• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teori Perilaku Teori Kognitif Teori Sosi

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Teori Perilaku Teori Kognitif Teori Sosi"

Copied!
52
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II PEMBAHASAN

2.1. Pengertian Teori Belajar Perilaku

Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respons (Slavin, 2000). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Teori belajar perilaku menjelaskan belajar adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik. Stimulans tidak lain adalah lingkungan belajar anak, baik yang internal maupun eksternal yang menjadi penyebab belajar. Sedangkan respons adalah akibat atau dampak, berupa reaksi fisik terhadap stimulans. Belajar berarti penguatan ikatan, asosiasi, sifat dan kecenderungan perilaku S-R (Stimulus-Respon). Karena faktor lain yang dianggap penting oleh aliran behavioristik adalah faktor penguatan (reinforcement). Bila penguatan ditambahkan (positive reinforcement) maka respon akan semakin kuat. Begitu pula bila respon dikurangi/dihilangkan (negative reinforcement) maka responpun akan semakin kuat. Untuk mempermudah mengenal teori belajar perilaku dapat dipergunakan ciri-ciri, yakni.

1. Mementingkan pengaruh lingkungan (environmentalistis)

2. Mementingkan bagian-bagian (elentaristis)

3. Mementingkan peranan reaksi (respon)

4. Mementingkan mekanisme terbentuknya hasil belajar

5. Mementingkan hubungan sebab akibat pada waktu yang lalu

6. Mementingkan pembentukan kebiasaan.

(2)

2.2. Tokoh-tokoh Teori Belajar Perilaku

2.2.1. Ivan Petrovich Pavlov tentang Classical Conditioning

Ivan Petrovich Pavlov (1849-1936) adalah seorang ahli fisiologi Rusia yang mengajarkan farmakologi pada universitas Leningrad. Buku-bukunya yang terkenal diantaranya Experimental Psychology and Psychopathology in Animal yang dikenal dengan nama pengkondisian Klasikal (Classical Conditioning).

Ivan Petrovich Pavlov mengemukakan bahwa Classic conditioning (pengkondisian atau persyaratan klasik) ini terjadi melalui proses memasangkan stimulus yang netral atau stimulus yang terkondisi dengan stimulus tertentu yang tidak terkondisikan, yang melahirkan perilaku tertentu.

Setelah pemasangan ini terjadi berulang-ulang, stimulus yang netral melahirkan respons terkondisikan. Proses yang ditemukan Pavlov melalui percobaannya terhadap anjing, dimana perangsang asli dan netral dipasangkan dengan stimulus bersyarat secara berulang-ulang sehingga memunculkan reaksi yang diinginkan. Eksperimen-eksperimen yang dilakukan Pavlov dan ahli lain tampaknya sangat terpengaruh pandangan behaviorisme, dimana gejala-gejala kejiwaan seseorang dilihat dari perilakunya. Hal ini sesuai dengan pendapat Bakker bahwa yang paling sentral dalam hidup manusia bukan hanya pikiran, peranan maupun bicara, melainkan tingkah lakunya.

Bertitik tolak dari asumsinya bahwa dengan menggunakan rangsangan-rangsangan tertentu, perilaku manusia dapat berubah sesuai dengan apa yang diinginkan. Kemudian Pavlov mengadakan eksperimen dengan menggunakan binatang (anjing) karena ia menganggap binatang memiliki kesamaan dengan manusia. Namun demikian, secara hakiki manusia berbeda dengan binatang. Ia mengadakan percobaan pada seekor anjing. Apabila diperlihatkan sesuatu makanan, maka akan keluarlah air liur anjing tersebut. Kini sebelum makanan diperlihatkan, maka yang diperlihatkan adalah sinar (lampu) terlebih dahulu, baru makanan. Terjadi dengan sendirinya air

(3)

liurpun akan keluar pula. Apabila perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, maka pada suatu ketika dengan hanya memperlihatkan lampu saja tanpa makanan maka air liurpun akan keluar pula. Berikut merupakan gambar dari eksperimen yang dilakukan oleh Pavlov:

Proses yang terjadi dalam eksperimen tersebut dianalogikan melalui hubungan istilah-istilah berikut ini.

Jadi dapat disimpulkan jika perbuatan yang demikian dilakukan berulang-ulang, rangsangan buatan ini akan menimbulkan syarat (kondisi) untuk timbulnya air liur pada anjing tersebut. Peristiwa ini disebut Reflek Bersyarat atau Conditioned Respons. Pavlov juga

(lampu)

Tak ada respon

tetapi

(air liur)

selama terkondisi

(daging)

diikuti oleh

(daging) (air liur) (lampu)

sesudah terkondisi

(lampu) (air liur)

Gambar 2.2.1 (b) Eksperiment Pavlov

(4)

berpendapat, bahwa kelenjar-kelenjar yang lain pun dapat dilatih. Bectrev murid Pavlov menggunakan prinsip-prinsip tersebut dilakukan pada manusia, yang ternyata diketemukan banyak reflek bersyarat yang timbul tidak disadari manusia.

Apakah situasi ini bisa diterapkan pada manusia? Ternyata dalam kehidupan sehari-hari ada situasi yang sama seperti pada anjing. Sebagai contoh, suara lagu dari penjual es krim Walls yang berkeliling dari rumah ke rumah. Awalnya mungkin suara itu asing, tetapi setelah si pejual es krim sering lewat, maka nada lagu tersebut bisa menerbitkan air liur apalagi pada siang hari yang panas. Bayangkan, bila tidak ada lagu tersebut betapa lelahnya si penjual berteriak-teriak menjajakan dagangannya. Tanpa disadari, terjadi proses menandai sesuatu, yaitu membedakan bunyi-bunyian dari pedagang makanan (rujak, es, nasi goreng, siomay) yang sering lewat di rumah.

Berdasarkan contoh tersebut dapat diketahui bahwa dengan menerapkan strategi Pavlov ternyata individu dapat dikendalikan melalui cara mengganti stimulus alami dengan stimulus yang tepat untuk mendapatkan pengulangan respon yang diinginkan, sementara individu tidak menyadari bahwa ia dikendalikan oleh stimulus yang berasal dari luar dirinya. Belajar menurut teori ini adalah suatu proses perubahan yang terjadi karena adanya syarat-syarat yang menimbulkan reaksi. Hal yang terpenting dalam belajar menurut teori ini adalah adanya latihan dan pengulangan.

Beberapa hukum yang berkaitan dengan teori Classical Conditioning adalah sebagai berikut:

1. Pemerolehan

Pemberian stimulus yang tidak terkondisi (ST) bersama-sama dengan stimulus terkondisi (SD) disebut percobaan (trial) dan periode selama organisme belajar mengasosiasikan kedua stimulus disebut “pemerolehan pengkondisian”.

2. Pemunahan (Extunction)

Pemunahan (Extunction) merupakan pengulangan stimulus terkondisi (SD) tanpa penguatan (ST) yakni proses hilangnaya respons yang diharapkan akibat stimulus tidak terkondisi (ST) berulang-ulang tidak dilakukan.

3. Generalisasi

(5)

menggambarkan makin serupa stimulus baru tersebut dengan stimulus aslinya, makin tinggi pula kemungkinan terjadinya RD tersebut. Maksudnya bisa saja respons terkondisi (RD) yang diperoleh dari stimulus tertentu dapat muncul akibat stimulus lain yang serupa.

4. Diskriminasi

Diskriminasi merupakan reaksi terhadap stimulus yang berbeda, berbeda dengan generalisasi. Diskriminasi stimuli merupakan suatu proses belajar untuk memberikan respons terhadap suatu stimulus tertentu atau tidak memberikan respons sama sekali terhadap stimulus lain.

2.2.2 E.L. Thorndike tentang Law of Effect

Menurut Thorndike, belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R). Stimulus adalah suatu perubahan dari lingkungan eksternal yang menjadi tanda untuk mengaktifkan organisme untuk beraksi atau berbuat sedangkan respon adalah sembarang tingkah laku yang dimunculkan karena adanya perangsang.

Diketahui bahwa agar tercapainya hubungan antara stimulus dan respons, perlu adanya kemampuan untuk memilih respons yang tepat serta melalui usaha-usaha atau percobaan-percobaan (trials) dan kegagalan-kegagalan (error) terlebih dahulu. Oleh karena itu, teori belajar yang dikemukakan oleh Thorndike ini sering disebut dengan teori belajar koneksionisme atau teori asosiasi (Slavin, 2000).

Selain itu, percobaan Thorndike yang terkenal dengan binatang coba kucing yang telah dipaparkan dan diletakkan di dalam sangkar yang tertutup dan pintunya dapat dibuka secara otomatis apabila kenop yang terletak di dalam sangkar tersebut tersentuh. Percobaan tersebut menghasilkan teori “trial and error” atau “selecting and conecting”, yaitu bahwa belajar itu terjadi dengan cara mencoba-coba dan membuat salah. Dalam melaksanakan coba-coba ini, kucing tersebut cenderung untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang tidak mempunyai hasil. Setiap response menimbulkan stimulus yang baru, selanjutnya stimulus baru ini akan menimbulkan response lagi, demikian selanjutnya, sehingga dapat digambarkan sebagai berikut:

S R S1 R1 dst

Dalam percobaan tersebut apabila di luar sangkar diletakkan makanan, maka kucing berusaha untuk mencapainya dengan cara meloncat-loncat kian kemari. Dengan tidak tersengaja

(6)

kucing telah menyentuh kenop, maka terbukalah pintu sangkar tersebut, dan kucing segera lari ke tempat makan. Percobaan ini diulangi untuk beberapa kali, dan setelah kurang lebih 10 sampai dengan 12 kali, kucing baru dapat dengan sengaja menyentuh kenop. Berikut merupakan gambar percobaan teori Thorndike.

