AGRIBISNIS:
Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi
Berbasis Pertanian
Bungaran Saragih
Editor:
Rachmat Pambudy
Frans BM Dabukke
AGRIBISNIS:
Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi
Berbasis Pertanian
AGRIBISNIS:
Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian
Bungaran Saragih
Editor:
Rachmat Pambudy Frans BM Dabukke
Editor Bahasa : Sandra Siti Syarifah Desain Cover : Alita Wulan dini Lay Out : Muhammad Yunus
Tommy Andreas Proof Reader : Hans Baihaqi Copyright © 2010
PT Penerbit IPB Press
Kampus IPB Taman Kencana Bogor dan
Food and Agribusiness Center Kumbang 31 Bogor
Edisi Ketiga
Cetakan Pertama: April 2010
Perpustakaan Nasional: Katalog Dalam Terbitan (KDT) Hak cipta dilindungi oleh Undang-Undang
Dilarang memperbanyak buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit ISBN: 000-000-000--000-0
- Kata
Pengantar-Suatu pemikiran dan konsep atau paradigma bahkan teori, termasuk yang terkait dengan strategi pembangunan ekonomi, akan bertahan dan diakui umum apabila mampu menjawab permasalahan dan persoalan pokok yang dihadapi oleh perekonomian itu sendiri. Demikian juga bagi pemikiran, konsep dan paradigma sistem dan usaha agribisnis. Sejak awal tahun 1990-an diperkenalk1990-an d1990-an awal tahun 2000-2004 diimplementasik1990-an, pemikir1990-an dan paradigma agribisnis mampu menjawab persoalan-persoalan pokok pembangunan ekonomi nasional. Dan dengan pondasi dan prestasi ini, diperkirakan sistem dan usaha agribisnis akan semakin relevan baik saat ini dan di masa mendatang.
Dalam orasi pengukuhan sebagai profesor di IPB, Prof. Bungaran Saragih telah memperkirakan bahwa sistem dan usaha agribisnis masih akan memegang peranan dan kontribusi yang strategis dalam perekonomian nasional di abad ke-21 paling tidak selama 10 tahun pertama. Perkiraan tersebut tepat, bila kita analisis peranan dan kontribusinya menjalani tahun 2010 ini sebagai suatu mega-sektor (sistem agribisnis: pertanian-agroindustri-industri hulu-jasa penunjang). Sistem dan usaha agribisnis masih tetap menjadi sektor utama yang memproduksi pangan Indonesia; menyumbang relatif besar bagi pertumbuhan ekonomi nasional; solusi dan atau jangkar atau sektor penopang pemulihan ekonomi dari krisis ekonomi (baik krisis ekonomi 1997-1998 maupun krisis ekonomi global 2009 lalu); sumber pendapatan, lapangan pekerjaan dan usaha utama sebagian besar penduduk; penyumbang devisa utama bagi negara; sektor yang menghasilkan komoditas dan produk unggulan yang mampu bersaing secara global; dan lainnya.
Peranan dan kontribusi yang strategis diatas berlangsung terus disaat perekonomian kita menghadapi persoalan-persoalan pokok pembangunan ekonomi nasional seperti : gejala deindustrialisasi; pertumbuhan ekonomi yang masih belum mampu membawa Indonesia sejajar dalam pendapatan per kapita dengan bangsa-bangsa di Asia seperti Thailand dan Malaysia; hambatan struktural yang parah karena kontribusi produk domestik bruto (atau nilai tambah) pertanian mulai menurun walau tetap strategis sementara tenaga kerja dan kemiskinan di pertanian belum mampu dikurangi; jebakan produktivitas
Pengantar Penerbit
Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian
vi
tenaga kerja yang relatif stagnan dan rendah di sektor pertanian; ancaman perubahan klimatologi global (global climate change); dan lainnya. Sementara itu, dukungan baik pembiayaan dan kebijakan di dan untuk agribisnis (in and
for agribusiness), termasuk didalamnya untuk sektor pertanian, tetap rendah
dan stagnan. Proporsi kredit perbankan stagnan di level 5 (lima) persen dalam jangka menengah dan panjang, sudah lebih puluhan tahun rehabilitasi dan pembangunan infrastruktur yang melayani agribisnis mandeg (irigasi, jalan, pelabuhan, sarana pengolahan,dll), muncul dan berkembangnya petani-pengusaha (atau wirausaha atau entepreneur) di bidang agribisnis relatif lambat, penerapan dan pengembangan inovasi dan teknologi tepat-guna di bidang agribisnis juga relatif lambat sehingga produktifitas tetap stagnan dalam kondisi ketersediaan sumber daya baik lahan, sarana produksi, klimat, dan modal yang semakin terbatas, dan lainnya. Bersamaan dengan kondisi diatas, lingkungan baik domestik dan internasional/global telah mengalami perubahan dan pergeseran yang mendasar dan menyeluruh.
Dalam kondisi struktural perekonomian yang sedang kita hadapi saat ini, alternatif yang ada baik itu sebagai strategi pembangunan ekonomi atau sektor yang memimpin (leading sector) terbatas (limited). Dalam perspektif dan konteks pemikiran serta kondisi perekonomian dan pertanian nasional kita diatas, maka terbitnya kembali buku Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian yang merupakan kumpulan pemikiran Prof. Bungaran Saragih adalah sangat relevan, kontekstual, dan menarik sekali Buku ini dapat memberikan pengetahuan dan pemahaman yang padat dan relevan mengenai hakekat dan pemikiran dasar pembangunan serta pengembangan agribisnis nasional. Dalam konteks dan kondisi pembangunan ekonomi nasional yang saat ini menghadapi goncangan krisis ekonomi global, buku ini menjadi pegangan dan petunjuk bagaimana posisi, potensi dan peluang pembangunan dan pengembangan agribisnis untuk memulihkan perekonomian nasional dan memperoleh kembali momentum pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan berkelanjutan. Buku yang berisi pemikiran, konsep dan teori ekonomi pembangunan dengan model dan strategi pembangunan sistem dan usaha agribisnis di Indonesia yang diterbitkan dengan format yang padat, populer, dan mudah dimengerti umum masih relatif sangat terbatas di dalam negeri baik di dalam kepustakaan akademik maupun kepustakaan buku populer. Sehingga terbitnya buku ini dapat menjadi sumbangan yang berarti dalam kepustakaan akademis dan populer tentang agribisnis nasional dan dapat menarik perhatian khalayak luas.
Pengantar Penerbit
Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian
vii
Buku ini memang ditulis oleh seorang profesor di bidang agribisnis, dan pemikiran-pemikiran yang dituangkan didalamnya lebih ditekankan pada aspek-aspek ekonomi, tetapi dengan bahasa dan alur pikir yang lugas dan sederhana, buku ini tetap menarik dan mudah dimengerti serta bermanfaat secara praktis bagi setiap pelaku usaha agribisnis di Indonesia. Diharapkan buku ini bermanfaat besar dalam pengembangan usaha-usaha ekonomi perusahaan dan koperasi di sektor agribisnis baik dalam skala besar, menengah, maupun kecil. Disamping itu, para perumus atau pengambil kebijakan, kalangan akademisi, dan mahasiswa akan mendapatkan pengetahuan dan pemahaman yang padat dan populer mengenai pembangunan pertanian dan agribisnis dalam kerangka pembangunan ekonomi nasional. Akhirnya, mudah-mudahan buku ini juga akan bermanfaat besar bagi khalayak umum dan masyarakat luas.
Buku ini merupakan buku terbitan ketiga setelah dua terbitan sebelumnya habis terdistribusi dan berselang beberapa tahun. Penerbitan ulang buku ini mudah-mudahan dapat lebih menyebarluaskan dan mendorong lahirnya kesadaran, pengertian, dan pemahaman khalayak umum akan konsep dan paradigma sistem dan usaha agribisnis. Dengan demikian dapat kita harapkan munculnya wacana (diskursus) dan dukungan lebih lanjut mengenai sistem dan usaha agribisnis sebagai suatu paradigma baru dalam pembangunan tidak saja di pertanian tetapi juga pembangunan ekonomi Indonesia. Harapan kita paradigma sistem dan usaha agribisnis dapat membawa Indonesia menuju cita-cita kita bersama, suatu bangsa dan negara serta masyarakat yang berdaulat, maju, adil dan makmur sesuai cita-cita Undang-Undang Dasar 1945.
