• Tidak ada hasil yang ditemukan

Media Massa dan Hegemoni Negara Terhadap

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Media Massa dan Hegemoni Negara Terhadap"

Copied!
72
0
0

Teks penuh

(1)

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Marjinalisasi terhadap kaum perempuan sudah lama berlangsung dalam sejarah kehidupan manusia. Bahkan jika memahami konteks sejarah keberadaan manusia dari sudut pandang agama, maka hakekatnya marjinalisasi terhadap perempuan sudah terjadi ketika manusia pertama ada dimuka bumi. Perkembangan sejarah kemudian mencatat bahwa marjinalisasi itu tidak semakin berkurang melainkan justru meningkat dan mengakar dalam bentuk budaya dan nilai-nilai estetika yang di yakini kebenaran dan keabsahannya oleh sebagian besar manusia, bahkan terkadang termasuk oleh perempuan itu sendiri. Situasi ini lalu melahirkan sebuah sistem budaya patriarkhis yang sangat merugikan kaum perempuan. Sistem budaya patriarkhis ini semakin kuat berakar dan seakan memiliki legalitas kebenaran ketika Negara, sebagai struktur dominan dalam masyarakat, ikut memelihara dan melakukan pembiaran terhadap nilai nilai yang terjadi dan merugikan kaum perempuan.

Hegemoni dan dominasi laki-laki di politik dan parlemen dapat dilihat pada minimnya aktivitas dan politisi politik perempuan yang kondisi tersebut secara linier berakibat pada jumlah anggota legislatif perempuan di parlemen. Pada pemilu 1999 jumlah perempuan hanya mencapai 9 persen dari keseluruhan jumlah anggota parlemen, sementara pada pemilu 2004 yang telah ada ketentuan kuota, keterwakilan perempuan hanya mencapai 11 persen. Atas dasar kenyataan tersebut, maka aktivitas politik bagi perempuan menjadi sangat penting dan mendesak harus dilakukan sehingga keterpurukan perempuan di politik tidak semakin besar. Keterpurukan perempuan tersebut harus diubah baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Persoalan kuantitas sebagaimana nyatakan menurut Tumbu Saraswati dan Chusnul Mari’iyah dari wawancara, yang menyatakan bahwa kuantitas perempuan di parlemen mempengaruhi keberhasilan perjuangan sebuah isu-isu perempuan

(2)

Dalam konsep Gramsci, keseimbangan posisi tawar antara gerakan perempuan, yang lalu direpresentasikan sebagai masyarakat sipil, dengan negara, yang lalu disebut sebagai masyarakat politik, akan melahirkan pertarungan ide antara keduanya. Hegemoni negara bisa saja kalah dan pertarungan ide dapat dimenangkan oleh kaum perempuan sehingga akan muncul nilai nilai baru yang lebih berpihak kepada kaum perempuan. Pada fase ini Gramscy menyebutnya sebagai gerakan ‘counter hegemoni’, dimana kaum perempuan mampu tampil dan elahirkan hegemoni baru setelah memenangkan pertarungan ide melawan hegemoni lama.

Dalam upaya melakukan ‘counter hegemoni’, kaum perempuan, sebagaimana di sebutkan diatas, harus memiliki posisi tawa (bargaining position) yang tinggi. Posisi tawar yang tinggi sangat dipengaruhi oleh banyak instrumen pendukung yang salah satunya adalah Media. Kebutuhan akan dukungan media Industri menjadi pilihan yang tidak dapat dihindari. Hal ini disebabkan Media Industri memiliki gaung yang lebih luas dan cenderung lebih dapat diterima oleh publik dibanding media komunitas. Disamping itu Media industri juga mampu menempatkan dirinya sebagai instrumen yang dibutuhkan masyarakat. Hal ini disebabkan oleh hubungan saling ketergantungan yang kuat antara media industri dengan masyarakat itu sendiri.

Yang menjadi masalah adalah ketika Media Industri, sebagai elemen penting untuk menaikan posisi tawar kaum perempuan terhadap negara, justru berperan sebagai pendukung budaya patriarkhis yang berlaku ditengah masyarakat. Situasi menjadi semakin tidak menguntungkan bagi gerakan kaum perempuan ketika negara, yang juga memiliki kepentingan dengan media industri, memanfaatkan kekuasaannya untuk melakukan ‘perselingkuhan sosial (social conspiration) dengan media industri. Perselingkuhan sosial antara negara dengan media industri sangat mungkin terjadi terutama jika para pemilik media industri itu adalah bagian dari masyarakat politik atau memiliki kepentingan dengan masyarakat politik yang berkuasa.

Media Industri, sebagai sebuah institusi yang memiliki ideologi kapital, memang bukan tidak mungkin dimanfaatkan oleh gerakan kaum perempuan untuk memperjuangkan ide ide nya, terutama jika mengingat bahwa ideologi kapitalis sangat menekankan pada orientasi financial (profit oriented). Orientasi financial itu sendiri sangat dipengaruhi oleh seberapa banyak sebuah media industri mampu meraih peminat dikalangan masyarakat. Masyarakat sendiri, meski dengan pola budaya patriarkhis yang mereka miliki, sangat memiliki kepentingan akan pengetahuan yang sebagian besar dapat mereka peroleh melalui media industri.

(3)

mengangkat isu isu perjuangan agar mampu bermain dalam ‘arena pasar’ yang laku jual agar dapat terus memaksa media industri berperan sebagai sarana sosialisasi mereka sehingga pada akhirnya dapat tercipta opini publik yang lebih mendukung ide ide yang mereka perjuangkan. Opini publik inilah yang lalu akan menjadi salah satu instrumen penting untuk menaikan posisi tawar mereka terhadap negara.

Perjuangan counter hegemoni kaum perempuan sangat sulit dilakukan jika perjuangan dilakukan secara parsial / terpecah. Sejarah Indonesia mencatat bahwa spirit individual Kartini maupun ‘fighting movement’ seorang Dewi sartika ternyata tidak memiliki posisi tawar signifikan untuk mengubah nilai budaya yang ada bahkan pada tataran ‘melintas tembok’ sekalipun. Pada konsep ini jelas bahwa ‘ideologi pembebasan’ ternyata tidak cukup ampuh untuk menambah daya gerakan melainkan sebuah kebersamaan visi dan misi dari seluruh elemen perjuangan yang akan mampu melahirkan energi besar kaum perempuan untuk mencapai tujuan. Dan energi besar itu adalah ‘collective will’ dari kaum perempuan itu sendiri. Dari sini jelas bahwa menjadikan ‘collective will’ sebagai sebuah ideologi perjuangan merupakan sebuah keharusan agar ide ide perjuangan kaum perempuan itu memiliki energi yang konstant dan signifikan.

B. Pokok Permasalahan dan Tujuan Penelitian

Mengubah suatu konstruksi budaya memang tidak mudah, baik pada tataran wacana maupun praktis. Meski demikian, hal itu tidak lalu berarti bahwa upaya kearah perubahan tidak bisa dilakukan, bahkan menjadi semakin mendesak untuk memperjuangkan norma-norma hukum dan kebijakan yang lebih membela perempuan (sensitive gender). Perjuangan ini diharapkan bisa membuat kondisi perempuan secara perlahan dan pasti berubah menjadi lebih baik, terutama di ruang politik, sehingga tidak tertinggal jauh dengan laki-laki. Dengan dilakukan secara terus menerus mengupayakan jumlah keterwakilan perempuan di parlemen meningkat sehingga mencapai jumlah dan kualitas yang memadai dalam setiap setiap komisi di DPR (14 komisi). Peningkatan kuantitas yang juga dibarengi dengan kualitas tersebut diharapkan mampu mewarnai prilaku politik anggota legislatif laki-laki. Keterwakilan yang seimbang akan menjadi mendukung proses perjuangan isu-isu perempuan lebih berhasil dan sekaligus representasi dari sistem demokrasi yang dianut oleh bangsa Indonesia.

(4)

Affirmative action adalah suatu alat penting untuk memperjuangkan mencapai 30 persen perempuan secara realistis di parlemen agar perempuan mampu bermain pada tingkat pembuatan keputusan. Salah satu kekuatan penggerak lainnya adalah media massa. Media massa pada era aktivitas politik modern adalah element penting dan bahkan sangat menentukan persepsi politik yang berlangsung. Perjuangan perempuan atau masyarakat sipil, yaitu kelompok-kelompok perempuan, dalam upaya mewujudkan aturan legal peningkatan keterlibatan/partisipasi perempuan di politik dan anggota parlemen tidak terlepas dari peranan media massa. Peranan media massa hampir tidak mungkin dinafikan, bahkan seringkali menjadi kekuatan penekan yang ampuh dalam menggerakkan perjuangan tersebut dalam bentuk menciptakan opini dan persepsi publik dan masyarakat sipil lainnya sehingga masyarakat atau kelompok perempuan dapat melakukan kontrol terhadap proses perjuangan yang berlangsung.

Media massa dengan segenap perangkatnya juga memiliki kepentingan dan ideologi sendiri. Dalam Konsep Gramcsi, media massa diinterpretasikan sebagai instrument untuk meyebarluaskan dan memperkuat hegemoni dominan, akan tetapi media sekaligus dapat juga digunakan untuk menyebarluaskan dan memperkuat ide-ide dan gerakan counter hegemoni. (Stillo, 1999:10)

Dalam realitas ideologi kapitalisme, hegemoni dan dominasi laki-laki juga berlangsung di media. Media tidak mungkin melepaskan diri dari kepentingan-kepentingan institusi pengelola media itu sendiri. Akibat kecenderungan media dikelola sebagai industri adalah munculnya kapitalisme media. Kondisi tersebut diperkuat oleh cara berpikir pengelola media itu sendiri yang dibentuk oleh pemahaman budaya patriarkhi mengakibatkan tayangan-tayangan mengenai perempuan hanya teks seputar rumah tangga dan fashion. Hal ini terjadi bukan hanya pada tayangan yang besifat hiburan tapi juga pada tayangan berita yang semestinya lebih netral. Gambaran atau prototipe perempuan pada umumnya lebih kepada apa yang disukai dan laku dijual oleh media massa yang lalu mempengaruhi tulisan dan persepsi tentang perempuan dan aktivitas mereka di politik.

