KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah Swt. karena berkat rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah ini dapat selesai. Makalah ini diajukan sebagai tugas mata kuliah. Makalah ini dalam proses penyelesaian banyak mendapat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis ucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu.
Makalah ini jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat penulis harapkan. Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Keadaan generasi muda sebagai penerus pembangunan Indonesia semakin menunjukan keprihatinan. Dalam kemajuan teknologi dan globalisasi para generasi muda ini cendrung lebih mendapatkan efek negatif dari pada positif. Fakta memprihatinkan di antaranya semakin maraknya kenakalan remaja berupa seks bebas, penyalahgunaan narkotika, tawuran, hingga tindak kriminal lainnya.
Pendidikan mengandung pengertian “proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik” (KBBI online; http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi). Dalam menyikapi keadaan generasi muda yang jauh dari nilai-nilai keteladan tentunya diperlukan pendidikan yang tepat, khususnya Pendidikan Agama Islam dan Karakter Bangsa. Pendidikan Agama Islam (PAI) diharapkan dapat memberikan pedoman dalam menjalani hidup yang senantiasa selaras dengan nilai-nilai yang terdapat dalam Al Quran dan Al Hadist. Diharapkan akan mampu mewujudkan generasi muda dengan akhlak mulia. Sementara melalui Pendidikan Karakter Bangsa yang dapat diselarasakan dengan PAI selain siswa memiliki aneka sikap terpuji juga mampu menanamkan nilai-nilai kebangsaan untuk pembangunan Indonesia yang lebih baik.
B. Rumusan Masalah
Didasari latar belakang di atas maka rumusan masalah umum pada makalah ini adalah “Bagaimana mendeskripsikan PAI dan Karakter Bangsa dalam Persfektif Al Quran dan Al Hadist?”. Sedangkan rumusan masalah secara rinci sebagai berikut.
1. Bagaimana mendeskripsikan pengertian PAI dan Karakter Bangsa dalam Persfektif Al Quran dan Al Hadist?
2. Bagaimana mendeskripsikan tujuan PAI dan Karakter Bangsa dalam Persfektif Al Quran dan Al Hadist?
3. Bagaiamana mendeskripsikan proses PAI dan Karakter Bangsa dalam Persfektif Al Quran dan Al Hadist?
4. Bagaimana mendeskripsikan evaluasi PAI dan Karakter Bangsa dalam Persfektif Al Quran dan Al Hadist?
C. Tujuan
Didasari latar belakang di atas maka tujuan umum pada makalah ini adalah “Mendeskripsikan PAI dan Karakter Bangsa dalam Persfektif Al Quran dan Al Hadist?”. Sedangkan rumusan masalah secara rinci sebagai berikut.
1. Mendeskripsikan pengertian PAI dan Karakter Bangsa dalam Persfektif Al Quran dan Al Hadist.
2. Mendeskripsikan tujuan PAI dan Karakter Bangsa dalam Persfektif Al Quran dan Al Hadist.
3. Mendeskripsikan proses PAI dan Karakter Bangsa dalam Persfektif Al Quran dan Al Hadist.
BAB II PEMBAHASAN
A. Pengertian PAI dan Karakter Bangsa dalam Persfektif Al Quran dan Al Hadist
Pendidikan mempunyai peran besar sekali untuk menimbulkan perubahan pada diri umat beragama. Melalui pendidikan dapat dibentuk kondisi mental yang lebih kondusif untuk mengembangkan kebangkitan moral-spiritual yang dikehendaki. Demikian pula penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dapat diusahakan melalui pelaksanaan pendidikan yang tepat.
Pendidikan memiliki arti sebagai “proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik” (KBBI online; http://bahasa.kemdiknas.go.id/kbbi). Dalam bahasa Arab terdapat beberapa kata yang merujuk kepada pendidikan, sebagai berikut (Rosnani Hashim dan al-Attas dalam Stapa, dkk: 2012).
1) Tarbiyyah
Kata tarbiyyah berasal dari kata dasar ‘rabba’ (mengasuh, memelihara atau memimpin). Kata ini juga merujuk kepada proses perkembangan potensi individu, mengasuh atau mendidik untuk menuju kepada satu keadaan yang dewasa/mandiri. 2) Ta’lim.
