• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Ayam Pedaging (Broiler)

Ayam pedaging (broiler) merupakan salah satu komoditi unggas yang memberikan kontribusi terbesar dalam memenuhi kebutuhan protein asal hewani bagi masyarakat Indonesia. Kebutuhan daging ayam setiap tahunnya mengalami peningkatan, karena selain harganya yang bisa dijangkau oleh semua kalangan juga terdapat protein yang sangat tinggi dari ayam pedaging tersebut. Ayam pedaging (broiler) adalah jenis ternak unggas yang memiliki laju pertumbuhan sangat cepat, karena dapat dipanen pada umur 5 minggu. Keunggulan ayam pedaging (broiler) didukung oleh sifat genetik dan keadaan lingkungan yang meliputi makanan, temperatur lingkungan, dan pemeliharaan (Umam dkk.,2015). Produksi ayam petelur (broiler) merupakan komponen utama kebutuhan global akan sumber protein yang terjangkau (Tickle et al., 2018).

Ayam pedaging (broiler) merupakan jenis ternak yang banyak dikembangkan sebagai sumber pemenuhan kebutuhan protein hewani. Ayam pedaging (broiler) merupakan ternak ayam yang paling cepat pertumbuhannya, hal ini karena ayam pedaging merupakan hasil budidaya yang menggunakan teknologi maju, sehingga memiliki sifat – sifat ekonomi yang menguntugkan. Ayam pedaging (broiler) adalah istilah untuk menyebut strain ayam hasil budidaya teknologi yang memiliki karakteristik ekonomis, dengan ciri khas pertumbuhan cepat sebagai penghasil daging, konversi

(2)

pakan irit, siap dipotong pada usia yang relatif muda, serta menghasilkan daging berkualitas serat lunak (Praktikno, 2010).

Menurut Rasyaf (2006) ayam pedaging adalah ayam jantan dan ayam betina muda yang berumur dibawah 6 minggu ketika dijual dengan bobot badan tertentu, mempuyai pertumbuhan yang cepat, serta dada yang lebar dengan timbunan daging yang banyak. Banyak strain ayam pedaging yang dipelihara di Indonesia. Strain merupakan kelompok ayam yang dihasilkan oleh perusahaan pembibitan melalui proses pemuliabiakan untuk tujuan ekonomis tertentu (Suprijatna et al.,2005).

Daging ayam yang dikonsumsi masyarakat diperoleh dari pemotongan ayam pedaging (broiler), petelur afkir, dan ayam kampung yang didistribusikan melalui tata niaga mulai dari produsen karkas ayam sampai pengecer. Daging ayam mempunyai ciri – ciri khusus antara lain berwarna keputih – putihan atau merah pucat, mempunyai serat daging yang halus dan panjang, diantara serat daging tidak ada lemak. Lemak daging ayam terdapat dibawah kulit dan berwarna kekuning – kuningan (Rosyidi dkk.,2009).

Produksi ayam pedaging telah tumbuh secara dramatis dalam dua dekade terakhir dan sebagian besar peningkatan ini tergantung pada berbagai program penelitian dan pemuliaan yang selanjutnya meningkatkan pemanfaatan pakan dan tingkat pertumbuhan ayam. Untuk mencapai produksi yang optimal, sejumlah aditif pakan seperti antibiotik, steroid, vitamin, mineral, dan promotor pertumbuhan lainnya telah digunakan untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan ayam pedaging. Saat ini manusia sangat

(3)

sadar akan kesehatan dan kualitas pakan mereka. Permintaan akan kualitas ayam pedaging tanpa antibiotik, bahan kimia, dan promotor pertumbuhan sekarang menjadi perhatian besar di dunia (Zuhra et al.,2018).

2.2 Jamu Herbal

Jamu herbal merupakan sebutan obat tradisional yang berasal dari bahan – bahan alami berupa bagian dari tumbuhan seperti rimpang (akar – akaran), daun – daunan, kulit batang, dan buah. Tumbuhan herbal adalah tumbuhan atau tanaman obat yang dapat dimanfaatkan untuk pengobatan tradisional terhadap suatu penyakit. Sejak jaman dahulu, tumbuhan herbal berkhasiat obat sudah dimanfaatkan oleh masyarakat di Indonesia khususnya wilayah Jawa. Sampai dengan saat ini, hal itu banyak diminati oleh masyarakat karena biasanya bahan – bahannya dapat ditemukan dengan mudah di lingkungan sekitar (Suparmi dan Wulandari, 2012).

