• Tidak ada hasil yang ditemukan

NEGOSIASI SEBAGAI JALAN RESOLUSI KONFLIK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "NEGOSIASI SEBAGAI JALAN RESOLUSI KONFLIK"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

NEGOSIASI SEBAGAI JALAN RESOLUSI KONFLIK

(STUDI ANALISIS NEGOSIASI ANTARA SERIKAT BURUH NESTLE

INDONESIA KEJAYAN DENGAN MANAJEMEN PT.NESTLE INDONESIA

Tbk., KEJAYAN PASURUAN TENTANG KESETARAAN UPAH)

Penulis: Ach. Wienata F.E.P

Jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Brawijaya Malang,Jl. Veteran, Malang, Jawa Timur 65145, Email : www.ub.ac.id

Email Penulis : [email protected]

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran dari serikat buruh dalam menganggulangi masalah perburuhan yang terjadi dalam hal ini cara penanggulangannya adalah dengan melakukan negosiasi dengan pihak manajemen perusahaan dalam hal kesetaraan upah.

Penelitian ini dilakukan di PT. Nestle Indonesia Kejayan Pasuruan, dengan subjeknya Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan disingkat SBNIK, dengan menggunakan metode kualitatif deskriptif. Teknik penentuan informan menggunakan tekni k purposive sampling dimana informan telah diseleksi atas beberapa criteria dimana, para informan telibat langsung dalam proses negosiasi dan objek dari hasil negosiasi tersebut.

Hasil penelitian ini proses dan hasil dari negosiasi yang telah dilakukan oleh kedua belah pihak dalam hal menambahkan poin kesetaraan upah, kesetaraan upah diukur oleht ingkat lamanya buruh telah bekerja di perusahaan lebih tepatnya di PT. Nestle Indonesia Kejayan, dan apa saja kendala yang dialami oleh pihak Serikat Buruh selama proses negosiasi.

(2)

dilaksanakan oleh kedua belah pihak, masih kurangnya pelatihan dalam hal negosiasi, dan kurangnya materi yang akan di negosiasikan dengan pihak manajemen.

ABSTRACT

This study aims to determine the role of trade unions in tackling problems of labor that occurred in this case to overcome them is by doing negotiations with company management in terms of equal pay.

This research was conducted at PT. Nestle Indonesia KejayanPasuruan, with the subject of Nestle Indonesia Workers Union Kejayan SBNIK shortened, by using descriptive qualitative method. Informant determination techniques using purposive sampling technique in which informants were selected on several criteria which, the informants are involved directly in the negotiation process and the object of the negotiation results.

The results of this study and the results of the negotiation process which has been carried out by both sides in terms of adding points equal pay, equal pay is measured by the length of the level of labor has worked at the company more precisely in PT. Nestle Indonesia Kejayan, and what are the constraints faced by the United Labor party during the negotiation process.

During the negotiation process undergone some important constraints, such as, where the base of the labor law is not a science, which causes blindness material negotiations undertaken by both parties, there is still a lack of training in negotiation, and the lack of material that will be negotiated with management.

(3)

Pendahuluan

Indonesia adalah negara berkembang yang terbuka kepada investor asing.Ini dimaksudkan untuk meningkatkan pendapatan Negara dari sektor ekonomi, baik dalam makna sempit hingga ekonomi dalam perspektif makro.dengan adanya kerja sama investasi dengan asing, sektor rill dapat bergerak sejalan dengan berkurangnya angka pengangguran dan meningkatnya belanja masyarakat.

Pada pembukaan UUD 1945,tedapat cita-cita bangsa dari para pendahulu bangsa untuk membuat suatu masyarakat yang adil dan makmur di negara Indonesia.Sebagai bagian mewujudkan cita-cita tersebut, maka dibangunanlah pembangunan di berbagai aspek, baik dari segi ekonomi, politik, budaya dan sosial.

Banyak potensi di Indonesia yang bisa dimaksimalkan seperti kebudayaan, pariwisata, industri dan lain-lain.Indonesia

(4)

di Indonesia saat ini, banyak kasus-kasus yang melibatkan kaum pekerja/buruh makin marak, hal itu terjadi karena terputusnya komunikasi antara pekerja dan perusahaan.

Hal itu bisa terjadi karena pihak perusahaan tidak mau untuk memenuhi hak dari para pekerja, dan bisa berujung pada aksi mogok kerja atau pemboikotan asset perusahaan.Dan itu juga menjadi dasar dari ketidakadilan perusahaan untuk memenuhi hak buruh yang seharusnya ditanggung oleh perusahaan, seperti standar pengupahan, jaminan sosial, jaminan kesehatan, dan lain-lain.

