• Tidak ada hasil yang ditemukan

TRANSPORTASI ONLINE GOJEK VS OJEK PANGKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TRANSPORTASI ONLINE GOJEK VS OJEK PANGKA"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENELITIAN

TRANSPORTASI ONLINE ( GOJEK DAN OPANG MALANG ) DALAM

DINAMIKA LOKAL MASYARAKAT MALANG

1)

Bayu Arif Ramadhan :

155120400111050

Earlene Dianz Edelyna :

155120401111051

Lailatun Nuzulia :

155120400111043

Muhammad Ridwan Akbar :

155120401111016

Aldo Caesario Al Asy’Ari :

155120401111076

Enryco Budi Sayogo :

155120400111041

DosenPengampu :

MUHAIMIN ZULHAIR A, S.IP M.A

PROGRAM STUDI HUBUNGAN INTERNASIONAL

FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK

UNIVERSITAS BRAWIJAYA

MALANG

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kelompok penelitian kami yaitu Kelompok 2 dapat menyelesaikan penyusunan proposal penelitian yang berjudul “TRANSPORTASI ONLINE (GOJEK DAN OPANG MALANG) DALAM DINAMIKA GLOBALISASI LOKAL MASYARAKAT MALANG”.

Proposal ini disusun untuk memenuhi tugas matakuliah Globalisasi dan Dinamika Lokal (GDL). Adapun proposal ini telah kami buat semaksimal mungkin dan tidak lupa untuk mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan proposal ini. Kami sebagai peneliti menyadari bahwa proposal ini belum sempurna, masih terdapat kesalahan dalam hal penulisan kata maupun kekurangan dalam penyampaian materi. Oleh karena itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat dibutuhkan kami sebagai peneliti demi kesempurnaan proposal ini.

Semoga proposal ini bermanfaat untuk memberikan informasi dan wawasan bagi masyarakat. Selain itu juga bermanfaat untuk penelitian selanjutnya agar dapat menyajikan laporan yang lebih jelas dan lengkap ke depannya.

Malang, 3 April 2017

(3)

DAFTAR ISI 2.1 Definisi Konseptual : The 5 -scapes of Appadurai (Disjuncture)...8

2.2 Technoscapes Appadurai...13

5.2 Komparasi GoJek dan Ojek Konvensional... 24

5.3 Stratifikasi Gender di dalam Gojek...26

5.3 Pendapat Konsumen dan Segmentasi Pasar Go-Jek...27

5.4 Pembahasan...30

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN 6.1 Kesimpulan...31

(4)

DAFTAR PUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Pasca perang dingin, timbul berbagai perubahan agenda internasional dalam segala bidang kehidupan manusia. Usainya perang dingin juga dipercayai sebagai tanda dari kemunculan Globalisasi. Bagi pendukung globalisasi, peristiwa globalisasi itu sendiri dianggap sebagai fenomena memudarnya batas-batas negara yang ditandai dengan adanya integrasi dan intensifikasi pertukaran barang, jasa, teknologi, modal, dan lain sebagainya yang menyebabkan adanya interdependensi antar negara – negara di dunia.

Globalisasi menurut kaum hiperglobalis dianggap membawa berbagai macam dampak positif bagi kehidupan manusia. Globalisasi memberikan keuntungan bagi seluruh umat manusia, karena Globalisasi dapat membantu negara untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakatnya. Dalam asumsi dasar mengenai Globalisasi, dijelaskan bahwa adanya era global yang baru, yang dimana dalam era yang baru ini, globalisasi merupakan fenomena yang didorong oleh aspek politik, aspek ekonomi dan perkembangan teknologi.1

Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin meningkat dengan pesat dianggap menjadi solusi untuk mempermudah kehidupan manusia. Pendukung globalisasi mengaggap bahwa globalisasi akan membawa kemakmuran bagi masyarakat dunia, dan globalisasi merupakan jalan menuju kesejahteraan.2 Hal tersebut terjadi karena globalisasi

dianggap memunculkan inovasi-inovasi baru yang dianggap mempermudah kehidupan manusia sekarang ini.

Indonesia sendiri juga tidak luput dari pengaruh berbagai macam inovasi yang ada. Salah satu bentuk kongkrit dari perkembangan ini adalah munculnya inovasi-inovasi teknologi baru seperti aplikasi transportasi publik berbasis online. Transportasi publik berbasis online ini

1 Manfred B. Steger, 2003, “Globalization: A Very Short Introduction”, Oxford Press, p. 61

(5)

merupakan output dari kecanggihan teknologi yang berkembang seiring dengan globalisasi. Contoh dari aplikasi transportasi publik berbasis online yang sangat mudah untuk diakses masyarakat saat ini adalah Uber, Grab, dan yang mungkin paling sering ditemukan dan digunakan semua kalangan adalah Go-Jek.

Gojek merupakan perusahaan yang menyediakan jasa transportasi melalui media aplikasi

online. PT Go-Jek Indonesia didirikan pada tahun 2011 oleh Nadiem Karim dan Michaelangelo Moran. Aktivitas yang dilakukan sebenarnya cukup sederhana dimana perusahaan ini bergerak sebagai perantara yang menghubungkan antara para pengendara ojek dengan pelanggan. Pada Januari 2015, perusahaan mengeluarkan aplikasi mobile Go-Jek berbasis location-based search

untuk telepon genggam berbasis android dan iOS.3 Belum berjalan cukup lama, ternyata Go-Jek

ini banyak menarik minat berbagai kalangan di Indonesia. Terlihat sejak peluncuran pertama pada tahun 2011, aplikasi Go-Jek sudah diunggah sebanyak 3 juta kali.4

Bisnis ini nampaknya membawa keuntungan yang cukup signifikan, dimana sampai Agustus 2016 sendiri Gojek bisa meraih investasi baru sampai Rp 7,2 trilliun. Investasi tersebut tidak hanya berasal dari dalam negeri saja. Nama-nama besar semacam Farallon Capital Management, Capital Group Private Market, Sequoia India, dan masih banyak lagi juga ikut andil didalamnya.5 Lebih fantastis lagi saat memasuki tahun 2017 dimana perusahaan China juga

menyuntikkan dana kepada perusahaan ini. Perusahaan China bernama Tencent menyuntikkan dana sebesar Rp 16 trilliun.6

Ketertarikan investor asing membuktikan bahwa GoJek merupakan peluang besar bagi mereka untuk mengambil banyak sekali keuntungan. Disisi lain, manfaat dari adanya GoJek ini

3Dhaniek Kus Wardani, 2016, “Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Persepsi Pengguna Gojek terhadap Gopay”. Bab I. page 2 diakses dari http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?

mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=104318&obyek_id=4 pada Jumat, 31 Maret 2017.

4Siti Sarifah Alia & Ichsan Surendra. “Menghadirkan Go-Point untuk Loyalti Pengguna Go-Pay”.

http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/880568-inovasi-gojek-manjakan-pelanggan-di-2017 diakses pada Jumat, 31 Maret 2017.

