• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sejarah dan Perkembangan Ilmu Munasabah

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sejarah dan Perkembangan Ilmu Munasabah"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

MUNASABAH DALAM AL-

QUR’AN

Moh. Muslimin

*

Abstrak

Munasabah adalah ilmu yang menerangakan hubungan antara ayat dengan ayat atau surat dengan surat yang lain, apakah hubungan itu berupa ikatan antara Am dan Khosnya, atau antara abstrak dan kongkrit, antara sebab akibat, atau antara Illat dan mu’lulnya atau antara rasional dengan irasionalnya atau bahkan antara dua hal yang kontradeksi sekalipun.

Mengetahui ilmu tentang munasabah dalam Al-Qur’an adalah sangat penting, karena memahami Al-Qur’an dengan disertai pengetahuan tentang munasabah akan diketahui mutu dan kebalaghohan Al-Qur’an. Disamping itu munasabah atau korelasi antara ayat/surat dengan ayat/surat juga membantu dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur’an dengan baik dan cermat.

Oleh sebab itu tidak sembarangan orang dapat mengkolerasikan ayat-ayat, akan tetapi hendaknya melalui ketentuan-ketentuan yang berlaku yaitu jika ayat itu ternyata memang satu persambungan. Seandainya ayat itu datang karena berbagai sebab, sedangkan disitu tidak ada kolerasi maka seandainya ada orang yang mengkolerasikan maka hal itu terkesan memaksakan.

Kata Kunci : Munasabah dan Al-Qur’an

Penduhuluan

Seperti halnya pengetahuan tentang asbab annuzul yang mempunyai pengaruh dalam memenuhi makna dan menafsirkan ayat, maka munasabah atau korelasi antara ayat/surat dengan ayat/surat juga membantu dalam memahami dan menafsirkan Al-Qur’an dengan baik dan cermat.1

Satu surat walaupun banyak mengandung masalah namun masalah-masalah tersebut berkaitan antara satu dengan yang lainnya. Sehingga seseorang hendaknya jangan hanya memperhatikan pada akhir surat atau

*

Dosen Tetap Fakultas Tarbiyah Dan Dekan Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Tribakti (IAIT) Kediri

1

(2)

sebaliknya. Karena bila tidak demikian akan terabaikan maksud ayat-ayat yang diturunkan itu.2

Tidak dibenarkan seseorang hanya memperhatikan bagian-bagian dari satu pembicaraaan, kecuali pada saat ia bermaksud memahami arti lahirriyah dari satu kosakata menurut tinjauan etomologi, bukan maksud si pembicara.

Dengan demikian pengetahuan tentang munasabah dalam Al-Qur’an menjadi sangat penting, karena memahami Al-Qur’an dengan disertai pengetahuan tentang munasabah akan diketahui mutu dan kebalaghohan Al-Qur’an. Oleh kerena dalam makalah ini secara sederhana akan dibahas perihal munasabah dalam Al-Qur’an mulai dari pendahuluan, definisi munasabah, sejarah dan perkembangan ilmu munasabah, sekitar permasalahan munasbah, jenis-jenis munasabah dalam A-Qur’an, manfaat munasabah serta penutup.

Definisi Munasabah

Secara etimologi munasabah sama dengan ّهكبشًنا (persesuaian) dan (kedekatan)3 Munasabah dari خجسبُي -تسبُي -تسبَ fiil Tsulasi Mazid ditambah satu huruf berupa alif antara Fa’fill dan ain fill tsulasi mujarrad.4

Sedangkan tinjauan terminologi adalah ilmu yang menerangkan hubungan antara ayat/surat dengan ayat/surat yang lain, apakah hubungan itu berupa ikatan antara Am dan Khosnya, atau antara abstrak dan kongkrit, antara sebab akibat, atau antara Illat dan mu’lulnya atau antara rasional dengan irasionalnya atau bahkan antara dua hal yang kontraksi sekalipun.5

Jadi pengertian munasabah itu tidak hanya sesuai dalam arti yang sejajar, melainkan yang kontradiksipun termasuk dalam pengertian munasabah. Seperti sehabis menerangkan orang mukmin lalu menerangkan orang kafir dan sebagainya.

