• Tidak ada hasil yang ditemukan

Telaah Pemikiran Ekonomi Al Maqrizi tent

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Telaah Pemikiran Ekonomi Al Maqrizi tent"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

www.aamslametrusydiana.blogspot.com

TELAAH PEMIKIRAN EKONOMI MAQRIZI TENTANG

INFLASI

Oleh: Aam Slamet Rusydiana

ABSTRACT

Salah satu problem penting yang dihadapi ekonomi dunia hingga kini adalah masalah inflasi. Secara sederhana inflasi berarti naiknya harga barang dari keadaan lazimnya. Ternyata, jauh sebelum pemikiran ekonomi para ahli layaknya Friedman, Fisher, Keynes, dan para ekonom dunia lain tentang inflasi dan perkara moneter lain, dunia Islam telah lebih awal mempunyai tokoh yang concern di bidang ini. Taqiyuddin Abul Abbas Al-Husaini dari Maqarizah, Kairo. Atau lebih dikenal dengan sebutan Al-Maqrizi. Maqrizi mengatakan di beberapa bagian bukunya bahwa inflasi secara umum terbagi dua, yakni Natural Inflation dan Human Error Inflation. Tulisan ini akan mencoba mengkomparasi beberapa pemikirannya –lebih spesial masalah inflasi- dengan pendapat dan konsep positivistik konvensional dalam bidang yang serupa.

Kata Kunci: Inflasi, Moneter, Al-Maqrizi

JEL: B15, B22, E31

Paper ini pernah diterbitkan pada Jurnal KORDINAT Kopertais Wilayah DKI Jakarta, Volume 11 No.1, April 2009. Peneliti pada Institute for Research and Community Empowerment Tazkia (IRCETAZKIA) Bogor, Indonesia. Juga sebagai

(2)

www.aamslametrusydiana.blogspot.com

A. Pendahuluan

Bahwa salah satu permasalahan ekonomi kontemporer yang ilmu ekonomi

sendiri tak mampu menginterpretasikan secara jelas dan tepat, serta memberikan

solusi yang tepat untuk mencegah terjadinya dampak negatif, adalah masalah inflasi

mata uang. Bahkan ketidakmampuan ini telah diakui oleh pakar-pakar ekonomi Barat

sendiri. Profesor Moris Elih mengatakan bahwa problem terbesar yang dihadapi oleh

perekonomian pasar Barat yang tak terselesaikan hingga sekarang adalah

pergolakan ekonomi dan perubahan-perubahan nilai harga asli mata uang. Fakta

membuktikan bahwa ketidakadilan yang dirasakan masyarakat datang dari

perubahan dan perbedaan bentuk income yang timbul dari perubahan nilai harga

asli mata uang.

Lebih jauh lagi dari hal tersebut, bencana yang paling ditakuti oleh para

investor di pasar uang dan pasar modal adalah dua kondisi ekstrem pada kebijakan

moneter, yaitu inflasi dan deflasi. Para pengamat memberikan definisi inflasi sebagai

suatu kemerosotan nilai mata uang karena terlalu banyak uang beredar sehingga

harga barang dan jasa menjadi naik. Dalam ekonomi, inflasi juga dapat didefinisikan

sebagai peningkatan dari tingkat harga umum secara persisten dan terus-menerus.

Nol atau inflasi sangat rendah disebut kestabilan harga. Dalam beberapa

penggunaan, inflasi digunakan untuk mengartikan peningkatan persediaan uang,

yang kadangkala dilihat sebagai penyebab meningkatnya harga. Beberapa ekonom

(dari Austria) masih menggunakan arti ini, dan bukan peningkatan harga-harga.

Berbagai kajian dan penelitian tentang pemikiran ekonomi Al-Maqrizi yang

telah dilakukan oleh berbagai pihak pada umumnya lebih menyangkut pada aspek

kesejarahan dan ide serta pemikirannya tentang kebijakan moneter secara umum.

Sedangkan pada penelitian ini penulis mencoba menganalisis lebih jauh pemikiran

ekonomi Taqiyuddin Al-Maqrizi khususnya tentang luar-dalam, kiri-kanan

permasalahan inflasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan

membandingkan antara konsep dan teori inflasi seorang ekonom Muslim –dalam hal

ini pemikiran ekonomi Al-Maqrizi- dengan konsep positivistik konvensional yang

dipegang ahli ekonomi Barat tentang hal serupa. Tulisan yang merupakan penelitian

(3)

www.aamslametrusydiana.blogspot.com menggunakan data-data sekunder yang telah dipublikasikan, terdiri dari: buku

referensi, artikel-artikel dan karya ilmiah lain. Tulisan ilmiah berupa paper ini pun

mencoba menggunakan metoda komparasi.

