• Tidak ada hasil yang ditemukan

2012 Deskripsi Arsitektur sebuah metode

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "2012 Deskripsi Arsitektur sebuah metode"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

Deskripsi Arsitektur; sebuah metode fenomenologis pengalaman ruang dan

bentuk arsitektur

1

Undi Gunawan

Abstrak

Tulisan ini merupakan kajian singkat mengenai deskripsi arsitektur melalui pemahaman fenomenologi. Fenomenologi dikenal sebagai sebuah metode yang mempelajari bagaimana fenomena dapat menjadi pengetahuan. Fenomenologi dianggap sebagai sebuah metode yang mengatasi dikotomi antara objek dan subjek. Tulisan ini bertujuan memahami bagaimana rangkaian pengetahuan arsitektur tersusun dan bagaimana proses perolehan pengetahuan tersebut melalui proses pengalaman ruang dan bentuk arsitektur. Secara lebih khusus, tulisan ini hendak memahami bagaimana peran deskripsi sebagai cara utama metode fenomenologi. Melalui pemahaman-pemahaman fenomenologi, baik dari bidang filsafat (a.l. Husserl dan Merleau-Ponty) dan bidang arsitektur (a.l. C.N.Schulz dan Thomas Thiss-Evensen), tulisan ini berusaha menjelaskan bagaimana deskripsi fenomenologi dapat dilakukan pada ruang dan bentuk arsitektur.

- - -

Kata Kunci: fenomenologi, pengalaman arsitektur, deskripsi arsitektur

-Tulisan ini merupakan bagian ke-2 dari rangkaian Seminar Bidang Kajian Program Doktor Arsitektur UNPAR. Pada bagian pertama, penulis menyampaikan sejarah dan perkembangan kajian filsafat fenomenologi dan bagaimana pengaruhnya terhadap teori dan kritik arsitektur dalam kurun waktu 50 tahun terakhir.2 Pada bagian ini, penulis berupaya menyusun sebuah landasan pengetahuan yang berangkat dari filsafat fenomenologi bagi pemahaman ruang dan bentuk arsitektur.

Tulisan ini mengusung beberapa pertanyaan, yaitu:

1.Bagaimana rangkaian pengetahuan arsitektur tersusun?

2.Bagaimana proses dan peranan deskripsi, secara fenomenologi, dalam tataran pengalaman? 3.Bagaimana deskripsi arsitektural dapat dilakukan secara fenomenologis?

1. Rangkaian pengalaman dan pengetahuan arsitektur

Arsitektur, sebagai bagian dari lingkungan fisik, merupakan realita kebendaan dalam keseharian manusia. Perjumpaan aktivitas manusia dengan arsitektur merupakan sebuah perjumpaan yang nyata dan merupakan sebuah interaksi timbal-balik mendasar.

Winand Klassen menjelaskan proses arsitektur sebagai rangkaian : membuat (making),

1 Naskah ini merupakan draft dari naskah yang akan dipresentasikan pada Seminar Bidang Kajian 2, Program Doktor Arsitektur, UNPAR, Mei 2012

(2)

mengalami (experiencing) dan memahami (understanding). Bangunan, sebagai bagian dari karya manusia, tidak serta merta merupakan karya arsitektur.3 Karya arsitektur dipahami sebagai proses perjumpaan aktif sekaligus pasif terhadap sebuah bangunan yang menyusun ruang dan suasana dalam bentuk, penggunaan dan pengolahan keteknikannya. Perjumpaan ini merupakan konsekuensi dari proses membuat (making) dari susunan elemen bentuk dan materialnya. Proses berikutnya adalah bagaimana bangunan tersebut mempengaruhi subyek (manusianya) dalam proses mengalami (experiencing). Proses mengalami ini tidak sepenuhnya pasif, melainkan juga merupakan sebuah upaya aktif dari subyek dalam menghadapi realita arsitekturnya. Pengalaman-pengalaman ini pada akhirnya menyusun banyak hal (apresiasi, penilaian, komunikasi, pemaknaan, kritik, dll) sebagai bagian dari proses memahami (understanding).

Purnama Salura mengembangkan pemahaman Winand Klassen di atas dengan menambahkan rangkaian : menggunakan (using) sebagai sebuah kemampuan subyek untuk mengoperasikan arsitektur.4 Proses menggunakan (using) sebagai sebuah proses diantara membuat (making) – sebagai sebuah kemampuan untuk memproduksi obyek arsitektur secara konsepsional- dan mengalami (experiencing) –sebagai sebuah kemampuan untuk merasakan melalui indra mengenai arsitektur. Proses memahami (understanding) ditempatkan sebagai sebuah kemampuan untuk dapat memikirkan arsitektur menjadi atau dalam suatu konsep. Ke empat proses disadari sebagai proses berputar yang tidak linear dan bisa bertumpangtindih namun dipahami sebagai suatu rangkaian utuh dan lengkap. (Lampiran Gambar 1)

