‘Abdullah bin Shadaqah bin Zaini bin Ahmad bin ‘Utsman Dahlan –‘alaihirrahmah- adalah sosok ulama yang boleh jadi tidak as- ing di tengah kalangan pemer- hati sejarah negeri ini, Indonesia. Utamanya sejarah pergerakan Islam. Beliau merupakan satu dari sekian banyak ulama Makkah yang mencurahkan tenaga dan pikiran- nya untuk Indonesia. Jasa-jasanya yang besar seperti merintis sejum- lah besar madrasah di berbagai negeri dan lainnya, membuatnya dikenal dan disegani oleh banyak kalangan.
Adalah Syaikh Ahmad As-Surkati As-Sudani Al-Anshari –rahimahul- lah- merupakan salah satu ulama kenamaan yang hidup sezaman dan sedaratan dengan Syaikh ‘Ab- dullah Dahlan. Ulama asal negeri Sudan yang juga berkarir di Mak- kah sebagai pelajar dan guru ini sempat berpolemik dengan sosok ulama yang tengah kita telusuri sejarah hidupnya.
Polemik yang tengah diperbin- cangkan saat itu lebih berkaitan erat dengan kesukuan. Yaitu bolehkah orang non ‘Arab atau orang yang bernasab rendah menikah dengan orang yang bernasab mulia? Dalam hal ini ada dua kubu besar. Kubu pertama terdiri dari orang-orang keturunan ‘Arab yang –konon- memiliki nasab sampai pada baginda Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- yang salah satunya adalah
Syaikh ‘Abdullah Dahlan ini atau orang-orang ‘Arab yang berna- sab mulia. Sementara kubu yang kedua adalah orang-orang selain mereka atau ada segelintir orang yang bernasab sampai Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam-. Kubu yang kedua ini didukung oleh Syaikh Ahmad As-Surkati.
Kubu pertama dengan keras dan lantang bersuara tidak boleh secara mutlak. Hal ini bisa dimak- lumi karena mengingat madzhab yang mereka anut, yaitu Madzhab Syafi’i, tidak menganjurkan meni- kah dengan berlainan kufu’. Se- mentara kubu kedua berpendapat sah-sah saja. Hal ini dikarenakan kufu’ bukan termasuk syarat sah menikah sehingga hatus dipenuhi. Selain itu kufu’ juga bukan tujuan utama dalam menyatukan dua insan sejoli. Bahkan Nabi Muham- mad –shallallahu ‘alaihi wa sallam- sendiri mengatakan, “Sekiranya datang kepadamu seorang laki-laki yang agamnya telah kalian ridhai, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, bakal terjadi mala petaka di muka bumi dan kerusakan yang besar.” Beliau –shallallahu ‘alaihi wa sal- lam- dalam kesempatan lain juga pernah menuturkan, “Wanita itu biasanya dinikahi karena empat alasan : karena kecantikannya, ka- rena nasabnya, karena kekayaan- nya, dan karena agamanya. Oleh karena itu, utamakanlah olehmu wanita yang memiliki agama (yang baik), tentu kamu pasti berun-
tung.” Menimbang dua hadits ini dan beberapa argumen lainnya, kubu kedua mengatakan dengan tegas, bahwa kufu’ bukanlah syarat sah nikah kecuali kufu’ dalam hal agama.
Sebagaimana telah dimaklumi bersama, bahwa di zaman itu tengah marak permasalahan fanatisme kesukuan. Banyak dari kalangan orang ‘Arab merasa lebih mulia daripada bangsa pribumi. Padahal mereka lahir dan hidup di Indonesia. Bahkan sebagiannya be- lum menengok negeri ‘Arab. Dalam masalah ini tentu masih ingat di benak kita sosok Al-Ustadz ‘Abdur- rahman Baswedan[1] atau yang
lebih akrab disapa AR Baswedan, seorang pejuang kemerdekaan Indonesia yang juga keturunan ‘Arab Hadhrami sebagaimana jelas dari nama belakangnya. Pak AR Baswedan ini lantang mewakili kubunya mengatakan, “Kami adalah orang Indonesia. Kami lahir dan besar di Indonesia. Dan kami tidak mengetahui bangsa kami kecuali Indoensia.” Meski menda- patkan dukungan dari beberapa pihak, namun ucapannya ini dinilai kontrofersi oleh orang-orang ketu- runan ‘Arab yang fanatismenya masih mengakar kokoh.
