4.1 Profil Responden
Penelitian ini dilakukan pada Polisi Lalu Lintas, mulai tanggal 1 Juli 2011-25 Juli 2011 dengan menyebar 100 kuesioner. Berikut ini akan dibahas mengenai profil responden yang dikelompokkan menjadi lima bagian berdasarkan umur, pendidikan terakhir, dan masa kerja.
4.1.1 Profil Responden Berdasarkan Umur
Tabel 4.1 Umur Kelompok Umur (tahun) Frekuensi Persen 24 - 28 29 - 33 34 - 38 39 - 43 44 - 48 49 - 54 25 25 % 23 23 % 16 16 % 12 12 % 9 9 % 15 15 % Total 100 100%
Berdasarkan tabel diatas, dapat terlihat bahwa pada usia 24-28 tahun terdapat 25 responden (25%), usia 29-33 tahun terdapat 23 responden (23%), usia 34-38 tahun terdapat 16 responden (16%), usia 39-43 tahun terdapat 12 reponden (12%), usia 44-48 tahun terdapat 9 responden (9%), dan 49-54 tahun terdapat 15 responden (15%). Mayoritas responden berada pada rentang usia 24-28 tahun, dengan persentase mencapai 25% atau sebanyak 25 responden, sedangkan
minoritas responden berada pada rentang usia 44-48 tahun dengan persentase mencapai 9% atau sebanyak 9 responden.
4.1.2 Profil Responden Berdasarkan Masa Kerja
Tabel 4.2 Masa Kerja
Masa Kerja (tahun) Frekuensi Persen
2-6 11 11% 7-11 29 29% 12-16 17 17% 17-21 17 17% 22-26 12 12% 27-32 14 14% Total 100 100%
Berdasarkan tabel diatas, dapat terlihat bahwa masa kerja 2-6 tahun terdapat 11 responden (11%), masa kerja 7-11 tahun terdapat 29 responden (29%), masa kerja 12-16 tahun terdapat 17 responden (17%), masa kerja 17-21 tahun terdapat 17 responden (17%), masa kerja 22-26 tahun terdapat 12 responden (12%), dan masa kerja 27-32 tahun terdapat 14 responden (14%). Mayoritas responden mempunyai masa kerja 7-11 tahun dengan persentase 29%, sedangkan minoritas responden mempunyai masa kerja 2-6 tahun dengan persentase 11%.
4.1.3 Profil Responden Berdasarkan Pendidikan Terakhir
Berdasarkan tabel diatas, dapat terlihat bahwa pendidikan terakhir SMA terdapat 100 responden dengan persentase 100%.
Tabel 4.3 Pendidikan Terakhir Pendidikan
Terakhir Frekuensi Persen
4.2 Hasil dan Pembahasan
4.2.1 Uji Normalitas
Tahap awal dari penelitian ini adalah menguji normalitas. Uji normalitas yang digunakan oleh peneliti yaitu metode uji
kolmogorov-smirnov. Menurut Santoso (2008), uji normalitas diperlukan untuk
penelitian kuantitatif untuk mengetahui data yang digunakan mempunyai distribusi yang normal atau tidak normal. Uji normalitas penelitian ini menggunakan non-parametik karena tidak memiliki distribusi normal.
Berikut ini adalah hasil uji normalitas yang dilakukan peneliti dengan menggunakan peranti lunak SPSS v. 16 dengan menggunakan
kolmogorov-smirnov antara sumber stres dengan penyesuaian diri :
Tabel 4.4 Uji Normalitas One-Sample Kolmogorov-Smirnov Test
Sumber stres Penyesuaian Diri
N 100 100
Normal Parametersa Mean 37.9100 97.7900
Std. Deviation 6.95308 13.72699 Most Extreme Differences Absolute .098 .070
Positive .080 .041
Negative -.098 -.070
Kolmogorov-Smirnov Z .981 .705
Asymp. Sig. (2-tailed) .291 .704
a. Test distribution is Normal.
Menurut Santoso (2008), suatu data dapat dikatakan telah terdistribusi dengan normal apabila skor signifikansi Kolmogorov-Smirnov lebih besar dari nilai signifikansinya sebesar 0,05.
Pada skor signifikan dari sumber stres sebesar 0,291 dan skor penyesuaian diri sebesar 0,704. Dari kedua skor tersebut, dapat terlihat
bahwa data yang ada telah terdistribusi dengan normal (signifikan) karena keduanya lebih dari skor signifikansinya yaitu sebesar 0,05.
4.2.2 Uji Homogenitas
Tahap kedua dari penelitian ini adalah menguji homogenitas. Uji homogenitas digunakan untuk melihat antara dua varian memiliki asumsi yang sama besar atau tidak. Jika sama besar maka hasilnya tidak ada perbedaan. Berikut ini adalah hasil uji homogenitas yang diukur oleh peneliti:
Tabel 4.5 Test of Homogeneity of Variances
Levene
Statistic df1 df2 Sig. 1.611 22 75 .067
Berdasarkan hasil uji homogenitas diatas menyatakan bahwa data yang diperoleh mempunyai nilai yang sudah homogenitas. Hal ini diperkuat karena skor signifikannya leih dari 0,067. Menurut Nisfiannoor (2009), data mempunyai nilai homogen apabila probabilitas lebih besar dari 0,05, jika probabilitas kurang dari 0,05 maka data tidak homogen.