Pengobatan tradisional terhadap penyakit dengan penggunaan obat tradisional yang lebih dikenal dengan sebutan jamu terus dilestarikan oleh masyarakat modern (Arisandi dan Andriabi, 2011). Tanaman obat telah dikenalselama ribuan tahun dan sangat dihargai di seluruh duniasebagai sumber yangkaya agen terapeutik untuk pencegahan penyakit. Permintaan kesehatan produk, obat-obatan, suplemen makanan, kosmetik, dll. meningkat baik dalam pengembangan dan pengembangannegara, karena meningkatnya pengakuan bahwaproduk alami tidak beracun, memiliki efek samping yang lebih sedikitdan mudah tersedia dengan harga terjangkau (Sharma et al., 2008).

(4)

Obat herbal juga disebut obat botani atauphytomedicines, tumbuhan, bahan herbal, herbalolahan, dan produk jadi herbal yang mengandungbagian tanaman atau bahan tanaman lainnya sebagai bahan aktif. Bahan tanaman termasuk biji, beri, akar, daun, kulit kayu atau bunga. Banyak obat yang digunakan dalam pengobatan konvensional pada awalnya berasal dari tanaman (Oreagba et al., 2011).

Seiring dengan berkembangnya jaman, jamu herbal tidak hanya digunakan untuk menyembuhkan atau mencegah penyakit pada manusia saja, namun juga dikembangkan untuk hewan ternak salah satunya ayam pedaging. Bahan ramuan obat (empon – empon) dibuat sesuai kepentingan dan fungsinya yang bisa dipilih dari satu jenis atau beberapa jenis tanaman obat antara lain kunyit, lengkuas, jahe, temulawak, kencur, dan lainnya dibuat menjadi ramuan yang biasa disebut jamu hewan. Respon ternak terhadap jamu hewan dapat meningkatkan nafsu makan, ternak menjadi lebih sehat, tidak mudah diserang penyakit, pertumbuhan optimal dan kandang tidak menimbulkan bau (ammonia) yang menyengat (Zainuddin, 2006).

2.3 Analisis Kelayakan Usaha

1. Pengertian Analisis Kelayakan Usaha

Menurut Jumingan (2009) analisis kelayakan usaha merupakan penilaian yang menyeluruh untuk menilai keberhasilan suatu usaha, dan anaisis kelayakan usaha mempunyai tujuan menghindari keterlanjuran penanaman modal yang terlalu besar untuk kegiatan yang ternyata tidak menguntungkan. Analisis kelayakan usaha merupakan suatu kegiatan

(5)

mengevaluasi, menganalisis, dan menilai layak atau tidaknya suatu usaha dijalankan. Secara umum tujuan diadakannya analisis kelayakan khususnya bagi investor yaitu menghindari keterlanjuran investasi atau penanaman modal yang terlalu besar untuk proyek atau kegiatan usaha yang ternyata tidak menguntungkan (Afiyah dkk.,2015).

Analisis kelayakan usaha pada hakikatnya adalah suatu metode penjajakan dari suatu gagasan usaha tentang kemungkinan layak atau tidaknya gagasan usaha tersebut dijalankan. Studi kelayakan (feasibility

study) sering dipandang sebagai pekerjaan yang sulit dan rumit, karena

selalu diasosiasikan dengan proyek – proyek atau usaha besar yang dikelola oleh para ahli dari berbagai ilmu serta menggunakan metodologi atau teknik yang kompleks. Gambaran seperti ini tidak hanya terdapat di kalangan orang awam, tetapi juga pada sebagian para cendikiawan (Nitisemito dan Burhan, 2009).

