• Tidak ada hasil yang ditemukan

I. Uraian Materi Musik Tradisional

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "I. Uraian Materi Musik Tradisional"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

I. Uraian Materi Musik Tradisional

1. Musik

Menelaah tentang musik sangat universal, menurut Soedarsono sepanjang sejarah banyak penyair, filsuf, penulis maupun musikus yang telah berupaya mendefinisikannya. Ada yang menganggap musik sebagai “bahasa dewa”, ada pula yang mengatakan bahwa “musik dimulai di saat ujaran berakhir”. Seni musik adalah ungkapan rasa indah manusia dalam bentuk suatu konsep pemikiran yang bulat dalam wujud nada-nada atau bunyi yang lainnya yang mengandung ritme dan harmoni, serta mempunyai bentuk dalam ruang dan waktu, yang dikenal oleh diri sendiri atau manusia lain dalam lingkungan hidupnya sehingga dapat di mengerti dan dinikmati.

David Ewen mencatat sebuah definisi tentang musik yang dibuat oleh penysun kamus sebagai “Ilmu pengetahuan dan seni tentang kombinasi ritmik dari nada-nada, baik vocal maupun instrumental, yang meliputi melodi dan harmoni sebagai ekspresi dari segala sesuatu yang ingin diungkapkan terutama aspek emosional. (Soedarsono, 1992 : 13)

Schopenhuer filsuf Jerman dalam Soedarsono pada abad ke-19 mengatakan dengan singkat bahwa “Musik adalah melodi yang syairnya adalah alam semesta”. Sementara Dello Joio komponis dari Amerika keluaran Julliard School di New York bahwa musik dapat memperluas pengetahuan dan pandangan, pengenalan terhadap musik akan menumbuhkan rasa penghargaan akan nilai seni, selain menyadari akan dimensi lain dari suatu kenyataan yang selama ini tersembunyi. (Soedarsono, 1992 : 13)

2. Tradisi

Tradisi dari kata latin Traditif yang artinya menyerahkan meneruskan turun menurun. Tradisi menurut Baldick dalam Piliang adalah gaya yang berkelanjutan, berulang-ulang dan diterima tanpa kritik. (Yasraf Amir Piliang, 2002).

Menurut Heesterman tradisi tidak absolute tetapi harus situasional. Tradisi harus imanen (subjektif) dalam situasi, actual, agar supaya serasi dengan

(2)

realitas yang berubah dan sekaligus harus transeden objektif sehingga bisa memenuhi fungsinya, member legitimasi (Lakson, 2013).

Heesterman melihat tradisi dari segi arti dan fungsinya. Tradisi sebagai suatu dinamika dalam struktur masyarakat dapat diartikan tradisi sebagai nilai-nilai kontinu dari masa lalu yang dipertentangkan dengan modernitas.

Modernitas adalah kondisi sosial budaya masyarakat modern, perubahan paradigm dengan jalan pintas dari bentuk lama ke bentuk baru (mengambil posisi yang berlawanan).

Modernisasi adalah kondisi modernitas yang digerakKan oleh semangat rasionalitas instrumental modern. Modernisasi mencakup proses pengucilan karya-karya klasik atau warisan masa lampau.

Modernisme adalah paradigma kebudayaan khususnya seni yang mengacu pada gaya sebagai perlawanan terhadap seni abad pertengahan. Modernisme cenderung mensubordinasikan yang tradisional (MA. Hidayat dalam Sri Hermawati 2015). Oleh karenanya terbagi dua yang disebut konservatif dan radikal. Modernism konservatif manakala justru menyelamatkan yang lama dari kehancuran. Modernism radikal manakala mengambil bentuk pengingkaran bahkan penghapusan yang tradisional

3. Tradisional

Seni Musik Tradisional adalah salah satu macam dari seni musik yang secara turun temurun dan melekat sebagai sarana hiburan di kalangan masyarakat tertentu. Ketika berbicara tentang seni musik tradisional maka kita tidak hanya berbicara tentang musik tradisional Indonesia, karena setiap daerah di suatu negara memiliki ciri khas atau musik tradisional masing-masing yang berkembang karena pengaruh kehidupan di masa lalu atau lain sebagainya.

Pada umumnya, seni musik tradisional disusun atau dibuat berdasarkan gaya, tradisi serta bahasa yang sesuai dengan daerahnya. Untuk itu tidak sulit mengenali dari mana sebuah seni musik tradisional berasal. Misalkan ketika kita mendengar lantunan musik ‘Bubuy Bulan’ maka secara naluriah kita bisa mengenali bahwa musik tersebut berasal dari tanah sunda karena dilantukan

(3)

dengan bahasa sunda, serta memiliki ciri khas sunda yang sangat kental. (https://ilmuseni.com/seni-pertunjukan/seni-musik/seni-musik-tradisional tgl 25 maret 2018).