Mengalami arsitektur merupakan sebuah bagian mendasar, seperti ungkapan Rasmussen dalam pengantar bukunya yang berjudul Experiencing Architecture.5 Rasmussen menyatakan, meski tidak secara eksplisit mengatakan sebagai sebuah pendekatan fenomenologi, bahwa arsitektur tidak serta merta merupakan produk dari penjumlahan antara denah, tampak dan potongan. Secara keseluruhan, seni (dalam hal ini arsitektur) hendaknya tidak untuk dijelaskan, tapi dia harus dialami.6 Arsitektur, sebagai sebuah bentuk seni yang unik, karena ia memiliki fungsi. Arsitektur menjadi sebuah kerangka kerja dalam kehidupan kita. Arsitektur bukan merupakan seni patung yang terbatas pada abstraksi atau bentukan geometri, karena arsitektur memiliki sebuah faktor mendasar akan kegunaan.7 Rasmussen dalam bukunya ini, menjabarkan bagaimana observasi-observasi dasar yang hendaknya diperhatikan dalam arsitektur. Arsitektur didominasi oleh kondisi ‘padat’ (solid) dan ‘lobang’ (cavities) dan bagaimana dua hal ini saling memberi kontras akibat cahaya dan bayangan dan bagaimana dari cahaya tersebut, warna memberi pengalaman bidang. Rasmussen juga menelusuri pengalaman arsitektur dari kualitas-kualitas yang visual seperti skala, proporsi, ritme dan tekstur, hingga kualitas-kualitas non-visual seperti cahaya, warna dan suara. Segala upaya mengalami arsitektur ini merupakan sebuah upaya dimana kita dapat mengetahui bagaimana sebuah bangunan/arsitektur memiliki karakter, atau dalam istilah dia ‘sikap tenang/seimbang’ (poise), namun karakter ini tidaklah untuk dipergunakan sebagai sebuah sikap menghakimi (judgement), melakukan pembenaran logis dari nilai arsitektural sebuah bangunan. Mengalami arsitektur menjadi sebuah aktivitas ‘meditatif’ yang dilakukan secara terbuka dan simpatik, sehingga arsitektur akan ‘terbuka’ dan ‘menyatakan

3 Klassen, Winand, 1990, Architecture and Philosophy: Phenomenology, Hermeneutics, Deconstruction, University of San Carlos, Cebu City. Hal. 14

4 Salura, Purnama, 2001, Ber-Arsitektur: Membuat, Menggunakan, Mengalami dan Memahami Arsitektur,

Architecture & Communication, Bandung. Hal. 3

5 Rasmussen, Steen Eiler, 1964, Experiencing Architecture, 2nd ed., The MIT Press, Cambridge. Hal.5-6

6 Ibid. Hal. 9.

(3)

kesejatiannya’.8

Dalam perspektif yang berbeda, C.Norberg-Schulz9 mengungkapkan proses-proses arsitektur tersebut dalam sebuah lingkup kehadiran (presence). Realitas arsitektur ada dalam kehadiran. Lingkup kehadiran melekat dengan tempat (place). Arsitektur tersusun dalam ruang kehidupan keseharian, dimana masing-masing ruang berada dalam tempatnya masing-masing dan tempat-tempat ini bekerja sama dalam penciptaan sebuah totalitas lingkungan yang memungkinkan untuk kehidupan. Arsitektur menjadi sebuah manifestasi konkrit kehidupan adalah sebuah seni akan tempat.10 Kehidupan mengambil tempat-tempat dan tersusun dalam kejadian-kejadian (events).

Dalam lingkup kehadiran (presence), arsitektur terjalin dalam tiga hal, guna (use), pengertian (comprehension) dan penerapan (implementation). Guna tempat (use of place) merupakan sebuah totalitas yang tidak hanya tersusun dari penggunaan bangunan dan ruang-ruangnya, melainkan ‘guna dari tempat itu sendiri’ (the use of place itself), sebuah penekanan C.N.Schulz bahwa guna tempat hanya dapat dicapai melalui metode fenomenologi.11

Fenomenologi diperlukan sebagai tahapan untuk mengetahui dan menghasilkan pengertian (comprehension) mengenai tempat. Pengetahuan dan pengertian yang muncul pada persepsi personal/subjektif bisa jadi berbeda-beda, namun semuanya akan merujuk pada tempat yang sama, tempat itu sendiri. Oleh sebab itu, fenomenologi hadir sebagai sebuah pengetahuan mengenai keberadaan (the science of being) yang hadir secara sadar akan ruang, tempat dan waktu. Fenomenologi melibatkan keberadaan dari benda-benda (the being of things) dan pencerminan kualitas-kualitasnya.12 Tujuan dari fenomenologi adalah: sebuah deskripsi yang menyeluruh (rigorous) sebagaimana dia dihidupkan, hadir dan tercerminkan melalui pengalaman orang pertama, secara nyata dan langsung.

Pengertian (comprehension) yang terjadi dari metode fenomenologi merupakan sebuah totalitas kualitas. Fenomenologi memberi akses dan kesempatan bagi kehadiran benda-benda dan ekspresi artistiknya. Fenomenologi juga berlaku secara temporal, bahwa pengertian mengenai tempat melibatkan dinamika perubahan pada keberadaan tempat yang identik.13

C.N. Schulz mengungkapkan bagaimana tempat mempertahankan identitasnya, genius loci-nya, meski terjadi perubahan-perubahan, tempat dan waktu dari realita arsitektur adalah saling bergantung satu sama lain. Dengan demikian, pengertian fenomenologis tidak pernah akan lengkap karena fenomenologi -meskipun melampaui pengetahuan obyektif- merupakan sebuah proses kognitif dan secara mendasar berbeda dari penjelasan-penjelasan saintifik. Fenomenologi merupakan sebuah prosesi sadar, tahap demi tahap, untuk mengungkap kualitas-kualitas. Dengan statusnya sebagai sebuah sebuah prosesi sadar, fenomenologi berjalan mengungkap kualitas-kualitas realita melalui tahap-tahap yang secara sadar berlangsung melalui proses pengecualian kemungkinan-kemungkinan realita yang hadir dalam persepsi. Dengan kata lain, proses 8 Ibid. Hal. 236 “You can booth see and hear if a building has character, or what I like to call poise. But the man has not yet been found who can pass judgement, logically substantiated, on a building’s architectural value. . . .If we contemplate it in a carping spirit, with a know-it-all attitude, it will shut itself up and have nothing to say to ys. But if we ourselves are open to impressions and sympathetically inclined, it will open up and reveal its true essence.”

