• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Analisis Yuridis Peranan Wali Nikah Menurut Fiqih Islam Dan Kompilasi Hukum Islam (Studi Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No.261/K/AG/2009)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2019

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang - Analisis Yuridis Peranan Wali Nikah Menurut Fiqih Islam Dan Kompilasi Hukum Islam (Studi Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No.261/K/AG/2009)"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

A. Latar Belakang

Allah SWT telah menciptakan laki-laki dan perempuan untuk dapat

berhubungan satu sama lain sesuai dengan ajaran Islam dan dapat hidup secara damai

sesuai perintah Allah SWT dan petunjuk Rasul-Nya.

Nabi Muhammad SAW memerintahkan kepada kaum Muslim agar segera

menikah bila ia mampu. Keluarga adalah unit kecil dari masyarakat, dan hanya

dengan menikah merupakan cara untuk membentuk lembaga dan untuk hubungan

campur diluar itu termasuk hal yang terkutuk dan terlarang.

Pernikahan dalam literaturfiqihIslam disebut dengan dua kata yakni nikah atau

zawaj. Kedua kata ini terpakai dalam kehidupan sehari-hari orang Arab dan banyak terdapat dalam Al-Qur’an dan Hadist Nabi. Menurut hukum Islam nikah adalah akad

yang mengandung kebolehan untuk bersetubuh dengan lafadz kata-kata nikah atau

zawaj.

Islam menetapkan berbagai ketentuan untuk mengatur berfungsinya keluarga

sehingga dengannya kedua belah pihak yaitu suami dan istri dapat memperoleh

kedamaian, kecintaan, keamanan dan ikatan kekerabatan. Unsur-unsur ini sangat

diperlukan untuk mencapai tujuan perkawinan yang paling besar, yaitu ibadah kepada

Allah. Ibadah disini tak hanya upacara-upacara belaka seperti berhubungan suami

(2)

gerak kehidupan. Perkawinan adalah merupakan aspek penting dalam ajaran Islam.

Di dalam Al’Qur’an dijumpai 70 ayat yang berbicara soal perkawinan, baik yang

menggunakan kata nikah (berhimpun), maupun menggunakan kata zawwaja

(berpasangan). Keseluruhan ayat tersebut memberikan tuntunan kepada manusia

bagaimana seharusnya menjalani perkawinan agar perkawinan tersebut dapat menjadi

jembatan yang mengantarkan manusia, laki-laki dan perempuan menuju kehidupan

sakinah yang diridhai oleh Allah SWT. Islam telah merumuskan sejumlah ketentuan

yang harus dipedomani, meliputi tata cara seleksi calon suami atau istri, peminangan, ijab qabul hubungan suami istri, serta pengaturan hak-hak dan kewajiban keduanya didalam rumah tangga.

Dalam pandangan Islam perkawinan adalah salah satu cara yang berguna untuk menjaga kebahagiaan umat dari kerusakan dan kemerosotan akhlak. Selain itu perkawinan juga dapat menjaga keselamatan individu dari pengaruh kerusakan masyarakat karena kecenderungan nafsu kepada jenis kelamin yang berbeda dapat dipenuhi melalui perkawinan yang sah dan hubungan yang halal. Justru oleh karena itu Islam memberikan perhatian khusus kepada kaum muda mengenai masalah perkawinan, untuk menyelamatkan jiwa mereka dari perbuatan dan kerusakan akhlak seperti zinah dan seumpamanya.1

Perkawinan adalah suatu akad suci yang mengandung serangkaian perjanjian

diantara kedua belah pihak yaitu antara suami dan istri. Al Qur’an menyebutkan

bahwa perkawinan sebagaimiitsaqan ghalizhan(perjanjian yang kokoh) seperti yang termaktub dalam QS An Nisa’4/21 yang artinya:

1Iman Jauhari, Perlindungan Hukum Terhadap Anak dalam Keluarga Poligami, Pustaka

(3)

“Bagaimana kamu akan mengambil mahar yang telah kamu berikan pada istrimu,

padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami

istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat”.2

Di Indonesia ketentuan yang berhubungan dengan perkawinan telah diatur dalam peraturan perundangan Negara yang khusus berlaku bagi warga Negara Indonesia. Aturan perkawinan yang dimaksud adalah dalam bentuk Undang-undang yaitu Undang-Undang No.1 Tahun 1974 dan peraturan pelaksanaannya dalam bentuk Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 1975. Undang-Undang ini merupakan hukum materiil dari perkawinan, sedangkan hukum formalnya ditetapkan dalam Undang-Undang No.7 Tahun 1989.3

Di samping peraturan perundang-undangan negara yang disebutkan di atas

dimasukkan pula dalam pengertian Undang-Undang Perkawinan dalam bahasan ini

diatur atau ketentuan yang secara efektif telah dijadikan oleh hakim di Pengadilan

Agama sebagai pedoman yang harus diikuti dalam penyelesaian perkara perkawinan,

yaitu Kompilasi Hukum Islam di Indonesia yang penyebarluasannya dilakukan

melalui Instruksi Presiden RI No.1 Tahun 1991 tentang Kompilasi Hukum Islam

(KHI).

Kompilasi Hukum Islam disusun untuk melengkapi Undang-Undang

Perkawinan dan diusahakan secara praktis mendudukkannya sebagai hukum

perundang-undangan meskipun kedudukannya tidak sama dengan itu. Kompilasi

Hukum Islam dengan demikian berinduk kepada Undang-Undang Perkawinan.

Dalam kedudukannya sebagai pelaksanaan praktis dari Undang-Undang Perkawinan,

2Musdah Mulia, Pandangan Islam Tentang Poligami, Lembaga Kajian Agama dan Jender

Solidaritas Perempuan, Jakarta, 1999, hal 9-10

3

(4)

maka materinya tidak boleh bertentangan dengan Undang-Undang Perkawinan.

Seluruh materi Undang-Undang Perkawinan disalin ke dalam Kompilasi Hukum

Islam meskipun dengan rumusan yang sedikit berbeda. Di samping itu dalam

Kompilasi Hukum Islam ditambahkan materi lain yang prinsipnya tidak bertentangan

dengan Undang-Undang Perkawinan.