B. Landasan Teori

1. Definisi dan Tipe Inflasi

Inflasi adalah keadaan perekonomian yang ditandai oleh kenaikan harga

secara cepat sehingga berdampak pada menurunnya daya beli. Inflasi sering pula

diikuti menurunnya tingkat tabungan dan atau investasi karena meningkatnya

konsumsi masyarakat dan hanya sedikit untuk tabungan jangka panjang.

Inflasi dapat digolongkan pada beberapa cara. Cara pertama, inflasi dapat

digolongkan menurut besarnya. Budiono1 mengelompokkan inflasi menjadi empat:

1. Inflasi ringan (inflasi di bawah 10% per tahun)

2. Inflasi sedang (antara 10%-30%)

3. Inflasi berat (antara 30%-100%)

4. Hiperinflasi (di atas 100% per tahun)

Samuelson dan Nordhaus dalam Djohanputro mengkategorikan inflasi

menjadi tiga2:

1. Low inflation, atau disebut juga inflasi satu digit (single digit inflation), yaitu

inflasi di bawah 10%. Inflasi ini masih dianggap normal. Dalam rentang inflasi ini,

orang masih percaya pada uang dan masih mau memegang uang.

2. Galloping inflation atau double digit bahkan triple digit inflation, yang

didefinisikan antara 20%-200% per tahun. Inflasi seperti ini terjadi karena

pemerintahan yang lemah, perang, revolusi, atau kejadian lain yang

menyebabkan barang tidak tersedia, sementara uang berlimpah sehingga orang

tidak percaya pada uang.

3. Hyper inflation, yaitu inflasi di atas 200% per tahun. Dalam keadaan seperti ini,

orang tidak percaya pada uang. Lebih baik membelanjakan uang dan menyimpan

(4)

www.aamslametrusydiana.blogspot.com barang seperti emas, tanah, bangunan, mengalami kenaikan harga yang setara

(bahkan bisa lebih tinggi) dari inflasi.

Pengelompokkan inflasi cara kedua adalah berdasarkan sumber inflasi.

Dengan cara ini, inflasi dapat digolongkan menjadi dua jenis inflasi yang berbeda

satu sama lain, yaitu3:

1. Inflasi karena dorongan biaya (cost-push inflation), dan

2. Inflasi karena meningkatnya permintaan (demand-pull inflation).

Dalam hal inflasi karena dorongan biaya, kenaikan upah memaksa industri

untuk menaikkan harga guna menutup biaya upah dalam kontrak yang baru yang

mengakibatkan adanya pola siklus upah dan harga yang lebih tinggi yang disebut

spiral harga upah (wage price spiral). Dalam hal inflasi karena meningkatnya

permintaan, permintaan yang tinggi atas kredit merangsang pertumbuhan produk

nasional bruto yang selanjutnya menarik harga lebih lanjut ke atas. Beberapa ahli

percaya bahwa inflasi yang demand-pull ini, dapat dikendalikan melalui kombinasi

kebijakan bank sentral dan kebijakan Departemen Keuangan, misalnya kebijakan

uang ketat oleh bank sentral dan pengendalian pengeluaran oleh pemerintah. Inflasi

karena dorongan biaya (cost-push) diduga dapat lebih baik dikendalikan melalui

pertambahan tingkat pertumbuhan perekonomian daripada via kebijakan moneter

atau fiskal.

Pengelompokan inflasi ketiga berdasarkan asal inflasi, dapat dibagi menjadi

dua:

1. Inflasi bersumber domestik (domestic inflation), yaitu inflasi yang berasal dari

dalam negeri. Misalnya, permintaan meningkat untuk barang, maka terjadi

demand-pull inflation yang bersumber dari dalam negeri.

2. Inflasi bersumber luar negeri (foreign/imported inflation), yaitu inflasi yang

bersumber dari luar negeri. Misalnya terjadi lonjakan permintaan ekspor secara

terus-menerus, maka terjadi demand-pull inflation yang bersumber dari luar

negeri.

Pengelompokkan inflasi cara keempat adalah berdasarkan harapan

(5)

www.aamslametrusydiana.blogspot.com 1. Inflasi harapan (expected inflation), yaitu besar inflasi yang diharapkan atau

diperkirakan akan terjadi.

2. Inflasi bukan harapan (unexpected inflation), yaitu inflasi yang tidak diperkirakan

akan terjadi.