Berdasarkan percobaan ini Thorndike menemukan hukum-hukum belajar sebagai berikut:

1. Hukum Kesiapan (law of readiness), yaitu semakin siap suatu organisme memperoleh suatu perubahan tingkah laku, maka pelaksanaan tingkah laku tersebut akan menimbulkan kepuasan individu sehingga asosiasi cenderung diperkuat.

2. Hukum Latihan (law of exercise), yaitu semakin sering tingkah laku diulang atau dilatih (digunakan), maka asosiasi tersebut akan semakin kuat. Prinsip law of exercise adalah koneksi antara kondisi (yang merupakan perangsang) dengan tindakan akan menjadi lebih kuat karena latihan-latihan, tetapi akan melemah bila koneksi antara keduanya tidak dilanjutkan atau dihentikan. Prinsip menunjukkan bahwa prinsip utama dalam belajar adalah pengulangan. Makin sering diulangi, materi pelajaran akan semakin dikuasai.

3. Hukum akibat (law of effect), yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi. Koneksi antara kesan panca indera dengan kecenderungan bertindak dapat menguat atau melemah, tergantung pada

(7)

“buah” hasil perbuatan yang pernah dilakukan. Thorndike berkeyakinan bahwa prinsip proses belajar binatang pada dasarnya sama dengan yang berlaku pada manusia, walaupun hubungan antara situasi dan perbuatan pada binatang tanpa diperantarai pengartian. Binatang melakukan respons-respons langsung dari apa yang diamati dan terjadi secara mekanis.

2.2.3 Teori Belajar Menurut Watson

Watson mendefinisikan belajar sebagai proses interaksi antara stimulus dan respons, namun stimulus dan respons yang dimaksud harus dapat diamati (observable) dan dapat diukur. Jadi, walaupun dia mengakui adanya perubahan-perubahan mental dalam diri seseorang selama proses belajar, namun dia menganggap faktor tersebut sebagai hal yang tidak perlu diperhitungkan karena tidak dapat diamati. Watson adalah seorang behavioris murni, karena kajiannya tentang belajar disejajarkan dengan ilmu-ilmu lain seperi fisika atau biologi yang sangat berorientasi pada pengalaman empirik semata, yaitu sejauh dapat diamati dan diukur.

Watson berasumsi bahwa hanya dengan cara demikianlah akan dapat diramalkan perubahan-perubahan apa yang bakal terjadi setelah seseorang melakukan tindak belajar.

2.2.4 Teori Belajar Menurut Edwin Guthrie

Gredler Bell (dalam Putrayasa, 2012:47) menyatakan asas belajar Guthrie yang utama adalah hukum kontiguiti, yaitu gabungan stimulus-stimulus yang disertai suatu gerakan, pada waktu timbul kembali cenderung akan diikuti oleh gerakan yang sama. Guthrie juga menggunakan variabel hubungan stimulus dan respons untuk menjelaskan terjadinya proses belajar. Belajar terjadi karena gerakan terakhir yang dilakukan mengubah situasi stimulus sedangkan tidak ada respons lain yang dapat terjadi. Penguatan sekadar hanya melindungi hasil belajar yang baru agar tidak hilang Gambar 2.2.3 (a)

Watson

(8)

dengan jalan mencegah perolehan respons yang baru. Hubungan antara stimulus dan respons bersifat sementara, oleh karena dalam kegiatan belajar peserta didik perlu sesering mungkin diberi stimulus agar hubungan stimulus dan respons bersifat lebih kuat dan menetap. Guthrie juga percaya bahwa hukuman (punishment) memegang peranan penting dalam proses belajar. Hukuman yang diberikan pada saat yang tepat akan mampu mengubah tingkah laku seseorang.

Saran utama dari teori ini adalah guru harus dapat mengasosiasi stimulus - respons secara tepat. Pemelajar harus dibimbing melakukan apa yang harus dipelajari. Gredler Bell (dalam Putrayasa, 2012:47) menyatakan dalam mengelola kelas guru tidak boleh memberikan tugas yang mungkin diabaikan oleh anak.

2.2.5 Teori Belajar Menurut Clark Hull

Clark Hull juga menggunakan variabel hubungan antara stimulus dan respons untuk menjelaskan pengertian belajar. Namun, dia sangat terpengaruh oleh teori evolusi Charles Darwin. Bagi Hull, seperti halnya teori evolusi, semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Oleh sebab itu, Hull mengatakan kebutuhan biologis (drive) dan pemuasan kebutuhan biologis (drive reduction) adalah penting dan menempati posisi sentral dalam seluruh kegiatan manusia, sehingga stimulus (stimulus dorongan) dalam belajarpun hampir selalu dikaitkan dengan kebutuhan biologis, walaupun respons yang akan muncul mungkin dapat berwujud macam-macam. Gredler Bell (dalam Putrayasa, 2012:47) menyatakan penguatan tingkah laku juga masuk dalam teori ini, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi biologis.

2.2.6 B.F.Skinner tentang Operant Conditioning

B.F. Skinner berkebangsaan Amerika dikenal sebagai tokoh behavioris dengan pendekatan model instruksi langsung dan meyakini bahwa perilaku dikontrol melalui proses operant conditioning. Seorang dapat mengontrol tingkah laku organisme melalui pemberian reinforcement yang bijaksana dalam lingkungan relatif besar.

Gambar 2.2.6 B.F. Skinner

(9)

Gaya mengajar guru dilakukan dengan beberapa pengantar dari guru secara searah dan dikontrol guru melalui pengulangan dan latihan. Menajemen Kelas menurut Skinner adalah berupa usaha untuk memodifikasi perilaku antara lain dengan proses penguatan yaitu memberi penghargaan pada perilaku yang diinginkan dan tidak memberi imbalan apa pun pada perilaku yanag tidak tepat. Operant Conditioning ini dikatakan suatu proses perilaku operant (penguatan positif atau negatif) yang dapat mengakibatkan perilaku tersebut dapat berulang kembali atau menghilang sesuai dengan keinginan. Hassard (dalam Subagia, 2011:14) menyatakan teori ini mempunyai pengaruh yang paling besar terhadap guru-guru sains. Skinner membuat eksperimen sebagai berikut:

Dalam laboratorium Skinner memasukkan tikus yang lapar ke dalam kotak yang disebut “skinner box”, dilengkapi dengan berbagai peralatan yaitu tombol, alat pemberi makanan, penampung makanan, lampu yang dapat diatur nyalanya, dan lantai yang dapat dialiri listrik. Karena dorongan lapar tikus berusaha keluar untuk mencari makanan. Selama tikus bergerak kesana kemari untuk keluar dari box, tidak sengaja ia menekan tombol, makanan keluar. Secara terjadwal diberikan makanan secara bertahap sesuai peningkatan perilaku yang ditunjukkan si tikus, proses ini disebut shapping. Dari eksperimen yang dilakukan B.F. Skinner terhadap tikus dan selanjutnya terhadap burung merpati menghasilkan hukum-hukum belajar, diantaranya:

a. Law of operant conditining, yaitu jika timbulnya perilaku diiringi dengan stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan meningkat.

b. Law of operant extinction, yaitu jika timbulnya perilaku operant telah diperkuat melalui proses conditioning itu tidak diiringi stimulus penguat, maka kekuatan perilaku tersebut akan menurun bahkan musnah.

Beberapa prinsip Skinner antara lain:

1. Hasil belajar harus segera diberitahukan kepada siswa, jika salah dibetulkan, jika benar diberi penguat.

2. Proses belajar harus mengikuti irama dari yang belajar. 3. Materi pelajaran, digunakan sistem modul.

(10)

5. Dalam proses pembelajaran, lebih dipentingkan aktifitas sendiri.

6. Tingkah laku yang diinginkan pendidik, diberi hadiah, dan sebaiknya hadiah diberikan dengan digunakannya jadwal variabel Rasio reinforcer.

7. Dalam pembelajaran digunakan shaping.

2.3. Prinsip-prinsip yang Melandasi Teori Belajar Perilaku 1. Konsekuensi-konsekuensi

Prinsip yang paling penting dari teori-teori belajar perilaku ialah bahwa perilaku berubah menurut konsekuensi-konsekuensi langsung. Konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan memperkuat perilaku sedangkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenangkan melemahkan perilaku. Konsekuensi-konsekuensi yang menyenangkan pada umumnya disebut reinforser, sedangkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak menyenangkan disebut hukuman (punishers).

a. Reinforser-reinforser

Reinforser dapat dibagi menjadi dua golongan: primer dan sekunder. Reinforser primer memuaskan kebutuhan-kebutuhan dasar manusia, misalnya: makanan, air, keamanan. Reinforser sekunder merupakan reinforser yang memperoleh nilainya setelah diasosiasikan dengan reinforser primer atau reinforser sekunder lainnya yang suah mantap. Ada 3 kategori dasar reinforser sekunder, yaitu reinforser sosial (pujian, senyuman, dan perhatian), reinforser aktivitas (pemberian mainan, atau kegiatan yang menyenangkan), dan reinforser simbolik (uang, angka, bintang).

b. Hukuman

Konsekuensi-konsekuensi yang tidak memperkuat perilaku disebut hukuman. Patut diperhatikan perbedaan antara reinforsemen negative (memperkuat perilaku yang diinginkan dengan menghilangkan konsekuensi yang tidak menyenangkan) dan hukuman, yang bertujuan mengurangi perilaku dengan menghadapkan konsekuensi-konsekuensi yang tidak diinginkan.

(11)

Prinsip kesegeraan konsekuensi-konsekuensi ini penting artinya dalam kelas. Khususnya bagi murid-murid sekolah dasar, pujian yang diberikan segera setelah anak itu melakukan suatu pekerjaan dengan baik, dapat merupakan suatu reinforser yang lebih kuat daripada angka yang diberikan kemudian.