Diharapkan dengan adanya aturan hukum tersebut, persoalan perkawinan yang

terjadi di Indonesia dapat diselesaikan dengan baik berdasarkan hukum positif dan

juga berdasarkan hukum agama (terutama Islam sebagai penganut mayoritas yang

terdapat di Indonesia).

Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Perkawinan No.1 Tahun 1974 pengertian

perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai

suami istri dengan tujuan membentuk rumah tangga yang bahagia berdasarkan

Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pengertian perkawinan menurut Kompilasi Hukum Islam yang dituangkan

dalam Pasal 2 dan Pasal 3 yang menyebutkan bahwa pernikahan, yaitu akad yang

sangat kuat atau miitsaqan ghalizhan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.

Rukun dan syarat menentukan suatu perbuatan hukum, terutama yang

menyangkut dengan sah atau tidaknya perbuatan tersebut dari segi hukum4. Nikah

sebagaimana halnya dengan perbuatan hukum lainnya, yaitu memerlukan kepada

syarat dan rukun agar dapat dipandang sah menurut hukum Islam.

(5)

Adapun rukun perkawinan itu secara lengkap adalah sebagai berikut:

1. Calon mempelai laki-laki

2. Calon mempelai perempuan

3. Wali dari mempelai perempuan yang akan mengakadkan perkawinan

4. Dua orang saksi

5. Ijab yang dilakukan oleh wali danqabulyang dilakukan oleh suami

Sedangkan yang menjadi syarat sahnya suatu pernikahan yaitu adanya kata

sepakat di antara pihak-pihaknya, calon istri sudahbalighatau dewasa serta tidak ada hubungan atau halangan yang merintangi pernikahan.

Undang-Undang Perkawinan tidak membicarakan tentang rukun perkawinan

tetapi hanya membicarakan tentang syarat-syarat perkawinan, dimana syarat-syarat

tersebut lebih banyak berkenaan dengan unsur-unsur atau rukun perkawinan.

Kompilasi Hukum Islam secara jelas membahas rukun perkawinan sebagaimana yang

terdapat pada Pasal 14.

Adapun syarat-syarat dan rukun-rukun untuk sahnya suatu perkawinan menurut Hukum Islam, adalah wali nikah. Dalam suatu perkawinan, wali adalah seseorang yang bertindak atas nama mempelai perempuan dalam suatu akad nikah dimana akad nikah tersebut dilakukan oleh kedua belah pihak, yaitu mempelai laki-laki dan pihak perempuan yang dilakukan oleh walinya. Imam Syafi’i berpendapat bahwa perempuan yang kawin wajib mendapat izin dari wali dan wali itu merupakan syarat bagi sahnya suatu perkawinan. Adapun yang bertindak sebagai wali nikah ialah seorang seorang laki-laki yang memenuhi syarat hukum Islam yakni muslim danakil baligh.5

5Mohd. Idris Ramulyo,Hukum Perkawinan Islam “Suatu Analisis dari Undang-Undang Nomor

(6)

Wali nikah terdiri atas:

a. Wali Nasab

Yang terdiri atas empat kelompok dalam urutan kedudukan, dimana kelompok yang satu didahulukan dari kelompok yang lain sesuai urutan kekerabatan dengan calon mempelai perempuan.6

1. Kelompok kerabat laki-laki garis lurus keatas yakni ayah, kakek dari pihak ayah dan seterusnya.

2. Kelompok kerabat saudara laki-laki kandung atau saudara laki-laki seayah dan keturunan laki-laki mereka.

3. Kelompok kerabat paman, yakni saudara laki-laki ayah, saudara seayah dan keturunan laki-laki mereka.

4. Kelompok saudara laki-laki kandung, saudara laki-laki seayah dan keturunan laki-laki mereka.

Jika wali nikah yang paling berhak urutannya tidak memenuhi syarat sebagai

wali nikah maka wali bergeser kepada wali nikah yang lain menurut derajat

berikutnya.7

Orang-orang yang disebutkan di atas baru berhak menjadi wali apabila memenuhi persyaratan sebagai berikut:8

1. Telah dewasa dan berakal sehat dalam arti anak kecil atau orang gila tidak berhak menjadi wali.

2. Laki-laki. Perempuan tidak boleh menjadi wali.

3. Muslim. Tidak sah orang yang beragama non muslim menjadi wali untuk muslim.

4. Orang merdeka.

5. Tidak berada dalam pengampuan ataumahjur alaih

6. Berfikiran baik. Orang yang terganggu pikirannya karena ketuaannya tidak boleh menjadi wali karena dikhawatirkan tidak akan mendatangkan maslahat dalam perkawinan tersebut.

7. Adil dalam arti tidak pernah terlibat dengan dosa besar dan tidak sering terlibat dengan dosa kecil serta tetap memelihara muruah atau sopan santun.

8. Tidak sedang melakukan ihram, untuk haji dan umrah.

6Mohd.Idris Ramulyo,Op.Cit, hal.74 7Ibid, hal.75

(7)

b. Wali Hakim yaitu wali nikah yang ditunjuk oleh Menteri Agama atau pejabat

yang ditunjuk olehnya, yang diberi hak dan kewenangan untuk bertindak

sebagai wali.9

Wali hakim baru dapat bertindak sebagai wali nikah apabila wali nasab tidak ada atau tidak mungkin menghadirkannya atau tidak diketahui tempat tinggalnya atau ghaib atau adhal (enggan). Dalam hal wali adhal (enggan) maka wali hakim dapat bertindak sebagai wali nikah setelah ada putusan Pengadilan Agama tentang wali tersebut.10

Dalam Hadist Rasulullah terlihat bahwa seorang perempuan yang hendak

menikah harus memakai wali, berarti bila tanpa wali maka nikah itu adalah batal

menurut Islam atau nikahnya tidak sah. Sebagaimana yang dinyatakan dalam Hadist

Rasulullah SAW sebagai berikut:

