Laporan Teknis
Estimasi Stok dan Potensi Sumberdaya Ikan
di Danau Ayamaru Papua Barat
KPP PUD-413
Oleh:
Taufiq Hidayah, A.Pi, M.Si
Muhammad Ali, S.Pi, M.Si
Marson, S.P
Sidarta Gautama
Gatot Subroto
Armun
2019
LAPORAN TEKNIS
Estimasi Stok Dan Potensi Sumberdaya Ikan
Di Danau Ayamaru Papua Barat
KPP PUD-413
Oleh:
Taufiq Hidayah, A.Pi, M.Si
Marson, S.P
Muhammad Ali, S.Pi, M.Si
Sidarta Gautama
Gatot Subroto
Armun
BALAI RISET PERIKANAN PERAIRAN UMUM DAN PENYULUHAN PERIKANAN BADAN RISET DAN SUMBERDAYA MANUSIAKELAUTAN DAN PERIKANAN
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2019
LAPORAN TEKNIS
Estimasi Stok Dan Potensi Sumberdaya Ikan
Di Danau Ayamaru Papua Barat
KPP PUD-413
Oleh:
Taufiq Hidayah, A.Pi, M.Si
Marson, S.P
Muhammad Ali, S.Pi, M.Si
Sidarta Gautama
Gatot Subroto
Armun
BALAI RISET PERIKANAN PERAIRAN UMUM DAN PENYULUHAN PERIKANAN BADAN RISET DAN SUMBERDAYA MANUSIAKELAUTAN DAN PERIKANAN
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2019
LAPORAN TEKNIS
Estimasi Stok Dan Potensi Sumberdaya Ikan
Di Danau Ayamaru Papua Barat
KPP PUD-413
Oleh:
Taufiq Hidayah, A.Pi, M.Si
Marson, S.P
Muhammad Ali, S.Pi, M.Si
Sidarta Gautama
Gatot Subroto
Armun
BALAI RISET PERIKANAN PERAIRAN UMUM DAN PENYULUHAN PERIKANAN BADAN RISET DAN SUMBERDAYA MANUSIAKELAUTAN DAN PERIKANAN
KEMENTERIAN KELAUTAN DAN PERIKANAN
2019
LEMBAR PENGESAHAN
1. Judul Penelitian : Estimasi Stok Dan Potensi Sumberdaya Ikan Di Danau Ayamaru Papua BaratKPP PUD-413 2. Tim Peneliti : Taufiq Hidayah, A.Pi, M.Si
Marson, SP
Muhammad Ali, S.Pi, M.Si Sidarta Gautama Gatot Subroto Armun 3. Anggaran : -Palembang, Desember 2019 Mengetahui,
Kepala Balai Riset Penanggung jawab Kegiatan, Perikanan Perairan Umum
Dan Penyuluhan Perikanan
Dr. Arif Wibowo, S.P, M.Si Taufiq Hidayah, A.Pi, M.Si NIP. 19771226 200312 1 002 NIP. 19740725200312 1 002
Telah dikoreksi oleh
Ketua Kelompok PenelitiManajemen Perikanan Paraf:
Prof. Dr. Ir. Agus Djoko Utomo, M.Si NIP. 19571014 198403 1 004
KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala karuniaNYA, sehingga Laporan Teknis penelitian ini dengan judul Estimasi Stok dan Potensi Sumberdaya Ikan di Danau Ayamaru Papua Barat KPP PUD-413dapat kami selesaikan dengan baik. Penelitian ini merupakan salah satu kegiatan yang ada di Balai Riset Perikanan Perairan Umum dan Penyuluhan Perikanan (BRPPUPP) Palembang untuk tahun anggaran 2019. Lokasi penelitian dilaksanakan di Danau Ayamaru Papua Barat
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengkaji stok ikan khususnya di Danau Ayamaru serta mengoptimalkan pemanfaatan perikanan tangkap agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan serta memelihara daya dukung lingkungan untuk perikanan. Dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi untuk pengelolaan yang keberlanjutan dalam pemanfaatan sumber daya perikanan di Danau Ayamaru.
Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak-pihak yang telah banyak membantu terutama kepada Kuasa Pengguna Anggaran (KPA), peneliti, teknisi dan pejabat struktural lingkup BPPPUPP Palembang. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada Dinas Kelautan Perikanan Provinsi Kalbar serta Dinas Kelautan Perikanan tingkat Kabupaten dan Kota yang ada Provinsi Papua Barat khususnya Dinas Pertanian, Perkebunan dan Perikanan Kabupaten Maybrat serta jajarannya yang telah membantu terlaksananya kegiatan kami. Tak lupa juga untuk para nelayan dan tetua kampung di sekitar Danau Ayamaru yang telah banyak membantu kami dalam mengumpulkan data dan informasi.
Kritik dan saran diharapkan untuk membantu perbaikan kami berikutnya dan semoga Laporan Teknis bermanfaat.
Palembang, Desember 2019 Penanggung jawab Kegiatan,
ABSTRAK
Ayamaru adalah suatu Danau yang berada di Papua Barat yang merupakan gabungan dari tiga buah danau menjadi satu dengan luas tahun 1980-an mencapai ± 980 ha dan saat ini tinggal 20%. Tujuan penelitian untuk mengetahui kondisi stok terkini, potensi produksi, potensi Lestari dan produksi hasil tangkap di Danau Ayamaru. Metodologi yang digunakan adalah metode mark and recapture untuk stok ikan dan alat untuk analisis kualitas air. Potensi produksi berdasarkan analisa data klhorofi-a dengan metode Almazan. Potensi Lestari (MSY) menggunakan data nilai Z dan standing stock. Dinamika populasi ikan dominan akan dianalisis dengan metode FISAT II. Data Alat tangkap dan Ikan akan dikoleksi dari data primer serta data informasi yang dikumpulkan oleh enumerator. Hasil yang didapatkan rata-rata standing stock 79,45 Kg/ha, Potensi produksi rata-rata 64,44 kg/ha/th. Potensi Lestari (MSY) 106,86Kg/ha/th. Secara fisika kimia Danau Ayamaru tergolong perairan yang sangat ideal mendukung kehidupan ikan. Jenis plankton yang didapatkan pada Danau Ayamaruterdiri dari 23 jenis fitoplankton dan 6 jenis zooplankton. Tidak ada jenis fitoplankton yang mendominasi, sedangkan zooplankton didominasi oleh jenis
Peridinium di Stasiun Inlet Mosway dan Euglina di KJA Johafah
Kata kunci : Estimasi stok, potensi produksi, lotensi Lestari, produksi hasil tangkap, Danau Ayamaru, Papua Barat
DAFTAR ISI
Halaman HALAMAN JUDUL ... i HALAMAN PENGESAHAN... KATA PENGANTAR... ABSTRAK... ii iii iv DAFTAR ISI ... v DAFTAR GAMBAR ... viDAFTAR TABEL... xiii
DAFTAR LAMPIRAN... ix
BAB I. PENDAHULUAN ... 1
1.1. Tujuan penelitian... 1
1.2. Keluaran yang diharapkan... 2
1.3. Hasil Yang diharapkan... 2
1.4. Pelaksanaan Penelitian……… 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA ... 4
2.1. Karakteristik Perairan... 4
2.2. Danau Ayamaru... 4
2.3. Aspek Penangkapan... 5
2.4. Sumberdaya Ikan... 6
2.5. Kualitas Air... 7
BAB III. METODOLOGI... 11
3.1. Waktu dan Lokasi ... 11
3.2. Kebutuhan Data... 12
3.3. Teknik Pengumpulan Data... 19
3.4. Analisis Data... 20
3.5. Faktor Keberhasilan dan Resiko... 21
3.6. Aspek Strategis... 22
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ... 23
4.1. Gambaran Umum Wilayah... 23
4.1.1. ProfilKewilayahan Papua Barat... 23
4.1.2. Danau Ayamaru... 26
4.1.3. Potensi... 27
4.2. Standing Stok dengan Metode Mark and Recapture………. 29
4.3. Potensi Produksi... 32
4.4. Potensi Lestari... 34
4.4.1. Dinamika Populasi Ikan Dominan………. 34
4.4.2. Maximum Sustainable Yield (MSY)……….. 37
4.5. Produksi Hasil Tangkapan ... 39
4.5.1. Kegiatan Penangakapan Ikan... 39
4.6. Jenis-Jenis Ikan ... 47
4.7. Kualitas Air ... 52
4.7.1. Kecerahan ………..…. 52
4.7.3. Konduktivitas (Daya Hantar Listrik)………. 54
4.7.4. Oksigen Terlarut (DO)..………...…. 55
4.7.5. Hardness (Kesadahan).………..………. 56
4.7.6. Turbidity… ………..………. 56
4.7.7. Derajat Keasaman (pH Perairan)………....………. 58
4.7.8. Total Phospat (TP)……..……….………..………. 59
4.7.9. Kedalaman……… 59
4.8. Plankton ... 60
4.9. Pembangunan Bendungan dan Forum Pertemuan Nelayan….... 63
4.9.1. Pembangunan Bendungan………..…. 63
4.9.2. Forum Pertemuan Nelayan..………... 64
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ... 66
5.1. Kesimpulan ... 66
5.2. Saran ... 66
DAFTAR GAMBAR
GAMBAR HALAMAN
2.1. Peta Rangkaian Danau Ayamaru (Danau Yau, Semtu dan Yate)... 5
3.1. Peta Lokasi Penelitian... ... 11
4.1. Peta Batas Adminstras Propinsi Papua Barat ... 25
4.1.1. Tagging dan Penangkapan Ikan ………..…… 30
4.2.2. Grafik Komposisi Hasil Tangkapan Danau Ayamaru………..…... 31
4.4.1.1. Kurva Pertumbuhan Ikan Sepat siam……….. 34
4.4.1.2. Mortalitas Ikan Sepat berdasarkan Analisis FISAT II………. 35
4.4.2.1. Kurva Pertumbuhan Ikan Mas……….;.…………. 36
4.4.2.2. Mortalitas Ikan Mas berdasarkan Analisis FISAT II………….……… 36
4.6.1. Grafik Pola Pertumbuhan Ikan Mas……….………. 49
4.6.2. Grafik Pola Pertumbuhan Ikan Sepat Siam……..……… 50
4.7.1. Grafik Kondisi Kecerahan Perairan Danau Ayamaru ………..……… 52
4.7.3. Grafik Kondisi DHL Perairan Danau Ayamaru ………….……… 54
4.7.4. Grafik Kondisi DO Perairan Danau Ayamaru ………….……..……… 55
4.7.6. Grafik Kondisi Turbidity Perairan Danau Ayamaru ………….…….……… 56
4.7.7. Grafik Kondisi pH Perairan Danau Ayamaru …………..……….…….……… 58
4.9.1. Bupati Maybrat bersama Tim Riset BRPPU………. 64
DAFTAR TABEL
TABEL HALAMAN
3.1. Parameter dan Metode Analisis Sampel Air... 19
3.2. Tahapan dan Waktu Pelaksanaan ... 21
4.1. Data Informasi Kabupaten / Kota di Papua Barat……… 26
4.3. Potensi Produksi Ikan di Danau Ayamaru berdasakan Chlorofil-a……….. 32
4.6. Jenis-Jenis Ikan di Danau Ayamaru Papua Barat………..…….. 47
4.7.2. Kondisi Suhu Perairan di Danau Ayamaru……… 52
4.7.5. Nilai Kesadahan di Danau Ayamaru……….……… 56
4.7.8. Total Phospat (TP) di Danau Ayamaru..……….……….. 59
4.7.9. Kedalaman Air di Danau Ayamaru…..……….. 59 4.8.1. Kelimpahan, Indeks Keanekaragaman dan Indeks Dominansi
Phytoplankton Danau Ayamaru Papua Barat (Maret 2019)…. 60 4.8.2. Kelimpahan, Indeks Keanekaragaman dan Indeks Dominansi
DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN HALAMAN 1. Kualitas Air Danau Ayamaru Trip I dan Trip II... 72 2. Dokumentasi Kegiatan Penelitian di Danau Ayamaru 2019... 77 3. Film Dokumentasi Kegiatan Penelitian Danau Ayamaru 2019…..
