• Tidak ada hasil yang ditemukan

Islam di Indonesia sebelum kemerdekaan

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Islam di Indonesia sebelum kemerdekaan"

Copied!
37
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Agama Islam adalah agama yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw. kepada seluruh umat manusia. Agama Islam ini pertama kali diajarkan Rasulullah di Makkah di tengah-tengah kaum jahiliah. Setelah 13 tahun Rasulullah dakwah di Makkah kemudian Beliaupun hijrah ke Madinah dan menyebarkan Agama Islam di sana. Setelah Rasulullah wafat maka penyebaran Islam kemudian diteruskan oleh para sahabat Nabi, Tabiin, para wali, para ulama dan para tokoh pejuang Islam dari satu tempat ke tempat lain. Akhirnya agama Islam pun tersebar dari Jazirah Arab sampai ke Eropa, Afrika, India, Cina dan Nusantara. Proses penyebaran Islam tersebut berlangsung secara bertahap, berkesinambungan dan dengan berbagai cara.

(2)

1.2 Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah dalam makalah ini yaitu menjelaskan tentang proses awal masuknya agama Islam ke Indonesia, perkembangannya Islam dalam berbagai bidang, dan sikap Belanda terhadap umat Islam serta peran umat Islam dalam meraih kemerdekaan Indonesia.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan dari latar belakang di atas, maka rumusan masalah pada makalah ini adalah sebagai berikut:

1. Bagaimanakah sejarah masuknya Islam di Indonesia? 2. Bagaimanakah cara masuknya islam di Indonesia?

3. Siapa saja yang berperan dalam menyebarkan agama Islam? 4. Bagaimanakah kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia?

5. Bagaimanakah perbandingan mengenai konsep kekuasaan pada kerajaan yang bercorak Hindu-Budha dengan Islam?

6. Bagaimanakah perkembangan Islam di Indonesia sebelum kemerdekaan? 7. Bagaimana latar belakang kedatangan Belanda, VOC, Hindia Belanda? 8. Bagaimanakah sikap Belanda terhadap umat Islam?

9. Apa saja peran umat Islam terhadap kemerdekaan Indonesia?

1.4 Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan dalam makalah ini yaitu:

1. Untuk mengetahui sejarah masuknya Islam di Indonesia. 2. Untuk mengetahui cara masuknya islam di Indonesia.

3. Untuk mengetahui tokoh yang berperan dalam menyebarkan agama Islam. 4. Untuk mengetahui kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia.

5. Untuk mengetahui perbandingan mengenai konsep kekuasaan pada kerajaan yang bercorak Hindu-Budha dengan Islam.

(3)

7. Untuk mengetahui latar belakang kedatangan Belanda, VOC, Hindia Belanda.

8. Untuk mengetahui sikap Belanda terhadap umat Islam.

(4)

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Sejarah Masuknya Islam di Indonesia

Ada beberapa pendapat tentang proses persebaran Islam di Indonesia, diantaranya sebagai berikut.

a. Teori Gujarat (India)

Teori ini menyatakan bahwa Islam yang sampai di Indonesia itu berasal dari Gujarat, salah satu daerah di India. Hal ini di dasarkan pada peninggalan nisan Sultan Malik al-Saleh yang reliefnya menunjukkan kesamaan dengan nisan-nisan yang terdapat di Gujarat, India. Bukti peninggalan batu nisan tersebut menunjukkan telah adanya hubungan antara Gujarat dengan Samudra Pasai. Teori ini antara lain dikemukakan oleh sejarawan W.F. Stutterheim.1) Masuknya Islam ke Indonesia melalui

India ini bukan Islam yang murni dari pusatnya di Timur Tengah, tetapi Islam yang sudah banyak dipengaruhi paham mistik, sehingga banyak kejanggalan dalam pelaksanaannya.

Selain itu, dikatakan bahwa Islam yang berlaku di Indonesia tidak sepenuhnya sesuai dengan ajaran Alquran dan Sunnah sebab Islam yang datang kepada masyarakat Indonesia itu bukan Islam yang langsung dari sumbernya, tetapi berdasarkan kitab-kitab fiqih dan teologi yang telah ada semenjak abad ketiga Hijriah. Menurut S.M.N. Al-Attas berpendapat bahwa pada tahap pertama Islam di Indonesia yang menonjol adalah aspek hukumnya bukan aspek mistik karena ia melihat bahwa kecenderungan penafsiran Alquran secara mistik itu baru terjadi antara 1400-1700M.2)

b. Teori Mekah (Arab)

1 Muhammad Yuzar dkk. Sejarah untuk SMA Kelas XI IPS. Pekanbaru: Amara. 2010. hlm. 42

(5)

Menurut teori ini, agama Islam yang masuk dan berkembang di Indonesia berasal dari Mekah. Hal ini didasarkan pada dianutnya mazhab Syafii oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Mazhab syafii merupakan mazhab besar dan istimewa di Mekah. Di samping itu teori Mekah atau Arab ini didasarkan pula pada adanya perkampungan orang-orang Arab di pantai Barat Sumatera. Teori ini antara lain dikemukakan oleh Hamka.

Hamka mengemukakan pendapatnya ini pada tahun 1958, saat orasi yang disampaikan pada Perguruan Tinggi Islam Negeri (PTIN) di Yogyakarta. Ia menolak seluruh anggapan para sarjana Barat yang mengemukakan bahwa Islam datang ke Indonesia tidak langsung dari Arab. Bahan argumentasi yang dijadikan bahan rujukan Hamka adalah sumber lokal Indonesia dan sumber Arab. Menurutnya, motivasi awal kedatangan orang Arab tidak dilandasi oleh nilai-nilai ekonomi, melainkan di dorong oleh motivasi spirit penyebaran agama Islam. Dalam pandangan Hamka, jalur perdagangan antara Indonesia dengan Arab telah berlangsung jauh sebelum tarikh masehi.

Menurut Hamka, Penulis Barat melakukan upaya yang sangat sistematik untuk menghilangkan keyakinan negeri-negeri Melayu tentang hubungan rohani yang sangat erat antara mereka dengan tanah Arab sebagai sumber utama Islam di Indonesia dalam menimba ilmu agama. Dalam pandangan Hamka, orang-orang Islam di Indonesia mendapatkan Islam dari orang- orang pertama (orang Arab), bukan hanya sekedar dari perdagangan. Pandangan Hamka ini hampir sama dengan Teori Sufi yang diungkapkan oleh A.H. Johns yang mengatakan bahwa para musafirlah (kaum pengembara) yang telah melakukan islamisasi awal di Indonesia. Kaum Sufi biasanya mengembara dari satu tempat ke tempat lainnya untuk mendirikan kumpulan atau perguruan tarekat.

(6)

Pendukung teori Persia mengemukakan bahwa terdapat beberapa kesamaan kebudayaan yang berkembang di kalangan masyarakat nusantara dengan budaya masyarakat Persia. Kesamaan budaya itu antara lain dalam hal peringatan 10 Muharam atau Syura sebagai peringatan kaum Syiah atas kematian Husain, putra Ali. Teori ini antara lain dikemukakan oleh Hoesein Djajadiningrat.

d. Teori Cina

Teori Cina mengatakan bahwa proses kedatangan Islam ke Indonesia (khususnya di Jawa) berasal dari para perantau Cina. Orang Cina telah berhubungan dengan masyarakat Indonesia jauh sebelum Islam dikenal di Indonesia. Pada masa Hindu-Buddha, etnis Cina atau Tiongkok telah berbaur dengan penduduk Indonesia terutama melalui kontak dagang. Bahkan, ajaran Islam telah sampai di Cina pada abad ke-7 M, masa dimana agama ini baru berkembang. Sumanto Al Qurtuby dalam bukunya Arus Cina-Islam-Jawa menyatakan, menurut kronik masa Dinasti Tang (618-960) di daerah Kanton, Zhang-zhao, Quanzhou, dam pesisir Cina bagian selatan, telah terdapat sejumlah pemukiman Islam.