9 Norberg-Schulz, Christian. 2000. Architecture: Presence, Language, Place, Skira, Milano. Hal.27

10 Ibid. Hal. 28

11 Ibid. Hal. 34

12 Ibid. Hal. 71

(4)

fenomenologi berlangsung melalui tahapan-tahapan intensionalitas, yang dengan sengaja memasukkan dan mengecualikan bagian-bagian realita yang tetap dan berubah-ubah sekaligus.14

Seperti halnya ungkapan Husserl, bahwa kesadaran adalah kesadaran tentang sesuatu yang membentuk muatan intensi (intentional content) yang menjadi deskripsi akan realita.15 Pemahaman Husserl ini kemudian dilanjutkan oleh Maurice Merleau-Ponty yang mengungkapkan apabila objek dikehendaki menjadi realita nyata yang mendahului proses analisis rasional, kita perlu memahami persepsi sebagai sebuah penerobosan kedalam dunia benda-benda yang membawa dirinya sendiri untuk hadir.

Untuk menjawab pertanyaan bagaimana rangkaian pengetahuan arsitektur tersusun, dapat dijelaskan berdasarkan paparan di atas, bahwa pengetahuan arsitektur disusun melalui rangkaian tataran ‘menggunakan’-‘mengalami’-‘memahami’-‘membuat’. Pengetahuan arsitektur secara mendasar hadir melalui proses pembentukan pengalaman dalam sebuah lingkup kehadiran (presence). Ini dilakukan melalui pembentukan muatan intensi (intentional content) dalam susunan deskripsi mengenai suatu kenyataan (ruang, bentuk dan kejadian/event) arsitektur yang melekat dengan eksistensi nyata. Ini yang nantinya menjadi sebuah realita akan sebuah tempat (place).

2. Mengalami arsitektur; sebuah totalitas deskripsi

Proses mengalami (experiencing) adalah proses dimana terjadinya peralihan tingkat kesadaran subyek dari tingkat kesadaran yang rendah/pasif menuju pada tingkat kesadaran yang tinggi/aktif dalam menerjemahkan perjumpaan subyek dengan arsitektur. Proses penerjemahan yang terjadi adalah proses peralihan dari arsitektur sebagai obyek fisik menjadi arsitektur sebagai obyek mental. Proses mengalami merupakan proses menggunakan secara sadar, sebuah keterlibatan/partisipasi aktif yang memberi tingkatan apresiasi yang nantinya akan menjadi proses memahami.16

Fenomenologi, dalam sejarahnya, berkembang dari sebuah pemahaman fenomenologi ‘murni’, sebuah fenomenologi transendental yang dikemukakan oleh filsuf Edmund Husserl yang kemudian berkembang menjadi fenomenologi hermeneutik dari filsuf Paul Ricouer, dan fenomenologi eksistensial yang dikembangkan oleh filsuf-filsuf seperti Martin Heidegger dan Maurice Merleau-Ponty.

Dalam proses memahami arsitektur, membahas fenomenologi kemudian tidak terlepas dari pemahaman-pemahaman yang telah dicapai dalam perkembangannya. Proses mengalami (pada perjumpaan subjek dan arsitektur), melalui fenomenologi, merupakan sebuah proses eksplorasi

14 Ibid. Hal. 87

15 Merleau-Ponty, Maurice, 2002, Phenomenology of Perception, 2nd ed., Routledge, London. Hal. xix

(5)

dan deskripsi dari fenomena-fenomena dari benda (arsitektur) dan pengalaman manusia dalam menjumpai benda-benda (ruang dan bentuk arsitektur) tersebut.

Sebagai sebuah bagian dari rubrik besar bertajuk pendekatan kualitatif, fenomenologi terkait erat dengan sifat yang ‘membumi’ (grounded). Fenomenologi kemudian menjadi cara yang memposisikan pengamat ke dalam dan dekat dengan kenyataan dunianya sehingga hasil-hasil dan temuan dari fenomenologi ‘membumi’ secara empiris. Namun fenomenologi tidak semata-mata berhenti sebagai sebuah deskripsi secara empiris, melainkan sebuah deskripsi yang melahirkan identifikasi yang lebih dalam, pemahaman-pemahaman dasar yang terangkai dengan struktur dan pemaknaan terhadap fenomena. Fenomenologi merangkai struktur dan pemaknaan melalui pengalaman yang melibatkan tubuh manusia, perasaan terdalam yang muncul secara intuitif, emosional dan melibatkan dimensi-dimensi antar-personal. Fenomenologi, dengan demikian, diidentifikasikan sebagai sebuah penyelidikan kualitatif yang melibatkan dasar-dasar/asumsi konseptual dan metodologis tertentu.

Secara umum, Clark Moustakas mengungkapkan lima ragam penelitian yang erat dilakukan dengan fenomenologi sebagai sebuah metode, yaitu: 1. Penelitian etnografi (ethnography), 2. Penelitian membumi (grounded research theory), 3. Hermeneutik (hermeneutics), 4. Penelitian empiris fenomenologis (empirical phenomenological research), dan 5. Penelitian heuristik (heuristic).17 Fenomenologi dalam proses pemahaman arsitektur kemudian dapat dihadapkan pada pilihan, yang menggunakan irisan dari ragam-ragam penelitian tersebut atau menyusun asumsi-asumsi dan cirinya sendiri.

Fenomenologi dalam proses pemahaman arsitektur, setidaknya hadir dalam beberapa asumsi utama; bahwa sosok subjek dan dunia adalah bagian yang menyatu dan terlibat didalamnya dan fenomenologi menghendaki adanya sebuah empirisme yang radikal dalam proses deskripsinya. Fenomenologi, dalam melakukan penyelidikan dan deskripsi terhadap dunia menghendaki bahwa studi dilakukan melalui keterlibatan langsung peneliti dengan fenomena yang dijumpainya. Fenomenologi juga berdasarkan asumsi bahwa peneliti ‘memurnikan’ pengetahuannya terhadap fenomena yang dihadapi dari anggapan-anggapan awal yang mungkin dimiliki oleh peneliti.

