1
Riwayah
Apa Faidah Ijazah
Hadits?
Majalah Komunitas
GRATIS
Edisi 1/Thn 1/Bln 4/1435H
Ijazah Hadits Syaikh
Bin Baz
Ijazah Umar Hamdan
Kepada Murid-Murid
Telah jelas dan diketahui bersama oleh kalangan ahli ilmu tentang ban-yaknya faidah dan keutamaannya.
Membahas tentang ijzah Hadist Syaikh Bin Baz beserta guru-guru beliau
Membahas tentang ijazah yang diberikan oleh Syaikh Allamah al-Musnid Umar bin Hamdan bin Umar bin Hamdan al-Makki al-Madani
Al-Albani :
Muhadits Tanpa Sanad?
Ulama Nusantara :
Zubair bin Ahmad Al-Fulfulani
Kata Pengantar
dari
Syaikh Akram
Ziyadah
2
Adab Muhaditsin
Sajian Edisi Ini
Ilmu Hadits Dasar
Ijazah
Masail
Esiklopedi
Faidah Kitab
Rihlah Ulama
Ulama & Sanadnya
Biografi Ulama Nusantara
Istilah Ilmu Riwayah
Kajian Utama
Nasihat dan Wasiat Ulama
Biografi Ulama
»
Thuruq at-Tahammul dan Shighah al-Ada’a
»
Ijazah Syaikh Umar Hamdan al-Mahrasi
Kepada Murid-Muridnya
»
Apa Faidah Ijazah Hadits ?
»
Al-Mubarakfuri
»
Tsabat Abu Bakar Khuwaqir
»
4 Sekawan Dalam Perjalanan
»
Syaikh Abdul Aziz bin Baz
»
Syaikh Muhammad Basyir Ibrahimi
»
Zubair bin Ahmad Al-Fulfulani Kepadanya
al-Fadani Membaca ‘Aqidah
Al-Wasithiyyah
»
Al-Muqri’ Asy-Syaikh Zaini Bawean Al-Makki
»
Kitab Al-Atsbaat
»
Imam al-Albani Muhadits Tanpa Guru dan
Sanad?
»
Nasihat Syaikh Abdurrahman Al-Mu’allimi
Tentang Hakikat Hawa Nafsu
»
Allamah Muhammad Zamzami
al-Ghumary : Jalan Kepada Sunnah
»
‘Abdullah bin Shadaqah Dahlan Al-Qaruti
»
Pengantar Redaksi
»
Sambutan Syaikh Akram Ziyadah
Jika hendak menyampaikan hadits, Imam Malik mandi, membakar kayu wangi dan memakai minyak wangi. Jika ada yang mengeraskan suaranya di majelis beliau, beliau berkata: Allah Ta’ala berfirman,
َ
ِّيِبَّنلا ِتْو َص َقْوَف ْمُكَتاَو ْصَأ اوُعَفْرَت لا اوُنَمآ َنيِذَّلا اَهُّيَأ اَي
”Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu meninggikan suaramu lebih dari suara Nabi” (al-Hujarat 2). Barang-siapa yang mengeraskan suaranya terhadap hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, seakan-akan dia mengeraskan suaranya diatas suara Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam”.
3
A
lhamdulillah, setelah sekian lama akhirnya terlaksana cita-cita kami menerbitkan ma-jalah komunitas yang khusus membahasbiografi ulama dan sanad-sanad periwaya-tan mereka. Walaupun disertai banyak kekurangan
disana-sini, tapi kami berharap semoga majalah ini bermanfaat bagi mereka pencari ilmu, para pecinta
ulama, dan bagi kaum muslimin pada umumnya.
Tujuan baik yang kami ingin capai dengan diterbitkannya majalah ini:
• Memperkenalkan kepada kaum muslimin khu-susnya di Indonesia, ulama mereka,
• Sumbangan kecil kami kepada ilmu sejarah dan biografi,
• Memperkenalkan ilmu hadits terutama dalam hal periwayatan
• Membersihkan biografi ulama dari kisah-kisah palsu dan khurafat
Untuk edisi perdana ini, kami telah mengirim surat
kepada guru kami, Syaikhuna al-Musnid al-Habib Akram bin Muhammad Ziyadah al-Atsari hafizahullahu
untuk memberikan sambutan dan pengantarnya. Dan Alhamdulillah beliau menyambut baik rencana kami
ini, dan mengirimkan kepada kami kata pengantar dan sambutannya. Begitu pula beberapa guru kami yang lain, mereka menyambutnya dengan gembira
dan berjanji akan mengirimkan sambutannya kepada kami, hanya saja sampai diterbitkannya majalah ini,
risalah mereka belum sampai dikarenakan kesibukan dan lain sebagainya.
Mudah-mudahan Allah memberkahi usaha kita ini, dan menjadikannya mizan kebaikan di hari
penghi-saban.
Pengantar Redaksi
FROM EDITOR
REDAKSI
Penerbit :
Grup Majelis Sama’, Ijazah dan Biografi Ulama
Tim Redaksi :
Abu Abdillah Rikrik Aulia as-Surianji, Firman Hi-dayat Mawardi, Abu Rifki Fauzi Junaidi, Abdussalam bin Hasan al-Makasari,Tommi Marsetio, Habibi Ikhsan al-Martapuri.
Layout dan Desain :
Randy Yanuar Alam Ghazali.Alamat Redaksi
Parahyangan Kencana Blok D2 no. 54, Cangkuang Kab. Bandung
E-mail :
Facbook :
https://www.facebook.com/groups /362707183839087/
Donasi :
BRI (an. Novi Ariandini) No. Rek. 0544-01-006294-53-8
4
Fadhilatusy Syaikh al-Musnid
Akram Ziyadah al-Atsari
5
Wa’alaikumussalam Warohmatullohi Wabarokatuh.
Waba’du :
Wahai Saudaraku yang mulia, sungguh menggembirakan diriku risalahmu itu, serta memberikan rasa keberuntungan yang mendalam dalam diriku; tentang ilmu riwayat, ilmu hadits, dan sanadnya, karena terdapat di negerimu orang-orang yang mencurahkan pikiran dan perhatiannya kepada hal tersebut. Hingga aku pun bergegas untuk menuliskan suatu mukaddimah umum yang berkaitan dengan majalah kalian ini yang aku ambil dari mukaddimah kitabku “Mu’jamu Suyukhi Thobary”, sekaligus berharap hal ini memenuhi keinginan kalian dan sesuai dengan tujuan yang kalian sebut dalam risalah. Semoga Allah memberikan taufik kepada kami dan kalian pula untuk melazimi ketaatan dan berkhidmat kepada agamaNya.
Wassalamu’alakum Warohmatullohi Wabarokatuh.
Bismillahirrahmanirrahim.
Sungguh, di antara kesempurnaan nikmat yang Allah berikan kepada hambaNya yang beriman, bahwa Dia menggoreskan keimanan di hati serta menghiasinya, serta merta pula menanamkan rasa benci terhadap kekafiran, kefasikan dan kemaksiatan sehingga dengan itu semua mereka termasuk orang-orang yang mendapat petunjuk. Dan di antara penyempurna nikmat tersebut terhadap kalangan tertentu, yaitu dengan bersemainya rasa cinta terhadap ilmu, yang kemudian mereka perbagus dengan pengamalan, suatu hal yang merupakan pondasi yang kokoh dalam iman. Sebab ijma’nya ahlussunnah wal-jamaah bahwa iman itu adalah terdiri dari ucapan, perbuatan dan I’tiqad, bertambah dengan adanya ketaatan dan berkurang disebabkan kemaksiatan dan kesalahan. Dan sesungguhnya sepaling mulia ilmu adalah ilmunya para Nabi alaihimussalam. Dan sepaling mulia para Nabi secara mutlak yaitu Sayyidul Anam Muhammad Shollallahu alaihi wasallam yang kepadanya tercurah seutama sholawat dan sepaling suci salam. Dan sepaling mulia ilmu yang beliau wariskan terhadap ummatnya yaitu adz-dzikr (Al-Qur’an) yang Allah menjamin terpeliharanya, menurunkannnya sebagai wahyu yang berasal dariNya langsung, ruh bagi perintahnya, memberikan petunjuk dengannya terhadap orang yang mengikuti keridhaannya dengan menjalani jalan-jalan keselamatan, mengeluarkan mereka dari
kegelapan kepada cahaya dengan izinNya, menunjuki mereka ash-shirath al-mustaqiim, dia lah adz-dzikrul hakim, Al-qur’an al-adzim yang membacanya adalah ibadah. Baru selanjutnya al-bayan al-mubayyin, penjelasan yang memberikan kejelasan bagi segala ketentuan yang ada di dalamnya, sebagaimana dinyatakan sendiri oleh yang menurunkannya serta pemeliharanya Subhanahu, “Dan telah kami turunkan kepadamu adz-dzikr untuk memberikan penjelasan kepada manusia apa-apa yang telah dia turunkan kepada mereka, semoga kalian berfikir” (An-Nahl: 44)
Manakala Adz-dzikr yang adalah kalamullah dengan semua lafadz dan maknanya terpelihara dengan pemeliharaanNya Subhanahu Wa ta’ala. Maka dipeliharalah adz-dzikr ini di banyak dada selain di antara tulisan-tulisan, sekiranya Allah menjadikan adz-dzikr adalah al-qur’an dan As-sunnah sebagai penjelasnya. Lalu memilih di antara hamba-hambanya yang terpilih dari kalangan muhajirin dan anshor serta mereka-mereka yang mengikut mereka dengan kebaikan diseluruh masa dan tempat, para pria perwira yang membawanya untuk manusia seluruhnya di berbagai daerah dan tempat. Ini karena sahabat menyaksikan langsung turunnya Adz-dzikr serta mendengar penjelasannya sehingga bisa dikatakan mereka adalah saksi yang memang menyaksikan. Dengan penyampaian mereka kepada para mukallaf, penjelasannya terhadap yang tidak tahu maksudnya, mereka telah menjunjung perintah Nabi mereka yang bersifat al-amiin, “Hendaklah yang menyaksikan, menyampaikannnya kepada yang tidak menyaksikan”. Selain dari mereka menjadi pembuktian firman Tuhan mereka yang Maha Besar, “Mereka-mereka yang menyampaikan risalah-risalah Allah serta memiliki rasa takut kepadaNya, dan mereka tidak takut terhadap siapapun kecuali kepada Allah, dan cukuplah Allah sebagai penghisab” (Al-ahdzab: 39), mereka sebagai pentafsir dan pemberi penjelasan, baik dengan sifat segeranya Dalam menyampaikan wahyu, atau dengan memberikan jawaban terhadap mereka yang bertanya tentang maksudnya, Dan yang termasuk kesempurnaan penjelasan bahwa Nabi langsung memberikan penjelasan yang semua itu berasal dari wahyu dari Allah Tabaraka wa Ta’ala, baik dengan melalui Ar-rasul al-amin Jibril alaihis salam atau dengan ilham dan ikrar serta pengokohan dalam ijtihad dikesempatan yang lain, atau dengan pengarahan dan pembenaran dikesempatan yang lain lagi.