Bahkan menurut sejumlah sumber lokal tersebut ditulis bahwa raja Islam pertama di Jawa, yakni Raden Patah dari Bintoro Demak, merupakan keturunan Cina. Ibunya disebutkan berasal dari Campa, Cina bagian selatan (sekarang termasuk Vietnam). Berdasarkan Sajarah Banten dan Hikayat Hasanuddin, nama dan gelar raja-raja Demak beserta leluhurnya ditulis dengan menggunakan istilah Cina.

(7)

masing-masing memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri. Tidak ada kemutlakan dan kepastian yang jelas dalam masing-masing teori tersebut.3)

Walaupun dari keempat teori ini tidak terdapat titik temu, namun mempunyai persamaan pandangan yakni Islam sebagai agama yang dikembangkan di Nusantara melalui jalan damai. Dan Islam tidak mengenal adanya misi sebagaimana yang dijalankan oleh kalangan Kristen atau Katolik.

2.2 Saluran-saluran Penyebaran Islam di Indonesia

Proses masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia melalui beberapa saluran atau cara berikut ini.

a. Melalui Perdagangan

Hal ini terkait dengan perkembangan lalu lintas pelayaran dan perdagangan pada abad ke-7 sampai abad ke-16 dari Eropa, Timur Tengah, India, Asia Tenggara, dan Cina. Para pedagang Islam dari Arab, Persia, dan Gujarat singgah berbulan-bulan di Malaka dan pelabuhan-pelabuhan di Indonesia menunggu angin muson yang berupa arah tiap enam bulan sekali untuk kembali ke negeri asalnya. Selama menunggu itu terjadilah proses interaksi dengan masyarakat setempat, para bangsawan, bahkan dengan para raja.4) Di bandar-bandar dagang itulah para pedagang

Arab, Persia, dan Gujarat memperkenalkan dan mengajarkan ajaran Islam kepada para pedagang lain dan penduduk setempat. Oleh karena itu, penduduk di sekitar kota bandar termasuk orang-orang yang pertama memeluk agama Islam. Dengan demikian bandar menjadi pusat pertemuan, pintu masuknya Islam ke Indonesia, tempat belajar agama Islam dan pusat penyebaran agama Islam. Bahkan dalam perkembangannya, bandar-bandar tersebut kemudian berkembang menjadi pusat pemerintahan, seperti Samudra Pasai, Perlak, Palembang, Banten,

3 Muhammad Yuzar dkk. Sejarah untuk SMA Kelas XI IPS. Pekanbaru: Amara. 2010. hlm. 43

(8)

Sunda Kelapa, Cirebon, Demak, Jepara, Tuban, Gresik, Banjarmasin, Gowa, Ternate, dan Tidore.5)

b. Melalui Perkawinan

Ada pula di antara para pedagang Arab, Persia, dan Gujarat yang kemudian menikah dengan wanita-wanita Indonesia. Melalui perkawinan tersebut terbentuklah ikatan kekerabatan besar beragama Islam yang merupakan awal terbentuknya masyarakat Islam. Sampai sekarang di beberapa kota Indonesia di temukan kampung Pekojan, yaitu perkampungan para pedagang Gujarat (Koja artinya pedagang Gujarat). Perkawinan dilangsungkan pula dengan golongan bangsawan. Misalnya, Raden Rahmat atau Sunan Ampel menikahi Nyai Manila, Sunan Gunung Jati dengan Puteri Kawungaten, dan Raja Brawijaya dengan Puteri Ceumpa yang beragama Islam, yang kemudian berputera Raden Fatah.6)

c. Melalui Pendidikan

Para ulama atau mubalig mendirikan pondok pesantren di beberapa tempat di nusantara. Disanalah para santri dari berbagai daerah mendapatkan pendididkan agama Islam secara mendalam. Setelah tamat, mereka berkewajiban menyebarkan ajaran Islam di daerah masing-masing sehingga mendorong munculnya pondok-pondok pesantren baru, misalnya Pesantren Ampel Denta yang didirikan oleh Raden Rahmat mempunyai murid Sunan Giri, Sunan Drajat, Sunan Bonang, dan Raden Fatah. Sunan Giri kemudian mempunyai murid Fatahillah atau Faletehan dari Pasai. d. Melalui Politik

Proses penyebaran Islam secara politik dilakukan oleh para penguasa pribumi. Sebagai orang yang memiliki pengaruh besar dalam masyarakat, apa yang dilakukan penguasa sering dijadikan panutan. Itulah sebabnya tindakan penguasa yang masuk Islam segera diikuti oleh rakyatnya. Semakin besar dan luas pengaruh penguasa, maka akan semakin luas pula penyebaran pengaruh Islam itu. Penyebara Islam secara

5 Muhammad Yuzar dkk. Sejarah untuk SMA Kelas XI IPS. Pekanbaru: Amara. 2010. hlm. 45

(9)

politik juga semakin sering dilakukan seiring dengan munculnya kerajaan-kerajaan Islam ini banyak yang melakukan ekspansi.7)

e. Melalui Seni Budaya

Penyebaran agama Islam melalui sarana seni budaya disesuaikan dengan keadaan di Indonesia karena ketika itu kebudayaan Hindu-Buddha dan kepercayaan asli masih berakar kuat. Para penyebar agama Islam tidak mengubah seni budaya tersebut, bahkan mereka menggunakan seni budaya tersebut sebagai sarana menyebarkan Islam. Contoh seni budaya yang berpengaruh dalam proses islamisasi antara lain seni gamelan dan wayang. Sering kali ajaran Islam diselipkan dalam cerita-cerita wayang, seperti yang dilakukan oleh Sunan Kalijaga. Pengaruh Islam juga berkembang melalui seni sastra, seni rupa, kaligrafi, seni ukir dan lain-lain.

f. Melalui Ajaran Tasawuf

Tasawuf mengajarkan umat Islam agar selalu membersihkan jiwa dan mendekatkan diri dengan Allah SWT. Kaum sufi (penganut tasawuf) hidup sederhana dan sering kali memiliki keahlian yang bersifat magis, seperti menyembuhkan penyakit dan ilmu kebathinan. Tokoh-tokoh tasawuf yang terkenal antara lain Hamzah Fansuri, Nurrudin ar-Raniri, Syekh Siti Jenar, dan Sunan Panggung.8)

2.3 Tokoh-tokoh yang Berperan dalam Penyebaran Islam

1. Peranan Kaum Sufilah

Kaum Sufi memberikan konstribusi besar dalam proses persebaran Islam di Indonesia. Islamisasi di Indonesia bersamaan waktunya dengan kurun waktu ketika paham Sufi mulai mendominasi dunia Islam, yaitu setelah jatuhnya Baghdad ke tangan bangsa Mongol pada tahun 1258. Kaum Sufi yang berasal dari berbagai kebangsaan itu sedang melakukan perjalanan ke Indonesia dengan menggunakan kapal dagang.

2. Peranan Ulama dan Mubalig

7 Muhammad Yuzar dkk. Sejarah untuk SMA Kelas XI IPS. Pekanbaru: Amara. 2010. hlm. 45

(10)

Diantara ulama atau mubalig yang tertulis dalam sejarah yang memiliki peran penting dalam proses persebaran Islam di Indonesia adalah Dato’ri Bandang dan Dato Sulaeman yang menyebarkan Islam di daerah Sulawesi dan Tuan Tunggang’ri Parangan yang melanjutkan penyebaran agama Islam ke Kutai, Kalimantan Timur.

3. Peranan tokoh-tokoh pemikir Islam

Melalui karya-karya tulisnya, para pemikir ini memberikan pengetahuan tentang berbagai hal yang berkaitan dengan ajaran agama Islam. Diantara para pemikir Islam tersebut yang terkenal adalah Hamzah Fansuri, Nuruddin ar-Raniri dan Bukhari al-Jauhari. Hamzah Fansuri,

adalah pemikir Islam yang mengembangkan ajaran tasawuf Qodariyah. Ia menetap di Aceh ketika Kesultanan Aceh diperintah oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1636). Nuruddin ar-Raniri, merupakan tokoh pemikir Aceh masa pemerintahan Sultan Iskandar Thani. Tahun 1638 ia menyusun kitab Bustanus Salatin. Melalui Bustanus Salatin, yang memuat tentang sejarah penciptaan bumi dan langit, riwayat para nabi, sejarah kerajaan-kerajaan Islam, dan tentang raja-raja yang memiliki sifat adil, cakap dan saleh. Pengetahuan Islam disebarkan ke berbagai wilayah di Nusantara. Bukhari al-Jauhari, yang hidup pada masa pemerintahan Sultan Alaudin Riayat Syah (1538-1579). Karyanya yang terkenal adalah Tajus Salatin yang berisikan ajaran dan petunjuk bagaimana seseorang mengenali dirinya sendiri, mengenal Tuhan sebagai pencipta kehidupan dan mengenal dunia dengan segenap kehidupannya.