Bogor, Maret 2010 Penerbit,
IPB Press
Ucapan Terima Kasih
-Perjalanan sejarah pemikiran dan paradigma sistem dan usaha agribisnis di Indonesia tanpa terasa sudah menginjak hampir 15 (lima belas tahun) sejak orasi ilmiah pengukuhan profesor saya di Institut Pertanian Bogor tahun 1995 yang lalu. Mungkin momen tersebut menjadi salah satu tonggak berkembangnya kesadaran dan pengenalan umum tentang pemikiran dan paradigma agribisnis. Disamping itu, pemikiran dan paradigma agribisnis juga telah mengalami serta melampaui momen-momen historis perekonomian nasional kita mulai dari krisis ekonomi pada tahun 1997, lalu masa pemulihan krisis ekonomi mulai tahun 2000, swasembada beras nasional kembali pada tahun 2004, bahkan krisis ekonomi global tahun 2009 yang lalu.
Pemikiran dan konsep mengenai pembangunan sistem dan usaha agribisnis sebagai paradigma dan strategi pembangunan ekonomi nasional telah lama menjadi perhatian utama saya. Perhatian dan harapan ini diwujudkan dengan salah satu upaya menerbitkan tulisan dan karya lainnya menjadi buku. Penerbitan buku ini diharapkan dapat menyebarluaskan dan menciptakan kesadaran umum yang masih akan meningkatkan posisi dan peran strategis sistem dan usaha agribisnis baik sebagai cara baru melihat pertanian kita maupun sebagai salah satu alternatif strategi pembangunan ekonomi nasional. Upaya ini telah terlaksana pada pertengahan 1998 melalui terbitan pertama buku ini. Hanya dalam waktu singkat, buku ini telah habis disebarluaskan. Karena minat masyarakat yang masih besar terhadap buku yang berisi kumpulan pemikiran saya ini maka pada tahun 2001 buku ini diterbitkan kembali sebagai terbitan kedua. Penerbitan kedua buku ini berbarengan dengan dimulainya pengabdian saya sebagai Menteri Pertanian dan Kehutanan pada pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid. Dengan seluruh kesibukan dan tanggung jawab sebagai menteri hampir selama 5 tahun, perhatian untuk tetap menulis dan mengembangkan tulisan ilmiah atau populer menjadi agak terkesampingkan. Atas dorongan kolega dan murid-murid terdekat belakangan ini, maka hasrat dan keinginan untuk menerbitkan kembali pemikiran dan konsep sistem dan usaha agribisnis yang telah saya rintis muncul kembali.
Terbitan pertama dan terbitan kedua buku ini tidak akan pernah selesai disusun dengan baik dan bisa diterbitkan untuk umum tanpa dukungan dan bantuan dari berbagai pihak. Saya sangat menghargai dan mengucapkan terima kasih kepada keluarga almarhum Bapak Ir. Toga Sitompul, MBA yang sejak awal berkenan mendukung kedua terbitan kedua buku ini dan
Ucapan Terima Kasih
Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian
x
sekaligus mensponsorinya. Ucapan terima kasih juga saya sampaikan kepada teman-teman di Pusat Studi Pembangunan LP-IPB: keluarga almarhum Dr. Ir. Mangatas Tampubolon; Dr. Ir. Harianto dan Drs. Satyawan Sunito serta seluruh Staf Peneliti yang memberikan masukan pemikiran dan koreksi berarti sewaktu penyusunan makalah dan penerbitan buku ini. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada murid-murid saya yang telah bekerja keras menjadi editor untuk buku terbitan pertama dan kedua tersebut: Dr. Ir. Tungkot Sipayung, Ir. Burhanuddin, MMA, dan Ir. Jeff Rudianto Saragih, MSi.
Saya juga mengucapkan terima kasih kepada Rektor Institut Pertanian Bogor; Ketua Lembaga Penelitian Institut Pertanian Bogor; Dekan Fakultas Pertanian; Ketua Jurusan Ilmu-IImu Sosial Ekonomi; yang dari sejak dulu tetap memberikan dorongan dan kesempatan untuk mengembangkan dan memasyarakatkan pemikiran dan paradigma pembangunan sistem dan usaha agribisnis ini kepada masyarakat luas. Terima kasih juga saya sampaikan kepada Saudara DR. Ir. Yayok Bayu Krisnamurthi yang telah berkenan memprakarsai dan mendorong kolega serta murid-murid yang lain untuk membantu penerbitan buku ini.
Secara khusus saya mengucapkan terima kasih kepada Saudara DR. Ir. Rachmat Pambudy, MS dan Ir. Frans BM Dabukke, MSi yang telah mendorong dan memberi alasan kuat untuk diteruskannya semangat dan upaya memasyarakatkan terus paradigma sistem dan usaha agribisnis agar lebih bergaung dan memiliki kekuatan jaringan yang lebih luas, lebih kuat, dan lebih efektif dalam pembangunan ekonomi nasional umumnya dan pembangunan pertanian khususnya. Sekaligus karena mereka juga menjadi editor yang menyempurnakan, mengorganisasikan kembali pemikiran saya dalam buku terdahulu dan melengkapi serta menambahkannya dengan tulisan belakangan ini yang aktual dan relevan.
Pemikiran dan pengabdian saya dalam pengembangan sistem dan usaha agribisnis baik nasional maupun internasional dilandasi dan dimotivasi oleh kasih sayang, perhatian, dorongan, dan pengertian yang luar biasa besar dari keluarga: istri tercinta Mihoko Nakamura dan putri tersayang Erina Paima Nakamura Saragih. Untuk itu saya mengucapkan terima kasih. Buku ini merupakan ungkapan terima kasih dan penghargaan buat mereka.
Bogor, Maret 2010 Bungaran Saragih
Pengantar Editor
-P
embangunan sistem dan usaha agribisnis (termasuk pertanian didalamnya) memiliki posisi dan peranan yang sangat strategis dan mendasar dalam pembangunan ekonomi nasional. Sejarah pembangunan ekonomi nasional Indonesia membuktikan hal tersebut. Bahkan dengan mempelajari dan menganalisis perjalanan sejarah pembangunan ekonomi nasional dari sejak awal masa pembangunan tahun 1970-an sampai tahun 2000-an, posisi dan peranan pembangunan sistem dan usaha agribisnis (termasuk pertanian) bukannya semakin surut malah tetap strategis bahkan mendasar. Dan tampaknya menjalani abad ke-21 ke depan, yang telah kita jalani kurang lebih 10 tahun ini, posisi dan peranan tersebut masih strategis dan mendasar bahkan semakin menentukan. Optimisme dan premis ini yang menjadi dasar dan substansi dari pemikiran dan konsep pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang dipopulerkan oleh Prof. Bungaran Saragih.Analisis dan gambaran posisi dan peranan pembangunan pertanian pada lebih dari paruh pertama pembangunan ekonomi nasional yang menjadi substansi dan pokok bahasan tulisan-tulisan yang dicantumkan dalam buku ini sejak terbitan pertama dan kedua. Terutama beberapa tahun sebelum dan saat terjadinya krisis ekonomi tahun 1997-1998. Pasca krisis ekonomi, tulisan-tulisan beliau lebih mengarah pada operasionalisasi dan penerjemahan paradigma dan strategi pembangunan sistem dan usaha agribisnis kedalam permasalahan dan tantangan yang lebih membumi melalui tulisan di Harian Suara Pembaruan di kolom Suara Dari Bogor, yang juga telah diterbitkan sejak tahun 1999 dan diterbitkan kembali tahun 2001. Kedua buku ini saling melengkapi. Bersamaan dengan kepercayaan dan amanah yang diberikan untuk mengemban tugas sebagai Menteri Pertanian sejak tahun 2000, pemikiran dan paradigma ini lebih banyak digali dan dilanjutkan oleh para penerus, kolega, dan murid-murid. Dengan tanggung jawab dan kesibukan yang diemban, paradigma dan strategi pembangunan sistem dan usaha agribisnis mendapat kesempatan sejarah untuk diimplementasikan dan diwujudnyatakan dalam praktek. Sehingga terkesan adanya kekosongan pemasyarakatan dan penyebarluasan pemikiran dan konsep pembangunan sistem dan usaha agribisnis pada rentang masa tahun 2000-2004.