6
Para Sahabat Radhiyallohu Anhum betul-betul menekuni ilmu tentang penjelasan Al-Qur’an ini sebagaimana mereka menekuni dalam mendengarnya langsung. Dan ketika perintah dakwah serta penyampaiannya merekapun menyampaikan penjelasannya (tafsirnya) sebagaimana mereka mengajarkan At-tanziil (al-qur’an) . Ini sebagaimana isyarat dari Imam Al-Muqrii Abu Abdirrahman As-Salmaa, “Petunjuk dan pengajaran dari para sahabat kepada para Tabi’iin yang besar”. Adalah pemuka mereka para khalifah yang empat, lalu menyusul Abdullah Ibnu Mas’ud, sang tinta dan lautan Turjumanul Qur’an Abdullah Ibnu Abbas, Abdullah ibnu Umar, Ummul Mu’minin Aisyah, Ubay ibnu Ka’b, pemuda yang cerdas dan amanah Zaid bin Tsabit hingga seluruh sahabat Radhiyallohu Ta’ala a’nhum ajma’in .
Berlanjut dengan masa tabi’in mereka pun mengambil at-ta’wil (penjelasan) itu sebagaimana mereka telah mengambil at-tanziil (al-qur’an) , baik secara tulisan, atau pun secara langsung. Hingga sampainya masa munculnya kemunafikan, para pengasas kebid’ahan, penolakan terhadap ittiba’, hal-hal yang diminculkan para ahlul kalam dan manthiq yang kosong tak berharga, dari para penyembah salib, ‘Uzair, api, cahaya dan terang, mereka-mereka yang lupa dengan pertolongan Islam, mereka yang telah mengotori hidung-hidung mereka yang ada di Khaibar, Qaadisiyah, dan Yarmuk. Serta munculnya para pembenci sahabat yang mulia dengan sebab hasad mereka menuduh para sahabat sebagai para pengkhianat dalam menyampaikan dakwah, atau tuduhan menyembunyikan sesuatu, atau tuduhan kebodohan serta lemah dalam fahaman, atau beralasan menolong ilmu serta Ulama Batin Para Imam Ahlul Bait yang ma’shum -dalam sangkaan mereka- atau alasan menolong gamisnya Utsman dan kedudukan serta menghancurkan kaum khawarij.
Maka dalam hal ini adalah suatu kemestian untuk mengenal siapa yang bersifat buruk di antara yang bersifat baik, mengenal yang mempunyai kerancuan di antara yang bersifat dhobith dan kokoh, mengenal yang fasik ahli bid’ah diantara yang adil dan mengikut (ittiba’), hingga akhirnya berdirilah pasar jarh dan ta’dil, membawa benderanya setiap yang ‘alim mengamalkan serta cerdas, membela para sahabat dan tabi’iin, membela manhaj dan dakwah mereka, baik dengan pedang ataupun anak panah, dengan badan dan lisan, dengan hujjah dan penjelasan, hingga jadilah para ahli ilmu berbeda dengan yang
selain mereka dengan adanya sanad-sanad yang mereka miliki. Mereka melakukan perjalanan berhari-hari, berbulan-bulan, bertahun-tahun bahkan berpuluh tahun. Ini semua mereka lakukan untuk memperolah sanad yang ’aaly (tinggi), selain dari upaya mengumpulkan dan menyebarkannya. Ini semua berguna sebagai alat untuk mengetahui yang buruk di antara yang baik dari para perawi, yang ’adil dan dhabith di antara yang bodoh dan rendah. Hingga jadilah para Imam yang dikenal dengan pengetahuan mereka tentang rijaal sanad baik secara kunyah, nama dan gelar, atau tentang kehidupan dan wafatnya, atau tentang nasab, status, dan walanya, atau tentang tempat tinggal, kediaman, dan ribathnya, atau tentang rihlah, tempat tinggal sementara dan negerinya, atau tentang perjumpaan, sama’ dan penyampaiannya, atau tentang munawalah, ijazah dan wijadahnya, atau juga tentang musyafahah, hafalan dan pengimlaannya, juga tentang tulisan, penampakan dan pengkhabarannya.
Mereka telah mewariskan kepada kita, kelompok sebelum dan sesudah kita dengan saripati kesungguhan, kesimpulan bahasan, beningnya pengetahuan mereka tentang nama-nama rijal dan gelar mereka, nasab dan negerinya, lahir dan wafatnya, tingkatan dan martabatnya, Guru dan murid-muridnya, serta hal mereka dalam penta’dilan dan pentajriihan, yang semua itu dilakukan dengan timbangan yang lebih teliti dibanding timbangan emas serta dilakukan bukan untuk celan manusia tapi keridhoan Tuhannya Manusia dan Jin selain dari menjadi tameng dari lontaran waswasnya setan yang menyerang ganas.
Dalam hal ini telah berdiri tegak para muhaqqiqiin, dari para Ulama Diin untuk mengulas riwayat (tarjamah) kehidupan para Imam yang mulai itu, yaitu mereka-mereka yang membawa panji-panji sunnah, hadits dan atsar, buat menampakkan keutamaan dan catatan hal ihwal mereka, sehingga periwayatan dan penaqalan yang mereka bawakan bisa dipercaya. Mereka juga mengulas riwayat kehidupan para Imam yang tercela, yang mereka mengotori agama Islam ini dengan ragam kebid’ahan, hal yang meragukan dan membimbangkan, agar manusia menjauhi keburukan itu serta menolak buruknya tipu daya mereka.
7
hanya berisi penta’dilan berupa tarjamah periwayat yang tsiqah (terpercaya), ’aadil serta mempunyai kekokohan dalam hapalan. Ada pula kitab-kitab yang mengandung dua perkara tersebut sekaligus, yaitu penjarahn dan penta’dilan. Juga kitab-kitab yang lebih memperhatikan masalah nama dan kunyah periwayat, atau yang menonjolkan kelahiran dan wafatnya, atau martabat dan thobaqahnya, serta hal-hal yang lainnya berupa perjalanan hidup dan cerita-cerita kehidupannya, ataupun rihlahnya, tempat singgah dan mukimnya. Atau yang menyoroti tentang Guru-guru dan murid-murid para periwayat itu, ’illat-illat, ijazah, jalan periwayatan, ataupun masyikhah mereka.
Para ahli ilmu telah menaruh perhatian terhadap riwayat hidup Guru-guru mereka, atau terhadap mereka-mereka yang riwayatnya mereka ambil, misalnya kitab ”Bahrud Dam”, kitab ” Al-asaama wal-kunaa” dan selain keduanya karya Imam Ahmad seperti kitab ”Tarikh Al-kabiir” dan ”Tarikh Ash-shoghir” karya Imam Bukhary, juga kitab Al-Kunaa wal-Asmaa”, ”al-munfaridaat wal-wihdaan, dan ”At-tamyiiz” karya Imam Muslim bin Hajjaj. Ada juga kitab ”Ats-tsiqaat” dan ”Al-majruuhin” karya Ibnu Hibban.
Selain itu ada juga kitab yang jenisnya untuk perawi-perawi kitab-kitab hadits yang setiap kitab ditentukan buat kitab hadits tertentu semisal kitab tarjamah ”Rijaalu Shohihil bukhary” karya Abu Nashr kalabadzy, ”Rijaalu Muslim” karya Abu Bakar Al-Ashbihany, ”Waman rawa ’anhum Bukhary” karya Abu Ahmad bin ’Ady al-jurjany, ”Tasmiyatu man akhrajaahu al-bukhary wa-Muslim” karya Abu Abdillah Al-hakim An-naisabury, ”Al-ikmal fie dzikri man lahu riwayah fie musnadil Imam Ahman minar rijal” Karya Abul Mahasin Al-Husaini, ”Ta’jilul manfa’ah bi rijalil Aimmatil Arba’ah” karya hafidz Ibnu Hajar, kitab ”Is’aful Mubtha’ bi Rijalil Muwaththa’” karya Abul Fadhl As-suyuthi, dan banyak lagi kitab-kitab lainnya.
Bisa juga disebutkan kitab dalam bahasan thobaqah, martabat, kewafatan, gelar dan tarjamah-tarjamah yang umum semisal kitab ”Ath-thobaqatul Kubro” karya Muhammad bin Sa’ad bin Mani’_juru tulis Al-waqidy-, ”Dzikru asma’it tabi’in waman ba’dahum” karya Ad-daaruquthny, ”Tahdzibul kamal fie Asma’ir Rijal” karya Abul Hajjaj Al-Mizzy, ”Thobaqatul Muhadditsin” karya Adz-dzahabi, ”Al-muqtana fie Sardil Kuna” karya Adz-dzahabi juga, ”Al-ishobah fie ma’rifatish Shohabah” karya Hafidz Ibnu Hajar al-’asqalany, ”Thobaqatul Huffadz” karya As-suyuthi,
Maulidul Ulama wa wafayatihim” karya Abu Zaid Ar-rib’iy, ”Al-maqshadul Arsyad fie dzikri Ashhabi Ahmad” karya Ibnu Muflih Al-Hanbali, dan yang terakhir kitab ”Rijaalu Tafsiri Ath-thobary karya Al-hallaq.
Semua yang telah kita sebutkan itu merupakan bukti yang jelas tentang perhatian umat kita sepanjang masa dan di mana saja berada tentang tarjamah para Ulama dengan tujuan mengenal sanad-sanad dan periwayatan mereka. Karena inilah rencana kalian sebagaimana telah kalian sebutkan insya Allah akan menjadi tatimmah (penyempurna) bagi kesungguhan orang-orang sebelum kalian, dan suatu halqah yang menyampaikan kepada orang-orang yang akan menyusul jejak langkah kalian. Allah memberikan taufik dan ri’ayahnya kepada kalian. Walhamdulillahi Rabbil ’Alamiin.