4. Kerakter Musik Tradisional

Musik daerah setempat memiliki karakter yang hampir sama dengan lagu daerah, yaitu sederhana, kedaerahan, turun-temurun, dan jarang diketahui penciptanya. Ada beberapa hal dalam karakter musik tradisional nusantara yaitu: Berlaras Pentatonik

a. Sederhana

Kesederhanaan musik dapat dilihat dari bentuk, bahan alat musik, dan cara memainkan. Bentuk alat musik daerah setempat memiliki keunikan tersendiri sesuai dengan kondisi geografis setempat. Pemilihan bahan untuk membuat alat musik juga sederhana, seperti daun, bambu, kayu, dan kerang.

Berdasarkan peranannya, biasanya musik daerah setempat terdiri atas alat musik melodis dan alat musik ritmis.

b. Kedaerahan

Alat musik beraneka ragam karena kondisi geografis yang berbeda-beda. Contohnya, alat musik petik masyarakat Jawa berbeda dengan alat musik petik masyarakat Kalimantan, Sunda, maupun daerah Sumatera. Gendang daerah Papua berbeda dengan gendang daerah Batak, Jawa, maupun Bali. Di Sunda Jawa Barat disebut Kendang

c. Turun-temurun

Musik daerah setempat sudah ada sejak masyarakat itu ada. Jadi, musik daerah setempat bersifat turun-temurun. Biasanya musik daerah setempat terikat oleh bentuk atau pola tertentu yang sudah ada sejak zaman leluhur mereka.

(4)

d. Jarang Diketahui Penciptanya

Musik daerah setempat bersifat turun-temurun, tidak tertulis, dan tidak diketahui penciptanya secara pasti. Musik daerah setempat adalah musik yang lahir dari budaya daerah setempat. Ciri yang menonjol dari musik daerah setempat adalah alat musik ataupun lagunya bersifat sederhana dan kedaerahan.

e. Makna Simbol

Pada dasarnya semua karya seni, termasuk karya musik tradisional dapat diekspresikan menggunakan bahasa simbol. Pengertian simbol di dalam seni, termasuk seni musik dapat dipahami sebagai benda, bentuk, unsur seni yang mengandung nilai atau makna yang terkandung di dalamnya. Semua yang nampak, semua yang terucap dan semua yang terdengar lewat bunyi atau nada adalah simbol yang dapat dinikmati oleh pendengar atau penonton. Efektivitas penggunaan jenis-jenis sarana simbolis dalam mengkomunikasikan gagasan sangat bergantung pada pengetahuan dan kemampuan teknik para pemain musik.

f. Titilaras Pentatonik (Musik Indonesia Asli)

Titilaras dalam seni musik biasanya sering disebut notasi, yakni lambang-Lambang untuk menunjukkan tinggi rendah suatu nada berupa angka atau Lambang lainnya. Dalam seni musik Karawitan, titilaras memegang peranan yang penting dan praktis, sebab dengan menggunakan titilaras kita dapat mencatat, mempelajari dan menyimpannya untuk dapat dipelajari dari generasi ke generasi.

Laras pentatonik yaitu susunan nadanya tidak hanya mempunyai jarak 1 dan ½. Titilaras yang ada antara lain:

1. Pentatonik Jawa

Titilaras kepatihan, dibuat tahun 1910 oleh Kanjeng R.M. Haryo Wreksadiningrat di Kraton Surakarta.

(5)

Titilaras berjudul angka 1 2 3 4 5 6 7 1 sebagai pengganti nama belahan gamelan agar lebih mudah dicatat dan dipelajari namun dibacanya ji ro lu pat ma nem pi ji (Supanggah, 2002).

Notasi Pentatonik (Sri Hermawati, 2008)

Sistem notasi yang dipakai dalam gamelan Jawa adalah notasi pentatonik yaitu hanya menggunakan 5 buah nada. Notasinya disebut notasi kepatihan yang diciptakan oleh Raden Ngabehi Jaya Sudirga atau Wreksa Diningrat sekitar tahun 1910. Karena notasi angka ditulis di kepatihan maka notasi tersebut diberi nama notasi angka kepatihan.

Sebelum muncul notasi angka Demang Kartini telah menciptakan notasi rante, karena dia tidak bisa menabuh gamelan maka diserahkan pada Sudiradraka (Guna Sentika) lalu oleh Sudiradraka diserahkan ke Kepatihan yaitu kepada Sasradiningrat IV, kemudian diserahkan kepada adiknya Wreksodiningrat. Kemudian Wreksodiningrat punya ide yaitu memberi angka pada bilah saron karena untuk pembelajaran menabuh gamelan dan memindahkan notasi rante agar mudah dibaca pada tahun 1890.