4. Peranan Wali

(11)

Para wali mengizinkan masyarakat melaksanakan kebiasaan-kebiasaan lama, asal tidak menyekutukan Allah. oleh karenanya, tidaklah mengherankan jika masyarakat dapat menerima ajaran Islam dengan mudah dan dengan cepat berkembang ke seluruh pendalaman Jawa. Para wali ini juga menyebarkan ajaran Islam di luar Jawa hingga ke berbagai daerah di Nusantara, seperti Sunan Giri penyebaran Islamnya hingga ke Maluku demikian juga dengan wali lain.

5. Peranan Pedagang

Pedagang Islam baik itu dari Arab, Persia, maupun India disamping melakukan aktivitas perdagangan juga menyebarkan Islam yang pertama kali di kawasan Malaka. Pertemuan itu memberikan pengaruh dalam bidang budaya maupun agama. Mereka menyebarkan ajaran Islam ketika mereka menunggu angin muson untuk kembali berlayar.9)

2.4 Kerajaan Islam Pertama di Indonesia

Dalam perkembangannya, masyarakat Islam telah menjadi kekuatan baru di Indonesia. Kekuatan masyarakat Islam yang berbasis pada sektor pelayaran dan perdagangan mampu mengimbangi kekuatan Hindu-Budha yang berpusat di daerah pedalaman yang berbasis pada agraris (pertanian). Bahkan masyarakat Islam mulai berusaha untuk memisahkan diri dari kekuasaan kerajaan Hindu-Budha. Kota-kota bandar yang semula berada di bawah kekuasaan kerajaan Hindu-Budha telah berubah menjadi pusat-pusat kerajaan Islam. Dengan demikian, berdiri dan perkembangan kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia tidak dapat dipisahkan dari pesatnya perkembangan agama Islam di Indonesia.

1. Kerajaan Perlak

Berdasarkan bukti-bukti sejarah terbaru dapat diketahui bahwa kerajaan Islam tertua di Indonesia adalah Kerajaan Perlak dengan ditemukannya bukti naskah tua berbahasa Melayu, seperti Idharatul Haq

(12)

fi Mamlakatil Ferlah Wal Fasi, Kitab Tazkirah Thabakat Jumu Sultan As Salathin, dan Silsilah Raja-raja Perlak dan Pasai. Kerajaan Perlak didirikan pada tanggal 1 Muhharam 225 H (840 M) yang diperintahkan oleh Saiyid Abdul Aziz yang bergelar Sultan Alaidin Saiyid Maulana Abdul Aziz Shah.

Di samping itu, disebutkan bahwa raja terakhir yang memerintahkan Perlak adalah Sultan Makhdum Alaidin Malik Abdul Aziz Syah Johan yang memerintah Perlak pada tahun 662-692 H (1263-1292 M). Setelah itu, berita tentang kerajaan Perlak sudah tidak ditemukan lagi. Hal itu dapat dipahami karena menurut bukti sejarah yang ditemukan kemudian menyebutkan bahwa kerajaan Perlak sudah disatukan dengan kerajaan Samudera Pasai. Penyatuan itu sebagai akibat perkawinan antara Putri Ganggang Sari (dari Perlak) dengan Sultan Muhammad Malikul Dhakir, putera Sultan Malikul Saleh.

2. Kerajaan Samudera Pasai

Kerajaan ini berkembang dengan pesat dan memiliki dua bandar perdagangan yang ramai, yaitu Samudera dan Pasai. Kerajaan Samudera Pasai mendapat pengaruh Islam pada abad VIII. Akan tetapi, Kerajaan Samudera Pasai baru bisa didirikan pada abad XIII yang diperintahkan oleh Sultan Malik Al-Saleh yang terkenal sebagai peletak dasar kekuasaan Islam. Ia berhasil mengembangkan perdagangan sebagai pilar ekonomi kerajaan, sehingga menyebabkan Samudera Pasai berkembang menjadi kerajaan yang kuat dan berpengaruh.

(13)

sinarnya karena kalah bersaing dengan orang-orang Portugis yang datang ke Selat Malaka pada tahun 1511. Samudera Pasai sendiri mulai diduduki oleh Portugis pada tahun 1524. Pada masa kejayaannya, Samudera Pasai pernah dikunjungi oleh Maco Polo seorang saudagar dari Venesia (Italia) pada tahun 1292 dan Ibn Battuta seorang pengembara dari Taugier (Marroko) pada tahun 1345.

3. Kerajaan Malaka

Pada abad XIV, Malaka telah berkembang menjadi bandar perdagangan yang yang paling penting di Asia Tenggara. Kerajaan Malaka didirikan oleh Parameswara, seorang keturunan bangsawan Majapahit. Ia sebagai raja pertama dengan gelar Sultan Iskandar Syah dan memerintah Malaka pada tahun 1296-1414. Di bawah kepemimpinannya, Malaka mengalami perkembangan pesat. Malaka menjadi pusat perdagangan dan penyebaran Islam di Asia Tenggara. Tahun 1511, Malaka diserang dan berhasil dikuasai oleh Portugis. Orang-orang Portugis dipimpin oleh d’Albuquerque. Akhirnya, bangsa Portugis mulai menanamkan pengaruh dan kekuasaannya di Asia Tenggara.

4. Kerajaan Aceh

(14)

sekedar untuk mencapai tujuan politik saja tetapi juga motif ekonomi, karena daerah-daerah itu kaya akan hasil bumi dan komoditas perdagangan.

Setelah Sultan Ali Mughayat Syah meninggal ia diganti oleh putranya, Husain. Akan tetapi kepemimpinan Husain ini banyak mendapat pertentangan dari sultan-sultan kecil bawahan Aceh. Terjadilah perlawanan dari Sultan Pariaman, Aru, Fansur, dan Barus. Dalam pertempuran tersebut Sultan Husein meninggal dunia. Ia kemudian digantikan oleh Sultan Ali Riayat Syah (1586-1588).

Kerajaan Aceh dapat disatukan lagi setelah diperintahkan oleh Sultan Iskandar Muda (1607-1936) selain itu dibawah pemerintahannya juga secara ekonomi Aceh mengalami perkembangan yang pesat. Perkembangan sastra mendapat perhatian sehingga muncul ahli-ahli sastra seperti Nuruddin Ar-Raniri dan Hamzah Fansuri. Kehidupan masyarakat yang bernuansa Islam semakin berkembang sehingga Aceh dikenal sebagai negeri Serambi Mekkah.

Tahun 1636, Sultan Iskandar Muda wafat dan digantikan Sultan Iskandar Thani (1636-1641). Pada saat itu, Aceh masih dapat mempertahankan kekuasaannya. Namun, setelah Iskandar Thani wafat, Aceh mengalami kemunduran karena hal itu bersamaan dengan jatuhnya Malaka ke tangan orang Belanda. Di bawah pemerintahan Sultan Safiatuddin banyak daerah yang melepaskan diri karena praktik adu domba yang dilakukan Belanda.

5. Kerajaan Demak

(15)

sebagai pemimpin dan penyebar agama Islam di Jawa, bahkan ia juga membangun sebuah masjid yang megah yaitu Masjid Demak.

Setelah Raden Patah meninggal, pergantian kepemimpinan terus berganti mulai dipimbin oleh Pati Unus (518-1521), Sultan Trenggono (1521-1546), kemudian Aryo Penangsang mengangkat dirinya sebagai penguasa baru Demak (1546-1568), banyak pihak yang tidak menerimanya karena ia sangat kejam dan banyak lawan politiknya yang dibunuh. Tindakan Aryo Penangsang itu menyulut kemarahan para adipati. Salah satu adi pati tersebut adalah Jaka Tingkir atau Mas Karebet.