5 Aditya Panji, “Gojek Raih Investasi Baru Rp 7,2 trilliun”,

http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20160804220652-185-149329/gojek-raih-investasi-baru-rp72-triliun/ . diakses pada Sabtu, 10 Juni 2017

6 Ervina Anggraini, “Diguyur Duit dari China, Gojek Kini Bernilai Rp 38 trilliun”,

(6)

sendiri juga sangat dirasakan oleh penggunanya. Dari segi tumpangan untuk pergi kesuatu tempat, maupun fitur lain yang cukup membantu seperti Go Food bagi mereka yang malas untuk membeli langsung atau mungkin terlalu sibuk. Adanya inovasi baru ini dianggap sangat bermanfaat bagi masyarakat. Keberhasilan GoJek ini sendiri juga dibuktikan dengan semakin berkembangnya cabang yang dimilikinya. GoJek sudah resmi beroperasi di 25 kota di Indonesia dengan sekitar 250.000 pengendara. (GoJek.com)

Disisi lain, kemunculan dari Go-Jek ini dianggap menambah saingan bagi para pekerja Ojek Konvensional. Pasalnya banyak sekali para pengguna ojek konvensional yang dianggap beralih menggunakan GoJek karena dianggap lebih praktis dan efisien. Disisi lain, muncul juga anggapan bahwasanya keberadaan GoJek ini tidak begitu memiliki pengaruh yang signifikan terhadap Ojek Konvensional karena dianggap memiliki pangsa pasar yang berbeda.

Berangkat dari sini, tim peniliti tertarik untuk mengobservasikan mengenai bagaimana dampak dari adanya inovasi baru yang mengkolaborasikan antara teknologi dan transportasi gaya baru yaitu GoJek dengan Ojek Konvensional.

1.2 Rumusan Masalah

Dari latar belakang yang telah dijelaskan sebelumnya, maka rumusan masalah dari penelitian ini yaitu :

1) Bagaimana pengaruh Globalisasi ( kemunculan aplikasi Go-Jek online ) terhadap dinamika lokal di masyarakat kota malang?

1.3 Tujuan Penelitian

Dari rumusan masalah tersebut, peneliti menyimpulkan bebrapa tujuan dari penulisan penelitian ini yaitu :

1) Untuk mengetahui dan memahami pengaruh kemunculan aplikasi Go-Jek

(7)

1.4 Manfaat Penelitian

Peneliti menyimpulkan beberapa manfaat dari penelitian mengenai pengaruh yang diberikan oleh Go-Jek online terhadap dinamika lokal masyarakat malang terutama di bidang ekonomi. Manfaat tersebut terbagi menjadi dua yaitu :

1) Segi Akademis

a. Sebagai bahan kajian dalam membangun pemikiran pengembangan ilmu Hubungan Internasional khususnya dan ilmu pengentahuan pada umumnya.

b. memberikan sumber informasi bagi peneliti berikutnya yang berniat melakukan penelitian pada materi yang sama.

c. sebagai bekal wawasan dan pengetahuan bagi peneliti dalam mengembangkan kemampuan berpikir dan belajar menganalisis permasalahan yang ada.

2) Segi Praktis

(8)

BAB II

KONSEPTUALISASI

2.1 Penelitian Studi Terdahulu

Penelitian pertama yang digunakan oleh peneliti sebagai bahan pembanding berjudul

“Rasionalitas Ojek Konvensional Dalam Mempertahankan Eksistensi di Tengah Adanya Gojek

di Kota Surabaya”. Penelitian ini dilakukan oleh dua Mahasiswa Program Studi Sosiologi

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya yaitu Hendita Doni Prasetya dan

Martinus Legowo. Tujuan dari penelitian tersebut adalah untuk mengidentifikasi rasionalitas dari

ojek konvensional untuk mempertahankan eksistensi mereka di tengah keberadaan ojek berbasis

online.

Teori yang digunakan dalam penelitian tersebut adalah teori pilihan rasionalitas oleh

James S. Coleman. Teori ini menggunakan landasan ditingkat mikro untuk melihat hal di tingkat

makro. Hal tersebut digunakan untuk menjelaskan bahwa seorang aktor memiliki tujuan dan

maksud tertentu yang akan dicapai melalui berbagai upaya. Artinya berbagai upaya atau tindakan

yang dilakukan oleh seorang aktor akan selalu berfokus pada tujuan dengan menggunakan

sumber daya yang ada.

Dalam penelitian tersebut, terdapat tiga jenis sumber daya yang dimiliki oleh ojek

(9)

Surabaya. Pertama, terdapat sejumlah anggota ojek pangkalan yang masih bertahan. Jumlah

tukang ojek yang masih bertahan di pangkalan tersebut menunjukkan bahwa ojek konvensional

masih memiliki sumber daya di tengah persaingan alat transportasi online. Hal ini lah yang

membuat mereka mampu untuk tetap mempertahankan eksistensi mereka. Kedua, ojek

konvensional memiliki pasar tetap atau pelanggan tetap. Menurut hasil penelitian yang dilakukan

oleh peneliti terhadap salah seorang narasumber yang merupakan pengemudi ojek pangkalan

yang berada di lokasi penelitian menyatakan bahwa ojek pangkalan memiliki pelanggan tetap

seperti mahasiswa dan anggota TNI. Menurut hasil penelitian, mereka lebih memilih

menggunakan ojek pangkalan karena dapat dilakukan negosiasi tarif terlebih dahulu, tergantung

pada jarak tempuh dan kesepakatan antara pengemudi ojek dan calon penumpang. Sehingga

dikatakan tarif ojek pangkalan relatif lebih murah dibanding Gojek yang tarifnya telah ditentukan

terlebih dahulu oleh sistem. Demikian, ojek pangkalan dapat dikatakan masih memiliki pasar

yang merepresentasikan sumber daya untuk mencapai tujuannya. Ketiga, terdapatnya sebuah

pangkalan yang berisi ojek-ojek konvensional. Hal yang menarik dari keberadaan pangkalan ojek

adalah terdapat beberapa nilai-nilai solidaritas dan kerukunan yang dijaga oleh para anggotanya.

Dari ketiga sumber daya diatas maka dapat disimpulkan bahwa “ojek sebagai aktor memiliki

sumber daya yang mampu dikontrol berdasarkan sebuah motif atau tujuan agar kepentingannya

bisa terpenuhi dan bisa terealisasikan”.7

Kemudian berdasarkan hasil penelitian terdapat beberapa jenis rasionalitas ojek

pangkalan dalam mempertahankan eksistensinya di tengah adanya Gojek. Pertama, rasionalitas

instrumental yaitu “tindakan sosial yang melandaskan diri kepada pertimbangan manusia yang

rasional ketika menanggapi lingkungan eksternalnya dan ketika menanggapi orang-orang lain di

(10)

luar dirinya dalam rangka usahanya untuk memenuhi kebutuhan hidup”.8 Ojek pangkalan

memiliki kebutuhan ekonomi untuk menafkahi keluarga, namun mereka memiliki keterbatasan

keahlian dan tingkat pendidikan sehingga mereka harus tetap menjadi ojek pangkalan. Kedua,

rasionalitas nilai yang menunjukan bahwa “ojek pangakalan dalam mempertahankan eksistensi

mereka di tengah adanya gojek berdasarkan pertimbangan nilai-nilai”.9 Terdapat nilai-nilai

solidaritas dan kerukunan dalam ojek pangkalan yang tidak dimiliki oleh Gojek. Sehingga

mereka mampu untuk mempertahankan eksistensinya. Ketiga, rasionalitas afeksi yaitu “tindakan

sosial yang dibuat-buat, suatu tindakan sosial yang timbul karena dorongan atau motivasi yang

sifatnya emosional, meliputi perasaan atau apa yang dialami”.10 Keempat, rasionalitas tradisional

adalah “suatu tindakan yang didasarkan kepada kebiasaan-kebiasaan, tindakan sosial yang

didorong dan berorientasi kepada tradisi masa lampau pengalaman sebelumnya”.11 Dalam ojek

pangkalan atau ojek konvensional terdapat tradisi atau kebiasaan yang sudah dilakukan secara

turun-temurun, salah satunya adalah proses negosiasi atau tawar – menawar tarif antara calon

penumpang dan pengemudi ojek. Kebiasaan ini yang kemudian coba untuk dipertahankan oleh

para ojek pangkalan sehinggan membuat mereka mempertahankan eksistensinya ditengah

adanya Gojek yang memiliki system yang berbeda.