“Bagaimanapun perempuan yang menikah dengan tanpa izin walinya, maka

nikah itu batal.”11

Abu Hanifah berpendapat bahwa seorang perempuan yang hendak nikah dengan seorang laki-laki dia harus mempunyai wali. Wali disini tidak memandang syarat-syaratnya, baik ia mulia maupun hina tetapi sahnya perkawinan itu dengan adanya wali, mereka ini mengkiaskan, seperti menjual barang, disini tidak memandang kepada si penjual baik dia bodoh maupun dia itu pandai, soalnya perbuatan menjual itu bagus pelaksanaannya.12

Keberadaan seorang wali dalam akad nikah adalah sesuatu yang mesti dan tidak sah akad perkawinan yang tidak dilakukan oleh wali. Wali ditempatkan sebagai rukun dalam perkawinan menurut kesepakatan ulama secara prinsip. Dalam akad perkawinan itu sendiri wali berkedudukan sebagai orang yang bertindak atas nama mempelai perempuan dan dapat pula sebagai orang yang diminta persetujuannya untuk kelangsungan perkawinan tersebut.13

9Pasal 1 huruf b Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

10Pasal 23 ayat 1dan 2 Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan

11Hasballah Thaib dan Marahalim Harahap, Hukum Keluarga dalam Syariat Islam,Universitas

Al Azhar, Medan, 2010, hal.82 12Ibid, hal 77

(8)

Imam Idris As Syafii beserta para penganutnya bertitik tolak dari Hadist

Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Imam ahmad dan Al Tirmidzi berasal dari

Siti Aisyah (istri Rasulullah) berbunyi seperti di bawah ini:14

“Barangsiapa di antara perempuan yang nikah dengan tidak seizin walinya,

nikahnya itu batal.”15

Adapun dari Hadist Rasulullah yang lain Rawahul Imam Ahmad, dikatakan

oleh Rasulullah bahwa:

a. Tidak sah nikah melainkan dengan wali dan 2 (dua) orang saksi yang adil.16 b. Jangan menikahkan perempuan akan perempuan yang lain dan jangan pula

seorang perempuan menikahkan dirinya (Rawahul Daruquty), diriwayatkan lagi oleh Ibnu Majah.17

c. Tiap-tiap wanita yang menikah tanpa izin walinya, nikahnya adalah batal,

batal, batal, tiga kali kata-kata batal itu diucapkan oleh Rasulullah untuk

menguatkan kebatalan nikah tanpa izin wali pihak perempuan (berasal dari

istri Rasulullah: Siti Aisyah).18

d. Apabila mereka berselisih paham tentang wali, maka wali nikah bagi wanita

itu adalah“Sulthan” atau “Wali Hakim”, begitupun apabila wanita itu tidak

14Mohd. Idris Ramulyo,Op.Cit,hal.216

15Rasyid H.Sulaiman, Fiqih Islam, Attahiriyah, Jakarta,1995, hal.362

16Ibid, hal.368 17Ibid, hal.363

(9)

ada wali sama sekali, (Rawahul Abu Daud,Al Tirmidzi, Ibnu Majah dan

Imam Ahmad).19

Seorang wali hakim baru dapat bertindak sebagi wali nikah apabila wali nasab

tidak ada atau tidak mungkin menghadirkannya atau tidak diketahui tempat

tinggalnya atau walinya ghaib atauadhal(enggan).20

Pindahnya hak wali nasabkepada wali hakim karena hendak menolong supaya pernikahan antara wanita dengan pemuda itu tidak menjadi terhalangi. Walinya si

perempuan kebetulan ghaib, artinya berada jauh dari tempat si wanita karena suatu pekerjaan, urusan perdagangan dan sebagainya.21 Namun bila bukan walinya yang

tidak ada di tempat, melainkan justru wanitanya lah yang dipindahkan tempatnya,

jauh dari keberadaan walinya. Sehingga wali si wanita itu otomotis akan berpindah

kepada hakim.22Disini terlihat bahwa maksud dan tujuan yang baik itu ternyata telah

disalahgunakan.23

Sebelum perang dunia kedua, olehAdviseur voor Islamitische Zakendi Jakarta, telah ditulis suatu surat edaran yang ditujukan kepada semua Kepala Daerah untuk menertibkan persoalan ini. Karena katanya, kawin yang seperti itu disebut kawin lari. Kawin yang dilakukan diluar dari kebiasaan. Sebab menjauhkan wanita dari walinya, bukan tujuan dari hukum Islam.24

Dalam Kompilasi Hukum Islam dalam pasal 23 ayat 2 menyatakan bahwa seorang wali hakim baru dapat bertindak sebagi wali nikah apabila wali nasab

tidak ada atau tidak mungkin menghadirkannya atau tidak diketahui tempat tinggalnya atau walinya ghaib atau adhal (enggan). Bagaimana cara 19Rasyid H.Sulaiman,Op.Cit, hal 368

20Pasal 23 ayat 2 Kompilasi Hukum Islam

21Peraturan Menteri Agama No.1/1952 atau No.4/1952

22T.Jafizham,Persintuhan Hukum di Indonesia dengan Hukum Perkawinan Islam, PT.Mestika,

Jakarta, 2006, hal.217 23Ibid, hal.217

(10)

menetapkan nikah dengan wali hakim? Apakah cukup dengan pengakuan calon pengantin perempuan atau keluarganya bahwa walinya tidak bisa hadir atau enggan menikahkannya. Kepala KUA atau petugas di lapangan harus ekstra hati-hati menyelidiki kebenaran fakta yang sesungguhnya bahwa seorang wali nasab tidak dapat melaksanakan perwaliannya. Perlu ada langkah yang hati-hati dan penuh pertimbangan dari sisi hukum syar’iyyah dan peraturan perundang-undangan, agar nikah dengan wali hakim tidak digugat dibelakang hari.25 Dalam hukum Islam ditetapkan, bila seorang wanita berpindah walinya kepada

Hakim, itu kalau secara kebetulan wali keluarga itu sedang berada di suatu tempat

karena urusan yang tidak bisa ditinggalkan.26

Berdasarkan uraian di atas, maka dapat diketahui tentang pentingnya peranan

dan keberadaan wali nikah atas keabsahan pernikahan. Hal ini mendorong penulis

untuk mengetahui dan mempelajari mengenai peranan wali nikah atas keabsahan

pernikahan tersebut.