6. Kerajaan Pajang

Pendiri Kerajaan Pajang adalah Adiwijaya (1568-1582). Sebagai penguasa Pajang, Adiwijaya mendapat pengakuan dari Sunan Giri dan para adipati di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Setelah menjadi Sultan, Adiwijaya tidak pernah lupa terhadap jasa-jasa para sahabatnya yang ikut membantu mengalahkan Arya Penangsang. Ketika Sultan Adiwijaya wafat (1582) seharusnya digantikan oleh Pangeran Benawa, tetapi ia berhasil disingkirkan oleh Arya Pangiri (1582-1586) sedangkan Pangeran Benawa hanya dijadikan adipati di Jipang.

(16)

7. Kerajaan Mataram Islam

Sutawijaya menjadi Sultan Mataram (1586-1601) dengan gelar Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama Kalifatullah. Artinya sultan yang sekaligus sebagai panglima perang dan pemimpin agama. Di masa pemerintahannya timbul berbagai konflik dan peperangan yang terjadi antara Sutawijaya dan para adipati yang tidak bersedia mengakui kekuasaan Sutawijaya sebagai sultan. Surabaya, Demak, Ponorogo, Madiun, Kediri dan Pasuruan tidak mau mengakui kekuasaan Sutawijaya dan berusaha melepaskan diri dari Mataram.

Sutawijaya wafat pada tahun 1601 dan digantikan oleh putranya yang bernama Mas Jolang (1601-1613) yang bergelar Sultan Anyakrawati. Pada masa pemerintahannya terjadi pemberontakan dimana-mana, hingga akhirnya ia meninggal dalam pertempuran di daerah Krapyak sehingga lebih dikenal dengan sebutan Panembahan Seda Krapyak. Selanjutnya digantikan oleh Mas Rangsang yang bergelar Sultan Agung Senopati ing ngalaga Ngabdur Rachman (1613-1645). Sultan Agung segera melanjutkan cita-cita leluhurnya, yaitu mewujudkan kekuasaan Mataram yang meliputi seluruh pulau Jawa. Pada tahun 1633, Sultan Agung menciptakan tarikh Jawa-Islam berdasarkan perhitungan bulan yang dimulai pada 1 Muharam 1043 H. Ia juga berhasil menyusun karya Sastra Gending yang berisi ajaran filsafat mengenai kesucian jiwa. Disamping itu, ia berhasil menyusun buku undang-undang pidana dan perdata yang diberi nama Surya Alam. Sultan Agung wafat pada tahun 1645 dan dikenang sebagai raja yang terbesar karena dapat membawa Mataram mencapai masa keemasan.

8. Kerajaan Cirebon

(17)

Hidayatullah kemudian dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati. Cirebon berkembang dengan pesat sebagai pusat perdagangan dan penyebaran agama Islam. Syarif Hidayatullah wafat di Cirebon dan dimakamkan di bukit Gunung Sembung, tidak jauh dari bukit Gunung Jati. Selanjutnya tahtanya digantikan oleh Pangeran Pasarean yaitu putra Syarif Hidayatullah. Tahun 1679 Cirebon terpaksa dibagi dua yaitu Kasepuhan dan Kanoman. Akhir abad ke-17 Cirebon berhasil dikuasai VOC.

9. Kerajaan Banten

Dasar-dasar pembentukan Kesultana Banten telah dirintis oleh Nurullah pada tahun 1525 atas persetujuan Sultan Demak. Pada tahun 1522, Portugis telah menandatangani persetujuan dengan Pakuan Pajajaran untuk mendirikan benteng di Sunda Kelapa. Namun sebelum maksud Portugis dilaksanakan, Nurullah telah merebut Sunda Kelapa dari Pajajaran pada tahun 1527. Atas kemenangannya itu, Nurullah diberi gelar Fatahillah (Kemenangan Allah) oleh Sultan Trenggono. Disamping itu, nama Sunda Kelapa diganti dengan Jayakarta. Kemudian Banten diserahkan kepada puteranya yang kedua, yaitu Hasanuddin pada tahun 1552. Sejak saat itu, Banten melepaskan diri dari Demak dan berdiri sebagai kerajaan yang merdeka. Oleh karena itu, Sultan Hasanuddin (1552-1570) dianggap sebagai sultan Banten yang pertama. Pada tahun 1570, Sultan Hasanuddin wafat dan digantikan oleh anaknya yang bernama Pangeran Yusuf (1570-1580). Pada tahun 1579, Pangeran Yusuf menyerang Pajajaran dan sejak saat itu berakhirlah riwayat kerajaan Hindu di Jawa Barat. Sedangkan Pangeran Yusuf digantikan oleh Maulana Yusuf. Maulana Yusuf meninggal pada tahun 1595, ketika memimpin ekspedisi ke Palembang. Banten pun mulai surut karena kalah bersaing dengan VOC yang berkuasa di Batavia.

10. Kerajaan Ternate dan Tidore

(18)

para pedagang dari Gresik dan Tuban adalah yang berperan besar dalam Islamisasi wilayah ini. Raja Ternate yang pertama kali memeluk Islam adalah Gapi Buta atau Zainal Abidin atau Sultan Marhum (1465-1486). Sementara raja Tidore yang pertama kali masuk Islam adalah Cirililiyah atau Sultan Jamaluddin.

Di bawah pemerintahan Sultan Ben Acorala (Ternate) dan Sultan Almancor (Tidore) kedua negara itu terus bersaing dalam memperebutkan hegemoni perdagangan di kawasan Maluku. Sehingga pada waktu itu di Maluku terdapat dua persekutuan besar, yaitu Uli Lima (persekutuan lima daerah) dan Uli Siwa (persekutuan sembilan daerah). Setelah Zainal Abidin meninggal, pemerintahan Ternate kemudian berpindah ke tangan Sultan Tabariji. Pada masa pemerintahan Tabariji inilah Portugis dan Spanyol mulai masuk ke Maluku. Kehadiran kedua bangsa itu makin memperuncing permusuhan antara Ternate dan Tidore.

(19)

11. Kesultanan Gowa-Tallo (Makasar)

Kerajaan Gowa-Tallo secara resmi menjadi kerajaan yang bercorak Islam pada masa pemerintahan Daeng Manrabbia (1591-1638). Setelah masuk Islam (1605) ia kemudian bergelar Sultan Alaudin. Setelah resmi menjadi kerajaan Islam, Gowa-Tallo mulai menyebarkan agama Islam ke kerajaan-kerajaan lain. Kendati awalnya mendapat tantangan, tetapi pada akhirnya beberapa kerajaan yang tergabung dalam persekutuan Tellumpoco (persekutuan yang dibentuk oleh Bone, Soppeng, Wajo tahun 1528 untuk membendung pengaruh Gowa-Tallo) berhasil diIslamkan.

Setelah Sultan Alaudin meninggal, posisinya kemudian digantikan oleh Sultan Muhammad Said (1639-1653). Masa puncak kerajaan Gowa-Tallo terjadi pada masa pemerintahan Sultan Hasanuddin (1653-1669). Pada masa kepemimpinannya, wilayah kekuasaan Gowa-Tallo semakin luas, yang antara lain meliputi seluruh wilayah Sulawesi bagian Selatan dan wilayah yang sekarang disebut dengan Nusa Tenggara. Ia mendapat gelar “Ayam Jantan dari Timur”. Setelah Hasanuddin meninggal, ia digantikan oleh puteranya Mapasomba. Pada masa pemerintahan Mapasomba kejayaan Gowa-Tallo semakin redup.