8
Y
ang dimaksud dengan ”thu-ruq at-tahammul” (jalan menerima hadits) adalah cara-cara talaqi hadits dan bagaimana mengambilnya dari guru-guru.Adapun yang dimaksud dengan “shighah al-ada’a” (bentuk penyam-paian hadits) adalah lafazh-lafazh yang digunakan oleh ahli hadits dalam meriwayatkan dan meny-ampaikan hadits kepada muridnya, contohnya : ”sami’tu...” (aku telah mendengar), atau “haddatsani” (telah bercerita kepadaku), atau yang semisal demikian itu. Bukan menjadi syarat bagi yang
menerima hadits, mesti muslim dan baligh, inilah pendapat yang shahih. Berbeda ketika menyam-paikannya, penyampai disyaratkan Islam dan baligh. Maka diterima riwayat seorang muslim yang ba-ligh dari hadits yang ia terima se-belum masuk Islam, atau sese-belum balighnya, dengan syarat tamyiz bagi yang belum baligh. Dan se-bagian ulama memberi batasan minimal berumur lima tahun. Namun yang benar itu, cukuplah dengan batasan tamyiz. Ketika ia dapat memahami pembicaraan dan memberikan jawaban, itulah tamyiz, shahih sima’nya. jika tidak,
Untuk mengenal ilmu
periwayatan, sudah
sepatutnya kita
menge-nal bagaimana cara ahli
hadits dalam menerima
dan menyampaikan
kembali hadits atau
disebut juga Tahammul
al Hadits dan Adau’al
Hadits. Berikut ini akan
kami kutipkan kepada
pembaca yang budiman,
kajian singkat tentang
hal ini yang diambil
dari berbagai kitab ilmu
hadits.
Thuruq at-Tahammul
&
Shighah al-Ada’a
9
maka tidak diterima.
Sebagian ahli hadits ketika menye-but kegiatan sebagian anak dalam mengikuti majelis hadits ketika sudah berumur lima tahun dengan sami’a (ia mendengar) dan ketika belum lima tahun dengan hadhara (ia hadir) atau uhdhira (ia diajak menghadiri). Hal itu biasa dijumpai dalam sebagian manuskrip yang berbicara tentang daftar penden-gar majelis hadits para ulama. Dan jalan untuk menerima hadits itu ada delapan, yaitu; as-sama’ yakni mendengar dari lafazh syai-kh, al-qira’at atau membaca kepa-da syaikh, al-ijazah, al-Munawalah, al-kitabah, al-I’lam, al-washiyyah, dan al-wijadah.
Berikut ini masing-masing dari de-lapan jalan itu disertai penjelasan singkat dan lafazh-lafazh dalam penyampaiannya :
1. As-sama’ atau mendengar dari lafazh guru:
Seorang guru membaca dan murid mendengarkan, baik guru membaca dari hafalannya atau dari tulisannya, dan baik murid mendengar atau menulis apa yang didengarnya, atau hanya mendengar saja dan tidak men-ulis. Menurut jumhur ulama, as-sama’ ini memiliki derajat yang paling tinggi dalam tata cara pengambilan hadits.
Lafazh-lafazh penyampaian ha-dits melalui as-sama’ adalah: “aku telah mendengar” dan “telah menceritakan kepadaku” jika banyak perowinya: “kami telah mendengar dan “telah menceritakan kepada kami” Ini menunjukkan bahwasanya dia mendengar dari sang syekh ber-sama yang lain.
Adapun lafazh ”telah berkata kepadaku” atau ”telah menye-butkan kepadaku”, lebih tepat untuk mendengarkan dalarn
mudzakarah pelajaran, bukan untuk mendengarkan hadits.
2. Al-qira’ah artinya membaca kepada syaikh. Para ahli had-its menyebutnya: “Al-Ardh”.
Bentuknya, seorang perawi membaca hadits kepada se-orang syaikh, dan syaikh mendengarkan bacaannya untuk meneliti, baik perawi yang mernbaca atau orang lain yang membaca sedang syaikh rnendengarkan, dan baik bacaan dari hafalan atau dari buku, atau baik syaikh mengikuti pembaca dari hafalannya atau memegang kitabnya sendiri atau memeg-ang kitab ormemeg-ang lain ymemeg-ang tsiqah. Mereka berselisih pendapat ten-tang rnembaca kepada syaikh, apakah dia setingkat dengan as-sama’, atau lebih rendah darin-ya, atau lebih tinggi darinya? Yang benar adalah lebih rendah dari as-sama’.
Ketika menyampaikan hadits atau riwayat yang dibaca si per-awi rnengunakan lafazh-lafazh : “aku telah membaca kepada fulan”, atau ”telah dibacakan kepadanya dan aku mendengar
orang membaca lalu ia meny-etujuinya,
Lafazh as-sama’ berikutnya ada-lah yang terikat dengan lafazh qiro’ah seperti: haddatsana qi-roatan ‘alaihi (ia menyampaikan kepada kami melalui bacaan orang padanya). Namun yang umum menurut para ahli hadits adalah dengan mengunakan la-fazh “akhbarani” saja tanpa tarn-bahan yang lain.
3. Al-ijazah yaitu: seorang syaikh mengizinkan muridnya rneri-wayatkan hadits atau riwayat, baik dengan ucapan atau tu-lisan.
Gambarannya seorang syaikh mengatakan kepada salah se-orang muridnya: “aku izinkan kepadamu untuk meriwayatkan dariku demikian ..”.
Di antara macam- macam ijazah adalah:
a. Syaikh mengijazahkan
10
ing tinggi derajatnya. Ini lazim disebut ijazah khusus.
b. Syaikh mengijazahkan orang yang tertentu den-gan tanpa menentukan apa yang diijazahkan. Seperti, ”Aku ijazahkan kepadamu untuk meri-wayatkan semua riwayatku”. Ini disebut ijazah ammah yakni umum untuk semua riwayat. c. Syaikh mengijazahkan kepada siapa saja
(tan-pa menentukan) dengan juga tidak menentu-kan apa yang diijazahmenentu-kan, seperti, ”Aku ijazah-kan semua riwayatku kepada semua orang pada zamanku. “. Kadang ini juga disebut ijazah ammah yakni umum untuk setiap ahli zaman-nya yang menjumpai masa hidupzaman-nya. d. Syaikh mengijazahkan kepada yang tidak
diket-ahui atau majhul umpamanya dia berkata, “Aku ijazahkan kepadamu Kitab Sunan, sedangkan dia meriwayatkan sejumlah Kitab Sunan”, pa-dahal ia meriwayatkan beberapa kitab Sunan. Atau mengatakan “Aku ijazahkan kepada Mu-hammad bin Khalid Ad-Dimasyqi”, sedangkan di situ terdapat sejumlah orang yang mernpunyai nama yang sama seperti itu.
e. Syaikh memberikan ijazah kepada orang yang tidak hadir demi mengikutkan rnereka den-gan yang hadir dalam majlis, umpamanya dia berkata, “Aka ijazahkan riwayat ini kepada sifu-lan dan keturunannya.”.
Bentuk yang pertama dari beberapa bentuk di atas adalah yang diperbolehkan oleh jumhur ulama dan ditetapkan sebagai sesuatu yang diamalkan. Dan inilah pendapat yang benar. Sedangkan bentuk-bentuk lainnya masih diperselisihkan. Lafazh yang sering dipakai untuk riwayat yang diterima dengan cara ijazah adalah “Ajaza li fulan (beliau telah mem-beri ijazah kepada fulan), atau haddatsana ijazatan, akhbarana ijazatan dan anba’ana ijazatan. Pada dasarnya tidak harus yang menerima ijazah adalah orang ‘alim, namun ijazah akan dipandang baik jika yang diberi ijazah adalah orang yang ber-ilmu. Ijazah itu kemudahan yang mestinya diterima oleh orang yang berilmu karena mereka sangat memerlukannya. Ijazah juga lebih baik diberikan berkenaan dengan hadits tertentu dan dikenal serta tidak ada persoalan dalam isnadnya. Hal ini merupakan pendapatnya al-Hafizh Ibnu Abd al-Barr rahimahullahu.
Ijazah ini bisa secara lisan (mushafahah) atau ter-tulis (maktubah), bisa juga lewat perwakilan (yakni Syaikh mewakilkan seseorang agar memberi ijazah
atas namanya), atau khabar dari orang tsiqah (yak-ni kabar dari seseorang bahwa syaikh fulan telah mengijazahimu kitab ini atau hadits ini). Ijazah bisa diberikan karena permintaan murid, permintaan orang lain kepada syaikh, bisa juga tanpa diminta siapa pun tapi diberikan syaikh semata-mata niat baik dari syaikhnya. Semua bentuk ijazah itu sah, dan nilainya sama saja, hanya saja seseorang mesti menjelaskan jika memang dibutuhkan.
Ketika ia meriwayatkan secara campuran, misal se-cara sama’i atau qira’ah untuk sebagian kitab dan selebihnya ijazah maka lafazhnya : “Menceritakan fulan secara sama’ untuk sebagiannya dan ijazah selebihnya”. Dan seterusnya dengan memperha-tikan penukilan dan kejujuran. Memang ilmu ini menjunjung tinggi sikap jujur dalam menerima dan meriwayatkan, akan tercecer mereka yang tidak bersikap demikian.
4. Al-Munawalah atau menyerahkan. Al-Munawalah ada 3 macam :
a. a) Munawalah yang disertai dengan ijazah dan disertai penyerahan kitab. Ini tingkatannya paling tinggi di antara macam-macam ijazah secara mutlak. Seperti jika seorang syaikh memberikan kitabnya kepada sang murid, lalu mengatakan kepadanya: “Ini riwayatku dari fulan, maka riwayatkanlah dariku” Kemudian buku tersebut dibiarkan bersamanya untuk dimiliki atau dipinjamkan untuk disalin. Maka diperbolehkan meriwayatkan dengan seperti ini, dan tingkatannya lebih rendah dari as-sa-ma’ dan al-qira’ah.
b. b) Munawalah yang disertai dengan ijazah na-mun tidak disertai penyerahan kitab. Menurut sebagian ulama, ini tidak ada bedanya dengan ijazah, namun pendapat yang benar ia memi-liki kelebihan dari ijazah, sebab ia dapat mem-perkuat khabar.
c. c) Munawalah yang tidak diiringi dengan ijazah. Seperti jika seorang syaikh mernberikan kitabn-ya kepada sang murid dengan hankitabn-ya mengata-kan: ”Ini adalah riwayatku.” Yang semacam ini tidak boleh diriwayatkan berdasarkan penda-pat yang shahih.