Peristiwa ini sejatinya menarik untuk dibicarakan lebih detail, namun rasanya tempatnya bukan
[1] Biografinya bisa dinikmati dalam ‘Ulama
Mufakkirun ‘Araftuhum (III/187-200), karya Muhammad Al-Majdzub, Daar Asy- Syawwaf.
43
di sini. Dalam kesempatan beri- kutnya akan kita singkap tabir se- jarah dan kita selami perjuangan dakwah Islam di negeri Indonesia ini yang sayangnya masih sedikit diperbincangkan apalagi diteliti dengan seksama.
Baiklah, kita kembali menelu- suri sejarah hidup Syaikh ‘Abdullah bin Shadaqah Dahlan –rahimahul- lah-.
Ulama kenamaan yang lahir di Makkah pada tahun 1291 H dan wafat di Garut Jawa Barat pada ta- hun 1360 H ini telah meninggalkan warisan intelektual yang teramat berharga, yaitu berupa karya ilmiah dalam pelbagai disiplin ilmu. Para sejarawan menyebut- kan bahwa karya-karya itu sebagai berikut :
• Irsyad Dzawi Al-Ihtisyam ila Wa- jib Al-Qudhah wa Al-Hukkam • Zubdah As-Sirah An-Nabawiyyah
dalam 3 juz
• Tuhfah Ath-Thullab fi Qawa’id Al-I’rab
• Khulashah At-Tiryaq min Sumum Asy-Syiqaq
• Miftah Al-Qiraah wa Daliluh Beliau dilahirkan di tengah kelu- arga yang mulia dari sisi keilmuan dan keutamaan. Ibunya berasal dari Alu Syatha yang dikenal seba- gai keluarga yang terkenal teguh memegang agama dan nilai-nilai keshalihan. Nasab kedua orang- tuanya pun diriwayatkan sampai pada baginda Nabi Muhammad – shallallahu ‘alaihi wa sallam-.
Ia hidup dalam keadaan yatim karena bapaknya meninggal saat umurnya baru menginjak tahun keenam. Karenaya pamannya lah, Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan, yang bertanggungjawab menjamin dan mendidiknya sampai ajalnya menjemput di Madinah. Pasca wafatnya pamannya itu, ‘Abdullah Dahlan mencurahkan sebagian
besar waktunya dalam menimba ilmu. Ia pun menekuni Ribath As-Sulaemaniyyah dan Ribath Ad-Duraibah. Di samping itu ia pun menekuni pengajian ulama- ulama di zamannya semacam Sayyid ‘Umar Syatha, Sayyid Abu Bakar Syatha, dan Syaikh ‘Abid yang tidak lain merupakan Mufti Malikiyyah. Selain ulama-ulama itu beliau juga bermulazamah secara sempurna kepada Syaikh Muham- mad bin Yusuf Khayyath. Sempai dikemudian hari memperoleh izin mengajar di Masjidil Haram. Tidak hanya memporelah izin mengajar, bahkan Ustadz ‘Umar Yahya ‘Abdul Jabbar meriwayatkan pula bahwa beliau juga dinobatkan sebagai imam Masjidil Haram.