Ada juga sebagian ahli yang melihat dan membagi inflasi dari segi

keparahannya. Dari segi ini, inflasi dibedakan menjadi tiga tipe yaitu:

1. Inflasi moderat, jika laju inflasi di bawah 10% per tahun.

2. Inflasi ganas, jika laju inflasi berkisar antara 10%-99% per tahun.

3. Inflasi hiper, apabila laju inflasi di atas 100%.

2. Dampak Inflasi

Inflasi berdampak pada perekonomian. Menurut Samuelson dan Nordhaus4,

inflasi berdampak terhadap beberapa hal: redistribusi dan distorsi.

1. Redistribusi pendapatan dan kekayaan. Salah satunya adalah redistribusi dari

kreditur ke debitur.

2. Distorsi harga. Menurut Samuelson dan Nordhaus, pada inflasi rendah membuat

pembeli dan penjual menyadari inflasi tersebut dan bisa membedakan perbedaan

inflasi antarbarang yang saling substitusi (misalnya daging dengan telur). Jadi,

bila inflasi daging lebih tinggi, orang beralih ke telur.

3. Distorsi penggunaan uang. Setiap orang mengubah cara menggunakan uang.

Karena inflasi berarti menurunkan nilai riil uang, orang cenderung meminimalisasi

jumlah uang yang dipegang.

4. Distorsi pajak. Semakin tinggi inflasi, semakin tinggi beban pajak secara riil.

Selain pembagian inflasi yang tersebut di atas, ada pula yang dikenal dengan

jenis inflasi inersia, atau ekspektasi inflasi. Inflasi inersia adalah kecenderungan

bahwa setiap tahun (atau setiap periode) orang percaya akan terjadi inflasi.

Penduduk negara-negara maju, misalnya, percaya bahwa inflasi diperkirakan 3% per

tahun. Negara industri baru semisal Korea Selatan dan Singapura diperkirakan

memiliki tingkat inflasi sebesar 2%. Sedangkan negara berkembang memiliki tingkat

(6)

www.aamslametrusydiana.blogspot.com luar itu, sebenarnya ada unexpected inflation. Inflasi jenis ini bisa negatif dan bisa

pula positif. Unexpected inflation terjadi jika ada kejutan.

3. Evolusi Teori

Inflasi sebagai sasaran utama dan indepensi bank sentral sebagai pengendali

inflasi merupakan landasan dari target inflasi. Konsep target inflasi ini merupakan

produk dari evolusi teori moneter dan akumulasi pengalaman empiris. Teori-teori

moneter yang memberikan kontribusi bagi pematangan konsep ini meliputi teori

klasik hingga teori modern.

a. Teori Klasik vs Teori Keynes

Menurut teori Klasik, kebijakan moneter tidak berpengaruh terhadap sektor

riil. Sedangkan menurut teori Keynes, sektor moneter dan sektor riil saling terkait

melalui suku bunga. Berdasarkan perkembangan teori dan pengalaman empirik,

disimpulkan bahwa dalam jangka panjang teori yang sesuai untuk dipergunakan

adalah teori Klasik, sedangkan dalam jangka pendek teori Keynes lebih tepat.

Kebijakan moneter hanya mempunyai dampak permanen pada tingkat harga umum

(inflasi). Dengan kata lain bahwa pembenahan sektor ekonomi dapat dilakukan

dengan cara pengendalian inflasi.

b. Teori Klasik Modern vs Teori Keynes

Salah satu penganut teori klasik modern, Milton Friedman, mengemukakan

bahwa kebijakan rule lebih baik dibanding discretion. Pendapat tersebut bertolak

belakang dengan teori Keynes. Kemudian, untuk menentukan pilihan atas rule versus

discretion, target inflasi menawarkan suatu framework yang mengkombinasikan

keduanya secara sistematis, yang disebut dengan constrained discretion. Karena

pada dasarnya, dalam praktik kebijakan moneter tidak ada yang murni rules ataupun

murni discretion.

c. Teori Kuantitas vs Teori Keynes

Teori Keynes mempergunakan tingkat bunga sebagai sasaran antara,

sedangkan dalam teori kuantitas digunakan jumlah uang beredar. Penggunaan

sasaran antara, baik berupa tingkat bunga maupun kuantitas uang, akan

(7)

www.aamslametrusydiana.blogspot.com ini, kebijakan target inflasi menentukan inflasi sebagai sasaran akhir. Dengan

demikian target inflasi menggunakan mekanisme transmisi yang relevan, tidak harus

tingkat bunga ataupun kuantitas uang. Dengan mengambil inflasi sebagai sasaran

akhir, otoritas moneter dapat lebih bebas dan lebih fleksibel dalam menggunakan

semua data dan informasi yang tersedia untuk mencapai sasaran, karena inflasi

dipengaruhi bukan hanya oleh satu faktor.

