ASPEK KESEHATAN GIGI DARI BUDAYA MENYIRIH MASYARAKAT NUSA
Indonesia is rich in culture and upholds its local wisdom. Betel leaf chewing is one of Indonesian culture that is still maintained as an appreciation for a society’s traditional value. East Nusa Tenggara (NTT) is one of the provinces in Indonesia in which communities are still widely praticing this habit. Many studies have been done to prove the effect of betel leaf to dental health. The aim of this paper is to collect a number of literatures and summarize the various aspects of the activity NTT. Materials and Methods: Sirih, Nginang and NTT were the keywords used in the Portal Garuda journal database (www.portalgaruda.org) resulting in 5 journals that was used in this paper. Results: It was found that the habit of betel leaf The appearance of oral lesion in people with betel leaf chewing habit (2 journal), decrease of pH level and increased caries index (1 journal), decrease in tongue sensitivity to taste (1 journal), and bad periodontal status (1 Journal). Because the betel leaf combination has the same ingredients with the one used by NTT people, the side effects of betel leaf chewing might as well be found on NTT people dental status. It can be concluded from the study that dental health education is very important for the people of NTT in relation to their habit of betel leaf chewing and dental hygiene in general.
Keywords:betel leaf chewing, NTT, dental health in Indonesia, local wisdom for dental health
Abstrak
digunakan dalam makalah ini. Hasil; ditemukan kebiasaan menyirih berdampak pada munculnya lesi oral pada orang dengan kebiasaan menyirih (2 jurnal), kadar pH dan volume saliva terhadap indeks karies (1 jurnal), sensitivitas lidah terhadap rasa manis dan pahit yang menurun (1 jurnal), status periodontal yang buruk (1 jurnal). Simpulan penelitian ini adalah pentingnya edukasi bagi masyarakat NTT yang berkaitan dengan kebiasaannya menyirih serta kesehatan gigi secara umum.
Kata kunci:menyirih, NTT, Kesehatan gigi di Indonesia, Kearifan lokal untuk kesehatan gigi
PENDAHULUAN
Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual, maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis. berdasarkan UU Kesehatan No.36 tahun 2009. Kesehatan gigi dan mulut merupakan bagian fundamental dari kesehatan secara umum serta berpengaruh terhadap kesejahteraan (WHO, 2003). Gigi dan rongga mulut yang sehat menjadi hal yang sangat penting dan hanya dapat dicapai apabila rongga mulut senantiasa bersih (Bangash et al., 2012). Banyak cara yang dilakukan manusia untuk membersihkan gigi dan rongga mulut salah satunya menyirih.
Selain itu, menyirih dipercaya dapat menjadikan gigi lebih kuat dan mencegah terjadinya karies gigi. Hal ini disebabkan karena adanya efek dari kandungan daun sirih (Piper betle Linn) yang dipercaya berfungsi sebagai zat antiseptik untuk menekan pertumbuhan dari Streptococcus
mutans sebagai bakteri yang diduga menjadi penyebab utama karies gigi (Astuti, dkk., 2007).
Berbeda dengan kebiasaan menggunakan daun sirih pada masyarakat Sumatra atau Jawa, masyarakat NTT menggunakan buah sirih yang digunakan untuk campuran menyirih. Daun sirih dianggap menimbulkan batuk, menimbulkan rasa gatal di tenggorokan sehingga tidak digunakan. Mereka juga tidak menambahkan gambir atau tembakau sebagai campuran. Cara menyirih yang dilakukan adalah pertama-tama mengupas buah pinang dengan cara menggigit buah pinang sampai terbuka kulitnya kemudian dikeluarkan daging buahnya. Daging buah pinang kemudian dikunyah. Kemudian dilanjutkan dengan mengunyah daun sirih (Rohmansyah,2015)
Menyirih memiliki efek terhadap gigi, gingiva, dan mukosa mulut. Kepercayaan tentang menyirih dapat menghindari penyakit mulut seperti mengobati gigi yang sakit dan nafas yang tidak sedap kemungkinan telah mendarah daging diantara para penggunanya (Avinaninasia, 2011). Efek menyirih terhadap gigi dari segi positifnya adalah menghambat proses pembentukan karies, sedangkan efek negatif dari menyirih terhadap gigi dan gingiva dapat menyebabkan timbulnya stein, selain itu dapat menyebabkan penyakit periodontal dan pada mukosa mulut dapat menyebabkan timbulnya lesi - lesi pada mukosa mulut, oral hygine yang buruk, dan dapat menyebabkan atropi pada mukosa lidah (Dondy, 2009).
disamping itu pengetahuan masyarakat NTT yang minim dan tidak diimbangi terhadap perawatan kesehatan gigi dan mulut menjadi penyebab kerusakan pada gigi
.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini merupakan studi literatur dengan metode systematic review. Peneliti menggunakan kata kunci Sirih, Nginang dan NTT pada pusat data jurnal seperti Portal Garuda (www. portalgaruda . org). Dari pencarian tersebut ditemukan 145 penelitian. jurnal yang digunakan dalam penelitian ini merupakan penelitian dengan metode studi klinis, laporan kasus, dan studi literatur rentang waktu 15 tahun yang berkaitan dengan aspek kesehatan gigi dan mulut di Nusa Tenggara Timur . Total jurnal yang digunakan berjumlah 5 jurnal.