BAB I. PENDAHULUAN
Luas perairan umum Indonesia mencapai 54 juta ha. Luasan tesebut terdiri dari 12 juta hektare perairan sungai dan paparan banjirnya dan 39 juta ha perairan rawa. Sedangkan 2 juta hektare merupakan perairan danau dan badan air lainya. Perairan umum mempunyai potensi dan peranan yang cukup besar dalam berbagai kegiatan. Bagi perikanan, perairan umum merupakan sumber daya alam untuk penangkapan ikan konsumsi maupun ikan hias, benih dan induk ikan bagi usaha budidaya ikan di samping sebagai tempat usaha budidaya. Pengkajian estimasi stok ikan bertujuan untuk memberikan saran tentang pemanfaatan yang optimum sumber daya hayati perairan seperti ikan dan udang. Sumber daya hayati bersifat terbatas, tetapi dapat memperbaharui dirinya dan pengkajian stok ikan dapat diartikan sebagai upaya pencarian tingkat pemanfaatan yang dalam jangka panjang memberikan hasil tangkapan maksimum perikanan dalam bentuk bobot (Sparre & Venema, 1998) untuk keperluan pengelolaan perikanan Gulland (1983)
Tugas pokok dan fungsi (TUPOKSI) Balai Riset Perikanan Perairan Umum dan Penyuluhan Perikanan (BRPPUPP) yaitu melaksanakan penelitian tentang pengelolaan sumberdaya perikanan perairan umum daratan. Penelitian tersebut bertujuan untuk mengkaji stok ikan dan potensi sumberdaya ikan khususnya di KPP PUD 413 yang difokuskan pada daerah aliran Danau Ayamaru Papua Barat. Harapan yang dicapai adalah adanya optimalisasi pemanfaatan perikanan tangkap agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, memelihara daya dukung lingkungan.
1.1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari dilaksanakannya penelitian ini adalah : 1. Mengetahui kondisi stok (standing stok) terkini di Danau
Ayamaru
3. Mengetahui Potensi Lestari dari perairan di Danau Ayamaru 4. Mengetahui Produksi tangkap di Danau Ayamaru.
1.2. Keluaran Yang Diharapkan
Dari hasil penelitian ini keluaran yang diharapkan adalah menyediakan paket data dan informasi hasil penelitian untuk bahan kebijakan pemanfaatan dan pengelolaan Danau Ayamaru Papua Barat.
1.3. Hasil Yang Diharapkan
Memberikan informasi terkini gambaran kepada pemangku kepentingan tentang estimasi stok dan sumber daya ikan untuk pengelolaan sumber daya ikan sebagai sumber pendapatan masa kini dan masa mendatang. Terdapat empat jenis data dan informasi/output dalam penelitian ini yaitu :
1. Data standing stock, yaitu data stock actual keberadaan sumberdaya ikan yang ada pada saat dilakukan pengukuran/ estimasi kg/area atau ton/area.
2. Data potensi Produksi, yaitu data mengenai kemampuan suatu badan perairan untuk dapat mengasilkan ikan kg/ha/tahun
3. Data potensi lestari (MSY), yaitu data sejumlah ikan yang dapat dimanfaatkan secara optimum, dengan memperhatikan status kelestariannya.
4. Data Produksi hasil tangkapan yaitu produksi ikan dari hasil tangkapan berbagai alat tangkap yang dilakukan oleh
nelayan, data sekunder dinas dan data-data penangkapan ikan lain yang bersesuaian
1.4. Pelaksanaan Penelitian
Penelitian ini bersifat survei-eksploratif yang meliputi pengumpulan data dan informasi secara primer dan sekunder. Pelaksanaan kegiatan riset melibatkan para peneliti yang mempunyai keahlian di bidang penangkapan, manajemen sumberdaya perairaian, ekologi perairan dan biologi ikan.
Penelitian dilaksanakan dengan pendekatan pengumpulan data primer dan data sekunder. Data sekunder dikumpulkan melalui penelusuran pustaka dan hasil penelitian yang relevan dari instansi terkait yaitu Dinas Pertanian, Perkebunan dan Perikanan Kabupaten Maybrat.
Penentuan dari stok yang ada terkait erat dengan tipe habitat yang ditemui pada setiap lokasi penelitian. Adapun beberapa langkah dalam penentuan stok dan potensi pada setiap habitat mengacu pada metode dibawah ini :
a. Standing Stock
Standing stok ikan dilaksakan dengan dua metode :
Perairan danau dengan metode mark and recapture (block area)
b. Potensi Produksi
Pada seluruh tipe habitat dibutuhkan data kecerahan, DHL, klorofil dan kedalaman rata-rata. Dapat ditambahkan komponen lain seperti data Total Phospat, Nitrat dan Amoniak dalam air serta data plankton.
c. Potensi Lestari (MSY)
Untuk menghitung MSY, upaya optimum ptimum dan tingkat pemanfaatan, data statistik yang diperlukan adalah data sekunder 10 tahun atau 5 tahun kebelakang berupa : 1) Produksi ikan.
2) Produksi ikan per-jenis alat tangkap. 3) Jumlah dan jenis alat tangkap.
Namun bila data dari Dinas Perikanan tidak memadai, maka dapat digunakan data standing stok dikalikan konstanta dan nilai Z (total laju penangkapan) dengan rumus :
MSY = 0.5 x Z x Standing Stok d. Produksi Hasil Tangkapan
Yaitu penentuan produksi ikan dari hasil tangkapan berbagai alat tangkap yang dilakukan oleh nelayan (enumerator), data sekunder dinas dan data-data penangkapan ikan lain yang bersesuaian.
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Karakteristik Perairan.
Papua Barat adalah sebuah provinsi di wilayah timur
Indonesia yang terletak di ujung barat Pulau Papua. Ibukota Papua Barat adalah Manokwari. Nama provinsi ini sebelumnya adalah Irian Jaya Barat yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2007 tanggal 18 April 2007, nama provinsi ini diubah menjadi Papua Barat. Papua Barat dan Papua merupakan provinsi yang memperoleh status otonomi khusus.
Pulau Papua memang memiliki sejuta rahasia yang belum tersentuh oleh tangan manusia. Tepatnya di Provinsi Papua Barat ada sebuah danau seluas 980 Hektare ini memiliki keindahan yang menakjubkan. Danau tersebut bernama Ayamaru. Danau Ayamaru terletak kurang lebih di bagian tengah Jazirah Kepala Burung (Vogelkop) Papua di Provinsi Papua Barat, sekitar 170 km ke arah tenggara dari Kota Sorong. Nama Ayamaru juga digunakan sebagai nama Kota Ayamaru yang merupakan ibukota Kabupaten Maybrat, Provinsi Papua Barat, sejak pemekaran wilayah ini dari Kabupaten Sorong Selatan pada 2009. Posisi geografinya kurang lebih pada kordinat 1o12’ Lintang Selatan dan 132o 14’ Bujur Timur. Danau
Ayamaru terdiri dari rangkaian tiga danau yang berada dalam satu aliran sungai yang mengalir dari Barat ke Timur.