Pertanyaan penelitian yang dapat dirumuskan adalah :

1. Apa konsep-konsep/tema utama yang muncul dari teks media yang berkaitan dengan kuota 30 % perempuan di parlemen ?

(5)

3. Apakah media dapat dianggap sebagai alat penyebaran dan penguatan bagi masyarakat politik (negara, DPR dan partai politik), ataukah dipergunakan sebagai alat penyebaran dan penguatan perjuangan perempuan (masyarakat sipil) ?

4. Apakah proses perjuangan ketentuan khusus sementara kuota 30 % dicantumkan dalam UU Pemilu Tahun 2003 oleh pejuang perempuan (masyarakat sipi) dapat dianggap sebagai gerakan counter hegemoni ?

5. Mengapa Ideologi (superstruktur) dan kekuatan subyektif perempuan menjadi hal penting dalam praktek politik (political praxis) dalam upaya memperjuangkan hegemony –counter hegemoni ?.

Berdasarkan pertanyaan diatas, maka tujuan penelitian adalah :

1. Menemukan dan mengeluarkan tema/topik utama, mengetahui makna dan konsep-konsep yang menghubungkan alur dari isi teks surat kabar KOMPAS dan Media Indonesia mengenai perjuangan ketentuan kuota 30 persen keterwakilan perempuan di parlemen.

2. Menjelaskan posisi media massa dalam proses perjuangan kuota 30 persen keterwakilan perempuan di parlemen: menjadi alat penyebaran dan penguatan bagi masyarakat politik (negara, DPR dan partai politik) atau dapat juga dipergunakan sebagai alat penyebaran dan penguatan perjuangan perempuan (civil society). 3. Mengungkapkan proses perjuangan ketentuan khusus sementara kuota 30 %

dicantumkan dalam UU Pemilu Tahun 2003 oleh pejuang perempuan (civil society) sebagai gerakan counter hegemoni.

4. Menjelaskan Ideologi (superstruktur) dan kekuasaan subyektif menjadi kekuatan dalam praktek politik (political praxis) memperjuangkan hegemony –counter hegemoni.

C. Signifikansi Penelitian

(6)

Secara akademis / teoritis, analisis Gramscian dalam study ini menawarkan ideologi dan re-konstruksi awal bagi gerakan kaum perempuan untuk meneruskan perjuangan menuju kesetaraan dan keadilan gender karena affirmative action tentang kota 30 % di parlemen bukanlah merupakan keberhasilan final dari hakekat tujuan gerakan perempuan itu sendiri. Pemahaman terhadap posisi media industri dalam studi ini juga di harapkan dapat memberikan pemahaman baru terhadap konstruksi komunikasi antara gerakan kaum perempuan dengan media itu sendiri.

Dalam lingkup teknis/metodologis, studi ini merupakan usaha untuk menganalogikan secara korelatif situasi dan gerakan perjuangan kaum perempuan serta kaitannya dengan keberadaan media massa melaui analisis Gramscian yang belum pernah dilakukan sebelumnya.

II. KERANGKA PEMIKIRAN TEORITIK

Paradigma yang dipakai dalam penelitian mengenai Media Massa dan Hegemoni Negara terhadap Realitas Perempuan,; Analisis Gramscian atas Proses Affirmative Action, Kuota 30 % adalah “Paradigma Kritikal” atau Critical Theory, yaitu Paradigma yang bercirikan Ideologically oriented inquiry seperti pendekatan neo-Marxism, materialism, feminism, participatory inquiry dan beragam teory lainnya yang termasuk teori kritikal (Guba, 1990:23).

Epistemologinya bersifat transactional and subyectivist, maksudnya adalah peneliti dan obyek yang diteliti diasumsikan harus saling berinteraksi satu dengan lainnya. Sedangkan tataran metodologi menggunakan pendekatan dialogic and dialectical, yaitu transactional nature of inquiry, paradigma ini membutuhkan dialog antara peneliti dan subyek penelitian, dimana diharapkan dialog yang berlangsung haruslah bersifat dialectikal secara alamiah untuk mentransformasikan penolakan dan kesalahpamahaman sehingga menjadi lebih tercapai kesadaran untuk melihat dan menciptakan perubahan sebuah struktur. Giroux (1988) menyebut situasi tersebut dengan “as transformative intelectuals” (dalam Egon C. Guba and Yvonna S. Lincoln, 1994: 110).

A. Media Massa dalam konstalasi Pertukaran Posisi (war of position) antara Masyarakat politik dan Masyarakat Sipil

(7)

sistim politik, ekonomi dan budaya perusahaan. Pengaruh ideologi dan sistem kepercayaan (system belief) media mempengaruhi proses produksi, skala produksi dan difusi komunikasi. Skala produksi dan difusi komunikasi adalah aktivitas yang selalu dilakukan media dengan segala perangkat di dalamnya yang berakibat pada ketergantungan media terhadap khalayak mereka dan sebaliknya ketergantungan khalayak terhadap media massa.

Media mampu menyediakan beragam informasi yang dibutuhkan dan menentukan pembentukan realitas, pemikiran dan pandangan tertentu tentang dunia dan realitas sosialnya (Fenton, dalam Taylor,edt. 1999:297). Lebih lanjut dijelaskan oleh Jenny Kitzinger (dalam Greg Phillo, edt, 1999:16), bahwa media memperkenalkan orang pada fakta, fase-fase kehidupan dan sejarah dunia atau image yang kesemuanya terkadang menjadi satu serta menjadi alat yang sangat efektif untuk mengetahui keakuratan informasi yang disajikan.

Media juga merupakan bagian dari industri budaya yang terikat dengan sistem komunikasi masyarakat yang dikelola sebagai sebuah organisasi industri yang memiliki kepentingan dan kecenderungan tersendiri. Kepentingan dan kecenderungan media ditentukan oleh sistem sosial, ekonomi, budaya dan politik lingkungan media tersebut menentukan konstruksi kerangka pikir, kerja dan prilaku mengelola media dan media massa.

Media massa memang tidak mungkin melepaskan diri dari nilai, ideologi, kepentingan dan sistem kehidupan yang ada dimana media tersebut tumbuh dan berkembang. Atas dasar pertimbangan tersebut, maka media massa dalam pemahaman para ahli Marxist adalah suatu kekuatan yang mampu menentukan realitas mereka berdasarkan realitas nilai, ideologi dan sistem yang ada.

Cara media memaknai realitas sangat tergantung pada sistem belief dan ideologi yang dianut media massa tersebut. Hal itu karena media disamping sebagai institusi bebas, juga memiliki kontrol terhadap lingkungannya dan sekaligus dikontrol oleh masyarakat, baik civil society maupun political society, khususnya negara. Kontrol terhadap media sangat tergantung dari pengaruh kekuatan dominan dalam masyarakat tersebut yang mengakibatkan sumber-sumber media teralokasi dan pada akhirnya digunakan oleh struktur kapitalis yaitu mode of production (Garnham, 2000:27)

(8)

dimana institusi tersebut secara konstan berjuang melalui makna dan kekuasaan. (1999:299). Ideologi dominan inilah yang kemudian menentukan dan mamaknai realitas sosial, budaya dan politik masyarakat politik dan masyarakat sipil termasuk didalamnya realitas politik perempuan.

Media dalam konteks tersebut justru berperan menjadi bagian dari kelompok penguasa dan borjuis, yaitu masyarakat politik dan ideologi dominan, sehingga media hanya mentransformaiskan satu warna atau kecenderungan realitas dimana realitas tersebut dikuasai oleh ideologi kelompok penguasa. Situasi ini sesuai dengan Pemahaman media massa menurut teori-teori Marxist yang berprinsip bahwa media sebagai ‘instrument’,, dan berposisi sebagai pemelihara apa yang pemilik perusahan komunikasikan dan digunakan untuk mengontrol. Kontrol dilakukan atas produksi budaya dengan tujuan untuk memelihara ‘’status quo’.

Antonio Gramsci memandang media bukan hanya alat yang dapat dipergunakan oleh penguasa atau pengelola media dengan nilai-nilai mereka dan mendukung nilai tersebut (determinictic approach). Menurut Gramsci (Stillo, 1988:8), media juga ‘dapat’ dimanfaatkan oleh civil society, yang dalam kasus ini, kaum pejuang perempuan untuk menyebarkan dan memperkuat ide-ide pembebasan. Semuanya tergantung pada kerja perempuan untuk berupaya agar media menjadi bagian dari perjuangan yang dilakukan, sehingga isi teks media tidak hanya sebagaimana kecenderungan selama ini yaitu dalam bentuk yang dipengaruhi oleh konstruksi budaya patriarkhi dan idealogi kapitalis, tetapi juga dapat muncul alternatif-alternatisf isi dan tayangan media dengan beragam perspektif sehingga memungkinkan terjadinya perdebatan ‘publik’ tentang ide, konsep dan bahkan ideologi tentang apa yang sesuai di masyarakat. Adanya kemungkinan ragam alternatif perspektif yang melandasi isi media sangat penting untuk menciptakan ragam pemahaman atas realitas yang ada. Pemahaman dan pemaknaan realitas seharusnya tidak hanya dikuasai oleh satu-satunya perspektif yang kemudian sangat mungkin memaksa masyarakat dan sistem untuk hanya menggunakan dan mengetahui (common sense) satu perspektif untuk memahai realitas social, budaya dan politik yang terjadi, tetapi tetap harus terbuka dan tersedia wacana bahwa sebuah realitas dapat dipahami dari beragam perspektif, juga sebaliknya bahwa perspektif untuk memahami realitas sangat banyak.

(9)

paling berpengaruh saat ini karena media massa pada dasarnya merupakan representasi masyarakat tertentu yang bentuk komunikasi dan ekspresi budayanya ditentukan oleh hubungan antara struktur sosial yang ada dalam masyarakat tersebut. (Murdock dan Golding, 1987:13).