3. Pembentukan (shaping)

Selain kesegeraan dari reinforsemen, apa yang akan diberi reinforsemen, juga perlu diperhatikan dalam mengajar. Bila guru membimbing siswa menuju pencapaian tujuan dengan memberikan reinforsemen pada langkah-langkah yang menuju pada keberhasilan, maka guru itu menggunakan teknik yang disebut pembentukan (Gage; Berliner, 1984).

2.4. Kelebihan dan Kelemahan dari Teori-teori Perilaku a. Kelebihan dari teori belajar perilaku

 Bahan – bahan yang digunakan untuk media pembelajaran disusun secara mekanis, mulai dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks.

 Pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati dan jika terjadi kesalahan harus segera diperbaiki.

 Pengulangan dan latihan secara terus – menerus digunakan supaya perilaku yang diinginkan dapat menjadi kebiasaan.

 Metode ini sangat tepat untuk mendapatkan kemampuan yang membutuhkan praktek dan kebiasaan yang mengandung unsur – unsur misalnya pada refleks dan kecepatan. Dapat juga diterapkan untuk melatih anak – anak yang masih membutuhkan dominasi peran orang tua, karena mereka masih suka meniru, suka mengulangi kejadian yang dilihat atau dialami, dan sangat suka diberikan penghargaan secara langsung berupa pujian ataupun hadiah.

b. Kekurangan dari teori belajar perilaku

 Metode pembelajaran siswa yang berpusat pada guru (teacher centered learning), bersifat mekanistik, dan hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur.

 Mengakibatkan terjadinya proses pembelajaran yang sangat tidak menyenangkan bagi

(12)

 Suasana pembelajaran menjadi sangat membosankan, bersikap otoriter, komunikasi yang

terjadi hanya pada satu arah, guru yang mengatur segala aktivitas yang dilakukan siswa.  Murid dipandang pasif, hanya mendengar dan mengahafal apa yang dijelaskan oleh guru,

perlu motivasi dari luar, dan sangat dipengaruhi oleh penguatan yang diberikan guru.

2.5 Aplikasi dari Teori Belajar Perilaku

Aplikasi teori behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti : tujuan pembelajaran, sifat materi pelajaran, karakteristik peserta didik, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia. Peserta didik diharapkan akan memiliki pemahaman yang sama terhadap pengetahuan yang diajarkan. Artinya, apa yang dipahami oleh pengajar atau guru itulah yang harus dipahami oleh murid.

(13)

BAB III PENUTUP 3.1. Kesimpulan

1. Teori belajar perilaku menjelaskan belajar itu adalah perubahan perilaku yang dapat diamati, diukur dan dinilai secara konkret. Perubahan terjadi melalui rangsangan (stimulans) yang menimbulkan hubungan perilaku reaktif (respon) berdasarkan hukum-hukum mekanistik.

2. Tokoh-tokoh yang berperan dalam teori belajar perilaku yaitu Ivan Petrovich Pavlov, E.L. Thorndike,Watson, Edwin Gutrie, Clark Hull, dan B.F.Skinner.

3. Prinsip-prinsip yang melandasi teori belajar perilaku yaitu konsekuensi-konsekuensi, kesegeraan (immediacy), dan pembentukan (shaping).

4. Kelebihan teori belajar perilaku yaitu pembelajaran berorientasi pada hasil yang dapat diukur dan diamati dan jika terjadi kesalahan harus segera diperbaiki. Sedangkan kelemahan teori belajar perilaku yaitu metode pembelajaran siswa yang berpusat pada guru (teacher centered learning), bersifat mekanistik, dan hanya berorientasi pada hasil yang dapat diamati dan diukur.

(14)

DAFTAR PUSTAKA

Putrayasa, Ida Bagus. 2012. Buku Ajar Landasan Bempelajaran.Singaraja: Universitas Pendidikan Ganesha

Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology: Theory and Practice. Massachusetts: Allyn and Bacon.

(15)

BAB II PEMBAHASAN 2.1 Pengertian Teori Belajar Kognitif

Istilah “Cognitive” berasal dari kata cognition artinya adalah pengertian, mengerti. Pengertian yang luasnya cognition (kognisi) adalah perolehan, penataan, dan penggunaan pengetahuan. Dalam pekembangan selanjutnya, kemudian istilah kognitif ini menjadi populer sebagai salah satu wilayah psikologi manusia / satu konsep umum yang mencakup semua bentuk pengenalan yang meliputi setiap perilaku mental yang berhubungan dengan masalah pemahaman, memperhatikan, memberikan, menyangka, pertimbangan, pengolahan informasi, pemecahan masalah, pertimbangan, membayangkan, memperkirakan, berpikir dan keyakinan. Termasuk kejiwaan yang berpusat di otak ini juga berhubungan dengan konasi (kehendak) dan afeksi (perasaan) yang bertalian dengan rasa. Menurut para ahli jiwa aliran kognitifis, tingkah laku seseorang itu senantiasa didasarkan pada kognisi, yaitu tindakan mengenal atau memikirkan situasi dimana tingkah laku itu terjadi.

Teori belajar kognitif lebih mementingkan proses belajar daripada hasil belajar itu sendiri. Belajar tidak sekedar melibatkan hubungan antara stimulus dan respon, lebih dari itu belajar melibatkan proses berpikir yang sangat kompleks. Belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan persepsi dan pemahaman tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang bisa diamati.

(16)

melintang. Jika kedua garis tersebut diperlihatkan secara terus menerus maka akan terlihat seakan-akan menjadi tegak. Inilah yang disebut garis semu. Sumbangannya ini diikuti oleh Kurt Koffka (1889-1941) yang menguraikan secara terperinci tentang hukum-hukum pengamatan, kemudian Wolfgang Kohler (1887-1951) yang meneliti tentang insight pada simpanse. Dalam percobaannya Kohler memberikan masalah pada Simpanse yaitu menaruh makanan di atas sangkarnya yang tidak dapat dijangkau tanpa kombinasi antara panjatan dan loncatan. Dari semua Simpanse yang ada dalam percobaanny hanya satu Simpanse yang bernama Sultan yang berhasil memecahkan masalah tersebut. Selanjutnya Kohler juga menempatkan kotak-kotak yang dapat disusun untuk meraih makanan yang ada di atas sangkarnya. Simpanse tersebut juga diberikan tongkat kecil untuk memudahkan meraih makanan. Kohler menemukan bahwa aspek penting dari belajar bukanlah penguatan yang diberikan, namun pengoordinasian pemikiran untuk menciptakan tatanan baru. Kohler selanjutnya menamai hal ini sebagai belajar dengan “insight” atau belajar dengan penemuan.

Berdasarkan psikologi Gestalt, sejumlah psikologi dan ahli merumuskan teori belajar kognitif di bawah paying teori belajar kognitif-Gestalt. Namun, ada juga teori belajar kognitif yang sedikit berbeda dari teori belajar kognitif-Gestalt yang dikemukakan oleh ahli-ahli lain.

2.2 Teori Belajar Kognitif Menurut Para Ahli

2.2.1 Teori Belajar Bruner

Bruner adalah tokoh yang mencetuskan konsep belajar penemuan (discovery), Beliau juga seseorang pengikut setia teori kognitif, khususnya dalam studi perkembangan fungsi kognitif, dan menandai perkembangan kognitif manusia sebagai berikut:

 Perkembangan intelektual ditandai dengan adanya kemajuan dalam menanggapi suatu rangsangan.

(17)

 Perkembangan intelektual meliputi perkembangan kemampuan berbicara pada

diri sendiri atau pada orang lain melalui kata-kata atau lambang tentang apa yang telah dilakukan dan apa yang akan dilakukan. Hal ini berhubungan dengan kepercayaan pada diri sendiri.

 Interaksi secara sistematis antara pembimbing, guru atau orang tua dengan anak diperlukan bagi perkembangan kognitifnya.

 Bahasa adalah kunci perkembangan kognitif, karena bahasa merupakan alat komunikasi antara manusia. Bahasa diperlukan untuk mengkomunikasikan suatu konsep kepada orang lain.

 Perkembangan kognitif ditandai dengan kecakapan untuk mengemukakan beberapa alternatif secara simultan, memilih tindakan yang tepat, dapat memberikan prioritas yang berurutan dalam berbagai situasi.

Teori free discovery learning bertitik tolak pada teori belajar kognitif, yang menyatakan belajar adalah perubahan persepsi dan pemahaman. Perubahan ini tidak selalu berbentuk perubahan tingkah laku yang dapat diamati. Asumsi dasar teori kognitif ini adalah setiap orang telah memiliki pengetahuan dan pengalaman dalam dirinya. Pengalaman dan pengetauan ini tertata dalam bentuk struktur kognitif. Maka dari itu Proses belajar akan berjalan dengan baik apabila materi pelajaran yang baru, beradaptasi atau berkesinambungan secara ‘klop’ dengan struktur kognetif yang sudah dimilki oleh peserta didik.

Menurut Bruner perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan dengan cara melihat lingkungan, yaitu tahap enaktif, ikonik dan simbolik.

 Tahap enaktif pada tahap ini anak didik melakukan aktivitas-aktivitas dalam usaha

(18)

sekitar, anak menggunakan pengetahuan motorik. Misalnya, melalui gigitan, sentuhan, pegangan, dan sebagainnya.

 Tahap ikonik pada tahap ini anak didik melihat dunia melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal, dalam memahami dunia sekitarnya. Anak belajar melalui bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi).

