• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penerapan Metode Value Engineering Pada Proyek Pembangunan Asrama Putera Yayasan Tapuz Kota Pariaman

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Penerapan Metode Value Engineering Pada Proyek Pembangunan Asrama Putera Yayasan Tapuz Kota Pariaman"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

Penerapan Metode Value Engineering

Pada Proyek Pembangunan Asrama Putera

Yayasan Tapuz Kota Pariaman

NASRUL1,* dan ROZANYA2

1,2Jurusan Teknik Sipil, Institut Teknologi Padang, Jl. Gajah Mada Kandis Nanggalo,

Padang – 25 143, Indonesia

*Corresponding author: [email protected]

Abstrak: Value Engineering (VE) atau dalam Bahasa Indonesia disebut Rekayasa Nilai adalah suatu

metode yang menganalisis masalah-masalah suatu proyek melalui pendekatan yang sistematis dan terorganisir dengan menghilangkan biaya-biaya yang tidak diperlukan tanpa mengurangi fungsi, penampilan, kualitas dan keandalan dari proyek tersebut. Sesuai dengan peraturan Departemen Pekerjaan Umum No 222/KPTS/CK/1991 Direktorat Jendral Cipta Karya disebutkan bahwa bangunan yang memiliki nilai diatas 1 milyar harus diadakan suatu analisis Value Engineering. Value engineering dapat ditinjau dari segi bahan atau material, metoda pelaksanaan dan waktu pelakasanan. Penerapan metode

value engineering pada Pembangunan Asrama Putera Yayasan Tapuz Kota Pariaman ini, ditinjau dari

segi pekerjaan arsitektur, yaitu penggunaan material pada pekerjaan bekesting, pekerjaan kusen dan jendela, pekerjaan lantai dan pekerjaan plafond. Analisis value engineering dilakukan lima tahap, yaitu :Tahap Informasi, Tahap Kreatif, Tahap Analisis, Tahap Pengembangan, dan Tahap Persentasi/ Rekomendasi. Tahap informasi dilakukan untuk mencari item-item pekerjaan yang berpotensi biaya tinggi, dapat dilakukan dengan cara cost model, breakdown, analisa pareto. Berdasrkan analisa pareto didapat 5 item pekerjaan yang berpotensi dilakukan value engineering. Pada tahap kreatif dimunculkan ide-ide alternatif pengganti dimana mutu, fungsi dan kualitas yang sama, namun dengan harga yang lebih rendah. Tahap pengembangan merupakan perbandingan antara alternatif yang akan diperoleh pada tahap analisis. Tahap rekomendasi merupakan hasil dari alternatif yang telah terpilih. Pada tahap rekomendasi, hasil dari penerapan metode value engineering adalah pekerjaan bekisting dengan material triplek 6 mm, pekerjaan kusen dengan material alumunium, pekerjaan lantai dengan keramik setara IKAD, dan pekerjaan plafond dengan material gypsum. Hasil yang diperoleh dari tugas akhir ini adalah saving cost atau penghematan biaya yang diperoleh adalah Rp. 278.997.929,9 yaitu sebesar 6,57 %, sehingga dapat disimpulkan bahwa penerapan metode value engineering pada proyek pembangunan asrama putera yayasan tapuz kota pariaman dapat memperkecil biaya perencanaan.

Kata kunci: value engineering, material, efisiensi

1. PENDAHULUAN

Untuk melaksanakan suatu proyek konstruksi diperlukan biaya untuk merealisasikannya.Estimasi biaya pada tahap perencanaan sebuah proyek sangatlah menentukan. Estimasi biaya dilakukan untuk memperoleh perkiraan biaya (Rencana Anggaran Biaya) yang akan dikeluarkan atau disediakan oleh owner/ pemilik untuk merealisasikan proyek tersebut. Pemilihan desain dan bahan yang akan digunakan dalam proyek, akan menunjukan mutu dan kualitas dari bangunan, dan akan memberikan pengaruh terhadap besarnya rencana anggaran biaya. Biaya yang efektif dan efisien tentu menjadi patokan

oleh owner dalam perencanaan dan realisasi nantinya.