2.2. Danau Ayamaru.
Menurut Boeseman (1963) danau-danau ini dapat dipandang sebagai bentuk pelebaran dari Sungai Ayamaru yang terdiri dari Danau Jow dengan panjang 7 km dan lebar 2 km, Danau Semitu dengan panjang 2 km dan lebar 1,5 km, dan yang terakhir Danau Yate dengan panjang 3 km dan lebar tak sampai 1,5 km (Gambar 1).
Rangkaian ketiga danau seperti ini dalam limnologi (ilmu perairan darat) dikenal sebagai danau paternoster (bagaikan tasbih) yang merupakan rangkaian danau dalam satu untaian aliran sungai, masing- masing dengan elevasi yang menurun secara bertahap. Pintu keluar utamanya adalah Sungai Ayamaru yang akan menyatu dengan Sungai Kais, yang selanjutnya akan bermuara ke Laut Seram.
Gambar 2.1. Peta Rangkaian Danau Ayamaru (Danau Jow, Semitu dan Yate).
Danau Ayamaru merupakan salah satu danau alami di Papua yang berair jernih berwarna kebiruan. Danau dengan luas sekitar 980 hektar dengan kedalaman maksimum 6 meter ini memiliki karakteristik pasang surut sesuai musim. Pentingnya fungsi dari Danau Ayamaru ini sendiri sangat disadari oleh masyarakat. Tidak hanya berfungsi sebagai sumber kehidupan saja karena airnya berlimpah untuk memenuhi kebutuhan satu distrik, tetapi juga berfungsi sebagai sarana transportasi antar distrik dan juga fungsinya dalam sektor pariwisata. Dalam bidang perikanan, danau ini cukup unggul karena ikan yang hidup disini tidak hanya ikan untuk dikonsumsi saja, namun banyak juga jenis-jenis ikan hias yang berwarna-warni. Beberapa jenis-jenis udang pun dapat dijumpai di sini, seperti udang merah, udang kuning dan udang biru. Ikan tawar beragam jenis dan siput danau sudah
menjadi makanan nikmat bagi penduduk sekitar danau. Danau Ayamaru memegang peranan penting bagi masyarakat Kabupaten Maybrat dan Sorong, Papua Barat.
2.3. Aspek Penangkapan
Pengelolaan perairan umum sebagai salah satu upaya kegiatan perikanan dalam memanfaatkan sumberdaya ikan di perairan umum secara berekelanjutan perlu dilakukan secara bijaksana. Kegiatan pemanfaatan sumberdaya ikan di perairan umum melalui kegiatan penangkapan dan budidaya mempunyai kecenderungan semakin tidak terkendali, dimana jumlah ikan yang ditangkap tidak lagi seimbang dengan daya pulihnya. Untuk itu diperlukan pengelolaan sumberdaya yang lebih hati-hati. Untuk mencapai tujuan pengelolaan sumberdaya yang lebih hati-hati, maka perlu disusun petunjuk pelaksanaan pengelolaan sumberdaya yang lebihhati-hati. Populasi ikan mulai menurun /hampir punah, baik disebabkan oleh faktor lingkungan maupun tekanan penangkapan (Utomo dan Asyari, 1999)
2.4. Sumberdaya Ikan
Dalam UU RI Nomor 31 Tahun 2004, Sumberdaya ikan adalah potensi semua jenis ikan. Sumberdaya ikan adalah merupakan salah satu sumberdaya kelautan dan perikanan yang tergolong dalam sumberdaya yang dapat diperbaharui (renewable
resources), artinya jika sumberdaya ini dimanfaatkan sebagian,
sisa ikan yang tertinggal mempunyai kemampuan untuk memperbaharui dirinya dengan berkembang biak. Sumber daya ikan yang terdapat di perairan umum seharusnya menjadi salah satu yang dapat menopang ketahanan pangan masyarakat. Sungai merupakan salah satu tipe perairan umum yang salah satu fungsinya adalah untuk perikanan, menjadi sumber ekonomi yang
berkontribusi menjadi sumber kehidupan masyarakat yang berkelanjutan.
Kondisi usaha perikanan tangkap masih didominasi usaha perikanan tangkap skala kecil dengan tingkat produktivitas dan efisiensi usaha serta pendapatan yang masih rendah. Kondisi tersebut sangat memprihatinkan, mengingat peranan nelayan sebagai hulu dalam bisnis perikanan. Sumberdaya perikanan terdiri dari sumberdaya ikan, sumberdaya lingkungan, serta sumberdaya buatan manusia yang digunakan untuk memanfaatkan sumberdaya ikan. Oleh karena itu, pengelolaan /manajemen sumberdaya perikanan mencakup penataan pemanfaatan sumberdaya ikan, pengelolaan lingkungannya, serta pengelolaan kegiatan manusia (Fauzi dan Anna, 2005). Sumberdaya perikanan bersifat dinamis demikian juga gangguan terhadap keseimbangan sistem yang terjadi pada sumberdaya tersebut baik berupa hubungan langsung antara catch dan effort maupun hubungan tidak langsung antara catch dan effort. Pencemaran merupakan suatu sistem yang bersifat dinamis.
2.5. Kualitas Air
Kualitas air merupakan bagian penting sebagai indicator untuk menentukan layak dan tidaknya suatu perairan menunjang kehidupan biota yang ada di dalamnya. Beberapa Parameter yang dianalisis dalam penelitian ini antara lain; kecerahan, suhu,, Konduktifitas , DO, Kesadahan (Hardness), Turbiditas, pH, Total Phospat dan Kedalaman
Kondisi kecerahan air sangat tergantung kepada warna, kekeruhan (turbidity), keadaan cuaca, waktu pengukuran, padatan tersuspensi (TSS) dan padatan terlarut (TDS). Kecerahan yang rendah mengindikasikan laju sedimentasinya tinggi, warna air
mengindikasikan perairan kaya plankton terutama fitoplankton dan sedimentasi. Menurut Novotny dan Olem, (1994) dalam Effendi, (2000) tingkat kecerahan perairan kurang dari 200 cm termasuk dalam tingkat kesuburan eutrofik.
Suhu air permukaan dipengaruhi oleh ketinggian, dan musim, waktu hari, sirkulasi udara, aliran dan kedalaman badan air Faktor fisik yang paling penting di perairan adalah cahaya. Ini mempengaruhi suhu, potensi fotosintesis, dan oksigen terlarut.. Kondisi Fisik, kimia dan karakteristik biologis dipengaruhi oleh suhu. Dalam perairan, zona fotik dan aphotic sangat terkait dengan penetrasi cahaya. Zona eufotik mengacu pada kedalaman maksimum kolom air yang tanaman dapat tumbuh. Sumber terbesar dari panas dalam air adalah radiasi matahari dengan penyerapan langsung. Transfer panas dari udara dan dari sedimen hanya terjadi dalam jumlah yang relatif kecil (Wetzel, 1995).
pH merupakan variabel penting dalam penilaian kualitas air. Hal ini dipengaruhi oleh banyakbiologis (fotosintesis dan respirasi) dan proses kimia (dekomposisi) di dalam tubuh air dan semua proses yang terkait dengan pasokan air dan treatmen. Di perairan tercemar, pH dikendalikan oleh keseimbangan antara karbon dioksida, karbonat dan ion bikarbonat. Variasi harian pH juga dapat disebabkan oleh fotosintesis dan respirasi siklus alga di perairan eutrofik. Tingginya nilai pH (lebih dari 8,5) dicatat di perairan dengan kandungan organik yang tinggi dan kondisi eutrofik (Kalff, 2002).
Kedalaman merupakan fungsi dari curah hujan, masukan dari anak sungai, kemiringan tingkat erosi tepian dan dasar sungai, serta merupakan parameter fisika kunci yang akan menentukan produktivitas perairan sungai
Oksigen terlarut (DO) di perairan dalam seperti sungai memiliki kecendrungan semakin rendah dengan semakin dalamnya suatu perairan. Konsentrasi oksigen terlarut secara alami bervariasi pada setiap kedalaman, penurunan tersebut tidak terlalu tajam, namun mengikuti pola stratifikasi perairan (Effendi, 2003). Oksigen terlarut (DO) sangat penting untuk semua bentuk kehidupan biota di air. DO perairan alami dipengaruhi oleh aktivitas fotosintesis, suhu, tekanan, salinitas, dan turbulensi. Bahan organik yang ekstrim dari limbahdapat menurunkan konsentrasi DO dalam air sungai.
Ortofosfat merupakan bentuk fosfor yang dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tumbuhan akuatik. Setelah masuk ke dalam tumbuhan akuatik (fitoplankton) fosfat anorganik mengalami perubahan menjadi organofosfat (Effendie, 2003). Kisaran kadar orthoposfat pada lokasi penelitian berkisar 0,0005– 0,0161 mg/L. Berdasarkan kadar ortofosfat, perairan dapat diklasifikasikan menjadi perairan oligotrofik menuju perairan mesotrofik.
DHL atau konduktivitas listrik (EC) adalah ukuran kemampuan sebuah larutan untuk melakukanarus listrik. EC berkaitan dengan jumlah total ion terlarut dalam air dan memiliki korelasi positif dengan gradien trofik dan kelimpahan fitoplankton (Diaz et al., 2007). Sumber polutan seperti air limbah dari pabrik pengolahan limbah, limpasan pertanian, dan limpasan perkotaan meningkatkan ion dalam air, yang mengarah ke peningkatan dari EC (Nather Khan, 1990a). EC meningkatkan juga selama stratifikasi termal di hypolimnion karena peningkatan dekomposisi. Alkalinitas adalah kapasitas asam-penetral air. Kebanyakan perairan alami mengandung keasaman yang rendah. Alkalinitas adalah indikator konsentrasi karbonat, bikarbonat dan hidroksida,
tetapi mungkin termasuk kontribusi dari borat, fosfat, silikat dan senyawa dasar lainnya. Oleh karena itu, danau yang terletak di dekat lanskap pertanian atau perkotaan memiliki tingkat alkalinitas lebih tinggi. Perairan alkalinitas rendah (<24 mg / l sebagai CaCO3) memiliki kapasitas buffer yang rendah.