12. Kerajaan Banjar

Kerajaan Banjar adalah kerajaan Islam yang terletak di Kalimantan Selatan yang dipimpin oleh Pangeran Samudera. Setelah masuk Islam Pangeran Samudera bergelar Sultan Suryanullah. Di bawah kepemimpinannya Kerajaan Banjar terus berkembang. Daerah kekuasaannya meliputi Sukadana, Kota Waringin dan Rawei.10)

2.5 Perbandingan Konsep Kekuasaan Pada Kerajaan-Kerajaan Bercorak Islam dengan Hindu Budha.

1. Konsep kekuasaan pada kerajaan bercorak Hindu-Budha

Dalam struktur kekuasaan kerajaan Hindu-Budha, raja menjadi pemimpin kerajaan yang berkuasa mutlak di dalam pemerintahan. Padanya

(20)

melekat kekuasaan dan hak untuk membuat undang-undang yang diantaranya dibuat dengan tujuan untuk mengukuhkan kedudukannya. Raja juga memainkan peranan yang sangat menentukan dalam merumuskan sebuah kebijakan ekonomi. Ibu kota kerajaan menjadi pusat kegiatan ekonomi. Raja menjamin keamanan dan kemakmuran kerajaan dan rakyat. Raja menggunakan golongan Brahmana untuk menonjolkan kesaktian dan kekuatannya, dengan tujuan menanamkan keyakinan dan ketaatan rakyat. Raja juga menjadi pimpinan tertinggi dalam angkatan perang dan prajurit. Dengan demikian di tangan rajalah semua kebijakan diputuskan, termasuk masalah penyelesaian tanah dan pekerjaan apabila pegawai-pegawai peradilan kerajaan tidak dapat menyelesaikan masalah itu melalui undang-undang.

2. Konsep kekuasaan pada kerajaan bercorak Islam

Sultan dan raja kerajaan Islam di Indonesia pada masa itu diangkat oleh Bani Ummayah. Lambang bulan bintang yang menjadi lambang Bani Ummayah menghiasi kubah-kubah masjid di Indonesia. Tentang konsep kekuasaan dalam tradisi politik Islam, berkembang paham bahwa penguasa memerintah berdasarkan mandat dari Tuhan, dan bukan dari rakyat. Dalam tradisi politik Islam di Indonesia, seperti tampak dalam teks Sejarah Melayu atau Taj al-Salatin, Raja dianggap sebagai orang yang mulia dan mempunyai berbagai kelebihan. Posisi raja setingkat dengan Nabi, dan sebagai pengganti Tuhan di muka bumi. Dalam hal ini, teks Taj al-Salatin menganalogikan raja dan Nabi sebagai “dua permata dalam satu cincin”. Konsep ini mengandung arti dua kekuasaan yaitu keduniaan dan keagamaan. Oleh karena itu, kekuasan raja atau penguasa menjadi suci dan wajib hukumnya bagi rakyat untuk taat kepada penguasa dengan melaksanakan apapun titahnya.

(21)

Posisi hukum demikian sering mengakibatkan munculnya tindakan-tindakan raja yang sewenang-wenang, tidak bertumpu pada asas rule of law, tidak terbuka terhadapap keragaman, dan sebagainya.

2.6 Perkembangan Islam di Indonesia sebelum Kemerdekaan

Pesatnya perkembangan Islam di Indonesia didukung oleh beberapa faktor, yaitu:

1) Syarat untuk memeluk agama Islam sangat mudah. 2) Kewajiban berdakwah merupakan tugas setiap muslim.

3) Para saudagar maupun ulama dalam menyampaikan Islam menggunakan pendekatan yang persuasif dan cara dakwah yang simpatik.

4) Para ulama juga memiliki kelebihan rohaniah melalui ajaran tasawwuf. 5) Ajaran Islam tidak mengenal pembedaan derajat manusia berdasarkan

kasta/gelar.

6) Ajaran Islam dipandang sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia.11)

a. Bukti-bukti penyebaran Islam di Indonesia 1. Makam Fatimah binti Maimun

Berdasarkan penelitian sejarah telah ditemukan sebuah makam Islam di Leran, Gresik. Pada batu nisan tertulis nama seorang wanita yang bernama Fatimah binti Maimun dan angka tahun 1082 (475 H). Artinya dapat dipastikan bahwa pada akhir abad XI Islam telah masuk ke Indonesia.

2. Makam Sultan Malik Al-Saleh

Makam Sultan Malik Al-Saleh yang berangka tahun 1297 merupakan bukti bahwa Islam telah masuk dan berkembang di daerah Aceh pada abad XIII. Mengingat Malik Al-Saleh adalah seorang Sultan, maka dapat diperkirakan bahwa Islam telah masuk ke daerah Aceh jauh sebelum Malik Al-Saleh mendirikan Kesultanan Samudera Pasai.

(22)

3. Sumber berita Ma-Huan

Penemuan puluhan batu nisan di Troloyo, Trowulan Gresik yang berasal dari abad ke-13. Sumber berita dari Ma-Huan (1416) yang menyebutkan bahwa pada abad ke-13 telah banyak orang-orang muslim di Gresik.

4. Sumber berita Marco Polo

Marco Polo menceritakan bahwa pada abad XIII, Islam telah berkembang di Sumatera Utara dan Jawa. 12)

5. Ceritera Ibn. Battuta

Pada tahun 1345, Ibn Battuta mengunjungi Samudera Pasai. Ia menceritakan bahwa Sultan Samudera Pasai sangat baik terhadap ulama dan rakyatnya.

6. Sumber Dinasti Tang

Islam masuk ke Indonesia sejak abad ke-7 dan 8 M. Hal itu dibuktikan, dengan ramainya Selat Malaka dari aktivitas pedagang-pedagang Muslim.

7. Sumber berita Tome Pires

Sumber berita Tome Pires dalam Suma Orienta, yang menyebutkan bahwa daerah-daerah sekitar pesisir Utara Sumatera telah banyak masyarakat dan kerajaan Islam.13)

b. Perkembangan tradisi Islam di berbagai daerah 1. Tradisi Ziarah

Tradisi ziarah atau mengunjungi makam para wali sudah menyebar luas di Jawa. Para peziarah memiliki kepercayaan bahwa berziarah merupakan tindakan ibadah yang membawa berkah dan merupakan suatu cara untuk menghormati orang yang telah meninggal dunia dan di akhirat.

2. Tradisi Maulud

12 Aziz. Buku Ajar Pendidikan Agama Islam kelas IX semester 1. Surakarta:Citra Pustaka. 2009. Hlm. 54.

(23)

Tradisi maulud merupakan tradisi perayaan keagamaan yang berkembang dalam masyarakat Islam untuk memperingati hari kelahiran nabi Muhammad s.a.w yang jatuh pada tanggal 12 Rabiul Awal bulan Khomariah ketiga menurut penanggalan Islam.

3. Tradisi Tajdid

Tajdid atau pembaharuan merupakan tradisi yang muncul secara periodik dalam dunia Islam.

4. Tradisi Daur Kehidupan dalam Ajaran Islam

Ada 4 jenis upacara yang biasa dilakukan oleh umat Islam di Indonesia, yaitu kelahiran, masa memasuki dewasa, menikah, dan meninggal.14)

c. Perkembangan pendidikan, kesenian dan kesusastraan bercorak Islam a) Perkembangan Pendidikan Islam

1. Perkembangan pendidikan Islam di Sumatera

Di wilayah Barat kepulauan Indonesia, Aceh dan Minangkabau bisa disebut sebagai puat muncul dan berkembangnya pendidikan dan ilmu pengetahuan Islam hingga ke Malaka dan Filiphina. Syekh Abdurrauf berhasil menterjemahkan tafsir Alquran ke dalam bahasa Melayu.

2. Perkembangan pendidikan Islam di Jawa

Agama Islam berkembang di Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat, terutama kota-kota pesisir pantai seperti Gresik, Surabaya, Demak dan Banten. Pendidikan Islam di Jawa tidak lepas dari keberadaan kerajaan Islam, para Walisanga, Kyai dan ulama lokal.

3. Perkembangan pendidikan Islam di Kalimantan

Perkembangan pendidikan Islam ini berasal dari masjid, pesantren dan madrasah.