Pengantar Editor
Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian
xii
Seiring berjalannya waktu, tanpa terasa rupanya Prof. Bungaran Saragih memasuki usia yang ke-65 (enam puluh lima) dan sekaligus memasuki masa purna bakti sebagai profesor di Institut Pertanian Bogor. Sebagai seorang guru dan akademisi, suatu kebanggaan tersendiri apabila dapat mewariskan pemikiran, konsep dan paradigma serta pengalaman membangun sistem dan usaha agribisnis kepada generasi berikutnya yang lebih muda dan dinamis. Dengan harapan bahwa pemikiran, konsep dan paradigma itu, tidak saja populer dan diakui, tetapi juga mampu menjawab tantangan dan permasalahan pembangunan ekonomi nasional, mengantarkan seluruh rakyat Indonesia menjadi bangsa, negara dan masyarakat yang berdaulat, maju, adil, dan makmur. Kedua hal ini yang mendorong dan menjadikan posisi penerbitan edisi ketiga buku ini menjadi lebih menantang dan lebih terbarukan (up to
dated).
Terbitan ketiga buku ini menjadi berbeda dengan dua terbitan sebelumnya dalam beberapa hal. Alur pemikiran, struktur dan kelengkapan isinya berubah dan lebih terkini (updated); mengikuti pendekatan penulisan yang disesuaikan dengan perjalanan waktu perkembangan konsep atau paradigma itu sendiri: mulai dari muncul/lahirnya, berkembang, populer, menuju kematangan (maturity), dan implementasi. Dengan pendekatan ini diharapkan pembaca dapat memahami dan mengerti konteks lahir dan berkembangnya pemikiran atau konsep atau paradigma, dalam hal ini sistem dan usaha agribisnis, dan dapat menikmati bacaan ini dengan lebih menarik dan menjadi lebih lugas. Pendekatan ini secara bersamaan disesuaikan dan dikombinasikan dengan dengan tema-tema atau konteks-konteks utama dan besar dari sejarah perekonomian nasional sehingga seluruh tulisan yang ada disusun menurut bagian-bagian seperti : paradigma pembangunan ekonomi, strategi industrialisasi, pengembangan berbasis komoditi dan sumberdaya, ekonomi kerakyatan (termasuk pengembangan usaha mikro kecil dan menengah/UMKM, pembangunan daerah (dalam konteks otonomi daerah dan desentralisasi), dan strategi sistem dan usaha agribisnis membangun pertanian dan perekonomian nasional.
Bagian terakhir dalam buku ini yang diberi judul ‘Strategi Sistem dan Usaha Agribisnis Membangun Pertanian dan Perekonomian Nasional’ merupakan bagian dan bab-bab baru. Dalam bagian dan bab-bab yang baru ini dimasukkan saduran dari beberapa paparan, sambutan, pidato, dan tulisan terpilih dan kontekstual Prof. Bungaran Saragih sebagai Menteri Pertanian Republik Indonesia. Penambahan tulisan-tulisan ini diharapkan melengkapi perjalanan paradigma sistem dan usaha agribisnis pada masa implementasinya
Pengantar Editor
Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian
xiii
sekitar tahun 2000-2004. Disamping itu juga diharapkan pembaca dapat melihat dan memahami gambaran wujud implementasi paradigma ini yang diimplementasikan dalam strategi, kebijakan, program, dan kegiatan pembangunan pertanian secara khusus dan pembangunan agribisnis dalam konteks yang lebih luas.
Dengan penambahan bagian dan bab-bab baru ini maka perjalanan sejarah paradigma agribisnis, sebagai suatu sistem dan usaha, yang saling terkait secara utuh dan menyeluruh, menjadi relatif lebih runut dan hampir komplit. Dan ini dapat dicapai dengan membaca satu buku ini. Pembaca dapat melihat dan mengerti perkembangan dan pertumbuhan paradigma agribisnis ini dengan lebih menarik dan lebih lugas. Pembaca dapat juga menempatkan posisi dan peranan paradigma agribisnis ini lebih baik lagi dalam konteks pembangunan ekonomi nasional, tidak lagi sekadar pembangunan pertanian. Dengan pemahaman dan kesadaran akan posisi, peranan, dan keunggulan paradigma agribisnis ini diharapkan lebih banyak lagi pengikut dan pendukung (followers) pemikiran ini, baik itu di kalangan akademisi dan peneliti, birokrasi dan para pengambil kebijakan, pelaku usaha, para petani dan pemimpin organisasi tani, dan khalayak umum lainnya. Dengan adanya kesadaran dan dukungan publik yang lebih luas dan lebih masif diharapkan dukungan kepada pengembangan paradigma ini ke arah lahirnya mazhab baru dalam pembangunan perekonomian nasional di masa mendatang mendekati kenyataan. Itulah motif dan tujuan dari penerbitan dan penyebarluasan buku ini. Sekaligus inilah yang menjadi pertanyaan sekaligus tantangan utama paradigma sistem dan usaha agribisnis dimasa mendatang: mampukah dan berhasilkah menjadi salah satu mazhab dan platform dalam baik pembangunan perekonomian nasional maupun dalam ilmu ekonomi atau ekonomi pembangunan.
Semoga penerbitan buku edisi ketiga ini dapat menyumbang dan memberikan kontribusi substansial dan berarti kearah lahirnya mazhab baru dalam perekonomian nasional kita. Dan mahzab baru ini mampu membawa Indonesia menjadi bangsa, negara, dan masyarakat yang berdaulat, maju, adil, dan makmur dalam waktu yang tidak terlalu lama.
Bogor, Maret 2010
Rachmat Pambudy Frans B. M. Dabukke
Mukadimah
-Seperti layaknya makhluk hidup, yang memiliki dan mengalami fase-fase pertumbuhan, mulai dari lahir lalu tumbuh menjadi remaja, menjadi dewasa dan matang, suatu perkembangan konsep atau paradigma juga dapat diidentikkan seperti itu. Suatu konsep atau paradigma dimulai dengan fase kemunculan atau kelahirannya, lalu mengalami pertumbuhan dan perkembangan awal, lalu semakin dikenal dan populer, lalu secara bertahap diakui dan menuju kematangan (growing into maturity), lalu mendapat pengakuan dan kesempatan untuk diwujudkan (tahap implementasi) secara bersamaan dengan tahap awal kematangan (maturity). Bila dalam tahap implementasi dan kematangan ini konsep atau paradigma tersebut secara empiris dapat menjawab permasalahan pembangunan (dalam seluruh siklus pembangunan) yang dihadapi maka konsep dan paradigma itu akan bermetamorfosa menjadi suatu mazhab (school of thought), paling tidak dalam konteks nasional. Ilustrasi sederhana diatas yang menjadi semacam outline atau kerangka dari isi buku ini.
Agribisnis sebagai suatu konsep dan paradigma juga mengalami perkembangan atau pertumbuhan seperti yang digambarkan diatas. Sehingga untuk dapat memahami konsep dan paradigma itu sendiri, layaknya untuk mengenal suatu makhluk hidup, akan lebih menarik dan mudah dimengerti bila kita mengikutinya sesuai dengan tahapan pertumbuhan atau perkembangannya. Perkembangan dan pertumbuhan paradigma agribisnis sangat ditentukan oleh lingkungan (baik internal dan eksternal, baik mikro maupun makro, maupun yang kelihatan dan dapat diukur/tangible serta yang kelihatan tetapi tidak dapat terukur/intangible). Artinya kemudian adalah bahwa untuk dapat mengerti dan memahami konsep atau paradigma agribisnis itu dengan lebih baik lagi diperlukan juga pemahaman yang utuh dan menyeluruh tentang perubahan dinamika lingkungan dimana paradigma agribisnis itu berkembang. Mudah-mudahan dengan outline dan kerangka ini serta seluruh isi buku ini para pembaca dapat mengikuti dan membacanya dengan lugas, menarik, dan bermanfaat.
Mukadimah buku ini disusun untuk mencapai tujuan diatas: bagaimana pembaca dapat mengikuti dan membaca keseluruhan alur pemikiran dan perkembangan paradigma agribisnis dengan gamblang, lebih lugas, dan
Mukadimah
Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian
xvi
singkat padat sebelum kemudian terjun mendalam ke dalam tiap-tiap bab. Mukadimah ini disusun agar dapat menjadi semacam sinopsis atau ringkasan dari keseluruhan bab-bab dan isi buku ini.