d. Teori Rational Expectations

Teori rational expectations menyebutkan bahwa faktor ekspektasi mempunyai

peran penting, karena mempengaruhi perilaku dan reaksi para pelaku ekonomi

terhadap suatu kebijakan. Kebijakan moneter hanya dapat mempengaruhi output

dalam jangka pendek, karena setelah ekspektasi masyarakat berperan, output akan

kembali seperti semula. Ekspektasi masyarakat inilah yang menjadi kunci

keberhasilan yang harus dapat dikendalikan. Dengan penerapan target inflasi dalam

kebijakan moneter, diharapkan dapat menjadi anchor bagi ekspektasi masyarakat.

e. Teori Moneter Modern.

Dalam perkembangan selanjutnya, teori moneter modern memasukkan aspek

kredibilitas yang bersumber dari masalah time inconsistency. Artinya bahwa

inkonsistensi dalam kebijakan moneter dapat terjadi apabila otoritas moneter

terpaksa harus mengorbankan sasaran jangka panjang (inflasi) demi mencapai

sasaran lain dalam jangka pendek. Agar hal ini tidak terjadi, maka pengendalian

inflasi harus menjadi sasaran tunggal, atau setidaknya menjadi sasaran utama.

Menetapkan inflasi sebagai sasaran utama berarti menghindarkan diri dari

inkonsistensi kebijakan.

C. Konsep Al-Maqrizi tentang Inflasi

1. Profil Singkat

Taqiyuddin Abu Al-Abbas Ahmad bin Abdul Qadir Al-Husaini lahir di

Barjuwan, Kairo, pada 766 H5. Keluarganya berasal dari Maqarizah, sebuah desa yang

terletak di kota Ba‟labak. Karena itu, ia lebih banyak dikenal dengan sebutan

(8)

www.aamslametrusydiana.blogspot.com menjalani pendidikan dengan berada di bawah tanggungan kakeknya, Hanafi ibnu

Sa‟igh, penganut mazhab Hanafi. Al-Maqrizi muda pun tumbuh berdasarkan

pendidikan mazhab ini. Setelah kakeknya wafat pada 786 H (1384 M), Al-Maqrizi

beralih ke mazhab Syafi‟i. Bahkan dalam perkembangan pemikirannya, ia menjadi

condong ke arah mazhab Dzahiri.

Al-Maqrizi merupakan sosok yang sangat mencintai ilmu. Sejak kecil, ia gemar

melakukan perjalanan intelektual. Ia mempelajari bermacam disiplin ilmu: fiqh,

hadits, dan sejarah, dari para ulama besar yang hidup pada masanya. Di antara tokoh

terkenal yang amat mempengaruhi pemikirannya adalah Ibnu Khaldun, seorang

ulama besar dan penggagas ilmu-ilmu sosial, termasuk ilmu ekonomi. Interaksinya

dengan Ibnu Khaldun dimulai saat Abu Al-Iqtishad ini menetap di Kairo dan

memangku jabatan hakim agung (Qadi Al-Qudat) mazhab Maliki pada masa

pemerintahan Sultan Barquq (784-801 H).

Saat berumur 22 tahun, Al-Maqrizi mulai terlibat dalam berbagai tugas

pemerintahan Dinasti Mamluk. Pada 788 H, Al-Maqrizi memulai kiprahnya sebagai

pegawai di Diwan Al-Insya, semacam sekretaris negara. Lalu ia diangkat menjadi

wakil qadi pada kantor hakim agung mazhab Syafi‟i, khatib di Masjid Jami ‟Amr dan

Madrasah Sultan Hasan, Imam Masjid Jami Al-Hakim, dan guru hadits di Madrasah

Al-Muayyadah. Pada tahun 791 H, Sultan Barquq mengangkat Al-Maqrizi sebagai

muhtasib, semacam pengawas pasar, di Kairo. Jabatan tersebut diemban selama dua

tahun. Pada masa ini, Al-Maqrizi mulai banyak bersentuhan dengan berbagai

permasalahan pasar, perdagangan, dan mudharabah, sehingga perhatiannya

terfokus pada harga-harga yang berlaku, asal-usul uang, dan kaidah-kaidah

timbangan.

Pada 811, Al-Maqrizi diangkat sebagai pelaksana administrasi wakaf di

Qalanisiyah, sambil bekerja di rumah sakit an-Nuri, Damaskus. Pada tahun yang

sama, ia menjadi guru hadits di Madrasah Asyrafiyyah dan Madrasah Iqbaliyyah.

