• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENGALAMAN PSIKOLOGIS REMAJA GAY psikologis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PENGALAMAN PSIKOLOGIS REMAJA GAY psikologis"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

Abdul Aziz Azari, S.Kep,. Ners

PENGALAMAN PSIKOLOGIS

REMAJA GAY

(2)

Undang-undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2002 Tentang Hak Cipta

Lingkupan Hak Cipta: Pasal 2

Hak cipta merupakan hak eksklusif bagi pencipta atau pemenang Hak Cipta untuk mengumumkan atau memperbanyak ciptaan dilahirkan tanpa mengurangi pembatas menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku

Ketentuan Pidana: Pasal 72

1. Barang siapa dengan sengaja melanggar dan tanpa hak melakukan perbuatan sebagaimana dimaksud dalam pasal 2 ayat (1) atau pasal 29 ayat(1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara masing-masing paling singakat 1 (satu) bulan dan/atau denda paling sedikit Rp. 1.000.000,00 (satu juta rupiah), atau pidana penjara paling lama 7 (tujuh) tahun dan/atau denda paling banyak Rp. 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah).

(3)

Pengalaman Psikologis Remaja Gay Oleh: Abdul Aziz Azari, S.Kep,. Ners

Diterbitkan Oleh

NULISBUKU Digital Books

Surel: [email protected]

Facebook: https://www.facebook.com/nulisbukudotcom Twitter: https://twitter.com/nulisbuku

Android Digital Books: Nulisbuku.com www.nulisbuku.com

(4)
(5)

Yang satu ini untuk keponakan keduaku,

Agung,

(6)

DAFTAR ISI

(7)

BAB I

TENTANG GAY

Perkembangan masa remaja seorang individu banyak memberi kesan kepada corak kehidupan individu tersebut di masa yang akan datang. Perkembangan dari segi emosi, mental, jasmani dan budaya remaja banyak di pengaruhi oleh faktor lingkungan di sekeliling mereka. Jika seorang remaja memilih faktor negatif dalam corak kehidupan mereka, maka remaja tersebut akan kesulitan meneruskan kemandiriannya dalam masyarakat. Dan begitu juga sebaliknya jika remaja tersebut memilih corak kehidupan yang positif sebagai pemacu kehidupannya.

Steinberg (2002) menyatakan masa remaja sebagai masa peralihan dari ketidakmatangan pada masa kanak-kanak menuju kematangan pada masa dewasa. Ia juga menyatakan masa remaja merupakan periode transisi yang meliputi segi-segi biologis, fisiologis, sosial dan ekonomis yang didahului oleh perubahan fisik (bentuk tubuh dan proporsi tubuh) maupun fungsi fisiologis (kematangan organ-organ seksual).

(8)

disebut dengan tugas perkembangan. Tugas perkembangan berisi kemampuan-kemampuan yang harus dikuasai, agar seseorang dapat mengatasi permasalahan yang akan timbul dalam fase perkembangan tersebut. Penguasaan terhadap tugas perkembangan akan menentukan keberhasilan seseorang dalam setiap fase kehidupannya ( Hurlock, 1999).

Pada tahap awal tugas perkembangan, para remaja lebih dekat dengan teman sebaya daripada dengan orang tua mereka sehingga orang tua tidak sepenuhnya mengontrol apa yang dilakukan oleh anak mereka di luar rumah sedangkan pada tahap ini, seorang remaja menginginkan kebebasan tanpa adanya paraturan dan norma yang mengikat mereka.

(9)

orang banyak tanpa menghiraukan waktu siang ataupun malam hari.

Pada tahap kedua, para remaja mulai mencari identitas diri mereka. Pencarian identitas diri ini akan berpengaruh pada tahapan ketiga. Jika seorang remaja tidak dapat memenuhi tugas perkembangannya pada tahap kedua, maka pengungkapan identitas diri pada tahap ketiga akan mengalami gangguan. Salah satunya adalah penyimpangan seksual.

Salah satu penyimpangan seksual yang saat ini banyak ditemukan di masyarakat luas adalah remaja dengan homoseksual (gay). Gay bukanlah hal yang tabu dalam kehidupan masyarakat karena menjadi seorang gay adalah pilihan hidup mereka dimana mereka mengalami kesulitan dan gangguan dalam tugas perkembangan mereka dalam mencari identitas diri.

(10)

dirinya adalah seorang gay. Bagi orang awam, hal itu tentunya menjadi sebuah fenomena yang langka meskipun sesungguhnya gay sudah ada sejak puluhan tahun yang lalu.