Proses mengalami ini melibatkan banyak aspek internal dari subjek. Bersatunya dan keterlibatan subjek dengan dunianya dijembatani oleh fenomenologi melalui pemahamannya akan intensi. Fenomenologi menggunakan intensi sebagai sebuah upaya menjembatani idealisme dan realisme (sebagai dua paham filsafat yang dominan pada awal kemunculan fenomenologi). Fenomenologi

17Etnography: merupakan sebuah aktivitas observasi langsung terhadap kelompok tertentu yang meliputi

komunikasi dan interaksi dengan anggota-anggota kelompok ybs. Grounded Research Theory: merupakan aktivitas mengurai elemen-elemen pengalaman, dengan tujuan utama untuk membentuk sebuah teori, data dikumpulkan, hipotesa dan konsep-konsep dimunculkan dari analisa data ybs. Hermeneutics : sebagai sebuah seni membaca teks sehingga intensi dan makna dibalik yang fenomena tampak dapat dipahami. Teks dipahami sebagai sebuah ‘karya terbuka’ bagi interpretasi dari beragam perspektif personal yang berbeda dan memberi sisi baru dari pengalaman dan kejadian yang tengah dideskripsikan. Empirical phenomenological research : sebuah aktivitas kembali kepada pengalaman dengan tujuan untuk memberi deskripsi komprehensif; sebuah upaya ‘deskripsi naif’ melalui

pertanyaan-pertanyaan dan dialog-dialog terbuka/open-ended dan peneliti berperan untuk mendeskripsikan struktur dari pengalaman berdasarkan interpretasi dan refleksi peneliti. Cara ini bertujuan untuk menentukan bagaimana sebuah pengalaman memiliki makna bagi orang-orang yang merasakan pengalaman tersebut, dari situ, makna secara umum diperoleh. Heuristic research : sebuah proses pencarian yang dimulai dari sebuah pertanyaan atau

(6)

tidak menganggap subjek dan dunia sebagai masing-masing entitas yang terpisah satu sama lain, melainkan sebuah bagian yang tidak terpisahkan. Sebuah tantangan utama dari pendekatan fenomenologi adalah mendeskripsikan ketidakterpisahan ini tanpa dikotomi antara subjek dan objek. Intensi dianggap sebagai suatu aspek pengalaman manusia yang secara sadar melibatkan beberapa aspek dari dunia objek yang secara timbal balik menyediakan konteks bagi pemaknaan dari kesadaran dan pengalamannya. Intensi ini adalah tahapan penting yang menjembatani proses menggunakan (using) arsitektur dan proses memahami (understanding) arsitektur.

Fenomenologi, jelas menghendaki sebuah proses pengalaman yang sadar, intensi kemudian muncul sebagai penghubung antara tahap menggunakan (yang cenderung tidak sadar) dengan memahami. Deskripsi adalah sebuah bagian dimana kesadaran berperan. Fenomenologi secara umum menjelaskan deskripsi dalam dua ragam. Deskripsi dapat bersifat noesis/noetic ketika deskripsi dilakukan ‘secara naif’ dan tanpa intensi tertentu. Deskripsi juga dilakukan secara noematic, dimana deskripsi dilakukan dengan intensi tertentu. Deskripsi fenomenologi adalah sebuah proses deskripsi yang berada pada dua sisi noesis dan noematic sekaligus.

Secara sangat sederhana, fenomenologi dipahami sebagai sebuah metode penyusun pengetahuan (epistemologi) dari pengalaman melalui deskripsi.18 Tujuan dan kerangka kerja fenomenologi; Fenomenologi sebagai rangkaian proses intuisi (intuits), refleksi (reflects), penilaian (judges), dan pemahaman (understands).

Husserl, melalui bukunya Cartesian Meditations, mempresentasikan fenomenologi sebagai sebuah bentuk dari idealisme transendental (trancendental idealism) ilmu pengetahuan yang terinspirasi dari filsuf Emmanuel Kant.19 Kant dalam karyanya Critique of Pure Reason mengungkapkan tiga hal yang berperan dalam proses pembentukan pengetahuan/episteme. Tiga hal tersebut adalah: penginderaan (sense), imajinasi (imagination) dan apersepsi (apperception).20 Fenomenologi, sebagai sebuah metoda, diharapkan dapat menghadirkan sebuah pengetahuan yang berdasar kriteria tertentu. Melalui fenomenologi diharapkan dapat tersusun sebuah penilaian yang tertata secara hirarki dan terstruktur (a hierarchically ordered structure of judgements) yang melandaskan dirinya pada bukti-bukti yang tidak terbantahkan (apodictic/indubitable) dan bertumpu pada dirinya sendiri (first in themselves (dependent on nothing else)).21

Bukti, dalam pemahaman Husserl, adalah sebuah konsep yang memiliki hubungan dengan pemahaman para empiris dimana semua bukti pada dasarnya adalah persepsi yang bersifat penginderaan.22 Bukti menjadi tidak terbantahkan (apodictic/indubitable) ketika bukti yang

18Taken fairly literally, ‘phenomenology’ means ‘the study or description of phenomena’; and a ‘phenomenon’ is simply anything that appears or presents itself to someone (and so does not involve any sense of the strange or spectacular). Thus phenomenology involves the description of things as one experiences them, or of one’s

experiences of things: The slight differences in these two formulations can be ignored here.” Pembedaan dia formula ini yang kemudian dijelaskan sebagai sifat noesis/noetic dan noematic dari aktivitas deskripsi. Lihat: Hammond, Michael, Jane Howarth & Russel Keat, 1991, Understanding Phenomenology, Basil Blackwell, Oxford. Hal. 1-2

19 Hammond, Michael, Jane Howarth & Russel Keat, 1991, Understanding Phenomenology, Basil Blackwell, Oxford. Hal. 4

20 Penginderaan berperan ketika fenomena secara empiris menjadi bagian dari persepsi subjek. Imajinasi berperan sebagai proses sintesa yang membentuk pengetahuan. Sedangkan apersepsi adalah kemampuan sadar untuk dapat mengidentifikasi objek.