Dalam dunia perikanan keberadaan plankton terutama fitoplankton merupakan faktor biologi yang penting, karena fitoplankton merupakan bagian mata rantai pertama dalam jaringan makanan di perairan. Disamping itu, kelimpahan plankton dapat juga menjadi indikator tentang kesuburan perairan (Wetzel & Likens, 1979). Menurut Swingle dalam Muligan (1969) peran fitoplankton dalam dunia perikanan adalah keterlibatannya dalam sistem rantai makanan menuju ke produksi ikan. Daerah pelagis waduk merupakan daerah utama di mana plankton tumbuh dan berkembangbiak. Kelimpahan fitoplankton berkaitan erat dengan kandungan unsur hara N dan P perairan, dimana unsur N umumnya merupakan unsur pembatas pertumbuhannya (Kartamihardja & Sri Nastiti, 2003). Secara vertikal, fitoplankton hidup pada lapisan permukaan yaitu didaerah eufotik, akan tetapi hal ini hanya terbatas pada lapisan tertentu dimana pada siang hari fitoplankton tidak terlalu dekat dengan permukaan karena fitoplankton tidak menyukai cahanya matahari dengan intensitas tinggi. Sedangkan pada malam hari biasanya fitoplankton dekat dengan permukaan air. Konsentrasi fitoplankton sangat besar di lapisan permukaan, dan penurunan konsentrasi hampir berbanding lurus dengan pertambahan kedalaman daya tembus cahaya (Davis, 1955 dalam Suroso, 2008). Kelimpahan fitoplankton menggambarkan karakteristik umum perairan waduk dan danau (Ryding & Rast, 1989). Lebih lanjut dikatakan bahwa di perairan eutrofik, frekuensi pertumbuhan sesaat alga (alga bloom)
lebih sering terjadi dengan kuantitas alga hijau dan alga hijau biru relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan di perairan oligotrofik.
Klorofil-a adalah pigmen warna hijau yang berperan dalam proses fotosintesis dengan menyerap dan mengubah energi cahaya menjadi energi kimia. Klorofil terdapat pada tumbuhan, alga dan bakteri fotosintetik Kandungan total klorofil-a di perairan dapat digunakan untuk menduga potensi produksi ikan dan tingkat kesuburan perairan. Menurut Novotny & Olem (1994); perairan oligotrofik bila kandungan klorofil < 4 μg/l, mesotrofik bila kandungan klorofil antara 4-10 μg/l, dan menjadi eutrofik bila kandungan klorofil-a >10 μg/l.
3 2
4 1
BAB III. METODOLOGI
3.1. Waktu dan Lokasi
Penelitian telah dilakukan pada tahun 2019. Pengambilan sampel dilakukan tiga kali yaitu pada bulan Maret, Juli, dan November 2019 di Danau Ayamaru Papua Barat.
DANAU AYAMARU
AYAMARU JAYA
AYAMARU UTARA TIMUR
AYAMARU TENGAH AYAMARU UTARA
Segeor Yukase Mapura Kambaya Jitmau Fategomi Sayembab Koma-koma Sauf Ayamaru Kartapura
Gambar 3.1. Peta Lokasi Penelitian
Dari hasil survey pertama didapatkan lokasi yang menjadi stasiun pengambilan sampel yaitu :
1. Stasiun Inlet Danau Ayamaru (Mosway).
Merupakan inlet terbesar dari wilayahDanau Ayamaru bagian atas yang paling luas dengan mata air terbesar dan terdalam (11 m) 2. Stasiun Bagian Tengah Danau (Danau Yau)
Merupakan bagian dari tengah danau Yau yang memiliki dasar berlumpur namun tidak terlalu dalam (sekitar 2 m), banyak ruput kumpai
3. Stasiun Danau Semtu
Adalah Danau Ayamaru bagian tengah yang memiliki luasan sedang namun merupakan bagian lubuk yang paling banyak ikan, dasar perairan berbatu dan sangat terlindung oleh pepohonan di sekitarnya
4. Stasiun Danau Yate (Kampung Mapura)
Merupakan Danau Ayamaru bagian bawah yang juga memliki sumber air di beberapa tempat, dekat dengan perumahan penduduk dan disekitanya juga terdapat ladang untuk bercocok tanam.
5. Stasiun KJA di Danau Yate
Stasiun KJA menjadi salah satu lokasi yang diambil untuk menjadi parameter dan acuan kegiatan budidaya di Danau Ayamaru.
3.2. Kebutuhan Data
Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini meliputi Analisis Data Estimasi PStok dan Potensi Sumberdaya Ikan sebagai
berikut :
a. Standing Stock
a.1. Pengolahan dan Analisis Data Akustik
Data akustik diolah dengan menggunakan software
ECHOVIEW ver.5. Elementary sampling distance unit adalah 0.5
nmi. Hasil ekstraksi berupa nilai area backscattering coeficient (sA, m2/nmi2) dan distribusi nilai target strength ikan tunggal dalam satuan decibel (dB) sebagai indeks refleksi ukuran ikan.
Hubungan target strength dan óbs (backscattering cross-section, m2) dihitung berdasarkan atas MacLennan & Simmonds (1992) yaitu:
TS=10 log óbs ... ………...(1)
Persamaan untuk densitas ikan (ñA, ind./nmi2) adalah:
ñA=sA/óbs ... ... (2)
óbs=aLb ... ... (3)
Hubungan target strength dan L adalah:
TS=20 log
L+A ... (4) A = nilai target strength untuk 1 cm panjang ikan
(normalized target strength)
Menurut Hile (1936) dalam Effendie (2002), hubungan panjang (L) dan bobot (W) dari suatu spesies ikan yaitu:
W=aLb... ...(5)
Menurut Mac Lennan & Simmonds (1992) persamaan panjang dan bobot untuk mengkonversi panjang dugaan menjadi bobot dugaan adalah:
Wt=a{∑{ni(Li+ÄL/2)b+1-(Li- ÄL/2)b+1}/{(b+1)ÄL}} ………..…(6)
di mana:
Wt = bobot total (g)
ÄL = selang kelas panjang (cm)
Li = nilai tengah dari kelas panjang ke-i (cm) ni = jumlah individu pada kelas ke-i
a, b= konstanta untuk spesies tertentu
Selain nilai estimasi stok ikan berdasarkan atas komposisi ukurannya, hasil analisis juga disajikan dalam bentuk peta sebaran densitas tiap ESDU nya.
a.2. Metode Mark and Recapture/ Penandaan dan Tertangkap Kembali/ Lincoln-Peterson Method (Rawa Banjiran)
Hewan yang bergerak terutama yang bersifat sendiri/individualisa akan sangat susah untuk dilakukan penghitungan jumlah populasinya. Hal ini dikarekan hewan jenis ini terkadang bergerak mengitari, bergerak bersama dan juga bersembunyi pada saat tertentu. Untuk menghitung jumlah absolute dapat digunakan metode mark-recapture methods yang dapat memverifikasi secara efectif. Langkah yang digunakan dalam metode ini adalah: a. Kumpulkan sejumlah sampel yang berasal dari satu spesies
(digunakan spesies yang dominan tertangkap pada habitat tertentu).
b. Gunakan tagging atau penanda yang tahan air pada bagian tubuh yang tidak mengganggu pergerakan alamiah.
c. Setelah pemberian tanda (tagging) tebarkan kembali ikan yang ditandai, sebaiknya dilakukan pada dekat lokasi ikan yang tertangkap.
d. Setelah penebaran, dibiarkan beberapa saat agar ikan kembali kepada populasi keseluruhan dan dianggap populasi telah bercampur (recover)
e. Untuk mengestimasi ukuran populasi dilakukan penangkapan kembali pada ikan yang telah ditandai pada hari berikutnya (hari kedua/ dapat ditentukan selanjutnya).
f. Asumsi pada metode mark-recapture adalah proporsi dari individu yang ditandai dan tertangkap pada kedua kali, sebagai bentuk dari bagian ikan dari keseluruhan populasi. Dapat digambarkan pada persamaan:
R S= M N ………(5) atau N=M∗C R ……… (6) Dimana:
M = Jumlah spesies yang di tandai dan dilepaskan N = Ukuran populasi
C= Jumlah sampel yang tertangkap pada hari kedua
b. Potensi Produksi Ikan
Besarnya potensi produksi ikan diestimasi dibedakan berdasarkan ekosistem dengan menggunakan dua metode yaitu :
b.1. Perairan Waduk/Danau atau Rawa Banjiran
Untuk waduk/danau atau rawa bajiran menggunakan rumus Almazan and Boyd in Boyd (1990), yaitu:
Y = 1.43 + 24.48Xc – 0.15Xc2 Dimana:
Y = Potensi produksi ikan (kg/ha/tahun) Xc = Chlorophyll-a (mg/m3).
b.2. Perairan Sungai
Potensi Produksi di sungai (Leger-Huet’s Method) (Welcomme, 1983)
Nilai potensi produksi perikanan untuk badan air bergerak seperti sungai dan rawa banjiran dapat dilakukan dengan pendekatan dari metode Leger-Huet’s method. Formulasi berdasarkan Leger-Huet’s dapat mengestimasi potensi berdasarkan zonasi dengan sederhana berdasarkan perkiraan ichthyomass yang dimungkinan di eksploitasi dari badan air yang ada. Dengan formula dasar adalah:
K=B∗L∗k ……….(9)
Dimana :
K = Produktivitas tahunan perairan atau standing stok (kg/km2)
B = Kapasitas biogenic L = Lebar rata-rata sungai
k = Produktivitas coeffisient
Kapasitas biogenic dapat menggunakan koefisien kesuburan perairan berdasarkan tumbuhan (perifiton, fitoplankton, makrofita) atau dapat dihitung berdasarkan modifikasi dengan menggunakan biomass makrozoobenthos. Koefisien kesuburan adalah sebagai berikut:
Skor 1-3 bila miskin makanan alami
Skor 4-6 bila makanan alami sedang/cukup Skor 7-10 bila kaya akan makanan alami.