11
5. Al-Kitabah atau berkirim surat
Seorang syaikh menulis sendiri atau bisa juga dia menyuruh orang lain menulis riwayatnya, kepada orang yang hadir ditempatnya atau yang tidak hadir disitu. Kitabah ini ada 2 jenis:
a. Kitabah yang disertai dengan ijazah, seperti perkataan seorang syaikh, “Aku ijazahkan kep-adamu, apa yang aku tulis untukmu”, atau yang semisal perkataan itu. Dan riwayat dengan cara ini adalah shahih, kedudukannya sama dengan munawalah yang disertai dengan ijazah. b. Kitabah yang tidak disertai dengan ijazah,
sep-erti syaikh menulis sebagian hadits untuk mu-ridnya lalu ia dikirimkan tulisan itu kepadanya, tapi tidak ada izin untuk meriwayatkannya. Dalam masalah ini terdapat perselisihan hu-kum periwayatannya. Sebagian tidak membole-hkan dan sebagian yang lain membolemembole-hkan- membolehkan-nya yakni jika diketahui bahwa tulisan tersebut adalah benar-benar karya syaikh itu sendiri.
6. Al-I’lam atau memberitahu
Yaitu seorang syaikh memberitahu muridnya bahwa hadits ini atau kitab ini adalah riwayatnya dari fu-lan, dengan tidak disertakan izin untuk meriwayat-kan hal itu dari padanya. Para ulama berbeda pen-dapat tentang hukum meriwayatkan dengan cara al-i’lam, sebagian membolehkan dan sebagian yang lain tidak membolehkannya.
Ketika menyampaikan riwayat dari cara ini, si per-awi berkata “A’lamanisyaikhi” artinya “guruku telah memberitahu kepadaku”.
7. Al-Washiyyah atau mewasiatkan
Seorang syaikh mewasiatkan di saat mendekati ajalnya, atau ketika dalam perjalanan, sebuah kitab atau hadits yang ia wasiatkan kepada sang perawi. Riwayat yang seorang terima dengan jalan wasiat ini boleh dipakai menurut sebagian ulama, namun yang shahih adalah tidak boleh dipakai. Jika menyampaikan riwayat dengan cara wasiat perawi mengatakan, ”Ausha ilayya fulanun bi kitabin” (si fulan mewasiatkan kepadaku sebuah kitab), atau ”Haddatsani fulanun washiyyatan” (telah bercerita kepadaku si fulan dengan sebuah Wasiat).
8. Al-Wijadah atau mendapati
Yaitu seorang perawi mendapati hadits atau kitab dengan tulisan seorang syaikh, dan ia mengenal syaikh itu atau mengenal tulisan syaikh itu,
sedan-gkan hadits-haditsnya tidak pernah ia didengarkan ataupun ditulis oleh si perawi.
Wijadah ini termasuk dalam jenis hadits munqathi (terputus sanadnya), karena si perawi tidak men-erima sendiri dari orang yang menulisnya. Dalam menyampaikan hadits atau kitab yang didapati dengan jalan wijadah, si perawi berkata, “wajadtu bi khaththi fulanin” (aku dapatkan buku ini dengan tu-lisan fulan), atau “Qara’tu bi khati fulanin” (aku telah membaca buku ini dengan tulisan fulan), kemudian menyebutkan sanad dan matannya. [red].
Disarikan dari Kitab Syaikh Manna al-Qaththan ber-judul “Mabahats fi Ulumul Hadits” hal. 165 – 168 dan dari Kitab Syaikh Dr. Nuruddin ‘Itr berjudul “Manhaj an-Naqd fi Ulumul Hadits” hal. 214-222, dan lainnya.
12
B
erkata Syaikh Prof. Dr. Muhammad Dhiyaur-rahman al-A’dhami[1]dalam Kitab Mu’jam
Musthalahaat al-Hadiits wal Lataaif al-Asaanid hal 5-7.
Al-Atsbaat itu merupakan jamak dari tsabat, penulis tsabat
menye-butkan di dalamnya sanad-sanad kepada kitab-kitab yang ia bacakan
kepada guru-gurunya yang tersam-bung sampai kepada penulis kitab
yang ia bacakan itu.
Maka Al-Atsbaat pada dasarnya
adalah kumpulan ijazah-ijazah yang seorang penuntut ilmu
men-dapatkannya dari para syaikhnya dalam periwayatan kitab-kitab
ha-dits. Dan jika dikumpulkan ijazah-ijazah ini oleh seorang penulis,
maka ia dinamakan Al-Atsbaat.
Faidah-faidah dari adanya Al-Ats-baat :
1. Sebagai sumbangan dari penulis untuk biografi ulama
dizaman-nya.
2. (Diketahuinya) biografi para
[1] Dr. Yusuf al-Mar’asyali Menyebutkan
biografi beliau dalam kitabnya Mu’jam
al-Ma’ajim wa al-Masyikhat wa al-Faharis wa al-Baramij wa al-Atsbat hal 100. Beliau adalah Peneliti dan Profesor hadits di Uni-versitas Islam Madinah, lahir tahun 1363 H.
perawi yang terkadang tidak
ditemukan dalam kitab-kitab biografi umum.
3. Adanya sanad-sanad dari karya-karya tulis yang dibuktikan pada
penelitian (kitab-kitab) turaats.
Diantara kitab-kitab Al-Atsbaat yang populer :
1. Al-Majma’ Al-Mu’assas lil Mu’jam Mufahras, karya Al-Haafizh Abul Fadhl Ibnu Hajar Al-’Asqalaaniy, wafat 852 H.
Naskah tulisan tangan dengan kitabnya terdapat di Daarul
Kutub Al-Mishriyyah. Lihat
daf-tar isi manuskrip-manuskrip (musthalahul hadiits) jilid
per-tama hal. 283. Kitab ini telah dicetak.
2. Al-Umam li Iiqaazh Al-Himam, karya Asy-Syaikh Ibraahiim bin
Hasan Al-Kurdiy Al-Kuraaniy Al-Madaniy, wafat sekitar 1102
H. Kitab ini dicetak di Haidar Aabaad (Hyderabad) pada tahun
1328 H.
3. Bughyah Ath-Thaalibiin li Bayaan Al-Masyaaikh Al-Muhaq-qiqiin, karya Asy-Syaikh Ahmad bin Muhammad An-Nakhliy Al-Makkiy, wafat sekitar 1130 H.
4. Al-Imdaad bi Ma’rifati ‘Uluwwil Isnaad, karya Asy-Syaikh ‘Abdul-laah bin Saalim Al-Bashriy, wa-fat sekitar 1135 H.
Kitab ini dicetak pada tahun 1328 H, dikumpulkan oleh
put-ranya, Saalim.
5. Al-Irsyaad ilaa Muhimmaat ‘Ilmu Al-Isnaad, karya Asy-Syaikh Wali-yullah Ahmad bin ‘Abdurrahiim
Ad-Dahlawiy, pemilik kitab “Hu-jjatullaah Al-Baalighah” (1114
- 1176 H), dan padanya terda-pat poros sanad-sanad ulama
India. Kitab ini dicetak di kota
Para pembaca yang budiman, dalam ilmu hadits khususnya ilmu riwayah
mengenal beberapa istilah penting yang sering dipakai dan wajib diketahui
bagi siapa yang ingin mendalami ilmu ini. Rubrik ini secara khusus akan
mengungkap istilah-istilah itu, satu per satu kepada pembaca,
mudah-mudahan bermanfaat.
13
Lahore pada tahun 1960 M. 6. Ithaaf An-Nabiyyah fiimaa
Yahtaaju ilaih Al-Muhaddits wal Faqiih lahu, dengan bahasa Per-sia, ditahqiq oleh Asy-Syaikh Al-Muhaddits ‘Athaa’ullaah Haniif. Dicetak di kota Lahore pada
ta-hun 1386 H.
7. Ithaaf Al-Akaabir bi Isnaad Ad-Dafaatir, karya Al-’Allaamah Al-Muhaddits Al-Faqiih Abu ‘Aliy Muhammad bin ‘Aliy Asy-Syau-kaaniy -semoga Allah Ta’ala
merahmatinya-, penulis kitab “Nailul Authaar” dan yang
lain-nya. Wafat tahun 1255 H. Kitabn-ya dicetak pada tahun 1328
H di percetakan Ad-Daa’irah Al-Ma’aarif An-Nizhaamiyyah,
Haydar Aabaad, India. Bersama kitab ini terdapat tulisan ijazah
untuk riwayat-riwayat yang terdapat dalam kitab Ithaaf
Al-Akaabir.
8. Al-’Ujaalah An-Naafi’ah,
(den-gan bahasa Persia) karya Asy-Syaikh ‘Abdul ‘Aziiz bin
Waliyul-lah Ad-Dahlawiy (1159 - 1239 H), mengambil (periwayatan)
hadits dari ayahnya, Asy-Syaikh Waliyullah, imam negeri India.
9. Hashr Asy-Syaarid fiy Asaaniid Muhammad ‘Aabid, wafat
seki-tar 1257 H.
10. Al-Wijaazah fiy Al-Ijaazah, karya
Al-’Allaamah Abu Ath-Thayyib Muhammad Syamsul Haqq
Al-’Azhiim Aabaadiy, wafat tahun 1329 H.
Dicetak pada tahun 1408 H di kota Karachi dengan tahqiiq
Dr. Badruzzamaan Muhammad Syafii’ An-Naibaaliy.
11. Fahras Al-Fahaaris wal Atsbaat wal Mu’jam Al-Ma’aajim wal
Masyaikhaat wal Musalsalaat,
karya Asy-Syaikh ‘Abdul Hayy bin
‘Abdil Kabiir Al-Kattaaniy, wafat sekitar tahun 1347 H. Dicetak di
Daarul Gharb Al-Islaamiy. 12. Ithaaf Qaariy bi Tsabt
Al-Anshaariy, karya Al-’Allaamah Al-Muhaddits Hammaad bin
Muhammad Anshaariy Al-Madaniy, wafat tahun 1418 H.