Selanjutnya Syaikh ‘Abdullah Dahlan mengadakan perlawatan ke perlbagai negeri. Di antara per- lawatannya itu beliau melawat ke Indonesia dan merintis Jam’iyyah Khairiyyah dan madrasahnya yang masih bisa dirasakan hingga ditulisnya tulisan ini. Pada tahun 1330 H beliau kembali ke Makkah. Selain mendirikan madrasah di Tanah Air, beliau juga telah berjasa merintis sejumlah madrasah di beberapa negeri, seperti di Kalakh, Al-Madrasah Al-Islamiyyah di Sailan, di Al-Bahraen, beberapa madrasah di Malaysia, di Lampung, dan di Jambi, dan beberapa ma- drasah di Bugis. Sebagaimana pula beliau telah berjasa memperbaiki kurikulum madrasah-madrasah di Singapura saat muqimnya di sana dan juga berjasa memakmurkan masjid-masjid. Bisa dikatakan tidak ada negeri yang beliau injak, kecuali beliau merintis suatu ma- drasah. Dan perlu diketahui bahwa perjalanan beliau dari satu negeri ke negeri lain tidak lain dalam rangka berdakwah dan mengasas madrasah.
Setelah melakukan perlawatan ke berbagai negeri, terakhir beliau melawat ke Garut dan merasa senang hidup di sini. Di negerinya yang baru ini beliau menekuni profesi sebagai pengajar dan menulis. Biasanya beliau meny- ampaikan pengajian di pinggiran rumahnya. Mengingat pula bahwa kediamannya merupakan tempat yang sering dikunjungi banyak kalangan. Dan beliau dikenal selalu menampakkan senyum dan dalam keadaan hinar-binar wajahnya saat menemui tamunya.
[Firman Hidayat]
Refrensi utama:
» Siyar wa Tarajim Ba’dh ‘Ulamaina fi Al-Qarn Ar-Rabi’ ‘Asyar li Al- Hijrah (hal. 208-211), karya ‘Umar Yahya ‘Abdul Jabbar, cet. ke-2 Tihamah Makkah Al-Mukarramah
» Faidh Al-Malik Al-Wahhab Al- Muta’ali (II/1071-1072), karya ‘Abdussattar bin ‘Abdul Wahhab Ash-Shiddiqi Al-Hindi Al-Makki, editor Prof. Dr. ‘Abdul Malik bin Duhasiy, Maktabah Al-Asadi Mak- kah Al-Mukarramah
» A’lam Al-Makkiyyin (I/425-426), karya ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman al-Mu’allimi, Yayasan al-Furqan li At-Turats Al-Islami
» Al-Mukhtashar min Nasyr An-Nur wa Az-Zuhar (hal. 294), karya ‘Abdullah Mirdad Abu Al-Khair, ikhtishar Muhammad Sa’id Al-‘Amudi dan Ahmad ‘Ali, ‘Alam Al-Ma’rifah
» Natsr Al-Jawahir wa Ad-Durar fi ‘Ulama Al-Qarn Ar-Rabi’ ‘Asyar (I/589), karya Dr. Yusuf bin ‘Abdurrahman Al-Mar’asyali, Dar Al-Ma’rifah
44
Apa
Faidah
Ijazah
Hadits ?
MASAIL
Jawab[1] :D
alam masalah ijazah, telah jelas dan dike- tahui bersama oleh kalangan ahli hadits secara khusus dan oleh kalangan ahli ilmu secara umum, tentang banyaknya faidah dan keutamaannya. Di antara faidah yang sangat besar itu, yaitu :Pertama, dalam pemberian ijazah terdapat kes- empurnaan membawa hadits bagi seorang muhaddits serta pengakuan keotentikannya.