Pentingnya memahami dan memilih komunikasi politik secara tepat akan sangat mampu menciptakan proses politik untuk mencapai keinginan, baik partai politik, negara maupun organisasi perempuan dalam memperjuangkan kepentingan perempuan seperti UU Partai Politik. UU Pemilu, UU KDRT, UU Buruh Mingran, UU Tenaga Kerja, UU Perkawinan dll.

Thompson (1990:98) menjelaskan bahwa dalam proses konstruksi inAilah media terikat dengan beragam kepentingan termasuk didalamnya adalah kepentingan media sendiri sebagai sebuah institusi yang memiliki ideologi dan hegemoni tersendiri memiliki apa yang dinamakan

’coorporate logic’. ‘Coorporate logic’ adalah kerangka pikir, kerangka kerja, tujuan dan yang lebih hakekat adalah ideologi sebuah perusahan yang mempengaruhi bahkan menentukan aktivitas perusahan. dominan.

Konstruksi perempuan melalui media massa masih sangat kuat dipengaruhi ibudaya patriarkhi. Media masih melihat dan memahami perempuan dalam wilayah domestik sedangkan laki-laki dalam wilayah publik. Produksi media menurut Daniel Chanler dalam artikel Marxist Media Theory, tampak seperti satu cara, jalan dan sikap yang cenderung mengekspresikan hal yang seragam (monolithic expression) dari nilai-nilai kelas penguasa, dan menolak perbedaan bentuk yang muncul.

Hasil penelitian yang dilakukan McNeal (2000:43) menemukan bahwa gerakan perempuan telah ditolak-mentah-mentah secara luas oleh media khususnya televisi, jika dibandingkan dengan persoalan-persoalan rumah tangga, perkawinan dan fashion. Tampilan-tampilan media yang sangat mendukung satu cara pandang tentang perempuan dan realitas mereka telah menyebabkan banyak kaum perempuan justru memperkuat nilai-nilai yang merugikan partisipasi dan keterwakilan mereka di politik. Hal itu semua mengakibatkan diskriminasi sosial dan politik terhadap kaum perempuan. Dan kondisi keterpurukan perempuan di politik dialami oleh perempuan hampir di seluruh dunia , kecuali hanya dibeberapa negara Skandanavia. Karennanaya proses produksi media dan konsumsi sangat ditentukan oleh kepentingan ideologi dominan yaitu kaum penguasa dan ideologi kapitalisme.

(10)

dipergunakan untuk menyebarluaskan dan memperkuat ide-ide civil society. (Stillo, 1998: 5) Tetapi sangat tergantung pada kekuatan civil society itu sendiri untuk memenangkan media sehingga mendukung aktivitas dan kerja counter hegemoni mereka. Perjuangan melibatkan media adalah penting karena memang tidak mungkin menafikan peranan media massa dalam hampir semua aspek kehidupan terutama di era modern sekarang ini.

Peran media semakin penting karena sebuah realitas tentang baik dan buruk, benar dan salah dapat terbentuk melalui media massa. Sebagaimana dikatakan oleh Gurevicth (1992:76) bahwa media mampu mengkonstruksi images tentang dunia dan kehidupan sosial serta mendifinisikan realitas sosial. Dalam hal ini, anggota masyarakat atau khalayak mempelajari tentang dunia sosial dan tentang dirinya dari representasi media tentang masyarakat. Media massa karenanya sangat mampu mengkonstruksi, memberi identitas dan membentuk imej terhad seseorang, sebuah kelompok, sebuah negara dll dengan realitas tertentu termasuk bagaimana media massa memberi identitas pada proses dan peristiwa politik termasuk terhadap seorang kandidat.

B. Hegemoni – Counter Hegemoni Antonio Gramsci sebagai Kekuatan Masyarakat Sipil.

Dalam buku ‘Gagasan-Gagasan Politik Antonio Gramsci’ (Roger Simon,1999:11), konsep Gramsci tentang hegemoni dinyatakan sebagai konsep yang sangat maju. Konsep ini dibangun atas dasar pengakuan bahwa perjuangan demokrasi rakyat dan lembaga-lembaga parlementer yang telah terbentuk tidak perlu memiliki karakter kelas. Sebaliknya lembaga-lembaga tersebut harus menjadi jalur bagi perjuangan politik antara dua kelas utama yaitu kelas pekerja dan kelas kapitalis. Untuk bergerak maju menuju sosialisme, gerakan buruh harus menemukan cara untuk mempertautkan perjuangan-perjuangan demokrasi rakyat ini dengan tujuan-tujuan sosialis yaitu dengan membangun aliansi yang memungkinkan untuk meraih kedudukan kepemimpinan nasional (hegemoni). Bentuk masyarakat ini yang lalu dinamakan oleh Gramcsi dengan masyarakat sipil (civil society).

(11)

Konsep ‘civil society’ menurut Gramsci sangat penting dalam proses transisi dan perubahan yang diperjuangkan (1999:12). Gramsci membedakan antara lembaga-lembaga publik negara dengan masyarakat sipil yang terdiri dari semua organisasi swasta yang bersifat sukarela seperti serikat pedagang, partai politik, gereja, organisasi masyarakat dan oraginisasi amal.

Hegemoni kelas penguasa dan ideologi dominan dijalankan dalam masyarakat sipil dengan mengajak kelas-kelas yang berada di bawahnya (subordinate classes) untuk menerima nilai-nilai dan gagasan-gagasan yang telag diambil oleh kelas yang dominan itu sendiri dengan cara membangun jaringan kerja sama yang didasarkan atas nilai-nilai tersebut. Langkah-langkah Sosialisme dilakukan dengan membangun hegemoni tandingan (hegemoni-counter-hegemoni) oleh perempuan sebagai civil society. Langkah ini memerlukan proses reformasi moral dan ideologi yang panjang. Gramcsi menyebutkanya ‘’perang posisi’ (war of position). (Stillo, 1999:4-8).

Perang posisi menurut Gramsci (Stillo.1999:8) merupakan salah satu cara yang dapat dipergunakan oleh ciivl society untuk memperjuangkan hegemoni civil society dengan cara-cara rasional dan lemah lembut atas dasar kekuatan intelektual dan kepemimpinan moral dan itu hanya tepat dan dapat dilakukan dalam masyarakat yang telah maju dan demokratis.

Kelompok civil society dihasilkan dari aliansi atau hubungan yang di dalamnya terjadi perdebatan ide untuk memperoleh kekuasaan untuk dipergunakan untuk melawan tirani kekuasaan masyarakat politik yaitu negara dan partai politik. Perlawanan terhadap hegemoni dan ideologi dominan dapat dilakukan dengan menguasai sistem konseptual yaitu supersruktur dan kekuatan politik. Hal ini sebagaimana diyatakan oleh Antonio Gramsci, bahwa kata kunci dari konsep sistem hegemoni Gramsci adalah ‘superstruktur dan kekuatan politik. Superstruktur sangat penting dalam pemikiran Gramsci untuk mempenjuangkan kekuatan masyarakat sipil karena supertsruktur dipandang sebagai ‘ruh’ atau spirit yang melandasi dan memberi kekuatan gerakan yang dilakukan untuk melawan hegemoni dominan yang tirani.

Sedangkan kekuatan politik civil society dalam superstruktur adalah kekuatan dan kekuasaan masyarakat sipil untuk menciptaka hegemoni dan menjadi kekuatan hegemoni baru yang dihasilkan dari perlawanan terhadap hegemoni dominan sebelumnya. Perlawanan tersebut berlangsung dalam politik praksis. Maka tidak ada hegemoni tanpa kekuatan politik dalam superstruktur. Karena disitulah kekuatan individu-individu masyarakat sipil berhasil menciptakan kekuatan bersama untuk tujuan bersama yaitu melawan hegemoni dominan.

(12)

hegemoni. Bagi Gramsci hal itu bermakna bahwa kemunculan pemikiran (myths) yang berkembang membutuhkan wadah dan wilayah yaitu organisasi dan proses itu melingkari atau meliputi seluruh kelompok yang ada untuk memperoleh kekuasaan dan menciptakan pengalaman atau kondisi konkrit yang baru dengan hegemoni baru. Hal ini memberikan kepada kelompok counter hegemoni untuk memiliki kekuasaan yang selama ini hanya dimiliki oleh kelompok dominan hegemoni.

Lebih lanjut, Gramcsi menyatakan bahwa kekuasaan harus dipahami sebagai sebuah hubungan. Hubungan sosial dalam masyarakat sipil dan merupakan hubungan kekuasaan sehingga kekuasaan bisa merata ke seluruh masyarakat sipil, bukan hanya terwujud dalam aparat negara yang bersifat koersif. Setiap kelompok sosial dapat menjadi anggota hegemoni. Kelompok lebih rendah hanya dapat menjadi kelas hegemonik dengan cara memperkuat kemampuan untuk memperoleh dukungan dari kelas dan kekuatan sosial lain. Kelompok ini harus melakukan aktivitas koorporasi melampaui kepentingan mereka sendiri (dalam Stillo,( 1999:30). Kepentingan bersama yang digerakkan oleh kekuatan bersama dalam ‘collective will’ untuk melakukan pernjuangan (class of struggle), yang diharapkan akan dapat menyebarkan ide-ide yang mendukung kepentingan civil society.

Muhadi sugiono dalam buku Kritik Antonio Gramsci terhadap Dunia Ketiga (1999:32) menjelaskan bawa teori hegemoni Gramsci lebih merefleksikan sikap Prinsip Hegel mengenai perwujudan “ruh dan Ide” dalam sebuah masyarakat. Konsep hegemoni oleh Gramsci bisa dipandang sebagai upaya menjembatani jurang antara struktur dan superstruktur sebagaimana dipahami Marxisme Orthodox dan Gramsci menamakan keduanya sebagai ‘kesatuan dialectical oposisi’.(1999:33). Lebih lanjut Sugiono (1999:37) menjelaskan bahwa dalam batasan dialectical meliputi civil society dan political society. Teori hegemoni Gramsci mensyaratkan penggunaan kekuatan memaksa (coersive) hanya sebagai pilihan terakhir ketika kesadaran spontan menemui kegagalan.