Penelitian kedua yang digunakan oleh peneliti sebagai bahan perbandingan adalah

penelitian dengan judul “Analisis Penerapan Teknologi Komunikasi Tepat Guna Pada Bisnis

Transportasi Ojek Online”. Penelitian ini dilakukan oleh Devie Rahmawati dari Universitas

Indonesia, bersama dengan Melisa Arisanty dan Wiratri Anindhita dari Institut Bisnis dan

Informatika Kwik Kian Gie. Fokus dalam penelitian ini adalah memberikan konsep dalam

8 Ibid Hlm. 4

9 Ibid

10 Ibid

(11)

penerapan inovasi berupa teknologi komunikasi tepat guna yang dapat memberikan perubahan

pada sistem sosial di masyarakat.

Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah teori Difusi Inovasi. Teori ini

menjelaskan “proses dimana suatu inovasi dikomunikasikan melalui saluran tertentu dalam

jangka waktu tertentu di antara para anggota suatu sistem sosial”.12 Maka dapat dipahami bahwa

difusi inovasi adalah suatu proses penyebaran ide-ide atau hal-hal yang baru dalam upaya untuk

merubah suatu masyarakat yang dilakukan secara berkelanjutan. Dalam proses difusi inovasi

akan hal-hal baru tersebut terdapat beberapa tahapan yang dilakukan oleh seseorang dalam

mengadopsi hal baru tersebut. proses adopsi inilah yang nantinya akan menghasilkan apakah

inovasi tersebut akan diterima atau ditolak oleh seseorang. “Proses pengambilan keputusan

inovasi adalah proses mental dimana seseorang/individu berlalu dari pengetahuan pertama

mengenai suatu inovasi dengan membentuk suatu sikap terhadap inovasi, sampai memutuskan

untuk menolak atau menerima, melaksanakan ide-ide baru dan mengukuhkan terhadap keputusan

inovasi”.13

Dari hasil penelitian dinyatakan bahwa inovasi teknologi tepat guna yang diterapkan oleh

Gojek dan Grab yang diterapkan secara konsisten telah diterima oleh masyarakat. Hal ini karena

inovasi tersebut dapat menyelesaikan permasalahan masyarakat mengenai kemacetan dan faktor

keamanan dalam menggunakan alat transportasi umum. Selain itu inovasi yang dilakukan oleh

Grab dan Gojek dalam menggabungkan transportasi umum dengan sistem internet yang

terintegrasi memberikan kemudahan dan kenyamanan tersendiri bagi konsumen. Hal ini

menunjukkan adanya kesesuaian keadaan sosial ekonomi di masyarakat setempat dengan inovasi

yang dilakukan oleh Gojek dan Grab. Penggunaan internet dengan bekerja sama dengan pihaak 12ibid

(12)

google untuk keperluan melacak driver, lokasi penjemputan dan tujuan, jarak tempuh

menunjukkan bahwa Gojek dan Grab telah berhasil menggunakan sumber daya yang telah ada

secara maksimal. Selain itu, keberadaan Gojek dan Grab juga mampu menjawab permasalahan

yang ada di masyarakat mengenai keamanan menggunakan alat transportasi umum. Hal ini

karena Gojek dan Grab memiliki standar tersendiri atas para driver nya terutama dalam segi

keamanan dan pelayanan. Konsumen pun dapat mengetahui identitas dari para driver nya melalui

database yang dimiliki oleh Gojek maupun Grab.

Dalam penelitian tersebut disimpulkan bahwa pemanfaatan teknologi yang dilakukan

oleh Gojek dan Grab telah membuat perubahan sosial dan mindset masyarakat terhadap alat

transportasi umum. Selain itu pemanfaatan teknologi tersebut juga mampu memecahkan

permasalahan sosial yang ada di masyarakat seperti kemacetan dan keamanan serta kenyamanan

dalam menggunakan alat transportasi umum. Kehadiran Gojek dan Grab melalui inovasi nya

telah berdampak pada perubahan sosial berupa beralihnnya masyarakat yang lebih memilih

menggunakan alat transportasi umum, citra positif terhadap alat transportasi umum, dan semakin

banyaknya bisnis dan jasa yang mengkolaborasikan produk mereka dengan teknologi

komunikasi internet terutama dalam pemesanan produknya.

Kedua penilitian diatas memiliki persamaan dan perbedaan dengan penelitian yang akan

dilakukan oleh peneliti. Pada penelitian pertama mengangkat isu yang sama dengan isu yang

akan diteliti oleh peneliti yaitu mengenai transportasi online. Namun, perbedaanya adalah pada

penelitian pertama hanya melihat dari sisi ojek konvensional dan factor-faktor yang membuat

mereka dapat mempertahankan eksistensinya ditengah adanyna ojek online. Dari penelitian

pertama, peneliti dapat memperoleh informasi mengenai factor yang dapat membuat ojek

(13)

memiliki isu dengan tema yang sama dengan penelitian yang akan dilakukan oleh peneliti yaitu

mengenai transportasi online. Melalui hasil penelitian kedua, peneliti memperoleh informasi

mengenai produk inovasi beserta tahapan proses difusi inovasi dari Gojek dan Grab berupa

pemanfaatan teknologi tepat guna. Selain itu, melalui penelitian kedua diperoleh informasi

bahwa produk inovasi pemanfaatan teknologi tersebut membawa perubahan sosial dan ekonomi

di masyarakat. Kedua penelitian menggunakan teori yang berbeda dengan teori dan konsep yang

akan dilakukan oleh peneliti. Namun, kedua penelitian memiliki pembahasan isu yang sama

dengan isu yang akan diangkat oleh peneliti yaitu mengenai transportasi online beserta dinamika

yang terjadi di masyarakat di level lokal.

2.2 Definisi Konseptual : The 5 -scapes of Appadurai (Disjuncture)

Appadurai berpendapat bahwa ada 5 faktor yang berkontribusi dalam proses globalisasi. Appadurai membagi factor tersebut kedalam dimensi scapes dimana asumsi dasar dari konsep The 5-scapes of Appadurai ini ialah globalisasi tidak membawa homogenisasi atau penyeragaman budaya. Globalisasi tidak hanya menciptakan suatu global scape tunggal yang berarti globalisasi mencipatkan banyak scapes yang berbeda satu sama lainnya. Appadurai membagi scapes ini berdasarkan lima ruang yaitu : Ethnoscapes, Technoscapes, Financescapes, Mediascapes, dan Ideoscapes. Akhiran-scapes yang digunakan oleh Appadurai dalam penyebutan lima ruang globalisasi menurutnya adalah mengarahkan kita kepada suatu bentuk yang tidak tetap atau berubah-ubah (fluid).14

Appadurai menjelaskan lebih lanjut kelima scapes tersebut sebagai berikut.15 :

A. .Ethnoscapes : meliputi ruang pergerakan manusia ( the transnational movement of people), termasuk didalamnya turis, migran, pengungsi dan pebisnis lintas negara.

B. Technoscapes : meliputi ruang pergerakan informasi dan teknologi yang menyebar melalui pasar dan pergerakan social yang lintas negara.