Dalam sejarah pembangunan ekonomi Indonesia, terlihat secara gamblang bahwa pembangunan pertanian memiliki posisi dan peranan yang sangat strategis dan menentukan serta mendasar, baik itu pada masa awal pembangunan (initial stages), masa jaya ekonomi nasional (high economy
growth), waktu krisis ekonomi (crisis), dan masa pemulihan ekonomi (recovery)
serta tahapan pertumbuhan ekonomi tinggi kembali (rebound). Posisi dan peranan yang strategis dan menentukan ini bersifat dinamis sesuai dengan tantangan dan dinamika lingkungan baik domestik/nasional, regional, internasional bahkan secara global. Bagian berikutnya akan menjelaskan hal ini.
Sejak pembangunan nasional dimulai di Indonesia, pemerintah menetapkan Trilogi Pembangunan Nasional (yaitu pertumbuhan ekonomi yang tinggi, pemerataan pembangunan dan hasil pembangunan, stabilitas nasional yang mantap dan dinamis) sebagai doktrin pelaksanaan pembangunan nasional. Strategi dan kebijaksanaan/program-program pembangunan setiap sektor pembangunan nasional dijiwai dan mengacu pada pencapaian Trilogi Pembangunan Nasional tersebut. Setidaknya hal ini masih tetap diacu walau dalam penekanan yang berbeda dalam Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN 1999-2004), GBHN terakhir dalam sejarah perekonomian nasional. Karena selanjutnya pembangunan nasional diarahkan berdasarkan Program Pembangunan Nasional atau PROPENAS.
Selama pembangunan jangka panjang tahap pertama (PJP-I), yang dimulai tahun 1969 sampai tahun 1994 (atau 25 tahun pertama), upaya pencapaian trilogi pembangunan diwujudkan melalui pembangunan ekonomi dengan titik berat pada pertanian primer. Hal ini didasarkan pada fakta bahwa sebagian besar rakyat Indonesia menggantungkan kehidupan ekonominya pada pertanian.
Selama 25 (dua puluh lima) tahun pertama, atau dalam 5 (lima) PELITA/Pembangunan Lima Tahun, pembangunan ekonomi dengan titik berat pertanian berlangsung, pertumbuhan ekonomi mampu mencapai sekitar 7 persen per tahun, laju inflasi dapat dikendalikan di bawah dua digit; swasembada beras tercapai pada tahun 1984; pendapatan per kapita meningkat dari sekitar US $ 70 pada tahun 1969 menjadi sekitar US $ 700 pada akhir PJP-I; jumlah penduduk miskin mengalami penurunan yang
Mukadimah
Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian
xvii
berarti; struktur perekonomian mengalami perubahan kontribusi pertanian dalam PDB nasional menurun menjadi sekitar 18 persen sedangkan pangsa sektor industri naik menjadi 23 persen. Namun, penurunan pangsa pertanian dalam PDB tersebut, belum diikuti perubahan pangsa penyerapan tenaga kerja. Pada akhir PJP-I pertanian masih menyerap sekitar 50 persen dari angkatan kerja nasional.
Dengan perubahan struktur perekonomian nasional yang demikian, pada PJP-II(pembangunan jangka panjang tahap II), yang dimulai pada tahun 1995 atau awal PELITA VI, prioritas utama pembangunan ekonomi nasional mengalami perubahan. Pembangunan industri yang didukung oleh pertanian tangguh menjadi titik berat pembangunan ekonomi nasional. Disini muncul pertanyaan besar, bagaimana wujud pembangunan industri yang didukung pertanian tangguh, tepatnya industri apa yang menjadi sektor pemimpin
(leading sector)? Karena didalam sektor industri (menurut klasifikasi BPS)
terdapat banyak jenis industri seperti industri elektronika, pesawat terbang, industri pengolahan hasil pertanian (agroindustri), dan industri lainnya.
Pertanyaan tersebut menggugah Prof. Bungaran Saragih. Beliau sependapat bahwa titik berat pembangunan ekonomi harus bergeser dari pertanian ke sektor industri. Namun beliau tidak sependapat pada lompatan pembangunan, yakni melompat dari pertanian ke sektor industri yang tidak berbasis pada pertanian sebagaimana diajukan oleh mazhab strategi industrialisasi berspektrum luas (broad-based industry strategy) maupun mazhab industri canggih (hi-tech industry), yang menjadi pilihan pada rejim Orde Baru khususnya sejak tahun 1985. Tulisan dan makalah beliau terutama sejak awal 1990-an dimulai dengan analisis dan penawaran alternatif pilihan atas pertanyaan strategis ini. Dan terkonvergensi dalam orasi ilmiah pengangkatan beliau sebagai profesor di IPB pada tahun 1995.
Inti pemikiran dan pendapatnya adalah bahwa industri yang seharusnya dikembangkan sebagai kelanjutan dari pembangunan pertanian adalah industri-industri yang mengolah hasil-hasil pertanian primer menjadi produk olahan, yakni agroindustri. Dalam berbagai kesempatan beliau mengutarakan agroindustri merupakan industri yang memimpin (leading sector) dalam PJP-II. Namun agroindustri tidak mungkin berkembang dan bermanfaat bagi rakyat Indonesia, bila tidak didukung oleh pertanian primer sebagai penghasil bahan baku. Kemudian, pertanian primer tidak akan mampu berkembang bila tidak didukung oleh pengembangan industri-industri yang menghasilkan sarana produksi (industri hulu pertanian), Dan agroindustri, pertanian primer
Mukadimah
Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian
xviii
dan industri hulu pertanian tidak dapat berkembang dengan baik bila tidak didukung oleh sektor atau lembaga yang menyediakan jasa yang dibutuhkan. Oleh karena itu, pembangunan agroindustri pertanian primer, industri hulu pertanian, dan sektor/lembaga pendukung harus dilakukan secara simultan dan harmonis. Inilah yang disebut Prof. Bungaran Saragih sebagai Pembangunan Sektor Agribisnis. Dengan perkataan Iain, menurut Prof. Bungaran Saragih, bentuk pembangunan industri yang didukung oleh pertanian yang tangguh adalah pembangunan sektor agribisnis,
Dalam bahasa yang biasa digunakan Prof, Bungaran Saragih, pembangunan sektor agribisnis yang dimaksudkan adalah membangun subsektor-subsektor agribisnis secara simultan dan harmonis yakni subsektor agribisnis hulu
(upstream agribusiness) yakni kegiatan ekonomi yang menghasilkan sarana
produksi pertanian seperti industri pembibitan/perbenihan, industri agrokimia, dan industri agrootomotif; subsektor pertanian primer (on-farm agribusiness) yakni kegiatan ekonomi yang menggunakan sarana produksi pertanian untuk menghasilkan komoditi pertanian primer; subsektor agribisnis hilir
(downstream agribusiness) yakni kegiatan ekonomi yang mengolah komoditas
pertanian primer menjadi produk-produk olahan baik berupa produk antara
(intermediate product) maupun produk akhir (final product) beserta kegiatan
perdagangannya; subsektor jasa penunjang (supporting institutions) yakrri kegiatan yang menghasilkan dan menyediakan jasa yang dibutuhkan seperti perbankan, transportasi, penelitian dan pengembangan, kebijakan pemerintah, penyuluhan dan konsultan, dan lain-lain.
Tentu saja, pemikiran Prof. Bungaran Saragih yang mengusulkan pembangunan sektor agribisnis sebagai bentuk pembangunan industri yang didukung pertanian tangguh bukan tanpa alasan kuat, baik ditinjau dari kepentingan pembangunan nasional maupun posisi Indonesia dalam perdagangan dunia. Sekitar 70 persen dari angkatan kerja nasional atau hampir 80 persen dari jumlah penduduk Indonesia yang tersebar mulai dari Sabang sampai Merauke, menggantungkan kehidupan ekonominya dari sektor agribisnis. Oleh karena itu, cara yang paling efektif dan efisien untuk meningkatkan dan memeratakan pendapatan penduduk Indonesia adalah mempercepat pembangunan sektor ekonomi yang menghidupi sebagian besar rakyat yaitu sektor agribisnis. Kemudian, Indonesia dengan perkiraan penduduk berjumlah 220 juta jiwa pada tahun 2020, dan berada pada 13,000 pulau, masalah ketahanan pangan (food security) menjadi isu kritis. Selain itu, dalam kontribusi ekspor nasional, kontribusi ekspor produk-produk agribisnis selama ini juga besar. Pada tahun 1995 dari nilai total ekspor
Mukadimah
Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian
xix
Indonesia sebesar US $ 45,4 milyar, sekitar 55,6 persen atau US $ 25,3 milyar berasal dari sektor agribisnis. Meskipun dalam regim nilai tukar rupiah yang secara artifisial dinilai terlalu berlebih tinggi (artificial over-valued exchange
rate), yang anti-ekspor selama PJP-I dan Pelita-VI, neraca perdagangan sektor
agribisnis masih mengalami surplus. Bahkan satu-satunya industri diluar migas dan tambang yang mampu menyumbang net ekspor selama ini adalah industri berbasis agribisnis.