Prison Notebook menjelaskan konsep hegemoni adalah penyempurnaan selanjutnya dan pengembangan dari gerakan collective wil yang merupakan kekuatan yang menggerakkan kebersamaan perjuangan. Perjuangan bukan semata tindakan praktis, namun lebih dari itu, bahwa gerakan counter hegemoni adalah suatu gerakan yang merujuk terutama pada ‘intelektual cultural dan arahan moral’ oleh kelas-kelas fundamental atas organisasi masyarakat social dan penyebaran konsep baru tentang dunia antara massa popular

(13)

(unity) yaitu intelektual, politik dan social. Historical dikarakteristik oleh beragam proses dan semua kearah kecenderungan terhadap kesatuan. (dalam Salami,1981:136)

Konsep Hegemoni Gramcsi (dalam Hendarto,1993:56) terletak pada diakuinya peranan ‘kesadaran subyektif’ (subyective conciosness) dari para pelaku dalam mencapai hubungan timbal balik yang harmonis antara civil society dan negara. Kesadaran subyektif ini merupakan kesepakatan kelompok-kelompok sipil yang membentuk aliansi untuk memperjuangkan ideologi untuk melakukan perdebatan dengan ideologi dominan yaitu ideologi negara dan kelas penguasa. Dari upaya tersebut diharapkan muncul alternatif ideologi yang mampu merubah beragam kekerasan yang dilakukan negara kepada perempuan sebagai civil society selama ini.

Dominasi hegemoni yang menghasilkan kekuasaan dari masyarakat sipil seharusnya dilandasi oleh kekuatan ideologi, sosial dan budaya, bukan kekuatan fisik karena kekuatan yang ditopang oleh ideologi, social dan budaya akan menciptakan kekuasaan dan hegemoni yang diperoleh secara sukarela atau kesadaran penuh masyarakat, bukan kesadaran atau kepatuhan yang sifatnya spontan. Hal itu dapat dipahami karena Gramsci lebih menyukai hegemoni yang dilandasai kekuatan ide/ pikiran, social dan budaya dimana kekuasaan dan kepatuhan diperoleh dengan cara dan jalan yang lembut (soft) melewati perdebatan atau argementasi atas ide-ide bukan kekuatan fisik yang memaksa.

Kerangka pikir counter hegemoni menjadi budaya, sehingga mendasari tindakan

masyarakat seperti perempuan utuk selalu tidak menghenti-hentinya berada dalam situasi

kritis, mempertanyakan keadaan atau sebuah situasi yang sedang mereka alami serta

sekaligus memmikirkan secara kritis tindakan atau perjuangan yang harus dilakukan

untuk melawan dominasi ideologi yang merugikan perempuan. Sehingga kerangka pikir

hegemoni tidak menguasai, namun membalikkan konsep dan kerja dengan menjadikan

hegemoni civil society sebagai kekuatan dan alat kontrol.

C. Hubungan Superstruktur dan struktur dalam Gerakan Counter Hegemoni

(14)

masyarakat politik dan masyarakat sipil, serta kesatuan dialectical antara struktur dan superstruktur. (1981:137)

Hubungan struktur dan superstruktur menurut Gramsci tidaklah bersifat mekanistik, tapi hubungan tersebut seperti sebab (couse) dan efek (effect). Hal itu terjadi sampai proses tersebut berakhir; sementara kondisi-kondisi material adalah instrumen untuk menuju penciptaan fase “ethico- political histories”. Bobbio dan Texier, yang telah memformulakan interpretasi Gramsci, menyatakan bahwa sebenarnya hal itu tidak berbeda dengan bentuk tradisional Marxist Ortodok, yaitu bahwa struktur socio-ekonomic adalah historical bloc.

Dalam pemikiran Gramcsi, Superstruktur adalah komponen penggerak yang esensial, hal ini berbeda dengan Marx yang menyatakan bahwa semua kehidupan digerakkan oleh landasan ekonomi (economic base). Setiap produksi didasarkan atas pertimbangan ekonomi. Bahkan elemen-elemen superstruktur seperti budaya, social dan ideologi ditentukan oleh landasan ekonomi. (Stillo,1998-1999:1). Sebaliknya, Gramsci menyatakan bahwa, landasan kehidupan dan pergerakan adalah superstruktur dan menolak ekonomi sebagai landasan produksi dan kehidupan. (Mouffe,1979:59). Berkaitan dengan itu Gramsci menyatakan pendapatnya dalam teori superstruktur (Mouffe:1979:2) sebagai berikut:

Superstruktur memiliki dua level, yaitu civil society dan political. Masyarakat politik adalah sebuah institusi publik yang memegang kekuasaan untuk melakukan perintah, sementara masyarakat sipil lebih berperan sebagai obyek pasif yang diperintah. Gramsci berpendapat bahwa superstruktur dipahami sebagai elemen determinisme, sementara element struktur adalah sebab mekanikal dari transformasi superstruktur. Dalam konteks ini, Rosa Luxemberg menyatakan bahwa strategi revolusi konkret secara general harus melibatkan partai politik dan sindikasi idea para pekerja. (1981:129). Bagi Gramsci, revolusi bersifat organik, yaitu prosesnya membutuhkan aktivitas sadar/ terencana secara terorganisasir serta merupakan bentuk kesadaran dari teori kritis. Ini berimplikasi bahwa intelektual, budaya dan persiapan politik kelas pekerja diperlukan sebagai syarat mutlak suksesnya revolusi rakyat.

(15)

D. Negara dan Perjuangan Political Praxis

Menurut Bobbio, pemikiran Antonio Gramcsi tentang negara tidak dapat dilepaskan dari tradisi pemikiran Marxist. (dalam Mouffe, 1979:26). Untuk itu sebelum menjelaskan konsep negara menurut Gramcsi, maka kita lihat terlebih dahulu konsepsi negara menurut Marx dan Engels yang dikenal dengan konsep ‘doctrin of the state’. Dalam pandangan Marx dan Engels :

1. Negara merupakan sebuah struktur yang memaksa, sebagai konsentrasi dan pengelolaan kekerasaan atas masyarakat.

2. Negara adalah instrument kelompok dominan, dimana eksekutif negara hanyalah suatu komite untuk pegaturan terhadap kepentingan umum kaum borjuis.

3. Negara merupakan momen sekunder atas kelompok subordinat, sebagai bentuk penghormatan civil society terhadap kondisi dan regulasi negara, bukan negara yang memperhatikan dan mengatur kehidupan masyarakat sipil.

Asumsi inilah yang lalu mempengaruhi pandangan Antonio Gramcsi mengenai negara, yaitu negara bukanlah akhir dari historical baru, tapi lebih merupakan suatu aparat dan instrumen. Lebih lanjut Gramsci menyatakan bahwa negara tidak merepresentasikan kepentingan universal, yaitu rakyat, tapi lebih mengutamakan kepentingan particular. Negara bukan suatu institusi permanen tapi hanya merupakan insitusi transitory yang dapat saja negara tersebut hilang atau hancur karena perkembangan masyarakat itu sendiri (1979:24).

Konsep Gramsci tentang civil society lebih radikal dari Marx. Bagi Marx, civil society adalah bagian dari struktur ekonomi dari sistem kapitalisme dan hubungan negara dengan masyarkat sipil dilandaskan atas hubungan ekonomi. Sedangkan menurut Gramsci (dalam Salami,1981:139), civil society bukanlah bagian dari struktur tapi merupakan bagian dari superstruktur. Masyarakat sipil dan masyarakat politik (Civil dan political society) dibedakan dalam pernyataan dua fungsi superstruktur yang berlangsung dalam dominan group, yaitu civil society yang dikarakteristikkan atas konsep ‘civil ideological sphere’, dan masyarakat politik yang dikarakteristikkan atas konsep ‘political ideological sphere’. Sedangkan bagi Gramsci, masyarakat sipil tidak hanya membutuhkan proses teori tetapi juga strategi praktis, dimana keduanya memiliki implikasi penting. Aktivitas kerja dan kesadaran adalah proses yang paling penting bagi masyarakat sipil untuk memperjuangkan hegemoni dan ideologi mereka.

(16)

bukan karena kesadaran akan hegemoni tersebut, namun semata karena kepentingan tertentu. Mengubah kondisi tersebut sangat mungkin dilakukan dengan memberdayakan masyarakat sipil dan menggerakkan collective will mereka yang berjuang untuk satu kepentingan yaitu menjadi kekuatan counter hegemoni.

Gramcsi menyatakan bahwa kekuasaan harus dipahami sebagai sebuah hubungan. Hubungan sosial dalam masyarakat sipil adalah merupakan hubungan kekuasaan sehingga kekuasaan bisa merata ke seluruh masyarakat sipil, bukan hanya terwujud dalam aparat negara yang bersifat koersif. Setiap kelompok sosial dapat menjadi anggota hegemoni. Kelompok lebih rendah hanya dapat menjadi kelas hegemonik dengan cara memperkuat kemampuan untuk memperoleh dukungan dari kelas dan kekuatan sosial lain. Kelompok ini harus melakukan aktivitas koorporasi melampaui kepentingan mereka sendiri.(1998-1999:30). Kepentingan bersama yang digerakkan oleh kekuatan bersama dalam bentuk ‘collective will’ ini dibutuhkan untuk melakukan perjuangan (class of struggle), yang diharapkan akan dapat menyebarkan ide-ide yang mendukung kepentingan masyarakat sipil. Hegemoni bukan sesuau yang didapat begitu saja tapi hegemoni memang sesuatu kondisi yang harus diperjuangkan. (Stillo, 1998-1999:6)

Dalam konteks yang berbeda, negara sebagai sebuah institusi legal dan memiliki kekuatan dan kewenangan legal untuk mengatur rakyatnya, mempengaruhi dan dipengaruhi oleh berbagai hubungan kekuatan antara perangkat negara, masyarakat, organisasi sipil, sistem ekonomi dll. Lenin menyatakan bahwa negara adalah sebuah instrumen penguasa. Dan sebagai alat represif oleh satu kelas penguasa, negara memiliki kekurangan dan bersifat ekonomistik. Berbeda dengan Lenin, Gramcsi mengatakan negara adalah suatu proses pembentukan dan penggantian yang terus berlangsung akan keseimbangan yang tidak stabil (1999:100).