 Tahap simbolik pada tahap ini peserta didik anak didik mempunyai

gagasan-gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika serta komunikasi dilakukan dengan pertolongan sistem simbol. Semakin dewasa seseorang maka sistem simbol ini semakin dominan. Peserta didik telah mampu memahami gagasan-gagasan abstrak. Peserta didik membuat abstraksi berupa teoti-teori, penafsiran, analisis dan sebagainya terhadap realitas yang telah diamati dan dialami.

Adapun ciri khasnya dari teori belajar kognitif Bruner adalah yaitu:

 Tema pertama mengemukakan pentingnya arti struktur pengetahuan. Hal ini perlu karena dengan struktur pengetahuan kita menolong siswa untuk untuk melihat, bagaimana fakta-fakta yang kelihatannya tidak ada hubungan, dapat dihubungkan satu dengan yang lain.

 Tema kedua adalah tentang kesiapan untuk belajar. Menurut Bruner kesiapan terdiri atas penguasaan ketrampilan-ketrampilan yang lebih sederhana yang dapat mengizinkan seseorang untuk mencapai kerampilan-ketrampilan yang lebih tinggi.

 Tema ketiga adalah menekankan nilai intuisi dalam proses pendidikan. Dengan

intuisi, teknik-teknik intelektual untuk sampai pada formulasi-formulasi tentatif tanpa melalui langkah-langkah analitis untuk mengetahui apakah formulasi-formulasi itu merupaka kesimpulan yang sahih atau tidak.

(19)

2.2.2 Teori Belajar Kognitif Menurut Ausubel

Setiap pengetahuan yang dimiliki oleh pebelajar disimpan dalam memori. Namun, pengetahuan yang tersimpan kadang bertahan lama kadang tidak. Pengetahuan dapat disimpan dalam bentuk hafalan dan pengetahuan yang bermakna. Menurut Ausubel, penyimpanan pengetahuan bermakna dan pengetahuan menghafal adalah berbeda. Menurut David P. Ausubel, ada dua jenis belajar yaitu:

 Belajar Bermakna (Meaningful Learning)

Belajar dikatakan bermakna bila informasi yang akan dipelajari peserta didik disusun sesuai dengan struktur kognitif yang dimiliki peserta didik itu sehingga peserta didik itu dapat mengaitkan informasi barunya dengan struktur kognifitif yang dimilikinya.

 Belajar Menghafal (Rote Learning)

Bila struktur kognitif yang cocok dengan fenomena baru itu belum ada maka informasi baru tersebut harus dipelajari secara menghafal. Belajar menghafal ini perlu bila seseoarang memperoleh informasi baru dalam dunia pengetahuan yang sama sekali tidak berhubungan dengan apa yang ia ketahiu sebelumnya.

(20)

Cara belajar menghafal diatas akan sangat bermanfaat apabila soal-soal dalam tes dirancang berdasarkan kemampuan menghafal dan begitu juga sebaliknya.

Menurut teori belajar bermakna milik Ausubel terdapat empat tipe belajar yaitu sebagai berikut :

 Belajar dengan penemuan yang bermakna

Informasi yang dipelajari, ditentukan secara bebas oleh peserta didik. Peserta didik itu kemudian menghubungkan pengetahuan yang baru itu dengan struktur kognitif yang dimiliki. Misalnya peserta didik belajar tentang stoikiometri, peserta didik akan menggali kembali pengetahuannya yang berhubungan dengan materi tersebut seperti contohnya atom, nomor massa, dll.

 Belajar dengan penemuan tidak bermakna

Informasi yang dipelajari, ditentukan secara bebas oleh peserta didik, kemudian ia menghafalnya. Misalnya peserta didik belajar tentang sifat-sifat air tanpa memiliki pengetahuan tentang sifat air sebelumnya, hanya menggunakan panca indra untuk mengetahuinya dan lalu menghafalnya.

 Belajar menerima yang bermakna

Informasi yang telah tersusun secara logis disajikan kepada peserta didik dalam bentuk final/ akhir, peserta didik kemudian menghubungkan pengetahuan yang baru itu dengan struktur kognitif yang dimiliki.

 Belajar menerima yang tidak bermakna

Dari setiap tipe bahan yang disajikan kepada peserta didik dalam bentuk final. Peserta didik tersebut kemudian menghafalkannya. Bahan yang disajikan tadi tanpa memperhatikan pengetahuan yang dimiliki peserta didik.

(21)

dengan konsep, ide, teori, atau hukum yang telah dimiliki pebelajar dalam ingatannya. Sehingga hal tersebut akan sangat membantu dalam proses pembelajaran dan pelajaran yang dipelajari akan bermakna dan bertahan lama dalam ingatan peserta didik.

2.2.3 Teori Belajar Kognitif Menurut Piaget

Jean Piaget adalah psikolog pertama yang menggunakan filsafat konstruktivisme, sedangkan teori pengetahuannya dikenal dengan teori adaptasi kognitif. Jean Piaget terkenal dengan teori kognitifnya yang berpengaruh penting terhadap perkembangan konsep kecerdasan. Piaget menyatakan bahwa perkembangan kognitif bukan hanya hasil kematangan organisme, bukan pula pengaruh lingkungan semata, melainkan hasil interaksi diantara keduanya. Sama halnya dengan setiap organisme harus beradaptasi secara fisik dengan lingkungan untuk dapat bertahan hidup, demikian juga struktur pemikiran manusia. Manusia berhadapan dengan tantangan, pengalaman, gejala baru, dan persoalan yang harus ditanggapinya secaca kognitif (mental). Untuk itu, manusia harus mengembangkan skema pikiran lebih umum atau rinci, atau perlu perubahan, menjawab dan menginterpretasikan pengalaman-pengalaman tersebut.

Dengan cara itu, pengetahuan seseorang terbentuk dan selalu berkembang. Proses tersebut meliputi:

a. Skema/skemata adalah struktur kognitif yang dengannya seseorang beradaptasi dan terus mengalami perkembangan mental dalam interaksinya dengan lingkungan. Skema juga berfungsi sebagai kategori-kategori utnuk mengidentifikasikan rangsangan yang datang, dan terus berkembang.

b. Asimilasi adalah proses kognitif perubahan skema yang tetap mempertahankan konsep awalnya, hanya menambah atau merinci.

c. Akomodasi adalah proses pembentukan skema atau karena konsep awal sudah tidak cocok lagi.

d. Equilibrasi adalah keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi sehingga seseorang dapat menyatukan pengalaman luar dengan struktur dalamya (skemata). Proses perkembangan intelek seseorang berjalan dari disequilibrium menuju equilibrium melalui asimilasi dan akomodasi.

(22)

memasuki setiap tahap bervariasi pada setiap anak. Keempat tahap dimaksud adalah sebagai berikut:

a. Tahap Sensorimotorik (umur 0-2 tahun)

Ciri pokok: anak mengalami dunianya melalui gerak dan inderanya serta mempelajari permanensi obyek.

Tahap paling awal perkembangan kognitif terjadi pada waktu bayi lahir sampai sekitar berumur 2 tahun. Tahap ini disebut tahap sensorimotor oleh Piaget. Pada tahap sensorimotor, intelegensi anak lebih didasarkan pada tindakan inderawi anak terhadap lingkungannya, seperti melihat, meraba, menjamak, mendengar, membau dan lain-lain.

Menurut Piaget, mekanisme perkembangan sensorimotor ini menggunakan proses asimilasi dan akomodasi. Tahap-tahap perkembangan kognitif anak dikembangkan dengan perlahan-lahan melalui proses asimilasi dan akomodasi terhadap skema-skema anak karena adanya masukan, rangsangan, atau kontak

dengan pengalaman dan situasi yang baru.

Piaget membagi tahap sensorimotor dalam enam periode, yaitu:  Periode 1: Refleks (umur 0 – 1 bulan)

Periode paling awal tahap sensorimotor adalah periode refleks. Ini berkembang sejak bayi lahir sampai sekitar berumur 1 bulan. Pada periode ini, tingkah laku bayi kebanyak bersifat refleks, spontan, tidak disengaja, dan tidak terbedakan. Tindakan seorang bayi didasarkan pada adanya rangsangan dari luar yang ditanggapi secara refleks.

Periode 2 : Kebiasaan (umur 1 – 4 bulan)

(23)

yang dipegangnya. Pada periode ini pula, koordinasi tindakan bayi mulai berkembang dengan penggunaan mata dan telinga. Bayi mulai mengikuti benda yang bergerak dengan matanya. Ia juga mulai menggerakkan kepala kesumber suara yang ia dengar. Suara dan penglihatan bekerja bersama. Ini merupakan suatu tahap penting untuk menumbuhkan konsep benda.

Periode 3 : Reproduksi kejadian yang menarik (umur 4 – 8 bulan)

Pada periode ini, seorang bayi mulai menjamah dan memanipulasi objek apapun yang ada di sekitarnya (Piaget dan Inhelder 1969). Tingkah laku bayi semakin berorientasi pada objek dan kejadian di luar tubuhnya sendiri. Ia menunjukkan koordinasi antara penglihatan dan rasa jamah. Pada periode ini, seorang bayi juga menciptakan kembali kejadiankejadian yang menarik baginya. Ia mencoba menghadirkan dan mengulang kembali peristiwa yang menyenangkan diri (reaksi sirkuler sekunder). Piaget mengamati bahwa bila seorang anak dihadapkan pada sebuah benda yang dikenal, seringkali hanya menunjukkan reaksi singkat dan tidak mau memperhatikan agak lama. Oleh Piaget, ini diartikan sebagai suatu “pengiaan” akan arti benda itu seakan ia mengetahuinya.