(7)

bersangkutan tidak dapat diimajinasikan secara berbeda selain dari apa adanya.23 Bukti hendaknya bertumpu pada dirinya sendiri (first in themselves (dependent on nothing else)), bukan bagaimana subjek menggunakan penilaian awalnya terhadap objek. Di sinilah kemudian istilah epoche24 menjadi penting bagi pemahaman fenomenologi, ketika upaya bertumpu pada

dirinya sendiri berarti juga kembali kepada esensi dari dirinya sendiri (things-themselves).25

Epoche sendiri berarti penyingkiran penilaian-awal (prejudgement/asumsi). Epoche, bersama dengan dua sisi deskripsi fenomenologis (noesis dan noematic) dan reduksi fenomenologis (phenomenological reduction) merupakan pemahaman-pemahaman penting dalam metode fenomenologi. Dalam metode fenomenologi, organisasi dari data dimulai ketika peneliti utama menghadapi [catatan interview/pengamatan inderawi] dan material studinya melalui metoda dan prosedur analisa fenomenal.26 Prosedur ini melingkupi sebuah upaya untuk ‘menghorizonkan’ data/pernyataan/fenomena, membuatnya datar, setara dalam nilai. Dari tataran yang sudah ‘horizontal’ ini, ‘makna’ atau ‘unit makna’ disusun dalam kategori-kategori umum, atau layaknya disebut sebagai tema (themes), menghilangkan tumpang tindih dan berulangnya/repetisi data/pernyataan/fenomena. Kategori-kategori tema dan ‘unit makna’ kemudian dikembangkan menjadi sebuah ‘deskripsi tekstural/tekstual dari pengalaman’ (textural descriptions of the experience). Dari deskripsi tekstural/tekstual ini, deskripsi struktural dan integrasi dari tekstur/tekstual disusun menjadi makna-makna dan intisari dari fenomena.27

3. Deskripsi Arsitektur

Telaah terhadap pemahaman ruang dan bentuk arsitektur melekat pada buku-buku karya C.N. Schulz (1965, 1971, 1980, 2000); pemahaman ‘existential space’ sebagai pembuka jalan menuju ‘fenomenologi arsitektur’. Arsitektur sebagai totalitas pengalaman bermakna (meaningful totalities).28 Deskripsi arsitektur kemudian dipahami sebagai bagian dari bagaimana deskripsi struktural dan integrasi tekstur/tekstual dari arsitektur kemudian diperlukan untuk memahami makna dan intisari dari fenomena arsitektur itu sendiri. C.N.Schulz mengungkapkan bahwa tujuan dari studi beliau adalah untuk mengembangkan sebuah pemahaman umum sehingga setiap tempat dapat menjadi obyek dari analisa kualitatif. Tempat diharapkan dapat ‘membuka diri’ dan menunjukkan kualitasnya sendiri. Analisa ini memurnikan pemahaman mengenai arsitektur, sebagai sebuah proses swa-realisasi (self-realization) yang merupakan proses interaksi terus menerus terhadap kehidupan sebuah tempat.29

22 Hammond, Michael, Jane Howarth, and Russell Keat. 1991, Understanding Phenomenology. Blackwell Publishers, Oxford. Hal. 20

23 ibid. Hal. 25

24epoche (Yunani): menahan diri dari menilai, menyingkirkan pemahaman, penilaian dan pengetahuan. Lihat: Moustakas, Clark, 1994, Phenomenological Research Methods, 1st ed., Sage Publications, Inc., London. Hal. 33

25 “..of returning to the self to discover the nature and meaning of things as they appear and in their essence. Only one source of certainty exists, what I think, what I feel, in substance, what I perceive.” Lihat : Moustakas, Clark, 1994, Phenomenological Research Methods, 1st ed., Sage Publications, Inc., London. Hal. 26

26 Moustakas, Clark, 1994, Phenomenological Research Methods, 1st ed., Sage Publications, Inc., London. Hal.118

27 Ibid. Hal. 118-119

28 Berbeda dengan studi Yi-Fu Tuan (1974) yang cenderung pada sisi psikologi terhadap tempat, C.N.Schulz menggunakan pendekatan yang bersifat lebih fenomenologi. Lihat juga: Haddad, Elie, 2010, Christian Norberg-Schulz's Phenomenological Project In Architecture, Architectural Theory Review, 15:1, 88-101

(8)

Deskripsi arsitektur diperlukan, ketika mengalami arsitektur sebagai sebuah proses : persepsi, pengalaman estetika dan persinggungan antara obyek arsitektur (yang melalui fenomenologi telah menjadi obyek estetik) dan subyek kuasi (quasi subject) (Klassen, 1990). Deskripsi adalah awal dari memahami.

Dalam bukunya yang berjudul Archetypes in Architecture, Thomas Thiss-Evensen (1987) melakukan sebuah upaya untuk menyusun strategi deskripsi dari mengalami dan memahami arsitektur melalui penyusunan fenomenologis. Dua sisi deskripsi fenomenologis (noesis & noematic) pada sistematisasi yang dilakukan oleh Evensen. Deskripsi yang dilakukan merupakan sebuah upaya kontribusi dari ‘ekspresi’ elemen-elemen arsitektur. Hal ini bersifat noesis. Sekaligus, deskripsi yang dilakukan juga hendaknya disusun dalam kerangka yang penuh intensi dari subjek pengamatnya. Hal ini bersifat noematic.