Penulis akan menulis tentang proses negosiasi antara serikat buruh dan manajemen perusahaan PT.Nestlé IndonesiaTbk., Kejayan Pasuruan. Lokasi PT Neslté Indonesia Tbk., Kejayan Pasuruan, berada di Kecamatan Kejayan, Kabupaten Pasuruan, Jawa

Timur.PT.Nestlé IndonesiaTbk. Kejayan Pasuruan.

Penulis lebih tertarik dengan proses negosiasi dari Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan (SBNIK).Karena kalau dilihat efektif atau tidakkah sudah jelas serikat buruh sangat efektif sebagai pemimpin dari kaum buruh untuk mendapatkan hak-hak mereka, tapi dengan meneliti cara atau teknis berbicara atau negosiasi dari serikat buruh akan sangat menarik untuk dibahas.

METODE PENELITIAN

(5)

Ada pula yang menyatakan bahwa penelitian kualitatif adalah penelitian yang menggunakan latar alamiah, dengan maksud menafsirkan fenomena yang terjadi dan dilakukan dengan jalan melibatkan berbagai metode yang ada. Dalam penelitian kualitatatif sendiri biasa menggunakan teknik wawancara, pengamatan, dan pemanfaatan dokumen.

Dalam konteks ini, peneliti akan menejelaskan peranan nyata suatu serikat buruh dalam menjalankan fungsi sebagai wadah perjuangan para pekerja dalam mempejuangkan hak-hak anggotanya. Teknik dalam pengumpulan data dalam penelitian ini adalah :

Wawancara

Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, percakapan itu dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interview) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.

Mengadakan wawancara dengan para informan, penentuan informan menggunakan purposive sampling dimana dalam hal ini Serikat Buruh Nestle Indonesia dan menentukan ketua umum dari Serikat Buruh Nestle Indonesia yang juga sebagai negosiator dalam kasus ini yaitu Bpk Arief Rahman Hakim sebagai informan dari pihak Serikat Buruh Indonesia Kejayan, dan juga informan dari pihak manajemen PT Nestlé Indonesia Tbk.Kejayan Pasuruan Bpk. B.Y. yang meminta untuk tidak disebutkan nama terangnya. Dan juga informan yang bernama Bpk. Achmad Djoko Wijono sebagai perwakilan buruh senior untuk melengkapi data penelitian

Dokumentasi/Study Literature

(6)

pada pihak swasta yang akan dijadikan bahan penelitian.

Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik data kualitatif deskriptif, yang mangacu pada mengintepretasikan data yang akan diolah, mencari data yang penting dan data yang akan dipelajari. Dalam penelitian ini menggunakan tehnik analisis data kualitatif yang terdiri dari tiga alur, yaitu :

1. Reduksi Data

Sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabsahan, dan transformasi data kasar yang ada pada saat di lapangan. Memilih mana data yang relevan dan mana data yang tidak relevan, reduksi data berlangsung hingga penulisan penelitian tersusun.

2. Penyajian Data

Sekumpulan informasi yang tersusun, adanya kemungkinan penarikan kesimpulan dan pengambilan data yang

paling umum digunakan pada tindakan. Dengan penyajian data ini kita dapat mengetahui apa yang sedang terjadi dan apa yang harus dilakukan. Hal tersebut memudahkan peneliti untuk melihat secara keseluruhan atau bagian tertentu dari data-data yang umum digunakan dalam bentuk teks uraian.

3. Penarikan Kesimpulan

Penarikan dalam penelitian kulitatif dilakukan secara terus menerus sepanjang proses penelitian berlangsung. Dari data-data yang diperoleh di lapangan kemudian dikumpulkan serta dianalisis untuk dapat ditarik kesimpulan.

(7)

1. Interview Guide (Pedoman Wawancara)

Merupakan kumpulan materi atau poin-poin yang menjadi dasar atau acuan dalam melakukan wawancara dengan para responden.Responden tersebut adalah aktor-aktor yang terkait dalam jalannya peran serikat buruh dalam memperjuangkan hak-hak buruh.

2. Pedoman Dokumentasi

Bagian yang terdiri dari garis besar data yang diperlukan dalam melakukan penelitian.

