• Tidak ada hasil yang ditemukan

KEADAAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PADA M

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "KEADAAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PADA M"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

KEADAAN NEGARA REPUBLIK INDONESIA PADA MASA KONSTITUSI RIS BERLANGSUNG

Oleh : Berliana Addini

Fakultas Hukum Universitas Sriwijaya

Dalam pengertianya yang demikian itu, konstitusi selalu dianggap “mendahului” dan “mengatasi” pemerintahan dan segala keputusan serta peraturan lainya. A Constitution, kata Thomas Paine, “is not the act of a government but of the people constituting a government”.1 Konstitusi disebut mendahului, bukan karena urusan waktunya, melainkan dalam sifatnya yang superior dan kewarganegaraanya untuk mengikat.2

A. KONSTITUSI RIS

Tidak lama setelah Sukarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia, meletuslah konfrontasi RI - Belanda yang dipicu oleh keinginan Belanda untuk kembali berkuasa di Indonesia. Dalam konfrontasi ini Belanda berusaha melemahkan RI dengan cara menduduki daerah - daerah kekuasaan RI dan kemudian memprakarsai pendirian negara-negara dan daerah-daerah istimewa di daerah-daerah yang berhasil dikuasainya tersebut. Dari 15 negara dan daerah istimewa yang didirikan atas prakarsa Belanda, hanya ada tiga negara yang relatif kuat dilihat dari sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimilikinya, yaitu NIT, NST dan Pasundan.Tujuan Belanda yang sebenarnya mendirikan negara-negara dan daerah-daerah istimewa itu adalah untuk mengembalikan lagi kekuasaanya di Indonesia, dengan cara memfungsikan kembali alat kekuasaannya di Indonesia, yaitu Binnelands Bestuur dan KNIL di negara-negara dan daerah-daerah yang dibentuknya itu.

Adanya kenyataan bahwa di Indonesia telah berdiri suatu negara yang merdeka, yakni RI mendorong pihak Belanda untuk menjalankan siasat federalistic, yaitu berusaha agar di Indonesia didirikan sebuah negara federal yang beranggotakan RI bersama-sama dengan negara-negara dan daerah-daerah istimewa yang dikendalikannya. Hal ini tampak dari persetujuan-persetujuan yang dilakukan antara RI dan Belanda, seperti persetujuan Linggajati dan Renville, di mana Belanda selalu menekankan pembentukan negara federal di Indonesia bilamana Indonesia telah menerima kemerdekaan dari Belanda. Kesanggupan RI untuk mendirikan negara federal seperti tampak dalam Persetujuan Linggajati, pada gilirannya membangkitkan semangat perjuangan kemerdekaan pemimpin-pemimpin federalis yang kemudian bergabung di dalam Pertemuan Musyawarah Federal (PMF).3

1 McIlwain, Op. Cit., hlm. 20.

(2)

Seperti dalam buku Jalan Meneguhkan Negara (Zulkarnain, 2012: 98) Konferensi Meja Bundar diadakan di Den Haag pada tanggal 23 Agustus - 2 November 1949. Konferensi ini dihadiri wakil-wakil dari Republik Indonesia, BFO (negara-negara boneka bentukan Belanda), dan juga pihak Belanda.Perjanjian ini menghasilkan pokok :

1. Didirikananya Negara Republik Indonesia Serikat.

2. Penyerahan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat. 3. Didirikan uni antara RIS dengan Kerajaan Belanda.

Akibat perubahan dari negara kesatuan menjadi negara serikat, maka terjadi penggantian UUD. Maka disusunlah rancangan UUD Republik Indonesia Serikat yang dibuat oleh delegasi RI dan delegasi BFO pada perundingan KMB. Setelah kedua belah pihak (Indonesia dan Belanda) menyetujui rancangan undang-undang tersebut maka mulai 27 Desember 1949 diberlakukan suatu UUD yang diberi nama Konstitusi Republik Indonesia Serikat. Konstitusi tersebut terdiri atas Mukadimah yang berisi 4 alinea, batang tubuh yang berisi 6 bab dan 197 pasal serta sebuah lampiran. Dengan berubah menjadi negara serikat (federasi) maka didalam RIS terdapat beberapa negara bagian yang masing-masing memiliki kekuasaan pemerintahan di wilayah negara bagiannya. Negara-negara bagian itu adalah: Negara Republik Indonesia, Indonesia Timur, Pasundan, Jawa Timur, Madura, Sumatera Timur dan Sumatera Selatan. Selain itu juga terdapat pula kesatuan-kesatuan kenegaraan yang berdiri sendiri yaitu: Jawa Tengah, Bangka, Belitung, Riau, Kalimantan Barat, Dayak Besar, Daerah Banjar, Kalimantan Tenggara dan Kalimantan Timur.4