Nilai coefficient k adalah jumlah dari tiga koefisien (k1 + k2 +
k3), Dimana :
k1 = hasil rata-rata suhu
k2 = tergantung pada kesadahan dan alkalinitas perairan dan
Skor 1 untuk perairan lunak/tidak alkalis Skor 2 untuk perairan sadah/alkalis
k3 = komposisi jenis ikan dominan dengan nilai berikut :
Skor 1 untuk ikan berarus deras (rheophilic)
Skor 1,5 untuk kombinasi ikan arus deras dan lambat Skor 2,0 untuk ikan dominan berarus lambat (limnophilic)
Metode ini kemudian dimodifikasi untuk perairan sungai yang lebar dan luas dengan merubah koefisien 1 (k1) dan
kapasitas biogenic (Holcik, 1979 dalam Welcomme, 1983) dimana :
k1 dihitung berdasarkan persamaan : k1 = -0.6671 +
0.16671* Suhu (-oC)
Kapasitas biogenic B dari perairan akan dinilai menggunakan biomassa dari makrozoobenthos menggantikan jumlah tumbuhan air. Menurut Albrecht dalam Welcomme (1983), perhitungan kapasitas biogenic ini tergantung pada biomass makrozoobenthos. Bila biomass makrozoobenthos kurang dari
60 kg/ha maka kapasitas biogenic (B) dihitung dengan rumus :
B = 0.00 + 0,05 Bb ………. (10)
Bila biomass makrozoobenthos pada kisaran 60-700 kg/ha maka kapasitas biogenic digunakan rumus B = 0,35158 + 0,45469 log Bb dimana Bb adalah biomass makrozoobenthos hasil pengukuran.
c. Potensi Produksi Lestari (MSY)
Untuk menghitung MSY, Upaya Optimum dan Tingkat Pemanfaatan, data statistik yang diperlukan adalah:
1). Produksi jenis-jenis ikan.
2). Produksi jenis ikan per-jenis alat tangkap. 3). Jumlah dan jenis alat tangkap.
c.1. Menghitung Produksi Total Tahunan
Jika semua jenis ikan sudah dapat dikelompokkan ke dalam ‘species group’ seperti pelagis kecil, demersal dan lain-lain, maka produksi tahunan kelompok jenis ikan tersebut dapat diperoleh melalui penjumlahan biasa.
c.2. Menghitung ‘Fishing Power Index’ (FPI)
Dari tabel Produksi jenis ikan per-jenis alat tangkap dapat dihitung hasil tangkapan per-unit alat (C/A) untuk tahun tertentu. Alat tangkap yang mempunyai angka C/A yang tertinggi dinyatakan sebagai alat tangkap standar, dimana nilai FPI = 1,00. Nilai FPI alat tangkap lainnya dikonversi ke nilai FPI yang tertinggi tersebut.
c.3. Menghitung Total Upaya (Total Effort)
Nilai effort (f) diperoleh dari hasil perkalian antara jumlah alat (Jumlah Alat) dengan FPI. Total effort tahunan adalah penjumlahan dari nilai effort dari alat tangkap yang digunakan.
c.4. Menghitung MSY dan Upaya Optimum
Langkah berikutnya adalah menghitung CPUE tahunan yaitu dengan membagi Total produksi ikan (demersal, pelagis dsb.) dengan Total Effort tahunan.
Langkah terakhir adalah menghitung persamaan regresi antara CPUE tahunan dengan total effort tahunan.
c.5. Model Linier – Schaefer
Menurut model tersebut hubungan antara CPUE (c/f) dengan total effort mengikuti persamaan regresi: Y = A – b X , dimana: Y = C/f, dan X=f.
Prosedur pendugaan MSY diperoleh melalui perhitungan berikut:
Menurut model Schaefer: C/f =a – bf →C = af - bf 2.
Pada titik effort maksimum (Fmax), maka hasil tangkapan akan menjadi Nol. C = af – bf 2 = 0; Jika demikian pada titik
tersebut a = bf; atau f = a/b. Pada Catch maksimum (MSY), maka tingkat effort (Fopt) berada pada setengah tingkat effort maksimum (1/2 . a/b = a/2b).
Dengan memasukkan nilai a/2b ke persamaan regresi:
C = af – bf 2, menjadi → C = a. a/2b – b (a/2b)(a/2b) atau →
C = a2/2b – a2/4b atau →
C = 2a2/4b – a2/4b, sehingga dengan demikian maka Cmax
atau MSY menjadi:
MSY = A2 / 4 b dan f opt = A/2b
d. Potensi Produksi Hasil Tangkapan
Yaitu penentuan produksi ikan dari hasil tangkapan berbagai alat tangkap yang dilakukan oleh nelayan, data sekunder dinas dan data-data penangkapan ikan lain yang bersesuaian.
Parameter kualitas air yang digunakan sebagai data dukung meliputi; Parameter fisika, kimia dan biologi berdasarkan metode APHA 1995 (Tabel 3.1).
Tabel . 3.1. Parameter dan Metode Analisis Sampel Air No Parameter Satuan Metode/ Instrument
Fisika Perairan
1. Suhu perairan* oC
(celcius) Termometer
2. Kedalaman Meter Deep Sounder
3. Total Dissolve
Solide (TDS) mg/l TDS meter
4. Conductivity (DHL) μhos/cm Conductivity meter 5. Turbidity/Kekeruha
n NTU Turbidimeter
6. Kecerahan cm Piring secchi
Kimia Perairan
7. pH unit pH meter/ pH indikator
8. Oksigen terlarut mg/L Titrasi winkler/ DO meter 9. Alkalinnitas* mg/L Titrasi indikator bromocresol
green
10. Hardness* mg/L Titrasi indikator EDTA
11. Total Phospat mg/L Spectrofotometer Asam
Ascorbat dengan destruksi
Biologi Perairan
12. Plankton sel/l Microscope
13. Biomas Benthos* Kg/m2 Microscope dan transect
Keterangan * = wajib diperoleh dalam perhitungan.
3.3. Teknik Pengumpulan Data
Sampling dan observasi lapangan akan dilakukan sebanyak tiga kali yang mewakili musim kemarau dan penghujan yaitu pada bulan Maret, Juli dan November 2019. Penelitian bersifat survei lapangan dengan stasiun penelitian meliputi Danau Yau, Danau Semtu dan Danau Yate yang merupakan rangkaian dari Danau Ayamaru,
Inventarisasi jenis-jenis ikan dari hasil tangkapan nelayan dengan menggunakan berbagai alat tangkap. Aspek penangkapan meliputi: Diskripsi, operasional dan jumlah alat tangkap. Jenis serta koposisi hasil tangkapan didapatkan melalui
enumerator dan sampling hasil tangkapan nelayan. Pengumpulan specimen ikan dilakukan pada saat survei ke lapangan dan pengumpulan oleh enumerator. Sampel ikan dicatat nama lokal, tempat/lokasi tertangkap, waktu penangkapan, ukuran dan dipotret. Ikan sampel diidentifikasi berdasarkan Kottelat et al, 1993 dan Weber and de Beaufort, 1916.
Monitoring hasil tangkapan ikan. Survei dilakukan di tempat-tempat nelayan biasanya mendaratkan ikan. Tujuannya selain untuk data dan informasi yang berkaitan dengan kegiatan penangkapan ikan, juga untuk mendapatkan data tentang jumlah dan jenis ikan tangkapan nelayan. Pencatatan hasil tangkapan para nelayan setiap hari oleh petugas pencatat (enumerator), tugasnya adalah mencatat hasil tangkapan tiap bulan untuk jenis ikan yang dominan yaitu,; Ikan Mas dan Ikan Sepat.
Sampling plankton menggunakan plankton net plankton net 25 (mesh size 60 μm) dan disimpan dalam botol sampel plankton ukuran 30 ml serta diawetkan memakai larutan Lugol. Sedangkan Bentos diambil dengan ekmandredge kemudian disaring dengan saringan, sample di awetkan dengan formalin.
3.4. Analisis Data
a. Analisis Data Fisika-Kimia-Biologi Perairan
Data fisika-kimia perairan yang diperoleh selama survei lapangan akan ditabulasikan kemudian diuraikan secara deskriptif dan disajikan dalam bentuk grafik, tabel, dan lain-lain. Sample ikan di ukur panjang dan berat dan ikan kemudian dianalisis dengan FISAT II.
Analisis plankton dan bentos dilakukan untuk menentukan komposisi, jenis dan sebarannya. Sampel air dianalisis di Laboratorium Kimia BRPPUPP dengan metode baku untuk mendapatkan kandungan nutrien (nitrat, posfat, amonia), konsentrasi Chl-a untuk produktifitas primer.