Bagi kitab ini terdapat tulisan ijazah untuk meriwayatkan
apa-apa yang terdapat dalam kitab Ithaaf Al-Qaariy, dari
pe-nulisnya -semoga Allah Ta’ala merahmatinya-, sebagaimana
aku juga memiliki ijazah-ijazah dan atsbaat yang lainnya dari
para ahli hadits besar pada masa kini[2]. [Tommi Marsetio]. [2] Baginya ijazah hadits dari banyak ulama. Diantaranya : Syaikh Abdul Wahid bin
Abdullah ar-Rahmani (w. 1409 H), Syaikh Muhammad Dhahiruddin al-Rahmani
al-Mubarakfuri hafizahullahu, Syaikh
Ubaidullah bin Abdussalam ar-Rahmani (w. 1414 H), Syaikh Abdul Ghafar Hasan ar-Rahmani (w. 1428 H), Syaikh Hammad bin Muhammad al-Anshari al-Madani (w. 1418 H), Syaikh Muhammad Amin al-Mishri (w. 1416 H), Syaikh Muhammad
Mushthafa al-A’dhami hafizahullahu,
Syaikh Muhammad Muhammad Abu Syuhbah (w. 1403 H), Syaikh Muham-mad MuhamMuham-mad al-Audan (w. 1387 H), dan Syaikh Muhammad Muhammmad as-Samahi (w. 1414 H). Lihat Dr. Yusuf Mar’asyali dalam kitabnya Mu’jam al-Ma’ajim wa al-Masyikhat wa al-Faharis wa al-Baramij wa al-Atsbat hal 100.
Al-Atsbaat itu
meru-pakan jamak dari
tsabat, penulis
tsabat
menyebut-kan di dalamnya
sanad-sanad
kepa-da kitab-kitab yang
ia bacakan kepada
guru-gurunya yang
tersambung
sam-pai kepada penulis
kitab yang ia
baca-kan itu.
14
N
ama beliau sudahsangat akrab ditelinga
penuntut ilmu syar’i , baik yang pro atau
kontra kepadanya. Tidak salah lagi, karena beliau adalah muhadits zaman ini, penulis yang produktif
dan berkualitas, penyeru kepada sunnah dan musuh ahli bid’ah:
Mu-hammad Nashruddin bin Haji Nuh Najati al-Arnauth[1] al-Albani
–rahi-mahullahu-, yang wafat pada tahun
1420 H bertepatan dengan tahun 1999 M. Adapun orang yang tidak
suka kepadanya yang menuduh be-liau sebagai muhadits tanpa sanad dan guru!!. Maka orang ini tidak
lepas dari dua perkara, pertama ia seorang jahil atau kedua ia seorang
pendusta.
Para pembaca yang budiman
Dalam perjalanannya menuntut ilmu, al-Albani belajar beberapa
kitab fiqh, lughoh dan lainnya kepada Ayahnya, seorang ulama
bermazhab Hanafi dari Albania. Kepada Ayahnya ini pula, Syaikh
al-Albani mengkhatamkan al-Qur’an beserta tajwidnya. Tidak terlalu
banyak kisah tentang Syaikh Nuh Najati al-Hanafi ini, namun dalam
biografi Syaikh al-Muhadits Abdul Qadir al-Arnauth rahimahullahu
diterangkan bahwa Syaikh Abdul
[1] Al-Arnauth ini istilah orang-orang Syam
bagi orang yang berasal dari wilayah Albania dan sekitarnya.
Qadirpun pernah belajar kepada
Syaikh Nuh Najati, bapak dari Syai-kh al-Albani. Hal ini menunjukan
bahwa bapak beliau bukanlah ula-ma sembarangan, beliau teula-masuk
ulama rujukan di kalangan mazhab Hanafi baik di negerinya maupun
setelah hijrah ke Damaskus. Di Masjid Bani Umayyah, jika
Imam-nya berhalangan, Syaikh Nuh Naja-tilah yang menggantikan menjadi
imam. Fakta ini sebenarnya sudah
cukup menggugurkan tuduhan
se-bagian orang jahil yang menuduh Syaikh al-Albani sebagai muhadits
tanpa guru. Tuduhan yang musta-hil bagai igauan di siang bolong.
Bahkan al-Albani dididik sejak kecil dalam lingkungan keluarga ulama.
Sebagaimana firman Allah Ta’ala,
ْمُهُتَّيِّرُذ ْمُهْتَعَبَّتاَو اوُنَمآ َنيِذَّلاَو
Photo 1: Al-Albani di Perpustakaan Maktab al-Islami di Beirut
Imam al-Albani :
Muhadits Tanpa Sanad ?
15
اَمَو ْمُهَتَّيِّرُذ ْمِهِب اَنْقَحْلَأ ٍناَيمِإِب
ُّلُك ٍءْ َش ْنِم ْمِهِلَمَع ْنِم ْمُهاَنْتَلَأ
ٌينِهَر َب َسَك اَ ِب ٍئِرْما
“Dan orang-orang yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengi-kuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikit pun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”
(Qs. Ath-Thuur 21).
Ayah Syaikh al-Albani hijrah dari Albania untuk menyelamatkan
aga-ma diri dan keluarganya dari ceng-kraman penguasa jahat, maka Allah
melahirkan untuknya seorang anak yang menjadi ulama yang
benar-benar sebagaimana doa Ayahnya dalam namanya: “Nashruddin”
yakni penolong as-Sunnah (ad-Din).
Para pembaca yang budiman
Pada tahun-tahun berikutnya,
al-Albani muda sudah giat meng-hadiri durus-durus Syaikh
Muham-mad Sa’id al-Burhani (w. 1386 H/ 1967 M) seorang ulama Syam yang
bermazhab Hanafi yang sekali-gus menjadi imam mesjid Bani
Umayyah, Damaskus[2]. Syaikh
al-Al-bani sempat membaca kitab-kitab
fiqh Hanafi seperti Maraqil Falah Syarh Nurul ‘Iddhah, juga sebagian
kitab dalam ilmu sharaf, nahwu dan balaghah kepadanya. Seringkali
mereka berdua berdialog dalam berbagai macam pembahasan
ilmu. Meskipun demikian, al-Albani bukanlah orang yang begitu saja
menerima perkataan gurunya ini. Setidaknya ada satu kisah yang
menggambarkan kemerdekaan sikap Syaikh al-Albani itu dari
pen-yakit taqlid yang melanda umat Is-lam di masa itu.
Suatu ketika Syaikh al-Albani muda pernah membaca dalam
Tarikh Ibnu Asakir tentang kuburan Nabi Yahya ‘alaihissalaam yang
terletak di Masjid Bani Ummayah yang kesimpulan
pembahasan-nya sampai pada bahwa shalat di mesjid tersebut tidak
diperbole-hkan. Syaikh al-Albani kemudian
[2] Beliau adalah Muhammad Sa’id bin Abdur-rahman bin Muhamad Sa’id al-Burhani
ad-Dagistani al-Hanafi (1311 - 1386 H).
Leluhurnya adalah pendatang dari wilayah Dagestan. Ayahnya seorang ulama di Damaskus, adapun dia hanya melanjutkan kursi ayahnya. Syaikh Sa’id juga termasuk ulama riwayat, hanya saja al-Albani tidak meminta ijazah kepadanya karena memang tidak menginginkannya. Dalam riwayat, Syaikh al-Burhani ini meriwayatkan dari Bapaknya Abdurrahman al-Burhani, Syaikh Badruddin al-Hasani, Syaikh Muhammad Shalih al-Aamadi, Syaikh Mahmud al-Athar, dan Syaikh Muhammad al-Hasyimi. Hal itu dituturkan dalam ijazah salah satu guru kami dalam riwayat Syaikh Dr. Muhammad
Muti’ie Hafizh yang meriwayatkan secara
langsung dari Syaikh al-Burhani ini lewat
ijazah, dan bahkan secara sama’i untuk
beberapa matan ringkas seperti Arbain
an-Nawawiyah dan al-Ajluniyah.
Photo 3 : Syaikh Muhammad Sa’id al-Burhani
Photo 2 : Photo Syaikh Nuh Najati al-Albani, ayah Muhadits Nashr al-Albani Photo Syaikh Nuh Najati al-Albani, ayah Muhadits Nashr al-Albani
Ayah Syaikh
al-Albani hijrah dari
Albania untuk
menyelamatkan
agama diri dan
keluarganya dari
cengkraman
penguasa jahat,
maka Allah
melahirkan
untuknya seorang
anak yang menjadi
ulama yang
benar-benar sebagaimana
doa Ayahnya dalam
namanya...
16
secara rahasia memaparkan kes-impulan pendapatnya itu kepada
Syaikh Sa’id al-Burhani. Syaikh Sa’id lalu berkata kepadanya, “Tulislah
segala sesuatu yang telah engkau temukan dalam permasalahan ini”.
Syaikh al-Albani berkata, “Maka aku tulis pendapatku itu dalam tiga
atau empat halaman kemudian kuserahkan kepadanya. Beliau
berkata kepadaku, “Aku akan beri-kan jawaban padamu setelah Idul
Fitri”. Saat itu kami berada pada bulan Ramadhan. Ketika tiba
wak-tunya, kudatangi beliau, namun beliau berkata kepadaku, “Semua
yang engkau tulis ini tidak memi-liki dasar karena seluruh sumber
nukilanmu bukanlah sandaran bagi mazhab kami !!!”. Kata al-Albani:
“Aku tidak mengerti makna uca-pannya ini, karena aku menukilnya
dari kitab-kitab madzhab Hanafi seperti kitab Mabariqul Azhar Syarh
Masyariqil Anwar –sebuah kitab madzhab Hanafi- dan juga Mirqatul
Mafatih Syarh Misykatil Mashabih karya Mulla Ali Qari’ –seorang
Hanafi sebagaimana telah ma’ruf- serta nash-nash lainnya. Namun
semuanya tidak digubris, sama persis seperti sikap ayahku”.
