• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Stereotip Merokok Pada Mahasisw

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Gambaran Stereotip Merokok Pada Mahasisw"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

1. Pendahuluan

1.1 Latar Belakang

Perilaku merokok merupakan kegiatan fenomenal, artinya walaupun telah banyak orang yang mengetahui dampak buruk akibat merokok, tetapi jumlah perokok tidak menurun bahkan terus meningkat. Saat ini kelompok umur perokok sangat bervariatif dan bukan menjadi dominasi kaum pria saja, kaum wanitapun mulai menjajaki kebiasaan para kaum pria ini. Dewasa ini menunjukan bahwa kebiasaan merokok telah menjadi trend di kalangan remaja. Bahkan terjadi kecenderungan usia mulai merokok yang semakin muda. Fenomenalnya sebagaian besar para perokok sadar bahwa rokok mampu memberikan efek buruk terhadap kesehatan tubuh seseorang. Dalam asap rokok terkandung 4000 zat kimia yang berbahaya bagi kesehatan. Rokok dapat menyebabkan impotensi, kanker, gangguan jantung, dan gangguan pernafasan seperti sesak nafas, penyakit paru obstruktif kronis serta gangguan kehamilan pada wanita. Walaupun banyak remaja sudah mengetahui dampak negatif dari merokok, tetapi hal tersebut tidak menghalangi para remaja untuk tetap mencoba merokok (Hapsari 2008).

Salah satu faktor yang melatarbelakangi perilaku merokok pada remaja yang dijelaskan dalam sebuah jurnal penelitian Aloise-Young, Hennigan dan Graham (1996), yaitu stereotip perokok. Penelitian ini melihat hubungan stereotip remaja terhadap perokok dengan intensi merokok pada remaja. Dalam penelitian ini dijelaskan stereotip perokok dalam konteks penelitian merokok pada remaja adalah persepsi seorang mengenai kelompok perokok pada usianya.

(2)

Berdasarkan uraian di atas, peneliti mengangkat variabel yang akan diteliti berkaitan dengan perilaku merokok pada remaja. Variabel tersebut adalah stereotip perokok. Fenomena yang telah di jelaskan di atas membuat peneliti merasa tertarik untuk melihat gambaran stereotip perokok terhadap perilaku merokok. Penelitian ini akan mengambil subjek mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia angkatan 2012. Hal ini disebabkan karena peneliti ingin melihat bagaimana gambaran stereotip perokok terhadap perilaku merokok di kalangan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia angkatan 2012.

1.2 Permasalahan Penelitian

Bagaimanakah gambaran stereotip perokok terhadap perilaku merokok pada mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia angkatan 2012 ?

Apakah terdapat perbedaan stereotip perokok antara mahasiswa yang merokok dan yang tidak merokok ?

1.3 Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran stereotip perokok terhadap perilaku merokok mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia angkatan 2012. Selain itu penelitian ini juga bertujuan untuk mengetahui ada atau tidak adanya perbedaan stereotip perokok antara mahasiswa yang merokok dan yang tidak merokok ?

1.4 Manfaat Penelitian

Secara teoritis hasil penelitian deskriptif ini diharapkan dapat menambah wawasan pemikiran mengenai gambaran stereotip terhadap mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia angkatan 2012.

(3)

1.5 Sistematika Penulisan.

Penelitian ini terdiri dari lima bab yang masing-masing meliputi beberapa bagian. Berikut adalah gambaran mengenai masing-masing bab.

 Bab 1 : Pendahuluan

Bab ini berisi latar belakang, permasalahan, tujuan penelitian serta sistematika penelitian.

 Bab 2 : Landasan Teori

Bab ini berisi tinjauan pustaka yang memuat teori-teori yang digunakan untuk mendukung peneliti dan dinamika keterkaitan variabel terikat dan variabel bebas. Teori-teori yang digunakan adalah teori mengenai perilaku merokok, teori stereotip perokok dan hubungannya dengan remaja.

 Bab 3 : Masalah, Hipotesis dan Variabel

Dalam bab ini menguraikan mengenai perumusan masalah, hipotesis, rumusan variabel independen dan variabel bebas.