Dalam Manajemen Konstuksi, salah satu disiplin ilmu yang digunakan untuk efisiensi biaya adalah value engineering/ rekayasa nilai. Dimana value engineering dilakukan setelah desain awal selesai, maka ditinjau kembali hasil desain awal tersebut dengan metoda value engineering. Value engineering dilakukan untuk mengurangi, menekan biaya dan menghilangkan biaya-biaya yang tidak perlu dalam sebuah proyek, namun tetap dapat memenuhi kebutuhan atau fungsi yang disyaratkan dalam desain awal atau perencanaan yang telah dibuat.

(2)

Sesuai dengan peraturan Departemen Pekerjaan Umum No 222/KPTS/CK/1991 Direktorat Jendral Cipta Karya disebutkan bahwa bangunan yang memiliki nilai diatas 1 milyar harus diadakan suatu analisis Value

Engineering. Penerapan value

engineering pada Proyek Pembangunan Asrama Putera Yayasan Tapuz Kota Pariaman bertujuan untukmengetahui besar efisiensi biaya yang diperoleh dari penerapan value engineering pada proyek ini. Value engineering dilakukan untuk mencari alternatif-alternatif atau ide-ide yang bertujuan untuk menghasilkan biaya yang lebih efisien (lebih rendah) dari harga yang telah direncanakan sebelumnya tanpa menghilangkan fungsi dan mengurangi mutu dari proyek pembangunan gedung ini.Sehingga penerapan value

engineering ini memberikan hasil

estimasi biaya optimal yang diharapkan dan dapat dilaksanakan sesuai dengan perencanaan.

2. METODOLOGI PENELITIAN 2.1 Data Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian dikelompokan menjadi dua bagian, yaitu data primer dan data sekunder

2.2 Analisa Data

Dari data-data yang telah dikumpulkan dilakukan analisa Value Engineering untuk menghasilkan adanya suatu penghematan biaya atau cost saving. Analisa Value Engineering dilakukan dalam lima tahap, yaitu sebagai berikut:

a. Tahap Informasi

Tahap informasi adalah tahap mengumpulkan sebanyak mungkin data mengenai proyek. Dalam

penelitian ini menggunakan komponen struktus atas bangunan sebagai kajian yang akan dilakukan Value Enginering. Analisa ini bermaksut mencari item-item pekerjaan berbiaya tinggi, dimana dapat dilakukan dengan beberapa teknik diantaranya yaitu:

1) CostModel 2) Breakdown

3) Analisa Grafik Pareto b . Tahapkreatif

Tahap keratif adalah suatu tahap dimana berfikir kreatif untuk memunculkan alternatif-alternatif yang akan digunakan dalam melakukan analisis Value

Engineering pada komponen

konstruksi tersebut yaitu komponen struktur dan arsitektur. Alternatif tersebut dapat dikaji dari berbagai aspek seperti berikut:

1) Bahan atau Material 2) Dimensi Konstruksi

3) Waktu Pelaksanaan Pekerjaan 4) Metoda Pelaksanaan Pekerjaan c. Tahap Analisis

Dalam tahap ini diadakan analisa terhadap masukan-masukan ide atau alternatif. Ide yang kurang baik dihilangkan. Alternatif atau ide yang timbul diformulasikan dan dipertimbangkan keuntungan dan kerugiannya yang dipandang dari berbagai sudut.

d. Tahap Pengembangan

Menurut Donomartono (1999) [1] pada tahapan pengembangan ini menyiapkan semua ide atau pendapat secara keseluruhan untuk diteliti ke dalam desain preliminari, dibuatkan gambaran solusi, diestimasikan dalam life cycle cost dari desain asal dan dengan desain yang baru diusulkan dipresent value (PV).

(3)

e. Tahap Rekomendasi

Tahapan ini bisa berupa suatu presentasi secara tertulis atau lisan yang ditujukan kepada semua pihak yang terlibat dalam memahami alternatif-alternatif yang akan dipilih dalam usulan tim VE yang dapat disampaikan secara singkat, jelas, cepat dan tanpa memojokkan salah satu pihak. Rekomendasi ini nantinya digunakan untuk menyakinkan owner atau pengambil keputusan.