3. Field Note (Buku Catatan)

Merupakan catatan data lapangan yang dipergunakan peneliti untuk mencatat apa yang didengar, diamati dan dialami dalam hal proses pengumpulan data.

Cara pengumpulan data dalam melakukan penelitian terbagi menjadi dua jenis sumber data yaitu,

1. Data Primer

Merupakan data yang dikumpulkan oleh seorang peneliti secara langsung, yang bersumber dari wawancara atau observasi. Sumber data tersebut di dapat melalui informan yang telah ditentukan dan secara langsung berhubungan dengan obyek penelitian.

2. Data Sekunder

(8)

PEMBAHASAN

Proses SBNIK untuk menghadapi

Manajemen Perusahaan dalam

Negosiasi permasalahan kesetaraan

gaji.

Serikat Buruh Nestle Indonesia

Kejayan adalah wadah dan wahana pembinaan buruh untuk berprestasi dalam pembangunan Nasional melalui peningkatan kualitas, disiplin, etos kerja serta produktifitas kerja, pendorong dan penggerak anggota dalam ikut serta mensukseskan program pembangunan nasional, khususnya sektor ekonomi dan sosial budaya, wahana meninggkatkan kesejahteraan anggota dan keluarganya lahir dan batin, Pelindung, pembela hak-hak dan kepentingan buruh,dan ikut serta secara aktif dalam pengambilan keputusan dan kebijakasanaan ssosial ekonomi dan ketenagakerjaan.

Peran Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan sendiri disini sangatlah

strategis, dimana semua kebijakan yang nantinya diambil akan dirasakan oleh seluruh anggota, dalam hal ini seluruh anggotanya adalah seluruh pekerja / buruh PT. Nestle Indonesia kejayan.

Dalam perjalanannya Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan atau secara keseluruhan SBNI sendiri pernah menjadi bagian dari SPSI, karena dirasa tidak membawa perubahan yang sangat diperlukan oleh anggota SBNI, maka SBNI seluruh Indonesia memutuskan untuk keluar dari SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia ).

(9)

memperjuangkan hak-hak mereaka, tanpa melupakan untuk turut serta membantu pihak yang membutuhkan serikat buruh – serikat buruh yang lain.

Dengan idealisnya maka mau tidak mau SBNI sendiri dalam hal ini adalah Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan harus melakukan tugas atau peran dan fungsinya dengan berjalan sendiri. Dan dalam kasus yang di teliti mengenai permasalahan kesetaraan gaji pihak Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan dengan menggandeng organisasi Internasional yang bernama Internasional Union of Food atau disingkat IUF, International Union of Food, Agricultural, Hotel, Restaurant, Catering, Tembakau dan Asosiasi Serikat Pekerja '(IUF) adalah federasi serikat global serikat buruh, didirikan pada tahun 1920 Organisasi jejak sejarahnya untuk 1889 ketika Federasi Internasional Pekerja Tembakau adalah didirikan dan yang tergabung dalam IUF

pada tahun 1958 pada tahun 2005, IUF terdiri dari 336 organisasi anggota di 120 negara, yang mewakili lebih dari 12 juta pekerja.

Dalam prosesnya SBNI memperlajari teknis atau tata cara dalam bernegosiasi ini juga salah satunya dari IUF yang dinilai sangat penting dalam terlaksananya negosiasi dengan baik dan sangat menentukan hasil akhir dari negosiasi itu sendiri. Selain itu dalam negosiasi banyak tahap-tahap yang harus dilalui untuk menentukan strategi dalam bernegosiasi.

(10)

membantu SB untuk bisa berunding dengan pihak manajemen,

pihak Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan sendiri sangat tidak memahami cara atau teknis negosiasi, ini sangat tidak menguntungkan bagi pihak Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan sendiri, dikarenakan teknis atau tata cara negosiasi itu sangat krusial bagi berlangsungnya kerja sama antara pihak pekerja dan manajemen itu sendiri, bisa dibayangkan jika mereka “buta , bisa

dibayangkan jika hanya pihak manajemen sendiri yang memahami system negosiasi, betapa menderitanya para pekerja, dan tidak berjalanya keadilan yang terjadi diperusahaan tersebut.