 Bab 4 : Metode Penelitian

Dalam bab ini akan dijelaskan mengenai metode penelitian yang digunakan, yang terdiri dari tipe penelitian, partisipan penelitian, teknik pengambilan sampel, alat ukur penelitian, prosedur penelitian dan metode pengolahan data.

 Bab 5 : Hasil dan Analisis Data

Dalam bab ini akan diuraikan hasil analisis data dan interprestasi hasil penelitian.  Bab 6 : Kesimpulan, Diskusi dan Saran

(4)

2. LANDASAN TEORI

Pada bab ini akan dibahas mengenai teori-teori yang berhubungan dengan permasalahan dalam penelitian ini, yaitu perilaku merokok, stereotip perokok dan kaitannya dengan remaja.

2.1 Merokok 2.1.1 Definisi

Merokok adalah membakar tembakau yang kemudian dihisap, baik menggunakan pipa ataupun rokok (Sitepoe, 2000). Asap yang dihisap perokok disebut dengan mainstream smoke, sedangkan asap yang keluar dari ujung rokok yang terbakar dan terhisap oleh orang yang ada di sekitar perokok adalah sidestream smoke.

Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa merokok adalah kegiatan membakar tembakau dari rokok yang melibatkan proses memasukan asap ke dalam tubuh dengan cara menghisapnya.

2.1.2 Tahapan Merokok

Ada empat tahap dalam merokok pada remaja sebagaimana dijelaskan oleh Leventhal and Cleary (dalam Oskamp, 1984), yaitu:

a. Tahap persiapan (preparation)

Tahap persiapan muncul sebelum individu pernah mencoba merokok. Tahap ini terdiri dari berkembangnya sikap dan intense tentang perilaku merokok dan citra yang muncul dari merokok. Hal tersebut didapat dari hasil observasi terhadap orangtua, orang dewasa di sekitar dan kesan yang dibentuk dari iklan rokok oleh media yang ada di lingkungan sekitar.

b. Tahap mencoba (initiation)

(5)

Sallin & Peterson (1993) seseorang mulai mencoba merokok adalah pada usia belasan tahun, dan banyak juga yang mencoba selama masa SMP (Papalia, et al, 2004) ; Steinberg, 1999). Keputusan untuk mencoba merokok seringkali terjadi karena desakan dari teman. Pada tahap pencobaan ini umumnya secara fisik tidak menyenangkan, tetapi bagi beberapa orang menginterprestasikan sensasi fisik itu sebagai hal yang tidak penting, sehingga mereka meneruskan untuk merokok hingga masuk pada tahap menjadi perokok tetap.

c. Tahap menjadi perokok (becoming a smoker)

Tahap ini terjadi ketika individu menjadi perokok. Beberapa penelitian menunjukan bahwa diperlukan sekitar dua tahun bagi individu untuk beralih dari ekperimentasi awal ke tahap merokok secara regular. Levental dan Cleary (dalam Oskamp, 1984) menyebutkan bahwa pada tahap ini terjadi proses pembentukan konsep, mempelajari konsep dan menginterlisasikan peran perokok ke dalam konsep diri individu tersebut. Pada tahap ini juga mulai terbentuk toleransi pada efek psikologis. Tahap ini sangat tergangtung pada kelompok teman sebaya dan citra diri yang diasosiasikan dengan merokok.

d. Tahap mempertahankan menjadi perokok (maintenance of smoking)

(6)

2.1.3 Penggolongan Perokok

Gilchrist, Schinke, Bobo dan Snow (dalam Sweeting, 1990) membedakan perokok dalam 3 tipe, yaitu:

a. Experimental smoker, yaitu orang yang pernah mencoba rokok tetapi tidak menjadi

kebiasaan. Orang yang termasuk dalam kelompok ini biasanya tidak atau belum mengalami kecanduan nikotin.

b. Reguler smoker, yaitu orang yang merokok secara teratur dan telah menjadi kebiasaan.

Seseorang yang menjadi perokok regular karena telah mengalami kecanduan nikotin.

c. Non smoker, yaitu orang yang tidak pernah mencoba merokok.