Periode 4 : Koordinasi Skemata (umur 8 – 12 bulan)

Pada periode ini, seorang bayi mulai membedakan antara sarana dan hasil tindakannya. Ia sudah mulai menggunakan sarana untuk mencapai suatu hasil. Sarana-sarana yang digunakan untuk mencapai tujuan atau hasil diperoleh dari koordinasi skema-skema yang telah ia ketahui. Bayi mulai mempunyai kemampuan untuk menyatukan tingkah laku yang sebelumnya telah diperoleh untuk mencapai tujuan tertentu. Pada periode ini, seorang bayi mulai membentuk konsep tentang tetapnya (permanensi) suatu benda. Dari kenyataan bahwa dari seorang bayi dapat mencari benda yang tersembunyi, tampak bahwa ini mulai mempunyaikonsep tentang ruang.

Periode 5 : Eksperimen (umur 12 – 18 bulan)

(24)

yang baru guna memecahkan persoalan tersebut atau dengan kata lain ia mencoba mengembangkan skema yang baru. Pada periode ini, anak lebih mengamati benda-benda disekitarnya dan mengamati bagaimana benda-benda di sekitarnya bertingkah laku dalam situasi yang baru. Menurut Piaget, tingkah anak ini menjadi intelegensi sewaktu ia menemukan kemampuan untuk memecahkan persoalan yang baru. Pada periode ini pula, konsep anak akan benda mulai maju dan lengkap. Tentang keruangan anak mulai mempertimbangkan organisasi perpindahan benda-benda secara menyeluruh bila benda-benda itu dapat dilihat secara serentak.

Periode Refresentasi (umur 18 – 24 bulan)

Periode ini adalah periode terakhir pada tahap intelegensi sensorimotor. Seorang anak sudah mulai dapat menemukan cara-cara baru yang tidak hanya berdasarkan rabaan fisis dan eksternal, tetap juga dengan koordinasi internal dalam gambarannya. Pada periode ini, anak berpindah dari periode intelegensi sensori motor ke intelegensi refresentatif. Secara mental, seorang anak mulai dapat menggambarkan suatu benda dan kejadian, dan dapat menyelesaikan suatu persoalan dengan gambaran tersebut. Konsep benda pada tahap ini sudah maju, refresentasi ini membiarkan anak untuk mencari dan menemukan objek-objek yang tersembunyi. Sedangkan konsep keruangan, anak mulai sadar akan gerakan suatu benda sehingga dapat mencarinya secara masuk akal bila benda itu tidak kelihatan lagi. Karakteristik anak yang berada pada tahap ini adalah sebagai berikut:

 Berfikir melalui perbuatan (gerak)

 Perkembangan fisik yang dapat diamati adalah gerak-gerak reflex sampai ia dapat berjalan dan bicara.

 Belajar mengkoordinasi akal dan geraknya.

 Cenderung intuitif egosentris, tidak rasional dan tidak logis.

b. Tahap Pra Operasinal (umur 2-7 tahun)

Ciri pokok: penggunaan symbol/bahasa tanda dan konsep intuitif

(25)

menerima pendapat orang lain. Anak percaya bahwa apa yang mereka pikirkan dan alami juga menjadi pikiran dan pengalaman orang lain. Mereka percaya bahwa benda yang tidak bernyawa mempunyai sifat bernyawa. Tahap pra operasional ini dapat dibedakan atas dua bagian. Pertama, tahap pra konseptual (2-4 tahun), dimana representasi suatu objek dinyatakan dengan bahasa, gambar dan permainan khayalan. Kedua, tahap intuitif (4-7 tahun). Pada tahap ini representasi suatu objek didasarkan pada persepsi pengalaman sendiri, tidak kepada penalaran. Karakteristik anak pada tahap ini adalah sebagai berikut:

 Anak dapat mengaitkan pengalaman yang ada di lingkungan bermainnya dengan pengalaman pribadinya, dan karenanya ia menjadi egois. Anak tidak rela bila barang miliknya dipegang oleh orang lain.

 Anak belum memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah yang membutuhkan pemikiran “yang dapat dibalik (reversible).” Pikiran mereka masih bersifat irreversible.

 Anak belum mampu melihat dua aspek dari satu objek atau situasi sekaligus, dan belum mampu bernalar (reasoning) secara individu dan deduktif.

 Anak bernalar secara transduktif (dari khusus ke khusus). Anak juga belum mampu membedakan antara fakta dan fantasi. Kadang-kadang anak seperti berbohong. Ini terjadi karena anak belum mampu memisahkan kejadian sebenarnya dengan imajinasi mereka.

 Anak belum memiliki konsep kekekalan (kuantitas, materi, luas, berat

dan isi).

 Menjelang akhir tahap ini, anak mampu memberi alasan mengenai apa yang mereka percayai. Anak dapat mengklasifikasikan objek ke dalam kelompok yang hanya mempunyai satu sifat tertentu dan telah mulai mengerti konsep yang konkrit.

c. Tahap Operasi Kongkrit (umur -11/12 tahun)

(26)

Tahap operasi konkret (concrete operations) dicirikan dengan perkembangan sistem pemikiran yang didasarkan pada aturan-aturan tertentu yang logis. Anak sudah memperkembangkan operasi-oprasi logis. Operasi itu bersifat reversible, artinya dapat dimengerti dalam dua arah, yaitu suatu pemikiran yang dapat dikemblikan kepada awalnya lagi. Tahap opersi konkret dapat ditandai dengan adanya sistem operasi berdasarkan apa-apa yang kelihatan nyata/konkret. Ciri-ciri operasi konkret yang lain, yaitu:

Adaptasi dengan gambaran yang menyeluruh

Pada tahap ini, seorang anak mulai dapat menggambarkan secara menyeluruh ingatan, pengalaman dan objek yang dialami. Menurut Piaget, adaptasi dengan lingkungan disatukan dengan gambaran akan lingkungan itu.

Melihat dari berbagai macam segi.

Anak mpada tahap ini mulai mulai dapat melihat suatu objek atau persoalan secara sediki menyeluruh dengan melihat apek-aspeknya. Ia tidak hanya memusatkan pada titik tertentu, tetapi dapat bersam-sam mengamati titik-titik yang lain dalam satu waktu yang bersamaan.

Seriasi

Proses seriasi adalah proses mengatur unsur-unsur menurut semakin besar atau semakin kecilnya unsur-unsur tersebut. Menurut Piaget , bila seorang anak telah dapat membuat suatu seriasi maka ia tidak akan mengalami banyak kesulitaan untuk membuat seriasi selanjutnuya.  Klasifikasi

Menurut Piaget, bila anak yang berumur 3 tahun dan 12 tahun diberi bermacam-maam objek dan disuruh membuat klasifikasi yang serupa menjadi satu, ada beberapa kemungkinan yang terjadi.

Bilangan

(27)

karespondensi dan kekekalan dengan baik. Dengan perkembangan ini berarti konsep tentang bilangan bagi anak telah berkembang.

Ruang, waktu, dan kecepatan

Pada umur 7 atau 8 tahun seorang anak sudah mengerti tentang urutan ruang dengan melihat intervaj jarak suatu benda. Pada umur 8 tahun anak sudan sudah sapat mengerti relasi urutan waktu dan jug akoordinasi dengan waktu, dan pada umur 10 atau 11 tahun, anak sadar akan konsep waktu dan kecepatan.

Probabilitas

Pada tahap ini, pengertian probabilitas sebagai suatu perbandingan antara hal yang terjadi dengan kasus-kasus yang mulai terbentuk.

Penalaran

Dalam pembicaraan sehari-hari, anak pada tahap ini jarang berbicara dengan suatu alasan,tetapi lebih mengatakan apa yang terjadi. Pada tahap ini, menurut Piaget masih ada kesulitan dalam melihat persoalan secara menyeluruh.

Egosentrisme dan Sosialisme.

Pada tahap ini, anak sudah tidak begitu egosentris dalam pemikirannya. Ia sadar bahwa orang lain dapat mempunyai pikiran lain.

d. Tahap Operasi Formal (umur 11/12 tahun keatas) Ciri pokok: hipotesis, abstrak, dan logis

Tahap operasi formal (formal operations) merupakan tahap terakhir dalam perkembangan kognitif menurut Piaget. Pada tahap ini, seorang remaja sudah dapat berpikir logis, berpikir dengan pemikiran teoritis formal berdasarkan proposisi-proposisi dan hipotesis, dan dapat mengambil kesimpulan lepas dari apa yang dapat diamati saat itu. Cara berpikir yang abstrak mulai dimengerti. Sifat pokok tahap operasi formal adalah pemikiran deduktif hipotesis, induktif sintifik, dan abstrak reflektif.

Pemikiran Deduktif Hipotesis

(28)

premispremis yang dipakai dalam pengambilan keputusan benar. Alasan deduktif hipotesis adalah alasan/argumentasi yang berkaitan dengan kesimpulan yang ditarik dari premis-premis yang masih hipotetis. Jadi, seseorang yang mengambil kesimpulan dari suatu proposisi yang diasumsikan, tidak perlu berdasarkan dengan kenyataan yang real. Dalam pemikiran remaja, Piaget dapat mendeteksi adaanya pemikiran yang logis, meskipun para remaja sendiri pada kenyataannya tidak tahu atau belum menyadari bahwa cara berpikir mereka itu logis. Dengan kata lain, model logis itu lebih merupakan hasil kesimpulan Piaget dalam menafsirkan ungkapan remaja, terlepas dari apakah para remaja sendiri tahu atau tidak.

Pemikiran Induktif Sintifik

Pemikiran induktif adalah pengambilan kesimpulan yang lebih umum berdasarkan kejadian-kejadian yang khusus. Pemikiran ini disebut juga dengan metode ilmiah. Pada tahap pemikiran ini, anak sudah mulai dapat membuat hipotesis, menentukan eksperimen, menentukan variabel control, mencatat hasi, dan menarik kesimpulan. Disamping itu mereka sudah dapat memikirkan sejumlah variabel yang berbeda pada waktu yang sama.