3. ANALISA DAN PEMBAHASAN 3.1 Tahap Informasi

Analisa item pekerjaan bertujuan untuk mencari atau menentukan item-item pekerjaan berbiaya tinggi, dimana hal tersebut dapat dilakukan dengan beberapa metoda sebagai berikut:

a. Cost model

Costmodel dilakukan dengan membuat suatu bagan pekerjaan yang dikelompokkan menurut elemen pekerjaan masing-masing. Pada bagan tersebut juga dicantumkan rencana anggaran biaya tiap item pekerjaan. Cost model ini dibuat untuk menentukan pekerjaan mana yang akan dilakukan value engineering dengan melihat alur bagan pekerjaan. Dapat kita lihat perbedaan biaya tiap elemen pekerjaan yang kita jadikan pedoman dalam analisis value engineering.

b. Breakdown

Analisa dilakukan dengan mengidentifikasi pekerjaan yang akan dilakukan value engineering pada rincian biaya pekerjaan pembangunan Gedung Asrama Putera Yayasan Tapuz Kota Pariaman. Untuk melihat potensi

item pekerjaan yang akan dilakukan value engineering, biaya dari item pekerjaan tersebut dibandingkan dengan biaya total keseluruhan proyek.

Tabel 1: Breakdown Rencana Anggaran

Biaya

Sumber: Hasil Pengolahan Data

Dari data RAB diatas, terlihat pekerjaan struktur dan arsitektur merupakan penyumbang atau penyedot dana terbesar diantara biaya pekerjaan lainnya secara keseluruhan yaitu sebesar Rp.2.751.881.373,92 dan Rp.1.283.595.062,88. Dari fakta tersebut kita akan kembali melakukan breakdown pekerjaan struktur dan arsitektur, mana yang lebih banyak menghabiskan dana dalam penyelenggaraan Gedung Asrama Putera Yayasan Tapuz Kota Pariaman ini.

Tabel 2: Breakdown Pekerjaan Struktur

(4)

Gambar 1: Cost Model (Sumber :Hasil Penelitian) Tabel 3: Breakdown Pekerjaan

Arsitektur

Sumber: Hasil Pengolahan Data

Dari hasil tabel diatas terlihat bahwa pekerjaan struktur memiliki biaya terbesar. Untuk lebih jelasnya, penulis melakukan breakdown lebih detail dari item-item pekerjaan struktur dan arsitektur. Bagian manakah yang akan menyedot dana paling besar. Berikut ini adalah

penyajian breakdown dari data struktur dan arsitektur.

Tabel 4: Breakdown Pek Struktur dan

Arsitektur

(5)

Dari tabel diatas terlihat item pekerjaan yang memiliki biaya yang besar adalah pekerjaan plat lantai, pekerjaan pondasi, pekerjaan kolom, pekerjaan dinding, dan pekerjaan lantai.

c. Analisa pareto

Analisa Pareto dilakukan untuk mengetahui biaya tertinggi pada proyek yang berpotensi dilakukan analisa Value Engineering. Pada Hukum Pareto berlaku: yaitu 80 % dari biaya total dikandung oleh 20 % komponennya. Berikut langkah-langkah dalam pengujian Hukum Pareto:

1) Mengurutkan Biaya dari yang terbesar ke terkecil.

2) Menjumlahkan biaya pekerjaan total secara kumulatif.

3) Menghitung persentase biaya masing-masing pekerjaan.

% Biaya Pekerjaan=

Biaya Pekerjaan Total Biaya Keseluruhan

4) Menghitung persentase kumulatif 5) Mengaplot persentase kumulatif

Berikut adalah penyajian dari hasil analisis pareto dari keseluruhan total biaya proyek.

Tabel 5:Hasil Pengujian Analisa Pareto

Sumber:Hasil Penelitian

Gambar 2: Grafik Hasil Analisa Pareto

Pekerjaan Struktur dan Arsitektur. (Sumber : Hasil Penelitian)

Pada gambar diatas nampak bahwa garis merah (garis 80 terletak pada sumbu Y, sedangkan garis 20 terletak pada sumbu X) jika diambil garis tegak lurus maka akan mendapatkan nilai. Dan dari nilai yang didapatkan itulah nantinya akan dimasukkan pada rumus analisa pareto di bawah ini. Nilai dari grafik tegak lurus analisa pareto 80 adalah kira-kira 53, sedangkan nilai dari grafik tegak lurus analisa pareto 20 adalah kira-kira 42.