14Wunderlich, Jens-Uwe dan Meera Warier. 2007. A Dictionary of Globalization. London: Routledge Hlm 35.

(14)

C. Financescapes : pergerakan meliputi bidang ekonomi (the flow of global capital) sebagaimana terjadi karena adanya pasar komoditas dimana didalamnya terjadi tukar-menukar saham dan obligasi.

D. Mediascapes : pergerakan melalui media dimana persebaran informasi global melalui media, seperti contoh : Koran, internet, televisi, surat kabar, majalah dan lain sebagainya.

E. Ideoscapes : meliputi ruang pergerakan politik dunia seperti penyebaran Ideologi Negara barat (the transnational flow of ideologies and counter-ideologies).

2.2 Technoscapes Appadurai

Dalam penelitian ini, kelompok kami memilih menjelaskan penelitian kami tentang Transportasi Online dengan menggunakan satu dari empat konsep Appadurai yaitu

Technoscapes. Transportasi online mempengaruhi pola perilaku dan interaksi sehari-hari masyarakat Malang akibat adanya kecanggihan teknologi seperti yang dikatakan Appadurai bahwa dengan adanya persebaran lintas negara suatu teknologi dapat mempengaruhi budaya di tingkatan lokal tertentu.16 Indikator penelitian kami ialah adanya suatu pola yang berubah di

masyarakat Malang dengan adanya aplikasi android seperti Go-Jek yang dapat melakukan pemanggilan transportasi online seperti taxi dan ojek secara online tanpa harus keluar rumah menunggu transportasi konvensional seperti ojek pangkalan dan angkot.

2.3 Operasionalisasi Konsep

Dengan menggunakan konsep Techno-Scapes milik Appadurai dengan melihat kepada variabel perilaku masyarakat, maka dalam penelitian mengenai transportasi online (Go-Jek dan opang Malang) dalam dinamika globalisasi lokal, maka dapat dioperasionalisasikan konsep

Techno-Scapes tersebut ke dalam penelitian ini dengan menggunakan variabel “Perilaku Masyarakat”, yang mendapatkan suatu bentuk indikator. Indikator tersebut adalah tersebutnya suatu perubahan perilaku dalam masyarakat terkait pilihan transportasi, di mana masyarakat lebih memilih suatu bentuk transportasi online seperti Go-Jek daripada bentuk transportasi konvensional seperti opang (ojek pangkalan) dan angkot dikarenakan adanya keberadaan suatu bentuk aplikasi android seperti pada Go-Jek yang lebih praktis.

Konsep Variabel Indikator

(15)

Techno-Scapes Perilaku Masyarakat Perubahan perilaku masyarakat dimana masyarakat lebih memilih transportasi online yakni Go-Jek daripada transportasi konvensional seperti ojek pangkalan (opang) dan angkot karena adanya aplikasi

android seperti Go-Jek yang lebih praktis

Tabel 1. Konsep Techno-Scapes yang dianalisa terhadap fenomena yang kami teliti yakni penelitian mengenai transportasi online (Go-Jek dan opang Malang) dalam dinamika globalisasi lokal yang menghasilkan suatu indikator seperti di atas. Sumber : Diolah dari konsep Techno-Scapes Arjun Appadurai.17

2.4 Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian kami ini adalah keberadaan suatu aplikasi android seperti pada Go-Jek yang lebih praktis memengaruhi adanya perubahan perilaku pada masyarakat Malang yang lebih memilih bentuk transportasi online seperti Go-Jek daripada bentuk transportasi konvensional seperti opang dan angkot.

BAB III

(16)

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis dan pendekatan penelitian yang dipakai dalam laporan penelitian ini adalah jenis dan pendekatan kualitatif yang digunakan untuk berusaha melihat, menganalisa, dan memahami, juga mendeskripsikan bagaimana pengaruh munculnya aplikasi transportasi online yakni Go-Jek terhadap dinamika lokal masyarakat di Malang terutama mengenai perubahan perilaku masyarakat Malang yang lebih memilih Go-Jek daripada transportasi konvensional seperti taxi atau angkot dan opang (ojek pangkalan) dengan salah satu konsep yang digunakan dalam studi Hubungan Internasional (HI) mengenai globalisasi yakni konsep Techno-Scapes milik Arjun Appadurai.

3.2 Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup yang ditinjau oleh penulis dalam penelitian ini adalah kepada bagaimana pengaruh kemunculan transportasi online yang berbasis aplikasi yakni Go-Jek terhadap dinamika lokal globalisasi pada masyarakat Malang terutama mengenai bagaimana perubahan perilaku masyarakat Malang dalam memilih pilihan transportasi online ataukah transportasi konvensional yang telah ada sebelumnya seperti taxi, angkot, dan opang (ojek pangkalan).setelah kemunculan transportasi online berbasis aplikasi Go-Jek di Malang.

3.3 Teknik Pengumpulan Data

Teknik pengumpulan data yang digunakan oleh penulis dalam penelitian ini adalah teknik pengumpulan data primer dan sekunder. Di mana penulis menggunakan pengumpulan data primer lewat berbagai bentuk wawancara dalam kegiatan observasi lapangan yang dilakukan dan juga penulis menggunakan data sekunder lewat perantara data-data pendukung seperti literatur dan referensi dari sumber berita, sum ber artikel online, referensi buku, e-book, dsb.

3.4 Teknik Analisa Data

(17)

menganalisa fenomena lewat pendekatan kualitatif menggunakan konsep Arjun Appadurai, dalam mendukung data yang diperoleh untuk menganalisa fenomena terutama data primer dan sekunder, penulis melakukan kegiatan penelitian lapangan (observasi lapangan) untuk memperoleh data primer dan kegiatan studi literatur atau referensi untuk memperoleh data sekunder dalam membantu penulis dalam menganalisa fenomena yang akan diteliti ini.

BAB IV

GAMBARAN UMUM OBJEK PENELITIAN

4.1 Deskripsi Informan Penelitian

Semua informan dalam penelitian ini tidak merasa keberatanuntuk disebutkan namanya, adapun informan penelitian ini adalahsebagai berikut:

1. Taufan Hendrial ( Driver Go-Jek)

(18)

mas Taufan saat beliau sedang beristirahat di sebuah warung tepat di jalan Sukarno Hatta ,beliau bersedia untuk diwawancarai dan antusias dalam menjawab pertanyaan yang kami berikan. Pada saat kami wawancarai mas Taufan tidak mengenakan atribut atau seragam Gojek yang biasa dikenakan para driver untuk bertugas.

2. Bapak Ojek Konvensional

Penelitian kedua peneliti menemui pangkalan ojek konvensional yang berada tidak jauh dari jalan utama Sukarno Hatta. Kami menemui bapak lanjut usia yang kamu tanyakan apakah bapak ini bersedia untuk diwawancarai, dari tanggapan beliau bapak ini sanggup untuk menjawab pertanyaan yang dirasa bias ia jawab. Saat kami temui bapak ini sedang duduk-duduk di pangkalan ojek konvensional dan berbincang dengan rekan sesame pengojek lainnya.

4.2 Deskripsi Obyek Penelitian

Dari hasil observasi kelompok kami pada Minggu, 5 Maret 2017 yang diperoleh dari

basecamp Go-Jek online di Jalan Bunga Cokelat, daerah Soekarno-Hatta, Kota Malang, kami menemui seorang narasumber yang merupakan driver Go-Jek bernama Taufan Hendrial (37 tahun). Pak Taufan merupakan warga asli Malang, dan baru menjadi driver Go-Jek di Malang sejak akhir Desember 2016. Pak Taufan sebelumnya menjadi ojek uber di Jakarta.