Di dalam Konstitusi RIS terdapat beberapa ketentuan yang secara mendasar berbeda dengan UUD 1945. Beberapa ketentuan tersebut antara lain sebagai berikut.

1. Bentuk pemerintahan bersifat federal yang di dalamnya terdapat negara-negara bagian, yaitu Negara Republik Indonesia, Negara Indonesia Timur, Negara Pasundan, Negara Jawa Timur, Negara Madura, Negara Sumatera Timur, dan Negara Sumatera Selatan. Di samping itu, terdapat satuan-satuan kenegaraan yang tegak sendiri, yaitu Jawa Tengah, Bangka, Belitung, Riau, Kalimantan Barat, Dayak Besar, Daerah Banjar, Kalimatan Tenggara, dan Kalimantan Timur.

2. Alat-alat perlengkapan negara federal Republik Indonesia Serikat ialah Presiden, Menteri-menteri, Senat, Dewan Perwakilan Rakyat, Mahkamah Agung, dan Dewan Pengawas Keuangan.

3. Terdapat 44 butir ketentuan yang mengatur secara detail mengenai hak-hak dan kebebasan-kebebasan dasar manusia.5

Konstitusi RIS mulai diberlakukan secara resmi pada 27 Desember 1949 setelah KNIP dan badan-badan perwakilan dari daerah-daerah memberikan persetujuan. Dasar

4https://www.academia.edu/11847165/Terbentuknya_Republik_Indonesia_Serikat

(3)

hukum pemberlakuan Konstitusi RIS ialah Keputusan Presiden RIS 31 Januari 1950 No. 48 (Lembaran Negara 50-3). Pada 27 Desember 1949 terjadi tiga peristiwa penting lainnya, yakni penyerahan kedaulatan dari Kerajaan Belanda yang diwakili Ratu Juliana kepada Moh. Hatta yang mewakili Republik Indonesia Serikat di negeri Belanda, penyerahan kedaulatan dari Republik Indonesia kepada Republik Indonesia Serikat di Yogyakarta, dan penyerahan kekuasaan dari Wakil Belanda Lovink kepada Wakil Indonesia Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Jakarta.6

B. Berjalannya Negara Republik Indonesia Serikat (1949-1950)

Pada tanggal 27 Desember 1949, Belanda resmi mengakui kedaulatan RIS melalui perjanjian KMB. Sehingga Republik Indonesia tidak lagi merupakan negara yang merdeka, melainkan menjadi negara bagian dari RIS. Dengan adanya RIS maka bentuk negara kesatuan berubah menjadi bentuk negara serikat. Republik Indonesia sebagai suatu daerah bagian harus menyerahkan sebagian kedaulatannya kepada RIS.

Hal-hal yang harus diserahlkan oleh daerah-daerah bagian kepada RIS terdapat dalam lampiran konstitusi RIS. Diantaranya yaitu:

1. Pengaturan Kewarganegaraan dan Kependudukan Republik Indonesia Serikat. 2. Hak memberi grasi, amnesti, dan abolisi.

3. Pengaturan hukum sipil dan hukum dagang, harus diatur oleh pusat, baik karena kepentingan sosial maupun ekonomi.

4. Pengaturan susunan kehakiman federal. 5. Pertahanan negara, dll

Lampiran konstitusi tersebut dapat diubah sesuai kepentingan dengan melalui persetujuan bersama dari negara-negara bagian. Akan tetapi segala penyelenggaraan yang tidak termasuk dalam lampiran tersebut adalam menjadi kekuasan daerah-daerah bagian. (Pasal 51 Konstitusi RIS).7

Pada tanggal 16 Desember 1949 di Yogyakarta, Panitia Pemilihan Nasional RIS memilih Soekarno menjadi presiden Indonesia Serikat pertama, dan peresmiannya dilakukan tanggal 17 Desemer 1949. KNIP kemudian mengangkat Mr. Assaat Datuk Mudo, ketua KNIP, sebagai pemangku jabatan Presiden Indonesia.