Kata ta’lim berasal dari konotasi ‘alima (mengetahui, memberitahu, melihat, mencerap, menganggap). Ia merujuk kepada proses menyampaikan atau menerima ilmu pengetahuan yang kebiasaannya didapati melalui latihan, arahan, tunjuk ajar atau lain-lain bentuk pengajaran.
3) Ta’dib
Kata ta’dib berasal daripada kalimah aduba (memperhalusi, berdisiplin dan berbudaya). Ia merujuk kepada proses pembinaan watak dan pengajaran asas-asas penting untuk hidup bermasyarakat, ini termasuklah memahami dan menerima prinsip yang paling asas sekali yaitu keadilan.
“Bacalah (Wahai Muhammad) dengan nama Tuhanmu Yang menciptakan (sekalian makhluk), Ia menciptakan manusia dari sebuku darah beku. Bacalah, dan Tuhanmu Yang Maha Pemurah, Yang mengajar manusia melalui pena dan tulisan, ia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
Ayat ini memberi isyarat dan perintah yang amat jelas dalam bidang pendidikan. Perkataan iqra’ (bacalah) yang disebutkan oleh malaikat Jibrail as berulang-ulang kali kepada Rasulullah saw menegaskan supaya umat manusia belajar, mengkaji dan mencari ilmu. Jika diteliti secara lebih mendalam, ayat ini mendidik dan mengajak orang yang beriman supaya menjadi orang yang berilmu. Petunjuk awal ini jugalah yang telah mendorong Rasulullah Saw. menjadikan aspek pembinaan peribadi cemerlang fisik, mental dan spiritual mendahului segala agenda lain yang bersifat duniawi dan material.
Dari sudut pandangan Islam, mencari ilmu dan mengajarkannya adalah satu kewajiban yang sangat mulia, oleh karena itu mencari ilmu adalah satu kewajiban bagi setiap muslim. Lebih tegas lagi, Islam mewajibkan bagi setiap umat Islam untuk menuntut ilmu sebagaimana sabda Rasulullah saw (Ibn Majah t. th. 1) yang bermaksud “Menuntut ilmu itu adalah kewajiban ke atas setiap orang Islam.” Sabda Rasulullah Saw. ini menunjukkan bahwa kewajiban menuntut ilmu bukanlah eksklusif kepada golongan tertentu sahaja bahkan kewajiban tersebut adalah ke pada seluruh umat Islam. Allah Swt. tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum itu sehingga mereka berusaha untuk mengubahnya sendiri, dan di antara cara yang terbaik untuk menyelesaikan masalah tersebut adalah dengan ilmu yang boleh didapati daripada proses pendidikan.
Terdapat juga beberapa hadis yang menunjukkan tentang kepentingan pendidikan kepada umat Islam. Sebagai contohnya, dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Abu Hurairah r.a, Rasulullah saw bersabda (Bukhari t.th. 5) yang bermaksud “Tiap-tiap kanak-kanak itu dilahirkan dalam keadaan suci, maka ibu bapaknyalah yang menjadikan ia Yahudi atau Nasrani atau Majusi.” Hadis ini menerangkan bahawa orang tua memainkan peranan yang cukup penting dalam pendidikan awal seperti membentuk asas-asas perkembangan diri seseorang anak.
dalam kesadaran, pemahaman, rasa, karsa, dan perilaku berbangsa dan bernegara sebagai hasil. Jadi, pendidikan karakter bangsa adalah suatu usaha sadar dan terencana untuk mendayagunakan peserta didik sebagai warga negara yang memiliki perilaku kolektif kebangsaan.
Pendidikan karakter kebangsaan juga terdapat dalam Al Quran, khususnya rasa cinta tanah air. Dalil tersebut terdapat Surah Al Baqarah ayat 126, “Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini, negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman diantara mereka kepada Allah dan hari kemudian”. Rasa cinta tanah air juga dapat diteladani dalam kisah hijrah Rasulullah, Saw. Saat beliau meninggalkan Mekah, beliau berdoa “Wahai Allah, cintakanlah kota Madinah kepada kami, sebagaimana engkau mencintakan kota Makkah kepada kami, bahkan lebih” (HR Bukhari, Malik dan Ahmad).