Kemudian, Sultan Al-Malik Nashir Faraj bin Barquq (1399-1412 M) menawarinya

jabatan wakil pemerintah Dinasti Mamluk di Damaskus. Namun, tawaran ini

ditolaknya. Hampir 10 tahun menetap di Damaskus, Al-Maqrizi kembali ke Kairo.

(9)

www.aamslametrusydiana.blogspot.com waktunya untuk ilmu. Pada tahun 834 H, bersama keluarga, ia menunaikan ibadah

haji dan bermukim di Makah selama beberapa waktu untuk menuntut ilmu serta

mengajarkan hadits dan menulis sejarah. Lima tahun kemudian, Al-Maqrizi kembali

ke kampung halamannya, Barjuwan, Kairo. Di sini ia juga aktif mengajar dan menulis,

terutama sejarah Islam, hingga terkenal sebagai seorang sejarawan besar pada abad

ke-9 Hijriyah. Al-Maqrizi wafat di Ibu Kota negara Mesir itu pada tanggal 27

Ramadhan 845 H atau bertepatan dengan tanggal 9 Februari 1442 M.

Al-Maqrizi terletak pada fase kedua dalam sejarah pemikiran ekonomi Islam.

Sebuah fase yang mulai terlihat indikasi menurunnya eskalasi kegiatan intelektual

yang inovatif dalam Dunia Islam. Dasar kehidupan Maqrizi yang asufistik atau fisuf

dan relatif didominasi aktivitasnya sebagai sejarawan Muslim, amat berpengaruh

terhadap corak pemikirannya tentang ekonomi. Ia senantiasa memandang setiap

soal dengan flash back dan mencoba memotret apa adanya mengenai fenomena

ekonomi suatu negara dengan memfokuskan perhatiannya pada beberapa hal yang

mempengaruhi naik-turunnya pemerintahan. Hal ini berarti bahwa

pemikiran-pemikiran ekonomi Maqrizi cenderung positif. Satu hal yang jarang dan unik pada

fase kedua yang notabene didominasi pemikiran yang normatif.

Lebih lanjut lagi, Al-Maqrizi merupakan pemikir ekonomi Islam yang

melakukan studi khusus tentang uang dan inflasi. Fokus perhatian Maqrizi terhadap

dua aspek ini, tampaknya dilatarbelakangi oleh semakin banyaknya penyimpangan

nilai-nilai Islam yang dilakukan oleh para kepala pemerintahan Bani Umayyah dan

selanjutnya.

2. Teori Inflasi a la Al-Maqrizi

Manusia adalah anak zamannya. Pernyataan ini tepat sekali dengan apa yang

dialami Maqrizi. Dengan kondisi fakta bencana kelaparan yang terjadi di Mesir,

Al-Maqrizi menyatakan bahwa peristiwa inflasi adalah sebuah fenomena alam yang

menimpa kehidupan masyarakat di seantero dunia dulu, kini, hingga masa

mendatang. Inflasi menurutnya terjadi ketika harga-harga secara umum mengalami

kenaikan dan berlangsung terus-menerus. Pada saat ini, persediaan barang dan jasa

mengalami kelangkaan dan konsumen, karena sangat membutuhkannya, harus

(10)

Al-www.aamslametrusydiana.blogspot.com Maqrizi membahas problematika inflasi secara lebih detail. Ia mengklasifikasikan

inflasi berdasarkan faktor penyebabnya ke dalam dua hal, yakni: (a) Inflasi yang

disebabkan oleh faktor alamiah (Natural Inflation), dan (b) Inflasi akibat kesalahan

manusia (Human Error Inflation).

a. Inflasi Alamiah

Inflasi ini disebabkan oleh berbagai faktor natural yang sulit dihindari

manusia. Menurut Al-Maqrizi, saat suatu bencana alam terjadi, berbagai bahan

makanan dan hasil bumi lainnya mengalami gagal panen, sehingga persediaan

barang-barang tersebut mengalami penurunan yang sangat drastis dan terjadi

kelangkaan. Di lain pihak, karena sifatnya yang sangat signifikan dalam kehidupan,

permintaan terhadap berbagai barang itu mengalami peningkatan. Harga-harga

kemudian membumbung tinggi, jauh melebihi daya beli masyarakat. Hal ini sangat

berimplikasi terhadap kenaikan harga berbagai barang dan jasa lainnya. Akibatnya,

transaksi ekonomi mengalami kemacetan, bahkan berhenti sama sekali, yang pada

akhirnya menimbulkan bencana kelaparan, wabah penyakit, dan kematian di

kalangan masyarakat. Keadaan yang semakin memburuk tersebut memaksa rakyat

untuk menekan pemerintah agar segera memperhatikan keadaan mereka.