Boshtam dan Zadegan (1994) menggolongkan perokok menjadi tiga tipe berdasarkan jumlah rokok yang dikonsumsikan perharinya:

a. Perokok ringan apabila merokok sekitar 10 batang per hari, b. Perokok sedang menghabiskan 11-12 batang per hari,

c. Perokok berat apabila merokok lebih dari 20 batang per hari.

Selain itu dalam Brotowasisto (2001) menggolongkan perokok berdasarkan waktu merokoknya, yaitu:

a. Perokok ringan merokok dengan selang waktu merokok 60 menit dari bangun pagi. b. Perokok sedang dengan selang waktu merokok 31-60 menit dari bangun pagi. c. Perokok berat dengan selang waktu merokok 6-30 menit dari bangun pagi. d. Perokok sangat berat dengan selang waktu merokok 5 menit dari bangun pagi.

2.1.4 Dampak Merokok

(7)

Hal yang lebih penting lagi adalah akibat rokok yang tidak hanya dirasakan oleh si perokok, melainkan juga harus ditanggung oleh orang-oranga yang ada di sekitarnya (perokok pasif). Perokok pasif yang tinggal bersama perokok memiliki resiko lebih tinggi terkena penyakit kronis (Emmons, 1999). Di samping itu merokok dapat menimbulkan efek adiksi akibat adanya nikotin yang terkandung dalam rokok.

2.1.5 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Merokok pada Remaja Berikut adalah faktor-faktor yang mempengaruhi remaja merokok:

a. Pengaruh teman sebaya disebut menjadi faktor yang paling penting dalam mempengaruhi permulaan merokok pada remaja. Ada 70% dari perokok remaja mengaku merokok saat bersama teman-teman (Biglan, McConnell, Severson, Bavry & Ary dalam Taylor, 1999).

b. Pengaruh orang tua dan orang dewasa lainnya. Remaja yang memiliki orang tua yang merokok memiliki kecederungan yang lebih tinggi untuk merokok. Mereka meniru perilaku merokok orang tua atau orang dewasa lain (Rice, 1996).

c. Iklan rokok. Melalui iklan rokok, perilaku merokok diidentifikasikan dengan maskulinitasi, kebebasan, berjiwa muda, kecerdasan dan gaya hidup hedon (Rice, 1996).

d. Merokok terkait dengan harga diri dan kebutuhan untuk diakui oleh bebrapa remaja. Seringkali remaja yang merokok melakukan perilaku tersebut sebagai alat kompensasi karena mereka jatuh dalam pelajaran atau karena memiliki kebutuhan ego yang hendak dicapai. Pada remaja perempuan biasanya mulai merokok sebagai tanda pemberontakan atau kemandirian (Rice, 1996).

(8)

2.2 Stereotip 2.2.1 Definisi

Istilah stereotip berasal dari bahasa Yunani, stereos (kaku) dan tupos (jejak yang berurut). Dalam Hamilton (2004) stereotip didefinisikan sebagai “mental representations of

groups, in manner paralleling impressions of individuals.” Sedangkan dalam Baron dan Byrne

(2003) stereotip adalah “beliefs to the effect that all member of specific social groups share

certain traits or characteristic”. Dari definisi tersebut dapat disimpulkan stereotip adalah

kerangka kognitif yang berisi pengetahuan dan kepercayaan mengenai suatu kelompok sosial dan sifat-sifat yang dipercaya dimiliki oleh anggota kelompok sosial tersebut.

Bila seseorang memiliki stereotip terhadap suatu kelompok, maka untuk seterusnya ia akan berpikir bahwa semua anggota kelompok tersebut memiliki ciri seperti yang ada dalam stereotip tersebut. Penyamaran atau pengggeneralisasi ciri dan sifat didasarkan pada keanggotaan seseorang di dalam kelompok tersebut. Secara umum stereotip dapat dikatakan sebagai usaha untuk menggeneralisasikan suatu kelompok. Sebagai contoh, ketika seseorang memiliki stereotip perokok berani atau stereotip perokok bandel maka ia akan berpikir bahwa semua perokok adalah seorang yang berani atau semua perokok adalah seorang yang bandel.