Berkata Abu Bakar Ibnu Khair Al-Isybily di mukad- dimah kitab “Fihrisit”nya halaman 15-16 ,”Ketahuilah oleh kalian semua rahimakumulloh bahwa ijazah adalah perkara yang mendesak dalam periwayatan yang dengannya sesuatu menjadi sempurna, jika tidak maka dia adalah sesuatu yang kurang, dan kekurangannya itu suatu kemestian. Telah mengka- barkan kepada kami Abu Muhammad Ibnu ‘Itaab dari
[1] Di terjemah dari Kitab Hadii as-Saary Ila Asanidi asy-Syaikh Ismail al-Anshory hal. 34-38
bapaknya Abu Abdillah dan beliau termasuk orang yang perhatian, hati-hati dan begitu teliti dalam peri- wayatan, beliau berucap, “Tidak mencukupi bagi para penuntut hadits tanpa ijazah, untuk apa-apa yang tel- ah dia dengar dari seorang muhaddits, atau apa yang telah ia perlihatkan kepadanya, atau apa yang ia telah mendengarnya dari orang yang memperlihatkannya kepadanya, sebab bisa saja ada terdapat kelupaan, kantuk, tertinggal, tertukar dan terganti dengan yang lain yang dilakukan oleh keduanya atau salah seorang dari mereka berdua. Maka jika seorang muhaddits: dia yang membacakannya dengan lafadznya sendiri, bisa jadi datang lupa pada pihak yang menden- garnya, hilang apa yang telah dibacakan itu, atau jika yang lain yang membacakannya maka bisa jadi menimpa kelupaan itu kepada yang membacakannya kepadanya. Namun, jika digabungkan antara ijazah dengan pendengaran atau penyerahan hadits tadi, maka sebuah ijazah bisa menambal apa yang terjadi dari berbagai bencana tersebut”. Demikian nukilan dari Syaikh secara makna.
Kedua, Menginginkan segeranya sebuah periwaya- tan di kala keadaan mendesak.
Ketiga, Memperbanyak periwayatan sehingga hadits-hadits Nabi Shollalahu alaihi wasallam tidak menjadi asing dengan sebab melimpahnya para periwayatnya.
45
Ibnu Khair Al-Isybiily menyebutkan di halaman 16-17, “Dan ketahuilah oleh kalian semua waffaqa- kumulloh bahwa dalam ijazah ada dua faidah : salah satunya untuk menyegerakan periwayatan ketika keadaan mendesak, dan faidah yang kedua memper- banyak apa yang diriwayatkan sehingga periwayatan hadits Nabi shollallahu alaihi wasallam menjadi melimpah jauh dari keterasingan selain dari lepasnya kesulitan menghikayatkan ucapan beliau tanpa adanya periwayatan. Sungguh aku telah mendengar para Khatib di mimbar-mimbar, dan manusia-manu- sia tertentu di panggung dan majlis-majlis mereka, menyebutkan ucapan-ucapan Rasulullah padahal mereka tidak mempunyai periwayatan tentang hal itu. Para Ulama rahimahulloh telah bersepakat bahwa tidak dibolehkan seorang muslim berucap : “Rasulull- ah shollallahu alaihi wasallam telah bersabda seperti ini” hingga dia memang mempunyai riwayat apa yang dikatakannya itu, walaupun dari jalan periwayatan yang jarang digunakan, karena Nabi Shollalahu alaihi wasallam berucap, “Barangsiapa berdusta terhadapku dengan sengaja maka hendaklah dia mempersiapkan tempat duduknya di neraka”, dan dalam sebagian riwayat ,” Barangsiapa berdusta terhadapku” dengan lafadz mutlak tanpa tambahan “dengan sengaja”. Selesai.
Adapun apa yang diceritakan oleh Ibnu Khair Al-Isybily tentang ijma’ tidak bolehnya seseorang berucap : “Rasulullah shollallahu alaihi wasallam bersabda” sampai dia memang memiliki apa yang dia sebut sebagai ucapan Nabi shollalahu alaihi wasallam itu secara riwayat”, ucapan tersebut tidak hanya uca- pannya sendiri tapi juga di ceritakan bahwa Hafidz Al- ‘Iraqi juga berucap, “Menukil ucapan seseorang yang dia tak memiliki riwayatnya akan hal tersebut, tidak dibolehkan secara ijma para ahli dirayah.” Selesai.