Sejarah dan Perkembangan Ilmu Munasabah

Sejarah menujukkan bahwa Kitab Al-Qur’an diturunkan selama kurang lebih 22 Tahun lebih beberapa bulan. Kitab ini berisi berbagai macam petunjuk dan peraturan yang diisyaratkan karena beberapa sebab dan hikmah yang bermacam-macam. Ayat-ayatnya diturunkan sesuai

2

Ahmad Syadzali, Ahmad Rifai, Ulum al-Qur’an, (Bandung: Pustaka Setia, 1997), 168

3

Al-Suyuti, Al Itqon Fi Ulum al-Qur’an, (Bierut : Daar al-Fikr, tt), 108

4

Ibid

5

(3)

dengan situasi dan kondisi yang membutuhkan. Susunan surat-suratya ditertibkan seperti yang terdapat dalam lauh mahfudh, sehingga tampak adanya persesuaian antara ayat yang satu dengan ayat lain.

Karena itu timbul dari cabang Ulum Al-Qur’an yang membahas khusus persesuaian-persesuaian terseut yang dinamakan dengan Ilmu Munasabah Al-Qur’an atau Ilmu Ranasubil ayat wassuar. Orang pertama yang menulis ilmu munasabah adalah Abu Bakar an-Nausaburi (32411).6 sebagaimana dikatakan Syaikh Abu Hasan7Ia berkata “

ٖرٕجسيُنا زكث ٕثا وبيلاا خيشنا ْٕ خجسبًُنا ىهع دادغجث زٓظا ٍي لٔا

Orang pertama yang memunculkan ilmu munasabah di Baghdad adalah Syaih Abu Bakar anNaisabur dan aku tidak melihat dari selainnya.”8

Kemudian setelah anaisabur disusul Abu Bakar ibn Ziyad9 Yang mengarang kitab Al-Burhan fi munasabati suwaril Qur’an.

Kemudian disusul oleh al-Biqio10 yang menulis kitab Nidzmudurar fi tanasubi ayat wasuwar, dan al-Suyuti11 yang menulis kitab asror al Tanzil Watanasubit durar fi tana subi ayat wassuwar, serta M. Shodiq al Ghiman12 yang mengarang Jauharul Bayan fie Tanasubisuwaril Qur’an13.

Permasalahan Munasabah

Sebagaimana kita ketahui bahwa ilmu munasabah adalah suatu ilmu yang berguna mengetahui korelasi-kolerasi antara ayat dengan ayat atau surat dengan surat dengan surat yang lain, dengan demikian tingkat kebalaghohan kitab dapat diketahui. Maka dalam hal ini tidak sembarangan orang dapat mengkolerasikan ayat-ayat, akan tetapi hendaknya melalui ketentuan-ketentuan yang berlaku yaitu jika ayat itu ternyata memang satu persambungan. Seandainya ayat itu datang karena

6

Ia adalah Abu Bakar Abdilla Ibn Muhammad Ibn Ziyad, seorang ahli Fiqh,

termasuk pimpinan Madzhab Syafi’I di Irak meninggal 324 H (Lihat dalam al -Burhan, 62)

7

Sejauh ini penulis belum menemukan siapa nama lengkapnya, penulis hanya mengutip dari kitab al-Burhan. Disitu disebut Abu Hasab al-Syahrobani (lihat al-Burhan, 620)

8

Al-Zarkasi, al-Burhan Fie Ulum al-Qur’an, Beirut : Daar al-Fikr, tt. 62.

9

Nama lengkapnya Ahmad Ibn Ibrohim Ibn Zubair al-Tsaqofi al-Ghornadi, seorang ahli Hadis lahir di Hayyan 627 H, wafat 708 H (dalam Shilatus Shilah)

10

Penulis belum menemukan siapa nama aslinya, penulis mengutip dari al-Itqon yaitu Burhanudin al-Biqoi (Al-Itqon, 108)

11

Ia adalah Jalaludin al-Suyuti yang mempunyai kitab al-Itqon

12

Sejauh ini belum penulis ketahui siapa nama aslinya

13

(4)

berbagai sebab, sedangkan disitu tidak ada kolerasi maka seandainya ada orang ynag mengkolerasikan maka hal itu terkesan memaksakan. Hal ini sebagai mana dikatakan oleh Izzudin Ibn Abd Salam.14

Jadi permasalahan yang dihadapi dalaam munasabah Al-Qur’an adalah seringkali seorang mufassir mengkolerasikan suatu ayat padahal ayat tersebut tidak berhak untuk dikolerasikan sehingga terkesan memaksakan ayat tersebut. Hal ini tampaknya wajar karena pengetahuan tentang hal ini sangat rumit dan membutuhkan kecermatan dan kejelian para mufassir.