E. Ideologi Perjuangan Politik-Counter Hegemoni

Ideologi adalah serangkaian ide yang menstruktur pada sebuah realitas kelompok, sebuah sistem representasi atau suatu tanda (code) makna tentang bagaimana individu dan kelompok memahami dunia. Para ahli kritikal percaya bahwa tidak ada ideologi dominan, tapi yang ada adalah dominan kelas dalam masyarakat yang mereka sendiri mengalami perjuangan diantara yang ada. (Littlejohn, 1996:229).

(17)

yaitu sistem yang berubah-ubah (abitrary system) yang dikemukakan oleh intelektual dan ahli filosof tertentu dan sistem ideologi organik historis (historically organic ideologies), yaitu ideologi yang diperlukan dalam kondisi sosial tertentu. Sistem ideologi historis memiliki keabsahan psikologis. mengatur manusia, dan memberikan tempat bagi manusia untuk bergerak, mendapatkan kesadaran akan posisi mereka, perjuangan mereka dan sebagainya. (Simon, 1999:83).

Negara dan lembaga negara adalah kekuatan yang memiliki ideologi yang dinilai represif karena kewenangan yang mereka miliki. Kewenangan tersebut cenderung dipergunakan untuk mendukung kelanggengan ideologi dan hegemoni kelompok dominan baik negara maupun kaum kapitalis dalam struktur ekonomi dan menimbulkan kekerasan bagi masyarakat subornasinya. Kewenangan yang dimiliki negara cenderung bersifat tertutup dan jarang memberi kesempatan kepada masyarakat sipil untuk mendapatkan hak-hak mereka dengan baik. Perubahan ideologi dan kehidupan praktis menurut Gramsci hanya akan berlangsung dengan baik dalam politik praktis. Jadi ide dan konsep perjuangan harus diperjuangkan dalam tindakan praktis, sehingga perubahan dapat terjadi baik dalam tataran ideal maupun praktis.

Untuk perjuangan mengubah persepsi tersebut, maka diperlukan perjuangan counter hegemoni masyarakat sipil yang kuat sehingga masyarakat sipil atau dalam konteks ini perempuan memiliki kekuatan kontrol atas diri mereka dengan kekuatan sendiri. Karena itu dalam proses tersebut membutuhkan arena political praksis yang memungkinkan perubahan terjadi bukan hanya pada tataran ideologi, melainkan juga pada tataran praksis. Perjuangan yang melakukan perubahan kritis atas realitas praksis kondisi perempuan yang mengalami diskriminasi politik disebabkan oleh kekerasaan yang dilakukan oleh negara.

F. Kekuasaan dan Subyektivitas Perempuan dalam Gerakan Counter Hegemoni

Heliwel dan Hindes menjelaskan bahwa kekuasaan (Power) adalah beberapa entitas yang bersifat kuantitas, untuk memperoleh lebih banyak atau lebih kurang. Dalam pemahaman ini kekuasaan selalu dilihat sebagai kapasitas-kapasitas untuk memperoleh yang diinginkan sesuai dengan jalan atau cara yang dimiliki. (dalam Taylor, edt,1997:73).

Persoalan yang sangat penting dalam kekuasaan adalah distribusi kekuasaan. Distribusi kekuasaan dipahami sebagai analogi kesejahteraan. Distribusi kekuasaan yang merata akan mampu memunculkan hubungan yang harmonis antara masyarakat sipil dengan masyarakat politik (dalam Taylor,1997:76)

(18)

Machiavelli,-merupakan sesuatu yang cenderung dipertahankan. Pemahaman ini seringkali menyebabkan penguasa tidak memperdulikan cara yang ditempuh untuk mempertahankan kekuasaan. Dan nyatanya memang para penguasa dalam upaya mempertahankan kekuasaannya menggunakan banyak cara termasuk menghalalkan kekerasaan. Politik seperti inilah yang dicurigai dipergunakan selama orde baru, termasuk apa yang dialami kaum perempuan di politik.

Gramsci menyatakan bahwa kekuasaan adalah cara membina hubungan-hubungan antara masyarakat sipil dan masyarakat politik. Kekuasaan harus membawa kesejahteraan bagi masyarakat sipil dan bukan justru mendatangkan dominasi yang mengakibatkan ketidakadilan dan diskriminasi politik badi masyarakat sipil. Namun jika kondisi kekerasan, ketidakadilan dan diskriminasi dialami masyarakat sipil yang disebabkan hegemoni kelompok penguasa dan kaum borjuis termausk kaum intelektual, maka sebagaimana yang dijelaskan oleh Antonio Gramcsi dalam konsep hegemoninya bahwa akan selalu ada kekuataan-kekuatan yang dipergunakan untuk melawan tekanan dan sikap represif penguasa. Dipercayai juga akan ada cara-cara politik yang kreatif dan cerdas dari kelompok-kelompok masyarakat yang tidak mau menerima hegemoni ideologi yang menindas.

Menurut Gramcsi, kekuasaan tidak hanya dapat diperoleh dan dipertahankan dengan cara kekerasaan, namun juga mampu diperoleh dan dipertahankan dengan cara soft, yang disebutnya dengan hegemoni. Kelompok yang selama ini dianggap subordinat penguasa atau bahkan menentang penguasa dapat saja membangun aliansi baru guna menciptakan hegemoni baru. Kelas dominan, sebagaimana paham Marxis yang dipergunakan untuk menjelaskan relasi kekuasaan di masyarakat borjuis, adalah kelompok dominan yang menggunakan hegemoni negara dan sumber daya ekonomi serta produksi yang berakibat terjadinya subordinasi kekuasaan dan sumber daya ekonomi dan produksi bagi kelas pekerja.

(19)

Buku Gender in Political Theory, Judisth Squires (1999:23) menyatakan pentingnya politik bagi perempuan dengan ungkapan yang sangat terkenal yaitu “personal is politics”. Politik harus dipahami oleh perempuan sebagai suatu unsur yang sama pentingnya dengan unsur lain dalam kehidupan perempuan, Karena pada dasarnya semua hal yang berkaitan dengan kehidupan perempuan selalu berkaitan dengan politik.

Menyerahkan urusan politik kepada pihak lain yaitu laki-laki sebagai kelompok dominan yang selama ini menghegemoni perempuan dan melakukan dominasi ideologi sehingga menyebabkan diskriminasi gender dan ketidakadilan bagi konstruksi pemahaman dan prilaku terhadap perempuan di segala bidang diperkuat oleh pemahaman budaya patriarkhi. Menurut Gadis Arivia (1999:40), pemahaman demikian rupa bahkan terjadi diseluruh dunia termasuk Indonesia yang menjalani politik patriarkhi. Politik Patriarkhi merupakan turunan dari karakteristik negara patriarkhi yang mengedepankan kepentingan laki-laki yang juga bekerja atas dasar nilai-nilai patriarkhi. Dominasi laki-laki terjadi dalam semua bidang kehidupan, baik politik, social, budaya, agama dan lain-lain.

Atas alasan tersebut, perempuan harus memiliki power untuk mengubah realitas yang merugikan mereka dan menciptakan realitas baru yang adil dan setara. Perubahan dapat dilakukan dengan aktif di politik dan memperoleh kekuasaan serta menjadi bagian dari politik praktis, bagian dari proses pengambilan keputusan, memastikan beragam kebijakan dan undang-undang tidak diskriminatif serta mendukung realitas perempuan, dan yang terpenting adalah mampu melakukan kampanye dan sosialisasi pemahaman bahwa realitas perempuan selama ini merupakan konstruksi laki-laki adalah bukan realitas perempuan yang sesungguhnya. Semua konstruksi tersebut dapat diubah oleh perempuan dan kekuatan sosial lainnya.

Terdapat beberapa konsep Power dalam upaya pemberdayaan perempuan yaitu:

Pertama, Power Over; Kekuasaan yang nyata/jelas, yaitu kekuasaan seseorang atau group untuk mempengaruhi/ mendapatkan orang atau group lain untuk melakukan sesuatu yang diinginkan. Power Over ini sangat diperlukan dalam proses pengambilan keputusan dan juga mampu memenangkan konflik. Power Over acap kali dilakukan melalui kekerasan dan menimbulkan ketakutan atau dapat juga melalui kekuatan aturan-aturan sosial yang memaksa kelompok lemah untuk meneriman kemauan kelompok lebih kuat dalam perlakukan di kehidupan sehari-hari.

(20)

mengendalikan, mengarahkan pihak lain sebagai kelompok subordinatnya sehingga mematuhi atas aturan atau undang-undang yang diterapkan

Kedua, Power from Within, kekuasaan dalam diri perempuan pada dasarnya ada dan harus dimunculkan sebagai sebuah kekuatan diri perempuan tersebut. Power from within ini muncul dari upaya pengenalan diri, melihat untuk mengidentifikasi kelemahan–kelemahan dan juga kekuatan agar perempuan mampu mengetahui kapasitas dirinya dalam upaya meningkatkan kekuatan internal dan kepercayaan diri. (dalam Tonwsend dan Downing,1996:4) Hal ini sangat fundamental jika perempuan hendak mengembangkan diri agar memiliki kemampuan menangani sistem patriarchal dan kapital mereka. (1999:30).