Pemikiran Abstraksi Reflektif

Menurut Piaget, pemikiran analogi dapat juga diklasifikasikan sebagai abstraksi reflektif karena pemikiran itu tidak dapat disimpulkan dari pengalaman.

(29)

 Bahasa dan cara berfikir anak berbeda dengan orang dewasa. Oleh karena itu

guru mengajar dengan menggunakan bahasa yang sesuai dengan cara berfikir anak

 Anak-anak akan belajar lebih baik apabila dapat menghadapi lingkungan dengan baik. Guru harus membantu anak agar dapat berinteraksi dengan lingkungan sebaik-baiknya.

 Bahan yang harus dipelajari anak hendaknya dirasakan baru tetapi tidak asing.

 Berikan peluang agar anak belajar sesuai tahap perkembangannya.

 Di dalam kelas, anak-anak hendaknya diberi peluang untuk saling berbicara dan

diskusi dengan teman-temanya.

2.2.4 Teori Belajar Kognitif Menurut Vygotsky

(30)

Menurut vygotsky (1962), keterampilan-keterampilan dalam keberfungsian mental berkembang melalui interaksi sosial langsung. Informasi tentang alat-alat, keterampilan-keterampilan dan hubungan-hubungan interpersonal kognitif dipancarkan melalui interaksi langsung dengan manusia. Melalui pengorganisasian pengalaman-pengalaman interaksi sosial yang berada di dalam suatu latar belakang kebudayaan ini, perkembangan mental anak-anak menjadi matang.

Meskipun pada akhirnya anak-anak akan mempelajari sendiri beberapa konsep melalui pengalaman sehari-hari, Vygotsky percaya bahwa anak akan jauh lebih berkembang jika berinteraksi dengan orang lain. Anak-anak tidak akan pernah mengembangkan pemikiran operasional formal tanpa bantuan orang lain.

Vygotsky mencari pengertian bagaimana anak-anak berkembang dengan melalui proses belajar, dimana fungsi-fungsi kognitif belum matang, tetapi masih dalam proses pematangan. Vygotsky membedakan antara aktual development dan potensial development pada anak. Actual development ditentukan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa atau guru. Sedangkan potensial development membedakan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu, memecahkan masalah di bawah petunjuk orang dewasa atau kerjasama dengan teman sebaya.

Menurut teori Vygotsky, Zone of proximal developmnet merupakan celah antara actual development dan potensial development, dimana antara apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu tanpa bantuan orang dewasa dan apakah seorang anak dapat melakukan sesuatu dengan arahan orang dewasa atau kerjasama dengan teman sebaya.

(31)

Teori Vygotsky yang lain adalah “scaffolding“. Scaffolding merupakan suatu istilah pada proses yang digunakan orang dewasa untuk menuntun anak-anak melalui Zone of proximal developmentnya.

Scaffolding adalah memberikan kepada seseorang anak sejumlah besar bantuan selama tahap - tahap awal pembelajaran dan kemudian mengurangi bantuan tersebut dan memberikan kesempatan kepada anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar segera setelah ia mampu mengerjakan sendiri. Bantuan yang diberikan guru dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan menguraikan masalah ke dalam bentuk lain yang memungkinkan siswa dapat mandiri.

2.2.5 Teori Belajar Kognitif Menurut Robert Gagne

Sebagaimana tokoh-tokoh lainnya dalam psikologi pembelajaran, Gagne berpendapat bahwa belajar dipengaruhi oleh pertumbuhan dan lingkungan, namun yang paling besar pengaruhnya adalah lingkungan individu seseorang. Lingkungan indiviu seseorang meliputi lingkungan rumah, geografis, sekolah, dan berbagai lingkungan sosial. Berbagai lingkungan itulah yang akan menentukan apa yang akan dipelajari oleh seseorang dan selanjutnya akan menentukan akan menjadi apa ia nantinya.

Bagi Gagne, belajar tidak dapat didefinisikan dengan mudah karena belajar itu bersifat kompleks. Dalam pernyataan tersebut, dinyatakan bahwa hasil belajar akan mengakibatkan perubahan pada seseorang yang berupa perubahan kemampuan, perubahan sikap, perubahan minat atau nilai pada seseorang. Perubahan tersebut bersifat menetap meskipun hanya sementara.

Menurut Gagne, ada tiga elemen belajar, yaitu individu yang belajar, situasi stimulus, dan responden yang melaksanakan aksi sebagai akibat dari stimulasi. Selanjutnya, Gagne juga mengemukakan tentang sistematika delapan tipe belajar, sistematika lima jenis belajar, fase-fase belajar, implikasi dalam pembelajaran, serta aplikasi dalam pembelajaran.

(32)

 Tipe belajar tanda (Signal learning)

Belajar dengan cara ini dapat dikatakan sama dengan apa yang dikemukakan oleh Pavlov. Semua jawaban/respons menurut kepada tanda/sinyal.

 Tipe belajar rangsang-reaksi (Stimulus-response learning)

Tipe ini hampir serupa dengan tipe satu, namun pada tipe ini, timbulnya respons juga karena adanya dorongan yang datang dari dalam serta adanya penguatan sehingga seseorang mau melakukan sesuatu secara berulang-ulang.

 Tipe belajar berangkai (Chaining Learning)

Pada tahap ini terjadi serangkaian hubungan stimulus-respons, maksudnya adalah bahwa suatu respons pada gilirannya akan menjadi stimulus baru dan selanjutnya akan menimbulkan respons baru.

 Tipe belajar asosiasi verbal (Verbal association learning)

Tipe ini berhubungan dengan penggunaan bahasa, dimana hasil belajarnya yaitu memberikan reaksi verbal pada stimulus/perangsang.

 Tipe belajar membedakan (Discrimination learning)

Hasil dari tipe belajar ini adalah kemampuan untuk membeda-bedakan antar objek-objek yang terdapat dalm lingkungan fisik.

 Tipe belajar konsep (Concept Learning)

Belajar pada tipe ini terutama dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman atau pengertian tentang suatu yang mendasar.

 Tipe belajar kaidah (RuleLearning)

Tipe belajar ini menghasilkan suatu kaidah yang terdiri atas penggabungan beberapa konsep.

(33)

Tipe belajar ini menghasilkan suatu prinsip yang dapat digunakan untuk memecahkan suatu permasalahan.

2.3 Implikasi Teori Belajar Kognitif dalam Pembelajaran

Secara garis besar, implikasi teori belajar kognitif dalam proses pembelajaran adalah sebagai berikut :

 Memberi kesempatan kepada pelajar untuk mengemukakan pendapat atau ide-ide.  Memberi kesempatan kepada pelajar untuk berfikir tentang pengalamannya.  Memberi kesempatan kepada pelajar untuk mencoba perkara baru.

 Memberi pengalaman yang berhubungan dengan tujuan pelajar.

 Mendorong pelajar untuk memikirkan perubahan untuk mencapai matlamat mereka.  Mencipta lingkungan yang kondusif.

Implikasi konsep belajar discovery dalam pembelajaran diantaranya :

Simulation

Guru mulai bertanya dengan mengajukan persoalan, atau menyuruh anak didik untuk membaca atau mendengarkan uraian yang memuata uraian permasalahan.

 Problem Statement

Anak didik diberi kesempatan mengidentifikasi berbagai permasalahan. Sebagian besar memilihnya yang dipandang paling menarik dan fleksibel untuk dipecahakan. Permasalahan yang dipilih itu selanjutnya harus dirumuskan dalam bentuk pertanyaan, atau hipotesis, yakni pernyataan sebagai jawaban sementara atas pertanyaan yang di ajukan.

 Data collection

Untuk menjawab pertanyaan atau membuktikan benar tidaknya hipotesis ini, anak didik diberi kesempatan untuk mengumpulkan berbagai informasi yang relavan, membaca literature,m mengamati obyek, wawancara dengan nara sumber, melakukan uji coba sendiri, dan sebagainya.

(34)

Semua informasi hasil bacaan, wawancara observasi, dan sebagainya, semunya diolah, diacak, diklasifikasikn, ditabulasi, bahkan apabila perlu dihitung dengan cara tertentu serta ditafsirkan pada tingkat kepercayaan tertentu.

Verification (pembuktian)

Berasarkan hasil pengolahan dan tafsiran, atau informasi yang ada, pernyataan atau hipotesis yang telah dirumuskan terdahulu itu kemudian dicek, apakah terjawab atau tidak, apakah terbukti atau tidak.

Generalization

Tahap selanjutnya berdasarkan verfikasi tadi, anak didik belajar menarik kesimpulan atau generalisasi tertentu.

Implikasi Teori Gagne dalam Pembelajaran antara lain :

 Mengontrol perhatian siswa.

 Memberikan informasi kepada siswa mengenai hasil belajar yang diharapkan guru.

 Merangsang dan mengingatkan kembali kemampuan-kemampuan siswa.

 Penyajian stimuli yang tak bisa dipisah-pisahkan dari tugas belajar.

 Memberikan bimbingan belajar.

 Memberikan umpan balik.

 Memberikan kesempatan pada siswa untuk memeriksa hasil belajar yang telah dicapainya.

 Memberikan kesempatan untuk berlangsungnya transfer of learning.

 Memberikan kesempatan untuk melakukahn praktek dan penggunaan kemampuan yang baru diberikan.

2.4 Aplikasi Teori Belajar Kognitif dalam proses pembelajaran

(35)

 Menyediakan pengalaman belajar dengan mengkaitkan pengetahuan yang dimiliki

siswa sedemikian rupa sehingga belajar melalui proses pembentukan pengetahuan.