Pemikiran dan proposisi diatas merupakan inti pandangan dan pendapat tentang strategi industrialisasi yang mengemuka antara tahun 1995-1997 seiring dengan memuncaknya prestasi pertumbuhan ekonomi Indonesia, yang diperkirakan akan segera tinggal landas (take-off) sekitar tahun 1996, dan sebelum terjadinya krisis ekonomi pada tahun 1998. Sebagai gambaran, pada saat yang sama juga berlangsung suatu eufora (atau keyakinan yang besar sekali) akan strategi industrialisasi berteknologi tinggi (high tech industry) yang disimbolisasi dengan pengembangan industri pesawat terbang. Pada saat yang bersamaan juga, terutama tahun 1996, isu perdagangan internasional yang bebas (free trade) juga menjadi isu sentral dan tren dunia yang mulai ramai dibicarakan.
Menurut Prof. Bungaran Saragih, di masa yang akan datang khususnya dalam era perdagangan bebas sektor agribisnis Indonesia masih mampu menjadi andalan nasional. Dari sisi penawaran (supply side), selain sumberdaya basis agribisnis melimpah, Indonesia juga memiliki akumulasi pengalaman dalam pembangunan agribisnis, prasarana dan sarana agribisnis, modal sosial (social
capital) yang mendukung pembangunan agribisnis lebih lanjut. Dukungan
kegiatan penelitian dan pengembangan yang paling siap (meskipun belum optimal) di Indonesia adalah kegiatan penelitian dan pengembangan di dalam sektor agribisnis. Kemudian dari sisi permintaan (demand side), selain pasar domestik yang besar, sebagian besar negara dunia terutama di negara-negara Asia Timur sedang dan terus berlomba mengembangkan industri-industri yang tidak berbasis pertanian, sehingga saat ini dan yang akan datang, negara-negara tersebut merupakan negara importir produk-produk agribisnis. Oleh sebab itu, bila Indonesia mengkonsentrasikan diri sebagai produsen produk-produk agribisnis, Indonesia akan memiliki posisi yang kuat dan penting dalam perdagangan dunia.
Dengan pemikiran yang demikian, Prof Bungaran Saragih melihat bahwa pembangunan sektor agribisnis bukan sekadar cara baru membangun pertanian/ tapi lebih luas lagi bahwa pembangunan sektor agribisnis merupakan suatu strategi pembangunan perekonomian nasional secara keseluruhan. Berbagai
Mukadimah
Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian
xx
isu pembangunan nasional seperti peningkatan pendapatan, peningkatan kesempatan kerja, dan berusaha, pemerataan, penanggulangan kemiskinan, ketahanan pangan, stabilitas ekonomi makro (inflasi dan kurs rupiah), masalah kelestarian lingkungan, dan lain-lain dapat dipecahkan melalui pembangunan sektor agribisnis. Dengan kata lain pembangunan sektor agribisnis menjamin terwujudnya trilogi pembangunan nasional.
Seiring dengan berlangsungnya krisis ekonomi tahun 1997-1998, perekonomian nasional mengalami krisis multi-dimensi, dengan dampak yang sangat parah (mungkin terparah di Asia), dan terjadi reformasi baik secara politik, ekonomi maupun sosial. Bermunculan dan berkembang meluas serta mendapat dukungan yang kuat dari seluruh lapisan masyarakat isu-isu sentral seperti pemulihan ekonomi nasional, pemerataan pembangunan antar daerah (awal otonomi dan desentralisasi keuangan daerah), peningkatan partisipasi rakyat dalam perekonomian, dan lain-lain. Pada saat yang sama, memang secara agregat perekonomian mengalami kontraksi yang sangat besar sampai pertumbuhan minus 13 persen, tetapi sektor pertanian masih mampu bertahan dan mampu bertumbuh positif, lebih besar dibandingkan sektor perekonomian lainnya. Bahkan untuk neraca perdagangan internasional, sektor pertanian malah menyumbang devisa negara melalui surplus perdagangan yang relatif besar. Hal ini dimungkinkan dengan merosotnya nilai rupiah dibandingkan dengan dollar Amerika, maka harga internasional dan pendapatan domestik untuk komoditi-komoditi unggulan ekspor nasional mengalami lonjakan yang besar sekali. Disaat sektor lain menderita, sektor pertanian masih mampu bertahan dan bertumbuh positif. Gambaran ini akan jauh lebih menggembirakan bila sektor pertanian dipandang sebagai suatu kesatuan dengan agroindustri dan industri hulu pertanian, dalam definisi agribisnis. Konteks dan dinamika sosial politik ekonomi ini yang kemudian melatarbelakangi perkembangan pemikiran dan paradigma agribisnis selanjutnya. Variabel makro ekonomi menjadi penting dan sentral bersamaan dengan variabel mikro (sektoral-subsektor, komoditas, dan produk).
Pembangunan sektor agribisnis sebagai strategi pembangunan ekonomi nasional yang seharusnya ditempuh oleh Indonesia, semakin relevan dan memperoleh pembenaran paling sedikit pada masa krisis ekonomi yang sedang melanda Indonesia. Menurut pandangan Prof. Bungaran Saragih, terjadinya krisis ekonomi adalah karena kesalahan strategi industrialisasi regim Orde Baru dan mengorbankan sektor agribisnis domestik. Melalui krisis ekonomi ini, mekanisme pasar sedang melakukan koreksi terhadap strategi industrialisasi, Secara de facto, hampir semua industri broad-based dan
Mukadimah
Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian
xxi
hi-tech mengalami kebangkrutan, sebaliknya sektor agribisnis domestik justrumengalami booming. Oleh karena itu, Prof, Bungaran Saragih sangat yakin bahwa sektor agribisnislah jalan keluar krisis ekonomi maupun jalan menuju kejayaan ekonomi nasional di masa yang akan dating.
Menurut Prof. Bungaran Saragih, pencapaian pembangunan pertanian jangan hanya puas pada hal-hal yang bersifat makro. Kinerja makro harus terwujud juga pada kinerja mikro secara selaras dan paralel. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi secara agregat harus terwujud pada peningkatan pendapatan riil rakyat karena rakyatlah yang harus menikmati hasil pembangunan. Oleh karena itu, menurut Beliau, pembangunan sektor agribisnis sebagai strategi pembangunan ekonomi Indonesia merupakan syarat keharusan (necessary condition) bagi pembangunan ekonomi yang berpihak pada rakyat Untuk kondisi saat ini, selain pembangunan agribisnis, tidak ada pilihan strategi lain yang menjamin bahwa pembangunan ekonomi nasional adalah pembangunan ekonomi rakyat banyak. Kemudian, perlu ada syarat kecukupan (sufficient condition) berupa mekanisme secara inheren
(built-in) yang menjamin manfaat pembangunan ekonomi tersebut dinikmati
secara riil oleh rakyat banyak. Syarat yang dimaksud adalah pengembangan koperasi agribisnis sebagai organisasi ekonomi petani dan dikelola oleh orang profesional bukan dari anggota,. Beliau melihat rakyat yang berada pada subsistem agribisnis budidaya (on-farm agribusiness) yang berjumlah sekitar 40 persen angkatan kerja nasional belum menikmati manfaat pembangunan agribisnis selama ini, karena nilai tambah (value added) pada subsistem agribisnis budidaya relatif kecil. Nilai tambah yang paling besar berada pada subsistem agribisnis hulu dan hilir. Untuk merebut atau menangkap nilai tambah pada subsistem agribisnis inilah diperlukan koperasi agribisnis. Melalui pengembangan unit-unit usaha koperasi agribisnis pada subsistem agribisnis hulu dan hilir, maka rakyat yang berada pada subsistem agribisnis budidaya
(on-farm) dapat menikmati nilai tambah yang ada melalui koperasinya.