Adapun yang diteliti dalam kasus ini adalah mengenai pembatalan pernikahan

yang dilangsungkan oleh wali hakim (kepala KUA) tanpa adanya pelimpahan dari

wali nasabnya yaitu Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia No.261/

K/AG/2009.

Kasus ini bermula dari perkawinan M (Penggugat) dengan istrinya R, telah lahir

tiga orang anak dan diantaranya adalah anak perempuan LW (Tergugat I) yang lahir

pada tanggal 19 November 1981 di Makassar. Bahwa selaku orang tua, Penggugat

menyadari kewajban untuk memelihara, mendidik dan memenuhi kebutuhan hidup

25Nawawi N., Kedudukan Wali Hakim Dalam Pernikahan

http://bdkpalembang.kemenag.go.id/kedudukan-wali-hakim-dalam-pernikahan, diakses pada tanggal 17 Januari 2013

(11)

Tergugat I, sehingga Tergugat I dapat menyelesaikan pendidikan hingga ke

Perguruan Tinggi dengan menyandang gelar sarjana (S1) dan telah bekerja sebagai

Pegawai Negeri Sipil pada Kantor Pemerintah Daerah Kabupaten Selayar. Pada

tanggal 25 November 2007 Tergugat I meninggalkan tugas bahkan tidak diketahui

keberadaannya. Belakangan diketahui bahwa Tergugat I pergi ke Kolaka, Sulawesi

Tenggara. Bahwa Tergugat I tidak pergi sendirian tetapi dengan seorang laki-laki SJ

(Tergugat II).

Kemudian diketahui kabar bahwa Tergugat I dan Tergugat II telah menikah di

Kolaka sebagaimana tercatat pada Kutipan Akta Nikah Nomor 10/10/I/2008 tanggal 7

Januari 2008. Tergugat I dan Tergugat II dinikahkan oleh wali hakim yang bernama S

S.Ag, sebagai Kepala Kantor Urusan Agama di Kecamatan Samaturu, Kabupaten

Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Adapun yang menjadi pokok masalah dalam perkara ini adalah Penggugat

menuntut untuk dibatalkan perkawinan Tergugat I dan Tergugat II. Bahwa meskipun

tercatat pada Kantor Urusan Agama dimana perkawinan itu berlangsung, tidak sah

menurut hukum dengan alasan dinikahkan dengan wali yang tidak sah.

Berdasarkan uraian sebagaimana yang disebutkan di atas, maka dilakukan

penelahaan lebih lanjut tentang peranan wali nikah menurut Fiqih Islam dan Kompilasi Hukum Islam. Penelitian ini kemudian dituangkan dalam tesis dengan

judul “Analisis Yuridis Peranan Wali Nikah Menurut Fiqih Islam dan Kompilasi Hukum Islam (Studi Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor

(12)

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan pada latar belakang masalah di atas, maka dirumuskan beberapa

masalah yang harus dibahas dalam penelitian adalah sebagai berikut:

1. Bagaimana peranan wali nikah menurut Fiqih Islam dan Kompilasi Hukum Islam?

2. Alasan-alasan apa yang membenarkan wali hakim dapat menjadi wali nikah dari

seorang perempuan?

3. Apakah yang menjadi pertimbangan hukum Hakim dalam memutuskan perkara

Nomor 261/K/AG/2009 tentang pembatalan pernikahan?

C. Tujuan Penelitian

Mengacu pada judul dan permasalahan dalam penelitian ini maka dapat

dikemukakan bahwa tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui dan menganalisis peranan wali nikah menurutFiqihIslam dan Kompilasi Hukum Islam.

2. Untuk mengetahui dan menganalisis alasan yang dimiliki oleh wali hakim

menjadi wali nikah seorang perempuan yang akan menikah.

3. Untuk mengetahui hal-hal yang menjadi pertimbangan hukum bagi Hakim dalam

memutus perkara Nomor 261/K/AG/2009 tentang pembatalan pernikahan.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat membawa manfaat bagi semua pihak bagi

peneliti, para pihak yang nantinya dihadapkan dalam keadaan untuk mengetahui

(13)

1. Manfaat Teoritis

Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat menambah masukan bagi ilmu

pengetahuan hukum dan pemahaman yang lebih mendalam kepada pembaca

tentang peranan wali nikah menurutFiqihIslam dan Kompilasi Hukum Islam. 2. Manfaat Praktis

Secara praktis penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi

kalangan praktisi dalam menangani suatu perkara tentang peranan wali nikah

menurut Fiqih Islam dan kompilasi Hukum Islam yang terjadi di masyarakat. Selain itu penelitian ini diharapkan dapat memberikan pengetahuan dan masukan

bagi praktisi hukum, pengacara, mahasiswa dan masyarakat umum.

E. Keaslian Penelitian

Berdasarkan hasil penelusuran kepustakaan sementara di Lingkungan

Universitas Sumatera Utara, khususnya dilingkungan Pascasarjana Universitas

Sumatera Utara menunjukkan bahwa penelitian dengan beberapa judul tesis yang

berhubungan dengan judul topik dalam tesis ini antara lain:

1. Penelitian dengan judul “Pernikahan Dengan Menggunakan Wali Hakim

Ditinjau Dari Fiqih Islam dan Kompilasi Hukum Islam di Indonesia“ oleh

Marahalim Nim 057005037/HK. Rumusan masalah yang dibahas adalah:

a. Bagaimanakah pengangkatan Wali Hakim dalam UU Nomor 1 Tahun 1974

dan hukum Islam?

(14)

c. Bagaimana pertimbangan Wali Hakim dalam menikahkan seorang perempuan

yang memiliki Wali Nasab serta keabsahan Wali Hakim dalam pernikahan tersebut.