Evensen, dalam bukunya, berupaya untuk memberi jalan tengah terhadap dua kecenderungan yang terjadi pada keilmuan arsitektur. Kecenderungan pertama adalah kecenderungan terhadap teknologi yang bersifat rasional dan mencapai ekspresinya melalui standarisasi dan pre-fabrikasi. Sedangkan kecenderungan ke-dua adalah kreativitas subyektif yang melekat pada individu-individu (arsitek). Kecenderungan pertama hadir dalam dominasi perumahan dan pemukiman yang serba seragam dan kecenderungan ke-dua hadir dalam konstruksi-konstruksi monumental dengan ekspresi subyektifnya masing-masing.30

Jalan tengah yang Evensen tawarkan adalah sebuah universalitas dan pola-dasar (archetype) yang kembali pada persoalan abadi arsitektur untuk menjadi perantara antara luar dan ruang-dalam. Relasi antara ruang-luar dan ruang-dalam dianggap sebagai sebuh fenomena yang konstan, dinamis, memiliki makna dan berdasar pada pengalaman fisik manusia.31

Dalam pembahasannya, Evensen berasumsi/memiliki anggapan bahwa hal-hal yang dia sebutkan sebagai archetype dan variasinya merupakan rumusan dari kesan-kesan pertama (first impressions) yang melampaui pengetahuan seseorang terhadap fungsi, makna atau pun susunan sebuah bangunan. Rumusan ini yang kemudian menghadirkan totalitas kesan terhadap jiwa bangunan yang bersangkutan (the spirit of the building). Rumusan ini juga dianggap sebagai ‘struktur’ pemahaman terhadap bangunan.32

Dengan demikian, setiap bangunan/karya arsitektur memiliki potensi ekspresif yang melekat pada bentuknya. Pembahasan mengenai archetypes, agar dapat dipahami sebagai kaca mata untuk menangkap potensi ekspresif bentuk, setidaknya memiliki 3 (tiga) hal: 1. Archetypes dapat digunakan untuk mengklasifikasikan bentuk melalui konsentrasi kesan-kesan, 2. Archetypes

The term ‘self realization’ implies that the process of interaction, which reveals the life of place, is unstoppable. But the term also means that place must preserve its identity through change, which is to say that it remains the same even if it is never identical. This is an intrinsic quality of the original and at the same time new art of being, and the art of place is no exception to the rule; for these characteristics tehrefore it is always in the process of becoming. Already we can see its plan, elevation, and outline, but what is still lacking is that phenomenological understanding that can fill its vague projections with a qualitative content. When this happens, the art of place will become the art of the experience of living.” Norberg-Schulz, Christian. 2000, Architecture: Presence, Language, Place, Skira, Milano. Hal. 354-355

30 Thiss-Evensen, Thomas, 1987, Archetypes in Architecture, Norwegian University Press, Oslo. Hal. 8

31 Ibid. Hal. 9

(9)

dapat digunakan untuk mendeskripsikan bentuk dengan tujuan untuk menunjukkan potensi kesan-kesan yang ada pada bentuk, dan 3. Archetypes dapat menjadi sebuah ‘bahasa umum’ dari bentuk (common language of form) yang dapat dipahami secara universal apa pun latar belakang dan kemampuan si pengamat/pengguna bangunan/arsitektur.33

Dengan memprioritaskan studinya pada bangunan sebagai sebuah fenomena, Evensen memfokuskan pembahasan archetypes-nya pada elemen-elemen yang bersifat membatasi ruang (the elements of spatial delimition), yaitu elemen lantai, elemen dinding dan elemen atap. Tiga elemen ini kemudian dibahas dalam 4 (empat) tataran skala: 1. Bentuk utama dari elemen-elemen (elements’ major forms), 2. Sistem konstruksi dari elemen-elemen (elements’ construction system), 3. Perlakuan permukaaan (surface treatment) dari bentuk utama, 4. Hal-hal yang berkaitan dengan bukaan (openings) dari bentuk utama. Elemen-elemen ini dianggap umum/universal terlepas dari faktor waktu, tempat atau fungsi. Evensen kemudian menyajikan elemen-elemen ini dalam tema-tema (themes) dan maksud (motifs). Tema (themes) terkait dengan fungsi dari elemen-elemen atau ‘apa yang mereka lakukan’ (e.g. mengarah, membatas, mendukung, dll), sedangkan maksud (motifs) memberi interpretasi yang spesifik dalam masing-masing tema mengenai ‘bagaimana mereka melakukannya’.34 (Lampiran Gambar 2)

Ekspresi dari elemen-elemen tersebut berada dalam rentang ketertutupan total (complete closure) dan keterbukaan total (complete openness). Dalam mendeskripsikan elemen-elemen ini terdapat tiga konsep kualitatif yang mendasar untuk menentukan bagaimana tiga elemen ini berada dalam rentang ketertutupan dan keterbukaan. Tiga konsep kualitatif itu adalah : gerak (motion), berat (weight), dan substansi (substance). Gerak merupakan deskripsi akan kualitas dinamis alamiah dari elemen-elemen. Berat merupakan deskripsi dari bobot elemen dalam relasinya terhadap gravitasi. Berat menjelaskan bagaimana elemen berdiri, jatuh, melayang, dll. Substansi merupakan deskripsi dari kualitas material elemen-elemen, apakah mereka lunak/keras, kasar/halus, panas/dingin, dll. Kualitas-kualitas ini dapat mendeskripsikan ekspresi eksistensial (existential expression) dari arsitektur. Ekspresi eksistensial adalah karakter-karakter dari bentuk yang menjadi dasar makna simbolik beserta dengan variasi gaya dan tempat. Ekspresi eksistensial adalah sebuah deskripsi mengenai ‘apa yang dilakukan’ oleh bentuk arsitektur.35 Kualitas-kualitas ini, oleh Evensen, dapat dideskripsikan sebagai ekspresi eksistensial arsitektur (the existential expressions of architecture).36 (Contoh penggunaan paparan deskripsi berdasar Thomas Thiss-Evensen pada Lampiran Gambar 3.)