Maka : ΔX = 42 - 20 = 22 % ΔY = 80 - 53 = 27 % Jika : ΔY < ΔX = 20 % + ΔY ΔY > ΔX = 20 % + ΔX Hasilnya = ΔY > ΔX = 20 % + 22 = 42 % = 42 % x 11 = 4,62 ≈ 5 Item pekerjaan

Setelah melalui proses grafik dan perhitungan rumus pareto, maka didapatkan hasil 5 item pekerjaan. Maka kita cukup konsentrasi pada 5

(6)

hal tersebut dengan harga prosentase tertinggi.

3.2 Tahap Kreatif

Tahap kreatif adalah suatu tahap dimana berfikir kreatif untuk memunculkan alternatif-alternatif yang akan digunakan dalam melakukan analisis Value Engineering pada komponen konstruksi tersebut yaitu komponen struktur dan arsitektur. Alternatif tersebut dapat dikaji dari berbagai aspek seperti berikut:

Tabel 6: Alternatif Item Pekerjaan

Sumber: Hasil Pengolahan Data

3.3 Tahap Analisis

Tahap analisis merupakan tahap pengembangan dari tahap kreatif. Dimana ide kreatif atau alternatif-alternatif yang didapatkan pada tahap kreatif akan dilakukan analisis.

1. Analisis Pekerjaan Bekisting

Pada perhitungan material bekesting, type dari struktur sloof, kolom dan balok adalah tipikal (semua ukuran struktur sama), sehingga penggunaan material bekesting dapat mencapai 4 kali penggunaan. Penggunaan berulang material bekesting ditujukan untuk memperoleh biaya yang ekonomis. Apalagi pekerjaan bekisting hanya sebuah konstruksi sementara.

Tabel 7:Perbandingan Harga

Penggunaan material bekesting

Sumber: Hasil Pengolahan Data

Gambar 3.Grafik Perbandingan

Alternatif Material Bekesting. Sumber: Hasil Pengolahan Data

Tabel 8:Saving Cost material bekesting

Sumber: Hasil Pengolahan Data

2. Analisis Pekerjaan Kusen dan Jendela

Pada pekerjaan kusen dan jendela, material awal dari pekerjaan kusen dan jendela adalah kayu kelas II. Pada tahap alternatif ini, alternatif material yang digunakan adalah fame kusen alumunium. Alasan dari pemilihan kusen alumunium ini adalah:

a. Ekonomis

(7)

c. Kuat

d. Ramah lingkungan

Berikut ini adalah jumlah volume dari masing – masing pekerjaan kusen dan jendela:

- Volume Pas. Kusen Jendela Kayu Kelas II, Type J1 = 4,6 m3 = 80 unit. - Volume Pas. Kusen Jendela Kayu Kelas II, Type J2 = 0,7 m3 = 16 unit. - Harga satuan frame jendela

alumunium = Rp. 75.000/m1. Tabel 9: Saving cost material kusen dan

jendela.

Sumber: Hasil Olahan Data

Gambar 4.Grafik Perbandingan

Alternatif Material Kusen dan Jendela. (Sumber: Hasil Penelitian) 3. Analisis Pekerjaan Lantai

Pada tahap kreatif pekerjaan lantai, penulis memberikan alternatif penggunaan material pekerjaan lantai dengan menggunakan keramik setara ikad. Alasan dari penggunaan keramik ini adalah:

a. Kekuatan bahan

b. Pilihan corak yang banyak c. Harga yang lebih murah

d. Kemudahan dalam memperoleh barang.

Tabel 10: Saving cost material kusen

dan jendela.

Sumber: Hasil Pengolahan Data

Gambar 5.Grafik Perbandingan

Alternatif Material Pekerjaan Lantai. Sumber: Hasil Pengolahan Data 4. Analisis Pekerjaan Plafon

Pada alternatif pekerjaan plafond, alternatif pembanding adalah pemakaian dari material plafond tersebut.