Islam sangat menjunjung tinggi setiap usaha baik usaha mandiri (wirausaha) maupun bekerja pada orang lain, agar manusia dapat hidup sejahtera dengan kata kuncinya yaitu keberkahan. Orientasi keberkahan hanya bisa dicapai oleh dua syarat yaitu niat yang iklas dan cara melakukan sesuai dengan tuntunan syariat Islam. Dalam perspektif islam, bisnis yang diprbolehkan adalah bisnis yang menghasilkan pendapatan yang halal dan berkah. Berkaitan dengan pendapatan yang halal, maka kegiatan bisnis yang dijalankan pun harus halal. Dalam al Qur’an dijelaskan pada surat At Taubah ayat 24 yang artinya “jika bapak – bapak,

(6)

anak – anak, saudara – saudara, istri – istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang – orang yang fasik.

Analisis kelayakan usaha adalah suatu penelitian tentang layak atau tidaknya suatu proyek bisnis yang biasanya merupakan proyek investasi dilaksanakan. Maksud layak atau tidaknya disini adalah perkiraan bahwa proyek akan dapat atau tidak dapat menghasilkan keuntungan yang layak bila telah di operasionalkan (Umar, 2005). Terdapat lima tujuan mengapa sebelum suatu usaha atau proyek dijalankan perlu dilakukan analisis kelayakan usaha, menurut Nitisemito dan Burhan (2009) yaitu:

a. Menghindari resiko

Untuk mengatasi resiko kerugian dimasa yang akan datang, karena dimasa yang akan datang ada semacam kondisi ketidakpastian. Kondisi ini ada yang dapat meramalkan akan terjadi atau memang dengan sendirinya terjadi tanpa dapat diramalkan. Dalam hal ini fungsi analisis kelayakan usaha adalah untuk meminimalkan resiko yang tidak diinginkan, bak resiko yang dapat dikendalikan maupun yang tidak dapat dikendalikan.

(7)

b. Memudahkan perencanaan

Jika sudah meramalkan apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang, maka akan mempermudah dalam melakukan perencanaan dan hal – hal apa saja yang perlu direncanakan. Perencanaan meliputi berapa jumlah dana yang diperlukan, kapan perusahaan atau proyek akan dijalankan, dimana lokasi usaha akan dibangun, siapa yang akan melaksanakannya, bagaimana cara menjalankannya, berapa besar keuntungan yang akan diperoleh, serta bagaimana cara mengatasinya agar tidak terjadi penyimpangan.

c. Memudahkan pelaksanaan pekerjaan

Adanya perencanaan yang sudah disusun akan sangat mudah daam melaksanakan usaha atau bisnis. Pekerjaan usaha dapat dilakukan secara sistematis sehingga tepat sasaran dan sesuai dengan rencana yang telah disusun dpata dijadikan acuan dalam mengerjakan setiap tahap yang sudah direncanakan.

d. Memudahkan pengawasan

Dilaksanakannya suatu usaha sesuai dengan rencana yang telah disusun, maka akan memudahkan perusahaan untuk melakukan pengawasan terhadap jalannya usaha. Pengawasan ini perlu dilakukan agar pelaksanaan usaha tidak melenceng dari rencana yang telah disusun.

(8)

e. Memudahkan pengendalian

Apabila dalam pelaksanaan pekerjaan telah dilakukan pengawasan maka jika terjadi suatu penyimpangan akan mudah terdeteksi, sehingga akan dapat dilakukan pengendalian atas penyimpangan tersebut. Tujuan pengendalian ini agar tidak melenceng dari rencana sebelumnya.

Berdasarkan analisis kelayakan usaha bahwa suatu usaha mempunyai social cost lebih kecil daripada social benefit, dengan sendirinya proyek akan mendapat dukungan dari pemerintah atau masyarakat. Analisis kelayakan usaha sangat penting bagi pihak – pihak yang ingin membuka usaha baru, karena jika dirumuskan secara eksplisist tujuan yang ingin dicapai dari konsep analisis kelayakan usaha ini adalah:

a. Bagi investor: analisis kelayakan usaha ditunjukkan untuk melakukan penilaian dari kelayakan usaha untuk menjadi masukan yang berguna karena sudah mengkaji berbagai aspek – aspek seperti aspek pasar, aspek teknis dan operasi, aspek organisasi dan manajemen, aspek lingkungan dan aspek finansial secara komprehensif dan detail sehingga dapat dijadikan dasar bagi investor untuk membuat keputusan investasi secara lebih objektif.

b. Bagi kreditor: sebelum kreditor memberikan pinjaman dana untuk pelaksanaan suatu usaha perlu mempelajari analisis kelayakan usaha