2. Penelitian dengan judul ”Tanggung Jawab Balai Harta Peninggalan Selaku

Wali Pengawas Terhadap Harta Anak Dibawah Umur (Studi Mengenai

Eksistensi Balai Harta Peninggalan Medan sebagai Wali Pengawas)” oleh

Siti Hafsah Ramadhany Nim.027011062/MKn. Rumusan yang dibahas adalah:

a. Mengapa fungsi Wali Pengawas dalam penyelesaian warisan yang atasnya

turut berhak anak di bawah umur tidak berjalan sebagaimana mestinya?

b. Apakah fungsi Wali Pengawas ini dapat diperluas daya berlakunya sehingga

dapat diperlakukan terhadap Golongan Pribumi?

c. Bagaimana pengaruh Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun

1974 Tentang Perkawinan terhadap eksistensi Balai Harta Peninggalan (BHP)

sebagai Wali Pengawas, khususnya bagi Warga Negara Indonesia yang

tunduk kepada KUH/Perdata?

3. Penelitian dengan judul ”Penyelesaian Sengketa Wali Adhal dan Kaitannya

dengan Keabsahan Perkawinan (Studi Terhadap Penetapan

No.215/Pdt.P/2011/P.A. Jakarta Selatan)” oleh Sylvana Amelia Fauzi

Nim.107011033/MKn. Rumusan yang dibahas adalah:

a. Apakah yang menjadi faktor penyebab terjadinya waliadhal?

(15)

c. Bagaimana status perkawinan yang timbul dari perkawinanadhal? F. Kerangka Teori dan Konsepsi

1. Kerangka Teori

Penelitian merupakan sarana yang dipergunakan oleh manusia untuk

memperkuat, membina serta mengembangkan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan

merupakan ilmu yang tersusun secara sistematis dengan penggunaan kekuatan,

pemikiran, pengetahuan mana senantiasa dapat diperiksa dan ditelaah secara kritis,

akan berkembang terus atas dasar penelitian-penelitian. Hal ini disebabkan karena

penggunaan ilmu pengetahuan bertujuan agar manusia lebih mengetahui dan lebih

mendalami.

Ilmu hukum mempunyai karakeristik sebagai ilmu yang bersifat perspektif

dan terapan. Sebagai ilmu yang bersifat perspektif, ilmu hukum mempelajari tujuan

hukum, nilai-nilai keadilan, validitas aturan hukum, konsep-konsep hukum dan

norma-norma hukum. Sebagai ilmu terapan ilmu hukum menetapkan standart

prosedur, ketentuan-ketentuan,rambu-rambu dalam melaksanakan aturan hukum.27 Ilmu hukum tidak terlepas dari ketergantungan pada berbagai bidang ilmu

termasuk ketergantungan pada metodologi, karena aktivitas penelitian hukum dan

imajinasi sosial juga sangat ditentukan oleh teori.28

Hukum ada pada setiap masyarakat dimana pun juga. Bagaimanapun

primitifnya dan modernnya suatu masyarakat pasti mempunyai hukum. Sehingga

27Peter Mahmud Marzuki,Penelitian Hukum, Kencana Prenada Media Group, Jakarta, 2005, hal.22 28

(16)

keberadaan (eksistensi) hukum sifatnya universal. Hukum tidak bisa dipisahkan

dengan masyarakat, tetapi justru memiliki hubungan timbal balik.29 Hukum memiliki 3 (tiga) peranan utama dalam masyarakat:

1. Sebagai sarana pengendalian sosial

2. Sebagai sarana memperlancar proses interaksi sosial

3. Sebagai sarana untuk menciptakan keadaan tertentu

Kerangka teori merupakan kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, atau

teori, thesis mengenai suatu kasus atau permasalahan (problem) yang menjadi bahan

perbandingan, pegangan teoritis.30

Teori atau kerangka teoritis mempunyai beberapa kegunaan paling sedikit

mencakup hal-hal sebagai berikut :

1. Teori tersebut berguna untuk lebih mempertajam atau lebih mengkhususkan

fakta yang hendak diselidiki atau diuji kebenarannya.

2. Teori sangat berguna didalam mengembangkan sistem klasifikasi fakta,

membina struktur-struktur konsep serta mengembangkan definisi-definisi.

3. Teori biasanya merupakan suatu ikhtisar daripada hal-hal yang telah diketahui

serta diuji kebenarannya yang menyangkut obyek yang diteliti.

4. Teori memberikan kemungkinan pada prediksi fakta mendatang, oleh karena

telah diketahui sebab-sebab terjadinya fakta tersebut dan mungkin

faktor-faktor tersebut akan timbul lagi pada masa-masa mendatang.

29Riduan Syahrani, Rangkuman Intisari Ilmu Hukum, Edisi Revisi, PT.Citra Aditya

Bakti,Bandung, 2004, hal 27

(17)

5. Teori memberikan petunjuk-petunjuk terhadap kekurangan-kekurangan pada

pengetahuan peneliti.

Penelitian ini membahas tentang peranan wali nikah nikah menurut perspektif

fiqih Islam dan Kompilasi Hukum Islam. Dalam kasus ini Penggugat (orang tua Tergugat I) mengajukan gugatan atas pernikahan Tergugat I dengan Tergugat II.

Adapun teori yang dikaitkan dengan permasalahan dalam penelitian adalah

teoriMaqasid Al-Syari’ahdan teori Perwalian.