4. Perkembangan pendidikan Islam di Sulawesi

(24)

Perkembangan pendidikan Islam di wilayah ini tidak lepas dari peran para ulama dan mubalig seperti syekh As’ad Rasyid. Pendidikan Islam ini diajarkan melalui masjid, pesantren dan madrasah.15)

b) Perkembangan Kesenian Islam a. Perkembangan seni pertunjukan

Contohnya seni tari Seudati, seperti yang berkembang di daerah Aceh. Tari ini dilakukan oleh delapan penari sambil menyanyikan lagu tertentu yang isinya tentang salawat Nabi. b. Perkembangan bidang seni rupa

Contohnya seni kaligrafi, yaitu seni tulis indah dengan menggunakan huruf Arab.

c. Perkembangan bidang seni bangunan Contohnya bangunan masjid dan keraton. d. Perkembangan kesusastraan Islam

Contohnya hikayat, syair bernuansa Islam dan suluk. e. Sastra Islam berbentuk hikayat

Contohnya babad tanah Jawi yang menceritakan berbagai hal yang berkaitan dengan kerajaan-kerajaan di Jawa.

f. Sastra Islam berbentuk syair

Contohnya syair karya Ali Haji, yang berisi nasehat bagi para pemimpin, pegawai dan rakyat biasa agar dihormati dan disegani oleh orang lain.

g. Sastra Islam berbentuk suluk

Mengacu pada hidup dengan cara sufi atau mengikuti aturan sufi. Dalam kesusastraan Jawa tradisi suluk dikategorikan sebagai ajaran spiritual orang Islam Jawa yang ditulis dalam bentuk puisi.16)

15 Muhammad Yuzar dkk. Sejarah untuk SMA Kelas XI IPS. Pekanbaru: Amara. 2010. hlm. 53-54

(25)

2.7 Latar Belakang Kedatangan Belanda, VOC, Hindia Belanda.

Tujuan Belanda datang ke Indonesia, untuk mengembangkan usaha perdagangan, yaitu mendapatkan rempah-rempah yang mahal harganya di Eropa. Perseroan Amsterdam mengirim armada kapal dagangnya yang pertama ke Indonesia tahun 1595, terdiri dari empat kapal di bawah pimpinan Cornelis de Houtman. Menyusul kemudian angkatan kedua tahun 1598 di bawah pimpinan van Nede, van Heemskerck, dan van Warwijck. Selain dari Amsterdam, juga datang beberapa kapal dari berbagai kota di Belanda. Angkatan ketiga berangkat tahun 1599 di bawah pimpinan van der Hagen dan angkatan keempat tahun 1600 di bawah pimpinan van Neck.

Pada bulan Maret 1602, perseroan-perseroan itu bergabung dan disahkan oleh Staten-General Republik dengan satu piagam yang memberi hak khusus kepada perseroan gabungan tersebut untuk berdagang, berlayar, dan memegang kekuasaan serta melakukan kegiatan-kegiatan politik dalam rangka menunjang usaha perdagangannya di kawasan antara Tanjung Harapan dan Kepulauan Solomon, termasuk Kepulauan Nusantara. Perseroan itu bernama Vereenigde Oost Indische Compagnie (VOC).

Dalam pelayaran pertama, VOC sudah mencapai Banten dan Selat Bali. Pada pelayaran kedua, mereka sampai ke Maluku untuk membeli rempah-rempah. Dalam angkatan ketiga, mereka sudah terlibat perang melawan Portugis di Ambon, tetapi gagal, yang memaksakan mereka untuk mendirikan benteng tersendiri. Mereka kali ini sudah berhasil membuat kontrak dengan pribumi mengenai jual-beli rempah-rempah. Dalam angkatan keempat, mereka berhasil membuka perdagangan dengan Banten dan Ternatre, tetapi mereka gagal merebut benteng Portugis di Tidore.

(26)

tahun 1798, VOC dibubarkan dengan saldo kerugian sebesar 134,7 juta gulden. Sebelumnya, pada 1795 izin operasinya dicabut. Kemunduran, kebangkrutan, dan dibubarkan VOC disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain pembukuan yang curang, pegawai yang tidak cakap dan korup, hutang besar, dan sistem monopoli serta sistem paksa dalam pengumpulan bahan-bahan/ hasil tanaman penduduk menimbulkan kemerosotan moril baik para penguasa maupun penduduk yang sangat menderita.

Dengan bubarnya VOC, pada pengganti abad ke-18 secara resmi Indonesia pindah ketangan pemerintah Belanda. Pada tahun 1816, Belanda malah memanfaatkan daerah jajahan untuk memberi keuntungan sebanyak-banyaknya kepada negeri induk, guna menanggulangi masalah ekonomi Belanda yang sedang mengalami kebangkrutan akibat perang. Pada tahun 1830, pemerintah Hindia Belanda menjalankan sistem tanam paksa. Setelah Terusan Suez dibuka dan industri di negeri Belanda sudah berkembang pemerintah sudah menerapkan politik liberal di Indonesia. Perusahaan dan modal swasta dibuka seluas-luasnya. Meskipun dalam politik liberal itu kepentingan dan hak pribumi mendapat perhatian, tetapi pada dasarnya tidak mengalami perubahan yang berarti. Pada tahun 1901 Belanda menerapkan politik etis atau politik balas budi.17)

2.8 Sikap Belanda terhadap Umat Islam

Di tengah-tengah proses transformasi sosial yang relatif damai itu, datanglah pedagang-pedagang Barat, yaitu Portugis, kemudian Spanyol, disusul Belanda dan Inggris. Berbeda dengan watak kaum pedagang Arab dan India yang beragama Islam, kaum pedagang Barat yang beragama Kristen itu melakukan misinya dengan menggunakan kekerasan, terutama dengan teknologi persenjataan mereka yang lebih unggul daripada persenjataan kita. Tujuannya adalah menaklukkan kerajaan-kerajaan Islam Indonesia di sepanjang pesisir kepulauan Nusantara ini.

(27)

Pada mulanya mereka datang ke Indonesia hanya untuk menjalin hubungan dagang karena Indonesia kaya akan rempah-rempah, tetapi kemudian mereka ingin memonopoli perdagangan tersebut dan menjadi tuan bagi bangsa Indonesia.

Waktu itu kaum kolonial belum berani mencampuri masalah Islam, dan tidak mempunyai kebijaksanaan terhadap orang Islam karena belum memiliki pengetahuan pengetahuan mengenai Islam dan bahasa Arab, juga belum mengetahui sistem sosial Islam. Namun pada tahun 1908 pemerintah Belanda mengeluarkan instruksi kepada para bupati agar urusan-urusan agama orang Jawa tidak diganggu dan pemuka-pemuka agama mereka dibiarkan memutuskan perkara-perkara di bidang perkawinan dan kewarisan. Kemudian pada tahun 1820 dibuatlah Statsblaad untuk mempertegas instruksi ini. Campur tangan mereka lebih tampak lagi setelah adanya instruksi pada 1867 yang ditujukan kepada para kepala daerah, bupati serta wedana di seluruh Jawa dan Madura untuk mengawasi ulama-ulama agar tidak melakukan apa pun yang bertentangan dengan peraturan gubernur jenderal. Lalu tahun 1882, mereka mengatur tentang lembaga peradilan agama yang dibatasi hanya menangani perkara-perkara perkawinan, kewarisan, perwalian dan perwakilan.

Apalagi setelah kedatangan Snouck Hurgronye yang ditugasi sebagai penasihat urusan pribumi dan Arab, pemerintah Hindia Belanda lebih berani membuat kebijakan mengenai masalah Islam di Indonesia karena Snouck mempunyai pengalaman dalam penelitian lapangan di negeri Arab, Jawa dan Aceh. Lalu ia mengemukakan gagasannya yang dikenal dengan Politik Islam, yakni kebijaksanaan mengenai masalah Islam di Indonesia. Dengan politik itu, ia membagi masalah Islam dalam tiga kategori, yaitu:

(28)

Terhadap bidang agama murni, pemerintah kolonial memberikan kemerdekaan kepada umat Islam untuk melaksanakan ajaran agamanya sepanjang tidak mengganggu kekuasaan pemerintah Belanda.

Dalam bidang kemasyarakatan, pemerintah memanfaatkan adat kebiasaan yang berlaku sehingga pada waktu itu ditentukan teori untuk membatasi keberlakuan hukum Islam, yakni teori reptie yang maksudnya hukum Islam baru bisa diberlakukan apabila tidak bertentangan dengan adat kebiasaan.

Sedangkan dalam bidang politik, pemerintah melarang keras orang Islam membahas hukum Islam baik dari Alquran maupun Sunnah yang menerangkan tentang politik kenegaraan atau ketatanegaraan.