Data komposisi dan kelimpahan plankton setelah ditabulasikan selanjutnya dianalisis secara terpisah antara kelimpahan fitoplankton dan zooplankton menggunakan model indek keragaman dari Shanon-Wiener (Odum, 1971).
a. Indeks Keanekaragaman (H’)
Indeks keanekaragaman adalah indeks yang menunjukkan tingkat keanekaragaman jenis organisme yang ada dalam suatu komunitas. Perhitungan indeks keanekaragaman dengan menggunakan persamaan indeks Shanon sebagai berikut (Bengen, 2000). H’=
s n pi pi 1 ln H’ = Indeks keanekaragaman S = jumlah jenis planktonpi = N
ni
ni = jumlah individu dari jenis ke-i N = jumlah total individu
Tabel 3.2. Tahapan dan Waktu Pelaksanaan
3.5. Faktor Keberhasilan dan Resiko
Tahapan kegiatan
Waktu
Pelaksanaan Sifat Komponen/Masukan Persiapan
administrasi Juni – Agustus2018 Pembuatan dokumen kegiatan: proposal teknis, Kerangka Acuan kegiatan (KAK), Kerangka umum Kegiatan (KUK),RAB dan
penajaman rencana kegiatan. Pengadaan bahan
dan alat penelitian
Februari- November 2019
Biaya pengadaan bahan bantu, alat bantu dan ATK.
Survei observasi lapangan dalam rangka pengumpulan data primer dan skunder Untuk mewakili musim hujan, kemarau dan peralihan
Biaya perlajanan dinas, bahan bantu, alat bantu, biaya sewa dan upah pembantu lapangan.
Analisa data dan
pelaporan November, Desember 2019
Biaya ATK, komputer suply, perjalanan dinas dalam rangka seminar hasil riset.
Faktor-faktor yang dapat mendukung keberhasilan pelaksanaan dan pencapaian sasaran kegiatan penelitian ini antara lain: akses ke lokasi penelitian dapat dijangkau dengan sarana transportasi kendaraan darat dan air, metoda penelitian, pengamatan lapangan dan sampling percobaan penangkapan sudah pernah dilakukan, koordinasi dan kerjasama dengan petugas Dinas Pertanian, Perkebunan dan Perikanan Kab. Maybrat Provinsi Papua Barat dapat dilakukan dengan baik.
Sedangkan faktor–faktor sebagai resiko yang dapat menghambat pelaksanaan kegiatan dan pencapaian sasaran antara lain : kondisi lokasi ayng agak terpencil dan kondisi perkembangan keamanan Papua dan Papua Barat yang saat ini sedang kurang kondusif dan waktu yang terbatas.
3.6. Aspek Strategis
Penelitian ini bersifat survei-eksploratif yang bersifat menganalisis data enumerator dan karakteristik lingkungan (fisika, kimia, biologi) perairan dan beragam spesies ikan,sebagai bahan informasi dasar untuk pengelolaan di bidang perikanan dengan pendekatan pengelolaan ekologis. Pengelolaan mencakup adanya daerah konservasi sehingga pada akhirnya kegiatan perikanan yang ada tidak merusak atau sejalan dengan kegiatan konservasi yang dilakukan. Pelestarian dilakukan supaya sumber daya alam yang ada dapat terus dimanfaatkan sejalan dengan pembangunan dan juga dapat meningkatkan taraf hidup nelayan.
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. Gambaran Umum Wilayah
4.1.1. Profil Kewilayahan Papua Barat
Papua Barat adalah sebuah provinsi Indonesia yang terletak di ujung barat Pulau Papua dengan ibu kota Manokwari. Nama provinsi ini sebelumnya adalah Irian Jaya Barat yang ditetapkan dalam Undang-Undang Nomor 45 Tahun 1999. Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 2007 tanggal 18 April 2007, nama provinsi ini diubah menjadi Papua Barat. Papua Barat dan Papua merupakan provinsi yang memperoleh status otonomi khusus. Provinsi Papua Barat, meski telah menjadi provinsi tersendiri, tetap mendapat perlakuan khusus sebagaimana provinsi induknya. Provinsi ini juga mempunyai KPUD sendiri dan menyelenggarakan pemilu untuk pertama kalinya pada tanggal 5 April 2004.
Sejarah Papua Barat yang secara umum masuk dalam wilayah Papua atau yang dahulu dikenal dengan nama Irian Jaya sebelum kemerdekaan Indonesia kurang dibahas dalam buku-buku sejarah nasional untuk sekolah dasar sampai menengah, sehingga banyak yang tidak mengetahuinya. Sejarah Papua Barat dalam hal hubungannya dengan bangsa-bangsa lain yang mendiami Kepulauan Nusantara sangat penting, karena apabila kita berbicara mengenai sejarah Indonesia, kurang lengkap rasanya jika tidak membahas Papua, karena ternyata sejarah Papua semenjak wilayah tersebut dibicarakan dalam sejarah, selalu berkaitan dengan wilayah-wilayah lain di Nusantara yang akhirnya secara bersama-sama membentuk Negara Indonesia.
Sejarah Papua dalam kaitannya sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia sangatlah unik. Walaupun dinilai terlambat diakui oleh dunia internasional sebagai bagian dari NKRI, namun sebenarnya sejak awal penduduk Papua sudah merupakan
kemudian bergabung dan membentuk Negara Indonesia. Pada masa kerajaan di wilayah Nusantara, Pemerintah Kerajaan Sriwijaya tercatat pernah mengirimkan burung-burung asli Papua yang waktu itu disebut Janggi kepada Pemerintah Kerajaan China. Dari beberapa nama masa lalu yang diberikan untuk Papua ini, tampak jelas bahwa sejak daerah ini di kenal sejarah, sudah ada hubungan yang amat erat antara wilayah ini dengan wilayah-wilayah lain di Nusantara saat itu.
Nama lain dari Papua pada masa lalu adalah “Samudranta“, yang menunjukkan bahwa daerah Papua telah di kenal oleh masyarakat pemakai bahasa Sansekerta yang bermukim di wilayah kepulauan Indonesia, baik dalam pengertian geo-politik maupun sosial ekonomi. dan budaya dalam arti luas. Ramandey menulis bahwa pada abad pertama Masehi pengaruh Hindu dan India telah tersebar di seluruh Nusantara saat itu dan tidak hanya terbatas di Jawa dan Sumatera saja tetapi juga menyebar sampai ke timur termasuk Papua. Mungkin saja yang disebut “Pulau Ujung Samudranta “ itu adalah Pulau Nieuw Guinea. Rupanya pelaut-pelaut India telah sampai kesini, karena terbukti dari catatan-catatan dari orang India yang menyebut Irian itu Samudranta, yang berarti pulau diujung lautan. Ada besar kemungkinan mereka sudah berlayar sampai di daerah ini.” Bila hal itu dihubungkan dengan Kerajaan Sriwijaya besar kemungkinan bahwa penamaan itu diberikan oleh kerajaan maritim itu, yang merupakan indikasi bahwa pulau Irian juga telah berada di bawah kontrol kekuasaannya.
Pada abad ke-13 seorang musafir Cina bernama Chau Yu Kua menulis bahwa di Kepulauan Indonesia terdapat satu daerah bernama Tung-ki yang merupakan bagian dari suatu negara di Maluku. Tung-ki adalah nama Cina untuk Janggi atau Irian. Pada masa Kerajaan Majapahit (1293 – 1520), Kitab Negara Kertagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca juga secara eksplisit menyebutkan wilayah Papua sebagai bagian dari Kerajaan Majapahit.
Setelah kedatangan bangsa Eropa, yaitu pada tahun 1660, sebuah perjanjian disepakati antara Tidore dan Ternate di bawah pengawasan Pemerintah Hindia Timur Belanda yang menyatakan bahwa semua wilayah Papua berada di wilayah kekuasaan Kesultanan Tidore. Perjanjian ini menunjukkan bahwa pada awalnya Pemerintah Belanda sebenarnya mengakui Papua sebagai bagian dari penduduk di kepulauan Nusantara.
Sebelum Perang Dunia II, Pemerintah Hindia Belanda menempatkan Papua dan para penduduknya di bawah Provinsi Maluku dengan Ambon sebagai ibukota pemerintahan. Menyatunya Papua dengan wilayah lain di Nusantara dipertegas dengan peta Pemerintah Belanda tahun 1931 yang menunjukkan bahwa wilayah colonial Belanda membentang dari Sumatera di sebelah barat sampai Papua di sebelah Timur. Papua juga tidak pernah disebutkan terpisah dari Hindia Belanda. Fakta ini menunjukkan bahwa berdasarkan sejarah, Papua merupakan bagian dari bangsa-bangsa di kepulauan Nusantara yang akhirnya membentuk Negara Indonesia.
Kemerdekaan Indonesia yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 merupakan pernyataan kemerdekaan seluruh wilayah bekas Hindia Belanda menjadi Negara Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.
Wilayah provinsi ini mencakup kawasan kepala burung pulau Papua dan kepulauan-kepulauan di sekelilingnya. Di sebelah utara, provinsi ini dibatasi oleh Samudra Pasifik, bagian barat berbatasan dengan provinsi Maluku Utara dan provinsi Maluku, bagian timur dibatasi oleh Teluk Cenderawasih, selatan dengan Laut Seram dan tenggara berbatasan dengan provinsi Papua. Batas Papua Barat hampir sama dengan batas Afdeling ("bagian") West
Nieuw-Guinea ("Nieuw-Guinea Baru Barat") pada masa Hindia Belanda. Provinsi ini dibagi dalam beberapa kabupaten dan Kota.