Usaha generalisasi ini dilakukan berkaitan dengan informasi yang diterima oleh setiap individu dan adanya keterbatasan dalam pengelolaan informasi. Dalam kasus stereotip perokok, stereotip perokok yang positif terbentuk melalui pembentukan citra sosial dalam masyarakat mengenai perokok dan citra perokok yang disampaikan melalui iklan-iklan rokok yang mengasosiasikan rokok dengan hal-hal positif. Sedangkan stereotip perokok yang negatif terbentuk melalui iklan-iklan anti rokok dan pengalaman negatif yang dialami yang berkaitan dengan rokok.

(9)

2.2.2 Definisi Stereotip Perokok

Salah satu bentuk stereotip adalah stereotip perokok. Dalam penelitian tentang perilaku merokok pada remaja yang dilakukan oleh Aloise-Young, Hennigan dan Graham (1996) stereotip perokok didefinisikan sebagai “image of smokers”. Berdasarkan definisi stereotip tersebut maka disimpulkan stereotip perokok adalah pengetahuan dan kepercayaan seseorang mengeni citra kelompok perokok dan sifat-sifat atau karakteristik yang dipercaya dimiliki oleh kelompok perokok tersebut.

2.2.3 Dinamika Stereotip dan Tingkah Laku Merokok pada Remaja

(10)

3. MASALAH, HIPOTESIS DAN VARIABEL

Pada bab ini akan diuraikan mengenai permasalahan, hipotesis, dan variabel apa saja yang diajukan dalam penelitian.

3.1 Permasalahan Penelitian

Seperti yang telah dikemukakan dalam latar belakang penelitian, permasalahan utama yang diangkat dalam penelitian ini adalah “Seberapa besar pengaruh stereotip perokok terhadap perilaku merokok pada remaja?” dan “Apakah terdapat perbedaan stereotip perokok antara remaja yang merokok dan yang tidak merokok?”

3.2 Hipotesis Penelitian

Terdapat perbedaan stereotip perokok secara signifikan pada remaja yang merokok dengan yang tidak merokok.

3.3 Variabel Penelitian

Variabel dependen (DV) : Perilaku merokok di kalangan remaja Variabel independen (IV) : Stereotip perokok

3.3.1 Variabel Dependen

(11)

3.3.2 Variabel Independen

(12)

4. Metode Penelitian

4.1 Partisipan Penelitian

Partisipan dalam penelitian ini merupakan kelompok remaja pertengahan dengan rentang usia 18 hingga 21 tahun yang merupakan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Indonesia dari angkatan 2012. Jumlah partisipan pada penelitian ini berjumlah 40 orang.

4.2 Metode Penarikan Sampel

Metode yang digunakan untuk menarik sampel adalah non probability dengan teknik

incidental sampling adalah bentuk pengambilan sampel dimana partisipan dipilih karena paling

mudah ditemui atau tersedia (Guildford & Frutcher, 1981). Dengan teknik ini penarikan sampel menjadi lebih mudah.

4.3 Tipe Penelitian

Tipe penelitian yang digunakan ini adalah penelitian non-experimental dengan desain

ex post facto field study. Desain ini digunakan karena penelitian ini bertujuan untuk

mengeksplorasi variabel yang sudah terjadi dalam kehidupan nyata.

4.4 Metode Pengumpulan Data

Metode yang digunakan menggunakan kuesioner. Kuesioner merupakan satu daftar berisikan pernyataan-pernyataan mengenai satu hal atau bidang tertentu yang telah disusun sebelumnya untuk memperoleh data berupa jawaban-jawaban tertulis dari partisipan yang dijadikan sampel (Kumar, 1996).

Kuisioner yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu:

1. Bagian Pengantar, yang berisi identitas peneliti, keterangan mengenai tujuan peneliti, gambaran umum kuesioner, permintaan kesediaan partisipan, jaminan kerahasiaan, data partisipan, dan ucapan terima kasih.