Lebih lanjut, ia menyatakan bahwa sekalipun suatu bencana telah berlalu,

kenaikan harga-harga tetap berlangsung. Hal ini merupakan implikasi dari bencana

alam sebelumnya yang mengakibatkan aktivitas ekonomi, terutama di sektor

produksi, mengalami kemacetan. Saat situasi telah normal, persediaan

barang-barang yang signifikan seperti benih padi, tetap tidak beranjak naik, bahkan tetap

langka. Sedangkan permintaan terhadapnya meningkat tajam. Akibatnya, harga

barang-barang ini mengalami kenaikan yang kemudian diikuti oleh kenaikan harga

berbagai jenis barang dan jasa lainnya, termasuk upah dan gaji para pekerja.

b. Human Error Inflation

Selain faktor alam, Al-Maqrizi menyatakan bahwa inflasi dapat terjadi akibat

kesalahan manusia. Ia menganalisis, ada tiga hal utama yang baik secara

sendiri-sendiri atau pun bersama-sama menjadi penyebab terjadinya inflasi. Ketiga hal

tersebut adalah: (1) Korupsi dan Administrasi yang Buruk, (2) Pajak yang Berlebihan,

(11)

www.aamslametrusydiana.blogspot.com

MV = PT = Y

memaparkan relevansi antara konsep inflasi milik Al-Maqrizi dengan konsep modern

positivistik, sembari mencari dan membandingkan konsep manakah yang lebih

komprehensif dan tepat, dengan menggunakan metoda analisis komparatif.

D. Relevansi dengan Teori Modern (Analisis Komparatif)

Ekonom modern Barat umumnya membagi penyebab inflasi ke dalam dua

bagian, yaitu: (1) Cost push inflation, dan (2) Demand pull inflation. Sedangkan

Maqrizi ke dalam dua hal yang lebih spesifik, yaitu: (1) Natural inflation, dan (2)

Human Error Inflation. Tampak bahwa Al-Maqrizi lebih memahami apa yang

sebenarnya mengakibatkan inflasi, karena baik inflasi yang disebabkan oleh

sebab-sebab alamiah maupun inflasi karena ulah kesalahan manusia, keduanya dapat

berbentuk cost push maupun demand pull.

1. Teori “Quantity of Money” Milik Siapa?

Ketika berbicara tentang pembagian inflasi berupa Natural Inflation atau

Inflasi Alamiah, maka jika didekati dengan perangkat analisis konvensional, yakni

Teori Kuantitas Uang (Quantity Theory of Money) yang dikemukakan oleh Irving

Fisher:

Di mana: M = jumlah uang beredar (money)

V = kecepatan peredaran uang (velocity)

P = tingkat harga (price)

T = jumlah barang dan jasa (kadang juga dipakai notasi Q)

Y = tingkat pendapatan nasional (GDP)

Inflasi Alamiah a la Maqrizi dapat diartikan sebagai:

1. Gangguan terhadap jumlah barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu

perekonomian (T). Misal T turun sedangkan M dan V tetap, maka konsekuensinya

(12)

www.aamslametrusydiana.blogspot.com

AD = C + I + G + (X-M)

2. Naiknya daya beli masyarakat secara riil. Misalnya nilai ekspor lebih besar

daripada impor, sehingga secara netto terjadi impor uang yang mengakibatkan M

naik sehingga jika V dan T tetap maka P akan naik.

2. Natural Inflation dianalisis dengan Persamaan AD dan AS

Lebih jauh, andai dianalisis dengan persamaan agregatif, di mana:

Serta: Y = pendapatan nasional

C = konsumsi

I = investasi

G = pengeluaran pemerintah

X-M = ekspor bersih

Dari berbagai persamaan yang telah diturunkan di atas, maka Natural Inflation

akan dapat dibedakan berdasarkan penyebabnya menjadi dua golongan:

1. Akibat uang yang masuk dari luar negeri terlalu banyak (umumnya berbentuk

uang cash atau aset tidak produktif lainnya seperti barang-barang mewah), di

mana ekspor naik sedangkan impor cenderung turun atau tetap, sehingga

mengakibatkan net ekspor nilainya menjadi sangat besar, maka akan berakibat

pada naiknya Permintaan Agregatif (AD naik) di dalam negeri. Hal ini pernah

terjadi saat pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab r.a. Pada masa itu kafilah

yang menjual barangnya di luar negeri, membeli barang-barang dari luar negeri

lebih sedikit nilainya daripada nilai barang-barang yang mereka jual (positive net

export). Akibatnya mereka membawa pulang uang kelebihannya ke Madinah

sehingga kemudian meningkatkan daya beli masyarakat (AD naik). Naiknya

Permintaan Agregatif tersebut yang pada gambar dilukiskan sebagai kurva AD

yang bergeser ke kanan (AD naik), di mana hal itu mengakibatkan terjadinya

kenaikan tingkat harga secara umum. (P naik)