Ketiga, Power With, Kekuasaan atau kapasitas untuk berkembang dengan yang lain. Seseorang tidak dapat berkembang hanya dengan mengandalkan diri sendiri tapi mereka membutuhkan pihak lain untuk mendukung mereka sehingga semakin memiliki jalan untuk berkembang. Hal ini sejalan dengan kehidupan sosial yang sangat kompetitif terutama di politik perempuan membutuhkan pihak lain seperti partai politik, organisasi perempuan dan organisasi sosial kemasyarakatan, pemerintah, media masssa, organisasi lawan politik dan follower/pemilih atau masyarakat umum. Dalam power with diperlukan kemampuan bersosialisasi dengan pihak lain yang akan mendukung kinerja politik perempuan tersebut. Kekuasaan ini mensyarakatkan keterlibatan orang lain yang akan memperkaya kekuasaan power with. Karena pada kenyataannya hampir tidak mungkin seseorang tidak membutuhkan orang lain jika aktif di politik. Keempat, Power to, Kekuasaan untuk melakukan hal baru yang bermakna political power. Kekuatan untuk mempengaruhi pihak lain untuk mampu berkata dan mengambil keputusan. Kekuatan untuk mampu melakukan kerja dalam aktivitas mereka. Kekuatan ini diperlukan karena ini merupakan potensi manusia. Potensi yang dimiliki seseorang menyebabkan kemungkinan seseorang tersebut dapat melakukan sesuatu.

Kekuasaan perempuan dalam bahasa Gramsci adalah kesadaran subyektif. Kesadaran subyektif inilah yang menjadi kekuatan individu-individu untuk melakukan perlawanan terjadap tirani yang berlangsung baik dalam konteks pemikiran maupun realitas praktis. Pada dasarnya yang harus disadarai adalah bahwa setiap manusia adalah individu yang mandiri dan berhak memiliki ruang yang memadai untuk berargument dan menganut pendapat mana saja yang diyakini, walau tetap rasional terhadap adanya kemungkinan dominasi ideologi sebagai bentuk hegemoni baru yang tidak boleh menutup perspektif mananpun untuk menciptakan hubungan-hubungan satu dengan yang lainnya.

(21)

kekuatan collective will kaum perempuan sebagai kekuatan baru yang semestinya ada dan menjadi bagian dari proses perdebatan yang berlangsung. Ketika masyarakat sipil kuat maka kekuasaan negara berkurang. Gramcsi menyatakan bahwa sosialisme dibangun dengan cara memperluas berbagai hubungan yang bersifat otonom dan memerintah diri (sel-governing). Cara tersebut dilakukan dalam masyarakat sipil secara terus menerus, seiring dengan semakin merosotnya unsur-unsur penekan, hirarkis dan birokrasi negara.

G. Pendekatan Feminist Radikal dalam Memahami Marginalisasi Perempuan di Politik

Alur pikir yang digunakan untuk menganalisa keadaan perempuan adalah teori Feminisme Radikal (2004:127-128). Tokoh Feminis Radikal seperti Alison Jaggar dan Paula Rothenberg mengatakan bahwa perempuan berada di tempat paling bawah.

Berkaitan dengan kekuasaan perempuan, teori feminis radikal mempermasalahkan perbedaan seksualitas atas dasar biologis yang kemudian dikonstruksi menjadi perbedaan gender oleh budaya patriarkkhi. Akibat dari konstruksi ini, perempuan teralienasi dari berbagai bidang kehidupan khususnya bidang politik. Analisis perempuan dari sudut politik menjadi pusat perhatian teori ini. Bagi perempuan politik tidak hanya mengatur kehidupan publik saja, melainkan juga kehidupan domestik dan pribadi perempuan, karena keduanya memiliki sebab/ akibat yang sama yaitu ketidakadilan gender bagi perempuan.

Feminis Radikal sebagaimana dijelaskan oleh Littlejohn (1996:234), percaya bahwa tekanan atas perempuan adalah masalah inti yang melingkupi kehidupan mereka sepanjang pengalaman hidup mereka, baik di wilayah domestik maupun publik. Perubahan harus segera dilakukan dengan perdebatan terbuka guna menggugat realitas ketidakadilan tersebut di segala bidang, terutama bidang politik, dan bukan hanya perubahan hukum untuk memberikan kesamaan hak pada perempuan tetapi juga pada struktur sosial yaitu sistem patriarkhal.

Gerakan dapat dilakukan dengan membentuk aliansi antara kelompok dengan perspektif yang sama hingga memunculkan kekuatan untuk mengubah kondisi marginal perempuan dalam sosial, budaya dan politik. Menurut asumsi pemahaman kritis, perubahan akan mungkin terbuka untuk dilakukan jika perempuan aktif di politik disebabkan Panggung politik menentukan beragam kebijakan, dan jika perempuan menjadi bagian dari proses politik maka mereka akan mempunyai kesempatan berjuang menolak ketimpangan sosial budaya serta politik yang terjadi selama ini.

(22)

laki-laki, serta harus menciptakan pemahaman komunikasi sendiri sehingga perempuan dapat memiliki ideologi pemahaman sendiri atas realitas dan mempengaruhi kehidupan sosial tentang realitas perempuan. Hal ini setidaknya perempuan telah menciptakan alternatif ideologi dan pemahaman tentang diri mereka untuk mengcounter pemahaman berdasarkan sistem patriarkhal yang selama ini sangat merugikan perempuan.

H. Kerangka Konseptual

Hubungan antara perempuan dan negara telah muncul konflik yang muncul sepanjang sejarah negara, terutama dalam politik. Kondisi konflik ini yang merugikan realitas dan peran politik perempuan terbangun dari realitas budaya dan struktur sosial yang integral dalam proses politik yang berlangsung. Hal itu karena bagaimana pun sistem negara, struktur negara dan sistem politik dibentuk oleh individu-individu terdominasi oleh pemahaman budaya dan struktur sosial yang menguntungkan laki-laki.

Kondisi politik perempuan yang mengalami ketidakadilan adalah realitas sosial yang harus dipertanyakan, dikritisi dan dipecahkan sehingga mendapatkan cara keluar dari ketimpangan tersebut dan akhirnya mampu melakukan perubahan yang kalau dimungkinkan dan diperlukan memenangkan arena perdebatan guna mencapai kekuasaan dengan pemahaman hegemoni baru.

Salah satu indikator keterpurukan perempuan ialah kurangnya keterlibatan perempuan di Parlemen. Hasil pemilu 2004, dari 550 jumlah anggota DPR hanya 11 persen saja perempuan. Kecilnya presentasi keterwakilan perempuan di parlemen sepanjang sejarah poltik Indonesia secara signifikant berpengaruh pada kemampuan mereka terlibat dalam setiap proses perdebatan yang berlangsung di komisi atau sidang paripurna. Dengan kondisi seperti ini, maka diperlukan sekali kerja sama, baik dengan sesama anggora legislatif perempuan, organisasi perempuan dan sosial lainnya, anggota parlemen laki-laki, pemerintah, partai politik dan juga media massa.

(23)

diubah sebagai cara untuk mentransformasi hal-hal baru. Dalam hal ini media massa juga harus berada dalam pemahaman ini, yaitu berjalan berdasarkan ideologi untuk melakukan perdebatan (Ideological site struggle).

Ketidakadilan ini kemudian secera seksama dan berlangsung sepanjang sejarah dunia telah dengan mapan menyebabkan diskriminasi terhadap realitas publik perempuan terutama di politik. Kondisi diskriminasi perempuan dalam bernbagai bidang, khususnya di politik dengan indicator partisipasi dan keterwakilan perempuan yang sangat rendah di ppolitik dan parlemen terjadi hampir di seliuruh dunia, juga terjadi di Indonesia. Diskriminassi ini, tentu saja tidak dapat dibiarkan berlangsung terus sebagai ‘commen sense dan kepatuhan spontan’ kaum perempuan, namun diskriminasi tersebut harus diperjuangkan untuk berubah, baik pada tataran pemikiran-konseptual-mental, maupun dalam tataran politik praktis.

Perlawanan atas diskriminasi kaum perempuan di politik, menurut pandangan Gramsci adalah sebuah perjuangan counter hegemoni yaitu berjuang untuk melawan hegemoni dominan dan memperjuangkan serta memenangkan kekuasaan hegemoni baru yaitu hegemoni masyarakat sipil. Walau menurut Gramsci bahwa sangat mungkin hegemoni masyarakat sipil kemudian menjadi hegemoni masyarakat politik, namun hegemoni yang tidak menutup wilayah dialog dan perdebatan ide-ide, sehingga tercipta hubungan dialektikal antara masyarakat politik dengan masyarakat sipil. Hal tersebutlah, yang diperjuangkan oleh kaum perempuan dalam perjuangan kuota 30 persen. Berjuang dengan kekuatan superstruktur dan subyektif perempuan untuk mengubah hegemomi tiran terhadap kaum perempuan di politik.

Peristiwa perjuangan hegemoni (moment of struggle of hegemony) merupakan peristiwa yang sempurna dari konsep Gramsci. Perjuangan tersebut merupakan peristiwa perang posisi (war of posisition) antara political society dan civil society. Masyarakat sipil berjuang dengan tujuan mengubah hegemoni yang dominan milik negara dan kaum borjuis atau penguasa, sedangkan masyarakat politik menginginkan hegemoni mereka tetap dominan demi memelihara kekuasaan mereka, karena jika masyarakat sipil tidak memperjuangkan ideologi mereka dan membentuk hegemoni baru, maka sangat mungkin hegemoni penguasa menjadi satu-satunya hegemoni dan bersifat tirani.

(24)

dengan pemahaman negatif. Masyarakat sipil adalah peristiwa superstruktur yang utama (superstructure primacy moment) dan masyarakat politik adalah peristiwa superstruktur lapis kedua. Berdasarkan pemahaman tersebut, dapat dinyatakan bahwa kemenangan hegemoni mendahului kemenangan kekuasaan. Masyarakat sipil bukan hubugan material yang komplek (complex of material relation), tapi lebih merupakan keseluruhan hubungan ideology-budaya (whole of ideology cultural relations). (Mouffe, 1979:62).

Leonardo Salami dalam bukunya The Socology of Political Praxis, an Introduction to Gramcsi Theory (1981:1) menyatakan bahwa tindakan collective will yang lahir dengan adanya aliansi kerja sama diantara civil society, yaitu organisasi-organisasi perempuan, menurut Gramsci, menghasilkan tindakan politik praktis (a collective political praxis). Tindakan kolektif praxis ini yang kemudian meneguhkan realitas sejarah baru dalam dialektika kreatifitas budaya dan ide. Konsep ini kemudian menyebabkan transformasi masyarakat sosial. Oleh sebab itu menjadi penting melakukan kerja dan tindakan praxis, karena hanya dengan kemauan dan tindakan politik praxis dapat diwujudkan ideologi dan dibentuk kesadaran sejarah (histirocal bloc).