Kemudian observasi terhadap Narasumber Ojek Konvensional juga dilakukan dihari yang sama di salah satu pangkalan ojek yang ada di kota Malang. Lokasi yang diambil oleh kelompok kami adalah pangkalan ojek yang ada di Kota Malang tepatnya di Jl. Soekarno Hatta. Disana kelompok kami menemui beberapa ojek pangkalan yang kebetulan sedang menunggu penumpang/pelanggan.

(19)

BAB V

HASIL TEMUAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Pengalaman Empiris Angkot Konvensional

(20)

Perkenalan saya dengan angkot konvensional terutama yang beroperasi dimulai pada tahun 2015, seiring diterimanya saya sebagai salah satu murid sekolah menengah atas (SMA) negeri favorit di kawasan Tugu Malang. Masuknya saya mendorong saya harus mampu untuk memanfaatkan berbagai jenis moda transportasi yang ada di Kota Malang, terutama angkutan umum (angkot) disebabkan saya pribadi saat itu masih belum mampu mengendarai sepeda motor maupun mobil sehingga angkot menjadi moda yang sangat membantu bagi saya. Disamping hal tersebut, posisi sekolah saya yang memang dilewati salah satu trayek angkot yakni angkot GA (Gadang/Hamid Rusdi-Arjosari), menjadi suatu keadaan yang harus secara bijak saya manfaatkan seiring ketidakmampuan saya untuk mengendarai sendiri kendaraan pribadi pada waktu itu. Singkat cerita, angkot pun menjadi langganan saya sehari-hari.

Tidak hanya pada waktu itu, bahkan sampai sekarang saya pun masih konsisten memanfaatkan jasa layanan angkot dalam mengantar saya ke kampus di Universitas Brawijaya. Tentu saja telah banyak pengalaman pribadi saya terkait menumpang angkot yang telah saya alami baik merupakan suka maupun duka. Dan pengalaman pribadi menumpang angkot yang saya alami ini dapat ditarik menjadi suatu pengalaman empiris mengenai pengalaman menumpang angkot konvensional. Pengalaman pribadi yang menjadi kesan saya dalam menumpang angkot pertama kali adalah kebiasaan ngetem angkot-angkot di Malang.

Barangkali, sudah menjadi rahasia umum jika dimanapun angkot berada, kebiasaan mereka adalah ngetem. Tidak terkecuali di Malang. Ngetem, adalah istilah yang bisa diartikan sebagai berhenti sementara untuk mencari penumpang, walau pada kenyataannya sementara itu bisa berarti waktu yang lama tergantung penuh tidaknya kapasitas angkot. Ngetem ini bisa memakan waktu hingga 15 menit, 20, 30, bahkan sampai 40 menit hingga satu jam lamanya. Tentu saja bagi saya, sebagai anak sekolah saat itu merasa cukup terganggu dengan kebiasaan ngetem ini. Bagaimana tidak, kebiasaan ngetem ini seringkali membuat saya terlambat ketika upacara bendera hari Senin, maupun terlambat ketika ada agenda kerja kelompok maupun keperluan lain.

(21)

khususnya, ngetem akan sangat strategis daripada angkot meneruskan perjalanan mengitari trayek dengan hanya segelintir penumpang. Terlebih lagi, jika waktu telah menjejak malam hari.

Kemudian pengalaman saya yang kedua mengenai angkot adalah kadar keamanan dan kenyamanan. Mengacu kepada angkot adalah moda transportasi yang cukup familier bagi masyarakat Malang terutama Kota Malang pada umumnya, maka sudah dapat ditebak pada sepanjang jam kerja moda transportasi ini akan cukup sibuk. Bahkan pada sebelum dan sesudahnya. Kesibukan aktivitas dan cukup penuhnya penumpang di dalam angkot pada satu sisi merupakan hal yang cukup menggembirakan bagi sopir angkot. Tetapi sisi lain yang harus diperhatikan terutama menyangkut konsumen adalah kadar keamanan dan kenyamanan, di dalam kondisi penuhnya suatu angkot. Berdasarkan acuan ini, maka beberapa pengalaman empiris yang dapat saya jabarkan adalah angkot di Malang seringkali dipaksa untuk dapat memuat penumpang lebih dari kapasitasnya (overload).

Dalam keadaan yang overload ini tentu penumpang tidak akan mampu leluasa untuk memilih tempat duduknya. Bahkan harus rela duduk berhimpitan, kadang terjepit, kadang bahkan harus duduk tepat di depan pintu angkot yang menghadap langsung ke jalan yang sangat berisiko ketika angkot dijalankan. Tetapi sepanjang pengalaman saya menjadi penumpang angkot, pemandangan ini sangat lazim terjadi. Pada saat angkot penuh, keadaan seringkali menjadi sangat sesak dan panas, terlebih pada siang hari yang terik. Disini, kenyamanan menjadi hal yang tidak bisa leluasa dipilih. Penumpang pun harus bersiap berjibaku dengan berbagai macam bau yang menyeringai di dalam angkot, baik bau rokok, keringat sesama penumpang, minyak angin, parfum, sampai dengan barang dagangan pasar yang sedang diangkut oleh salah satu penumpang menuju pasar.

(22)

Mengikuti kenyamanan, maka pengalaman empiris selanjutnya adalah mengenai keamanan angkot. Berdasarkan pengalaman empiris pribadi yang saya alami adalah angkot merupakan sarana yang sangat empuk bagi para kriminal yang ingin mencari mangsa. Saya sendiri pernah sekali mengalami kehilangan dompet di angkot ketika saya tertidur pada perjalanan saya pulang. Pun, beberapa teman sekolah saya juga pernah menceritakan bahwa mereka kehilangan telepon genggam maupun juga dompet pada moda transportasi yang sama (meski trayek berbeda). Berkaca dari kehilangan dan akumulasi pengalaman tersebut saya menjadi lebih berhati-hati dalam menumpang angkot, termasuk meletakkan tas di depan badan saya. Kondisi keamanan di angkot sendiri bisa dibilang sangat susah untuk dijamin, dikarenakan kemajemukan yang ada dan penuhnya aktivitas di dalam angkot itu sendiri. Pada suatu momen ketika angkot memuat kapasitas sangat penuh, sangat susah terkadang untuk dapat aware maupun notice pada apa yang terjadi di sekitar kita sebagai penumpang, bahkan saya selalu fokus pada barang saya sendiri.

Penuhnya angkot juga tidak jarang membuat kita sebagai penumpang susah berkonsentrasi, sehingga diharapkan untuk senantiasa waspada pada apapun yang terjadi. Tidak hanya tindakan macam pencopetan, tindakan kriminal lain juga rupanya masih lekat membayangi moda transportasi angkot yang ada di Malang. Berbagai tindak yang dapat digolongkan sebagai premanisme seperti menarik tarif yang sangat jauh dari tarif normal adalah hal yang seringkali lazim terjadi. Saya sendiri sering tidak mendapat kembalian uang ketika saya membayar lebih dari tarif normal, dengan rentang kembalian Rp 500, Rp 1000, hingga Rp 2.500.