Teori Maqasid Al-Syari’ah dikemukakan oleh Abu Ishaq al-Syathibi, yaitu tujuan akhir hukum adalah maslahah atau kebaikan dan kesejahteraan manusia. Tidak satupun hukum Allah yang tidak mempunyai tujuan. Hukum yang tidak mempunyai tujuan sama dengan membebankan sesuatu yang tidak dapat dilaksanakan. Hukum-hukum Allah dalam Al Qur’an mengandung kemaslahatan.31

Teori Maqasid Al-Syari’ah hanya dapat dilaksanakan oleh pemerintah dan masyarakat yang mengetahui dan memahami. Demikian juga yang menciptakan

hukum-hukum yang termuat dalam Al Qur’an adalah Allah SWT. Berdasarkan

pemahaman tersebut, akan muncul kesadaran bahwa Allah SWT yang paling

mengetahui berkenaan hukum yang dibutuhkan oleh manusia, baik yang berhubungan

dengan kehidupannya didunia maupun di akhirat. Kesadaran hukum pihak

pemerintah dan masyarakat tersebut, akan melahirkan keyakinan untuk menerapkan

hukum Allah SWT, bila menginginkan terwujudnya kemaslahatan bagi kehidupan

manusia.32

31Asfari Jaya Bakri, Konsep Maqasid Al-Syari’ah (Disertasi Pascasarjana IAIN Syarif

Hidayatulah, Jakarta, 1994, hal. 96)

(18)

Dalam rangka mewujudkan kemaslahatan di dunia dan akhirat, berdasarkan

penelitian para ahli ushul fiqih, unsur pokok yang harus dipelihara dan diwujudkan yaitu:33

a. Memelihara agama b. Memelihara jiwa c. Memelihara akal d. Memelihara harta e. Memelihara keturunan f. Memelihara kehormatan

Peranan wali nikah ini berkaitan dengan salah satu tujuan untuk mewujudkan

kemaslahatan dalam hukum Islam yaitu untuk memelihara keturunan. Dengan

pemeliharaan keturunan, maka kemurnian darah dapat dijaga dan kelanjutan umat

manusia dapat diteruskan dengan sebaik-baiknya.

Teori berikutnya yang menjadi pendukung dari Maqasid Al-Syari’ah adalah teori Perwalian. Teori ini penting diikutsertakan dalam penelitian karena pada

dasarnya semua orang harus memiliki wali, termasuk wali nikah dalam pernikahan.

Salah satu rukun pernikahan dalam agama Islam adalah wali. Perwalian dalam nikah

adalah kekuatan untuk melangsungkan akad nikah.

Suatu pernikahan tidak dipandang sah kecuali ada wali sebagaimana

dinyatakan dalam Firman Allah dan Hadistt sebagai berikut :

Surat al-Baqarah (2) ayat 221:

33Fitri Zakiyah, Tesis Perbandingan Status Hak Waris Anak Luar Kawin Antara Kompilasi

(19)

“Janganlah kamu mengawinkan anak-anak perempuanmu dengan laki-laki

musyrik. Sesungguhnya hamba sahaya mukmin lebih baik daripada orang musyrik

walaupun ia menarik hatimu.”34

Surat an-Nur (24) ayat 32:

“Dan kawinkanlah orang yang sendirian di antara kamu dan

orang-orang yang layak (untuk kawin) di antara hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan

perempuan. jika mereka miskin Allah akan memberikan kemampuan kepada mereka

dengan karunia-Nya.”35

Rasulullah SAW bersabda:

“Siapapun perempuan yang menikah tanpa izin walinya maka nikahnya batil,

nikahnya batil, nikahnya batil. Apabila sang suami menggaulinya maka ia harus

menerima mas kawin karena menghalalkan kemaluannya. Apabila terjadi perselisihan

maka seorang penguasa (hakim) adalah wali bagi yang tidak memiliki wali.”36 Juga Hadistt Aisyah, Nabi bersabda:

“Wanita manapun yang menikah tanpa izin walinya, maka pernikahannya

batal.”(HR.Empat orang Ahli Hadistt kecuali Nasai)37

Berkaitan dengan pernyataan di atas menunjukkan bahwa kedudukan dan

keberadaan wali memang harus ada bagi setiap wanita dan tidak boleh diabaikan.

34Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia,Op.Cit, hal.70

35 Ibid

36Abdul Majid Mahmud Mathlub, Panduan Hukum Keluarga Sakinah, Era Intermedia, Solo,

2005, hal.178

(20)

2. Kerangka Konsepsi

Suatu kerangka konsepsi merupakan kerangka yang menggambarkan antara konsep-konsep khusus, yang ingin atau akan diteliti. Suatu konsep bukan merupakan gejala yang akan diteliti, akan tetapi merupakan suatu abstraksi dari gejala tersebut. Gejala itu sendiri biasanya dinamakan fakta, sedangkan konsep merupakan suatu uraian mengenai hubungan-hubungan dalam fakta tersebut. Adapun untuk lebih menjelaskannya, maka didalam penelitian biasanya dibedakan 3 (tiga) yakni :38

1. Referens atau acuan, yakni hak aktual yang menjadi ruang lingkup penelitian. 2. Symbol atau kata atau istilah, yaitu sesuatu yang dipergunakan untuk

mengindetifikasikan referens atau acuan.

3. Konsep yang merupakan kumpulan atau arti-arti yang berkaitan dengan istilah. Dengan demikian maka konsep sangat penting bagi cara pemikiran maupun komunikasi dalam penelitian.

Kerangka konsepsi merupakan alat yang dipakai oleh hukum di samping yang lain-lain seperti asas dan standar. Sehingga kebutuhan untuk membentuk konsep merupakan salah satu dari hal-hal yang dirasakan pentingnya oleh hukum.39Kerangka konsepsi mengungkapkan beberapa konsepsi atau pengertian yang akan dipergunakan sebagai dasar penelitian hukum.40

Sehingga dalam penelitian ini dirumuskan kerangka konsepsi sebagai berikut:

a. Wali adalah kewenangan yang diberikan kepada seseorang untuk melakukan

sesuatu perbuatan hukum sebagai wakil untuk kepentingan dan atas nama

anak yang tidak mempunyai kedua orang tua.41

b. Wali Nikah adalah orang yang berhak menikahkan anak wanita dengan calon

suaminya.42

38Soerjono Soekanto,Pengantar Penelitian Hukum, UI Press Jakarta,1984, hal. 132

39Satjipto Rahardjo,Ilmu Hukum, Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996, hal 397

40Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji,Penelitian Hukum Normatif Suatu Tinjauan Singkat,