Jenis-jenis Munasabah

Macam-macam Sifat Munasabah

Jika ditinjau dari sifat munasabah atau keadaan persesuaian dan persabungannya, maka munasabah itu ada dua macam :

Persesuaian yang nyata atau persesuaian yang tampak jelas, yaitu persesuaian antara bagian al-Qur’an yang satu dengan bagian Al -Qur’an yang lain tampak jelas dan kuat, karena kaitan antara surat yang satu dengan surat yang lain erat sekali.

Contohnya persambungan ayat 1 surat Al-Isro’ :

ٗصللاا دجسًنا ٗنا وازحنا دجسًنا ٍي لاين ِدجعث ٖزسا ٖذنا ٌبحجس

malam dari Masjidil Haram keMasjidil Aqsho.”15

Ayat tersebut menerangkan isro’ Nabi Muhammad .selanjutnya ayat 2 surat Al-Isro’ berbunyi :

ميءازسا يُجن ٖدْ ِبُهعجٔ ةبزكنا ٗسٕي بُيرأ

Dan kami berikan kepada Musa Kitab (taurat) dan Kami jadikan Kitab itu petunjuk bagi Bani Israil.”16

Ayat tersebut menjelaskan diturukannya Kitab Taurat Kepada Musa. Persesuaian ayat tersebut tampak jelas mengenai diutusnya kedua orang Nabi.17

14

Ia adalah Abd Aziz Ibn Abd Salam Ibn Abi Qosim Ibn Hasan Assalami, lahir di Dimasqo tahun 5771 wafat 660 H (al-Burhan 63)

15

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Semarang: YPPA, 1992), 424

16

(5)

Persesuaian yang Tidak Jelas (Khofiyyullrtibath) atau samarnya persesuaian antara bagian Al-Qur’an dengan yang lain, sehingga tidak tampak adanya pertalian untuk keduanya, bahkan seolah-olah masing-masing ayat berdiri sendiri, baik karena ayat yang satu diathafkan kepada orang lain, atau karena yang satu bertentangan dengan yang lain.

Contohnya, seperti hubungan antara ayat 189 surat Al-Baqoroh dengan ayat 190 surat Al-Baqoroh ayat 189 yang berbunyi :

زي دل ءيش مك ٗهع اللهٔ ضرلاأ دإًسنا كهي للهٔ

Mereka bertanya kepadamu tentang bulan Sabit5, katakalah, bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan bagi ibadah

haji.”

Ayat tersebut menrangkan bulan sabit / tanggal-tanggal, untuk tanda-tanda waktu dan untuk jadwal haji, sedangkan ayat 190 Al-Baqoroh berbunyi :

ةبجنلاا ٗنأٔلا ذيألا ربُٓنأ مينا فهزخأ ضرلاأ دإًسنا كهخ ٗف ٌا

Dan pergilah dijalan Allah, orang-orang yang memerangi kalian, tetapi janganlah melampaui batas...”

Ayat tersebut menerangkan perintah menyerang kepada orang-orang yang menyerang umat Islam. Sepintas, antara kedua ayat tersebut tidak ada hubungan antara kedua ayat tersebut, yaitu ayat 189 surat Al-Baqoroh mengenai soal waktu untuk haji, sedangkan ayat 190 menerangkan tentang sebenarnya waktu haji itu umat Islam dilarang berperang, tetapin ketika musuh-musuh itu menyerang lebih dahulu maka harus dibalas walaupun dalam bulan haji.18

Macam-macam Materi Munasabah

Ditinjau dari segi materinya, maka munasabah itu ada dua macam sebagai berikut :

Munasabah antar ayat, yaitu munasabah atau persambungan antar ayat yang satu dengan ayat yang lain. Munasabah ini bisa berbentuk persambungan sebagai berikut :

17

Abd Djalal, Op. Cit., 156.