Dengan pahamnya teknis atau tata cara negosiasi maka neraca keadilan di suatu perusahaan bisa di seimbangkan, yang dimana tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

permasalahan antara Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan dan Manajemen PT. Nestle Indonesia kejayan sudah mengakar pada 2004, sepuluh tahun yang lalu pihak SBNI yang pada masa itu masih tergabung dalam SPSI tidak menganggap tidak ada perubahan yang terjadi pada masa itu, seperti yang di kutip diatas, dan pihak yang menginisiasi untuk melakukan negosiasi dengan pihak manajemen adalah para pekerja yang dinilai adanya potensi untuk di ajukan dan adanya refrensi dari peraturan pemerintah.

(11)

beberapa ganjalan-ganjalan atau kendala-kendala yang dihadapi oleh pihak Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan sendiri, mulai dari kendala dari internal sampai eksternal.

kendala yang sangat tidak menguntungkan bagi srikat buruh, yang dimana masalah data tentang kesetaraan gaji ini sangat minim dimiliki oleh dirinya dan tim, ketidak terbukaan dari pihak manajemen sendiri sangat sangat disayang kan, karena dengan tidak tebukanya sikap manajemen ini sangat menganggu dalam berjalannya proses kerjasama yang baik antara pihak buruh dan manajemen itu sendiri, dan ditambah dengan kurangnya pelatihan-pelatihan SB dalam menghadapi situasi seperti saat ini, bisa dikatakan pihak SB sangat minim persiapan dalam bernegosiasi dengan pihak manajemen.

Ditambah lagi dengan kendala internal dari kekurangan data pendukung, seperti peraturan kementrian tenaga kerja,

kurang pahamnya atas maslah hokum perburuhan yang dimana ini bisa digunakan sebagai salah satu senjata ampuh dalam melakaukan negosisasi.

Pembagian hak bicara antara rekan – rekan Serikat Buruh Nestle Indonesia

Kejayan di dalam ruangan negosiasi juga menjadi kendala di lapangan, yang dimana hanya satu orang sampai dua orang yang bicara, dan sisanya menjadi sasaran intimidasi dari pihak manajemen untuk menurunkan mental rekan- rekan Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan itu sendiri di dalam ruangan negosiasi.

Di dalam tim negosiasi harusnya ada tim penyeimbang yang dimana tugasnya adalah untuk menyeimbangkan permasalah yang sudah tidak pada fokusnya, ini pula yang menjadi kendala bagi rekan- rekan Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan.

(12)

sudah berjalan dalam negosiasi untuk menambah draf tentang keseteraan gaji antara buruh senior dan junior dalam perjanjian kerja bersama yang sudah disepakati oleh kedua belah pihak pada tahun 2012 sampai 2013. Hal ini dimaksudkan agar pengabdian dari buruh senior bisa diapresiasi oleh pihak perusahaan yang dimana selalu ditargetkan bisa membuat hasil positif setiap tahun.

sebagai perjalanan awal untuk mengupayakan keadilan. Pihak Serikat Buruh Indonesia Kejayan sendiri merubah gaya bermain dalam bernegosiasi dengan cara memfokuskan substansi yang akan dibahas dalam negosiasi yang akan dijalankan guna mendapatkan hasil positif demi kepentingan rekan-rekan mereka sesama buruh nestle kejayan, ini didapat dari refrensi-refrensi yang didapat dari kerja sama dan berafilisasi dengan instansi Dinas KetenagaKerjaan dan Sosial

(13)

dianggap tuntutan itu tidak relevan bagi pihak manajemen.

Pihak manajemen juga menutup akses informasi yang bisa digunakan sebagai data untuk negosiasi dari pihak rekan-rekan Serikat Buruh, jadi untuk menciptakan iklim nonverbal dan mengungkapkan pembicaraan yang jelas rekan-rekan serikat buruh hanya bisa mengandalkan asumsi, dan pada saat negosiasi rekan-rekan merasa kewalahan bukan hanya karena kurangnya data dan pertanyaan yang berupa asumsi tapi juga kurangnya pelatihan bagi rekan-rekan yang bernegosiasi, jadi yang hanya bisa dijadikan refrensi yaitu dari peraturan pemerintah dan pelatihan singkat dari hasil kerjasama dan afiliasi yang sudah dijalankan oleh rekan-rekan Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan sebelumnya, ini sangat tidak menguntungkan bagi kelanjutan negosiasi kedua belah pihak.

(14)

Hasil Negosiasi antara SBNIK dengan

Manajemen Perusahaan dalam kasus

kesetaraan gaji.