Adalah Al-‘Allamah Abdul Hayy Al-Kattany mempu- nyai risalah yang namanya Raf’u Adh-dhair ‘An Ijma’I Al-Hafidz Ibnu Khair”, di sana beliau jelaskan panjang lebar apa yang mendukung serta apa-apa yang berse- berangan tentang hal itu. Wallohu a’lam
Keempat, di antara faidah ijazah : tidak bisa kita bayangkan bersambungnya (mata rantai periwaya- tan) semua karya tulis baik yang besar ataupun kecil hingga sampai ke tangan kita secara langsung dengan cara mendengar (sama’i) hingga ke penyusunnya den- gan berlalunya masa, tapi jika melalui ijazah, maka mata rantai periwayatan bisa kekal tersambung.
Al-Hafidz Abu Thohiir as-Silafy di Kitab al-Wajiz halaman 54-55 berucap, “Dan tak terbayangkan keberadaan seluruh karya tulis yang disusun secara
MASAIL
besar serta karya tulis yang kecil dengan cara sama’ (mendengar langsung) serta bersambung sedan- gkan masa yang terpisah jauh, dan tidak terputus hubungannya dengan sebab kematian perawi, atau lenyapnya para hafidz yang brilian, maka dalam hal ini sangat diperlukan sesuatu yang bisa menyebabkan kesinambungan karya-karya tulis itu, melanjutkan eksistensinya sehingga setelah itu terlaksana tak ada hal yang bisa melenyapkannya. Jalan untuk itu adalah meriwayatkan dengan ijazah, yang di dalamnya terda- pat manfaat yang agung dan suatu karunia berharga; sebab tujuan itu semua mengokohkan sunnah- sunnah yang diriwayatkan dalam berbagai ketentuan hukum syar’i (ahkam syar’iyyah), menghidupkan ber- bagai atsar dengan cara sebaik-baiknya pemberian, sama saja apakah dengan cara sama’ , atau qira’at, munawalah dan juga secara ijazah.” Selesai.
Kelima, Tidaklah semua penuntut ilmu itu mampu melakukan perjalanan jauh dan berkelana (rihlah). Atau jika ada yang mampu kesebuah negeri dia tak mampu ke negeri lain, maka ijazah dalam hal ini dapat memudahkannya.
Berkata Hafidz Abu Thohir As-Silafy di kitab Al-Wajiz halaman 57 : “Di antara manfaat ijazah pula : bahwa tidak semua penuntut dan pengejar ilmu yang berse- mangat mampu melakukan perjalanan dan berkelana terutama jika dikaitkan dengan masalah kesusahan dan penyakit, atau Syaikh yang dia ingin datangi berada ditempat yang jauh sehingga untuk sampai kesana akan dijumpai banyak kesukaran. Maka se- buah tulisan ketika itu adalah hal yang sangat mudah, dan lebih sesuai untuk keadaan orang tersebut, serta bisa di bilang hal ini lah yang paling sesuai dan yang paling utama baginya. Sehingga tulisan orang yang ada di ujung barat bisa sampai ke ujung timur dengan dia memberikan izin meriwayatkan apa yang memang bebar-benar berasal dari dirinya, dari riwayat had- itsnya hingga jadilah apa yang dia riwayatkan adalah hujjah sebagaimana Rasulullah Shollallahu alaihi wasallam telah melakukan sendiri hal ini.
Telah shohih riwayat dari Nabi Shollallahu alaihi wasallam bahwa beliau telah menulis surat buat Kisra dan Kaisar dan selain keduanya beserta para utusan- nya, maka barangsiapa menghadap kepada mereka serta menerima yang mereka bawa, maka itu adalah hujjah baginya. Adapun yang tidak menerima dan tidak mengamalkannya maka hujjah itu akan berbalik kepadanya”. Selesai.