Kemunculan istilah homoseksual pertama kali ditemukan pada tahun 1869 dalam sebuah pamflet Jerman karya novelis kelahiran Austria, Karl-Maria Kertbeny, yang diterbitkan secara anonim. Pamflet tersebut berisi perdebatan melawan hukum anti-sodomi Prusia. Pada tahun 1879, Gustav Jager menggunakan istilah tersebut dalam bukunya, Discovery of The Soul

(1880). Pada tahun 1886, Richard von Krafft-Ebing juga menggunakan istilah homoseksual dan heteroseksual dalam bukunya Psychopathia Sexualis. Buku Krafft-Ebing begitu populer di kalangan baik orang awam dan kedokteran hingga istilah heteroseksual dan

homoseksual menjadi istilah yang paling luas diterima untuk orientasi seksual (Wikipedia, 2012).

(11)

satu akar utama dari homoseksualitas adalah hancurnya ikatan hubungan pada masa kecil seseorang. Hubungan yang terputus ini mengganggu kemampuan perkembangan dirinya untuk dengan sehat dapat berhubungan dengan orang lain sepanjang hidupnya.

Kehidupan seorang gay selalu dipandang rendah oleh masyarakat, bahkan sering kali dikucilkan. Masyarakat men-judge bahwa perilaku tersebut adalah perilaku yang tidak sesuai dengan norma yang ada. Selain itu, ajaran agama menganjurkan agar setiap laki-laki memilih seorang perempuan sebagai pendamping hidup, bukannya seorang laki-laki. Selain itu, dalam norma yang ada di masyarakat, bagi siapa saja yang melakukan perbuatan homoseksual sudah dianggap melakukan zina yang dosanya amat besar. Tuntutan tersebut tentu saja dapat memberikan pengalaman tersendiri bagi pribadi seorang gay.

(12)

lagi?” Kata partisipan A saat ditanya mengenai tuntutan masyarakat sebagai laki-laki normal.

Partisipan A juga mengatakan bahwa sebenarnya dirinya sangat tertekan menjadi seorang gay. Menjadi seorang gay bukanlah sebuah pilihan baginya, tapi merupakan sebuah kenyataan yang tidak bisa dihindari. Partisipan mengatakan bahwa tekanan batin untuk menjadi seorang gay sangatlah menyiksa dirinya. Partisipan juga menambahkan bahwa menjadi seorang gay memberikan pengalaman yang akan selalu partisipan ingat sepanjang hidupnya. Rasa malu, takut, kecewa dan sebagainya selalu menghantui partisipan. Belum lagi kenyataan bahwa seorang gay mendapatkan posisi yang rendah di mata masyarakat, terutama masyarakat awam. Masyarakat modern perlahan-lahan sepertinya mulai menerima keberadaan gay meskipun tak sedikit dari mereka yang menunjukkan ketidaksukaan mereka pada kaum gay. Baik masyarakat awan maupun masyarakat modern secara umum, mereka masih memegang teguh norma yang ada.

(13)

sebagaimana kita ketahui bahwa bangsa Indonesia adalah suatu bangsa yang mempunyai banyak norma baik itu agama maupun budaya. Dari kedua hal tersebut, baik agama maupun budaya, tidak ada yang memperbolehkan adanya suatu hubungan intim antara dua orang laki-laki (perilaku homoseksual). Jika ada seseorang yang melakukan perilaku tersebut, tentunya sudah dianggap menyalahi norma dan peraturan, malah kemungkinan akan diberikan suatu sanksi dan hukuman. Hal itu tentunya memberikan dampak psikologis bagi seorang gay, sehingga tak heran jika kebanyakan gay kesulitan bersosialisasi dengan masyarakat luas.

“Tetanggaku menganggap aku pendiam. Mungkin sebenarnya

aku bukan pendiam tapi aku jarang bergaul dengan mereka sehingga mereka menganggap aku pendiam. Seperti ada beban dalam diriku jika aku bersama mereka. Jika mereka tau bahwa aku seorang gay, mereka pasti akan menganggap aku

adalah orang yang menjijikkan!” Kata partisipan A saat ditanya mengenai hubungannya dengan masyarakat.

(14)

di dunia ini yang mau melihat orang tuanya menangis hanya karena anak mereka seorang gay. Seorang gay tentunya akan mengatakan bahwa dirinya adalah laki-laki normal, hanya agar orang tua mereka bahagia.

Saat partisipan ditanya mengenai orang tuanya tentang

keadaan dirinya, partisipan menjawab, “Aku tak mau

memikirkannya. Pertanyaan berikutnya.” Dari pertanyaan

tersebut dapat disimpulkan bahwa penyimpangan seksual sulit diterima oleh masyarakat maupun oleh keluarga. Hal itu tentu saja akan membuat keadaan seseorang semakin terpuruk. Jika hal itu dibiarkan begitu saja, pengalaman-pengalaman tersebut dapat menjadi bumerang bagi diri pribadi mereka sehingga akan menimbulkan penyimpangan-penyimpangan perilaku yang lainnya.