 Menyediakan berbagai alternatif pengalaman belajar, tiadak semua mengerjakan tugas yang sama, misalnya suatu masalah dapat diselesaikan dengan berbagai cara.

 Mengintergasikan pembelajaran dengan situasi yang realistic dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit, misalnyauntuk memahami suatu konsep siswa melalui kenyataan kehidupan sehari-hari.

 Mengintegrasi pembelajaran sehingga memunggkinkan terjadi transmisi sosial yaitu terjadinya interkasi dan kerja sama seseorag sengan orang lain atau dengan lingkungannya, misalnya interaksi dan kerjasama antara siswa, guru dan siswa-siswa.

 Memanfaatkan berbagai media termasuk komunikasi lisan dan tertulis sehingga pembelajaran menjadi lebih efektif.

 Melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga siswa menjadi menarik dan siswa mau belajar.

BAB III

PENUTUP

1.1 Simpulan

(36)

Tokoh-tokoh ahli psikologi pendidikan yang mengemukakan pendapatnya tentang teori belajar kognitif diantaranya yaitu Bruner (konsep belajar penemuan), Ausubel (konsep belajar bermakna), dan Jean Piaget (Perkemangan Kognitif), yang berdiri di bawah payung teori belajar kognitif-Gestalt. Serta Vygotsky (Scaffolding) dan Robert Gagne (8 Tipe Belajar) yang tidak berdiri di bawah payung teori belajar Gestalt.

Adapun implikasi teori belajar kognitif dalam proses pembelajaran adalah memberi kesempatan kepada pelajar untuk mengemukakan pendapat atau ide-ide, memberi kesempatan kepada pelajar untuk mencoba perkara baru, dll. Sedangkan aplikasinya dalam proses pembelajaran adalah melibatkan siswa secara emosional dan sosial sehingga siswa menjadi menarik dan siswa mau belajar, serta engintergasikan pembelajaran dengan situasi yang realistic dan relevan dengan melibatkan pengalaman konkrit.

1.2 Saran

Adapun saran yang dapat diberikan penulis dari makalah ini adalah agar makalah ini dapat dimanfaatkan untuk membantu melatih penulisan makalah, serta menambah pengetahuan dan pemahaman tentang teori belajar, utamanya teori belajar menurut para ahli. Selain itu agar makalah ini dapat digunakan pedoman dalam menerapkan teori belajar kognitif dalam proses pembelajaran di sekolah-sekolah.

DAFTAR PUSTAKA

Dewi, Lestari. 2013. Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. Tersedia pada www.biologi-lestari.blogspot.com. Diakses pada 1 Maret 2015

Megawati. 2013. Teori Belajar Kognitif. Tersedia pada www.wmegawati.blogspot.com. Diakses pada 1 Maret 2015.

(37)

Subagia, I Wayan. 2011. Teori Belajar dan Inovasi Pembelajaran. Singaraja : Jurusan Pendidikan Kimia FMIPA UNDIKSHA.

(38)

BAB II PEMBAHASAN

2.1 Teori Belajar Sosial Menurut Para Ahli 2.1.1 Miller Dan Dollard

Miller dan Dollard berpendapat bahwa bila perilaku meniru diberi penguatan, perilaku tersebut akan diperkuat, seperti perilaku lainnya. Miller dan Dollard membagi perilaku menjadi tiga kategori:

1. Perilaku sama, terjadi ketika dua atau lebih individu merespon situasi sama dengan cara yang sama, seperti ketika kita menyapa, semua orang akan merespon dengan “hai”.

2. Perilaku meniru, meliputi penuntunan oleh seseorang kepada orang lain, misalnya seorang instruktur yoga mengajari muridnya posisi yoga. Ketika sang murid dipuji, dia akan mendapat penguatan atas perilaku itu.

3. Perilaku menyocokkan-dependen, seorang pengamat diberi penguatan untuk meniru tindakan model. Misalnya ketika seorang kakak mendengar suara langkah kaki ayahnya pulang, dia berlari ke arah pintu, dan mendapatkan permen dari sang ayah sebagai penguatan. Adiknya yang ikut berlari juga mendapatkan permen. Karena mendapat penguatan, hal ini diulangi kembali oleh kedua anak. Namun, perbedaannya adalah, sang kakak terstimulasi oleh suara langkah kaki, sedangkan sang adik terstimulasi oleh kakaknya yang berlari. Perilaku adik merupakan perilaku dependen pada perilaku kakak.

2.1.2 Vygotsky

(39)

antara aspek internal dan eksternal dari pembelajaran dan penekanannya pada lingkungan sosial pembelajaran.

Vygotsky menekankan pentingnya memanfaatkan lingkungan dalam pembelajaran. Lingkungan sekitar siswa meliputi orang-orang, kebudayaan, termasuk pengalaman dalam lingkungan tersebut. Orang lain merupakan bagian dari lingkungan, pemerolehan pengetahuan siswa bermula dari lingkup sosial, antar orang, dan kemudian pada lingkup individu sebagai peristiwa internalisasi. Vygotsky menekankan pada pentingnya hubungan antara individu dan lingkungan sosial dalam pembentukan pengetahuan yang menurut beliau, bahwa interaksi sosial yaitu interaksi individu tersebut dengan orang lain merupakan faktor terpenting yang dapat memicu perkembangan kognitif seseorang.

Vygotsky berpendapat bahwa proses belajar terjadi secara efisien dan efektif apabila anak belajar secara kooperatif dengan anak-anak lain dalam suasana dan lingkungan yang mendukung (supportive), dalam bimbingan seseorang yang lebih mampu, guru atau orang dewasa.

Konsep penting dalam teori vygotsky: 1. Zona of Proximal Development

(40)

2.Scaffolding

Adalah memberikan dukungan dan bantuan kepada seorang anak yang sedang pada awal belajar, kemudian sedikit demi sedikit mengurangi dukungan atau bantuan tesebut setelah anak mampu memecahkan problem dari tugas yang dihadapinya. Adapun implikasi untuk pendidikan dengan Strategi Pengajaran berdasar pada Teori Vygotsky:

1. Menggunakan ZPD daerah pengembangan terdekat di dalam pengajaran 2. Menggunakan scaffolding

3. Menggunaan teman yang lebih terampil sebagai panutan (guru) 4. Memonitor dan mendorong siswa menggunaan pendapat pribadi 5. Menilai siswa dari ZPDnya, bukan IQ

6. Mengubah bentuk kelas dengan Gagasan Vygotskian 7. Aktif belajar di kelas.

8. Latihan belajar Cooperative

2.1.3 Carl Ransom Rogers (Teori Humanistik Carl Ransom Rogers)

Teori belajar Humanistik adalah suatu teori dalam pembelajaran yang mengedepankan bagaimana memanusiakan manusia serta peserta didik mampu mengembangkan potensi dirinya. Carl Ransom Rogers berpendapat bahwa belajar dipandang sebagai fungsi keseluruhan pribadi. Belajar tidak dapat berlangsung bila tidak ada keterlibatan intelektual maupun emosional peserta didik. Oleh karena itu motivasi belajar harus bersumber pada diri peserta didik. Rogers membedakan dua ciri belajar yaitu:

1. Belajar yang bermakna: belajar yang terjadi jika dalam proses pembelajaran melibatkan aspek pikiran dan perasaan peserta didik.

2. Belajar tidak bermakna: belajar yang melibatkan aspek pikiran akan tetapi tidak melibatkan aspek perasaan peserta didik.

(41)

Teori Roger ini dapat diterapkan dalam pendidikan untuk mengembangkan individu yang merdeka yang dapat memilih dengan bebas atas tanggung jawab penuh, manusia yang kreatif yang dapat senantiasa menyesuaikan diri dengan perubahan dunia.

Kebebasan jarang terdapat disekolah maupun perguruan tinggi. Kurikulum telah ditentukan oleh atasan yang harus diikuti oleh semua sekolah sejenis. Demikian pula buku pelajaran serta ujian tidak mengizinkan kebebasan. Murid harus patuh, menghafal apa yang dikatakan oleh guru. Akan tetapi guru juga tidak bebas menentukan kuikulumnya.

Keterkaitan pada peraturan merupakan ciri utama dari pendidikan kita. Zaman feodal dan kolonial pada masa Belanda dan Jepang menanamkan rasa kepatuhan. Juga adat istiadat mengutamakan kepatuhan, sehingga kebebasan tidak mendapat tempat. Terlampau banyak kepatuhan membuat manusia konform dan khilangan individualitas, kreativitas, dan juga rasa tanggungjawabnya, sehingga akhirnya manusia takut untuk menjadi bebas.

Teori Carl Rogers dalam bidang pendidikan adalah dibutuhkannya 3 sikap dalam fasilitator belajar yaitu

1. Realitas didalam fasilitator belajar

Merupakan sikap dasar yang penting. Seorang fasilitator menjadi dirinya sendiri dan tidak menyangkal diri sendiri, sehingga ia dapat masuk kedalam hubungan dengan pelajar tanpa ada sesuatu yang ditutup-tutupi

2. Penghargaan, penerimaan dan kepercayaan

Menghargai pendapat, perasaan dan sebagainya membuat timbulnya penerimaan akan sesuatu dengan lainnya. Dengan adanya penerimaan tersebut, maka akan muncul kepercayaan akan satu dengan lainnya.