Gambar 4.1. Peta Batas Administrasi Papua Barat Tabel 4.1. Data Informasi Kabupaten dan Kota di Papua Barat No. Kab/Kota
Pusat pemerintah
an
Luas
Wilayah Jumlah Distri k Keluraha n /kampun g (km2) Penduduk
1 Kab. Fakfak Fakfak 14.320,00 84.692 17 7/142
2 Kab. Kaimana Kaimana 16.241,84 61.37 7 Feb-84
3 Kab. Manokwari Manokwari 3.186,28 185.615 9 9/164
4 Kab. Manokwari Selatan Ransiki 2.812,44 34.009 6 -/57
5 Kab. Maybrat Kumurkek 5.461,69 41.431 24 1/259
6 Kab. Pegunungan Arfak Anggi 2.773,74 36.818 10 -/166
7 Kab. Raja Ampat Waisai 8.034,44 62.861 24 4/117
8 Kab. Sorong Aimas 6.544,23 118.985 30 26/226
9 Kab. Sorong Selatan Teminabuan 6.594,31 57.676 15 2/121
10 Kab. Tambrauw Fef 11.529,18 28.978 29 -/216
11 Kab. Teluk Bintuni Bintuni 20.840,83 76.932 24 2/115
12 Kab. Teluk Wondama Rasiei 3.959,53 41.304 13 Jan-75
13 Kota Sorong - 656,64 275.618 10
52/-Danau
Danau Ayamaru di Kabupaten Maybrat
Danau Anggi Giji di Kabupaten Pegunungan Arfak Danau Anggi Gita di Kabupaten Pegunungan Arfak Danau Yamur di Kabupaten Manokwari
Danau Yawasi di Kabupaten Sorong
4.1.2. Danau Ayamaru
Danau Ayamaru terletak di Distrik Ayamaru, Kabupaten Sorong Selatan, 216 kilometer arah barat Kota Sorong. Sejak dulu danau itu menjadi pusat transportasi, wisata, dan sumber penghidupan bagi masyarakat setempat. Luas Danau Ayamaru mencapai 980 Hektare ini terbentang membelah sebagian besar kampung di daratan Ayamaru.
Danau Ayamaru terbentang sepanjang 8 Kampung yaitu Kampung Segior, Woman, Mefkajem, Kartapura, Mapura, Yukase, Karetubun dan Kampung Jitmau. Kampung yang terbentang sepanjang delapan kampung ini dihuni oleh suku Maybrat dengan 12 marga. Danau Ayamaru terdiri dari 3 danau yang merupakan satu kesatuan, yaitu Yahu (bagian atas), Yate (bawah), dan Ikri (penampung air dari sungai). Kedalaman danau Ayamaru mencapai 30 meter. Ada 6 sungai yang bermuara dan menjadi sedimen air untuk Danau Ayamaru yaitu Sungai Ela, Sungai Ismayi, Sungai Framu, Sungai Mosway, Sungai Tetsayoh dan Sungai Bawi. Sejak tahun 2005, air danau Ayamaru menyurut hingga 50 meter, dan bahkan sebagian telah mengering. Sebagian areal danau sudah menjadi rawa dan ditumbuhi rumput-rumput.
4.1.3. Potensi
Danau Ayamaru memegang peranan penting dalam kehidupan sosial ekonomi masyarakat sekitar danau baik dari sektor transportasi, wisata dan juga sektor perikanan. Danau Ayamaru sudah berfungsi secara tradisional sebagai sarana lalu lintas penduduk sebelum adanya transportasi darat dan udara untuk menghubungkan kampung-kampung disekitar Distrik Ayamaru. Selain sebagai sarana transportasi, Danau Ayamaru juga merupakan penyangga sumber daya air bagi masyarakat dan kehidupan di sekelilingnya khususnya disektor perikanan karena Danau Ayamaru kaya berbagai jenis ikan hias yang bernilai ekonomi tinggi. Ikan hias tersebut memiliki berbagai warna seperti kemerah-merahan, kuning kepala putih, dan badan hitam serta ekor bercabang empat.
Tidak hanya ikan hias yang terdapat di danau ini. Terdapat juga ikan mas, betik, satar, salamande, gabus, ikan lele, mujair, sepat, ikan sembilan hitam, siput danau dan beberapa jenis udang (jenis udang merah, udang kuning dan biru). Selain sebagai sumberdaya perikanan, Danau Ayamaru juga merupakan tempat bersinggahnya burung Flamingo dalam migrasi antar benua yakni dari Benua Asia ke Australia atau sebaliknya. Danau Ayamaru juga masih kaya akan keanekaragaman hayati flora maupun fauna antara lain terdapat tumbuh-tumbuhan, etnobotani, tanaman obat, satwa mamalia, burung, kupu-kupu, amfibia, reptil, fauna tanah dan serangga perairan maupun darat.
Sayangnya, saat ini sumberdaya perikanan di Danau Ayamaru yang masuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Maybrat Provinsi Papua Barat ini terancam punah akibat menurunnya permukaan air danau yang diperkirakan telah menyurut hingga sekitar 50 meter. Bahkan sejak beberapa tahun terakhir ini sebagian areal danau telah mengering, menjadi rawa dan beberapa areal tertentu telah ditumbuhi semak belukar/rumput-rumput
Danau Ayamaru pernah mencatat ekspor tertinggi udang dan ikan dari danau pada tahun 1996 dengan jumlah 150 ton. Sejak pemekaran Kabupaten terjadi, Danau Ayamaru menjadi milik 2 Kabupaten, yaitu Kabupaten Sorong Selatan dan Kabupaten Teluk Bintuni, namun setelah pemekaran Kabupaten baru, Danau Ayamaru menjadi milik Kab. Maybrat.
4.2. Standing Stok dengan Metode Mark and Recapture
Analisis standing stock dengan metode Mark and Recapture biasa laksanakan di perairan yang dangkal dan tertutup seperti danau rawa banjiran. Pada penelitian ini dilaksanakan di dua kali yaitu pada bulan Juli dan November 2019. Pada penelitian ini dilaksanakan dengan acara penangkapan ikan bersama-sama oleh beberapa nelayan dengan menggunakan jaring melingkar yang susun persegi dengan ukuran .
Untuk mendapatkan akurasi dalam estimasi stok ikan yang ada, maka sebelum pelaksanaan penangakapan ditebarkan ikan bertanda (tangging), dengan tujuan sebagai pembanding dari data ikan yang tertangkap.
Pelaksanaan metode Mark and Recapture pada bulan Juli 2019 dimulai dengan tagging ikan sebanyak 100 ekor yang terdiri dari Nila, Sepat dan Emas.
Kemudian nelayan membuat formasi dengan jaring berbetuk persegi panjang dengan ukuran 40 m x 50 m (2.000 m2). Ikan bertanda (tagging) ditebar di dalam area tersebut. Dalam bebebrapa saat setelah ikan menyebar baru dilakukan penangkapan kembali. Dari 100 ikan bertanda ekor yang dilepas didapatkan kembali 20 ekor (20 %) yang tertangkap, dan ada 2 ekor ikan tidak bertanda yang tertangkap. Total hasil tangkapan sebanyak 22 ekor dengan berat keseluruhan 3,925 gr
Berdasarkan Metode Lincoln-Peterson (welcome, 1983)
N = (MxC) / R
Dimana : - N : Ukuran Populasi (stok)
- M : Jumlah ikan bertanda yang dilepas ke perairan
- C : Jumlah seluruh Ikan yang tertangkap (bertanda dan tidak bertanda)
- R : Jumlah Ikan bertanda yang tertangkap kembali Maka, nilai stok yang didapatkan dari rumus di atas adalah :
N = (100 ekor x 22) / 20 ekor N = 110 ekor (per 2000 m2)
Bila dikonversikan dalam hektar = 550 ekor / ha Jadi dapat disimpulkan bahwa ;
Stock ikan yang ada adalah : (550 ekor x 3.925 gr) / 22 = 98.125 gr/ha = 98,13 Kg/ ha
Jadi Standing Stok Ikan di Danau Ayamaru Pada Bulan Juli 2019 adalah 98,13 Kg/ha
Pelaksanaan metode Mark and Recapture dimulai dengan tagging ikan sebanyak 50 ekor yang terdiri dari ikan Gabus, Sepat dan Emas. Sama dengan pada trip sebelumnya nelayan membuat formasi dengan jaring berbetuk persegi panjang dengan ukuran 40 m x 50 m (2.000 m2) dan Ikan
bertanda (tagging) ditebar di dalam area tersebut. Dalam bebebrapa saat setelah ikan menyebar baru dilakukan penangkapan kembali.
Dari 100 ikan bertanda ekor yang dilepas didapatkan kembali 16 ekor (32 %) yang tertangkap, dan ada 2 ekor ikan tidak bertanda yang tertangkap. Total hasil tangkapan sebanyak 27 ekor dengan berat keseluruhan 3.850 gr Jadi dapat disimpulkan bahwa ;
Stock ikan yang ada adalah : (50*27) / 16 = 84,375 ekor / 2.000 m2
dengan berat = 3.850 gr
= (422 ekor x 3.850 gr) / 27 ekor = 60.156 gr /ha = 60,2 Kg/ha = 12,031 gr / 2.000 m2 = 60.156 gr/ha
Jadi Standing Stok Ikan di Danau Ayamaru Pada Bulan Oktober 2019 adalah 60,16 Kg/ha
Jadi rata rata standing stok ikan di Danau Ayamaru Tahun 2019 adalah 79,45 Kg/ha
Gambar 4.2.1. Tagging dan Penangkapan Ikan
Komposisi Hasil Tangkapan Ikan
Komposisi hasil tangkapan ikan selama tahun 2019 di Danau Ayamaru Papua Barat dapat dilihat pada gambar 4.2.2.