B. Tujuan PAI dan Karakter Bangsa dalam Persfektif Al Quran dan Al Hadist
Tujuan pendidikan agama tidak terbatas pada individu manusia tetapi juga pada usaha pembangunan sebuah bangsa dan keseluruhannya. Dan, tugas semua pendidikan adalah membina manusia susila, manusia yang berahlak atau dengan kata lain memanusiakan manusia. Pendidikan agama di dalam suatu masa perubahan sosial mempunyai tugas khusus, dalam arti membina anak didik untuk berkelakuan benar dalam situasi yang tidak menentu patokan-patokan moralnya. Karena perubahan atau kehancuran struktur-struktur sosial lama dan tumbuhnya keadaan-keadaan baru, maka lebih dulu diperlukan manusia-manusia yang mempunyai keberanian hidup yang bersedia mampu hidup diatas kaki sendiri dan mencari nafkah sendiri tidak menggantungkan nasibnya pada pemerintah atau birokrasi-birokrasi besar.
Kepemimpinan yang dapat menjalankan proses perubahan tersebut sejak sekarang. Bahkan Kepemimpinan itu sangat penting untuk menimbulkan proses pendidikan yang diperlukan.
Para ahli mengemukakan pendapatnya tentang tujuan pendidikan agama Islam sebagai berikut
1) Ahmad Tafsir (1992) merumuskan tentang tujuan umum pendidikan Islam yaitu muslim yang sempurna dengan ciri-ciri:
a. Memiliki jasmani yang sehat, kuat dan berketerampilan
b. Memiliki kecerdasan dan kepandaian dalam arti mampu menyelesaikan secara cepat dan tepat; mampu menyelesaikan secara ilmiah dan filosofis; memiliki dan mengembangkan sains; memiliki dan mengembangkan filsafat
c. Memiliki hati yang takwa kepada Allah SWT, dengan sukarela melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangannya dan hati memiliki hati yang berkemampuan dengan alam gaib.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah adalah orang paling Taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal" (QS.Al-Hujurat : 13)
2) Imam al-Ghazali berpendapat bahwa tujuan Pendidikan Agama Islam adalah membina insan paripurna yang bertaqarrub kepada Allah, bahagia di dunia dan di akhirat. Tidak dapat dilupakan pula bahwa orang yang megikuti pendidikan akan memperoleh kelezatan ilmu yang dipelajarinya dan kelezatan ini pula yang dapat mengantarkannya kepada pembentukan insan paripurna.
“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”. (QS.Ali Imran : 190-191)
a. Untuk membantu pembentukan akhlak yang mulia.
b) Pendidikan dan pengajaran bukanlah sekedar memenuhi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang belum mereka ketahui, tetapi mendidik akhlak dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadhilah (keutamaan).
c) Membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya, ikhlas, dan jujur.
“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri”. (QS.Luqman :18)
d) Persiapan untuk kehidupan dunia dan akhirat.
e) Pendidikan Islam memiliki dua orientasi yang seimbang, yaitu memberi persiapan bagi anak didik untuk dapat menjalani kehidupannya di dunia dan juga kehidupannya di akhirat. f) Persiapan untuk mencari rizki dan pemeliharaan segi-segi kemanfaatan.
g) Pendidikan Agama Islam tidak bersifat spiritual, ia juga memperhatikan kemanfaatan duniawi yang dapat diambil oleh siswa dari pendidikannya.
h) Menumbuhkan roh ilmiah ( scientific spirit ) pada pelajar dan memuaskan keinginan hati untuk mengetahui ( curiosity ) dan memungkinkan ia mengkaji ilmu sebagai sekedar ilmu. Dengan demikan, Pendidikan Agama Islam tidak hanya memperhatikan pendidikan agama dan akhlak, tapi juga memupuk perhatian kepada sains, sastra, seni, dan lain sebagainya, meskipun tanpa unsur-unsur keagamaan didalamnya.
i) Menyiapkan pelajar dari segi profesinal, tekhnis, dan dunia kerja supaya ia dapat menguasai profesi tertentu.
4) Drs. Ahmad D. Marimba mengemukakan dua macam tujuan, yaitu tujuan sementara dan tujuan akhir.
a) Tujuan sementara. Yaitu sasaran sementara yang harus dicapai oleh umat Islam yang melaksanakan pendidikan Islam. Tujuan sementara artinya tercapainya berbagai kemampuan seperti kecakapan jasmaniah, pengetahuan membaca, menulis, dan ilmu-ilmu lainnya.