(13)

4.5 Penyusunan Alat Ukur

4.5.1 Alat Ukur Stereotip Perokok

Alat ukur yang digunakan untuk mengukur stereotip perokok adalah kuesioner stereotip perokok. Item-item pada kuesioner disusun berdasarkan hasil elisitasi yang dilakukan peneliti terhadap 20 partisipan yang berkarakteristik sama dengan partisipan penelitian. Ini dilakukan dengan memberikan beberapa pertanyaan, diantaranya:

1. Menurut kamu, bagaimana sifat dan karakteristik yang dimiliki anak seusiamu yang merokok?

2. Menurut kamu, bagaimana kesan yang muncul ketika melihat anak seumuranmu yang merokok?

Selanjutnya hasil elisitasi yang memiliki frekuensi 10% dari partisipan elisitasi (2) dijadikan item pada alat ukur stereotip. Hasil elisitasi dengan stereotip positif dijadikan sebagai sitem favourable dan sebaliknya, hasil elisitasi dengan stereotip negatif dijadikan sebagai item

unfavourable. Format skala yang digunakan dalam alat ukur stereotip perokok ini adalah skala

Likert, yaitu jenis skala yang berisi pernyataan mengenai sikap tertentu dengan menyediakan sejumlah alternatif jawaban untuk dipilih responden, sehingga menunjukkan derajat kesetujuan

(agreement) (Kaplan & Sccuzzo, 2005). Format skala Likert dipilih karena kemudahan dalam

memperoleh data. Hasil elisitasi akan dapat dilihat pada tabel dibawah ini: Tabel 4.1 Tabel Elisitasi

Hasil Elisitasi

Bodoh Disukai

Bandel Kreatif

Jorok Gaul

Norak Berani

(14)

Selanjutnya, hasil elisitasi diatas dikelompokkan ke dalam dua kategori stereotip, yaitu kategori positif dan negatif. Kategori stereotip positif adalah: disukai, kreatif, gaul, berani, dan dewasa. Sedangkan kategori stereotip negatif adalah: bodoh, bandel, jorok, norak, dan buruk.

4.5.2 Cara Scoring Stereotip

Kuesioner Stereotipi diukur menggunakan skala Likert yang memiliki enam pilihan jawaban. Hal ini untuk menghindari partisipan menjawab netral (Kaplan & Saccuzzo, 2005). Keenam kemungkinan jawaban tersebut adalah; sangat tidak setuju (STS), tidak setuju (TS), agak tidak setuju (ATS), agak setuju (AS), setuju (S), dan sangat setuju (SS). Skor untuk STS = 1, dan seterusnya hingga skor 6. Skor diatas lalu di konversi ke dalam tiga golongan respons, yaitu; skor 1 dan 2 digolongkan menjadi “Tidak Setuju”, skor 3 dan 4 digolongkan menjadi “Ragu-ragu”, dan skor 5 dan 6 digolongkan menjadi “Setuju”.

4.5.3 Kuesioner Perilaku Merokok

Kuesioner perilaku merokok tidak berdiri sendiri, melainkan dimasukan ke dalam data kontrol. Skala ini dikembangkan berdasarkan tahapan merokok yang dikemukakan oleh Leventhal & Cleary (dalam Oskamp, 1984) yaitu tahap initiation of smoking and reguler

smoking. Initiation of smoking sebagai proses mulai merokok atau sebanding dengan kategori

tidak pasti. Reguler smoking ditandai dengan perkembangan merokok menjadi satu rutinitas atau kebiasaan.

4.6 Prosedur Penelitian

Terdapat beberapa tahap yang peneliti lakukan dalam penelitian. Peneliti melakukan tahap persiapan yang terdiri dari penyusunan alat ukur dan elisitasi. Pada tahap berikutnya, peneliti melakukan penelitian lapangan dan pengolahan data.

4.6.1 Tahap Persiapan

Pada tahap persiapan peneliti melakukan perumusan masalah penelitian, peninjauan kepustakaan, elisitasi dan menyusun alat ukur yang akan digunakan dalam penelitian ini.