Perlu kita garis bawahi di sini, bahwa paparan Evensen di atas, tidak secara lugas merujuk pada pengalaman ruang yang melekat pada tubuh manusia. Tubuh di sini berperan penting sebagai mediasi bagi pengalaman ruang yang mendasar. Tubuh merupakan media yang berhadapan langsung dengan ruang arsitektur. Dalam perjumpaan antara ruang arsitektur dan tubuh, sensasi, persepsi, pengalaman dan konsep ruang arsitektur terbentuk.

Terdapat tiga tema eksistensial penting yang melekat pada tubuh, yaitu gerak (movement), istirahat/berdiam (rest), dan pencapaian (encounter). (Lampiran Gambar 4) 37 Tema

33 Ibid. Hal. 17

34 Ibid. Hal. 17-19

35 Ibid. Hal. 19-23

36 Ibid. Hal. 21

(10)

eksistensial tidak terlepas dari tubuh sebagai sebuah mediasi antara dunia empiris dan dunia ide, antara objek dan subjek. Tubuh, dalam sejarahnya, telah dipergunakan sebagai tolok ukur dimensi dan tubuh menjadi referensi berpikir dan pemahaman terhadap pengalaman akan persepsi, gerak dan persinggungan dengan objek fisik lainnya (termasuk juga dengan tubuh-tubuh lain). Kualitas pengalaman melalui tubuh juga menjadi semakin relevan di era yang semakin didominasi oleh perbincangan mengenai ruang maya (virtual).38

Kualitas tubuh ini menjadi sebuah ‘skema citra’ (image schemata) yang menentukan kualitas akan vertikalitas, lingkup (containment), keseimbangan (balance), pembatasan (blockage), ketertarikan (attraction), perputaran/siklus (cycle), pusat dan pinggir (centre and periphery). 39 ‘Skema citra’ menjadi struktur yang mengorganisasi pemahaman (understanding) dan pengetahuan (knowledge) pertemuan kita dengan lingkungan dan kemudian diproyeksikan dalam persepsi melaui proses metafora. Tubuh menjadi sebuah mediasi antara pengetahuan objektif dan pengetahuan subjektif. Tubuh secara sadar dan intensional memunculkan sebuah ‘citra puitis’ (poetic image).40

Tiga tema eksistensial (gerak, istirahat/berdiam, dan pencapaian), melalui tubuh (dengan skema citra-nya), berproses dalam kerangka dualitas persepsi yang muncul bersamaan antara kualitas objektif dan subjektif, sikap memisahkan dan menghubungkan, dan kualitas statis dan dinamis. 41 Ketiga ini merupakan proses sadar-taksadar untuk membentuk citra arsitektural (architectural image) yang menghubungkan pengalaman tubuh kita melalui proses internalisasi (internalisation), proses identifikasi (identification) dan proses proyeksi (projection). 42

Internalisasi dipahami sebagai proses ‘menyatunya subjek dengan objek’, ketika subjek memahami bahwa ia adalah bagian tak terpisahkan dari objek.43 Identifikasi hadir sebagai sebuah proses ketika benda berekspresi; sebuah realitas internal benda-benda yang menampilkan ekspresi eksternalnya.44 Proyeksi hadir ketika citra (image) hadir dari referensi bahasa (preposisi),

Environment-Behavior Research (pp. 157-78). New York: Plenum.

38 “Not least they (studi mengenai fenomenologi) offer a timely reminder that in an age of virtual reality the very corporeality of the body cannot be ignored when addressing the experience of space.” Leach, Neil, ed., 1997,

Rethinking Architecture: A Reader in Cultural Theory, Routledge, London. Hal. 84. Peranan fenomenologi pada pengalaman arsitektur melalui tubuh juga menjadi perhatian Hale, Jonathan, 2000, Building Ideas: An Introduction to Architectural Theory, John Wiley, New York. Hal. 93-129

39 Franck, Karen A., and R. Bianca Lepori. 2000. Architecture Inside Out. Academy Press. Hal. 31

40“…the poetic image refers to an evocative, affective and meaningful sensory experience that is layered, associative and dynamic, and inconstant interaction with memory and desire.” Dari: Pallasmaa, Juhani, 2011. The Embodied Image: Imagination and Imagery in Architecture. Wiley. hal.41

41 Franck, Karen A., and R. Bianca Lepori. 2000. Architecture Inside Out. Academy Press. London Hal.125-143

42“The architectural image relates our experience of the world with the experience of our body through a process of unconscious internalisation, identification and projection.” Dari: Pallasmaa, Juhani, 2011. The Embodied Image: Imagination and Imagery in Architecture. Wiley, hal.121

43 Panca indera dan sensasinya menyatukan kita dengan benda-benda sekitar kita, seperti ungkapan Merleau-Ponty, sbb: “the thing; it is not mediated by our senses, our sensations or our perspectives; we go straight to it, and it is only in a secondary way that we become aware of the limits of our knowledge and of ourselves as knowing.” Merleau-Ponty, Maurice. 2002. Phenomenology of Perception. 2nd ed. Routledge, London. Hal. 378

(11)

skema tubuh (bodily schemes)45 melalui proses metafora.46

Dengan demikian, bila sebuah ‘kegiatan deskripsi’ fenomenologi arsitektur dilakukan, kegiatan tersebut merupakan sebuah kegiatan internalisasi, identifikasi dan proyeksi yang dilakukan terhadap elemen arsitektur (lantai, dinding, atap) pada tiga tataran tema eksistensial (gerak, istirahat/berdiam, dan pencapaian).