5) Zakiah Darajat membagi tujuan Pendidikan Agama Islam menjadi 4 (empat) macam, yaitu : a) Tujuan umum. Tujuan umum adalah tujuan yang akan dicapai dengan semua kegiatan pendidikan, baik dengan pengajaran atau dengan cara lain.
b) Tujuan akhir. Tujuan akhir adalah tercapainya wujud kamil, yaitu orang yang telah mencapai ketakwaan dan menghadap Allah dalam ketakwaannya.
c) Tujuan sementara. Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah anak diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal. d) Tujuan operasional. Tujuan operasional adalah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu.
5) Tujuan Pendidikan Agama Islam yang merupakan sebuah Rumusan dari Kongres Pendidikan Islam se Dunia di Islamabad tahun 1980 dan hasil keputusan seminar Pendidikan Islam se Indonesia taggal 07 sampai 11 Mei 1960 di Cipayung Bogor.
a) Rumusan yang di tetapkan dalam kongres se Dunia tentang Pendidikan Islam sebagai berikut : “Education should aim at the balanced growth of total personality of man through the training of man’s spirit, intellect the rational self, feeling and bodily sense. Education should there for cater for the growth of man in all its aspect, spiritual, intellectual, imaginative, physical, scientific, linguistic, both individually and collectively, and motivate, all these aspect toward goodness and attainment perfection. The ultimate aim of education lies in the realization of complete submission to Allah on the level of individual. The community and humanity at larga.”
b) Rumusan hasil keputusan seminar pendidikan Islam se Indonesia tanggal 07 sampai dengan 11 mei 1960 di Cipayung, BogoraDari uraian diatas dapatlah di simpulkan bahwa pendidikan Islam mempunyai tujuan yang luas dan dalam, seluas dan sedalam kebutuhan hidup manusia sebagai makhluk individu dan sebagai makhluk sosial yang menghamba kepada khaliknya dengan dijiwai oleh nilai-nilai ajaran agama.
spiritual, intelektual, imajinasi, maupun aspek ilmiah, (secara perorangan maupun secara berkelompok). Dan pendidikan ini mendorong aspek tersebut ke arah keutamaan serta pencapaia kesempurnaan hidup.
Tujuan ini merupakan cerminan dan realisasi dari sikap penyerahan diri sepenuhnya kepada Allah, baik secara perorangan, masyarakat, maupun sebagai umat manusia keseluruhannya. Sebagai hamba Allah yang berserah diri kepada Khaliknya, ia adalah hamba-Nya yang berilmu pengetahuan dan beriman secara bulat, sesuai kehendak pencipta-hamba-Nya untuk merealisikan cita-cita yang terkandung dalam firman Allah SWT, Qs. Al-Anam: 162 Artinya: “Katakanlah, sesungguhnya salatku dan ibadahku dan hidupku serta matiku hanya untuk Allah, Pendidikan sekalian alam.” "Dan aku tidak menciptakan Jin dan manusia melainkan supaya beribadah kepadaKU” (QS.Adz-Dzariyaat : 56).
C. Proses PAI dan Karakter Bangsa dalam Persfektif Al Quran dan Al Hadist
Mendidik berarti membangun karakter untuk mempersiapkan sumberdaya manusia yang unggul lahir dan batin yang memiliki pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai luhur kehidupan. Pendidikan meliputi ranah kognitif, afektif dan psikomotorik. Rasulullah saw bersabda, “Innal ‘ilmu bitta’allumi wal hilmu bittahallumi – Sesungguhnya ilmu itu dicapai dengan belajar, dan murah hati dan pemaaf itu dicapai dengan berbuat demikian.”
Dalil dari proses pendidikan yaitu;
Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda dalam sebuah hadist yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:
: :
هنادوهي هاوبأف، ةرطفلا ىلع دلويا لإ دولوم نمام ملسو هيلع هللا ىلص هللا لوسر لق لق هنع هللاا ىضر ةريره يبأ نع هناسجميوأ هنارصنيوأ
٠
Dari konteks hadits tersebut, tersebutlah kalimat هاوبأف yang banyak dipahami dan diartikan dengan kalimat “orang tuanya”, dan dari setiap terjemahan hadits selalu ditemukan kalimat tersebut. Dimana terjemahan tersebut tidak mungkin terlepas dari makna dasarnya yakni “Ayah/Bapak” dari kata dasar بأ .