Apa yang lantas dilakukan oleh Umar? Beliau melarang penduduk Madinah

untuk membeli barang-barang atau komoditi selama lebih kurang dua hari

(13)

www.aamslametrusydiana.blogspot.com komoditas di pasar secara umum yang akan berakibat pada turunnya Permintaan

Agregatif (AD turun) dari perekonomian. Setelah pelarangan tersebut berakhir,

tingkat harga kembali menjadi normal.

2. Akibat dari turunnya tingkat produksi (AS turun) karena terjadinya paceklik,

perang, ataupun embargo ekonomi. Hal ini juga sempat pula terjadi di masa

pemerintahan Khalifah Umar, yaitu pada saat terjadi paceklik yang

mengakibatkan kelangkaan gandum. Hal tersebut dapat dilukiskan pada gambar

sebagai kurva AS yang bergeser ke kiri (AS turun), yang kemudian mengakibatkan

naiknya tingkat harga.

Apa yang dilakukan oleh Umar r.a.? Beliau mengeluarkan perintah untuk

melakukan impor biji gandum dari Fustat (Mesir). Tindakan tersebut secara

langsung mengakibatkan Penawaran Agregatif (AS) dalam perekonomian akan

kembali meningkat (AS naik) karena persediaan komoditas yang ada di pasar

kembali meningkat sehingga berakibat pada turunnya tingkat harga secara

umum (P turun).

3. High Cost Economy Corruption dan Red Tape

Jika melihat persamaan AS=AD serta persamaan MV=PT, akan jelas terlihat

bahwa korupsi dan administrasi pemerintahan yang buruk akan menyebabkan

kontraksi pada kurva Penawaran Agregatif (AS turun). Pada dasarnya, korupsi

akan mengganggu tingkat harga (P naik) karena para produsen harus menaikkan

harga jual dari komoditas yang diproduksinya untuk menutupi „biaya siluman‟

yang telah mereka keluarkan tersebut. Dimasukkannya biaya tersebut

berdampak pada COGS (Cost Of Goods Sold). Hal ini akan mengakibatkan COGS

menjadi tidak merefleksikan nilai dari sumber daya sebenarnya yang terpakai

atau digunakan dalam proses produksi. Harga yang terjadi menjadi terdistorsi

oleh komponen yang seharusnya tidak ada sehingga lebih lanjut lagi akan

mengakibatkan ekonomi biaya tinggi (high cost economy). Ujungnya akan

terjadi inefisiensi alokasi sumber daya yang akan merugikan masyarakat secara

keseluruhan.

Selain menjadi penyebab dari inefisiensi alokasi sumber daya dan ekonomi

(14)

www.aamslametrusydiana.blogspot.com

menyebabkan „kanker‟ yang amat membahayakan perekonomian secara makro yang

akan membawa pada keterpurukan Spiral ataupun Hyper Inflation yang amat

berbahaya dan mengerikan.

4. Fenomena Hiperinflasi dan Krisis Ekonomi

Jika kita mencermati fenomena inflasi yang amat tinggi (hiperinflasi) di

beberapa kawasan di dunia, ternyata Al-Maqrizi telah jauh lebih dahulu memiliki

konsep matang yang bisa menjelaskan peristiwa tersebut. Sebut saja misalnya

pengalaman krisis moneter dan inflasi yang terjadi di kawasan Asia Tenggara pada

sekitar tahun 1997-1998. Sebagai umpama, di Indonesia, beberapa pakar ekonomi

setelah melakukan analisis, ternyata menyimpulkan bahwa beberapa penyebab krisis

adalah: adanya krisis kepercayaan terhadap pemerintah akibat praktek Korupsi

Kolusi Nepotisme (KKN), tidak konsistennya kebijakan yang dijalankan

pemerintah RI, pengaruh globalisasi ekonomi yang tidak sehat, ditambah dengan

kemarau panjang dan rawan pangan di beberapa daerah seperti: Jayawijaya (Irian

Jaya), Donggala (Sulawesi Selatan), Grobogan, Boyolali, dan daerah lain6. Ini sangat

sesuai dengan konsep yang diutarakan Al-Maqrizi –baik Natural Inflation maupun

Human Error Inflation. Belum lagi pengalaman di negara dan kawasan lain yang

mengalami krisis ekonomi yang mengindikasikan kesesuaian konsep yang

ditawarkan Maqrizi dengan fakta di lapangan. Sungguh benar-benar pengamatan

yang jeli, tepat dan presisif.