4.6.2 Tahap Uji Coba

(15)

4.6.3 Tahap Pelaksanaan Penelitian

Penelitian dilakukan dengan menyebar 40 kuesioner, berlangsung pada tanggal 24 s.d. 25 Mei 2012 di lingkungan kampus Fakultas Psikologi Universitas Indonesia.

4.7 Metode Pengolahan Data

Proses pengolahan data dilakukan menggunakan aplikasi Microsoft Excel 2013. Pengolahan data yang dilakukan terdiri dari pengolahan data mengenai gambaran umum partisipan, data utama, dan data tambahan yang akan menjawab permasalahan penelitian.

(16)

5. HASIL DAN ANALISIS

Dalam bab ini akan diuraikan hasil analisis data dan interpretasi hasil penelitian yang terdiri atas gambaran partisipan penelitian, hasil penelitian yang menjawab permasalahan utama tentang gambaran stereotip perokok dan perbedaan stereotip perokok bagi remaja yang merokok dan tidak merokok.

5.1 Gambaran Umum Partisipan Penelitian

Dari 40 kuesioner yang disebar, ada 33 kuesioner yang kembali, satu kuesioner tidak lengkap, dan 7 kuesioner lainnya tidak digunakan karena melebihi batas waktu pengembalian. Berikut ini adalah gambaran umum 32 partisipan berdasarkan jenis kelamin, perilaku merokok, dan usia.

5.1.1 Gambaran Partisipan Berdasarkan Prilaku Merokok dan Jenis Kelamin Tabel 5.1 Gambaran Partisipan Berdasarkan Prilaku Merokok dan Jenis Kelamin

Jenis Kelamin

Perilaku Merokok TOTAL

Merokok % Tidak Merokok %

Laki-laki 6 67% 10 44% 16

Perempuan 3 33% 13 56% 16

TOTAL 9 100% 23 100 32

(17)

5.2 Gambaran Stereotip Perokok

Kuesioner Stereotipi diukur menggunakan skala Likert yang memiliki enam pilihan jawaban. Hal ini untuk menghindari partisipan menjawab netral (Kaplan & Saccuzzo, 2005). Keenam kemungkinan jawaban tersebut adalah; sangat tidak setuju (STS), tidak setuju (TS), agak tidak setuju (ATS), agak setuju (AS), setuju (S), dan sangat setuju (SS). Skor untuk STS = 1, dan seterusnya hingga skor 6. Skor diatas lalu di konversi ke dalam tiga golongan respons, yaitu; skor 1 dan 2 digolongkan menjadi “Tidak Setuju”, skor 3 dan 4 digolongkan menjadi “Ragu-ragu”, dan skor 5 dan 6 digolongkan menjadi “Setuju”.

5.2.1 Gambaran Stereotip Perokok pada Partisipan Laki-laki Bukan Perokok Tabel 5.2 Gambaran Stereotip Perokok pada Partisipan Laki-laki Bukan Perokok

Jenis

Dari tabel diatas, diketahui bahwa gambaran stereotip perokok pada partisipan laki-laki bukan perokok cenderung menilai setuju terhadap penilaian negatif tingkah laku merokok.

5.2.2 Gambaran Stereotip Perokok pada Partisipan Perempuan Bukan Perokok Tabel 5.3 Gambaran Stereotip Perokok pada Partisipan Perempuan Bukan Perokok

(18)

Dari tabel diatas, diketahui bahwa gambaran stereotip perokok pada partisipan perempuan bukan perokok cenderung menilai setuju terhadap penilaian negatif tingkah laku merokok.

5.2.3 Gambaran Stereotip Perokok pada Partisipan Laki-laki Perokok

Tabel 5.4 Gambaran Stereotip Perokok pada Partisipan Laki-laki Perokok

Jenis

Dari tabel diatas, diketahui bahwa gambaran stereotip perokok pada partisipan laki-laki perokok cenderung menilai tidak setuju terhadap pernilaian negatif tingkah laku merokok.