Dengan demikian, MR. Assaat de facto presiden Indonesia kedua yang memegang jabatan ini hingga dibubarkannya RIS pada tanggal 17 Agustus 1950.

DPR RIS kemudian memilih empat orang menjadi formatur kabinet, yaitu Mohammad Hatta, Anak Agung Gde Agung, Sri Sultan Hamengku Buwono IX, dan Sultan Hamid II.

Pada 19 Agustus 1949 terbentuk lah kabinet RIS dengan susunan: Perdana Menteri : Mohammad Hatta

Menteri Luar Negeri : Mohammad Hatta Menteri Pertahanan : Hamengku Buwono IX

(4)

Menter Dalam Negeri : Ide Anak Agung Gde Agung Menteri Keuangan : Syafruddin Prawiranegara Menteri Perekonomian : Ir. Juanda

Menteri Perhubungan dan Pekerjaan Umum: Ir. H. Laoh Menteri Kehakiman : Prof. Dr. Mr. Soepomo Menteri P danK : dr. Abu Hanifah Menteri Kesehatan : dr. Josef Leimena Menteri Perburuhan : Mr. Wilopo

Menteri Sosial : Mr. Kosasih Purwanegara Menteri Agama : K. H. Wahid Hasyim Menteri Penerangan : Arnold Mononutu

Menteri Negara : Sultan Hamid Alkadrie II Mr. Mohammad Roem Dr. Suparno

Kabinet ini merupakan Zaken Kabinet (mengutamakan keahlian dari anggota-anggotanya), dan bukan kabinet koalisasi yang bersandar pada kekuatan partai-partai politik. Upacara penyerahan kedaulatan dari pemerintah Belanda kepada pemerintah Indonesia Serikat berlangsung bersamaan di dua tempat. Pada 27 Desember 1949 di Paleis op de Dam di Amsterdam, Belanda. Perdana menteri RIS Mohammad Hatta atas nama pemerintah RIS, menerima kedaulatan dari Ratu Juliana, dan di Jakarta, Wakil Perdana Menteri RIS, Hamengku Buwono IX menerima kedaulatan RIS dari wakil tinggi mahkota Belanda, A. H. J. Lovink.8

1. Kondisi Politik dan Konstitusional RIS

Kondisi terpenting dan utama yang perlu diperhatikan oleh RIS adalah dibidang politik dan konstitusional. Setelah semua alat-alat kelengkapan RIS terbentuk, muncul lah gangguan bahkan kekacauan terutama dibidang politik. Gangguan dan kekacauan ini ditimbulkan oleh beberapa pihak akibat kurang berhasilnya pemerintah RIS dalam menjalankan roda pemerintahan. Kondisi politik inilah yang menyebabkan kemunduran RIS. Ganguan politik tersebut antara lain seperti pemberontakan yang dilakukan Westerling, pemberontakan Andi Azis, pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) yang dipimpin oleh Soumokil dan pembebasan Irian Barat.

2. Keadaan Keuangan dan Ekonomi RIS

Perekonomian suatu Negara menjadi satu permasalahan yang sangat penting, karena untuk Negara yang baru berdiri perlu didukung oleh ekonomi yang cukup kuat. Berdirinya Negara RIS sebagai Negara berdaulat, tidak serta merta didukung secara ekonomi. Dengan hutang-hutang yang harus ditanggung oleh RIS, RIS harus segera membenahi dan menyelesaikan permasalahan ekonomi tersebut agar segera dapat memikirkan kebijakan ekonomi RIS selanjutnya.

(5)

3. Dalam sebuah Negara, militer adalah faktor terpenting dalam menjaga kedaulatan dan keutuhan Negara.

RIS mempunyai angkatan perang yang di sebut APRIS, yang anggotanya berisikan warga Negara Indonesia bekas tentara KNIL dan TNI yang umumnya tentara RI.