Lele; 7% Betik; 6% Mujaer; 18% Mas; 26% Tambakang ; 12% Nila; 6% Sepat siam; 5% Gabus; 9%
Sembilan Hitam; 3%Udang; 8%
KOMPOSISI HASIL TANGKAPAN DANAU AYAMARU
Gambar 4.2.2. Grafik Komposisi Hasil Tangkapan di Danau Ayamaru
Dari data di atas terdapat ada aepuluh jenis ikan yang ditangkap oleh nelayan dengan didominansi ikan Mas, ikan Mujair dan ikan Tembakang. Ikan tersebut merupakan ikan white fish yang biasa hidup di perairan denagn derajat keasaman sekitar 7 dan black
Danau Ayamaru merupakan tipe danau rawa. Namun dilihat dari komposisi ikan White Fish dan Black Fish menunjukkan keseimbangan yaitu White Fish 50% dan Black Fish 50%.
4.3. Potensi Produksi Ikan
Potensi Produksi adalah kemampuan suatu badan perairan untuk dapat mengasilkan ikan dalam satuan Kg/ha/tahun. Hasil analisa potensi produksi untuk Danau Ayamaru diambil pada bulan Maret dan Juli 2019. Penghitungan potensi produksi didapatkan berdasarkan data Clhorofil-a dengan menggunakan rumus Boyd dan Almazan :
Y = 1.43 + 24.48X – 0.15X
2 dimana :- Y : Potensi produksi - X : Chlorofil-a
Tabel 4.3. Potensi Produksi Ikan di Danau Ayamaru berdasarka Chlorifil-a
No Stasiun
TRIP 1 (Maret
2019) TRIP 2 (Juli 2019) RATA-RATA Chlorofil -a (mg/m3) Poten si Produ ksi (Kg/ha/t h) Chlorofil -a (mg/m3) Potensi Produk si (Kg/ha/th ) Chlorofil -a (mg/m3) Potens i Produ ksi (Kg/ha/t h) 1 Danau Semtu 3.267 79.81 0.62 16.55 96.36 48.18 2 Inlet Mosway 2.317 57.34 0.449 12.39 69.74 34.87 3 Kp. Mapura D. Yate 1.806 45.15 11.764 268.65 313.81 156.90 4 Tengah D. Yau 1.733 43.40 0.44 12.17 55.58 27.79 5 KJA Johafah D Yate 2.6 64.06 1.796 44.91 108.98 54.49 Total 289.77 354.68 322.22 Rata-Rata Per Trip 57.95 70.94 64.44
Hasil analisa potensi produksi di Danau Ayamaru dari data clhorofil-a bulan Maret dan Juli 2019 adalah 64,44 Kg/ha/th. Ini menunjukkan bahwa kemampuan Danau Ayamaru untuk dapat mengasilkan ikan rata-rata 64,44 Kg/ha/th.
Lokasi stasiun di Danau Aamaru yang memiliki potensi produksi terbaik ada di Stasiun Kampung Mapura Danau Yate. Kondisi tersebut lebih disebabkan karena lokasi tersebut dekat dengan rumah penduduk dan ladang tempat bercocok tanam sehingga kemungkinan sisa-sisa dari pemupukan yang terbawa aliran air membuat phytoplankton subur di lokasi tersebut.
Badan air seperti sungai, danau, atau rawa banjiran selain terdapat benthos juga terdapat plankton dan bahan makanan lainya yang dapat menjadi dasar nilai suatu potensi produksi. Hal ini memungkinkan potensi produksi badan air tersebut adalah adalah gabungan dari beberapa potensi berdasarkan makanan yang ada. Pemisahan potensi produksi berdasarkan makanan yang tersedia ini lebih ditujukan sebagai dasar apabila akan melakukan stocking atau restocking ikan suatu perairan. Dengan pertimbangan nilai potensi tersebut maka dapat diambil kebijakan untuk jenis ikan apa dan berapa jumlah ikan yang dapat ditebar. Hal ini akan menjadi acuan agar ikan yang ditebar dapat berkembang biak dengan baik, tidak menggangu biota yang lain dan dapat bermanfaat untuk kesejahteraan masyarakat sekitar.
4.4. Potensi Lestari
Potensi lestari atau Maximum Sustainable Yield (MSY) adalah jumlah ikan yang dapat dimanfaatkan secara optimum, dengan memperhatikan status kelestariannya. Dalam menghitung MSY diperlukan data sekunder dari Dinas Perikanan setempat yang berupa data hasil tangkapan dan jumlah alat tangkap yang dipakai sekitar 5-10 tahun. Potensi lestari juga dapat didapatkan dengan data dinamika populasi ikan dengan nilai Z (koefisien mortalitas total sesaat) dan data standing stok yang ada pada tahun berjalan.
4.4.1. Dinamika Populasi Ikan Dominan
4.4.1.1. Pertumbuhan dan Mortalitas Ikan Sepat Siam Siam (Trichopadus Pectoralis)
Pertumbuhan
Analisis data dengan FISAT II didapatkan kurva pertumbuhan Von Bertalanffy dapat dilihat pada Gambar. 4.4.1.1
Gambar 4.4.1.1. Kurva Pertumbuhan Ikan Sepat Siam Dari Gambar dapat dilihat bahwa dari bulan Maret sampai Oktober 2019 tertangkap hampir seluruh kelas ukuran. Dari Gambar
dapat dilihat bahwa diduga terjadi rekruitmen bulan April dan Mei 2019.
Mortalitas
Laju mortalitas total dalam kegiatan perikanan tangkap sangat penting untuk menganalisa dinamika populasi atau stok ikan . Laju mortalitas (Z) ikan Sepat Siam dapat dilihat pada Gambar 4.4.1.2. dimana didapatkan laju mortalitas (Z) sebesar 3.73 pertahun. Laju mortalitas alami (M) ditentukan dengan rumus Pauly yaitu sebasar 1.52 pertahun. Nilai laju mortalitas karena penangkapan (F) pada ikan Sepat Siam yaitu 2.21 menunjukkan lebih besar dibandingkan dengan mortalitas alami. Nilai laju eksploitasi (E) sebesar 0.69 menggambarkan tingkat eksploitasi ikan sudah mengalami lebih tangkap. Berdasarkan Sparre & Venema (1998) E = 0,50 menunjukkan tingkat pemanfaatan stok sudah lebih tangkap (over
exploitation)
Gambar 4.4.1.2. Mortalitas Ikan Sepat Siam Berdasarkan Analisis FISAT II
4.5.2.2. Pertumbuhan dan Mortalitas Ikan Mas Pertumbuhan
Analisis data dengan FISAT II didapatkan kurva pertumbuhan Von Bertalanffy dapat dilihat pada Gambar. 4.4.2.1
Gambar 4.4.2.1. Kurva Pertumbuhan Ikan Mas
Dari Gambar dapat dilihat bahwa pada selama tahun 2019 tertangkap hampir sama kelas ukuran. Data ukuran hamper merata setiap bulannya. Hal ini diperkirakan karena penggunaan alat tangkap yag selektif. Dari Gambar dapat dilihat bahwa diduga terjadi rekruitmen sepanjang tahun.
Gambar 4.4.2.2. Mortalitas Ikan Mas Berdasarkan Analisis FISAT II Laju mortalitas total (Z) ikan Mas dapat dilihat pada Gambar 4.5.2.2. dimana didapatkan laju mortalitas total (Z) sebesar 1.654 pertahun. Laju mortalitas alami (M) ditentukan dengan rumus Pauly yaitu sebasar 0.66 pertahun. Nilai laju mortalitas karena penangkapan (F) pada ikan Mas yaitu 0.99 menunjukkan lebih besar dibandingkan dengan mortalitas alami. Nilai laju eksploitasi (E) sebesar 0.67 yang menggambarkan tingkat eksploitasi ikan Sepat sudah mengalami lebih tangkap. Berdasarkan Sparre & Venema (1998) E = 0,50 menunjukkan tingkat pemanfaatan stok sudah lebih tangkap (over exploitation)
4.4.2. Maximum Sustainable Yield (MSY)
Berdasarkan data standing stok , nilai konstanta untuk pertumbuhan ikan di perairan umum (0.5) dan laju mortalitas total (Z) dari dinamika populasi ikan dominan di Danau Ayamaru, maka didapatkan nilai Maximum Suntainable Yield (MSY) dengan rumus ;
0,5 x Z x Standing Stokx Prosentase Komposisi Hasil Tangkapan
Bedasarkan kompisisi hasil tangkapan diketahui bahwa ikan black fish (Sepat siam,Gabus, Sembilang hitam, Lele, Betik, tembakang termasuk udang) berjumlah 50%. Sedangkan ikan White fish (Mas, Mujair dan Nila) juga menempati 50 % dari komposisi hasil tangkapan yang ada di Danau Ayamaru.
Untuk data yang ada Mewakili ikan Black fish kita gunakan ikan Sepat Siam
Diketahui :
- Nilai Konstanta = 0,5
- Nilai Z ikan Sepat siam = 3,73 - Standing Stok = 79,45 Kg/ha - Komposisi Hasil Tangkapan= 50 %
MSY Black fish = 0,5 x 3.73 x 79,45 x 50%
= 74,09 Kg/ha/th
Untuk data yang ada Mewakili ikan White fish kita gunakan ikan Mas
Diketahui :
- Nilai Konstanta = 0,5
- Nilai Z ikan Mas = 1,65
- Standing Stok = 79,45 Kg/ha - Komposisi Hasil Tangkapan= 50 %
MSY White fish = 0,5 x 1,65x 79,45 x 50%
= 32,73 Kg/ha/th
Sehingga TOTAL MSY Ikan Tangkapan di Danau Ayamarau = 106,86 Kg/ha/th
Dari data diatas dapat disampaikan bahwa potensi lestari ikan black fish lebih tinggi dibandingkan ikan white fish. Hal ini lebih disebabkan recruitmen dari ikan black fish lebih baik daripada ikan white fish