Kejumudan yang melanda ma-nusia dizaman itu yang menjadi
salah satu pendorong baginya un-tuk mempelajari sunnah lebih
dalam lagi. Maka beliaupun meng-hadiri berbagai kajian ahlus
sun-nah yang diadakan oleh para ulama sunnah dizamannya yang
berpe-mikiran merdeka seperti Syaikh al-Muhadits Ahmad bin Muhammad
Syakir –ahli hadits Mesir pada za-mannya- (w. 1377 H) dan Syaikh
al-Allamah Muhammad Bahjat
al-Bai-thar (w. 1396 H)[3] –keduanya adalah
ulama yang termasuk murid dari
Syaikh Allamah Jamaluddin al-Qasimi-. Beliau pun rajin membaca
Majalah al-Manar yang diprakarsai oleh Syaikh Muhammad Rasyid
Ridho, yang getol menyeru umat keluar dari penyakit taqlid. Majalah
ini telah berhasil menginspirasi banyak ulama seperti Syaikh
Abdur-razaq Hamzah, Syaikh Abdurrah-man as-Sa’di dan lainnya, termasuk
pula al-Imam al-Albani.
Adakah al-Albani Memiliki Sanad?
Tidak sebagaimana dikatakan
orang-orang bahwa beliau adalah muhadits tanpa sanad, karena
se-benarnya Syaikh al-Albani rahima-hullahu mendapatkan ijazah hadits
ammah[4] dari Syaikh Muhammad
Raghib bin Mahmud bin Hasyim
Thabakh al-Halabi rahimahullahu (1293 – 1370 H), seorang ahli
seja-rah dan musnid Halab di zamann-ya[5]. Syaikh ath-Thabakh ini pernah
menjadi dosen hadits, ushul hadits dan sejarah di Fakultas Syari’ah
al-Ashriyah di Kota Halab. Ia juga merupakan penulis beberapa buku
bagus, diantara yang menarik yang pernah ditulisnya adalah kitab yang
berjudul, “Dzu al-Qarnain wa Sadd
[3] Menurut beberapa sumber, dari Syaikh Muhammad Bahjat ini, Syaikh Al-Albani
secara khusus meriwayatkan Musnad
Ahmad bin Hambal. Kalau ini benar, maka riwayat Syaikh al-Albani tersambung ke-pada Syaikh Jamaluddin al-Qasimi, karena Syaikh al-Baithar meriwayatkan dari Syaikh Jamaluddin al-Qasimi.
[4] Syaikh al-Faqih Muhammad Shalih bin Ut-saimin rahimahullahu mengatakan dalam kitabnya yang ringkas tapi bagus, Ilmu mustholahil hadits, bahwa diantara ijazah yang sah adalah ijazah ammah (umum) seperti perkataan mujiz, “Saya memberi ijazah kepadamu untuk semua riwayat dariku”. Sehingga setiap riwayat yang sah dari mujiz tersebut boleh diriwayatkan ber-dasarkan pemberian riwayat yang bersifat umum ini.
[5] Lihat Al-‘Alam – Az-Zarkili (6/123-124),
Natsr al-Jawahir (3/1165- 1167) dan lainnya.
ash-Shin: Man Huwa wa Aina Huwa”. Dalam buku ini Syaikh ath-Thabakh
berpendapat bahwa orang Arab lebih dahulu menemukan benua
Amerika sebelum orang-orang barat.[6]
Syaikh at-Thabakh mengijazah-kan kepada Syaikh al-Albani tsabat
beliau yang terkenal, “al-Anwar al-Jaliyah fi Mukhtashar al-Tsabat
al-Halabiyah”, tanpa diminta, mel-ainkan beliau sendiri yang
berinisi-atif memberikannya kepada Syaikh al-Albani rahimahullahu[7].
Seorang mujiz kami, Syaikh Ah-mad alu Ibrahim al-‘Anqori
hafi-zahullahu, menuturkan bahwa Syaikh Zuhair asy-Syawisy
rahima-hullahu mengatakan kepadanya, bahwa beliau menyaksikan
lang-sung pengijazahan itu bersama Ustadz Muhammad ath-Thayib,
peristiwa itu terjadi ditahun 1365 H. Sebagaimana diisyaratkan pula
oleh Syaikh al-Albani sendiri dalam
[6] Hal. 40.
[7] Ulama wa Mufakkirun ‘araftuhum karya Ustadz Muhammad al-Majdzub (I/288).
17
kitabnya Shahih Sunan Abu Dawud (5/253-254), setelah menyebutkan
hadits Musalsal al-Mahabah yang terkenal itu,
خيشلا هتياورب نيزاجأ دقو
هللا همحر خابطلا بغار لضافلا
”Dan sungguh telah memberikan
ijazah kepadaku untuk riwayat ha-dits musalsal ini Syaikh al-Fadhil
Raghib at-Thabakh rahimahul-lahu...”.
Dalam Tsabat tersebut
disebut-kan 15 Masyaikh yang Syaikh ath-Thabakh meriwayatkan darinya[8],
satu diantara mereka adalah Syaikh al-Muhadits as-Salafi Abu
Bakr bin Muhammad Arif Khuwaqir al-Hanbali (w. 1349 H), yang telah
meriwayatkan dari setidaknya tiga Muhadits dan Musnid Salafi di
masanya, yaitu al-Allamah Ahmad bin Ibrahim bin Isa an-Najdi (w.
1329 H), Sayyid Husein bin Muhsin al-Anshori (w. 1327 H), dan Syaikh
Nadzir Husein Muhadits ad-Dihlawi (w. 1320 H), sebagaimana tertera
dalam Tsabat beliau ”Tsabat al-Ats-bat asy-Syahirah” .
Sanad melalui jalur inilah yang akan kami uraikan berikut ini.
Silsilah Sanad al-Albani
Berikut diantara contoh sanad
“keguruan” Syaikh al-Albani ra-himahullahu yang paling bagus
dan tersambung sampai kepada Imam-Imam Dakwah seperti:
Syai-khul Islam Muhammad bin Abdul Wahab, Syaikhul Islam Ibn Taimiyah
dan yang lainnya
–rahimahumul-[8] Guru beliau lainnya dapat dilihat pula dalam Imdad al-Fatah hal 308-312.
lahu sampai kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam:
Syaikh al-Albani meriwayatkan dari Syaikh Muhammad Raghib
Ath-Thabakh dengan ijazah ammah untuk semua riwayat, yang
meri-wayatkan dari al-Muhadits as-Salafi Syaikh Abu Bakr bin Muhammad
Arif Khuwaqir Al-Hanbali (w. 1349 H), dari Muhadits as-Salafi Syaikh
Ah-mad bin Ibrahim bin Isa An-Najdi (w. 1329 H), dari al-Allamah al-Mujadid
ats-Tsani Abdurrahman bin Hasan bin Muhammad bin Abdul Wahab (w.
1285 H) – penulis kitab Fathul Ma-jid-, dari kakeknya, Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahab[9],
dari Abdullah bin Ibrahim al-Madini,
dari Mufti Hanabilah Abdulqadir Ath-Taghlabi[10].
Al-Muhadits As-Salafi Syaikh Abu Bakr bin Muhammad Arif Khuwaqir
Al-Hanbali juga meriwayatkan dari Al-Allamah Husein bin Muhsin
al-Anshori (w. 1327 H), dari Al-Allamah Muhammad Nashr al-Hajimi dan
Al-Allamah Ahmad bin Muhammad asy-Syaukani, keduanya dari Bapak
yang kedua yaitu Al-Imam al-Qadhi Muhammad bin Ali Asy-Syaukani[11]
-penulis kitab Nailul Authar-, dari al-Allamah Abdul Qadir Ahmad
Al-Kau-kabani dari Al-Allamah Muhammad
[9] Perlu diketahui bahwa periwayatan Syaikh Abdurrahman bin Hasan kepada
kakeknya, masih menjadi perbincangan
diantara ahli riwayat. Apakah Syaikh
Abdurrahman meriwayatkan secara
qiroat saja kitab-kitab kakeknya tanpa disertai ijazah riwayah ammah, atau juga
melalui ijazah ammah?!. Namun sebagian Masyaikh secara jelas menyebutkan
periwayatan Syaikh Abdurahman dari Kakeknya melalui ijazah ammah, dalam teks ijazah-ijazah mereka. Diantaranya : Syaikh Sa’ad bin Atiq, Syaikh Muhadits Muhammad Badi’uddin ar-Rasyidi, Syaikh Hamud at-Tuwaijiri, Syaikh Sulaiman bin Hamdan, Syaikh Abu Bakar Arif Khuwaqir dan juga dalam ijazah dari Guru Kami
Syaikh Prof. Dr. Ashim al-Quryuthi hafiza -hullahu, walahu’allam.
[10] Tsabat beliau dikenal dengan nama, “Tsa -bat Mufti al-Hanabilah bi Damasyiq”.
[11] Tsabat beliau dikenal dengan nama, “Ithaful Akabir bi Isnad ad-Dafatir”.
Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani –penu-lis Sabulus Salam-.
Al-Muhadits As-Salafi Syaikh Abu Bakr bin Muhammad Arif Khuwaqir
Al-Hanbali juga meriwayatkan dari Syaikh Nadir Husein Muhadits
ad-Dihlawi, dari Syaikh Muhammad Ishaq Muhadits ad-Dihlawi, dari
kakeknya pada pihak ibu Syaikh Abdul Aziz Muhadits ad-Dihlawi,
dari Bapaknya Syaikh al-Mujadid Waliyullah Ahmad bin Abdurrahim Muhadits ad-Dihlawi (w. 1176 H) – penulis Hujjatullah al-Balighah[12].
Allamah Muhammad Ismail Al-Amir Ash-Shan’ani dan Syaikh
Wali-yullah Muhadits ad-Dihlawi, kedu-anya meriwayatkan dari Abu Thahir
al-Kuruni yang meriwayatkan, dari Bapaknya, Ibrahim A-Kuruni.[13]
Syaikh Abdulqadir Ath-Taghlabi Al-Hanbali dan Syaikh Ibrahim
al-Kuruni meriwayatkan dari Abdul Baqi bin Abdul Baqi Al-Hanbali, yang
meriwayatkan dari Ahmad bin Mu-flih Al-Wafai, dari Musa bin Ahmad
Al-Hajawi –penulis al-Iqna’-, dari Ahmad bin Muhammad al-Maqdisi,
dari Ahmad bin Abdullah Al-Askari, dari Ala’uddin al-Mardawi –penulis
al-Inshaf-, dari Ibrahim bin Qundus al-Ba’ali, dari Ibn al-Lahm, dari Ibn Rajab al-Hanbali, dari Ibn Qayyim al-Jauziyah dari Syaikhul Islam Ibn Taimiyah dari Syaikhul Islam Abdurrahman Ibn Qudamah dari
pamannya al-Imam Abdullah bin Ahmad bin Qudamah -penulis
al-Mughni- dari al-Imam Abi al-Fatah bin al-Minni dari al-Imam Abu Bakr
Ahmad ad-Dainuri dari al-Imam Abi al-Khathab Mahfudz bin Ahmad
al-Kalwadzani dari al-Qadhi Abi Ya’la Ibn al-Fara’ dari al-Imam Abi
[12] Tsabat beliau dikenal dengan nama, “al-Irsyad ila Muhimmat Ilm al-Isnad”.