HASIL
Setyawati dkk. (2016) melaporkan penelitian observasional dengan pendekatan
cross-sectional yang bertujuan untuk mengetahui adanya peningkatan rata-rata jumlah mikronukleus
mukosa bukal pada orang menyirih dibandingkan orang tidak menginang. Penelitian ini dilakukan pada 15 orang pada kelompok menyirih dan 15 orang untuk kelompok tidak menginang. Berdasarkan penelitian ini dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat peningkatan rata-rata jumlah mikronukleus mukosa bukal orang menyirih dibandingkan orang tidak menginang.
menyirih dan tanpa menyirih dan terdapat perbedaan bermakna pada volume saliva. Kemudian terdapat korelasi pada pH dan volume saliva terhadap indeks karies masyarakat menginang.
Tunggala (2016) 32 orang yang dibagi menjadi 2 kelompok yaitu 16 wanita dengan kebiasaan menyirih dan 16 wanita tanpa kebiasaan menyirih diteliti dengan tujuan untuk mengetahui apakah sensitivitas lidah terhadap rasa manis dan pahit pada orang menyirih lebih rendah daripada orang yang tidak menyirih di Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpukan bahwa sensitivitas lidah terhadap rasa manis dan pahit pada orang menyirih lebih rendah daripada orang yang tidak menyirih di Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin.
Fatlolona (2016) melaporkan penelitian mengenai status kesehatan periodontal mahasiswa etnis Papua di Manado yang memilki kebiasaan menyirih termasuk buruk sebanyak 32 orang (76,2%) dan sangat buruk sebanyak 10 orang (23,8%). Terdapat hubungan antara frekueni menyirih dalam sehari dengan status kesehatan periodontal. Penelitian ini menunjukkan masih perlunya ditingkatkan promosi kesehatan akan dampak negatif dari kebiasaan menyirih secara terus menerus untuk merubah perilaku masyarakat etnis Papua yang masih mempertahankan kebiasaan menyirih.
Wowor (2003) melaporkan penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional study pada 30 sampel yang diperiksa menunjukan faktor pendorong utama menyirih yakni karena keinginan sendiri, dimana tujuan menyirih terbanyak yakni agar gigi menjadi kuat dan sehat. Dari 30 subjek ada 29 orang (96,66%) memiliki lesi dalam rongga mulutnya. Lesi yang diduga sebagai
Oral Submucous Fibrosis yakni sebanyak 90% dan lesi yang diduga sebagai Betel Chewers
PEMBAHASAN
Terdapat 5 jurnal yang melaporkan mengenai dampak dari menyirih, yaitu munculnya lesi oral pada orang dengan kebiasaan menyirih (2 jurnal), penurunan nilai pH dan peningkatan volume saliva terhadap indeks karies (1 jurnal), sensitivitas lidah yang rendah terhadap rasa manis dan pahit (1 jurnal), dan status periodontal yang buruk (1 Jurnal).
Pada tahun 2016 dilakukan survey terhadap masyarakat NTT di SD Sanam, Usapinonot, Kec. Insana Barat, Kab. Timor Tengah Utara Prov. Nusa Tenggara Timur. Peneliti menemukan fakta bahwa masyarakat masih melakukan praktik menyirih. Praktik ini tidak terbatas usia, karena ditemukan anak usia 7 tahun hingga orang dewasa usia 49 tahun yang mempraktikannya. Peneliti melakukan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut serta memberikan kuisioner mengenai tingkat pengetahuan, sikap, dan tindakan mengenai perawatan gigi dan mulut. Hasilnya menunjukkan rendahnya pengetahuan masyarakat mengenai dampak dari menyirih.
Kerusakan sel pada mukosa bukal yang ditemukan pada orang yang menyirih diduga karena efek dari tembakau dan biji pinang yang bersifat karsiogenik TSNAs. Hal ini selaras dengan penelitian yang dilakukan oleh Penelitian yang dilakukan The International Agency for
Research on Cancer (IARC) 2004, menyatakan terdapat bukti yang cukup bahwa campuran sirih
dengan tembakau bersifat karsinogenik yang dapat menyebabkan kanker mulut dan kanker faring Karies juga menjadi salah satu dampak yang muncul karena kebiasaan menyirih. Nilai pH dan volume saliva berkorelasi pada terjadinya karies pada masyarakat menyirih. Menurut Shetty
et al. (2013), pH saliva merupakan bagian yang penting dalam meningkatkan integritas gigi
akan menutup mikropori yang diakibatkan oleh proses demineralisasi, sehingga akan terjadi proses remineralisasi yang akan menurunkan kemungkinan terjadinya karies.