Pasca krisis ekonomi dan berlangsungnya proses pemulihan ekonomi nasional yang mulai terasa sejak tahun 1999, paradigma agribisnis seperti mendapat dorongan besar (big boost) dan dukungan moral yang luas. Hal ini sebagian besar disebabkan bukti empiris dan nyata keunggulan dan kemampuan agribisnis untuk mengatasi krisis ekonomi dan lepas dari tekanan krisis multi-dimensi serta menyumbang secara gemilang dalam perekonomian nasional baik dalam pertumbuhan ekonomi, menyumbang devisa negara, menciptakan surplus perdagangan, menjamin ketahanan dan kecukupan pangan, sumber pendapatan dan lapangan pekerjaan bagi sebagian besar
Mukadimah
Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian
xxii
penduduk, dan mengentaskan kemiskinan yang meroket terutama pasca krisis ekonomi, dan aspek lainnya. Dalam suasana seperti ini, paradigma agribisnis sendiri juga mengalami perkembangan ke arah yang lebih matang dan lebih substansial lagi untuk tidak hanya terbatas sebagai salah satu alternatif strategi industrialisasi dan cara baru memandang sektor pertanian, tetapi menjadi lebih luas lagi sebagai salah satu paradigma pembangunan ekonomi nasional. Hal ini banyak sekali mewarnai perkembangan pemikiran agribisnis selanjutnya. Agribisnis memasuki ranah pergulatan di level makroekonomi.
Untuk pengembangan sektor agribisnis nasional ke depan, khususnya dalam upaya memperkuat daya saing sektor agribisnis nasional, Prof. Bungaran Saragih melihat adanya kelemahan yang harus dibenahi baik dalam strategi pembangunan nasional secara keseluruhan maupun dalam sektor agribisnis itu sendiri. Kelemahan dalam strategi pembangunan ekonomi yang dimaksud adalah bahwa kebijakan makroekonomi warisan regim Orde Baru khususnya di bidang moneter (nilai tukar, suku bunga) tidak mendukung malahan mengorbankan sektor agribisnis domestik selama ini. Sementara kelemahan dalam sektor agribisnis adalah struktur agribisnis yang tersekat-sekat, sehingga menimbulkan margin ganda (double marginalization) dan masalah transmisi
{pass-through problem) dalam berbagai bentuk, yang memperlemah daya
saing agribisnis nasional. Struktur agribisnis yang tersekat-sekat ini diperkuat pula asosiasi-asosiasi komoditas yang horizontal dan cenderung berfungsi sebagai kartel. Dalam pengelolaan pembangunan sektor agribisnis juga terjadi pengkaplingan, misalnya pada Departemen Pertanian, Departemen Perindustrian dan Perdagangan, Departemen Kehutanan, Departemen Perhubungan, dan Departemen Koperasi dan PKM, yang memiliki mandat dan visi yang berbeda-beda sehingga kebijaksanaan yang ditujukan pada sektor agribisnis sering tidak konsisten dan tidak jarang malah saling bertentangan,
Untuk membenahi kelemahan sektor agribisnis nasional yang demikian, Prof. Bungaran Saragih melihat perlu dilakukan reformasi strategi industrialisasi dan kebijakan makroekonomi yang anti-agribisnis domestik ke yang pro-agribisnis domestik. Kemudian perlu mentransformasi struktur yang tersekat-sekat kepada struktur agribisnis yang terintegrasi secara vertikal, melalui pengusahaan agribisnis komoditas secara vertikal Untuk mengelola pembangunan sektor agribisnis, Prof. Bungaran Saragih melihat perlu ada lembaga setingkat Menteri Koordinator yang mengkoordinasikan Departemen/ non Departemen yang menangani sektor agribisnis. Atau mengintegrasikan departemen/non-departemen yang menangani sektor agribisnis menjadi satu Departemen Agribisnis Nasional.
Mukadimah
Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian
xxiii
Rupanya bukan Departemen Agribisnis Nasional yang dipercayakan kepada Prof. Bungaran Saragih oleh Presiden RI Bapak K.H. Abdurrahman Wahid pada akhir tahun 2000, tetapi malah Departemen Pertanian dan Kehutanan. Walau cuma bertahan sekitar 3 (tiga) bulan karena kemudian departemen tersebut kembali dipisahkan. Dan Prof. Bungaran Saragih dipercayakan untuk mengemban tugas dan tanggung jawab sebagai Menteri Pertanian. Masa penentuan dan keemasan bagi paradigma agribisnis dimulai, karena saatnya apa yang dipikirkan dan yang selalu didengung-dengungkan kini waktunya untuk diimplementasikan dan diwujudnyatakan dalam dunia nyata. Pada rentang waktu sekitar 4 (empat) tahun menjadi Menteri Pertanian, paradigma agribisnis mengalami revolusi (pertumbuhan yang kontras) menuju kematangan secara paradigma dan mungkin sebagai suatu mazhab walau dalam kadar yang masih terbatas. Tahun 2000 ini merupakan tahun awal pemulihan kembali (recovery) perekonomian nasional dari krisis ekonomi.
Masa kerja yang hanya empat tahun secara gamblang dan pragmatis digambarkan sebagai masa untuk menyelamatkan (rescue), memulihkan (recovery) dan memantapkan landasan akselerasi pertumbuhan (take-off). Atau dalam istilah lain yang sering disampaikan kepada umum adalah “memadamkan kebakaran”, memulihkan dan meletakkan pondasi pembangunan.
Departemen Pertanian yang dipimpin beliau setelah melalui proses dan mekanisme urun rembug yang intensif dan luas bersama para pemangku kepentingan (stakeholder) pembangunan lainnya merumuskan dan mengimplementasikan paradigma baru pembangunan pertanian yakni “pembangunan sistem dan usaha agribisnis yang berdaya saing, berkerakyatan, berkelanjutan dan terdesentralisasi”. Waktu ini jugalah sebutan agribisnis mendapatkan redefinisi ulang agar lebih mengena dan mudah dimengerti khalayak umum, dengan ditambahkannya kata-kata ‘sistem dan usaha agribisnis’. Strategi pemulihan maupun pembangunan kembali landasan pembangunan tidak boleh sepotong-sepotong, melainkan harus dilakukan secara sistem, yakni dalam sistem dan usaha agribisnis.
Paradigma baru pembangunan pertanian tersebut dalam 4 tahun masa kepemimpinan di Departemen Pertanian, diimplementasikan dengan kebijakan dasar yakni kebijakan “proteksi dan promosi” sistem dan usaha agribisnis. Prinsip kebijakan ini adalah seraya melindungi dari praktek perdagangan internasional yang tidak adil (unfair-trade) seperti dumping, dan praktek tidak adil lainnya dari negara lain, kita tumbuh-kembangkan dan
Mukadimah
Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian
xxiv
tingkatkan daya saing agribisnis dalam negeri dengan fasilitasi dan dukungan pemerintah. Kita setuju dengan semangat perdagangan bebas (free trade) yang diprakarsai WTO tapi juga harus perdagangan yang adil (fair trade). Kalau negara lain masih melakukan perlindungan pada agribisnisnya, maka wajar kita juga berhak melindungi agribisnis kita sesuai dengan prinsip-prinsip asas kesetaraan dan timbal balik WTO. Promosi pembangunan agribisnis kita laksanakan baik melalui instrumen budgeter maupun non-budgeter. Instrumen budgeter dilakukan antara lain melalui alokasi anggaran pembangunan dekonsentrasi. APBN Departemen Pertanian langsung disalurkan ke provinsi dan kabupaten/kota, bantuan langsung ke kelompok tani, rehabilitasi dan pembangunan infrastruktur pertanian-pedesaan, bantuan barang-barang modal, subsidi pupuk dan benih, bantuan pembinaan SDM (sumberdaya manusia) dan penyuluhan dan lain-lain. Sedangkan instrumen non-budgeter kita lakukan antara lain melalui subsidi pupuk dan benih, deregulasi pestisida dan alat mesin pertanian, penghapusan PPn (Pajak Pertambahan Nilai) komoditas pertanian, penyediaan skim perkreditan bersubsidi seperti Kredit Ketahanan Pangan (KKP) dan dana talangan bagi Lembaga Usaha Ekonomi Pedesaan (LUEP), asistensi kepada pemerintah daerah dan pelaku agribisnis.