-Proses penyusunan pengetahuan arsitektur, secara mendasar dan eksistensial, dapat dilakukan melalui fenomenologi. Deskripsi merupakan sebuah proses sadar, dengan muatan intensi dan melalui sisi noetic dan noematic merujuk pada pengalaman ruang yang melekat pada tubuh. Deskripsi tidak hanya dilakukan pada tataran elemen arsitektur (lantai, dinding, atap) melainkan pada tema eksistensial yang melekat pada tubuh (gerak, istirahat/berdiam dan pencapaian). Melalui proses deskripsi ini, citra arsitektural (architectural image) tersusun dan siap bagi proses pemahaman lebih lanjut (penyusunan struktur, pengamatan tanda / semiotika, kritik, desain, dll). Deskripsi merupakan sebuah langkah awal, sebelum fenomenologi dipergunakan sebagai sebuah metode untuk memilah-milah dan membedah nilai arsitektur (e.g. Lincourt, 1999). Hal ini akan menjadi perhatian bagi penulisan berikutnya.

45 Kesadaran tubuh yang menegaskan pengalaman realitas ruang; horisontal/vertikal, atas/bawah, jauh/dekat.

(12)

PUSTAKA

Dermon, Moran, 2000, Introduction to Phenomenology, Routledge, London

Gadamer, Hans-Georg. 2004, Truth and Method (Continuum Impacts). Continuum. Oxford. Franck, Karen A., and R. Bianca Lepori. 2000. Architecture Inside Out. Academy Press, London Haddad, Elie, 2010, Christian Norberg-Schulz's Phenomenological Project In Architecture,

Architectural Theory Review, 15:1, 88-101

Hale, Jonathan, 2000, Building Ideas: An Introduction to Architectural Theory, John Wiley, New York

Hammond, Michael, Jane Howarth & Russel Keat, 1991, Understanding Phenomenology, Basil Blackwell, Oxford

Hays, K. Michael, (ed.), 1998, Architecture Theory since 1968, The MIT Press, Cambridge S.Holl, J.Pallasmaa, A.Perez-Gomez, 1994, Questions of Perception: Phenomenology of

Architecture, A+U Publishing, Tokyo

Jencks, Charles & Kropf, Karl (eds.) 1997, Theories and Manifestoes of Contemporary Architecture, Academy Editions, Sussex, UK

Johnson, Paul-Alan, 1994, The Theory of Architecture: Concepts Themes & Practices, John Wiley, New York

Lakoff, George, and Mark Johnson. 2003. Metaphors We Live By. University Of Chicago Press Leach, Neil, ed., 1997, Rethinking Architecture: A Reader in Cultural Theory, Routledge, London Leatherbarrow, David, 2000, Uncommon Ground: Architecture, Technology, and Topography,

The MIT Press, Cambridge

Lincourt, Michael, 1999, In Search of Elegance: Towards an Architecture of Satisfaction, Liverpool University Press&McGill-Queen’s University Press, Montreal

Merleau-Ponty, Maurice. 2002. Phenomenology of Perception. 2nd ed. Routledge, London. Moustakas, Clark, 1994, Phenomenological Research Methods, Sage Publication, London Norberg-Schulz, Christian, 1965, Intentions in Architecture, MIT Press, Cambridge

Norberg-Schulz, Christian, 1980, Genius Loci: Towards A Phenomenology of Architecture, Rizzoli, New York

Norberg-Schulz, Christian, 1971, Existence, Space & Architecture, Praeger Publisher, New York Norberg-Schulz, Christian, 1980, Genius Loci: Towards A Phenomenology of Architecture,

Rizzoli, New York

Norberg-Schulz, Christian. 2000. Architecture: Presence, Language, Place, Skira, Milano Nesbitt, Kate (ed.), 1999, Theorizing A New Agenda of Architecture: An Anthology of

Architectural Theory 1965-1995, Princeton Architectural Press, New York Klassen, Winand, 1990, Architecture and Philosophy: Phenomenology, Hermeneutics,

Deconstruction, University of San Carlos, Cebu City

Ockman, Joan, & Eigen, Edward, (eds.), 1993, Architecture Culture 1943-1968: A Documentary Anthology, Rizzoli, New York

Pallasmaa, Juhani, 2011. The Embodied Image: Imagination and Imagery in Architecture. Wiley. Salura, Purnama, 2001, Ber-Arsitektur: Membuat, Menggunakan, Mengalami dan Memahami

Arsitektur, Architecture & Communication, Bandung

(13)

Pallasmaa, Juhani, 2005, The Eyes of the Skin. Architecture and the Senses, John Wiley, New York

Rasmussen, Steen Eiler, 1964, Experiencing Architecture, 2nd ed., The MIT Press, Cambridge. Sykes, A.Krista (ed), 2010, Constructing New Agenda: Architectural Theory 1993-2009,

Princeton Architectural Press, New York

Thiss-Evensen, Thomas, 1987, Archetypes in Architecture, Norwegian University Press, Oslo Tuan, Yi-Fu, 1974, Topophilia: A Study of Enviromental Perception, Attitudes, and Values,

Prentice-Hall, New Jersey

Referensi

Dokumen terkait

Sebuah perencanaan dan perancangan bangunan vertikal unit tempat tinggal keluarga kecil di Kota Surakarta yang terdiri dari kamar tidur; kamar mandi; ruang tamu; dapur; ruang

Berangkat dari konsep tersebut dapat diimplementasikan pada wajah arsitektur kota Medan dengan memanfaatkan ruang terbuka dengan identitas yang dimiliki budaya Melayu itu

dari Stadion Internasional Medan dapat didefinisikan sebagai berikut: sebuah bangunan tempat penyelenggaraan olahraga sepak bola yang berlokasi di Kota Medan

Untuk konsep hotel kapsul yang memperhatikan segala aspek seperti dari sisi guna bangunan itu sendiri, serta kenyamanan untuk pengguna kepada pangsa pasar rendah

Dapat disimpulkan definisi apartemen adalah sebuah bangunan bertingkat yang terdiri beberapa unit berupa tempat tinggal terbagi dari ruang tamu, kamar tidur, kamar mandi, dapur.. 2.1.2