18

(6)

1) Diathafkannya ayat yang satu dengan yang lain, seperti munasabah antara ayat 103 surat ali-Imron :

إل زفر لأ بعيًج الله مجحث إًصزعأ

Dan berpeganglah kalian semua kepada tali Allah dan janganlah kalian bercerai berai

dengan ayat 102 surat ali Imron:

ًٌٕهسي ىزَألاا ٍرًٕرلأ ّربمر كح الله إمرا إُيا ٍي ذنابٓيابي

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu semua kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa kepadaNya, dan janganlah

sekali-kali sekali-kalian mati melainkan dalam keadaan Islam.”

Faedah dari munasabah dengan athaf ini adalah untuk menjadi dua ayat tersebut sebagai dua hal yang sama (an-nadhirain) surat 102 surat ali Imron menyuruh bertaqwa sedangkan ayat 103 surat ali Imron menerangkan menyuruh berpegang teguh kepada tali Allah, dua hal yang sama.19

Tidak diathafkan ayat yang satu dengan ayat yang lain, seperti munasabah ayat 11 surat ali Imron :

بُيبيبث إث ذك ىٓهجل ٍي ٍي ذنأ ٌٕعزف لا ةأدك

“(Keadaan mereka) adalah sebagai keadaan kaum firaun dan

orang-orang sebelumnya, mereka mendustaikan ayat-ayat kami”.20

dengan ayat 10 surat ali Imron :

أيش الله ٍي ىْدلأالأ ىٓنإيا ىُٓع يُغر ٍن أزفك ٍي ذنا ٌا

19

Ibid, 158.

20

(7)

Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka dan mereka itulah bahan bakar neraka.”.

Dalam munasabah ini tampak hubungan kuat antara ayat yang kedua (ayat yang ke-1) dengan ayat sebelumnya (ayat ke-10), sehingga ayat 11 dianggap sebagai ayat kelanjutan dari ayat 10 surat ali Imron.

Digabungkanya dua hal yang sama,seperti persambungan antar ayat 5 surat al-Anfal :

ٌْٕربكن ٍيُيؤًنا ٍي بمي زف ٌأ كحنابث كزيث ٍي كثر كجزخا بًك

Sebagaimana Tuhanmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya”. 21

dengan ayat 4 surat al-Anfal :

ىيزك قسرٔ حزفغئ ىٓثر دُع دبجرد ىٓن بمح ٌُٕيؤًنا ىْ كئنا

Itulah orang-orang beriman dengan sebenar-benarnya mereka akan memperoleh beberapa derajat ketinggian dari Tuhannya dan ampunan serta rizki yang mulia.”22

Kedua ayat sama-sama menerangkan tentang kebenaran. Ayat 5 menerangkan kebenaran nabi Hijjrah sedangkan ayat 4 menerangkan status mereka sebagai kaum muhajirin.23

Dikumpulkan dua hal yang kontradiksi, seperti dikumpulkan ayat 95 surat al-A’raf :

ءازسنأ ءازضنا بَأبثا سي دل إنبلٔ إفع ٗزح خئيسنا ٌبكي بُندث ىث

Dengan ayat 94 surat al-A’raf :

ىٓهعن ءازضنأ ءبسأجنابث بٓهْا بَ ذخا لاا يث ٍي خي زل يفبُهسرابئ

ٌٕعزضي

21

Ibid, 237 .

22

Ibid, 261.

23

(8)

Ayat 94 tersebut menerangkan ditimpakanya kesempatan dan penderitaan kepada penduduk, tetapi ayat 95 surat al-A’raf menerangkan kesusahan dan penderitaan itu diganti dengan kesenangan.24 kita tahu bahwa suatu penderitaan adalah lawan dari kesenangan. Ayat tersebut menyebut hal yang kontra dengan ayat-ayat lain.

Munasabah antar Surah, yaitu munasabah antar surah yang satu dengan surah yang lain.

Munasabah antar dua surah dalam soal materinya, yaitu materi surah yang satu sama dengan materi surah yang lain. Contohnya, seperti surah yang pertama sama dengan surah pertama al fatihah. Keduanya sama-sama menerangkan hal kandungan yaitu aqidah dan ibadah. Dalam surah al-Fatihah diringkas secara jelas, sementara dalam surah al-Baqoroh dijelaskan secara panjang lebar.