Macam-macam nada dalam Notasi Kepahitan adalah sebagai berikut: Penanggul yaitu nada 1 : siji dibaca ji

Gulu yaitu nada 2 : loro dibaca ro Dhada yaitu nada 3 : telu dibaca lu Pelog yaitu nada 4 : papat dibaca pat Lima yaitu nada 5 : lima dibaca mo Nem yaitu nada 6 : enem dibaca nem Barang yaitu nada 7 : pitu dibaca pi

(6)

Sumber: Demang Kartini, cuplikan melodi Lagu Ladiang Wilujeng Bagian Umpak

2. Pentatonik Sunda

Nada mutlak dalam Karawitan Sunda:

Barang tugu-Loloran-Panelu-Galimer/ Bem-Singgul

Nada relatif dalam Karawitan Sunda Da la ti na mi da

1 5 4 3 2 1

Laras adalah jumlah nada dan jarak nada tertentu Laras Sunda terbagi:  Laras Salendro (setiap nada berjarak sama 240°C)

 Laras Degung (nada-nada berjarak tidak sama)

 Laras Madenda: Adalah laras pengembangan Salendro yang jarak nadanya berbeda dan berkesan minor

 Laras Mataraman: Adalah laras pengembangan Degung yang jarak nadanya tidak sama dan nada dasarnya dapat berubah dan berkesan mayor

 Laras Wijaya: Adalah laras pengembangan Madenda tetapi berbeda nada dasar dan berkesan minor

(7)

- Pelog Jawa 1 . 3 4 5 . 7 1 - Pelog Sorog 1 . 3 4 . 6 7 1 - Pelog Liwung 1 2 . 4 . 5 7 1

- Pentatonis laras Salendro yang dari diatonis 1 3 4 5 6 1 (Sri Hermawati, 2008)

3. Titi Laras Bali

Notasi musik Bali menggunakan notasi: dong - deng - dung - dang – ding

ding - dong - deng - dung - dang

1 2 3 5 6 (I Made Bandem, 1983)

4. Titi Laras Sumatera Barat

Talempong Deret (Sumber: Buku Gong, 2007)

Talempong yang dimainkan sambil berdiri Talempong berjumlah 6 ada yang 1 susun dan 2 susun Notasi Talempong Pacik

Satu pertunjukan musik Talempong terdiri dari 3 Talempong yang mempunyai perbedaan dari ketinggian nada dan sebagai melodi atau variasi, yakni: Talempong jantan Talempong betina Talempong Panyaua (peningkah)

(8)

Seni musik tradisional Indonesia ada yang asli Indonesia, ada hasil akulturasi dan ada seni hybrid.

Ethnomusikolog mengatakan ada budaya asli sedangkan arkeolog mengatakan tidak ada budaya yang asli (Faucault, 1969) mengatakan, dari bukti-bukti seperti daun lontar, relief, artefak, kita dapat mengetahui asal-usul kebudayaan, contoh kebudayaan asli, yakni Gamelan Jawa, Sunda Degung dan Gambelan Bali.

Akulturasi yakni unsur-unsur kebudayaan asing yang mempengaruhi kebudayaan setempat, seperti gambang kromong yang mendapat pengaruh dari budaya Cina. Hybrid adalah perpaduan dua genre musik yang berpijak dari unsur asing dan mencari bentuk khasnya sendiri, dapat dijelaskan seperti Keroncong Asli. Keroncong Asli adalah komposisi musik timur namun dimainkan pada instrumen tradisi dan instrumen modern milik barat.

Referensi

Dokumen terkait

Kesimpulan dari penelitian ini adalah pembelajaran seni tari tradisonal dengan menggunakan iringan musik belum mencapai hasil yang maksimal.. Kata Kunci : Seni

Dari pengertian diatas maka musik dapat diartikan sebagai suatu seni dalam mengungkapkan nada yang disusun secara terorganisir sehingga menghasilkan suatu komposisi suara,

tersebut, sehingga menghasilkan gaung pada ruangan instrumen. Harmoni adalah bunyi nyanyian atau permainan musik yang menggunakan.. dua nada atau lebih yang berbeda tinggi

Penelitian ini memfokuskan pada hubungan antara perhitungan matematika yang menghasilkan bunyi musik dan penerapannya dalam pembuatan aransemen harmoni dua suara

Sedangkan sebagai sebuah karya seni, musik gerejawi memiliki arti sebagai sebuah nada dalam bentuk vocal (suara manusia), atau juga bunyi dari sebuah instrument

Selanjutnya, kombinasi yang baik antara irama dan melodi melahirkan bunyi yang harmoni. Musik termasuk seni manusia yang paling tua. Bahkan bisa dikatakan, tidak

Dari beberapa pengertian diatas mengenai musik, maka dapat disimpulkan bahwa musik merupakan suatu seni yang tercipta dari pemikiran manusia tentang nada atau suara yang disusun