E. Penutup

Setelah diadakan pengamatan dan penelusuran secara lebih mendalam

tentang masalah ini, maka dapat diambil beberapa kesimpulan, yaitu:

 Terbukti, pemikiran ekonomi Al-Maqrizi tentang inflasi lebih komprehensif dibanding konsep yang ditawarkan ekonom Barat. Salah satu alasannya adalah

karena baik inflasi yang disebabkan oleh nature/alami maupun inflasi ulah

manusia, keduanya dapat berbentuk cost push maupun demand pull inflation.

(15)

www.aamslametrusydiana.blogspot.com konsep-konsepnya: Quantity of Money Fisher, Kurva Agregatif Demand dan

Supply, Konsep Dead Weight Loss, Dampak buruk Excessive Tax, hingga analisa

Korupsi yang menyebabkan High Cost Economy sebuah negara.

 Setelah diadakan telaah dan analisis sederhana ini, penulis menyarankan perlunya penelaahan lebih lanjut dan intens terhadap pemikiran-pemikiran

ekonomi Maqrizi, khususnya hal-hal yang menyangkut permasalahan moneter

(mata uang dan inflasi).

DAFTAR PUSTAKA

Aritonang, Diro. Runtuhnya Rezim daripada Soeharto. Bandung: Pustaka Hidayah.

1999.

Boediono. Ekonomi Moneter: Seri Sinopsis Pengantar ilmu ekonomi No. 5, Edisi

Ketiga, Yogyakarta: BPFE. 1985.

Chapra, M. Umer. Sistem Moneter Islam. Jakarta: Gema Insani Press. 2001.

Djohanputro, Bramantyo. Prinsip-Prinsip Ekonomi Makro. Jakarta: Penerbit PPM.

2006.

Karim, Adiwarman Azwar. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Jakarta: Rajawali Pers.

2004.

Karim, Adiwarman Azwar. Ekonomi Islam Suatu Kajian Ekonomi Makro. Edisi pertama.

IIIT Indonesia. 2002.

Mankiw, N. Gregory. Teori Makroekonomi Edisi ke-5. Jakarta: Penerbit Erlangga. 2003.

Manurung, Mandala. Prathama Rahardja. Uang, Perbankan, dan Ekonomi Moneter

(Kajian Kontekstual Indonesia). Jakarta: FEUI. 2004.

1

Boediono. Ekonomi Moneter: Seri Sinopsis Pengantar ilmuekonomi No. 5, Edisi Ketiga, Yogyakarta: BPFE. 1985.

2

Djohanputro, Bramantyo. Prinsip-Prinsip Ekonomi Makro. Jakarta: Penerbit PPM. 2006.

3

(16)

www.aamslametrusydiana.blogspot.com

4

Djohanputro, Bramantyo. Prinsip-Prinsip Ekonomi Makro. Jakarta: Penerbit PPM. 2006.

5

Karim, Adiwarman Azwar. Sejarah Pemikiran Ekonomi Islam. Jakarta: Rajawali Pers. 2004.

6

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa dalam analisa Besi(II) dengan pengompleks 1,10-fenantrolin pada pH 4,5 dengan spektrofotometer

Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa seduhan daun katuk (Sauropus androgynus (L.) Merr.) pada Kelinci Jantan (Oryctolagus cuniculus) yang diberi seduhan daun

Sistem e-Tender yang dibangun pada penelitian ini merupakan sistem yang memfasilitasi proses tender terbuka secara online untuk pengadaan barang atau jasa yang

Saat terjadinya sengketa bersenjata non internasional di Suriah, petugas medis tidak mendapatkan perlindungan sebagaimana diatur di dalam Konvensi Jenewa I 1949

ICRC merupakan lembaga non-state yang bersifat netral dan bekerja untuk kemanusiaan, Konvensi Jenewa 1949 telah menempatkan ICRC untuk mengawalnya agar dapat

Form Menampilkan Informasi Kesehatan, Form ini berfungsi untuk menampilkan informasi dari judul yang dipilih mengenai jadwal imusasi, setelah diklik maka akan

Tujuan penelitian ini adalah menguji pengaruh kualitas pelayanan dengan variabel tangible, reliability, responsiveness, assurance dan empathy pada kepuasan tinggi dan rendah nasabah

Jumlah yang diperakukan itu dan perb~zaan dengan jumlah yang Ielah dibayar terse but akan menjadi bayaran terakhir klien kepada kontraktor atau pun hutang yang perlu