Penelitian oleh Tunggala menemukan bahwa ada penurunan sensitivitas lidah pada masyarakat yang menyirih terhadap rasa manis dan pahit yang dipengaruhi oleh kandungan biji sirih dan tembakau. Hal ini disepakati oleh Fandra tahun 2014 yang menemukan Merokok yang juga didalamnya mengandung tembakau dapat menyebabkan terjadinya perubahan rasa ataupun hilangnya rasa pada lidah. Iritan, toksin atau bahan kimia seperti nikotin akan menyebabkan perubahan pada taste buds atau saraf penciuman.
Buruknya status periodontal pada orang yang menyirih juga ditemukan oleh penelitian Wowor (2003) . Hal ini didukung oleh pernyataan Putri tahun 2010 bahwa kebiasann mengunyah sirih mempunyai beberapa efek buruh yang sangat merugikan oleh karena kapur di dalam ramuan sirih yang menyebabkan suasana basa di dalam mulut, sehingga dapat terjadinya penumpukan kalkulus. Silikat yang terdapat di dalam daun tembakai dan pengunyahan dalam waktu lama berangsur-angsur akan mengikis elemen gigi sampai gingiva.
Masih banyak masyarakat NTT yang menyirih diduga akibat tingkat pengetahuan yang rendah terhadap cara menjaga kesehatan gigi dan mulut. Hal ini dibuktikan dari hasil kuesioner yang telah diberikan. Ketika diberikan pertanyaan penyebab gigi berlubang jawaban tertinggi yaitu makanan yang panas. begitu juga mengenai teknik cara dan waktu menyikat gigi yang diketahui oleh masyarakat NTT yang menunjukan rendahnya tingkat pengetahuan mengenai kesehatan gigi dan mulut maupun dampak menyirih.
Penelitian mengenai aspek kesehatan gigi dari budaya menyirih masyarakat nusa tenggara timur (NTT) banyak menyoroti dampak yang terjadi dari aktivitas tersebut.munculnya lesi pada mukosa oral, kadar pH dan volume saliva yang berkorelasi terhadap indeks karies orang menyirih, sensitivitas lidah terhadap rasa manis dan pahit , dan status periodontal yang buruk. sehingga edukasi bagi masyarakat NTT yang berkaitan dengan kebiasaannya menyirih serta kesehatan gigi secara umum sangat penting untuk diberikan.
DAFTAR PUSTAKA
UU Kesehatan No.36 tahun 2009.
Bangash RY, Khan A, Tariq KM, Rasheed D. Evaluation of Toothbrushing Technique and Oral Hygiene Knowledge. Pakistan Oral & Dental Journal. 2012;32(1):124-127
Rooney F. Betel Chewing in South-East Asia.In: centre National de la Recherche Scientifique (CNRS) 2005; 50: 70-71
Susiarti S. Jenis-jenis pengganti pinang dan gambir dalam aya menginang masyarakat di kawasan taman nasional Wasur, Merauke, Papua. Biodiversitas 2005;6(3):217-219
Hardiani DA, Fransiskus WP, Irma YA, Budi OR dan Loes S. Efek aplikasi topikal
laktoferin dan piper betle linn pada mukosa mulut terhadap perkembangan karies. Majalah Ilmiah Kedokteran gigi. Universitas Triskti 2007; 22: 1-4
Rohmansyah W.N. Tradisi Menyirih Pada Masyarakat Sumba Barat. Inside: 2015; 14-18
Aviananinasia,2011. Sirih pinang budaya yang mengancam kesehatan, (online), available:http://avianinasia.wordpress.com
Hilda Ayu Setyawati, Nurdiana Dewi, Ika Kustiyah Oktaviyanti. Analisis Sitogenik Mikronukleus Mukosa Bukal Pada Orang Menginang dan Tidak Menginang. Dentino.2016
Sunjaya Tunggala, Nurdiana Dewi, Asnawati. Perbandingan Sensitivitas Lidah Terhadap Rasa Manis Dan Pahit Pada Orang Menginang Dan Tidak Menginang Di Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin. Dentino. 2016
Fatlolona WO, Pandelaki K, Mintjelungan CN. Hubungan status kesehatan periodontal dengan kebiasaan menyirih pada mahasiswa etnis Papua di Manado. e-GiGi. 2013;1(2):1-4.
Vonny N.S. Wowor, Aurelia Supit, Dame R. Marbun. Gambaran Kebiasaan Manyirih dan Lesi Mukosa Mulut pada Mahasiswa Papua di Menado.
Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi 2003
International Agency for Research on Cancer. Betel-Quid and areca-nut chewing and some
areca-nut-derived nitrosamines. IARC Monographs on The Evaluation of Carcinogenic Risks to Human 2004;85: 45- 46,50,70,78
Shetty, Hegde, Devadiga D. Correlation Between Dental Caries with Salivary Flow, pH, and Buffering Capacity in Adult South Indian Population: An In-Vivo Study. Int. J. Res. Ayurveda Pharm. 2013. 4(2)
.
Putri MH, Herijulianti E, Nurjannah N. Ilmu pencegahan penyakit jaringan keras dan jaringan pendukung gigi. Jakarta:EGC.2010.