Gerakan collective will juga didukung oleh kapasistas intelektual yang ada sebagai masyarakat sipil. Oleh sebab itu independensi kaum intelektual sangat penting agar mereka mampu menciptakan dan menyebarkan ideology mereka sendiri. Demikian juga dalam kasus lahirnya UU Pemilu 2003, dapat dijelaskan bahwa kondisi saat itu sangat mendukung perjuangan meningkatkan jumlah perempuan di parlemen dan kuota, ini disebabkan perubahan system politik dan negara yang sedang berlangsung, baik pada tataran civil society maupun pada tataran political society yaitu negara dan aparaturnya yang merupakan institusi yang melegalkan peraturan yang lahir, selain hal itu juga telah menjadi isu universal.

Kesadaran subyektif juga akan membawa implikasi pada lahir kekuatan perempuan dalam menentukan diri mereka. Ini merupakan tujuan yang diharapan akan mampu memenangkan ideologi baru yaitu paham baru yang mampu menpengaruhi khalayak. Gerakan yang dilakukan dapat membina hubungan yang harmonis dengan negara dan civil society sehingga tidak akan ada dominasi dan kekerasan negara terhadap masyarakat sipil. Hubungan yang mampu melahirkan perubahan kemudian disebut Gramcsi sebagai hegemoni baru. Kekuasaan hegemoni baru hasil perdebatan ini diharapkan tidak akan melakukan kekerasan baru tapi lebih menyediakan ruang publik untuk mempertentangkan ide mereka sehingga lahir pemikiran alternatif yang tidak hanya pada satu jenis pemikiran atau ideologi.

(25)

Negara aliansi menurut Gramcsi adalah melahirkan konsensus) yang dihasilkan bukan hal mudah dan begitu saja diperoleh. Waktu perdebatan kurang lebih hampir tiga tahun (2001-2003) dan telah melibatkan kerja sama baik individual, maupun sesama organisasi perempuan, disamping organisasi masyarakat lainnya yaitu media massa yang secara sinergis ikut ‘mendukung proses perdebatan’ tersebut. Namun uniknya, media massa sebagai anggota masyarakat sipil justru berperan tidak menguntungkan perjuangan perempuan tapi justru lebih mendukung ideologi dominan, yaitu negara.

Peran media massa bukan hanya sebagai sarana untuk mentransformasikan informasi kepada khalayak, namun media, sebagai salah satu dari institusi sosial (agents), memainkan peran menentukan dalam menciptakan realitas tertentu yang sesuai dengan ideologi dan kepentingan organisasi /institusi media itu sendiri. Media menciptakan budaya dan pemahaman baru yang dalam proses tersebut dipengaruhi oleh institusi-institusi lain sebagai kekuatan superstruktur (institusi sosial) dan juga kepentingan ekonomi media, dimana realitas media tidak bisa dilepaskan oleh kepentingan ekonomi berdasarkan nilai-nilai kapitalisme yang ada.

I. Theoritical Framework

Gambar 3, Dialectical Gramscian

(26)

J. Analysis Framework

Gambar 4, Analisis Framework

Teks Kompas dan Media Indonesia, Dilakukan dengan metode

Qualitative Content Analysis

.

2

III. METODOLOGI

Egon G. Guba and Yvonna S. Lincoln dalam buku Competing Paradigms In Qualitative Reseach (1994) Menjelaskan bahwa pendekatan Teori Kritikal mengandung Implikasi metodologis yaitu dialogic dan dialectical.

Human agents Teks-media

(Superstructure

)

Analisis dialektical

Gramcian ( Intertekstual)

Masyarakat Sipil : Organisasi Perempuan, Yaitu :

(Cetro, Koukus Politik Perempuan Indonesia, Koalisasi Perempuan, Institusi Media

1

Masyarakat Politik : Negara/DPR dan Partai Politik

(Kaukus Perempua

Iideologi, Hubungan Sosial, Budaya, Politik

(system patriakhal

)

Supremasi

(27)

Berdasarkan rujukan teori, paradigma dan pendekatan terhadap realitas sosial, jenis kajian dan tujuan penelitian, maka tipe penelitian yang sesuai adalah “Kualitatif”. Metodologi adalah term yang merujuk kepada proses, prinsip-prinsip dan prosedur dalam mencoba mendekati masalah dan menemukan jawabannya. Metode kualitatif merujuk pada prosedur-prosedur penelitian yang menghasilkan deskripsi data; tulisan-tulisan yang dimiliki seseorang atau percakapan yang menghasilkan kata-kata serta melakukan observasi prilaku secara mendalam. (Robert Bogdan and Steven J. Taylor, 1985:4).

Penelitian ini seirama dengan pandangan dari Feminist Research, yaitu penelitian yang menggunakan perspektif feminist. W. Lawrence Newman and Allyn & Bacon (1997: 80) menyatakan bahwa metodologi feminist berusaha untuk memberikan suara pada perempuan dan mempertanyakan ulang perspektif yang berorientasi laki-laki, dimana hal itu telah menentukan arah pengembangan ilmu sosial.

A. Unit Analisis

Penelitian Media Massa dan Hegemoni Kekuasaan Negara Terhadap Realitas Politik Perempuan; Proses Affirmative action, kuota 30 persen menggunakan strategi penelitian Qualitative Content Analysis dan Analysis Gramscian dengan landangan pemikiran paradigma Kritikal, yang diharapkan akan dapat memahami dan menjelaskan teks-teks surat kabar KOMPAS dan Media Indonesia, dalam pemberitaan mengenai proses dan perdebatan pada saat lahirnya UU Pemilu 2003.

Unit analisis dalam penelitian ini adalah :

1). Teks dua surat kabar yaitu Kompas dan Media Indonesia tentang proses perjuangan kuota 30 % keterwakilan perempuan di parlemen 30 %.

2). Civil society yaitu kelompok perempuan yang terlibat dalam proses kuota seperti Cetro, Kaukus Perempuan Politik Indonesia, Kaukus Perempuan Parlemen dan Kaukus perempuan untuk Jaringan Politik

3). Masyarakat politik, yaitu anggota parlemen perempuan dan laki-laki yang terlibat dalam proses pembuatan UU Pemilu tahun 2003.

(28)

1). kerja sama atau hubungan antara anggota masyarakat sipil sehingga mampu menghasilkan kekuatan memperjuangkan kepentingan atau ideologi mereka tentang kuota 30 persen.

2). Kekuatan superstuktur yang melandasi politik praktis.

3). Peran media massa sebagai alat penyebaran dan penguatan ide-ide masyarakat sipil, dan bagaimana hubungan media dengan masyarakat politik sebagai konsep dasar Gramsci bahwa meia adalah bagian dari masyarakat politik.

Penelitian juga menggunakan Multiple Analysis karena meneliti beberapa realitas sosial yang menjadi subyek penelitian diantaranya :

1. Media massa,

2. Organisasi perempuan/aktivis perempuan dan 3. DPR/ negara.

Kesemuanya menggunakan konsep hegemoni Gramsci, kekuasaan, feminis radikal dan konsep media massa menurut aliran Marxist-Gramscian.

B. Metode Penelitian dan Analysis

Patton (2001:272) menjelaskan bahwa analisa isi media adalah sebuah teknik menganalisa teks media yang merujuk pada pencarian teks dengan kata-kata yang berulang-ulang dan thematik. Analisis isi adalah sebuah teknik untuk menemukan dan menganalisa isi teks. Isi dapat berupa kata-kata, makna, gambar, simbol, ide-ide atau bentuk pesan yang dapat dikomunikasikan.

Dalam analisis isi kualitatif yang digunakan merujuk pada data reduksi kualitatif yang akan mendapatkan suatu volume material kualitatif, disamping berusaha melakukan identifikasi inti konsistensi (core consistencies) dan makna yang terkandung dalam kata-kata teks yang utama. Pola ini yang banyak digunakan para peneliti feminist dan peneliti dengan pendekatan kritikal atau interpretif.

Inti makna yang ditemukan melalui analisis isi disebut pola-pola dan tema-tema. Proses analisa isi melakukan penyelidikan atas pola-pola dan tema-tema yang mungkin saja berbeda atau berurutan sebagai pola analisis atau tema analisis. Dalam proses analisa ini digunakan metode berpikir induktif atau induktif analisis, yaitu langkah yang melibatkan penemuan pola-pola, tema-tema atau kategori-kategori dalam satu data. .

(29)

lembaga-lembaga swadaya masyarakat pemerhati perempuan dan gender, anggota legislatif perempuan dan berbagai pihak yang menjadi aliansi atau hegemoni perjuangan UU Pemilu dan UU Partai Politik. Media cetak yang dipilih adalah Kompas dan Media Indonesia.

Analisis isi yang digunakan adalah analisis isi kualitatif (QCA) yaitu mencoba untuk menggunakan kekuatan metodologi analisis isi dan penelitian komunikasi untuk mengnalisa secara sistematis sejumlah materi tektual tapi dengan elaborasi langkah-langkah analisis kualitatif. (Mayring, 2000: 6).

Sementara analisis isi yang digunakan sebagai metode dalam penelitian ini adalah metode analisis isi ethnografi (Ethnografi Content Analysis) yaitu pendekatan yang merujuk pada dokumen-dokumen yang menekankan peran investigator dan konstruksi makna dari dan dalam teks. Metode ini juga disebut Qulatitative Content Analysis (QCA). Kualitatif analisis isi (QCA) mencoba untuk menggunakan kekuatan metodologi analisis isi dan penelitian komunikasi untuk mengnalisa secara sistematis sejumlah materi tekstual tapi dengan elaborasi langkah-langkah analisis kualitatif. (Mayring, 2000a, hal 6).