Tabel 11:Saving cost material pekerjaan

plafon.

(8)

Gambar 6.Grafik Perbandingan

Alternatif Material Pekerjaan Plafon Sumber: Hasil Pengolahan Data

3.4 TahapPengembangan

Pada tahap pengembangan ini alternatif yang dipilih ditentukan berdasarkan hasil perhitungan dan saving cost tertinggi namun tetap tidak mengurangi dari fungsi item pekerjaan yang dilakukan value engineering.

Tabel 12:Saving cost dari alternatif

yang dipilih

Sumber: Hasil Pengolahan Data Penggunaan material untuk pekerjaan bekesting, setelah dilakukan perhitungan, maka dengan menggunakan triplek tebal 6 mm, bekesting masih bisa menerima beban dari beton yang akan dicor. Pada pekerjaan kusen dan jendela, dipilih alternatif kusen alumunium karena pengerjaan yang lebih mudah, dan harga dari material yang lebih murah. Untuk pekerjaan lantai, dipilih alternatif 1 yaitu

penggunaan merek setara ikad, karena berdasarkan katalog yang penulis peroleh, spesifikasi dari merek tersebut setara dengan keramik IKAD namun dapat diperoleh dengan harga yang murah.

Gambar 7. Grafik Persentase saving

cost

Sumber: Hasil Pengolahan Data

3.5 Tahap Rekomendasi

Tahap rekomendasi alternatif terpilih pada item pekerjaan yang dilakukan value engineering yaitu kolom, balok dan pelat lantai dan pekerjaan arsitektur dalam penggunaan material adalah sebagai berikut:

1. Total saving cost dari material yang dilakukan value engineering adalah = Rp. 278.997.929,9

Persentase saving cost = (Rp.98.901.575,85:Rp.4.242.782.09 4,88 ) x 100 %= 6,57 %

2. Usulan

Dengan menggunakan material yang sudah dilakukan perhitungan value engineering, maka pengggunaan bahan material:

a. Triplek tebal 6 mm dengan kasau 5/7 untuk pekerjaan bekesting,

b. Material fame alumunium untuk pekerjaan kusen dan jendela c. Material keramik setara Ikad

untuk pekerjaan lantai

d. Material gypsum tebal 9 mm

6,57% 93,43 % Saving Cost Rencana Anggaran

(9)

Dapat memperoleh, penghematan biaya sebesar 6,57 % dari total harga rencana anggaran biaya proyek pembangunan asrama putera yayasan tapuz Kota Pariaman. 3. Dasar pertimbangan

Dengan diterimanya salah satu usulan maka menjadi dasar pertimbangan pengambilan item terekomendasi diantaranya yaitu pemilihan material dengan spesifikasi yang sama namun dapat diperoleh dengan harga yang lebih murah.

4. KESIMPULAN DAN SARAN a. Kesimpulan

Dari hasil analisis value

engineering pada proyek

Pembangunan Asrama Tapuz Kota Pariaman dengan meninjau dari segi penggunaan material pada pekerjaan bekesting, pekerjaan kusen jendela, pekerjaan lantai dan pekerjaan plafond, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut:

1. Material yang digunakan untuk pekerjaan bekisting adalah triplek dengan tebal 6 mm. Material yang digunakan untuk pekerjaan kusen dan jendela adalah alumunium. Material yang digunakan untuk pekerjaan lantai adalah keramik setara ikad dengan spesifikasi yang sama. Serta, material yang digunakan untuk pekerjaan plafond adalah gypsum tebal 9 mm. Besar penghematan yang dapat dilakukan dengan metode value engineering pada proyek pembangunan gedung asrama tapuz Kota Pariaman adalah Rp. 278.997.929,9.

2. Efisiensi biaya yang bisa diterapkan dalam Proyek

Pembangunan Asrama Putera Yayasan Tapuz Kota Pariaman adalah 6,57%.