5.2.4 Gambaran Stereotip Perokok pada Partisipan Perempuan Perokok

Tabel 5.5 Gambaran Stereotip Perokok pada Partisipan Perempuan Perokok

Jenis

(19)

6. KESIMPULAN, DISKUSI, DAN SARAN

6.1 Kesimpulan

Berdasarkan hasil dari kuisioner yang telah kami olah dan kami hitung, kami menyimpulkan bahwa partisipan bukan perokok baik laki-laki maupun perempuan cenderung memiliki stereotip negatif terhadap tingkah laku merokok. Sedangkan untuk partisipan perokok laki-laki dan perempuan, terdapat stereotip yang berbeda, yaitu partisipan perokok laki-laki cenderung memiliki stereotip positif terhadap tingkah laku merokok. Namun untuk partisipan perempuan perokok, kami menemukan fenomena bahwa mereka memiliki stereotip negatif terhadap tingkah laku merokok.

6.2 Diskusi

Hasil penelitian kami mendukung hipotesis sebelumnya, dimana terdapat perbedaan stereotip perokok secara signifikan pada remaja yang merokok dengan yang tidak merokok. Hal ini dibuktikan oleh data yang kami peroleh, yaitu partisipan bukan perokok baik laki-laki maupun perempuan cenderung memiliki stereotip negatif terhadap tingkah laku merokok. Sedangkan untuk partisipan perokok, pada partisipan perokok laki-laki cenderung memiliki stereotip positif terhadap tingkah laku merokok, dan untuk partisipan perokok perempuan ternyata cenderung memiliki stereotip negatif terhadap tingkah laku negatif.

Hal diatas menjadi perhatian khusus bagi kami sebagai peneliti, karena terjadi perbedaan stereotip pada tingkah laku merokok untuk partisipan perokok laki-laki dan perempuan. Meskipun secara umum terdapat perbedaan stereotip antara partisipan perokok dan bukan perokok.

(20)

Stereotip perokok pada remaja terbentuk melalui iklan-iklan rokok dan pengalaman. Ketika remaja menangkap iklan rokok yang biasanya mengasosiasikan rokok dengan pergaulan, gaya hidup modern dan kedewasaan, maka akan membentuk stereotip positif dari perokok. Stereotip inilah yang mendorong mereka mencoba menggunakan rokok untuk menampilkan karakteristik tersebut sebagai cara untuk menkomunikasikan citra diri yang mereka inginkan (Aloise-Young, Hennigan dan Graham, 1996).

6.3 Saran

Berdasarkan hasil penelitian dan kesimpulan yang telah diuraikan di atas, maka ada beberapa saran yang perlu untuk diperhatikan, yaitu:

1. Setiap penelitian selalu memiliki persiapan, dan persiapan yang optimal mampu membawa penelitian yang optimal juga. Diharapkan dalam penelitian selanjutnya, tahapan persiapan yang di dalamnya terdapat penentuan anggota peneliti beserta tugas-tugasnya mampu dibagi secara adil dan proporsional, agar beban kerja setiap anggota kelompok merata.

2. Terkait metode pengolahan data, kami menyarankan kepada peneliti selanjutnya untuk lebih menguasai aplikasi-aplikasi pendukung penelitian seperti SPSS, dan atau Microsoft Excel karena akan lebih memudahkan peneliti dalam mengolah data dan memberikan akurasi yang lebih terhadap hasil yang didapat.

3. Berkaitan dengan pembentukan stereotip perokok, kami menyarankan untuk melakukan usaha pencegahan tingkah laku merokok dengan upaya yang bersifat

counter argument terhadap citra positif tingkah laku merokok maupun rokok itu

sendiri di mata remaja dengan membuat iklan anti rokok yang menarik.

(21)

DAFTAR PUSTAKA

Aloise-Young, P.A., Hennigan, K.M and Graham, J.W. (1996). Role of the Self-image and Smoker Stereotype in Smoking Onset During Early Adolescence: A Longitudinal Study. Health Psychology. Vol.15, No.6.494-497.

Baron, R. A. & Byrne, D. (2003). Social Psychology 10th edition. Massachusetts: Allyn & Bacon.