Persesuaian antara permulaan surah dengan penutupan surah sebelumnya. Sebab semua pembukaan surah dipisahkan dengan basmalah. Contohnya seperti awal dari surat al-An’am yang berbunyi :

ٍي ذنا ىث رُٕنأ دبًهظنا معجٔ ضرلاأ دإًسنا كهخ ٖذنا لله دًحا

ٌٕن دعي ىٓث زث أزفك

Awal surah al-An’am tadi sesuai dengan akhir surah al-Maidah25. yang berbunyi :

زي دل ئيش مك ٗهع ْٕٔ ٍٓيف بئ ضرلاأ دإًسنا كهي لله

Manfaat Munasabah

Adapun faedah mempelajari ilmu munasabah itu banyak sekali diantaranya :

Mengetahui persambungan antar bagian al-Qur’an, baik antara kalimat, ayat maupun antara surah yang satu dengan surah yang lain, sehingga lebih memperdalam pengetahuan kitab al-Qur’an.

Dengan ilmu munasabah dapat diketahui tingkat kebalaghohan al-Qur’an, dan kontrks kalimatnya dengan kalimat-kalimat yang lain.

Dengan itu munasabah akan benar-benar membantu dalam menafsirkan al-Qur’an setelah diketahui hubungan antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain .

24

Ibid

25

(9)

Penutup

Dengan uraian-uraian diatas dapatlah saya simpulkan sebagai berikut :

1. Ilmu Munasabah merupakan ilmu yang membicarakan persesuaian ayat-ayat atau surah-surah baik yang ada didepannya maupun yang ada dibelakangnya.

2. Munasabah dapat terjadi pada ayat-ayat ataupun pada surah-surah. 3. Urgensi mempelajari Ilmu munasabah adalah membantu kita

mengetahui dengan tepat tentang adanya hubungan ayat atau surat dengan ayat atau surat yang lain, serta membantu dalam menafsirkan al-Qur’an.

DAFTAR PUSTAKA

Abd Jalal, Ulum al-Qur’an, Surabaya: Dunia Ilmu, 1998.

Ahmad Syadzali, Ahmad Rifai, Ulum al-Qur’an, Bandung: Pustaka Setia, 1997.

Al-Suyuti, Al-Itqon Fie Ulum Al-Qur’an, Beirut: Daar al-Fikr, tt, Al-Zarkasi, al-Burhan Fie Ulum al-Qur’an, Beirut : Daar al-Fikr, tt. Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, Semarang: YPPA,

1992.

Referensi

Dokumen terkait

Semua matakuliah wajib UI, wajib rumpun, wajib fakultas, wajib program studi, pilihan bidang minat dan pilihan lain yang diambil harus disesuaikan sehingga jumlah

Berdasarkaan hal itu jelaslah bahwa yang dimaksud oleh ayat itu adalah sesuatu yang tidak diberikan kepada anak perempuan yatim itu sesuai dengan apa yang diwajibkan Allah

Nilai wajar dari aset tidak lancar lain-lain tidak dapat diukur dengan handal karena tidak adanya jangka waktu realisasi yang jelas, sehingga metode penilaian tidak

Nilai wajar dari aset tidak lancar lain-lain tidak dapat diukur dengan handal karena tidak adanya jangka waktu realisasi yang jelas, sehingga metode penilaian tidak

Nilai wajar dari aset tidak lancar lain-lain tidak dapat diukur dengan handal karena tidak adanya jangka waktu realisasi yang jelas, sehingga metode penilaian tidak

1.Melihat Adanya Hal-hal yang Terbatas, yang mengandaikan adanya hal-hal yang tidak terbatas. Dengan begitu ia hendak mengatakan bahwa, akal manusia hanya mampu untuk

Hadis merupakan sumber otoritatif kedua setelah Al-Qur‟an dan juga menjadi pentafsir pertama terhadap Al-Qur‟an, karena memang tidak semua yang ada dalam Al-Qur‟an menjelaskan

Istilah Geologi pertama kali diperkenalkan oleh Richard de Bury (1473) sebagai nama lain untuk Ilmu Pengetahuan