Adapun dalam masalah pendidikan, pemerintah Hindia Belanda membuat ordonansi guru pada tahun 1905 yang mengatur tentang kewajiban para guru Islam untuk meminta izin sebelum mereka mengajar. Ordonansi itu timbul setelah terjadi peristiwa Cilegon pada 1888, yaitu suatu pemberontakan para petani yang menurut mereka dimotori oleh para haji dan guru-guru agama. Ordonansi tersebut memang sengaja dibuat untuk menghambat dan menghalangi penyebaran Islam di Indonesia, karena pemerintah Hindi Belanda pun memang punya misi menyebarkan agama Kristen. Pada masa itu umumnya orang Belanda merasa optimis untuk bisa secepatnya mengikis pengaruh Islam di Indonesia dengan melalui Kristenisasi karena mereka memiliki asumsi yang keliru bahwa sinkretisnya Islam di kawasan inialan mempermudah penaklukannya. Padahal di tengah-tengah penindasan dan pengekangan kolonialisme, ajaran Islam dengan segala kekurangmurniannya dan dengan kompromisnya dengan praktik kehidupan pra-Islam, justru dapat menumbuhkan jiwa patriotisme sebagai bagian dari iman (hubbul wathan min al-iman), yang berorientasi ke arah persatuan seluruh kepulauan nusantara, dan ternyata kelak merupakan salah satu landasan yang kokoh bagi bangkitnya nasionalisme Indonesia pada permulaan abad XX.18)

2.9 Peran Umat Islam terhadap Kemerdekaan Indonesia

(29)

Ajaran Islam yang dipeluk oleh sebagaian besar rakyat Indonesia telah memberikan kontribusi besar, serta dorongan semangat, dan sikap mental dalam perjuangan kemerdekaan. Tertanamnya ruhul Islam yang di dalamnya memuat antara lain :

1. Jihad fi Sabilillah, telah memperkuat semangat rakyat untuk berjuang melawan penjajah.

2. Izin berperang dari Allah SWT. (QS. Al Hajj : 39)

“ Telah diizinkan berperang bagi orang-orang yang diperangi, sesungguhnya mereka itu dijajah/ditindas, maka Allah akan membela mereka.”

3. Kalimat yang dapat menggerakkan rakyat, yaitu takbir Allahu Akbar, selalu berkumandang dalam era perjuangan umat Islam di Indonesia. 4. Cinta tanah air sebagian dari Iman, menjadikan semangat Patriotik

bagi umat Islam dalam melawan penjajahan.

Pada kesimpulannya Dr. Douwwes Dekker menyatakan bahwa : “Apabila Tidak ada semangat Islam di Indonesia, sudah lama kebangsaan yang sebenarnya lenyap dari Indonesia”. Dengan demikian ajaran Islam yang sudah merakyat di Indonesia ini, punya peranan yang sangat penting, berjasa, dan tidak dapat diabaikan dalam perjuangan di Indonesia.

Umat Islam Indonesia punya peranan yang menentukan dalam dinamika perjuangan untuk memdapatkan kemerdekaan. Dalam perjuangan ini dapat dibagi menjadi :

(30)

Dimulai sejak awal masuknya bangsa barat dengan pendekatan kekuatan yang represif (bersenjata), maka dilawan oleh karajaan-kerajaan Islam di kawasan Nusantra ini. Perjuangan ini antara lain: Malaka melawan serangan Portugis (1511) diteruskan oleh Ternate di Maluku (Portugis berhasil dihalau sampai Timor Timur), kemudian Makasar melawan serangan Belanda, Banten melawan serangan Belanda, dan Mataram Islam juga melawan pusat kekuasaan Belanda di Batavia (1628-1629) dan masih banyak lagi. Mereka gigih, dan Belanda pun kalangkabut, namun setelah ada politik “Devide Et Impera” (pecah belah), satu persatu kerajaan ini dapat dikuasai. Meskipun demikian semangat rakyat tidak pudar melawan penjajahan kolonial, maka selanjutnya perjuangan melawan penjajahan diteruskan oleh rakyat dipimpin oleh Ulama.

2. Perjuangan Rakyat Dipimpin oleh Para Ulama

(31)

Dari perlawanan itu, sesungguhnya pihak Belanda sudah goyah kekuasaaanya, sebagai bukti tiga perlawanan : Rakyat Aceh, Sumatera Barat, dan Java Oorlog (Dipanegara) telah mengorbankan 8000 tentara Belanda mati dan 20.000.000 gulden kas kolonial habis. Oleh karena itu, mereka kemudian mencari jalan lain, yaitu mengubah politik kolonialnya dengan pendekatan “ Welfere Politik” (Politik Kemakmuran) untuk menarik simpati rakyat jajahan. Namun, pada kenyataannya politik itu dijalankan dengan perang kebudayaan dan ideologi, terutama untuk memecah dan melemahkan potensi umat Islam Indonesia yang dianggapnya musuh utama pemerintah kolonial.

3. Pergerakan Nasional di Indonesia

Sebelum memesuki era Pergerakan Nasional, pihak kolonial mencoba politik kemakmuran dan balas budi. Munculah Politik Etische oleh Van Deventer, Politik Assosiasi oleh Ch.Snouck Hurgronje, dan Politik De Islamisasi (Dutch Islamic Polecy) oleh Christian Snouck Hurgronje. Kelihatannya politik itu humanis untuk kesejahteraan rakyat, namun karena landasannya tetap kolonialisme, maka jadinya tetap eksploitatif dan menindas rakyat. Khusus politik De Islamisasai sangat merugikan umat Islam, karena :

a. Memecah umat Islam jadi dua dikotomi Abangan dan Putihan

b. Membenturkan Ulama dengan Pemuka Adat

c. Memperbanyak sekolah untuk memdidik anak-anak umat Islam agar terpisah dari kepercayaan pada agama Islamnya. d. Menindas segenap gerakan politik yang berdasar Islam. e. Membikin masjid dan memberangkatkan haji gratis untuk

(32)

Akibat dari politik kolonial di atas, maka perjuangan melawan kolonial menjadi terpecah. Menurut Thesis Endang Syaifuddin Anshari, MA. perjuangan di Indonesia terpecah jadi dua kelompok besar yaitu, Nasionalis Islami dan Nasionalis Sekuler. Kondisi inilah sampai sekarang masih tampak dalam dinamika perpolitikan kita.19)

Sebagai salah satu yang penting pelopor awal Pergerakan Nasional di Indonesia ialah umat Islam, yaitu pada tanggal 16 Oktober 1905, lahir Sarekat Dagang Islam (SDI) yang kemudian tahun 1912 jadi Sarekat Islam (SI), sebagai gerakan ekonomi dan politik. Pada Tanggl 18 November 1912 lahir Muhammadiyah sebagai gerakan Sosial Keagamaan, dari lembaga pendidikannya menghasilkan pimpinan bangsa Indonesia yang menentang Belanda, kemudian selanjutnya Jami’atul Khoir, Al Irsyad, Jong Islamieten Bond (1922), Persatuan Islam (Persis) tahun 1920, Nahdlatul Ulama (1926), dan lainnya adalah dalam kategori nasionalis Islami, yang kesemuanya punya andil dalam melawan Belanda. Di samping itu lahirlah Boedi Oetomo, 20 Mei 1908 dan Indische Partij (1912), Jong Java, PKI, Perhimpunan Indonesia (PI), PNI (1927) dan sebagainya, adalah dalam kategori nasionalis sekuler.