4. Keadaan Kebudayaan RIS

Pemerintah Indonesia dan Belanda bersedia membuat kesepakatan dalam bidang kebudayaan. Seperti dalam bidang pendidikan, Indonesia dan Belanda bersepakat untuk saling memberikan pengajaran dan pengetahuan untuk kemajuan masing-masing. Antara Belanda dan RIS telah bersepakat bahwa dalam hal pengetahuan, pendidikan serta kebudayaan diadakan kerja sama dalam pembinaan dan pembangunan kebudayaan. Pemerintah Kerajaan Belanda bersedia untuk bertukar orang-orang yang ahli dalam ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Dalam kesepakatan itu pula, tentang pemeliharaan benda-benda budaya yang dimiliki oleh pemerintah Kerajaan Belanda dan RIS secara bersama-sama.

5. Keadaan Sosial RIS

Pada bidang sosial ini, yang dibahas adalah mengenai status kepegawaian para pegawai-pegawai yang berkewarganegaraan Belanda yang bekerja di Indonesia. Pihak Indonesia dan Belanda pun berunding untuk mencapai kesepakatan mengenai permasalahan ini.

Pemerintah RIS menerima semua pegawai sipil pemerintah Belanda. Pemerintah RIS akan menjamin tiap-tiap pegawai pemerintah yang berkebangsaan Belanda yang bekerja di Indonesia akan keselamatan dan hayat hidupnya ditanggung oleh pemerintah RIS. Selama para pegawai berkebangsaan Belanda tersebut masih menginginkan untuk bekerja di Indonesia tanpa ada paksaan dan jika berhenti itu atas kehendaknya sendiri.9

C. Permasalahan Yang Dihadapi RIS

Pada masa sistem pemerintahan federal ini, kabinet Hatta disibukkan dengan permasalahan-permasalahan yang muncul akibat perang kemerdekaan maupun masalah-masalah yang intern dengan kehidupan suatu negara muda. Sebagai akibat dari perang kemerdekaan banyak prasarana yang hancur, keadaan ekonomi yang buruk, dan terdapat pula kerusakan mental di masyarakat. Di bidang ekonomi sendiri masalah utama adalah munculnya inflasi dan defisit dalam anggaran belanja.

Untuk mengatasi masalah inflasi, pemerintah menjalankan suatu kebijakan dalam bidang keuangan yaitu mengeluarkan peraturan pemotongan uang pada tanggal 19 Maret 1950, yang dikenal dengan kebijakan gunting Syafruddin.

Peraturan ini menentukan bahwa uang yang bernilai 2, 50 gulden atau Rp. 5 ke atas dipotong menjadi dua, sehingga nilainya tinggal setengah.

Meskipun banyak pemilik uang yang terkena dampak peraturan ini, tetapi pemerintah mulai dapat mengendalikan inflasi agar tidak cepat meningkat. Di samping soal keuangan

(6)

ini, ekonomi juga dapat diperbaiki, karena dengan meletusnya Perang Korea, perdagangan ke luar negeri meningkat, terutama untuk bahan mentah seperti karet. Dengan meningkatnya ekspor, maka pendapatan negara juga ikut meningkat.10

Masalah utama lain terdapat di bidang kepegawaian, baik sipil maupun militer. Setelah selesainya perang, jumlah pasukan harus dikurangi karena keuangan negara yang tidak mendukung. Mereka perlu mendapat penampungan bila pemerintah ingin melakukan program rasionalisasi. Untuk itu pemerintah membuka kesempatan utuk melanjutkan pelajarannya dalam pusat latihan yang memberi pendidikan keahlian untuk memberi mereka kesempatan menempuh karier sipil profesional. Selain itu usaha transmigrasi juga dilakukan, meskipun demikian masalah kepegawaian belum dapat diselesaikan pemerintah RIS.

Dalam pembentukan Angkatan Perang Republik Indonesia Serikat (APRIS) intinya diambil dari TNI, sedangkan lainnya dari kalangan bekas anggota KNIL. Personil KNL yang akan dilebur ke dalam APRIS meliputi 33.000 orang dengan 30 perwira. Pembentukan APRIS menimbulkan kegoncangan psikologis bagi TNI. Di satu pihak TNI keberatan untuk bekerjasama dengan bekas musuh. Sebaliknya dari pihak KNIL terdapat tuntutan untuk ditetapkan sebagai aparat negara bagian, dan menolak masuknya TNI di negara tersebut. Gejala semacam ini tentunya menimbulkan konflik baru di dalam negeri, contohnya di Bandung berupa gerakan Angkatan Perang Ratu Adil (APRA) yang mengirimkan ultimatum kepada Pemerintah RIS, dan Negara Pasundan serta menuntut diakui sebagai tentara Pasundan dan menolak pembubaran negara tu. Sementara itu, di Kalimantan Barat Sultan Hamid menolak masuknya TNI serta menolak untuk mengakui menteri pertahahan RIS dan menyatakan bahwa dia yang berkuasa di daerah tersebut. Di Makassar muncul gerakan Andi Aziz di Ambon, dengan nama gerakan Republik Maluku Selatan (RMS).11