3. Pengertian yang empati

(42)

Guru harus memiliki kesadaran yang sensitive bagi jalannya proses pendidikan dengan tidak menilai atau mengevaluasi. Pengetian akan materi pendidikan dipandang dari sudut murid dan bukan guru. Menurut Rogers yang terpenting dalam proses pembelajaran adalah pentingnya guru memperhatikan prinsip pendidikan dan pembelajaran, yaitu:

1. Menjadi manusia berarti memiliki kekuatan yang wajar untuk belajar. Siswa tidak harus belajar tentang hal-hal yang tidak ada artinya

2. Siswa akan mempelajari hal-hal yang bermakna bagi dirinya. Pengorganisasian bahan pelajaran berarti mengorganisasikan bahan dan ide baru sebagai bagian yang bermakna bagi siswa

2.1.4 Atkinson Hilgard

Atkinson Hilgard, mengemukakan pendapatnya bahwa, anak akan mempelajari sebagian besar keterampilan sosialnya dari interaksi dengan sesamanya. Mereka akan belajar memberi memutuskan membagi pengalamannya bersama-sama.

Jika dilihat dari penambahan usia anak, maka permainan menguasi atau permainan yang menampilkan keunggulan akan berkembang menjadi permainan yang intelektual, seperti bermain dengan kata-kata dan ide. Memasuki usia 2 tahun, anaka tidak mampu bermain pura-pura dan meniru tingkah laku yang dilihatnya beberapa waktu sebelumnya, bahkan beberapa hari sebelumnya dengan imajinasi dan bahasa sesungguhnya yang merupakan cara berpikir dan bermain pada anak. Aspek-aspek sosial anak yang akan mulai terlihat adalah anak akan mulai bermain sendiri (soliter), anak mulai bermain parallel (yaitu berada didekat teman sekelas tetapi tanpa interaksi), anak mulai bermain sosial (mulai ada interaksi dengan teman didekatnya ), anak mulai bermain asosiatif (secara berpasangan), anak mulai bermain kooperatif (dalam kelompok-kelompok kecil atau besar, ada peran masing-masing) dan anak mulai bermain kolaboratif (bersama orang tua, guru, asisten atau orang dewasa lain).

(43)

mengembangkan empati (merasakan perasaan orang lain) dan (saling) menghargai diri dan lingkungannya (sebaya, orang dewasa, aturan, barang dan alam).

Sikap sosial pada anak yang mengikuti pendidikan apresiasi seni dapat tercermin pola pikir, cara pandang, perasaan dan tingkah laku atau tindakan anak pada objek atau lingkungan sosial yang ada. Dalam hal ini dapat dilihat dari aspek kognitif Subjek yang memiliki pengetahuan, pengertian, dan pemahaman bahwa dalam kehidupan sehari-hari terdapat bermacam-macam perbedaan, namun tetap saling menghormati dan menerima. Pada aspek afektif dan aspek konatif yang dimiliki oleh Subjek menunjukkan adanya perasaan senang dapat mengenal, berteman dengan siapapun serta adanya kepedulian terhadap sesama. Subjek juga bersedia memberikan pertolongan kepada orang lain tanpa memandang segala perbedaan seperti beda suku, beda agama, beda budaya , dan lain sebagainya.

Pembentukan sikap sosial pada anak yang mengikuti Pendidikan Apresiasi Seni, dipengaruhi oleh faktor orang tua dan guru, faktor kebudayaan di tempat tinggal masing-masing, dan faktor lembaga pendidikan dan ajaran agama. Masing-masingnya mengarahkan anak mempunyai sikap sosial yang baik melalui penanaman pengetahuan dan contoh, adanya pembiasaan bersosialisasi dengan orang lain baik yang memiliki kesamaan suku, agama, budaya dan lainnya maupun yang tidak. Serta pemberian penjelasan dari sekolah dan ajaran agama tentang berkomunikasi, berhubungan dengan sesama manusia, termasuk didalamnya didukung oleh kegiatan Pendidikan Apresiasi Seni yang diikuti anak di sekolahnya.

2.1.5 Albert Bandura

Eksperimen Albert Bandura

(44)

terhadap apa yang disampaikan atau dilakukan oleh guru dan aspek peniruan oleh pelajar akan dapat memberikan kesan yang optimum kepada pemahaman pelajar. Eksperimen Pemodelan Bandura:

a. Kelompok A = Disuruh memperhatikan sekumpulan orang dewasa memukul, menumbuk, menendang, dan menjerit kearah patung besar Bobo.

Hasil = Meniru apa yang dilakukan orang dewasa malahan lebih agresif

b. Kelompok B = Disuruh memperhatikan sekumpulan orang dewasa bermesra dengan patung besar Bobo

c. Hasil = Tidak menunjukkan tingkah laku yang agresif seperti kelompok A

Rumusan: Tingkah laku anak-anak dipelajari melalui modeling adalah hasil dari penguatan. Hasil Keseluruhan Eksperimen: Kelompok A menunjukkan tingkah laku yang lebih agresif dari orang dewasa. Kelompok B tidak menunjukkan tingkah laku yang agresif.

Aplikasi Teori Belajar Sosial Bandura

Contoh aplikasi teori belajar Bandura adalah ketika seorang anak belajar untuk mengendarai sepeda. Ditahap perhatian, si anak akan tertarik mengamati para pengendara sepeda dibanding dengan orang yang melakukan aktifitas lain yang dia anggap kurang menarik. Oleh karena itu, ia akan mengamati bagaimana seseorang mengayuh sepeda. Selanjutnya pada tahap penyimpanan dalam ingatan si anak akan tersimpan bahwa bersepeda itu menyenangkan dan suatu saat jika waktunya tepat ia akan meminta ayahnya (semisal) untuk mengajarinya mengendarai sepeda. Semuanya itu kemudian dilaksanakan pada tahap reproduksi di mana si anak kemudian benar-benar belajar mengendarai sepeda bersama sang ayah. Ketika anak itu sudah berhasil, di sinilah tugas sang ayah untuk memberi reward sebagai bentuk apresiasi atas keberhasilan sang anak sekaligus merupakan tahap motivasi. Beberapa contoh lain dijelaskan dalam poin-poin berikut:

 Iklan mie instan, di iklan tersebut diperlihatkan seseorang yang sedang melihat orang lain makan mie instan dengan nikmatnya, membuatnya pada akhirnya makan mie instan yang sama.

(45)

 Kejadian perampokan/pembacokan yang baru-baru ini terjadi di depan jalan sebuah perumahan di Ring Road Utara, memakan korban, membuat orang takut untuk lewat jalan tersebut, dan memilih melewati jalan lain.

2.2 Konsep Belajar Sosial secara Umum

Konsep belajar sosial adalah konsep belajar dengan menggunakan keberadaan lingkungan sosial individu sebagai media pembelajarannya dengan cara mengamati, maniru dan mengembangkan perilaku sosial dan moral suatu model atau contoh atau teladan yang ada di lingkungan sosial disekitar individu.

Penerapan konsep belajar sosial ini dihasilkan dari teori belajar sosial. Teori belajar sosial adalah sebuah teori belajar yang relative masih baru dibandingkan dengan teori-teori belajar lainnya. Teori Belajar Sosial disebut Teori Observational Learning (Belajar Observasional dengan pengamatan). Salah seorang tokoh utama teori ini adalah Albert Bandura, seorang psikologi pada Universitas Standford Amerika serikat, dianggap sebagai seorang behavioris masa kini yang moderat. Bandura memandang tingkah laku manusia bukan semata-mata reflex otomatis atas stimulus, melainkan juga akibat reaksi yang timbul akibat interaksi anatar lingkungan dengan skema kognitif manusia itu sendiri. Prinsip dasar belajar hasil temuan Bandura termasuk belajar sosial dan moral. Prinsip Dasar belajar sosial adalah sebagai berikut:

a) Sebagian besar dari yang dipelajari manusia melalui peniruan (Imitation), penyajian contoh perilaku (modeling).

b) Dalam hal ini, peserta didik mengubah perilaku sendiri melalui penyaksian cara orang/sekelompok orang bereaksi/merespon sebuah stimulus tertentu.

c) Peserta didik dapat mempelajari respon-respon baru dan deangan cara pengamatan terhadap perilaku orang lain, misalnya guru/orang taunya. Pendekatan teori belajar sosial terhadap proses perkembangan sosial dan moral peserta didik ditekankan pada perlunya conditioning (pembiasaan merespons) dan imitation (peniruan).

Gambar

Gambar 2.2.1 (b)
gambar percobaan teori Thorndike.
Gambar 2.2.3 (a)

Referensi

Dokumen terkait

(1) Kepala Dinas, Sekretaris, Kepala Bidang, Kepala Subbagian, Kepala Seksi, Kepala UPT dan Kelompok Jabatan Fungsional dalam melaksanakan tugasnya wajib

Kemampuan mengontrol emosi diperoleh anak melalui peniruan dan latihan (pembiasan). Dalam proses peniruan, kemampuan orang tua dalam mengendalikan emosinya sangatlah

Pengaruh penerapan good corporate governance dan kepemilikan institusional terhadap kinerja keuangan (studi pada perusahaan peserta cgpi yang terdaftar di BEI tahun

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa 64% responden perempuan mengalami stress kerja kategori sedang, 32,5%usia responden yang mengalami stress sedang dalam rentang usia 36

Tenaga Kerja Asing ke Tenaga Kerja Indonesia  Melakukan uji bahasa  Memantau penggunaan dua bahasa pada seluruh tanda- tanda pekerjaan dan Pedoman atau prosedur kerja

Hal ini membuktikan penyimpangan dari hipotesis yang diajukan yaitu diduga faktor internal terutama rasa makanan memberikan pengaruh lebih dominan mempengaruhi konsumen

Terjadinya gangguan beban lebih suatu sistem tenaga listrik antara lain adalah akibat adanya pembangkit yang dapat mensuplai daya yang sangat besar keluar

Kusumadilaga Rimba, Pengaruh Corporate Social Responsibility terhadap Nilai Perusahaan dengan Profitabilitas sebagai Variabel Moderating, Studi Empiris pada Perusahaan