RajaGrafindo Persada, Jakarta, 1995, hal.7 41Pasal 1 huruf h Kompilasi Hukum Islam

42Hilman Hadikusuma,Hukum Perkawinan Indonesia Menurut : Perundangan, Hukum Adat,

(21)

c. Wali Nasab adalah wali yang behubungan tali kekeluargaan dengan perempuan yang akan kawin.43

d. Wali Hakim adalah wali nikah yang ditunjuk oleh Menteri Agama atau

pejabat yang ditunjuk olehnya, yang diberi hak dan kewenangan untuk

bertindak sebagai wali nikah.44

e. Sah adalah dilakukan menurut hukum (undang-undang, peraturan) yang

berlaku.

f. Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang

wanita sebagai suami istri dengan tujuan untuk membentuk keluarga (rumah

tangga) yang bahagia, kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.45 Perkawinan menurut hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat

kuat atau miitsaqan ghalizhan untuk mentaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.46

g. Akil balighadalah telah dewasa.

h. Fiqih Islam adalah seperangkat peraturan berdasarkan wahyu Illahi dan penjelasannya dalam sunah Nabi tentang tingkah laku manusia mukallaf yang diakui dan diyakini mengikat untuk semua yang beragama Islam.47

i. Kompilasi Hukum Islam adalah mazhab para hakim di Pengadilan Agama.

j. Ijabadalah penyerahan dari pihak perempuan kepada pihak laki-laki.48

43

Amir Syarifuddin , Hukum Perkawinan di Indonesia,Op.Cit, hal.75 44Pasal 1 huruf b Undang-Undang No.1 Tahun 1974 tentang Perkawinan 45

Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan 46Pasal 2 Kompilasi Hukum Islam.

47

(22)

k. Qabuladalah penerimaan dari pihak laki-laki.49

l. Tinjauan Yuridis adalah pandangan menurut hukum; berdasarkan ketentuan

hukum.

G. Metode Penelitian

Penelitian merupakan suatu kegiatan ilmiah yang berkaitan dengan analisa dan konstruksi, yang dilakukan secara metodologis, sistematis dan konsisten. Metodologis berarti sesuai dengan metode atau cara tertentu; sistematis adalah berdasarkan suatu sistem, sedangkan konsisten berarti tidak adanya hal-hal yang bertentangan dalam suatu kerangka tertentu.50

Penelitian hukum merupakan suatu kegiatan ilmiah, yang didasarkan pada metode, sistematika dan pemikiran tertentu, yang bertujuan untuk mempelajari satu atau beberapa gejala hukum tertentu, dengan jalan menganalisanya. Kecuali itu, maka juga diadakan pemeriksaan yang mendalam terhadap fakta hukum tersebut, untuk kemudian mengusahakan sesuatu pemecahan atas permasalahan-permasalahan yang timbul di dalam gejala yang bersangkutan.51

Penelitian hukum dilakukan untuk mencari pemecahan atas isu hukum yang timbul. Oleh karena itulah, penelitian hukum merupakan suatu penelitian di dalam kerangka know-how didalam hukum. Hasil yang dicapai adalah untuk memberikan preskripsi mengenai apa yang seyogyanya atas isu yang diajukan. Mengingat penelitian hukum merupakan suatu kegiatan dalam kerangka know-how, isu hukum hanya dapat didentifikasi oleh ahli hukum dan tidak mungkin oleh ahli lain. Sebagaimana dikemukakan oleh Cohen bahwa hanya mereka yang mempunyai expertise dalam menganalisa hukum yang mampu melakukan penelitian hukum.52

1. Sifat dan Jenis Penelitian

Penelitian ini bersifat deskriptif analisis, yaitu penelitian yang

menggambarkan, menganalisa dan menjelaskan permasalahan yang akan

dikemukakan dalam penelitian ini.

48

Ibid, hal.62

49 Ibid

50Soerjono Soekanto,Op.Cit, hal.42 51Soerjono Soekanto,Op.Cit, hal.43

(23)

Jenis penelitian yang digunakan adalah pendekatan yuridis normatif yaitu penelitian yang dilakukan dengan cara menganalisa hukum yang tertulis dari bahan pustaka atau data sekunder belaka yang lebih dikenal dengan nama bahan sekunder dan bahan acauan dalam bidang hukum atau bahan rujukan bidang hukum.53

Karena jenis penelitian menggunakan penelitian hukum normatif maka secara

garis besar digunakan pendekatan-pendekatan sebagai berikut:54

a. Pendekatan dengan mengkaji asas-asas hukum, yaitu penelitian tentang keterkaitan asas-asas dan doktrin hukum dengan hukum positif, maupun hukum yang hidup dalam masyarakat.

b. Pendekatan terhadap sistematika hukum, yaitu penelitian dengan menelusuri secara sistematik keterkaitan antara hukum dasar, hukum yang sifatnya instrumental dan operasional.

c. Pendekatan sinkronisasi hukum, yaitu penelaan hukum dengan mengsinkronisasi hukum secara vertikal melalui asas atribusi, delegasi dan mandat. Sedangkan pada sinkronisasi horizontal melalui asas delegasi.

d. Pendekatan sejarah hukum, merupakan penelaan yang menitikberatkan pada sejarah masa lalu, kemudian perkembangan masa kini dan antisipasi masa yang akan datang.

e. Pendekatan perbandingan hukum, merupakan penelaan yang menggunakan dua atau lebih sistem hukum untuk dibandingkan apakah mengenai perbedaan atau persamaannya.

