek kajian dalam bentuk jumlah meliputi fashl,washl, îjâz ithnâb, dan musâwat .Secara keseluruhan ilmu ma‟âni mencakup

ada delapan macam, yaitu

1.

١وجقُا

كبٍ٘لا

ا

ٍاٞؽأ

2. ٚ٤ُئ لَُ٘ٔا ٍاٞؽأ

3. لَُ٘ٔا ٍاٞؽأ

4. َؼلُا دبوِؼزٓ ٍاٞؽأ

5. وصوُا

6. ءبشٗلاا

7. َصُٞاٝ َصلُا

8. حاٝبَُٔاٝ ةب٘غلااٝ ىبغ٣لاا

Kalimat dalam bahasa Arab disebut al-jumlah. Dalam kaca mata ilmu nahwu dan dari sisi tarkib (struktur), al-jumlah itu terdiri dari dua macam, yaitu

jumlah ismiyah (kalimat nominal) dan jumlah fi‟liyah

(kalimat verbal). Dilihat dari segi fungsinya, al-jumlah itu banyak sekali ragamnya.

1. jumlah ismiyah (kalimat nominal)

Pengertian jumlah ismiyyah menurut para pakar nahwu adalah sbb:

٢ٛٝ وجفٝ ألزجٓ ٖٓ ذجًور بٓ ٢ٛ خ٤ٍٔلاا خِٔغُا

ٕٝلث ٙو٤ـث ٌ٤ُ ئشُ ئش دٞجص بٜؼظٝ َصأث ل٤لر

لاك خًوؾزٓ ضهلاا ٞؾٗ هاؤزٍئ لاٝ كلغزُ وظٗ

(44)

44

ٕٝلث ضه لاُ خًوؾُا دٞجص ٍٟٞ بٜ٘ٓ كبلزَ٣

وظٗ

ٚصٝلؽ لاٝ يُم كلغزُ

Jumlah ismiyyah adalah suatu jumlah (kalimat) yang terdiri dari mubtada dan khabar. Dari segi fungsinya jumlah ismiyyah hanya menetapkan sesuatu hukum pada sesuat, tidak yang lainnya Jumlah ini tidak berfungsi untuk tajaddud dan istimrâr. contoh (خًوؾزٓ ضهلاا). Dari contoh ini tidak difahami selain menetapkan hukum gerak bagi bumi tanpa melihat kapan pergerakan itu terjadi

Jumlah ismiyyah adalah suatu jumlah yang

tersusun dari mubtada‟ dan khabar. Jumlah

ismiyah menurut asalnya digunakan untuk

menetapkan sesuatu terhadap sesuatu tanpa memperdulikan kontinuitas dan pembaharuan. Hal itu, apabila khabar-nya terdiri dari ism fa‟il atau ism maf‟ul, seperti ungkapan:

خلِزقٓ بٜػاٞٗأٝ

Sifat mukhtalifah adalah sifat yang melekat pada anwa‟uha, maka dengan jumlah itu ditujukan untuk menetapkan sifat mukhtalifah kepada anwa‟uha tanpa pembatasan waktu (lampau, sedang atau akan).

Lain halnya jika khabar -nya terdiri dari fi‟il, seperti:

ذلِزفئ بٜػاٞٗأٝ

Kata ikhtalafat adalah fi‟il al-Madhi, maka ungkapan di atas mengandung arti:Macam macamnya telah berbeda (waktu lampau).Pada

Referensi

Dokumen terkait