Seiring bergulirnya negosiasi, hasil akhir dari semua negosiasi sangat diharapkan untuk memberikan keuntungan bagi semua pihak yang bernegosiasi. Meskipun ada kalanya salah satu dari pihak mengalami suatu kekalahan dalam bernegosiasi, hal ini yang diharapkan oleh pihak Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan tidak terjadi, karena dengan rentang waktu 10 tahun berusaha mencari keadilan dengan pihak manajemen, dan jika itu gagal maka sangat sia-sia perjuangan selama 10 tahun ini.

Pada akhir maret 2014 kesepakatan/ negosiasi antara SBNI Kejayan dengan manajemen telah menemui titik terang yaitu menaikkan Rp. 827.000,00 pada bulan berikutnya untuk buruh senior yang diberikan apresiasi untuk pengabdian mereka.

(15)

KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, maka peneliti dapat menyimpulkan beberapa hal sebagai berikut:

1. Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan mengedapankan aspek politis antara kedua belah pihak. Yaitu bagaimana cara dari pihak Serikat Buruh Nestle Indonesia melakukan negosiasi guna untuk mempengaruhi kebijakan dari pihak manajamen itu tanpa melakukan aksi mogok kerja, anarkis atau hal negative yang bisa menimbulkan dampak negative bagi kedua belah pihak.

2. Terlihat dari penelitian ini, kasus buruh tidak menguntungkan bagi buruh tersebut, dari penelitian ini pula bisa dilihat dari kekolotan pihak manajemen untuk tidak mengindahkan keinginan dari para pekerjanya tersebut, dengan dalih bahwa gaji atau upah mereka

sudah diatas UMK kabupaten, tapi tuntutan sebenarnya dari pihak Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan sendiri adalah adanya penghargaan loyalitas bekerja selama bertahun-tahun dengan dinominalkan menjadi upah mereka, karena bisa di artikan jika para pekerja yang sudah bekerja selama 5-20 tahun tapi hanya mendapatkan gaji yang sesuai dari UMK atau kebijakan manajemen, sedangkan para pekerja baru sudah memiliki upah hamper sama dengan para pekerja yang sudah lama bekerja, ini lah yang menjadi konsen para rekan-rekan di Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan untuk mendapatkan hak loyalitas mereka selama bekerja disana, dan ini juga menjadi dilema saat ini,jika keloyalitasan disandingkan dengan ijasah sarjana.

(16)

Kejayan menemui kendala dalam memperjuangkan nasib rekan-rekannya seperti kurangnya persiapan dalam melakukan negosiasi dengan pihak manajemen, kurang kooperatifnya sifat dari pihak manajemen, masih adanya konflik internal di dalam anggota Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan sendiri, yang dimana terbentuknya mosi tidak percaya kepada ketua saat ini, dan kurangnya solidaritas dari beberapa rekan–rekan anggota sendiri dalam menyikapi permasalahan ini.

4. Upaya yang dilakukan oleh pihak Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan sampai saat ini yaitu ingin mendapatkan respon positif dan hasil yang positif guna menjaga kestabilan kerja dan kerjasama antara buruh dan perusahaan yang nantinya bisa berimbas pada aspek produksi.

5. Hasil dari analisis manajemen konflik dari pihak SB sesuai dengan petunjuk teoritis, namun memiliki kendala di mengendalikan situasi yang berdampak pada minimnya data yang dipeoleh, dan kesalahpahaman yang dialami dan Kurangnya intensitas komunikasi antara kedua belah pihak yang mengakibatkan informasi antara pihak SB dan manajemen saling berbenturan. Dan terjadinya kesalahpahaman antara kedua belah pihak.

(17)

SARAN

Berdasarkan hasil penelitian yang

telah dilakukan, maka saran-saran yang dapat diberikan oleh peneliti adalah sebagai berikut:

1. Didalam penyelenggaraan suatu diskusi atau negosiasi diperlukan adanya kesiapan data dan materi permasalahan, tidak hanya pada kesiapan mental dalam menghadapi situsi seperti ini, bisa disayangkan jika negosiasi gagal hanya masalah ketidak siapan pihak penggugat dalam hal kurangnya data dan materi permasalahan yang dihadapi.