Dari konteks dasar hadits tersebut, yang bertanggung jawab penuh dalam proses Islam atau tidaknya seorang anak manusia adalah ayah/bapak dari anak tersebut. Namun tidak mungkin semua itu terbeban kepada ayah belaka, tetapi ada orang lain yang juga memiliki tanggung jawab yang sama yakni ibu. Ibu juga orang yang berpengaruh sangat dekat sekali dalam kehidupan seorang anak manusia. Kedua insan ini tidak mungkin dilepaskan dari perkembangan jiwa dan raga seorang anak.
Orang tua adalah orang yang sangat dekat dengan kehidupan anaknya, oleh karena itu, proses pendidikan manusia dalam Islam tidak dimulai dari anak itu dilahirkan namun semenjak seorang insan mencari pasangan hidupnya. Hal ini akan menjadi dasar dari keberlangsungan kehidupan generasi-generasi yang akan datang.
Dalam perkembangan pengetahuan dewasa ini, anak yang berada di dalam kandungan seorang ibu juga sudah memiliki kemampuan menerima rangsangan dari ibunya sendiri, hal ini diketahui dari proses pembentukan organ vital manusia yakni otak yang telah berfungsi saat janin berumur empat bulan didalam kandungan ibunya. Otak seorang anak yang merupakan organ yang terbentuk lebih awal dari organ-organ yang lainnya adalah juga organ vital manusia yang jika rusak maka rusaklah seluruh dimensi kemanusiaan manusia itu sendiri.
Rangsangan-rangsangan tertentu dari seorang ibu sangat berpengaruh bagi janinnya sendiri, sehingga Islam menganjurkan untuk melakukan perbuatan-perbuatan yang baik saat seorang ibu mengandung janinnya. Bacaan-bacaan Al-Qur’an dan perbuatan-perbuatan yang baik selalu dianjurkan sebagai wirid bagi seorang ibu yang lagi mengandung agar janin yang dikandungnya menjadi orang shaleh dikemudian hari.
kontinuitas yang tidak terputus dari semenjak anak didalam kandungan merupakan sebuah proses yang utamanya terus berjalan, namun berjalan hanya pada batas-batas tertentu dan ini terlihat sangat kontras di zaman modern ini.
Pendidikan anak yang aktif hanya berlangsung dikala seorang anak lahir hingga anak mencapai umur 7-9 tahun, dan ada pula orang tua yang hanya menjalankan pendidikan hingga anak berumur 5-6 tahun saja. Setelah itu anak dilepaskan mengikuti pendidikan formal tanpa bimbingan lanjutan yang aktif dari orang tuanya. Inilah yang menjadi sebuah persepsi mayoritas orang tua bahwa proses pendidikan dikalangan orang tua atau keluarga hanya berlangsung pada umur tertentu, sedangkan perjalanan pendidikan lanjutan dari seorang anak berada di sekolah.
Jika kita menilik hadits Rasulullah Shalalahu ‘Alaihi Wasallam di atas tanggung jawab orang tua terhadap anak tidak memiliki batas yang ditentukan dengan jelas dan pasti, dan bahkan konteks hadits tersebut adalah konteks universal dari sebuah tanggung jawab orang tua terhadap anaknya.
Selain itu, guru adalah pendidik dan pengajar, namun jika melihat konteks kekinian, guru adalah orang yang bertugas sebagai transfer of knowledge bagi anak didiknya. Guru dalam zaman modern ini sangat jauh dari konteks guru di zaman-zaman abad pertengahan, apalagi jika dibandingkan dengan abad awal hijriah dimana guru sebagai orang tua kedua setelah orang tua anak didik tersebut. Hal ini tidak dipungkiri karena memang perubahan zaman yang telah membawa kondisi guru dengan kondisi zamannya, namun ada sebagian dari tugas guru yang masih menjadi kode etik guru sebagai pendidik yakni “guru sebagai orang yang ditiru dan digugu”. Pun demikian tugas guru sebagai transfer of knowledge merupakan kegiatan utama yang berlangsung pada lembaga pendidikan formal dan memang lembaga ini adalah lahan dari kerja seorang guru.
pendidikan keluarga dan sekolah. Baik buruknya kondisi masyarakat hari ini adalah hasil dari kedua lembaga tersebut (keluarga dan sekolah).