(23)

Pengalaman berikutnya adalah mengenai “pengoperan” penumpang. Ya, di Malang, kebiasaan mengoper penumpang oleh sopir angkot lumayan sering dilakukan, termasuk pernah dialami oleh saya sendiri. Pada hakikatnya, tindak pengoperan ini dilakukan oleh sopir angkot demi efisiensi angkot itu sendiri. Dimana, lebih banyak angkot yang memilih pulang ketika penumpang hanya berkisar 1-2 orang, dan untuk selanjutnya 1-2 orang tersebut akan dioper kepada angkot yang berada di belakangnya. Sebetulnya, tak ada yang perlu terlalu larut dipermasalahkan dalam tindakan pengoperan ini. Hanya, bagi beberapa penumpang seperti saya hal ini seringkali terasa tidak mengenakkan. Ketika tujuan kita sebenarnya masih jauh dan kita diturunkan di tengah perjalanan untuk menjemput angkot selanjutnya yang belum tentu secara cepat akan datang, apalagi ketika hari sudah memasuki sore menjelang malam. Untuk beberapa kasus, hal ini juga cukup mengganggu konsumen, terutama terkait efisiensi waktu yang dimiliki.

Demikian, penjabaran bagian pengalaman empiris mengenai angkot konvensional yang dapat dikomparasikan ke bagaimana cara kerja Go-Jek sebagai moda transportasi online. Dalam angkot konvensional yang menjadi bagian dari pengalaman empiris ini, dijabarkan mengenai beberapa pengalaman empiris mengenai angkot konvensional oleh penulis seperti kebiasaan ngetem angkot, kadar kenyamanan dan keamanan, hingga pada kebiasaan “pengoperan” penumpang oleh moda transportasi konvensional angkot di Malang itu sendiri.

5.2 Komparasi GoJek dan Ojek Konvensional

(24)

penumpang yang dapat diangkut daripada di Jakarta. Dalam menjadi seorang driver Go-Jek, menurut beliau ada target setoran yang harus dicapai yang dinamakan poin. Apabila target setoran yang disebut poin tersebut tercapai, maka seorang driver Go-Jek dapat mendapatkan bonus Rp 100.000/ hari dari kantor yang hanya dapat berlaku sekali setiap harinya. Sehingga rata-rata penghasilan bersih (net) seorang driver G0-Jek dapat mencapai Rp 200.000/hari dan apabila driver tersebut dapat menyanggupi untuk mengojek kembali, maka bisa menambah penghasilan mereka sampai dengan Rp 300.000/hari, yang menurut beliau nominal Rp 300.000 tersebut sangat sulit dicapai yang disebabkan oleh faktor tenaga dan fisik. Namun menurut Pak Taufan, penghasilan bersih Rp 200.000/hari tersebut sudah sangat cukup untuk kebutuhan hidup para driver Go-Jek sehingga banyak driver Go-Jekyang memilih Go-Jek sebagai pekerjaan utama mereka. Selanjutnya pendapat Pak Taufan mengenai clash (friksi) mengenai transportasi

online dengan transportasi konvensional di Malang seperti angkot, taxi, dan opang (ojek pangkalan), Pak Taufan mengatakan bahwa driver Go-Jek tidak mengambil pusing atas tanggapan miring dari berbagai pihak transportasi konvensional. Sebab menurut Pak Taufan, Go-Jek hanya mempunyai niat untuk melayani masyarakat, bukan untuk berkonflik dengan transportasi jenis lain.

(25)

Go-Jek tidak akan membahayakan keselamatan konsumen. Kemudian, ketika telah menjadi bagian dari driver Go-Jek, akan terdapat suatu hitung-hitungan (kalkulasi) pembagian hasil dimana 80% bagian dari total penghasilan dialokasikan untuk para driver Go-Jek dan 20% lainnya dialokasikan untuk kantor Go-Jek. Dan ternyata, setelah kami berbicara langsung dengan narasumber pembayaran Go-Jek dengan menggunakan Go-Pay, diketahui bahwa adanya Go-Pay

tersebut sama sekali tidak mengurangi persentase pendapatan dari “ngojek” yang diperoleh para

driver Go-Jek. Hal menarik selanjutnya adalah bahwa jam kerja dari para driver Go-Jek tersebut sama sekali tidak ditentukan oleh kantor pusat, maka kemudian pendapatan yang diperolehnya bisa saja melebihi rata-rata hasil yang seharusnya mereka dapatkan. Akan tetapi juga, jika driver

sama sekali tidak menarik Go-Jek-nya dalam waktu sehari penuh, maka akan dikenakan suatu suspensi dari kantor cabang.

Fakta yang tidak bisa dihindari bahwa adanya Go-Jek yang menjadi suatu fenomena transportasi paling hits di masa kini, menimbulkan adanya gesekan gesekan (friksi / clash) dengan transportasi konvensional lainnya yang ada terlebih dahulu seperti ojek pengkolan (opang) dan angkot konvensional, sehingga membuat adanya batasan-batasan kawasan yang ditentukan untuk daerah operasi Go-Jek yang sebenarnya tidak ditetapkan secara legal lewat undang-undang hukum resmi oleh pemerintah, melainkan hanya sebagai hukum bentukan para kelompok oposisi Go-Jek dari kalangan angkutan umum konvensional yang tidak menyukai eksistensi Go-Jek akibat merasa dirugikan dengan adanya Go-Jek. Sehingga lagi-lagi ditemukan fakta baru di lapangan, bahwa para driver Go-Jek di Malang tidak memakai atribut apapun yang berbau Go-Jek selama 3 minggu terakhir ini, dikarenakan untuk menghindari kemungkinan potensi konflik antara pihak Go-Jek dengan pihak angkutan umum konvensional yang semakin memanas dalam tensinya. Terlebih tersiar kabar bahwa besoknya akan ada demo kembali dari pihak angkutan umum konvensional yang menuntut Abah Anton selaku walikota Malang dan jajaran Pemkot Malang untuk menghentikan segala aktivitas Go-Jek yang dianggap meresahkan bagi keberadaan angkutan umum konvensional. Besoknya, demo angkutan umum tersebut benar-benar terjadi pada rentang waktu dua hari, yakni selama (Senin-Selasa, 6-7 Maret 2017).

5.3 Stratifikasi Gender di dalam Gojek

(26)

dan angkot yang menilai gojek mengambil pelanggan mereka dan omset mereka semakin menurut tiap harinya. Respon positif berasal dari mahasiwa yang berasa terbantu dengan adanya gojek mulai dari gojek ( antar ke tempat tujuan) maupun go-food (membelikan makan sesuai peasanan konsumen) dan lain sebagainya.Karena prospek kerja yang menguntungkan ini kerap kali kaum wanita mulai merabah menjadi driver gojek.

Dari hasil wawancara dengan driver gojek bernama bapak Harjono selasa 16 mei 2017 kami mendapatkan data bahwa di malang ada beberapa driver gojek wanita. Bapak Harjono juga mengatakan bahwa tidak ada pembedaan kerja maupun tugas antara driver pria dan wanita namun driver wanita kerap kali memilih penumpang perempuan namun tidak ada larangan gojek wanita ini untuk mengantaran konsumen pria. Alasan para driver wanita ini tentunya karena adanya tuntutan ekonomi yang harus dipenuhi oleh karena itu kaum wanita kerap kali melakukan pekerjaan yang biasa dilakukan oleh kaum pria dan alasan driver wamita ini memilih konsumen yang sama-sama wanita karena merasa lebih aman dibanding konsumen pria. Gojek Malang sendiri tidak melakukan pembatasan karyawannya berdasarkan gender melainkan hanya batas maksimal karyawan yang hanya di tentukan dari kantor gojek pusat.