[13] Tsabat beliau dikenal dengan nama, “al-Umam li Iqaz Al-Himam”.
18
Abdullah al-Husein bin Haamad dari al-Imam Abu Bakar Abdul Aziz
al-Khallal dari al-Imam Abdullah bin Ahmad bin Hanbal dari
Bapa-knya Imam Ahmad bin Hanbal dari
al-Imam Muhammad bin Idris asy-Syafi’i dari al-Imam Malik bin Anas dari Nafi’ dari Ibnu Umar dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasal-lam.[14]
Murid Beliau dalam Riwayah
Sangat ramai murid al-Albani
dari berbagai negeri, namun san-gat sedikit yang meriwayatkan dari
beliau. Hal itu disebabkan Syaikh Al-Albani tidak terlalu membuka pintu
dalam persoalan ini. Beliau rahima-hullahu berkata,
اذه سيفن لىع حتفأ لا انأ
بابلا
“Saya tidak membuka pintu dalam
bab ini bagi diriku”.[15]
Dan Syaikh Al-Albani rahimahul-lahu berkata tentang ijazahnya ini:
درن انمإو ،ًائيش لي ينعت لا يه
نيدقاحلا لىع طقف اهب
“Ijazah tersebut tidak menarik
perhatianku sedikit pun. Ijazah tersebut hanya aku gunakan
un-tuk membantah orang-orang yang dengki”.[16]
Diantara yang sedikit itu -yakni yang meriwayatkan dari Syaikh
Al-Albani- adalah guru dan mujiz
[14] Lihat Tsabat al-Atsbat asy-Syahirah hal 64-71.
[15] Lihat Mazhahirul Syarfi wal ‘Ijah al-Muta
-jaliyah fi Fahrisah Syaikh Muhammad Bu
Khubzah Hal 230
[16] Lihat Tadzkirul Nabihin karya Syaikh Rabi
al-Madhkali hal 13.
kami dari Maroko yaitu Al-Allamah al-Muhadits Muhammad Amin Bu
Khubzah al-Hasani ath-Tathawani hafizahullahu (lahir 1351 H).[17]
Dikisahkan kepada kami bahwa sedikitnya ada tiga cara bagi Syaikh
Muhammad Bu Khubzah dalam meriwayatkan dari Imam Al-Albani
rahimahullahu, sebagaimana di-katakan oleh guru kami, al-Musnid
Muhammad Ziyad Umar Tuklah[18]
hafizahullahu:
[17] Beliau meriwayatkan pula dari : Syaikh Ahmad bin Shadiq al-Ghumari, Syaikh
Abdul Hay al-Kattani, Syaikh Abdul Hafizh
al-Fihri al-Fasi, Syaikh Thahir bin Asyhur al-Tunisi dan lainnya sebagaimana dalam ijazahnya kepadaku.
[18] Syaikh at-Tuklah meriwayatkan dari banyak sekali syaikh (300-an lebih), sebagiannya disebutkan dalam ijazahnya
kepadaku. Dan beliau membaca kepada
guru-gurunya itu banyak sekali kitab. Penulis saksikan kalau beliau termasuk ahlinya dibidang ilmu riwayah ini.
Pertama, Beliau meriwayat-kan dari Syaikh Al-Albani secara
munawalah untuk sebagian kitab-kitab beliau rahimahullahu di
Madi-nah dan Amman, diantaranya:
1. Shifat Shalat Nabi
shallallahu’alaihi wasallam 2. Shalat Tarawih Nabi
Shallallahu’alaihi wasallam 3. Shalat Ied fil Mushaliy
4. Tasdid al-Ishabah
5. Fahrisat Kitab al-Hadits bil
Dhahiriyah
6. Silsilah Ahadits Adh-Dhaifah
Jilid 4[19]
Kedua, beliau meriwayatkan dari Syaikh Al-Albani melalui qiroat kepadanya sebagian manuskrip
[19] Lihat Mazhahirul Syarfi wal ‘Ijah al-Muta
-jaliyah fi Fahrisah Syaikh Muhammad Bu
Khubzah Hal 230
19
dari kitab Sunan Nasai al-Kubro dalam suatu pertemuan diantara
mereka di Tathawan, Maghrib. Ketiga, izin secara lisan dari
Syaikh Al-Albani untuk meriwayat-kan secara ammah, berkata
Syaik-huna Muhammad Ziyad Tuklah,
ةياورلا في انخيش هنذأتسا
:دحاولا فرحلاب هل لاقف ،ةماعلا
لي لاقو .تئش نإ ينع ِورا
هبحأو كلذ ءاشأ انأو :انخيش
“Syaikhuna (Muhammad Bu Khubzah) meminta izin kepada
Imam al-Albani dalam riwayat am-mah, maka Imam al-Albani berkata
kepadanya dengan perkataan sing-kat, “Riwayatkanlah dariku jika
kamu mau”, dan Syaikhuna (Mu-hammad Bu Khubzah) telah
berka-ta kepadaku, “Dan saya sangat in-gin dan menyenanin-ginya”.
Perkataan singkat dari Imam al-Albani ini bermakna izin atau ijazah
secara ammah (umum) insyaallah Ta’ala.
Maka, dengan ketiga cara inilah
(munawalah, qiroat, dan izin) guru kami Syaikh Muhammad Bu
Khubzah meriwayatkan dari Syaikh Al-Albani rahimahullahu.
Diantara yang sedikit lainnya –yang meriwayatkan dari Imam
al-Albani rahimahullahu- adalah Syaikhuna al-Musnid Musa’ad bin
Basyir as-Sudani hafizahullahu (la-hir tahun 1363 H/1944 M) yang
dike-nal dengan Haji As-Sadirah.[20] [20] Selain dari al-Albani, Syaikh Musa’ad
meriwayatkan pula dari Syaikh Umar al-Faqi, Syaikh Abdul Hayy al-Kattani, Syaikh
Muhammad Hafizh Tijani, Syaikh Abu Hasan Ali Nadwi, Syaikh Abdullah an-Najdi, Syaikh Yasin al-Fadani, dan lainnya.
Berkata Syaikhuna at-Tuklah dalam Tsabat al-Kuwait-nya pada
pembahasan biografi Syaikh Musa’ad halaman 159,
“Mengabar-kan kepadaku guru kami Musa’ad al-Basyir berkali-kali,
sesungguhn-ya Ssesungguhn-yaikh Nashr al-Albani memberi ijazah kepadanya di tahun 1397 H,
di rumah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab al-Bana di Jeddah. Dan
Syaikh Musa’ad berkata kepadaku, “Syaikh Al-Albani memberi ijazah
kepadaku untuk kitabnya, dan ia juga berkata kepadaku dengan
singkat,
Photo 6 :Syaikh Muhammad Bu Khubzah
Photo 7 :Syaikh Musa’ad bin Basyir as-Sudani
Sangat ramai murid al-Albani dari
berbagai negeri, namun sangat sedikit
yang meriwayatkan dari beliau. Hal itu
disebabkan Syaikh Al-Albani tidak terlalu
membuka pintu dalam persoalan ini.
20
بغار يخيش نع كتزجأ
خابطلا
“Aku ijazahkan kepadamu dari gu-ruku Raghib ath-Thabakh”,
Dan beliau (Syaikh al-Albani)pun tidak berkata lebih dari itu.
Berkata Syaikhuna Abu al-Hajaj Yusuf bin Ahmad Alu Alawi[21], “Dan
ucapan Syaikh Nashr, “Aku ijazah-kan kepadamu dari guru saya
Raghib ath-Thabakh”, maksudnya tidak lain adalah ijazah riwayat,
yaitu ijazah ammah”.
Syaikhuna Abu Hajaj al-Alawi
mengatakan bahwa terdapat orang yang lainnya yang meriwayatkan
dari al-Albani, diantaranya; Syaikh Ahmad ar-Rifa’i. Beliau berkata,
“Dan yang lain, telah tsabit bahwa sesungguhnya Syaikh telah
me-munawalahkan sebagian kitabnya, seperti kepada guruku Ahmad
ar-Rifa’i yang mana syaikh telah me-munawalahkan sebagian kitabnya.
Berkata Syaikh ar-Rifa’i kepada Syaikh Nashr, “Munawalah menurut
cara para ahli hadits” maka tertawa Syaikh Al-Albani.[22]
Tidak diketahui secara pasti periwayatan melalui ijazah
am-mah bagi Syaikh al-Albani kecuali dari arah Syaikh Raghb Thabakh ini
saja. Namun ini bukan aib, bahkan justru pada kisah ijazah riwayat
Syaikh al-Albani rahimahullahu terdapat pelajaran berharga bagi
ahli riwayah zaman ini. Syaikh al-Albani hanya memiliki satu ijazah
saja, tapi menghasilkan ratusan
[21] Syaikh Abu al-Hajaj termasuk yang banyak gurunya dalam riwayat, sekitar 150 syaikh, sebagaimana disebutkan dalam Tsabat Ijazahnya kepadaku dan kepada ikhwan yang ikut dalam istida ijazah di grup “Belajar Hadits” yang dikelola oleh saya sendiri.
[22] Lihat http://www.ahlalhdeeth.com/vb/ showpost.php?p=1929424&postcount=24
jilid tulisan yang berkualitas.
Ber-beda dengan zaman sekarang, se-seorang kadang memiliki ratusan
bahkan ribuan guru riwayah namun tidak menghasilkan satu juz pun
karya yang berkualitas.
Disini letak kebenaran dari apa
yang dikatakan oleh salah satu murid Hafizh Ibn Qayyim
Jauziyyah rahimahullahu yaitu al-Hafizh Ibnu Rajab rahimahullahu
dalam Bayan Fadhl ilmu Salaf ala ilm Khalaf hal 58,
لاو , ةياورلا ةثركب ملعلا سيلف
فذقي رون هنكلو , لاقلما ةثركب
, قحلا دبعلا هب مهفي , بلقلا في
لطابلا ينبو هنيب هب زييمو ..