4.2.3 Uji Hipotesis
Berdasarkan hasil uji hipotesis yang telah peneliti lakukan menggunakan tehnik pengolahan data one way ANOVA, didapatkan hasil yang menyatakan bahwa tidak terdapat gaya perbedaan cara mengatasi stres dari berbagai sumber stres yang dialami polisi lalu lintas (lihat tabel 4.6).
Tabel 4.6 Hasil Signifikan Uji Hipotesis
ANOVA
Sum of Squares df Mean Square F Sig. External Stressor Between Groups 2.667 1 2.667 .495 .483 Within Groups 528.083 98 5.389 Total 530.750 99 Organiza tion Stressor Between Groups 1.815 1 1.815 .431 .513 Within Groups 412.775 98 4.212 Total 414.590 99 Individual Stressor Between Groups .202 1 .202 .108 .743 Within Groups 183.158 98 1.869 Total 183.360 99 Duty Stressor Between Groups 12.907 1 12.907 1.614 .207 Within Groups 783.683 98 7.997 Total 796.590 99
Hasil data diperoleh dari SPSS v.16 dengan menggunakan One Way Anova Menurut Santoso (2008), hasil data penelitian dikatakan signifikan apabila probabilitasnya kurang dari 0,05. Pada kenyataannya yang didasari oleh hasil tabel diatas, data yang ada memiliki signifikansi lebih dari 0,05 atau tidak signifikan, artinya dari berbagai sumber stres yang muncul, tidak terdapat gaya perbedaan cara mengatasi stres dari berbagai sumber stres yang dialami polisi lalu lintas.
Hasil ini diperkuat dengan uji hipotesis untuk melihat kecenderungan polisi lalu lintas untuk cara mengatasi stres (lihat tabel 4.7). Pada proses pengolahan data ini, peneliti memberikan kode untuk strategi penyesuaian diri terhadap stres menjadi dua bagian :
• Angka 1, menunjukkan Emotion-focused Coping. • Angka 2, menunjukkan Problem-focused Coping.
Hasil data diperoleh dari SPSS v.16 dengan menggunakan One Way Anova Berdasarkan hasil olah data yang telah peneliti lakukan, menunjukkan bahwa para Polisi Lalu Lintas lebih cenderung menggunakan problem-focused coping untuk melakukan mengatasi stres yang didasari oleh faktor sumber stres dan terdiri dari External Stressor,
Organizational Stressor, Individual Stressor, dan Duty Stressor.
Penggunaan problem-focused coping dapat dilihat dari perolehan angka pada kolom Mean dengan kode 2 terlihat lebih banyak nilainya daripada kode 1.
4.3 Pembahasan Hasil Penelitian
Penelitian ini untuk melihat perbedaan cara mengatasi stres antar polisi lalu lintas yang mengalami sumber stres yang berbeda, khususnya pada polisi lalu lintas berjenis kelamin laki-laki.
Tabel. 4.7 Uji Hipotesis Descriptives
N Mean
Std.
Deviation Std. Error
95% Confidence Interval for Mean
Minimum Maximum Lower Bound Upper Bound
External Stressor 1 40 10.5500 2.21822 .35073 9.8406 11.2594 7.00 15.00 2 60 10.8833 2.38705 .30817 10.2667 11.5000 7.00 15.00 Total 100 10.7500 2.31541 .23154 10.2906 11.2094 7.00 15.00 Organization Stressor 1 40 8.1250 1.84234 .29130 7.5358 8.7142 5.00 12.00 2 60 8.4000 2.18003 .28144 7.8368 8.9632 4.00 12.00 Total 100 8.2900 2.04641 .20464 7.8839 8.6961 4.00 12.00 Individual Stressor 1 40 5.0250 1.47609 .23339 4.5529 5.4971 3.00 9.00 2 60 5.1167 1.29001 .16654 4.7834 5.4499 3.00 9.00 Total 100 5.0800 1.36093 .13609 4.8100 5.3500 3.00 9.00 Duty Stressor 1 40 13.3500 2.96605 .46897 12.4014 14.2986 7.00 19.00 2 60 14.0833 2.73268 .35279 13.3774 14.7893 7.00 19.00 Total 100 13.7900 2.83661 .28366 13.2272 14.3528 7.00 19.00
Hasil analisis penelitian ini tentang perbedaan dengan menggunakan metode one way ANOVA. Dilihat dari hasil pengolahan data penelitian ini, tidak terdapat adanya perbedaan penggunaan jenis strategi penyesuaian diri terhadap stres antar polisi lalu lintas dengan mengalami sumber stres yang berbeda.
Hasil yang menunjukkan tidak adanya perbedaan cara mengatasi stres antar polisi lalu lintas dengan mengalami sumber stres yang berbeda, dengan nilai signifikan lebih dari 0,05. Melalui data penelitian yang tersedia, disimpulkan bahwa polisi lalu lintas lebih cenderung menggunakan Problem-focused Coping untuk menghadapi stres yang dialaminya, hal ini dilihat dari hasil yang diperoleh dari pengolahan data menggunakan peranti lunak SPSS 16, yaitu nilai Mean lebih tinggi pada kode 2 (Problem-focused Coping). Hasil penelitian ini selaras dengan pernyataan Lazarus, Folkman, dan Pearlin (dalam Francis, 2002) bahwa ada perbedaan strategi penyesuaian diri terhadap stres antara laki-laki dan perempuan. Perempuan cenderung menyesuaikan diri terhadap stres dengan menggunakan Emotion-focused Coping sedangkan laki-laki dalam penyesuaian dirinya terhadap stres cenderung menggunakan
Problem-focused Coping.