Dari hasil wawancara dengan responden pengguna gojek wanita di malang Rizka, 21 tahun mengatakan setuju dan puas dengan adanya driver wanita karena beberapa kaum hawa perlu rasa aman dengan adanya driver perempuan Rizka merasa lebih aman dan nyaman. Rizka juga mengungkapkan kesusahannya mencari driver wanita karena sistem Android gojek ini merespon pesanan berdasarkan kecepatan para driver-nya merespon pesanansehingga kerap kali ia mendapatkan driver pria. Saran Rizka kepada pengguna gojek khususnya kaum wanita setelah memesan gojek dan mendapatkan driver wanita, lalu simpan nomer handphonenya dan apabila ingin memesan lagi kita bisa menhubungi driver tersebut apakah dia sedang dalam jam kerja atau tidak.

(27)

5.4 Pendapat Konsumen dan Segmentasi Pasar Go-Jek

5.4.1 Pendapat Konsumen

Pada 10 Mei 2017 penliti memutuskan untuk melakukan wawancara terhadap beberapa masyarakat mengenai Gojek dan ojek konvensional atau angkot sebagai salah satu angkutan public konvensional juga. Dalam pembahasan ini peneliti akan menulis hasil wawancara dengan beberapa masyarakat yang memiliki profesi dan usia yang berbeda-beda mengenai keberadaan Gojek dan ojek konvensional atau angkot.

Pendapat pertama

Menurut Ibu Misina, yang berumur 36 tahun dirinya dulu sering sekali menggunakan angkot sebagai transportasi andalan untuk berpergian, namun semenjak dirinya mengetahui tentang Gojek, ia merasa terbantu karena kehadiran Gojek membuatnya lebih muda untuk berpergian sehingga tidak usah pergi keluar jalan besar lagi.

Pendapat kedua

Menurut Mba Dinda, Mahasiswa sastra Inggris Universitas Brawijaya yang berumur 19 tahun Gojek menjadi andalannya sebagai mahasiswi terutama perantau karena dengan gojek segalanya bisa menjadi mudah, mulai dari berpergian sampai memesan makanan.

Pendapat Ketiga

Menurut Ibu Sum, yang berumur 48 tahun berasal dari banyuwangi, dirinya belum mengenal Gojek, hanya sekedar mendengar saja karena dirinya juga tidak bisa menggunakan hp canggih separti sekarang, serta beliau lebih sering menggunakan gojek langganan untuk berpergian karena dianggap lebih mudah yakni tinggal sms saja.

Pendapat Keempat

(28)

Pendapat Kelima

Menurut Bapak Sadikin, 54 tahun beliau lebih suka naik angkot karena tidak mengerti cara memesan gojek, dan angkot menurutnya sudah sangat efisien karena beliau bisa bolak-balik pasar untuk membeli kebutuhan dagang dengan mudah.

Pendapat Keenam

Menurut Ibu Anis 39 tahun, Angkot dan Ojek konvensional dulunya merupakan angkutan andalan yang sering dia pakai, namun seiring berjalannya waktu angkot dan ojek sudah tidak efisien lagi karena lebih memakan biaya, serta waktu sehingga Gojek menjadi transportasi dan memiliki tujuan yang jelas ( contohnya ke pasar )

Dianggap memiliki efisiensi yang lebih baik Dianggap telah berkurang efisiensinya namun masih digunakan beberapa kalangan tertentu. Maka, dapat disimpulkan bahwa Segmentasi pasar bagi Gojek terdapat pada kalangan mahasiswa, atau kelompok masyarakat yang tergolong memiliki kecakapan dalam menggunakan teknologi seperti smartphone. Sedangkan, bagi mereka angkot dan ojek konvensional menjadi pilihan terakhir untuk digunakan.

5.4.2 Segmentasi Pasar

(29)

terbiasa mengunakannya sejak dulu dan tetap merasa nyaman karena sudah terbiasa seperti para pedagang yang pergi ke Pasar menggunakan angkot, atau ibu-ibu pengajian yang sudah terbiasa menggunakan Ojek Konvensional seperti pendapat para konsumen yang telah peneliti wawancarai.

5. 5 Pembahasan

Fenomena globalisasi yang terjadi sekarang ini memunculkan banyak perdebatan. Ada yang menganggap bahwa globalisasi menguntungkan dan dapat menciptakan tatanan baru dan ada yang menganggap bahwa globalisasi justru mendekati pada bentuk neoimperialisme. Ada 3 perspektif dasar dalam melihat fenomena globalisasi ini yaitu hiperglobalis, anti globalis (skeptis), dan transformasionalis.

Hiperglobalis beranggapan bahwa globalisasi merupakan sebuah proses historis dimana proses tersebut membawa pada dunia yang tergantung pada pasar dan lembaga supranasional.18

Dalam hal ini, globalisasi dianggap membawa masyarakat menjadi saling terikat satu sama lain tanpa mengenal batas tertentu dalam berbagai macam hal terutama pada aspek ekonomi. Dalam hal ini hiperglobalis beranggapan bahwa fenomena globalisasi ini merupakan fenomena yang unik, progresif dan menguntungkan.19

Akan tetapi, anggapan lain juga muncul yang menganggap bahwa adanya globalisasi ini hanyalah alat yang digunakan oleh negara super power untuk lebih meningkatkan pengaruhnya kepada negara lain. Ditambah lagi, jika hiperglobalis beranggapan bahwa pasar merupakan hal yang paling penting dalam berbagai macam hal dewasa ini, antiglobalis justru beranggapan bahwa negara masih memiliki peranan yang cukup penting.

Dari 2 perdebatan diatas, muncul teori baru yaitu transformalis yang dianggap mengkritik dua perspektif tersebut. Transformalis lebih melihat fenomena globalisasi ini dari segi sosialnya. Dalam hal ini, transformalis sepakat bahwa ada manfaat yang diberikan dari semakin luasnya pengaruh pasar, akan tetapi juga beranggapan bahwa ada ancaman yang terjadi yaitu ketimpangan yang ada dalam masyarakat.20

18Zoran Stefanovic, 2008, “Globalization: Theoritical Perspectives, Impacts, and Institutional Response of Economy”. University of Nierc, Serbia. Hal 271

19Ibid.

(30)

Dari penelitian yang dilakukan dapat dilihat bahwa adanya Go-Jek ini mendekati pada asumsi transformalis dimana keberadaan Go-Jek ini dianggap merupakan sebuah kemajuan teknologi komunikasi yang bisa memudahkan masyarakat. Disisi lain, dari observasi yang dilakukan ditemukan juga bahwa driver Go-Jek berhasil mendapatkan pendapatan yang dianggap mampu meningkatkan perekonomian keluarga mereka.

Akan tetapi disisi lain, keberadaan Go-Jek ini juga membuka peluang ketimpangan bagi ojek pangkalan/ojek konvensional dimana mulai banyak masyarakat yang beralih menggunakan Go-Jek sebagai media transportasi yang dipakai. Dalam penelitian yang dilakukan juga terlihat bahwa pada saat ini, saat Go-Jek mulai beroprasi, pendapatan ojek konvensional ini selalu menurun.

BAB VI

(31)

6.1 Kesimpulan

Globalisasi merupakan fenomena memudarnya batas-batas Negara yang ditandai dengan adanya integrasi dan intensifikasi pertukaran barang, jasa, teknologi, modal, dan lain sebagainya. Hal ini, menyebabkan adanya interdependensi antar Negara – Negara di dunia. Adanya Globalisasi menurut kaum Hiperglobalis membawa berbagai macam dampak positif bagi kehidupan manusia. Adanya perkembangan diberbagai sektor kehidupan manusia dianggap sebagai suatu hal yang baik dan dianggap dapat membawa kesejahteraan bagi masyarakat luas. Salah satu contoh dari perkembangan tersebut adalah lahirnya inovasi-inovasi baru dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Bentuk kongkrit dari inovasi ini adalah aplikasi transportasi publik berbasis online seperti Go-Jek.Selain Hyperglobalist, Antiglobalist dan Transformalist

juga menjadi perspektif yang dibahas dalam menganalisa penelitian ini. dimana antiglobalist memiliki kedudukan yang tidak sejalan dengan kaum hyperglobalist, dan transformalist memiliki persepsi untuk memanfaatkan kehadiran globalisasi tersebut.