“Ilmu itu tidak diukur dengan
ban-yaknya riwayat dan perkataan, akan tetapi ilmu itu adalah cahaya
yang dimasukan kedalam hati yang dengannya seseorang mengenal
kebenaran, membedakan antara yang haq dengan yang batil..”.
Selesai. [as-Surianji]
22
Nama dan Nasab
A
l-‘Allamah Asy-Syarief Muhammad Az-Zamza-my bin Muhammad binShiddiq Al-Ghumary nama lengkapnya. Beliau
dilahir-kan disebuah keluarga penganut faham asy’ariyyah hingga beranjak
besar, serta berdiam di sebuah ru-mah penganut tarekat Sufi, yaitu
tarekat Ash-Shiddiqiyah, yang kental akan faham jahmiyyah dan
nampak sekali sikap ta’ashshub (fanatik buta) pada mereka.
Syaikh Zamzami dilahirkan di Bur Sa’id, nama suatu tempat di
Mesir, ketika kedua orang tuanya
dalam perjalanan berhaji pada ta-hun 1330 H.
Perjalanan Menuntut Ilmu
Syaikh menghafal Al-Qur’an
den-gan bimbinden-gan Gurunya, Syaikh Al-Faqih Muhammad Al-Andalusi. Dan
pada tahun 1349 Beliau mulai me-nelaah dengan bimbingan saudara
tertuanya yang bernama Syaikh Ah-mad. Selanjutnya beliau bersama
saudaranya, Abdullah, berangkat ke Kairo. Bersama saudaranya ini
beliau mempelajari Ajrumiyah, se-bagian Alfiyah Ibnu Malik, Waraqaat
Imam Haramain, juga awal-awal
kitab Jam’ul Jawaami’.
Tatkala beliau sampai di Kairo,
beliau pun belajar di Al-Azhar, bela-jar kepada banyak Syaikh, diantara-nya Syaikh Abdus Salam Ghunaim,
Syaikh Abu Thalib Hasanain, Syaikh Mahmud Al-Imam, Syaikh Abdul
Majid Asy-Syarqawi, Syaikh Muham-mad Bakhit Al-Muthi’i, dan para
masyayikh lainnya. Dalam masalah fikih, Syaikh Zamzami mempelajari
fikih mazhab Imam Ahmad. Setelah beberapa lama, beliau
pun kembali ke negeri asalnya, Thanjah, yaitu ketika ayahnya
wa-fat di tahun 1354 H. Selepas itu
beli-Syaikh al-Allamah
Muhammad
al-Zamzami bin
Muhammad Shiddiq
al-Ghumary
[1]
:
Jalan Kepada
Sunnah
[1] Diterjemahkan dari tulisan Abu Umar Ad-Dausary yang tercatat di : http://www.alsoufia.com/
main/908-1.html
Beliau adalah seorang yang sangat Alim (‘Allamah) dari Maghrib
(Afrika) bernama Muhammad Az-Zamzami Al-Ghumari yang awal
mulanya adalah seorang Sufi lalu berbalik arah menuju Sunnah.
23
au memberikan pelajaran (duruus)
di Mesjid Jami’ Al-Kabir selain di zawiyah (tempat peribadatan kaum
sufi) ayahnya. Beliau memberi-kan pelajaran dalam bidang tafsir
dan hadits, hingga berkumpul lah para penuntut ilmu untuk
mengi-kuti pelajaran yang beliau berikan itu. Beliau mengajarkan pula ilmu
ushul, manthiq, ilmu Arabiah juga balaghah.
Syaikh Zamzami -sebagaimana telah disebutkan- tumbuh dalam
keluarga dan kerabat yang berfa-ham tasawuf, dan beliau termasuk
orang yang gigih mempertahankan ajaran tasawuf ini. Sampai-sampai
beliau menyusun sebuah kitab yang beliau namai “Al Intishar lit Thariqi Ash Shufiyyah Al Akhyar”
(pembelaan terhadap jalannya kaum shufi yang terpilih). Di kitab
ini beliau menyebutkan dalil-dalil yang di khususkan untuk kaum Sufi.
Penentangan Terhadap Tasawuf
Tatkala beliau sampai usia yang
kokoh- yaitu usia 40 tahun- telah matang lah pikirannya, dan ia
kem-bali kepada petunjuk yang lurus. Beliau pun menampakkan
permu-suhan terhadap jalan-jalan bid’ah tasawuf itu, dengan penentangan
keras yang tak ada tawar menawar lagi. Beliau menganggap sesat
ser-ta membid’ahkan mereka, meng-kafirkan beberapa orang diantara
mereka (yang melakukan kekafi-ran, ed.), bahkan berlepas diri dari
kedua orang tuanya. Dalam hal ini beliau menulis kitab ”Az Zawiyah
Wa Ma Fiha Minal Bida’ Wal A’mal Al Munkarah” (Zawiyah dan semua
kebid’ahan dan kemunkaran yang ada di dalamnya). Beliau berucap
dengan penuh pesona,
”Ketahuilah wahai kaum
muk-minin juga para Ulama yang shali-hin bahwa sesungguhnya aku
ber-lepas dari para panganut tasawuf yang jahil, bertaqarrub kepada
Allah dengan membenci mereka serta aku menyeru untuk
menen-tang mereka”
Di antara cara penentangan beliau terhadap kaum sufi adalah
dengan memfokuskan diri dalam
(membantah) orang-orang yang
mengklaim mengetahui rahasia-rahasia kegaiban, membeberkan
keburukan-keburukan praktek ibadah mereka, serta tipu daya
mereka terhadap manusia. Pada-hal mereka adalah
saudara-sau-daranya sendiri dan juga murid-murid Ayah beliau, hingga mereka
pun memusuhi dan dan menjauhi beliau. Terjadilah perdebatan yang
sangat keras antara beliau dengan saudara-saudaranya, suatu
per-debatan yang membawa kepada
terbukanya hakikat dan aib mereka para kaum sufi, hingga manusia
pun menjauhi mereka. Beliau men-jelaskan bahwa kebenaran itu berdasarkan dalil, bukan karena sekedar keturunan Shiddiq Al Ghumari dan juga bukan diukur oleh keyakinan tarekat mereka!
Di antara saudara beliau ada yang mengadukan beliau ke
mahkamah thagut dengan tuduhan beliau telah merusak kehormatan
dan membuka keaiban -kita memo-hon kepada Allah keselamatan dan
terjaganya kehormatan-. Beliau menyusun sebuah kitab yang
me-mukul telak argumen para pengge-mar tasawuf secara umum dan
untuk para penganutnya secara khusus, yaitu kitab yang beliau
su-sun dan beri nama ”At Thawaif Al Maujudah fi Hadzal Waqt” (ragam
kelompok yang ada saat ini). Di dalam kitab ini beliau berlepas
diri dari saudara-saudaranya yang merupakan para sufi tarekat
Dar-qawiyah yang bid’ah!
Ada juga kitab beliau dalam
masalah menjauhi kebid’ahan dan orang-orangnya, yaitu sebuah kitab
yang besar derajatnya lagi agung perkaranya, yaitu kitab yang beliau
beri nama ”I’lamul Muslimin bi Wu-jubi Muqatha’atil Mubtadi’ina wal
Fujjjari waz Zhalimin” (pemberita-huan kepada kaum muslimin
ten-tang wajibnya memutus hubungan dengan kaum yang mubtadi, orang
fajir dan zalim). Kitab ini adalah bantahan terhadap saudaranya
Syaikh Abdullah karena dakwahnya yang menyeru kepada
pengagun-gan kuburan, pembangunan mas-jid di atas kubur, berkhidmat di
24
yang banyak sekali yang termasuk kebid’ahan yang menyesatkan.
Syaikh Az-Zamzami menulis pula
berapa risalah yang menggoncang para pegiat Zawiyah yang sesat itu,
yaitu kitab beliau ”Kasyful Hijab ‘anil Mathuril Kadzab” (membuka
tirai dari para pendusta yang mem-babi buta). Hingga saudara beliau
Syaikh Abdullah yang berfaham quburi (penyembah kuburan)
beru-cap ”sesungguhnya akulah yang dia maksud”. Di dalam kitab ini Syaikh
Zamzami menyebutkan bahwa yang terjadi antara beliau dengan
saudara-saudaranya adalah ibarat yang ada antara tauhid dan
kesy-irikan. Yaitu yang satu mengangkat panji Islam dengan kemurnian dan
kesuciannya ikhlas hanya karena Allah, adapun yang satunya lagi
mengangkat panji para penyembah kuburan, menganggap bagusnya
bid’ah serta menjauh dari sunnah. Inilah sebenarnya penyebab
adan-ya perbedaan di antara mereka.
Kaum Sufiyah sedang berdzikir dengan menari di Zawiyah
ash-Shadiqiyyah dipimpin oleh Abdullah al-Ghumari
Adalah Syaikh Zamzami ini
se-orang yang mengikut atsar serta mengamalkan dengan dalil,
bersi-fat tegas terhadap mereka-mereka yang ta’ashshub (fanatik buta)
dalam bermazhab, beliau sangat kokoh dalam menyuarakan
kebe-naran, jauh dari kezaliman dan juga jauh dari pengaruh penguasa.
Beliau tegas terhadap penguasa dan juga terhadap para penjajah.
Dan beliau seorang yang zahid dalam masalah dunia.
Syaikh Zamzami mempuanyai
banyak karya tulis di antaranya: • Dalailul Islam,
• At Tafarrunj • Mahajjatul Baidha’
• I’lamul Fudhala bi Annal Fuqaha Laisu Minal ‘Ulama
• Tahdzirul Muslimin minal Madzhab Al ‘Ashriyyin
• Hujjatul Baidha’
• Kasyful Hijab ‘anil Mathuril
Kadzab
• I’lamul Muslimin bi Wujubi
Muqatha’atil Mubtadi’ina wal Fu-jjjari waz Zhalimin.
Wafat Beliau
Dan sampai akhirnya Syaikh
Zamzami sakit beberapa lamanya hingga Allah mewafatkan beliau
di hari Jum’at, 28 Dzulhijjah tahun 1408 H. Semoga Allah mengampuni
dan merahmatinya, serta men-gangkat kedudukan beliau di
Surga-Nya. [Habibi Ihsan] Kaum Sufiyah sedang berdzikir dengan menari di Zawiyah ash-Shadiqiyyah dipimpin
oleh Abdullah al-Ghumari