2. Sumber Data

Data dalam penelitian ini menggunakan data sekunder. Data sekunder berasal

dari penelitian kepustakaan (library research) yang diperoleh dari:

1. Bahan hukum primer, yaitu bahan-bahan yang terdiri dari :

a. Al Qur’an dan Hadistt.

b. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan.

c. Kompilasi Hukum Islam

53Soerjono Soekanto dan Sri Mamudji,Op.Cit, hal 33

54 Meray Hendrik Mezak, Jenis, Metode dan Pendekatan Dalam Penelitian Hukum, Law

(24)

d. Rechtreglemen Buitengewesten (R.Bg)

e. Peraturan Menteri Agama RI No.2 Tahun 1987 tentang Wali Hakim

f. Peraturan Menteri Agama RI No.30 Tahun 2005 tentang Wali Hakim

g. Undang-Undang No.7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama

h. Undang-Undang No.3 Tahun 2006 tentang Peradilan Agama

i. Undang-Undang No.50 Tahun 2009 tentang Peradilan Agama

j. Peraturan Pemerintah No.9 Tahun 1975 tentang Perkawinan

k. Putusan MARI No.261/K/AG/2009

2. Bahan hukum sekunder yaitu bahan hukum yang memberikan penjelasan

terhadap bahan hukum primer misalnya buku-buku yang berhubungan dengan

permasalahan, tulisan para ahli, makalah, hasil penelitian, karya ilmiah atau

hasil-hasil seminar yang relevan dengan penelitian ini.

3. Bahan hukum tersier yaitu bahan hukum yang memberikan informasi dan

penjelasan terhadap bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder misal

kamus hukum, kamus fiqih, majalah, surat kabar, kamus bahasa Indonesia, internet, jurnal-jurnal.

3. Tehnik Pengumpulan Data

Adapun untuk memperoleh data yang relevan dengan permasalahan yang

diteliti dan dikaitkan dengan jenis penelitian hukum yang bersifat normatif maka

tehnik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian

(25)

perundang-undangan, buku-buku atau literatur, jurnal ilmiah, majalah-majalah, artikel, putusan

pengadilan yang ada kaitannya dengan masalah yang diteliti serta tulisan-tulisan

yang terkait dengan peranan wali dalam keabsahan nikah menurut hukum Islam.

4. Alat Pengumpulan Data

Pengumpulan data diawali dengan kegiatan penelusuran peraturan

perundang-undangan dan sumber hukum postif lain dari sistem hukum yang dianggap relevan

dengan pokok persoalan hukum yang sedang dihadapi.55

Berdasarkan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini maka alat

pengumpulan data yang digunakan yaitu studi dokumen dengan meneliti

dokumen-dokumen tentang hukum Islam. Dokumen ini merupakan sumber informasi penting.

5. Analisis Data

Puncak kegiatan pada suatu penelitian ilmiah hukum adalah menganalisis data

yang merupakan hasil penelitian yang telah dilakukan.56

Analisa data merupakan suatu proses mengorganisasikan dan mengurutkan

data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar sehingga dapat ditemukan tema

dan dapat dirumuskan suatu hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.57 Penelitian yuridis normatif yang bersifat kualitatif adalah penelitian yang

mengacu pada hukum yang terdapat dalam peraturan peraturan perundang-undangan

dan putusan pengadilan serta norma-norma yang hidup dan berkembang dalam

masyarakat.58

55

Zainuddin Ali,Op.Cit, hal.109

56

Tampil Anshari Siregar,Metodoogi Penelitian Hukum, Pustaka Bangsa Press, Medan, 2007, hal.104

57

Lexy J.Moleong,Metode Penelitian Kualitatif, Remaja Rosdakarya , Bandung ,2002, hal. 101

(26)

Berdasarkan sifat penelitian yang menggunakan metode penelitian bersifat

deskriptif analitis, analisis data yang dipergunakan adalah pendekatan kualitatif

terhadap data sekunder.59

Adapun tahap-tahap dalam melakukan analisis secara kualitatif adalah:60 a. Mengumpulkan bahan-bahan hukum yang relevan dengan permasalahan yang

diteliti.

b. Memilih kaidah-kaidah hukum atau doktrin yang sesuai dengan penelitian. c. Mensistematisasikan kaidah-kaidah hukum, asas atau doktrin.

d. Menjelaskan hubungan-hubungan antara berbagai konsep, pasal, atau doktrin yang ada.

e. Menarik kesimpulan dengan pendekatan deduktif.

Dengan demikian kegiatan analisis data ini dilakukan dengan pendekatan

kualitatif yang diharapkan dapat memberikan kesimpulan yang dilakukan dengan

memakai analisa deduktif yaitu cara berpikir yang dimulai dari hal-hal yang umum

untuk selanjutnya mengambil hal-hal yang khusus sebagai kesimpulan dari

permasalahan dan tujuan penelitian ini.

59Ibid, hal.107

60Amirudin dan Zainal Asikin,Pengantar Metode Penelitian Hukum, PT.RajaGrafindo Persada,

Referensi

Dokumen terkait

Definisi ini mencakup pelestarian sebagai salah satu fungsi utama perpustakaan digital dalam menyediakan saluran tertentu bagi pengguna untuk menggunakan dan mengakses

bagian yang tidak terpisahkan dari kegiatan mengajarnya, baik yang secara langsung dibiayai oleh dana IKIP Padang maupun dana. dari sumber lain yang relevan atau bekerja s a m

Ciri-ciri umum dari orang dengan gangguan kepribadian antisosial , yaitu mencakup kegagalan untuk patuh pada norma sosial, tidak bertanggung jawab, tidak mau

1) Dari segi pemilihan dan pengangkatannya, Wakil Presiden dipilih langsung oleh rakyat, diangkat dan diberhentikan oleh MPR, Sehingga Presiden tidak dapat

This study is intended to identify the elements of noun phrase, the types of noun phrases which mostly occur in the football news and the average length of those noun

Hasil penelitian menunjukkan sapi-sapi endometritis pada K1 mengalami regresi CL rata-rata 32 jam setelah terapi, sedangkan pada K2, CL tidak langsung regresi setelah

Berdasarkan wawancara dengan Direktur RSIA Budi Kemuliaan didapatkan data bahwa RSIA Budi Kemuliaan belum memiliki dan membutuhkan instrumen penilaian kinerja yang efektif

Pimpinan yang bersangkutan menyampaikan Form Permohonan Servis Reguler Kendaraan Dinas kepada Kepala Sub Bagian Umum dan Perlengkapan, dengan melampirkan bukti