Kemudian, penelitian ini juga berlandaskan kepada 5 scapes yang dicetuskan oleh Arjun Appadurai yang terdiri dari Ethnoscapes dimana meliputi ruang pergerakan manusia, technoscapes dimana meliputi ruang pergerakan informasi dan teknologi, Financescapes dimana pergerakan meliputi bidang ekonomi, Mediascapes yang meliputi pergerakan media global, dan

Ideoscapes yakni pergerakan gagasan-gagasan. Namun, penelitian ini pada dasarnya lebih berfocus kepada segi Technoscapes dan Financescapes yang mengkaji mengkaji mengenai lahirnya inovasi baru akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta melihat segi pergerakan ekonomi yang dilahirkan dengan menganalisis kesejahteraan para pekerja Go-Jek dan ojek konvensional serta mengkaji perihal adanya gesekan antara Go-Jek yang menjadi transportasi public masa kini dan ojek konvensional yang didasari akibat adanya kerugian pendapatan pekerja ojek konvensional.

6.2 Saran

(32)

ojek pangkalan. Hasil penelitian yang kami lakukan adalah bahwa driver ojek pangkalan (Opang) atau ojek konvensional mengalami gagap teknologi. Hal inilah yang membuat mereka enggan untuk bergabung dengan ojek berbasis online. Padahal telah dilakukan upaya-upaya untuk mengajak para driver ojek pangkalan oleh pihak ojek berbasis online. Namun, karena kesenjangan teknologi seperti tidak mampu menggunakan teknologi smartphone membuat mereka enggan untuk bergabung. Padahal berdasarkan hasil wawancara yang kami lakukan, para driver ojek berbasis online mengaku merasa kesejahteraannya meningkat setelah bergabung dengan ojek berbasis online.

Kemudian berdasarkan hasil penelitian tersebut, solusi yang ingin kami tawarkan adalah : Pertama, pihak ojek berbasis online memberikan fasilitas berupa smartphone kepada para driver yang baru bergabung terutama yang belum memiliki smartphone. Kedua, memberikan pelatihan singkat ( short-course ) kepada driver yang baru bergabung dengan ojek berbasis online mengenai sistem dan operasionalisasi ojek berbasis online. Dengan memberikan fasilitas

smartphone beserta pelatihan atas operasionalisasi nya dapat membuat para ojek pangkalan dapat bergabung dengan ojek berbasis online yang lebih dapat menyejahterakan. Ketiga, apabila solusi tersebut tidak dapat dilakukan maka pemerintah dapat membuat aturan dengan menyeimbangkan tarif dari ojek berbasis online dengan tarif ojek pangkalan.

Kemudian, mengenai solusi yang ingin menulis tawarkan dalam penelitian ini adalah antara lain : 1). Fasilitasi smartphone 2. Memberikan short - course bagi para driver yg baru bergabung mengenai sistem dan operasionalisasi ojek berbasis online tsb. Kalau kedua solusi tsb. Sulit untuk dilakukan oleh pihak Go-Jek maka solusi yg ketiga adalah adanya regulasi yg dibuat oleh pemerintah secara jelas mengenai penyeimbangan tarif antara ojek online dengan opang, mengingat tarif yg begitu timpang membuat org juga lebih memilih untuk naik Go-Jek ketimbang opang, sehingga opang mengalami penurunan pendapatan (based on our interview). Untuk solusi pertama dan kedua mengenai alasannya adalah karena berdasarkan hasil

interviewkelompok penelitian kami, bahwa mereka (ojek pangkalan/konvensional) enggan bergabung dengan Go-Jek dengan alas an antara lain adalah karena tidak memiliki smartphone

(33)

berdasarkanhasil interview kelompok kami juga adalah bahwa para driver Go-Jek tersebut menyatakan lebih sejahtera ketika sudah bergabung dgn Go-Jek, karena bisa bebas memilih jadwal, keberadaan penumpang yang lebih pasti, serta dengan tambahan berbagai bonus-bonus yang ditawarkan.

DAFTAR PUSTAKA

Sumber Buku :

(34)

Caldwell, M. L., & Lozada Jr, E. P. (n.d.).

The Fate of the Local

. Chapter 6 Hlm

502.

George Ritzer, 2007, “

The Blackwell Companion to Globalization

”.Blackwell

Published Ltd: Oxford.

Manfred B. Steger, 2003, “

Globalization: A Very Short Introduction

”, Oxford Press

Martin Wolf, “

Globalisasi Jalan Menuju Kesejahteraan

”, penerjemah Syamsudin

Berlian ( Jakarta : Yayasan Obor Indonesia, 2007 )

Wunderlich, Jens-Uwe dan Meera Warier. 2007.

A Dictionary of Globalization

.

London: Routledge Hlm 35.

Zoran Stefanovic, 2008, “

Globalization: Theoritical Perspectives, Impacts, and

Institutional Response of Economy

”. University of Nierc, Serbia

Sumber Daring

Aditya Panji, “

Gojek Raih Investasi Baru Rp 7,2 trilliun

”,

http://www.cnnindonesia.com/teknologi/20160804220652-185-149329/gojek-raih-investasi-baru-rp72-triliun/ . diakses pada Sabtu, 10 Juni 2017

Dhaniek Kus Wardani, 2016, “

Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi

Persepsi Pengguna Gojek terhadap Gopay

”. diakses dari

http://etd.repository.ugm.ac.id/index.php?

mod=penelitian_detail&sub=PenelitianDetail&act=view&typ=html&buku_id=104

318&obyek_id=4 pada Jumat, 31 Maret 2017

(35)

Hendita D. Prasetya & Martinus L., “

Rasionalitas Ojek Konvensional dalam

Mempertahankan Eksistensi di Tengah Adanya Gojek di Kota Surabaya”

Diakses

pada tanggal 7 Juni 2017

Gambar

Tabel  1.  Konsep  Techno-Scapes yang  dianalisa terhadap  fenomena  yang  kami  teliti  yakni

Referensi

Dokumen terkait

Jenis Penelitian ini tergolong Kualitatif dengan pendekatan penelitian yang digunakan adalah :pendekatan normatif ( syar’i) , yuridis dalam memahami situasi apa adanya dan

Jenis penelitian yang digunakan adalah jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif yaitu penelitian yang menggunakan wawancara untuk mendeskripsikan data

Jenis penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan ilmu komunikasi, pendekatan ini dipakai karena dapat memberikan informasi yang dianggap

Jenis penelitian adalah penelitian lapangan ( Field research) dengan menggunakan pendekatan penelitian deskriptif kualitatif. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa, penerapan

Pendekatan atau metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, yaitu pendekatan yang berusaha memahami makna yang ada di

Metode Pendekatan yang digunakan adalah yuridis empiris, yaitu penelitian ini meninjau dan melihat serta menganalisa permasalahan yang menjadi objek penelitian

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan fenomenologis (yang berusaha mengerti dan memahami kejadian/peristiwa

Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif dan fenomenologis (yang berusaha mengerti dan memahami kejadian/peristiwa dalam