(9)

dari suatu rencana usaha yang akan dijalankan agar tidak menderita kerugian (dana yang tidak kembali atau kredit macet).

c. Bagi analisis: analisis kelayakan adalah suatu alat yang berguna dan dapat dipakai sebagai penunjang kelancaran tugas – tugasnya dalam melakukan suatu penilaian baru, pengembangan usaha, atau menilai kembali usaha yang sudah ada.

d. Bagi masyarakat: hasil analisis kelayakan usaha merupakan suatu peluang untuk meningkatkan kesejahteraan dan perekonomian rakyat baik yang terlihat langsung maupun yang muncul diakibatkan adanya nilai tambah sebagai akibat dari adanya suatu usaha tersebut. e. Bagi pemerintah: analisis kelayakan usaha bertujuan untuk

pengembangan sumber daya baik dari pemanfaatan sumber – sumber alam maupun sumber daya manusia.

2. Indeks Kelayakan Investasi

Investasi adalah penanaman modal (baik modal tetap maupun modal tidak tetap) yang digunakan dalam proses produksi untuk memperoleh keutungan suatu usaha. Menurut Halim (2005) investasi pada hakikatnya merupakan penempatan sejumlah dana saat ini dengan harapan untuk memperoleh keuntungan di masa yang akan datang. Sedangkan menurut Fahmi et al.,(2010) investasi dapat didefinisikan sebagai bentuk pengelolaan dana guna memberikan keuntungan dengan cara menempatkan dana tersebut pada alokasi yang diperkirakan akan memberikan tambahan keuntungan.

(10)

Keputusan mengenai investasi usaha adalah memastikan apakah suatu rencana investasi yang akan dilakukan layak secara ekonomis atau tidak. Apabila rencana investasi tersebut dapat dimunculkan dalam sejumlah alternatif atau lebih dari satu alternatif yang berimplikasi pada perbedaan estimasi arus kasnya (cash flow). Memilih alternatif merupakan kegiatan untuk menjawab apakah suatu rencana investasi yang akan dilaksanakan tersebut sudah merupakan pilihan terbaik, optimal atau belum. Untuk menjamin suatu pilihan sudah optimal tersedia sejumlah alternatif layak yang prlu dipilih salah satu yang terbaik diantaranya. Oleh karena itu, perlu disiapkan alternatif – alternatif yang cukup untuk dipilih. Dalam penelitian ini pemilihan alternatif metode evaluasi investasi yang digunakan penulis yaitu NPV (Net Present Value), IRR (Internal Rate of

Return), dan PP (Payback Period) (Rumiyanto dkk.,2015).

a. Net Present Value (NPV)

Net Present Value (NPV) adalah metode yang digunakan untuk

menilai investasi atau juga sebagai teknik penganggaran modal untuk menunjukkan bahwa proyek investasi akan mempengaruhi kekayaan pemegang saham pada saat ini. Kelayakan finansial usaha tercermin dalam nilai beberapa indikator kelayakan finansial. Net Present Value (NPV) positif berarti peningkatan kekayaan sehingga proyek harus diterima dan sebaliknya (Diana et al., 2018). Sedangkan menurut Rumiyanto dkk., (2015) NPV adalah perbedaan antara nilai aliran kas masuk sekarang dengan nilai aliran kas keluar yang tergabung dengan

(11)

proyek investasi. Besarnya Net Present Value (NPV) bila dinyatakan dalam rumus adalah sebagai berikut:

NPV = ∑

( )

Dimana:

Bt = Benefit pada tahun t Ct = Cost pada tahun t

n = umur ekonomis suatu proyek i = tingkat suku bunga yang berlaku

Kriteria penilaian dalam metode ini adalah: Jika NPV > 0, maka usulan proyek diterima Jika NPV < 0, maka ususlan proyek ditolak

Jika NPV = 0, nilai perusahaan tetap walau usulan proyek diterima atau ditolak.

b. Payback Period (PP)

Payback Period (PP) adalah metode yang menghitung periode yang

diperlukan untuk dapat menutup kembali pengeluaran investasi dengan menggunakan Payback Period (PP) yang arus kasnya didiskontrokan dengan k (biaya modal) agar jumlah arus kas yang telah didiskontokan tersebut nilainya sama dengan nilai sekarang investasi. Menurut Rumiyanto dkk., (2015) Rumus Payback Period (PP) adalah sebagai berikut:

(12)

c. Internal Rate of Return (IRR)

Metode Internal Rate of Return (IRR) adalah metode pemeringkatan usulan investasi dengan berpatokan pada IRR dari aktiva bersangkutan, IRR dihitung dengan menyamakan nilai sekarang dari biaya investasi. IRR untuk kegiatan investasi merupakan tingkat diskonto yang menyamakan nilai sekarang dari arus kas yang diharapkan di masa depan dengan arus kas keluar kas awal (initial

cash outflow). Oleh karena itu, IRR dapat diasumsikan sebagai tingkat

bunga yang mendiskontrokan aliran arus kas di masa depan untuk menyamakan nilai sekarang arus keluar kas awal. IRR adalah tingkat diskonto yang menyamakan PV (preset value) dari arus kas masuk kegiatan investasi dengan PV dari biaya kegiatan investasi tersebut (Rumiyanto dkk., 2015).

PV arus kas masuk = PV biaya investasi dengan mentransposnya, mendapatkan: PV arus kas masuk – PV biaya investasi = 0 yang bisa dinyatakan sebagai:

IRR = i’ + x (i’’- i’) Dimana:

i’ = suku bunga pada interpolasi pertama i’’ = suku bunga pada interpolasi kedua NPV’ = nilai NPV pada discount rate pertama NPV’’ = nilai NPV pada discount rate kedua Dengan kriteria penerimaan sebagai berikut:

(13)

Kriteria penerimaan dalam IRR adalah membandingkan IRR sesungguhnya dengan IRR yang diminta, hal ini dikenal dengan tingkat batas (hurdle rate). Selanjutnya diasumsikan tingkat pengembalian yang diminta maka kegiatan investasi akan diterima, jika tidak kegiatan investasi akan ditolak.

d. Benefit – Cost Ratio (BCR) atau Net B/C Ratio

Net B/C Ratio adalah perbandingan antara nilai bersih sekarang

positif dengan nilai bersih sekarang negatif. Apabila nilai Net B/C

Ratio lebih besar dari 1, maka usaha tersebut layak untuk dilakukan

dan dikembangkan. Sebaliknya apabila nilai Net B/C Ratio lebih kecil dari 1, maka usaha tersebut tidak layak untuk diusahakan dan dikembangkan (Christina, 2016).

Menurut Sulistyanto (2015) Rumus matematis untuk mencari Net

B/C Ratio adalah sebagai berikut:

B/C Ratio = Dimana:

B/C = Benefit / Cost Ratio FI = Total pendapatan (Rp) TC = Total biaya (Rp) Dengan kriteria:

B/C > 1, usaha layak diusahakan B/C < 1, usaha tidak layak diusahakan B/C = 1, usaha dikatakan impas

Referensi

Dokumen terkait

Bagi menentukan tahap hubungan yang signifikan antara domain-domain pengurusan ICT yang dikaji iaitu pengetahuan ICT, kemahiran ICT dan sikap dalam mengurus ICT di kalangan

Tabel 5.3 Realisasi Pendapatan Pemerintah Kabupaten Minahasa Menurut Jenis Pendapatan (juta rupiah), 2012-2015. Sumber: Kabupaten Minahasa Dalam Angka

[r]

1 MINGGU SETELAH PENGGUNAAN INSENTIF SEMINAR/LOMBA, MAHSISWA HARUS MENGUMPULKAN BERKAS SPJ DAN LAPORAN BERUPA:A. KuitansiPembayaran/registrasi (dengan

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa penting bagi kita semua baik orang tua, Guru dan murid untuk mengerti akan pentingnya pendidikan Agama Islam

Pada kategori tampilan pertanyaan 1 mendapat respon baik 70% pengguna merasa aplikasi menarik untuk dimainkan, pada pertanyaan 2 responden merespon 80% sangat setuju

Perbedaan hasil antara penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Sumardi, et al., 2015 dan Rimbawanto, et al., 2006, kemungkinan disebabkan oleh

Karakteristik substrat maupun sedimennya pada Kawasan Pantai Ujong Pancu sendiri memiliki karateristik sedimen yang didominasi oleh pasir halus dimana pada