Jika merujuk kepada tujuan universal pendidikan dimana pendidikan merupakan suatu proses yang mengarahkan manusia pada keutuhan kualitas manusia yang disebut dengan insan kamil, dalam Islam merupakan manusia yang sempurna yang terpatri dalam bentuk akhlak dan kualitas intelektual dari seseorang maka pendidikan tidak hanya dibebankan pada pengembangan pengetahuan seperti yang berjalan selama ini pada lembaga pendidikan, namun harus diiringi dengan bimbingan dan arahan akhlak yang baik dari kedua belah pihak yakni guru dan orang tua. Sinergisitas antara guru dengan orang tua murid menjadi jalan terbaik yang akan membentuk generasi yang berkualitas sempurna. Hal ini dapat dilakukan dengan komunikasi aktif antara guru dan wali murid melalui wali kelas dengan mengaktifkan kontrol wali murid di rumah secara efektif dan berkelanjutan, serta menyadarkan orang tua murid sebagai orang yang sangat bertanggung jawab terhadap anak didik sendiri, sebagaimana bunyi sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wasallam di atas.
D. Evaluasi PAI dan Karakter Bangsa dalam Persfektif Al Quran dan Al Hadist
Evaluasi yaitu suatu proses dan tindakan yang terencana untuk mengumpulkan informasi tentang kemajuan, pertumbuhan dan perkembangan (peserta didik) terhadap tujuan (pendidikan), sehingga dapat disusun penilaiannya yang dapat dijadikan dasar untuk membuat keputusan. Dengan demikian evaluasi bukan sekedar menilai suatu aktivitas secara spontan dan insedental, melainkan merupakan kegiatan untuk menilai sesuatu yang terencana, sistematik dan berdasarkan tujuan yang jelas.1[9] Jadi dengan evaluasi diperoleh informasi dan kesimpulan
tentang keberhasilan suatu kegiatan, dan kemudian kita dapat menentukan alternatif dan keputusan untuk tindakan berikutnya.
Evaluasi dilaksanakan secara terpadu dengan kegiatan pembelajaran. evaluasi dapat dilakukan baik dalam suasana formal maupun informal, di dalam kelas, di luar kelas, terintegrasi dalam kegiatan belajar mengajar atau dilakukan pada waktu yang khusus. Evaluasi dilaksanakan melalui berbagai cara, seperti tes tertulis, penilaian hasil kerja siswa melalui kumpulan hasil kerja (karya) siswa (fortofolio), dan evaluasi unjuk kerja (perfomance) siswa.
Pelaksanaan evaluasi agar akurat dan bermanfaat baik bagi peserta didik, pendidik ataupun pihak yang berkepentingan, maka harus memperhatikan prinsip-prisip sebagai berikut. 1. Valid
Evaluasi mengukur apa yang seharusnya diukur dengan menggunakan jenis tes yang terpercaya dan shahih. Artinya ada kesesuaian alat ukur dengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran. 2. Berorientasi kepada kompetensi
Dengan berpijak pada kompetensi, maka ukuran-ukuran keberhasilan pembelajaran akan dapat diketahui secara jelas dan terarah.
3. Bermakna
Evaluasi diharapkan mempunyai makna yang signifikan bagi semua pihak. Untuk itu evaluasi hendaknya mudah difahami dan dapat ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang berkepentingan. 4. Terbuka
Evaluasi hendaknya dilakukan secara terbuka bagi berbagai kalangan sehingga keputusan tentang keberhasilan peserta didik jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan, tanpa ada rekayasa atau sembunyi-sembunyi yang dapat merugikan semua pihak.
5. Ikhlas
Evaluasi dilakukan dengan niat dan yang bersih, dalam rangka efisiensi tercapainya tujuan pendidikan dan berkepentingan peserta didik.
6. Praktis
Evaluasi dilakukan dengan mudah dimengerti dan dilaksanakan dengan beberapa indikator, yaitu: a) hemat waktu, biaya dan tenaga; b) mudah diadministrasikan; c) mudah menskor dan mengolahnya; dan d) mudah ditafsirkan.
7. Dicatat dan akurat
Hasil dari setiap evaluasi prestasi peserta didik harus secara sistematis dan komprehensif dicatat dan disimpan, sehingga sewaktu-waktu dapat dipergunakan.