2. Komunikasi antara kedua belah pihak harus dilakukan secara intensif demi menghindari kesalahpahaman yang akan terjadi dikemudian hari, dan kesalahpahaman ini bisa mengakibatkan kegagalan dalam negosiasi itu sendiri dan akibatnya kedua belah pihak akan menghadapi

jalan buntu dalam prosesnya, hal ini juga yang bisa mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan, seperti contohnya mogok kerja, jika terjadi mogok kerja ini akan berpengaruh pada hasil produksi dan akhirnya pihak buruh lah yang akan menjadi korban. 3. Keterbukaan informasi antara kedua

(18)

DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Adrian Sutedi. 2009. Hukum Perburuhan PenerbitSinarGrafika

Bernard Raho,2007. Teori Sosiologi Modern. Jakarta: Prestasi Pustaka Publisher

Flippo B.Edwin. Manajemen Personalia.Penerbit McGraw-Hill, 1986

Karim Abdul Gafar. 1997. Negara dan Masyarakat Sipil. Yogyakarta: Diktat.JIP-UGM. Kurniawan J luthfi.dkk..2008. Negara, Civil Society Dan Demokrasi. Malang : In-TRANS

Publishing.

MoleongLexy J. 2011.Metodologi Penelitian Kualitatif. Penerbit Rosda. Bandung. Muhammad AS. Hikam.1999. Demokrasi Dan Civil Society. Jakarta: LPE3S Prof. Dr. Husain Usman, M.Pd., M.T.2007 .Manajemen ( Teori, Praktik, dan Riset

Pendidikan)penerbit bumiaksara

Robbin.P Stephen.2008. Perilaku Organisasi, penerbit Salemba Empat

Roy J. lewicki bruce barry david M. saunders,2013. Negosiasi/Negotiation,penerbit salemba humanika,

S. P. Robbins,1974. Managing Organizational Conflict: A Nontraditional Approach (Upper Saddle, NJ : Prentice Hall,

INTERNET

http://communicationista.wordpress.com/2010/02/07/manajemen-konflik-dalam-organisasi/diakses pada 21 November 2013 jam 22.31 WIB.

http://en.wikipedia.org/wiki/International_Union_of_Food,_Agricultural,_Hotel,_Restaurant, _Catering,_Tobacco_and_Allied_Workers'_Associationdiaksespada 22

Agustus2014 jam 18.11 WIB.

http://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Pasuruan diakses pada tanggal 22 Agustus2014 jam 21.22 WIB

(19)

http://sumsel.kemenag.go.id/file/dokumen/manajemen konflik diakses pada 21 november 2013 jam 21.43 WIB

http://sumsel.kemenag.go.id/file/dokumen/manajemen konflikdiakses pada 21 november 2013 jam 21.43 WIB

http://sumsel.kemenag.go.id/file/dokumen/manajemen konflik.pdf diakses pada 21 november 2013 jam 21.45 WIB.

http://www.fspbun.org/pengertian-serikat-pekerja-serikat-buruh/diakses pada tanggal 23 April 2014 jam 19.34 WIB.

http://www.pasuruankab.go.id/pages-6-sejarah-singkat-kab-pasuruan.html 22 Agustus2014 jam 21.27 WIB

www.nestle.co.id/diaksespadatanggal21 november 2013 jam 13.11 WIB SUMBER LAIN

Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan tahun 2012 – 2014

CLA 2009-2010 Serikat Buruh Nesle Indonesia. Jurnal serikat pekerja, 2008, Indah Budiartihal 2

Power point OPENING UNION 2007 Serikat Buruh Nestle Indonesia Kejayan

PERUNDANG-UNDANGAN

ILO Recommendation No. 91 Paragraf 2, Konvensi ILO No. 98 Pasal4

Keputusan Menteri No. 48 tahun 2004 pasal 25tentang Perjanjian Kerja Bersama Konvensi ILO No 98.Tentang berlakunya dasar–dasar dari hak untuk bernegosiasi dan

berunding bersama dan juga di ratifikasikan dengan Undang–Undang No 18 tahun 1956

KonvensiInternational Labour Organization (ILO) Nomor 87 tentang kebebasan berserikat dan perlindungan Hak untuk berneegosiasi Kep.Pres No 83.Tahun 1998.

(20)

Undang-Undang No. 13 tahun 2003tentang Ketenagakerjaan

Undang–Undang No. 21 Tahun 2000 Tentang SerikatPekerja / Serikat Buruh Pasal 1 Angka 1

Undang-UndangNomor 13 Tahun 2003 Tentang Ketenagakerjaan Pasal 1 Angka 17

Undang-UndangNomor 2 Tahun 2004 Tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial Pasal 1 Angka 8

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan corporate governance ialah untuk menciptakan nilai tambah bagi semua pihak yang berkepentingan (stakeholder). Jadi dapat disimpulkan dari pengertian di atas