Main Procedurs of Inductif Category Formation

Research Question (s)

General Definition of Categories

Definition of Level Of Abstractions

Inductive Formulation of Categories

Final Categories of Material

Summative Reliability Check

Qualitative Analysis

(30)

yang dipergunakan adalah metode Gramscian dengan kajian hegemoni Antonio Gramsci. Hal ini dilengkapi dengan alasan bahwa kajian dengan menggunakan analisis isi kualitatif tidak akan secara lengkap menghasilkan atau dapat menganalisis konteks dari teks-teks media yang dipergunakan, namun hanya mengeluarkan tema-tema atau core utama atas kategori teks media, walau analisis isi kualitatif menggunakan prosedur yang berbeda dengan analisis isi klasik yaitu analisis isi kuantitatif.

Langkah-langkah analisis dan aturan-aturan /prosedur hanya merupakan temuan dasar, namun yang lebih ditekankan adalah meneguhkan adanya hubungan subyektif terhadap material atau teks-teks yang menjadi subyek penelitian, dan itu bukanlah langkah-langkah yang bersifat otomatis, namun yang lebih penting dilakukan adalah tindakan kreatif untuk menginterpretasikan makna-makna teks. Lebih lanjut, Mayring menegaskan bahwa prosedur analisis isi kuantitatif sangat berbeda dengan aturan-aturan analisis isi kualitatif.

Atas dasar alasan tersebut diatas, untuk melengkapi metode analisis, maka digunakan analisis Gramscian yang akan menjembatani hasil analisis isi dua media, yaitu Kompas dan Media Indonesia, dengan kelengkapan analisis yang dapat menjelaskan latar/konteks teks.

Dengan pemikiran diatas akan dicoba untuk menganalisa realitas teks surat kabar yang memuat informasi tentang proses perjuangan perempuan dalam memperjuangkan kuota 30 persen keterwakilan perempuan di parlemen.

C. Metode Pengumpulan Data dan Sumber Data

Metode yang dipergunakan untuk memperoleh data dalam penelitian ini adalah:

1. Observasi, yaitu mengobsevasi teks-teks media yaitu dua surat kabar yaitu KOMPAS dan Media Indonesia. Teks dalam jumlah banyak yaitu mulai bulan Januari 2001 sampai dengan Pebruari 2003 yaitu saat Rancangan Undang-Undang Pemilu disahkan oleh Sidang Paripurna DPR RI pada tanggal 18 Pebruari 2003.

2. Wawancara, yaitu cara pengumpulan data yang dipergunakan utuk memperkuat realitas isi teks dengan upaya memperoleh informsi dari pihak yang memperjuangkan kuota 30 persen. Nara sumber dipilih berdasarkan pertimbangan keterlibatan mereka dalam proses perjuangan ketentuan kuota 30 persen.

Adapun sumber data yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah:

(31)

2. Hasil Wawancara dengan semua komponen level analisis, yaitu dari perempuan aktivis pejuang kuota 30 persen dari LSM seperti Cetro dan Jaringan Perempuan Untuk Politik, anggota parlemen laki-laki dan perempaun yang terlibat dalam pembahasan kuota, KPPI yaitu perempuan anggota/ pengurus partai politik, dan pengurus Partai politik laki-laki.

D. Kelebihan dan Kelemahan Penelitian

Kelebihan penelitian ini antara lain adalah kedekatan dengan peristiwa yang berlangsung pada tahun 2003, sehingga masih aktual dari segi peristiwa dan juga sangat relevan bila dilihat dari isu dan pemberdayaan perempuan di politik dan Parlemen Indonesia dan merupakan isu global yang prosesnya maish terus diperjuangkan bagi dari pertimabangan lekegalan hukum dalam perspektif feminist liberal dan yang telah lama dilakukan sepanjang munculnya pemikiran tentang feminist dan kesetaraan gender adalah uapaya untuk memunculkan kesadaran ideologis dan prakstis bagi dari pihak perempuan maupun seluruh ummat dunia dalam semua sektor kehidupan dan dalam konteks ini adalah politik. Kedekatan dengan konteks peristiwa mungkin menyebabkan data dan bukti yang dapat diperoleh lebih baik dan menyeluruh. Hal itu didukung oleh perubahan sistem politk dan sistem pemilu Indonesia yang memungkinkan Peneliti untuk bisa memperoleh informasi secara lebih terbuka dan komprehensif.

(32)
(33)

IV. TEMUAN DATA

Prosedur utama dalam kualitatif analisis isi Mayring dalam artikel ‘Qualitative Content Analysis-Research Instrument or Mode of Interpretation’, Oleh Prof. Dr. Mayring Philipp dari Institute of Educational Psycology and Sociology at University of Education, Ludwigsburg, Germany,( 2001:2), adalah :

A. Pertanyaan penelitian (research question) analisis isi mengenai

isi-isi teks kedua media.

B. Definisi umum kategori (General definition of categories).

Temuan data atas Kategori-kategori yang muncul setelah dilakukan observasi dengan menggunakan prosedur analisis isi terhadap teks-teks dari surat kabar KOMPAS dan Media Indonesia adalah:

1. Surat Kabar Media Indonesia:

1. Politik , partisipasi dan keterwakilan perempuan

2. Persepsi politik perempuan

3. Demokrasi, kesetaraan dan keadilan gender

4. Perubahan sistem politik /perundang-undangan

5. Kuota, strategi sementara

6. Perempuan dan partai politik

7. Perjuangan perempuan

8. Konstruksi budaya (patriarkhi) dan struktural

9. Pendidikan politik/ kualitas perempuan

10. Diskriminasi negara /undang-undang terhadap perempuan.

11. Dominasi negara dan laki-laki atas perempuan

C. Level Kategori Abstraksi (Definition level of Abstraction)

Berdasarkan definisi umum kategori, maka definisi level abstraksi KOMPAS adalah: Ideologi Dominan

Konstruksi budaya dan sosial (steriotipe atas perempuan) Dominasi negara dan laki-laki terhadap perempuan

Negara dan perundang-undangan/ sistem politik Diskriminasi

(34)

Politik, partisipasi dan keterwakilan perempuan Ketentuan kuota (Affirmative Action)

Kerjasama perempuan dalam p0litik Perjuangan politik perempuan Pendidikan Politik dan kualitas perempuan

Isu-isu politik perempuan

Demokrasi, kesetaraan dan keadilan gender dalam politik

Adapun dari sisi tujuan atau arah (direction),yaitu tanda tujuan /arah pesan teks adalah positif atau negatif, mendukung atau melawan adalah ;

a. Surat Kabar Harian KOMPAS

No. Topik-Topik Utama Tujuan

1. Ideologi - Berupaya mencabut ideologi budaya patriarchal yangmendominasi dan dilegalkan oleh negara berlangsung selama 32 tahun orba, sehingga memungkinkan menghilangkan beragam bentuk ketimpangan gender. Tujuan yang dikandung teks adalah - Negatif - Melawan/tidak mendukung

2. Konstruksi sosial dan budaya (sistem patriarkhi) - Mengakui, menyadari dan berupaya menggugat konstruksisosial dan budaya patriarkhi yang telah menyebabkan pemahaman yang tidak setara terhadap laki-laki dan perempuan. Tujuan yang dikandung teks adalah:

- Negatif - Melawan/tidak mendukung

3. Dominasi Negara dan laki-lakiAtas perempuan - Menggugat negara dan laki-laki yang dominan terhadapperempuan sebagai warga negara sehingga negara dan (laki-laki) yang menciptakan realitas yang harus dilakoni perempuan. Tujuan yang dikandung teks adalah:

- Negatif - Melawan/tidak mendukung

4. Diskriminasi (sosial, budaya ekonomi dan politik) Diskriminasi yang dilakukan dan disebabkan oleh kelompokdominan baik negara, laki-laki dalam semua bidang telah mengkonstruksi partisipasi berbeda dan sangat merugikan perempuan, terutama dalam politik berakibat pada partisipasi dan keterwakilan yang minim perempuan di Parlemen. Tujuan yang dikandung teks adalah:

- Negatif - Merugikan - Melawan/tidak mendukung

5. Negara dan perundang-undangan/Sistem politik -Negara harus melaksanakan kuota yang meningkatkanpartisipasi dan keterwakilan perempuan di parlemen dan lembaga tinggi negara lainnya. Dan sekaligus tidak membuat kebijakan negara yang tidak sensitive gender. Tujuan yang dikandung teks adalah:

- Negatif - Melawan/Tidak Mendukung

Gambar

Gambar 3,   Dialectical Gramscian
Gambar 4,Analisis Framework
Gambar 4,

Referensi

Dokumen terkait

Apituley dan Josepus Makita (2009) telah melakukan penelitian tentang otonomi daerah dengan judul analisis kontibusi pajak daerah dan retribusi daerah terhadap

Hal ini berkaitan dengan goals dari Checo Café Resto dalam melakukan strategi marketing public relations untuk mengembalikan citra dan meningkatkan penjualan dari

Insentif yang dikeluarkan dalam pengelolaan sampah domestik di Kabupaten Bantul berupa: tong sampah, komposter, mesin jahit, gerobak sampah, mesin pencacah sampah organik, mesin

Apabila keluarga menerima beberapa aspek dari pendapatan maka pendapatan keluarga akan semakin tinggi (Sumarwan, 2011).Pendapatan merupakan salah satu faktor yang

Saluran di kanan kiri jalan berfungsi menerima limpasan air hujan dari permukaan jalan. Untuk keamanan dianggap seluruh limpasan diterima oleh kedua saluran tersebut.

Hasil penelitian ini menunjukkan ada hubungan yang signifikan (p<0,05) antara koordinasi mata kaki terhadap keterampilan menggiring bola (dribbling) pada

Cara penetapan ekr, ada tigapendekatan (MKJI’97), yaitu pendekatan kapasitas, pendekatan kecepatan, dan pendekatan celah waktu.Keberlakuan pendekatan tersebut

Untuk pembebanan pada model input beban yang digunakan adalah perbedaan gaya angkat dan gaya berat (superposisi) dengan kondisi batas sesuai dengan penjelasan sebelumnya, maka