“Aku pikir, akulah orang yang paling tidak berguna di dunia ini. Satu-satunya cara agar aku bisa senang hanyalah dengan bergaul bersama orang-orang yang sejenis denganku dan orang lain pikir hal itu adalah suatu kesalahan. Tapi mau bagaimana

lagi.”

(15)

itu kembar identik maupun non identik (fraternal). Dengan mempelajari orang kembar, kita bisa melihat langsung perbedaan diantara keduanya. Seorang kembar identik memiliki gen dan lingkungan yang sama dengan saudara kembarnya. Sementara itu, kembar fraternal, hanya memiliki separuh gen saudara kembarnya maupun lingkungannya. Dengan demikian, kesamaan yang besar dalam sifat kembar identik dengan sifat kembar fraternal akan menunjukkan kalau hanya faktor genetik semata yang mempengaruhi sifat tersebut.

Studi ini mengamati 3.826 saudara kembar gender sama (7652 individu). Mereka ditanya mengenai jumlah total pasangan romantis dari jenis kelamin yang sama dan berbeda yang pernah mereka miliki. Penemuan ini menunjukkan kalau 35% perbedaan antara pria dalam perilaku ketertarikan pada jenis kelamin yang sama, disebabkan oleh genetik. Menurut Rahman, Genetik berpengaruh sekitar 35% atas perbedaan antara pria dalam perilaku homoseksual dan faktor lingkungan yang tergantung individunya (artinya bukan pengaruh sosial, keluarga atau pemeliharaan masa kecil) berpengaruh sebesar 64%. Dengan kata lain, bukan hanya karena gen seorang bisa menjadi homoseksual, tapi juga karena lingkungan ini. (Langstrom, N., Rahman, Q., Carlstrom, E., & Lichtenstein, P. (2009).

(16)

behaviour: A population study of twins in Sweden.

Archives of Sexual Behavior.).

Pengalaman setiap remaja dengan kondisi penyimpangan seksual (gay) tentunya tidak sama antara satu individu dengan yang lainnya. Pengalaman partisipan A tentunya tidak sama dengan pengalaman partisipan yang lain dikarenakan oleh banyaknya faktor pendukung, stresor, lingkungan dan mekanisme koping yang berbeda pada setiap individu.

(17)
(18)

TENTANG PENULIS:

Abdul Aziz Azari, S.Kep,. Ners (Ary) adalah lulusan seorang mahasiswa keperawatan di sebuah Universitas Muhammadiyah Jember. Lahir di Situbondo 28 Oktober tahun 1990. Aktif dalam kegiatan jurnalis dan dunia teater selama 6 tahun. Berikut adalah buku-buku yang pernah diterbitkannya; A Book of Gay, Gangguan Sistem Saraf dan A Book of Wicth and Witchcraft, Sedangkan novel yang pernah diterbitkannya adalah The Legacy, Promise, Have You Seen Him?, Buku Sihir dan Cinta Mutasi. Selain itu ia juga pernah menerbitkan kumpulan cerpen yang dia buat untuk sahabat-sahabat tercintanya, yang berdasarkan kisah nyata para sahabatnya, berjudul Setitik Rasa. Selain itu juga ada kumpulan prosa tentang Perempuan dengan judul Perempuan. Novel-novel Ary yang lainnya bisa dilihat di www.nulisbuku.com

Berikut media yang bisa digunakan untuk menghubungi Ary:

Facebook: Ary Taphakorn Twitter: @ogan_ary

Referensi

Dokumen terkait

Peran Kecerdasan Emosi, Keterlibatan Orang tua, dan Interaksi Teman Sebaya terhadap Delinkuensi Remaja.. Agustini Kadarwati S 300

Hal ini yang biasanya terjadi pada remaja putri yang kurang memiliki kelekatan dengan orang tua, sehingga merasa lebih nyaman menghabiskan banyak waktu dengan teman

Dengan demikian orang tua dapat memberikan masukan atau petunjuk mengenai cara-cara berhubungan dengan teman sebaya salah satunya dengan mendorong remaja untuk lebih bertoleransi

Hal tersebut dikarenakan remaja panti asuhan tinggal terpisah dari orang tua, yang mengakibatkan remaja lebih banyak menghabiskan waktu yang dimilikinya dengan teman sebaya,

Pengaruh teman sebaya, hubungan orang tua-remaja dan paparan media pornografi merupakan faktor pemicu terjadinya perilaku seksual pranikah berisiko pada remaja di

Keberadaan lingkungan sosial, seperti guru, orang tua, teman sebaya, saudara, untuk memberikan dukungan di saat remaja korban bullying membutuhkan perlindungan, keamanan,

Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui hubungan antara kontrol orang tua, pengaruh teman sebaya dan media massa terhadap perilaku seksual remaja Penelitian

Teman merupakan orang yang paling dekat dengan remaja karena teman.. lebih mengerti apa yang dialami