Setelah hampir 4 (empat) tahun paradigma dan strategi baru serta kebijakan dasar tersebut diimplementasikan, tanpa diperkirakan semula, ternyata pertanian Indonesia telah mengalami perubahan yang signifikan. Semula yang ditargetkan untuk “memadamkan kebakaran”, memulihkan dan meletakkan pondasi pembangunan agribisnis, ternyata kemajuan yang dicapai pertanian Indonesia melampaui apa yang pernah dicapai sepanjang sejarah Republik Indonesia.
Keragaan sektor pertanian selama periode tahun 2000-2004 telah mengalami pemulihan menuju pertumbuhan berkelanjutan. Selain jauh lebih mampu bertahan, sektor pertanian juga mampu pulih jauh lebih cepat dari perekonomian secara umum. Dapat disimpulkan bahwa sektor pertanian telah terlepas dari “perangkap spiral” pertumbuhan rendah yang berlangsung selama periode tahun 1998-1999. Sektor pertanian telah melewati fase pertumbuhan rendah (1998 -1999), dan mulai tahun 2003 berada pada fase percepatan pertumbuhan (accelerating growth) sebagai masa transisi menuju pertumbuhan berkelanjutan (sustaining growth) yang diharapkan dimulai pada tahun 2004 dan 2005. Berdasarkan perkembangan indeks PDB terbukti bahwa sektor pertanian mampu pulih lebih awal dibanding sektor ekonomi secara keseluruhan.
Mukadimah
Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian
xxv
Selama periode tersebut, rata-rata laju pertumbuhan tahunan Produk Domestik Bruto (PDB) sektor pertanian mencapai 1,83 %, jauh lebih tinggi dibanding periode krisis (1998-1999) yang hanya mencapai 0,88 %, bahkan dibanding periode tahun 1993-1997 (sebelum krisis ekonomi) yang mencapai 1,57 %. Setelah mengalami sedikit kontraksi (tumbuh negatif 0,74%) pada tahun 1998, PDB sektor pertanian telah pulih, melampaui level sebelum krisis, pada tahun 1999. Sebagai perbandingan, pada tahun 1998, total perekonomian mengalami kontraksi luar biasa, tumbuh negatif 13,13 % dan baru pulih ke level di atas sebelum krisis pada tahun 2003.
Dibanding sebelum krisis, pada periode yang sama, hampir semua produksi komoditas pertanian mengalami peningkatan, insiden kemiskinan keluarga tani maupun penduduk pedesaan menurun signifikan, kesejahteraan petani meningkat, ketahanan pangan makin mantap, kesempatan kerja di sektor pertanian meningkat, dan sumbangan sektor pertanian terhadap penerimaan devisa bertambah. Penurunan nyata prevalensi kemiskinan di sektor pertanian dan wilayah pedesaan merupakan bukti tak terbantahkan keberhasilan kita dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Jumlah penduduk pertanian miskin menurun dari 26,0 juta orang pada tahun 1999 menjadi 20,6 juta orang pada tahun 2002. Jumlah penduduk pedesaan miskin menurun dari 33 juta orang atau 26:8 % pada tahun 1999 menjadi 25 juta orang atau 21 % pada tahun 2002. Banyak pihak mengatakan bahwa ketahanan pangan kita semakin rawan. Namun fakta menunjukkan kita tiak pernah mengalami krisis pangan dalam empat tahun terakhir Survei rumah tangga BPS menunjukkan bahwa asupan energi penduduk meningkat dari 1852 kalori/kapita/hari pada tahun 1999 menjadi 1986 kalori/kapita/hari tahun 2002, sementara asupan protein meningkat dari 48,67 gr/kapita/hari pada tahun 1999 menjadi 54,42 gr/kapita/hari pada tahun 2002. Kita telah berhasi meningkatkan kualitas gizi masyarakat, yang berarti juga kemantapan ketahanan pangan. Memang benar kita masih mengimpor sejumlah bahan pangan. Namun secara keseluruhan Indonesia merupakan negara surplus pangan. Untuk produk pertanian secara keseluruhan, surplus neraca perdagangan meningkat dari US$ 1.300 pada tahun 1996 menjadi US$ 3.412 pada tahun 2002. Khusus untuk beras, volume impor telah menurun tajam dari 4,8 juta ton pada tahun 1999 menjadi 1,0 juta ton pada tahun 2003. Bahkan, mungkin pada tahun 2004 ini kita akan mengalami surplus beras.
Walau banyak pihak memandang sebelah mata kinerja diatas, tetapi harus diakui bahwa kinerja sektor pertanian sudah lebih baik dari masa krisis maupun masa Orde Baru secara agregat. Dan harus diingat bahwa pencapaian
Mukadimah
Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian
xxvi
ini berlangsung dari kondisi negatif (kontraksi), dan bukan dengan kondisi normal. Dengan pencapaian kinerja diatas, agenda jangka menengah-pendek yang masih perlu segera dan terus kita capai ialah bagaimana mempertahankan dan meningkatkan kinerja yang cukup menggembirakan tersebut. Setidaknya lima upaya yang harus dan segera dilakukan agar momentum akselerasi pertumbuhan sektor pertanian dapat terus dipertahankan secara berkelanjutan yaitu : (a) merenovasi dan memperluas infrastruktur fisik (hard infrastructure), utamanya sistem irigasi, sistem transportasi, sistem telekomunikasi dan kelistrikan pedesaan; (b) revitalisasi sistem inovasi pertanian (penelitian dan pengembangan, diseminasi teknologi pertanian); (c) Pengembangan kelembagaan agribisnis (tata pemerintahan, organisasi pengusaha dan jejaring usaha); (d) rekonstruksi sistem insentif berproduksi dan investasi; (e) pengelolaan pasar input dan output. Semua ini hendaklah dirancang secara komprehensif dan terpadu.
Belajar dari pengalaman krisis pahit multi-dimensi 1997-1998 dan masa pemulihan ekonomi 2000-2004 memberikan pelajaran berharga betapa strategisnya sektor pertanian, sebagai suatu sistem dan usaha agribisnis sebagai jangkar, peredam gejolak, penyelamat, dan sumber pertumbuhan bagi sistem perekonornian nasional. Sektor pertanian dalam kerangka sistem dan usaha agribisnis merupakan kunci dalam kontribusi pertumbuhan ekonomi, penyediaan lapangan pekerjaan dan usaha, pengentasan kemiskinan, pemantapan ketahanan pangan nasional, sumber devisa negara, industrialisasi nasional, dan perdagangan internasional. Oleh karena itu, pembangunan sektor pertanian yang lebih canggih (advance) dan maju dalam satu kesatuan sistem dan usaha agribisnis haruslah tetap dijadikan sebagai prioritas pembangunan nasional. Paling tidak sampai sektor atau industri yang lain mampu membuktikan sebaliknya. Inilah perjuangan dan konsensus politik ekonomi yang masih perlu diusahakan dan dicapai bersama saat ini dan dimasa mendatang.
Tentang Penulis
-P
rof. DR. Ir. Bungaran Saragih, MEc menyelesaikan pendidikan S-l dari Institut Pertanian Bogor (IPB) bidang Sosial Ekonomi (1971), lalu meraih S-2 dengan mayor dalam bidang Ekonomi (MEc) dan minor dalam bidang Statistika dari North Carolina State University, Amerika Serikat. Di universitas yang sama ia menyelesaikan S-3 (Ph.D) dengan mayor bidang Ekonomi dan minor bidang Sosiologi. Pada tahun 1079, menerima penghargaan internasional masyarakat pertanian untuk prestasi istimewa akademik, Gamma Sigma Delta. Pria kelahiran Pematangsiantar 17 April 1945 ini sejak muda sudah bercita-cita ingin menggeluti dunia pertanian, Ini karena lingkungan tempatnya dibesarkan di Pematang Siantar yang dikelilingi perkebunan teh. Prof. Bungaran Saragih tetap menggeluti dunia pertanian, tetapi sebagai pengajar di IPB. Pun ia tak memilih jurusan Budidaya Pertanian tetapi Ekonomi Pertanian, karena buat sulung dari tiga bersaudara anak pasangan Jahodim Saragih dan Patianim Purba ini pertanian bukan soal komoditi tetapi soal manusia. Menurut Saragih, manusia yang memproduksi, manusia yang mendistribusikan hasil produksi pertanian dan manusia juga yang memakan hasil pertanian tersebut.Saragih mematok cita-cita menjadi profesor karena profesor menurut anggapannya adalah orang yang mampu membuat sejarah, “Ketika terjadi pemberontakan pada tahun 1965, saya merumuskan kembali cita-cita hidivp saya. Saya perhatikan dalam pergantian dari Orde Lama ke Orde Barn, pemerintahan ditentukan dua pimpinan yakni jenderal dan profesor seperti Prof, Widjoyo Nitisastro,” tutur Kepala Pusat Studi Pembangunan IPB yang mulai menjabat sejak tahun 1993 ini. Keinginan itu akhirnya tercapai pada usia 50 tahun, tepatnya Desember 1995, dengan orasi ilmiah berjudul:”Pembangunan Agribisnis Dalam Pembangunan Ekonomi Nasional Menghadapi Abad Ke-21”.