Ada beberapa prinsip lain yang harus diperhatikan dalam evaluasi pendidikan Islam, yaitu: prinsip kontinuitas, prinsip menyeluruh, prinsip obyektivitas, dan prinsip mengacu pada tujuan:
1. Prinsip Kesinambungan (kontinuitas)
dengan istiqamah dalam Islam, yaitu setiap umat Islam hendaknya tetap tegak beriman kepada Allah Swt., yang diwujudkan dengan senantiasa mempelajari Islam, mengamalkannya, serta tetap membela tegaknya agama Islam, sungguhpun terdapat berbagai tantangan yang senantiasa dihadapinya.
Dalam ajaran Islam, sangat memperhatikan prinsip kontinuitas, karena dengan berpegang pada prinsip ini, keputusan yang diambil oleh seseorang menjadi valid dan stabil, sebagaimana diisyaratkan Alquran dalam Surah Al-Ahqaf (46) Ayat 13-14
Artinya: (13)Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: "Tuhan Kami ialah Allah", kemudian mereka tetap istiqamah[1388] Maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita.(14) mereka Itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai Balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.
2. Prinsip Menyeluruh (komprehensif)
Prinsip yang melihat semua aspek, meliputi kepribadian, ketajaman hafalan, pemahaman ketulusan, kerajinan, sikap kerjasama, tanggung jawab dan sebagainya, sebagaimana diisyaratkan dalam Alquran Surat Al-Zalzalah (99) Ayat 7-8.
Artinya : (7) Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. (8) dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.
3. Prinsip objektivitas
Objektif dalam arti bahwa evaluasi itu dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, berdasarkan fakta dan data yang ada tanpa dipengaruhi oleh unsur-unsur subjektivitas dari evaluator. Allah Swt. memerintahkan agar seseorang berlaku adil dalam mengevaluasi. Jangan karena kebencian menjadikan ketidakobjektifan evaluasi yang dilakukan (QS. Al-Maidah, 5: 8)
Artinya: Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.
Nabi Saw. pernah bersabda:
وولل ننلأل ةلملططافل تلنوبط ددمنلحلمم توقلرلسل تمعوطلقللل دليلاهل ….. Artinya :“…..Andai kata Fatimah binti Muhammad itu mencuri, niscaya aku tidak segan-segan untuk
Prinsip ini hanya dapat ditetapkan bila penyelenggara pendidikan mempunyai sifat siddiq, jujur, ikhlas, ta’awun, ramah, dan lainnya.
4. Prinsip mengacu kepada tujuan
Setiap aktivitas manusia sudah pasti mempunyai tujuan tertentu, karena aktivitas yang tidak mempunyai tujuan berarti merupakan atau pekerjaan sia-sia.
Prosedur dalam mengadakan evaluasi dapat dibagi kepada beberapa langkah. Langkah-langkah tersebut diatasnya:
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan
Dalam perkembangan yang terjadi sekarang sangatlah dibutuhkan sebuah system pendidikan yang lengkap. Pendidikan yang tidak hanya terpaku pada pemerolehan pengetahuan pada siswa tapi juga pembentukan karakter kebangsaan dan nilai religinya. Tujuan dari Pendidikan Agama Islam dan karakter bangsa adalah menwujudkan generasi muda yang utuh, cerdas pemikiran, luas pengetahuan, sehat jasmani, seimbang rohani, dan memiliki rasa kebangsaan yang tinggi. Pada proses pendidikan ini pun tidak hanya terpaku pada lembaga sekolah, namun juga harus ada sinergi dari keluarga, guru, dan masyarakat.
Pendidikan Agama Islam sebagai bidang studi penting untuk mewujudkan generasi emas Indonesia, harus disertai evaluasi yang tepat. Kembali ditekankan bahwa pemahaman Agama Islam tidaklah hanya sampai dengan nilai-nilai baik untuk hapalan pengetahuan. Namun, harus disertai dengan penilaian perilaku sehari-hari dan penerapan ibadah.
B. Saran
DAFTAR PUSTAKA
Chirzin, Muhammad. 2009. Makalah. Pendidikan Qur’ani Membentuk Moral dan Karakter Bangsa (1).
Stapa, Zakaria, dkk. 2012. Makalah. Pendidikan Menurut Al-Quran dan Sunnah serta