Barton, J., Chassin, L.,Pressons, C.C., & Sherman, S.J. (1982). Social Image Factors as Motivators of Smoking Initiation in Early and Middle Adolescence. Child Development. Vol. 53, No.6. 1499-1511. Diakses 17 April 2008

darihttp://www.jstor.org/stable/1130077.

Boshtam, M.R., & Zadegan, N.S. (1999). Lipid profiles in the Isfahan population: an Isfahan cardiovascular disease risk factor survey. Eastern Mediterranean Helath Journal. Vol. 5. No. 4. 766-777.http://www.emro.who.int/Publications/EMHJ/0504/14.htm diakses 16 April 2008.

Brotowasisto, S.P. (2001) Aspek Psikologis dari Merokok. Paper Ceramah pada Seminar dan Diskusi Perilaku Merokok ditinjau dari Paradigma Psikologi, Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi dan Lingkungan Hidup.

Emmons, K.M. (1999). Smoking Cessation and Tobacco Control: An Overview. America College of Chest physicians, 116.

490-492.http://chestjournal.org/cgi/content/abstract/116/suppl_3/490S. Diakses 19 Juni 2008.

Hamilton, D.L. (2005). Social Cognition. New York: Psychology Press.

Hapsari, H. (2008). Bahaya Merokok di Usia Dini. Koran Seputar Indonesia, 6 Februari. 30. Hapsari, H. (2008). Pengaruh Kuat “In Group”. Koran Seputar Indonesia, 6 Februari. 30. Kaplan, R.M., Sallis, J.F & Peterson, T.L. (1993). Health and Human Behaviour. USA :

Mc.Graw-Hill.

Kumar, R. (1996). Research Methodology. London: SAGE Publications. Myers, D.G. (1996). Social Psychology 2nd edition. Boston: McGraw-Hill. Oskamp, S. (1984). Applied Social Psychology. New Jersey: Prentice-Hall, Inc. Papalia, D.E. (2004). Human Development 9th edition. Boston: McGraw-Hill.Inc. Sweeting, R.L. (1990). A Value Approach to Health Behaviour. Illinois: Human Kinetic

Gambar

Tabel 4.1 Tabel Elisitasi
Tabel 5.1 Gambaran Partisipan Berdasarkan Prilaku Merokok dan Jenis Kelamin
Tabel 5.2 Gambaran Stereotip Perokok pada Partisipan Laki-laki Bukan Perokok
Tabel 5.4 Gambaran Stereotip Perokok pada Partisipan Laki-laki Perokok

Referensi

Dokumen terkait

Intention sendiri dipengaruhi oleh tiga determinan, yaitu evaluasi yang dimiliki remaja perokok terhadap perilaku berhenti merokok yang akan membentuk sikapnya

hubungan antara kepercayaan diri dengan perilaku merokok pada remaja, diharapkan untuk remaja yang perilaku merokoknya termasuk dalam kategori tinggi atau sedang

personal characteristic mempengaruhi perilaku merokok pada remaja, dari hasil wawancara dengan ketiga subjek bahwa subjek mempunyai keyakinan diri untuk merokok..

Berdasarkan hasil penelitian terkait persepsi siswa yang dilakukan oleh Nurhidayat (2012), hasilnya menyebutkan bahwa persepsi positif remaja tentang perilaku merokok

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan mengenai gambaran faktor- faktor yang mendukung perilaku merokok pada remaja kelas X di SMK Muhammadiyah 3 Yogyakarta,

ABSTRAK Hubungan antara Lingkungan Perokok, Persepsi Manfaat Merokok, Jumlah Batang Rokok dan Kualitas Hidup Terkait Kesehatan pada Remaja Perokok Serta Tinjauannya Dalam Islam

Tabel 1 Gambaran faktor-faktor yang berperan dalam perilaku merokok pada remaja seluruh responden Faktor-faktor Frekuensi Persentase Konteks/lingkungan remaja Keluarga family

30 BAB V KESIMPULAN 5.1 Kesimpulan Berdasarkan uraian pada hasil dan pemabahasan, dapat di tarik kesimpulan yaitu : 5.1.1 Perilaku Merokok Faktor-faktor penyebab remaja merokok