Setelah pertemuan dengan K.H. Abdurrahman Wahid yang saat itu menjadi Presiden Republik Indonesia di Istana Presiden tahun 1999, Presiden yang akrab dipanggil Gus Dur ini mengangkat Prof. Bungaran Saragih menjadi Menteri Pertanian dan Kehutanan pada bulan Agustus 2000. Hanya tiga bulan berselang, departemen yang tadinya adalah penyatuan Departemen Pertanian dengan Departemen Kehutanan ini kembali
Profil Penulis
Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian
xxviii
dipisahkan: dan kembali diangkat menjadi Menteri Pertanian dan dilantik pada bulan Desember 2000. Dalam pergantian pucuk pimpinan negara dari K.H. Abdurrahman Wahid kepada Ibu Megawati Soekarnoputri, Presiden Megawati Soekarnoputri kembali mempercayakan jabatan Menteri Pertanian kepada Prof. Bungaran Saragih sampai berakhir masa pemerintahan akhir tahun 2004. Chairman of the Governing Council dari Internasional Fund for Agriculture Development (IFAD) 2003-2004. Memperoleh penghargaan Doctor Honoris Causa di Bidang Pertanian dari George-August Univesity, Gootingen, Jerman. Mendapat penghargaan Matsuda Award tahun 2005 di Jepang.
Pasca pengabdian sebagai menteri, keinginan untuk tetap mengembangkan sistem dan usaha agribisnis tetap dilakoni dengan kembali aktif di IPB, dan ikut membidani lahirnya Fakultas Ekonomi dan Manajemen dan Departemen Agribisnis, yang belakangan akan menjadi tempat purna bakti sebagai profesor. Memang kegiatan pendidikan, penelitian dan pengajaran tetap menjadi minat utama dan tak pernah ditinggalkan. Dalam bidang pendidikan, sejak tahun 2005 menjadi Ketua Dewan Pebina Yayasan Kesatuan di Bogor yang mewadahi sekolah-sekolah dan Sekolah Tinggi Kesatuan Bogor. Juga mendirikan Pusat Pangan dan Agribisnis (Food and Agribusiness Center) bersama dengan murid-murid dan kolega lainnya sebagai kantor dan wadah untuk melanjutkan agenda dan pekerjaan pembangunan sistem dan agribisnis yang belum selesai dan perlu dilanjutkan. Setelah tidak menjabat menteri lagi, kebiasaan dan kesukaan menulis dapat kembali dilakoni dengan menulis secara rutin di Tabloid AGRINA, yang diberi judul SUARA AGRIBISNIS. Lepas mengurus manusia (sumberdaya manusia) agribisnis, tampaknya walau tidak berhubungan langsung dengan bidang ini, upaya rehabilitasi dan penyelamatan orang utan serta penghutanan kembali hutan yang rusak untuk habitat orang utan menjadi pekerjaan utama sampai saat ini. Kegiatan dan upaya ini dinaungi melalui lembaga Yayasan Borneo Orang Utan Survival (BOS), dengan menjadi Ketua Dewan Pembina. Juga menjadi Ketua Majelis Pertimbangan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) dari tahun 2004-2009.
Jadi pengabdian dan pekerjaan utama selalu berkaitan dengan pembangunan sistem dan usaha agribisnis, yang sepertinya sudah melekat erat dengan pribadi Profesor yang adalah ayah dari putri satu-satunya Erina Paima Nakamura, dan suami dari Mihoko Nakamura, wanita Jepang yang dikenalnya di negeri Sakura. Saat ini mereka tinggal di Bogor.
- Daftar
Isi-Kata Pengantar ... v
Ucapan Terima Kasih ... ix
Pengantar Editor ... xi
Mukadimah ... xv
Tentang Penulis ... xxvii
Daftar Isi ... xxix
BAGIAN PERTAMA
Agribisnis Sebagai Paradigma Pembangunan Ekonomi 1. Agroindustri Suatu Sektor yang Memimpin Dalam PJP II ... 32. Pengembangan Agribisnis Dalam Pembangunan Ekonomi Nasional Menghadapi Abad Ke-21 ... 17
3. Agribisnis Cara Baru Melihat Pertanian ... 37
4. Pembangunan Sektor Agribisnis Dalam Rangka Pembangunan Ekonomi Nasional ... 49
5. Kebijaksanaan Terpadu Pengembangan Agribisnis ... 89
6. Peningkatan Keunggulan Daya Saing Agribisnis Memasuki Era Persaingan ... 95
BAGIAN KEDUA
Strategi Industrialisasi Berbasis Agribisnis 7. Reformasi Strategi Industrialisasi Dalam Rangka Percepatan Ekspor Sektor Agribisnis ... 1158. Strategi Industrialisasi Neraca Pembayaran dan Pemulihan Ekonomi ... 123
9. Pembangunan Sektor Agribisnis Sebagai Strategi Industrialisasi yang Lebih Bersahabat dengan Lingkungan Hidup ... 129
10. Pilihan Strategi Industrialisasi Memasuki Milenium Ketiga yang Berpihak pada Penguatan Ekonomi Rakyat ... 135
11. Pemberdayaan Sektor Agribisnis Dalam Rangka Pemulihan Krisis Pangan dan Devisa ... 143
Daftar Isi
Agribisnis: Paradigma Baru Pembangunan Ekonomi Berbasis Pertanian
xxx
BAGIAN KETIGA
Pengembangan Agribisnis Berbasis Komoditas dan Sumberdaya
12. Pemberdayaan Petani Tanaman Pangan dan Hortikultura Keluar
dari Jeratan Lingkaran Setan Sosial Ekonomi ... 163
13. Memberdayakan Peternak Melalui Pengembangan Koperasi Agribisnis Peternakan ... 169
14. Pengembangan Agribisnis Berbasis Perikanan Menghadapi Era Perdagangan Bebas Abad 21 ... 179
15. Karakteristik Agribisnis dan Implikasinya Bagi Manajemen Agribisnis ... 187
BAGIAN KEEMPAT
Membangun Agribisnis Membangun Ekonomi Rakyat dan Daerah 16. Agribisnis Sebagai Sektor Utama Ekonomi Rakyat: Prospek dan Pemberdayaannya ... 19717. Pengembangan Agribisnis Berskala Kecil ... 205
18. Pembangunan Wilayah Jawa Barat yang Integratif Melalui Pengembangan Agribisnis ... 219
19. Pengembangan Agribisnis Sebagai Pembangunan Wilayah Kabupaten Simalungun ... 225
20. Pengembangan Agribisnis di Daerah Transmigrasi ... 233
21. Pembinaan Sumberdaya Manusia untuk Mendukung Pengembangan Agribisnis dan Ekonomi Pedesaan ... 237
BAGIAN KELIMA
Strategi Sistem dan Usaha Agribisnis Membangun Pertanian dan Perekonomian Nasional 22. Visi Misi Strategi dan Kebijakan Pembangunan Pertanian Nasional 2000-20004 ... 24523. Pembangunan Ketahanan Pangan Nasional Tahun 2000-2004 ... 263
24. Kinerja Pembangunan Nasional dan Pertanian Tahun 2000-2003 .. 271
25. Reshaping Global Agriculture Architecture For Eradicating Poverty and Hunger in the World ... 273
Epilog ...285
Profil Editor ...289