3. Metode value engineering dapat memperkecil biaya perencanaan pembangunan Asrama Putera Yayasan Tapuz Kota Pariaman.

b. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka penulis menyampaikan beberapa saran berkenaan dengan penerapan metode value engineering dalam suatu proyek, yaitu sebagai berikut:

1. Agar mendapatkan

penghematan yang optimal, penerapan value engineering bisa dilakukan tinjauan secara menyeluruh terhadap keseluruhan item pekerjaan. 2. Penerapan metode value

engineering, pengembangannya tidak hanya sebatas untuk pengendalian biaya, tapi bisa juga optimasi pada pengendalian waktu dan tenaga kerja. Untuk itu, diperlukan suatu tim yang konsentrasi penelitian pada tahap pelaksanaan pekerjaan.

5. DAFTAR PUSTAKA

1. Dell’Isola, Alphonse. 1975. Value

Engineering in the Construction

Industry. Penerbit Van Nostrnad Company New York.

2. Esti Legstyana, (2012). Komparasi

Biaya Pelaksanaan Penggunaan Bekisting Konvensional dengan Bekisting Sistem Peri. Universitas

Sebelas Maret Surakarta.

3. Hutabarat, J. 1995. Diktat Rekayasa

Nilai. Malang: Institut Teknologi Nasional.

4. Mohammed Ali Breawi, 2013. Aplikasi

(10)

Konstruksi Bangunan Gedung. Penerbit

Universitas Indonesia.

5. Sajekti, Amien. 2013. Metode Kerjan

Bangunan Sipil-Edisi Pertama.

Yogyakarta. Graha Ilmu.

6. Sri Puji Lestari, (2011). Penerapan

Value Engineering Untuk Efisiensi Biaya Pada Proyek Pembangunan Gedung Berkonsep Green Building,

Universitas Indonesia

7. Soeharto, I (1989). Manajemen Proyek:

Dari Konseptual Sampai Operasional, Jilid 2. Jakarta : Erlanggga.

8. Sunggono, Kh. 1995. Buku Teknik Sipil. Penerbit Nova.

9. Tri Wahyu Oscar, (2016). Aplikasi

Value Engineering pada Proyek Konstruksi. Fakultas Teknik Sipil dan

Perencanan Institut Teknologi Padang.

10. Zimmerman, Larry. 1978. Value

Engineering A Practical Approach.

Penerbit Van Nostrand Company New York

Gambar

Tabel 3: Breakdown Pekerjaan  Arsitektur
Tabel 5:Hasil Pengujian Analisa Pareto
Tabel 6: Alternatif Item Pekerjaan
Gambar 4.Grafik Perbandingan  Alternatif Material Kusen dan Jendela.
+2

Referensi

Dokumen terkait

Walau bagaimanapun, trend fesyen tersebut menonjolkan reka bentuk pakaian yang kurang menepati konsep menutup aurat yang sempurna dengan reka bentuk pakaian yang

Kinerja koperasi yang semakin baik dengan program-program yang dilakukan oleh KUD Puspa Mekar akan meningkatkan manfaat sosial dan ekonomi bagi anggota dan akan

Sering secara tak langsung, industri alat-alat kedokteran mempengaruhi kinerja etis dalam hubungan dokter dan pasien melalui rumah sakit sebagai organisasi bisnis yang

Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan alat analisis Korelasi Pearson diperoleh beberapa faktor yang mempunyai korelasi positif terhadap tingkat pendapatan

Dapat disimpulkan bahwa variabel bebas yang paling mempengaruhi tujuan konsumen berbelanja pada situs e-commerce disdus.com adalah orientasi shopping enjoyment dengan nilai

Laporan Monitoring dan Evaluasi Tahun 2018 Semester Ganjil Gugus Pengendalian Mutu Prodi (GPMP) Fakultas Adab dan Humaniora ini disusun sebagai bahan evaluasi pelaksanaan

Hukum itu tidak identik dengan keadilan, hukum itu bersifat umum, mengikat setiap orang, bersifat menyamaratkan. Sebaliknya keadilan bersifat subyektif, individualistis, dan

matapelajaran iaitu pe nd aftaran matapelajaran, menyimpan makumat dalam pangkalan data matapelajaran , men y ediaka n pangka l an data untuk matapelajaran te r s ebut