Keadaan ini sengaja diwariskan oleh kekuatan reaksioner Belanda, dengan tujuan mempertahankan kepentingan dan membuat kondisi RIS kacau. Jika usaha ini berhasil, maka dunia Internasional akan menganggap RIS tidak mampu memelihara keamanan dan ketertiban di wilayahnya. Selain disibukkan dengan suasana nasional yang tidak stabil akibat bom waktu yang sengaja ditinggalkan pihak kolonialis, pemerintah masih harus menghadapi pemberontakan DI/TII Kartosuwiryo.

Akan tetapi RIS ternyata tidak dapat bertahan lama, kurang lebih delapan bulan setelah pendiriannya RIS bubar. Banyak faktor yang menyebabkan singkatnya masa hidup RIS. Pertama, tidak satu pun tokoh politik utama di Indonesia pada waktu itu yang bersedia mendukung keberadaan RIS. Kedua, hampir semua partai politik juga tidak menghendaki.

10Frederick, William H. 1984. Pemahaman Sejarah Indonesia: Sebelum dan Sesudah Revolusi. Jakarta: LP3ES.

11 Hutagalung, Batara R. 2010. Serangan Umum 1 Maret 1949: dalam Kaleidoskop

(7)

SUMBER : Buku-Buku :

Asshiddiqie, Jimly, Pengantar Ilmu Hukum Tata Negara, Jakarta: PT.RajaGrafindo Persada. 2015.

McIlwain, Op. Cit., hlm. 20.

Prodjodikoro, Wijono, Azaz-azaz Hukum Tata Negara di Indonesia, Jakarta: Dian Rakyat. 1977. hal. 28

Frederick, William H. 1984. Pemahaman Sejarah Indonesia: Sebelum dan Sesudah Revolusi. Jakarta: LP3ES

Hutagalung, Batara R. 2010. Serangan Umum 1 Maret 1949: dalam Kaleidoskop Sejarah

Perjuangan Mempertahankan Kemerdekaan Indonesia. Yogyakarta: LKIS.

Makalah & Artikel (Akses Internet) :

http://lib.ui.ac.id/file?file=pdf/abstrak-20251059.pdf

https://www.academia.edu/11847165/Terbentuknya_Republik_Indonesia_Serikat http://wawasansejarah.com/sejarah-republik-indonesia-serikat/

https://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFKIP/article/view/12623/12265

Referensi

Dokumen terkait

Oleh karena itu, dapat diambil kesimpulan bahwa metode pembelajaran kooperatif tipe Numbered Head Together (NHT) dengan media kartu pintar dan kartu soal efektif

Hasil survei kepuasan dosen, pustakawan, laboran, teknisi, dan tenaga administrasi terhadap sistem pengelolaan sumber-daya manusia yang jelas, tetapi tidak komprehensif dan tidak

Situasi emosional pada saat belajar akan mempengaruhi hasil belajarnya. Situasi emosional itu dapat disimpulkan sebagai perasaan senang atau tidak senang selama

PHP singkatan dari Personal Home Page Tools, adalah sebuah bahasa scripting yang dibundel dengan HTML, yang dijalankan disisi server.. Sebagian besar perintahnya berasal dari C,

2. Preferansi nasabah yang positif dan mendukung serta dari banyaknya nasabah yang menggunakan produk implan di Bank Syariah Mandiri KCP Tg. Balai Karimun menunjukkan

Pada sistem kontrol yang kedua ini, digunakan sensor pembacaan debit aliran udara dan bahan bakar sebagai input untuk mengontrol jumlah udara yang masuk ke boiler.. Sistem kontrol ini

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa hasil penilaian awal media pembelajaran (modul) berbantuan Geogebra pokok bahasan