Pada tahun 1937 organisasi-organisasi Islam bersatu membentuk MIAI ( Majelisul Islam A’la Indonesia ), diprakarsai oleh Muhammadiyah, NU, Persis, Alwasliyah dan lainnya. Pada zaman Jepang MIAI diubah namanya jadi Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia), dan memiliki pasukan Hizbullah Sabilillah, sebagai modal perjuangan bersenjata di kemudian hari.20)

19http://adabydarban.blogspot.com/2012/04/peranan-islam-dalam-perjuangan.html

Hari Sabtu tanggal 14 Maret 2015

(33)

Pada saat mempersiapkan kemerdekaan dalam BPUPKI disidangkan konsep dasar negara, muncul konsep Moh. Yamin, Soepomo, dan Soekarno yang telah diajukan, namun sidang belum menerima, kemudian dibentuklah panitia Ad Hock (9 anggota), yang memutuskan Rumusan Piagam Djakarta 22 Juni 1945 ( Djakarta Charter ). Rumusan itu melalui debat yang panjang akhirnya disetujui pada tanggal 16 Juli 1945. (Komentar Soekarno, bahwa Djakarta Charter merupakan konsesnsus nasional persatuan antara Kaum Kebangsaan dan Islam). Namun, pada tanggal 18 Agustus 1845, keputusan itu dianulir atas usul Opsir Jepang mengatasnamakan utusan dari Indonesia Timur, yang menyatakan bahwa bila kalimat “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya” tidak diubah, maka Indonesia Timur akan memisahkan diri dari Negara Kesatuan Republik Indonesia . Dengan demikian Hatta dengan para ulama agar dapat mengubah Piagam Djakarta demi persatuan Nasional RI. Pada awalnya para ulama tidak setuju, sebab itu sudah keputusan BPUPKI sebagai konsensus nasional, namun demi toleransi dan menjaga negara RI dari perpecahan, akhirnya disepakati dengan kalimat : “Ketuhanan Yang Maha Esa“.21)

21http://adabydarban.blogspot.com/2012/04/peranan-islam-dalam-perjuangan.html

(34)

BAB III

ANALISIS

3.1 Analisis Kedatangan Islam di Indonesia

Ada beberapa pendapat teori mengenai masuknya agama Islam di Indonesia yaitu, teori Gujarat, Teori Arab, teori Persia dan teori Cina. Menurut analisa kami, Agama Islam masuk ke Indonesia pada abad ke-7 M yang dibawa oleh para musafir dari Arab yang berlabuh di pantai Barat Sumatera tepatnya di Aceh. Hal ini didasarkan pada ditemukannya perkampungan orang-orang Arab di pantai Barat Sumatera dan dianutnya mazhab Syafii oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Mazhab syafii merupakan mazhab besar dan istimewa di Mekah. Motivasi awal kedatangan orang Arab tidak dilandasi oleh nilai-nilai ekonomi, melainkan di dorong oleh motivasi spirit penyebaran agama Islam. Seperti yang diperintahkan oleh Allah SWT bahwa setiap umat muslim harus menyebarkan ajaran Islam. Jadi umat muslim yang ada di Arab mengembara dari Eropa, Afrika, India, Cina hingga ke Indonesia untuk berdakwah menyebarkan ajaran Islam secara damai.

(35)

BAB IV

PENUTUP

4.1 Simpulan

Ada beberapa pendapat mengenai proses masuknya agama Islam di Indonesia yaitu yang pertama, teori Gujarat (India) yang menyatakan bahwa Islam sampai di Indonesia itu berasal dari Gujarat, hal itu dilihat dari penemuan batu nisan Sultan Malik Al-Saleh yang reliefnya menunjukkan kesamaan nisan-nisan yang terdapat di Gujarat, India. Kedua, teori Arab yaitu dengan dianutnya mazhab Syafii oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Ketiga, teori Persia yaitu ditemukannya kesamaan budaya seperti peringatan 10 Muharam atau Syura sebagai peringatan kaum Syiah sebagai peringatan kematian Husein. Keempat, teori Cina yaitu ditemukannya masjid-masjid tua yang bernilai arsitektur Tiongkok yang didirikan oleh komunitas Cina di berbagai tempat, terutama di Pulau Jawa.

Proses penyebaran Islam di Indonesia melalui perdagangan, perkawinan, pendidikan, politik, kesenian, dan tasawuf. Masuknya agama Islam ke Indonesia melalui proses di atas membuat perkembangan yang pesat dalam setiap bidang seperti, perkembangan pendidikan, perkembangan lembaga-lembaga pendidikan Islam, perkembangan kesenian yang bernafaskan Islam. Muncullah kerajaan-kerajaan Islam seperti kerajaan-kerajaan Perlak, kerajaan-kerajaan Samudera Pasai, kerajaan-kerajaan Malaka, kerajaan Aceh, kerajaan Demak, kerajaan Pajang, kerajaan Mataram Islam, kerajaan Cirebon, kerajaan Banten, kerajaan Ternate dan Tidore, kerajaan Gowa-Tallo dan kerajaan Banjar. Tokoh-tokoh yang menyebarkan ajaran Islam yaitu peranan Kaum Sufilah, peranan Ulama dan Mubalig, peranan tokoh-tokoh pemikir Islam, peranan Wali sanga dan peranan pedagang.

(36)

Indonesia. Waktu itu kaum kolonial belum berani mencampuri masalah Islam, dan tidak mempunyai kebijaksanaan terhadap orang Islam karena belum memiliki pengetahuan pengetahuan mengenai Islam dan bahasa Arab, juga belum mengetahui sistem sosial Islam. Tetapi, semakin lama mereka semakin sewenang-wenang dan ikut campur tangan dalam pemerintahan Indonesia dan mulai mencoba membatas-batasi urusan keagamaan dan kegiatan yang berhubungan dengan ajaran Islam.

Peran umat Islam mulai dari kedatangan penjajah hingga detik-detik kemerdekaan Indonesia sangat besar. Mulai dari perjuangan kerajaan-kerajaan Islam melawan Kolonial, perjuangan rakyat yang dipimpin oleh para ulama, dan lain sebagainya.

3.2 Saran

(37)

DAFTAR PUSTAKA

Aziz. 2009. Buku Ajar Pendidikan Agama Islam Kelas IX Semester 1. Surakarta: Citra Pustaka.

Aziz. 2010. Buku Ajar Pendidikan Agama Islam Kelas IX Semester 2. Surakarta: Citra Pustaka.

Ida, Rahmad, Siti. 2014. Pendidikan Agama Islam Kelas IX. Solo: Dino Mandiri. Mustopo, Habib. 2011. Sejarah 2. Jakarta: Yudhistira.

Sunanto, Musyrifah. 2005. Sejarah Peradaban Islam Indonesia. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Thohir, Ajid. 2004. Perkembangan Peradaban di Kawasan Dunia Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada.

Yatim, Badri. 2013. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta: RajaGrafindo Persada. Yuzar, Muhammad.dkk. 2010. Sejarah untuk SMA Kelas XI IPS. Pekanbaru:

Amara.

Yuzar, Muhammad.dkk. 2010. Sejarah untuk SMA Kelas XII IPS. Pekanbaru: Amara.

http://adabydarban.blogspot.com/2012/04/peranan-islam-dalam-perjuangan.html

Referensi

Dokumen terkait

Perjuangan bangsa Indonesia terhadap kekuasaan penjajah telah dimulai sejak masa kerajaan-kerajaan, perlawanan yang gigih tersebut dilakukan di bawah pimpinan para raja, pangeran,

DIALOG AGAMA DAN BUDAYA (Studi Komparasi Spiritualisme Raja Akbar- Dinasti Mughal India (1555-1605 M) dan Sultan Agung Hanyokrokusumo- Kerajaan Mataram Indonesia (1613-1645

Setelah menjadi kerajaan Islam, di Minangkabau kemudian juga dikenal adanya Rajo Nan Tigo Selo yang terdiri dari Raja Adat di Buo, Raja Ibadat di Sumpurkudus, dan

Diatas telah diutarakan, bahwa Kutai adalah kerajaan tertua di Indonesia dan sebagai kerajaan Hindu. Dengan pesatnya perkembangan Islam di Gowa, Tallo dan terutama Sombaopu, maka

2 Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam Di Indonesia, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1999), hlm.. Ibnu Batutah mengemukakan bahwa sistem pendidikan yang berlaku di zaman

Setelah beliau wafat, Perlak disatukan dengan Kerajaan Samudra Pasai dengan raja Muhammad Malikul Dhahir yang adalah Putra Sultan Malikul Saleh.. dengan Putri

Kerajaan Aceh Kerajaan Aceh adalah kerajaan Islam di Sumatera yang didirikan oleh Sultan Ali Mughayat Syah pada 1496 M.Ibu kota Kerajaan Aceh terletak di Kutaraja atau Banda Aceh

Dengan masuknya raja ke dalam agama Islam, maka Islam kemudian menjadi agama resmi di Kerajaan Malaka, sehingga banyak rakyatnya yang ikut masuk Islam.Selanjutnya, Malaka berkembang